• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Fase-fase Forgiveness pada Remaja yang Mengalami Broken Home di Bangka Selatan

Bagi remaja dari latar belakang keluarga broken home, memaafkan orang tua atau berdamai dengan masa lalu mungkin menjadi tantangan yang tidak mudah untuk dilakukan. Hal tersebut dikarenakan individu pasti telah merasakan banyak pengalaman yang menyakitkan di dalam keluarga. Namun forgiveness sangat perlu dilakukan. Menurut Fanner dengan melakukan forgiveness, emosi negatif seperti marah, cemas, sakit

hati, serta depresi yang dirasakan individu dapat digantikan dengan emosi positif, sehingga bermanfaat untuk mengembangkan kekuatan karakter positif dan meningkatkan psychological well-being dalam diri individu.78 Yarnoz-Yaben juga mengatakan bahwa forgiveness dapat membantu individu untuk memperbaiki hubungannya dengan orang tua agar menjadi cair kembali. Memaafkan juga dapat mempengaruhi dukungan sosial, individu yang siap memaafkan orang lain akan lebih baik dalam mempertahankan relasi secara positif.79

Sebelum terjadi forgiveness ada beberapa fase yang dilalui oleh seseorang ketika memaafkan individu lain. Proses forgiveness merupakan proses yang terjadi secara perlahan dan memerlukan waktu. Menurut Enright, fase yang harus dilewati dalam proses memaafkan, yaitu fase pembukaan (uncovering phase), fase pengambilan keputusan (decision phase), fase tindakan (work phase), dan fase pendalaman (deepening phase).80

a. Uncovering phase (Fase Pembukaan) 1) Informan Remaja AR

Tabel IV.1 Identitas Informan AR

78 N. Fanner, “The Lived Experience of Forgiveness-Unforgiveness in Victims of Violent Crime”

(University of Kwa-Zulu Natal, Pietermaritzburg], 2004), hlm. 28.

79 S. Yárnoz-Yaben, “Forgiveness, Adjustment to Divorce and Support from the Former Spouse in Spain.,” Journal of Child and Family Studies 24, no. 2 (2015): 289–297.

80 R. Enright, Forgiveness Is a Choice (Washington: APA, 2001), hlm. 58.

Keteranga

n Informan 1

Nama

Inisial AR

Usia 17 tahun

Agama Islam

Alamat Kaposang, Toboali, Bangka Selatan Sekolah SMA N 1 Toboali

Kelas 12

AR merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Toboali jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Orang tua AR bercerai ketika ia masih duduk di bangku SD kelas 2. Sebelum orang tuanya bercerai memang orang tuanya sering bertengkar dan faktor utama penyebab perceraiain tersebut disebabkan karena hancurnya ekonomi keluarga. Setelah perceraian itu, AR tinggal bersama ibu dan keluarga barunya. Sedangkan, ayahnya tinggal di Sungailiat, Kabupaten Bangka bersama keluarga barunya sekarang.

Sejak perceraian kedua orang tua AR, AR menjadi anak yang pendiam dan selalu murung. Hal itu karena dia kurang menyukai orang tua yaitu ayah barunya. Ia selalu memendam apa yang ia rasakan. Seperti yang diungkapkannya dalam wawancara yang dilaksanakan peneliti mengenai pertanyaan bagaimana perasaan informan ketika perceraian orang tua terjadi? AR mengatakan bahwa:81

81 AR, Remaja yang Mengalami Broken Home di Kabupaten Bangka Selatan, Wawancara, Kaposang 10 Juli 2023.

“Saya kurang menyukai keluarga baru saya sekarang, saya mengikuti Ibu karena berdasarkan dari hasil diskusi di keluarga kami. Saya waktu itu tidak tahu apa-apa karena saya masih sangat kecil. Saya hanya mengikuti kata orang tua saya saja. Jadi untuk berkomunikasi saya sangat jarang dengan ayah baru saya. Karena ayah baru saya orangnya tegas dan pemarah . Hal itu membuat saya memilih diam jika ada masalah dan lebih memilih memendam saja.”

Karena hal tersebut, AR meluapkan emosinya ke lingkungan sekolahnya, seperti tidak memiliki prestasi apapun di kelas dan nilai nya selalu turun. . Namun, AR sering berkomunikasi dan berhubungan baik dengan ayahnya. Hal itu berdasarkan wawancara peneliti dengan AR, AR mengatakan bahwa:82

“Hubungan saya sama Ibu saya sebenarnya baik-baik aja, cuman saya jarang berkomunikasi dengannya karena ia sering bekerja. Hubungan ayah sama saya juga baik, saya juga sering berkomunikasi dan tinggal dirumah barunya, karena istri baru ayah saya itu baik sama saya.”

AR bercerita bahwa pengalaman broken home yang ia rasakan memiliki taraumatik tersendiri di dalam hidupnya. Ia merasa amat terluka. Kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya membuat ia merasa tidak semangat dan putus asa dalam menjalani hidup. Ia juga sering sekali merasa diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya. Hal itu karena masing-masing orang tuanya sudah memiliki anak. Pernyataan tersebut dapat dilihat melalui hasil wawancara yang dilaksanakan oleh peneliti mengenai bagaimana

82 AR, Remaja yang Mengalami Broken Home di Kabupaten Bangka Selatan, Wawancara, Kaposang 10 Juli 2023.

informan mengungkapkan perasaan yang dirasakannya? AR mengungkapkan bahwa:83

“Saya merasa saya kurang diperhatikan dan disayangi oleh orang tua saya. Hal ini berdampak bagi saya , saya menjadi kurang semangat belajar karena saya merasa untuk apa menjadi pintar kalau tidak dapat penghargaan dari orang tua saya sendiri. Saya juga merasa Ibu saya pilih kasih, ia lebih memperhatikan anak barunya atau adek tiri saya dibandingkan dengan saya. Begitu pun dengan ayah saya yang selalu bahagia dengan keluarga barunya.”

“Hal ini membuat saya menjadi trauma, saya menjadi malas dan pemurung. Saya juga tidak mudah percaya denga orang lain dan tidak mau membuka hati karena saya takut ditinggali orang yang saya sayangi.”

Dari pernyataan diatas dapat dilihat bahwa AR merasa terluka dan menimbulkan trauma dalam hidupnya. Ia menjadi pemalas, pendiam dan pemurung. Ia juga kesulitan membuka hati untuk orang lain dan tidak mudah percaya kepada orang lain. Ia marasa tidak ada yang menyayanginya dan memperhatikannya sehingga ia tidak memiliki prestasi di sekolah.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan AR mengenai bagaimana informan mengontrol emosi dan mengalihkan perhatian dari peristiwa menyakitkan yang dialaminya? AR mengungkapkan bahwa:84

83 Ibid,.

84 AR, Remaja yang Mengalami Broken Home di Kabupaten Bangka Selatan, Wawancara, Kaposang 10 Juli 2023.

“Jika saya teringat dengan masa lalu tersebut, pasti saya akan menangis dan merasa kesepian. Jadi, cara saya mengontrol emosi saya dengan melupakan kejadian tersebut, seperti bermain bersama teman-teman atau dengan tidur.”

Dilihat dari hasil wawancara di atas, perasaan kesal, marah, kecewa dan sedih yang dirasakan AR membuat AR harus bisa mengontrol emosinya. Hal ini dikarenakan jika AR berlarut dalan emosionalnya maka kesehatan mentalnya akan terganggu, bisa saja AR akan menjadi trauma, depresi atau gangguan-gangguan kesehatan lainnya. Selain itu, emosi berlebihan yang dirasakan AR akan menganggu perkembangan dirinya, seperti menyembunyikan bakat dan minatnya, tidak adanya motivasi dalam dirinya, yang akan menyebabkan kurangnya prestasi di sekolah, kurangnya sosialisasi antar temannya baik di sekolah maupun lingkungan luar. Oleh karena itu cara AR mengontrol emosinya dengan mengalihkan perhatiannya dengan bermain bersama teman-temannya dan tidur, sehingga ia dapat melupakan emosinya itu.

Selanjutnya, AR menceritakan bahwa ia merasakan marah kepada orang tuanya. AR merasa dikhianati oleh kedua orang tuanya karena orang tuanya memutuskan untuk bercerai tanpa mendiskusikan hal tersebut terlebih dahulu dengan anak-anaknya. Ia paham bahwa waktu itu ia masih kecil. Mungkin orang tuanya merasa bahwa anak kecil belum paham apa-apa. Padahal pada saat itulah sosok orang tua sangat dibutuhkan dalam perkembangan

anaknya. Namun, seiring bertambahnya usia, ia semakin paham dan dapat menerima keadaanya tersebut dengan ikhlas dan dapat mengatasi kemarahannya itu. AR sadar bahwa ia harus bisa bersabar dan mempunyai tujuan hidup untuk melalui ujian yang dijalaninya.

Hal ini dinyatakan AR pada hasil wawancara peneliti dengan informan AR mengenai bagaimana cara informan mengatasi kemarahan yang muncul karena perceraian orangtuanya? AR menyatakan bahwa:85

“Sebenarnya saya sangat marah, saya sangat terpukul dengan ujian yang menimpa saya. Namun, saya harus ikhlas dan bersabar untuk menghadapi ujian tersebut. Dengan begitu, saya harus bisa mengatasi kemarahan saya dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah agar saya dapat menentukan tujuan hidup saya yang sebenarnya.”

Dari hasil wawancara peneliti dengan AR mengenai bagaimana informan melampiaskan kemarahan/kesedihan yang dirasakannya? AR pun menjawab bahwa:86

“Dulu saya melampiaskannya dengan bermalas-malasan.

Sekarang,biasanya saya melampiaskannya dengan menangis sendiri di tempat yang jauh dari keramaian atau biasanya mencari tempat refreshing untuk dapat merefleksikan diri sehingga saya dapat terus berpikir positif. Saya juga lebih sering ke masjid agar hati saya tenang.”

Dapat dilihat dari hasil wawancara diatas, AR meluapkan kemarahannya dengan mendekatkan diri kepada Allah seperti sering

85 AR, Remaja yang Mengalami Broken Home di Kabupaten Bangka Selatan, Wawancara, Kaposang 10 Juli 2023.

86 AR, Remaja yang Mengalami Broken Home di Kabupaten Bangka Selatan, Wawancara, Kaposang 10 Juli 2023.

ke masjid untuk beribadah dan juga dengan pergi ke tempat yang dapat merefleksikan pikirannya. AR juga melupakan emosinya dengan menangis. Dengan hasil itu, AR dapat menjadi tenang dan berpikrian positif. Dahulu AR meluapkan emosinya dengan bermalas-malasan. Namun, seiring berjalannya waktu AR mulai mendewasakan dirinya, agar ia dapat melalui cobaan yang ditakdirkan olehnya.

2) Informan Remaja IL

Tabel IV.2 Identitas Informan IL Keterangan Informan 1

Nama Inisial IL

Usia 16 tahun

Agama Islam

Alamat Teladan, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan

Sekolah SMA N 1 Toboali

Kelas 11

IL merupakan anak tunggal. Ia sedang menempuh pendidikan di SMAN 1 Toboali kelas 11. Orang tua IL bercerai ketika ia berusia 6 tahun. Orang tuanya bercerai karena ayahnya berselingkuh dan menikah dengan perempuan lain. Setelah perceraian tersebut IL tinggal bersama neneknya dan Ibunya. Sedangkan, ayahnya tinggal bersama keluarga barunya.

Ketika perceraian orang tua IL. IL merasa kecewa, marah dan sedih. Namun, IL tidak mengungkapkan hal itu ke orang tuanya dan hanya ia rasakan sendiri. Hal ini berdasarkan hasil wawancara mengenai pertanyaan bagaimana perasaan informan Ketika perceraian orang tua terjadi? IL mengatakan bahwa:87

“Ya pastinya perasaan saya sebagai anak merasa marah sekali dan sedih karena keluarga saya yang tidak harmonis seperti keluarga teman-teman yang seumuran saya. Khususnya saya snagat kecewa dan sangat marah kepada ayah saya, yang mana seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, itu semua rasanya hanya mitos belakang. Ia malah memilih meninggalkan saya dan ibu saya.”

Oleh karena itu, IL dulu belum bisa menerima ayahnya, ia sangat membenci ayahnya sehingga jarang komunikasi dengan ayahnya kandungnya sendiri. Perasaan emosi yang meluap di hati IL akan teringat seumur hidup. Dia merasa dirugikan karena dampaknya ia menjadi tidak percaya laki-laki. Sehingga teman- temannya yang lain sering berpacaran atau berteman dengan laki- laki. Ia ingin mengindari laki-laki. Hal ini diungkapkan IL melalui wawancara dengan peneliti mengenai bagaimana informan mengungkapkan perasaan yang dirasakannya? IL mengatakan bahwa:88

“Saya biasanya lebih sering curhat dengan Ibu saya, yang paling sedih saya sebenarnya melihat Ibu saya sedih. Saya benci

87 IL, Remaja yang Mengalami Broken Home di Kabupaten Bangka Selatan, Wawancara, Teladan 11 Juli 2023.

88 IL, Remaja yang Mengalami Broken Home di Kabupaten Bangka Selatan, Wawancara, Teladan 11 Juli 2023.

dengan ayah saya, karena ia tega meninggalkan kami. Dia tidak peduli dengan kami, hanya Ibu yang selalu ada buat saya. Untuk itu, saya akan menjadi sedih jika Ibu saya sedih.Dan juga peristiwa yang terjaid ini membuat saya trauma dengan laki-laki. Karena menurut saya laki-laki itu sama saja, mereka tidak menggunakan perasaannya malah memikirkan apa-apa menggunakan logika. Padahal ibu saya selalu setia dengan ayah saya, saya tahu ibu saya perempuan yang hebat selalu menghormati suami dan melayaninya dengan baik, ia juga mendidik dan membimbing anaknya dengan baik.”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan IL mengenai bagaimana informan mengontrol emosi dan mengalihkan perhatian dari peristiwa menyakitkan yang dialaminya? IL mengungkapkan bahwa:

“Kalau dulu waktu saya masih kecil saya sering diejek tidak punya ayah. Saya sangat sedih dan sering merasa iri dengan teman- teman saya, yang ayahnya selalu memperhatikan mereka. Namun, saya selalu bilang sama nenek saya dan nenek saya selalu menenangkan saya dengan nasehatnya yang luar biasa dan juga ia sering memberikan reward buat saya jika saya dapat menjadi anak yang kuat dan bisa menghadapi peristiwa itu. Hal itu membawa saya sampai saat ini, untuk mengalihkan perhatian saya jika saya teringat masa lalu, saya biasanya mencari kesibukan dengan mengikuti ekstrakulikuler di sekolah, saya juga akan fokus sekolah dan membuat nenek dan ibu saya bangga dan bahagia. Hal ini supaya ayah saya sadar bahwa kami bisa hidup tanpa beliau.”

Dapat dilihat dari hasil wawancara di atas bahwa IL mengontrol emosi dan mengalihkan perhatiannya dari persitiwa menyakitkan yang dialaminya dengan cara menyibukkan dirinya, sepertimengikuti ekstrakulikuler di sekolah dan fokus mengejar cita- citanya. Ia berkeinginan untuk membanggakan keluarga yang ia

punya saat ini. Hal ini dia lakukan bukan hanya untuk mencapai tujuan hidupanya saja, namun ia berkeinginan kuat untuk menunjukkan kepada ayahnya bahwa ia bisa emnjadi orang yang sukses walaupun tidak ada seorang ayah yang mendukungnya saat ini.

Kemudian, IL menceritakan bahwa semenjak kejadian itu sebenarnya ia belum bisa menerima semua kenyataan pahit yang dialaminya. Pada saat kejadian orang tuanya resmi bercerai, ia sangat marah dan sedih. Menurutnya, ayahnya memilih dengan keluarga barunya karena ayahnya menyukai perempuan yang cantik dan lebih muda dari ibunya. Namun, seiring berjalannya waktu ia menerima semua masa lalunya dengan baik dan menghadapinya dengan sabar dan tabah. Hal ini dinyatakan IL dalam wawanacara dengan peneliti mengenai bagaimana cara informan mengatasi kemarahan yang muncul karena perceraiain orang tuanya? IL mengungkapkan bahwa:89

“Dulu ketika perceraian itu terjadi, mungkin karena saya masih kecil dan belum mengerti apa-apa, saya kesulitan menerima semuanya, terkadang saya ingin menemui ayah saya untuk mengajaknya pulang ke rumah dan tinggal di rumah. Namun, saya tidak tahu dimana ayah saya berada. Akhirnya saya selalu menangis dan marah atau lebih tepatnya tantrum. Saya yang dulunya sering dibelikan mainan dan sering diajak jalan-jalan sama ayah, pada saat perceraian itu terjadi saya tidak pernah lagi merasakannya. Ibu saya pun kewalahan dengan saya. Untuk mengatasi kemarahan saya pada saat itu biasanya ibu saya selalu mengajak saya jalan-jalan dan membelikan mainan serta makanan kesukaan saya. Seiring

89 IL, Remaja yang Mengalami Broken Home di Kabupaten Bangka Selatan, Wawancara, Teladan 11 Juli 2023.

berjalannya waktu, jika ingatan itu muncul saya merasa marah, namun saya segera berusaha melupakannya karena saya tidak ingin membuat ibu saya sedih.”

Dari hasil wawancara peneliti dengan IL mengenai bagaimana informan melampiaskan kemarahan/kesedihan yang dirasakannya?

IL pun menjawab bahwa: 90

“Waktu saya masih kecil, cara saya melampiaskan kemarahan/kesedihan saya dengan menangis dan berteriak.

Sementara, untuk sekarang jika saya marah/sedih biasanya saya menyibukkan diri saya dengan bermain Bersama teman-teman atau bermain voli karena saya hobi bermain voli.”

Berdasarkan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa cara IL melampiaskan atau mengungkapkan kemarahan/kesedihannya dengan menyibukkan dirinya, baik itu bermain Bersama teman- temannya atau menjalani hobinya yaitu bermain voli. Nyatanya, melakukan aktivitas yang menyenangkan bisa membantu mengembalikan mood dan menghilangkan emosi negatif yang tengah dirasakan pada saat itu.

Karena hal tersebut, IL tumbuh menjadi seorang yang keras dan mempunyai tekad yang kuat. Kini hubungan IL dengan Ibunya membaik. Seperti yang diungkapkan IL:91

“Saya dengan Ibu saya sangat dekat, karena ia yang masih tersisa dikeluarga saya. Namun, kalau sama ayah saya , kami sangat

90 IL, Remaja yang Mengalami Broken Home di Kabupaten Bangka Selatan, Wawancara, Teladan 11 Juli 2023.

91 Ibid.,

jarang berkomunikasi. Ayah saya sulit dihubungi , saya menghubungi juga untuk minta uang. Saya sebenarnya sudah mau mengurangi rasa kebencian saya terhadap ayah saya, karena ibu saya selalu menasehati saya, kalau jangan terlalu membenci ayah dan memaafkannya.”

3) Informan WR

Tabel IV.3 Identitas Informan WR Keteranga

n Informan 1

Nama Inisial

WR

Usia 16 tahun

Agama Islam

Alamat Desa Rias, Toboali, Bangka Selatan Sekolah SMA N 2 Toboali

Kelas 11

WR merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 2 Toboali jurusan IPS.

Orang tua WR bercerai ketika ia masih duduk di bangku SD kelas 5. Sebelum orang tuanya bercerai, orang tuanya sering bertengkar hanya masalah-masalah kecil. Ia sudah terbiasa dari kecil melihat orang tuanya bertengkar. Namun sekarang ayahnya dan ibunya sudah memiliki keluarga barunya masing-masing. Ketika itu ia tinggal bersama ayah dan keluarga barunya sampai ia SMP.

Sedangka adiknya di bawa ibunya dan ssampai sekarang tidak ditemukan keberadaan mereka.

Pada saat ia tinggal bersama keluarga baru dari ayahnya, ia merasa tidak diperhatikan dan selalu bertengkar dengan ibu barunya. Ia merasa diperlakukan dengan tidak adil. Ketika SMP ia pun beniat untuk kabur dari rumah ayahnya karena ia merasa sangat tertekan atas pelakuan ibu barunya itu. Ia pun ditemukan oleh tetangga di kampung halaman ayahnya. Ia pun menceritakan kejadian itu kepada tetangganya. Tetangganya pun tersentuh dan akhirnya tetangganya ingin mengadopsinya walaupun itu sulit sekali dan banyak lika likunya karena mengadopsi anak yg masih memiliki keluarga itu yaitu ayahnya sangat sulit apalagi satu kampung.

Namun, nasibnya bukan semakin baik, ia juga diperlakukan secara tidak adil oleh orang tua baru yang mengadopsinya tersebut.

Di sisi lain ia disekolahkan dengan baik oleh orang tua barunya itu.

Seperti yang diungkapkan dalam wawancara yang dilaksanakan peneliti mengenai pertanyaan bagaimana perasaan informan Ketika perceraian orang tua terjadi? WR mengungkapkan bahwa:92

“Semenjak perceriain itu, saya sangat sedih dan menderita.

Karena saya merasa sangat kesepian , saya sangat marah kepada orang tua saya. Saya merasa saya ditelantarkan oleh mereka.

Walaupun saya sekarang diadopsi oleh orang tua angkat saya.

Namun, tetap saja hidup saya sangat kesepian dan hanya dimanfaatkan. Karena saya harus membantu orang tua angkat saya dalam mengurus rumah dan membantunya berjualan nasi bungkus.

Mereka memperlakukan saya beda dengan anak-anak kandungnya.

Anak kandungnya tidak pernah disuruh-suruh dan selalu

92 WR, Remaja yang Mengalami Broken Home di Kabupaten Bangka Selatan, Wawancara, Desa Rias 13 Juli 2023.

dimanjakan. Sedangkan saya harus berjualan sambil bersekolah.

Waktu istirahat dan waktu belajar pun menjadi terbatas.”

WR juga bercerita bahwa pengalaman broken home yang ia rasakan menjadi problematik yang membuatnya terluka sampai sekarang. Kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya serta ia merasa sangat kesepian karena ia tidak memiliki yang namanya keluarga harmonis. Hal ini berdasarkan wawancara peneliti dengan WR mengenai bagaimana informan mengungkapkan perasaan yang dirasakannya? WR pun mengungkapkan bahwa:93

“Saya merasa tidak ada yang menyayangi dan peduli terhadap saya. Saya sangat sedih dan saya selalu memendam apa yang saya rasakan selama ini. Saya tidak tahu saya harus menceritakan semuanya dengan siapa. Karena saya tidak mempunyai orang yang sayang sama saya, saya merasa orang hanya memanfaatkan kehadiran saya saja bukan dengan hati yang tulus. Saya hanya bisa mencurahkan semua perasaan saya dengan yang Maha Kuasa saja supaya hati saya lega dan diberikan jalan yang terbaik oleh Allah.”

Dari pernyataan diatas dapat dilihat bahwa WR merasa sangat terluka dan kesepian dalam hidupnya. Ia hanya bisa memendam semua yang ia rasakan dan membiarkannya berlalu begitu saja. Hal ini membuatnya merasa ingin segera meninggalkan rumah keluarga barunya dan melupakan semuanya.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan WR mengenai bagaimana informan mengontrol emosi dan mengalihkan

93 WR, Remaja yang Mengalami Broken Home di Kabupaten Bangka Selatan, Wawancara, Desa Rias 13 Juli 2023.

perhatian dari peristiwa menyakitkan yang dialaminya? WR mengatakan bahwa:94

“Cara saya mengontrol dan mengalihkan perhatian dari peristiwa menyakitkan yang saya alami biasanya saya menyibukkan diri dengan berkativitas seperti biasanya dan bermain bersama teman-teman saya. Saya juga sering mencurahkan isi hati saya dengan sahabat saya. Karena mereka lah yang paling mengerti saya dan selalu menyayangi saya. Mereka selalu peduli terhadap saya dan seeing memberikan solusi atas permasalahan saya.

Mereka jiga sering membantu say ajika saya sedang kesusahan.”

Dilihat dari hasil wawancara di atas, WR mengontrol emosinya dengan mengalihkan perhatiaannya seperti menyibukkan dirinya dengan beraktivitas sehari-hari seperti berjualan membantu orang tua angkatnya atau bermain bersama teman-temannya. Ia juga sering mencurahkan isi hatinya dengan teman-teman atau sahabatnya. Sahabatnya sering membantunya dan memberikan solusi atas permasalahannya. Membicarakan apa yang sedang kita rasakan kepada orang yang dekat dengan kita membuat kita merasa tenang dan lebih mudah mengontrol emosi.

Selanjutnya, WR menceritakan bahwa ia merasa sangat terluka, sedih dan sangat marah ia juga membnci orang tuanya. Ia merasa ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Ia merasa mereka tidak peduli terhadap dirinya. Namun, ia harus bisa mengatasi kemarahannya itu. Biasanya WR mengatasinya dengan lebih

94 Ibid,.

Dokumen terkait