ABSTRAK
Tema untuk koleksi ready-to-wear yang menjadi inspirasi dari tugas akhir ini adalah gaya flapper yang pernah populer pada tahun 1920 dengan judul The Flapper. Tren flapper atau gaya tahun 20-an belum banyak diangkat di Indonesia, namun mulai banyak diangkat desainer-desainer ternama dunia. Dengan
demikian, dari koleksi tugas akhir ini diharapkan membawa inovasi dan
pengenalan baru tentang gaya flapper di Indonesia, khususnya kota Bandung. Koleksi ini menunjukan kesan simpel namun juga terlihat elegan dan
mewah. Kesan simpel didapat dari pemilihan satu tone warna yaitu coklat dan
nude-gold serta desain yang sederhana. Sedangkan kesan elegan dan mewah dari detail-detail seperti pengaplikasian lace dan beading fringe yang diterapkan pada setiap busana.
Target market dari koleksi tugas akhir ini ditujukan untuk wanita dewasa,
terutama kaum sosialita dengan ekonomi kelas menengah ke atas yang berdomisili
di kota-kota besar, khususnya Bandung. Selain itu koleksi ini juga ditargetkan
untuk wanita dengan kisaran usia 20 tahun hingga 35 tahun dengan karakter
feminin yang kuat, trendi, dan ingin tampil elegan serta glamor.
Koleksi busana tugas akhir dengan tema flapper ini dapat dikenakan ke berbagai acara pesta yang bertema universal maupun tematik, dapat pula
dikenakan pada pesta semi formal, seperti acara pernikahan, acara fashion show, acara charity kaum sosialita, acara launching suatu produk fashion. Namun, dilihat dari kesan warna yang dihasilkan antara perpaduan material dan fabric manipulating, koleksi busana The Flapper lebih cocok dikenakan ke acara-acara pesta di malam hari.
ABSTRACT
The concept of this ready-to-wear collection titled The Flapper is the ever
popular flapper style in 1920s. Flapper trend or style of the twenties has not been
raised in Indonesia, however, began much raised by many famous world
designers. Thus, this collection is expected to bring new innovations and
introduction of the flapper style in Indonesia, especially in Bandung.
This collection shows the impression of simple but also looks elegant and
luxurious. The simple look gained from the selection of one colourtone which is
brown and nude-gold, also from the design. While the impression of elegant and
luxurious gained from the details like lace and beading fringe applied to every
dress of the collection.
The target market of this collection is intended for adult women, especially
the socialite with upper middle class economy who live in big cities, particularly
Bandung. In addition, this collection is targeted to women around the age of 20
years to 35 years with a strong feminine character, trendy, elegant, and has glamor
style.
This flapper final assignment collection can be subjected to a variety of
universal and thematically themed party, can also be worn on semi-formal parties,
such as wedding party, fashion show, the socialite charity event, the launching of
a fashion product. However, judging from the color of the resulting impression of
the blend material and fabric manipulating, The Flapper collection is more
suitable worn in the evening party events.
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN HASIL KARYA PRIBADI ... iii
PERNYATAAN PUBLIKASI ... iv
ABSTRAK………..v
ABSTRACT………...vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI………..ix
DAFTAR LAMPIRAN………...………....xiii
DAFTAR GAMBAR………...xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 2
1.3 Batasan Masalah ... 3
1.4 Tujuan Perancangan ... 3
1.5 Metode Perancangan ... 3
1.6 Sistematika Penulisan ... 5
BAB II LANDASAN TEORI ... 6
2.1 Teori Fashion dan Tren ... 6
2.1.1 Definisi Fashion ... 6
2.1.2 Definisi Tren ... 6
2.2 Teori Busana ... 6
2.2.1 Definisi Busana ... 6
2.2.3 Unsur-unsur Desain ... 10
2.3 Ready-to-wear Deluxe ... 19
2.4 Gaya Flapper Tahun 1920-an ... 19
2.4.1 Sejarah busana pada tahun 1920-an ... 19
2.4.2 Definisi Flapper ... 21
2.4.3 Karakter Fashion Tahun 1920-an ... 22
2.4.4 Ciri Khas Busana Flapper ... 24
2.5 Teori Warna ... 29
2.5.1 Kelompok Warna ... 29
2.5.2 Sifat Warna... 31
2.5.3 Warna yang dipakai dalam koleksi The Flapper ... 31
2.6 Teori Tekstil ... 32
2.6.1 Definisi Tekstil ... 32
2.6.2 Sateen ... 32
2.6.3 Taffeta ... 32
2.6.4 Chiffon (sifon) ... 33
2.6.5 Semi French Lace (brokat semi perancis) ... 33
2.7 Teori Reka Bahan ... 34
2.7.1 Reka Bahan ... 34
2.7.2 Manik-manik (Beads)... 34
2.7.3 Fringe ... 34
2.8 Teori Pola Busana... 35
2.8.1 Definisi Pola Busana ... 35
2.9 Penjahitan ... 36
2.9.1 Definisi Penjahitan Busana ... 36
BAB III OBJEK PERANCANGAN ... 37
3.1 Deskripsi Objek Studi... 37
3.1.1 Bentuk Busana ... 37
3.1.2 Tarian Charleston ... 38
3.1.3 Louis Brooks ... 38
3.2 Identifikasi Objek Studi ... 39
3.3 Deskripsi dan Survei Fungsi ... 40
BAB IV KONSEP PERANCANGAN ... 42
4.1 Teknis Perancangan ... 42
4.1.1 Pembentukan Konsep dan Material ... 42
4.1.2 Produksi ... 42
4.1.3 Finalisasi Produk ... 42
4.2 Perancangan Umum... 43
4.2.1 Colour Chart ... 44
4.2.2 Material ... 44
4.2.3 Sketsa Koleksi ... 47
4.2.4 Tahapan Perancangan Umum ... 47
4.2 Perancangan Khusus ... 50
4.2.1 Desain 1 ... 50
4.2.2 Desain 2 ... 51
4.2.3 Desain 3 ... 52
4.2.4 Desain 4 ... 53
4.3 Perancangan Detail ... 54
BAB V PENUTUP ... 58
5.1 Kesimpulan ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 60
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A: UKURAN MODEL DAN POLA KECIL ... 62
LAMPIRAN B: MATERIAL ... 73
LAMPIRAN C: DOKUMENTASI BUSANA ... 75
LAMPIRAN D: GAMBAR TEKNIK ... 83
LAMPIRAN E: ILUSTRASI FASHION ... 91
LAMPIRAN F: REKA BAHAN ... 93
LAMPIRAN G: PROSES PEMBUATAN ... 95
LAMPIRAN H: RINCIAN BUDGETING KOLEKSI ... 97
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. 1 Bagan metode perancangan ... 4
Gambar 2. 1 Contoh garis lurus...10
Gambar 2. 2 Contoh garis lengkung ... 11
Gambar 2. 3 Contoh desain siluet A ... 12
Gambar 2. 11 Garis plooi /lipit, garis lipit pipih, garis lipit hadap ... 15
Gambar 2. 12 Garis dua lipit berlawanan dan garis dua lipit berhadapan ... 16
Gambar 2. 13 Garis lipit kup umum dan garis hias /potongan ... 16
Gambar 2. 14 Garis kerut ... 17
Gambar 2. 15 Value warna ... 18
Gambar 2. 16 Contoh busana ready-to-wear deluxe ... 19
Gambar 2. 17 Busana victorian vs busana flapper ... 20
Gambar 2. 18 Wanita Flapper tahun 1920-an ... 22
Gambar 2. 19 Suasana pesta pada tahun 1920-an ... 22
Gambar 2. 20 Busana flapper pada tahun 1920-an ... 23
Gambar 2. 21 Beberapa contoh gaun malam tahun 1920-an ... 24
Gambar 2. 22 Panjang busana tahun 1920-an ... 25
Gambar 2. 23 Waistline pada busana tahun 1920-an ... 25
Gambar 2. 24 Step-in... 26
Gambar 2. 25 Topi pada tahun 1920-an ... 26
Gambar 2. 26 Stocking pada tahun 1920-an... 27
Gambar 2. 27 Macam-macam model rambut pada tahun 1920 ... 28
Gambar 2. 28 Lingkaran warna ... 29
Gambar 2. 30 Warna sekunder ... 30
Gambar 2. 31 Warna intermediet ... 30
Gambar 2. 32 Kiri : americansateen, kanan : sateenmerlot ... 32
Gambar 2. 33 Kiri: taffeta dove paris, kanan: taffeta gucci ... 33
Gambar 2. 34 Sifon mentega ... 33
Gambar 2. 35 Semi french lace ... 34
Gambar 2. 36 Macam-macam beads ... 34
Gambar 2. 37 Contoh aplikasi fringe pada busana ... 35
Gambar 3. 1 Bentuk busana flapper...37
Gambar 3. 2 Tari Charleston ... 38
Gambar 3. 3 Louis Brooks ... 39
Gambar 3. 4 Aktris Hollywood Blake Lively ... 40
Gambar 3. 5 Acara Charity Night ... 40
Gambar 3. 6 Acara fashionshow ... 41
Gambar 3. 7 Acara tematik 1920 ... 41
Gambar 4. 1 Moodboard The Flapper………...43
Gambar 4. 2 Colour chart ... 44
Gambar 4. 8 Kiri: liontin kristal, kanan: mutiara kristal ... 46
Gambar 4. 9 Kiri: mute batang, kanan: mute pasir ... 46
Gambar 4. 10 Pembuatan pola ... 48
Gambar 4. 11 Tahap cutting ... 49
Gambar 4. 12 Pengaplikasian lace ... 50
Gambar 4. 13 Pengaplikasian fringe pada busana ... 50
Gambar 4. 14 Material desain 1 ... 50
Gambar 4. 15 Busana 1 tampak depan dan belakang ... 51
Gambar 4. 16 Material desain 2 ... 51
Gambar 4. 17 Busana 2 tampak depan dan belakang ... 52
Gambar 4. 19 Busana 3 tampak depan dan belakang ... 53
Gambar 4. 20 Material desain 4 ... 53
Gambar 4. 21 Busana 4 tampak depan dan belakang ... 54
Gambar 4. 22 Fringe pada busana 1 dan 2... 55
Gambar 4. 23 Fringe pada busana 3 dan 4... 55
Gambar 4. 24 Headpiece pada tahun 1920-an ... 55
Gambar 4. 25 Headpiece busana 1 dan 2 ... 56
Gambar 4. 26 Headpiece busana 3 dan 4 ... 56
Gambar 4. 27 Sepatu pada tahun 1920-an ... 56
Gambar 4. 28 Sepatu The Flapper ... 57
Gambar 4. 29 Sepatu The Flapper ... 57
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tren fashion yang berkembang tidak selalu baru dalam semua unsurnya, karena tren fashion dapat menggunakan atau menggabungkan dari unsur tren
fashion sebelumnya. Sebab itu,tren fashion saat ini tidak terlepas dari perkembangan fashion di era sebelumnya. Pada era sebelumnya, sebagian besar karakter busana yang dikenakan dapat terbilang rumit terutama busana yang
dikenakan oleh para kalangan bangsawan. Namun demikian, setiap era tetap
memiliki ciri khas busana masing-masing karena faktor perkembangan jaman
seperti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bergeser dengan cepat.
Perbedaan busana di tiap era tersebut menjadi suatu hal yang menarik untuk
diolah kembali menjadi inspirasi bagi pembentukan konsep koleksi busana
modern yang disesuaikan dengan target market saat ini.
Terkait dengan hal tersebut, tema untuk koleksi yang menjadi inspirasi
dari tugas akhir ini adalah gaya flapper yang pernah populer pada tahun 1920. Tren fashion pada tahun 1920 dipengaruhi oleh dua revolusi dekade yaitu peran Amerika yang tumbuh sebagai pemimpin ekonomi dunia pasca Perang Dunia I,
serta lahirnya wanita yang mandiri dan bebas untuk melakukan apapun dan
berpakaian. Kebebasan setelah Perang Dunia I membuat era ini memasuki era
modern di mana seni dan ekspresi dalam berkreasi tumbuh kembali menjadi baru.
Era tersebut juga dijuluki era The Roaring Twenties. Pemberontakan generasi muda bukan hanya terjadi di era sekarang, namun juga di era pasca
Perang Dunia Pertama, dimana nilai-nilai sosial berubah dengan drastis. Flapper
dapat memiliki beragam arti, pertama flapper dapat berarti seekor anak burung yang sudah berbulu dan sedang belajar terbang dengan mengepakan sayapnya.
Sedangkan makna lainnya berarti seorang perempuan yang serba canggung,
belum dapat dikategorikan dewasa, namun sudah tidak pantas lagi disebut sebagai
Semenjak era tersebut, wanita semakin menonjolkan dirinya dalam
berbagai bidang kehidupan lewat berbagai peran penting yang ada di masyarakat.
Mereka ingin terlihat mandiri dan menarik dengan prestasinya, sehingga
diperlukan juga penampilan yang dapat menunjang berbagai aktivitasnya.
Penampilan yang baik tentu akan memberikan kesan yang pantas bagi para
koleganya. Adanya persamaan pergerakan wanita pada era 1920-an dan era kini
membuat adanya ketertarikan untuk dijadikan sebuah inpirasi tugas akhir ini.
Oleh karena itu, dibuatlah rancangan menurut tema flapper di atas yang kemudian diwujudkan dalam jenis koleksi ready-to-wear deluxe dengan pemilihan material dan fabric manipulating yang sesuai. Koleksi ini menunjukan kesan simple namun juga terlihat elegan dan mewah dengan detail-detail seperti
fringe yang diterapkan pada setiap busana, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar, terutama wanita Indonesia dewasa ini. Tren flapper atau gaya tahun 20-an belum banyak diangkat di Indonesia, namun mulai banyak diangkat
desainer-desainer ternama dunia. Dengan demikian, dari koleksi tugas akhir ini diharapkan
membawa inovasi dan pengenalan baru tentang gaya flapper di Indonesia, khususnya kota Bandung.
Koleksi ready-to-wear deluxe ini ditujukan untuk wanita dewasa, terutama kaum sosialita dengan ekonomi kelas menengah ke atas yang berusia 20 tahun
hingga 35 tahun dengan karakter feminin yang kuat, trendi, dan ingin tampil
elegan serta glamor. Koleksi ini dapat dipakai untuk menghadiri pesta-pesta
universal, tematik atau suatu acara semi formal lainnya.
1.2 Identifikasi Masalah
Dari pembahasan latar belakang di atas, maka identifikasi masalah dalam
tugas akhir ini terbagi menjadi:
1. Penerapan konsep pada rancangan busana agar sesuai dengan citra
flapper. Kemudian perumusan tema yang menghasilkan ilustrasi yang sesuai untuk direalisasikan menjadi satu koleksi busana.
2. Menampilkan rancangan koleksi ready-to-wear deluxe dengan kesan
manipulating yaitu dengan penggunaan mute untuk pembuatan fringe
dengan beads yang diaplikasikan pada setiap busana.
1.3 Batasan Masalah
Masalah pada perancangan ini dibatasi pada inspirasi gaya flapper pada tahun 1920-an dan target market atau sasaran koleksi yang disesuaikan dengan
kebutuhan pasar masa kini. Oleh karena itu, rancangan yang dibuat adalah mini
dress dengan model yang simple yang memiliki siluet lurus dan menggunakan satu tone warna, juga dengan aksen tambahan berupa fringe dan lace pada setiap busana. Bentuk siluet dengan padu padan fabric manipulating yang dirancang sedemikian rupa supaya terlihat sesuai dengan tema yang diangkat. Perancang
juga menggunakan aplikasi fringe berupa beading fringe pada setiap busana dengan warna-warna senada sehingga terlihat menarik dan memberikan kesan
mewah dan tidak monoton.
1.4 Tujuan Perancangan
Tujuan perancangan yang ingin dicapai dalam pembuatan koleksi ini
adalah membuat busana ready-to-wear deluxe dengan tampilan flapper yang berkesan simple, mewah, dan elegan yang nyaman dipakai, dan dipasarkan dalam segmentasi pasar masa kini dengan kisaran usia 20-35 tahun. Selain itu,
perancangan ini juga bertujuan membuat busana yang cocok untuk dipakai ke
pesta universal, tematik atau acara-acara semi formal tertentu.
1.5 Metode Perancangan
Gambar 1. 1 Bagan metode perancangan (Veronica, 2013)
Tahap pertama yang dilakukan dalam pembuatan koleksi ini adalah
dengan mencari berbagai alternatif inspirasi yang dapat dijadikan sebagai tema
koleksi busana tugas akhir. Lalu dilakukan riset awal untuk mengetahui dan
mempelajari lebih dalam tema yang akan dipilih.Selanjutnya,perancang
mengkhususkanmasalah pada tema flapper pada era 1920-an yang menjadi inspirasi pembuatan koleksi busana.Kemudian membuat mind map dan mood board yang memiliki tujuan untuk mempermudah proses perancangan, serta menjadi acuan dalam mendesain agar sesuai konsep.
Pada tahap kedua, dibuatlah beberapa alternatif ilustrasi fashion dan menentukan warna. Kemudian pemilihan material dilakukan dengan acuan
rancangan yang terpilih dari banyaknya alternatif desain busana. Material yang
dipilih menggunakan 3 jenis kain sebagai kain utama, yaitu kain yang tidak terlalu
kaku seperti sateen dan taffeta, selain itu dipilih juga kain sifon yang memberikan kesan loose dan ringan ketika dikenakan.
Tahap ketiga masuk ke tahap produksi, yakni pembuatan dan
pengguntingan pola pada kain sesuai desain yang telah dipilih untuk
direalisasikan. Kemudian memulai proses penjahitan sampai memasang furing
sampai menjadi satu kesatuan busana yang utuh.
Pada tahap keempat yaitu proses terakhir adalah tahap finalisasi, yakni
desain sehingga menimbulkan kesan mewah, serta perancangan atribut lainnya
seperti aksesoris kepala dan sepatu.
1.6 Sistematika Penulisan
Bab 1 Pendahuluan, menjelaskan tentang latar belakang, identifikasi
masalah, batasan masalah, tujun perancangan, metode perancangan, serta
sistematika penulisan laporan.
Bab 2 Landasan Teori, menguraikan tentang teori-teori yang membantu
dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Teori-teori ini menjadi dasar dalam
merancang busana dengan tema yang telah ditentukan.
Bab 3 Objek Perancangan, menjelaskan tentang objek studi yang menjadi
inspirasi dari tema yang dipilih. Selain itu juga dibahas tentang target market yang
akan dituju dari busana yang dirancang.
Bab 4 Konsep Perancangan, membahas tentang perancangan umum dan
perancangan khusus dan terperinci tentang koleksi busana yang direalisasikan
pada tugas akhir.
Bab 5 Penutup yang merupakan bab akhir, berisi tentang kesimpulan dan
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melalui berbagai proses dalam pembuatan koleksi The Flapper, maka telah tercapai tujuan awal dari pembuatan koleksi ready-to-wear deluxe ini, yaitu sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat dewasa
ini. Di samping itu, tidak hanya menghadirkan koleksi ready-to-wear deluxe saja, namun ready-to-wear deluxe dengan konsep semangat busana flapper di masa lalu ke target market wanita dewasa masa kini melalui pengolahan siluet, material,
fabric manipulating, hingga berbagai aksesoris pendukung lainya, seperti hiasan kepala dan sepatu.
Koleksi busana tugas akhir dengan tema flapper ini dapat dikenakan ke berbagai acara pesta yang bertema universal maupun tematik, dapat pula
dikenakan pada pesta semi formal, seperti acara pernikahan, acara fashion show, acara charity kaum sosialita, acara launching suatu produk fashion. Namun, dilihat dari kesan warna yang dihasilkan antara perpaduan material dan fabric manipulating, koleksi busana The Flapper lebih cocok dikenakan ke acara-acara pesta di malam hari.
Dalam keseluruhan proses perancangan yang telah dilakukan terdapat
beberapa kendala, yaitu :
1. Kendala dalam pencarian empat bahan kain dengan 1 tone warna dan
lace yang senada dengan bahan kain utama, serta kendala berupa teknis, yaitu pengerjaan pola busana yang dibuat dengan beberapa
pola alternatif untuk memaksimalkan hasil dalam setiap rancangan.
Hal tersebut menyebabkan diperlukannya waktu yang lebih lama ke
tahap pengerjaan.
2. Kendala teknis dalam proses pembuatan fringe. Dalam proses ini diperlukan kesabaran dan ketelatenan dalam menyusun tiap lembar
yang cukup lama, selain itu penjahitan fringe pada busana harus kencang agar tidak mudah lepas.
3. Proses memerlukan percobaan pembuatan busana menggunakan kain
belacu atau bahan lain terlebih dulu untuk mendapatkan hasil busana
yang sesuai dengan keinginan.
5.2 Saran
Berdasarkan keseluruhan proses yang telah dilakukan hingga dapat
menyelesaikan pembuatan koleksi The Flapper, maka terdapat beberapa saran yang dapat diberikan perancang, yaitu sebagai berikut :
1. Diharapkan perancangan koleksi busana dapat terus berkembang dan
semakin inovatif di masa mendatang. Tema yang diangkat tidak selalu
harus merupakan tema yang benar-benar baru, namun melalui sejarah
dan berbagai peristiwa penting yang terjadi di masa lalu juga dapat
diangkat kembali sebagai proses pembelajaran dan inspirasi untuk ke
depannya. Namun begitu, tema-tema yang bersifat historis atau
diangkat dari suatu era masa lampau harus disesuaikan dengan target
market yang dituju.
2. Perancangan busana dengan tidak harus selalu menghasilkan jenis
perancangan adi busana atau couture, namun juga harus dapat melihat dan menyesuaikan dengan peluang pasar sehingga sangat dibutuhkan
pengembangan kualitas desain yang baik bagi market terbesar, yakni
market ready-to-wear.
3. Perancangan busana ready-to-wear deluxe dengan konsep tertentu, dalam hal ini konsep flapper, membutuhkan riset pendahuluan tentang konsep yang akan diangkat. Riset pendahuluan tidak hanya mengenai
busana yang dikenakan pada masa itu, namun juga gaya hidup dan
peristiwa-peristiwa penting seperti penemuan-penemuan baru di
bidang teknologi. Sehingga konsep desain yang dihasilkan tidak hanya
tampak dari kulit luarnya saja, namun juga melalui kesatuan konsep
DAFTAR PUSTAKA
Barnard, Malcom. 2009. Fashion sebagai Komunikasi: Cara Mengomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, dan Gender (terj. Idy Subandi Ibrahim). Yogyakarta: Penerbit Jalasutra
Davis, L. Marian. 1980. Visual Design in Dress. New Jersey: Englewood Cliffs Publishing
Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa (Indonesia) 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Poespo, Goet. 2009. A to Z Istilah Fashion. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Pratiwi, Djati. 2001. Pola Dasar dan Pecah Pola Busana. Jakarta: Kanisius
Daftar Situs untuk Pustaka:
http://www.desainbusana.com/2012/08/sejarah-fashion-dunia.html diakses pada
tanggal 12 Oktober 2013 pukul 22.15 WIB
http://www.1920-30.com/ diakses pada tanggal 3 Oktober 2013 pukul 18.06 WIB
http://www.fashion-era.com/flapper_fashion_1920s.html diakses pada tanggal 3
Oktober 2013 pukul 18.17 WIB
http://sharairany.blogspot.com/2010/02/sejarah-fashion-tahun-1920.html diakses
pada tanggal 15 Oktober 2013 pukul 20.06 WIB
http://bahankain.com/2013/06/11/mengenal-kain-sifon-atau-chiffon/ diakses pada