• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA FORGIVENESS PADA REMAJA YANG MENGALAMI BROKEN HOME DI BANGKA SELATAN

N/A
N/A
Tami Safitri

Academic year: 2024

Membagikan "DINAMIKA FORGIVENESS PADA REMAJA YANG MENGALAMI BROKEN HOME DI BANGKA SELATAN "

Copied!
187
0
0

Teks penuh

(1)

DINAMIKA FORGIVENESS PADA REMAJA YANG MENGALAMI BROKEN HOME DI BANGKA SELATAN

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memproleh Gelar Sarjana Psikologi Islam (S.Psi)

Oleh:

HARIS AGUNG PRASETIAWAN 1924010

Fakultas: Dakwah dan Komunikasi Islam Program Studi: Psikologi Islam

Kepada:

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK

BANGKA BELITUNG 2022/2023

(2)

HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Haris Agung Prasetiawan

NIM : 1924010

Fakultas : Dakwah dan Komunikasi Islam Program Studi : Psikologi Islam

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul “Dinamika Forgiveness Pada Remaja yang Mengalami Broken Home di Bangka Selatan” adalah asli dari hasil karya atau penelitian saya sendiri, dan bukan merupakan karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan diperguruan tinggi manapun. Sepanjang pengetahuan saya, tidak terdapat karya atau pendapat orang lain, kecuali yang secara tertulis dijadikan acuan atau kutipan dalam naskah skripsi ini.

Bangka, 19 Januari 2023 Yang Menyatakan

Haris Agung Prasetiawan NIM. 1924010

i

(3)

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG FAKULTASDAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM Jln. Raya Mentok KM 13, Desa Petaling, Kec. Mendo Barat, Kab. Bangka,

Prov. Kep. Babel, 33173

NOTA DINAS PEMBIMBING Hal : Skripsi

Haris Agung Prasetiawan Kepada Yth.

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung Di Bangka

Assalamu’alaikumWr.Wb.

Setelah melakukan beberapa kali bimbingan dan meneliti hasil perbaikan, maka kami selaku Pembimbing berpendapat bahwa skripsi mahasiswa:

Nama : Haris Agung Prasetiawan NIM : 1924010

Prodi : Psikologi Islam

Judul Skripsi : Dinamika Forgiveness Pada Remaja yang Mengalami Broken Home di Bangka Selatan

Telah layak diajukan kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung guna memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi (S.Psi). Harapan kami Semoga dalam waktu dekat skripsi ini dapat dimunaqosyahkan.

Demikian Nota Dinas Pembimbing ini kami buat, atas segala perhatiannya diucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

Bangka, 20 September 2023 Pembimbing I Pembimbing II

Basri, MA Wahyu Kurniawan, M.Psi.,Psikolog ii

(4)

NIP 197303272006041002 NIDN 2025128802

iii

(5)

MOTTO

ٍباَسِح ِرْيَغِب ْمُهَر ْجَا َن ْوُرِب ّٰصلا ىّفَوُي اَمّنِا

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."

(Q.S Az-Zumar: 10)

iv

(6)

PERSEMBAHAN

Assalamu`alaikum Wr. Wb

Penulis panjatkan puji syukur atas kehadiran Allah SWT yang telah memberikan rahmat, serta hidayah-Nya kepada semua hamba-Nya sehingga kita bisa merasakan nikmatnya yang masih mendapatkan keimanan dan keislaman hingga saat ini. Solawat serta salam yang kita curahkan pada nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawakan rahmat bagi makhluknya dan semoga kita mendapatkan rahmat pertolongan di hari akhirnya nanti.

Di setiap waktu mengawali sesuatu yang baik tidaklah mudah, apalagi harus menjaga dan membawanya kearah yang lebih baik dan sempurna, begitu pula dengan penulisan skripsi ini. Penulis memulai penulisan skripsi ini penuh dengan perasaan yang sabar dan tekat usaha yang gigih, serta tidak lupa untuk terus berdoa supaya dipermudahkan dalam penulisan skripsi ini sehingga akhinya penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Di samping itu, dalam kesempurnaan penulisan skripsi tidak lepas berkat adanya dorongan serta nasehat dari berbagai pihak.

 Sujud syukur aku persembahkan kepada yang Maha Agung dan Maha Tinggi nan Maha Adil dan Maha Penyayang yaitu Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya hingga kepada Dia lah segalanya bergantung.

 Nabi besar kita yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai sang inspirator hidup.

 Aku persembahkan karya kecilku kepada semua keluarga, terutama kepada kedua orang tua yang aku cinta yaitu ……….

 Kepada ………yang senantiasa selalu suport mendukung, v

(7)

membantu dan memberikan motivasi kepadaku untuk menyelesaikan skripsi ini.

 Kepada seluruh angkatan Psikologi Islam 2019 yang selalu menemani selama 3 tahun lebih lama nya

 Dan kepada semua pihak yang telah membantuku dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian dengan balasan yang lebih dari mereka berikan kepada penulis. Penulis juga menyadari dengan sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga penulis berharap untuk mendapatkan kritikan dan saran.

Penulis berharap skripsi ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Aamiin Ya Rabbal`alaamiin.

vi

(8)

KATA PENGANTAR

Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, alhamdulillahirabbil`alamiin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada peneliti untuk menyelesaikan skripsi secara baik. Demikian tidak lupa pula shalawat beriringi salam yang kita curahkan kepada nabi besar kita yaitu Nabi Muhammad SAW beserta sahabatnya, yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman terang benderang atau zaman kebenaran sebagai jalan keselamatan bagi umat manusia. Semoga keterangan cahaya (Nur) dizaman ini selalu terpancarhingga tidak sampai redup diterpa oleh setiap perkembangan zaman.

Peneliti dalam penyusunan skripsi ini merupakan sebuah kajian singkat berkaitan tentang Dinamika Forgiveness Pada Remaja yang Mengalami Broken Home di Bangka Selatan. Peneliti menyadari dalam penyusunan skripsi bahwa tidak akan diselesaikan dan terwujudkan tanpa bantuan, bimbingan, dan serta dorongan dari berbagai pihak lainnya. Oleh karnanya, peneliti dengan segala kerendahan hati pada kesempatan ini ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada:

1. Allah SWT yang telah memberika limpahan kesehatan dan keberkahan yang luar biasa kepada penulis.

2. Dr. Irawan, selaku Rektor IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.

vi

(9)

3. Dr. Rusdi Sulaiman, M.Ag, selaku Ketua Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.

4. Primalita Putri Distina, M.Psi,Psikolog selaku ketua Program Studi Psikologi Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, beserta para staf.

5. Primalita Putri Distina, M.Psi. Psikolog selaku Penasehat Akademik yang telah memberikan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Basri, M.A selaku Pembimbing I yang berkenan mengoreksi skripsi ini, membantu memberi nasehat dan arahan dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Wahyu Kurniawan, M.Psi.,Psikolog selaku Pembimbing II yang memberi bimbingan, arahan, nasehat dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Seluruh dosen IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.

9. Seluruh civitas akademik IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.

10. Kedua orang tua (ayah dan ibu) beserta keluarga besar yang selalu mendukung dan mendo`akan saya.

11. Kepada ………yang selalu mendukung

vii

(10)

12. Kepada ……….yang selalu setia mendengar keluh kesah 13. Serta ………….yang selalu memberikan masukan dan saran

14. Kepada teman–teman IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, terimakasih atas dukungan, canda dan tawa kalian yang akan menjadi pengalaman terindah untuk penulis.

Penulisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari segi pembahasan maupun penulisannya. Dalam hal ini penulis berharap atas saran dan kritikan dari pembaca. Dengan demikian ahkir kata penulis mengucapkan rasa terimakasih.

Wassalamu`Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bangka, 23 September 2023 Penulis,

Haris Agung Prasetiawan NIM. 1924010

viii

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN...i

MOTTO...iii

PERSEMBAHAN...iv

KATA PENGANTAR...vi

DAFTAR ISI...ix

DAFTAR LAMPIRAN...xi

BAB I...1

PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang Masalah...1

B. Rumusan Masalah...8

C. Tujuan Penelitian...8

D. Metodelogi Penelitian...8

E. Jenis Penelitian...9

F. Manfaat Penelitian...10

G. Telaah Pustaka...12

H. Subjek Penelitian...15

BAB II...16

LANDASAN TEORI...16

A. Kerangka Teoritis...16

B. Forgiveness...33

C. Dinamika Forgiveness pada Remaja yang Mengalami Broken Home...40

BAB III...47

METODE PENELITIAN...47

A. Jenis Penelitian...47

B. Tempat dan Waktu Penelitian...48

C. Sumber Data...48

D. Subjek Penelitian...50

E. Fokus Penelitian...50

F. Teknik Pengumpulan Data...50

G. Uji Keabsahan Data...53

(12)

H. Teknik Analisis Data...55

BAB IV...58

DINAMIKA FORGIVENESS PADA REMAJA YANG MENGALAMI BROKEN HOME DI BANGKA SELATAN...58

A. Hasil Penelitian...58

B. Pembahasan...102

BAB V...113

PENUTUP...113

A. Kesimpulan...113

B. Saran...114

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I. Lembar Kisi-Kisi Wawancara Lampiran II. Lembar Wawancara

Lampiran III. Lembar Observasi

Lampiran IV. Dokumentasi Foto Penelitian Lampiran V. Kartu Bimbingan

Lampiran VI. Surat Izin Penelitian Skripsi IAIN SAS BABEL

(14)

FORGIVENESS DYNAMICS AMONG ADOLESCENTS EXPERIENCING BROKEN HOMES IN SOUTH BANGKA

Haris Agung Prasetiawan Islamic Psychology

Syaikh Abdurrahman Siddik State Islamic Institute of Bangka Belitung E-mail:

ABSTRACT

This study examines the dynamics of forgiveness among adolescents experiencing broken homes in South Bangka. This research is qualitative in nature. Data and information were obtained through a descriptive approach. The subjects of this study were high school students who experienced broken homes in the Bangka Regency. Data collection was carried out continuously through observation, structured interviews, and documentation. Data were analyzed using data reduction, data display, and data verification. Furthermore, data presentation used narrative techniques, using data as an explanation of the theory.

The results obtained from the research on forgiveness dynamics among adolescents from broken homes can be summarized as follows: the three informants were able to go through four phases of forgiveness dynamics, including: 1) First, the uncovering phase, where the three informants felt anger, sadness, disappointment, jealousy towards their friends, loneliness, and depression due to their parents' divorce. 2) Second, the decision phase, where the three informants decided to forgive their parents because they began to understand their parents' circumstances and appreciated the decisions made by their parents. 3) Third, the work phase, where the three informants underwent reframing, meaning their negative thoughts about their parents changed into positive thoughts, leading to an improvement in their relationship with their parents. 4) Fourth, the deepening phase, where the three informants were able to find the meaning of forgiveness as a resistance to their own ego, enabling them to accept the situation, be content, make peace with themselves, and build positive vibes, thus calming their hearts, maintaining mental health, and building good quality relationships with both their parents and their families.

Keywords: Forgiveness Dynamics, Adolescents Experiencing Broken Homes

(15)

DINAMIKA FORGIVENESS PADA REMAJA YANG MENGALAMI BROKEN HOME DI BANGKA SELATAN

Haris Agung Prasetiawan Psikologi Islam

Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung Email:

ABSTRAK

Penelitian ini mengkaji satu persoalan, yaitu bagaimana dinamika forgiveness pada remaja yang mengalami broken home di Bangka Selatan.

Penelitian ini bersifat kualitatif. Data serta informasi didapatkan melalui pendekatan deskriptif. Subjek penelitian ini, yaitu remaja SMA/SMK yang mengalami broken home di Kabupaten Bangka. Pengumpulan data dilakukan secara terus-menerus melalui observasi, wawancara terstruktur dan dokumentasi. Data dianalisa dengan menggunakan reduksi data, display data dan verifikasi data.

Selanjutnya, penyajian data menggunakan teknik narasi yaitu menggunakan data sebagai penjelas teori.

Adapun hasil yang didapatkan dari penelitian mengenai dinamika forgiveness pada remaja broken home dapat disimpulkan bahwa ketiga informan mampu melewati empat fase dinamika forgiveness antara lain: 1) Pertama, uncovering phase, ketiga informan merasakan perasaan marah, sedih, kecewa, iri terhadap temannya, kesepian dan depresi akibat perceraian kedua orang tuanya. 2) Kedua, decision phase, ketiga informan memutuskan untuk forgiveness atau memaafkan orang tua karena mereka mulai memahami kondisi orang tua mereka dan menghargai keputusan yang dibuat orang tua mereka. 3) Ketiga, work phase, ketiga informan mengalami reframing yaitu pemikiran negatif informan terhadap orang tua berubah menjadi pemikiran yang positif sehingga hubungan informan dengan orang tua membaik. 4) Keempat deepening phase, ketiga informan dapat menemukan makna pemaafan yaitu sebagai perlawanan ego diri sendiri untuk bisa menerima keadaan, ikhlas, berdamai dengan diri sendiri dan membangun vibes positif sehingga membuat hati tenang dan kesehatan mental pun tidak terganggu serta dapat membangun kualitas hubungan yang baik dengan orang tua maupun keluarga.

Kata Kunci: Dinamika Forgiveness, Remaja yang Mengalami Broken Home .

(16)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, kasus yang sering sekali terjadi di lingkungan sekitar dan hampir kebanyakan orang pada umumnya mengalami hal yang serupa ialah permasalahan mengenai broken home. Secara harfiah bahasa, broken home diartikan sebagai bentuk permasalahan yang terjadi dalam keluarga seperti mengalami kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua, kekerasan dalam bentuk fisik dan verbal yang dialami remaja yang berasal dari keluarga broken home, menyaksikan keluarga yang tidak harmonis yaitu pertengkaran kedua orang tua, serta berbagai macam bentuk tindakan yang tidak menyenangkan.1 Situasi ini memberikan pengaruh terhadap kondisi kesehatan mental bagi remaja yang berujung pada frustasi, stress, tindakan menyalahkan diri sendiri, menyakiti diri sendiri hingga berujung pada tindakan melakukan percobaan bunuh diri.2

Perlu untuk digaris bawahi bahwa situasi broken home memiliki implikasi yang begitu besar terhadap kemampuan diri seseorang untuk menilai keberhargaan akan keberadaan dirinya di dalam lingkungan sosial sehingga hal ini juga akan mempengaruhi bagaimana seorang remaja agar

1 Pangestu Tri Wulan Ndari, “Dinamika Psikologis Siswa Korban Broken Home Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Sleman” (Universitas Negeri Yogyakarta, 2016).

2 Ibid,.

(17)

bisa berinteraksi dengan baik serta melakukan hal yang positif dan produktif lainnya.3 Terhadap situasi yang dialami remaja dari keluarga broken home, mereka menganggap bahwa figur orang tua bukanlah menjadi panutan bagi mereka lagi, sehingga hal ini akan memberikan pengaruh dampak yang sangat serius pada proses perkembangan diri yang dialami oleh remaja tersebut.4

Secara psikis, pengaruh dampak yang bisa dilihat yang dialami oleh remaja adalah mereka menjadi pribadi yang malu, tidak percaya diri, pendiam bahkan mengalami depresi yang berkelanjutan. 5 Apabila remaja yang sedang berada di fase mengalami kejadian broken home berada dalam lingkungan yang tidak sehat/negative dalam arti kata salah pergaulan dengan kondisi emosi dan jiwa yang bisa dikatakan tidak stabil/labil maka konsekuensi logis yang bisa dihadapi remaja akan mudah terpengaruh dan terjerumus ke dalam hal-hal yang buruk seperti contohnya minum-minuman beralkohol dengan alibi untuk bisa menghilangkan stress dan mencari kedamaian hati.6

Kasus broken home yang kerap kali dijumpai yang dialami oleh para remaja adalah berujungnya terjadi perceraian diantara kedua orang tua remaja Perceraian diartikan sebagai suatu kejadian peristiwa yaitu perpisahan secara

3 Nandy, “Pengertian Broken Home, Penyebab, Dampak & Cara Mengatasinya,”

Retrieved From, 2022, https://www.gramedia.com/best-seller/broken-home/ Diakses Pada 19 Januari 2023.

4 Ibid,.

5 Theresia Indira Shanti, “Hubungan Antara Mindfulness Dan Dispotional Forgiveness Pada Remaja Dengan Orang Tua Bercerai,” Journal of Guidance and Counseling: Theory and Application Vol.09, No.01 (2020).

6 Ibid,.

(18)

resmi yang terjadi diantara sepasang suami dan istri dengan menempuh jalan hidup masing-masing serta tidak lagi melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami dan isteri.7 Menurut pandangan Amato, bahwa perceraian terjadi apabila mereka belum memiliki seorang anak, maka tidak menimbulkan implikasi traumatis psikologis bagi anak, akan tetapi apabila perceraian terjadi dengan kondisi telah memiliki keturunan, tentu saja ini akan menyebabkan permasalahan psikologi-emosional bagi anak dari keluarga broken home yang berujung pada perceraian.8

Perceraian adalah bukan sebuah penyelesaian masalah, namun terkadang perceraian menjadi jalan tempuh terakhir meskipun ini adalah hal yang sangat menyakitkan bagi mereka. Terkadang para orang tua merasa bahwa setelah perceraian konflik tidak akan terjadi lagi, namun yang perlu ditekankan adalah dengan melihat kondisi psikis dan mental seorang anak dari keluarga broken home apakah akan baik-baik saja juga seperti yang dialami oleh orang tua. Ternyata tidak, karena kondisi broken home yang berujung pada perceraian adalah sebuah situasi yang berat yang dialami oleh remaja apalagi dengan melihat kondisi keluarga teman-temannya sejahtera dan harmonis.9 Dengan situasi ini, tak jarang bahwa para remaja terkadang merasa kehidupannya hampa dan tidak memiliki harga diri sebab mereka merasa telah kehilangan jati diri apalagi terjadi pada remaja yang berusia masih terbilang labil yaitu masa-masa sekolah. Para remaja yang mempunyai

7 Agoes Dariyo, “Memahami Psikologi Perceraian Dalam Kehidupan Keluarga. Jurnal Psikologi,” Jurnal psikologi Vol.2, No.2 (2004).

8 Ibid,.

9 Aswina Mayang Safitri, “Proses Dan Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Memaafkan Pada Remaja Broken Home,” Psikoborneo Vol.5, No.1 (2017).

(19)

harga diri atau self-esteem yang rendah didiagnosa mempunyai kepribadian yang mudah mengalami stress dan depresi, menjadi brutal, selalu ingin bunuh diri dan tidak lagi memiliki rasa empati bahkan terkadang mereka menjadi orang asing dan tidak mengenal diri mereka secara utuh.10

Secara teori dalam ilmu psikologi bahwa seseorang yang merasa mempunyai self-esteem yang tinggi akan mempermudah mereka dalam mengembangkan kemampuan diri mereka yang memiliki kreativitas, resiliensi serta perasaan bangga terhadap diri mereka sendiri. Sikap relisiensi adalah suatu keadaan dimana mereka mempunyai kemampuan untuk bisa terus bangkit dan meregenerasi energi posisif yang ada di dalam diri mereka serta kemampuan dalam problem solving ketika menghadapi masalah dan tekanan yang dihadapi.11

Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa seseorang yang merasa mempunyai self-esteem yang tinggi terkadang juga rentan mengalami kekecewaan apabila mengalami kegagalan yang terjadi sehingga rasa keberhargaan terhadap diri mereka sendiri menurun sehingga membuat eksitensi akan harga diri mereka terganggu. Sesuai dengan kasus yang terjadi yaitu broken home yang dialami oleh para remaja, terkadang kondisi psikis, emosional serta kestabilan jiwa mereka tidaklah sama dengan mereka yang tidak mengalami keluarga broken home, oleh sebab itu ketika rasa keberhargaan diri yang dimiliki oleh seorang remaja tidak didapatkan dalam

10 Suci Shawmy Febrita, “Self-Esteem Remaja Pada Keluarga Broken Home

(Universitas Mercu Buana Yogyakarta, 2017).

11 Tina Afiatin Ruswahyuningsih, “Resiliensi Pada Remaja Jawa, Gadjah Mada Journal Of Psychology,” , Gadjah Mada Journal Of Psychology Vol.1, No.2 (2015), hlm. 95–96.

(20)

lingkungan keluarga yang harmonis mereka akan merasa tertekan dan tidak ada yang peduli dengan mereka.

Kondisi ini seyogyanya harus remaja dapatkan di lingkungan eksternal pada keluarga seperti support system dari sahabat atau pasangan yang mereka miliki agar bisa merekonstruksi vibrasi negative yang mereka temui di dalam lingkungan keluarga menjadi vibrasi yang positif sehingga pikiran mereka akan tetap terus sehat dan tidak mengganggu aktivitas keseharian mereka.12 Akan tetapi terkadang perasaan baik ini hanya didapatkan sementara saja ketika bersama teman-temannya, selebihnya akan kembali lagi ketika berada dalam lingkungan keluarga.

Dengan melihat kondisi yang dipaparkan diatas, mengenai permasalahan broken home yang berujung pada perceraian dari orang tua yang dialami oleh remaja, ada langkah yang bisa ditempuh untuk mengatasi kondisi psikis dan mental remaja dengan melakukan Forgiveness.

Forgiveness bisa dijadikan sebagai solusi agar dapat menghindari bagi remaja dari berbagai macam dampak negatif yang diakibatkan oleh rasa kecewa, marah dan kesal dari permasalahan yang terjadi di dalam keluarga.13 Pada hakikatnya, remaja yang mengalami broken home perlu memahami situasi yang terjadi pada dirinya sendiri, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Karena hal ini mempengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi

12 Suci Shawmy Febrita, “Self Esteem Remaja Pada Keluarga Broken Home

(Universitas Mercu Buana Yogyakarta, 2017).

13 Veronika Gilang Permatasari, Hubungan Antara Kematangan Emosi Dengan Pemafaan Pada Remaja Dari Keluarga Broken Home (Universitas Mercu Buana Yogyakarta:

Naskah Publikasi Program Studi Psikologi, 2019).

(21)

di dalam lingkungan sosialnya. Penelitian menyebutkan bahwa kasus broken home dapat memiliki pengaruh terhadap remaja secara sosial. Remaja yang di dalam keluarganya mengalami ketidakharmonisan dalam keluarganya mungkin memiliki waktu yang lebih sulit agar bisa berinteraksi kepada orang lain serta memiliki kecenderungan sedikit kontak sosial yang lebih sedikit.14

Terkadang remaja merasakan perasaan yang tidak aman dan timbul pertanyaan di dalam benaknya apakah yang dialami oleh keluarganya menjadi satu-satunya keluarga yang memiliki permasalahan sedangkan keluarga lainnya tidak sehingga membuat diri remaja mengalami kesulitan dalam beradaptasi terhadap dinamika perubahan baik yang terjadi dalam lingkungan keluarga, teman sebaya bahkan lingkungan sosial yang lebih luas lainnya yang akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan mentalnya juga apabila tidak berusaha memaafkan atas kejadian yang terjadi pada remaja.

Seperti data yang berhasil penulis rangkum, berdasarkan data statistik tahun 2015, angka perceraian terdapat sekitar 350 ribu pasangan keluarga yang bercerai. Namun pada tahun 2021, perceraian di Indonesia meningkat menjadi sebanyak 580 ribu.15 Dalam hal ini artinya diindikasikan ada sekitar 580 ribu keluarga broken home yang berdampak pada perkembangan mental anak-anak dan remaja perihal self-esteem dan forgiveness.16 Selain itu juga, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018, sebanyak

14 Andre Kurniawan, “Dampak Buruk Perceraian Bagi Anak, Bisa Sebabkan Stres Dan Masalah Sosial,” Retrieved From, 2021, https://www.merdeka.com/sumut/dampak-buruk- perceraian-bagi-anak-bisa-sebabkan-stres-dan-masalah-sosial-kln.html. Diakses Pada 29 Desember 2021.

15 Ibid,.

16 Ibid,.

(22)

9,8 persen anak remaja di Indonesia telah terkena gangguan mental emosional akibat perceraian yang terjadi pada orang tua mereka. Angka tersebut terus mengalami peningkatan yang signifikan, padahal sebelumnya jumlah itu hanya mencapai 6,1 persen pada tahun 2013.17 Hal ini juga diperkuat dengan berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia 2019, satu dari delapan orang atau 970 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan mental emosional akibat keluarga yang broken home.

Di provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kasus broken home dalam hal ini angka perceraian yang terjadi sepanjang tahun 2021 kemarin tercatat 1.025 kasus perceraian dengan Kabupaten Bangka Selatan menduduki peringkat ketiga dari kabupaten/kota yang ada di Bangka Belitung.18 Locus penelitian yang akan peneliti kaji di wilayah Bangka Selatan terkhusus remaja SMA Bangka Selatan sebab tingkat gangguan emosional dan kesehatan mental akibat broken home remaja Bangka Selatan banyak melakukan perbuatan menyakiti diri sendiri, merasa kurang atas keberhargaan diri sendiri yang penulis dapatkan dari beberapa sampel kasus yang berasal dari organisasi yang bergerak di bidang remaja yakni organisasi Generasi Berencana yaitu salah satunya pelajar siswi di SMA N 1 Toboali yakni Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R) Amreta Tisna SMA N 1 Toboali.

17 Voi.Id, “Ada 580 Ribu Broken Home Baru, BKKBN Berharap Harganas Tingkatkan Kepedulian Akan Kesehatan Mental Remaja,” Retrieved From, 2022, https://voi.id/lifestyle/184631/ada-580-ribu-broken-home-baru-bkkbn-berharap-harganas-

tingkatkan-kepedulian-akan-kesehatan-mental-remaja Diakses Pada 17 Januari 2023.

18 Ajie Gusti Prabowo, Retrieved From, 2021,

https://bangka.tribunnews.com/2021/11/24/1025-pasangan-cerai-di-bangka-bangka-selatan-dan- bangka-tengah-65-persen-karena-selingkuh Diakses Pada 17 Januari 2023.

(23)

Dengan elaborasi yang telah penulis paparkan diatas berdasarkan dengan sumber referensi yang terkait, maka penulis tertarik untuk melakukan upaya penelusuran lebih mendalam secara komprehensif pada studi kasus anak yang mengalami broken home untuk melihat self esteem dan kemampuan forgivenessnya. Sehingga penulis ingin mengkaji dan meneliti dengan judul “ Dinamika Forgiveness Pada Remaja Yang Mengalami Broken Home Di Bangka Selatan “

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dengan literature dan permasalahan yang telah dipaparkan penulis di atas, maka fokus perhatian penulis ingin mengangkat permasalahan yang akan diteliti yaitu :

1. Bagaimanakah dinamika forgiveness pada remaja yang mengalami broken home di Bangka Selatan ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dengan pokok permasalahan yang diangkat oleh penulis, maka tujuan dari penulisan dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan mengkaji gambaran dinamika forgiveness pada remaja yang mengalami broken home di Bangka Selatan

D. Metodelogi Penelitian

(24)

Secara etimologi bahasa, Metode adalah ungkapan yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu Methodos yang memiliki pengertian sebagai langkah cara atau tahapan dalam sesuatu. Sehingga jika diinterpretasikan bahwa metode ialah langkah cara/tahapan yang berhubungan dengan bagaimana proses untuk mencapai tujuan yang diharapkan di dalam mengatasi suatu permasalahan yang dibahas. Selanjutnya, penelitian adalah ungkapan yang bersal dari bahasa Inggris yaitu Research yang memiliki pengertian sebagai cara untuk mencari dengan suatu metode yang dipergunakan dengan dikaji dan diteliti secara komprehensif dan sistematis sehingga mampu menyelesaikan berbagai macam permasalahan.

Dapat disimpulkan bahwa metodologi penelitian adalah ilmu yang membahas serta mempelajari bagaimana cara atau metode dalam melakukan penelitian terhadap kasus dan permasalahan yang diangkat oleh penulis.

Metodologi penelitian adalah polarisasi yang digunakan peneliti yang dilaksanakan secara sistematis, runtut, kritis dan mengkaji fakta yang terjadi di lapangan untuk mencapai tujuan daripada penelitian. Metodelogi penelitian pada hakikatnya bersifat subtansial karena dapat membantu peneliti dalam menulis hasil karyanya serta mendapatkan tentang kepastian data dan kebenaran akan ilmu pengetahuan.

E. Jenis Penelitian

(25)

Berdasarkan dengan kajian penulis dalam melakukan penelitian terhadap kasus yang diangkat oleh penulis, melakukan upaya langkah- langkah secara komprehensif dan sistematis. Metodelogi penelitian bersinggungan dengan masalah yakni berbagai upaya untuk dapat menelisik agar memahami dari hasil penelitian ini, baik menggunakan prosedural dari cara penelitian dan teknik penelitian dalam kepenulisan hasil penelitian.

Penelitian ini menggunakan penelitian yang bersifat kualitatif yang mendeskripsikan dan menganalisa segala macam sumber literaturr-literatur yang terkait, dengan didukung bukti fakta yang terjadi di lapangan terkait masalah yang relevan dan diselidiki oleh penulis. Penelitian ini menggunakan objek peneliti yaitu remaja secara langsung yang mengalami permasalahan yang diangkat oleh penulis, remaja yang mengalami Broken Home. Dengan mengunakan analisa pendekatan metode kualitatif, penulis dari hasil penelitian akan menekankan pada pengamatan fenomena dan meneliti kepada subtansi dari fenomena yang diteliti penulis terhadap remaja dalam kasus yang diangkat dalam karya penulisan ini sehingga analisa dan ketajaman penulisan dalam penelitian ini akan berupaya untuk memahami peristiwa yang terjadi berdasarkan dengan fenomena permasalahan yang dibahas.

F. Manfaat Penelitian

1. Secara Teoritis

Penulisan dalam penelitian ini dijadikan sebagai sumber literatur

(26)

tentang referensi self-esteem dan forgiveness pada remaja yang mengalami broken home dalam menyebarkan ilmu pengetahuan dalam bidang informasi dan komunikasi untuk pendidikan perguruan tinggi dan masyarakat luas yang mengalami atau ingin mengkaji hal yang serupa dengan penulis. Selain daripada itu, penulisan dalam penelitian ini juga diharapkan mampu berguna bagi para akademisi lainnya untuk dapat merekonstruksi pandangan penulis dari hasil penelitian ini agar bisa menemukan dan menyempurnakan ilmu pengetahuan baru sehingga ditemui upaya dan solusi yang dibutuhkan sesuai dengan pokok kajian permasalahan yang diangkat oleh penulis.

Dalam kajian penulisan ini kita dapat memahami bahwa kejadian dan peristiwa yang terjadi dalam keluarga baik berbentuk kekerasan verbal atau fisik sehingga berujung ada perceraian sejatinya memiliki pengaruh yang nyata dan besar bagi perkembangan diri remaja dalam kehidupan sehari-harinya.

2. Secara Praktis

Penulisan dalam penelitian ini diharapkan memiliki manfaat praktis yaitu menambah informasi, pengetahuan serta memperkaya khasanah ilmu pengetahuan bagi para psikolog, psikiater untuk melakukan intervensi serta akademisi yang saling terkait dalam memberikan pertolongan, rehabilitasi, saran dan berbagai upaya lainnya untuk proses penguatan mental dan penyembuhan mental psikis bagi para

(27)

remaja yang mengalami kasus serupa yang dikaji penulis.

Selain daripada itu penulisan ini juga diharapkan memiliki nilai subtansial yang penting yang dapat dipahami bagi para pembaca terlebih bagi mereka yang sudah berkeluarga agar mengetahui bahwa segala macam bentuk pertikaian sekecil apapun di dalam keluarga akan mempengaruhi kondisi psikis bagi anaknya yang mengalami broken home. Serta penulisan ini menjadi literatur keilmuan untuk IAIN Syaikh Abdurrahman Siddiq Kepulauan Bangka Belitung pada umumnya serta untuk Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam pada khususnya.

G. Telaah Pustaka

Telaah bagian pustaka diperuntukkan sebagai sumber rujukan penulis dengan mengungkapan sumber literature yang serupa dengan penulis dalam penelitian ini yang bertujuan untuk menghindari segala bentuk yang tidak diinginkan yaitu plagiasi atau meniru hasil karya penulisan orang lain. Oleh sebab itu, penulis ingin memaparkan beberapa penelitian sebelumnya yang serupa yang telah penulis jadikan sebagai sumber daftar pustaka, yaitu :

1. Penulisan penelitian dari Dewi Afriana dan Nurul Hasanah yang berjudul

“ Studi Kasus Self Esteem Pada Remaja Yang Orang Tuanya Broken Home Di SMP Dharma Patra P. Brandan “ tahun 2019 memaparkan bahwa remaja yang memiliki harga diri yang tinggi merupakan sebagai perasaan yang positif terhadap diri sendiri, termasuk cenderung lebih efektif, aktif, dan asertif dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan

(28)

lingkungan. Hal ini juga didukung oleh oleh faktor-faktor dari dalam diri dan luar diri subjek yang mempengaruhi subjek untuk menjadi seseorang yang mempunyai self- esteem. Hampir sama dengan kajian penulis, namun konsentrasi penulisan dari karya tersebut terfokus pada lingkup SMP Dharma Patra P. Brandan belaka, sedangkan penulis secara umum yang terjadi dilingkungan sekitar penulis yang penulis temui sebagai sampel objek dan subjek penelitian penulis. Selain itu focus penulis juga pada kemampuan forgiveness yang tidak ditemui dalam penelitian tersebut.

2. Penulisan penelitian dari Agoes Dariyo yang berjudul “ Memahami Psikologi Perceraian Dalam Kehidupan Keluarga “, Tahun 2004 memaparkan bahwa dalam penulisan ini membahas tentang pengertian, proses perceraian serta dampak yang ditimblkan bagi anak dalam kehidupan berkeluarga. Perceraian memiliki dampak traumatis bagi seorang anak khususnya dalam perkembagan psikologis anak. Hal ini sedikit sama dengan penulisan dalam karya penulis terkait satu sampel dari broken home yaitu perceraian. Namun, konsentrasi utama penulis tidak sama dengan pokok bahasan pada jurnal tersebut yang hanya berfokus utama pada perceraian yang terjadi dalam kehidupan berkeluarga.

3. Penulisan penelitian dari Theresia Indira Shanti, Bianca Vanessa Susanto.

Dengan judul “Hubungan Antara Mindfulnesss dan Dispositional Forgiveness Pada Remaja Dengan Orang Tua Bercerai.” Tahun 2020

(29)

memaparkan adanya hubungan yang signifikan antara mindfulness dan dispotional forgiveness pada remaja dengan orang tua bercerai.

Mindfulness dapat membantu individu untuk mengidentifikasi dan menerima perasaan serta pikirannya sehingga membantu terjadinya disptional dalam individu. Penulisan dalam karya ini memiliki kesamaan terhadap penulis namun hanya sebatas pada pembahasan mengenai kemampuan forgiveness saja terhadap situasi yang serupa yang diangkat oleh penulis yaitu kasus kejadian broken home. Sehingga penulisan ini tentu sangat berbeda. Konsentrasi penulis terhadap kemampuan self-esteem dalam berinteraksi di lingkungan sosial ketika korban sudah mengalami dan melakukan apa yang disebut dengan forgiveness.

4. Penulisan penelitian dari Thompson, L..,Synder, C. R.,Hoffman, L.,Michael, S. T.,Rasmussen, H. N., Billings, L. S.,& Roberts, D. E.

dengan judul “Dispositional Forgiveness Of Self, Others, And Situations“ , Tahun 2005 yang menjelaskan tentang pemaafan memiliki korelasi positif dengan kemampuan kognitif, pengaruh positif terhadap diri sendiri dan situasi yang yang ada disekitar serta gangguang yang terjadi. Hal ini juga memiliki korelasi negative dengan kemampuan perenungan, balas dendam dan permusuhan. Pemaafan atas segala yang terjadi akan memiliki nilai kesejahteraan secara psikologis dari aspek kemarahan, kecemasan, depresi dan kepuasan dalam hidup. Melakukan pemaafan atas segala situasi yang terjadi akan memberikan kontribusi

(30)

terhadap kesehatan mental yaitu sosial-emosinal untuk kembali membangkitkan atas keberhagargaan diri dan mengendalikan kepercayaan diri. Pembahasan yang sama dalam karya penulisan penulis dengan penulis ini adalah sama-sama mengambil konsentrasi pengkajian atas bentuk pemaafan terhadap situasi yang terjadi demi kembali meningkatkan rasa dan pengendalian diri. Namun, tetap saja tidak sama dan berbeda karena sampel penulis tidak hanya berfokus pada pengkajian itu belaka. Aspek penulis terhadap situasi broken home, self-esteem, dinamika kehidupan sosial bagi korban serta forgiveness terhadap situasi yang terjadi. Sedangkan dalam bahasan karya diatas tidak mengkaji spesifikasi seperti karya penulis, penulisan tersebut membahas secara gambaran umum dan orientasi terhadap hal-hal yang bersifat umum juga tanpa menjelaskan kasus secara khusus yang dipaparkan.

H. Subjek Penelitian

Adapun subjek dari penelitian ini adalah remaja dengan status pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mengalami broken home pada keluarganya yang ada di Bangka Selatan.

(31)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kerangka Teoritis

1. Pengertian Broken Home

Menurut Kamus Lengkap Psikologi Broken Home merupakan suatu keadaan dimana keluarga mengalami keretakan atau rumah tangga yang berantakan, keadaan keluarga atau rumah tangga tanpa hadirnya salah seorang dari kedua orang tua (ayah atau ibu) disebabkan oleh meninggal, perceraian, meninggalkan keluarga, dan lain-lain.19

Dalam pengertian lain Ali Qaimi mengartikan bahwa Broken Home merupakan suatu keadaan dimana baik suami maupun istri tidak mau menjalankan tugasnya masing-masing, rumah tangga yang di dalamnya kurang terdapat kasih sayang, kedua orang tua jarang hadir, tidak terdapat rasa saling memaafkan dan menyadari kekurangan masing-masing, atau suatu keadaan dimana suami istri serta anak-anak masing-masing hidup untuk dirinya sendiri.20

Menurut yang dipaparkan oleh Eclose dan Shadily, Secara harfiah bahasa bahwa Broken Home adalah retak. Sehingga ketika diinterpretasikan bahwa Broken Home ialah suatu keadaan di dalam keluarga yang tidak 19 J. P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, terjemahan Kartini Kartono, (Jakarta:

RajaGrafindo Persada, 2008), h. 71.

20 Ali Qaimi, Single Parent Paran Ganda Ibu Dalam Mendidik Anak, (Bogor: Cahaya, 2003), h. 29.

(32)

mempunyai keharmonisan dan kedamaian serta ketentraman yang berakibat pada perceraian/perpisahan21. Ada beberapa pengklasifikasian yang dikatakan Broken Home /keluarga terpecah menurut Willy22 yaitu :

a. Keluarga pecah yang disebabkan oleh strukturnya, bukan untuk sebab apakah salah satu kepala keluarga yang meninggal dunia/ sudah bercerai b. Keadaan orang tua yang tidak meninggal/tidak bercerai akan tetapi salah

satu diantara mereka sering tidak di rumah dan memiliki hubungan kasih sayang dalam keluarga yang sudah tidak dapat lagi dirasakan seperti sering terjadinya pertengkaran, kekerasan, perselingkuhan serta berbagai macam tindakan atau sikap keluarga yang sudah tidak sehat lagi yang memiliki dampak terhadap keadaan mental, emosional, serta psikologi bagi korban yang mengalami di dalam keluarga.

Menurut yang diungkapkan Helmawati, bahwa Broken Home adalah suatu keadaan yang menggambarkan adanya perpecahan baik yang terjadi dalam bentuk secara fisik maupaun yang terjadi dalam bentuk secara psikologis23. Istilah Broken Home sering kali digunakan untuk mengekspresikan tentang situasi dalam suatu keluarga yang berantakan yang disebabkan orang tua yang sudah tidak lagi peduli dengan anaknya serta keadaan baik secara materi, psikis maupun lainnya yang terjadi dalam rumah.

21 2UMY Repository, Teoritis Broken Home. Retrieved From

http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/23810/F.%20BAB%20||.PDF?sequa nce+6&isAllowed=y . Diakses Pada Tanggal 2 Januari 2022

22 Ibid

23 Solina, Emmy, 2013, Keluarga Broken Home di Tanjung Pinang (studi terhadap 3 (tiga) orang Remaja Putus Sekolah. Tanjung Pinang, Jurnal Psikologi Universitas Maritim Raja Ali Haji, Vol. 1, No. 1.

(33)

Orang tua yang sudah tidak memiliki rasa kepedulian lagi tentang perkembangan anaknya baik dari sisi pendidikan, kebutuhan, pergaulan terhadap anaknya. Keluarga yang tidak harmonis dan kerap kali terjadi pertikaian baik secara verbal maupun fisik juga adalah gambaran terjadinya Broken Home yang berujung pada perceraian. Permasalahan yang ditimbulkan ini memiliki dampak yang begitu berpengaruh bagi anak sebagai korban. Korban anak yang mengalami akan merasakan perasaan sedih mendalam, gelisah, khawatir, merasa bersalah, tidak memiliki harapan dan mimpi, malu serta berbagai macam kondisi mental lainnya yang berkepanjangan jika tidak diatasi. Kembali menilik dari pernyataan Willis, bahwa24 : “ Dari keluarga Broken Home akan lahir anak-anak yang mengalami krisis kepribadian, sehingga perilakunya berindikasi salah.

Mereka mengalami gangguan emosional dan bahkan neurotic.

Berdasarkan beberapa pengertian yang di kemukakan di atas maka penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Broken Home atau rumah tangga yang berantakan merupakan suatu kondisi keluarga yang mengalami permasalahan atau konflik sehingga mengakibatkan keretakan dan ketidakharmonisan dalam hubungan keluarga tersebut sebagaimana layaknya konsep keluarga ideal atau bahagia atau harmonis pada umumnya.

Menurut Sofyan s. willis dalam bukunya yang berjudul Konseling Keluarga (Family Counseling) bahwa Broken Home dapat dilihat dari dua aspek yakni; (1) Keluarga itu terpecah karena strukturnya tidak utuh sebab 24 Ibid

(34)

salah satu dari kepala keluarga itu meninggal dunia atau telah bercerai, (2) Orang tua tidak bercerai akan tetapi struktur keluarga itu tidak utuh lagi karena ayah atau ibu sering tidak di rumah, dan atau tidak memperlihatkan hubungan kasih sayang lagi.25

Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat diartikan bahwa keluarga Broken Home pada dasarnya tidak hanya terbatas pada ranah perceraian saja, akan tetapi di lain hal orang tua yang meninggal, jarang berada dirumah disebabkan kesibukan sehingga jarang berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya serta orang tua yang kurang atau tidak mampu memberikan rasa kasih sayang guna memenuhi kebutuhan si anak akan rasa kasih sayang dari kedua orang tuanya maka keluarga tersebut juga disebut sebagai keluarga Broken Home .

2. Faktor Penyebab Broken Home

Beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya Broken Home yaitu sebagai berikut:

a. Sikap egosentrisme

Egoisme adalah suatu sifat mementingkan dirinya sendiri.

Sedangkan egosentrisme merupakan sifat yang menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat perhatian dari pihak lain yang diusahakan dengan segala cara agar mau mengikutinya. Egosentrisme antara suami istri merupakan salah satu penyebab terjadinya konflik dalam rumah tangga 25 Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga (Family Counseling), (Bandung: Alfabeta, 2008), h. 66.

(35)

yang akhirnya berujung pada pertengkaran yang terjadi terus menerus.

Adapun dampak yang ditimbulkan oleh egosentrisme ini terhadap anak yaitu timbulnya sikap membandel, sulit disuruh, dan suka bertengkar dengan saudaranya. Seharusnya orang tua memberi contoh sikap yang baik seperti saling bekerjasama, membantu, bersahabat, serta bersikap ramah.26 Egoisme atau egosentrisme dalam pembahasan ini diartikan sebagai suatu sifat atau kelakuan buruk yang dimiliki oleh orang tua dalam hal ini seseorang selalu mementingkan dirinya sendiri dan menjadikan dirinya sebagai pusat dari segala hal, serta beranggapan bahwa orang lain tidaklah penting. Misalnya ibu yang biasanya selalu menemani anaknya belajar dan mengerjakan PR pada suatu waktu juga memiliki kesibukan membersihkan rumah yang berantakan, ibu lantas meminta ayah untuk membantunya menemani anaknya akan tetapi ayah menolak untuk membantu alasannya karena ayah sedang capek dan ingin istirahat, pada akhirnya pertengkaran antara ibu dan ayah pun terjadi karena hal tersebut. Pertengkaran yang terjadi antara kedua orang tua itu menjadi contoh yang tidak baik serta berdampak buruk bagi anak.

b. Kurang atau putus komunikasi diantara anggota keluarga terutama ayah dan ibu

Kurang atau putus komunikasi diantara anggota keluarga terutama ayah dan ibu yang pada umumnya terjadi karena faktor kesibukan dan tentunya akan berakibat buruk apa lagi jika kurangnya komunikasi antar

26 Ibid, 15

(36)

anggota keluarga tersebut terjadi dalam kurun waktu yang lama akan mengakibatkan anak remaja tidak terurus secara psikologis, mereka mengambil keputusan-keputusan tertentu yang membahayakan dirinya seperti bergaul dengan orang yang salah, merokok dan hal-hal negatif lainnya.27 Keluarga yang biasanya orang tua tidak memiliki banyak waktu untuk berkomunikasi dengan pasangan maupun dengan anak, tidak ada banyak waktu dan kebebasan untuk saling mengungkapkan pengalaman, perasaan, serta pemikiran-pemikiran dengan anggota keluarga yang lainnya hingga akhirnya ini menjadi salah satu pemicu terjadinya keretakan dalam hubungan keluarga.

c. Masalah Pendidikan

Masalah pendidikan sering menjadi penyebab terjadinya pertengkaran di dalam keluarga. Jika suami istri orang yang lumayan berpendidikan, maka wawasan tentang kehidupan keluarga dapat dipahami oleh mereka. Sebaliknya jika suami istri tidak berpendidikan atau memiliki pendidikan yang rendah maka mereka sering tidak dapat memahami lika-liku keluarga, karenanya sering menyalahkan apabila terjadi persoalan dalam keluarga dan seringnya terjadi pertengkaran dalam hal ini mungkin akan mengakibatkan perceraian.28 Akan tetapi perlu juga kita ketahui bahwa faktor pendidikan orang tua terkadang juga tidak terlalu berpengaruh dalam hal ini, karena pada kenyataannya banyak sekali ditemukan keluarga yang salah satu atau bahkan kedua

27 Ibid., 14 28 Ibid., 18

(37)

orang tuanya yang menjadi pemimpin dalam keluarga tersebut bukanlah orang yang berpendidikan tinggi, namun tidak menutup kemungkinan bahwa hubungan keluarga mereka tetap berjalan harmonis sebagaimana yang diharapkan.

d. Maslah Kesibukan

Menurut Sofyan s. willis kesibukan merupakan satu kata yang telah melekat pada masyarakat modern di kota-kota yang mana terfokus pada pencarian materi atau urusan ekonomi yang sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Maka jika pemenuhan materi tersebut tidak mampu terpenuhi kemungkinan besar akan berakibat pada terjadinya stres, pertengkaran dan pada akhirnya tidak menutup kemungkinan munculnya perceraian.29 Menurut penulis perpecahan dalam keluarga tentunya tidak akan terjadi selama orang tua masih mampu membagi waktu yang mereka miliki antara bekerja dengan memberikan perhatian terhadap pasangan maupun anak, dan tentunya hal ini mungkin saja juga dialami oleh masyarakat pedesaan dan tidak hanya terjadi pada masayarakat perkotaan, karena pada dasarnya pertengkaran dan perpecahan dalam keluarga ini terjadi disebabkan kurangnya perhatian serta rasa kasih sayang yang diberikan terhadap anggota keluarga lainnya.

e. Terjadinya Konflik Dilingkungan Keluarga

29 Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga (Family Counseling), (Bandung: Alfabeta, 2008), hal 16

(38)

Hubungan antara kedua yang tidak harmonis lantaran terjadinya konflik, perselisihan dan pertikaian atau bahkan memukul. Suami dan istri tidak mau mentaati peraturan dalam rumah tangga, alhasil mereka pun saling melangkah sendiri-sendiri sekehendak hati dan rumah tangga pun berantakan dan berjalan tanpa aturan.30 Pada kenyataannya pertengkaran, perbedaan pendapat, serta perselisihan yang terjadi dalam lingkungan keluarga merupakan hal yang normal dan wajar terjadi, hal ini disebabkan berbagai perbedaan pribadi yang ada pada mereka.

Dimulai dari perbedaan yang sangat kecil yang kurang disadari hingga perbedaan besar yang akhirnya dapat menimbulkan pertentangan.

Secara teori anak memang lebih baik dibesarkan di lingkungan keluarga yang selalu serasi, namun dengan adanya pertengkaran- pertengkaran kecil antara orang tua juga bermanfaat bagi anak kedepannya nanti, anak akan mampu mengekspresikan kemarahannya dengan cara yang baik. Namun pertengkaran antara orang tua akan berakibat negatif bagi anak apabila berlangsung secara terus menerus, apalagi jika anak melihat contoh kemarahan yang kasar dan berlebihlebihan seperti menggunakan kata-kata kasar atau saling memaki, serta dalam bentuk tindakan fisik seperti pukulan.

f. Masalah Ekonomi

Sofyan s. willis mengemukakan dua jenis penyebab terjadinya keluarga Broken Home yaitu kemiskinan dan gaya hidup. Kemiskinan 30 Alex Sobur, Komunikasi Orang tua dan Anak, (Bandung: Angkasa, 1986), h. 14.

(39)

berdampak terhadap kehidupan keluarga. Misalnya disebab oleh istri yang banyak menuntut pada suami, sedangkan suami tidak sanggup memenuhi tuntutan-tuntutan istri dan anak-anaknya akan kebutuhan- kebutuhan yang diharapkan oleh istri dan anak, maka dari itu timbulah pertengkaran suami istri yang sering menjurus pada perceraian. Selain faktor kemiskinan, gaya hidup keluarga pun juga berpengaruh, misalnya jika seorang istri terbiasa mengikuti gaya hidup zaman sekarang yang serba modern, sedangkan suami hanya menginginkan gaya hidup biasa saja. Perbedaan antara suami istri ini akhirnya akan mengakibatkan terjadinya pertengkaran-pertengkaran yang sering mengarah pada terjadinya Broken Home .31

Faktor kemiskinan ini memang sangat berpengaruh bagi kehidupan keluarga, karena bersumber dari faktor tersebut akan memicul memunculkan banyak percekcokan antara dua orang tua, namun jika kita amati lagi di lingkungan masyarakat sekitar kita masih banyak ditemui kehidupan keluarga yang masih bisa berbahagia meskipun serba kekurangan. Hal ini dikarenakan mereka selalu bersyukur atas apa yang mereka miliki dan terus berusaha untuk mendapatkan yang lebih dari yang mereka miliki, selain itu mereka juga menyadari bahwa pertengkaran bukanlah jalan untuk menyelesaikan permasalahan.

g. Jauh dari Agama

31 Sofyan S. Willis, op.cit., h. 16.

(40)

Segala sesuatu keburukan perilaku manusia disebabkan dia jauh dari agama yaitu Dienul Islam, sebab pada dasarnya Islam selalu mengajarkan kepada manusia untuk berbuat baik dan mencegah orang dari berbuat keji dan munkar. Sebaliknya jika keluarga jauh dari agama dan lebih mengutamakan materi dan dunia semata maka akan terjadi kehancuran pada keluarga tersebut, sebab dari keluarga tersebut akan lahir anak-anak yang tidak taat pada Allah dan kedua orang tuanya, dan bisa jadi mereka akan berbuat keji dan munkar pula.32

Sejalan dengan pemaparan di atas, Allah memang memerintahkan kepada kita untuk tetap berpegang teguh kepada tali agama Allah yaitu Islam. Karena pada dasarnya Islam mengajarkan kita untuk melakukan Amar ma’ruf nahi munkar atau memerintahkan kita untuk selalu berbuat kebajikan dan mencegah pada perbuatan yang keji dan munkar. Orang tua yang memiliki pondasi keimanan yang kuat tentunya akan mampu mendidik serta memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya, namun sebaliknya jika orang tua jauh dari agama Allah maka tentunya keluarga juga akan jauh dari keharmonisan, keluarga akan terasa hampa dan jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah.

h. Kematian

Selain faktor-faktor di atas yang lebih mengarah pada kesalahan orang tua masih ada faktor lainnya yang bukan bersumber dari kesalahan pihak orang tua yakni kematian suami atau istri. Menurut Elizabeth B.

32 Ibid., h. 20.

(41)

Hurlock Kehancuran rumah tangga disebabkan kematian salah satu dari orang tua baik ayah maupun ibu dan jika anak menyadari bahwa orang tuanya tidak akan pernah kembali maka mereka akan bersedih hati dan mengalihkan kasih sayang mereka pada orang tua yang masih ada dan berharap akan mendapatkan rasa aman dan kasih sayang dari orang tuanya yang masih ada. Seandainya orang tua mereka yang masih ada juga turut larut dalam kesedihan maka anak akan merasa ditolak dan tidak diinginkan, dan hal ini akan menimbulkan ketidaksenangan yang sangat membahayakan hubungan keluarga.33

Setelah mengalami peristiwa yang cukup besar dalam kehidupannya yaitu kematian salah satu atau kedua orang tua bagi anak memang membuatnya sangat tertekan, bahkan mungkin anak akan merasa sangat sedih, depresi karena kehilangan orang tua yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya selama ini. Anak tentunya memerlukan kasih sayang, kepedulian, rasa simpati juga perhatian dari orang-orang terdekatnya misalnya pihak orang tuanya yang lain baik ayah ataupun ibu yang masih hidup serta dari saudara-saudaranya. Namun jika anak tidak mendapatkan apa yang dia butuhkan tersebut alhasil anak akan merasa ditolak dan diacuhkan juga merasa bahwa tidak ada lagi pihak yang masih peduli terhadapnya.

i. Perceraian

33 Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, t.th.), h. 216.

(42)

Menurut Elizabeth B. Hurlock rumah tangga yang pecah karena perceraian dapat lebih merusak anak dan hubungan keluarga jika dibandingkan dengan pecahnya keluarga disebabkan kematian. Hal ini disebabkan oleh; pertama, periode penyesuaian terhadap perceraian lebih lama dan sulit bagi anak daripada periode penyesuaian yang menyertai kematian orang tua. Kedua, perpisahan yang disebabkan perceraian itu serius sebab mereka cenderung membuat anak “berbeda” dalam mata teman-temannya. Jika anak ditanya dimana orang tuanya atau mengapa mereka mempunyai orang tua baru sebagai pengganti orang tua yang tidak ada, maka anak akan merasa serba salah dan merasa malu. Hozman dan Froiland telah menemukan bahwa kebanyakan anak melalui lima tahap dalam penyesuaian ini: penolakan terhadap perceraian, kemarahan yang ditujukan pada mereka yang terlibat dalam situasi tersebut, tawar menawar dalam usaha mempersatukan orang tua, depresi dan akhirnya penerimaan perceraian.34 Sesuai dengan pemaparan Elizabeth B. Hurlock diatas bahwa perceraian merupakan pemicu terjadinya keluarga Broken Home kebanyakannya. Perceraian menjadi momok yang sangat ditakuti oleh anak, bermula dari pertengkaran atau konflik yang berlangsung lama hingga akhirnya keputusan untuk bercerai menjadi jalan yang harus ditempuh oleh pihak orang tua demi kenyamanan kedua belah pihak, akan tetapi satu hal yang tidak pernah luput dari akibat terjadinya perceraian tersebut adalah tekanan juga rasa terbebani yang dialami oleh anak selaku korban dalam hal ini.

34 Ibid., h. 216-217.

(43)

Menurut Save M. dagun perceraian juga bisa menjadi satu-satunya pilihan terbaik dan paling tepat bagi sebuah keluarga yang senantiasa mengalami konflik berkepanjangan. Anak yang diasuh oleh satu orang tua akan jauh lebih baik daripada anak yang diasuh oleh keluarga utuh yang selalu diselimuti rasa tertekan, karenanya perceraian dalam keluarga tidak selalu membawa akibat yang negatif. Perceraian bisa menjadi satu- satunya jalan keluar untuk memperoleh ketentraman diri dari situasi konflik, rasa tidak puas, perbedaan paham yang terus menerus.

3. Aspek Broken Home

Menurut Sofyan S. Willis, keluarga pecah (Broken Home ) dapat dilihat dari dua aspek, yaitu. a. Keluarga pecah karena strukturnya tidak utuh sebab salah satu dari kepala keluarga meninggal dunia atau telah bercerai. b.

Orang tua tidak bercerai akan tetapi struktur keluarga tidak utuh lagi karena ayah atau ibu sering tidak dirumah, dan atau tidak memperlihatkan hubungan kasih sayang lagi. Misalnya sering bertengkar sehingga keluarga itu tidak sehat secara psikologis.35

Berdasarkan uraian beberapa ahli diatas dapat disimpulkan bahwa Broken Home adalah retaknya struktur keluarga karena salah satu atau beberapa anggota keluarga gagal menjalankan kewajiban peran mereka karena meninggal dunia, perceraian, meninggalkan rumah, pertengkaran atau tidak memperlihatkan kasih sayang lagi dalam keluarga .

35 Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga (Family Counseling) (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 66.

(44)

Wiliam J. Goode mengemukakan bentuk atau kriteria dari keretakan dalam keluarga (Broken Home ) yaitu:36

a. Ketidaksahan merupakan keluarga yang tidak lengkap karena ayah (suami) atau ibu (istri) tidak ada dan kerenanya tidak menjalankan tugas atau perannya seperti yang telah ditentukan oleh masyarakat.

b. Pembatalan, perpisahan, perceraian dan meninggalkan. Terputusnya keluarga disini disebabkan karena salah satu atau kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan dan berhenti melaksanakan kewajiban perannya.

c. Keluarga selaput kosong anggota-anggota keluarga tetap tinggal bersama namun tidak saling berkomunikasi atau bekerjasama dan gagal memberikan dukungan emosional satu sama lain.

d. Ketiadaan seseorang dari pasangan karena hal yang tidak diinginkan.

Keluarga pecah karena suami atau istri meninggal, dipenjara, atau terpisah dari keluarga karena peperangan, depresi, atau malapetaka lain.

e. Kegagalan peran penting yang tidak diinginkan. Masalah ini dapat berupa penyakit mental, emosional atau badaniah yang parah yang dapat menyebabkan kegagalan dalam menjalankan peran utama.

Dadang Hawari menjelakan bahwa keluarga yang mengalami disfungsi (Broken Home ) ditandai dengan ciriciri sebagai berikut:37

36 William J. Goode, Sosiologi Keluarga (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), hlm. 112-119.

37 Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 44.

(45)

a. Kematian salah satu atau kedua orang tua.

b. Kedua orang tua berpisah atau bercerai.

c. Hubungan kedua orang tua yang tidak baik

d. Hubungan orang tua dengan anak yang tidak baik.

b. Suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan.

c. Orang tua sibuk dan jarang berada di rumah

d. Salah satu atau kedua orang tua mempunyai kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan.

Sofyan S. Willis menjelaskan bahwa tidak semua keluarga yang tidak utuh karena hal-hal diatas dikatakan mengalami Broken Home . Ada beberapa orang tua yang menjadi single parent namun bisa menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis meskipun struktur keluarganya tidak utuh lagi. Berdasarkan pemaparan dari beberapa tokoh diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga yang retak (Broken Home ) ditandai dengan ciri-ciri: ketidaksahan, pembatalan, kematian, perpisahan, perceraian, salah satu atau kedua orang tua meninggalkan rumah, keluarga selaput kosong, kegagalan peran penting yang tidak diinginkan, hubungan orang tua dengan anak yang tidak baik, hubungan kedua orang tua yang tidak baik, kesibukan orang tua sehingga jarang di rumah, suasana rumah yang tegang dan tanpa kehangatan serta kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan orang tua.38

38 Sofyan S. Willis, Remaja Dan Permasalahannya (Bandung: CV Alfabeta, 2012), hlm.

105.

(46)

4. Dampak Broken Home Pada Remaja

Robert S. Feldman dalam bukunya yang berjudul Pengantar Psikologi memuat teori hierarki kebutuhan berbentuk piramida yang dikembangkan oleh Abraham Maslow, dalam teori ini Maslow menyatakan bahwa pada diri setiap individu terdapat lima kebutuhan dasar yang menuntut untuk dipenuhi, kelima kebutuhan tersebut dimulai dari tingkat yang paling bawah hingga tingkatan teratas yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta dan rasa memiliki, kebutuhan akan penghargaan, serta kebutuhan akan aktualisasi diri, yang mana kebutuhan yang berada ditingkat paling bawah harus terpenuhi terlebih dahulu baru setelah itu seseorang dapat bergerak maju untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi tingkatannya.39

Berdasarkan teori hierarki kebutuhan yang dikembangkan oleh Abraham maslow maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pada diri setiap individu termasuk anak memiliki lima kebutuhan yang paling mendasar dan menuntut untuk dapat dipenuhi, yang mana agar kebutuhan yang berada ditingkat teratas yakni kebutuhan akan aktualisasi diri dapat terpenuhi maka terlebih dahulu individu tersebut harus memenuhi kebutuhan yang berada ditingkat bawah, karenanya teori ini dinamakan teori hierarki atau jenjang atau tingkatan kebutuhan yang dimulai dari tingkatan yang paling bawah hingga teratas.

39 Robert S. Feldman, Pengantar Psikologi, (Jakarta: Salemba Humanika, 2012), h. 11.

(47)

Menurut Abdul aziz El-Quussy yang dimuat dalam buku karangan Kamrani Buseri yang berjudul Pendidikan Keluarga Dalam Islam setiap anak memiliki kebutuhan pokok diantaranya kebutuhan akan rasa aman, serta kebutuhan akan rasa kasih sayang terutama yang diberikan oleh orang tua karenanya anak sangat tergantung dengan orang tua.40 Terdapat persamaan antara teori yang dikembangkan oleh Maslow dengan pendapat Abdul aziz El-Quussy mengenai kebutuhan yang terdapat pada diri anak yakni kebutuhan akan rasa aman, serta kebutuhan akan rasa kasih sayang terutama yang diperoleh anak dari orang tuanya yang mana tentu dengan terpenuhinya berbagai kebutuhan tersebut maka anak akan merasa bahagia, tenang, tentram. Sebaliknya apabila kebutuhan tersebut tidak bisa terpenuhi maka akan berdampak negatif pada diri anak. Agar terpenuhinya kebutuhan akan rasa aman, serta kebutuhan akan rasa kasih sayang pada anak maka relasi antara orang tua dengan anak harus berjalan baik, pandangan mengenai relasi orang tua dengan anak ini pada umumnya merujuk pada teori kelekatan yang pertama kali dicetuskan oleh John Bowlby. Dalam teori ini Bowlby mengidenifikasikan pengaruh perilaku pengasuhan sebagai faktor kunci dalam hubungan orang tua dan anak yang dibangun sejak usia dini. Kelekatan dalam hal ini dicirikan sebagai hubungan timbal balik antara sistem kelekatan pada anak dan sistem pengasuhan dari orang tua.41

40 Kamrani Buseri, Pendidikan Keluarga Dalam Islam, (Yogyakarta: Bina Usaha, 1990), h.

77-78.

41 Sri Lestari, Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik Dalam Keluarga, (Jakarta: KENCANA, 2014), h. 17.

(48)

Berdasarkan teori kelekatan yang dikembangkan oleh Bowlby diatas yang menjelaskan tentang relasi orang tua dengan anak maka apabila relasi antara mereka berlangsung baik dampak positif berupa terpenuhi berbagai kebutuhan pada diri anak diantaranya kebutuhan akan rasa aman dan kasih sayang, namun jika relasi antara orang tua dan anak tidak berangsung baik alhasil kebutuhan psikologis pada diri anak-pun tidak dapat terpenuhi dan berdampak negatif pada perkembangan anak.

B. Forgiveness

1. Pengertian Forgiveness

Dalam hidup kadang manusia memiliki pengalaman disakiti atau mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang lain. pengalaman ini dapat menimbulkan emosi yang negatif (seperti marah, dendam, dan kecewa) terhadap orang-orang yang menyebabkan pengalaman menyakitkan atau perlakuan tidak adil tersebut (pelaku). Ketika individu menyadari adanya emosi negatif tersebut, timbul suatu kebutuhan bagi individu tersebut (korban) untuk menyembuhkan luka. Salah satu cara untuk mengatasi emosi negatif adalah dengan memberi maaf. Forgiveness terjadi ketika individu memiliki kesiapan memaafkan dengan menurunkan emosi negative.42Jika korban tidak bisa menurunkan emosi negatifnya, maka yanag ada adalah dendam. prinsif utama yang mendasari upaya untuk membalas dendam

42 Christiany Suwartono dan Yeti Prawasti, “ Hubungan antara Strategi Regulasi Emosi dan Aspek-Aspek kesiapan Memafkan” , 2006, Presentasi Makalah Di temu Ilmiah Psikologi UI 2006.

http://atmajaya.ac.idcontent.aspf=7&katsus=16&id=639. Hal, 12

Gambar

Gambar II.1
Tabel IV.2 Identitas Informan IL Keterangan Informan 1
Tabel IV.3 Identitas Informan WR Keteranga

Referensi

Dokumen terkait

Atriel mengatakan bahwa “ broken home ” merupakan suatu kondisi keluarga yang tidak harmonis dan orang tua tidak lagi dapat menjadi tauladan yang baik untuk

Berdasarkan pemaparan mengenai broken home diatas dapat disimpulkan bahwa broken home merupakan kondisi retaknya struktur keluarga yang dicirikan dengan adanya

Hasil penelitian menggambarkan keluarga broken home dari orangtua bercerai menjadikan anak merasa tertekan dengan keadaannya, anak menjadi kurang percaya diri

Adapun hasil dari penelitian ini, diantaranya: pertama adalah penerimaan diri remaja broken home di Bali dominan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yaitu

yaitu faktor keluarga dan faktor individu. Faktor keluarga disebabkan oleh kurangnya kasih sayang orang tua, kurangnya perhatian yang diberikan oleh orang tua

Skripsi yang berjudul analisis pola komunikasi orang tua dan anak di dalam lingkup keluarga yang broken home ( Studi kasus pada keluarga broken home di Rt.48 Kota Balikpapan)

Masalah dalam keluarga atau di rumah seperti interaksi anggota keluarga kurang harmonis, perpecahan rumah tangga broken home, keadaan ekonomi yang terlalu kurang atau terlalu mewah,