Volume 1 Nomor 2: 141-153 (2020)
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran https://jurnal.pgrisultra.or.id/ojs/
ISSN 2721-9739 (Online)
Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas VII B SMP Negeri 5 pada Mata Pelajaran IPA Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games
Tournament (TGT)
Improving Student Learning Achievement in Natural Sciences Subject in Class VII B at SMP Negeri 5 Kendari (Junior High School) Through The Type of Team
Games Tournaments (TGT) Cooperative Learning Model
Kati Ekowahyuni 1*
1SMP Negeri 5 Kota Kendari
Jl. Kelapa No. 1, Anduonohu, Kec. Poasia, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
*e-mail: [email protected]
Received: 27th May, 2020; Revision: 28th June, 2020; Accepted: 28th July, 2020
Abstrak
Penelitian ini bertujuan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII-B SMP Negeri 5 Kendari pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII-B SMP Negeri 5 Kendari. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas VII-B yang berjumlah 34 siswa dengan perincian 22 orang perempuan dan 12 orang laki-laki. Hasil penelitian dalam tiga siklus pembelajaran adalah: 1) Hasil belajar yang dicapai oleh siswa pada siklus I yang memperoleh nilai ≥ 70 sebanyak 17 siswa (50%), 2) hasil belajar yang dicapai oleh siswa pada siklus II yang memperoleh nilai ≥ 70 sebanyak 22 siswa (64,7%), dan 3) hasil belajar yang dicapai oleh siswa pada siklus III yang memperoleh nilai
≥ 70 sebanyak 29 siswa (85,3%). Telah terjadi peningkatan hasil belajar pada siklus I bila dibandingkan pada tes awal dimana siswa yang tuntas belajar sebanyak 17 siswa bila dibandingkan pada tes awal sebanyak 14 siswa.
Pada siklus III telah terjadi peningkatan hasil belajar bila dibandingkan pada siklus kedua dimana jumlah siswa yang tuntas secara klasikal sebanyak 29 siswa (85,3%) dengan nilai rata-rata 75,0 bila dibandingkan pada siklus II siswa yang tuntas 22 siswa (64,7%) dengan nilai rata-rata 69,6. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII-B SMP Negeri 5 Kendari.
Kata kunci: prestasi belajar, kooperatif, TGT
Abstract
This study aims to use the TGT cooperative learning model to improve the learning achievement of class VII-B students of SMP Negeri 5 Kendari in Natural Science learning. This research was conducted in class VII- B SMP Negeri 5 Kendari. The subjects studied were students of class VII-B, totaling 34 students, consisting of 22 girls and 12 boys. The results of the study in three learning cycles were: 1) The learning outcomes achieved by students in cycle I who obtained a value of ≥ 70 were 17 students (50%), 2) the learning outcomes achieved by students in cycle II who obtained a value of ≥ 70 as many as 22 students (64.7%), and 3) the learning outcomes achieved by students in cycle III who obtained a value of ≥ 70 were 29 students (85.3%). There has been an increase in learning outcomes in cycle I when compared to the initial test where 17 students completed learning when compared to 14 students in the initial test. In cycle III there has been an increase in learning outcomes when compared to the second cycle where the number of students who completed classically was 29 students (85.3%) with an average value of 75.0 when compared to 22 students who completed the second cycle (64, 7%) with an average value of 69.6. The use of the Team Games Tournament (TGT) type cooperative learning model in Natural Science learning can improve the learning achievement of class VII-B students of SMP Negeri 5 Kendari.
Keywords: learning achievement, cooperative, TGT
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran 1(2): 141-153 (2020) PENDAHULUAN
Di era reformasi ini isu tentang rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia makin tajam, mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi, baik pendidikan umum maupun kejuruan. Sorotan terhadap masalah kualitas pendidikan tersebut semakin hari semakin berkembang. Faktor-faktor penyebabnya antara lain: karena tenaga pendidik yang menjalankan tugas belum memiliki motivasi yang memadai, rendahnya minat guru untuk mengembangkan diri, kurangnya profesionalitas guru, sistem penyampaian intruksional yang belum mengarah kepada tujuan, perpustakaan yang kurang memadai, kurangnya sarana dan prasarana sebagai penunjung proses belajar mengajar, serta rendahnya dana pendidikan dari pemerintah.
Kurikulum merupakan seperangkat perencanaan dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Rianto, 2002). Saat ini Indonesia sedang melakukan perubahan mendasar dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuju Kurikulum 2013 yang dikenal dengan istilah Kurikulum 13. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), khususnya di kelas VII-B pada SMP Negeri 5 Kendari berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis, belum memuaskan. Setelah dikaji dan ditanyakan kepada beberapa siswa tentang rendahnya penguasaan mereka terhadap materi tersebut, ternyata permasalahannya terletak pada guru.
Hal yang dirasakan para siswa dalam proses belajar mengajar IPA selama ini adalah kurangnya keterlibatan mereka dalam proses belajar mengajar. Guru terkesan lebih banyak menguasai kegiatan belajar mengajar sehingga aktivitas berpikir siswa kurang mendapat perjatian guru. Metode mengajar yang monoton dan tidak variatif.
Informasi yang disampaikan para siswa di atas, ditindak lanjuti oleh penulis dengan mengubah pola kegiatan belajar mengajar yang lebih berorientasi pada keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar aktif, yakni dengan cara mengoptimalkan penggunaan model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT). Selama ini metode diskusi merupakan bagian dari model pembelajaran kooperatif yang digunakan oleh guru dalam
pembelajaran IPA di SMP Negeri 5 Kendari.
Akan tetapi, disadari penerapannya belum optimal karena guru masih bertindak sebagai pemimpin diskusi bukan sebagai fasilisator, sehingga kadang-kadang materi yang mestinya diberikan kepada siswa untuk menanggapi atau menjelaskannya diambil alih guru.
Untuk lebih meyakinkan penulis, terhadap penguasaan materi pembelajaran IPA sekaligus sebagai tolak ukur untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran melalui metode diskusi selama ini, maka dilakukan tes awal.
Hasilnya menunjukkan bahwa siswa kelas VII-B hanya 14 siswa (41,2%) dari 34 siswa yang mencapai ketuntasan belajar individual dengan nilai minimal nilai 70 . Jika dilihat dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), hal ini belum mencapai ketuntasan belajar yaitu 70% secara individual sedangkan cara klasikal yakni minimal 80% memperoleh nilai minimal 70. Hal ini berarti pula penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran IPAi belum diterapkan secara optimal.
Melihat kondisi di atas penulis berupaya untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran IPA melalui pembenahan tipe pembelajaran yang dilaksanakan selama ini.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas VII-B SMP Negeri 5 Kendari adalah mengoptimalkan penggunaan model pembelajaran kooperatif dipadukan dengan metode lainnya, seperti metode Teams Games Tournament (TGT), pemberian tugas, dan sebagainya. Optimalisasi penggunaan metode Teams Games Tournament (TGT), di atas diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan mengurangi dominasi guru dalam proses belajar mengajar, serta melatih berpikir kritis dan ilmiah para siswa. Dengan cara itu, maka ketercapaian hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.
Sehubungan hal tersebut, maka penulis berinisiatif mengubah pola pembelajaran menjadi bentuk pola permainan team (kelompok) yang dikenal dengan Teams Games Tournament (TGT) dengan mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul “ Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas VII- B SMP Negeri 5 Kendari pada Mata Pelajaran IPA Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT)”.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah,
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran 1(2): 141-153 (2020)
“Bagaimana efektifitas penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas VII-B SMP Negeri 5 Kendari”?
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar siswa pada pembelajaran IPA melalui optimalisasi penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) siswa kelas VII-B SMP Negeri 5 Kendari.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research). Ciri utama dari penelitian tindakan kelas yakni adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar di kelas.
Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII-B SMP Negeri 5 Kendari pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013. Siswa kelas VII-B berjumlah 34 siswa yang terdiri atas 22 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki.
Faktor yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan yang timbul, ada beberapa faktor yang harus diselidiki. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Faktor siswa, yaitu mengetahui hasil belajar siswa setelah mempelajari materi pelajaran IPA.
2. Faktor guru, yaitu melihat bagaimana materi pelajaran disiapkan, teknik yang digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).
3. Faktor sumber belajar, yaitu melihat apakah sumber belajar dapat mendukung pelaksanaan model pembelajaran yang akan diterapkan.
Prosedur Pelaksanaan
Prosedur pelaksanaan tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari 3 (tiga) siklus, dengan tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang diselidiki. Setiap siklus tindakan dilakukan
dalam 2 (dua) kali pertemuan dan diakhiri dengan pemberian tes.
Adapun pelaksanaan tindakan tersebut mengikuti prosedur penelitian tindakan kelas, yaitu
1. Perencanaan (planning) 2. Pelaksanaan tindakan (action)
3. Pelaksanaan observasi dan evaluasi (observation and evaluation)
4. refleksi (reflecton).
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut:
Siklus I
1. Tahap perencanaan, kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini meliputi:
a. Menemui kepala sekolah, dan meminta kesediaan guru IPA untuk membantu pelaksanaan penelitian.
b. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I.
c. Membuat lembar observasi, untuk mengamati proses belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) diaplikasikan.
d. Membuat alat evaluasi untuk melihat apakah prestasi belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran yang diterapkan dapat ditingkatkan.
e. Membuat jurnal refleksi diri pada siklus I.
2. Tahap pelaksanaan tindakan, kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah masuk mengajar di kelas VII-B.
Pelaksanaan siklus I sesuai RPP dilakukan sebanyak 2 (dua) kali pertemuan, dengan alokasi waktu 80 menit untuk satu kali pertemuan.
Setelah melakukan pembelajaran sebanyak 2 (dua) kali pertemuan maka pada pertemuan berikutnya semua siswa diberikan tes siklus I untuk mengetahui hasil belajar siswa.
3. Tahap observasi dan evaluasi, pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh guru dan pengamatan terhadap aktivitas siswa sebanyak 2 (dua) kali pertemuan.
4. Tahap refleksi, pada tahap ini hasil yang diperoleh sebelumnya dikumpulkan dan dianalisis. Peneliti bersama dengan guru yang bertindak sebagai observer saling berdiskusi untuk memperbaiki beberapa kekurangan atau kelemahan yang terjadi
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran 1(2): 141-153 (2020) di kelas baik yang dilakukan oleh guru
saat mengelola pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan yang dilakukan oleh siswa.
Siklus II
1. Tahap perencanaan, kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini meliputi:
a. Menemui kepala sekolah, dan meminta kembali kesediaan guru IPA untuk membantu pelaksanaan penelitian.
b. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II.
c. Membuat lembar observasi, untuk mengamati proses belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) diaplikasikan.
d. Membuat alat evaluasi untuk melihat apakah prestasi belajar IPA siswa dengan menggunakan model pembelajaran yang diterapkan dapat ditingkatkan.
e. Membuat jurnal refleksi diri pada siklus II.
2. Tahap pelaksanaan tindakan, kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah masuk mengajar di kelas VII-B. Pelaksanaan siklus II sesuai RPP dilakukan sebanyak 2 (dua) kali pertemuan, dengan alokasi waktu 80 menit untuk satu kali pertemuan. Setelah melakukan pembelajaran sebanyak 2 (dua) kali pertemuan maka pada pertemuan berikutnya semua siswa diberikan tes siklus II untuk mengetahui hasil belajar siswa.
3. Tahap observasi dan evaluasi, pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh guru dan pengamatan terhadap aktivitas siswa sebanyak 2 (dua) kali pertemuan.
4. Tahap refleksi, pada tahap ini hasil yang diperoleh sebelumnya dikumpulkan dan dianalisis. Peneliti bersama dengan guru yang bertindak sebagai observer saling berdiskusi untuk memperbaiki beberapa kekurangan atau kelemahan yang terjadi di kelas baik yang dilakukan oleh guru saat mengelola pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan yang dilakukan oleh siswa.
Siklus III
1. Pelaksanaan pada tahap perencanaan kegiatan yang dilakukan meliputi:
a. Menemui kepala sekolah, dan meminta kembali kesediaan guru IPA untuk membantu pelaksanaan penelitian.
b. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus III.
c. Membuat lembar observasi, untuk mengamati proses belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) diaplikasikan.
d. Membuat alat evaluasi untuk melihat apakah prestasi belajar IPA siswa dengan menggunakan model pembelajaran yang diterapkan dapat ditingkatkan.
e. Membuat jurnal refleksi diri pada siklus III.
2. Tahap pelaksanaan tindakan, kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah masuk mengajar di kelas VII-B. Pelaksanaan siklus III sesuai RPP dilakukan sebanyak 2 (dua) kali pertemuan, dengan alokasi waktu 80 menit untuk satu kali pertemuan. Setelah melakukan pembelajaran sebanyak 2 (dua) kali pertemuan maka pada pertemuan berikutnya semua siswa diberikan tes siklus III untuk mengetahui hasil belajar siswa.
3. Tahap observasi dan evaluasi, pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh guru dan pengamatan terhadap aktivitas siswa sebanyak 2 (dua) kali pertemuan.
4. Tahap refleksi, pada tahap ini hasil yang diperoleh sebelumnya dikumpulkan dan dianalisis. Peneliti bersama dengan guru yang bertindak sebagai observer saling berdiskusi untuk memperbaiki beberapa kekurangan atau kelemahan yang terjadi di kelas baik yang dilakukan oleh guru saat mengelola pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan yang dilakukan oleh siswa.
Data dan Teknik Pengambilan Data 1. Sumber data adalah guru dan siswa.
2. Jenis data adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data tersebut diperoleh dari tes hasil belajar, lembar observasi dan jurnal.
3. Teknik pengambilan data.
a. Lembar observasi, digunakan untuk memperoleh data mengenai kondisi pelaksanaan model pembelajaran tipe Teams Games Tournament (TGT).
b. Jurnal, digunakan untuk memperoleh data mengenai refleksi diri siswa dan guru.
c. Tes, digunakan untuk memperoleh data mengenai prestasi belajar siswa pada
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran 1(2): 141-153 (2020) mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA).
Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini, yaitu :
1. Indikator keberhasilan yang berkaitan dengan peningkatan prestasi belajar siswa, yaitu jika Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) siswa mencapai 75% setiap siswa maka berarti tuntas secara individual.
2. Jika Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) siswa 80% secara keseluruhan maka berarti tuntas secara klasikal.
3. Indikator keberhasilan yang berkaitan dengan kemampuan guru mengelola pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan nilai 85% dari jumlah keseluruhan aspek pengamatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
1. Data Nilai Prestasi Belajar Siswa
Hasil tes yang diberikan pada siswa diakhir pembelajaran pada siklus I, siklus II dan siklus III dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:
Untuk mengukur nilai prestasi belajar siswa pada pertemuan I dan pada pertemuan II, maka pada akhir siklus I dilakukan evaluasi tertulis menggunakan soal essay/uraian. Soal yang digunakan berjumlah 5 (lima) butir yang disertai dengan skor total 19.
Berdasarkan analisis yang dilakukan diperoleh informasi bahwa dari 34 siswa yang dikenakan tindakan pada pembelajaran siklus I terdapat 17 siswa (50%) yang telah mencapai ketuntasan, sedangkan 17 siswa lainnya (50%) yang belum belum mencapai ketuntasan yang diharapkan. Hasil ini belum memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan.
Selanjutnya untuk mengukur nilai prestasi belajar siswa pada siklus II pada pertemuan I dan pertemuan II, maka pada akhir siklus II dilakukan evaluasi tertulis menggunakan soal essay/uraian. Soal yang digunakan berjumlah 3 (tiga) butir yang disertai dengan skor total 7.
Berdasarkan analisis yang dilakukan diperoleh informasi bahwa dari 34 siswa yang dikenakan tindakan pada pembelajaran siklus II terdapat 22 siswa (64,7%) yang telah mencapai ketuntasan, sedangkan 7 siswa lainnya (35,3%) yang belum belum mencapai ketuntasan yang
diharapkan. Hasil ini belum memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan.
Selanjutnya untuk mengukur nilai prestasi belajar siswa pada siklus III pada pertemuan I dan pertemuan II, maka pada akhir siklus III dilakukan evaluasi tertulis menggunakan soal essay/uraian. Soal yang digunakan berjumlah 4 (empat) butir yang disertai dengan skor total 14.
Berdasarkan analisis yang dilakukan diperoleh informasi bahwa dari 34 siswa yang dikenakan tindakan pada pembelajaran siklus III terdapat 29 siswa (85,3%) yang telah mencapai ketuntasan, sedangkan 5 siswa lainnya (14,7%) yang belum belum mencapai ketuntasan yang diharapkan. Hasil ini telah memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan.
Terjadinya peningkatan jumlah siswa yang tuntas hasil belajarnya pada siklus III disebabkan oleh beberapa hal antara lain: 1) siswa termotivasi untuk belajar, 2) siswa yang pintar mulai membantu siswa yang kurang pintar, 3) timbulnya saling berkompetisi baik antar anggota dalam satu kelompok maupun antar anggota pada kelompok lain, 4) guru memotivasi siswa pada kelompok siswa yang rendah nilainya agar pembelajaran berikutnya lebih baik lagi, 5) guru memaksimalkan kembali strategi pembelajaran kooperatif tipe TGT, dan 6) guru memberikan tugas yang diselesaikan di rumah sehingga pada pembelajaran berikutnya siswa sudah mempunyai kesiapan mental maupun kesiapan pengetahuan.
Adapun siswa yang belum tuntas langkah selanjutnya diberikan program perbaikan atau program remedial agar siswa tersebut dapat tuntas pembelajarannya.
2. Hasil Pelaksanaan Tindakan Siklus I a. Perencanaan
Setelah ditetapkan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dalam proses pembelajaran di kelas, maka kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan beberapa hal yang diperlukan pada pelaksanaan tindakan yaitu:
i. Membuat skenario pembelajaran untuk tindakan siklus I.
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran 1(2): 141-153 (2020) Tabel 1. Data Nilai Prestasi Belajar Siswa
ii. buat lembar observasi untuk observer/pengamat terhadap guru maupun siswa untuk melihat kegiatan mereka selama proses belajar mengajar berlangsung.
iii. Menyiapkan perangkat pembelajaran yang dibutuhkan seperti LKS, kartu-kartu yang diberi nomor sesuai dengan nomor soal dalam LKS.
iv. Menyiapkan lembar pengamatan diskusi kelompok.
v. Merancang alat evaluasi untuk tes tindakan siklus I.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan pada tahap ini, kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dilaksanakan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Pada pertemuan pertama, kegiatan pembelajaran diawali dengan guru memotivasi siswa dengan menjelaskan pentingnya materi ini dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian guru memberikan materi pelajaran yang hendak dipelajari oleh siswa. Selanjutnya guru melakukan pembentukan kelompok yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), yaitu setiap
No Nama Siklus
Jumlah Rata-rata
I II III
1. Edwin 75 80 85 240 80,0
2. Vira Cindi Cendikia 75 75 85 235 78,3
3. Syarina Mansur 70 70 80 220 73,3
4. Arlan 65 65 70 200 66,7
5. Selviana 75 70 75 220 73,3
6. Ahmad Zulfadli 80 80 80 240 80,0
7. Irmayani Jubir 55 70 75 200 66,7
8. Andi Ayu Febriyanti 60 75 75 210 70,0
9. Muh. Suhardin 75 75 75 225 75,0
10. Nurul Fadillah 65 75 75 215 71,7
11. Hasdin Lala 65 75 75 215 71,7
12. Abdul Muhaimin 55 60 65 180 60,0
13. Tyas Oktaviana 65 75 75 215 71,7
14. Fadhal Rahmad 60 70 75 205 68,3
15. Hikmala Dewi 55 65 75 215 65,0
16. Hermansyah 50 55 65 170 56,7
17. Annisa 60 70 70 200 66,7
18. Emma Malini 85 75 75 235 78,3
19. Ayu Fitriani 55 60 65 180 60,0
20. Herlina 75 75 75 225 75,0
21. Muhammad Kamil 75 65 80 220 73,3
22. Yeyen Sri Mulyani 60 60 80 200 66,7
23. Ld. Muh. Sahibul 60 65 65 190 63,3
24. Nadya Milenia 80 80 80 240 80,0
25. Nurhaliza Ukas 65 65 80 210 70,0
26. Alfira 65 70 75 210 70,0
27. Ibnu Aleksander 75 65 85 235 75,0
28. Ummayah Marsya 75 65 80 220 73,3
29. Rian Adrianto 70 70 75 215 71,7
30. Ica Putri Syariani 55 60 65 180 60,0
31. Andi Julia 75 75 75 225 75,0
32. Cristina Yerisa 70 70 75 215 71,7
33. Ld. Muh. Suardi 70 70 70 210 70,0
34. Aldi Rifaldi 75 70 75 215 73,3
Jumlah nilai total 2290 2365 2550 7230 2401,7
Rata-rata 67,4 69,6 75,0 212,7 70,6
Jumlah siswa yang tuntas 17 22 29
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran 1(2): 141-153 (2020) kelompok terdiri dari 4-5 orang anggota setiap
kelompok. Kelompok yang dibentuk merupakan kelompok yang heterogen ditinjau dari kemampuan kognitif yang berbeda, ras, dan jenis kelamin. Kegiatan selanjutnya siswa persilahkan oleh guru untuk membuka LKS dan mendiskusikan secara kelompok.
Guru memantau dan membimbing jalannya diskusi terutama pada kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal LKS. Setelah siswa menyelesaikan soal, guru menunjuk dan memanggil wakil dari tiap kelompok untuk menuju meja turnamen dan mengambil kartu yang telah diacak guru selanjutnya siswa mempresentasikan jawabannya dari soal yang sesuai dengan nomor soal pada kartu yang telah diacak tadi. Guru kemudian memberi penguatan kepada siswa yang telah mempresentasikan jawaban untuk kelompoknya, dengan pemberian skor untuk kelompok secara transparan. Selama proses pembelajaran pengamatan dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa .
c. Observasi
Hal-hal yang diobservasi selama proses pembelajaran berlangsung meliputi: proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), serta perhatian siswa, kerjasama siswa dalam kelompok dan keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan dan pendapat. Hasil observasi terhadap guru pada pertemuan pertama.
Pelaksanaan pada pertemuan pertama, guru belum bisa mengorganisasikan waktu dengan baik. Hal ini terlihat pada saat presentase jawaban, tidak semua kelompok dapat mempresentasikan jawabannya (hanya 4 kelompok yang tampil dari 6 kelompok), sehingga pertemuan pertama skor kelompok dijadikan motivasi untuk pertemuan berikutnya.
Pelaksanaan pada saat pembagian kelompok, guru belum mengorganisasikan dengan baik sehingga suasana kelas ribut dan pembelajaran kelompok tidak berjalan dengan semestinya.
Guru dalam memantau jalannya diskusi dengan mendekati tiap kelompok, namun tidak semua terbimbing sehingga suasana kelas menjadi gaduh.
Ketika guru menunjuk dan meminta siswa maju ke meja turnamen, guru belum bisa mengorganisasikan kelas sehingga suasana
kelas menjadi gaduh dan ada beberapa siswa menolak untuk mewakili kelompoknya dan guru menuruti keinginan siswa tersebut. Penskoran kelompok dilakukan secara transparan, hal ini dilakukan karena guru ingin lebih memotivasi siswa agar pertemuan berikutnya lebih baik.
Hal-hal yang diobservasi selama proses pembelajaran berlangsung meliputi: proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), serta perhatian siswa, kerjasama siswa dalam kelompok dan keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan dan pendapat. Hasil observasi terhadap guru pada pertemuan kedua.
Terkadang guru tidak memantau jalannya diskusi, dan hanya membimbing pada kelompok tertentu saja. Sikap tegas guru berdampak positif terhadap siswa, hal ini terlihat pada saat guru menunjuk dan meminta wakil-wakil tiap kelompok untuk maju ke meja turnamen, sehingga tidak ada lagi siswa yang menolak untuk mewakili kelompoknya.
Guru dapat mengorganisasikan waktu dengan baik, hal ini terlihat dari presentasi jawaban soal LKS dapat dilakukan oleh semua kelompoknya. Guru memberikan penghargaan berupa ungkapan kata-kata pujian dan pemberian applaus yang meriah bagi yang memperoleh skor tertinggi ketika presentasi di pertemuan ke dua.
Guru memberi tahu siswa akan mengumumkan kelompok yang mencapai hasil tertinggi hasil tes (evaluasi) pada papan pengumuman mingguan.
Hal-hal yang diobservasi selama proses pembelajaran berlangsung meliputi: proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), serta perhatian siswa, kerjasama siswa dalam kelompok dan keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan dan pendapat. Hasil observasi terhadap siswa pada pertemuan pertama.
Pelaksanaan pada pertemuan pertama siswa masih merasa kaku dengan model pembelajaran yang diterapkan mengingat model pembelajaran kooperatif tipe TGT merupakan hal baru bagi mereka. Saat kerja kelompok diskusi berlangsung tidak semua siswa aktif dalam kelompoknya, hal ini terlihat pada saat penyelesaian soal-soal LKS ada sebagian siswa yang hanya diam dan menunggu jawaban dari
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran 1(2): 141-153 (2020) temannya, ada juga siswa yang ribut tidak
berada dalam kelompoknya.
Ketika guru menunjuk dan meminta wakil dari tiap kelompok maju ke meja turnamen, ada sebagian siswa yang menolak karena mereka tidak siap untuk mempresentasikan jawabannya.
Ketika presentase dilakukan oleh wakil-wakil kelompok terlihat siswa-siswa lain belum berani mengeluarkan pendapatnya ataupun bertanya.
Pelaksanaan pada pertemuan kedua, siswa sudah mulai aktif dalam kelompoknya walaupun ada sebagian yang tidak fokus terhadap proses pembelajaran. Ketika siswa ditunjuk guru untuk mempresentasikan hasil kerjanya sudah tidak ada siswa yang menolak, walaupun dengan keadaan terpaksa, hal ini disebabkan tindakan tegas guru yang mengancam akan mengurangi skor kelompok yang anggotanya menolak untuk mempresentasikan hasil jawabannya. Ketika salah satu wakil kelompok mempresentasekan jawabannya, ada kelompok siswa yang berani menberikan pendapatnya bahkan ada yang bertanya.
d. Evaluasi
Setelah materi yang diajarkan sebanyak dua kali pertemuan, maka pertemuan ketiga diadakan evaluasi/tes tindakan siklus I. Hal ini dilakukan untuk melihat peningkatan prestasi belajar IPA setelah model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) diterapkan. Siswa harus bertanggung jawab secara individu terhadap hasil belajarnya meskipun dalam proses pembelajaran dilakukan secara berkelompok.
Selain itu, dari hasil tes tindakan siklus I prestasi belajar siswa masih banyak yang berada dibawah nilai standar 70, hanya ada 17 siswa (50%) yang tuntas, hal ini disebabkan dari kurangnya minat dan perhatian siswa terhadap proses pembelajaran. Keadaan yang demikian dipengaruhi oleh kebiasaan siswa terhadap sumber pelajaran yang berfokus pada guru, sehingga siswa kurang mampu memahami materi yang diajarkan.
Berdasarkan data-data di atas serta melihat hasil belajar siswa pada pelaksanaan tindakan siklus I yang belum memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan dalam penelitian ini, maka penelitian ini dilanjutkan pada tindakan siklus II.
e. Refleksi
Pada tahap ini, peneliti dan observer/pemantau mendiskusikan dan menilai kekurangan-kekurangan yang terdapat pada
pelaksanaan tindakan siklus I untuk kemudian diperbaiki dan dilaksanakan pada tindakan siklus II.
Berdasarkan hasil observasi dari pelaksanaan tindakan siklus I yang berjalan sebanyak dua kali pertemuan, peneliti berasumsi bahwa guru dan siswa belum memahami tentang langkah-langkah dan manfaat model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Hal ini terlihat dari hasil observasi guru, dimana pemanfaatan waktu belum sesuai dengan rencana pembelajaran dan disisi lain terlihat sedikitnya siswa yang mampu mempresentasekan jawabannya didepan kelas.
Siswa belum memanfaatkan kerjasama dalam kelompok, karena dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT seharusnya setiap siswa dalam kelompok diharapkan mampu memahami soal-soal dengan baik sehingga jika mendapat giliran untuk mengambil soal di mejaturnamen dan pada saat mempresentasekan, seharusnya sudah siap dan tidak ada lagi yang menolak.
3. Tindakan Siklus II a. Perencanaan
Berdasarkan hasil observasi, evaluasi dan refleksi pada tindakan siklus I, maka peneliti bersama guru merencanakan tindakan siklus II agar kekurangan dan kelemahan pada tindakan siklus I dapat diminimalkan sehingga tindakan siklus II dapat mengalami penyempurnaan sesuai dengan indikator keberhasilan yang diinginkan dalam penelitian ini. Hal-hal yang perlu diperbaiki dan kemudian dilaksanakan pada siklus II adalah sebagai berikut:
i. Guru harus mengorganisasikan waktu dengan baik yang disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).
ii. Guru harus lebih mengaktifkan pemantauan dan bimbingan terhadap siswa selama diskusi berlangsung.
iii. Guru harus lebih memotivasi siswa agar mau mengeluarkan pendapat ataupun bertanya.
iv. Sikap tegas guru sangat diperlukan agar tidak siswa yang menolak atau yang merasa terpaksa jika ditunjuk oleh guru untuk mewakili kelompoknya maju ke meja turnamen serta mempresentasekan jawaban.
v. Guru harus bisa memberikan gambaran yang lebih jelas kepada siswa tentang tujuan sesungguhnya dari kegiatan belajar secara kooperatif.
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran 1(2): 141-153 (2020) Pada tahap perencanaan ini peneliti bersama
observer/pemantau melakukan hal-hal sebagai berikut:
i. Membuat skenario pembelajaran untuk tindakan siklus II.
ii. Membuat lembar observasi untuk observer/pemantau terhadap guru dan siswa untuk melihat kegiatan mereka selama proses belajar mengajar berlangsung.
iii. Menyiapkan perangkat pembelajaran yang diperlukan seperti LKS, kartu- kartu untuk pelaksanaan pertandingan permainan kelompok (TGT).
iv. Menyiapkan jurnal dan lembar pengamatan diskusi kelompok.
v. Menyiapkan alat evaluasi untuk tindakan siklus II.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan siklus II, kegiatan pembelajaran kooperatif tipe TGT kembali dilakukan sesuai dengan rencana pembelajaran yang dibuat sebelumnya.
Pada tahap ini, guru melaksanakan pengajaran di kelas dengan siswa berada dikelompoknya masing-masing sebagaimana pembagian kelompok pada tindakan siklus I.
Selama proses belajar berlangsung, peneliti tetap mengobservasi kegiatan guru maupun kegiatan siswa.
c. Observasi
Hasil observasi terhadap guru menunjukkan hal- hal antara lain:
i. Guru sudah mampu mengorganisasikan waktu dengan baik.
ii. Guru sudah bisa mengefektifkan pemantauan dan bimbingan terhadap siswa dalam kelompok yang merasa terabaikan.
iii. Guru sudah memberikan motivasi kepada siswa dengan memberikan skor tambahan bagi siswa yang berani mengeluarkan pendapatnya.
Hasil observasi terhadap siswa menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
i. Siswa sudah mulai terlihat aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini disebabkan siswa mulai terbiasa dengan model pembelajaran tipe TGT yang diterapkan.
ii. Sebagian siswa sudah mampu bekerjasama dalam kelompoknya masing-masing. Hal ini terlihat pada saat diskusi berlangsung sebagian besar siswa aktif didalam kelompoknya.
iii. Sebagian siswa sudah berani bertanya dan mengungkapkan pendapatnya tentang materi yang diajarkan.
iv. Siswa yang ditunjuk oleh guru untuk mewakili kelompoknya maju kemeja turnamen saat mempresentasekan jawabannya. Sudah tidak ada siswa yang menolak bahkan ada sebagian siswa yang menawarkan dirinya untuk mewakili kelompoknya untuk mempresentasekan jawabannya.
d. Evaluasi
Pelaksanaan penelitian pada tahap selanjutnya, yaitu memberikan tes tindakan siklus II secara perorangan, tes ini bertujuan untuk melihat peningkatan prestasi belajar siswa, apakah pelaksanaan tindakan siklus II lebih baik dari tindakan siklus I.
Hasil tes yang ada, siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 sebanyak 22 siswa atau meningkat 14,7% dari 34 siswa . Hasil ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari hasil tes tindakan siklus I ke tindakan siklus II yaitu sebanyak 5 siswa dari sebelumnya hanya 17 siswa.
e. Refleksi
Pelaksanaan pada tahap refleksi tindakan siklus II menunjukkan adanya peningkatan terhadap guru maupun siswa bila dibandingkan dengan hasil pelaksanaan tindakan siklus I.
Hasil observasi yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT masih memberikan hasil yang belum sempurna.
Pada tahap refleksi ini, yang dilaksanakan secara kolaboratif antara guru (peneliti) dan observer/pemantau, menunjukkan bahwa masih ada yang harus diperbaiki, dimana menurut pengamatan observer hanya sebagian siswa yang mampu menyampaikan pendapat atau menjawab pertanyaan yang diberikan walaupun mereka aktif dalam kelompoknya. Ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh siswa terhadap materi pelajaran yang sedang diajarkan serta kurangnya sumber pelajaran yang semata-mata hanya berasal dari guru.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas serta melihat hasil belajar mereka pada tindakan siklus II yang belum memenuhi indikator keberhasilan dalam penelitian ini, maka penelitian ini dilanjutkan pada tindakan siklus III.
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran 1(2): 141-153 (2020) 4. Tindakan Siklus III
a. Perencanaan
Berdasarkan hasil observasi, evaluasi dan refleksi pada tindakan siklus II, maka peneliti bersama observer/pemantau merencanakan tindakan siklus III, agar kekurangan-kekurangan pada tindakan siklus II dapat diminimalkan, sehingga diharapkan tindakan siklus III mengalami penyempurnaan.
Hal-hal yang dilakukan pada tindakan siklus III ini merupakan perbaikan pada tindakan siklus II yaitu guru harus menginformasikan kepada siswa akan pentingnya kerjasama dalam kelompok untuk mendapatkan hasil belajar yang baik secara individu. Pada tahap perencanaan ini peneliti berkolaborasi dengan observer/pemantau melakukan hal-hal sebagai berikut:
i. Membuat rencana pembelajaran untuk tindakan siklus III.
ii. Membuat lembar observasi terhadap siswa maupun guru untuk memantau kegiatan mereka selama proses belajar mengajar berlangsung.
iii. Menyiapkan perangkat pembelajaran yang diperlukan seperti LKS dan kartu- kartu yang diberi nomor soal sesuai nomor yang ada di LKS.
iv. Menyiapkan jurnal dan lembar pengamatan diskusi kelompok.
v. Merancang alat evaluasi untuk tindakan siklus III.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran koperatif tipe TGT pada siklus III kembali dilakukan sebagai rangkaian dalam pelaksanaan penelitian dengan memperhatikan hasil refleksi pada tindakan siklus II. Dalam pelaksanaan tindakan siklus III ini, guru melaksanakan pengajaran di kelas masih dalam kelompok seperti pada siklus II. Pemantau kembali mengobservasi kegiatan guru dan siswa selama jalannya proses pembelajaran kooperatif tipe TGT.
c. Observasi
Proses pembelajaran tipe TGT pada tindakan siklus III telah mengalami peningkatan.
Hasil-hasil observasi terhadap guru menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
i. Guru memberikan penghargaan kepada siswa ketika mereka bertanya, dapat menjawab atau mengungkapkan pendapatnya tentang materi yang diajarkan.
ii. Sikap tegas guru dengan mengatakan bahwa setiap siswa bertanggung jawab untuk mempresentasekan jawabannya di papan tulis dan berdampak pada nilai individu siswa tersebut.
iii. Sikap konsisten guru dengan memberikan penghargaan dalam bentuk hadiah bagi siswa yang memperoleh skor tertinggi pertama, kedua, dan ketiga.
Hasil observasi terhadap siswa menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
i. Sebagian besar siswa memperhatikan secara penuh ketika guru menyampaikan materi yang akan dipelajari.
ii. Semua siswa telah mampu bekerja sama dalam kelompok, hal ini terlihat ketika siswa mempresentasekan jawabannya didepan kelas, jawaban siswa sudah benar.
iii. Sebagian besar siswa sudah berani menanyakan hal-hal yang kurang jelas dan mengungkapkan pendapatnya tentang materi yang diajarkan.
d. Evaluasi
Rangkaian selanjutnya pada tindakan ini adalah memberikan tes tindakan siklus III secara perorangan. Tes ini bertujuan untuk melihat apakah pelaksanaan tindakan siklus III lebih baik atau mengalami peningkatan dari pelaksanaan tindakan siklus II.
Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa jika dibandingkan dengan pelaksanaan tindakan siklus II. Siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 mencapai 29 orang (85,3%) jika dibandingkan dengan hasil tes pada siklus II hanya 22 orang yang tuntas dari 34 siswa yang dikenai tindakan, ini berarti secara klasikal telah mencapai ketuntasan minimal dari 80% sesuai dengan ketentuan dokumen II SMP Negeri 5 Kendari.
e. Refleksi
Kegiatan refleksi pada tindakan siklus III ini menunjukkan hasil yang cukup, baik hasil pengamatan terhadap guru maupun siswa. Hasil observasi yang telah dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) sudah memberikan hasil yang lebih baik walaupun dalam penyampaian pendapat dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru masih kurang, tetapi siswa sudah mengerti dan aktif membantu teman-teman sekelompoknya untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan dalam
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran 1(2): 141-153 (2020) LKS. Hal ini berarti, siswa sudah mempunyai
motivasi belajar yang cukup baik terhadap materi yang dipelajari dan mengerti pula arti dari proses pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Hasil evaluasi atau tes tindakan siklus III terlihat bahwa hasil belajar IPA baik secara kelompok maupun klasikal serta individu telah mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan pelaksanaan siklus I dan siklus II.
Bertitik tolak dari hasil yang diperoleh pada tindakan siklus III berarti prestasi belajar siswa mengalami peningkatan, maka penelitian ini dihentikan sampai pada tindakan siklus III.
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini sudah tercapai yaitu Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) secara klasikal 80% dan secara individu ≥ 75%. Dengan demikian, hipotesis tindakan telah tercapai dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) prestasi belajar IPA siswa kelas VII-B SMP Negeri 5 Kendari dapat ditingkatkan.
Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi pada siklus I, guru dan siswa telah melakukan sebagian kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan cukup baik, walaupun terdapat kekurangan- kekurangan seperti yang terlihat dari hasil observasi maupun refleksi pada tindakan siklus I. Pada pertemuan pertama sebagian siswa masih merasa tidak nyaman dengan anggota kelompok barunya. Kekurangan lain juga yang terlihat pada guru, dimana guru belum bisa mengorganisasikan waktu dengan baik. guru selalu banyak memberikan waktu kepada siswa untuk menyelesaikan soal, akibatnya pada saat kegiatan presentase hasil kerja kelompok, tidak semua kelompok dapat mempresentasekan jawaban mereka. Sementara dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT yang paling ditekankan adalah adanya kompetisi yang dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan antara anggota dalam suatu bentuk
“Tournament” (Winarno. 2002).
Hasil observasi pada siklus I juga menunjukkan bahwa siswa masih asing dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Hal ini terlihat pada pertemuan pertama, pada saat guru meminta wakil tiap kelompok untuk maju ke meja turnamen banyak siswa yang menolak, sehingga guru harus menunjuk siswa yang lain.
Hal ini disebabkan tidak semua siswa siap dengan jawaban dari soal-soal LKS yang
diberikan. Pada saat kegiatan diskusi berlangsung tidak semua siswa aktif dalam kelompoknya. Faktor yang paling dominan yang menyebabkan hal ini terjadi adalah rasa malu ataupun takut yang dialami sebagian siswa akibat dari penguasaan materi pelajaran oleh siswa yang berkemampuan rendah. Bertitik tolak dari beberapa kelemahan dan kekurangan yang masih ada serta prestasi belajar siswa yang rendah pada tindakan siklus I yang belum memenuhi KKM 70, maka penelitian ini dilanjutkan pada tindakan siklus II. Pada tindakan siklus II, model pembelajaran kooperatif tipe TGT kembali dilaksanakan.
Siswa tetap berada dalam kelompoknya masing- masing sebagaimana kelompok pada tindakan siklus I.
Berdasarkan hasil observasi pada siklus II, guru dan siswa telah melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan.
Beberapa kekurangan yang terjadi pada tindakan siklus I sudah dapat diperbaiki. Guru sudah mampu mengorganisasikan waktu dengan baik sehingga tidak ada lagi kegiatan yang tidak dilaksanakan. Guru telah mampu mengefektifkan pemantauan dan bimbingan terhadap siswa dalam kelompok, sehingga tidak ada lagi siswa atau kelompok yang merasa terabaikan. Disamping itu pula, sebagian besar siswa sudah terlihat aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada siklus II, siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 sebanyak 22 siswa atau 64,7% dari 34 siswa dengan nilai rata-rata 69,6. Hasil ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari hasil tes tindakan siklus I ke tindakan siklus II yaitu sebanyak 5 siswa dari sebelumnya hanya 17 siswa. Hasil yang diperoleh siswa menunjukkan bahwa siswa telah memahami model pembelajaran kooperatif tipe TGT sehingga memacu semangat mereka untuk belajar lebih giat lagi agar mendapatkan nilai terbaik bagi kelompoknya. Dari hasil evaluasi siswa yang diperoleh pada siklus II, dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT sudah memberikan dampak yang positif terhadap prestasi belajar siswa, akan tetapi masih ada beberapa kekurangan yang berasal dari siswa yang masih perlu diperbaiki bahkan ditingkatkan antara lain keberanian siswa mengemukakan pendapatnya dan kerja sama siswa dalam kelompoknya.
Berdasarkan kekurangan-kekurangan yang masih ada, dan prestasi belajar siswa pada
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran 1(2): 141-153 (2020) tindakan siklus II yang belum memenuhi
indikator keberhasilan dalam penelitian ini, maka penelitian ini dilanjutkan pada tindakan siklus III. Model pembelajaran pada siklus III masih menerapkan model pembelajaran TGT seperti pada siklus sebelumnya. Hasil observasi terhadap guru dan siswa pada siklus III menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran telah sesuai dengan yang diharapkan.
Kekurangan-kekurangan pada siklus I sudah mampu di atasi, seperti sebagian siswa yang belum mampu menjawab pertanyaan dengan sedikit bimbingan dari guru dan bantuan teman- temannya pada satu kelompok, sehingga dapat mempresentasekan hasil jawaban di depan kelas.
Sedangkan dari observasi terhadap guru, guru sudah dapat mengefektifkan waktu dan mengorganisasikan kelas saat penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT dilaksanakan.
Hasil evaluasi yang dilakukan pada siklus III diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 mencapai 29 orang atau 85,3% dari 34 orang kelas VII-B SMP Negeri 5 Kendari dengan nilai rata-rata 75,0 dari 28 siswa yang tuntas. Ini berarti secara klasikal telah mencapai ketuntasan minimal dari 80% sesuai dengan ketentuan dokumen II SMP Negeri 5 Kendari.
Karena indikator keberhasilan dalam penelitian ini telah tercapai, dalam hal ini minimal 80% siswa telah mencapai nilai ≥ 70, maka penelitian ini dihentikan pada siklus III.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 5 Kendari memberikan dampak yang sangat baik terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Secara psikologis model pembelajaran kooperatif tipe TGT ini memberikan manfaat yang sangat besar terhadap siswa, antara lain:
1. Memotivasi siswa untuk lebih giat lagi belajar.
2. Memberikan rasa percaya diri pada siswa sehingga siswa dapat mengungkapkan pendapatnya dan menjawab pertanyaan.
3. Menumbuhkan kemampuan bekerja sama dengan orang lain.
4. Memiliki keperdulian sosial terhadap teman- temannya.
5. Menipisnya sifat egois pada diri siswa dengan ditunjukkan oleh sikap saling menghargai dan menghormati pendapat orang/siswa lain.
6. Timbulnya tanggung jawab individu yang semakin meningkat dalam memotivasi diri.
7. Munculnya kecerdasan – kecerdasan yang dimiliki oleh siswa yang perlu untuk lebih dikembangkan lagi, yaitu antara lain:
a. Kecerdasan linguistik (kecakapan dalam hal membaca, menulis dan berkomunikasi dengan kata – kata).
b. Kecerdasan interpersonal (kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain).
8. Terjadinya peningkatan hasil belajar siswa.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pada setiap tindakan siklus dari penelitian ini, terlihat bahwa hasil tes tindakan siklus I setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe TGT mengalami peningkatan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) menjadi 17 siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 atau meningkatkan 8,82% (3 siswa) jika dibandingkan dengan tes awal 14 orang atau 41,18% dari 34 siswa.
Namun, indikator keberhasilan penelitian ini belum tercapai sehingga dilanjutkan pada tindakan siklus II dimana hasil tes tindakan siklus II juga mengalami peningkatan menjadi 22 siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 meningkat 14,71% (5 siswa) jika dibandingkan dari hasil tes tindakan siklus I. Karena indikator kinerja pada penelitian ini belum juga tercapai maka penelitian ini dilanjutkan ke tindakan siklus III.
Hasil tes tindakan siklus III menunjukkan terjadi peningkatan menjadi 29 siswa yang memperoleh nilai ≥ 70, meningkat 10,58% (7 siswa) dari hasil tes tindakan siklus II dengan presentase ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 85,3%. Berdasarkan dokumen II SMP Negeri 5 Kendari ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 80%, sehingga penelitian ini dihentikan hanya pada siklus III karena indikator keberhasilan penelitian telah tercapai yaitu minimal 80% siswa telah memperoleh nilai ≥ 70. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa kelas VII-B SMP Negeri 5 Kendari pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti memberikan saran pada hal-hal sebagai berikut:
1. Kepada para guru diharapkan dapat mengetahui, memahami dan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams
Amanah: Jurnal Amanah Pendidikan dan Pengajaran 1(2): 141-153 (2020) Games Tournament (TGT) dalam upaya
peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam maupun mata pelajaran yang lainnya.
2. Ketika menerapkan suatu model pembelajaran, guru sebaiknya memperhatikan waktu yang diperlukan dalam proses belajar sehingga sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan.
3. Kepada para peneliti berikutnya diharapkan dapat menyesuaikan penggunaan berbagai tipe pendekatan model pembelajaran kooperatif dengan materi yang akan diajarkan di dalam kelas.
Daftar Pustaka
Dimyati & Mujiono. (1994). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hartadji, Nursyafi’i. (2001). Pengembangan dan Uji Coba Perangkat Contextual Teaching and Learning. Jakarta: Depdiknas.
Ibrahim, Muslimin. dan Nur, Mohamad. (2000).
Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA University Press.
Ismail, (2002). Model-model Pembelajaran. Jakarta:
Depdiknas.
Lie, Anita. (2002). Cooperative Learning:
Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang- ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.
Mulyasa E. (2005). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Mohmmad, (2001). Pembelajaran Kooperatif Untuk Kelas IPA.Surabaya: UNESA.
Pomalato, Sarson & Evie Hulukati. (2007). Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research).
Gorontalo : Nurul Jannah.
Prijono, (2006), Inovasi Pembelajaran. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Purwanto, M.Ngalim. (2006). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Rianto, (2002), Pendekatan dan Metode Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Suharsimi Arikunto, Suhardjono & Supardi. (2006).
Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Slameto, (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, Nana. (2001). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Susanto, S. Astrid. (1999). Model Pembelajaran Kooperatif. Bandung: Bina Cipta.
Usman, Muh. Uzer. (1996). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Uno, Hamzah B. (2008). Desain Pembelajaran.
Gorontalo: Nurul Jannah.
Winarno, (2002). Pembelajaran Kooperatif. Bandung:
Tarsito