PROPOSAL USULAN PENELITIAN
UJI EFEKTIVITAS ANTIMIKROBA BIJI MINDI (Melia azedaracht L) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus DAN
Pseudomonas aeruginosa DENGAN METODE DIFUSI CAKRAM
NAMA LENGKAP D1A……….
PEMBIMBING I : ……… (...) PEMBIMBING II : ……… (...)
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara beriklim tropis dengan keadaan udara yang berdebu, kondisi temperatur dan kelembaban yang sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan mikroba patogen, mengakibatkan infeksi penyakit yang disebabkan mikroba dapat tumbuh subur. Hal ini mendorong pentingnya penggalian sumber obat-obatan antimikroba selain antimikroba sintetik yaitu dari bahan alam. Bahan alam di tanah air telah banyak dimanfaatkan baik sebagai obat maupun tujuan lain atau yang dikenal dengan istilah back to nature.
Tanaman obat mampu mensintesis dan mengakumulasi beberapa metabolit sekunder yang memiliki efek terapeutik, salah satunya yaitu sebagai antibakteri.
Senyawa antibakteri diperlukan untuk menanggulangi penyakit infeksi yang
semakin meningkat akibat semakin mudahnya tingkat persebaran bakteri seperti Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus (Nurfadilah, 2013)
Bakteri Staphylococcus aureus bersifat patogen dapat menimbulkan penyakit infeksi dan menghasilkan eksotoksin yang mempengaruhi sel-sel saluran pencernaan (Pratiwi, 2008). Staphylococcus aureus sering menimbulkan penyakit dengan tanda-tanda khas, yaitu peradangan, nekrosis, dan pembentukan abses. Pseudomonas aeruginosa termasuk bakteri gram negatif aerob obligat, berkapsul, mempunyai flagella polar sehingga bakteri ini bersifat motil, berukuran sekitar 0,5-1,0 µm. Bakteri ini tidak menghasilkan spora dan tidak dapat menfermentasikan karbohidrat. Bakteri ini merupakan penyebab utama infeksi pneumonia nosokomial.
Salah satu tanaman obat yang banyak tumbuh di Indonesia adalah mindi (Melia azedarach L). Tanaman ini dapat tumbuh di Indonesia yang beriklim tropis. Dalam kehidupan sehari-hari tanaman mindi sering digunakan secara tradisional sebagai obat malaria, diabetes, batuk, penyakit kulit, dan lain-lain.
Tanaman Mindi (Melia azedaracht L.) Daun dan kulit mindi menghasilkan ekstrak dengan kadar yang tinggi. Tingginya kadar ekstrak daun diduga karena adanya senyawa klorofil yang ikut terekstrak (Harborne, 1987). Penelusuran pustaka menunjukkan bahwa daun mindi mengandung alkaloid paraisina, flavonoid rutin, zat pahit, saponin, tanin, steroida, dan kaemferol. Penelitian lain menyatakan bahwa ekstrak daun mindi memiliki aktivitas sebagai antioksidan, analgesic dan antibakteri.
Berdasar uraian di atas, maka perlu dilakukan uji aktivitas antibakteri pada biji mindi. Dengan uji aktivitas antibakteri biji mindi (Melia azedarach L) terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa, dalam rangka membuktikan adanya kandungan antibakteri dalam biji mindi (Melia azedarach L). Penelitian ini dilakukan secara in vitro dengan metode difusi cakram, kemudian daya hambat diukur dengan menggunakan jangka sorong terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dapat dijabarkan rumusan masalah sebagai berikut :
a. Apakah ekstrak Biji Mindi (Melia azedarach L), memiliki efek daya hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa ;
b. Manakah konsentrasi Biji Mindi (Melia azedarach L). yang paling berpengaruh terhadap efek pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud dan Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektivitas daya hambat ekstrak biji Mindi (Melia azedarach L) pada konsentrasi tertentu sebagai antibiotic alami pada pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.
1.3.2 Maksud dan Tujuan Khusus
Untuk mengetahui perbedaan antara konsentrasi 25%, 50%, 75%, 100% yang paling efektif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi menambah pengetahuan, literatur, pengalaman, studi banding dan pemikiran untuk perkembangan dalam ilmu Kesehatan khususnya bidang mikrobiologi seperti uji pemeriksaan antimikroba patogen, dalam hal ini bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.
1.4.2 Manfaat Praktis 1. Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan baru bagi masyarakat khususnya dalam aplikasi penggunaan produk antibiotic herbal yang lebih aman, tepat sasaran, efektif, dan efisien.
2. Penulis
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan atau bahan perbandingan bagi peneliti lainnya untuk melakukan dengan metoda lainnya.
1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian 1.5.1 Waktu Penelitian
Waktu Penelitian dimulai bulan Maret tahun 2021, yang diawali dengan penyusunan perencanaan (penyusunan proposal penelitian), sampai dengan penyusunan laporan akhir di bulan Mei-Juni 2021.
1.5.2 Tempat Penelitian
Lokasi penelitian akan dilaksanakan di Laboratorium Bahan Alam Farmasi dan Laboratorium Farmakologi Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Al-Ghifari Bandung.
1.6 METODOLOGI PENELITIAN 1.6.1 Pengumpulan Bahan Tanaman
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Biji Mindi (Melia azedarach L) yang diperoleh dari kebun yang terletak di Dusun Sawahmuncang RT 01 RW10 Desa Cikaramas Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang Propinsi Jawa Barat.
1.6.2 Determinasi Tanaman
Determinasi tumbuhan dilakukan di Laboratorium Taksonomi Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universtas Padjadjaran Kampus Jatinangor Sumedang. Bahan yang di determinasi adalah tumbuhan Mindi mulai dari akar, batang, daun dan buah/biji dengan tujuan
untuk menentukan dan memastikan suatu spesies tumbuhan dengan tepat yaitu Mindi (Melia azedarach L)
1.6.3 Penyiapan Alat dan Bahan a. Alat Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cawan petri, tabung reaksi, jarum oase, tabung erlemeyer, bunsen, kapas steril, pipet ukur, pipet tetes, incubator, push ball, beaker glass, oven, kain penyaring, batang pengaduk, blender.
b. Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah biji Mindi (Melia azedarach L) yang telah kering/atau masih segar, isolate bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Aquades, Media Agar Mueller Hinton, NaCl fisiologis, Etanol 96%, kertas saring.
1.6.4 Kadar Air
Penentuan kadar air ditentukan dengan metode pemanasan menggunakan oven. Sampel ditimbang sebanyak ± 3 g di dalam cawan porselin, dimasukan dalam oven dengan temperetur pemanasan 105 ºC selama 3 jam kemudian didinginkan, lalu sampel ditimbang. Kemudian dipanaskan kembali dengan oven dan didinginkan sampai mencapai berat konstan (Selawa dkk, 2013 ).
Rumus perhitungan kadar air sebagai berikut:
Keterangan :
A = Berat sampel sebelum dipanaskan B = Berat sampel setelah dipanaskan
1.6.5 Cara Kerja
a. Pembuatan Ekstrak Biji Mindi (EBM) 1. Sortasi Basah,
Memilih biji mindi yang masih segar 2. Pencucian
Cuci biji Mindi dengan dialiri air bersih sebanyak 3-4 kali, hindari menggosok biji mindi. Kemudian tiriskan.
3. Perajangan
Perajangan dilakukan dengan memotong biji Mindi menjadi untuk mempercepat proses pengeringan.
4. Pengeringan
Dikeringkan selama beberapa hari di bawah sinar matahari kemudian dilanjutkan pengeringan menggunakan oven dengan suhu 40°C selama 24 jam.
5. Sortasi Kering
Pilih dan bersihkan simplisia dari bahan organik dan non organik yang menempel pada saat pengeringan. Kemudian simpan pada wadah tertutup dan kering tanpa terkena sinar matahari langsung.
kadar air = A−B
A x 100 %
6. Perlakuan Simplisia Kering
Simplisia di blender sampai benar-benar halus, kemudian ditimbang sebanyak 100g untuk dimaserasi 500ml etanol 96% selama 72 jam pada temperature kamar.
Setelah diinkubasi kemudian disaring menggunakan kain untuk memisahkan filtrat dan residunya.
Masing-masing filtrat yang diperoleh masih mengandung pelarut, maka harus dipekatkan dengan hot plate pada temperature 64,7oC, sehingga diperoleh ekstrak kental deng konsentrasi yang efektif menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.
b. Penentuan Konsentrasi Ekstrak Biji Mindi dan Cakram Bakteri Pada penelitian ini konsentrasi yang digunakan sebanyak 6 tahap, yaitu 0%, 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%,
Pada konsentrasi 0% hanya berisi aquadest sebanyak 1ml,
Pada konsentrasi 20%, volume EBM sebanyak 0,2 ml hasil ekstraksi+
0,8 ml Aquades,
Pada konsentrasi 40%, volume EBM sebanyak 0,4 ml hasil ekstraksi+
0,6 ml Aquades,
Pada konsentrasi 60%, volume EBM sebanyak 0,6 ml hasil ekstraksi+
0,4 ml Aquades
Pada konsentrasi 80%, volume EBM sebanyak 0,8 ml hasil ekstraksi+
0,2 ml Aquades
Pada konsentrasi 100%, volume EBM sebanyak 1 ml hasil ekstraksi
Keterangan :
Vebm : Volume Ekstrak Biji Mindi (ml), yang diambil dari volume hasil ekstraksi Vaq : Volume Aquades yang ditambahkan
Vaq+Vebm : Volume Total Aquades dengan Ekstrak Biji Mindi dengan total 1 ml
Berdasarkan standar prosedur pembuatan cakram antibakteri, dilakukan perendaman selaman 24 jam. Setelah cakram direndam kemudian dikeringkan, proses pengeringan dilakukan kurang lebih 1 jam. Cakram antibakteri siap digunakan.
Untuk menghasilkan data yang baik dilakukan replikasi/pengulangan pengujian sampel. Banyaknya replikasi pengujian ditentukan dengan rumus Federer :
Dimana : t : jumlah kelompok (konsentrasi), r : jumlah replikasi dan n : jumlah total sampel
untuk percobaan ini dengan jumlah kelompok sebanyak 6, dari rumus tersebut didapatkan:
(6−1)(r −1)≥ 15❑ r=4❑
Maka uji dilakukan sebanyak 4 kali ulangan, maka jumlah total sampel adalah n = r.t (6x4) = 24 per sampel bakteri, dikarenakan bakteri yang digunakan adalah 2 maka totalnya adalah 48 sampel.
Konsentrasi EBM= Vebm
Vebm+Vaqx 100 %
c. Pembuatan Suspensi Bakteri
Bakteri uji telah diinokulasi dengan menggunakan kawat oase steril lalu disuspensi ke dalam tabung yang berisi 0,5 ml Larutan NaCl 0,9% hingga diperoleh kekeruhan yang sama dengan standar kekeruhan mikroba sampai didapat nilai rapat optis (Optical Density) setara dengan standar McFarland 0,5 (108CFU/ml)
d. Pembuatan Media Agar Mueller Hinton
Pembuatan media agar Mueller Hinton (MH) sesuai dengan prosedur sebagai berikut :
1. Timbang 38g media, tambahkan 1 liter aquadest 2. Panaskan sampai mendidih untuk melarutkan media,
3. Sterilkan dengan autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit;
4. Tunggu suhu sampai hangat-hangat kuku (45oC-50oC), 5. Tuangkan kedalam cawan petri,
6. Simpan pada suhu 2-8oC
Dengan perbedaan kebutuhan media yang diperlukan kemudian dipanaskan dengan menggunakan Hot Plate sampai homogen
e. Perlakuan Potensi Antibiotik secara Difusi
1. Biakan murni bakteri yang telah disuspensi selama 24 jam dalam NaCl fisiologis steril,
2. Kemudian biakan itu diambil sebanyak 1ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi steril.
3. MHA (Mueller Hinton Agar) dengan suhu 400C sebanyak 10ml dimasukkan ke dalam cawan petri steril, diamkan sampai membeku.
4. Mengambil biakan cairan bakteri dari tabung dengan lidi kapas steril, lidi kapas ditekan sedikit pada tepi tabung kemudian oleskan pada agar Muller Hinton,
5. Setelah mengering kertas antibiotic yang sudah ditentukan (0%, 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%) konsentrasi diletakkan pada agar beku,
6. Lempengan agar tersebut dieramkan pada suhu 370C selama 24 jam, 7. Setelah 24jam hitung daerah hambatan dengan menggunakan
penggaris/jangka sorong.
Gambar 1 Posisi Pengujian Antibakteri dengan Metode Difusi Cakram, Keterangan: a= EBM 20%; b= EBM 40%; c= EBM 60%; d= EBM 80%; e= ekstrak buah pare 30%; f= EBM 100%
g= kontrol negatif (akuades) EBM 0%
1.6.6 Skrining Fitokimia
Skrining Fitokimia dilakukan terhadap simplisia dan esktrak etanol biji Mindi untuk memeriksa adanya metabolit sekunder.
1. Pemeriksaan Alkaloid
Larutan ekstrak ditambahkan dengan 1 mL asam sulfat 2 N dan dikocok. Ditambahkan 1 mL kloroform, dikocok hingga terbentuk 2 lapisan. Lapisan atas yang merupakan lapisan asam diambil menggunakan pipet tetes dan ditambahkan 1 mL ammonia. Kemudia larutan dibagi
menjdai tiga tabung, tabung A ditambahkan 3 tetes pereaksi Dragendroff, tabung B ditambahkan 3 tetes perekasi Mayer dan tabung C ditambahkan 3 tetes perekasi Wagner. Hasil positif alkaloid ditandai dengan adanya endapan warna putih pada tabung A dan adanya endapan merah bata pada tabung B dan C (Raaman, 2006).
2. Pemeriksaan Flavonoid
Ekstrak diambil 2 g dan ditambahkan dengan sedikit serbuk magnesium secukupnya untuk mengoksidasi sampel. Ditambahkan larutan HCl 5M sebanyak 10 tetes. Perubahan warna larutan menjadi warna hitam kemerahan menandakan adanya flavonoid (Harborne, 1987 dalam Oratmangun, 2014).
3. Pemeriksaan Fenol
Ekstrak sampel sebanyak 1 mL ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3 5%.
Hasil positif yaitu timbul warna biru kehitaman (Raaman, 2006).
4. Pemeriksaan Saponin
Ekstrak sampel sebanyak 2 mL dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan dengan air dan dikocok dengan kuat selama 15 menit.
Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya busa dengan tinggi 2 cm (Raaman, 2006).
5. Pemeriksaan Tanin
Ekstrak sampel sebanyak 1 mL ditambahkan 1 mL larutan gelatin 1% dan diikuti larutan NaCl 10%. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya endapan putih (Raaman, 2006).
6. Pemeriksaan Steroid dan Triterpenoid
Ekstrak sampel sebanyak 1 ml ditambahkan dengan 1 mL pereaksi Lieberman- Burchard (CH3COOH glasial dan larutan H2SO4 pekat). Warna berubah menjadi merah yang menunjukkan adanya senyawa terpenoid dan warna berubah menjadi biru yang menunjukkan adanya senyawa steroid (Kristanti, dkk., 2008).
1.6.7 Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data 1.6.7.1 Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data merupakan salah satu langkah penting untuk memperoleh penyajian data sebagai hasil yang berarti dan kesimpulan yang baik (Notoatmodjo 2010).
a. Editing
Pemeriksaan Kembali pengisian data, kebenaran data, keseragaman data, kelengkapan data, dan lain-lainnya merupakan pengertian editing b. Coding
Coding merupakan Langkah selanjutnya pengkodean data yang bertujuan agar tidak terjadi kekeliruan dalam melakukan penelitian c. Tabulating
Tabulating merupakan cara penyajian data dari penelitian yang dilakukan dalam bentuk table.
1.6.7.2 Analisis Data
Penelitian yang dilakukan untuk memilih dari permasalahan atau beberapa sumber yang sesuai termasuk prosedur Analisa data (Notoatmodja, 2010) a. Analisa Univariate
Analisa univariate digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik dari setiap variable. Bentuk Analisa univarian tergantung dari jenis datanya. Untuk data numerik digunakan nilai mean, atau rerata, median dan standar deviasi (Notoatmodjo, 2010).
Analisa univarian pada penelitian ini yaitu ada tiga variable, yaitu :
Variabel pertama adalah konsentrasi ekstrak biji mindi (EBM), dan
Variabel kedua adalah pertumbuhan bakteri Staphylococcus aures
Variabel ketiga adalah pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa
b. Analisa Bivarite
Ada dua variable yang berhubungan sehingga Analisa yang digunakan adalah bivariate (Notoatmodjo, 2010). Pada saat penelitian, peneliti memberikan penilaian dari hasil penelitian yang didapatkan dengan cara melihat diameter zona hambatan bakteri pada masing- masing konsentrasi ekstrak. Setelah diperoleh hasil data diuji normalitasnya kemudian diuji homogenitasnya.
Selanjutnya diuji anova untuk mengetahui apakah terjadi perbedaan antar kelompok, dan dilanjutkan uji tabulasi untuk mengetahui kelompok mana yang berbeda. Data diuji statistika one- way anova (Analysis of Variance) dengan program SPSS dengan taraf kepercayaan 95% atau α=0,05. Bila hasil penilaian pengaruh konsentrasi yang dianalisis dengan uji one way anova dengan syarat data berdistribusi normal dan homogen. Uji distribusi data dilakukan dengan uji Saphiro-Wilk.Uji homogenitas data dilakukan dengan uji Levene. Karena distribusi data normal, dilanjutkan dengan uji beda menggunakan statistik parametrik one way anova, kemudian dilanjutkan dengan uji Post Hoc jika terdapat perbedaan bermakna.
Selanjutnya dilakukan uji t-berpasangan antara data pre (sebelum perlakuan) dan post (setelah perlakuan) dengan tingkat kemaknaan p<
0,05.
Normalitas data di uji Shaphiro-Wilk dengan syarat kenormalan probalitas (p)<0.05 Apabila data hasil uji tidak memenuhi syarat atau probabilitas (p)>0,05, maka diganti dengan uji Nonparametrik, umtuk uji hipotesis menggunakan uji non parametrik Kruskal_Wallish Test.
Uji Kruskal Wallish digunakan pada Analisa komparatif untuk menguji lebih dari dua sampel independent (bebas) dan digunakan untuk mengetahui apaka terdapat perbedaan diantara sampel tersebut.
Adapun untuk perbedaan pertumbuhan bakteri pada masing- masing bahan uji maka dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney Test.
Dengan ketentuan probabilitas (p)<0.05 terdapat perbedaan yang signifikan antar konsentrasi perlakuan, dan probabilitas (p)>0,05 tidak ada perbedaan yang signifikan.
1.6.8 Definisi Operasional Variabel 1.6.8.1 Variabel
Variable adalah sesuati yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2010). Variable yang digunakan dalam penelitian ini:
1. Variabel Independen (bebas)
Variable independent merupakan variable antesenden, predictor, dan stimulus. Nama lain dari variable independent adalah variable bebas.
Timbulnya variable dependen disebabkan karena variable independent sangat berpengaruh. Variable independent dalam penelitian ini adalah ekstrak biji mindi.
2. Variabel Dependen (terikat)
Variable dependen merupakan variable konsekuen, kriteria dan output, nama lain dari variable ini adalah variable terikat. Adanya variable bebas dapat menjadi akibat dan pengaruh bagi variable terikat (Sugiyono, 2013). Variable dependen dalam penelitian ini adalah
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.
1.6.8.2 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah membatasi ruang lingkup atau pengertian variable;-variabel yang diteliti (Notoatmodjo, 2010).
Adapun definisi operasional aktivitas ekstrak biji mindi terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa, dengan metoda difusi
Variabel Definis operasional Parameter Alat-alat Skala Data Konsentrasi
ekstrak biji mindi (EBM)
Konsentrasi EBM adalah ekstrak biji mindi (Melia azedarach L) yang diencerkan dengan pelarut etanol 96% dan dinyatakan dalam satuan prosentae (%)
Ada 5
konsentrasi EBM, yaitu:
20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%
Interval
Pertumbuhan Bakteri
Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa
Pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa, bakteri yang diuji dengan metode perhitungan diameter daya hambat setelah di inkubasi Bersama konsentrasi ekstrak yang diuji dengan media Mueller Hinton Agar (MHA)
Besaran Zona hambat diukur dalam satuan milimeter (mm)
Penggari s atau jangka sorong
Rasio
Lampiran Tabel Data Pengamatana
Tabel 1. Pengamatan Pembuatan Ekstrak Biji Mindi (EBM) (Melia azedarach L) No
.
Pengamatan Hasil
1. Metode Ekstraksi Maserasi
2. Berat Biji Mindi Segar ………. Kg
3. Berat serbuk Biji Mindi Kering (sebelum diekstrak) ……… gram
4. Volume etanol 96% ………. ml
5. Volume ekstrak cair ………. ml
6, Volume ekstrak Kental ………. ml
Sumber data Primer
Tabel 2. Hasil Uji Organoleptis Biji Mindi (Melia azedarach L) No
.
Parameter Hasil Pengamatan
1. Bentuk ekstrak Kental
2. Warna ……….
3. Bau ……….
Tabel 3. Data Hasil Pengaruh Konsentrasi terhadap Zona Hambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aures
Pengulanga n
Perlakuan
0% 20% 40% 60% 80% 100%
P1 P2 P3 P4 Keterangan :
P1 : Pengulangan ke 1 P2 : Pengulangan ke 2
P3 : Pengulangan ke 3 P4 : Pengulangan ke 4
Tabel 4. Data Hasil Pengaruh Konsentrasi terhadap Zona Hambat Pertumbuhan Bakteri Pseudomonas aeruginosa
Pengulanga n
Perlakuan
0% 20% 40% 60% 80% 100%
P1 P2 P3 P4 Keterangan :
P1 : Pengulangan ke 1 P2 : Pengulangan ke 2 P3 : Pengulangan ke 3 P4 : Pengulangan ke 4
Tabel 6. Hasil Mann_Whitney Tes
Konsentrasi Pembanding Nilai SIgnifikan
Konsentrasi 0% 20% ………
40% ………
60% ………
80% ………
100% ………
Konsentrasi 20% 40% ………
60% ………
80% ………
100% ………
Konsentrasi 40% 60% ………
80% ………
100% ………
Konsentrasi 60% 80% ………
100% ………
Konsentrasi 80% 100% ………
Keterangan :
……… : Variabel yang tidak diteliti : Variabel yang diteliti
Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian Efektivitas Ekstrak Biji Mindi (Melia azedarachta L) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Pseudomonas
aeruginosa dengan Metode Difusi Cakram
KERANGKA KONSEP PENELITIAN Pengumpulan sampel
Biji Mindi Segar
Determinasi tanaman
Biji Daun
Kulit Akar
Simplisia dirajang kemudian dikeringkan
Pembuatan ekstrak biji Mindi
Residu Ekstraksi (Maserasi)
Konten Mindi : alkaloid, tannin, saponin, fenolik, glikosida, steroid, terpenoid, dan flavonoid Filtrat
Difusi Cakram
Bakteri Pseudomonas aeruginosa Bakteri Staphylococcus aureus
Analisis Data
Terdapat Zona Hambat Tidak Terdapat Zona Hambat
Daya hambat Antibiotika
Daftar Pustaka
Anang, H., 2007, Pengaruh Ekstrak Daun Sirih Hijau (piper betle L.) Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Eschericia coli dengan Metode Difusi Disk, Jurnal Biologi Sumatera (Sumatran Journal of Biology) Volume3, ISSN 1907-5537.
Darmawati AASK, Bawa IGAG, Suirta IW. 2015. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Golongan Flavonoid pada Daun Nangka (Artocarpus heterophyllus Lmk) dan Aktivitas Antibakteri terhadap Bakteri Staphylococcus aureus. Jurnal Kimia.;9(2):203-210.
Gading, K.2020. Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Ekstrak Daun Mindi (Melia azedarach L) Terhadap Pertumbuhan Bakteri, Journal.uta45jakrta.ac.id
Hamdani, 2005. Aktivitas Ekstrak Biji Tanaman Mindi (Melia azedarach (L.) Terhadap Spodoptera liyura(F.). J. HPT Tropika. ISSN 1411-752511Vol. 5, No. 1
Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia. Terbitan II. Terjemahan Kosasih Padmawinata dan Iwang Sudiro. ITB, Bandung
Maria, Triana. 2016. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Fraksi n- Heksan dan Etil Asetat Daun Mindi (Melia azedaracht L) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherechia coli. Skripsi: USU Medan.
Muharni, Muharni. 2003. Uji Aktifitas Sitotoksik Ekstrak Metanol Tumbuhan Mindi (Melia azedarach L). Jurnal Penelitian Sain.
Notoatmodjo, Sukijo. 2012. Metode Penelitian Kesehatan. Rekanita Cipta:
Jakarta
Nurhasnawati, H,Sukarmi dan Handayani, F .2017. Metode Ekstraksi Maserasi terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstak Daun Kecombrang (Etlingera elatior). Journal Ilmiah Manuntung.
Pratiwi, 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta : Erlangga,
Rastina, Sudarwanto M, Wientarsih I. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kari (Murraya koenigii ) terhadap Staphylococcus aureus,
Escherichia coli, dan Pseudomonas sp. Jurnal Kedokteran Hewan.
2015;9(2):185-188.
Robinson, T. 1995. Kandungan Senyawa Organik Tumbuhan Tinggi.
Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Kosasih Padnawinata. ITB, Bandung
Supomo, Syamsul ES, Rukmana. Uji Aktivitas Anti Bakteri Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 49461.Jurnal Ilmu Kesehatan.
2015;3(2).
Wasrin, Rita & Maemunah.2014. Uji Bioaktivitas Zat Ekstraktif Pohon Mindi (Melia azedarach Linn) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test. J.
Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol. 12