1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diketahui dan disadari bersama bahwa Negara Republik Indonesia adalah suatu Negara Hukum. Pernyatan tersebut tercantum dalam Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.23 Sebagai Negara hukum yang berdaulat Indonesia harus menjamin segala aspek yang berhubungan dengan aktifitas warga negara di dalam hukum maupun pemerintahan tanpa ada pengecualian. Ini dimaksudkan untuk mengatur segala tingkah laku dan perbuatan masyarakat. Sehingga jelas apabila terjadi suatu permasalahan hukum dapat diselesaikan dengan ketentutan-ketentuan hukum yang berlaku.
Indonesia selain Negara hukum, Indonesia juga dikenal dengan Negara berkembang dalam melakukan pembangunan dari segala aspek atau segala bidang. Salah satu contohnya adalah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni mengantarkan ke dimensi era digital. Era digital tersebut melahirkan jaringan-jaringan yang terhubung ke seluruh dunia yang biasa disebut internet.
Teknologi internet tersebut dapat mengelolah dan memusatkan sebuah data, informasi, audio, gambar (visual), dan lain-lain. Selain itu dengan munculnya internet memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan manusia bisa berupa dampak positif maupun negatif.
23 Pasal 1 ayat 3 UUD 1945
2
Dampak positif yang dibawa oleh lahirnya internet adalah mudahnya mengakses segala informasi yang ada di sudut dunia yang kita tidak bisa tempuh dengan waktu yang cepat. Selain itu internet dapat memudahkan pekerjaan dari segala bidang urusan-urusan seperti bidang pendidikan, kebudayaan, kesenian, pekerjaan kantoran, perdagangan, kesehatan, politik, transportasi, dan bahkan dalam bidang hukum juga. Kita dapat mengetahui dan merasakan dampak positif tersebut di setiap kegiatan sehari-hari kita. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa dengan lahirnya internet tersebut juga membawa dampak negatif. Salah satu dampak negatif dari internet dalam bentuk kejahatan adalah pengancaman, perjudian, pencurian, penipuan, pornografi, pencemaran nama baik, penyebaran berita bohong (hoax) dan bahkan ujaran kebencian melalui media sosial.
Kejahatan yang sering bermunculan di Indonesia dalam dunia digital tersebut adalah penyebaran berita hoax. Kominfo mengidentifikasi, memverifikasi, dan memvalidasi sebanyak 620 hoax yang telah terjadi pada tahun 2019.24 Penyebaran informasi melalui digital seringkali tidak sejalan dengan kaedah-kaedah yang berlaku di masyarakat. Keberagaman informasi yang dimuat dalam dunia digital bisa berupa bentuk visual, tulisan, maupun video tersebut juga memiliki makna yang berbeda-beda sesuai dengan isi konteksnya. Penyebaran informasi juga bisa menyerang dan membuat permusuhan berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Hal ini
24 Daon001, Temuan Kominfo: Hoax Paling Banyak Beredar di April 2019, https://kominfo.go.id/, diakses tanggal 16 Oktober 2021
3
dikarenakan apapun yang bersinggungan dengan isu SARA sangat sensitif di masyarakat.
Pasal 28 ayat 2 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) hadir di tengah-tengah peristiwa hukum yang sedang terjadi dalam era digital. Pasal 28 ayat 2 UU ITE tersebut hadir untuk mencegah akan terjadinya permusuhan dan perpecahan berbasis SARA dengan bunyi “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian dan garis miring atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA.
Di sisi lain, lahirnya pasal 28 ayat 2 UU ITE juga dapat menimbulkan hilangnya kebebasan penyampaian informasi juga kebebasan kritik. Hal ini dikarenakan tidak adanya batasan terhadap rasa kebencian. Rasa kebencian harus memenuhi standar intensitas tertentu agar dapat dikualifikasikan sebagai ujaran kebencian yang dapat dipidana. Dengan kata lain, tidak semua ujaran kebencian dapat dipidana. Dalam rumusan Pasal 28 Ayat 2 unsur “rasa kebencian” tidak dijelaskan ukurannya. Ini berpotensi menyamaratakan semua jenis ucapan kebencian tanpa melihat intensitasnya. Walaupun cakupan ujaran kebencian dapat merujuk ke Pasal 156 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana25 yang merupakan lex specialis dari pasal 28 ayat 2 UU ITE namun penegasan tentang ukuran ujaran kebencian yang dapat dipidana masih tidak jelas.
25 Barangsiapa dimuka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap sesuatu atau beberapa golongan penduduk Negara Indonesia, dihukum penjara selama- lamanya empat tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4.500,-
4
Sedangkan dalam hukum pidana mempunyai prinsip lex certa (perbuatan pidana dalam undang-undang harus diuraikan unsur-unsurnya dengan jelas dan rinci), lex scricta (harus didefinisikan secara jelas tanpa samar sehingga tidak ada perumusan yang ambigu), dan lex scripta (perbuatan pidana harus dituangkan secara tertulis dalam perundang-undangan). Standar intensitas dalam rasa kebencian tersebut harus dijelaskan lebih lanjut agar tidak mengancam kebebasan berpendapat maupun berkritik terhadap pemerintah. Selain itu kebebasan menyampaikan informasi juga mendapatkan ancaman apabila suatu informasi tersebut tidak diketahui intensitasnya sebagai rasa kebencian atau tidak. Adapun beberapa contoh kasus yang terjerat dalam pasal 28 ayat 2 UU ITE yaitu:
1. Kasus Ahmad Dhani yang pada intinya memposting cuitan di sosial media dengan salah satu cuitan “Sila pertama Ketuhanan YME. Penista agama jadi gubernur, kalian waras?” dalam hal ini pendukung ahok dimasukkan ke dalam kategori antargolongan.26 Kasus tersebut sudah diputus hingga tingkat kasasi pada tahun 2019
2. Kasus penangkapan Faisol Abod Batis pada tahun 2019 yang telah mengunggah konten yang berisikan penghinaan terhadap Presiden Jokowi dan Polri. Faisol Abod Batis dianggap menyinggung Jokowi dengan mengkaitkan puluhan warga yang tewas pada konflik agrarian pada tahun 2015-2018 begitu juga dengan menyinggung Polri yang melindungi HAM
26 Yandri Daniel Damaledo, Kasus-Kasus Hukum yang Pernah Menjerat Ahmad Dhani, https://tirto.id/, diakses tanggal 16 Oktober 2021
5
saat kerusuhan 21-22 Mei 2019. Data-data yang dipaparkan oleh Faisol tersebut sudah sesuai dengan hasil riset lembaga Konsorsium Pembaruan Agraria.27 Dalam kasus tersebut Presiden dimasukkan dalam antargolongan.
Kedua kasus tersebut pada intinya merujuk pada rasa kebencian sehingga berujung pada pidana. Dalam kasus sesuai dengan kasus nomor dua yang penulis angkat, secara jelas Faisol memberikan kritikan terhadap Jokowi dengan data yang sudah diriset sebelumnya oleh Konsorsium Pembaruan Agraria tetapi masih saja terjerat dalam pasal tersebut. Begitu juga dalam pemasukan Presiden dan Polri dikategorikan dalam antargolongan. Dalam pemaknaan informasi yang menimbulkan ujaran kebencian atau permusuhan dalam pasal 28 ayat 2 UU ITE tersebut tidak memberi batasannya dalam penjelasannya. Hal ini bisa menciderai pasal 28 dan 28F Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang pada intinya menyinggung mengenai hak kebebsan berpendapat dan hak menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Dalam Pasal 28 ayat 2 UU ITE sangat berpotensi sebagai bahan kriminalisasi terhadap orang-orang yang berkritik terhadap pemerintah maupun para pejabat yang sedang berkuasa. Hal ini dikarenakan tidak adanya batasan yang jelas mengenai intensitas rasa kebencian sehingga secara tidak langsung pemerintah anti kritik. Selain itu pasal tersebut belum memiliki parameter yang jelas sehingga dapat menimbulkan permasalahan secara yuridis maupun non
27 Adhi Wicaksono, Kaitkan Jokowi dengan Konflik Agraria, Faisol Diciduk Polisi, https://m.cnnindonesia.com/, diakses tanggal 16 Oktober 2021
6
yuridis. Ketidakjelasan pasal tersebut secara yuridis telah melanggar tujuan awal dibentuknya UU ITE yang berkaitan dengan adanya kepastian hukum dengan mengedepankan asas legalitas.
Berdasarkan paparan peristiwa diatas terdapat ketidaksesuaian antara dasar hukum dengan peristiwa hukum yang terjadi. Sehingga penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai permasalahan tersebut dengan cara menyusun penulisan hukum dengan judul : Analisa Terhadap Frasa Rasa Kebencian Dalam Perspektif Tindak Pidana Ujaran Kebencian Menurut Pasal 156 KUHP dan Pasal 28 Ayat 2 UU ITE.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penafsiran dan batasan rasa kebencian dalam perspektif tindak pidana ujaran kebencian menurut pasal 156 KUHP?
2. Bagaimana penafsiran dan batasan rasa kebencian dalam perspektif tindak pidana ujaran kebencian menurut pasal 28 ayat 2 UU ITE?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dan menganalisis penafsiran dan batasan rasa kebencian dalam pasal 156 KUHP
2. Untuk mengetahui dan menganalisis penafsiran dan batasan rasa kebencian dalam pasal 28 ayat 2 UU ITE
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis:
7
Sebagai pegangan dan referensi pada penelitian-penelitian selanjutnya khususnya di bidang Hukum Pidana dalam hal tindak pidana ujaran kebencian.
2. Manfaat Praktis:
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu pandangan dalam menyelesaikan permasalahan mengenai aturan hukum yang masih multitafsir.
E. Kegunaan Penelitian a. Bagi Penulis
Selain dalam rangka memenuhi tugas akhir sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata 1 (S1) di bidang ilmu hukum, kegunaan lainnya dapa menambah wawasan pengetahuan hukum khususnya di bidang ilmu hukum pidana.
b. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan pengetahuan dan wawasan terkait batasan rasa kebencian dalam norma hukum yang berlaku.
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang akan dipilih penulis dalam menulis skripsi atau penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif yang penelitiannya menggunakan data hukum sekunder dengan melihat isu berita yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan hukum ini yang terjadi di masyarakat.
Bahan kepustakaan yang digunakan sebagai data sekunder merupakan objek yang diteliti. Adapun aspek yuridis dalam penulisan hukum tersebut adalah
8
pasal 156 KUHP dan Pasal 28 ayat 2 UU ITE. Sedangkan aspek normatifnya adalah rasa kebencian dalam perspektif tindak pidana ujaran kebencian.
2. Jenis Bahan Hukum a. Bahan Hukum Primer :
1) Pasal 28 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Tentang Kebebasan Berpendapat
2) Pasal 28F Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Tentang Hak Menyampaikan Informasi
3) Pasal 156 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Tentang Ujaran Kebencian
4) Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
b. Bahan Hukum Sekunder :
Dalam mendukung bahan Hukum Primer, penulis menggunakan literatur berupa buku, jurnal, dan sumber tulisan yang berkaitan dengan problematika dalam penulisan penelitian ini, yaitu tindak pidana ujaran kebencian.
9 3. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
a. Studi Pustaka :
Dalam Studi Pustaka, Penulis mengumpulkan bahan-bahan pustaka seperti jurnal, peraturan perundang-undangan, putusan, dan web yang berkaitan dengan rasa kebencian dalam tindak pidana ujaran kebencian
b. Studi Perundang-Undangan :
Dalam Studi Perundang-Undangan, Penulis menggunakan undang-undang yang dilakukan dengan menelaah atau mengkaji semua peraturan perundangan-undangan yang berkaitan dengan ujaran kebencian dalam perspektif pasal 156 KUHP dan pasal 28 ayat (2) UU ITE.
4. Teknik Analisa Bahan Hukum
Dalam penelitian ini, Penulis menggunakan analisis perskriptif yang mana sebuah metode analisis yang mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas hukum, konsep hukum, dan norma hukum. Analisis perskriptif tersebut bertujuan untuk memberikan analisa terhadap asas-asas, teori yang korelasinya dengan makna dan batasan rasa kebencian dalam tindak pidana ujaran kebencian menurut pasal 156 KUHP dan pasal 28 ayat 2 UU ITE.
G. Sistematika Penulisan
Dalam urutannya sesuai dengan pedoman penulisan tugas akhir program sarjana strata 1 maka akan dibagi dalam beberapa bab yaitu Bab I, Bab II, Bab III, dan Bab IV dengan penjelesan sebagai berikut:
10 BAB I PENDAHULUAN
Berisi mengenai pendahuluan yang menjelaskan dan menguraikan mengenai latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Berisi deskripsi berupa tinjauan, uraian tentang bahan-bahan teoritik, doktrin atau pendapat sarjana, dan kajian yuridis berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku, kajian terdahulu terkait dengan topik atau tema yang diteliti.
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi tentang pemaparan hasil analisa terkait masalah yang diangkat oleh Penulis sebagai obyek dalam penelitian. Pemaparan hasil bersifat deskriptif yang telah dikaji dan dianalisa secara sistematis berdasarkan pada tinjauan pustaka dalam Bab II
BAB IV PENUTUP
Bab terakhir yang berisi mengenai kesimpulan dan saran dari pembahasan Bab III, dan juga berisikan saran yang relevan terhadap permasalahan yang diteliti.