1. Pengertian Forgiveness
Dalam hidup kadang manusia memiliki pengalaman disakiti atau mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang lain. pengalaman ini dapat menimbulkan emosi yang negatif (seperti marah, dendam, dan kecewa) terhadap orang-orang yang menyebabkan pengalaman menyakitkan atau perlakuan tidak adil tersebut (pelaku). Ketika individu menyadari adanya emosi negatif tersebut, timbul suatu kebutuhan bagi individu tersebut (korban) untuk menyembuhkan luka. Salah satu cara untuk mengatasi emosi negatif adalah dengan memberi maaf. Forgiveness terjadi ketika individu memiliki kesiapan memaafkan dengan menurunkan emosi negative.42Jika korban tidak bisa menurunkan emosi negatifnya, maka yanag ada adalah dendam. prinsif utama yang mendasari upaya untuk membalas dendam
42 Christiany Suwartono dan Yeti Prawasti, “ Hubungan antara Strategi Regulasi Emosi dan Aspek-Aspek kesiapan Memafkan” , 2006, Presentasi Makalah Di temu Ilmiah Psikologi UI 2006.
http://atmajaya.ac.idcontent.aspf=7&katsus=16&id=639. Hal, 12
adalah terjadinya sebuah pelanggaran interpersonal atau pengalaman menyakitkan bagi seorang individu.43
Forgiveness adalah suatu bentuk Khas dari coping yang unik terkait motivasi dan komponen dari keinginan-keinginan. Hal ini adalah pengurangan tanggapan negatif terhadap pelaku, namun memungkinkan untuk suatu pelaku untuk dimintai pertanggungjawaban. Dengan demikian, itu adalah internal proses yang dilakukan oleh korban, sebuah pilihan individu yang pada akhirnya terlepas dari interaksi antar pribadi.44
Menurut yang diungkapkan oleh para ahli terkait pengertian dari Forgiveness, Mc Cullough, Wothington & Rachal, Forgiveness ialah serangkaian bentuk perubahan yang terjadi seperti motivasi seorang individu untuk menurunkan motivasi dalam membalas dendam, menjatuhkan diri serta berusaha menghindari orang yang menyakiti dan berusaha juga untuk meningkatkan motivasi dalam melakukan kebaikan dan berdamai atas apa yang telah terjadi terhadap segala macam bentuk situasi yang menyakitkan45. Begitu juga hal yang di sampaikan oleh Enright, yang menjelaskan bahwa Forgiveness sebagai bentuk kegiatan untuk mengentaskan segala macam dampak pengaruh negative serta penghakiman kepada seseorang yang sudah menyakiti, dengan berusaha untuk tidak
43 Michale E. McCullogh K. Chris Rachal, Steven J. Dkk. “Interpersonal Forgiving In Close Relationships, Journal Of Personality and Sosial Psycology, 1998, Vol. 75, No. 6, 1586-1603, hal 1
44 Paul Dolan, Richard Layard, and Robert Metcalfe, “Measuring Subjectif Paper, 23 Maret 2011, hal 31
45 McCullough, Michael E. (2000). Forgiveness as Human Strength : Theory, Measurement, and Links to Well-Being. Journal of Social and Clinical Psychology. Vol. 19, No. 1.
menghindari rasa sakit tersebut akan tetapi ditunjukkan dengan adanya rasa kasih sayang, cinta serta perdamaian atas situasi yang telah terjadi46.
Dalam paradigma yang diungkapkan oleh Rye & Pargament, dijelaskan mengenai hakikat dari Forgiveness ialah bentuk tindakan dalam hal mengatasi berbagai perasaan negatif, perilaku negatif serta kognisis negatif disaat terjadinya tindakan ketidakadilan terhadap dirinya sendiri, hal ini juga dimungkinkan melibatkan bermacam respon yang bersifat positif kepada orang yang telah menyakitinya. Serta pandangan dari Setyana, menyatakan bahwa proses memaafkan Forgiveness adalah kemampuan yang dilakukan oleh seorang individu untuk dapat menurunkan serta berusaha untuk menghilangkan bermacam hal perasaan dan penilaian yang bersifat negatif kepada segala hal yang sudah menyakiti dirinya sendiri sehingga hal ini akan merubah respon seseorang terhadap peristiwa, tindakannya serta akibat dari kejadian peristiwa yang sudah terjadi yang diubah dari negatif menjadi hal yang positif/netral yang pada akhirnya menjadikan orang berada nyaman dalam lingkungannya47.
Berdasarkan dengan berbagai ungkapan para ahli tentang Forgiveness, dapat disimpulkan bahwa Forgiveness adalah kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk memaafkan atas kejadian yang telah terjadi diluar kendali pribadi seseorang yang bertujuan untuk berdamai terhadap segala hal yang sudah terjadi. Hal ini sebagai bentuk untuk menangkap 46 Ibid
47 Alentina, C, 2016, Memaafkan (Forgiveness) Dalam Konflik Hubungan Persahabatan.
Jurnal Ilmiah Psikologi. Vol. 9, No. 2, hlm 168-174
vibrasi positif terhadap diri seseorang dan menetralisirkan berbagai macam bentuk vibrasi negatif yang semula menguasai pikiran dan mental sosio- emosional seseorang. Adapun tiga macam bentuk tingkatan Forgiveness yakni sebagai
berikut48:
a. Forgiveness terhadap individu secara spesifik terhadap kesalahan yang spesifik juga
b. Forgiveness terhadap individu secara spesifik dengan kesalahan spesifik yang bersifat berulang
c. Forgiveness terhadap individu dengan level disposisi yang dimaknai sebagai pemafaan yang terjadi dalam lingkung kehidupan sehari-hari yang biasa disebut dispositional forgivness.
Forgiveness pada level disposisi bersinggungan dengan Kesehatan mental yang dialami oleh seseorang seperti kasus Broken Home yang terjadi bagi remaja sebagai korbannya. Dispotional Forgiveness dilihat berdasakan dengan tiga aspek, yaitu perspektif dan paradigma terhadap keberhargaan diri sendiri dari yang bersifat negatif menjadi bersifat positif yang disebut dengan Forgiveness of self, lalu Forgiveness of others yang diartikan sebagai perubahan respon terhadap pihak yang menyebabkan terjadinya transgresi dari yang bersiat respon negatif menjadi respon yang positif atau netral, serta yang selanjutnya adalah Forgiveness of situation yaitu kondisi 48 Mustamira Sofa Salsabila, Martha Chaerani, 2021, Forgiveness Pada Hubungan Romantis Ditinjau Dari Kepercayaan Interpersonal Dan Agreeableness Mahasiswa, Journal Of Psychologi, Vol.4, No. 2.
yang menerima adanya sebuah perubahan yang terjadi di luar kendali diri sendiri yang menyebabkan terjadinya transgresi bersifat negatif dalam responnya dan bertolak menjadi respon yang bersifat positif atau netral. 49 2. Aspek Forgiveness
Menurut McCullogh, memaafkan itu dapat dibagi menjadi beberapa aspek, yakni:
a. Avoidance Motivations
Penurunan motivasi untuk menghindari kontak pribadi dan psikologis dengan pelaku. Korban akan membuang keinginannya untuk menjaga jarak dengan orang yang telah menyakitinya (pelaku). Jadi, korban tidak menghindar ataupun menjauhi si pelaku, dia akan tetap berusaha menjaga hubungan yang dekat tersebut.
b. Revenge Motivations
Penurunan motivasi untuk membalas dendam atau melihat-lihat bahaya dating kepada pelanggar. Artinya, korban akan membuang keinginannya untuk membalas perbuatan yang telah dilakukan oleh pelaku. Korban akan berusaha meminimalisir rasa marah untuk membalas dendam kepada pelaku yang telah menyakitinya.
c. Beneviolence Motivations
49 Ismiyati Yuliatun, Putri Megawati, 2021, Terapi Pemanfaatan Untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Individu: Studi Literatur Forgiveness Theraphy To Improve Individual Mental Health: A Literature Study, Jurnal Psikologi, Vol.4, No. 2.
Peningkatan motivasi untuk berbuat kebajikan dengan pelaku.
Walaupun subjek merasa menjadi korban, akan tetapi subjek tetap ingin berbuat kebajikan kepada pelaku. Jadi subjek dalam situasi ini akan tetap menjaga hubungan agar tetap baik dengan pelaku.50
3. Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness
Lathifah dan Faturochman, mengemukakan beberapa faktor Forgiveness di bawah ini:
a. Empati
Empati adalah ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang lain. Melalui empati terhadap pihak yang menyakiti, seseorang dapat memahami perasaan pihak yang menyakiti merasa bersalah dan tertekan akibat perilaku yang menyakitkan. Empati juga menjelaskan variabel social psikologis yang mempengaruhi pemberian maaf yaitu permintaan maaf (apologies) dari pihak yang menyakiti. Ketika pelaku meminta maaf kepada pihak yang disakiti maka hal itu bisa membuat korban lebih berempati dan kemudian termotivasi untuk memaafkannya.
b. Atribusi terhadap pelaku dan kesalahannya
Penilaian akan mempengaruhi setiap perilaku individu. Artinya, bahwa setiap perilaku itu ada penyebabnya dan penilaian dapat mengubah perilaku individu (termasuk pemaafan) di masa mendatang.
50 Shane J. Lopez dan C.R Snyder, Positive Psychological Assessment: A Handbook of Models and Measures (Washington DC: American Psychological Association, 2013), hlm. 304- 305.
Dibandingkan dengan orang yang tidak memaafkan pelaku, orang yang memaafkan cenderung menilai pihak yang bersalah lebih baik.
c. Tingkat kelukaan
Beberapa orang menyangkal sakit hati yang mereka rasakan untuk mengakuinya sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan. Kadang- kadang rasa sakit membuat mereka takut seperti orang yang dikhianati dan diperlakukan secara kejam. Mereka merasa takut mengakui sakit hatinya karena dapat mengakibatkan mereka membenci orang yang sangat dicintainya, meskipun melukai. Mereka pun menggunakan berbagai cara untuk menyangkal rasa sakit hati mereka. Pada sisi lain, orang yang merasa sakit hati ketika mendapatkan bukti bahwa hubungan interpersonal yang mereka kira akan bertahan lama ternyata hanya bersifat sementara. Hal ini sering kali menimbulkan kesedihan yang mendalam. Ketika hal ini terjadi, maka pemaafan tidak bisa atau sulit terwujudkan.
d. Kualitas hubungan
Seseorang yang memaafkan kesalahan pihak lain dapat dilandasi oleh komitmen yang tinggi pada relasi mereka. Ada empat alas an mengapa kualitas hubungan berpengaruh terhadap perilaku memaafkan dalam hubungan interpersonal. Pertama, pasangan yang mau memaafkan pada dasarnya mempunyai motivasi yang tinggi untuk menjaga hubungan.
Kedua, dalam hubungan yang erat ada orientasi jangka panjang dalam menjalin hubungan di antara mereka,51
Pemaafan adalah menyerah dengan sengaja dari kebencian atau kemarahan dalam menghadapi orang lain atas ketidakadilan yang cukup besar dan menanggapi hal tersebut dengan kebaikan bagi si pelanggar atau pelaku meskipun pelaku tidak mendapatkan hak untuk diampuni.
Pemaafan adalah tindakan yang dipilih secara bebas oleh pemberi maaf.52
Menurut Enright mendefinikan bahwa pemaafan sebagai kesediaan untuk meninggalkan hak kebancian seseorang, penilaian negative, dan perilaku acuh tak acuh terhadap seseorang yang menyakiti kita, bahkan mendorong kasih sayang, kemurahan hati. 53
C. Dinamika Forgiveness pada Remaja yang Mengalami Broken Home