• Tidak ada hasil yang ditemukan

Summer Course STFT Jakarta Juni 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Summer Course STFT Jakarta Juni 2021"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Filename: SummerCourse-

TeologiSistematika.docx Path: /home/mon/Desktop/

Code xdg-open

/home/mon/Desktop/SummerCourse- TeologiSistematika.docx

Summer Course STFT Jakarta 22-24 Juni 2021

Narasumber: Pdt. Simon Rachmadi, Ph.D.

Teologi Sistematika

Selasa, 22 Juni 2021...3

Sesi 1. Pkl. 9:00 – 11:00...3

Manusia dan Kitab Suci...3

Sesi 2. Pkl. 11:30 – 13:00...5

Gereja dan Sakramen...5

Sesi 3. Pkl. 14:00 – 15:30...7

Sejarah dan Eskatologi...7

Sesi 4. Pkl. 16:00 – 17:00...9

Konsultasi...9

Rabu, 23 Juni 2021...10

Sesi 1. Pkl. 9:00 – 11:00...10

Teologi Budaya: Teologi Inkulturatif...10

Sesi 2. Pkl. 11:30 – 13:00...12

Teologi Sosial: Teologi Pembebasan...12

Sesi 3. Pkl. 14:00 – 15:30...14

Teologi Kosmik-Trinitarian...14

Sesi 4. Pkl. 16:00 – 17:00...16

Konsultasi...16

Kamis, 24 Juni 2021...17

Sesi 1. Pkl. 9:00 – 11:00...17

Teologi Disabilitas...17

(4)

Sesi 2. Pkl. 11:30 – 13:00...19

Teologi Feminis...19

Sesi 3. Pkl. 14:00 – 15:30...21

Teologi Lingkungan: Ekoteologi...21

Sesi 4. Pkl. 16:00 – 17:00...23

Konsultasi...23

Bibliografi...24

Literatur dapat diperoleh di:

https://drive.google.com/drive/folders/

1_2KySMLn4KqFXxY03qXxzfQdda-niyaa?usp=sharing

Tujuan:

1. Mengenal apa itu teologi sistematika.

2. Mengenal tema-tema klasik teologi sistematika.

3. Mengenal tema-tema kontemporer teologi sistematika.

Metode:

1. Kuliah dan diskusi.

2. Menilik sedikit bacaan dan melanjutkan proses membaca lebih jauh di luar kursus.

3. Konsultasi bebas.

(5)

Selasa, 22 Juni 2021 Sesi 1. Pkl. 9:00 – 11:00

Manusia dan Kitab Suci

Katekismus Luther (Luther 2000)

(Luther n.d.)

Institutes (Calvin 1960a; 1960b; 1960c;

1960d)

Katekismus Gereja Katolik (Embuiru SVD 1995) Katekismus Gereja Evangelikal (Grudem 1994)

1. Teologi adalah paham tentang bahasa iman.

2. Sistematika adalah wacana yang berisi cara bicara: konstruksi tematis.

3. Teologi sistematika adalah studi tentang aneka konstruksi tematis untuk membahasakan iman secara komunikatif di berbagai medan

perbincangan: praktis, teoritis, filosofis, kateketis, mistagogis, dsb.

4. Tema “Manusia dan Kitab Suci”

a. Diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupa-Nya. Untuk ambil bagian di dalam keilahian-Nya yang penuh kebahagiaan (kebaikan, kebenaran, kesempurnaan).

b. Selalu terkait dengan Allah:

i. di “ground of being”

ii. atas kehendak Bapa, di dalam Sang Firman, oleh kuasa Roh Kudus iii. dialami sebagai:

(1) pengetahuan akan Allah (2) pengetahuan akan diri sendiri

(6)

iv. sarana literasinya adalah kitab suci (1) yang tertulis di atas “kertas”

(2) yang tertulis di medan kehidupan: alam semesta

(3) yang dialami sebagai keintiman dengan Allah Yang Menjelma Manusia: ditemui di dalam kemanusiaan kita.

(7)

Sesi 2. Pkl. 11:30 – 13:00 Gereja dan Sakramen

Sakramen: bukan sekedar simbol, tetapi juga wadah mukjizat ilahi.

(Schmemann 1973)

Sakramen dalam tradisi Thomist (Thomas Aquinas manusia ➙ menyediakan, Allah mengerjakan)

dilawan oleh tradisi Protestan:

Predestinasi.

(Lynch 2017)

Model-model gereja. (Dulles 1991)

5. Perjumpaan dengan Allah:

a. real b. imajiner c. langsung d. ber-media

e. personal f. sosial g. eksistensial h. instrumental

i. menjelma jadi medan kehidupan yang seluas horizon

j. oleh Roh Kudus yang memperkenalkan Kristus yang menghadirkan:

Bapa ke hadapan kita dan kita ke hadapan Bapa 6. Sakramen:

a. Sang Sabda menjadi “daging” (Yoh 1:14) dan “tinggal” di antara kita b. Kontroversi Maria (Yoh 19:26-27) Ibu, inilah anakmu; ... inilah Ibu-➙

mu.

c. Yang ilahi dalam rupa bendawi.

(8)

d. Amat “berbahaya” karena dekat dengan penyembahan berhala.

e. Perlu diamankan: oleh Gereja.

f. Lihat: kasus Maria Magdalena tidak boleh menyentuh Tubuh Kristus secara langsung (Yoh 20:17); ia mesti bergabung dengan persekutuan para rasul yang dipimpin oleh Petrus; berhala terbit ketika yang ilahi tidak lagi dipandang secara Trinitarian:

i. misteri ii. inkarnasi

iii. daya aktivitas ilahi 7. Gereja

a. institusi b. komuni mistis c. sakramen d. duta ilahi

e. pelayan, hamba f. realitas eskatologis:

i. “kini” sekaligus “nanti”

ii. “material” sekaligus “spiritual”

g. di dalamnya digumuli:

i. faith and order

ii. baptism, eucharist, ministry

(9)

Sesi 3. Pkl. 14:00 – 15:30 Sejarah dan Eskatologi

Daftar panjang tema-tema teologi sistematika ➙Tradisi evangelikal.

(Grudem 1994)

a. The eschaton is not the End of History,

b. The eschaton is the Incarnation, and

c. The eschaton is the Incarnation as unfolded in History through the celebration of the Eucharist (we will treat this last statement in the third part of this essay). (72)

(Manoussakis 2009)

If God were a universally manifest and inescapable fact, freedom would be impossible. So God withholds his glory, so that it is a mystery, revealed and known only in freedom, by faith. If our own identities were simply given to us complete at birth, freedom would be equally impossible. So it is not enough that Christ gives us our identity: we must also take it up in freedom. Our identity becomes truly ours as we receive all his creatures as our own. We must love them as he does: this love will be free, because it will be our own response to, and participation in, the love that we have received.

(99)

(Knight 2009)

8. Eskatologi:

(10)

a. realitas atau paham-imajinatif?

b. ekspektasi, antisipasi, kesadaran akan garis akhir c. “penghakiman”

d. bersemayam di dalam realitas aliran waktu (sejarah) yang sedang dijalani

9. Sejarah, aliran waktu a. Materialkah?

b. Spiritualkah?

c. Jiwa manusia mengalami “distansiasi”:

i. masa silam bersemayam di dalam kenangan ii. masa depan bersemayam di dalam harapan iii. masa kini bersemayam di dalam atensi

10. Sejarah dan eskatologi itu seperti daging dan kulitnya:

a. menjelmakan “plot” dan “narasi”

b. yang di dalamnya eksis serangkaian “karakter”

c. mengalami “cerita”

d. yang disemayami Roh Kudus menjadi “Injil”

(11)

Sesi 4. Pkl. 16:00 – 17:00 Konsultasi

(12)

Rabu, 23 Juni 2021 Sesi 1. Pkl. 9:00 – 11:00

Teologi Budaya: Teologi Inkulturatif

Inkulturasi, interreligious dialogue, integral liberation problem ➙ hermeneutis

(Chia 2021)

Lintas kultural selalu terjadi dalam kehidupan manusia. Fenomena migrasi.

(Cruz 2010)

“On not clinging to the prejudice against prejudice” (77-86) ➙ Caranya: “Art as the site of truth beyond method” (88-99)

(Westphal 2009)

11. Aneka cerita kehidupan manusia a. hidup sesuai “zaman” (epoch)-nya

b. menciptakan fenomena yang namanya “peradaban”: bisa disebut tapi sulit ditentukan garis batas perubahan/pergeseran-nya

c. menciptakan fenomena “budaya” yang saling berinteraksi di dalam

“dunia-peradaban” yang sedang terselenggara d. Di dalam budaya ada makna yang diciptakan oleh:

i. gagasan ii. dunia material iii. dunia sosial

iv. dunia personal (bangkitnya “wajah diri”) yang menciptakan realitas utuh yang tak terbagi (individu)

e. Di dalam “budaya” itu manusia menarasikan Injil supaya ia dapat mengalami Allah di dalam bingkai-bingkai makna yang dapat

(13)

dipahaminya secara inderawi maupun secara akali.

12. Sesudah mengalami Injil (baik Warta maupun Sang Pewartanya), maka persoalan berikutnya adalah mengomunikasikan pengalaman itu kepada orang lain. Hal ini memerlukan proses “in-kulturasi” (masuk menjelma jadi budaya).

13. Persoalannya:

a. budaya itu “apa”? kerangka objektifnya➙

b. budaya itu “menurut siapa”? kerangka subjektifnya➙

c. bagaimana mengalami “budaya” secara bersama-sama apabila kenyataannya manusia itu selalu ber-”migrasi” (melintasi aneka batas dunai makna: gender, etnisitas, language game, membership, dsb.).

14. Teologi sistematika berusaha menciptakan aneka konstruk untuk melayani kebutuhan-kebutuhan tersebut.

(14)

Sesi 2. Pkl. 11:30 – 13:00

Teologi Sosial: Teologi Pembebasan Keselamatan = liberasi,

pembebasan dari struktur kekuasaan yang menindas

(Gustavo 1988)

Penderitaan rakyat adalah Kristus

yang tersalib. (Stalsett 2003)

Macam-macam teologi pembebasan. Kumpulan ➜ karangan.

(Rowland 1999)

15. Di dalam realitas sosial, salah satu unsur dominan adalah “power”

a. Realitas “power” ini menciptakan “struktur”

b. dan pada akhirnya, adanya “struktur” itu menciptakan proses yang melahirkan “power” lagi, dan seterusnya . . .

c. Di dalam realitas sosial yang dibingkai oleh power-structure itu, terbitlah aneka peristiwa kemanusiaan: orang kecil bertemu dengan orang besar, orang miskin bertemu dengan orang kaya (Amsal 22:2).

d. Secara alamiah,

i. di dalam perjumpaan itu terjadilah transaksi nilai (macam-macam wujudnya: uang, perhatian, hormat, perintah, normalitas, dsb).

ii. di dalam transaksi itu, pihak yang kuat cenderung mendominasi sehingga dianggap: baik, benar, sudah selayaknya demikian.

e. Jika yang alamiah itu tidak dilihat secara kritis, dengan hati beriman yang melihat Allah (artinya takut akan Tuhan) maka terjadilah

“pendangkalan makna” (banalisme): orang bisa melakukan “kejahatan”

tanpa merasa salah karena kenyataannya lingkungan sosial sekitarnya membenarkannya demikian.

f. Perlu usaha untuk menerobos “pendangkalan makna” yang membuahkan penindasan dan ketidak-adilan.

g. Usaha itu disebut: pembebasan.

(15)

h. Teologi pembebasan memikirkan bahasa iman untuk membicarakan usaha-usaha menerobos “pendangkalan makna” itu, baik dengan cara:

i. de-formasi, bikin keributan ii. re-formasi, bikin penataan ulang

iii. trans-formasi, membuka jalan bagi terbitnya nilai baru yang belum pernah ada sebelumnya namun yang sudah hadir di sanubari manusia sebagai harapan

i. Beberapa contoh teologi pembebasan:

i. gerakan konsientisasi rakyat miskin di Amerika Latin ii. gerakan konsientisasi orang kulit hitam di Amerika Serikat iii. gerakan feminis

iv. gerakan anti-Apartheid di Afrika Selatan v. gerakan kaum Minjung di Korea

vi. gerakan kaum Dalit di India vii. dsb.

(16)

Sesi 3. Pkl. 14:00 – 15:30 Teologi Kosmik-Trinitarian

Artikel Niels Gregersen.

Teologi cenderung terjebak ke pemikiran yang stereotipikal, maka perlu kesanggupan untuk

membebaskan diri dari jebakan itu.

(Gregersen 2002, 214)

John D. Zizioulas Being as Communion

(Zizioulas 1997)

John D. Zizioulas.

Communion as Otherness

(Zizioulas 2006)

16. Teologi terkait dengan kosmologi:

a. bumi datar b. bumi bulat

c. jagad yang mengembang d. ledakan semesta (the big bang)

17. Teologi sistematika menggumuli gejala-gejala itu sejak pada mulanya:

a. via mitologi

b. via pencatatan dan pengembangan mitologi

c. via filsafat keilahian: menghasilkan rumusan-rumusan dasariah dalam berbagai konsili ekumenis

18. Trinitas dirumuskan dalam rangkaian proses tersebut:

a. Allah Yang Mahatinggi hadir menyertai manusia secara “real”:

i. material ii. badani

iii. dapat dipikirkan

(17)

iv. tanpa kehilangan keilahiannya yang:

(1) spiritual (2) meta-badani

(3) tidak dapat dipikirkan karena cakupannya tak terhingga b. Penyertaan itu terjadi:

i. Pada mulanya adalah Sang Bapa

ii. Dari-Nya keluarlah Sang Firman, yang kemudian secara metaforis disebut Sang Anak

iii. Hal itu terjadi karena kuasa ilahi-Nya yang selalu sanggup menembus batas tanpa memporak-porandakan tetapan-tetapan kosmos: itulah kuasa Roh Kudus

c. Peristiwanya selalu satu paket:

i. Bapa-Anak-Roh Kudus

ii. terlibat dalam peristiwa inkarnasi (men-daging)

iii. melalui Sang Perawan Maria titik insani yang membuka diri ➙ pada Yang Ilahi

(1) Bunda Gereja (2) Ibu Pertiwi

(3) “ground of being” yang diberkati (4) Eleksi pilihan ilahi➙

(5) Kebebasan suci kemerdekaan insani yang diarahkan ➙ kepada Yang Ilahi

19. Trinitas itu:

a. keutuhan ketunggalan sejati➙

b. anti-berhala baik berhala material atau pun konseptual➙

c. penghormatan akan media yang jadi “starting point” untuk bergerak lebih dalam ke arah Allah

d. komuni abadi pribadi-pribadi ilahi being as communion➙

e. Tanpa “komuni” (relasi timbal balik, cinta) maka tidak akan ada “ada”.

f. bersemayam di segala kenyataan

(18)

Sesi 4. Pkl. 16:00 – 17:00 Konsultasi

(19)

Kamis, 24 Juni 2021 Sesi 1. Pkl. 9:00 – 11:00

Teologi Disabilitas

Teologi dan Down Syndrome Rethinking soteriology

(Yong 2007)

Monster itu eksis di wilayah alam kodrat, tetapi diletakkan di luar garis normal. Mungkinkah ada ➙ yang secara kodrati “jahat” karena di luar garis normal? produk ➙ dari asosiasi biner.

(Shildrick 2002)

“. . . elemental trust is never fully guaranteed and exists amidst the fundamental ambiguity of not- having. Thus, it must be self- consciously recovered against the pull of anxiety.” (165)

(Reynolds 2006)

Reconsidering Redemption in Jesus Christ Jesus as the icon of➙ a Vulnarable God Rela ➙

“vulnarable” untuk merangkul semua pihak yang dikeluarkan dari wilayah “normal”.

(Reynolds 2008)

20. Jika Trinitas bersemayam di dalam segala hal, mengapa ada kemalangan?

a. Jawabnya adalah karena tidak pernah ada “keuntungan” yang lahir dengan begitu saja.

b. Setiap “keuntungan” pada dasarnya adalah buah dari karya Trinitas yang menjelma jadi daging dan menempuh jalan salib Kristus:

i. dilahirkan

ii. di-inkorporasi-kan

(20)

iii. bergerak bebas mewartakan kasih Allah iv. konfrontasi melawan kejahatan

v. rela terlibat dalam tragedi dan kemalangan demi menjunjung tinggi kehendak Bapa

vi. terhempas sampai mati

vii. dibangkitkan oleh Roh Kudus dialaminya kebetulan-kebetulan ➙ penuh rahmat

21. Kemalangan:

a. Bukan untuk ditolak atau dicari

b. Adalah peristiwa manusiawi yang harus dihadapi demi pewartaan Injil kepada orang-orang yang malang

c. Adalah wilayah konstruktif yang tidak bebas nilai dan dapat mengalami “pendangkalan makna” (banalisme)

d. Peristiwa hidup yang selalu:

i. mesti diperdalam

ii. mesti ditempuh dengan keberpihakan kepada orang-orang malang di dalamnya

iii. mesti dipertanyakan validitas cara berpikirnya:

(1) apakah dijangkiti oposisi-biner (2) apakah dijangkiti stereotipikal (3) apakah naif terhadap ke-normal-an

22. Kemalangan adalah bagian dari realitas manusia yang selalu “vulnerable”

(rapuh):

a. Menjadi rapuh dan “disable” itu tidak membuat orang dijauhi oleh Allah Trinitas: DIA menjelma jadi daging yang “disable” itu.

b. Menjadi rapuh dan “disable” itu tidak mengharuskannya wajib berusaha jadi normal; itu tidak mungkin.

c. Menjadi rapuh dan “disable” itu justru memanggil perluasan wilayah

“kenormalan” supaya tidak meng-eksklusi, tetapi meng-inklusi, pihak- pihak yang miskin, malang, dan tertindas.

23. Teologi sistematika memikirkannya dalam wujud teologi disabilitas,

(21)

teologi kerapuhan, bahkan teologi queer yang memikirkan eksistensi kaum LGBT.

Sesi 2. Pkl. 11:30 – 13:00 Teologi Feminis

We all share the status of

creaturehood; we are all kin in the evolving community of life now under siege; our vision must be one of flourishing for all. (285)

(Johnson 2014)

Elizabeth A. Johnson, CSJ

• Scotosis vs Glory of God (p.14)

(Johnson 2017)

Speak rightly of God (p. 3) (Johnson 2017) The wisdom of these women—

ancient and contemporary—is that we can be free. The captivities that bind us—emotional, spiritual, institutional—can be relinquished.

We are called to sweetness. We are called to joy. This is the

countercultural wisdom contemplative women offer to Christianity and to the world.

(Farley 2015, 148)

(Farley 2015)

• the images of Christ proclaimed during colonial times justified the domination of the oppressors.

(Kwok and Pui-lan 2000, 80)

• Our understanding of ways in which Asian Christian women are involved in personal and social

(Kwok and Pui-lan 2000)

(22)

transformation requires us to examine the form of Christian spirituality that focuses primarily on prayer, Bible study and other- worldly meditations. For Asian feminist theologians spirituality is not so much a gaze toward heaven or an emptying of the self, but rather the celebration of ki (the energy of life), the joy of living and the quest for

wholeness. (Kwok and Pui-lan 2000, 114)

24. Teologi Feminis adalah bagian dari teologi pembebasan, yang secara spesifik mengartikulasikan pengalaman tertindas dari kaum perempuan.

25. Ketertindasan kaum perempuan ini unik karena telah ter-inskripsi-kan di dalam berbagai teks keagamaan, teks kebudayaan, bahkan teks-teks kejiwaan.

26. Ketertindasan ini tidak bisa diatasi lewat pemberian emansipatoris dari luar.

27. Keterindasan kaum perempuan hanya bisa dilawan oleh para perempuan itu sendiri dengan cara menciptakan aneka wadah, proses, dan gerakan- gerakan feminis.

28. Kaum laki-laki yang sadar akan fenomena ketertindasan perempuan ini, dan ikut bergerak dalam gerakan feminis itu — anehnya — justru semakin menemukan kemaskulinannya yang sejati. Kelaki-lakian itu tak pernah eksis pada dirinya sendiri; ia selalu eksis sebagai bagian dari

“partnership” yang setara dengan kaum perempuan.

29. Sebagai gerakan teologis, teologi feminis mengembangkan kategori- kategori baru dalam membahasakan pengalaman iman, yaitu: kategori

“cinta” (kategori relasional-setara). Metafora teologis pun diangkat dari kekhasan tubuh perempuan yang semula dianggap tabu untuk dipakai membicarakan Tuhan, seperti: rahim, payudara, keibuan, dsb.

(23)

Sesi 3. Pkl. 14:00 – 15:30

Teologi Lingkungan: Ekoteologi

To care = The nature of human being

(Boff 2008)

Elizabeth A. Johnson, CSJ

• Ask the Beast

(Johnson 2014)

Decentered Human.

• Ultimate depth (Paul Tillich)

• Cosmotheandric (Panikkar)

• Omega (de Chardin)

(Delio 2013)

Segala hal terkait satu sama lain.

Tanda kehadiran Trinitas. Semua ciptaan bersaudara.

(Paus Fransiskus 2015)

30. Ketika manusia semakin menyadari kompleksitas dunianya, di bidang teologi pun dikembangkan perbincangan tentang eko-teologi.

31. Teologi tidak lagi dipandang sebagai perbincangan mengenai tema-tema parsial, seperti penciptaan dan penebusan, tetapi menjadi suatu

perbincangan yang selalu berdialog dengan berbagai disiplin ilmu dalam peradaban manusia. Misalnya: sains, humaniora, atau pun keyakinan- keyakinan religius yang mengklaim diri sebagai ilmu.

32. Melalui dialog inter-disipliner itu, bahasa iman Kristiani dapat menembus aneka metafora klasik dan menemukan wilayah-wilayah baru yang lebih hidup.

33. Di sini, seluruh alam ciptaan menjadi tampak sebagai bagian dari kehadiran Allah Trinitas yang hadir di dalam: keterpisahan-Nya, keterlibatan-Nya, dan kehadiran-inspirasional-Nya.

a. Alam pun jadi saudaranya manusia: baik alam material, alam flora, maupun alam fauna, serta alam lingkungan sosial manusia yang luasnya

(24)

tanpa tepi.

b. Hukum-hukum alam tampak sebagai tata-kodrat (the order of nature) yang tidak pernah terpisah dari Allah:

i. Ada emergence-nya ii. Ada tumbuh-kembang-nya iii. Ada evolusi-nya

iv. Ada Alfa dan Omega-nya

34. Teologi sistematika yang mencapai eko-teologi ini pada akhirnya akan menyadari posisi “de-sentra manusia” (decentered man).

35. Buahnya adalah kapasitas yang terus berkembang untuk melakukan tindakan “care” (cura: penyembuhan, pelestarian, pembelaan).

36. Dengan adanya “care” maka kesadaran manusia akan semakin diperlengkapi untuk melawan egoisme (kesombongan, kemalasan, kebodohan, hawa nafsu yang kacau, rasa lekat tak teratur).

37. Tujuannya: untuk lebih ringan dalam melangkahkan kaki mengikuti gerak perjalanan Kristus di dunia ini.

(25)

Sesi 4. Pkl. 16:00 – 17:00 Konsultasi

(26)

Bibliografi

Boff, Leonardo. 2008. Essential Care: An Ethics of Human Nature. Translated by Alexandre Guilherme. Waco, TX: Baylor University Press.

Calvin, John. 1960a. Institutes of the Christian Religion: Book 1. Ed. John T. McNeill, Trans. Ford Lewis Battles. Philadelphia: Westminster.

———. 1960b. Institutes of the Christian Religion: Book 2. Ed. John T. McNeill, Trans.

Ford Lewis Battles. Philadelphia: Westminster.

———. 1960c. Institutes of the Christian Religion: Book 3. Ed. John T. McNeill, Trans.

Ford Lewis Battles. Philadelphia: Westminster.

———. 1960d. Institutes of the Christian Religion: Book 4. Ed. John T. McNeill, Trans.

Ford Lewis Battles. Philadelphia: Westminster.

Chia, Edmund Kee-Fook. 2021. Asian Christianity and Theology: Inculturation, Interreligious Dialogue, Integral Liberation. London: Routledge.

http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=B9DFB524E602DCA934BE4BCFFD4FF692.

Cruz, Tulud. 2010. An Intercultural Theology of Migration. Studies in Systematic Theology 5. Leiden: Brill. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=a72e0405a89caea1ca7d24772143ea6e.

Delio, Ilia. 2013. The Unbearable Wholeness of Being: God, Evolution, and the Power of Love.

New York: Orbis Books. https://libgen.is/book/index.php?

md5=6FABF8AFB01EDADCAF1939B1F5349EE3.

Dulles, Avery. 1991. Models of the Church. Expanded Edition. Theology. Image.

http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=F7F5AE9BCCEB02F36CC23D01F54ADD0B.

Embuiru SVD, Herman, trans. 1995. Katekismus Gereja Katolik. Ende: Arnoldus.

Farley, Wendy. 2015. The Thirst of God: Contemplating God’s Love with Three Women Mystics. Louisville, KY: Westminster John Knox Press.

https://libgen.is/book/index.php?

md5=2E140E3CAE5E8C7B5917CD252C3C50EE.

Gregersen, Niels Henrik. 2002. “From Anthropic Design to Self-Organized Complexity.” In From Complexity to Life: On the Emergence of Life and Meaning, edited by Niels Henrik Gregersen, 206–34. Oxford: Oxford University Press. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=ccba9c474059f28e1845ae13c06b08f9.

Grudem, Wayne. 1994. Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine. Leicester, England: IVP. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=7fb99bdabeb08521974f9a745cdc049c.

Gustavo, Gutierrez. 1988. A Theology of Liberation: History, Politics, and Salvation. New York: Orbis Books. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=13ad72feacfae8ec97068e1b59dbfa61.

Johnson, Elizabeth A. 2014. Ask the Beasts: Darwin and the God of Love. London:

Bloomsbury Academic. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

(27)

md5=794e07d4e7d9a32b63764f05a47fa690.

———. 2017. She Who Is: The Mystery of God in Feminist Theological Discourse. 25th Anniversary. Herder & Herder. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=33783da818eb394917f23ab72e985064.

Knight, Douglas H. 2009. “John Zizioulas on Eschatology and Persons.” In Phenomenology and Eschatology: Not Yet in the Now, edited by Neal Deroo and John P. Manoussakis, 91–100. Surrey, England: Ashgate.

http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=1a23cdc087fb16684e142d7c9c3f1550.

Kwok, and Pui-lan. 2000. Introducing Asian Feminist Theology. Sheffield, UK: Sheffield Academic Press. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=34a72e4fde9b738ee88df477e6add847.

Luther, Martin. 2000. Luther’s Little Instruction Book (The Small Catechism of Martin Luther). Translated by Robert E. Smith. Ebook: Pennsylvania State University. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=6e957015db7e81daec0a765b8b85549c.

———. n.d. Martin Luther’s Large Catechism. Translated by F. Bente and W.H.T. Dau.

Ebook: Bookyards. Accessed June 22, 2021.

http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=18b35c6f7d01e5bca5d7408002859507.

Lynch, Reginald. 2017. The Cleansing of the Heart: The Sacraments as Instrumental Causes in the Thomistic Tradition. Hardcover. Thomistic Ressourcement Series.

Catholic University of America Press.

http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=d99f597466f06c19e7ae61a2a989a797.

Manoussakis, John Panteleimon. 2009. “The Promise of the New and the Tyranny of the Same.” In Phenomenology and Eschatology: Not Yet in the Now, edited by Neal Deroo and John P. Manoussakis, 69–90. Surrey, England: Ashgate.

http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=1a23cdc087fb16684e142d7c9c3f1550.

Paus Fransiskus. 2015. Laudato Si. Bahasa Indonesia.

Reynolds, Thomas E. 2006. The Broken Whole: Philosophical Steps Toward a Theology of Global Solidarity. State University of New York Press.

http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=8f306f0cede46d5aa4255a614c9b70e8.

———. 2008. Vulnerable Communion: A Theology of Disability and Hospitality. Grand Rapids, Michigan: Brazon Press. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=8ea6ff7048ee52c35284715c56e6b211.

Rowland, Christopher, ed. 1999. The Cambridge Companion to Liberation Theology.

Cambridge Companions to Religion. Cambridge: Cambridge University Press. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=4d5fac655a60b27d01a7531a450e2c22.

(28)

York: St Vladimir’s Seminary Press. https://libgen.is/book/index.php?

md5=86D60DDA5F73CF6C4A93CA36DA0CB4D2.

Shildrick, Margrit. 2002. Embodying the Monster: Encounters with the Vulnerable Self (Published in Association with Theory, Culture & Society). 1st ed.

http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=7e214dcac92d33b2755f6d4c4b7a1bd9.

Stalsett, Sturla J. 2003. The Crucified And The Crucified: A Study In The Liberation Christology Of Jon Sobrino. Bern: Peter Lang.

http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=66b570518883f03240f2c4842a88312a.

Westphal, Merold. 2009. Whose Community? Which Interpretation?: Philosophical Hermeneutics for the Church. The Church and Postmodern Culture. Grand Rapids, MI: Baker Academic. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=dd0b22c59594353a1a8cde17caec4fe5.

Yong, Amos. 2007. Theology and Down Syndrome: Reimagining Disability in Late Modernity.

Waco, TX: Baylor University Press. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?

md5=f14c3e815d0f685d698735b4efea3bf7.

Zizioulas, John D. 1997. Being as Communion: Studies in Personhood and the Church.

Crestwood, NY: St. Vladimir’s Seminary Press.

https://libgen.is/book/index.php?

md5=6BB67D5E51A1ED04A74DE7F5DEAE8ABB.

———. 2006. Communion and Otherness. Edited by Paul McPartlan. London: T&T Clark. https://libgen.is/book/index.php?

md5=51A7E4ED6A7C6EBB59A4A4A2A2A6534B.

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat dua hasil optimal dalam penyelesaian problem transportasi di atas dengan Assignment method, VAM and MODI, Northwest Corner rule and Stepping-Stone method,

Jenis cacat internal ini tidak dapat tampak langsung oleh mata karena terletak pada bagian dalam lasan (pada gambar 2.12 memperlihatkan cacat las pada bagian dalam), maka

Produksi dari rangkaian peta topografi (peta seri) harus mengikuti suatu pola yang sama, terutama dalam penentuan proyeksi yang dipakai, spheroid yang dipakai, spesifikasi yang

dibuatkan aneka kostum tak cuma dari Jepang tapi juga dari negara lain. Malah, kata Ajie, pemesan dari Amerika Serikat justru mencapai 90% dari total order yang diterimanya setiap

Informasi ini hanya terkait dengan bahan spesifik yang ditetapkan dan mungkin tidak berlaku untuk bahan tersebut bila digunakan bersama bahan. lain atau dalam proses apa pun,

[r]

Mengkoordinasikan, mengendalikan dan membina pelaksanaan program Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2018/2019 Tingkat Kabupaten Bandung sesuai dengan Peraturan