Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat ditemukan bahwa terdapat faktor penyebab terjadinya perceraian orang tua informan.
Faktor-faktor tersebut seperti adanya faktor ekonomi yang menurun, adanya faktor pihak ketiga di dalam keluarga dan adanya faktor selisih paham yang menimbulkan kekerasan verbal. Hal ini didukung oleh ahli psikologi Agoes Dariyo, ada beberapa faktor penyebab perceraian, yaitu a) kekerasan verbal, b) masalah ekonomi, c) keterlibatan dalam perjudian, d) keterlibatan dalam penyalahagunaan minuman keras, e) perselingkuhan. Melalui faktor yang menyebabkan keluarga informan menjadi cerai, hal tersebut membuat ketiga informan merasa terluka.130
Melalui luka yang dirasakan Informan sebagai anak yang memiliki keluarga tidak utuh membuat mereka memiliki berbagai perasaan yang cenderung ke arah negatif. Perasaan tersebut, membuat individu menjadi marah, benci, kesal sehingga bisa menyakiti dirinya sendiri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Desi Wulandari, bahwa pada remaja korban broken home akan mengalami ketidakstabilan emosi yang menimbulkan berbagai bentuk
130 Agoes Dariyo, “Memahami Psikologi Perceraian Dalam Kehidupan Berkeluarga,”
Jurnal Psikologi, Vol. 2, No. 2 (2004).
reaksi seperti, menyakiti diri sendiri, pengalihan emosi marah dan menarik diri.131
Adanya perasaan-perasaan negatif yang dirasakan ketiga Informan, hal tersebut dapat menjadi salah satu kendala para Informan tidak dapat menerima dan tidak dapat memaafkan orang tua. Perasaan negatif yang muncul menimbulkan berbagai risiko yang telah Informan terima. Berbagai risiko yang dirasakan Informan dengan tidak memaafkan, membuat mereka merasa bahwa hidup mereka tidak tenang karena masih merasakan sakit hati ketika mengingat pengalaman yang tidak menyenangkan.
Usia remaja merupakan usia dimana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, ia tidak merasa dibawah tingkat orang dewasa namun ia juga berbeda dengan anak-anak. Dalam islam remaja dipandang sebagai individu yang memiliki prinsip dan dapat menggunakan potensi ke arah yang positif dan seimbang dalam hal intelektual, spiritual dan sosial.
Melalui hasil penelitian ditemukan bahwa ketiga Informan mengambil keputusan untuk memaafkan ketika mereka diusia 15-17 tahun atau ketika mereka duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas). Hal ini didukung oleh ahli psikolog Batubara yang menjelaskan bahwa kondisi remaja umumnya akan mengalami perubahan psikologis. Pada usia remaja tersebut kontrol emosinya sudah terarah dan bersikap kritis terhadap situasi yang ada.
131 Desi Wulandari, “Pengalaman Kerja Remaja Broken Home (Studi Kualitatif Fenomenologis),” Jurnal Empati , Vol. 8, No. 1 (2019).
Maka dari itu individu tidak melampiaskan emosinya begitu saja, ia akan memikirkan dan mempertimbangkan dahulu sebelum bertindak. 132
Berdasarkan hasil temuan penelitian, para informan mampu melewati dinamika dalam forgiveness. Ada beberapa dinamika yang dilalui oleh seseorang ketika memaafkan individu lain. Dinamika forgiveness merupakan proses yang terjadi secara perlahan dan memerlukan waktu. Menurut Enright, fase yang harus dilewati dalam proses memaafkan ada empat.133 Adapun keempat fase forgiveness yang dilewati ketiga informan dalam memaafkan, ditunjukan melalui fase di bawah ini:
Pertama Uncovering Phase, fase ini meliputi pertentangan terhadap rasa sakit emosional yang terjadi akibat dari peristiwa menyakitkan yang dialami oleh Informan. Pada fase ini Informan akan mengalami dan merasakan luka yang benar-benar dirasakan saat terjadinya peristiwa tersebut. Apabila dikaitkan dengan temuan di lapangan, ditemukan bahwa Informan mengalami emosi seperti marah, iri, sedih, kecewa dan frustasi akibat perceraian. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Cole bahwa perceraian berdampak pada psikologis anak, anak akan mengalami kemarahan, kesedihan dan penyangkalan sehingga anak akan menyalahkan dirinya bahwa dialah penyebab perceraian orang tuanya.134
132 Batubara R., Adolescent Development (Perkembangan Remaja) (Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010), hlm. 21.
133 Enright, Forgiveness Is a Choice: A Step-by-Step Process for Resolving Anger and Restoring Hope.
134 K Cole, Mendampingi Anak Menghadapi Perceraian Orang Tua (Jakarta: PT Prestasi Pustakarya, 2004), hlm. 96.
Dalam hasil penelitian, informan pertama merasakan kecewa dan sedih ketika orang tuanya bercerai perihal ekonomi. Informan pertama merasakan emosi negatif, ia berpikir bahwa karena ia masih bersekolah dan orang tuanya tidak mampu membiayainya sehingga orang tuanya bertengkar hebat dan akhirnya bercerai. Informan pertama melampiaskan emosinya dengan menangis di tempat yang sepi dan bermain bersama teman-temannya untuk melupakan masalahnya. Informan kedua juga merasakan hal yang sama, yaitu kecewa dan sedih. Informan kedua menyalahkan dirinya sendiri karena ia berpikir bahwa dirinya tidak diinginkan oleh ayahnya. Oleh karena itu, ayahnya meninggalkannya dan memilih bercerai serta pergi dan meninggalkan keluarganya. Ia merasa sangat kecewa atas perlakuan ayahnya terhadapnya yang lebih memilih keluarga barunya daripada dirinya dan ibunya. Untuk melampiaskan emosinya, informan kedua sering berkomunikasi dengan ibunya dan mencurahkan isi hatinya kepada ibunya.
Sedangkan, informan terakhir sering sekali menyalahkan dirinya, ia berpikir bahwa orang tuanya tidak menyukainya karena ia tidak seperti anak-anak lainnya, karena itu orang tuanya meninggalkannya. Informan ketiga melampiaskan emosinya dengan bermain bersama teman-temannya dan menyibukkan diri untuk bersekolah. Ketiga informan sama-sama merasakan sedih, marah dan kecewa atas perceraian orang tuanya dimana ketiga informan tidak merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan orang tua mereka dan merasa orang tua mereka cukup egois karena tidak memikirkan anak-anaknya.
Hal ini sejalan dengan pandangan ahli psikolog anak yang bernama Emmy Wahyuni, S.PSI yang menyatakan bahwa perceraian orang tua menimbulkan dampak negatif bagi remaja, diantaranya adalah remaja banyak merasakan emosi negative dalam kehidupan sehari-hari seperti sedih, kesal, marah dan iri. Remaja akan mengalami stres dan mengalami masalah perilaku akibat perceraian orang tuanya. Tak khayal mereka juga sering menyalahkan dirinya sendiri atas perceraian orang tuanya sehingga menimbulkan traumatik sendiri bagi mereka.135
Kedua Decision phase, fase ini seseorang mendapatkan pemahaman yang sesuai tentang forgiveness. Pada fase ini seseorang mendapatkan pemahaman yang sesuai tentang forgiveness dan pada fase ini individu memutuskan untuk memberikan forgiveness dengan dasar pemahaman yang telah didapatkannya dan korban menyadari bahwa keputusan yang diambil untuk memaafkan menguntungkan bagi diri individu dan juga membaiknya kembali hubungan.
Martinčeková & Klatt, menjelaskan bahwa memaafkan terbukti efektif dalam mengurangi perasaan depresi, kecemasan, dan kemarahan sementara juga dapat meningkatkan kesehatan mental Apabila dikaitakan dengan temuan di lapangan, ditemukan bahwa individu mengambil keputusan untuk memaafkan antara umur 15-17 tahun.136
Selanjutnya, apabila dikaitkan dengan temuan pada ketiga informan ditemukab bahwa setelah merasa tidak percaya dengan keputusan orang
135 Muhammadiyah, “Bila Perceraian Harus Terjadi,” Suara Muhammadiyah. Vol. 88, No.
13–24 (2003).
136 J Martinčeková, L., & Klatt, “Mothers’ Grief, Forgiveness, and Posttraumatic Growth after the Loss of a Child,” OMEGA-Journal of Death and Dying 75, no. 3 (2017).
tuanya untuk bercerai. Seiring berjalannya waktu ketiga informan akhirnya mulai bisa berdamai dengan diri sendiri. Setelah kedua orang tua memutuskan bercerai, ketiga informan menenangkan diri dengan mengisi kegiatan bersama dengan teman-temannya, dan mencoba untuk melupakan permasalahan mereka dengan berdiam diri atau mencari rereshing. Hal tersebut didasari karena adanya pemahaman bahwa semakin berlarut dalam masa lalu akan membuat sakit hati dan terus menyalahkan diri sendiri maupun keadaan. Ini sejalan dengan hasil penelitian Strelan yaitu orang yang disakiti lebih mungkin untuk memaafkan demi diri sendiri dan hubungan daripada pelaku.
Adanya rasa empati dan respek terhadap orang tua, karena orang tua punya pilihan masing-masing dan perasaan, orang tua yang merawat dan membesarkan, serta ketika melihat orang tua bahagia dengan jalan masing- masing. Empati bisa diartikan sebagai dasar yang penting dalam berkomunikasi. Melalui empati, kita dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain terutama menganggap bagaimana jika kita berada di posisi orang lain tersebut.
Hal ini didukung oleh Snyder yang mengungkapkan jika korban transgresi bisa memberi maaf, ia melakukan penggantian emosi negatif (seperti marah atau takut) dari transgresi yang telah dipersepsi individu atau keengganan untuk memaafkan (unforgiveness) ke arah emosi positif (seperti empati, simpati, belas kasih, cinta).137 Dalam penelitian McCullough yang mengatakan bahwa empati didefinisikan sebagai pengalaman perwakilan dari
137 E. L Worthington, Forgiving and Reconciling: Bridges to Wholeness and Hope (Illinois:
InterVarsity, 2003).
keadaan emosional orang lain, sebagai emosi spesifik yang ditandai oleh belas kasih, kelembutan, dan simpati. Empati akan memiliki pengaruh terhadap kemampuan seseorang untuk dapat memaafkan orang yang bersalah kepadanya.138
Dengan memahami perasaan terhadap orang yang menyakiti, individu akan menjadi merasa bersalah, tertekan dan membuatnya untuk dapat memaafkan orang yang menyakitinya. Hal ini juga sesuai dengan apa yang telah dirasakan oleh para Informan. Sebelum Informan dapat mengambil keputusan untuk memaafkan ia mengalami kendala dalam proses tersebut.
Kendalanya adalah ia masih merasa terluka ketika mengingat pengalaman- pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu. Pengalaman tersebut seperti, merasa kecewa dan marah ketika mengingat pertengkaran orang tua, mengingat saat orang tua bercerai dan anak-anaknya dititipkan kepada neneknya ataupun orang lain. Namun, kendala tersebut dapat teratasi oleh Informan dengan adanya reframing.
Ketiga Work Phase, fase ini terjadi pembentukan perspektif berpikir yang baru (reframing) dalam diri individu dan individu berpandangan positif terhadap pelaku, sehingga menghasilkan perubahan positif yang terjadi pada diri sendiri, orang lain dan juga hubungan. Yárnoz-Yaben menjelaskan bahwa memaafkan dapat membantu individu untuk memperbaiki hubungannya dengan orang tua agar menjadi cair kembali. Memaafkan juga dapat
138 C. E McCullough, M. E., Pargament, K. I., & Thoresen, Forgiveness: Theory, Research, and Practice (Guilford Press, 2000), hlm. 113.
mempengaruhi dukungan sosial, individu yang siap memaafkan orang lain akan lebih baik dalam mempertahankan relasi secara positif.139
Apabila dikaitkan dengan temuan di lapangan, ditemukan bahwa setelah memutuskan untuk memaafkan, masing-masing individu memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya. Ada individu yang dulunya merasakan marah, kesal, benci dan kecewa terhadap orang tua kini perasaan-perasaan negatif tersebut mulai hilang. Individu juga dulunya memiliki pemikiran negatif bahwa orang tua tidak sayang dengan anaknya, namun sekarang individu mengalami perubahan positif. Ia dapat berpandangan positif kepada orang tuanya karena orang tua yang menunjukan kasih sayang ke anaknya jadi anak tidak lagi memiliki alasan untuk membenci orang tuanya. Ketiga informan mencoba memposisikan dan merasakan jika mereka di posisi orang tuanya, keputusan yang orang tuanya ambil pasti sangat sulit. Untuk itu mereka mencoba memaafkan orang tuanya dan diri mereka sendiri. Agar mereka bisa memotivasi diri mereka menjadi lebih baik dan mengambil hikmah dan pembelajaran dari masa lalu mereka.
Hal ini sejalan dengan penelitian dari Aziz bahwa agama Islam selalu mengajarkan kepada setiap manusia untuk saling memaafkan satu sama lain.
Sikap saling memaafkan adalah suatu wujud untuk saling menghormati sesama manusia, dan juga menjaga kehormatan, harta, serta martabat manusia. Sehingga tali silahturahmi antara manusia tetap terjaga. Dalam surat Asy-syuura ayat 40 yang Artinya “Dan balasan suatu kejahatan adalah
139 S. Yárnoz-Yaben, “Forgiveness, Adjustment to Divorce and Support from the Former Spouse in Spain,” Journal of Child and Family Studies, Vol.24, No. 2 (2015).
kejahatan yang serupa, maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang orang yang lain”. Dalam surah ini dijelaskan bagi orang yang memaafkan kesalahan orang lain dan tetap menjalin silahturahmi dan hubungan baik dengan orang lain, orang tersebut akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Memaafkan kesalahan orang termasuk hal yang menguntungkan bagi seseorang, karena dengan memaafkan kita tidak perlu lagi memikirkan kesalahan orang lain, yang itu juga dapat menyakiti diri kita sendiri. Kita akan merasakan kelegaan.140
Keempat Deepening Phase, fase ini seseorang akan menemukan makna sebuah pemaafan dan berkurangnya emosi negatif dalam diri, sehingga menjadikan individu mengetahui sesungguhnya makna dari sebuah penderitaan dalam diri jika tidak mampu untuk memaafkan. Apabila dikaitkan dengan temuan di lapangan, ditemukan bahwa ketiga Informan memiliki pemaknaan yang berbeda-beda. Masing-masing informan memaknai pemaafan sebagai perlawanan rasa ego untuk bisa menerima keadaan, keikhlasan, berdamai dengan diri sendiri dan dari pemaafan tersebut membuat hati menjadi tenang.
Akibat dari seseorang tidak memaafkan menurut para Informan dapat merugikan diri sendiri, seperti merasakan sakit ketika mengingat masa lalu, perasaan benci dan dapat membuat diri terus menyalahkan keadaan hingga
140 Aziz, R., Wahyuni, E. N., “Kontribusi Bersyukur Dan Memaafkan Dalam Mengembangkan Kesehatan Mental Di Tempat Kerja,” INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental 2, Vo. 2, No. 1 (2018): 112.
frustasi. Dari fase-fase yang telah dilalui oleh korban ini akan menjadikan individu mampu untuk benar-benar memaafkan setelah mengalami empat tahap dalam proses memaafkan. Hal ini divalidasi oleh Siti Hikmah sebagai ahli psikolog , yang menyatakan bahwa pemaafan sangat dibutuhkan bagi anak untuk mengelola dan menanggulangi disstres yang dirasakan. Alur yang ditawarkan oleh pemaafan mengarahkan anak untuk menekankan jalan damai dan cinta kasih untuk mengatasi rasa sakit yang dialami. Anak tidak lagi menimpakan beban kesalahan pada orang lain, dan dapat melihat bahwa hal yang lebih penting adalah berusaha mencapai perasaan dan kondisi damai itu sendiri.141
Dalam memaafkan orang tua, ketiga Informan telah berhasil melewati empat fase Forgiveness dalam arti ketiga Informan sudah berhasil mengalami total Forgiveness. Menurut Baumeister, total forgiveness terjadi dimana pihak yang tersakiti menghilangkan perasaan kecewa, benci, dan marah terhadap pihak yang menyakiti tentang kesalahannya, kemudian hubungan antara pihak yang disakiti dan pihak yang menyakiti kembali seperti awal sebelum ada kejadian menyakitkan terjadi.142
141 Siti Hikmah, “Mengobati Luka Anak Korban Perceraian,” Walisongo, Vol. 10, No. 2 (2015).
142 K. L Baumeister, R. F., Exline, J. J., & Sommer, “The Victim Role, Grudge Theory, and Two Dimensions of Forgiveness.,” Dimensions of Forgiveness: Psychological Research and Theological Perspectives, Vo. 1, No. 1 (1998).
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai dinamika forgiveness pada remaja broken home dalam memaafkan orang tua, dapat disimpulkan bahwa ketiga informan mampu melewati empat fase dinamika forgiveness. Pertama uncovering phase, ketiga informan merasakan perasaan marah, sedih, kecewa, iri terhadap temannya, kesepian dan depresi akibat perceraian kedua orang tuanya. Kedua decision phase, ketiga informan memutuskan untuk forgiveness atau memaafkan orang tua karena mereka mulai memahami kondisi orang tua mereka dan menghargai keputusan yang dibuat orang tua mereka. Ketiga, work phase, ketiga informan mengalami reframing yaitu pemikiran negatif informan terhadap orang tua berubah menjadi pemikiran yang positif sehingga hubungan informan dengan orang tua membaik.
Keempat deepening phase, ketiga informan dapat menemukan makna pemaafan yaitu sebagai perlawanan ego diri sendiri untuk bisa menerima keadaan, ikhlas, berdamai dengan diri sendiri dan membangun vibes positif sehingga membuat hati tenang dan kesehatan mental pun tidak terganggu serta dapat membangun kualitas hubungan yang baik dengan orang tua maupun keluarga. Ketiga informan juga menyadari bahwa tidak boleh menyimpan dendam, amarah, kesedihan terlalu lama karena itu akan
berdampak pada psikis mereka sehingga mereka akan kurang mencintai diri mereka sendiri dan selalu menyalahkan orang tua mereka. Setelah mengalami empat dinamika dalam proses memaafkan, informan dapat mengambil pembelajaran yang berharga dari masa lalunya sehingga mempunyai motivasi dan tujuan hidup untuk menjalankan hidup selanjutnya.
B. Saran
1. Bagi orang tua, diharapkan mampu menjalankan peran serta tanggung jawabnya sebagai orang tua terhadap anak-anaknya.
2. Bagi remaja broken home, diharapkan dapat membangun pikiran yang positif. Dimulai dari menerima dan mengikhlaskan keadaan, berhenti menyalahkan diri sendiri dan memaafkan kesalahan yang telah dilakukan orang tua.
3. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat lebih memperdalam dan memperluas penelitian mengenai dinamika forgiveness terhadap remaja broken home.
DAFTAR PUSTAKA Buku:
Batubara R. 2010. Adolescent Development (Perkembangan Remaja). Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Cole, K. 2004. Mendampingi Anak Menghadapi Perceraian Orang Tua. Jakarta:
PT Prestasi Pustakarya.
Febrita, Suci Shawmy, 2017, Self Esteem Remaja Pada Keluarga Broken Home , Skripsi Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Enright, R. Forgiveness Is a Choice. 2001. Washington: APA.
Enright, R. D. 2001. Forgiveness Is a Choice: A Step-by-Step Process for Resolving Anger and Restoring Hope. American: American Psychological Association.
Fanner, N. 2004. “The Lived Experience of Forgiveness-Unforgiveness in Victims of Violent Crime.” University of Kwa-Zulu Natal, Pietermaritzburg.
Fatoni, Abdurahman. 2011. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi, Jakarta: Rineka Cipta.
McCullough, M. E. 2000. Pargament, K. I., & Thoresen, C. E. Forgiveness:
Theory, Research, and Practice. Guilford Press.
Munthe, R. A. N. 2013. “Perbedaan Forgiveness Ditinjau Dari Tipe Kepribadian Remaja Yang Orang Tuanya Bercerai Di Kecamatan Medan Timur.”
Universitas Medan Area.
Permatasari, Veronika Gilang, 2019, Hubungan Antara Kematangan Emosi Dengan Pemafaan Pada Remaja Dari Keluarga Broken Home , Naskah Publikasi Program Studi Psikologi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Suharsimi, Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta Rineka Cipta
Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Shane J. Lopez dan C.R Snyder. 2013. Positive Psychological Assessment: A Handbook of Models and Measures. Washington DC: American Psychological Association.
Sukardi. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi Dan Praktiknya.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sutrisno, Hadi, 2002, Metodologi Penelitian, Jakarta: Grasindo, Cet. 1.
Sofyan S. Willis. 2011. Konseling Keluarga (Family Counseling). Bandung:
Alfabeta.
Syamsu, Yusuf. 2006. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wardhati, Lathifah Tri & Faturochman. 2013. Psikologi Pemaafan. Jakarta: Balai Pustaka.
William J, Goode. 2007. Sosiologi Keluarga. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Worthington, E. L. 2003. Forgiving and Reconciling: Bridges to Wholeness and Hope. Illinois: InterVarsity.
JURNAL :
Afriana, Dewi, Nurul Hasanah M.Si, 2019, Studi Kasus Self Esteem Pada Remaja Yang Orang Tuanya Broken Home di SMP Dharma Patra P. Brandan, Jurnal Serunai dan Konseling Volume 2 Nomor 2. Oktober 2019.
Alentina, C, 2016, Memaafkan (Forgiveness) Dalam Konflik Hubungan Persahabatan. Jurnal Ilmiah Psikologi. Vol. 9, No. 2
Aswina, Mayang Safitri, 2017, Proses dan Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Memaafkan Pada Remaja Broken Home , Psikoborneo, Vol. 5, No. 1.
Aziz, R., Wahyuni, E. N. “Kontribusi Bersyukur Dan Memaafkan Dalam Mengembangkan Kesehatan Mental Di Tempat Kerja.” INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental 2, no. 1 (2018): 112.
Baumeister, R. F., Exline, J. J., & Sommer, K. L. (. “The Victim Role, Grudge Theory, and Two Dimensions of Forgiveness. Dimensions of Forgiveness.” Psychological Research and Theological Perspectives 1, no. 79 (1998): 104.
Coopersmith, 1967, The Antecendents Of Self Esteem. USA. W.H Freeman And Company.
Dariyo, Agoes, 2004, Memahami Psikologi Perceraian Dalam Kehidupan Keluarga. Jurnal Psikologi. Vol. 2 No. 2. Desember 2004.
Hikmah, S, 2015, Mengobati Luka Anak Korban Perceraian Melalui Pemaafan.
Sawwa; Jurnal Studi Gender. 10 (2). 229-246.
Hikmah, Siti. “Mengobati Luka Anak Korban Perceraian.” Walisongo 10, no. 2 (2015).
Ismi Isnani, Mukhls Mukhlis, 2013, Perbedaan Harga Diri (Self-Esteem) Remaja Ditinjau dari Keberadaan Ayah. Jurnal Psikologi Volume 9 Nomor 2.
Martinčeková, L., & Klatt, J. “Mothers’ Grief, Forgiveness, and Posttraumatic Growth after the Loss of a Child.” OMEGA-Journal of Death and Dying 75, no. 3 (2017).
McCullough, Michael E. (2000). Forgiveness as Human Strength : Theory, Measurement, and Links to Well-Being. Journal of Social and Clinical Psychology. Vol. 19, No. 1.
Megawati, Ismiyati Yuliatun, Putri, 2021, Terapi Pemanfaatan Untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Individu: Studi Literatur Forgiveness Theraphy To Improve Individual Mental Health: A Literature Study, Jurnal Psikologi, Vol.4, No. 2.
Muhammadiyah. “Bila Perceraian Harus Terjadi.” Suara Muhammadiyah 88, no.
13–24 (2003).
Okthavia, S, 2014, Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga Terhadap Tingkat Self Esteem Pada Penderita Pasca Stroke, Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, Vol. 3, No.1.
Pangestu, Tri Wulan Ndari, 2016, Dinamika Psikologis Siswa Korban Broken Home Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Sleman, Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.
Salsabila, Mustamira Sofa, Martha Chaerani, 2021, Forgiveness Pada Hubungan Romantis Ditinjau Dari Kepercayaan Interpersonal Dan Agreeableness Mahasiswa, Journal Of Psychologi, Vol.4, No. 2.
Shanti, Theresia Indira Bianca Vanessa Susanto, 2020, Hubungan Antara Mindfulnesss dan Dispositional Forgiveness Pada Remaja Dengan Orang Tua Bercerai. Indonesian Journal Guidance and Counseling;
Theory and Application. Vol. 9 No. 1.
Solina, Emmy, 2013, Keluarga Broken Home di Tanjung Pinang (studi terhadap 3 (tiga) orang Remaja Putus Sekolah. Tanjung Pinang, Jurnal Psikologi Universitas Maritim Raja Ali Haji, Vol. 1, No. 1.
Theresia, Indira Shanti, 2020, Hubungan Antara Mindfulness dan Dispotional Forgiveness Pada Remaja Dengan Orang Tua Bercerai, Indonesian Journal of Guidance and Counseling: Theory and Application, Vol.9 No.
1.
Thompson, L, Synder, C. R.,Hoffman, L.,Michael, S. T.,Rasmussen, H. N., Billings, L. S.,& Roberts, D. E. (2005). Dispositional Forgiveness Of Self, Others, And Situations. Journal Of Personality. 73(2). 313-360.
Thomas, W. Baskin and Ribert D. Enright. “Intervention Studies on Forgiveness:
A Meta-Analysis.” Journal of Couseling & Development 82, no. 79 (2010): 80.
Wilis Srisayekti, David A. Setiady, Rasyid Bo Sanitioso, 2015, Harga Diri (Self- Esteem) Terancam dan Perilaku Menghindar, Jurnal Psikologi Volume 42 Nomor 2. XWulandari, Desi. “Pengalaman Kerja Remaja Broken Home (Studi Kualitatif Fenomenologis).” Jurnal Empati 8, no. 1 (2019).
Yárnoz-Yaben, S. “Forgiveness, Adjustment to Divorce and Support from the Former Spouse in Spain.” Journal of Child and Family Studies 24, no. 2 (2015): 289–297.
Data Elektronik :
Ajie Gusti Prabowo, 2021, Retrieved From
https://bangka.tribunnews.com/2021/11/24/1025 - pasangan - cerai - di bangka - bangka - selatan - dan - bangka - tengah - 65 - persen - karena selingkuh Diakses Pada 17 Januari 2023
Andre Kurniawan, 2021, Dampak Buruk Perceraian bagi Anak, Bisa Sebabkan Stres dan Masalah Sosial. Retrieved From
https://www.merdeka.com/sumut/dampak - buruk - perceraian - bagi anak - bisa -