Kedua, dalam hubungan yang erat ada orientasi jangka panjang dalam menjalin hubungan di antara mereka,51
Pemaafan adalah menyerah dengan sengaja dari kebencian atau kemarahan dalam menghadapi orang lain atas ketidakadilan yang cukup besar dan menanggapi hal tersebut dengan kebaikan bagi si pelanggar atau pelaku meskipun pelaku tidak mendapatkan hak untuk diampuni.
Pemaafan adalah tindakan yang dipilih secara bebas oleh pemberi maaf.52
Menurut Enright mendefinikan bahwa pemaafan sebagai kesediaan untuk meninggalkan hak kebancian seseorang, penilaian negative, dan perilaku acuh tak acuh terhadap seseorang yang menyakiti kita, bahkan mendorong kasih sayang, kemurahan hati. 53
C. Dinamika Forgiveness pada Remaja yang Mengalami Broken Home
terabaikan. Remaja kehilangan tempat bergantung dan merasa tidak nyaman di rumah sehingga banyak diantara mereka yang mencari kenyamanan di luar rumah seperti teman, tetangga, sekolah maupun masyarakat dan banyak diantara mereka yang terjerumus dalam pergaulan yang salah.
Kondisi keluarga yang mengalami broken dapat pula menyebabkan berbagai dampak psikis dalam kehidupan remaja seperti kepribadian yang tidak sehat, frustasi, menyalahkan diri, menarik diri, depresi, rendah diri, dan sebagainya menyebabkan remaja kesulitan menjalankan tugas perkembangannya dan mengembangakan hubungan yang buruk dengan teman maupun orang diluar keluarganya. Disamping itu Broken Home juga dapat mempengaruhi dinamika Forgiveness pada remaja yang Broken Home .
Baumeister, menjelaskan bahwa Forgiveness terjadi didalam diri orang yang tersakiti dan diantara yang tersakiti dan menyakiti. Situasi ini menggambarkan bahwa Forgiveness dapat terjadi dalam beberapa kategori pada dinamika Forgiveness terhadap remaja yang mengalami Broken Home . Hal tersebut dapat digambarkan pada bagan di bawah ini sebagai berikut:54
54 K. L. ( Baumeister, R. F., Exline, J. J., & Sommer, “The Victim Role, Grudge Theory, and Two Dimensions of Forgiveness. Dimensions of Forgiveness,” Psychological Research and Theological Perspectives, Vol. 1, No. 79 (1998): hlm. 104.
Gambar II.1
Kategori pada Dinamika Forgiveness
Dari gambar di atas adapun dua kategori pada dinamika Forgiveness, yaitu:55
55 Ibid., hlm. 104
Kategori pada Dinamika Forgiveness
Forgiveness (Menerima) Ada empat kategori Forgiveness :
Hollow Forgiveness Silent Forgiveness Total Forgiveness
No Forgiveness (Tidak Menerima) Claims on reward and benefits To prevent reccurance
Continued suffering Pride and revenge Principal refusal
1. Forgiveness (Menerima)
a. Hollow Forgiveness, pada kombinasi ini pihak yang tersakiti dapat mengekspresikan Forgiveness secara nyata melalui perilaku, namun pihak yang tersakiti belum dapat merasakan adanya Forgiveness dalam dirinya. Pihak yang tersakiti masih menyimpan rasa dendam dan kebencian meskipun ia telah mengatakan kepada pihak yang menyakiti bahwa ia telah memafkan.
b. Silent Forgiveness, kombinasi ini berkebalikan dengan hollow Forgiveness. Pada kombinasi ini pihak yang tersakiti tidak dapat mengekspresikan melalui perbuatan dalam hubungan interpersonal, namun ia dapat merasakan adanya Forgiveness dalam dirinya.
Pihak yang tersakiti tidak lagi memiliki rasa dendam, kebencian dan perasaan marah kepada pihak yang menyakiti namun tidak mengekpresikannya. Pihak yang tersakiti membiarkan pihak yang menyakiti terus merasa bersalah dan terus bertindak seakan-akan tetap bersalah.
c. Total Forgiveness, kombinasi ini terjadi dimana pihak yang tersakiti menghilangkan perasaan kecewa, benci, dan marah terhadap pihak yang menyakiti tentang kesalahannya, kemudian hubungan antara pihak yang disakiti dan pihak yang menyakiti kembali seperti awal sebelum ada kejadian menyakitkan terjadi.
2. No Forgiveness (Tidak Menerima)
Pada kombinasi ini, tidak terjadi dimensi Forgiveness pada korban.
Baumeister menyebut kondisi ini sebagai total grudge combination.
Keadaan ini terjadi karena pihak yang tersakiti telah salah persepsi mengenai Forgiveness, berikut adalah kesalahan persepsi yang menjadi faktor penyebab terjadinya No Forgiveness : 56
a. Claims on reward and benefits, pihak yang tersakiti merasa bahwa dirinya berhak atas reward atau keuntungan sebelum ia harus memaafkan. Karena ia beranggapan bahwa pihak yang menyakiti telah memiliki hutang yang harus dibayar karena telah menyakiti dirinya. Keuntungan yang diperoleh bukan hanya bersifat material namun juga non material.
b. To prevent reccurance, pihak yang tersakiti tidak memaafkan pihak yang menyakiti karena dianggap dapat meningkatkan kemungkinan akan terjadi peristiwa menyakitkan kembali yang dialami pihak yang tersakiti dimasa yang akan datang. Tidak diberikannya Forgiveness kepada pihak yang menyakiti, maka pihak yang tersakiti dapat terus meningkatkan pihak yang menyakiti untuk tidak mengulangi perbuatannya.
c. Continued suffering, pihak yang tersakiti tidak memaafkan pihak yang menyakiti karena perasaan tersakiti dari peristiwa menyakitkan di masa lalu mempengaruhi hubungannya dengan
56 R. A. N Munthe, “Perbedaan Forgiveness Ditinjau Dari Tipe Kepribadian Remaja Yang Orang Tuanya Bercerai Di Kecamatan Medan Timur”, Skripsi, (Universitas Medan Area, 2013), hlm. 105.
pihak yang menyakiti di masa depan, maka Forgiveness merupakan sesuatu yang sulit dilakukan.
d. Pride and revenge, pihak yang tersakiti tidak memafkan pihak yang menyakiti karena hal yang menyakiti tersebut akan berpengaruh terhadap harga dirinya. Apabila Forgiveness diberikan pada pihak yang menyakiti maka pihak yang tersakiti akan merasa bahwa hal itu akan mempermalukan dan menunjukan rendahnya harga dirinya.
e. Principal refusal, pihak yang tersakiti menilai Forgiveness sebagai pembebasan terhadap pihak yang menyakiti dari peradilan. Pihak yang tersakiti takut tidak dapat mendapat perlindungan hukum jika ia sudah memaafkan pihak yang menyakiti.
Enright, menjelaskan bahwa ada empat dinamika yang harus dilewati dalam proses memaafkan diantaranya yaitu:57
a. Uncovering Phase (fase pembukaan), fase ini meliputi pertentangan terhadap rasa sakit emosional yang terjadi akibat dari peristiwa menyakitkan yang dialami oleh seseorang. Pada fase ini seseorang akan mengalami dan merasakan luka yang benar-benar dirasakan saat terjadinya peristiwa tersebut.
b. Decision phase (fase pengambilan keputusan), fase ini seseorang memutuskan untuk memberikan Forgiveness dengan dasar
57 R. D Enright, Forgiveness Is a Choice: A Step-by-Step Process for Resolving Anger and Restoring Hope (American: American Psychological Association, 2001), hlm. 79.
pemahaman yang telah di dapatkannya dan korban menyadari bahwa keputusan yang diambil untuk memaafkan menguntungkan bagi diri individu dan juga hubungan kembali membaik.
c. Work Phase (fase tindakan), fase ini seseorang memiliki perspektif berpikir yang baru (reframing) dan berpandangan lebih positif terhadap pelaku, sehingga terjadi perubahan positif pada diri korban, pelaku dan juga hubungan antara mereka
d. Deepening phase (fase pendalaman), fase ini seseorang menemukan makna bagaimana rasanya tersakiti dan berkurangnya emosi negatif dalam diri, sehingga membuat seseorang mengetahui sesungguhnya makna dari sebuah penderitaan dalam diri jika tidak mampu untuk memaafkan.
Berdasarkan penjelasan diatas, terdapat beberapa fase dinamika proses Forgiveness. Pada penelitian ini akan menggunakan fase Forgiveness menurut Enright, yang terdiri dari empat fase, yaitu fase pembukaan (uncovering phase), fase pengambilan keputusan (decision phase), fase tindakan (work phase), dan fase pendalaman (deepening phase). Pada penelitian ini peneliti menggunakan teori Enright sebagai acuan penelitian.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, yaitu data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata, gambar, bukan angka-angka.58 Menurut Bogdan dan Taylor, sebagaimana yang dikutip oleh Lexy J. Moleong, penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.59
Sementara itu, penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun rekayasa manusia.60 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis. Pendekatan kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati, sedangkan jenis penelitian fenomenologis merupakan studi yang mendeskripsikan makna dari pengalaman yang dimiliki sejumlah individu tentang sebuah konsep atau fenomena.
58 Sudarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif Rancangan Metodologi, Presentasi, dan Publikasi Hasil Penelitian untuk Mahasiswa dan Penelitian Pemula Bidang Ilmu Sosial, Pendidikan, dan Humaniora, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), Cet. I, hlm. 51.
59 Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 3
60 Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, hlm. 17.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapat gambaran dan informasi yang lebih jelas, lengkap, serta memungkinkan dan mudah bagi peneliti untuk melakukan penelitian observasi. Oleh karena itu, maka penulis menetapkan lokasi penelitian adalah tempat di mana penelitian akan dilakukan. Dalam hal ini, lokasi penelitian terletak di sma di Bangka Selatan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2023 hingga bulan September 2023.
C. Sumber Data
Menurut Lofland dan Lofland sebagaimana yang telah dikutip oleh Lexy.
J. Moleong dalam bukunya yang berjudul Metodologi Penelitian Kualitatif, mengemukakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata- kata dan tindakan, selebihnya berupa data tambahan seperti dokumen dan lain- lain. Berkaitan dengan hal itu pada bagian ini jelas datanya dibagi ke dalam kata- kata dan tindakan, sumber data tertulis, foto dan statistic.61
a. Data Primer
Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari narasumber (informa) atau subjek penelitian. Sumber data primer berupa informasi yang tidak dapat diakses dalam struktur yang dikumpulkan atau sebagai catatan, informasi ini harus dicari dari sumber atau dalam istilah khusus responden, khususnya individu yang kami kunjungi sebagai objek
61 Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), hlm, 112.
eksplorasi atau individu yang kami gunakan untuk tujuan mendapatkan data atau informasi.62
Dalam penelitian ini sumber data primer berupa katakata diperoleh dari wawancara dengan para informan yang telah ditentukan yang meliputi berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan dalam perkumpulan dimana dalam keadaan berkumpul peneliti akan dikit demi sedikit akan melakukan wawancara terhadap korban bersangkutan di Bangka Selatan.
b. Data Sekunder
Sumber data sekunder yang diperoleh dalam penelitian ini dari berbagai sumber yang mungkin tidak langsung terkait dengan kejadian tersebut. Sumber informasi ini dapat diperoleh dari para peneliti yang mempelajari atau mengetahui peristiwa-peristiwa yang dilakukan dan dari buku atau catatan yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa, buku sejarah, artikel-artikel dalam buku referensi, dan penelitian (survei).
Sebelum menyelesaikan proses pencarian informasi, kita memang ingin membedakan mana yang dibutuhkan terlebih dahulu agar informasi tidak sulit didapat. Seperti membuat, melakukannya sambil mencari informasi akan membantu pencarian informasi dan waktu dan uang. 63 Sumber data sekunder dalam penelitian ini berupa data kurikulum, daftar nama penyandang Broken Home , serta foto-foto aktivitas korban yang dalam Forgiveness yang ada di sma Bangka Selatan.
62 Jonathan Sarwono, Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), hlm. 124.
63 Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi Dan Praktiknya (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), hlm. 89.
D. Subjek Penelitian
Adapun subjek dari penelitian ini adalah remaja dengan status pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mengalami Broken Home pada keluarganya yang ada di Bangka Selatan. Subjek tersebut harus memiiliki kemauan untuk di wawancarai atau diteliti.
E. Fokus Penelitian
Kajian penelitian ini difokuskan pada aktivitas-aktivitas korban yang mengalami Broken Home di Bangka Selatan, yang meliputi apa saja aktivitas yang dilaksanakan sehari-hari, metode yang digunakan dalam sikap dan perilaku yang dilakukan pada aktivitas sehari-hari.
F. Teknik Pengumpulan Data
Pengertian teknik pengumpulan data menurut Arikunto adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, di mana cara tersebut menunjukan pada suatu yang abstrak, tidak dapat di wujudkan dalam benda yang kasat mata, tetapi dapat dipertontonkan penggunaannya.64
Dalam hal pengumpulan data ini, penulis terjun langsung pada objek penelitian untuk mendapatkan data yang valid, maka peneliti menggunakan metode sebagai berikut:
1. Metode Observasi
64 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta : PT.
Rineka Cipta, 2002, Cet.XII), hlm. 134.
Observasi atau pengamatan dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.
Observasi ini menggunakan observasi partisipasi, di mana peneliti terlibat langsung dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.65 Dalam observasi secara langsung ini, peneliti selain berlaku sebagai pengamat penuh yang dapat melakukan pengamatan terhadap gejala atau proses yang terjadi di dalam situasi yang sebenarnya yang langsung diamati oleh observer, juga sebagai pemeran serta atau partisipan yang ikut melaksanakan proses dalam berperilaku sehari-hari.
Observasi langsung ini dilakukan peneliti untuk mengoptimalkan data mengenai pelaksanaan dalam bertingkah laku, interaksi aparat desa dan korban Broken Home dalam beraktifitas, keadaan remaja Broken Home didesa, keadaan sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan sehari-hari bertingkah laku, serta keadaan remaja Broken Home , duta genre, BKBBN, dan masyarakat Bangka Selatan.
2. Metode Wawancara (Interview)
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan.66 Dalam hal ini, peneliti menggunakan wawancara terstruktur, di mana seorang 65 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D , (Bandung: Alfabeta, 2006), hlm. 310.
66 Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 135.
pewawancara menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan untuk mencari jawaban atas hipotesis yang disusun dengan ketat.67
Dalam melaksanakan teknik wawancara (interview), pewawancara harus mampu menciptakan hubungan yang baik sehingga informan bersedia bekerja sama, dan merasa bebas berbicara dan dapat memberikan informasi yang sebenarnya. Teknik wawancara yang peneliti gunakan adalah secara terstruktur (tertulis) yaitu dengan menyusun terlebih dahulu beberapa pertanyaan yang akan disampaikan kepada informan. Hal ini dimaksudkan agar pembicaraan dalam wawancara lebih terarah dan fokus pada tujuan yang dimaksud dan menghindari pembicaraan yang terlalu melebar. Selain itu juga digunakan sebagai patokan umum dan dapat dikembangkan peneliti melalui pertanyaan yang muncul ketika kegiatan wawancara berlangsung.68
Metode wawancara peneliti gunakan untuk menggali data terkait fogiveness remaja yang mengalami Broken Home . Adapun informannya antara lain:
a. Duta genre Bangka Selatan, untuk mendapatkan informasi tentang sosial Forgiveness remaja yang mengalami Broken Home .
b. Kepala BKBBN, untuk mendapatkan informasi tentang aktifitas remaja sosial Forgiveness remaja yang mengalami Broken Home .
c. Pihak-pihak lain yang berkaitan dengan perolehan data dalam penulisan skripsi ini.
67 Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), hlm.138.
68 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta : PT.
Rineka Cipta, 2002, Cet.XII), hlm. 203.
3. Metode Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis.
Dalam pelaksanaan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.69 Melalui metode dokumentasi, peneliti gunakan untuk menggali data berupa dokumen terkait remaja yang mengalami Broken Home , di antaranya: angka/data, dokumen penilaian, aktivitas remaja Broken Home , kegiatan-kegiatan sehari-hari, daftar nama remaja yang mengalami Broken Home , sarana dan prasarana, foto-foto dokumenter, dan sebagainya.
G. Uji Keabsahan Data
Keabsahan data dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan kriteria kredibilitas. Untuk mendapatkan data yang relevan, maka peneliti melakukan pengecekan keabsahan data hasil penelitian dengan cara:
1. Perpanjangan Pengamatan
Peneliti tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai. Perpanjangan pengamatan peneliti akan memungkinan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan.70 Dengan perpanjangan pengamatan ini, peneliti mengecek kembali apakah data yang telah diberikan selama ini setelah dicek kembali pada sumber data asli atau sumber data lain ternyata tidak
69 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta : PT.
Rineka Cipta, 2002, Cet.XII), hlm.149.
70 Lexy Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002), hlm. 248.
benar, maka peneliti melakukan pengamatan lagi yang lebih luas dan mendalam sehingga diperoleh data yang pasti kebenarannya.71
Dalam penelitian ini peneliti melakukan perpanjangan pengamatan, dengan kembali lagi ke lapangan untuk memastikan apakah data yang telah penulis peroleh sudah benar atau masih ada yang salah.
2. Ketekunan pengamatan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.72 Meningkatkan ketekunan itu ibarat kita mengecek soalsoal, atau makalah yang telah dikerjakan, apakah ada yang salah atau tidak. Dengan meningkatkan kejadian-kejadian negatif terhadap remaja Broken Home itu, maka peneliti dapat melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu salah atau tidak. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan maka, peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati.73 Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan ketekunan adalah dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan remaja yang mengalami Broken Home .
3. Triangulasi
71 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008), Cet. 6, hlm. 271.
72 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008), Cet. 6, hlm. 272.
73 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008), Cet. 6, hlm. 272.
Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu.74 Dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Triangulasi sumber digunakan untuk pengecekan data tentang keabsahannya, membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen dengan memanfaatkan berbagai sumber data informasi sebagai bahan pertimbangan. Dalam hal ini penulis membandingkan data hasil observasi dengan data hasil wawancara, dan juga membandingkan hasil wawancara dengan wawancara lainnya.
H. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif analitik, yaitu mendeskripsikan data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka. Data yang berasal dari naskah, wawancara, catatan lapangan, dokuman, dan sebagainya, kemudian dideskripsikan sehingga dapat memberikan kejelasan terhadap kenyataan atau realitas.75
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Dalam hal ini Nasution menyatakan: “Analisis telah dimulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Analisis data menjadi pegangan bagi penelitian selanjutnya sampai jika mungkin, teori yang grounded. Namun dalam penelitian 74 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008), Cet. 6, hlm. 273.
75 Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 66.
kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses di lapangan bersama dengan pengumpulan data. In fact, data analysis in qualitative research is an
\ongoning activity tha occurs throughout the investigative process rather than after process. Dalam kenyataannya, analisis data kualitatif berlangsung selama proses pengumpulan data daripada setelah selesai pengumpulan data.”76
Analisis data versi Miles dan Huberman, bahwa ada tiga alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi.77 1. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan lapangan. Reduksi dilakukan sejak pengumpulan data, dimulai dengan membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, menulis memo, dan lain sebagainya, dengan maksud menyisihkan data atau informasi yang tidak relevan, kemudian data tersebut diverifikasi.
2. Penyajian data adalah pendeskripsian sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data kualitatif disajikan dalam bentuk teks naratif, dengan tujuan dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam bentuk yang padu dan mudah dipahami.
3. Penarikan kesimpulan atau verifikasi merupakan kegiatan akhir penelitian kualitatif. Peneliti harus sampai pada kesimpulan dan melakukan verifikasi, baik 76 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008), Cet. 6, hlm. 335-336.
77 Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), hlm. 85-89.
dari segi makna maupun kebenaran kesimpulan yang disepakati oleh tempat penelitian itu dilaksanakan. Makna yang dirumuskan peneliti dari data harus diuji kebenaran, kecocokan, dan kekokohannya. Peneliti harus menyadari bahwa dalam mencari makna, ia harus menggunakan pendektan emik, yaitu dari kacamata key information, dan bukan penafsiran makna menurut pandangan peneliti (pandangan etik).
BAB IV
DINAMIKA FORGIVENESS PADA REMAJA YANG MENGALAMI BROKEN HOME DI BANGKA SELATAN
Pada bab ini merupakan analisis data yang sudah terkumpul dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti dengan menggunakan berbagai instrument pengumpulan data yakni berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari data tersebut dikumpulkan agar menjelaskan dan menjawab rumusan masalah dari penelitian yang dilakukan, yakni bagaimanakah dinamika forgiveness pada remaja yang mengalami broken home di Bangka Selatan.
Maka dengan ini akan dikemukakan tentang uraian data yang didapatkan dari lapangan. Kemudian data tersebut akan dianalisis sedemikian rupa sehingga diharapkan dengan adanya analisis ini akan menjawab permasalahan- permasalahan yang akan dikemukakan pada bab-bab sebelumnya.
A. Hasil Penelitian
1. Fase-fase Forgiveness pada Remaja yang Mengalami Broken Home di Bangka Selatan
Bagi remaja dari latar belakang keluarga broken home, memaafkan orang tua atau berdamai dengan masa lalu mungkin menjadi tantangan yang tidak mudah untuk dilakukan. Hal tersebut dikarenakan individu pasti telah merasakan banyak pengalaman yang menyakitkan di dalam keluarga. Namun forgiveness sangat perlu dilakukan. Menurut Fanner dengan melakukan forgiveness, emosi negatif seperti marah, cemas, sakit