1. Bagi orang tua, diharapkan mampu menjalankan peran serta tanggung jawabnya sebagai orang tua terhadap anak-anaknya.
2. Bagi remaja broken home, diharapkan dapat membangun pikiran yang positif. Dimulai dari menerima dan mengikhlaskan keadaan, berhenti menyalahkan diri sendiri dan memaafkan kesalahan yang telah dilakukan orang tua.
3. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat lebih memperdalam dan memperluas penelitian mengenai dinamika forgiveness terhadap remaja broken home.
DAFTAR PUSTAKA Buku:
Batubara R. 2010. Adolescent Development (Perkembangan Remaja). Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Cole, K. 2004. Mendampingi Anak Menghadapi Perceraian Orang Tua. Jakarta:
PT Prestasi Pustakarya.
Febrita, Suci Shawmy, 2017, Self Esteem Remaja Pada Keluarga Broken Home , Skripsi Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Enright, R. Forgiveness Is a Choice. 2001. Washington: APA.
Enright, R. D. 2001. Forgiveness Is a Choice: A Step-by-Step Process for Resolving Anger and Restoring Hope. American: American Psychological Association.
Fanner, N. 2004. “The Lived Experience of Forgiveness-Unforgiveness in Victims of Violent Crime.” University of Kwa-Zulu Natal, Pietermaritzburg.
Fatoni, Abdurahman. 2011. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi, Jakarta: Rineka Cipta.
McCullough, M. E. 2000. Pargament, K. I., & Thoresen, C. E. Forgiveness:
Theory, Research, and Practice. Guilford Press.
Munthe, R. A. N. 2013. “Perbedaan Forgiveness Ditinjau Dari Tipe Kepribadian Remaja Yang Orang Tuanya Bercerai Di Kecamatan Medan Timur.”
Universitas Medan Area.
Permatasari, Veronika Gilang, 2019, Hubungan Antara Kematangan Emosi Dengan Pemafaan Pada Remaja Dari Keluarga Broken Home , Naskah Publikasi Program Studi Psikologi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Suharsimi, Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta Rineka Cipta
Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Shane J. Lopez dan C.R Snyder. 2013. Positive Psychological Assessment: A Handbook of Models and Measures. Washington DC: American Psychological Association.
Sukardi. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi Dan Praktiknya.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sutrisno, Hadi, 2002, Metodologi Penelitian, Jakarta: Grasindo, Cet. 1.
Sofyan S. Willis. 2011. Konseling Keluarga (Family Counseling). Bandung:
Alfabeta.
Syamsu, Yusuf. 2006. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wardhati, Lathifah Tri & Faturochman. 2013. Psikologi Pemaafan. Jakarta: Balai Pustaka.
William J, Goode. 2007. Sosiologi Keluarga. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Worthington, E. L. 2003. Forgiving and Reconciling: Bridges to Wholeness and Hope. Illinois: InterVarsity.
JURNAL :
Afriana, Dewi, Nurul Hasanah M.Si, 2019, Studi Kasus Self Esteem Pada Remaja Yang Orang Tuanya Broken Home di SMP Dharma Patra P. Brandan, Jurnal Serunai dan Konseling Volume 2 Nomor 2. Oktober 2019.
Alentina, C, 2016, Memaafkan (Forgiveness) Dalam Konflik Hubungan Persahabatan. Jurnal Ilmiah Psikologi. Vol. 9, No. 2
Aswina, Mayang Safitri, 2017, Proses dan Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Memaafkan Pada Remaja Broken Home , Psikoborneo, Vol. 5, No. 1.
Aziz, R., Wahyuni, E. N. “Kontribusi Bersyukur Dan Memaafkan Dalam Mengembangkan Kesehatan Mental Di Tempat Kerja.” INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental 2, no. 1 (2018): 112.
Baumeister, R. F., Exline, J. J., & Sommer, K. L. (. “The Victim Role, Grudge Theory, and Two Dimensions of Forgiveness. Dimensions of Forgiveness.” Psychological Research and Theological Perspectives 1, no. 79 (1998): 104.
Coopersmith, 1967, The Antecendents Of Self Esteem. USA. W.H Freeman And Company.
Dariyo, Agoes, 2004, Memahami Psikologi Perceraian Dalam Kehidupan Keluarga. Jurnal Psikologi. Vol. 2 No. 2. Desember 2004.
Hikmah, S, 2015, Mengobati Luka Anak Korban Perceraian Melalui Pemaafan.
Sawwa; Jurnal Studi Gender. 10 (2). 229-246.
Hikmah, Siti. “Mengobati Luka Anak Korban Perceraian.” Walisongo 10, no. 2 (2015).
Ismi Isnani, Mukhls Mukhlis, 2013, Perbedaan Harga Diri (Self-Esteem) Remaja Ditinjau dari Keberadaan Ayah. Jurnal Psikologi Volume 9 Nomor 2.
Martinčeková, L., & Klatt, J. “Mothers’ Grief, Forgiveness, and Posttraumatic Growth after the Loss of a Child.” OMEGA-Journal of Death and Dying 75, no. 3 (2017).
McCullough, Michael E. (2000). Forgiveness as Human Strength : Theory, Measurement, and Links to Well-Being. Journal of Social and Clinical Psychology. Vol. 19, No. 1.
Megawati, Ismiyati Yuliatun, Putri, 2021, Terapi Pemanfaatan Untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Individu: Studi Literatur Forgiveness Theraphy To Improve Individual Mental Health: A Literature Study, Jurnal Psikologi, Vol.4, No. 2.
Muhammadiyah. “Bila Perceraian Harus Terjadi.” Suara Muhammadiyah 88, no.
13–24 (2003).
Okthavia, S, 2014, Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga Terhadap Tingkat Self Esteem Pada Penderita Pasca Stroke, Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, Vol. 3, No.1.
Pangestu, Tri Wulan Ndari, 2016, Dinamika Psikologis Siswa Korban Broken Home Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Sleman, Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.
Salsabila, Mustamira Sofa, Martha Chaerani, 2021, Forgiveness Pada Hubungan Romantis Ditinjau Dari Kepercayaan Interpersonal Dan Agreeableness Mahasiswa, Journal Of Psychologi, Vol.4, No. 2.
Shanti, Theresia Indira Bianca Vanessa Susanto, 2020, Hubungan Antara Mindfulnesss dan Dispositional Forgiveness Pada Remaja Dengan Orang Tua Bercerai. Indonesian Journal Guidance and Counseling;
Theory and Application. Vol. 9 No. 1.
Solina, Emmy, 2013, Keluarga Broken Home di Tanjung Pinang (studi terhadap 3 (tiga) orang Remaja Putus Sekolah. Tanjung Pinang, Jurnal Psikologi Universitas Maritim Raja Ali Haji, Vol. 1, No. 1.
Theresia, Indira Shanti, 2020, Hubungan Antara Mindfulness dan Dispotional Forgiveness Pada Remaja Dengan Orang Tua Bercerai, Indonesian Journal of Guidance and Counseling: Theory and Application, Vol.9 No.
1.
Thompson, L, Synder, C. R.,Hoffman, L.,Michael, S. T.,Rasmussen, H. N., Billings, L. S.,& Roberts, D. E. (2005). Dispositional Forgiveness Of Self, Others, And Situations. Journal Of Personality. 73(2). 313-360.
Thomas, W. Baskin and Ribert D. Enright. “Intervention Studies on Forgiveness:
A Meta-Analysis.” Journal of Couseling & Development 82, no. 79 (2010): 80.
Wilis Srisayekti, David A. Setiady, Rasyid Bo Sanitioso, 2015, Harga Diri (Self- Esteem) Terancam dan Perilaku Menghindar, Jurnal Psikologi Volume 42 Nomor 2. XWulandari, Desi. “Pengalaman Kerja Remaja Broken Home (Studi Kualitatif Fenomenologis).” Jurnal Empati 8, no. 1 (2019).
Yárnoz-Yaben, S. “Forgiveness, Adjustment to Divorce and Support from the Former Spouse in Spain.” Journal of Child and Family Studies 24, no. 2 (2015): 289–297.
Data Elektronik :
Ajie Gusti Prabowo, 2021, Retrieved From
https://bangka.tribunnews.com/2021/11/24/1025 - pasangan - cerai - di bangka - bangka - selatan - dan - bangka - tengah - 65 - persen - karena selingkuh Diakses Pada 17 Januari 2023
Andre Kurniawan, 2021, Dampak Buruk Perceraian bagi Anak, Bisa Sebabkan Stres dan Masalah Sosial. Retrieved From
https://www.merdeka.com/sumut/dampak - buruk - perceraian - bagi anak - bisa -
sebabkan - stres - dan - masalah - sosial - kln.html . Diakses pada 29 Desember 2021
Nandy, 2022, Pengertian Broken Home , Penyebab, Dampak & Cara Mengatasinya, Retrieved From https://www.gramedia.com/best seller/broken - home/
Diakses Pada 19 Januari 2023
Penelitian Ilmiah, 2021, Pengertian Wawancara Tidak Terstruktur, Kelemahan dan Contohnya, Retrieved From https://penelitianilmiah.com/wawancara - tidak - terstruktur/ Diakses Pada 21 Januari 2023
UMY Repository. Teoritis Broken Home. Retrieved From
http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/23810/F.%20 BAB
%20||.PDF?sequance+6&isAllowed=y . Diakses pada 2 Januari 2023
Voi.Id, Ada 580 Ribu Broken Home Baru, BKKBN Berharap Harganas Tingkatkan Kepedulian Akan Kesehatan Mental Remaja, 2022, Retrieved From https://voi.id/lifestyle/184631/ada - 580 - ribu - broken home - baru - bkkbn - berharap - harganas - tingkatkan - kepedulian - akan kesehatan - mental - remaja Diakses Pada 17 Januari 2023
LAMPIRAN
Lampiran I Guide Interview
GUIDE INTERVIEW
Tujuan: untuk menggambarkan bagaimana dinamika forgiveness pada remaja yang mengalami broken home di Bangka Selatan
Fase dalam forgiveness :
1. Uncovering Phase (fase pembukaan), fase ini meliputi pertentangan terhadap rasa sakit emosional yang terjadi akibat dari peristiwa menyakitkan yang dialami oleh seseorang. Pada fase ini seseorang akan mengalami dan merasakan luka yang benar-benar dirasakan saat terjadinya peristiwa tersebut.
2. Decision phase (fase pengambilan keputusan), fase ini seseorang memutuskan untuk memberikan Forgiveness dengan dasar pemahaman yang telah di dapatkannya dan korban menyadari bahwa keputusan yang diambil untuk memaafkan menguntungkan bagi diri individu dan juga hubungan kembali membaik.
3. Work Phase (fase tindakan), fase ini seseorang memiliki perspektif berpikir yang baru (reframing) dan berpandangan lebih positif terhadap pelaku, sehingga terjadi perubahan positif pada diri korban, pelaku dan juga hubungan antara mereka
4. Deepening phase (fase pendalaman), fase ini seseorang menemukan makna bagaimana rasanya tersakiti dan berkurangnya emosi negatif dalam diri, sehingga membuat seseorang mengetahui sesungguhnya makna dari sebuah
A. Pertanyaan untuk informan
No Fase Indikator Pertanyaan
1 Uncovering Phase
Mengalami dan merasakan luka saat terjadinya perceraian
1. Bagaimana perasaan informan ketika perceraian orangtua terjadi?
2. Bagaimana informan mengungkapkan perasaan yang dirasakannya?
3. Bagaimana informan mengontrol emosi dan mengalihkan perhatian dari peristiwa menyakitkan yang dialaminya?
4. Bagaimana cara informan mengatasi kemarahan yang muncul karena perceraian orangtuanya?
5. Bagaimana informan melampiaskan kemarahan/kesedihan yang dirasakannya?
2 Decision phase
Sadar atas
keputusan yang diambil untuk memaafkan orang tua
1. Bagaimana informan akhirnya memiliki kesediaan untuk mempertimbangkan maaf sebagai hal yang akan dipilih?
2. Apa yang mendasari informan bisa mengambil keputusan untuk memaafkan orangtua?
3. Apa perubahan dalam hati yang dirasakan informan ketika memberi keputusan untuk memaafkan?
3 Work Phase
1. Berpandangan lebih positif terhadap orang tua
1. Bagaimana informan berusaha untuk melakukan sesuatu untuk bisa merasakan seandainya ia berada dalam posisi orang tua yang bercerai tadi?
2. Bagaimana akhirnya informan telah bisa
menerima rasa sakit atas luka (peristiwa menyakitkan) yang dialaminya?
2. Terjadi perubahan positif dalam
diri dan
hubungan dengan orang tua
1. Apa perubahan positif yang dirasakan informan setelah memaafkan?
2. Bagaimana informan menjalin hubungan kembali dengan orang tua?
4 Deepening phase
1. Menemukan makna bagaimana rasanya tersakiti
1. Apa pandangan informan terhadap rasa sakit dan orang yang menyakiti?
2. Bagaimana informan menemukan kebebasan setelah memaafkan?
2. Berkurangn ya emosi negatif dalam diri
1. Apa makna memaafkan menurut informan dari proses yang telah ia jalani sehingga bisa memaafkan kedua orang tua?
2. Bagaimana informan menyadari bahwasannya memaafkan itu penting untuk dilakukan?
Lampiran II Lembar Wawancara
LEMBAR WAWANCARA
Tanggal Penelitian : 10 Juli 2023
Tempat Penelitian : Kediaman Informan
Nama Narasumber : AR
No Variabel Aspek Indikator Pertanyaan Jawaban
1
Dinamika Forgivene ss Pada Remaja yang Mengalam i Broken Home di Bangka Selatan
Uncoveri ng Phase
Mengalami dan
merasakan luka saat terjadinya perceraian
- Bagaimana
perasaan informan ketika perceraian orangtua terjadi?
Saya kurang menyukai keluarga baru saya sekarang, saya mengikuti Ibu karena berdasarkan dari hasil diskusi di keluarga kami.
Saya waktu itu tidak tahu apa- apa karena saya masih sangat kecil. Saya hanya mengikuti kata orang tua saya saja. Jadi untuk
berkomunikasi saya sangat jarang dengan ayah baru saya.
Karena ayah baru saya orangnya tegas dan pemarah . Hal itu membuat saya memilih diam jika ada masalah dan lebih memilih memendam saja - Bagaimana Saya merasa
informan
mengungkapkan perasaan yang dirasakannya?
saya kurang diperhatikan dan disayangi oleh orang tua saya.
Hal ini
berdampak bagi saya , saya menjadi kurang semangat belajar karena saya merasa untuk apa menjadi pintar kalau tidak dapat
penghargaan dari orang tua saya sendiri.
Saya juga merasa Ibu saya pilih kasih, ia lebih
memperhatikan anak barunya atau adek tiri saya
dibandingkan dengan saya.
Begitu pun dengan ayah saya yang selalu bahagia dengan keluarga
barunya. Hal ini membuat saya menjadi trauma, saya menjadi malas dan pemurung. Saya juga tidak mudah percaya denga orang lain dan tidak mau membuka hati karena saya takut ditinggali
orang yang saya sayangi
- Bagaimana informan
mengontrol emosi dan mengalihkan perhatian dari peristiwa
menyakitkan yang dialaminya?
Jika saya teringat dengan masa lalu tersebut, pasti saya akan menangis dan merasa
kesepian. Jadi, cara saya mengontrol emosi saya dengan melupakan kejadian
tersebut, seperti bermain
bersama teman- teman atau dengan tidur - Bagaimana cara
informan mengatasi
kemarahan yang muncul karena perceraian
orangtuanya?
Sebenarnya saya sangat marah, saya sangat terpukul dengan ujian yang menimpa saya.
Namun, saya harus ikhlas dan bersabar untuk menghadapi ujian tersebut.
Dengan begitu, saya harus bisa mengatasi kemarahan saya dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah agar saya dapat
menentukan tujuan hidup saya yang sebenarnya
- Bagaimana informan melampiaskan kemarahan/kesedih
an yang
dirasakannya?
Dulu saya melampiaskann ya dengan bermalas- malasan.
Sekarang,biasan ya saya
melampiaskann ya dengan menangis sendiri di tempat yang jauh dari keramaian atau biasanya mencari tempat refreshing untuk dapat
merefleksikan diri sehingga saya dapat terus berpikir positif.
Saya juga lebih sering ke masjid agar hati saya tenang
2 Decision
phase
Sadar atas keputusan yang diambil untuk memaafkan orang tua
- Bagaimana
informan akhirnya memiliki
kesediaan untuk mempertimbangka n maaf sebagai hal yang akan dipilih?
Semakin beranjak
dewasa, rasanya semakin malas memikirikan masalah. Itu akan membuat saya semakin depresi jika tidak
berkesesudahan.
Saya hanya mengikuti alur kehidupan yang Allah beri untuk saya. Sekarang saya hanya memikirkan masa depan saya saja, apalagi saya sudah kelas
12. Saya hanya ingin lulus dan melanjutkan hidup saya.
Masa lalu biarlah berlalu dan dijadikan pembelajaran dan motivasi terbesar untuk saya
kedepannya.
Saya tidak mau suatu saat nanti anak-anak saya mengalami hal serupa. Ujian dari Allah ini harus saya lalui dengan hati yang lapang
- Apa yang
mendasari
informan bisa mengambil
keputusan untuk memaafkan
orangtua?
Hal yang mendasari saya untuk
memaafkan orang tua saya karena sudah Ikhlas dan bisa menerima semua yang terjadi dengan saya. Saya yakin bahwa banyak orang yang di luar sana bernasib sama dengan saya, namun mereka bisa
menunjukkan kepada orang tua mereka bahwa anak mereka baik- baik saja tanpa orang tua.
Bagaimanapun juga mereka tetaplah orang tua saya, yang tak luput dari kesalahan dan masih banyak kekurangan.
Mereka tidak bisa menjadi sempurna dan sesuai
ekspektasi kita.
Saya hanya dapat
menjadikan ini sebagai
pembelajaran yang luar bisa untuk masa depan saya nanti jika saya sudah berkeluarga - Apa perubahan
dalam hati yang dirasakan informan ketika memberi keputusan untuk memaafkan?
Saya terkadang teringat akan perlakuan buruk orang tua saya terhadap saya.
Saya juga terkadang merasa iri melihat keluarga baru ayah yang lebih harmonis.
Padahal saya anak
kandungnya.
Saya juga sering merasa kesal dengan keluarga baru Ibu , yang semena-mena terhadap saya.
Karena itu saya merasa sangat dirugikan
terutama kesehatan mental saya yang mulai terganggu.
Disamping itu, saya harus lebih bersabar dan berusaha mengabaikan hal itu
3 Work
Phase
Berpandanga n lebih positif terhadap orang tua
- Bagaimana
informan berusaha untuk melakukan sesuatu untuk bisa merasakan
seandainya ia berada dalam posisi orang tua yang bercerai tadi?
Seandainya saya berada di posisi kedua orang tua saya, pasti itu merupakan keputusan yang amat sulit.
Keluarga yang awalnya utuh dan baik-baik saja berangsur- angsur menjadi toxic karena hancurnya ekonomi keluarga.
Karena ayah saya dulu kena PHK kemudian ayah berusaha untuk membuka usahan kecil- kecilan.
Ternyata bangkrut, ujian yang menimpa keluarga kami bertubi-tubi.
Sebenarnya jika orang tua saya lebih bersabar lagi pasti diganti yang lebih baik.
Karena saya yakin Allah
tidak menguji seorang hambanya melebihi batas kemampuan hambanya tersebut - Bagaimana
akhirnya informan
telah bisa
menerima rasa sakit atas luka (peristiwa
menyakitkan) yang dialaminya?
Saya insyAllah sudah menerima dengan ikhlas masa lalu dan keadaan saya.
Karena saya pernah melihat ayah menangis sambil terisak mengatakan bahwa ia sebenarnya ingin membawa saya ke rumah dan tinggal bersama keluarga
barunya, namun hak asuh saya dimiliki oleh ibu. Namun, disamping itu saya masih tetap berkomunikasi baik dengan ayah saya dan keluarga barunya Terjadi
perubahan positif dalam diri dan hubungan dengan orang tua
- Apa perubahan positif yang dirasakan informan setelah
memaafkan?
Perubahan positif yang saya rasakan setelah saya memaafkan orang tua saya, hati saya lebih tenang dan lega, saya pun sudah jarang
menangis, dan
mulai fokus belajar serius di dalam kelas.
Saya pun memiliki motivasi untuk menggapai cita- cita saya agar masa depan saya tidak seperti masa lalu saya.
Saya ingin mencari
pasangan hidup yang benar- benar menemani saya dan dapat berjuang bersama-sama nantinya. Dari peristiwa tersebut saya banyak belajar tentang hidup, di balik itu semua saya yakin ad hikmah yang diberikan oleh Allah - Bagaimana
informan menjalin hubungan kembali dengan orang tua?
Hubungan saya dengan orang tua saya saat ini berjalan dengan baik.
Komunikasi kami pun berjalan dengan lancar. Ayah selalu mengajak saya untuk menginap dirumahnya dengan kelaurga barunya.
Keluarga barunya pun
baik dan menerima saya disana.
Sedangkan, ia sering juga berkomunikasi dengan ibunya dan sekarang lebih sering mencurahkan kepada ibunya apa yang ia rasakan selama ia tinggal bersama ibu dan ayah tirinya
4 Deepenin
g phase Menemukan makna bagaimana rasanya tersakiti
- Apa pandangan informan terhadap rasa sakit dan
orang yang
menyakiti?
Menurut saya, rasa sakit ketika diperlakukan dengan orang yang menyakiti kita itu adalah hal yang normal. Orang yang menyakiti kita itu juga pasti
mempunyai penyesalan.
Saya tahu ibu dan ayah pasti menyesal atas apa yang terjadi.
Cuman kan Tuhan berkata lain. Apapun konsekuensinya harus mereka terima. Saya pun menjadikan kejadian
tersebut sebagai pembelajaran yang sangat berharga. Saya belajar bahwa
setelah menikah belum tentu kita bahagia, pasti banyak lika-liku yang akan dijalani. Apalagi ekonomi itu berdampak banget bagi sebuah keluarga.
Kita hidup pasti menginginkan ekonomi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Untuk itu, kita harus memikirkannya dengan matang sebelum menikah - Bagaimana
informan menemukan
kebebasan setelah memaafkan?
Ketika saya mulai memaafkan kedua orang tua saya, rasanya ada ketenangan sendiri dalam hati saya, saya tidak lagi bisa menyakiti dan menyalahkan diri saya lagi.
Biasanya saya sering sekali menyalahkan takdir saya saat ini, saya juga menyalahkan diri saya sendiri.
Saya selalu bertanya mengapa saya berbeda dari anak-anak yang
lain. Mengapa saya harus dilahirkan dari keluarga yang tidak harmonis.
Apalagi saya tidak menyukai ayah tiri saya yang selalu membeda- bedakan saya dengan anak kandungnya.
Rasanya saya ingin
mengakhiri ini semua, saya ingin
meninggalkan semuanya dengan mengakhiri hidup saya. Hal jahat ini pernah terlintas di benak saya.
Tapi saya langsung istigfar. Namun, sekarang saya harus lebih mendekatkan diri kepada Allah dan harus bersabar. Saya juga mempunyai keinginan untuk merantau ke luar kota agar saya tidak satu rumah dengan ayah tiri saya itu karena sebentar lagi saya akan segera lulus dari SMA Berkurangn - Apa makna Saya pernah
ya emosi negatif dalam diri
memaafkan
menurut informan dari proses yang telah ia jalani sehingga bisa memaafkan kedua orang tua?
sholat dan berdoa diberikan petunjuk atas rasa sakit yang saya alami selama ini.
Setelah itu hati saya terbuka, ajaibnya saya menjadi lebih lega sehabis itu.
Saya
mencurahkan isi hati saya kepada Allah atas apa yang selama ini saya pendam.
Sepertinya Allah menberikan petunjuk kepada saya bahwa saya tidak bisa terus menerus berlarut dalam kesedihan dan rasa sakit saya.
Biarkan itu mengalir apa adanya. Saya yakin Allah pasti
menyediakan hadiah terindah untuk saya nantinya dan menggantikan kehidupan saya menjadi lebih baik
- Bagaimana informan menyadari bahwasannya memaafkan itu
Sebenarnya di sekolah, kami pernah belajar PAI mengenai sabar dan
penting untuk
dilakukan? memaafkan orang lain. Guru saya bilang kita tidak boleh dendam dan benci berlarut- larut dengan orang yang tidak kita sukai, jika mereka
menyakiti kita secara terus- menerus baru kita hindari supaya terhindar dari
permusuhan.
Karena kita kan tidak tahu sifat orang berbeda- beda. Ada yang menyesal dan tidak
mengulanginya lagi dan juga ada yang menyesal namun sebentar nanti dia
mengulanginya lagi. Dengan begitu, alangkah baiknya kita memaafkan mereka agar mental kita aman dan kesehatan kita tidak terganggu.
Soalnya, kalau mental kita hancur pasti fisik juga akan menurun
LEMBAR WAWANCARA
Tanggal Penelitian : 11 Juli 2023
Tempat Penelitian : Kediaman Informan
Nama Narasumber : IL
No Variabel Aspek Indikator Pertanyaan Jawaban
1 Dinamika Forgivenes s Pada Remaja yang Mengalami Broken Home di Bangka Selatan
Uncoverin g Phase
Mengalami dan
merasakan luka saat terjadinya perceraian
- Bagaimana perasaan
informan ketika perceraian
orangtua terjadi?
Ya pastinya perasaan saya sebagai anak merasa marah sekali dan sedih karena keluarga saya yang tidak harmonis seperti keluarga teman- teman yang seumuran saya.
Khususnya saya snagat kecewa dan sangat marah kepada ayah saya, yang mana
seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, itu semua rasanya hanya mitos belakang. Ia malah memilih
meninggalkan saya dan ibu saya - Bagaimana
informan
mengungkapkan perasaan yang dirasakannya?
Saya biasanya lebih sering curhat dengan Ibu saya, yang paling sedih saya sebenarnya melihat Ibu saya sedih. Saya benci dengan ayah saya, karena ia tega meninggalkan kami. Dia tidak
peduli dengan kami, hanya Ibu yang selalu ada buat saya. Untuk itu, saya akan menjadi sedih jika Ibu saya
sedih.Dan juga peristiwa yang terjaid ini membuat saya trauma dengan laki-laki. Karena menurut saya laki- laki itu sama saja, mereka tidak menggunakan perasaannya malah memikirkan apa-apa
menggunakan logika. Padahal ibu saya selalu setia dengan ayah saya, saya tahu ibu saya perempuan yang hebat selalu menghormati suami dan melayaninya dengan baik, ia juga mendidik dan membimbing anaknya dengan baik
- Bagaimana informan
mengontrol emosi dan mengalihkan perhatian dari peristiwa
menyakitkan yang dialaminya?
Kalau dulu waktu saya masih kecil saya sering diejek tidak punya ayah.
Saya sangat sedih dan sering merasa iri dengan teman- teman saya, yang ayahnya selalu memperhatikan