• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENDAPATAN PETANI CABAI RAWIT DI DESA DATARA KECAMATAN BONTORAMBA KABUPATEN JENEPONTO IRSAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PENDAPATAN PETANI CABAI RAWIT DI DESA DATARA KECAMATAN BONTORAMBA KABUPATEN JENEPONTO IRSAN"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENDAPATAN PETANI CABAI RAWIT DI DESA DATARA KECAMATAN BONTORAMBA

KABUPATEN JENEPONTO

IRSAN 105 9600 651 10

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2014

(2)

ANALISIS PENDAPATAN PETANI CABAI RAWIT DI DESA DATARA KECAMATAN BONTORAMBA

KABUPATEN JENEPONTO

IRSAN

105 9600 651 10

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Strata satu (S-1)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2014

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Analisis Pendapatan Cabai Rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto

Nama : Irsan

Nim : 105960065110

Program Studi : Agribisnis

Konsentrasi : Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas : Pertanian

Disetujui

Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Nailah Husain, M.Si Asriyanti Syarif , SP., M.Si

Diketahui

Dekan Fakultas Pertanian Ketua Program Studi

Ir.Saleh Molla, M.M Amruddin, S.Pt, M.Pd., M.Si

(4)

PENGESAHAN KOMISI PENGUJI

Judul : Analisis Pendapatan Cabai Rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto

Nama : Irsan

Nim : 105960065110

Program Studi : Agribisnis

Konsentrasi : Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas : Pertanian

SUSUNAN PENGUJI

NAMA TANDA TANGAN

1. Ir.Nailah Husain, M.Si Ketua Sidang

2. Asriyanti Syarif, S.P., M.Si Sekretaris

3. Jumiati S.P., M.M Anggota

4. St.Aisyah R, S.Pt., M.Si Anggota

Tanggal Lulus : ...

(5)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI CABAI RAWIT DI DESA DATARA KECAMATAN KABUPATEN JENEPONTO

adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang tidak diterbitkan dari penulis lain disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Makassar, Februari 2015

IRSAN 105960065110

(6)

ABSTRAK

IRSAN. 105960065110. Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit di Desa Datara Kecamatan Bonto Ramba Kabupaten Jeneponto. Dibimbing oleh NAILAH HUSAIN dan ASRIYANTI SYARIF

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan usahatani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bonto Ramba Kabupaten Jeneponto. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2014 sampai Februari 2015.

Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang melakukan usahatani cabai rawit yang berjumlah 17 orang. Maka seluruh jumlah petani cabai rawit dijadikan reponden dengan menggunakan metode sensus, jika populasi dianggap homogen.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di Desa Datara Kecamatan Bonto Ramba Kabupaten Jeneponto, maka diperoleh kesimpulan yaitu hasil penelitian menunjukkan besarnya pendapatan rata-rata usahatani cabai rawit yaitu Rp. 10.549.941,17/orang, maka usahatani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bonto Ramba Kabupaten Jeneponto sangat layak untuk diusahakan.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto” sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana pertanian pada Konsentrasi Sosial Ekonomi Pertanian Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.

Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang selama ini telah memberikan banyak bantuan kepada penulis. Ucapan terima Kasih terima kasih tersebut penulis sampaikan kepada:

1. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar beserta jajarannya yang telah memberikan bimbingan dan bantuan.

2. Amruddin, S.Pt., M.Si, selaku Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universits Muhammadiyah Makassar.

3. Ir. Nailah Husain, M.Si, selaku pembimbing I dan Asriyanti Syarif, S.P., M.Si, selaku pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu, memberikan nasehat, masukan dan kritikan dalam penyusunan skripsi ini.

4. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian yang telah banyak memberikan bimbingan kepada penulis selama penulis menuntut ilmu di Fakultas Pertanian.

5. Kepala Desa Datara beserta jajarannya yang dengan kerelaannya memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.

(8)

6. Ayahanda Somba dan Ibunda Sabi atas segala jasa, kebaikan, pengorbanan, do’a restu, serta kasih sayang dalam membesarkan, dan mendidik penulis.

Sahabat-sahabat dan teman-teman terima kasih atas bantuan kalian, senyuman, nasehat, dan semangat yang telah kalian berikan selama penyusunan skripsi ini. Penulis juga berharap agar skripsi ini dapat memberikan manfaat.

Amin.

Makassar, Februari 2015

Irsan

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN KOMISI PENGUJI ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

I. PENDAHULAUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah... 4

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usahatani ... 5

2.2. Penerimaan ... 6

2.3. Biaya ... 7

2.4. Usahatani ... 8

2.5. Cabai Rawit ... 9

2.6. Kerangka Pikir ... 10

(10)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 11

3.2. Penentuan Sampel... 11

3.3. Pengumpulan Data ... 11

3.4. Teknik Analisis Data ... 13

3.5. Defenisi Operasional ... 14

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Letak Geografis Desa ... 15

4.2. Keadaan Iklim dan Topografi ... 15

4.3. Keadaan Penduduk ... 15

4.3.1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... 16

4.3.2. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan ... 16

4.3.3. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian ... 17

4.4. Keadaan Sarana dan Prasarana ... 18

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Identitas Responden ... 20

5.1.1. Umur ... 20

5.1.2. Tingkat Pendidikan ... 21

5.1.3. Pengalaman Berusahatani ... 22

5.1.4. Luas Lahan ... 23

5.1.5. Jumlah tanggungan Keluarga ... 24

5.2. Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit ... 25

5.2.1. Peneriamaan Usahatani Cabai Rawit ... 25

5.2.2. Biaya Produksi Usahatani Cabai Rawit ... 25

5.2.3. Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit ... 29

VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 30

6.2. Saran ... 30

(11)

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(12)

DAFTAR GAMBAR

No Teks Halaman 1. Kerangka pikir Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit

di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto ... 10

(13)

DAFTAR TABEL

No Teks Halaman 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Datara

KecamatanBontoramba Kabupaten Jeneponto ... 16 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Datara

Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto ... 17 3. Mata Pencaharian Penduduk di Desa Datara Kecamatan Bontoramba

Kabupaten Jeneponto ... 18 4. Sarana dan Prasarana di Desa Datara Kecamatan Bontoramba

Kabupaten Jeneponto ... 18 5. Identitas Responden Menurut Umur di Desa Datara Kecamatan

Bontoramba Kabupaten Jeneponto ... ... 21 6. Identitas Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Datara

Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto ... 22 7. Identitas Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga

di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto ... 23 8. Identitas Responden Berdasarkan Luas Lahan di Desa Datara

Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto ... 23 9. Identitas Responden Berdasarkan Pengalaman Berusahatani

di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto ... 24 10. Rata-rata Biaya Variabel Petani Responden Pada Usahatani

Cabai Rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba

Kabupaten Jeneponto ... 26 11. Rata-rata Biaya Tetap Petani Responden Pada Usahatani

Cabai Rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba

Kabupaten Jeneponto ... 27 12. Rata-rata Biaya Produksi Petani Responden Pada Usahatani

Cabai Rawit di di Desa Datara Kecamatan Bontoramba

Kabupaten Jeneponto ... 28 13. Analisi Pendapatan Usahatani Cabai Rawit di Desa Datara

Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto ... 29

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No Teks Halaman

1. Kuesioner ... 38 2. Identitas Responden di Desa Datara Kecamatan Bontoramba

Kabupaten Jeneponto ... 31 3. Penerimaan Usahatani Cabai Rawit di Desa Datara

Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto ... 32

4-6. Biaya Tenaga Kerja di Desa Datara

Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto ... 33

7. Biaya Variabel di Desa Datara

Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto ... 34 8. Total Pendapatan Petani Responden di Desa Datara

Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto ... 35

9. Peta Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto Dokumentasi di Desa Datara Kecamatan Bontoramba

Kabupaten Jeneponto ... 36 10. Foto Dokumentasi Kegiatan Penelitian ... 37

(15)

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah negara agraris yang sebagian besar penduduknya terdiri dari petani sehingga sektor pertanian memegang peranan penting. Sektor pertanian sebagai sumber kehidupan bagi sebagian besar penduduk terutama bagi mereka yang memiliki mata pencaharian utama sebagai petani. Selain itu sektor pertanian, salah satu hal penting yang harus diperhatikan sebagai penyedia pangan bagi masyarakat. Peningkatan produksi yang harus seimbang dengan laju pertumbuhan penduduk dapat dicapai melalui peningkatan pengelolaan usaha tani secara intensif. Oleh karena itu, pengetahuan tentang cara pengusahaan suatu usahatani mutlak dibutuhkan agar dapat meningkatkan produktifitas serta dapat meningkatkan pendapatan sehingga kesejahteraan petani dapat meningkat (Rahim dan Diah, 2008).

Sektor pertanian adalah salah satu sektor yang selama ini masih diandalkan di Indonesia karena sektor pertanian mampu memberikan pemulihan dalam mengatasi krisis yang terjadi. Keadaan inilah yang menampakkan sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang andal dan mempunyai potensi besar untuk berperan sebagai pemicu pemulihan ekonomi nasional (Husodo, dkk, 2004).

Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi nasional Indonesia abad ke 21 masih akan tetap berbasis pertanian secara luas. Namun sejalan dengan tahapan- tahapan perkembangan ekonomi maka kegiatan jasa-jasa dan bisnis berbasis

(16)

2 pertanian juga akan semakin meningkat, dengan kata lain kegiatan agribisnis akan menjadi salah satu kegiatan unggulan pembangunan ekonomi nasional dalam berbagai aspek yang luas. Dinamika perkembangan termasuk pembangunan pertanian, dari waktu terus berkembang dengan cepat dan berkembang semakin kompleks (Departemen Pertanian, 2005)

Pembangunan pertanian merupakan suatu proses berkelanjutan dibidang pertanian dari upaya untuk mengembangkan kemampuan petani di dalam mengelolah usaha taninya agar selalu mempunyai posisi, produktivitas, efisiensi, dan daya saing yang dapat menjamin pendapatan dan kesejahteraan hidup keluarganya secara berkelanjutan dan berkeadilan. Melalui pembangunan pertanian, diharapkan penduduk peDesaan relatif miskin dan tersisih dari arus kemajuan pembangunan nasional akan dapat memberdayakan diri dalam proses dan dinamika pembangunan (Departemen Pertanian, 2005). Salah satu upaya peningkatan keberdayaan di tingkat petani adalah dengan mewujudkan wadah komunikasi yang mampu memberikan informasi kepada petani dalam menjalankan usahataninya. Usahatani ini dapat berupa usaha bercocok tanam (Anonim, 2010). Sedangkan Menurut Prawikusumo (2000) usaha tani dapat diartikan sebagai ilmu terapan yang membahas, mempelajari bagaimana membuat atau menggunakan sumberdaya secara efisien pada usaha pertanian.

Cabai atau cabe merah atau lombok (bahasa Jawa) adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan. Bagi

(17)

3 seni masakan Padang, cabai bahkan dianggap sebagai "bahan makanan pokok"

kesepuluh (alih-alih sembilan). Sangat sulit bagi masakan Padang dibuat tanpa cabai.

Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur).

Usahatani cabai rawit di Desa Datara kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto dapat dikembangkan secara optimal yang tentunya akan berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan produksi cabai rawit dan pendapatan petani cabai rawit.

Sehubungan dengan itu diperlukan suatu penelitian untuk menganalisis kemampuan petani dalam usahatani cabai rawit. Dengan demikian dapat memberikan solusi pemikiran yang sangat berharga dalam informasi tentang bagaimana kemampuan petani dalam mengelolah usahatani cabai rawit baik dari unsur pengetahuan, sikap/tingkah laku dan keterampilan. Potensi lahan yang ada di Desa tersebut juga sangat mendukung untuk melekukan usahatani cabai rawit sehingga para petani dapat meningkatkan pendapatannya dengan menanam cabai rawit di lahan yang mereka miliki sehingga taraf hidupnya bisa meningkat

(18)

4 Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti akan melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pendapatan Petani Cabe Rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari uraian pada latar belakang yang telah dikemukakan maka yang akan menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah yaitu “Berapa Tingkat Pendapatan Petani Cabai Rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto ? “

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan petani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

Adapun kegunaan penelitian ini adalah:

1. Bagi petani cabai rawit merupakan bahan informasi untuk peningkatan produksi cabai rawit dan usaha khususnya di bidang pendapatan.

2. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai bahan informasi sekaligus bahan pembanding/pelengkap untuk penelitian-penelitian berikutnya yang sehubungan dengan judul ini

(19)

5

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pendapatan

Pendapatan dapat didefenisikan sebagai sisa dari pengurangan nilai penerimaan dan biaya yang dikeluarkan. Pendapatan yang diharapkan adalah pendapatan yang bernilai positif. Penerimaan usahatani adalah nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual.

Penerimaan ini mencakup semua produk yang dijual, konsumsi rumah tangga petani yang digunakan kembali untuk bibit atau yang disimpan digudang (Soekartawi, 2002).

Pendapatan pada prinsipnya mempunyai sifat menambah atau menaikkan nilai kelayakan pemilik usaha, baik dalam bentuk penerimaan maupun tagihan.

Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya yang dikeluarkan.

Dapat disimpulkan bahwa yang di maksud dengan pendapatan adalah semua barang, jasa dan uang yang diperoleh atau diterima oleh seseorang atau masyarakat dalam suatu periode tertentu dan biasanya diukur dalam satu tahun.

Untuk mengatur tingkat pendapatan petani beberapa konsep dapat digunakan sebagai ukuran pendapatan usahatani antara lain:

1. Pendapatan Kotor Usahatani

Pendapatan kotor usahatani nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu yang meliputi seluruh produk yang dihasilkan baik yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, digunakan dalam usahatani seperti untuk bibit atau makanan ternak, digunakan untuk pembayaran dan untuk disimpan. Untuk

(20)

6 menghitung nilai produk tersebut, harus dikalikan dengan harga pasar yang berlaku, yaitu harga jual bersih ditingkat petani (Anonim, 2001)

2. Pendapatan Bersih Usahatani

Sementara pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara pendapatan kotor usahatani dengan pengeluaran total usahatani. Pendapatan usahatani dipengaruhi oleh penerimaan usahatani dan biaya produksi. Pendapatan usahatani ditentukan oleh harga jual produk yang diterima ditingkat produk maupun harga- harga faktor produksi yang dikeluarkan oleh petani sebagai produksi. Jika harga produk atau harga faktor produksi berubah pendapatan usahatani juga akan mengalami perubahan (Anonim, 2001)

Analisis Pendapatan mempunyai tujuan dan kegunaan bagi petani maupun bagi pemilik faktor produksi. Ada dua tujuan utama dari analisis pendapatan, yaitu menggambarkan keadaan sekarang suatu kegiatan usahatani dan menggambarkan keadaan yang akan datang dari perencanaan atau tindakan. Bagi seorang petani analisis pendapatan memberikan bantuan untuk mengukur apakah kegiatan usahanya pada saat ini berhasil atau tidak (Anonim, 2001)

2.2. Penerimaan

Penerimaan usahatani adalah jumlah yang diterima petani dari suatu proses produksi, dimana penerimaan tersebut didapatkan dengan mengalikan produksi dengan harga yang berlaku saat itu. Menurut Soeharjo dan Patong (1973), pendapatan yang besar bukanlah sebagai petunjuk bahwa usahatani efesiensi.

Suatu usahatani dikatakan layak apabila memiliki tingkat efesiensi penerimaan yang diperoleh atas setiap biaya dikeluarkan hingga mencapai perbandingan

(21)

7 tertentu. Kriteria kelayakan usahatani dapat diukur dengan menggunakan analisis penerimaan dan biaya (R/C ratio) yang didasarkan pada perhitungan secara finansial.

Analisis ini menunjukkan besar penerimaan usahatani yang diperoleh untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan akanmenghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biayaatau secara sederhana kegiatan usahatani menguntungkan. Sebaliknya kegiatanusahatani dikategorikan tidak layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih kecil dari satu, yang artinya untuk setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil dari pada tambahan biaya atau kegiatan usahatani merugikan.

Sedangkan untuk kegiatan usahatani yang memiliki nilai R/C ratio sama dengan satu berarti kegiatan usahatani berada pada keuntungan normal.

2.3. Biaya

Biaya usahatani adalah biaya yang dikeluarkan oleh seorang petani dalam proses produksi. Dalam hal ini biaya diklasifikasikan ke dalam biaya tunai (biaya riil yang dikeluarkan) dan biaya tidak tunai (diperhitungkan).

2.3.1. Biaya Produksi

Pengeluaran (biaya) dalam usahatani cabai rawit meliputi pengeluaran untuk membeli sarana produksi, upah tenaga kerja di luar keluarga, biaya untuk pembayaran pajak dan iuran subak serta pengeluaran tidak tunai (diperhitungkan) yakni biaya tenaga kerja dalam keluarga, biaya penyusutan alat-alat pertanian,dan bunga.

(22)

8 2.3.2. Biaya Penyusutan

Biaya penyusutan alat-alat pertanian yang digunakan untuk usahatani cabe merah dihitung dg metode Garis Lurus (Hernanto, 1989). Alat-alat pertanian yang dipergunakan dalam usahatani menyusut dalam besaran yang sama dalam setiap tahunnya. Dalam satu tahun tanam terdiri dari tiga musim tanam, sehingga nilai penyusutan per musim tanam diperoleh dari penyusutan per tahun dibagi tiga.

2.4. Usahatani

Menurut (Soerkartawi, 2006) ilmu usahatani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Usahatani adalah kegiatan usaha manusia untuk mengusahakan tanahnya dengan maksud untuk memperoleh hasil tanaman atau hewan tanpa mengakibatkan berkurangnya kemampuan tanah yang bersangkutan untuk memperoleh hasil selanjutnya (Adiwilaga, 2000). Menurut Mubyarto (2001) biaya usaha tani dibedakan menjadi :

1). Biaya tetap ( fixed cost ): biaya yang relatif tetap jumlahnya, dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit.

2). Biaya tidak tetap ( variabel cost ): biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh.

Pendapatan kotor usahatani atau penerimaan usahatani sebagai nilai produksi total usahatani dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Untuk menaksir komoditi atau produk yang tidak dijual, digunakan nilai berdasarkan harga pasaryaitu dengan cara mengalikan produksi

(23)

9 dengan harga pasar (Soekartawi dkk, 1986). Soeharjo dan Patong (1973) dan Hernanto (1989) menyatakan penerimaan usahatani dapat berupa:

1) hasil penjualan tanaman, ternak, ikan, atau produk yang akan dijual;

2) produk yang dikonsumsi pengusaha dan keluarganya selama melakukan kegiatan;

3) kenaikan nilai investasi.

Soeharjo dan Patong (1973) dan Mubyarto (2001) mengatakan bahwa berusahatani sebagai suatu kegiatan untuk memperoleh produksi di lapangan akan dinilai dari penerimaan yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan. Selisih antara penerimaan yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan merupakan pendapatan usahatani.

2.5. Cabai Rawit

Cabai rawit atau cabai kathur, adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dapat ditanam di dataran tinggi

maupun rendah, pH 5-6. Tumbuh di Indonesia dan juga tumbuh di berbagai negara, populer sebagai bumbu masakan di negara-negara Asia Tenggara, dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Thai pepper atau bird's eye chili pepper.

Buah cabai rawit berubah warnanya dari hijau menjadi merah saat matang.

Meskipun ukurannya lebih kecil daripada varitas cabai lainnya, ia dianggap cukup pedas karena tingkat kepedasannya mencapai 50.000 - 100.000 pada skala Scoville (ukuran tentang pedasnya Cabai. Cabai rawit mengandung minyak atsiri yang bersifat antibakteri. Benang putih tempat biji menempel juga mengandung zat capcaisin dan capsantin yang bersifat memanaskan.

(24)

10 Beberapa manfaat cabai rawit bagi kesehatan :

1. Mengatasi eksem 2. Rematik

3. Sakit perut

2.6. Kerangka Pikir

Gambar 1: Kerangka Pemikiran Analisis Pendapatan Petani Cabai di Desa Datara

Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

Petani Cabai Usahatani Cabai

Biaya

-Biaya Tetap - Biaya variabel

Penerimaan - Produksi - Harga Pendapatan Cabai

(25)

11 III.

METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto pada bulan November sampai bulan Desember 2014, pemilihan lokasi penelitian ini karena sebagian besar warga di Desa Datara berusahatani tanaman cabai rawit.

3.2. Populasi dan Sampel

Populasi ini adalah semua petani cabe di Desa Datara kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto yang mengembangkan cabe rawit sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang ditentukan berdasarkan persentase populasi yang dianggap dapat mewakili data hasil penelitian. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode sensus, yaitu semua populasi dijadikan sampel sebanyak 17 orang.

3.3. Teknik Pengambilan Data

Teknik dalam pengambilan data adalah sebagai berikut:

1. Observasi, pengambilan data dengan observasi langsung atau dengan pengamatan di lapangan.

2. Wawancara

Pengumpulan data dengan cara Tanya jawab dengan menggunakan kuesioner dan secara lisan dengan beberapa responden dan instansi terkait.

3. Dokumentasi yaitu mencatat sumber-sumber informasi dari pustaka, maupun instansi yang terkait dengan penelitian ini seperti pedoman petunjuk

(26)

12 pelaksanaan pengembangan peningkatan produksi cabai rawit di Kabupaten Jeneponto.

Adapun jenis dan sumber data yang digunakan sebagai berikut

1. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari responden dengan teknik wawancara menggunakan koesioner.

2. Data sekunder yaitu data yang dikumpulkan dari instansi yang terkait atau lembaga seperti kantor lurah atau kantor dinas pertanian.

3.4. Analisis Data

Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, yaitu analisis yang dilakukan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai faktor-faktor yang ada pada tempat penelitian tersebut.

Untuk menganalisis tingkat pendapatan petani cabai rawit dengan menggunakan rumus yang dikemukakan (Soekartawi, 2006).

1). Rumus Pendapatan Pd = TR – TC 2). Rumus Penerimaan

TR = Y . Py 3). Rumus Biaya TC = FC + VC 4). Rumus penyusutan

×

Jumlah alat

(27)

13 Keterangan:

Pd = Pendapatan petani cabai rawit (Rp) TR = Total revenue (penerimaan total) (Rp) TC = Total Cost (Biaya Total) (Rp)

TR = Total Penerimaan (Rp)

Y = Produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani Py = Harga (Rp)

TC = Total Biaya (Rp) FC = Biaya Tetap (Rp) VC = Biaya Variabel (Rp) X = Besarnya penyusutan (Rp/th).

Ns = Nilai sisa = 0 (Rp) Nb = Nilai pembelian.

3.4. Definisi Operasional

1. Petani adalah orang yang berusahatani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

2. Usahatani adalah proses pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu alam, tenaga kerja, modal, dan pengelolaan yang diusahakan oleh petani cabai rawit untuk menghasilkan output yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga ataupun orang lain disamping bermotif mencari keuntungan.

3. Analisis Pendapatan adalah analisis di gunakan untuk menghitung pendapatan petani cabai rawit.

(28)

14 4. Biaya produksi adalah biaya yang dipakai selama proses produksi, baik biaya

tetap maupun biaya variabel.

5. Penerimaan adalah nilai yang diperoleh petani berupa (Rp) yang didapatkan dari produksi (Kg) dan harga/Kg.

6. Total biaya adalah jumlah dari biaya tetap (FC) dan biaya tidak tetap (VC) (Rp)

7. Biaya tetap adalah biaya produksi yang tidak tergantung pada output barang yang diproduksi (Rp) yaitu pajak lahan dan Nilai penyusutan alat

8. Biaya Variabel adalah biaya yang tinggi rendahnya mempengaruhi produksi, yaitu benih, pupuk organik, tenaga kerja (pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen).

(29)

15

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1. Letak Geaografis Desa

Desa Datara adalah salah satu Desa yang ada di Kabupaten Jeneponto batas wilayah:

a. Sebelah Utara Desa Bululoe b. Sebelah Selatan Desa Tanjonga

c. Sebelah Barat Desa Barayya dan Tanamawang d. Sebelah Timur Desa Manggepong

4.2. Keadaan Iklim dan Topografi

a. Pemukiman : 27 ha b. Perkebunan : 485 ha

c. Persawahan : 311 ha ( semuanya sawah tadah hujan )

Jenis tanah yaitu tanah liat adapun mengenai kesuburan tanah cukup bagus, namun karena curah hujan dan sarana irigasi yang kurang mendukung ditambah dengan munculnya serangan hama sehingga mengakibatkan hasil panen masyarakat berkurang. Jenis tanaman yang biasa ditanam oleh masyarakat Desa Datara yaitu: Jagung, padi, bawang merah, lombok, kacang hijau, ubi kayu, kacang tanah.

4.3. Keadaan Penduduk

Keadaan penduduk yang ada di Desa Datara adalah mayoritas adalah petani. Namun penduduk di Desa tersebut ada yang memiliki jumlah penduduk yang banyak namun ada juga yang sedikit dimana disini penduduk di dusun

(30)

16 Butaleleng mempunyai jumlah penduduk yang paling banyak dan yang paling sedikit adalah dusun Camba-camba.

4.3.1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Jumlah penduduk di Desa Datara menurut jenis kelamin yaitu kebanyakan penduduknya adalah perempuan. Keadaan penduduk Desa Datara berdasarkan jenis kelamin dapat diuraikan pada Tabel 1

Tabel 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

No Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 2

Laki-Laki Perempuan

2018 2048

49,63 50,37

Jumlah 4066 100,00

Sumber : Kantor Desa Datara Tahun, 2014.

Pada Tabel 1 terlihat bahwa jumlah penduduk yang paling banyak terletak di dusun batule’leng dengan jumlah 988 jiwa, selanjutnya dusun batu-batua dengan jumlah 816 jiwa, dusun karampuang 813 jiwa, dusun tamasongo 758 jiwa, dusun camba-camba 691 jiwa. Kemudian jika dilihat secara keseluruhan jumlah jiwa laki-laki dan perempuan sedikit terpaut lebih banyak jumlah jiwa perempuan dibandingkan laki-laki yaitu perempuan 2048 jiwa sedangkan laki-laki 2018 jiwa

4.3.2. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto

Tingkat pendidikan merupakan pendidikan yang ditempuh oleh seseorang untuk lebih menambah pengetahuannya dimana tingkat pendidikan dimulai dari TK, SD, SMP, SMA dan sampai perguruan tinggi. Namun tingkat

(31)

17 pendidikan yang ada di Desa Datara masih tergolong rendah itu disebabkan karena faktor ekonomi yang kurang mendukung.

Tabel 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

No Tingkat pendidikian Jumlah( Orang) Persentase (%) 1

2 3 4

SD SMP SMA Sarjana

394 125 66 22

64,90 20,60 10,88 3,62

Jumlah 607 100,00

Sumber : Kantor Desa Datara Tahun, 2014.

Tingkat pendidikan yang jumlah banyak adalah tingkat pendidikan SD dengan Persentase 64, 90% sedangkan tingkat pendidikan yang paling rendah adalah perguruan tinggi (Sarjana) dengan persentase 3,62%. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan yang ada di Desa Datara masih tergolong rendah.

4.3.3. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto

Mata pencaharian merupakan usaha seseorang yang dilakukan untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Di mana yang berperan di sini untuk memenuhi kebutuhan keluarganya adalah kepala keluarga yang ada pada satu rumah.

Jumlah penduduk menurut mata pencaharian di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto sangatlah bervariasi dimulai dari pengawai, tukang, pengrajin, pengusaha, dan petani. Jumlah penduduknya menurut mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 3.

(32)

18 Tabel 3. Mata pencaharian penduduk Desa Datara sebagai berikut.

No Mata Pencaharian Jumlah (Orang) Persentase (%) 1

2 3 4 5

Pegawai Tukang Pedagang Wiraswasta

Petani

24 211

8 6 899

2,09 18,38 0,60

0,52 78,31

Jumlah 1.148 100, 00

Sumber : Kantor Desa Datara Tahun, 2014.

Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa yang mendominasi kegiatan masyarakat adalah petani dengan jumlah 899 dengan persentase 78, 31 % orang dan yang paling rendah wiraswasta adalah 6 orang

dengan persentase 0,52 %. Hal ini dikarenakan penduduk yang ada di Desa Datara adalah kebanyakan petani.

4.4. Keadaan Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana adalah semua alat alat yang di miliki di Desa tersebut. Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Desa Datara dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Sarana dan Prasarana di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto

No Sarana dan Prasarana Jumlah

(Unit)

Persentase (%) 1

2 3

Pendidikan a. SD b. TK

Peribadatan a. Mesjid

Kesehatan a. Puskesmas

3 3 6 1

23,08 23,08 46,14 7,70 Sumber : Kantor Desa Datara Tahun, 2014

Berdasarkan data tersebut di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto memiliki sarana pendidikan yaitu SD 3 unit dengan persentase 23,08 % , TK 3 unit dengan persentase 23,08 %, Sarana peribadatan

(33)

19 yaitu mesjid 6 unit dengan persentase 46,14 % dan di Desa Datara memiliki 1 unit puskesmas dengan persentase 7,70 % .

(34)

20

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Identitas Responden

Petani responden merupakan salah satu cara untuk mengenali ciri-ciri yang dimiliki oleh petani tersebut. Untuk itu pada penelitian ini akan membahas petani responden yang meliputi umur, pendidikan, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan keluarga dan luas lahan.

5.1.1. Umur

Salah satu faktor yang menentukan petani dalam melakukan usahataninya adalah umur, umur sangat mempengaruhi kemampuan fisik bekerja dan cara berfikir, pada umumnya petani yang berusia muda dan sehat mempunyai fisik yang lebih kuat dan cepat menerima informasi dan inovasi baru. Hal ini disebabkan karena petani yang berumur muda lebih berani menanggung resiko walaupun petani tersebut masih kurang pengalaman sehingga untuk menutupi kekurangannya maka petani yang muda bertindak lebih dinamis. Sebaliknya petani yang umurnya relatif tua mempunyai kapasitas pengelolaan usahatani yang lebih matang karena banyak pengalaman yang dialaminya, sehingga berhati-hati dalam bertindak untuk melakukan suatu usahatani. Untuk mengetahui jumlah petani responden berdasarkan tingkat umur pada petani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto dilihat pada Tabel 5.

(35)

21 Tabel 5. Jumlah Petani Responden Berdasarkan Tingkat Umur Pada Petani Cabai Rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

Umur Jumlah (Orang) Persentase (%)

22- 30 4 23,52

31- 39 3 17,64

40- 48 3 17,64

49-57 5 29,41

58-66 2 11,76

Jumlah 17 100,00

Sumber: Data primer setelah diolah, 2014

Tabel 5 menunjukkan bahwa umur 49-57tahun yaitu 5 petani responden dengan jumlah persentase (40 %) merupakan petani responden terbanyak berdasarkan tingkat umur yang ada di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto petani masih berada dalam usia produktif.

5.1.2. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan formal petani turut pula mempengaruhi cara berfikir petani di dalam pengolaan usahatani terutama yang menyangkut pengambilan keputusan atau menerima suatu hal yang masih baru baginya. Makin tinggi tingkat pendidikan petani makin banyak informasi yang didapatkan dalam hubungannya dengan usahataninya juga lebih resfonsif terhadap penggunaan teknologi yang baru. Untuk mengetahui jumlah petani responden berdasarkan tingkat pendidikan pada petani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto dilihat pada Tabel 6.

(36)

22 Tabel 6. Jumlah Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pada Petani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)

SD 14 82,00

SMP 1 6,00

SMA 2 12,00

Jumlah 17 100,00

Sumber: Data primer setelah diolah, 2014

Tabel 6 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan petani responden di Desa Datara yang paling rendah adalah SMP sebanyak 1 orang (6 %). Semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi pula kreativitas petani dalam meningkatkan mutu usahataninya. Petani yang tingkat pendidikannya masih rendah kurang menunjukan kurangnya melakukan inovasi dalam usahataninya.

5.1.3. Pengalaman Berusahatani

Pengalaman berusahatani dibidang pertanian bagi seseorang akan berpengaruh besar terhadap kesuksesan atau keberhasilan usahatani terutama dalam pengambilan keputusan dalam proses usahataninya. Bertolak dari pengalaman berusahatani tersebut maka dapat dijadikan sebagai pelajaran bahwa pada umumnya semakin banyak pengalaman maka dapat berpengaruh terhadap peningkatan produksi dan keuntungan petani. Untuk mengetahui jumlah petani responden berdasarkan pengalaman berusahatani pada petani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto dilihat pada Tabel 7

(37)

23 Tabel 7. Jumlah Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Berusahatani Pada Petani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

Pengalaman Berusahatani

(tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

5-13 2 11,76

14-22 6 35, 29

23-31 7 41,17

32-40 1 5,88

41-49 1 5,88

Jumlah 17 100,00

Sumber: Data primer setelah diolah, 2014

Berdasarkan tabel tabel 7 menunjukkan bahwa pengalaman berusahatani petani cabai rawit di Desa Datara yang berada 23-31tahun sebanyak 7 orang (41,17 %) merupakan jumlah terbesarl dari pengalaman berusahatani.

5.1.4. Luas Lahan

Luas lahan salah satu modal kerja dalam usahatani adalah luas lahan garapan. Luas pengusaan lahan selalu berhubungan dengan pemanfaatan lahan secara optimal guna menghasilkan manfaat ekonomi. Hasil ini tidak terlepas dari teknologi yang diterapkan. Untuk mengetahui jumlah petani responden berdasarkan luas lahan pada petani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto dilihat pada Tabel 8

Tabel 8. Jumlah Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Pada Petani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

Luas Lahan Jumlah (Orang) Persentase (%)

0,1 – 0,2 6 35

0,3– 0,4 7 41

0,5 – 0,7 4 24

Jumlah 17 100

Sumber: Data primer setelah diolah, 2014

(38)

24 Petani responden di Desa Datara yang memiliki luas lahan tertinggi sebesar 0,3– 0,4 hektar sebanyak 7 orang petani responden (41 %) jumlah luas lahan akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan pelaksanaan suatu usahatani.

5.1.5. Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga petani responden mempunyai peranan yang cukup besar terhadap ketersediaan tenaga kerja, tetapi dilain pihak menyebabkan tingginya biaya hidup yang harus dilakukan setiap harinya. Jumlah tanggungan keluarga dapat mendorong petani terutama pada usahatani yang masih bertujuan untuk mencukupi kebutuhan untuk selalu mengarahkan produksinya pada pemenuhan kebutuhan keluarga dengan demikian jumlah tanggungan keluarga merupakan salah satu pendorong bagi petani untuk meningkatkan usahataninya.

Untuk mengetahui jumlah petani responden berdasarkan tanggungan keluarga pada petani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Jumlah Petani Responden Berdasarkan Tanggungan Keluarga Pada Petani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto

Tanggungan Keluarga Jumlah (Orang) Persentase (%)

2 – 4 12 64,00

5 – 6 3 18,00

7 – 8 2 18,00

Jumlah 17 100,00

Sumber: Data primer setelah diolah, 2014

Tabel 9 menunjukkan bahwa petani responden terbanyak berdasarkan jumlah tanggungan keluarga di Desa Datara antara 2-4 adalah 11 petani responden (64% ) Jumlah tanggungan keluarga akan berpengaruh terhadap pengalambilan keputusan pelaksanaan suatu usahatani dan jumlah tanggungan

(39)

25 keluarga merupakan potensi tenaga kerja usahatani apabila tenaga tersebut merupakan tenaga yang produktif, namun sebaliknya dapat pula sebagai beban bagi keluarga apabila tenaga tersebut bukan tenaga kerja produktif.

5.2. Analisis Usahatani Cabai Rawit 5.2.1. Penerimaan Usahatani Cabai Rawit

Semua komponen penerimana pada usahatani cabai rawit dapat diperoleh dari jumlah produksi yang dihasilkan dikali dengan harga jualnya namun karena di Desa Datara sistem jualnya perkilo sehingga petani langsung dari hasil tawar menawar antara petani dengan pedagang pengumpul. Penerimaan yang diperoleh petani untuk setiap hektarnya bervariasi tergantung dari kualitas cabai rawit yang dihasilkan serta tergantung dari harga jual cabai rawit, artinya meskipun lahan yang di tanami cabai rawit luas tetapi cabai rawit yang dihasilkan itu kualitasnya rendah (terlalu masak dan cepat membusuk) maka akan mengurangi harga beli cabe rawit (dibeli dengan harga murah) , sebaliknya ketika luas lahan yang ditanami cabai rawit sempit tetapi kualitas cabai rawit bagus maka akan dibelidengan harga tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya rata-rata penerimaan Usahatani Cabe Rawit di Desa Datara berkisar Rp 14,882,352.94.

5.2.2. Biaya Produksi Usahatani Cabai Rawit

Biaya produksi adalah seluruh pengeluaran untuk membiayai proses produksi dalam usahatani cabai rawit. Biaya yang dihitung dalam penelitian ini adalah biaya yang dikeluarkan selama satu kali tanam yang digolongkan ke dalam biaya tetap dan biaya variable.

(40)

26 1. Biaya variabel

Biaya variable yaitu biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh hasil produksi. Biaya ini meliputi, biaya ini meliputi, biaya pengadaan benih, biaya pupuk, dan alat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel 10. Rata-rata biaya variable petani responden pada usahatani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

No Jenis Biaya Nilai Rata-rata (Rp)/Petani

1 Benih 37.050

2 Pupuk 724.764,71

3 Biaya tenaga kerja 3.008.823,52

Total Rata-rata biaya variabel 3.770.638 Sumber: data primer setelah diolah, 2015

Pada tabel 10, menunjukkan rata-rata biaya variable usahatani cabai rawit/petani adalah Rp 3.770.638 Petani cabe rawit selama satu kali tanam mngeluarkan biaya untuk pengadaan benih sebesar Rp 37.050 Biaya pupuk sebesar Rp 724.764,71 biaya tenaga kerja sebesar Rp 3.008.823,52

2. Biaya tetap

Biaya tetap adalah biaya yang dipergunakan tidak habis dalam satu kali tanam dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit, bsar biaya tidak tergantung pada besar kecilnya biaya produksi yang diperoleh, yang termasuk biaya tetap yaitu pajak serta penyusutan alat. Penyusutan yang dihitung adalah berdasarkan alat-alat milik sendiri.

(41)

27 a. Pajak lahan

Biaya pajak lahan di Desa Datara bervariasi tergantung dari besar luas lahan yang dimilki oleh petani, berdasarkan penelitian ini jumlah rata- rata pajak per tahun yaitu sebesar Rp 331,470,05.

b. Penyusutan alat

Untuk biaya penyusutan alat dihitung berdasarkan kepemilikan dari petani cabai rawit. Dalam penelitian ini yang akan dihitung adalah cangkul, parang, dan sabit. Rata-rata umur ekonomis yaitu mencapai 2 hingga 6 tahun dan biaya rata-rata untuk penyusutan alatnya Rp 40.529,41 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 11. Rata-rata biaya tetap petani responden pada usahatani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

No Jenis Biaya Nilai Rata-rata (Rp)

1 Pajak 331.470,05

2 Penyusutan

- cangkul 12.058,82

- parang 19.117,64

- sabit 9.352,94

Rata-rata biaya tetap 371.999,45

Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2015

Pada tabel 11 menunjukan bahwa, rata-rata biaya pajak pada usahatani cabai rawit di Desa Dtara Kecamatan Bonto Ramba Kabupaten Jeneponto Rp 331.470,05 per petani dan biaya rata-rata penyusutan alat sebesar Rp 40.529,41.

Biaya penyusutan di atas diperoleh dari pengurangan nilai awal dengan nilai akhir dibagi dengan waktu pemakaian di kali dengan jumlah alat, sedangkan

(42)

28 perhitungan pajak diperoleh dari lahan pertahun di bagi dengan jamgka satu kali tanam.

3. Total biaya produksi

Total biaya produksi adalah jumlah dari biaya tetap ditambah dengan jumlah biaya variable, sedangkan dalam penelitian ni yaitu jumlah dari biaya pajak dan penyusutan alat di tambah dengan biaya pengadaan benih, pupuk, dan alat.

Tabel 12 Rata-rata Biaya produksi petani responden pada usahatani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto

No Jenis Biaya Nilai (Rp)

1 Biaya Tetap

- pajak 331.470,05

- penyusutan alat 40.529,41

Jumlah 371.999,45

2 Biaya Variabel

- benih 37.050

- pupuk 724.764,71

- biaya tenaga kerja 3.008.823,52

Jumlah 3.733.588,23

Total Rata-rata Biaya Produksi 4.105.587,68 Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2015

Tabel 12 menunjukkan bahwa biaya variabel sebesar Rp 64.101,000 kemudian biaya tetap sebesar Rp 6.324,000 sehingga jumlah total biaya produksi sebsar Rp 70.425,000 Penerimaaan merupakan hasil kali jumlah produksi cabai rawit, namun karena di Desa Datara sistem jualnya per kilo sehingga petani langsung menjualnya ke pedagang pengumpul dengan harga yang telah disepakati

(43)

29 antara petani dan pembeli, dimana rata-rata penerimaan petani responden adalah Rp 14.882.352,94 sekali tanam.

5.2.3. Analisis Pedapatan Usahatani Cabe Rawit

Pendapatan merupakan hail dari suatu usaha yang akan dinilai dari biaya yang akan dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh, dengan cara penerimaan yang diperoleh dikurang dengan total biaya yang digunakan dalam proses produksi. Hasil analisis pendapatan usahatani cabai rawit dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 13. Analisis pendapatan usahatani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.

No Uraian Nilai (Rp)

1 Total rata-rata penerimaan 14.882.352,94

2 Total rata-rata biaya 3.365.308,32

Rata-rata pendapatan 10.549.941,17

Sumber:Data Primer Setelah Diolah, 2015

Berdasarkan tabel 13 menunjukkan bahwa total penerimaan sebesar Rp.

273.000,000, total biaya sebesar Rp 63.471.000 Jadi, jumlah total rata-rata penerimaan dikurangi total rata-rata biaya sehingga diperoleh pendapatan rata-rata sebesar Rp 10.549.941,17 Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk setiap petani di Desa Datara untuk satu kali tanam sebesar Rp 10.549.941,17.

(44)

30

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto, maka diperoleh kesimpulan yaitu hasil penelitian menunjukkan besarnya pendapatan rata-rata usahatani cabai rawit yaitu sebesar Rp. 10.549.941,17/ orang, maka usahatani cabai rawit yang di Desa Datara Kecamatan Bonto Ramba Kabupaten Jeneponto sangat layak untuk diusahakan.

6.2. Saran

Adapun saran untuk membantu usahatani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto yaitu sebagai berikut:

1. Pemanfaatan lahan setelah tanam padi untuk budidaya tanaman cabai rawit dapat ditingkatkan luasan dan teknologi budidaya agar lahan sawah tersebut dapat memberikan penghasilan tambahan bagi petani setempat.

2. Kepada peneliti selanjutnya agar kiranya diadakan penelitian tentang analisis pendapatan cabai lainnya agar dapat diketahui kelayakan usahatani tanaman jenis cabai/ Lombok yang lain.

3. Sebaiknya pemerintah memberikan kebijaksanaan harga jual layak serta bantuan alat-alat pertanian sehingga dapat memberikan keuntungan yang lebih baik bagi petani.

(45)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2001. Analisis. http://www google. Diakses Tanggal 28 April 2014.

Anonim, 2010. Teknologi Budidaya Tanaman Cabe. http://www.google.com.

Budidaya jagung. Diakses Tanggal 28 April 2014.

Departemen Pertanian. 2005. Tersedia pada http://www. Pembangunan pertanian di Indonesia.go.id./news/detail.go.id. Diakses Tanggal 30 April 2014.

Husodo, 2004. Pertanian Mandiri ; Pandangan Strategis Para Pakar untuk Kemajuan Pertanian Indonesia. Penebar Swadaya. Jakarta.

Hermanto, Fadhoi. 1989. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya Jakarta

Mubyarto. 2001. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia (UI - Press).

Jakarta.

Patong. 1973. Sendi-Sendi Pokok Ilmu Usahatani.Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor

Prawikusumo, 2000. Usahatani Jagung. Rieka Cipta, Jakarta.

Rahim, Abd dan Diah R.D. Pengantar, Teori dan Kasus Ekonomika Pertanian.

Penerbar Swadaya. Jakarta.

Soekartawi, 2002. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia. Jakarta.

Soekartawi, 2006. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Ui Press, Jakarta.

(46)
(47)

Lampiran 1. Kuesioner penelitian analisis pendapatan petani cabai rawit di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto

I. Identitas Responden 1. Nama……….

2. Umur ……… Tahun 3. Pendidikan Formal :

a. Buta Huruf c. SLTP/SMP

b. SD d. SLTA/SMA

4. Pekerjaan Pokok :

a. Petani c. Pegawai Negri

b. Pedagang/Wiraswasta d. ………

5. Pekerjaan Sampingan :

6. Pengalaman Usahatani :……….. Tahun 7. Tanggungan Keluarga :……… Tahun II. Keadaan Usahatani

1. Jenis lahan yang ditanami :

No. Bentuk Lahan Luas lahan yang ditanami (Ha) Jumlah (Ha) 1. Sawah

Jumlah

(48)

2. Jenis alat yang dimiliki :

No.

Jenis Alat

Jumlah (Rp) Nilai Baru (Rp)

Nilai Sekarang (Rp)

Lama Pemakaian (Tahun) 1. Cangkul

2. Parang 3. Sabit 4. Sprayer

Jumlah

III. Penggunaan Sarana Produksi 1. Penggunaan Benih

No. Varietas Benih Benih (Gr) Harga (Rp/Gr) Jumlah (Rp) 1.

Jumlah

2. Penggunaan Pupuk

No. Jenis Pupuk Pupuk (Kg) Harga (Rp/Gr) Jumlah (Rp) I Organik :

- Pupuk kompos - Pupuk organik Cair II Anorganik :

- Urea - ZA

Jumlah

(49)

3. Biaya Tenaga Kerja

No. Jenis Kegiatan Jumlah (Orang)

Waktu Kerja (Hari)

Upah Kerja (Rp)

Jumlah Upah (Rp) 1. Pengolaha Lahan

2. Penanaman 3. Pemeliharaan 4 Panen Jumlah

IV. Penerimaan Usahatani

No. Jenis Tanaman Luas (Ha) Produksi (Kg)

Harga (Rp/buah)

Nilai (Rp) 1. Cabai rawit

Jumlah

(50)

Lampiran 2. Identitas Responden di Desa Datara Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto

No Nama Umur

( Tahun)

Jenis kelamin

Tingkat pendidikan

Pengalaman bertanani

Jumlah tanggungan keluarga

Luas Lahan

(Ha)

1 Sawing 30 L SD 15 7 0,5

2 MMuqtadir. 22 L SMA 5 2 0,2

3 Haboddin 53 L SD 30 3 0,3

4 Sewang 27 L SD 12 5 0,4

5 Saharu 30 L SD 15 3 0,1

6 Kulle 55 L SD 30 2 0,3

7 Hindi 38 L SD 25 4 0,2

8 Patta 40 L SMA 15 2 0,4

9 Mangnga 43 L SD 25 6 0,6

10 Sa’eng 60 L SD 45 2 0,5

11 Baharu 49 L SD 30 8 0,7

12 Buddin 50 L SD 25 5 0,5

13 Lasman 35 L SD 20 2 0,4

14 Yake 65 L SD 35 2 0,3

15 Talla 55 L SD 20 1 0,2

16 Seha Puni 48 L SMP 25 3 0,1

17 Khairuddin 34 L SD 22 3 0,4

(51)

Lampiran 3. Penerimaan dari usahatani cabai rawit di Desa Datara Kecamata Bonto Ramba Kabupaten Jeneponto.

No. Res Luas Lahan Ha

Jumlah Produksi Cabe Rawit Kg

Harga Cabe Rawit/ kg Rp

Total Harga Cabe Rawit Rp

1 0,5 3.000 25.000 75.000.000

2 0,2 1.200 25.000 30.000.000

3 0,3 1.800 25.000 45.000.000

4 0,4 2.400 25.000 60.000.000

5 0,1 6.00 25.000 15.000.000

6 0,3 1.800 25.000 45.000.000

7 0,2 1.200 25.000 30.000.000

8 0,4 2.400 25.000 60.000.000

9 0,6 3.600 25.000 90.000.000

10 0,5 3.000 25.000 75.000.000

11 0,7 4.200 25.000 105.000.000

12 0,5 3.000 25.000 75.000.000

13 0,4 2.400 25.000 60.000.000

14 0,3 1.800 25.000 45.000.000

15 0,2 1.200 25.000 30.000.000

16 0,1 6.00 25.000 15.000.000

17 0,4 2.400 25.000 60.000.000

Jumah 6,1 36.600 425.000 915.000.000

Rata-Rata 0,35 2.152,94 25.000 53.823.529,41

(52)

Lampiran 4. Biaya Tenaga Kerja

Pengolahan Lahan Pemeliharaan Panen Total Upah

No. res Luas (Rp) lahan (Ha)

Hari kerja

Jam kerja

Jumlah tenaga kerja (Orang)

Upah/hari (Rp)

Jumlah Upah (Rp)

Hari kerja

Jam kerja

Jumlah tenaga kerja (Orang)

Upah/hari (Rp)

Jumlah Upah (Rp)

Hari kerja

Jam kerja

Jumlah tenaga kerja (Orang)

Upah/hari (Rp)

Jumlah Upah (Rp)

1 0,5 5 3 4 50.000 1.000.000 3 3 4 30.000 360.000 4 4 5 25.000 500.000 1.860.000

2 0,2 4 3 2 50.000 400.000 2 1 2 30.000 120.000 2 3 2 25.000 100.000 620.000

3 0,3 4 3 4 50.000 800.000 3 2 3 30.000 270.000 3 4 3 25.000 225.000 1.295.000

4 0,4 5 3 3 50.000 750.000 3 3 5 30.000 750.000 4 5 5 25.000 500.000 2.000.000

5 0,1 4 4 2 50.000 400.000 3 2 5 30.000 750.000 3 2 5 25.000 375.000 1.525.000

6 0,3 4 3 4 50.000 800.000 3 2 3 30.000 270.000 3 4 3 25.000 225.000 1.295.000

7 0,2 4 4 2 50.000 400.000 2 1 2 30.000 120.000 2 4 2 25.000 100.000 620.000

8 0,4 5 4 3 50.000 750.000 3 3 3 30.000 270.000 4 3 5 25.000 500.000 1.520.000

9 0,6 5 2 4 50.000 1.000.000 4 3 4 30.000 480.000 4 5 5 25.000 500.000 1.980.000

10 0,5 5 3 3 50.000 750.000 3 3 4 30.000 360.000 4 4 5 25.000 500.000 1.610.000

11 0,7 5 3 4 50.000 1.000.000 2 1 4 30.000 240.000 2 5 5 25.000 250.000 1.490.000

12 0,5 5 3 4 50.000 1.000.000 3 3 3 30.000 270.000 4 4 5 25.000 500.000 1.770.000

13 0,4 5 2 3 50.000 750.000 3 3 3 30.000 270.000 4 3 5 25.000 500.000 1.520.000

14 0,3 4 3 4 50.000 800.000 3 2 3 30.000 270.000 3 3 3 25.000 225.000 1.295.000

15 0,2 4 4 2 50.000 400.000 2 1 2 30.000 120.000 2 3 2 25.000 100.000 620.000

16 0,1 4 3 2 50.000 400.000 3 2 4 30.000 360.000 3 2 5 25.000 375.000 1.135.000

17 0,4 5 2 3 50.000 750.000 4 3 4 30.000 480.000 4 4 5 25.000 500.000 1.730.000

Jumlah 6.1 77 52 53 850.000 12.150.000 49 38 58 510.000 5.760.000 55 62 70 425.000 5.750.000 23.885.000

Rata-rata 0.35 4.52 3,05 3,11 50.000 714.705,88 2,88 2,23 3,41 30.000 338.823,52 3,23 3,64 4,11 25.000 338.235,29 1.405.000

Gambar

Tabel 1.  Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Datara Kecamatan     Bontoramba Kabupaten Jeneponto
Tabel  2.  Jumlah  Penduduk  Berdasarkan  Tingkat  Pendidikan  di  Desa  Datara  Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto
Tabel 4. Sarana dan Prasarana di Desa Datara Kecamatan Bontoramba  Kabupaten  Jeneponto
Tabel  5  menunjukkan  bahwa  umur  49-57tahun  yaitu  5  petani  responden  dengan  jumlah  persentase  (40  %)  merupakan  petani  responden  terbanyak  berdasarkan  tingkat  umur  yang  ada  di  Desa  Datara    Kecamatan  Bontoramba  Kabupaten Jeneponto
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan dari hasil penelitian, maka diperoleh hasil bahwa penerimaan Rp 6.038.383,15/ha biaya Rp 1.899.340,665/ha sehingga diperoleh pendapatan sebesar Rp 4.139.042,485/ha di

Berdasarkan uraian ini maka permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah berapa besar kontribusi pendapatan sektor informal pada pendapatan rumah tangga

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi pola permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana kearifan lokal sistem bagi hasil dan pendapatan usaha tani

Berdasarkan latar belakang yang ada, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah perbandingan pendapatan petani pala pada berbagai saluran pemasaran

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Usahatani Cabai Rawit di Desa Galesong Kota Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar yang diperoleh

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pendapatan dan kelayakan usahatani cabai rawit di Desa Kesambi Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus.. MATERI DAN METODE Lokasi dan

Berdasarkan dari uraian latar belakang diatas maka masalah yang akan diambil dalam penelitian ini adalah Bagaimana dampak alih fungsi lahan terhadap pendapatan petani di

c Pendapatan Sampingan Pendapatan sampingan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendapatan yang diperoleh petani dari pendapatan diluar usahatani cabai rawit maupun dliuar