1113
ANALISA CAMPURAN BERASPAL LAPIS PENGIKAT (AC- BC) DENGAN RECLAIMED ASPHALT PAVEMENT (RAP)
DAN AGREGAT STEEL SLAG
Rindu Twidi Bethary Mahasiswa Program Doktor
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha No.10 Bandung 40132
Bambang Sugeng Subagio Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan
Lingkungan Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha No.10 Bandung 40132 [email protected]
Harmein Rahman Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan
Lingkungan Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha No.10 Bandung 40132
Abstract
The limitations of material and demand increase for road construction causes the high cost of construction and rehabilitation of roads so that it necessary to provide alternative materials such as recycled asphalt material and utilization of waste materials such as steel slag. This study aimed to exercise evaluation and performance control asphalt mixture with material of reclaimed asphalt pavement (RAP) and slag as a substitute for the aggregate. The used material in this study was a slag that produced by PT.Krakatau Steel, RAP material aggregates from Karawang quarry, and asphalt Pertamina pen 60/70. RAP material have further aging leads to a decrease increased stiffness over the life of the structure and adhesion properties for asphalt is reduced this is prevented by slag material has a rough surface and it has a coarser texture preventing cracking by internal friction of the mixture resulting in high adhesion in the mixture between aggregates and asphalt. The use of RAP in mixes slag the overall can improve performance and resistance to fatigue for additions of 20-25% RAP in mixes with 25-35% of slag.
Keyword : RAP, Slag, Fatigue.
Abstrak
Keterbatasan material dan meningkatnya permintaan material konstruksi jalan menyebabkan tingginya biaya pembangunan maupun rehabilitas jalan sehingga perlu material alternatif seperti daur ulang aspal, dan pemanfaatan potensi limbah seperti slag baja. Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi dan pengendalian kinerja campuran beraspal dengan reclaimed pavement asphalt (RAP) dan slag sebagai bahan pengganti agregat. Material yang digunakan adalah slag yang berasal dari PT.Krakatau Steel, material RAP, agregat dari quarry karawang, dan aspal pertamina pen 60/70. Material pada RAP mengalami penuaan yang menyebabkan penurunan kekakuan meningkat selama umur struktur dan sifat adhesi terhadap aspal berkurang hal ini dicegah oleh material slag yang memiliki permukaan dan tekstur yang kasar sehingga mencegah terjadinya retak oleh gesekan internal campuran yang mengakibatkan tingginya adhesi dalam campuran antara agregat dengan aspal. Penggunaaan material RAP dan slag secara keseluruhan dapat meningkatkan kinerja campuran dan ketahanan terhadap kelelahan dengan RAP 20-25 % ditambah slag 25- 35%.
Kata Kunci : RAP, Slag, Kelelahan .
1114
PENDAHULUAN
Penggunaan dan pembaharuan limbah dari produk sampingan dari kegiatan industri dan sektor konstruksi menjadi isu yang penting dalam beberapa tahun terakhir dalam mengurangi penggunaan bahan baku untuk pembangunan jalan. Kegiatan pembangunan dan pemeliharaan jalan beraspal di Indonesia diperlukan aspal sekitar 1,3 juta ton pertahunnya, apabila campuran beraspal mempunyai kadar aspal sebesar 6% terhadap berat campuran, maka 1,3 juta ton aspal ter-sebut itu akan menghasilkan sebanyak 21,6 juta ton campuran beraspal panas/hot mix asphalt (Affandi dan Kusnianti, 2013). Untuk kebutuhan aspal, selain harganya yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, Indonesia sendiri hanya mampu memproduksi aspal sebanyak 900.000 ton per tahun dimana Pertamina hanya mampu memproduksi 600.000 ton per tahun dan Sarana Karya sebanyak 300.000 ton per tahun, sedangkan sisanya diimpor untuk memenuhi kekurangannya (Illyin, 2012) (Pertamina,2015).
Keterbatasan material tersebut sebagai pendorong penggunaan bahan daur ulang perkerasan dimana reclaimed pavement asphalt (RAP) adalah bahan alternatif yang berguna untuk bahan perkerasan karena mengurangi kebutuhan penggunaan agregat alam dan bahan pengikat aspal baru yang diperlukan dalam campuran aspal (Audrey Copeland, 2011), RAP juga dapat merehabilitasi dan atau mengganti struktur perkerasan yang mengalami kerusakan permanen deformasi dan kerusakan secara struktural (Valdes G dkk.
2011). Selain agregat yang terdapat didalam RAP dapat juga memanfaatkan agregat buatan salah satunya adalah limbah slag. Penggunaan slag sebagai agregat dalam kontruksi jalan dapat menghasilkan umur kelelahan lebih baik hal tersebut disebabkan tingginya kekurusan agregat slag yang mencegah terjadinya retak oleh gesekan internal pada campuran,dan tingginya adhesi antara aspal dan slag meningkatkan umur kelelahan dari campuran dengan memperlambat retak yang terjadi (Amir Kavussi dkk. 2015).
Penggunaan RAP dan slag pada campuran aspal panas dapat meningkatkan umur kelelahan, berdasarkan model evalusi kerusakan linier didukung dengan kriteria keruntuhan terjadi kerusakan yang lebih rendah pada campuran yang mengandung RAP dan slag dibandingkan dengan campuran kontrol (Pasettoa dan Baldob 2012), sedangkan campuran aspal dengan persentase 35% slag dan 20% RAP tanpa menggunakan aditif khusus untuk meremajakan RAP secara keseluruhan dapat meningkatkan kinerja campuran aspal (Raposeiras dkk. 2016). Dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya maka pada penelitian ini ingin bagaimana kinerja campuran RAP dan slag terhadap ketahanan terhadap deformasi permanen dan bagaimana apabila RAP yang digunakan kita berikan bahan aditif khusus.
Meskipun teknologi dengan memanfaatkan RAP dan slag sudah memiliki banyak manfaat, namun di Indonesia teknologi ini belumlah banyak dikenal. Berkenaan dengan hal tersebut pada paper ini yang merupakan bagian dari tinjauan pustaka dari kajian evaluasi campuran aspal dengan menggunakan RAP dan slag sebagai bahan pengganti agregat, diharapkan dapat memperoleh gambaran kinerja campuran tersebut terhadap persyaratan campuran beraspal yang ditetapkan dalam Spesikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan Bina Marga 2010.
1115
TINJAUAN PUSTAKA
Lapis Beton Aspal
Lapis Beton Aspal adalah lapisan penutup konstruksi perkerasan jalan yang mempunyai nilai struktural yang pertama kali dikembangkan di Amerika oleh The Asphalt Institute dengan nama Asphalt Concrete (AC). Menurut Bina Marga Dept.PU, campuran ini terdiri atas agregat bergradasi menerus dengan aspal keras, dicampur, dihamparkan dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu. Suhu pencampuran ditentukan berdasarkan jenis aspal yang akan digunakan. Sedangkan yang dimaksud gradasi menerus adalah komposisi yang menunjukkan pembagian butir yang merata mulai dari ukuran yang terbesar sampai dengan ukuran yang terkecil.
Beton lapis aspal (Laston, AC) terdiri atas tiga jenis lapisan yaitu AC lapis aus, AC lapis antara dan AC lapis pondasi (Sukirman, 2008), dimana Lapis aspal beton sebagai bahan pengikat (AC-BC) merupakan bagian dari lapis permukaan diantara lapis pondasi atas dengan lapis aus yang bergradasi aggregat gabungan rapat atau menerus, dimana umumnya digunakan untuk jalan dengan beban lalu lintas yang berat, fungsi dari lapis AC- BC adalah untuk mengurangi tegangan dan menahan beban maksimum akibat beban lalu lintas sehingga harus mempunyai kekuatan yang cukup (Puslitbang Prasarana Transportasi,2004)
Material Daur Ulang (RAP)
Secara umum perkerasan daur ulang adalah memanfaatkan kembali material (agregat dan aspal) perkerasan lama untuk dijadikan sebagai perkerasan baru yang ditambahkan agregat baru dan atau bahan peremaja. Untuk mencapai hasil yang memadai, aspal dan agregat lama perlu diperbaharui baik sifat-sifatnya maupun gradasinya (Novita,dll 2011). Aspal RAP secara signifikan telah mengalami penuaan pada saat diproduksi, pelayanan terhadap beban kendaraan, dan pengaruh lingkungan saat menjadi lapisan/struktur perkerasan. Hal ini dikarenakan reologi aspal telah teroksidasi dan mempunyai kelelahan, sehingga aspal pada RAP menjadi mengeras (O’Sullivan 2011).
Material RAP umumnya dicampur dengan berbagai persentase agregat baru dan aspal untuk menghasilkan campuran aspal baru, dimana RAP dapat digunakan di lapisan perkerasan yang lebih rendah yaitu lapis pengikat untuk memberikan peningkatan terhadap beban lalu lintas (al-qadi, dkk. 2012). Penggunaan RAP dalam campuran beraspal panas sesuai The Asphalt Institute (1993) adalah sekitar 10% - 35% untuk unit produksi jenis takaran, sedangkan untuk unit produksi jenis drum kuantitas yang praktis adalah sekitar 10% - 50% dengan rentang penggunaan dalam campuran adalah persentase 40% RAP sedangkan campuran dengan persentase 60% diluar batas yang ditentukan.
Slag
Steel slag adalah batuan kasar berbentuk kubikal tidak teratur. Batuan ini terbentuk dari mineral–mineral yang digunakan sebagi pemurnian baja dari dapur tinggi. Batuan steel slag mempunyai kekerasan yang tinggi dan digabung dengan permukaan yang kasar (Hartati,2009). Slag baja memiliki permukaan dan tekstur yang kasar dibandingkan dengan agregat biasa, karena porositas permukaan tinggi pada slag sehingga aspal diserap pada permukaan mereka. Dari hasil pengujian XRD dan XRF bahwa slag itu mengandung alumunium oksida bersama-sama dengan unsur logam lainnya di dalam slag baja
1116 merupakan kontributir perlawanan abrasif tinggi, CaO/ SiO2 menyiratkan bahwa slag baja secara subtansial bersifat basa, ini tentu akan memberikan sifat adhesi dari slag baja di campuran aspal (A Kavussi,dkk 2015).
Beberapa negara sudah banyak memproduksi slag untuk digunakan dalam campuran aspal salah satunya di Australia, dimana material slag ini telah mempunyai kualitas yang seragam dan memenuhi standar ISO 9000. Terdapat beberapa jenis slag beserta kegunaannya antara lain: BFS digunakan untuk agregat campuran semen, bahan stabilisasi tanah dan pondasi, BOS untuk bahan lapis pondasi, agregat penutup, agregat campuran beraspal dan EAFS untuk campuran beraspal, pondasi, dan timbunan. (Australian Slag Association (ASA), 2002).
Parameter Mekanistik Campuran Beraspal
Pendekatan mekanistik berusaha untuk menjelaskan fenomena hanya dengan mengacu pada penyebab fisik. Dalam desain perkerasan, fenomena tersebut adalah tegangan, regangan dan lendutan dalam struktur perkerasan sedangkan penyebab fisik adalah beban dan sifat material dari struktur perkerasan.
Hubungan antara fenomena dan penyebab fisik biasanya dijelaskan dengan menggunakan model matematika. Seiring dengan pendekatan mekanistik, unsur empiris digunakan untuk mengetahui pengaruh tegangan, regangan dan lendutan terhadap kegagalan perkerasan.
Beberapa parameter yang diperlukan dalam metoda mekanistik baik untuk perencanaan maupun dalam melakukan evaluasi struktural campuran beraspal, yaitu (Yamin, 2004) : 1. Modulus kekakuan aspal
2. Modulus kekakuan campuran beraspal 3. Angka Poisson aspal dan campuran beraspal
4. Ketahanan campuran beraspal terhadap deformasi permanen 5. Ketahanan campuran beraspal terhadap beban berulang (fatigue)
PEMBAHASAN
Pemilihan Material RAP dan Slag
Konstruksi jalan di Indonesia secara umum lebih dari 90% dari seluruh panjang jalan yang ada menggunakan teknologi perkerasan lentur atau perkerasan beraspal, dimana pembangunan dan pemeliharaan perkerasan beraspal pada setiap tahunnya selalu impor aspal. Salah satu alternatif untuk mengatasi kendala kekurangan aspal adalah pemanfaatan Reclaimed Asphalt Pavement (RAP), khususnya untuk pekerjaan pemeliharaan perkerasan beraspal dengan menggunakan metode cut and fill (Nono, 2015), metode ini merupakan salah satu green technology karena memanfaatkan limbah dari perkerasan jalan.
Penggunaan rata-rata persentase RAP yang digunakan di campuran aspal mengalami peningkatan pada tahun 2009 sebesar 15,6% meningkat sampai 20,4% pada tahun 2014, dengan perkiraan tonase RAP yang digunakan di campuran aspal adalah 71.900.000 ton.
Dengan asumsi kandungan 5% aspal cair pada RAP sama dengan mewakili lebih dari 3,6 juta ton (20 juta barel) dari pengikat aspal dan 68 juta ton agregat alami, kombinasi ini dapat menghemat campuran aspal sehingga biaya campuran untuk perkerasan aspal lebih kompetitif dan memungkinkan pemilik untuk bisa mencapai pemeliharaan jalan dan kegiatan kontruksi dengan biaya terbatas (Hansen dan Copeland, 2014).
1117 Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, penggunaan campuran aspal dengan penambahan RAP sampai dengan 100% menunjukkan kinerja campuran optimum dengan penambahan persentase 30% dimana campuran RAP memberikan nilai yang baik pada kerusakaan creep dan terjadi resistensi terhadap ketahanan kelembapan, sedangkan untuk penambahan RAP diatas 50% memberikan kinerja yang kurang baik hal ini dikarenakan terjadi penurunan pada sifat kohesi (Ayman A dkk. 2015). Hal ini disebabkan karena material RAP ini telah mengalami penurunan sifat fisik akibat beban lalu lintas selama masa layannya, menyebabkan aspal yang terkandung didalam RAP sudah mengalami penuaaan sehingga harus ditambahkan bahan peremaja yang merupakan suatu bahan pengikat untuk RAP yang mengandung senyawa aromatik ringan untuk menggantikan senyawa aromatik ringan yang menguap atau teroksidasi pada RAP agar sifat-sifat aspal tersebut kembali seperti semula.
Aspal RAP secara signifikan telah mengalami penuaan pada saat diproduksi, pelayanan terhadap beban kendaraan, dan pengaruh lingkungan saat menjadi lapisan/struktur perkerasan meyebabkan berkurangnya sifat adhesi sehingga ikatan yang terjadi antara agregat dengan aspal akan berkurang, sifat adhesi ini dapat dikembalikan dengan menggunakan slag sebagai pengganti agregat. Dilihat dari berbagai studi mengenai slag penggunaan slag sebagai agregat dalam campuran beraspal akan menghasilkan umur kelelahan lebih baik dimana peningkatan tersebut disebabkan tingginya kekurusan agregat slag yang mencegah terjadinya retak yang disebabkan gesekan internal pada campuran, tingginya adhesi antara aspal dan slag juga meningkatkan umur kelelahan dari campuran dengan memperlambat retak. Berdasarkan pengujian SEM menunjukan bahwa slag memiliki permukaan yang kasar dan tekstur yang labih kasar dibandingkan dengan agregat alami, karena poositas pemukaan yang tinggi dari slag sehingga aspal lebih terserap pada permukaannya, sehingga sifat adhesi dengan aspal akan lebih kuat (A. Kavussi1dkk. 2015), dapat dilihat perbandingan antara tekstur agregat dengan slag berdasarkan pada pengujian SEM pada Gambar 1.
Gambar 1. Karakteristik Morfologi berdasarkan SEM: a)agregat ; b)slag Sumber : A. Kavussi dkk. 2015
Penggunaan agregat slag yang ditambah dengan RAP dalam campuran berasapal dapat meningkatkan nilai stabilitas marshal dan MQ, dimana pada penggunaan 35% slag dan 20% Rap memberikan kinerja yang paling optimum, sedangkan untuk karakteristik fisik
1118 slag dan RAP tidak menunjukkan perbedaan besar dan tetap berada dalam kisaran normal mendekati nilai agregat biasa. Namun untuk slag menunjukkan kepadatan yang lebih tinggi karena kandungan oksida dan penyerapan air rendah karena struktur kristalnya sehingga memiliki abrasi yang lebih baik dibandingkan dengan agregat lain, hal ini dapat dilihat pada Gambar 2 yang menunjukkan kepadatan campuran dengan berbagai tipe agregat.
Gambar 2. Perbedaan Agregat Dalam Campuran: a)100% agregat alami ; b)45% agregat-20% RAP-35% Slag ; c)80% agregat-20% RAP
Sumber : A.C. Raposeiras dkk. 2016.
Rancangan Campuran Beraspal Panas
Pembuatan rancangan campuran beraspal panas dimulai dari pengujian karakteristik bahan aspal dengan penetrasi 60/70, agregat baru, RAP dan slag dengan gradasi yang digunakan sebagai acuan adalah gradasi Laston lapis antara (AC-BC) yang ditentukan dalam Spesifikasi Umum Jalan dan Jembatan, Bina Marga Tahun 2010 Revisi 3. Demikian juga halnya untuk acuan standar campuran yang digunakan juga mengacu pada ketentuan sifat- sifat campuran Laston lapis antara (AC-BC) Spesifikasi Umum Jalan dan Jembatan Bina Marga Tahun 2010 Revisi 3 sedangkan untuk pengujian slag berdasarkan Pd T-04-2005-B Pedoman penggunaan agregat slag untuk campuran beraspal panas.
Dalam membuat rancangan campuran harus ditentukan terlebih dahulu gradasi agregat yang akan digunakan dalam penelitian ini jenis gradasi rancangan campuran mengacu kepada amplop gradasi agregat gabungan untuk campuran aspal AC Lapis Antara/AC-BC.
Pemilihan gradasi agregat merupakan salah satu sifat yang sangat menentukkan kinerja perkerasan jalan. Setiap jenis perkerasan jalan mempunyai gradasi agregat tertentu, pemilihan gradasi dalam penelitian ini adalah menggunakan gradasi tengah, dimana gradasi tengah adalah gradasi agregat yang merupakan nilai tengah dari rentang gradasi, seringkali gradasi tengah disebut sebagai gradasi ideal dari spesifikasi campuran.
Sedangkan untuk penentuan variasi campuran yang akan dilakukan untuk desain campuran material RAP dan Slag yang telah diaktivasi dengan aspal modifikasi RAP berdasarkan dari studi literatur penelitian yang sebelumnya.
Pasetto dan Baldo (2012) menyatakan kinerja campuran aspal dengan kombinasi penggunaan RAP dan slag dengan pesentase yang berbeda, dilihat dari karakteristik fatique yang terjadi dengan menggunakan tiga pendekatan menunjukkan bahwa dengan
1119 menggunakan material rap dan slag dapat menyebabkan ketahanan lelah dan nilai modulus yang paling besar pada campuran 30% Slag dan 20% RAP meningkat dari 154%-191%, begitu juga dengan nilai modulus kekakuan, pada model dengan menggunakan evolusi kerusakan linear, kriteria Nf dan N1 kerusakan yang lebih kecil pada campuran yang mengandung matriks litik terintegrasi dengan EAF slag dan RAP agregat, dapat dilihat pada Gambar 3 dan Gambar 4.
Gambar 3. Fatigue life Nf versus initial strain Sumber : Pasetto, 2012
Gambar 4. Fatigue life N1 versus initial strain Sumber : Pasetto, 2012
Sedangkan menurut raposeiras dkk. (2016) menyatakan bahwa rancangan campuran panas dengan menggunakan material copperslag (cs) dengan persentase melebihi dari 25% maka akan menyebabkan nilai kinerja campuran dalam hal ini nilai stabilitas hampir sebnading dengan campuran kontrol, begitupula dengan nilai MQ terjadi perbedaan 10% tetapi untuk kekuatan tariknya tidak terjadi peningkatan secara langsung, dimana peningkatan yang terjadi adalah 8%, sedangkan untuk penambahan 35% copperslag akan meningkatkan nilai pada kinerja campuran tetapi terajdi penurunana pada nilai daktilitas, sedangkan untuk
1120 kombinasi penggunaan campuran slag dengan RAP dapat meningkatkan kinerja campuran aspal secara keseluruhan untuk penambahan 35% copperslag dan 20% RAP dimana RAP digunakan tanpa tambahan aditif khusus untuk meremajakan.
Untuk memperoleh campuran aspal dengan menggunakan RAP dan Slag , maka dilakukan sub tahapan sebagai berikut :
a. Sub Tahap I, perancangan campuran beraspal panas konvesional, dengan tujuan untuk mendapatkan kinerja campuran panas sebagai kontrol terhadap campuran beraspal yang menggunakan RAP dan Slag.
b. Sub Tahap 2, perancangan campuran dengan menggunakan RAP dan bahan peremaja, dengan tujuan :
1. Mengetahui pengaruh bahan peremaja terhadap karakteristik aspal
2. Mengetahui persentase optimum bahan peremaja yang ditambahkan kepada aspal terkait karaktersitik aspal dalam hal penetrasi dan titik lembek
3. Mengetahui persentase RAP optimum dalam campuran
c. Sub Tahap 3, perancangan campuran dengan menggunakan RAP , bahan peremaja dan slag, dengan tujuan :
1. Mengetahui pengaruh slag yang digunakan sebagai bahan pengganti agregat terhadap kinerja campuran aspal
2. Mengetahui persentase slag optimum yang ditambahkan ke campuran aspal HMA.
d. Sub Tahap 4, perancangan campuran dengan menggunakan RAP , bahan peremaja dan slag, dengan tujuan :
1. Mengetahui pengaruh kombasi RAP dan slag yang digunakan sebagai bahan pengganti agregat terhadap kinerja campuran aspal.
2. Mengetahui persentase slag optimum ketika dikombinasikan dengan menggunakan RAP yang ditambahkan ke campuran aspal HMA
Setelah diketahui kadar aspal optimum pada masing-masing variasi campuran aspal, maka dilakukan rancangan campuran aspal dengan KAO untuk dilakukan pengujian modulus resilien dengan alat UMMATA ,ketahanan terhadap deformasi dengan menggunakan alat Universal Testing Machine (UTM), dan pengujian fatigue dengan Four Point Bending.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari kajian yang dilakukan adalah :
1. Penggunaan material RAP merupakan salah satu green technology dalam konstruksi jalan yaitu pemanfaatan limbah jalan selain itu terjadi penghematan material aspal dan agregat yang digunakan dalam konstruksi jalan.
2. Penggunaan slag baja sebagai material pengganti agregat diharapkan dapat menghemat material yang digunakan dalam konstruksi jalan, dan juga mengurangi limbah yang dihasilkan dari produksi baja.
3. Material yang terkandung didalam RAP sudah mengalami penuaan yang mengakibatkan berkurangnya sifat adhesi dan perubahan pada gradasi agregat sedangkan karakteristik slag berdasarkan pengujian SEM menunjukkan bahwa slag memiliki permukaan yang kasar, sehingga mencegah terjadinya retak oleh gesekan internal campuran yang mengakibatkan tingginya adhesinya antara aspal dengan slag, sifat inilah yang diharapkan dapat menutupi kekurangan dari material RAP.
1121 4. Penggunaaan material RAP dan slag optimum pada persentase RAP 20-25% dan persentase slag 25-35% secara keseluruhan terjadi peningkatan kinerja campuran beraspal dan ketahanan terhadap umur kelelahan.
5. Teknologi campuran aspal panas menggunakan material alternatif pemanfaatan hasil daur ulang perkerasan lama (RAP) sebagai material perkerasan dan slag sebagai bahan pengganti agregat merupakan teknologi baru yang diharapkan dengan adanya karakteristik dari kedua material tersebut diharapkan secara umum dapat meningkatkan kinerja campuran beraspal, dan lebih lanjut perlu dilakukan pengujian karaktersitik marshall dan ketahanan terhadap kelelahan.
DAFTAR PUSTAKA
A.C. Raposeiras a., A. Vargas-Cerón a., D. Movilla-Quesada a., dan D. Castro-Fresno, 2016: Effect of copper slag addition on mechanical behavior of asphalt mixes containing reclaimed asphalt pavement, Construction and Building Materials 119 (2016), hal 268–276.
Affandi, F. dan Kusnianti, N, 2013, Kinerja Perkerasan Campuran Beraspal Hangat Yang Mendukung Pembangunan Berwawasan Lingkungan, Konferensi Regional Teknik Jalan (KRTJ) 12, Bandung.
A.Kavussi1, M. dan Jalili Qazizadeh, 2014, Fatigue characterization of asphalt mixes containing electric arc furnace (EAF) steel slag subjected to long term aging, Construction and Building Materials 72 (2014), hal 158-166.
A.Kavussi1, M. Jalili Qazizadeh dan A. Hassani, 2015, Fatigue Behavior Analysis of Asphalt Mixes Containing Electric Arc Furnace (EAF) Steel Slag, Journal of Rehabilitation in Civil Engineering 3-1, hal 74-86.
Asphalt Institute Manual Series No. 2, 1993, Mix Design Method for Asphaltic Concrete and Other Hot Mix Types.
Audrey Copeland, 2011, Reclaimed Asphalt Pavement in Asphalt Mixtures: State of the Practice, Report No FHWA-HRT-11-021.
Ayman A. Abdul-Mawjoud1 ,Noor A. Ismaeel, 2015, Effects of Level of Reclamation on the Properties of Hot Mix Asphalt Concrete, International Journal of Scientific Research in Knowledge 3(6), pp. 0162-171.
Direktorat Jenderal Bina Marga, 2014, Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan Tahun 2010 Revisi 3, Jakarta, Ditjen Bina Marga.
Hartati, Fristin Yohana M, 2009, Studi Pengaruh Steel Slag Sebagai Bahan Pengganti Agregat Kasar Pada Campuran Aspal Beton Terhadap Workabilitas dan Durabilitas, Rekayasa Sipil Volume V, Nomor 1, April 2009.
Illyin, A.B. (2012) : Produksi Aspal Dari Asbuton dengan Ekstraksi Menggunakan Asam Asetat, Skripsi, Universitas Indonesia
Imad L. Al-Qadi, Qazi Aurangzeb, Samuel H. Carpenter, William J. Pine, James Trepanier 2012, Impact of High RAP Contents on Structural and Performance Properties of Asphalt Mixtures, Research Report FHWA-ICT-12-002, Illinois Center for Transportation.
Indra Maha., Bambang Sugeng S., Furqon Affendi., dan Harmein Rahman, 2015, Kinerja Campuran Beraspal Hangat Laston Lapis Pengikat (AC-BC) dengan Reclaimed Asphalt Pavement (RAP), Jurnal Teknik Sipil, Vol 22 No.1 April 2015, hal 57-66, ISSN 0853-2982.
1122 Kent R. Hansen, Audrey Copeland, 2014, Annual Asphalt Pavement Industry Survey on Recycled Materials and Warm Mix Asphalt Usage: 2009–2013, Final Report 2009–
2013.
Marco Pasettoa dan Nicola Baldob, 2012, Fatigue Behavior Characterization of Bituminous Mixtures made with Reclaimed Asphalt Pavement and Steel Slag, Social and Behavioral Sciences 53, hal 297 – 306.
Nono. 2015, Pengaruh Bahan Peremaja Terhadap Kinerja Campuran Beraspal Panas Bergradasi Menerus Menggunakan Daur Ulang Perkerasan Beraspal, Jurnal Jalan- Jembatan, Volume 33 No. 1 Januari-Juni 2016, hal 27-42.
Novita, P., B.S. Subagio, dan H. Rahman, 2011, Kinerja Kelelahan Campuran Beton Aspal, Jurnal Transportasi. 11. (3) , hal 163-172.
O'Sullivan, K. A. 2011, Rejuvenation of ReclaimedAsphalt Pavement (RAP) in Hot Mix Asphalt Recycling with High RAP Content. Worcester, Worcester Polytechnic Institute.
Shell, 2003, The Shell Bitumen Handbook (fifth edition), Shell Bitument Internasional, UK.
Valdes G, Felix Perez-Jimenez, Rodrigo Miro, Adriana Martinez dan Ramon Botella, 2011, Experimental study of recycled asphalt mixtures with high percentages of reclaimed asphalt pavement (RAP), Construction and Building Materials 25.
Yamin, Anwar, 2004, Model Mekanistik Cement Treated Asphalt Mixture dan Kinerjanya Pada Iklim Tropis Indonesia, Disertasi Program Doktor, Institut Teknologi Bandung.
Washington State DOT Construction Division Pavement Office, 2015, Use Of Steel Slag Aggregate in Pavements, A Report To The State Legislature In Response To 2ESHB 1299.