ABSTRAK
MOTIVASI BELAJAR REMAJA YANG MENGALAMI BROKEN HOME (STUDI KASUS)
FELISITAS PURNANINGSIH UNIVERSITAS SANATA DHARMA
2016
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bagaimana hubungan remaja Broken Home dengan ayah dan ibu, (2) bagaimana motivasi belajar remaja yang mengalami Broken Home, (3) cara remaja untuk dapat memperoleh motivasi dalam belajarnya di sekolah, (4) dan apakah remaja Broken Home masih mempunyai motivasi untuk belajar di sekolah
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data yang dipakai adalah observasi dan wawancara mendalam. Informasi yang dikumpulkan berasal dari ketiga sumber dan dari hasil observasi peneliti selama melakukan penelitian di rumah, tempat bermain dan sekolah subjek. Subjek penelitian ini adalah A, V, dan G. Ketiga subjek sama-sama masih duduk di SMA sekolah yang sama namun beda kelas. Ketiga subjek yang peneliti ambil adalah remaja yang mengalami Broken Home.
ABSTRACT
THE LEARNING MOTIVATION OF ADOLESCENTS FROM BROKEN HOME FAMILIES
(A CASE STUDY) FELISITAS PURNANINGSIH SANATA DHARMA UNIVERSITY
2016
This research aims to find out how the relationship (1) between adolescents from Broken Home families and their parents, (2) how motivated the broken-home adolescents to study, (3) the way adolescents gain motivation to study at schools and, (4) are the broken-home adolescents still motivated to study at school.
This type of research is qualitative research. The data collection method used is the observation and in-depth interviews. The information gethered comes from these there sources and from observation during the research at home in the playground and the subject’s school. The subject’s of this research here (A, V, and G). The three subject’s are all highschool students from different classes. The three subject’s that the researcher took is broken-home teenager.
MOTIVASI BELAJAR
REMAJA YANG MENGALAMI BROKEN HOME
(STUDI KASUS)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Oleh :
Felisitas Purnaningsih NIM 121114011
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
i
MOTIVASI BELAJAR
REMAJA YANG MENGALAMI BROKEN HOME
(STUDI KASUS)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Oleh :
Felisitas Purnaningsih NIM 121114011
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv MOTTO
“Semoga Hati Kudus Yesus di
kasihi dimana-mana”
“Segala kesulitan, pergemulan
dan tantangan dalam hidup,
akan menjadi peluang, sarana
dan kesempatan yang baik yang
P
Saya menyatakan den memuat karya atau ba kutipan dan daftar pust
v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang say u bagian karya orang lain, kecuali yang telah di pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 1 Penulis,
Felisitas Purna
saya tulis ini tidak h disebutkan dalam
, 16 Agustus 2016
LEMBAR PERNYA mengalihkan dalam be data, mendistribusika
an ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Dharma karya ilmiah yang berjudul:
AJAR REMAJA YANG MENGALAMI BR yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian sa kaan Universitas Sanata Dharma hak untuk
bentuk media lain, megelolanya dalam be busikan secara terbatas, dan mempublikasikan
kepentingan akademis tanpa perlu meminta kan royalti kepada saya selama teteap mencantum
n pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya
vii ABSTRAK
MOTIVASI BELAJAR REMAJA YANG MENGALAMI BROKEN HOME (STUDI KASUS)
FELISITAS PURNANINGSIH UNIVERSITAS SANATA DHARMA
2016
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bagaimana hubungan remaja Broken Home dengan ayah dan ibu, (2) bagaimana motivasi belajar remaja yang mengalami Broken Home, (3) cara remaja untuk dapat memperoleh motivasi dalam belajarnya di sekolah, (4) dan apakah remaja Broken Home masih mempunyai motivasi untuk belajar di sekolah
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data yang dipakai adalah observasi dan wawancara mendalam. Informasi yang dikumpulkan berasal dari ketiga sumber dan dari hasil observasi peneliti selama melakukan penelitian di rumah, tempat bermain dan sekolah subjek. Subjek penelitian ini adalah A, V, dan G. Ketiga subjek sama-sama masih duduk di SMA sekolah yang sama namun beda kelas. Ketiga subjek yang peneliti ambil adalah remaja yang mengalami Broken Home.
viii ABSTRACT
THE LEARNING MOTIVATION OF ADOLESCENTS FROM BROKEN HOME FAMILIES
(A CASE STUDY) FELISITAS PURNANINGSIH SANATA DHARMA UNIVERSITY
2016
This research aims to find out how the relationship (1) between adolescents from Broken Home families and their parents, (2) how motivated the broken-home adolescents to study, (3) the way adolescents gain motivation to study at schools and, (4) are the broken-home adolescents still motivated to study at school.
This type of research is qualitative research. The data collection method used is the observation and in-depth interviews. The information gethered comes from these there sources and from observation during the research at home in the playground and the subject’s school. The subject’s of this research here (A, V, and G). The three subject’s are all highschool students from different classes. The three subject’s that the researcher took is broken-home teenager.
ix
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti tunjukan kepada Tuhan Yesus yang telah memberikan berkat, perlindungan dan mujizatnya yang luar biasa sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul Motivasi Belajar Remaja yang Mengalami Broken Home.
Penulisan skripsi ini merupakan tugas akhir sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penelitian ini dapa terselesaikan berkat bantuan, dukungan, saran-saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti mengucap terimakasih kepada:
1. Rohandi, Ph. D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.
2. Dr. Gendon Barus, M. Si., selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.
3. Drs. Robertus Budi Sarwono, M.A., selaku dosen pembimbing yang dengan sabar senantiasa memberikan petunjuk, pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi.
4. Guru BK di sekolah SMA Bruderan Purwokerto yang sudah memberikan banyak informasi dan subjek yang sudah mau menerima menjadi subjek penelitian oleh peneliti.
5. Kedua orang tuaku Yohanes Sumarsono dan Margareta Paryati yang selalu memberikan dukungan, semangat, kasih sayang, dan pastinya doa yang menyertaiku.
6. Maria Purwaningsih kakakku yang selalu mendukung dan memberikan semangat dan doanya.
7. Stefanus Oneil dedek kesayangan yang memberi semangat untuk peneliti. 8. Felicitas Noi F.R yang menjadi kekasihku, selalu mendukung,
memberikan semangat, kasih sayang, doa dan selalu membantuku di saat susah maupun senang.
x
10. Angkatan 2012 A Bimbingan dan Konseling yang sudah memberikan dukungan dan semangat.
11. Semua rekan dan pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu terimakasih dukungannya.
Penulis menyadari skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan, namun begitu penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi dunia Bimbingan dan Konseling. Serta dapat memberikan referensi bagi mahasiswa untuk membacanya.
xi
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA... vi
ABSTRAK... vii
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Identifikasi Masalah... 5
C. Batasan Masalah... 6
D. Pertanyaan Penelitian... 6
E. Tujuan Penelitian... 7
F. Manfaat Penelitian... 7
BAB II Kajian Pustaka... 9
A. Kajian Teori... 9
1. Motivasi Belajar... 9
a. Pengertian Motivasi... 9
b. Fungsi Motivasi... 10
c. Pengertian Belajar... 10
d. Ciri-ciri Motivasi Belajar... 11
e. Aspek-aspek Motivasi Belajar... 11
f. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar... 13
xii
a. Pengertian Broken Home... 14
b. Ciri-ciri Keluarga Broken Home... 15
c. Aspek-aspek yang Mempengaruhi Remaja Mengalami Broken Home... 15
d. Dampak Bagi Korban Broken Home... 16
3. Pengertian Remaja... 16
B. Kajian Penelitian Relevan... 17
C. Kerangka Pikir... 20
BAB III METODE PENELITIAN... 23
A. Jenis Penelitian... 23
B. Tempat dan Waktu Penelitian... 24
C. Subjek dan Objek Penelitian... 24
D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data... 25
1. Wawancara... 26
2. Observasi... 27
E. Keabsahan Data... 28
F. Teknik Analisis Data... 29
BAB IV HASIL PENELITIAN... 31
A. Deskripsi Data... 31
B. Analisis Data... 44
C. Pembahasan... 54
BAB V SIMPULAN DAN SARAN... 57
A. Simpulan... 57
B. Keterbatasan Penelitian... 58
C. Saran... 58
DAFTAR PUSTAKA... 61
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Hasil Observasi... 63
A. Subjek 1... 63
B. Subjek 2... 64
C. Subjek 3... 66
Lampiran 2: Lembar Verbatim... 69
A. Subjek A... 69
B. Subjek V... 71
C. Subjek G... 73
D. Guru BK... 75
Lampiran 3: Lembar Coding... 76
A. Subjek A... 76
B. Subjek V... 77
C. Subjek G... 78
1 BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab ini dipaparkan latar belakang masalah yang mendeskripsikan mengenai permasalahan yang terjadi di lapangan. Latar belakang ini menjelaskan garis besar masalah yang ditemukan oleh peneliti. Selain itu latar belakang pada bab ini juga mendeskripsikan alasan peneliti mengambil judul penelitian ini. Pada bab ini juga dipaparkan mengenai identifikasi masalah/kasus, pembatasan masalah dan fokus penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.
A. Latar Belakang Masalah
Fungsi keluarga adalah memberi pengayoman sehingga menjamin rasa aman, maka dalam masa kritisnya remaja sungguh-sungguh membutuhkan realisasi fungsi tersebut. Masa kritis diwarnai oleh konflik-konflik internal, pemikiran kritis, perasaan mudah tersinggung, cita-cita dan kemauan yang tinggi tetapi sukar ia kerjakan sehingga ia frustasi dan sebagainya. Masalah keluarga yang Broken Home bukan menjadi masalah baru tetapi merupakan masalah yang utama dari akar-akar kehidupan seorang remaja.
Banyaknya kasus perceraian di Indonesia dapat dilihat dari berita-berita tentang perceraian di kalangan para selebritis belakangan ini. Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama (Kemenag) menyebutkan, angka perceraian di Indonesia lima tahun terakhir terus meningkat. Pada tahun 2010-2014, dari sekitar 2 juta pasangan menikah, 15 persen di antaranya bercerai. Angka perceraian yang diputus pengadilan tinggi agama seluruh Indonesia tahun 2014 mencapai 382.231, naik sekitar 100.000 kasus dibandingkan dengan pada tahun 2010 sebanyak 251.208 kasus. Perceraian merupakan salah satu jalan terbaik bagi suami dan isteri untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun apapun alasannya, perceraian dapat menimbulkan akibat buruk pada anak.
Dalam suatu keluarga yang utuh, dalam arti masih lengkap strukturnya (ayah dan ibu masih hidup), ceria dan tidak sering cekcok, perhatian orang tua terhadap kegiatan belajar anak akan lebih banyak kesempatannya. Interaksi sosial yang harmonis dan kesepahaman mengenai norma-norma pada diri ayah dan ibu akan berpengaruh pula terhadap kemajuan belajar anak.
Sebaliknya dalam suatu keluarga, jika salah satu atau kedua orang tua meninggal, bercerai atau meninggalkan keluarga dalam waktu yang relatifcukup lama, jelas tidak dapat memperhatikan anak-anak dengan baik. Anak kurang mendapat kasih sayang yang selanjutnya akan berdampak pada motivasi dan hasil belajarnya di sekolah.
Pengaruh faktor broken home keluarga menjadi faktor negatif dalam penemuan identitas yang sehat. Sehingga remaja cenderung mengalami fase kebingungan akan identitasnya. Perkembangan afeksi juga bisa mengalami hambatan. Hal ini dikarenakan adanya pengabaian afeksi oleh orang tuanya.
terhadap diri remaja dan akan menghambat proses belajarnya. Seperti prestasi belajar menurun, mengalami kesulitan dalam belajar, remaja cenderung menjadi pendiam, suka menyendiri dan suka melamun dengan keadaan seperti itu maka hasil belajarnya akan menurun sehingga akan berdampak rendahnya motivasi belajar remaja.
Broken Home sebenarnya merupakan realitas yang cukup berimplikasi negatif bagi perkembangan kepribadian yang sehat, meskipun kita mengakui peranan lingkungan dalam perkembangan individu. Akan tetapi, faktor Broken Home nampaknya memiliki peranan cukup banyak dalam kehidupan pada jaman sekarang.
Sebenarnya Broken Home dapat disebabkan oleh berbagai faktor, akan tetapi yang jelas semua berawal dari rasa ketidakcocokan. Untuk itu, peneliti ingin mengungkap realitas yang ada dalam fenomena Broken Home dengan harapan bisa memberikan bahan studi kasus tentang
kasus-kasus anak yang mengalami Broken Home.
betah tinggal di rumah sendiri, malas, murung, pendiam, tidak mau bergaul, cenderung berperilaku nakal dan kurang memiliki motivasi dalam belajarnya. Pemilihan subjek yang peneliti ambil adalah beberapa remaja di salah satu sekolah SMA yang ada di kota Purwokerto yang mengalami kasus Broken Home. Peneliti mengharapkan meskipun ada banyak anak remaja yang mengalami kasus Broken Home mereka harus tetap menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.
B. Identifikasi Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah di atas, terkait dengan kebutuhan anak yang mengalami Broken Home telah diidentifikasikan berbagai masalah sebagai berikut:
1. Kurangnya motivasi belajar remaja karena terpengaruhi oleh keluarganya yang tidak harmonis (Broken Home).
2. Ayah dan ibu kurang dapat berperan dan berfungsi sebagai orang tua yang sebenarnya sehingga remaja kurang memiliki motivasi dalam belajarnya di sekolah.
3. Kebutuhan psikologis remaja yang sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan hidup remaja orang tua sering kali tidak menyadarinya. 4. Perhatian yang diperlukan remaja dari orang tuanya adalah disayangi
C. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan untuk menjawab masalah-masalah yang teridentifikasi di atas khususnya:
1. Peneliti mengambil partisipan sebanyak tiga remaja dari salah satu SMA yang ada di Purwokerto masalah-masalah yang peneliti ambil mengenai motivasi remaja yang mengalami Broken Home.
2. Selain itu peneliti juga melihat adakah motivasi belajar remaja yang mengalami keluarga Broken Home.
D. Pertanyaan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti mengacu pada asumsi pertanyaan pokok bagaimana asumsi pribadi remaja dalam keluarga yang Broken Home, yaitu:
1. Bagaimana hubungan remaja Broken Home dengan ayah dan ibu? 2. Bagaimana motivasi belajar remaja yang mengalami Broken Home di
salah satu SMA yang ada di Purwokerto?
3. Bagaimana cara remaja untuk dapat memperoleh motivasi dalam belajarnya di sekolah?
4. Apakah remaja Broken Home masih mempunyai motivasi untuk belajar di sekolah?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini, yaitu:
2. Untuk mengetahui motivasi belajar remaja yang mengalami Broken Home di salah satu SMA yang ada di Purwokerto.
3. Untuk mengetahui cara remaja untuk dapat memperoleh motivasi dalam belajarnya di sekolah.
4. Untuk mengetahui remaja Broken Home masih mempunyai motivasi untuk belajar di sekolah.
F. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, peneliti berharap muncul beberapa manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Peneliti dapat menjadi bahan studi kasus untuk mengembangkan teori-teori yang sudah ada. Selain itu, diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan peneliti dalam penanganan masalah-masalah anak yang mengalami Broken Home. Selain itu, peneliti mampu menangani masalah yang dihadapi oleh remaja yang mengalami Broken Home setelah peneliti meneliti beberapa remaja yang sudah ditemui.
2. Manfaat Praktis Memberi manfaat bagi: a. Subjek
mereka tetap menjalani hidup dengan sebaik-baiknya supaya mereka tetap memiliki motivasi dalam belajarnya di sekolah. Selain itu, mereka juga dapat memahami bentuk-bentuk dan dampak positif ataupun negatif dalam pecahnya keluarga sehingga mampu mengambil hal positifnya.
b. Penulis
1) Memperoleh pengalaman melakukan penelitian dalam mengetahui mengetahui adakah motivasi belajar remaja yang mengalami keluarga Broken Home.
2) Memperoleh pengalaman dari karakteristik setiap remaja yang mengalami keluarga Broken Home.
9 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Motivasi Belajar
a. Pengertian Motivasi
Mc.Donald (dalam Rohmah, 2011:240) menyatakan bahwa pengertian motivasi merupakan perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan
didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Motivasi merupakan perubahan energi dalam diri atau pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Hamalik, 2009:173). Motivasi melibatkan proses yang memberikan energi, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Dengan demikian, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang mengandung energi, memiliki arah, dan dapat dipertahankan (Santrock, 2009:199). Motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu (Uno, 2008:95).
b. Fungsi Motivasi
Motivasi diperlukan dalam menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Menurut Hamalik (2009:161) fungsi motivasi sebagai berikut:
1) Mendorong timbulnya suatu kelakuan atau perbuatan. Tanpa adanya motivasi maka tidak akan timbul perbuatan seperti belajar.
2) Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan perbuatan ke pencapaian tujuan yang diinginkan.
3) Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Artinya sebagai mesin dalam mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu pekerjaan.
c. Pengertian Belajar
Belajar sebagai aktifitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap (Winkel: 1996:53).
Secara keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan tergantung pada proses belajarnya.
Pengertian belajar dari para ahli dapat disimpulkan belajar merupakan perubahan dari diri seseorang bahwa semua aktivitas mental atau psikis yang dilakukan oleh seseorang sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda antara sesudah belajar dan sebelum belajar.
d. Ciri-ciri Motivasi Belajar
Menurut Sardiman (2003:58) motivasi belajar yang ada pada setiap orang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Tekun menghadapi tugas 2) Ulet menghadapi kesulitan
3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah 4) Lebih senang bekerja mandiri
5) Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (berulang-ulang) 6) Dapat mempertahankan pendapatnya
7) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini
8) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal e. Aspek-aspek Motivasi Belajar
Terdapat dua aspek dalam teori motivasi belajar yang dikemukakan oleh Santrock (2002), yaitu:
dalam menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik. Terdapat dua kegunaan dari hadiah, yaitu sebagai insentif agar mau mengerjakan tugas dimana tujuannya adalah mengontrol perilaku siswa, dan mengandung informasi tentang penguasaan keahlian.
2) Motivasi Intrinsik, yaitu motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya, siswa belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujukan itu. Siswa termotivasi untuk belajar saat mereka diberi pilihan, senang menghadapi tantangan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Terdapat dua jenis motivasi intrinsik, yaitu:
a) Motivasi intrinsik berdasarkan determinasi diri dan pilihan personal. Artinya dalam pandangan ini, siswa ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal.
f. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Motivasi belajar merupakan proses batin/ proses psikologis yang terjadi pada seseorang dipengaruhi oleh faktor ekstern dan intern siswa. Faktor ekstern siswa meliputi lingkungan belajar, ruang belajar, peralatan, fasilitas belajar, media belajar dan sebagainya. Faktor intern siswa meliputi pembawaan, tingkat pendekatan, pengalaman, masa lampau, keinginan atau harapan-harapan masa depan. Berikut ini adalah faktor-faktor yang memotivasi seseorang untuk belajar lebih baik lagi (Liliweri: 2007):
a. Keinginan bergabung dengan suatu kelompok atau organisasi untuk mengejar suatu cita-cita yang relatif permanen.
b. Keinginan mendukung setiap bentuk kegiatan yang dapat memenuhi kebutuhan, keinginan dan cita-cita.
c. Keinginan mengubah kualitas hidup agar lebih baik.
d. Keinginan agar pribadi diperhatikan, dihormati dan dihargai. e. Keyakinan dapat melakukan dengan baik jika mendapat
informasi yang memadai.
Menurut Mustaqim dan Wahid (2010), seorang guru dapat merangsang perhatian dan dorongan dengan banyak cara, yaitu: a. Memperhatikan kematangan siswa.
b. Adanya usaha yang bertujuan.
d. Adanya penghargaan dan dorongan. e. Adanya partisipasi.
f. Adanya perhatian. 2. Broken Home
a. Pengertian Broken Home
Arti Broken Home dalam bahasa Indonesia adalah perpecahan dalam keluarga. Broken Home dapat juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran (Santrock: 2002).
Broken Home adalah kurangnya perhatian dari keluarga atau
kurangnya kasih sayang orang tua sehingga membuat mental seorang anak menjadi frustasi, brutal dan susah diatur (Kartono: 1996).
sejahtera akibat seringnya terjadi konflik yang menyebabkan perpisahan.
b. Ciri-ciri Keluarga Broken Home
Berdasarkan beberapa asumsi dalam literatur, peneliti menemukan bahwa keluarga Broken Home bukan hanya keluarga dengan kasus perceraian saja. Keluarga Broken Home secara keseluruhan berarti keluarga dimana fungsi ayah dan ibu sebagai orang tua tidak berjalan baik secara fungsional. Fungsi orang tua pada dasarnya adalah sebagai motivator primer bagi anak, sebagai tempat anak untuk mendapatkan kasih sayang dan sebagainya. Jikalau fungsi orang tua ini terhambat maka aspek-aspek khusus dalam keluarga bisa dimungkinkan tidak terjadi.
Pada hakekatnya, anak membutuhkan orangtuanya untuk mengembangkan kepribadian yang sehat. Pada masa remaja, remaja memerlukan figur tertentu yang nantinya bisa menjadi figure sample dalam internalisasi nilai-nilai remajanya. Dengan tidak berfungsinya peran orang tua sebagaimana mestinya, maka hal ini bisa terhambat.
c. Aspek-aspek yang Mempengaruhi Remaja Mengalami Broken
Home
Terdapat empat aspek yang mempengaruhi remaja mengalami Broken Home Hartley (dalam Sumadi: 2007), yaitu:
2) Ketidakdewasaan sikap orang tua yang bertengkar di depan anak-anaknya.
3) Tidak bertanggung jawabnya orang tua sehingga tidak memikirkan dampak dalam kehidupan anak-anak mereka. 4) Jauh dari Tuhan sehingga masalah-masalah tidak
diserahkan kepada Tuhan, kehilangan kehangatan dalam keluarga antara orang tua dan anak.
d. Dampak Bagi Korban Broken Home
Beberapa dampak yang muncul dari seorang yang mengalami Broken Home antara lain:
1) Academic Problem
Seseorang yang mengalami Broken Home akan menjadi orang yang malas belajar, dan tidak bersemangat serta tidak berprestasi.
2) Behavioural Problem
Mereka mulai membrontak, kasar, masa bodoh, memiliki kebiasaan merusak, seperti mulai merokok, minum-minuman keras, judi, dan lari ketempat pelacuran.
3. Pengertian Remaja
ketika anak telah matang dalam aspek seksual dan kemudian berakhir setelah matang secara hukum (Hariyadi, 1993:18).
Remaja adalah mulai berpikir lebih abstrak dan idealistik ketika diminta untuk mendeskripsikan mengenai dirinya sendiri, remaja mulai menggunakan istilah-istilah yang lebih abstrak dan idealistik (Santrock, 2007:178).
Remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanakdan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun danberakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun (Papalia dan Olds, 2001).
Pengertian remaja dari para ahli dapat disimpulkan bahwa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak ke remaja awal sehingga masa remaja sudah dianggap matang secara seksual dan cara pikirnya.
B. Kajian Penelitian yang Relevan
harapan subjek untuk hidup lebih baik dan menyogsong masa depan mereka. Model pembelajaran yang diinginkan subjek penelitian adalah model pembelajaran secara formal, model keterampilan dibidang otomotif dan model pembelajaran kejar paket A.
2. Menurut hasil penelitian Setyowati (2007) mengenai “Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMPN 13 Semarang” menunjukan bahwa secara nyata motivasi belajar berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 13 Semarang, terbukti dengan adanya pengambilan data dengan cara observasi, dokumentasi, angket yang kemudian diolah dengan cara silmultan. Besarnya pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa kelas VII SMPN 13 Semarang sebesar 29,766 sedangkan sisanya sebesar 70,234 dipengaruhi oleh faktor-faktor lain termasuk anak yang memiliki keluarga yang broken home.
kegiatan belajar baik di dalam kelas maupun sekolah. Walaupun demikian siswa yang mempunyai masalah kepercayaan diri tersebut dapat dibantu untuk dapat ditingkatkan kepercayaan dirinya melalui Layanan Konseling Individual dengan Pendekatan Realita. Karena melalui layanan ini siswa akan dibantu dengan pola pemecahan masalah yang realistis dengan aplikasi-aplikasi kegiatan yang dapat dengan mudah dilaksanakan oleh para siswa tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya perubahan dan perkembangan pada setiap klien setelah diberikan konseling.
Kesimpulan dari penelitian yang relevan ini peneliti semakin yakin untuk memilih judul skripsi tentang anak yang mengalami Broken Home. Karena hampir semua peneliti mengungkapkan bahwa keluarga yang mengalami Broken Home, akan lahir anak-anak yang mengalami krisis kepribadian
sehingga perilakunya sering tidak sesuai. Merekapun masih memiliki motivasi belajar meskipun mengalami keluarga yang broken home. Kasus keluarga Broken Home ini sering kita temui di sekolah dengan penyesuaian diri yang
kesamaan penelitian oleh para ahli tentang broken home namun ada perbedaan dengan penelitian dari peneliti yaitu peneliti lebih melihat atau mendalami remaja yang mengalami broken home masih memiliki motivasi atau tidak dalam belajar di sekolah.
C. Kerangka Pikir
Broken Home sangat berpengaruh besar pada mental seorang
pelajar hal inilah yang mengakibatkan seorang pelajar tidak mempunyai motivasi dalam belajar di sekolah. Broken Home juga bisa merusak jiwa anak sehingga dalam sekolah mereka bersikap seenaknya saja, tidak disiplin di dalam kelas mereka sellalu berbuat keonaran dan kerusuhan hal ini dilakukan karena mereka hanya ingin mencari simpati pada teman-teman mereka bahkan pada guru-guru mereka.
Gambar 1.1
Dari gambar 1.1 diatas menunjukkan bahwa remaja yang memiliki keluarga yang utuh atau harmonis sehingga kebutuhan remaja untuk memiliki motivasi belajar tinggi. Remaja yang memiliki motivasi yang
MOTIVASI BELAJAR TINGGI AYAH &
tinggi akan selalu di dukung oleh kedua orang tuannya yang selalu memperhatikan anaknya dalam belajar entah di sekolah maupun di rumah.
Gambar 1.2
Dari gambar 1.2 diatas menunjukkan bahwa motivasi belajar remaja sangat rendah karena memiliki keluarga yang sudah tidak utuh atau tidak harmonis. Setiap kasus anak yang mengalami Broken Home, anak selalu menjadi atau dijadikan korban. Menjadi korban karena haknya mendapat lingkungan keluarga yang nyaman tidak diperoleh dari orang tuanya. Remaja dijadikan korban karena orang tua kerap melibatkan anak dalam konflik keluarga. Banyak orang tua yang saling tarik menarik anak saat konflik berlangsung dengan alasan cinta. Anak akan menjadi bingung
IBU AYAH
REMAJA
sehingga anak akan terombang ambing antara dua orang yang mengaku paling menyayanginya.
23 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Berdasarkan sifat, tujuan dan jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang masih bersifat sementara, akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan (Sugiyono, 2010:283). Dilihat berdasarkan sifat masalahnya penelitian ini berjenis penelitian studi kasus. Jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan beberapa metode pengumpulan data, yaitu wawancara dan observasi atas fenomena yang terlihat. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara semi-terstruktur. Artinya dimana peneliti tidak terlalu bergantung pada bahan wawancara dapat berjalan lebih fleksibel dan terarah.
Selain menggunakan metode wawancara, peneliti juga menggunakan metode observasi, yaitu mengobservasi perilaku subjek berdasarkan data yang diperoleh dari teman-teman dekat subjek.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian diadakan di salah satu SMA yang ada di Purwokerto. Sekolah ini dipilih sebagai tempat dari penelitian ini dikarenakan sekolah tersebut terkenal sebagai sekolah elite dengan biaya besar untuk dapat sekolah disitu. Selain itu, siswa yang bersekolah di tempat tersebut banyak dari kalangan menengah keatas yang kurang mendapat perhatian dari orang tua karena orang tua sibuk dengan karier masing-masing.
Hal ini diharapkan dapat mempermudah peneliti memperoleh informasi yang dibutuhkan, peneliti melakukan terjun langsung ke tempat tinggal anak.
Waktu yang digunakan oleh peneliti selama satu bulan dari bulan awal maret sampai akhir maret supaya peneliti dapat melihat keseharian dari objek yang peneliti teliti. Selain itu, peneliti juga dapat lebih mudah untuk membedakan karakteristik masing-masing anak yang sudah peneliti peroleh. Sehingga hasil yang diharapkan dapat berjalan secara optimal. C. Subjek dan Objek Penelitian
1. Merupakan remaja (laki-laki dan perempuan) yang kehidupanya mengalami Broken Home (orang tua bercerai, orang tua pisah rumah, orang tua sering bertengkar, dll) 2. Tinggal di kota Purwokerto.
3. Berstatus pelajar di salah satu SMA yang ada di Purwokerto.
4. Sudah memasuki remaja awal (15-18 tahun).
Penelitian ini diambil dari subyek penelitian yang dipilih berdasarkan kriteria tersebut. Subjek dalam penelitian ini berjumlah tiga remaja baik laki-laki maupun perempuan berusia sekitar 15-18 tahun dan berasal dari keluarga yang Broken Home. Sisi Broken Home yang ditekankan disini adalah Broken Home yang bukan hanya disebabkan karena salah satu atau kedua orang tuanya berpergian jauh baik tugas atau urusan lainnya. Broken Home subjek ditentukan karena ketidaksetiaan salah satu orangtuanya (baik ayah atau ibu). Kriteria lainnya yaitu subjek yang orang tuanya bercerai, salah satu orang tuanya meninggal, dan subjek tidak harus tinggal bersama dengan orang tuanya, misalnya subjek menjalani kehidupan di kos, dan keadaan terpisah lainnya dengan orangtuanya.
D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
melakukan wawancara dengan subjek yang peneliti teliti. Mulanya peneliti melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan subjek supaya subjek merasa nyaman dengan kedatangan dari peneliti dan mau melakukan sesi wawancara dengan peneliti.
Teknik yang kedua peneliti menggunakan teknik observasi yaitu dengan mengobservasi perilaku dari subjek yang peneliti teliti. Peneliti dapat memperoleh data dari teman-teman terdekat dari subjek. Sehingga teman-temannya mau bercerita tentang diri subjek yang peneliti teliti tersebut. Jika pernyataan dari teman-temannya memang sama dengan pernyataan dari subjek yang sudah peneliti wawancarai sebelumnya berarti memang benar subjek memiliki kondisi keluarga yang broken home.Masing-masing teknik pengumpulan data tersebut diuraikan sebagai
berikut:
1. Wawancara
Tabel 1
Pedoman Wawancara Terstruktur untuk Subjek
No Pertanyaan
1. Apakah saat di dalam kelas Anda sering bertanya kepada guru apabila mengalami kesulitan?
2. Apakah di sekolah Anda aktif mengikuti organisasi? Kalau aktif Anda sebagai apa? 3. Apakah Anda selalu merencanakan kegiatan beajar di rumah?
4. Sekarang Anda tinggal bersama dengan siapa di rumah? 5. Bagaimana relasi Anda dengan ayah dan ibu?
6. Apakah Anda masih mempunyai motivasi untuk belajar di sekolah?
7. Bagaimana cara Anda supaya bisa termotivasi dalam belajar Anda di sekolah? 8. Apakah ada seseorang yang membuat Anda dapat termotivasi untuk bisa belajar di
sekolah?
9. Apakah salah satu orang tua Anda memperhatikan Anda dalam belajar? 10. Apakah Anda merasa nyaman dengan kondisi keluarga Anda yang sekarang?
2. Observasi
selama proses penggalian data yang dilakukan bersama subjek ditempat tinggalnya maupun saat di sekolah.
Tabel 2 Panduan Observasi
No Hari/Tanggal Pukul Inisial Subjek
Jenis Kelamin
Deskripsi
1 A Laki-laki
2 V Perempuan
3 G Laki-laki
4
E. Keabsahan Data
Penelitian ini menggunakan observasi dan wawancara dari sumber data yang sama secara serempak. Peneliti membandingkan data hasil pengamat dengan hasil wawancara, membandingkan apa yang dikatakan oleh orang tua dan teman dekat subjek dengan apa yang dikatakan oleh subjek itu sendiri. Kemudian dengan hasil wawancara yang didukung dengan data yang didapatkan pada waktu di lapangan.
F. Teknik Analisis Data
Data penelitian ini dianalisis secara kualitatif. Nasution (dalam Sugiyono, 2010:336) menyatakan bahwa “analisis telah mulai sejak
merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan berlangsung terus menerus sampai penulisan hasil penelitian”.
Reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
31 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Terlebih dahulu dilakukan observasi di lapangan selama satu bulan yaitu pada bulan maret 2016. Observasi penelitian dilakukan terhadap ketiga subjek. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai keadaan lingkungan kehidupan sehari-hari diri partisipan. Hasil observasi ini akan digunakan dalam penyusunan guide interview yang akan digunakan dalam penelitian. Guide interview yang disusun akan berisi beberapa pertanyaan yang diharapkan mampu menhungkapkan permasalahan penelitian.
Guide interview yang disusun berdasarkan beberapa pertanyaan
yang diharapkan mampu mengungkapkan hal-hal yang menjadi pertanyaan penelitian. Selanjutnya disusun daftar pertanyaan yang dapat dilihat pada lampiran. Dalam proses wawancara, pertanyaan dapat dikembangkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan penelitian.
untuk diwawancarai. Langkah terakhir setelah subjek menyatakan kesediaannya diwawancarai yaitu menentukan waktu dan tempat pertemuan wawancara. Waktu dan tempat wawancara disesuaikan dengan waktu luang subjek penelitian. Selanjutnya, peneliti melakukan observasi dan wawancara.
1. Observasi
Observasi dilakukan saat peneliti melakukan pendekatan terhadap subjek penelitian. Hal ini dilakukan agar peneliti mengerti secara langsung kehidupan dan pengalaman subjek dalam permasalahan penelitian yang akan dibahas. Dalam proses pendekatan ini subjek menceritakan pengalaman-pengalamannya secara terbuka tentang motivasi belajarnya meskipun mereka mengalami Broken Home. Peneliti awalnya sangat sulit untuk membuat remaja tersebut mau terbuka namun seiring berjalannya waktu remaja tersebut mulai mau bercerita dengan peneliti tanpa malu-malu.
Observasi kedua dilakukan pada hari senin, 9 mei 2016 pukul 16.00.-17.00 WIB. Observasi kedua ini dilakukan di tempat tinggal subjek di daerah perumahan Palma, Purwokerto. Hal yang di observasi adalah situasi tempat tinggal dan keseharian subjek dirumah. Dalam observasi ini diperoleh hasil bahwa subjek hanya tinggal bersama dengan ibunya karena kedua orang tuanya sudah bercerai. Sedangkan ayahnya sudah menikah lagi dengan wanita lain. Subjek memiliki adik namun adiknya tinggal bersama dengan ayahnya. Keseharian subjek setelah pulang sekolah adalah bermain-main bersama teman-temannya. Selesai main biasanya subjek membantu ibunya menjaga kios, malamnya subjek belajar biasanya dari jam 19.00-21.00.
Peneliti:”Lalu bagaimana relasi atau hubungan kamu dengan ayah dan ibu?”
A :”Iya baik-baik saja mba cuma kalau dengan ayah
jarang ketemu paling kalau natal aja berkunjungnya.”
(A/A1/PERS-PART/001-004)
teman-temannya atau mengajak teman-temannya main kerumahnya. Ini cara subjek untuk melupakan masalah yang sedang dihadapinya.
Peneliti:”Lalu ketika ada masalah di rumah apa yang kamu lakukan?”
A :”Iya paling saya cuma diam dan segera melupakan
apa yang terjadi mba setelah itu aku paling pergi bermain bersama teman-teman mba.” (A/A1/PERS-PART/005-008)
Observasi keempat dilakukan pada hari jumat, 27 mei 2016 pukul 08.00-09.00 WIB. Observasi ini lakukan saat subjek di sekolah, peneliti mengunjungi guru BK di sekolah. Peneliti mencari tahu keaktifan subjek di sekolah. Subjek termasuk siswa yang aktif mengikuti kegiatan seperti OSIS dan di dalam kelas pun subjek termasuk siswa yang pintar.
Observasi terakhir dilakukan pada saat wawancara berlangsung pada hari minggu tanggal 29 mei 2016 pukul 10.00-11.00. Ketika pertanyaan-pertanyaan diajukan kepada subjek, tampak subjek sangat bersemangat memberikan jawaban dan penuh hati-hati dalam pemilihan kata yang akan digunakan untuk mewakili maksud yang ingin disampaikan. Proses wawancara berjalan lancar dengan jawaban-jawaban yang tegas dan penuh keyakinan subjek mengenai apa yang dialaminya.
dilakukan di alun-alun Purwokerto yang biasanya subjek berkumpul bersama teman-temannya. Pada observasi kedua diperoleh hasil bahwa subjek penelitian adalah seorang perempuan, berbadan pendek dan agak gemuk, rambut panjang dan hitam, kulit berwarna putih, serta perempuan ini keturunan tionghoa. Penampilan subjek sangat kelihatan berkelas. Peneliti sambil melakukan pendekatan terhadap subjek sambil sedikit mewawancarai.
Peneliti:”Lalu bagaimana relasi atau hubungan kamu dengan ayah dan ibu?”
A :”Iya begitulah mba.”
Peneliti:”Begitu kenapa?”
A :”Iya mereka sekalinya di rumah pasti bertengkar mba jadi males aja gitu.”
Peneliti:”Lalu apa yang kamu lakukan pada saat mereka bertengkar?”
A :”Iya paling aku pergi main sama temanku aku ajak
ke rumah mba kadang ya sama adekku mba.” (V/V2/PERS
-PART/001-009)
Observasi ketiga dilakukan pada hari kamis, 19 Mei 2016 pukul 17.00-18.00 WIB. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui subjek ketika dalam masalah. Ketika mengalami masalah subjek cenderung diam dan ingin segera melupakan masalah yang sedang dihadapinya, karena itu subjek lebih memilih jalan-jalan bersama teman-temannya sambil berbelanja atau pergi ke salon. Ini cara subjek untuk melupakan masalah yang sedang dihadapinya.
Peneliti:”Lalu ketika ada masalah di rumah apa yang kamu lakukan?”
A :”Iya paling saya cuma diam dan segera melupakan apa yang terjadi mba setelah itu aku ajak temanku pergi jalan-jalan kadang shopping kadang juga ke salon gitu mba biar nggak
Observasi keempat dilakukan pada hari sabtu, 28 mei 2016 pukul 08.00-09.00 WIB. Observasi ini lakukan saat subjek di sekolah, peneliti mengunjungi guru BK di sekolah. Peneliti mencari tahu keaktifan subjek di sekolah. Subjek termasuk siswa yang siswa yang biasa-biasa saja tidak terlalu aktif dalam organisasi. Namun, saat pelajaran subjek aktif bertanya jika kiranya subjek mengalami kesulitan tentang pelajaran tersebut dan di dalam kelas pun subjek termasuk siswa yang pintar.
Observasi terakhir dilakukan pada saat wawancara berlangsung pada hari minggu tanggal 29 mei 2016 pukul 15.00-16.00. Ketika pertanyaan-pertanyaan diajukan kepada subjek, subjek langsung menjawabnya dengan lancar tanpa ada keraguan untuk menjawab pertanyaan dari peneliti. Sehingga saat wawancara berlangsung dapat berjalan dengan lancar.
Observasi kedua dilakukan pada hari rabu, 11 mei 2016 pukul 16.00.-17.00 WIB. Observasi ketiga ini dilakukan di tempat tinggal subjek di daerah Bantarsoka, Purwokerto. Hal yang di observasi adalah situasi tempat tinggal dan keseharian subjek dirumah. Dalam observasi ini diperoleh hasil bahwa subjek hanya tinggal bersama dengan orang tuanya. Hampir sama dengan subjek yang ke dua orang tua dari subjek sangat subuk dengan pekerjaannya sehingga membuat mereka jarang bertemu. Subjek adalah anak satu-satunya subjek tidak memiliki kakak atau adik. Keseharian subjek setelah pulang sekolah adalah bermain-main bersama teman-temannya terkadang kalau subjek lelah subjek lebih memilih menghabiskan waktu untuk tidur. Biasanya pada malam harinya subjek pergi ketempat temannya untuk belajar bersama subjek belajar dari jam 20.00-22.00.
Peneliti:”Lalu bagaimana relasi atau hubungan kamu dengan ayah dan ibu?”
A :”Iya nggak begitu baik sih mba.”
Peneliti:”Nggak begitu baik?”
A :”Iya mba mereka jarang di rumah mereka sibuk dengan pekerjaan mereka mba. Paling ya kalau hari minggu baru ada di rumah. Sekalinya di rumah sering bertengkar nggak tau
masalah apa.” (G/G3/PERS-PART/001-007)
subjek ketika dalam masalah. Subjek cenderung menceritakan masalahnya pada sahabatnya yang ia percayakan. Subjek juga sering mengambil jalan lain dengan mendengarkan musik kesukaannya dengan volume keras sambil bernyanyi.
Peneliti:”Lalu ketika ada masalah di rumah apa yang kamu lakukan?”
A :”Iya paling saya curhat sama teman aku kadang aku
mendengarkan musik keras-keras mba biar nggak tau apa yang
mereka ributkan.” (G/G3/PERS-PART/008-011)
Observasi keempat dilakukan pada hari sabtu, 28 mei 2016 pukul 08.00-09.00 WIB. Observasi ini lakukan saat subjek di sekolah, peneliti mengunjungi guru BK di sekolah. Peneliti mencari tahu keaktifan subjek di sekolah. Subjek termasuk siswa yang kurang aktif dalam organisasi. Namun, subjek aktif di dalam kelas, subjek mau bertanya pada guru jika ada kesulitan dan subjek terkdang membantu temannya yang mengalami kesulitan.
2. Wawancara Mendalam
Proses pelaksanaan wawancara mendalam dilakukan setelah peneliti melakukan perkenalan dan pendekatan dengan kedua subjek. Pertama-tama peneliti melakukan pendekatan dengan mendatangi subjek terlebih dahulu dan sangat bergantung dengan kesediaan subjek. Peneliti tidak mengalami hambatan dalam pendekatan terhadap subjek.
Pelaksanaan wawancara disesuaikan dengan kesepakatan antara peneliti dengan subjek penelitian. Dalam proses wawancara peneliti tidak terpaku pada satu tempat yaitu di rumah subjek, tetapi peneliti juga mendatangi sekolah subjek dan tempat berkumpulnya subjek bersama teman-temannya. Lamanya proses wawancara pada masing-masing subjek berbeda-beda, dengan rentang waktu antara setengah jam sampai satu jam. Hal ini dikarenakan subjek tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan peneliti, tetapi subjek terlebih dahulu menceritakan pengalamannya dan kadang jawaban atas pertanyaan yang diberikan pun tidak sesuai. Dalam hal ini, peneliti berusaha menggali pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh subjek. Selanjutnya dalam proses wawancara pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada subjek dapat berkembang mengikuti situasi dan kondisi wawancara.
pertama bahwa subjek tetap termotivasi belajarnya karena adanya pasangan (pacar) yang selalu mendukung subjek agar semangat belajar. Hubungan subjek dengan ibunya sangat baik namun dengan ayahnya kurang baik karena ayahnya jarang mengunjungi subjek di rumah. Ayah subjek sangat keras sehingga terkadang subjek merasa takut bila bertemu dengan ayahnya. Sewaktu mereka masih tinggal bersama subjek cenderung menjadi pendiam.
Peneliti:”Apakah kamu masih mempunyai motivasi untuk belajar di sekolah meskipun ayah dan ibu sudah bercerai?”
A : “Iya masih mba, meskipun mereka sudah bercerai aku masih tetap rajin belajar mba”
Peneliti:”Bagaimana cara kamu termotivasi dalam belajar di sekolah?”
A :”Iyaa biasanya ada dorongan dari diri saya mba untuk mau belajar.”
Peneliti:”Apakah ada seseorang yang membuat kamu dapat termotivasi untuk bisa belajar di sekolah?”
A :”Iya jelas ada mba sahabat aku sama pacar aku mereka biasanya yang membuat aku semangat mba.”
Peneliti:”Apakah salah satu orang tua kamu memperhatikan kamu dalam belajar?”
A :”Iya mba ada terutama ibu aku yang selalu memantau jam belajar aku mba.”
Peneliti:”Apakah kamu merasa nyaman dengan kondisi keluarga kamu yang sekarang?”
A :”Iya untuk sekarang ini nyaman-nyaman saja
b. Wawancara terhadap subjek kedua V, dilaksanakan pada hari senin, 30 mei 2016, pukul 17.00-18.00 WIB di rumah subjek daerah Kroya, Purwokerto. Hasil wawancara terhadap subjek kedua bahwa subjek masih bisa termotivasi belajarnya karena sahabatnya yang selalu ada di saat subjek susah maupun senang. Sahabatnya selalu bersama dengan subjek setiap hari karena rumahnya tidak jauh dengan rumah subjek sehingga memungkinkan subjek tetap senang dengan kehidupannya meskipun orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaannya. Jika orang tuanya ada di rumah mereka selalu bertengkar sehingga membuat subjek merasa sedih kalau melihat mereka bertengkar. untuk mengatasi kesedihannya biasanya subjek pergi ketempat temannya dan curhat bersama teman dekatnya tersebut.
Peneliti:”Apakah kamu masih mempunyai motivasi untuk belajar di sekolah meskipun ayah dan ibu sering bertengkar?”
A :”Iya masih ada mba aku biasanya kalau mereka bertengkar ya aku pergi ketempat temanku belajar bareng biar aku nggak belajar sendiri mba.”
Peneliti:”Bagaimana cara kamu termotivasi dalam belajar di sekolah?”
A :”Iyaa biasanya ada dorongan dari sahabatku itu mba jadi masih ada sahabat yang mendorong aku tetap semangat.”
A :”Iya itu paling cuma sahabat aku itu mba kebetulan rumahnya kan nggak begitu jauh dari rumahku mba jadi kapan aja aku bisa ke rumah temanku itu.”
Peneliti:”Apakah salah satu orang tua kamu memperhatikan kamu dalam belajar?”
A :”Iya kadang-kadang mba nggak begitu sering paling cuma sekedar menanyakan sudah belajar sama kerjaiin PR belum.”
Peneliti:”Apakah kamu merasa nyaman dengan kondisi keluarga kamu yang sekarang?”
A : “Iya nggak nyaman mba penginnya ya mereka sering di rumah biar aku nggak kesepian gitu mba.”
(V/V2/PERS-PART/015-035)
Peneliti:”Apakah kamu masih mempunyai motivasi untuk belajar di sekolah meskipun ayah dan ibu sering bertengkar?”
A :”Iya masih mba, meskipun mereka sering bertengkar aku masih bisa belajar bersama teman-teman mba.”
Peneliti:”Bagaimana cara kamu termotivasi dalam belajar di sekolah?”
A :”Iyaa biasanya ada dorongan dari diri aku, teman, dan pacar aku mba.”
Peneliti:”Apakah ada seseorang yang membuat kamu dapat termotivasi untuk bisa belajar di sekolah?”
A :”Iya ada itu pacar aku dan sahabat aku mba mereka selalu ada di saat aku senang maupun sedih mba.”
Peneliti:”Apakah salah satu orang tua kamu memperhatikan kamu dalam belajar?”
A :”Iya kadang-kadang mba paling cuma sekedar nyuruh belajar yang rajin gitu mba.”
Peneliti:”Apakah kamu merasa nyaman dengan kondisi keluarga kamu yang sekarang?”
A :”Iya nggak nyaman kalau mereka sering bertengkar mba mungkin kalau mereka akur-akur aja sih pasti nyaman
mba.” (G/G3/PERS-PART/012-030)
B. ANALISIS DATA 1. Subjek 1
a. Penghimpunan Data Subjek
Nama : A
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 18
Agama : Katolik
Alamat : Perumahan Palma Purwokerto Anak ke- : 1 dari 2 bersaudara
Pendidikan Terakhir : SMP Pekerjaan/sekolah : SMA Cita-cita : Dokter
Hobby : Sepak Bola
Penampilan Fisik : Berbadan tinggi dan agak kurus, rambut pendek dan hitam, kulit berwarna putih, keturunan tionghoa
Penampilan Psikis : Ramah, mudah bergaul, dan senang bercanda
Sumber Informasi : Subjek, guru BK, dan teman subjek b. Analisis
1) Lingkungan Keluarga
Subjek A adalah anak pertama dari dua bersaudara, adiknya masih sekolah SMP kelas VII. Subjek tinggal bersama ibunya karena kedua orang tuanya sudah bercerai. Sedangkan ayahnya tinggal di Jakarta bersama dengan adik subjek. Ayahnya terkadang mengunjungi subjek disaat ayahnya libur dari pekerjaannya. Kondisi ekonomi keluarga subjek termasuk keluarga yang sederhana. Hubungan subjek dengan ibunya sangat dekat dibandingkan dengan ayahnya yang sangatlah keras terhadapnya. Meskipun kedua orang tuanya sudah bercerai subjek tetap menghormati mereka.
2) Lingkungan Tempat Tinggal
Subjek tinggal di daerah perumahan Palma, Purwokerto. Rumah subjek sederhana namun subjek memiliki kios yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Tempat tinggal subjek yang sangat padat penduduknya, tidak ada jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya. Rumahnya dekat dengan kampus UNSOED di Purwokerto.
3) Lingkungan Sekolah
satu dengan yang lainnya. Rumahnya dekat dengan kampus UNSOED di Purwokerto.
4) Teman Dekat
Subjek memiliki banyak teman dan subjek sering sekali berkumpul dengan teman-temannya baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Subjek tidak hanya berteman di lingkungan sekolah saja namun subjek di luar sekolah mempunyai banyak teman. Subjek memiliki sahabat dan pacar yang selalu ada buat subjek. Sehingga dengan adanya mereka subjek tidak merasa kesepian karena subjek dengan adiknya tinggal terpisah setidaknya subjek merasa nyaman dengan adanya mereka.
5) Pengalaman Traumatik
2. Subjek 2
a. Penghimpunan Data Subjek
Nama : V
Tempat Tanggal Lahir: Purwokerto, 18 Januari 1999 Asal Daerah : Purwokerto
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 17
Agama : Katolik
Alamat : Kroya, Purwokerto Anak ke- : 1 dari 2 bersaudara Pendidikan Terakhir : SMP
Pekerjaan/sekolah : SMA Cita-cita : Bidan
Hobby : Dance
Penampilan Fisik : Berbadan pendek dan agak gemuk, rambut panjang dan hitam, kulit berwarna putih, keturunan tionghoa
Penampilan Psikis : Ramah, cerewet, dan mudah bergaul Sumber Informasi : Subjek, guru BK, dan teman subjek b. Analisis
di rumah maupun di sekolah. Wawancara dilakukan tidak hanya dengan subjek namun juga dengan guru BK di sekolah yang mengetahui bagaimana kehidupan subjek sehari-hari.
1) Lingkungan Keluarga
Subjek V adalah anak kedua dari dua bersaudara, adiknya masih sekolah SD kelas V. Subjek tinggal bersama dengan ke dua orang tuannya namun orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Kondisi ekonomi keluarga subjek termasuk kelas menengah ke atas. Apa yang diinginkan subjek selalu diberikan. Namun kasih sayang orang tua subjek sangat kurang. Walaupun begitu subjek tetap memiliki motivasi dalam belajarnya. Subjek tetap menghormati orang tuanya dan berpikir positif karena mereka mencari uang untuk kebutuhan subjek.
2) Lingkungan Tempat Tinggal
3) Lingkungan Sekolah
Subjek satu sekolahan dengan A di sekolah SMA swasta Katolik yang kebanyakan siswanya keturunan tionghoa. Termasuk subjek yang keturunan tionghoa. Subjek di sekolah cukup aktif dan cerewet meskipun subjek di kelas cerewet suka ribut namun subjek mau bertanya pada guru jika ada kesulitan. Subjek termasuk anak yang pintar dan rajin mengerjakan tugas. Subjek juga memiliki motivasi yang tinggi dalam belajarnya di kelas dan pernah mendapatkan peringkat di kelas.
4) Teman Dekat
Subjek memiliki banyak teman namun subjek sering kali dekat dengan sahabatnya kemana-mana selalu dengan sahabatnya. Menurut subjek sahabatnyalah yang selalu ada buat subjek sehingga subjek berasa nyaman bila bersama dengan sahabatnya. Sahabatnyalah yang selalu memotivasinya karena sahabatnya tahu kalau di rumah sendirian pasti merasa kesepian. Sehingga sahabatnya selalu menemani subjek belajar, mendengarkan curhatnya, dll.
5) Pengalaman Traumatik
Sehingga setiap melihat mereka bertengkar subjek merasa sedih dan takut apabila mereka bercerai.
3. Subjek 3
a. Penghimpunan Data Subjek
Nama : G
Tempat Tanggal Lahir: Purwokerto, 21 April 1998 Asal Daerah : Purwokerto
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 18
Agama : Katolik
Alamat : Bantarsoka, Purwokerto Anak ke- : 1 (anak tunggal)
Pendidikan Terakhir : SMP Pekerjaan/sekolah : SMA Cita-cita : Pengusaha
Hobby : Basket
Penampilan Fisik : Berbadan tinggi dan agak gemuk, rambut pendek dan hitam, kulit berwarna sawo matang, memiliki lesung pipi sebelah kiri
Penampilan Psikis : Pendiam, murah senyum, dan sedikit malu-malu
b. Analisis
Analisis data yang dilakukan dengan melakukan pengamatan atau observasi dan juga wawancara kepada subjek. Wawancara dilakukan secara bertahap dan beberapa waktu yang berbeda. Observasi dilakukan dengan mengamati perilaku dan sikap subjek di rumah maupun di sekolah. Wawancara dilakukan tidak hanya dengan subjek namun juga dengan guru BK di sekolah yang mengetahui bagaimana kehidupan subjek sehari-hari.
1) Lingkungan Keluarga
Subjek G adalah anak tunggal. Subjek tinggal bersama dengan kedua orang tuannya namun kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Kondisi ekonomi keluarga subjek termasuk kelas menengah ke atas. Apa yang subjek inginkan selalu diberikan. Orang tua subjek sering sekali bertengkar sehingga membuat subjek merasa sedih. Namun, subjek hanya bisa diam saja subjek tetap menghormati mereka yang terpenting subjek berharap mereka tidak bercerai.
2) Lingkungan Tempat Tinggal
berada dideretan paling pojok di daerah itu. Lingkungan tempat tinggal subjek pun ramah-ramah.
3) Lingkungan Sekolah
Subjek satu sekolah dengan A dan V namun subjek tidak begitu dekat dengan mereka. Subjek yang lain keturunan tionghoa namun subjek G keturunan Jawa. Meskipun banyak yang keturunan tionghoa subjek tetap enjoy saja bersekolah di SMA tersebut. Subjek termasuk anak yang mudah bergaul dengan teman-temannya. Subjek termasuk anak yang pintar meskipun suka ribut di kelas namun dia aktif bertanya pada guru jika mengalami kesulitan. Subjek juga memiliki motivasi yang tinggi dalam belajarnya meskipun subjek jarang mendapatkan peringkat di kelasnya.
4) Teman Dekat
Subjek memiliki banyak teman baik di sekolah maupun di luar sekolah. Namun subjek kerap kali bermain dengan teman dekatnya yang sudah dari subjek kecil sudah bermain bersama. Jika subjek merasa kesepian subjek selalu mengajak temannya untuk main ke rumahnya atau pergi nongkrong bersama teman-temannya.
5) Pengalaman Traumatik
melihat orang tuanya bertengkar hebat dan sempat mengatakan ingin bercerai. Hal itu dikarenakan bahwa ibunya mengetahui kalau ayahnya berselingkuh dengan wanita lain. Ibunya sudah mengetahui lama masalah itu namun ibunya selalu diam. Semenjak itu subjek merasa takut kalau mereka bercerai. C. Pembahasan
Berdasarkan data-data yang diperoleh peneliti selama melakukan observasi dan wawancara tentang data-data tersebut dapat dikatakan bahwa:
1. Faktor-faktor Penyebab Remaja Memiliki Motivasi Belajar Meskipun Memiliki Keluarga Broken Home :
a. Motivasi sebagai pendorong dari seseorang yang spesial (kekasih) dan sahabatnya yang selalu ada untuk subjek. Mereka yang ada di saat sedih maupun senang. Selain itu mereka menerima apa adanya yang di alami oleh subjek. Sehingga dengan adanya mereka dapat membuat subjek merasa senang dan tidak kesepian. Meskipun orang tuanya kurang memberikan kasih sayang yang penuh. Namun, subjek mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang di sayanginya. Subjek pun berharap orang tuannya dapat memberikan kasih sayang mereka yang penuh untuk subjek.
giat sehingga pelajaran yang di sekolah tidak terabaikan. Meskipun ada masalah dalam keluarganya subjek tetap rajin belajar untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Subjek mempunyai motivasi akan melakukan belajar secara terus menerus karena subjek yakin bahwa apa yang dipelajarinya berguna bagi dirinya nanti.
c. Motivasi sebagai pengarah yaitu subjek dapat memiliki motivasi untuk melakukan sesuatu demi sebuah tujuan itu sendiri, misalnya subjek belajar mata pelajaran karena menyukai pelajaran tersebut dan subjek merasa berguna bagi dirinya untuk kelak suatu saat nanti jika sudah masuk keperguruan tinggi.
2. Motivasi Belajar Remaja yang Mengalami Broken Home
Dapat diketahui bahwa ketiga subjek yang mengalami Broken Home ini tetap memiliki motivasi belajar di sekolah karena ada faktor
pendorong yang membuat mereka termotivasi dalam belajarnya di sekolah. Mereka tetap memiliki motivasi belajar meskipun mereka mengalami Broken Home yang membuat kurangnya kasih sayang dari kedua orang tua mereka. Seberapa jauh subjek tersebut memiliki motivasi dalam belajarnya, sebagai berikut:
a. Subjek bersikap biasa-biasa saja meskipun mereka mengalami Broken Home.
c. Subjek merasakan adanya penerimaan dari pasangan (kekasih), teman dekat (sahabat), dan orang di sekitar subjek perihal tentang kehidupan keluarganya.
d. Subjek memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri dalam mengahadapi setiap masalah yang ada.
57 BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini dipaparkan kesimpulan dan saran. Bagian kesimpulan memaparkan keseluruhan hasil penelitian. Bagian saran memuat masukan bagi peneliti lain supaya dapat melakukan penelitian yang jauh lebih baik dari penelitian ini.
A. Simpulan
Penelitian ini mengungkapkan motivasi belajar remaja yang mengalami Broken Home. Dalam penelitian ini dituntut untuk berpikir jernih dan objektif dalam melihat permasalahan serta profesional dalam bertindak.
Pada kasus yang peneliti teliti adalah siswa SMA yang khususnya mengalami keluarga yang Broken Home. Subjek tersebut meskipun subjek memiliki keluarga yang Broken Home tetapi subjek masih mempunyai motivasi dalam belajarnya di sekolah. Sehingga motivasi subjek dalam belajar tidak hilang. Di samping itu subjek masih dapat memperoleh prestasi di sekolah. Motivasi dari ketiga subjek tersebut karena adanya dukungan dari teman terdekat (sahabat) dan orang yang di sayangi temasuk kekasih.
hidupnya. Ketiga subjek memiliki cara tersendiri untuk menghilangkan atau melupakan masalah yang terjadi dalam masalah keluargannya. Maka dari itu ketiga subjek dapat merasa bebannya berkurang atau permasalahan yang ada di rumah dapat terlupakan dengan adanya teman dan seseorang yang di kasihinya.
B. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini masih mempunyai keterbatasan dan kekurangan. Peneliti ini sadar bahwa masih banyak yang harus di perbaiki dan di sempurnakan. Adapun keterbatasan peneliti antara lain:
1. Peneliti kurang mampu memilih bahasa-bahasa yang lebih sederhana dan di pahami responden.
2. Peneliti kurang pintar dalam memilih kalimat dalam penulisan skripsi. 3. Hendaknya dalam memberikan pertanyaan pada subjek dengan bahasa
yang mudah dipahami oleh subjek.
4. Peneliti kurang dapat sering bertemu dengan subjek dikarenakan jarak yang jauh.
C. Saran
1. Subjek Peneliti
2. Pihak Orang Tua
Pihak orang tua perlu senantiasa mendorong peningkatan motivasi bagi anaknya dalam belajar, mengingat hal ini sangat penting untuk menciptakan kemandirian anak dalam belajar. Upaya untuk memberikan dorongan sangatlah penting supaya subjek mau belajar giat dan dapat memperoleh prestasi. Hal tersebut juga dapat membanggakan pihak orang tua karena anaknya dapat memperoleh prestasi di sekolah.
3. Pihak Sekolah
Pihak sekolah juga perlu mendorong peningkatan motivasi bagi siswa dalam belajar. Sebab motivasi internal siswa sering kali tidak stabil, sehingga perlu didorong melalui motivasi eksternal. Upaya yang dapat dilakukan diantaranya dengan memberikan tugas PR pada siswa. Selanjutnya perlu diberlakukan pemberian penghargaan bagi siswa yang berprestasi.
4. Peneliti Lain
a. Peneliti hendaknya dapat membangun relasi yang hangat dan mendalam dengan subjek yang akan menjadi responden dalam penelitian tersebut. Hal ini menghindari persepsi negatif yang pernah diterima/dimiliki oleh peneliti tersebut.
dibutuhkan sehingga informasi tersebut tidak hanya terfokus pada subjek yang sudah ditentukan.
c. Peneliti hendaknya fleksibel dengan keadaan yang terjadi di lapangan karena tidak menutup kemungkinan akan menjumpai hal-hal yang baru/informasi yang baru terlepas dari tujuan yang ingin diteliti.
61
DAFTAR PUSTAKA
Artikel: Kasus Perceraian Meningkat, 70 Persen Diajukan Istri. Diambil dari Harian Kompas 30 Juni 2015. (2016, 25 Juli).
http://health.kompas.com/read/2015/06/30/151500123/Kasus.Perceraian.M eningkat.70.Persen.Diajukan.Istri
Artitriani, Yuni Nike. 2010. Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri Pada Siswa Broken Home Melalui Konseling Individual dengan Pendekatan Realita (Studi Kasu Pada Siswa SMP Mardisiswa 1 Semarang Tahun Pelajaran 2009/2010). Skripsi. Fakultas Ilmu Pendidikan: UNNES.
Hamalik, Oemar. 2009. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Hariyadi, Sugeng. 1993. Perkembangan Peserta Didik. IKIP Semarang. Kartono, Kartini. 1996. Psikologi Umum. Bandung: CV. Mandar Maju.
Lestari, Sri. 2013. Psikologi Keluarga (Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga). Jakarta: Prenada Media Group.
Liliweri, Alo. 2007. Indraction to Meosurement Theory. Monterey Broks/Cole Publishing Company.
Mustaqim dan Wahid. 2010. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Papalia, W. E., Olds, S. W& Feldman, R.D. (2001). Human development (8
edition). Boston : McGrawHill.
Sardiman, A.M. 2003. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Santrock, John. 2002. Life-Span Development. Terjemahan Oleh Juda Damanik, Ahmad Chusairi. Jakarta: Erlangga.
Santrock, John W. 2007. Remaja, Edisi II, Jilid I. University Texas. Dallas. Santrock, Jhon, 2009. Psikologi Pendidikan Educational Psychology (Jilid
3).Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.
Setyowati. 2007. Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMPN 13 Semarang. Skripsi. Fakultas Ekonomi: UNNES.
Siti, Patimah. 2012. Motivasi Belajar Anak Jalanan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Skripsi. Fakultas Ilmu Pendidikan: STKIP Siliwangi Bandung.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitati Kualitatif dan R & D. Cetakan ke-10. Bandung: Alfabeta.
Sumadi, Suryabrata. 2007. Psikologi Pendididkan. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Tasmin, S. (2002, 18 April). Perceraian dan Kesiapan Mental Anak. (2016, 19
Uno, Hamzah B. 2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara. Rohmah, Noer. 2011. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Teras.