ITIKAD BAIK PEMBERI PERSONAL GARANSI DALAM PELUNASAN HUTANG BANK STUDI PUTUSAN
NOMOR 700/PDT.G/2015/PN MDN
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
NINA FACHRINA SITEPU 167011176/MKn
FAKULTAS HUKUM
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
ITIKAD BAIK PEMBERI PERSONAL GARANSI DALAM PELUNASAN HUTANG BANK STUDI PUTUSAN
NOMOR 700/PDT.G/2015/PN MDN
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
NINA FACHRINA SITEPU 167011176/MKn
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
Judul Tesis : ITIKAD BAIK PEMBERI PERSONAL GARANSI DALAM PELUNASAN HUTANG
BANK STUDI PUTUSAN NOMOR
700/PDT.G/2015/PN MDN NAMA MAHASISWA : NINA FACHRINA SITEPU
NIM : 167011176
PROGRAM STUDI : MAGISTER KENOTARIATAN
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Sunarmi, S.H, M.Hum)
Pembimbing Pembimbing
(Prof. Dr. Hasim Purba, S.H. M.Hum) (Dr. Dedi Harianto, S.H, M.Hum)
Ketua Program Studi Dekan
(Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, M.Hum) Tanggal Lulus : 30 Januari 2019
Telah diuji pada
Tanggal : 30 Januari 2019
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Sunarmi, S.H, M.Hum
Anggota : 1. Prof. Dr. Hasim Purba, S.H. M.Hum 2. Dr. Dedi Harianto, S.H, M.Hum
3. Dr. T. Keizerina Devi Azwar, S.H, CN, M.Hum 4. Dr. Afnila, S.H,M.Hum
ABSTRAK
Pemberian jaminan personal guaranty seharusnya memberikan jaminan kepastian hukum atas pelunasan seluruh hutang yang tercantum dalam perjanjian pokok kredit tidak sebagian saja akan tetapi Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan hanya membayar sebagian hutang. Penting untuk dileliti lebih lanjut mengenai tanggung jawab penjamin personal guaranty dan penerapan iktikad baik penjamin dalam pelunasan hutang di bank dalam suatu perjanjian garansi oleh hakim. Permasalahan dalam penelitian,apakah ketentuan tentang Personal Guaranty ada mengatur tentang iktikad baik penjamin,bagaimana penentuan iktikad baik dalam pelaksanaan perjanjian Personal Guaranty yang memiliki hak istimewa, bagaimana penerapan hukum oleh hakim terhadap iktikad baik penjamin Personal Guaranty dalam pelunasan hutang Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan.
Tesis menggunakan jenis penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif analitis, dengan menggunakan data sekunder yaitu bahan hukum primer berupaKUH Perdata.Bahan hukum sekunder berupa buku-buku, dan tersier berupa kamus umum, kamus hukum.
Hasil penelitian, Ketentuan iktikad baik dalam hukum jaminan personal guaraty tidak ada diatur namun apabila dikaitkan dengan Pasal 1338 KUH Perdata dimana pelaksanaan perjanjian termasuk pelaksanaan perjanjian jaminan personal guaranty harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Pada dasarnya iktikad baik seorang penjamin adalah iktikad untuk melunasi hutangnya debitor yang dijaminnya sesuai yang diperjanjikan dalam perjanjian kredit. Penentuan iktikad baik dalam pelaksanaan hak istimewa perjanjian Personal Guaranty dengan mengacu Pasal 1831 KUH Perdata maka penjamin yang meminta hak istimewa selama belum didahulukannya harta debitur untuk melunasi terlebih dahulu masih termasuk penjamin personal guaranty yang beriktikad baik.Penjamin yang beriktikad buruk tidak mau memenuhi penanggungan yang ditanggung apabila debitur utama tidak dapat memenuhi prestasinya. Penerapan hukum oleh hakim terhadap iktikad baik penjamin Personal Guaranty dalam pelunasan hutang Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan berdasarkan pertimbangan iktikad baik Tuan Ravindren berupaya untuk tidak merugikan Bank Mandiri dengan cara akan membayar berdasarkan fasilitas kredit yang diterima oleh Tuan Ravindren.
Berdasarkan putusan hakim menerapkan fungsi iktikad baik melakukan pembatasan suatu kontrak yaitu memutuskan pemecahan hutang hal tersebut demi mewujudkan keadilan hukum karena Tuan Ravindren merupakan penjamin personal guaranty dari hasil suatu rangkaian kegiatan beriktikad tidak baik.
Kata Kunci: Iktikad baik, personal guaranty
ABSTRACT
The provision of personal guaranty should give legal certainty for the loan repayment as stated in a credit agreement, but in the Ruling No.
700/PDT.G/2015/PN Medan the loan has only been partly paid. It is important to study further the responsibility of personal guaranty provider and implementation of his good faith to fully repay the bank loan in a guaranty agreement by the judge. The research problems are what regulations concerning Personal Guaranty organize the provider’s good faith, how good faith is regulated in the implementation of Personal Guaranty Agreement which has special right, and how the law is implemented by the judge concerning the good faith of Personal Guaranty provider in the loan repayment stated in Ruling No.700/PDT.G/2015/PN Medan.
This thesis applies normative juridical research type with descriptive analysis. It uses secondary data, namely, primary legal materials such as the Civil Code, secondary legal materials such as books, and tertiary legal materials such as general and legal dictionaries.
The results of the research demonstrate that, the regulation about good faith in personal guaranty is stipulated in Article 1338 of the Civil Code which states that the implementation of an agreement including guaranty personal agreement, has to be done with good faith. Principally, the guaranty provider’s good faith is the faith to fully repay the debtor’s loan that he has guaranteed in accordance with what has been promised in the agreement. The determination of good faith to exercise the special right in the Personal Guaranty Agreement pursuant to Article 1381 of the Civil Code states that the guaranty provider who does not pay the debtor’s loan that he has guaranteed, as long as the debtor’s property has not been used to fully repay the loan, the provider is still responsible as the personal guaranty provider because it is included into his special right. The provider with bad faith is the one who has fulfilled his special right, or who does not have any special right, but is not willing to pay for the debtor’s loan that he has guaranteed when the debtor defaults. The law implementation done by the judge concerning good faith of Personal Guaranty provider in the loan repayment in Ruling No. 700/PDT.G/2015/PN Medan pursuant to the good faith of Mr.
Ravindren is that he has made effort to prevent Bank Mandiri from getting financially injured, by willing to pay in accordance with the credit facility received by Mr. Ravindren. According to the judge’s ruling, the function of good faith is to limit an agreement by breaking down the loan to realize legal justice because Mr. Ravindren is the personal guaranty provider from a series of activity done with good faith.
Keywords: Good Faith, Personal Guaranty
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahiim
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Baik karena atas Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “IKTIKAD BAIK PEMBERI PERSONAL GUARANTY DALAM PELUNASAN HUTANG BANK STUDI PUTUSAN NOMOR 700/PDT.G/2015/PN MDN“ ini guna menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Program Studi Magister Kenotariatan.
Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, Semua ini didasarkan dari keterbatasan yang dimiliki oleh penulis.
Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan untuk penyempurnaan tesis ini.
Pada kesempatan ini, penulis mengucakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu enulis dalam menyelesaikan tesis ini dan kepada semua pihak yang telah menjadi bagian terpenting selama penulis menjalani masa perkuliahan di Fakultas Hukum Sumatera Utara Program Studi Kenotariatan, terutama kepada yang saya hormati:
1. Prof. Dr. Runtung, S.H,M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H, M.Hum,selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, S.H, CN, M. Hum, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. Edy Ikhsan, S.H, M.A,selaku Sekretaris Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Prof. Dr. Sunarmi, S.H, M.Hum selaku pembimbing utama yang telah meluangkan waktu dan memberi motivasi, bimbingan, dorongan saran dan perhatian hingga selesai penulisan tesis ini.
6. Bapak Prof.Dr. H. Hasim Purba S.H, M.Hum selaku pembimbing kedua yang telah meluangkan waktu dan memberi motivasi, bimbingan, dorongan saran dan perhatian hingga selesai penulisan tesis ini.
7. Bapak Dr. Dedi Harianto S.H, M.Hum selaku pembimbing ketiga yang telah meluangkan waktu dan memberi motivasi, bimbingan, dorongan saran dan perhatian hingga selesai penulisan tesis ini.
8. Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, S.H, CN, M.Hum, dan Ibu Dr.
Afnila, S.H,M.Hum selaku dosen penguji yang memberikan masukan dan saran untuk perbaikkan penulisan tests ini.
9. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan ilmu pengetahuan, bimbingan serta arahan yang sangat bermanfaat selama penulis mengikuti proses kegiatan perkuliahan.
10. Tersitimewa, kedua orangtua penulis yang tercinta, Yaser Arafat Sitepu S. Sosdan Ir. Deswita Lanniari Hasibuanyang selalu mendoakan,
memberikan kasih sayang tulus dan segala pengorbanannya baik dari segi moril maupun materil yang mungkin tidak dapat penulis balas sampai kapan pun. Terima kasih karena telah menjadi orang tua yang terbaik bagi penulis. Terutama kepada mama penulis berterima kasih untuk segala hal yang telah diberikan dan meminta maaf untuk semua yang belum dapat penulis wujudkan .
11. Untuk Opung Hj. Tetty M. Pane, yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis untuk penulisan tesis ini.
12. Terkasih Muhammad Rayhan S. Ginting, S.E, terima kasih untuk segala dukungan, doa, waktu dan semangat yang telah diberikan kepada penulis.
13. AbangdaNotaris Eko Pranata S.H, M.Kn terima kasih atas dukungan, motivasi dan arahan yang telah diberikan kepada penulis.
14. Sahabat-sahabat seperjuangan Poppy Chairunnisa, S.H., M.Kn, Thirza Thamara, S.H, M.Kn, Cinthia Febrilla R, S.H, M.Kn, Novrida Fauziyah Nst, S.H, M.Kn, Astria Is’a Anwi Srg, S.H, Siti Khairunnisa, SH, Marini Ginting, S.H, Sheila Namira, S.H, M.Kn, Indira Tobing S.H, M.Knterima kasih sudah mendukung dan memberikan motivasi selama menjalani masa perkuliahan sehingga dapat menyelesaikan kuliah magister kenotariatan.
15. Sahabat-Sahabat Indah Larasati S.H, Mega Fajarwati, S.T, Lidya Junita H, S.H,Pratiwi Habibi, S.H, M.Kn, Atika Yulinda, S.H, MKn,Christina Hutagalung, S.H, M.H, Windy Aprilia C, S.H, M.Kn, Faisal Dasyah, S.H, M.Kn, Halim Randa Juliandi, S.H dan sahabat-
sahabat yang tidak dapat disebut namanya terima kasih telah mendukung dalam doa dan memberikan motivasi pada penulis.
16. Rekan-rekan seperjuangan Stambuk 2016 Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.Terkhusus sahabat-sahabat sekelas di grup B yang namanya tidak dapatpenulis sebutkan satu per satu terima kasih untuk kebersamaan selama masa perkuliahan. Semoga kita semua sukses.
17. Kepada orang-orang yang tidak tersebut namanya diatasyang selalu mendukung dan mendoakan penulis.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati dan harapan penulis, semoga tesis ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat dan berguna baik bagi penulis, dunia Akademik, dan seluruh pihak yang berkaitan dengan bidang Kenotariatan.
Medan, Januari 2019 Penulis,
(Nina Fachrina Sitepu)
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Nina Fachrina Sitepu Tempat/ Tgl Lahir : Medan, 15 Desember 1994
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan Status : Belum Menikah
Alamat : Jalan Murai Batu No. 18c/25e Nama Ayah : Yaser Arafat Sitepu S.SOS Nama Ibu : Ir. Deswita Lanniari Hasibuan
Pendidikan
Sekolah Dasar : SD Muhammadiyah 03 Sekolah Menengah Pertama : SMP N 1 Medan
Sekolah Menengah Atas : SMA N 1 Medan Perguruan Tinggi (S1) : Fakultas Hukum
Universitas Katolik Parahyangan Bandung
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vii
DAFTAR ISI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 11
C. Tujuan Penelitian ... 11
D. Manfaat Penelitian ... 11
E. Keaslian Penelitian ... 12
F. Kerangka Teori Dan Landasan Konsepsi ... 15
1. Kerangka Teori ... 15
2. Landasan Konsepsi ... 19
G. Metode Penelitian ... 20
1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 20
2. Sumber Data Penelitian ... 22
3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 24
4.Analisis Data ... 25
BAB II PENGATURAN IKTIKAD BAIK PENJAMIN PERSONAL GUARANTY... 27
A. Hukum Jaminan ... 27
1. Pengertian Jaminan ... 27
2. Asas-asas hukum jaminan ... 30
3. Sumber Hukum Jaminan ... 34
4. Jenis-Jenis Jaminan ... 36
B. Personal Guaranty ... 39
1. Pengertian Personal Guaranty ... 39
2. Jenis-jenis Personal Guaranty ... 41
C. Pengaturan Iktikad Baik Penjamin Personal Guaranty... 43
1. Ketentuan Iktikad Baik Dalam Hukum Jaminan ... 43
2. Ketentuan Iktikad Baik Penjamin Personal Guaranty... 49
BAB III PENENTUAN IKTIKAD BAIK DALAM PELAKSANAAN PERJANJIAN PERSONAL GUARANTY YANG MEMILIKI HAK ISTIMEWA ... 52
A. Tolak Ukur Iktikad Baik ... 52
B. Penerapan Iktikad Baik Dalam Kontrak ... 58
C. Iktikad Baik Dalam Pelaksanaan Perjanjian Personal Guaranty Yang Memiliki Hak Istimewa ... 64
1. Hak Istimewa Dalam Hukum Jaminan ... 64
2. Penerapan Iktikad Baik Terhadap Hak Istimewa Dalam Perjanjian Personal Guaranty ... 69
BAB IV PENERAPAN HUKUM OLEH HAKIM TERHADAP IKTIKAD BAIK PENJAMIN PERSONAL GUARANTY DALAM PELUNASAN HUTANG PUTUSAN NOMOR 700/PDT.G/2015/PN MEDAN ... 74
A. Penerapan Iktikad Baik Dalam Penyelesaian Sengketa Kontrak ... 74
B. Fungsi Penerapan Iktikad Baik Dalam Penyelesaian Sengketa ... 84
C. Analisis Penerapan Hukum Oleh Hakim Terhadap Iktikad Baik Penjamin Personal Guaranty Dalam Pelunasan Hutang Putusan Nomor 700/Pdt.G/2015/Pn Medan ... 89
1. Kasus Posisi ... 89
2. Pertimbangan Hakim ... 93
3. Analisis ... 96
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ... 103
A. Kesimpulan... 103
B. Saran... 105
DAFTAR PUSTAKA ... 106
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Jaminan merupakan syarat seseorang untuk mendapatkan suatu fasilitas kredit perbankan. Jaminan memiliki fungsi untuk memberikan kepastian pengembalian dana kreditur atas hutang yang telah diberikan kepada debitur.
Istilah jaminan merupakan terjemahan dari bahasa Belanda yaitu zekerheid ataucautie, yaitu kemampuan debitur untuk memenuhi atau melunasi perutangannya kepada kreditor, yang dilakukan dengan cara menahan benda tertentu yang bernilai ekonomis sebagai tanggungan atas pinjaman atau utang yang diterima debitor terhadap kreditornya.1
Kredit terdapat dua pihak, yaitu kreditur dan debitur. Menurut Subekti,
“kreditur pihak yang berhak menuntut sesuatu atau si berpiutang, sedangkan pihak yang berkewajiban memenuhi tuntutan dinamakan debitur atau si berutang.”2
Persyaratan para pihak untuk dapat menjadi kreditur harus memberikan adanya suatu jaminan. Menurut sifatnya, hak-hak jaminan ada yang bersifat kebendaan dan ada yang bersifat hak perorangan. Jaminan yang bersifat hak kebendaan, yaitu: hipotek, credit verband, gadai, dan fidusia.Jaminan yang bersifat hak perorangan, yaitu: borgtocht, perutangan tanggung menanggung, Berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui bahwa dalam kredit perbankan yang menjadi kreditur adalah bank sedangkan debitur adalah yang menerima fasilitas kredit.
1 Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan, Sinar Grafika, Jakarta, 2016, h. 66
2 Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 2014, h. 1.
perjanjian garansi. 3
1. Jaminan Perorangan (Personal Guaranty)
Menurut Hermansyah, menguraikan defenisi jaminan peorangan dan jaminan kebendaan, sebagai berikut:
Jaminan perorangan atau jaminan pribadi adalah seorang pihak ketiga yang bertindak untuk memenuhinya kewajiban-kewajiban dari debitur.
Jaminan perorangan selalu dimaksudkan bahwa untuk pemenuhan kewajiban-kewajiban si berutang, yang dijamin pemenuhan seluruhnya atau sampai suatu bagian (jumlah) tertentu, harta si penanggung (penjamin) bisa disita dan dilelang menurut ketentuan perilah pelaksanaan (eksekusi) putusan-putusan pengadilan.
2. Jaminan Kebendaan
Jaminan kebendaan dapat diadakan antara kreditur dan debiturna, tetapi juga dapat diadakan antara kreditur dan seorang pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari si berutang (berutang).
Pemberian jaminan kebendaan selalu berupaya menyendirikan suatu bagian dari kekayaan seseorang, si pemberi jaminan, dan menyediakan guna pemenuhan (pembayaran) kewajiban (utang) dari seorang debitur. 4
1. Penanggung (borg) adalah orang lain yang dapat ditagih;
Menurut Salim HS, jaminan perorangan dapat dibagi menjadi 4 macam, yaitu:
2. Tanggung menanggung, yang serupa dengan tanggung renteng;
3. Akibat hak dari tanggung renteng pasif;
4. Perjanjian garansi (Pasal 1316 KUH Perdata), yaitu bertanggung jawab guna kepentingan pihak ketiga.5
Berdasarkan uraian tersebut dapat dilihat perjanjian garansi merupakan suatu jaminan perorangan. Dasar suatu perjanjian garansi diatur berdasarkan Pasal 1316 KUH Perdata, bahwa “seseorang boleh menanggung seorang pihak ketiga dan menjanjikan bahwa pihak ketiga akan berbuat sesuatu, tetapi hal tersebut tidak mengurangi tuntutan ganti rugi terhadap penanggung atau orang yang berjanji itu, jika pihak ketiga tersebut menolak untuk memenuhi perjanjian itu.”
3 Muhammad Saleh, Kepastian Hukum Dalam Penyelesaian kredit Macet, Kencana, Jakarta, 2016, h. 52.
4Ibid. 52-53.
5 Salim HS , Perkembangan Hukum Jaminan, Rajawali Press, Jakarta, 2014, h. 218
Menurut J. Satrio, perjanjian garansi yang pada intinya merupakan “suatu perjanjian, dimana pemberi (garant) menjamin, bahwa seorang pihak ketiga akan berbuat sesuatu, yang biasanya tetapi tidak selalu dan tidak harus berupa tindakakan menutup suatu perjanjian tertentu.
Seorang pemberi garansi mengikatkan diri secara bersyarat, untuk memberikan ganti rugi, kalau pihak ketiga yang dijamin tidak melakukan perbuatan, untuk mana ia memberikan garansinya”.6
Perjanjian garansi dengan perjanjian penanggungan terdapat perbedaan yaitu pada perjanjian garansi adanya kewajiban tercantum dalam perjanjian pokok yang berdiri sendiri, di mana seorang berjanji untuk menanggung kerugian yang akan diderita pihak lawannya sedangkan perjanjian penanggungan (borgtocht) adanya kewajiban untuk memenuhi prestasi dari si penanggung (apabila debitur wanprestasi) tercantum dalam perjanjian accessoir.7
Terdapat dua garis besar perbedaan perjanjian garansi dengan perjanjian penanggungan, antara lain: perjanjian garansi merupakan janji yang diletakkan pada suatu perjanjian pokok sedangkan perjanjian penanggungan merupakan perjanjian accesoir, dan perjanjian penanggungan kewajiban pada yang menanggung adalah pemenuhan suatu prestasi dari si penanggung sedangkan perjanjian garansi kewajiban pada yang menanggung adalah penggantian kerugian yang dialami oleh kreditur.8
Perjanjian garansi merupakan suatu perjanjian. Menurut Pasal 1320 KUH Perdata, terdapat 4 syarat harus dipenuhi agar sahnya suatu perjanjian, antara lain:
kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya; kecakapan untuk membuat suatu perikatan; suatu pokok persoalan tertentu; suatu sebab yang tidak terlarang.
6 J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Pribadi Penanggungan (Borgtocht), Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996. h. 8.
7Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, Bina Usaha, Yogyakarta, 1980, h. 83.
8Ibid.,h. 84.
Menurut Pasal 1338 KUH Perdata, akibat suatu perjanjian yang sah termasuk perjanjian pemberian jaminan, antara lain: semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya;
perjanjian itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kata sepakat kedua belah pihak atau karena alasan undang-undang yang dinyatakan cukup untuk itu; dan perjanjian tersebut harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Menurut Ridwan Khairandy, “asas-asas perjanjian yang dikandung dalam Pasal 1338 KUH Perdata, yaitu: asas konsensualisme; asas pacta sunt servanda; asas kebebasan berkontrak;
dan asas iktikad baik.”9
Menurut Pasal 1338 KUH Perdata dapat dipahami bahwa dalam suatu perjanjian pemberian jaminan yang sah harus dilaksanakan dengan suatu iktikad baik. Defenisi suatu iktikad baik dalam KUH Perdata tidak banyak dijelaskan.
Menurut Sutan Remy Sjahdeini, secara umum menggambarkan iktikad baik merupakan “niat dari pihak yang satu dalam suatu perjanjian untuk tidak merugikan mitra janjinya maupun tidak merugikan kepentingan umum.”10
Menurut J. Satrio, ketentuan pengaturan iktikad baik tersebut merupakan
“ketentuan yang ditujukan kepada pengadilan. Iktikad baik dikatakan demikian karena sengketa mengenai iktikad baik dalam praktiknya hampir selalu dimintakan penyelesaiannya kepada pengadilan.”11
9 Ridwan Khairandy, Kebebasan Berkontrak, Pacta Sunt Servanda Versus Iktikad Baik, UI-Press, Jakarta, 2015, h. 17.
10 Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Seimbang bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit di Indonesia, Institut Bankir Indonesia., Jakarta, 1993, h. 112.
11 J. Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995, h. 166.
Berdasarkan tersebut dapat
dipahami iktikad sesuatu yang sulit untuk ditafsirkan hingga mengakibat menafsirkannya melalui pengadilan.
Iktikad baik menjadi asas yang penting dalam hukum kontrak, akan tetapi asas iktikad baik tersebut masih menimbulkan sejumlah permasalahan.
Permasalahan tersebut diantaranya berkaitan dengan keabstrakan makna iktikad baik, sehingga timbul pengertian iktikad baik yang berbeda-beda dari perspektif waktu, tempat, dan orangnya. Selain tidak ada makna tunggal iktikad baik, dalam praktik timbul pula permasalahan mengenai tolak ukur, dan fungsi iktikad baik.12
Menurut E. Allan Farnsworth menyatakan bahwa di Amerika Serikat banyak sekali pandangan mencoba memberikan pengertian iktikad baik.
Akibatnya penerapan iktikad baik seringkali lebih didasarkan pada intuisi pengadilan, yang hasilnya seringkali tidak dapat diprediksi dan tidak konsisten.13
1. Hak kekayaan intelektual
Terdapat beberapa contoh tolak ukur iktikad baik yang berbeda dalam seperti halnya dalam pendaftaran hak kekayaan intelektual dan penerapan actio paulina. Penerapan iktikad baik pada hak kekayaan intelektual dan actio paulina, sebagai berikut:
Menurut Pasal 21 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis bahwa permohonan pendaftaran merek ditolak apabila diajukan oleh pemohon yang beriktikad tidak baik. Berdasarkan penjelasan pasal tersebut contoh permohohan yang tidak beriktikad baik adanya unsur kesengajaan dalam meniru Merek pihak lain. Berdasarkan hal tersebut maka dapat
12 Ridwan Khairandy, Iktikad Baik Dalam Kontrak di Berbagai Sistem Hukum, FH-UII Press, Yogyakarta, 2017, h. 126.
13Ibid., h. 127.
disimpulkan ukuran suatu perbuatan yang tidak beriktikad baik adalah kesengajaan yang merugikan pihak lain.
2. Actio Paulina
Berdasarkan Pasal 1341 KUH Perdata bahwa “kreditur diberi hak untuk menuntut pembatalan tindakan hukum yang dilakukan debitur atas harta miliknya, tuntutan itu dikenal sebut Actio Paulina.”14
14 I Ketut Oka Setiawan, Hukum Perikatan, Sinar Grafika, Jakarta, 2016, h. 75
Menurut Pasal 1341 KUH Perdata, kreditur boleh mengajukan tidak berlakunya segala tindakan yang tidak diwajibkan yang dilakukan oleh debitur, dengan nama apa pun juga yang merugikan kreditur; asal dibuktikan bahwa ketika tindakan tersebut dilakukan, debitur dan orang yang dengannya atau untuknya debitur itu bertindak, mengetahui bahwa tindakan itu mengakibatkan kerugian bagi para kreditur. Menurut pasal tersebut bahwa perbuatan hukum yang menimbulkan hak-hak yang diperoleh pihak ketiga dengan iktikad baik atas barang-barang yang menjadi obyek harus dihormati maka syarat untuk membatalkannya yaitu kreditur menunjukkan bahwa pada waktu melakukan tindakan itu debitur mengetahui atau tidak. Penerapan suatu iktikad baik pada Pasal 1341 KUH Perdata dapat disimpulkan bahwa kreditur dapat membatalkan suatu perbuatan hukum debitor dengan pihak ketiga yang merugikan kreditur apabila debitor “mengetahui” atas perbuatan tersebut dapat merugikan kreditur. Berdasarkan pasal tersebut maka dapat diketahui penentuan suatu iktikad baik atau iktikad buruk adalah dilihat
mengetahui atau tidak mengetahui akibat perbuatan tersebut dapat merugikan orang lain apabila tidak mengetahui maka perbuatan tersebut merupakan iktikad baik.
Di Negeri Belanda, penafsiran iktikad baik dalam kontrak oleh pengadilan muncul dalam perkara Hengsten Vereniging V. Onderlinge Paarden en Vee Assurantie. Berdasarkan Pasal 1338 KUH Perdata ayat 3 bahwa dapat diketahui pelaksanaan kontrak harus dilaksanakan dengan iktikad baik hal tersebut memberikan penjelasan bahwa pelaksanaan kontrak harus ditafsirkan dengan iktikad baik para pihak dalam pelaksanaan kontrak. Menurut Hoge Raad, iktikad baik merupakan doktrin yang merujuk kepada kerasionalan dan kepatutan yang hidup dalam masyarakat.15
Menurut Ridwan Khairandy, penafsiran iktikad baik oleh Hoge Raad bahwa iktikad baik harus mengacu kepada kerasionalan dan kepatutan belum dapat membuat kekaburan iktikad baik menjadi jelas. Kepatutan sebagai salah satu bentuk keadilan masih sangat abstrak dan masih perdebatan. Sejak ribuan tahun lalu hingga saat in tidak ada kesepakatan mengenai arti keadilan yang dapat dijadikan definisi. Banyak teori tentang keadilan yang dikembangkan oleh para ahli filsafat hukum, yaitu dari teori keadilan yang dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles (ancient theory) hingga teori keadilan kontemporer yang dikembangkan Rawls dan Hart.16
Perbedaan penafsiran keadilan mengakibat hakim dalam penafsiran iktikad baik tergantung teori keadilan yang mana hakim yakini kebenarannya.17
15 P. L. Wery, Perkembangan tentang Hukum Iktikad Baik di Nederland, Percetakan Negara, Jakarta, 1990, h. 9.
16 Ridwan Khariandy, op.cit., h. 9
17Ibid.
Berdasarkan hal tersebut sehingga dapat dipahami bahwa iktikad baik berbeda- beda penafsirannya dalam pengadilan tergantung hakimnya. Perbedaan penafsiran
iktikad baik tersebut mengakibatkan dalam pengadilan pandangan mengenai iktikad baik subjektif.
Kasus yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu kasus yang terdapat problematika iktikad baik dengan kepastian garansi adalahkasus perjanjian kredit modal kerja pada Putusan Nomor: 700/PDT.G/2015/PN Medan antara CV. Nogo Sostro Bajinten sebagai debitor dengan Bank Mandiri sebagai kreditor dan Tuan Ravindren sebagai personal guaranty. Perjanjian kredit modal kerja dibuat dibawah tangan di Batam dengan pinjaman sebesar Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) dan kemudian di addendum dengan akta notarisdi Medan dengan penambahan hutangRp. 2.800.000.000,- (dua milyar delapan ratus juta rupiah) dimana dalam addendum tersebut Tuan Ravindren sebagai personal guaranty.
Tuan Ravindren sebagai bentuk pemberian garansi maka memberikan jaminan hak tanggungan berupa hak guna bangunan atas tanah dan bangunan (rumah tinggal) dengan SHGB No. 278 tanggal 13 Oktober 1992 atas nama Ravindren yang terletak di Jalan Notes No. 41, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan.Tuan Ravindren memberikan garansi dalam perjanjian kredit modal kerja antara CV. Nogo Sostro Bajinten dengan Bank Mandiri karena dijanjikan oleh CV. Nogo Sostro Bajinten akan mendapat sebagian dari fasilitias kredit yang diberikan oleh PT. Bank Mandiri.
CV. Nogo Sostro Bajinten atas pelaksanaan pelunasan hutang fasilitas kredit dalam perjanjian kredit modal kerja dikemudian hari tidak dapat memenuhi prestasinya. Berdasarkan hal tersebut Bank Mandiri maka akan melakukan eksekusi jaminan yang telah diberikan dalam perjanjian termasuk jaminan Tuan
Ravindren. CV. Nogo Sostro Bajinten atas pemberitahuan PT. Bank Mandiri akan mengeksekusi jaminan maka CV. Nogo Sostro Bajinten memberitahukan kepada Tuan Ravindren bahwa rumah tinggal Tuan Ravindren yang dijaminkan akan di eksekusi oleh PT. Bank Mandiri.
Tuan Ravindren atas pemberitahuan jaminannya akan dieksekusi maka melakukan upaya negosiasi dengan PT. Bank Mandiri. Hasil negosiasi dengan PT.
Bank Mandiri memperbolehkan Tuan Ravindren melakukan pemisahan hutang karena Tuan Ravindren ingin beriktikad baik dengan membayar sebagian hutang atas fasilitias kredit yang diberikan oleh PT. Bank Mandiri.
Berdasarkan persetujuan PT. Bank Mandiri atas diperbolehkannya melakukan pemisahan hutang maka Tuan Ravindren menghubungi CV. Nogo Sostro Bajinten akan tetapi menolak untuk melakukan pemisahan hutang.
Berdasarkan hal tersebut maka Tuan Ravindren merasa dirugikan karena rumah tinggal Tuan Ravindren akan di eksekusi karena CV. Nogo Sostro Bajinten tidak dapat melunasi hutangnya dalam perjanjian kredit modal kerja dengan PT. Bank Mandiri. Tuan Ravindren merasa rumah tinggalnya tidak layak untuk disita karena Tuan Ravindren hanya menerima uang sejumlah Rp.1.750.000.000,- (satu milyar tujuh ratus lima puluh juta rupiah) sedangkan nilai pasar rumah tinggal Tuan Ravindren senilai Rp.3.500.000.000,- (tiga milyar lima ratus juta rupiah) hingga dapat mencapai Rp.3.800.000.000,- (tiga milyar delapan ratus juta rupiah) dan hal tersebut diterangkan oleh saksi dalam pengadilan. Berdasarkan kerugian yang dirasakan oleh Tuan Ravindren maka menggugat CV. Nogo Sostro Bajinten
dan PT. Bank Mandiri ke pengadilan negeri medan.Gugatan tersebut diputuskan oleh Majelis Hakim dengan isi sebagai berikut:
1. Mengabulkan gugatan Tuan Ravindren untuk sebahagian;
2. Menyatakan perbuatan CV. Nogo Sostro Bajinten merupakan perbuatan melawan hukum;
3. Menyatakan pinjaman Penggugat kepada Bank Mandiri adalah sebesar Rp.1.750.000.000 (satu milyar rupiah tujuh ratus lima puluh juta);
4. Menghukum Bank Mandiri melakukan pemisahan utang demi hukum antara Tuan Ravindren dengan CV. Nogo Sostro Bajinten dengan mengeluarkan sertifikat hak milik No.278 bertanggal 13 Oktober 1992 yang terdaftar atas nama Ravindren kemudian dijadikan jaminan hutang Penggugat dalam pengikatan hutang tersendiri;
5. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya;
6. Menghukum para Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara ini secara tanggung renteng yang berjumlah Rp.3.509.000.- (tiga juta lima ratus sembilan ribu rupiah)
Isi putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap oleh CV. Nogo Sostro Bajinten tidak mengajukan upaya hukum banding dalam tenggang waktu yang telah ditentukan oleh Undang-Undang. Pemberian jaminan personal guaranty seharusnya memberikan jaminan kepastian hukum atas pelunasan seluruh hutang yang tercantum dalam perjanjian pokok kredit tidak sebagian saja akan tetapi dalam putusan tersebut hanya membayar sebagian hutang. Hasil putusan hakim Pengadilan Negeri Medan tersebut terdapat problematika mengenai kepastian mengenai tanggung jawab pemberi garansi dengan penerapan iktikad baik oleh hakim.
Berdasarkan hal tersebut sehingga perlu untuk penelitian lebih lanjut mengenaitanggung jawab penjamin personal guaranty dan penerapan iktikad baik penjamin dalam pelunasan hutang di bank dalam suatu perjanjian garansi oleh hakim dalam Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah ketentuan tentang Personal Guaranty ada mengatur tentang iktikad baik penjamin?
2. Bagaimana penentuaniktikad baik dalam pelaksanaan perjanjian Personal Guaranty yang memiliki hak istimewa ?
3. Bagaimana penerapan hukum oleh hakim terhadap iktikad baik penjamin Personal Guarantydalam pelunasan hutang Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian dalam tesis ini yang berjudul “Iktikad Baik Pemberi Personal GuarantyDalam Pelunasan Hutang Bank Studi Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan” adalah sebagai berikut :
1. Untuk menganalisis tanggung jawab Personal Guaranty terhadap pelunasan hutang debitor.
2. Untuk menganalisispenentuan iktikad baik dalam suatu pelaksanaan perjanjian Personal Guaranty ada yang pakai hak istimewa.
3. Untuk menganalisis penerapan hukum oleh hakim terhadap iktikad baik Personal GuarantyPutusanNomor 700/PDT.G/2015/PN Medan.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini dan tujuan yang hendak dicapai, maka diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat, sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan masukan untuk penambahan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang hukum pada umumnya dan ilmu hukum dibidang kenotariatan pada khususnya, sebagai:
a. Memberikan gambaran yang jelas Personal Guaranty.
b. Memberikan gambaran yang jelas iktikad baik.
c. Memberikan gambaran penerapan hukum oleh hakim terhadap iktikad baik dalam Personal Guaranty.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, Penelitian diharapkan dapat Secara Penelitian diharapkan dapat memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti, yaitu:
a. Dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait danpemberi Personal Guaranty.
b. Dapat menjadi masukan bagi pembentuk undang-undang berkaitan dengan hukum jaminan.
c. Dapat menjadi masukan bagi bank sebagai kreditur yang menerima jaminan Personal Guaranty.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan data yang ada penelurusan dan pemeriksaan serta hasil-hasil judul yang ada apada perpustakaan Universitas Sumatera Utara, penelitian tesis mengenai “Iktikad Baik Pemberi Personal GuarantyDalam Pelunasan Hutang Bank Studi Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan” belum pernah dilakukan dalam permasalahan dan objek penelitian yang sama. Namun dalam penelitian sebelumnya di lingkungan Sekolah Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara diketahui ada beberapa peneliti yang mengangkat topik yang fokus utamanya mengenai jaminantetapi dengan permasalahan dan objek penelitian yang berbeda yaitu:
1. Yuni Syahreni Nasution, NIM: 087011133, Magister Kenotariatan dengan judul “Analisis Praktek Personal Guarantydalam pemberian kredit pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Cabang Sigli”, dibuat pada tahun 2011,dengan rumusan masalah:
a. Bagaimana prosedur pemberian personal Guarantysebagai jaminan kredit pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Perseroa) Cabang Sigli ? b. Bagaimana hambatan yang ditemui dalam praktek ketiga personal
Guaranty?
c. Bagaimana upaya yang dilakukan oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Cabang Sigli apabila penjamin wanprestasi ?
2. Teddy Taufik, NIM: 027011063, Magister Kenotariatan dengan judul
“Tanggung Jawab Penanggung Hutang (Borgtocht) Terhadap Debitur yang
Ingkar Janji (Wanprestasi) Kepada Bank Danamon”, dibuat pada tahun 2008, dengan rumusan masalah:
a. Bagaimana persyaratan seorang penanggung hutang yang disetujui oleh Bank Danamon ?
b. Apakah hak istimewa dari penanggung hutang masih dapat diterapkan atau berlaku dalam perjanjian penanggung hutang pribadi ?
c. Apakah setelah penanggung hutang membayar hutang debitur dengan dieksekusi hartanya oleh pengadilan negeri/ dilelang dapat meminta pengembalian pembayaran hutang terhadap hartanya yang sudah dilelang kepada debitur ?
3. Fahrial Ramadhani, NIM: 087011043, Magister Kenotariatan dengan judul
“Analisis Yuridis Kedudukan Hukum Penanggung Dalam Pengikatan Jaminan Perorangan Pada Bpr Duta Adiarta”, dibuat pada tahun 2011, dengan rumusan masalah:
a. Bagaimana kedudukan hukum bila penanggung kehilangan kecakapan bertindak dalam perjanjian borgtocht?
b. Mengapa azas publisitas perlu diterapkan dalam perjanjian borgtocht?
c. Bagaimana tanggung jawab penanggung terhadap tertanggung pada perjanjian borgtocht?
Berdasarkan hasil penulusuran tersebut di atas, objek kajian dalam penelitian ini merupakan suatu permasalahan yang belum tersentuh secara komprehensif dalam suatu penelitian ilmiah. Penelitian ini merupakan suatu yang yang baru dan asli sesuai dengan asas-asas keilmuan yang jujur, rasional, objektif
dan terbuka. Semua ini tidak lain adalah merupakan implikasi etis dari proses menemukan kebenaran ilmiah sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
F. Kerangka Teori Dan Landasan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Teori adalah suatu kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, thesis mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang djadikan bahan perbandingan, pegangan teoritis, yang mungkin disetujui ataupun tidak disetujui yang merupakan masukan dalam membuat kerangka berpikir dalam penulisan.18
Menurut Mukti Fajar, teori adalah “suatu penjelasan yang berupaya untuk menyederhanakan pemahaman mengenai suatu fenomena atau teori juga merupakan simpulan dari rangkaian berbagai fenomena menjadi sebuah penjelasan yang sifatnya umum”.
Sesuatu baru dikatakan menjadi sebuah teori jika sudah terbukti melalui serangkaian proses dan eksperimen dan kemudian diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sebuah teori dapat berubah atau mengalami perkembangan hal itu terjadi apabila teori yang ada sudah tidak relevan dengan keadaan yang ada.
19Suatu kerangka teori bertujuan menyajikan cara-cara untuk bagaimana mengorganisasi dan menginterpretasi hasil penelitian dan menghubungkannya dengan hasil-hasil penelitian yang terdahulu.20
18 M.Solly Lubis, Filsafat Ilmu Dan Penelitian, Mandar Madju, Bandung, 1994, h.80.
19 Mukti Fajar Dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif & Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2013, h.134.
20 Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 1996, h.19.
Kerangka teori dalam penelitian dapat dipahami sebagai kerangka berpikir yang bertujuan untuk menafsirkan masalah iktikad baik personal Guarantydalam pelunasan
hutang bank studi Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan. Teori yang dipergunakan dalam penelitian, antara lain:
a. Teori Kepastian Hukum
Ketidakpastian hukum akan menimbulkan kekacauan dalam kehidupan masyarakat dan akan saling berbuat sesuka hati serta bertindak main hakim sendiri. Keadaan seperti ini menjadikan kehidupan berada dalam suasana “social disorganization atau kekacauan sosial”.21 Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan hakim yang satu dengan putusan hukum lainnya untuk kasus yang serupa yang telah di putuskan.22 Hans Kelsen melalui teori hukum murninya juga menekankan kepastian hukum. Kepastian ini penting karena hukum menjadi satu-satunya alat untuk menilai dan mengontrol secara tegas perilaku setiap anggota masyarakat. Tanpa ketegasan hak dan kepentingan warga negara dipertaruhkan.23
1) kepastian hukum dalam perumusan norma dan prinsip hukum yang tidak bertentangan antara satu dengan yang lainnya baik dari pasal-pasal Undang- Undang itu secara keseluruhan maupun kaitannya dengan pasal-pasal lainnya yang berada di luar Undang-Undang tersebut.
Menurut Tan Kamello, dalam suatu Undang-Undang, kepastian hukum (certainty) meliputi dua hal, antara lain:
2) kepastian hukum juga berlaku dalam melaksanakan norma-norma dan prinsip-prinsip hukum undang-undang tersebut.24
21 Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHP Penyidikan dan Penuntutan, Sinar Grafika, Jakarta, 2002, h. 76.
22Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Pranada Media Group, Jakarta, 2008, h. 158.
23 Andre Ata Ujan, Filsafat Hukum-Membangun Hukum, Membela Keadilan, Kanisius, Yogyakarta, 2009, h. 90.
24 Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia, Alumni, Bandung, 2004, h. 117.
Menurut Tan Kamello, perumusan norma dan prinsip hukum sudah memiliki kepastian hukum tetapi hanya berlaku secara yuridis saja dalam arti hanya demi undang-undang semata-mata (law in the books), sehingga tidak akan dan tidak pernah menyentuh kepada masyarakatnya. Peraturan hukum yang demikian disebut dengan norma hukum yang mati (doodregel) atau hanya sebagai penghias yuridis dalam kehidupan manusia.25
b. Teori Keadilan
Berdasarkan uraian kepastian hukum dapat dipahami bahwa pentingnya suatu kepastian hukum dimana apabila jika telah terjadi ketidakpastian hukum akan menimbulkan kekacuan dalam kehidupan masyarakat dan mengakibatkan tidak ada ketegasan mengenai hak dan kepentingan warga negara.
Pemberian guaranty dalam perjanjian suatu kredit seharusnya dalam undang-undang tidak dapat ditarik kembali tanpa persetujuan para pihak yang bersangkutan. Teori kepastian hukum berkaitan dengan untuk menjawab kepastian hukum pemberi personal guaranty dalam suatu perjanjian kredit.
Pengertian adil menurut kamus besar Bahasa Indonesia yaitu sikap yang berpihak pada yang benar, tidak memihak salah satunya atau tidak berat sebelah.
Keadilan adalah suatu tuntutan sikap dan sifat yang seimbang antara hak dan kewajiban. Salah satu asas dalam hukum yang mencerminkan keadilan yaitu asas equality before the law yaitu asas yang menyatakan bahwa semua orang sama kedudukannya dalam hukum. Kata justice memiliki kesamaan dengan kata equity yaitu keadilan, yang dapat diartikan keadilan (justice) tidak memihak (impartial), memberikan setiap orang haknya (his due), Segala sesuatu layak (fair), atau adil (equitable). 26
25Ibid., h. 118,
26 Munir Fuady, Dinamika Teori Hukum, Ghalia Indonesia, Bogor, 2010, h. 91
John Rawls adalah seorang pemikir yang memiliki pengaruh sangat besar di bidang filsafat politik dan filsafat moral. Melalui gagasan-gagasan yang dituangkan di dalam A Theory of Justice (1971), Rawls mengemukakan bahwa kesukarelaan segenap anggota masyarakat untuk menerima dan mematuhi ketentuan-ketentuan sosial yang ada hanya dimungkinkan jika masyarakatnya tertata baik di mana keadilan sebagai fairness menjadi dasar bagi prinsip-prinsip pengaturan institusi-institusi yang ada di dalamnya.27
1) Seseorang tidak melanggar hukum yang berlaku, sehingga keadilan berarti sesuai hukuman atau “lawfull”, yaitu hukum tidak boleh dilanggar dan aturan hukum harus diikuti.
Menurut filsuf Yunani yaitu, Aristoteles menyatakan bahwa ukutan dari keadilan bahwa :
2) Seseorang tidak boleh mengambil lebih dari haknya, sehingga keadilan berarti persamaan hak “equal”. Dalam hal ini equality merupakan proporsi yang benar, titik tengah, atau jarak yang sama antara “terlalu banyak” dengan “terlalu sedikit”.28
Pengadilan dan hakim disamping harus memegang kepastian hukum, hakim harus menegakkan keadilan. Peranan hakim memang sangat berat, karena para hakim bukan sekedar penegak hukum tetapi juga penegak keadilan.29Menurut Ridwan Khairandy, “keadilan adalah hakikat hukum dan tujuan tertinggi hukum dan iktikad baik adalah jalan bagi hakim untuk menuju keadilan tersebut.”30
27 John Rawls, A Theory of Justice, Oxford University Press, London, 1971, h. 4-5
28 Munir Fuady, op.cit, h. 93.
29 Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence) Volume 1 Pemahaman Awal, Kencana, Jakarta, 2015, h. 238.
30 Ridwan, Kebebasan Berkontrak, Pacta Sunt Servanda Versus Iktikad Baik, UI-Press, Jakarta, 2015, h. 2.
Berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui bahwa dalam
keadilan merupakan tertujuan tertinggi hukum maka hakim untuk mewujudkan keadilan dengan menerapkan iktikad baik dalam putusannya.
Berdasarkan uraian terdapat ketentuan mengenai suatu penerapan untuk memenuhi keadilan. Teori keadilan diharapkan menafsirkan topik penelitian mengenai penerapan keadilan Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan tentang iktikad baik personal Guarantydalam memenuhi pelunasan hutang. Teori keadilan juga untuk menjawab apakah sudah terpenuhi keadilan dalam Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan.
Teori keadilan berkaitan dengan untuk menjawab penerapan keadilan yang diterapkan oleh hakim dalam mempertimbangkan itikad baik dalam memutuskan perkara Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan.
2. Landasan Konsepsi
Konsepsi merupakan salah satu bagian terpenting dari teori, karena konsep adalah sebagai penghubung yang menerangkan sesuatu yang sebelumnya hanya baru ada dalam pikiran atau ide. Peranan konsep dalam penelitian adalah untuk menghubungkan dunia teori dan observasi antara abstraksi dan realitas.31Samadi Surya Brata memberikan arti khusus apa yang dimaksud dengan konsep, yang mana sebuah berkaitan dengan definisi operasional. Konsep diartikan sebagai kata yang menyatakan abstraksi yang di generalisasi dari hal-hal yang khusus yang disebut defenisi operasional.32
31 Samayadi Suryabrata, Metodelogi Penelitan, Raja Grafndo Persada, Jakarta, 1998, h.
38.
32 Ibid, h. 3.
Adapun uraian pada konsep yang dipakai dalam penelitian ini adalah:
a. Iktikad baikadalahiktikad baik memiliki dua dimensi. dimensi yang pertama adalah dimensi subjektif yang berarti iktikad baik mengarah kepada makna kejujuran. Dimensi yang kedua adalah dimensi yang memaknai iktikad baik sebagai kepantasan dan kepatutan atau keadilan.33 b. Personal Guarantyadalahjaminan perseorangan atau jaminan pribadi.
c. Jaminan Kebendaan adalah jaminan yang berupa hak mutlak atas sesuatu benda, yang mempunyai ciri-ciri: mempunyai hubungan langsung atas benda tertentu dari debitur, dapat dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti bendanya (droit de suite) dan dapat diperalihkan.34
d. Hutangadalahpinjaman.35
e. Bankadalah suatu badan usaha yang bergerak dalam bidang keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarkat dalam bentuk kredit dan atau bentuk- bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan tarif hidup rakyat banyak.36 G. Metode Penelitian
Metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun, dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia, maka metode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah dalam melakukan penelitian.37
33 Ridwan Khairandy, op.cit., h. 75.
34 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, op.cit., h. 46-47.
35Risa Agustin, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Serba Jaya, Surabaya, 2012, h. 255.
36 Marwan Dan Jimmy, Kamus Hukum, Reality Publisher, Surabaya, 2009, h. 87.
37 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta, 2005, h. 6.
Metode penelitan “Iktikad
Baik Personal GuarantyDalam Pelunasan Hutang Bank Studi Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan” merupakan suatu penelitian hukum maka oleh karena itu menggunakan suatu metode penelitian hukum.
Metode Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode tertentu secara sistematika yang bertujuan untuk mempelajari sesuatu atau beberapa gejala hukum dengan cara menganalisisnya.38
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Metode penelitian hukum yang digunakan dalam penelitian ini memiliki jenis dan sifat, sebagai berikut:
Pemilihan jenis penelitian ini mengingat telaah terhadap permasalahan ini bersumber pada materi peraturan perundang-undangan, teori-teori, serta doktrin yang berhubungan dengan aspek hukum iktikad baik dalam suatu jaminan personal Guarantymaka berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif yaitu “suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan dipandang dari sisi normatif (asas-asas, prinsip-prinsip, doktrin-doktrin, kaidah- kaidah) yang terdapat di dalam perundang-undangan dan putusan pengadilan.”39
Kegunaan penelitian yuridis normatif berguna untuk mengetahui apakah dan bagaimanakah hukum positifnya mengenai suatu masalah tertentu dan juga dapat menjelaskan atau menerangkan kepada orang lain hukumnya mengenai
38 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Sinar Grafika, Jakarta, 1996, h.
6.
39 Johny Ibrahim, Teori Dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publishing, Surabaya, 2005, h. 46.
peristiwa atau masalah tertentu.40
Sifat penelitian ini yaitu deskriptif analistis.Bersifat deskriptifmaksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang diteliti.Penelitian ini pada umumnya bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat terhadap suatu populasi atau daerah tertentu, mengenai sifat-sifat, karakteristik-karakteristik atau faktor- faktor tertentu.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan kegunaan penelitian yuridis normatif dapat menjawab tujuan penelitian.
41 Analistis dimaksudkan berdasarkan gambaran fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat bagaimana menjawab permasalahan42
2. Sumber Data Penelitian
. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini akan membuat suatu gambaran mengenai personal Guarantydan iktikad baik kemudian selanjutnya di analisis untuk menjawab permasalahan penerapan iktikad baik personal garansi dalam pelunasan hutang bank.
Adapun sumber data yang biasa digunakan dalam penelitian hukum normatif yang bersumber pada data sekunder diperoleh dari :
a. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian ini.43
40 C. F. G. Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20, Penerbit Alumni, Bandung, 1994, h.140
41 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, 1997, h.
35.
42 Sunaryati Hartono, op.cit., h. 101.
43 Ronny Hanitijo, Metodologi Penelitian Hukum Dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta,1990, h. 53.
Bahan hukum yang mempunyai kekuatan yang mengikat bagi pihak-
pihak yang berkepentingan, yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medan/
b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan badan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami bahan hukum primer. yaitu buku-buku, hasil-hasil penelitian bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti rancangan undang-undang, pendapat pakar hukum, doktrin atau teori-teori yang diperoleh dari literatur hukum, hasil penelitian, jurnal-jurnal hukum, artikel ilmiah maupun website yang terkait dengan penelitian.44
c. Bahan hukum tersier merupakan bahan hukum yang memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.45
3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Bahan yang relevan untuk melengkapi data dalam penelitian ini, yaitu kamus umum, kamus hukum, majalah, internet, serta bahan- bahan di luar bidang hukum yang berkaitan dengan tesis ini guna melengkapi data.
a. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian hukum normatif yaitu:
1) Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka.
Atau data sekunder, yang berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku
44 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Grup, Jakarta, 2014, h. 182-183.
45 Soerjono Soekanto Dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, h. 13.
yang ditulis oleh para ahli hukum, doktrin-doktrin/pendapat/ajaran para ahli hukum dan hasil seminar, jurnal-jurnal hukum, karya ilmiah yang berkaitan dengan iktikad baik dan hukum jaminan berkaitan dengan personal guaranty.
2) Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian berupa data lapangan (Field Reserach), yaitu penelitian dilakukan dengan wawancara informan, antara lain: hakim dan pihak bank.
b. Alat Pengumpulan Data
Alat Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian, sebagai berikut:
1) Studi dokumen digunakan untuk memperoleh data sekunder dengan membaca, mempelajari, meneliti, mengidentifikasi dan menganalisa data yang berkaitan dengan permasalahan yang diajukan. Data ini diperoleh dengan mempelajari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier, setiap bahan hukum ini harus diperiksa ulang validitas dan realibilitasnya sebab, hal ini sangat menentukan hasil penelitian.
2) Pedoman wawancara (interview guide)digunakan untuk melakukan wawancara terhadap informan dengan menggunakan pedoman wawancara bebas dan mendalam (depth interview). Narasumber untuk diwawancarai , sebagai berikut:
a) Hakim Pengadilan Negeri Medan.
b) Pihak Bank yang dalam prakteknya bank tersebut menerima personal guaranty sebagai jaminan.
4. Analisis Data
Analisis data sangat dibutuhkan dalam suatu penelitian, analisis data berfungsi untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti.
Menurut Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, analisis data merupakan
“kegiatan dalam penelitian yang berupa melakukan kajian atau telaah terhadap hasil pengolahan data yang dibantu dengan teori-teori yang telah didapatkan sebelumnya. Secara sederhana analisis data disebut sebagai kegiatan memberikan telaah, yang dapat berarti menentang, mengkritik, mendukung, menambah atau memberi komentar dan kemudian membuat suatu kesimpulan terhadap hasil penelitian dengan pikiran sendiri dan bantuan teori yang telah dikuasainya.”46
a. Deskriptif
Berdasarkan uraian tersebut maka analisis data dalam penelitian ini sebagai kegiatan yang memberikan telaah terhadap hasil Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Mdn dengan cara membuat suatu hasil kesimpulan yang dengan bantuan teori kepastian hukum dan teori keadilan.
Analisis data dalam penelitian hukum memiliki sifat seperti deskriptif, evaluatif, dan preskriptif. Penjelasannya sebagai berikut:
Sifat analisis deskriptif maksudnya adalah, bahwa penelitan dalam menganalisis berkeinginan untuk memberikan gambaran atau pemaparan atas subjek dan objek penelitian sebagaimana hasil penelitian yang dilakukannya.
b. Evaluatif
Analisis yang bersifat evaluatif, penelitian memberikan justifikasi atas hasil penelitian. Peneliti memberikan penilaian dari hasil penelitian, apakah hipotesis dari teori hukum yang diajukan diterima atau ditolak.
c. Preskriptif
Sifat analisis preskriptif dimaksudkan untuk memberikan argumentasi atas hasil penelitian yang telah dilakukannya. Argumentasi dilakukan oleh peneliti untuk memberikan preskripsi atau penilaian mengenai benar atau salah atau apa yang seyogjanya menurut hukum terhadap fakta atau peristiwa hukum dari hasil penelitian.47
46 Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, op.cit., h. 183.
47Ibid.
Berdasarkan sifatnya analisis penelitian ini merupakan penelitian preskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk memberikan argumentasi atas hasil Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Mdn berkaitan dengan personal guaranty dan iktikad baik menggunakan teori kepastian dan teori keadilan.
Penelitian harus dilakukan dengan menggunakan cara berpikir ilmiah atau logika.48 Penelitian ini menggunakan logika deduktif. Logika deduktif atau cara berpikir analitik yaitu cara berpikir yang bertolak dari pengertian bahwa sesuatu yang berlaku bagi keseluruhan peristiwa atau kelompok/ jenis, berlaku juga bagi tiap-tiap unsur di dalam peristiwa kelompok/ jenis tersebut.49
48Ibid., h. 109
49Ibid.
BAB II
PENGATURAN IKTIKAD BAIK PENJAMIN PERSONAL GUARANTY A. Hukum Jaminan
1. Pengertian Jaminan
Istilah hukum jaminan berasal dari terjemahan zakerheiddestelling atau security law. 50 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jaminan adalah
“tanggungan atas pinjaman yang diterima atau agunan atau janji seorang untuk menanggung utang atau kewajiban pihak lain apabila atau kewajiban tidak dipenuhi.”51
Pengertian hukum jaminan menurut Seminar Badan Pembinaan Hukum Nasional(BPHN) tentang Lembaga Hipotek dan Jaminan Lainnya yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 20 sampai dengan pada tanggal 30 Juni 1977 yaitu “hukum jaminan meliputi pengertian baik jaminan kebendaan maupun jaminan perorangan.”52
a. Menurut J. Satrio, hukum jaminan adalah “peraturan hukum yang mengatur tentang jaminan tentang jaminan-jaminan piutang seorang kreditor dan debitur”.
Menurut sarjana terdapat beberapa pengertian hukum jaminan, sebagai berikut:
53
b. Menurut Salim HS, hukum jaminan adalah “keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan antara pemberi dan penerima jaminan
50 Salim HS, op.cit., h. 5.
51 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2002, h. 563.
52 Salim HS, loc.cit.
53 J. Satrio, Hukum Jaminan Kebendaan Fidusia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, h.
3.
dalam kaitannya dengan pembebanan jaminan untuk mendapatkan fasilitas kredit”.54
Defenisi tersebut maka memiliki unsur-unsur, antara lain:
1) Adanya kaidah hukum
Kaidah hukum dalam bidang jaminan, dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu kaidah hukum jaminan tertulis dan kaidah hukum jaminan tidak tertulis. Kaidah hukum tertulis adalah kaidah-kaidah hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan, traktat, dan yurispudensi sedangkan kaidah hukum jaminan tidak tertulis adalah kaidah-kaidah hukum jaminan yang tumbuh, hidup, dan berkembang dalam masyarakat seperti halnya gadai pada tanah dalam sayarakat yang dilakukan secara lisan.
2) Adanya pemberi dan penerima jaminan
Pemberi jaminan adalah orang-orang atau badan hukum yang menyerahkan barang jaminan kepada penerima jaminan dan yang bertindak sebagai pemberi jaminan adalah orang atau badan hukum yang membutuhkan fasilitas atau dapat disebut debitur. Penerima jaminan adalah orang atau badan hukum yang menerima jaminan dan orang yang bertindak sebagai penerima jaminan adalah orang atau badan hukum atau dapat disebut dengan kreditur.
3) Adanya jaminan
Pada dasarnya, jaminan yang diserahkan pada kreditur adalah mainan materiil dan imateriil. Jaminan materiil merupakan jaminan yang berupa hak-hak kebendaan, seperti jaminan atas benda bergerak dan benda tidak bergerak dan jaminan imaterril merupakan jaminan nonkebendaan.
4) Adanya fasilitas kredit
Pembebanan jaminan yang dilakukan oleh pemberi jaminan bertujuan untuk mendapatkan fasilitas kredit dari bank atau lembaga keuangan nonbank.
Pemberian kredit merupakan pemberian uang berdasarkan kepercayaan, dalam arti bank atau lembaga keuangan nonbank percaya bahwa debitur sanggup untuk mengembalikan pokok jaminan dan bunganya dan begitu juga debitur percaya bahwa bank atau lembaga keuangan nonbank dapat memberikan kredit kepadanya.55
c. Menurut Rachmadi Usman, hukum jaminan adalah “ketentuan hukum yang mengatur hubungan hukum antara pemberi jaminan (debitur) dan penerima
54 Salim HS, op.cit., h. 5.
55Ibid., h. 8.
jaminan (kreditor) sebagai akibat pembebanan suatu utang tertentu (kredit) dengan suatu jaminan (benda atau orang tertentu)”.56
Djuhaendah Hasan mengatakan bahwasanya fungsi jaminan secara yuridis adalah “kepastian hukum pelunasan utang di dalam perjanjian kredit atau dalam utang piutang atau kepastian realisasi suatu prestasi dalam suatu perjanjian dan yang dimaksud dengan kepastian hukum adalah dengan mengikat perjanjian jaminan melalui lembaga-lembaga jaminan.”57
a. Dapat secara mudah membantu perolehan kredit itu oleh pihak yang memerlukannya;
Pada prinsipnya tidak semua benda jaminan dan dijaminkan pada lembaga perbankan atau lembaga keuangan yang bukan bank, namun benda- benda yang dapat dijaminkan adalah benda-benda yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat benda jaminan yang baik adalah:
b. Tidak melemahkan potensi (kekuatan) si pencari kredit untuk melakukan atau meneruskan usahanya;
c. Memberikan kepastian si kreditur, dalam arti bahwa barang jaminan setiap waktu tersedia untuk dieksekusi, bila perlu dapat mudah diuangkan untuk melunasi hutangnya si penerima (pengambil) kredit).58
Jaminan mempunyai kedudukan dan manfaat yang sangat penting dalam menunjang pembangunan ekonomi karena keberadaan lembaga ini dapat memberikan bagi kreditur dan debitur, berikut penjelasannya:
a. Bagi kreditur terwujudnya keamanan terhadap transaksi dagang yang ditutup dan memberikan kepastian hukum bagi kreditur.
56 Rachmadi Usman, op.cit., h. 1.
57 Djuhaendah Hasan, Perjanjian Jaminan Dalam Perjanjian Kredit, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 1998, h. 68.
58 Subekti, Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Termasuk Hak Tanggungan Menurut Hukum Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996, h. 73.
b. Bagi debitur dengan adanya jaminan itu dapat memperoleh fasilitas kredit dari bank dan tidak khawatir dalam mengembangkan usahanya. 59
2. Asas-asas hukum jaminan
Salah satu unsur yuridis dalam sistem hukum jaminan adalah asas hukum.60 Istilah asas merupakan dari bahasa latin “principle” dan bahasa belanda
“beginsel”, yang artinya dasar yaitu “sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat.”61 Kata “principle” atau asas adalah “sesuatu yang dapat dijadikan sebagai alas, sebagai dasar, sebagai tumpuan sebagai tempat untuk menyandarkan, untuk mengembalikan sesuatu hal, yang hendak dijelaskan.”62
Menurut Tan Kamello, pengertian asas dalam bidang hukum yang lebih memuaskan untuk dikemukakan oleh para ahli hukum ialah “principle is the broad reason which lies at the base of a rule of law”.63
a. Asas merupakan pemikiran perimbangan, sebab yang luas atau umum, abstrak (the broad reason).
Berdasarkan pengertian tersebut ada dua hal yang terkandung dalam makna asas, sebagai berikut:
b. Asas merupakan hal yang mendasari adanya norma hukum (the base of rule of law).64
Asas hukum tidak sama dengan norma hukum walaupun adakalanya norma hukum itu sekaligus merupakan asas hukum. Karakter asas hukum yang umum, abstrak memuat cita-cita, harapan (das sollen), dan bukan aturan yang
59 Salim HS, op.cit., h. 28.
60 Tan Kamello, op.cit., h. 157.
61 Departemen Pendidikan Nasional, op.cit., h. 91.
62 Mahadi, Hukum Benda Dalam Sistem Hukum Perdata Nasional, Binacipta, Jakarta, 193, h. 119.
63 Tan Kamello, loc.cit., h. 158.
64Ibid.