• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat kaya akan potensi sumberdaya laut dan perikanan, karena itu pemerintah dalam Program Peningkatan Ekspor Perikanan (PROTEKAN) 2003 masih menjadikan udang sebagai komoditas unggulan (Setyabudi, 2010). Rencana strategik yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) periode 2009 2014, menerangkan visi dan misi dalam rangka memacu produktivitas perikanan dalam negeri. Visi ke depan adalah mewujudkan Indonesia sebagai penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar tahun 2015, dengan misinya adalah mensejahterakan masyarakat, maka harus ada peningkatan produksi perikanan di Indonesia dengan lebih memacu produksi pada usaha budidaya perikanan darat.

Kehadiran udang vannamei diharapkan dapat membuat investasi pertambakan udang tertarik kembali. Budidaya udang vannamei saat ini sudah dilakukan oleh sejumlah pembudidaya di daerah Jawa Timur, Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan beberapa daerah lainnya di Indonesia (Andriyanto dkk, 2013).

1. Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

Udang putih (Litopenaeus vannamei) merupakan spesies introduksi yang dibudidayakan di Indonesia. Udang yang dikenal masyarakat dengan udang vannamei ini berasal dari Perairan Amerika Tengah (Anonimous, 2005; Kalesaran, 2010). Negara- negara di Amerika Tengah dan Selatan seperti Ekuador, Venezuela, Panama, Brasil, dan Meksiko sudah lama membudidayakan jenis udang yang dikenal juga dengan pasific white shrimp (Rusmiyati, 2012).

Udang vannamei pertama kali diimpor ke Indonesia pada tahun 2000 untuk mengganti udang windu (P. manodon) yang terserang penyakit. Pada akhir tahun 2007

2008; Manoppo dkk, 2011). Secara resmi diperkenalkan pada masyarakat pembudidaya pada tahun 2001 setelah menurunnya produksi udang windu (P. monodon) karena berbagai masalah yang dihadapi dalam proses produksi (Subyakto, 2009). Udang vannamei mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan spesies udang lain diantaranya

(2)

pertumbuhan cepat, dapat dibudidayakan dengan kepadatan yang tinggi dan harga pasar cukup tinggi (Nur'aini dkk, 2007; Putri dkk, 2013). Berdasakan data pemerintah kapasitas produksi udang jenis vannamei dalam negeri mencapai 270 ton per tahun (Ekawati, 2008;

Suprapto dkk, 2010).

Udang vannamei memiliki karakteristik spesifik seperti mampu hidup pada kisaran salinitas yang luas, mampu beradaptasi terhadap lingkungan bersuhu rendah, dan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi (Adiwidjaya dkk, 2007; Riani dkk, 2012). Udang vannamei memiliki nafsu makan yang tinggi dan dapat memanfaatkan pakan dengan kadar protein rendah, sehingga pada sistem budidaya biaya pakan dapat diminimalisir (Burhanuddin, 2009; Riani dkk, 2012). Dengan keunggulan yang dimiliki tersebut jenis udang ini sangat potensial dan prospektif untuk dibudidayakan.

a. Morfologi Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

Udang vannamei biasa juga disebut sebagai udang putih dan masuk ke dalam famili Penaidae. Anggota famili ini menetaskan telurnya di luar tubuh setelah telur dikeluarkan oleh udang betina. Bentuk tubuh yaitu terbagi menjadi dua bagian antara lain: bagian kepala dan dada (Cephalothorax), badan (abdomen) dan ekor. Sedangkan bagian-bagian tubuhnya terdiri dari rostrum, sepasang mata, sepasang antenna, sepasang antenula, tiga buah maxiliped, lima pasang kaki jalan (periopoda), lima pasang kaki renang (pleopoda), sepasang telson dan uropoda. Udang vannamei mempunyai rostrum yang menyerupai lengan pada bagian ujung chepalothorax di atas mata dan antenula (Rusmiyati 2012).

Gambar 1. Marfologi Udang Vannamei (Sumber : Rusmiyati 2012)

(3)

Udang vannamei memiliki rostrum yang bergigi 8-9 pada bagian atas dan 2-4 pada bagian bawah. Udang ini merupakan anggota dari sub genus Litopenaeus karena udang betinanya memiliki thelycum terbuka, tanpa seminal reseptacle (Wyban & Sweeney;

Brock & Main, 1994). Taksonomi udang vannamei adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Subkingdom : Metazoa Filum : Arthropoda Subfilum : Crustacea Kelas : Malacostraca Subkelas : Eumalacostraca Superordo : Eucarida Ordo : Decapoda Subordo : Dendrobrachiata Famili : Penaeidae Genus : Litopenaeus

Spesies : Litopenaeus vannamei, (Boone, 1931) b. Habitat Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

Udang vannamei adalah jenis udang laut yang habitat aslinya di daerah dasar dengan kedalaman 72 meter. Udang vannamei dapat ditemukan di perairan/lautan Pasifik mulai dari Mexico, Amerika Tengah dan Selatan. Udang vannamei merupakan udang yang siklus hidupnya dimulai dari laut lepas dan berimigrasi ke daerah pantai, muara, atau perairan dangkal yang kaya akan nutrien. Udang vannamei juga dapat beradaptasi pada lingkungan yang memiliki salinitas rendah seperti sungai air tawar (Erlangga, 2012).

Dalam kondisi budidaya, udang vannamei hidup mendiami seluruh bagian tambak, dari dasar hingga permukaan. Sifat tersebut memungkinkan udang vannamei dipelihara di tambak dalam keadaan padat (Rusmiyati, 2012).

c. Tingkah Laku dan sifat Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

Dalam melakukan budidaya udang, para petambak harus mengetahui tingkah laku dan kebiasaan yang dilakukan oleh udang vannamei agar para petambak dapat mengetahui apakah udang dipelihara dalam keadaan sehat atau tidak, sehingga dapat

(4)

melakukan antisipasi secara dini terhadap kemungkinan kendala yang akan timbul.

Beberapa tingkah laku udang menurut Erlangga (2012) yang perlu diketahui yaitu : 1. Sifat nocturnal dan diurnal

Semua spesies udang yang ada di dunia memiliki sifat nokturnal, yaitu sifat hewan yang aktif pada malam hari, namun udang vannamei juga bersifat diurnal, yaitu aktif pada siang hari.

2. Omnivora dan detritivora

Udang vannamei tergolong pemakan segala jenis makanan dan juga pemakan detritus, yaitu bahan organik yg dikerubuti oleh bakteri.

3. Kanibalisme

Semua jenis udang memiliki kecendrungan bersifat kanibalisme, yaitu memangsa jenisnya sendiri.

4. Molting (Penggantian Kulit)

Secara alami molting merupakan proses yang dilakukan udang dalam pertambahan ukuran tubuh. Pada udang yang masih mudah penggantian kulit akan sering terjadi dibandingkan udang yang sudah dewasa.

5. Mencari Tempat Persembunyian

Udang yang sedang mengalami molting dan tidak sehat cendrung mencari perlindungan dibawah akar pohon bakau atau terumbu karang. Pada lingkungan tambak udang yang sedang mengalami molting atau tidak sehat sering berada di pematang tambak atau dipinggir tambak.

d. Makanan Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

Makanan alami merupakan makanan yang dapat tumbuh di lingkungan tempat pemeliharaan udang. Pertumbuhan makanan alami sifatnya wajib karena selain digunakan sebagai makanan untuk benur udang, makanan alami juga digunakan untuk kestabilan lingkungan tambak. Pada perairan tambak makanan alami (plankton) dikategorikan menjadi dua macam, yaitu plankton nabati atau fitoplankton dan plankton hewani atau disebut dengan zooplankton (Erlangga, 2012).

(5)

e. Sistem Reproduksi

Organ reproduksi udang vannamei betina terdiri dari sepasang ovarium, oviduk, lubang genital, dan thelycum. Oogonia diproduksi secara mitosis dari epitelium germinal selama kehidupan reproduktif dari udang betina. Oogonia mengalami meiosis, berdiferensiasi menjadi oosit, dan dikelilingi oleh sel-sel folikel. Oosit yang dihasilkan akan menyerap material kuning telur (yolk) dari darah induk melalui sel-sel folikel. Organ reproduksi utama dari udang jantan adalah testes, vasa derefensia, petasma, dan apendiks maskulina. Sperma udang memiliki nukleus yang tidak terkondensasi dan bersifat nonmotil karena tidak memiliki flagela. Selama perjalanan melalui vas deferens, sperma yang berdiferensiasi dikumpulkan dalam cairan fluid dan melingkupinya dalam sebuah chitinous spermatophore (Leung-Trujillo, 1990;

Rusmiyati, 2012).

1. Proses Perkawinan (mating) Induk Udang Vannamei

Udang vannamei melakukan mating (perkawinan) apabila udang betina telah matang telur yang ditandai dengan warna orange pada punggungnya, ransangan feromon yang dikeluarkan oleh betina akan diburuh oleh udang jantan dan terjadilah mating. Hasil mating tersebut sperma akan ditempelkan pada telikum, 4-5 jam kemudian induk betina akan mengeluarkan telur (spawning) dan terjadilah pembuahan (Rusmiyati, 2012). Proses kawin alami pada kebanyakan udang biasanya terjadi pada waktu malam hari, tetapi udang vannamei paling aktif kawin pada saat matahari tenggelam. Udang akan bertelur dalam satu atau dua jam setelah kawin (Wyban dkk.,2005; Rusmiyati, 2012).

2. Peneluran dan Perkembangan Telur

Peneluran terjadi saat udang betina mengeluarkan telurnya yang sudah matang.

Proses tersebut berlangsung kurang lebih selama dua menit. Udang vannamei biasa bertelur di malam hari atau beberapa jam setelah kawin. Telur-telur dikeluarkan dan difertilisasi secara eksternal di dalam air. Seekor udang betina mampu menghasilkan setengah sampai satu juta telur setiap bertelur.

(6)

f. Daur Hidup Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

Daur hidup udang sejak telur mengalami fertilisasi dan lepas dari tubuh induk betina. Menurut Martosudarmo dan Ranoemihardjo (1983); Rusmiyati (2012) akan mengalami berbagai macam tahap, yaitu :

1. Nauplius

Stadia Nauplius terbagi atas enam tahapan yang lamanya berkisar 46-50 jam untuk Litopenaeus vannamei, belum memerlukan pakan karena masih mempunyai kandungan telur

2. Zoea

Stadia zoea terbagi atas tiga tahapan, berlangsung selama kira-kira 4 hari.

Stadia zoea sangat peka terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu. Zoea mulai membutuhkan pakan berupa fitoplankton (Skeletonema sp)

3. Stadia mysis

Terbagi atas tiga tahapan, yang lamanya 4-5 hari. Bentuk udang stadia mysis mirip udang dewasa, bersifat planktonis dan bergerak mundur dengan cara membengkokkan badannya. Udang stadia mysis mulai menggemari pakan berupa zooplankton, misalnya Artemia salina.

4. Post larva

Stadia larva ditandai dengan tumbuhnya pleopoda yang berambut (setae) untuk renang. Stadia larva bersifat bentik atau organisme penghuni dasar perairan, dengan pakan yang disenangi berupa zooplankton.

Gambar 2. Siklus hidup udang Vannamei (Sumber : Dhariyan, 2013)

(7)

g. Pertumbuhan Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

Dalam melakukan budidaya pertumbuhan udang dan kesehatan udang dapat diamati melalui monitoring. Secara visual pertumbuhan udang (berat (g) dan size (jumlah udang/kg) dapat diamati langsung dengan menggunakan anco yang diletakan di dalam tambak untuk memantau/mengetahui tingkat pertumbuhan dan kesehatan udang, apakah udang yang dipelihara pertumbuhannya baik atau tidak serta dalam keadaan sehat atau tidak selama proses budidaya berlangsung, sehingga dapat segera diambil keputusan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Mengamati pertumbuhan dan kesehatan udang dapat langsung diamati di dalam anco, pertumbuhan yang baik terlihat dari besar udang yang di pelihara sama/merata dan kesehatan udang dapat dilihat dari keaktifan udang di dalam anco, jika udang aktif itu berarti udang dalam keadaan sehat, sedangkan jika udang pasif atau tidak banyak bergerak, itu berarti udang dalam keadaan tidak sehat atau sedang mengalami molting (penggantian kulit).

2. Manajemen Kualitas Air

Manajemen kualitas air adalah merupakan suatu upaya memanipulasi kondisi lingkungan sehingga berada dalam kisaran yang sesuai untuk kehidupan dan pertumbuhan udang (Amri & Kanna, 2008). Kestabilan lingkungan di dalam tambak merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh para petambak untuk memperoleh kesuksesan dalam budidaya udang (Erlangga, 2012). Fluktuasi parameter kualitas air pada tambak pembesaran udang dapat menyebabkan penurunan kelangsungan hidup udang yang berlanjut pada penurunan produksi (Budiardi, 2007). Akumulasi bahan organik akan menyebabkan terjadinya pembentukan senyawa-senyawa yang beracun bagi udang sehingga mempercepat penurunan kualitas air (Spotte, 1992; Djokosetiyanto, 2006).

Sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 yang dimaksud dengan pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain kelingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan, sedangkan menurut

(8)

Peraturan Pemerintah No.82 Tahun 2001 beban pencemaran adalah jumlah suatu unsur pencemaran dari beban parameter yang terkandung dalam air atau air limbah pada volume tertentu (Rudianti dkk, 2009).

3. Parameter Kualitas Air

Pemeliharaan kualitas air dapat dijadikan salah satu indikasi tentang kestabilan lingkungan didalam tambak dan secara langsung akan berdampak terhadap tingkat kelangsungan hidup organisme yang berbeda didalamnya (Erlangga, 2012). Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter, yaitu parameter fisika, kimia dan biologi.

a. Parameter Fisika

Faktor fisika air merupakan variabel kualitas air yang penting karena dapat mempengaruhi variabel kualitas air yang lainnya. Faktor fisika yang besar pengaruhnya terhadap kualitas air adalah cahaya matahari dan suhu air. Kedua faktor ini berkaitan erat, dimana suhu air terutama tergantung dari intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam air. Cahaya matahari mempunyai peranan yang sangat besar terhadap kualitas air secara keseluruhan, karena dapat mempengaruhi reaksi-reaksi yang terjadi dalam air.

Cahaya matahari sangat diperlukan oleh tumbuhan air sebagai sumber energi untuk melakukan fotosintesis. Sebagai produsen primer, tumbuhan hijau melakukan fotosintesis untuk menghasilkan oksigen dan bahan organik yang akan dimanfaatkan oleh hewan yang lebih tinggi tingkatannya dalam rantai makanan (Ghosal dkk, 2000).

1). Suhu air

Suhu atau temperatur merupakan salah satu faktor penentu kisaran suhu air tambak yang baik bagi kehidupan udang vannamei adalah antara 26-30 °C. Jika suhu air tambak turun dibawah 25 °C akan menyebabkan daya cerna udang terhadap makanan yang dikonsumsi berkurang. Sebailiknya, jika suhu naik di atas 30 °C, udang akan mengalami stress yang disebabkan oleh tingginya kebutuhan oksigen, sementara bila suhu berada dibawah 14 °C maka dapat mengakibatkan kematian udang vannamei (Amri & Kanna, 2008).

Apabila terjadi stratifikasi suhu akibat adanya angin, sementara matahari sangat terik atau hujan sangat lebat yang menyebabkan lapisan air bagian atas terisi air hujan yang suhunya dingin sedangkan lapisan bawah air bersuhu panas, maka aerator (kincir air) harus segera dioperasikan agar suhu menjadi rata dan jumlah

(9)

oksigen terlarut (DO) akan meningkat. Menurut Erlangga (2012), Suhu air tambak yang normal berkisar antara 28-32 °C. Penurunan dan kenaikan suhu air tambak akan berpengaruh terhadap tingkat konsumsi pakan. Jika taraf suhu air didasar tambak menurun hingga 26 °C, nafsu makan udang vannamei menurun hingga 50%.

Pengukuran suhu air tambak di lapangan umumnya dilakukan pada pagi dan sore hari dengan menggunakan termometer.

2). Kedalaman

Kedalaman disuatu perairan sangat penting untuk diperhatikan, hal ini dikarenakan kedalaman suatu perairan dapat mempengaruhi jumlah cahaya yang akan masuk ke perairan dan ketersediaan oksigen di perairan tersebut, jika disuatu perairan kekurangan cahaya masuk kedalamnya maka ikan tersebut akan stress, begitu juga halnya dengan kandungan oksigen, biasanya diperairan dalam ketersediaan oksigen lebih sedikit dibandingkan dengan perairan dangkal.

3). Kecerahan

Menurut Suyanto dan Mujiman (2002); Rusmiyati (2012) air untuk tambak udang seharusnya di ambil dari air payau yang jernih, tidak keruh oleh lumpur.

Menurut ketentuan batas kekeruhan yang dianggap cukup adalah bila angka secchi disk antara 25-45 cm. Kekeruhan disebabkan oleh zat-zat atau material terlarut (tersuspsensi) seperti lumpur, senyawa organik dan anorganik, serta plankton dan mikroorganisme. Dilapangan sering kali pengukuran dilakukan dengan secchi disk yang sekaligus mengukur kecerahan air. Pengukuran umumnya dilakukan pada siang dan sore hari. Tingkat kecerahan yang diharapkan untuk pembudidaya udang

(plankton) (Amri & Kanna, 2008).

4). Warna Air

Menurut Erlangga (2012), perubahan air tambak umumnya menggambarkan ketidak stabilan lingkungan di dalam tambak. Warna air tambak umumnya berbeda- beda tergantung dari populasi plankton yang hidup dalam lingkungan tambak tersebut. Beberapa jenis warna air tambak yang kemungkinan timbul selama proses pemeliharaan udang vannamei, yaitu :

(10)

a. Warna hijau muda (Green water)

Umumnya tambak yang memiliki warna hijau muda sudah dapat dipastikan memiliki persentasi fitoplankton yang tinggi dan memiliki kecendrungan mengalami blooming plankton dengan cepat. Kondisi ini mengakibatkan timbulnya beberapa zooplankton yang dapat di gunakan sebagai pakan alami untuk udang.

b. Warna hijau biru (Blue green water)

Tambak yang memiliki warna air hijau biru sering terjadi pada lingkungan tambak yang memiliki air dengan tingkat kelarutan bahan organik dan suhu yang tinggi. Warna tersebut mencirikan terjadinya dominasi alga hijau biru. Kondisi air seperti itu menimbulkan masalah terhadap udang karena pada kondisi ini udang sering ditemukan memiliki cangkang yang lunak, cangkang yang berwarna biru dan pertumbuhan yang terhambat.

c. Warna hijau kuning

Air tambak yang berwarna hijau kuning sering ditumbuhi oleh beberapa alga yang berflagela berwarna kuning keemasan dari genus Chalamydomonas, Rhodomonas, serta pavlopa. Alga atau ganggang tersebut bercampur dengan alga hijau sehingga menimbulkan warna hijau kuning sehingga mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan udang vannamei. Pada kondisi tersebut tingkat kelangsungan hidup sangat rendah, yaitu antara 45-55 %.

d. Warna coklat tua

Tambak yang memiliki air berwarna coklat tua biasanya sering ditumbuhi oleh plankton dari kelompok dinoflagellata dengan persentase yang cukup tinggi.

Kondisi tersebut diakibatkan oleh adanya penumpukan kandungan bahan organik yang terlalu tinggi menjelang akhir periode pemeliharaan. Udang yang dipelihara pada kondisi ini umumnya memiliki warna insang merah dan hitam serta memiliki insang yang bengkak. Udang akan memiliki warna tubuh biru gelap, antena pendek dan melingkar, tubuh bergelombang, ruas-ruas tubuh cenderung melengkung, serta bagian ekor akan melipat.

(11)

e. Warna coklat keputihan (Milky)

Tambak yang memiliki air berwarna coklat keputihan akan dipenuhi oleh zooplankton dengan pertumbuhan yang tinggi. Pada kondisi ini fitoplankton banyak dikonsumsi oleh zooplankton sehingga populasi fitoplankton yang diharapkan tumbuh pada perairan tambak terhambat. Hal ini akan menyebabkan kondisi lingkungan perairan tambak semakin buruk.

b. Parameter Kimia

Air yang digunakan untuk budidaya udang atau organisme perairan yang lain mempunyai komposisi dan sifat-sifat kimia yang berbeda dan tidak konstan. Komposisi dan sifat-sifat kimia air ini dapat diketahui melalui analisis kimia air, sehingga apabila ada parameter kimia yang keluar dari batas yang telah ditentukan dapat segera dikendalikan. Parameter kimia yang digunakan untuk menganalisis kualitas air yaitu :

1). Salinitas

Salinitas merupakan salah satu aspek kualitas air yang memegang peranan penting karena bias mempengaruhi pertumbuhan udang. Udang muda yang berumur 1-2 bulan memerlukan kadar garam 15-25 ppt agar pertumbuhannya dapat optimal.

Setelah umur lebih dari 2 bulan, pertumbuhan udang relatif baik pada salinitas antara 5-30 ppt. Pada kondisi tertentu, sumber air tambak bisa menjadi hipersalin/

kadar garam tinggi (diatas 40 ppt), hal ini sering terjadi pada musim kemarau (Haliman dan Adijaya, 2005; Rusmiyati, 2012). Perubahan salinitas sering kali terjadi pada perairan tambak, terutama pada musim penghujan. Fluktuasi salinitas pada tambak pembesaran tidak boleh lebih dari 3 ppt, apabila kondisi tersebut terjadi, udang akan stress sehingga nafsu makan udang menjadi menurun (Erlangga, 2008).

2). pH (Derajat Keasaman)

pH merupakan parameter air untuk mengetahui derajat keasaman. Air tambak mempuyai pH ideal antara 7,5-8,5. Umumnya pH air tambak pada sore hari lebih tinggi dari pada pagi hari. Penyebabnya adalah kegiatan fotosintesis oleh fitoplankton yang menyerap CO2. Sebaliknya pada pagi hari CO2 melimpah sebagai hasil pernafasan udang (Haliman & adijaya, 2005; Rusmiyati, 2012).

(12)

Nilai pH yang normal untuk tambak udang berkisar sekitar 6-9. Nilai pH diatas 10 dapat mematikan udang. Sedangkan pH dibawah 5 mengakibatkan pertumbuhan udang menjadi lambat. Khusus udang vannamei, kisaran pH yang optimum adalah 7,5-8,5 (Amri & Kanna, 2008). Pengukurun pH biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari terutama pada bagian dasar tambak. Biasanya tambak yang baik memiliki pH antara 7,5-8,5 dengan fluktuasi perubahan pH antara pagi dan sore hari maksimal sebesar 0,5 unit. Perubahan pH yang terlalu tinggi, lebih dari 0,5 unit per hari, dapat menyebabkan udang mengalami kematian (Erlangga, 2012).

3). Oksigen Terlarut (Dissolved oxygen)

Oksigen terlarut merupakan variabel kualitas air yang sangat penting dalam budidaya udang. Oksigen yang terlarut di dalam perairan sangat dibutuhkan untuk proses respirasi (pernapasan) baik oleh tumbuhan air, udang maupun organisme lain. Menurut Haliman & adijaya (2005); Rusmiyati (2012) kadar oksigen terlarut yang baik berkisar 4-6 ppm. Menurut Amri & Kanna (2008), rendahnya kandungan oksigen terlarut dalam tambak sering terjadi pada priode musim kemarau yang tidak berangin. Disamping itu pada malam hari dimana suhu menjadi rendah yang diikuti meningkatnya aktivitas fitoplankton, sering mengakibatkan menurunnya kandungan oksigen. Keadaan ini ditandai dengan mengambangnya udang (udang naik ke permukaan air).

Penurunan kandungan oksigen akan berakibat fatal terhadap udang vannamei yang sedang dipelihara. Penurunan oksigen terlarut sampai kurang dari 4 ppm akan mengakibatkan udang berhenti makan hingga laju pertumbuhan udang vannamei akan terhambat. Untuk mengatasi hal tersebut, petambak dapat menambahkan operasional kincir aerator sehingga kadar oksigen terlarut dapat dinaikan secara bertahap (Erlangga, 2012).

5). Amoniak

Amoniak merupakan senyawa yang juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan udang. Penyebab timbulnya amoniak di dalam tambak adalah akibat adanya sisa bangkai hewan dan tumbuhan, kotoran udang dan bahan organik lainnya (seperti ganggang) yang membusuk. Pada konsentrasi diatas 0,45 ppm amoniak dapat menghambat pertumbuhan udang sampai 50%. Untuk menunjang

(13)

pertumbuhan udang yang baik, amoniak yang terdapat dalam air tambak tidak boleh lebih dari 0,1 ppm (Amri & Kanna, 2008).

6). Nitrit dan Nitrat

Adanya oksigen didalam air tambak akan mengubah amonia menjadi nitrit dan nitrat (nitrifikasi). Jadi nitrat terbentuk akibat reaksi antara amonia dan oksigen yang terlarut didalam air. Kadar nitrat yang diperbolehkan didalam air tambak adalah dibawah 0,1 ppm. Sementara kadar nitrit yang diperbolehkan adalah tidak lebih dari 0,5 ppm. Bila kadar nitrat dan nitrit yang terdapat di dalam tambak melebihi batas tersebut, maka pengaruh negatif terhadap udang udang vannamei yang dipelihara (Amri & Kanna, 2008).

Menurut Rusmiyati (2012) bahwa nitrit beracun bagi udang, karena mengoksidasi Fe2+ dalam hemoglobin, sehingga kemampuan darah untuk mengikat oksigen sanagt rendah. Toksisitas dari nitrit yaitu mempengaruhi transport oksigen dalam darah dan merusak jaringan. Kadar nitrat 6,4 ppm NO2-N dapat menghambat pertumbuhan udang vannamei sebanyak 50%.

7). Phospat

Phospat merupakan bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuh-tumbuhan.

Karakteristik phospat sangat berbeda dengan unsur-unsur utama lain yang merupakan penyusun biosfer karena unsur ini tidak terdapat di atmosfer. Diperairan bentuk phospat berubah secara terus menerus, akibat proses dekomposisi dan sintesis antara bentuk organik dan bentuk anorganik yang dilakukan oleh mikroba.

Keberadaan phospat di perairan alam biasanya relatif kecil, dengan kadar yang lebih sedikit daripada kadar nitrogen; karena sumber phospat lebih sedikit dibandingkan dengan sumber nitrogen diperairan.

Menurut Subarijanti (2000), phospat mempunyai mobilitas yang sangat kecil.

Didasar tanah phospat mempunyai kedudukan yang stabil, sebab phospat tidak mudah terbawa atau larut dalam air. Keberadaan phospat juga dipengaruhi pH peraian. Dalam suasana basa jika pH lebih besar dari 7 maka phospat akan berikatan dengan unsur kalsium (Ca) menjadi Ca3(PO4)2 dan akan mengendap.

Sedangkan pada suasana asam dimana pH kurang dari 6 maka phospat akan berikatan dengan Fe atau Al juga akan mengendap.

(14)

c. Parameter Biologi 1). Plankton

Plankton merupakan Organisme yang memiliki peran penting dalam suatu perairan. Menurut Herawati dan Kusriani (2005); Setiawan, (2013), plankton merupakan suatu organisme yang berukuran kecil yang hidupnya di perairan.

Organisme ini terdiri dari mikroorganisme yang hidupnya sebagai hewan (zooplankton) dan tumbuhan (fitoplankton). Zooplankton adalah hewan-hewan laut yang planktonik sedangkan fitoplankton terdiri dari tumbuhan laut yang bebas melayang dan hanyut dalam laut serta mampu berfotosintesis (Dianthani, 2003).

Fitoplankton mempunyai klorofil yang dapat membuat makanan sendiri dengan mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik melalui proses fotosintesa. Fitoplankton hidup pada lapisan perairan yang masih terdapat sinar matahari sampai pada suatu lapisan perairan yang disebut garis kompensasi.

Zooplankton umumnya bersifat fototaksis negatif sehingga dapat hidup di lapisan perairan yang tidak terjangkau sinar matahari. Zooplankton merupakan konsumen primer atau kelompok yang memakan fitoplankton. Dengan sifat yang fototaksis negatif, zooplankton akan banyak terdapat di dasar perairan pada siang hari dan akan ke permukaan perairan pada malam hari.

Menurut Suryanto (2006), komunitas organisme adalah sesuatu yang dinamis, populasi-populasi yang ada didalamnya saling berinteraksi, mengalami variasi dari waktu ke waktu. Dinamika plankton dipengaruhi oleh faktor fisika (suhu, intensitas cahaya), faktor kimia (unsur hara), dan faktor biologis (kompetisi dan pemangsaan).

Jenis plankton yang berbeda mempunyai reaksi yang berbeda pula misalnya terhadap suhu dan intensitas cahaya (Setiawan, 2013).

(15)

B. Kerangka Pemikiran

Dalam proses budidaya udang secara tradisional, belum terdapat informasi secara ilmiah tentang pertumbuhan udang Vannamei (Litopenaeus vannamei).

Gambar 3. Bagan kerangka berpikir.

Faktor lingkungan Karakteristik lokasi

penelitian Potensi udang

Tambak daerah pantai

Tambak daerah mangrove

Tambak daerah sungai

Tambak daerah sawah

Faktor kimia - Salinitas - pH - DO - Amoniak - Nitrit - Nitrat - Phospat

Faktor biologi - Kelimpahan

plankton

Pertumbuhan udang Faktor fisika

- Suhu - Kedalama - Kecerahan - Warna air

(16)

C. Hipotesis

Untuk membatasi ruang lingkup permasalahan dan juga mengarahkan jalannya penelitian maka diajukan hipotesis sebagai berikut :

1. Terdapat perbedaan karakteristik pertumbuhan udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) pada 4 tipe tambak tradisional di Sumbawa.

2. Terdapat perbedaan karakteristik habitat/lingkungan pada 4 tipe tambak udang tradisional di Sumbawa.

3. Terdapat hubungan antara pertumbuhan udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) dengan faktor lingkungan pada tambak tradisional di Sumbawa.

Referensi

Dokumen terkait

Proses terbentuknya laut berawal dari proses pembentukan bumi yang mana, menurut Laplace, bumi terbentuk 4 miliar tahun yang lalu, karena pembentukan bumi

Plaxis output dapat dipanggil dengan mengklik toolbar Plaxis output, atau dari start menu yang bersesuaian dengan program plaxis. Toolbar Calculation pada

12.Setelah melakukan percobaan tentang cahaya, peserta didik mampu membuat laporan hasil percobaan yang memanfaatkan sifat-sifat cahaya dan keterkaitannya dengan

1) Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama didepan koma dan angka kedua di belakang koma. Jika angka yang ketiga.. sama dengan atau lebih

Pokok permasalahan penelitian ini adalah apakah komunikasi, penempatan dan kepemimpinan berpengaruh secara simultan maupun parsial terhadap konflik karyawan pada

Perilaku merokok pada remaja saat ini sudah tidak tabu lagi, dimanapun tempat tidak sulit menjumpai anak remaja dengan kebiasaaan merokok.Orang tua mempunyai pengaruh

Kontrol yang digunakan pada penelitian ini adalah kontrol RPMI sebagai kontrol standar dimana sumur (well) tidak diberi perlakuan baik ekstrak buah merah maupun gom arab tetapi

Pada proses pemanasan, pelat baja dipanaskan hingga temperatur austenit dengan tujuan antara lain untuk melarutkan berbagai paduan yang terdapat dalam baja, dan untuk