• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENERAPAN HUKUM OLEH HAKIM TERHADAP

C. Analisis Penerapan Hukum Oleh Hakim Terhadap Iktikad Baik

3. Analisis

Berdasarkan sebab-sebab timbulnya sengketa kontrak antara Tuan Ravindren dengan CV. Nogo Sostro maka dapat diketahui timbulnya sengekta kontrak akibat Tuan Ravindren kurang cermat atau kurang hati-hati ketika melakukan perjanjian sehingga mengakibat dia sebagai penjamin personal guaranty yang menjamin seluruh hutang CV. Nogo Sostro hal tersebut disebakan Tuan Ravindren kurang mempunyai wawasan hukum terkhususnya hukum kontrak dan terdapat pihak yaitu pengurus CV. Nogo Sostro menyembunyikan hal-hal yang seharusnya dikemukakan yaitu akibat apabila Tuan Ravindren menyepakati perjanjian personal guaranty.

Berdasarkan amar putusannya hakim memutuskan melakukan pemecahan hutang terhadap penjamin. Menurut ketentuan Pasal 1837 KUH Perdata, penjamin personal guaranty memiliki hak untuk melakukan pemecahan hutang apabila terdapat penjamin atas hutang debitur utama lebih dari satu.199

Amar putusan hakim untuk melakukan pemecahan hutang berdasarkan pertimbangan iktikad baik penjamin dimana Tuan Ravindren berupaya untuk Penjamin dalam perjanjian kredit antara CV. Nogo Sostro dengan PT. Bank Mandiri hanya ada satu penjamin personal guaranty yaitu Tuan Ravindren berdasarkan hal tersebut seharusnya Tuan Ravindren tidak memiliki hak pemecahan hutang.

199 Pasal 1837 KUH Perdata.

tidak merugikan kreditor yaitu Bank Mandiri dengan cara akan membayar utang dengan jumlah berdasarkan fasilitas kredit yang diterima oleh Tuan Ravindren.

Iktikad baik tersebut sebelumnya sudah diupayakan Tuan Ravindren kepada pihak Bank Mandiri dimana Pihak Bank Mandiri setuju apabila CV. Nogo Sostro menyutujui untuk Tuan Ravindren melakukan pemecahan utang akan tetapi persetujuan CV. Nogo Sostro tidak didapatkan sehingga iktikad baik tersebut tidak dapat dilakukan.

Tolak ukur iktikad baik penjamin selain berupaya untuk tidak merugikan pihak Bank Mandiri dengan melakukan pemecahan hutang untuk membayar sebagian hutang dapat dilihat juga dari iktikad baik Tuan Ravindren dalam menyelesaikan permasalahan wanprestasi CV. Nogo Sostro dimana Tuan Ravindren sebagai penjamin ketika mengetahui CV. Nogo Sostro diberitahukan telah wanprestasi dalam tempo waktu yang cukup singkat dirinya langsung melakukan komunikasi dengan pihak Bank Mandiri untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Perjanjian kredit antara CV. Nogo Sostro dengan PT. Bank Mandiri dimana Tuan Ravindren sebagai penjamin telah memenuhi syarat sahnya perjanjian dimana dapat diketahui dalam putusan tidak ada membatalkan perjanjian kredit tersebut. Berdasarkan hal maka akibat dari perjanjian yang sah berdasarkan Pasal 1338 KUH Perdata maka perjanjian persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya dan persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh

undang-undang.200

1. Perjanjian yang sah adalah undang-undang.

Berdasarkan Pasal 1338 KUH Perdata tersebut dapat dipahami bahwa pemecahan hutang dapat saja dimungkinkan apabila terdapat persetujuan kembali untuk melakukan pemecahan hutang kredit yang memenuhi syarat.

Menurut Mariam Darus, terdapat asas-asas dalam suatu perjanjian yaitu, sebagai berikut:

Berdasarkan Pasal 1338 KUHPerdata bahwa semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang dan Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.

2. Asas kebebasan berkontrak

Berdasarkan Pasal 1338 KUHPerdata bahwa semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. “semua” mengandung arti meliputi seluruh perjanjian, baik yang namanya dikenal maupun yang tidak dikenal oleh undang-undang. Asas kebebasan berkrontrak berhubungan dengan isi perjanjian, yaitu kebebasan menentukan “apa” dengan “siapa” perjanjian itu diadakan.

3. Asas konsensualisme

Asas konsensualisme terdapat dalam Pasal 1320 KUHPerdata bahwa kata semua menunjukkan bahwa setiap orang diberi kesempatan untuk menyatakan keinginannya (will), yang dirasanya baik untuk menciptakan perjanjian.

4. Asas kepercayaan

Seseorang yang mengadakan perjanjian dengan pihak lain, menumbuhkan kepercayaan di antara kedua belah pihak itu bahwa satu sama lain akan memegang janjinya, dengan kata lain akan memenuhi prestasinya di belakang hari. Tanpa adanya kepercayaan maka perjanjian tidak mungkin diadakan oleh para pihak.

5. Asas kekuatan mengikat

Terikatnya para pihak pada perjanjian itu tidak semata-mata terbatas pada apa yang diperjanjikan akan tetapi juga terhadap beberapa unsur lain sepanjang dikehendaki oleh kebiasaan dan kepatutan serta moral.

6. Asas persamaan hukum

Asas persamaan hukum menempatkan para pihak dalam persamaan derajat, tidak ada perbedaan, walaupun ada perbedaan kulit, bangsa, kekayaan, kekuasaan, jabatan dan lain-lain.

200 Pasal 1338 KUH Perdata.

7. Asas kepastian hukum

Perjanjian sebagai suatu figur hukum harus mengandung kepastian hukum.

Kekuatan kepastian terdapat pada Pasal 1338 KUHPerdata bahwa perjanjian itu mengikat sebagai undang-undang para pihak.

8. Asas moral

Asas moral terdapat pada Pasal 1339 KUHPerdata bahwa persetujuan tidak hanya mengikat apa yang dengan tegas ditentukan di dalamnyamelainkan juga didasari keadilan, kebiasaan, atau undang-undang dimana termasuk didalamnya moral.

9. Asas kepatutan

Asas kepatutan berkaitan dengan ketentuan mengenai isi perjanjian yang harus sesuai dengan Pasal 1339 KUHPerdata.201

Asas pacta sunt servanda merupakan salah satu asas dalam suatu hukum kontrak. Menurut Herlein Budiono, pacta sunt servanda terkandung dalam Pasal 1338 KUH Perdata. Pasal tersebut diakui sebagai aturan yang menetapkan bahwa semua kontrak yang dibuat manusia satu sama lain, mengingat kekuatan hukum yang terkandung di dalamnya dimaksudkan untuk dilaksanakan dan pada akhirnya Amar putusan hakim yang memutuskan pemecahan hutang antar debitur utama yaitu CV. Nogo Sostro dengan debitur subsidair atau penjamin yaitu Tuan Ravindren melanggar Pasal 1338 KUH Perdata karena terbukti tidak adanya adanya suatu kesepakatan pemecahan hutang atau persetujuan kembali yang disetujui oleh CV. Nogo Sostro dan PT. Bank Mandiri sehingga seharusnya perjanjian kredit tersebut dimana Tuan Ravindren sebagai penjamin atas utang CV. Nogo Sostro adalah mengikat sebagai undang-undang bagi Tuan Ravindren.

Berdasarkan hal maka dapat dapat dipahami apabila melihat asas-asas perjanjian maka putusan hakim melanggar asas kepastian hukum dalam suatu perjanjian.

201 Mariam Darus, op,cit., h. 82-89.

dapat dipaksakan.202

Konteks hukum kontrak, hakim memiliki kewenangan untuk mencegah terjadinya pelanggaran rasa keadilan.

Amar putusan hakim dalam perkaraNo. 700/PDT.G/2015/PN Mdn yang melanggar Pasal 1338 KUH Perdata dapat diketahui juga telah melanggar asas pacta sunt servanda dalam hukum kontrak.

203

Pembatasan suatu perjanjian dapat diketahui salah satu fungsi penerapan iktikad baik dalam suatu kontrak. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui bahwa amar putusan hakim yang melakukan pembatasan tanggung jawab

Penerapan hakim mengesampingkan asas pacta sunt servanda didasari oleh Pasal 1339 KUH Perdata bahwa suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifatnya diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan, atau undang-undang. Hakim memiliki kewenangan untuk melakukan pelanggaran terhadap penerapan asas pacta sunt servanda apabila hakim merasakan ketidakadilan kontrak. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui bahwa amar putusan perkara No. 700/PDT.G/2015/PN Mdn yang melanggar asas pacta sunt servanda disebabkan karena hakim merasakan ada pelanggaran keadilan atau ketidakadilan.

Keputusan hakim tersebut apabila dianalisis dapat diketahui sebenarnya telah membatasi suatu kontrak atau perjanjian yang mana dapat dilihat bahwa hakim telah membatasi pertanggungjawaban penjamin personal guaranty dimana seharusnya bertanggungjawab sepenuhnya dalam perkara antara Tuan Ravindren dengan CV. Sostro.

202 Herlien Budiono, Asas Keseimbangan Bagi Hukum Perjanjian Indonesia Hukum Perjanjian Berlandaskan Asas-Asas Wigati Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006, h. 102.

203 Subekti, op.cit, h. 43.

penjamin personal guaranty yaitu dengan cara melakukan pemecahan hutang penjamin yaitu Tuan Ravindren dengan debitur utama yaitu CV. Nogo Sostro adalah suatu bentuk penerapan fungsi iktikad baik dalam suatu kontrak.

Pemecahan hutang dengan sebesar Rp.1.750.000.000 (satu milyar tujuh ratus lima puluh juta rupiah) terhap penjamin personal guaranty dalam perkara No.700/PDT.G/2015/PN.Mdn merupakan suatu penerapan iktikad baik dalam suatu pelaksanaan kontrak dimana hal tersebut dapat diketahui secara jelas karena putusan hakim tersebut sesuai dengan tawaran iktikad baik Tuan Ravindren dalam pertanggungjawabannya sebagai penjamin personal guaranty dalam perjanjian kredit CV. Nogo Sostro dengan PT. Bank Mandiri dimana dia akan bertanggung jawab sebesar Rp.1.750.000.000 (satu milyar tujuh ratus lima puluh juta rupiah) karena telah menikmati fasilitas kredit senilai yang ditawarkan tersebut dan penjamin merasa atas utang CV. Nogo Sostro selebihnya tidak merupakan tanggungjawabnya karena sebenarnya dia menjadi penjamin karena suatu rangkaian kegiatan yang beriktikad tidak baik yaitu adanya ketidakjujuran debitur utama.

Hakim dalam rangka untuk mencegah timbulnya ketidakadilan dalam kontrak akibat penerapan kebebasan berkontrak dan pacta sunt servada maka hakim dapat berpegang kepada fungsi itikad baik dalam pelaksanaan kontrak.204

204 Ridwan I, op.cit., h. 64.

Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa hakim dapat menggunakan penerapan fungsi-fungsi iktikad baik apabila hakim merasakan ada ketidakadilan dalam suatu kontrak.

Menurut Gustav Radbuch bahwa nilai-nilai dasar hukum adalah

“keadilan, kegunaan, dan kepastian hukum”.205

Menurut Jamaludin, tugas seorang hakim bukan hanya sekedar sebagai corong undang-undang saja akan tetapi hakim dapat melihat bukti-bukti, keterangan saksi, keadaan dan perbuatan dari seseorang untuk melihat ada atau Ketiga nilai dasar dari hukum terdapat suatu spannungsverhaltnis yaitu suatu ketegangan satu sama lain.

Hubungan atau keadaan yang demikian itu bisa dimengerti bahwa ketiga nilai dasar tersebut berisi tuntutan yang berlain-lain dan satu sama yang lain mengandung potensi untuk bertentangan. Berdasarkan urutan ketiga nilai dasar tersebut nilai dasar hukum yang pertama menurut gustav radbuch ialah keadilan.

Berdasarkan Pasal 1339 KUH Perdata bahwa suatu perjanjian tidak hanya mengikat apa yang dengan tegas ditentukan di dalamnya akan tetapijuga dituntut berdasarkan keadilan, kebiasaan, atau undang-undang. Pasal tersebut memberikan cikal bakal hakim untuk memutuskan tidaklah harus pada kepastian hukum perjanjian atau pacta suntservanda akan tetapi harus juga berdasarkan keadilan termasuk menerapkan suatu iktikad baik dalam demi wujudkan keadilan.

Kewenangan hakim untuk menerapkan keadilan dari pada kepastian hukum dibenarkan karena hakim lebih memiliki kewajiban untuk mewujudkan keadilan hukum hal tersebut sesuai dengan Pasal 5 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaaan Kehakiman bahwa “Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.”

205 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2014, h. 19.

tidaknya iktikad baik dari orang itu sehingga ada kalanya kepastian hukum dapat dikesampingkan dengan alasan iktikad baikakan tetapi pada dasarnya hakim lebih memilih untuk menegakkan kepastian hukum.206

. Menurut Jamaludin, hakim harus memutus perkara yangditangani dengan seadil-adilnya sehinggahakim dapat menafsirkan suatu perbuatan dan mempertimbangkan dengan dasar-dasar dan faktor-faktor yang menurutnya masih dapat diperbolehkan dengan mempertimbangkan iktikad baik.207

Hakim untuk mewujudkan keadilan maka mengantisipasi eksekusi yang merugikan Tuan Ravindren maka memerintahkan Bank atau PT. Bank Mandiri (kreditor) untuk memisahkan hutang antara Tuan Ravindren (penjamin personal guaranty atas utang CV. Nogo Sostro) dengan CV. Nogo Sostro. Pemisahan utang sebesar Rp.1.750.000.000 (satu milyar tujuh ratus lima puluh juta rupiah) diserahkan pada Tuan Ravindren dan sertifikat no.278 tanggal 13 Oktober 1992 kepunyaan Tuan Ravindren sebagai agunan pemisahan utang tersebut sehingga dengan sendirinya Tuan Ravindren hanya memiliki kredit yang jumlahnya sebesar Rp.1.750.000.000 (satu milyar tujuh ratus lima puluh juta rupiah.

Penerapan hakim memutuskan pemecahan hutang atas perjanjian kredit antara CV. Nogo Sostro dengan PT. Bank Mandiri karena dapat dilihat hakim merasakan ketidakadilan terhadap Tuan Ravindren yang dilihat dari pertimbangan hakim dimana eksekusi yang akan dilakukan oleh PT. Bank Mandiri atas harta milik Tuan Ravindren tidak dapat dipungkiri bahwa Tuan Ravindren akan mengalami kerugian.

206 Hasil Wawancara Jamaludin, Hakim Utama Muda, Medan, tanggal 4 bulan desember 2018.

207Ibid.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Ketentuan iktikad baik dalam hukum jaminan personal guaratytidak ada namun apabila ditafsir menurut Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata dimana pelaksanaan perjanjian termasuk pelaksanaan perjanjian jaminan personal guaranty harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Pada dasarnya iktikad baik seorang penjamin adalah iktikad untuk melunasi hutangnya debitor yang dijaminnya sesuai yang diperjanjikan dalam perjanjian kredit. Menurut Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata berkaitan dengan iktikad baik dalam pelaksanaan perjanjian memiliki kekuatan hukum apabila perjanjian tersebut memenuhi syarat sahnya perjanjian yang diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata karena perjanjian yang tidak memenuhi syarat sahnya perjanjian tidak memiliki kekuatan hukum untuk wajib dilaksanakan atau dilaksanakan dengan iktikad baik.Penjamin yang beriktikad buruk atau tidak dapat ditemukan bahwa debitur utama berdasarkan Pasal 1830 KUH Perdatadapat digantikan olehjaminan gadai atau hipotek.

2. Penentuan iktikad baik dalam pelaksanaan hak istimewa perjanjian Personal Guarantydengan mengacuPasal 1831 KUH Perdata maka penjamin yang meminta hak istimewa selama belum didahulukannya harta debitur untuk melunasi terlebih dahulu masih termasuk penjamin personal guaranty yang beriktikad baik.Penjamin yang beriktikad buruk tidak mau memenuhi penanggungan yang ditanggung apabila debitur utama tidak dapat memenuhi

prestasinya. Penjamin yang beriktikad buruk dapat dimohonkan pengadilan untuk dinyatakan pailit.

3. Penerapan hukum oleh hakim terhadap iktikad baik penjamin Personal Guaranty dalam pelunasan hutang Putusan Nomor 700/PDT.G/2015/PN Medanberdasarkan pertimbangan iktikad baik Tuan Ravindren berupaya untuk tidak merugikan Bank Mandiri dengan cara akan membayar berdasarkan fasilitas kredit yang diterima oleh Tuan Ravindren. Berdasarkan putusan hakim menerapkan fungsi iktikad baik melakukan pembatasan suatu kontrak yaitu memutuskan pemecahan hutang hal tersebut demi mewujudkan keadilan hukum karena Tuan Ravindren merupakan penjamin personal guaranty dari hasil suatu rangkaian kegiatan beriktikad tidak baik.

B. Saran

1. Agar pemerintah membuat undang-undang aturan khusus mengenai jaminan perorangan seperti halnya jaminan hak tanggungan dan jaminan fidusia sehingga dapat menjelaskan secara khusus iktikad baik jaminan perorangan karena KUH Perdata menjelaskan iktikad baik jaminan perorangan hanya didasari oleh ketentuan iktikad baik dalam perjanjian secara umum.

2. Agar hakim menggali kebenaran iktikad baik penjamin personal guarantyuntuk tidak berniat merugikan kreditor dalam mengabulkan permohonan hak istimewa penjamin personal guaranty agar tidak terjadi pemanfaatan hak istimewa dengan beriktikad buruk.

3. Agar hakim di pengadilan lebih mengutamakan keadilan hukum daripada kepastian hukum dalam semua perkara yang dimohonkan ke pengadilan dan

keadilan hukumyang diberikan oleh hakim dengan cara melihat iktikad baik para pihak.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-Buku

Agustin, Risa, 2012. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabya: Serba Jaya.

Algra. 1983. Kamus Istilah Hukum Fockema Andreae Belanda-Indonesia, Jakarta:

Bina Cipta.

Ali, Achmad, 2015. Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence) Volume 1 Pemahaman Awal, Jakarta: Kencana.

Ashshofa, Burhan.1996. Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta.

Badrulzaman, Mariam Darus, 1983. Mencari Sistem Hukum Benda Nasional, Bandung: Alumni.

________________________, dkk, 2016. Kompilasi Hukum Perikatan, Bandung:

Citra Aditya Bakti.

Budiono, Herlien, 2006. Asas Keseimbangan Bagi Hukum Perjanjian Indonesia Hukum Perjanjian Berlandaskan Asas-Asas Wigati Indonesia, Bandung:

Citra Aditya Bakti.

______________, 2010. Hukum Perjanjian dan Penerapannya Di Bindang Kenotariatan, Bandung: Citra Aditya Bakti.

Departemen Pendidikan Nasional, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, Jakarta: Balai Pustaka.

Fajar, Mukti Dan Yulianto Achmad, 2013. Dualisme Penelitian Hukum Normatif

& Empiris, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fuady, Munir, 2010. Dinamika Teori Hukum, Bogor: Ghalia Indonesia.

Hanitijo, Ronny, 1990. Metodologi Penelitian Hukum Dan Jurimetri, Jakarta:

Ghalia Indonesia.

Harahap, Yahya. 2002. Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHP Penyidikan dan Penuntutan, Jakarta: Sinar Grafika.

Harnoko, Agus Yudha, 2008. Hukum Perjanjian; Asas Proporsionalitas dalam Kontrak Komesial, Yogyakarta: Lasbang Mediatama.

Hartono, C. F. G. Sunaryati, 1994. Penelitian Hukum Di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20, Bandung: Penerbit Alumni.

Hasan, Djuhaendah, 1998. Perjanjian Jaminan Dalam Perjanjian Kredit, Jakarta:

Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

HS , Salim, 2014. Perkembangan Hukum Jaminan, Jakarta: Rajawali Press.

_________, 2015. Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Jakarta: Sinar Grafika.

Ibrahim, Johny, 2005. Teori Dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Surabaya: Bayumedia Publishing.

Kamello, Tan, 2004. Hukum Jaminan Fidusia, Bandung: Alumni.

Khairandy, Ridwan, 2014. Hukum Kontrak Indonesia Dalam Perspektif Perbandingan, Yogyakarta: UII Press.

_________________, 2015. Kebebasan Berkontrak, Pacta Sunt Servanda Versus Iktikad Baik, Jakarta: UI-Press.

_________________, 2017. Iktikad Baik Dalam Kontrak di Berbagai Sistem Hukum, Yogyakarta: FH-UII Press.

Kolopaking, Anita, 2013. Asas Iktikad baik Dalam Penyelesaian Sengketa Kontrak Melalui Arbitrase, Bandung: Alumni.

Kusumadara, Afifah. 2013. Kontrak Bisnis Internatioanl Elemen-Elemen Penting Dalam Penyusunannya, Jakarta: Sinar Grafika.

Lubis, M.Solly, 1995. Filsafat Ilmu Dan Penelitian, Bandung: Mandar Madju, Bandung.

Mahadi, 1993. Hukum Benda Dalam Sistem Hukum Perdata Nasional, Jakarta:

Binacipta.

Marwan Dan Jimmy, 2009. Kamus Hukum, Surabaya: Reality Publisher.

Marzuki, Peter Mahmud, 2014. Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

____________________, 2008. Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Kencana Pranada Media Group.

Prodjodikoro, R. Wirjono. 1992. Azas-Azas Hukum Perdata, Bandun: Sumur.

Rahardjo, Satjipto. 2014. Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti.

Rawls, John. 1971. A Theory of Justice, London: Oxford University Press.

Saleh, Muhammad, 2016. Kepastian Hukum Dalam Penyelesaian kredit Macet, Jakarta: Kencana.

Satrio, J, 1995. Hukum Perikatan, Perikatan yang Lahir Dari Perjanjian Buku I, Bandung: Citra Aditya Bakti.

______, 1996. Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Pribadi Penanggungan (Borgtocht), Bandung: Citra Aditya Bakti.

______, 2002. Hukum Jaminan Kebendaan Fidusia, Bandung: Citra Aditya Bakti.

Setiawan, I Ketut Oka, 2016. Hukum Perikatan, Jakarta: Sinar Grafika.

Sjahdeini, Sutan Remy, 1993. Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Seimbang bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit di Indonesia, Jakarta: Institut Bankir Indonesia.

Soekanto, Soerjono Dan Sri Mamudji, 1995. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

________________, 2005. Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas Indonesia.

Sofwan, Sri Soedewi Masjchoen, 1980. Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, Yogyakarta: Bina Usaha.

Subekti, 1996. Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Termasuk Hak Tanggungan Menurut Hukum Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti.

______, 2014. Hukum Perjanjian, Jakarta: Intermasa.

Sunggono, Bambang, 1997. Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: Rajawali Pers..

Suryabrata, Samayadi, 1998. Metodelogi Penelitan, Jakarta: Raja Grafndo Persada.

Syaifuddin, Muhammad. 2012. Hukum Kontrak Memahami Kontrak Dalam Perspektif Filsafat, Teori, Dogmatik, Dan Praktik Hukum, Bandung:

Mandar Madju, Bandung.

Ujan, Andre Ata, 2009. Filsafat Hukum-Membangun Hukum, Membela Keadilan, Yogyakarta: Kanisius.

Usman, Rachmadi. 2016. Hukum Jaminan Keperdataan. Jakarta: Sinar Grafika.

Waluyo, Bambang. 1996. Penelitian Hukum Dalam Praktek, Jakarta: Sinar Grafika.

Wery, P. L. 1990. Perkembangan tentang Hukum Iktikad Baik di Nederland, Jakarta: Percetakan Negara.

Wicaksono, Frans Satrio. 2009. Panduan Lengkap membuat Surat-Surat Kontrak, Jakarta: Visimedia.

B. Peraturan Perundang-undangan 1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

2. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.

C. Jurnal

Annisa Amalia Rachmah, “Analisis Yuridis Kedudukan Jaminan Perorangan Dalam Kepailitan Perseroan Terbatas (Universitas Dipenogoro)”, Dipenogoro Law Journal, Volume V Nomor 4, Tahun 2016.

Arsul Sani, “Tinjauan Hukum Mengenai Praktek Pemberian Jaminan Pribadi Dan Jaminan Perusahaan”, Jurnal Hukum dan Pembangungan, Volume 23 Nomor 5, Tahun 1993.

Atik Indriyani, “Aspek Hukum Personal Guaranty”, JurnalHukumPrioris, Volume 1 Nomor 1, Tahun 2006.

Barnabas Dumas Manery, “Makna Dan Fungsi Itikad Baik Dalam Kontrak Kerja Konstruksi”, SASI, Volume 23 Nomor 2, Tahun 2017.

Eva Andari Ramadhina, “Penerapan Asas Jaminan Fidusia Dan Perjanjian Pada Pendaftaran Jaminan Fidusia Dalam Pembiayaan Konsumen (Studi Putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor: 102/Pdt/2015/PT.Bdg) (Universitas Sebelas Maret)”, Journal Privat Law, Volume V, Tahun 2017.

I Dewa Made Alfredo Christian, “Eksistensi Azas Itikad Baik Dalam Perjanjian Fidusis (Universitas Sam Ratulangi)”, Journal Lex Crimen, Volume V, Tahun 2016.

Juliana Evawati, “Asas Publisitas Pada Hak Jaminan Atas Resi Gudang (Universitas Airlangga)”, Journal Yuridika, Volume 29, Tahun 2014.

Khamarul Hadi, “Analisis Terhadap Kepailitan Penjamin Pribadi (Borgtocht) Dalam Perkara Kepailitan Nomor 09/Pailit/2005/Pn.Niaga.Jkt.Pst”, Jurnal Universita Riau

Lucky Pangastuti, “Pertanggung Jawaban Pihak Personal Guarantee Yang Dinyatakan Pailit (Universitas Sebelas Maret)”,

, Tahun 2013.

Jurnal Repertorium, Volume II Nomor 2, Tahun 2015.

Mulyani Zulaeha,” Mengevaluasi Pembuktian Sederhana Dalam Kepailitan Sebagai Perlindungan Terhadap Dunia Usaha Di Indonesia (Universitas Airlangga)”, Journal ADHAPER, Volume 1, Tahun 2015.

Novran Harisa, “Asas Itikad Baik Dalam Perjanjian Arbitrase sebagai Metode Penyelesaian Sengketa” AKTUALITA, Volume 1 Nomor 1, tahun 2018 .

Nur Hidayati, “Perlindungan Hukum pada Merek yang Terdaftar (Politeknik Negeri Semarang)”, Journal Pengembangan Humaniora,Volume 11, Tahun 2011.

Nurman Hidayat, “Tanggung Jawab Penanggung Dalam Perjanjian Kredit”, Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion, Volume II Nomor 4, Tahun 2014.

Ratna Nindya Hastaning Pertiwi, “Perlindungan Hukum Penanggung Perorangan Dalam Perjanjian Kredit Di Pt. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Cabang Wates (Universitas Sebelas Maret)”, Private Law, Volume VI Nomor 1, Tahun 2018.

Siti Anisah, “Personal Guarantee dan Corporate Guarantee dalam Putusan Peradilan Niaga”, JurnalHukum, Volume 9 Nomor 19, Tahun 2002.

Siti Hapsah Isfardiyana, “Tanggung Jawab Organ Perseroan Terbatasdalam Kasus Kepailitan (Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia)”, Journal Arena Hukum, Volume 7 Tahun 2014.

Sugianto, “Rekonstruksi Perjanjian Fidusia Atas Benda Bergerak Yang Didaftarkan Berdasarkan Nilai Keadilan (Universitas Islam Sultan Agung)”, Journal Pembaharuan Hukum, Volume I, Tahun 2014.

Sugito, “Tinjauan Normatif Iktikad Baik dalam Suatu Perjanjian”, JurnalPandecta, Volume 2 Nomor 2, Tahun 2008.

Vivi Lia Falini Tanjung, “Implementasi Asas-Asas Umum Hukum Kebendaan Dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia

Vivi Lia Falini Tanjung, “Implementasi Asas-Asas Umum Hukum Kebendaan Dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia