BAB II PENGATURAN IKTIKAD BAIK PENJAMIN PERSONAL
A. Hukum Jaminan
2. Asas-asas hukum jaminan
Salah satu unsur yuridis dalam sistem hukum jaminan adalah asas hukum.60 Istilah asas merupakan dari bahasa latin “principle” dan bahasa belanda
“beginsel”, yang artinya dasar yaitu “sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat.”61 Kata “principle” atau asas adalah “sesuatu yang dapat dijadikan sebagai alas, sebagai dasar, sebagai tumpuan sebagai tempat untuk menyandarkan, untuk mengembalikan sesuatu hal, yang hendak dijelaskan.”62
Menurut Tan Kamello, pengertian asas dalam bidang hukum yang lebih memuaskan untuk dikemukakan oleh para ahli hukum ialah “principle is the broad reason which lies at the base of a rule of law”.63
a. Asas merupakan pemikiran perimbangan, sebab yang luas atau umum, abstrak (the broad reason).
Berdasarkan pengertian tersebut ada dua hal yang terkandung dalam makna asas, sebagai berikut:
b. Asas merupakan hal yang mendasari adanya norma hukum (the base of rule of law).64
Asas hukum tidak sama dengan norma hukum walaupun adakalanya norma hukum itu sekaligus merupakan asas hukum. Karakter asas hukum yang umum, abstrak memuat cita-cita, harapan (das sollen), dan bukan aturan yang
59 Salim HS, op.cit., h. 28.
60 Tan Kamello, op.cit., h. 157.
61 Departemen Pendidikan Nasional, op.cit., h. 91.
62 Mahadi, Hukum Benda Dalam Sistem Hukum Perdata Nasional, Binacipta, Jakarta, 193, h. 119.
63 Tan Kamello, loc.cit., h. 158.
64Ibid.
akan diperlakukan secara langsung kepada subjek hukum. Asas hukum bukanlah suatu perintah hukum yang konkret yang dapat dipergunakan terhadap peristiwa konkret dan tidak pula memiliki sanksi yang tegas. Asas hukum hanya ada dalam norma hukum yang konkret seperti peraturan yang sudah ditunagkan dalam wujud pasal-pasal perundang-undangan. 65
a. Menurut Mariam Darus Badrulzaman, mengatakan
Asas-asas hukum jaminan menurut pendapat beberapa ahli hukum, sebagai berikut:
“bahwa asas-asas hukum jaminan harus bersumber dari Pancasila sebagai asas idiil (filosofis), Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sebagai asas konstitusional (struktural), ketepatan Majelis Permusyawaratan Raktyat sebagai asas konsepsional (politis) dan undang-undang sebagai asas operasional (teknis) dan asas-asas tersebut mempunyai tingkat-tingkat dilihat dari gradasi sifatnya yang abstrak.”66
b. Menurut Salim HS, berdasarkan hasil analisis terhadap berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang jaminan maupun kajian terhadap berbagai literatur tentang jaminan maka ditemukan 5 asas penting dalam hukum jaminan, antara lain:
1) Asas publicitet(publikasi), yaitu asas bahwa semua hak, baik hak tanggungan, hak fidusia, dan hipotek harus didaftarkan. pendaftaran ini dimaksudkan supaya pihak ketiga dapat mengetahui bahwa benda jaminan tersebut sedang dilakukan pembebanan jaminan.
2) Asas specialitet, yaitu bahwa hak tanggungan, hak fidusia,dan hipotek hanya dapat dibebankan atas percil atau atas barang-barang yang sudah terdaftar atas nama orang tertentu;
3) Asas tak dapat dibagi-bagi, yaitu asas dapat dibaginya hutang tidak dapat mengakibatkan dapat dibaginya hak tanggungan, hak fidusia, hipotek, dan hak gadai walaupun telah dilakukan pembayaran sebagian.
4) Asas inbezittstelling, yaitu barang jaminan (gadai) harus berada pada penerima gadai;
65Ibid, h. 158-159.
66 Mariam Darus Badrulzaman, Mencari Sistem Hukum Benda Nasional, Alumni, Bandung, 1983, h. 15.
5) Asas horizontal, yaitu bangunan dan tanah bukan merupakan satu kesatuan.67
Asas droite de suite adalah “asas hak kebendaan diikuti benda pada siapa hak tersebut berada: hak diikuti benda”.68Asas publikasi dalam hukum jaminan dan asas droit de suite saling berhubungan, dalam artian pemberlakuan asas droit de suite baru berlaku dan diakui. Asas droit de suite dalam hukum jaminan fidusia berdasarkan tinjauan yuridis Putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor:
102/PDT/2015/PT.BDG bahwa asas droit de suite baru berlaku sejak tanggal pencatatan jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia apabila tidak didaftarkan maka tidak dilindungi oleh asas droit de suite.69
Penerapan asas spesialitas dalam jaminan fidusia berdasarkan ketentuan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia, maka akta jaminan fidusia sekurang-kurangnya memuat: identitas pihak pemberi dan penerima fidusia; data perjanjian pokok yang dijamin fidusia; uraian mengenai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia; nilai penjaminan dan; nilai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia.70Penerapan asas spesialitas dalam lembaga hak kepemilikan atas tanah secara individual harus ditunjukkan dengan jelas wujud, batas, letak, luas tanah.71
67 Salim HS, op.cit., h. 10-11.
68 Rachmadi Usman, Hukum Kebendaan, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, h. 110.
69 Eva Andari Ramadhina, “Penerapan Asas Jaminan Fidusia Dan Perjanjian Pada Pendaftaran Jaminan Fidusia Dalam Pembiayaan Konsumen (Studi Putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor: 102/Pdt/2015/PT.Bdg) (Universitas Sebelas Maret)”, Journal Privat Law, Volume V, Tahun 2017, h. 27.
70Sugianto, “Rekonstruksi Perjanjian Fidusia Atas Benda Bergerak Yang Didaftarkan Berdasarkan Nilai Keadilan (Universitas Islam Sultan Agung)”, Journal Pembaharuan Hukum, Volume I, Tahun 2014, h. 341.
71 Juliana Evawati, “Asas Publisitas Pada Hak Jaminan Atas Resi Gudang (Universitas Airlangga)”, Journal Yuridika, Volume 29, Tahun 2014, h. 235 .
Berdasarkan penerapan-penerapan asas tersebut
dapat dipahami bahwa asas spesialitas adalah asas dimana harus jelas dan terang apa yang menjadi jaminan.
Asas inbezittstelling diatur dalam Pasal 1152 KUH Perdata yaitu “benda gadai harus diserahkan kepada penerima gadai (kreditor) atau pihak ketiga, sehingga benda tersebut berada dalam kekuasaan penerima gadai (kreditor) atau pihak ketiga.” 72
Asas pemisahan horizontal, bahwa dalam Pasal 500 dan 506 KUH Perdata dianut asas pelekatan sedang UUPA menganut asas horizontal yang diambil alih dari hukum Adat. Jual beli hak atas tanah tidak dengan sendirinya meliputi bangunan dan tanaman yang terdapat di atasnya. Jika bangunan dan tanaman akan mengikuti jual beli hak atas tanah harus dinyatakan secara tegas dalam akta jual beli. Pemerintah menganut asas vertikal untuk tanah yang sudah memiliki sertifikat untuk tanah yang belum bersertifikat menganut asas horizontal.
Berdasakan tersebut dapat dipahami bahwa asas inbezittstellingadalah asas dimana benda yang dijaminkan harus diserahkan penguasaannya kepada kreditor.
73
Berdasarkan jenis-jenis asas jaminan yang dikemukakan Salim HS bahwa dapat dipahami tidak semua asas diterapkan dalam semua jenis jaminan jaminan seperti halnya asas publikasi (jaminan perorangan tidak didaftarkan) dan asas asas tak dapat dibagi-bagi diterapkan pada jaminan kebendaan, asas inbezittstellingkhusus jaminan kebendaan dalam gadai, asas horizontal khusus
72 Ibid.
73 Vivi Lia Falini Tanjung, “Implementasi Asas-Asas Umum Hukum Kebendaan Dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia(Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara)”, Journal De Lega Lata,Volume 2, Tahun 2017, h. 221.
terhadap jaminan tanah yang bersertifikat.74