BAB III PENENTUAN IKTIKAD BAIK DALAM PELAKSANAAN
C. Iktikad Baik Dalam Pelaksanaan Perjanjian Personal Guaranty
2. Penerapan Iktikad Baik Terhadap Hak Istimewa Dalam
Tolak ukur iktikad baik penjamin personal guaranty dalam praktek perkreditan perbankan adalah iktikad untuk melunasi hutangnya debitor yang dijaminnya sesuai yang diperjanjikan dalam perjanjian kredit.163
Pemberian jaminan personal guarantydidasari oleh suatu perjanjian.
Iktikad baik yang berlaku dalam tahap pelaksanaan perjanjian mempunyai arti kepatutan yaitu suatu penilaian baik terhadap tindak tunduk suatu pihak dalam pelaksanaan perjanjian.
Batasan iktikad baik bagi praktek perkreditan perbankan adalah iktikad untuk tidak merugikan bank atas fasilitas kredit yang telah diperjanjikannya.
164
162 Ratna Nindya Hastaning Pertiwi, “Perlindungan Hukum Penanggung Perorangan Dalam Perjanjian Kredit Di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Wates (Universitas Sebelas Maret)”, Private Law, Volume VI Nomor 1, Tahun 2018, h. 130-131.
163 Hasil Wawancara Riski Pane, Bank Sumut Cabang Simpang Kuala, Tanggal 19 Desember 2018.
164 Sugito, “Tinjauan Normatif Iktikad Baik dalam Suatu Perjanjian”, JurnalPandecta, Volume 2 Nomor 2, Tahun 2008, h. 7.
Berdasarkan hal tersebut dapat dipahami bahwa tolak ukur suatu iktikad baik terhadap hak istimewa penjamin adalah tindakan yang dimana untuk menggunakan hak istimewa harus tunduk pada perjanjian pemberian garansi yang dibuat oleh penjamin.
Penjamin personal guarantyberdasarkan Pasal 1832 KUH Perdata diketahui dapat melepaskan hak istimewanya untuk meminta debitur didahulukan.
Penjamin personal guaranty yang beriktikad baik adalah penjamin yang menggunakan hak istimewanya tunduk pada perjanjian yang dibuatnya maka secara tidak langsung dapat diketahui penjamin personal guaranty yang beriktikad buruk adalah penjamin yang masih berupaya menggunakan hak istimewanya untuk meminta atau memaksa kreditur untuk menagih debitur utama dahulu padahal penjamin sudah melepaskan hak istimewanya dalam perjanjian yang dibuatnya.165
Berdasarkan Pasal 1831 KUH Perdata dapat diketahui memberikan pengertian bahwa “penjamin yang tidak membayar hutang debitur yang dijaminkan selama belum didahulukannya harta debitur untuk melunasi terlebih
Penerapan iktikad baik terhadap hak istimewa terhadap penjaminpersonal guaranty harus memperhatikan kepatutan karena standar objektif tolak ukur suatu iktikad baik adalah kepatutan. Pelaksanaan pemenuhan hak istimewa terhadap penjamin harus memenuhi hukum-hukum yang hidup dalam masyarakat. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui bahwa penerapan iktikad baik terhadap hak istimewa penjamin personal guaranty tidak boleh melanggar standar objektif yaitu kepatutan yang dimana menurut kepatutan hak istimewa terhadap penjamin yang diberikan oleh undang-undang yaitu Pasal 1831 KUH Perdata dan hukum-hukum yang hidup dalam masyarakat.
165Ibid.
dahulu untuk membayar hutang-hutangnya maka masih termasuk penjamin personal guaranty yang beriktikad baik”.
Berdasarkan Pasal 1832 KUH Perdata dapat diketahui penjamin personal guaranty termasuk penjamin yang beriktikad buruk apabila penjamin personal guaranty termasuk tidak memiliki hak istimewa yang diatur oleh Pasal 1832 KUH Perdata akan tetapi tidak mau membayar hutang debitur yang dijaminkannya terlebih dahulu kepada kreditur karena merasa memiliki hak istimewa.
Kedudukan hukum penjamin atau personal guarantee wajib memberikan pertanggungjawabannya kepada kreditor apabila debitor utama tidak dapat memenuhi kewajibannya sesuai dengan isi dari perjanjian jaminan yang telah disepakati oleh kreditor dan penjamin dan apabila penjamin tidak juga menunjukkan itikad baik, untuk memenuhi kewajibannya maka kreditor dapat memohon kepada pengadilan untuk memailitkan pula penjamin pribadi atau personal guarantee.166
Itikad baik sebagai asas hukum kontrak hakikatnya adalah kejujuran dan kepatutan/keadilan yang mengandung makna kepercayaan, transparansi, otonom, taat norma, tanpa paksaan dan tanpa tipu daya. Kejujuran dikonktritkan ke dalam Terdapat perlindungan hukum terhadap penjamin personal guaranteeyang beritikad baik yang diatur berdasarkan Pasal 1839 KUH Perdata.
Bentuk perlindungan hukum ialah“penanggung berhak mendapatkan kembali dari debitur berupa penggantian segala kerugian yang mungkin diderita oleh si penanggung akibat dari tidak dilaksanakannya kewajiban oleh debitur”.
166 Lucky Pangastuti, “Pertanggung Jawaban Pihak Personal Guarantee Yang Dinyatakan Pailit (Universitas Sebelas Maret)”, Jurnal Repertorium, Volume II Nomor 2, Tahun 2015, h. 150.
aturan hukum positif antara lain adalah; Pasal 530, 531, 533 dan 548 BW tentang beziter yang beritikad baik, Pasal 1963; 1966 dan 1977 BW tentang kepemilikan terkait dengan kedaluwarsa; Pasal 1320 BW khususnya persyaratan kata sepakat dan suatu kausa yang halal. Kepatutan/keadilan dikonkritkan ke dalam aturan hukum Pasal 1321, 1323, 1328 BW tentang kehilafan, paksaan dan penipuan dalam pembuatan kontrak; Pasal 1348 BW tentang pembayaran dengan beritikad baik, Pasal 1337 BW tentang causa yang terlarang dan 1338, 1339 BW.167
Kejujuran dan kepatuhan adalah dua hal yang amat penting dalam soal pelaksanaan perjanjian termasuk halnya perjanjian pemberian jaminan personal guaranty. Suatu perjanjian tertentu dapat dipahami berupa rangkaian kata-kata sebagai gambaran dari suatu perhubungan antara kedua belah pihak akan tetapi gambaran tersebut tidak ada yang sempurna.168
Kejujuran dapat dipahami merupakan salah satu tolak ukur iktikad baik penjamin personal guaranty terhadap hak istimewa. Seorang penjamin harus menggunakan hak istimewa harus didasari oleh kejujuran dimana yang berarti penjamin tidak boleh melakukan yaitu tipu daya, kelicikan, mengada-ada dan melakukan cara-cara yang tidak patut dalam pandangan hukum dan sosial. Hak istimewa harus dipergunakan oleh penjamin dengan jujur bukan untuk dipergunakan dengan niat kelicikan seperti halnya berniat
Berdasarkan hal tersebut sehingga diperlukan kejujuran dalam melaksanakan hubungan yang didasari gambaran yang tidak sempurna.
167 Barnabas Dumas Manery, “Makna Dan Fungsi Itikad Baik Dalam Kontrak Kerja Konstruksi”, SASI, Volume 23 Nomor 2, Tahun 2017, h. 143.
168 Wirjono Prodjodikoro, Azas-Azas Hukum Perjanjian, Mandar Madju, Bandung, h.
102.
menghambat kreditur untuk dapat meminta pertanggungjawaban kepada penjamin dengan memanfaatkan alasan harus debitor utama terlebih dahulu padahal dapat diketahui aset debitor utama sudah tidak dapat untuk melunasi hutang.
Berdasarkan Pasal 1833 KUH Perdata dapat diketahui bahwa penjamin personal guarantybaru mendapatkan hak istimewa dimana penjamin memiliki hak untuk kreditur wajib meminta hutang terlebih dahulu kepada debitor utama harus melalui permohonan dan keputusan pengadilan terlebih dahulu.
Pertimbangan hakim dalam memutuskan dikabulkan penjamin untuk memiliki hak istimewa atau tidak dikabulkan dapat diketahui salah satu pertimbangan hakim untuk memutuskan adalah dengan cara melihat iktikad baik penjamin karena dapat diketahui apabila hakim menemukan adanya indikasi iktikad buruk penjamin hakim tidak akan mengabulkannya.169
169 Hasil Wawancara Jamaludin, Hakim Utama Muda, Medan, tanggal 4 bulan desember 2018.
BAB IV
PENERAPAN HUKUM OLEH HAKIM TERHADAP IKTIKAD BAIK PENJAMIN PERSONAL GUARANTY DALAM PELUNASAN HUTANG
PUTUSAN NOMOR 700/PDT.G/2015/PN MEDAN A. Penerapan Iktikad Baik Dalam Penyelesaian Sengketa Kontrak
Istilah sengketa berasal dari terjemahan bahasa inggris, yaitu dispute.
Sengketa dalam bahasa Belanda disebut dengan istilah geeding atau proces.170 Richard L. Abel melihat sengketa dari aspek ketidakcocokan atau ketidaksesuaian para pihak tentang sesuatu yang bernilai. Dean G. Pruit dan Jeffrez Z. Rubin mengemukakan pengertian sengketa berarti “persepsi mengenai kebendaan kepentingan (perceiced divergence of intersest), atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang bersengketa tidak dicapai secara simultan (secara serentak)171
1. Tahap pertama, sengketa berawal dari munculnya keluhan-keluhan (grieance) dari salah satu pihak terhadap pihak lain (individu atau kelompok) karena pihak yang mengeluh merasa haknya dilanggar, diperlakukan secara tidak wajar, kasar, dipersalahkan, diinjak harga dirinya, dirusak nama baiknya, dilukai hatinya, dan lain-lain. Kondisi awal seperti disebut sebagai tahapan pra konflik (pre conclict stage) yang cenderung mengarah kepada konfrontasi yang bersifat monadik (monadic). Monoadik artinya keluhan yang belum ditanggai pihak lawan.
.
Laura Nader dan Harry F. Todd Jr mengemukakan, sengketa atau konflik dalam masyarakat mengalami suatu proses dan melalui tahapan-tahapan, berikut:
2. Tahap kedua, apabila kemudian pihak yang lain menjukkan reaksi negatif berupa sikap yang bermusuhan attas munculnya keluhan dari pihak yang pertama, kondisi ini meningkat eskalasinya menjadi situasi konflik (conflict stage) sehingga konfrontasi berlansung secara diadik (dyadic). Diadik artinya bahwa keluhan telah ditanggapi pihak lawan lawan.
3. Tahap ketiga, apabila sengketa antar pihak-pihak tersebut ditunjukkan dai bawa ke arena publik (masyarakat) dan kemudian diproses menjadi
170 Anita, op.cit., h. 8.
171Ibid., h. 8-9.
kasus perselisihan dalam institusi penyelesaian sengketa, sehingga situasinya telah meningkat menjadi sengketa (dispute stage) dan konfrontasi antara pihak-pihak yang berselisih menjadi triadik (triadic).
Triadik artinya bahwa perorangan atau kelompok telah terlibat secara aktif dalam ketidakadilan atau ketidaksesuaian.172
Pengertian sengketa hukum kontrak adalah suatu kondisi terjadinya ketidaksepakatan atau perbedaan pendapat di antara para pihak yang membuat kontrak mengenai hukum dan fakta terkait dengan tidak dipenuhinya hak yang ditentukan dalam kontrak dan/ atau perubahan isi (prestasi) yang ditentukan kontrak dan/atau pemutusan kontrak yang dilakukan oleh sepihak.173
1. Tidak melaksanakan prestasi sama sekali;
Sengketa hukum yang timbul dari kontrak berawal dari adanya perasaan tidak puas dari satu pihak, karena ada pihak lain yang tidak memenuhi prestasi sebagaimana yang telah dijanjikan dalam kontrak atau dengan kata lain ada satu pihak yang melakukan wanprestasi yang berwujud:
2. Melaksanakan prestasi, tetapi tidak sebagaimana mestinya;
3. Melaksanakan pretasi, tetapi tidak tepat pada waktunya; dan 4. Melaksanakan perbuatan yang dilarang dalam kontrak.174
Menurut F. X. Suhardana, sengketa kontrak sebenarnya diakibatkan oleh kontrak itu sendiri, berikut penjelasannya:
1. Adanya alasan orang yang mengelak untuk melaksanakan kontrak, karena:
a. rumusan kesepakatan dalam kontrak tidak tergambar karena terdapat kesalahan, salah penafsiran karena kecurangan, paksaan oleh satu pihak di antara dua pihak; dan
b. kontrak tidak memenuhi persyaratan undang-undang yang mengharuskan kontrak dalam bentuk tertentu (merupakan kontrak formal).
172Ibid., 9-10.
173 Syaifuddin, op.cit., h. 370
174Ibid., h. 373.
2. Adanya beberapa kesalahan yang kerap terjadi dalam praktik hukum kontrak, baik berisfat unilateral maupun mutual (sepihak atau bersama satu sama lain), yaitu:
a. Satu pihak membuat kesalahan tentang suatu fakta dan pihak lainnya mengetahui atau setidak-tidaknya patut mengetahui bahwa telah terjadi suatu kesalahan;
b. Suatu kesalahan terjadi karena kekeliruan administratif atau matematis; dan
c. Kesalahan sangat fatal, sehingga dijalankan kontrak akan menyimpang dari rasa keadilan karena ada pihak yang dirugikan.175 Sengketa kontrak juga memungkinan timbul saat pelaksanaan kontrak yang disebabkan, antara lain adalah:
1. Para pihak kurang cermat atau kurang hati-hati ketika melakukan perundingan pendahuluan (preliminary negotiation);
2. Para pihak kurang mempunyai wawasan hukum, khususnya hukum kontrak;
3. Para pihak tidak mempunyai keahlian untuk mengkonstruksi norma-norma hukum kontrak yang pasti, adil dan efisien;
4. Para pihak kurang mampu mencermati risiko yang potensial terjadi, sehingga tidak terumuskan dalam kontrak;
5. Para pihak tidak jujur, dalam arti masih menyembunyikan hal-hal yang seharusnya dikemukakan oleh pihak yang satu kepada pihak lainnya;
6. Para pihak membiarkan secara sadar atau tidak sadar potensi persoalan hukum yang dapat terjadi di kemudian hari.176
Sengketa kontrak dalam kontrak bisnis seringkali berawal kesalahan mendasar dalam proses terbentuknya kontrak dengan penyebab, antara lain:
1. Ketidakpahaman proses bisnis yang muncul ketika pelaku bisnis terjebak pada orentasi keuntungan dan karakter coba-coba (gambling) tanpa memprediksi risikonya;
2. Ketidakmampuan mengenali mitra bisnisnya, ada sementara pelaku bisnis yang sekedar memperhatikan performa atau penampilan fisik mitra bisnisnya tanpa meneliti lebih lanjut track record dan bonafiditas;
3. Tidak adanya legal cover yang melandasi proses bisnis mereka. Hal tersebut menunjukkan rendahnya pemahaman dan apresiasi hukum pelaku bisnis dalam melindungi aktivitias bisnis mereka.177
175Ibid., h. 372.
176 Muhammad Syaifuddin, op.cit., h. 371.
177 Agus Yudha Harnoko, Hukum Perjanjian; Asas Proporsionalitas dalam Kontrak Komesial, Lasbang Mediatama, Yogyakarta, 2008, h. 275-276.
Menurut Anita, potensi-pontesi terjadinya sengketa kontrak, antara lain:
1. Sejak awal kontrak dibuang mengandung masalah;
2. Adanya miskomunikasi yang tertuang di dalam kontrak tidak disadari sesuai dengan harapan yang diinginkan salah satu pihak;
3. Kontrak yang dibuat kurang jelas dan tidak spesisifik;
4. Terbukanya peluang masalah pada isi kontrak yang dibuat;
5. Tidak adanya usaha untuk berkonsultasi atas penyebab masalah yang timbul dan untuk segera menyelesaikannya sebelum mencuatnya sengketa; dan
6. Potensi lainnya.178
Para pihak dalam kontrak apabila sewaktu membuat kontrak betul-betul memperhatikan ketentuan yang berpotensi sengketa dalam kontrak yang dibuatnya dapat mencegah terjadi sengketa dalam kontrak yang dibuat oleh para pihak karena para pihak menyesuaikan kontrak tersebut agar tidak berpotensi menjadi sengketa.
Potensi-potensi sengketa perlu menjadi perhatian dari para pihak yang bersengketa untuk dapat menemukan penyebab timbulnya sengketa dari permsalahan yang sedang dihadapinya. Para pihak yang dapat menemukan apa yang menjadi penyebab timbulnya masalah diantara mereka, seharus para pihak dapa dengan mudah mencari jalan keluar penyelesaian masalah yang tengah mereka hadapi dengan melakukan penyesuaian ataupun pembenahan dari kesalahan yang ada.179
178 Anita, op.cit., h. 23.
179Ibid.
Terjadinya sengketa tidak terlepas dari beberapa faktor yang memengaruhi sikap para pihak dalam sengketa dan yang dapat mempengaruhi cara penyelesainnya, faktor-faktor tersebut misalnya.
1. Implikasi keuangan dan ekonomi yang mempengaruhi sikap para pihak, termasuk jumlah uang dipersengketakan terkait dengan posisi keuangan secara keseluruham pada masing-masing pihak dan pengaruh yang akan ditimbulkan terhadap pihak tersebut akibat perselisihannya.
2. Masalah prinsip dapat menjadi pertentangan meskipun implikasi keuangan tidak begitu berarti, kadang-kadang masalah yang tampak dipermukaan sebagai masalah prinsip tidak terbukti atau adanya kemungkinan untuk memisahkan prinsip dari sengketa sebenarnya.
3. Persepsi tentang kewajaran dan keadilan, juga pemahaman dan kecurigaan para pihak mungkin sangat berbeda dan memengaruhi tindakan yang diambl terhadap suatu masalah.
4. Tuntutan dan pemberian dapat dibuat secara cermat, misalnya untuk mendorong seseorang mengadakan negosiasi atua menunda pembayaran jumlah uang yang harus dibayar.
5. Adanya masalah yang memengaruhi kebebasan atua berkaitan dengan status individu atau dimana preseden yang mengikat perlu dibentuk, penting untuk diakhiri dengan suatu keputusan.
6. Acapkali pokok masalahnya mempunyai nilai simbolis misalnya menujukkan batas-batas toleransi atau mendefinisikan hubungan kekuasaan.
7. Publisitas bisa menjadi faktor yang relevan baik (walaupun secara hukum tidak dibenarkan) karena kelemahan salah satu untuk menghindari perhatian umum atau sebaliknya karena adanya harapan yang positif untuk menarik liputan media.
8. Faktor emosional dapat memengaruhi sikap para pihak, misalnya suatu pihak didorong oleh kemarahan, tekanan, kurang informasi, ketakpuasan, penghinaan, salah paham atau perasaan kuat lainnya atau jika tindakan yang diambil untuk menunjukkan dan mempertahankan posisi pribadi atau untuk menekan perasaan duka.
9. Faktor kepribadian akan memengaruhi cara pendekatan yang diambil satu pihak dalam suatu sengketa, misalnya sebagian masyarakat menyadari bahwa prospek penuntutan akan menegangkan dan penuh dengan tekanan, sedangkan pihak lainnya mungkin menghadapinya dengan kesabaran, atau untuk memenuhi kebutuhan pribadi berkepentingan memenangkan sengketa.
10. Pertimbangan praktis tentu saja sangat relevan, termasuk faktor biaya, proposional yang dapat diterima berkaitan dengan masalah dalam perselisihan, kemampuan dan keamuan satu pihak untuk membayar biaya hukum, apakah melalui bantuan hukum, keterlambatan atau hambatan waktu yang dihdapai dan tingka risiko akan selalu diketemukan dalam penuntutan hukum yang ingin dilakukan oleh para pihak.
11. Adanya titik-faktor yang dapat membuat atua memberi arah bahwa ditemukan celah yang dapat dimanfaatkan oleh para pihak sampai kepada perdamaian. Proses penyelesaian sengketa alternatif pasti ada celah yang dapat diterima oleh kedua belah ihak yang bersengketa, sehingga yang
merasa kuat tidak berada pada posisi 100% menang dan yang lemah tidak kalah 100% arahnya suatu solusi yang mengarah posisi “win-win”.180 Seorang ahli membagi beberapa jenis penangan konflik menjadi dua bagian, yaitu:
1. Avoiding atau mencegah/ menghindar dari konflik; dan
2. Engaging yaitu berhadapan dan terlibat langsung dengan konflik dapat berupa reolusi konflik ataupun memanagemen konflik.181
Salah satu cara untuk menghindari suatu sengketa dalam kontrak ialah dengan membuat suatu kontrak tersebut akurat. Mencapai penyusunan kontrak yang akurat maka ciri-ciri dari sebuah kontrak yang akurat, sebagai berikut:
1. Persis (precise) maksudnya kontrak tersebut dapat persis menerjemahkan dan mengekspresikan kesepakatan-kesepakatan yang sudah diambil oleh para pelaku bisnis.
2. Komplet (complete), maksudnya kontrak tersebut telah mengatur dengan lengkap segala kemungkinan yang bisa terjadi di masa akan datang.
Kontrak tersebut telah memuat tindakan-tindakan hukum apa saja yang akan bisa dilakukan oleh para pihak apabila melakukan wanprestasi, perbuatan melanggar hukum, mengalami kebangkrutan, atau memohon kepailitan.
3. Pasti (exact), maksudnya pasal-pasal dalam kontrak tersebut tidak memungkinkan terjadinya multitafsir (vagueness) maupun penafsiran dobel (ambiguity).182
Ralf Dahrendorf menyebutkan ada tiga bentuk pola manajemen konflik sosial yang efektif, yakni:
1. Lewat mekanisma konsialiasi. Metode ini bisa dijalankan dengan dialog secara terbuka baik lewat lembaga parlemen atau quasi-parlemen bahwa semua pihak yang berkonflik memiliki kesempatan yang sama dalam menguatakan pendapatnya tanpa ada mendominasi pembicaraan atau memaksakan kehendak.
180Ibid., h. 25-26.
181Ibid., h. 28.
182 Afifah Kusumadara, Kontrak Bisnis Internatioanl Elemen-Elemen Penting Dalam Penyusunannya, Sinar Grafika, Jakarta, 2013, h. 13.
2. Lewat mekanisme mediasi. Diperlukan pihak ketiga ini berfungsi sebagai penasihat yang dipercaya mampu mencarikan jalan keluar secara adil dan proporsional sehingga konflik yang ada mampu diatasi. Pihak ketiga ini bisa datang dari tokoh masyarakat, pajak, atau ahli di bidangnya atau lembaga tertentu yang dipandang mampu memberi advisedan keahlian mendalam di bidangnya.
3. Lewat mekanisme arbitrase atau perwasitan. Masing-masing pihak yang tengah berkonflik sepakat untuk menyelesaikan urusannya demi mendapatkan keputusan akhir yang legal. Arbitrator adalah lembaga-lembaga arbitrase atau pengadilan sehingga keputusan yang dihasilkan legal.183
Berdasarkan Pasal 1338 KUH Perdata pelaksanaan perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Berdasarkan hal tersebut apabila mencakup pengertian tersebut secara luas maka apabila dalam pelaksanaan perjanjian terjadi sengeketa maka penyelesaian sengketa suatu kontrak juga berdasarkan iktikad baik.
Penerapan iktikad baik dalam penyelesaian sengketa ataupun penyelesaian sengketa dengan cara menerapkan iktikad baik tidak ada aturan yang mengatur secara jelas bagaimana cara penerapannya dalam KUH Perdata bahkan dapat diketahui juga tidak pengaturannya di hukum yang berlaku di luar KUH Perdata.
Berdasarkan Pasal 1339 KUH Perdata bahwa kontrak dituntut berdasarkan keadilan, kebiasaan, atau undang-undang termasuk pelaksanaan iktikad baik dalam suatu kontrak. Berdasarkan Pasal 1339 KUH Perdata dapat diketahui bahwa penerapan iktikad baik tidak boleh bertentangan keadilan, kebiasaan, atau undang-undang. Iktikad baik yang bertentangan dengan keadilan,
183 Anita, op.cit., h. 30-31.
kebiasaan atau undang-undang bukanlah merupakan iktikad baik yang dibenarkan oleh KUH Perdata.
Berdasarkan Pasal 1339 KUH Perdata bahwa penerapan iktikad baik dalam penyelesaian sengketa maka penyelesaian sengketa harus berdasarkan keadilan, kebiasaan, dan undang-undang.184
Penyelesaian sengketa kontrak menurut undang-undang yang berlaku berdasarkan Pasal 25 Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman bahwa pengadilan negeri sebagai peradilan umum yang merupakan badan peradilan yang berada di bawah mahkamah agung yang berwenang menyelesaikan sengketa hukum kontrak.
Berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui bahwa penerapan iktikad baik dalam penyeleaian sengekta kontrak dilakukan menurut ketentuan hukum yang berlaku maka dapat diketahui bahwa penyelesaian sengketa diluar menurut ketentuan hukum yang berlaku seperti halnya melakukan penyelesaian sengketa melalui pemaksaan secara pribadi atau adu fisik dalam menyelesaikan sengketa kontrak maka bukan merupakan penerapan penyelesaian sengketa kontrak beriktikad baik.
185
1. Pembatalan kontrak yang dituntut oleh satu pihakm karena ditemukannya fakta tidak terpenuhinya syarat-syarat sahnya suatu kontrak. Namun, pihak lainnya menolak pembatalan kontrak, karena berpedapat bahwa fakta tidak terpenuhinya syarat-ssyarat sahnya kontrak sangat lemah;
Penyelesaian sengketa hukum kontrak di pengadilan berkaitan dengan sengketa yang didasarkan, sebagai berikut:
2. Pemutusan kontrak secara sepihak, tanpa kesepakatan dengan pihak lainnya dan tanpa didasarkan atas alasan-alasan yang rasional dan wajar menurut undang-undang;
184 Pasal 1339 KUH Perdata.
185 Pasal 25 Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
3. Wanprestasi yang dilakukan oleh satu di antara dua pihak, yang mengharuskan gugatannya berdasarkan adanya hubungan hukum kontraktual di antara para pihak (penggugat dan terguat);
4. Perbuatan melawan hukum yang tidak mengharuskan gugatnya berdasarkan adanya hubungan hukum kontraktual di antara para pihak (penggugat dan tergugat), namun harus berdasarkan adanya perbuatan yang merugikan pihak lain dan terdapat hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian yang ditimbulkan sebagai akibat kesalahannya.186
Cara penyelesaian sengekta hukum kontrak yang dapat dipilih oleh para pihak yang membuat kontrak menurut sistem hukum penyelesaian sengketa yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa, penyelesaian sengketa terdiri dari penyelesaian sengketa nonlitigasi atau diluar pengadilan (out of court dispute settlement) dan penyelesaian sengketa secara litigasi atau di dalam pengadilan (court dispute settlement). Berdasarkan hal tersebut penyelesaian sengketa dengan menerapkan iktikad baik dapat diselesaikan pengadilan umum atau diluar pengadilan akan tetapi penyelesaian sengketa diluar pengadilan yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Penyelesaian sengketa para pihak yang beriktikad baik dapat menyelesaikan sengketa melalui penyelesaian sengketa alternatif yaitu arbitrase dimana diakhiri dengan sebuah perjanjian arbitrase. Menurut Novran Harisa untuk standar minimal pengertian iktikad baik dalam perjanjian arbitrase harus dirumuskan sebagai “sikap atau perilaku berpegang teguh pada perjanjian untuk memberikan kepada lawan janji apa yang menjadi haknya dan tidak mencari–cari
186 Syaifuddin, op.cit., h. 392.
celah untuk melepaskan diri dari apa yang telah diperjanjikan berdasarkan
celah untuk melepaskan diri dari apa yang telah diperjanjikan berdasarkan