• Tidak ada hasil yang ditemukan

-BAB I PENDAHULUAN. keuangan, perindustrian, perdagangan dan lain sebagainya) adalah sarana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "-BAB I PENDAHULUAN. keuangan, perindustrian, perdagangan dan lain sebagainya) adalah sarana"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

1 -BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Ekonomi adalah satu ilmu yang menyelidiki soal-soal pemenuhan keperluan jasmaniah manusia dalam arti mencari keutungan atau mengadakan penghematan untuk kepentingan hidup. Atas dasar ini, maka pengetahuan dan penyelidikan mengenai asas-asas penghasilan (produksi), pembagian (distribusi) dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (seperti hal keuangan, perindustrian, perdagangan dan lain sebagainya) adalah sarana ekonomi tersebut. Maka hidup manusia ini diliputi oleh soal-soal ekonomi baik dalam mengatur urusan rumah tangga, menjaga kehematan dalam output dan input hingga ekonomi ini merupakan satu ilmu yang luas bidangnya.1

Tujuan kebijakan ekonomi adalah menciptakan kemakmuran.

Salah satu ukuran kemakmuran terpenting adalah pendapatan. Kemakmuran tercipta karena ada kegiatan yang menghasilkan pendapatan.2Masalah pendapatan tidak hanya dilihat dari jumlahnya saja, tetapi bagaimana distribusi pendapatan yang diterima oleh masyarakat. Pendapatan dapat diartikan pula sebagai penerimaan yang diperoleh rumah tangga yang dapat mereka belanjakan untuk konsumsi yaitu dikeluarkan untuk pembelian barang konsumtif dan jasa-jasayang dibutuhkan rumah tangga bagi pemenuhan kebutuhan mereka.

1Fuad Mohd Fachruddin, Ekonomi Islam, (Jakarta :Mutiara, 1982), hal.75.

2Robinson Tarigan, Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi, (Jakarta : PT.

Bumi Aksara, 2012), hal.13.

(2)

2 Manusia yang telah hidup itu semenjak dilahirkan telah mempunyai kebutuhan dan tuntutan asasi yang tidak dapat dielakkan.

Bertambah berbeda suasana hidup baik dari segi udara maupun dari segi tempat naungan atau dari segi masyarakat bertambah meningkat pulalah soal kebutuhan dan tuntutan itu. Negara yang modern lebih menuntut keperluan hidup dari pada Negara yang terbelakang atau yang sedang berkembang. Dan hidup di kampung dan desa lebih murah dari pada hidup di kota-kota.

Bagaimanapun juga manusia memerlukan pencarian, Pencarian itu sendiri menjadi problem yang hidup dengan manusia. Maka manusianya banyak yang terlantar yang menjadi gelandangan, pengemis dan lain sebagainya. Karena sulitnya mencari dan pencarian belum mencukupi, maka banyaklah terjadi persoalan yang tidak diinginkan.3

Usaha menuntut rezeki pada dasarnya di waktu Allah menciptakan makhluknya yaitu diwaktu manusia dilahirkan, Allah telah memberikan untuknya rezekinya. Rezeki itu berupa saham yang dipertaruhkan di dalam perusahaan dunia ini dimana terdapat saham makhluk manusia secara merata.

Tidak mungkin seseorang mendapatkan hasil dari sahamnya itu namun ia tidak berusaha, sebab malas tidak membawa bahagia bagi manusia.4 Rasulullah bersabda, “tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah”. Mukmin yang kuat lebih dicintai dari pada mukmin yang lemah. Allah lebih menyukai mukmin yang bekerja, hal tersebut mencerminkan betapa sebagai manusia (muslim) kita dituntut untuk bekerja untuk kehidupan kita. Dan tentunya

3.Fuad Mohd Fachruddin, Ekonomi Islam, (Jakarta :Mutiara, 1982), hal.46-47.

4Fuad Mohd Fachruddin, Ekonomi Islam, (Jakarta :Mutiara, 1982), hal.22.

(3)

3 pekerjaan tersebut harus halal dan baik.5Maka Rasulullah s.a.w. pernah bersabda :

ِنَعاًفُّفَعَت ًلا َلََحاَيْه ُّلدا َبَل َط ْنَم َلََعاًف ُّطَعَتَو ِلِ اَيِع َلََع اًيْع َسَو ِ َلَ َأ ْسَمْما

ِر ْدَبْما َ َلَْيَمِرَمَقْم َكَ ُهُ ْجَْوَو َالله َىِقَم ِهِراَج

Artinya :

“Barang siapa mencari rezeki didunia secara halal agar menjauhkan diri dari mengemis serta berusaha mencukupkan tuntutan keluarganya dan bermurah hati kepada tetangganya, maka ia bertemu dengan Allah (di hari kiamat nanti) sedangkan wajahnya (berseri-seri) laksana bulan dimalam purnama”.

(diriwayatkan oleh Thabrani).6

Usaha mencari rezeki pada Masyarakat Garegeh kecamatan MandiAngin Koto Selayan Kota Bukittinggi sangat terpengaruh dengan adanya keberadaan perguruan tinggi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi di Garegeh membuat kehidupan Masyarakat Garegeh mengalami perubahan dalam kehidupan ekonomi. Masyarakat yang ada di lingkungan Garegeh pun tidak ketinggalan menjadikan usaha Rumah kos sebagai mata pencarian mereka.

Dikarenakan pengelolaan usaha Rumah kos tidak begitu rumit sehingga siapa saja yang mempunyai modal dengan mudah mampu membuka usaha Rumah kos. Bisnis Rumah kos memang cukup menjanjikan, terlebih di kota-kota pelajar. Sudah banyak yang merasakan bahwa penghasilannya terus ada dari usaha Rumah kos.

5Johan Arifin, Etika Bisnis Islam, (Semarang : Walisongo Press, 2009), hal.71.

6 Fuad Mohd Fachruddin, Ekonomi Islam, (Jakarta :Mutiara, 1982), hal.106.

(4)

4 Di sekitar kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi di Garegeh, banyak masyarakat Garegeh menawarkan jasa rumah kos bagi mahasiswa maupun umum. Berdasarkan hasil observasi penulis pada masyarakat Garegeh yang memiliki rumah kos, yaitu Niswatul Farida dengan alamat Jl. Paninjauan No.12 Garegeh. Dari hasil observasi, pendapatan beliau sebelum membuka rumah kos yaitu tahun 2008 sebesar Rp.2000.000 perbulan, dan setelah membuka kosan-kosan pada tahun 2010 pendapatan beliau menjadi Rp.3000.000 perbulan. Kemudian masyarakat Garegeh yang memiliki rumah kos yaitu Ibu Nef dengan alamat Jl. Peninjauan Garegeh. Sebelum membuka rumah kos pada tahun 2007 pendapatan beliau hanya Rp.1500.000 perbulan dari gaji anaknya dan setelah membuka rumah kos pada tahun 2011 pendapatan beliau menjadi Rp.2.500.000 perbulan. Dan observasi terakhir yaitu Ibu Emi dengan Alamat Jl. Datuak Mangkuto Ameh No.17 Garegeh.

Dari hasil observasi sebelum membuka rumah kos, pada tahun 2008 beliau hanya membuka usaha kedai makanan di pasar atas dengan pendapatan Rp.2000.000 perbulan dan setelah membuka usaha rumah kos pada tahun 2009 pendapatan beliau menjadi 3.800.000 perbulan.

Observasi yang dilakukan oleh penulis,hal penting yang akan diteliti oleh penulis yaitu di sekitar kampus IAIN Bukittinggi di Garegeh banyak yang membuka peluang usaharumah kos. maka sejauh mana pengaruh Kampus IAIN Bukittinggi di Garegeh terhadap peningkatan pendapatan masyarakat Garegeh yang membuka usaha rumah kos di sekitar kampus IAIN Bukittinggi.

(5)

5 Oleh karena itu penulis tertarik lebih lanjut untuk membahas persoalan ini dengan judul : Pengaruh Keberadaan Rumah Kos disekitar Kampus IAIN Bukittinggi terhadap Peningkatan Pendapatan Masyarakat Garegeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat di identifikasikan masalah ini sebagai berikut :

1. Meningkatnya mahasiswa dan masyarakat umum dari daerah lain yang memutuskan menerima penawaran jasa sewa rumah kos di sekitar kampus IAIN Bukittinggi di Garegeh.

2. Pengaruh peningkatan pendapatan Masyarakat Garegeh Kecamatan Mandiangin koto selayan yang menawarkan jasa sewa rumah kos disekitar kampus IAIN Bukittinggi di Garegeh.

C. Rumusan dan Batasan Masalah 1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka dapat dikemukakan rumusan masalah dalam penelitan ini adalah : Bagaimana pengaruh keberadaan Rumah kos disekitar kampus IAIN Bukittinggi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat Garegeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi ?

2. Batasan Masalah

Berdasarkan permasalahan pada latar belakang, maka penulis membatasi penelitian ini pada pengaruh keberadaan rumah kos di sekitar

(6)

6 Kampus IAIN Bukittinggi terhadap peningkatan pendapatan Masyarakat Garegeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi.

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui pengaruh keberadaan rumah kos disekitar kampus IAIN Bukittinggi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat Garegeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi.

2. Manfaat Penelitian

a. Untuk melengkapi syarat dalam memperoleh gelar sarjana (S1) pada Jurusan Ekonomi Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan tentang pengaruh rumah kos disekitar kampus IAIN Bukittinggi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat Garegeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi.

c. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi referensi dan sumber pengetahuan bagi akademis, mahasiswa, dan kampus IAIN Bukittinggi dalam rangka mengetahui pengaruh rumah kos disekitar kampus IAIN Bukittinggiterhadap peningkatan pendapatan masyarakat Garegeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi.

(7)

7 E. Kajian Terdahulu

Beberapa kajian terdahulu yang terkait dengan penelitian penulis diantaranya :

Fitria Ramadhani dengan judul “Pengaruh Penyaluran Pembiayaan Murabahah pada PT. BPRS Ampek Angkek Canduang terhadap Peningkatan Pendapatan Pengusaha Konfeksi di Nagari Batu Taba” dengan menggunakan metode kuantitatif. Bahwa dari hasil penelitian, penyaluran Pembiayaan Murabahah berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pendapatan pengusaha konfeksi di Nagari Batu Taba.7

Safarudin dengan judul “Pengaruh Pembiayaan Musyarakah BMT Agam Madani terhadap Peningkatan Pendapatan Nasabah di Nagari Balingka”. Yang menghasilkan kesimpulan bahwa penyaluran Pembiayaan Musyarakah yang diberikan BMT memberikan pengaruh yang lemah atau rendah terhadap peningkatan pendapatan nasabah.8

Aan Firdaus dengan judul“Pengaruh Corporate Sosial Responsibility PT.

SEMEN PADANG terhadap PeningkatanPendapatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah”. Yang menghasilkan kesimpulan bahwa Corporate SocialResponsibility (CSR) yang diberikan pada UMKM Mitra binaan PT.

7 Fitria Ramadhani, Pengaruh Penyaluran Pembiayaan Murabahah pada PT. BPRS Ampek Angkek Canduang terhadap Peningkatan Pendapatan Pengusaha Konfeksi di Nagari Batu Taba, Skripsi Sarjana pada STAIN Bukittinggi, tidak diterbitkan, 2012, hal.83.

8Safarudin, Pengaruh Pembiayaan Musyarakah BMT AGAM MADANI Terhadap Peningkatan Pendapatan Nasabah di Nagari Balingka, Skripsi Sarjana pada STAIN Bukittinggi, tidak diterbitkan, 2012, hal.80.

(8)

8 SEMEN PADANG sangat berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan UMKM.9

Sedangkan penelitianyang dilakukan penulis adalahPengaruh Keberadaan Rumah Kos disekitar Kampus IAIN Bukittinggi terhadap Peningkatan Pendapatan MasyarakatGaregeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi. Perbedaan dengan penelitian penulis dengan kajian terdahulu diatas yaitu penelitian ini penulis ingin mengetahui sejauh mana pengaruh peningkatan pendapatan masyarakat Garegeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi dalam membuka usaha rumah kos disekitar kampus IAIN Bukittinggi.

F. Penjelasan Judul

Penelitian yang berjudul “Pengaruh Keberadaan Rumah Kos disekitar Kampus IAIN Bukittinggi terhadap Peningkatan Pendapatan Masyarakat Garegeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi”, dari judul ini ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan lebih lanjut. Istilah tersebut diambil dari kata pengaruh, peningkatan, pendapatan, rumah kos.

Untuk menghindari terjadinya kesalah pahaman pada penulisan ini. Ada beberapa kata terkait dengan judul yang perlu dijelaskan sebagai berikut :

Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang,benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang ; besar sekali.10

9Aan Firdaus, Pengaruh Corporate Sosial Responsibility PT. SEMEN PADANG Terhadap Peningkatan Pendapatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah, Skripsi Sarjana pada STAIN Bukittinggi, tidak diterbitkan, 2012, hal.85.

10 Sutanto, Kamus Bahasa Indonesia, (Surabaya : Penerbit Indah, 1989), hal. 58.

(9)

9 Peningkatan berarti kemajuan. Secara umum peningkatan merupakan upaya untuk menambah derajat, tingkat, dan kualitas maupun kuantitas.11

Pendapatan merupakan semua uang yang masuk dalam sebuah rumah tangga atau unit terkecil lainnya dalam suatu masa tertentu, ini disebut sebagai arus mengalirnya (flow) uang.12

Rumah kosadalah sebuah jasa yang menawarkan sebuah kamar atau tempat untuk ditinggali dengan sejumlah pembayaran tertentu untuk setiap periode tertentu (umumnya pembayaran perbulan).13

Jadi yang dimaksud penulis dari judul diatas adalah sejauh mana pengaruh peningkatan pendapatan masyarakat Garegeh dalam membuka usaharumah kos disekitar kampus IAIN Bukittinggi.

G. Sistematika Penulisan

Agar pembahasan dalam proposal skripsi ini tersusun secara sistematis dan terarah antara satu dengan yang lainnya, maka penulis merasa perlu untuk membuat sistematika penulisan sebagai berikut :

Bab I berisikan tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian, kajian terdahulu, penjelasan judul, dan sistematika penulisan.

11http://www.duniapelajar.com/2014/08/08/pengertian-peningkatan-menurutpara-ahli/ di akses tanggal 06 Mei 2015 pukul : 09.25.

12Serraden M,Asset Untuk Orang Miskin, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,2006), hal.23.

13Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar, (Jakarta : Katalog Dalam Terbitan, 2011), hal.243.

(10)

10 Bab II berisi tentang mengemukakan teori-teori tentang pengertian pendapatan, jenis-jenis pendapatan, pendapatan masyarakat, faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan masyarakat, sistem sosial dan sikap masyarakat, pengertian rumah kos, keuntungan menjalankan usaha rumah kos,pengertian sewa-menyewa (ijarah), dasar hukum sewa-menyewa (ijarah), syarat akad ijarah, sistem sewa-menyewa dalam islam.

Bab III berisikan tentangjenis penelitian, lokasi dan waktu penelitian, jenis data, populasi, instrument penelitian,teknik pengumpulan data, teknik pengolahan data, dan teknik analisis data.

Bab IV berisi Hasil Penelitian tentang Pengaruh Keberadaan Rumah Kos di sekitar Kampus IAIN Bukittinggi terhadap Peningkatan Pendapatan Masyarakat Garegeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi.

Bab V memberikan kesimpulan terhadap pembahasan atas bab-bab sebelumnya yang telah diteliti dan dianalisa, maka bab ini terdiri dari kesimpulan dan saran.

(11)

11 BAB II

LANDASAN TEORI 1. Pengertian Pendapatan

Pendapatan merupakan semua uang yang masuk dalam sebuah rumah tangga atau unit terkecil lainnya dalam suatu masa tertentu.14 Pendapatan perseorangan (personal income) didefinisikan sebagai jumlah imbalan untuk para karyawan, pendapatan perusahaan, pembagian laba atau deviden yang diterima dari perseroan, dan penerimaan bunga serta sewa netto orang-orang perseorangan, dan semua transfer nettoyang berjalan.15

Pendapatan pribadi merupakan pendapatan yang diterima semua rumah tangga dalam perekonomian (atau yang diterima satu keluarga) dari penggunaan faktor-faktor produksi yang dimilikinya dan dari pembayaran pindahan. Dalam pendapatan pribadi tidak dihitung pendapatan nasional yang tidak diterima rumah tangga (contoh : keuntungan yang tak dibagi dan pajak perusahaan).16

Dalam perekonomian yang lebih maju penerima-penerima pendapatan akan menyisihkan sebagian pendapatan mereka untuk ditabung.

Dalam perekonomian sirkulasi aliran pendapatan adalah bahwa sebagian dari pendapatan sektor rumah tangga ditabung di lembaga-lembaga keuangan. Dan oleh lembaga-lembaga ini tabungan sektor rumah tangga dipinjamkan kepada para penenam modal. Para penanam modal (investor) akan meminjam dan

14Serraden M, Asset Untuk Orang Miskin, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,2006), hal.23.

15 Gerardo P. Sicat, H.W. Arndt, Ilmu Ekonomi,(Jakarta : Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, 1991) , hal.171.

16Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Teori Pengantar, (Jakarta : PT. Raja GrafindoPersada, 2012), hal.61.

(12)

12 menggunakan tabungan tersebut untuk membeli barang-barang modal dari sektor perusahaan.

Ahli-ahli ekonomi klasik tetap berkeyakinan bahwa walaupun rumah tangga akan menabung sebagian dari pendapatan yang diperolehnya, kekurangan dalam permintaan tidak akan terjadi dalam perekonomian.

Keyakinan itu didasarkan kepada pandangan yang pada hakikatnya mengatakan bahwa semua tabungan sektor rumah tangga yang tercipta pada tingkat penggunaan tenaga kerja penuh akan digunakan oleh para pengusaha untuk investasi.17

Pendapatan (income) diterima oleh semua faktor produksi, termasuk juga usaha-usaha perseroan. Sebagian besar pendapatan ini dibelanjakan untuk konsumsi. Bagian yang tidak dibelanjakan untuk konsumsi dipergunakan sebagai tabungan (saving) untuk membayar pajak yang dipungut oleh pemerintah.

Bekerja adalah cara terbaik untuk menekan krisis pendapatan (Income Poverty), hal ini sangat erat kaitannya dengan jumlah orang yang bekerja dalam sebuah keluarga. Karena pendapatan dari upah kerja (buruh) merupakan sumber utama dalam pendapatan pribadi, sudah jelas bahwa kurangnya pendapatan menjadi penyebab utama kemiskinan.

17Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Teori Pengantar, (Jakarta : PT. Raja GrafindoPersada, 2012), hal.72-73.

(13)

13 2. Jenis-jenis Pendapatan

Pendapatan dari segi produksi dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, antara lain :

a. Pendapatan Total (Total Revenue)

Pendapatan total adalah jumlah seluruh pendapatan dari penjualan pendapatan total, atau total revenue ini adalah hasil perkalian dari jumlah unit yang terjual, dengan harga jual per unit.

b. Pendapatan rata-rata (Average Revenue)

Pendapatan rata-rata adalah pendapatan dari setiap unit penjualan.

oleh karena itu, maka pendapatan rata-rata, dapat juga dirumuskan sebagai hasil bagi dari pendapatan total dengan jumlah unit yang terjual.

c. Pendapatan Tambahan (Marginal Revenue)

Pendapatan tambahan adalah tambahan pendapatan yang didapat untuk setiap tambahan satu unit penjualan atau produksi. Karena tambahan bisa terjadi pada setiap tingkatan produksi, ataupun penjualan, maka pendapatan tambahan ini berbeda untuk setiap tingkatan produksi.18 Pendapatan marjinal dapat dihitung dengan cara membagi tambahan pendapatan total perusahaan dengan tambahan jumlah produk yang terjual.19

18 Henry Faizal Noor, Ekonomi Media,(Jakarta : Raja Wali Pers, 2010), hal.171.

19Eeng Ahman, Ekonomi, (Bandung : Grafindo Media Pratama, 2002), hal.39.

(14)

14 3. Teori Multiplier Effect

Pembangunan yang berkelanjutan dalam bidang ekonomi menuntut pemanfaatan secara efisien sumber daya setempat meliputi sumber daya manusia dan alam. Sehingga adanya pusat pertumbuhan dapat menyebabkan terbukanya kesempatan bekerja dan berusaha bagi penduduk sekitar lokasi pusat pertumbuhan. Kesempatan bekerja adalah besarnya serapan angkatan kerja masyarakat didalam kawasan sebagai akibat adanya perubahan aktivitas karena keberadaan suatu pusat pertumbuhan tersebut. Sehingga banyak kesempatan kerja yang dapat diperoleh oleh masyarakat setempat didalam kawasan maka semakin banyak pengaruh positif yang diberikan oleh perubahan aktivitas ekonomi tersebut dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi tingkat pengangguran.

Adanya perubahan aktivitas tersebut dan makin banyaknya peluang usaha maka produktivitas di kawasan tersebut akan meningkat sehingga pendapatan masyarakat di kawasan tersebut juga meningkat akibat adanya perubahan aktivitas tersebut. Meningkatnya pendapatan masyarakat di kawasan tersebut maka konsumsi marginal masyarakat kawasan tersebut juga akan meningkat. Inilah yang disebut dengan multiplier effect(efek pengganda).20

Konsep multiplier effect merupakan sebuah konsep yang membahas tentang suatu dampak yang ditimbulkan oleh sebuah sektor pekerjaan. Namun demikian, para ahli mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang definisi dan konseptualisasi teori multiplier effect.Douglas C. Frechtling (1994)

20Sadono Sukirno, Ekonomi Pembangunan : Proses, Masalah, dan Dasar Kebijakan, (Jakarta : Kencana, 2007), hal.224.

(15)

15 menggambarkan multiplier effectsebagai suatu konsep yang menjelaskan tentang dampak dari eksistensi sektor pariwisata terhadap kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya. Tarigan mempunyai definisi lain terkait konsep multiplier effect.21Tarigan (2007), lebih percaya multiplier effect sebagai sebuah konsekuensi logis yang terjadi karena permintaan terhadap barang produksi dalam suatu sektor yang kemudian disebut sebagai sektor basis meningkat pesat, dimana sektor basis ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan sektor-sektor lainnya yang ada di sekitar kawasantersebut sehingga kenaikan atau kemajuan yang signifikan terhadap sektor basis akan berimbas pada sektor lainnya yang mempunyai keterkaitan yang erat dengan sektor basis. olehkarena itu, setiap perubahan yang terjadi pada sektor basis atau eksistensi dari lokalisasi itu sendiri akan menimbulkan efek ganda (multiplier effect).22 Pendapat lain seperti yang diungkapkan oleh Domanski dan Gwosdz (2010), menyatakan bahwa multiplier effect dapat dilihat melalui beberapa indikator yaitu pertumbuhan usaha yang mampu meningkatkan pendapatan pajak daerah yang pada akhirnya dapat digunakan untuk memperbaiki infrastruktur daerah atau pelayanan terhadap masyarakat.23Jadi pengertian multiplier effect adalah Efek dalam ekonomi dimana peningkatan pengeluarannasional mempengaruhi pendapatan dan konsumsi menjadi lebih tinggi dibandingkan jumlah sebelumnya.

21Douglas C. Frechtling, Ekonomi Pembangunan : Proses, Masalah, dan Dasar Kebijakan, (Jakarta : Kencana, 1994), hal.224.

22Tarigan, Ekonomi Pembangunan : Proses, Masalah, dan Dasar Kebijakan, (Jakarta : Kencana, 2007), hal.225.

23Domanski dan Gwosdz, Ekonomi Pembangunan : Proses, Masalah, dan Dasar Kebijakan, (Jakarta : Kencana, 2010), hal.225.

(16)

16 Menurut teori multiplier, pertambahan pengeluaran yang dilakukan masyarakat akan menambah pendapatan segolongan masyarakat lainnya.

Golongan masyarakat yang belakangan akan menggunakan sebagian besar dari pendapatan tersebut untuk konsumsi. Pengeluaran ini akan menyebabkan segolongan masyarakat lainnya menerima pendapatan dan mereka juga akan menggunakan sebagian besar dari pendapatan tersebut untuk membeli barang- barang keperluan mereka. Proses ini akan berlangsung terus sehingga menyebabkan pendapatan masyarakat yang tercipta jumlahnya adalah beberapa kali lipat dari pertambahan pengeluaran yang pertama kali diciptakan.

Konsep multiplier didasarkan pada perputaran uang dan pendapatan dalam suatu sistem kota atau daerah. Uang akan mengalir dari suatu kota sebagai pengembalian dari penjualan dan pada waktu yang sama, uang mengalir ke luar kota, misalnya sebagai upah buruh dari luar daerah.

Perputaran uang ini berhubungan dengan pembelian barang dan jasa dari daerah lain yang erat kaitannya dengan aktivitas sektor ekonomi tertentu.

1. Proses Multiplier

Proses multiplier effect adalah proses yang menunjukkan sejauh mana pendapatan nasional akan berubah efek dari perubahan dalam pengeluaran agregat. Apabila terjadi kenaikan dalam pengeluaran, maka akan tercipta tambahan pendapatan masyarakat, dan pendapatan nasional akan mengalami kenaikan. Kenaikan pengeluaran tersebut adalah sama jumlahnya dengan pertambahan pendapatan masyarakat yang terjadi.

(17)

17 Besarnya pengeluaran yang baru akan dilakukan tergantung kepada besarnya kecondongan konsumsi marjinal (marginal propensity to consume) yaitu proporsi dari setiap tambahan pendapatan yang akan digunakan untuk konsumsi. Makin tinggi kecondongan konsumsi marjinal makin besar pula tambahan pengeluaran yang akan dilakukan. Tambahan pengeluaran ini akan menciptakan pertambahan baru dalam pendapatan masyarakat dan kepada pendapatan nasional dan tambahan pendapatan yang baru ini kemudian akan menyebabkan pula pertambahan pengeluaran lebih lanjut. Pada akhirnya pendapatan nasional akan bertambah menjadi beberapa kali lipat kalau dibandingkan dengan pertambahan pengeluaran yang pertama sekali terjadi.24

Semakin besar kecenderungan untuk melakukan konsumsi marjinal, semakin besar pulalah multipliernya. Dengan adanya kecenderungan atau propensitas marjinal untuk melakukan konsumsi yang tinggi menunjukkan bahwa sebagian besar dari tambahan pendapatan yang dikonsumsi. Dengan begitu, pengeluaran yang dipengaruhi oleh kenaikan dalam pengeluaran otonom yang tinggi dan demikian juga perluasan output dan pendapatan yang diperlukan untuk mengembalikan keseimbangan antara pendapatan dan permintaan (pengeluaran).

Besarnya perubahan pendapatan yang diperlukan untuk mengembalikan keseimbangan tergantung pada dua faktor yaitu semakin besar pengeluaran otonom, semakin besar pulalah perubahan pendapatan. Selanjutnya, semakin

24Iskandar Putong, Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro dan Makro, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2002), hal.184-185.

(18)

18 besar propensitas marjinal untuk melakukan konsumsi, semakin besar perubahan pendapatan.25

2. Prinsip-prinsip Multiplier Effect

Satu hal yang perlu diketahui bahwa pelipat ganda (multiplier effect) yang terjadi tidak sama, akan tetapi bervariasi dari suatu sektor perekonomian ke perekonomian lainnya. Maksudnya, dampak uang yang dibelanjakan itu terhadap perekonomian tidak sama. Pada dasarnya prinsip efek pelipat ganda (multiplier effect) itu adalah sebagai berikut :

a. Uang yang dibelanjakan itu tidak pernah berhenti beredar dalam kegiatan ekonomi dimana uang itu dibelanjakan.

b. Uang itu selalu berpindah tangan, dari orang yang satu ke tangan orang lain.

c. Semakin cepat uang itu berpindah tangan, semakin besar pengaruh uang itu dalam perekonomian setempat dan semakin besar nilai koefisien multiplier.

d. Uang itu akan hilang (ceased) dari peredaran, ketika uang itu tidak lagi berpindah tangan, akan tetapi berhenti dari peredaran karena tidak ada lagi pengaruhnya terhadap perekonomian setempat.

e. Pengukuran terhadap besar kecilnya pengaruh uang yang dibelanjakan itu dilakukan setelah melalui beberapa kali transaksi dalam periode satu tahun (12 bulan).26

25Rudiger Dornbush, Ekonomi Makro, Edisi Kelima, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1994), hal.98.

26Oka A. Yoeti, Ekonomi Pariwisata, (Jakarta : PT. Kompas Media Nusantara, 2008), hal.248.

(19)

19 4. Pendapatan Masyarakat

Pendapatan adalah balas jasa yang diterima oleh pemilik faktor produksi biasanya pendapatan itu berupa upah, sewa, dan laba. Upah/ gaji adalah balas jasa untuk pekerjaan yang dilaksanakan dalam hubungan kerja dengan orang atau instansilain (sebagaikaryawan yang dibayar).Sewa adalah jasa yang diterima oleh pemilik atas penggunaan hartanya seperti tanah, rumah ataubarang-barangtahan lama.Sedangkan Laba usaha sendiri adalah balas karya untuk pekerjaan yang dilakukan sebagai pengusahayaitu mengorganisir produksi, mengambil keputusan tentang kombinasi faktor produksi serta menanggung resikonya sendiri entah sebagai petani, tukang, pedagang dan sebagainya.27Semakin tinggi pendapatan yang diterima oleh pemilik faktor- faktor produksi, semakin tinggi pula daya belinya.28Masalah pendapatan tidak hanya dilihat dari jumlahnya saja, tetapi bagaimana distribusi pendapatan yang diterima oleh masyarakat.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi arah gejala distribusi pendapatan dan pengeluaran di Indonesia ; pertama, perolehan faktor produksi, dalam hal ini faktor yang terpenting adalah tanah. Kedua, perolehan pekerjaan, yaitu perolehan pekerjaan bagi mereka yang tidak mempunyai tanah yang cukup untuk memperoleh kesempatan kerja penuh. Ketiga, laju produksi

27http://www.mangdeska.com/2009/08/pendapatan-juga-dapat-di-definisikan.html di akses pada tanggal 13Desember 2015 Pukul : 14.32.

28Ritonga, Ekonomi, (Jakarta : Erlangga, 2000), hal. 68.

(20)

20 pendesaan, dalam hal ini yang terpenting adalah produksi pertanian dan arah gejala harga yang diberikan kepada produk tersebut.29

Pendapatan perkapita dapat diartikan pula sebagai penerimaan yang diperoleh rumah tangga yang dapat mereka belanjakan untuk konsumsi yaitu yang dikeluarkan untuk pembelian barang konsumtif dan jasa-jasa, yang dibutuhkan rumah tangga bagi pemenuhan kebutuhan mereka. Dewasa ini sumber pendapatan sebagian besar rumah tangga di pendesaan tidak hanya dari satu sumber, melainkan dari beberapa sumber atau dapat dikatakan rumah tangga melakukan diversifikasi pekerjaan atau memiliki aneka ragam sumber pendapatan.

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan masyarakat Pendapatan seorang warga masyarakat ditentukan oleh :

a. Jumlah faktor-faktor produksi yang dimiliki yang bersumber pada hasil- hasil tabungannya di tahun-tahun yang lalu atau warisan atau pemberian.

b. Harga per unit dari masing-masing faktor produksi. Harga-harga faktor produksi ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan di pasar faktor produksi.

Penawaran dan permintaan dari masing-masing produksi ditentukan oleh faktor-faktor yang berbeda :

a. Tanah (termasuk kekayaan-kekayaan yang terkandung dalan tanah, mineral, air dan sebagainya). Mempunyai supply yang dianggap tidak adakn bertambah lagi. Sedangkan demand akan tanah biasanya menaik dari waktu

29Ritonga, Ekonomi, (Jakarta : Erlangga, 2000), hal.96.

(21)

21 ke waktu karena naiknya harga barang-barang pertanian, naiknya harga barang-barang lainnya (mineral, bahan-bahan mentah dari tanah), bertambahnya penduduk.

b. Modal adalah sesuatu yang digunakan untuk mendirikan atau menjalankan suatu usaha. modal ini bisa berupa uang dan tenaga (keahlian).30 Modal mempunyai Supply yang lebih elastis karena dari waktu ke waktu warga masyarakat menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk ditabung dan kemudian sektor produksi akan menggunakan dana tabungan untuk pabrik- pabrik baru (investasi). Sedangkan demand akan barang jadi (seperti mesin- mesin) juga akan naik. Itu semua dipengaruhi oleh dua faktor utama :

1) Pertumbuhan penduduk (yang membutuhkan perumahan).

2) Pertumbuhan pendapatan penduduk.

c. Tenagakerja mempunyai Supply yang terus menerus menaik sejalan denganpertumbuhan penduduk. Sedangkan permintaan akan tenaga kerjatergantungpada kenaikan permintaanakan barangjadi(kemajuan teknologi).

d. Kepengusahaan (entrepreunership), pada umumnya di Negara berkembang, penawaran atau tersediannya orang-orang yang berjiwa enterpreuner masih sangat kecil.31

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan adalah : 1. Jam kerja

Pendapatan diperoleh seseorang dari suatu pekerjaan melalui pencurahan

30Devi Puspitasari, Kewirausahaan,(Jakarta : CV. ARYA DUTA, 2007), hal. 34.

31Boediono, Ekonomi Mikro,(Yogyakarta : BPFE,1982), hal. 150.

(22)

22 waktu untuk bekerja menghasilkan barang dan jasa.Pada sektor formal, pekerja menerima balas jasa berupa upah yang telah ditentukan sebelumnya dan relatif tinggi karena dapat dipengaruhi oleh sifat pekerja dan juga berpengaruh dari peraturan serta serikat kerja. Pada sektor formal jam kerja relatif tetap. Lain halnya dengan sektor informal, upah dihitung berdasarkan tingkat keahlian dan curahan jam kerja yang tersedia dan curahan tenaga kerja.

Secara teoritis intensitas tenaga kerja yang bersedia dicurahkan seseorang untuk suatu pekerjaan dipengaruhi tingkat upah yang akan diperoleh dari pekerjaan tersebut. Semakin tinggi upah, semakin besar pula jam kerja yang bersedia dicurahkan seseorang. Sebaliknya semakin banyak jam kerja yang dicurahkan seseorang, semakin besar pula output yang mungkin dapat dihasilkan, karena untuk memperoleh pendapatan yang lebih banyak mereka hanya dapat memperpanjang waktu kerjanya. Semakin tinggi curahan waktu jam kerja akan semakin tinggi pula pendapatan yang diperolehnya.

2. Pengalaman kerja

Dalam masa kerja, latihan berpengaruh terhadap pendapatan, dilihat dari tujuan pelaksanaan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian atau keterampilan, sehingga dengan peralatan dan lingkungan dapat menghasilkan produktivitas kerja yang lebih banyak dan mungkin kualitas yang lebih tinggi. Dengan demikian kenaikan upah atau pembagian pendapatan yang disebabkan oleh kenaikan produktivitas kerja, dimana kenaikan produktivitas kerja antara lain dapat ditingkatkan melalui

(23)

23 pendidikan dan latihan dalam kerja.

Masa kerja seseorang dalam pekerjaan merupakan suatu proses latihan sambil melakukan pekerjaan, baik latihan didalam pekerjaan maupun diluar pekerjaan. Latihan akan menaikan keterampilan dan kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan sehingga mempertinggi produktivitas. Latihan yang dilakukan di luar pekerjaan dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan pegawai baik secara horizontal maupun vertikal.

3. Perbedaan pengimbang

Pada saat seorang hendak mencari pekerjaan, sebenarnya upah hanya salah satu dari sekian banyak hal yang harus dipertimbangkan. Ada beberapa pekerjaan yang mudah dilakukan, menyenangkan dan aman.

Namun banyak pula jenis pekerjaan yang sulit dan berbahaya. Jelas bahwa terlepas dari besar kecilnya upah, orang-orang akan memilih pekerjaan yang lebih mudah, lebih menyenangkan dan lebih aman. Oleh karenanya, upah untuk jenis-jenis pekerjaan yang baik atau serba menyenangkan tersebut lebih rendah ketimbang jenis pekerjaan yang buruk.

4. Modal manusia

Istilah modal biasanya mengacu pada persediaan peralatan dan struktur ekonomi. Persediaan barang modal antara lain meliputi traktor petani, pabrik para buruh, dan lain sebagainya. Jadi pengertian modal ini adalah faktor produksi yang harus dibuat terlebih dahulu sebelum digunakan dalam kegiatan produksi. Sebenarnya masih ada jenis modal lain, yang memang wujudnya tidak sejelas modal fisik, namun sama pentingnya bagi kegiatan

(24)

24 produksi di setiap perekonomian yakni modal (sumber daya) manusia.

Modal manusia (human capital) adalah akumulasi investasi pada manusia. Salah satu jenis modal manusia yang terpenting adalah pendidikan.

Sama halnya dengan semua bentuk modal lainnya, pendidikan menuntut pengeluaran sumber daya sampai titik dan waktu tertentu demi meningkatkan produktivitas di masa mendatang

Tidak mengherankan kalau rata-rata pekerja yang memiliki lebih banyak modal manusia memperoleh pendapatan lebih tinggi ketimbang pekerja lain yang modal manusianya terbatas. Adalah mudah untuk dipahami mengapa pendidikan dapat meningkatkan pendapatan kalau hal ini dilihat dari sudut penawaran dan permintaannya pihak perusahaan bersedia membayar lebih banyak untuk memperoleh pekerja yang lebih terdidik, karena pekerja seperti ini memiliki produk marjinal yang lebih tinggi. Sedangkan para pekerja bersedia menanggung biaya agar lebih terdidik hanya jika tersedia imbalan untuk itu. Selisih pendapatan antara pekerja yang berpendidikan tinggi dan rendah dapat dipandang sebagai perbedaan pengimbang bagi biaya untuk menjadi terdidik.

5. Kemampuan, upaya dan kesempatan

Kemampuan alamiah (natural ability) atau bakat sangatlah penting bagi semua pekerja, tidak peduli apa pekerjaannya. Karena faktor keturunan dan pengaruh lingkungan, atribut fisik dan mental setiap orang selalu berlainan.

Sejumlah orang memiliki tubuh yang kuat, yang lainnya lemah. Ada orang yang cerdas, ada pula yang lambat berpikir. Ada yang suka kegiatan sosial,

(25)

25 ada pula yang lebih suka menghabiskan waktunya di rumah. Atribut-atribut ini dan karakteristik pribadi, menentukan sejauh mana produktivitas seseorang sebagai pekerja dan karenanya menentukan pula berapa banyak pendapatan yang bisa diperolehnya.

Selain kemampuan, hal lain yang turut menentukan adalah upaya.

Sebagian orang rajin, sebagian lainnya malas. Sudah menjadi hukum alam bahwa mereka yang lebih rajin akan lebih produktif, dan karenanya akan memperoleh penghasilan lebih banyak. Tidak jarang, sampai batas tertentu, perusahaan secara khusus memberi imbalan kepada para pegawainya sesuai dengan apa yang mereka hasilkan. Para tenaga penjual misalnya dibayar dengan persentase dari nilai penjualan yang mereka hasilkan. Kerja keras juga sering membuahkan imbalan khusus, meskipun tidak langsung seperti gaji tahunan, atau pemberian bonus istimewa.

Hal lain yang berperan penting dalam menentukan besar kecilnya pendapatan seseorang adalah kesempatan (chance). Jika sesorang khusus kuliah untuk belajar memperbaiki televisi kuno yang masih menggunakan tabung hampa, kemungkinan besar ia hanya akan membuang-buang waktu karena sekarang ini tidak ada orang yang mau membeli televisi dengan tabung hampa. Jika ia lulus nanti, pendapatannya akan jauh lebih kecil ketimbang mereka yang kuliah sama lamanya namun mempelajari hal-hal yang lebih berguna. Rendahnya upah dala kasus ini bukan karena kemalasan

(26)

26 atau kebodohan, melainkan kesempatan.32

6. Sistem Sosial dan Sikap Masyarakat

Sistem sosial dan sikap masyarakat penting peranannya dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Di dalam menganalisis mengenai masalah-masalah pembangunan di Negara-negara berkembang ahli-ahli ekonomi telah menunjukkan bahwa sistem sosial dan sikap masyarakat dapat menjadi penghambat yang serius kepada pembagunan. Adat istiadat yang tradisional dapat menghambat masyarakat untuk menggunakan cara memproduksi yang modern dan produktivitas yang tinggi. Oleh karenanya pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipercepat. Juga di dalam sistem sosial dimana sebagian besar tanah dimiliki oleh tuan-tuan tanah, atau dimana luas tanah yang dimiliki adalah sangat kecil dan tidak ekonomis, pembangunan ekonomi tidak akan mencapai tingkat yang diharapkan.

Sikap masyarakat juga dapat menentukan sampai dimana pertumbuhan ekonomi dapat dicapai. Di sebagian masyarakat terdapat sikap masyarakat yang dapat memberikan dorongan yang besar kepada pertumbuhan ekonomi.

Sikap yang sedemikian itu antara lain adalah sikap berhemat yang bertujuan untuk mengumpulkan lebih banyak uang untuk investasi, sikap yang sangat menghargai kerja keras dan kegiatan-kegiatan untuk mengembangkan usaha, dan sikap yang selalu berusaha untuk menambah pendapatan dan keuntungan.

Apabila di dalam masyarakat terdapat beberapa keadaan dalam sistem sosial dan sikap masyarakat yang sangat menghambat perumbuhan ekonomi,

32N. Gregory Mankiw, Pengantar Ekonomi Edisi Kedua Jilid I, (Jakarta : Erlangga, 2003). hal.540.

(27)

27 pemerintah haruslah berusaha untuk menghapuskan hambatan-hambatan tersebut. Perubahan itu terutama harus ditujukan agar masyarakat bersedia bekerja lebih keras untuk mendapatkan pendapatan dan keuntungan yang lebih banyak.33

7. Pengertian Rumah Kos

Rumah kos adalah sebuah jasa yang menawarkan sebuah kamar atau tempat untuk ditinggali dengan sejumlah pembayaran tertentu untuk setiap periode tertentu (umumnya pembayaran perbulan).34 Pada kos-kosan termasuk pemindahan hak guna (manfaat) secara syariah dinamakan Akad Ijarah.

AkadIjarah merupakan akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang atau benda tersebut.35

8. Keuntungan Menjalankan Usaha Rumah Kos

Beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dalam menjalankan usaha rumah kos antara lain :36

1. Permintaan akan rumah kos sangat tinggi

Kebutuhan akan rumah kos selalu bertambah setiap tahun. Jumlah mahasiswa dan karyawan senantiasa bertambah setiap tahun. Ini yang menyebabkan bisnis rumah kos selalu ramai. Untuk memaksimalkan

33Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Teori Pengantar, (Jakarta : PT. Raja GrafindoPersada, 2012), hal.432.

34Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar, (Jakarta : Katalog Dalam Terbitan, 2011), hal.243.

35Irma Devita Purnamasari dan Suswinarno, Akad Syariah, (Bandung : Mizan Media Utama,2011), hal.107.

36http://blog.sewakost.com/bisnis-kost-sangat-menguntungkan/ di akses tanggal 07 Desember 2015 pukul : 18.39.

(28)

28 keuntungan, usahakan membangun rumah kos di dekat kampus atau pusat bisnis. Karena kedua tempat tersebut merupakan lokasi yang sangat diincar oleh para penyewa rumah kos.

2. Penghasilan rutin dan jangka panjang

Penghasilan dari bisnis rumah kosbersifat rutin dan jangka panjang.

Karena setiap bulan anda akan menerima penghasilan dari hasil sewa rumah kos. Jangka waktu sewa kos juga cukup lama, bisa mencapai beberapa tahun. Hal ini disebabkan karena sebagian besar penyewa kos adalah mahasiswa yang merantau dari kota lain. Selama si penyewa rumah kos masih kuliah, ia akan tetap menyewa rumah kos, bahkan beberapa penyewa rumah kos yang telah lulus kuliah memilih untuk bekerja di kota tersebut dan memutuskan untuk tetep tinggal di rumah kos.

3. Pengelolaan relatif mudah

Mengelola rumah kos bisa dikatakan cukup mudah. Kesulitan hanya terjadi diawal bisnis, yaitu pada saat menyiapkan kamar-kamar rumah kos, mulai dari desain kamar rumah kos, membeli perabotan dan peralatan elektronik yang menjadi fasilitas rumah kos, serta memasarkan rumah kos.

Setelah tahapan tersebut berlalu, tinggal menyerahkan pengelolaan rumah koskepada orang kepercayaan si pemilik sewa. Sesekali perlu berkunjung ke rumah kos untuk memeriksa keadaan rumah kos, menerima uang sewa kos, serta membayar tagihan-tagihan seperti listrik, air, dan lain-lain.

4. Peluang untuk memperoleh penghasilan tambahan

Keutungan keempat dari menjalankan bisnis rumah kos adalah dapat

(29)

29 memperoleh penghasilan tambahan. Selain dari uang sewa rumah kos, bisa berpeluang untuk memperoleh penghasilan tambahan dari menyediakan jasa tertentu, seperti pulsa, air mineral dan mie instan.

5. Penghasilan lebih tinggi dibanding menyewakan rumah

Pada saat ini ingin memperoleh penghasilan pasif dari sebuah rumah, ada dua pilihan utama, yaitu disewakan atau dikoskan. Karena alasan kepraktisan, pada umumnya orang lebih memilih menyewakan rumahnya.

Menjalankan usaha rumah kos memang lebih rumit dibandingkan menyewakan rumah.Penghasilan dari bisnis rumah kos jauh lebih tinggi dibanding menyewakan rumah, terlebih bila rumah kos menyediakan fasilitas tambahan.

6. Menjalin relasi

Seorang pensiunan yang hidup sendiri, jauh dari anak-anaknya yang tinggal di luar kota. Mereka lebih memilih untuk mengekoskan rumah tinggalnya. Selain memberikan penghasilan tambahan, kehadiran anak- anak rumah kosjuga mampu menjadi sumber keceriaan dihidup. Mengelola kos tidak selalu tentang uang, namun mengelola rumah kos dapat menjalin hubungan dengan orang lain.

(30)

30 9. Sewa-Menyewa (Ijarah)

a. Pengertian Sewa-Menyewa (Ijarah)

Menurut para ulama berbeda-beda mendefinisikan ijarah, antara lain adalah sebagai berikut :

1. Menurut Hanafiyah, bahwa ijarah ialah Akad untuk membolehkan pemilikan manfaat yang diketahui dan disengaja dari suatu zat yang disewa dengan imbalan.

2. Menurut Malikiyah, bahwa ijarah ialah nama bagi akad-akad untuk kemanfaatan yang bersifat manusiawi dan untuk sebagian yang dapat dipindahkan.

3. Menurut Syaikh Syihab Al-Din dan Syaikh Umairah, bahwa yang dimaksud dengan ijarah ialah akad atas manfaat yang diketahui dan disengaja untuk memberi dan membolehkan dengan imbalan yang diketahui ketika itu.

Berdasarkan definisi-definisi diatas, dapat dipahami bahwa ijarah adalah menukar sesuatu dengan ada imbalannya, diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti sewa-menyewa.37 Di dalam kehidupan manusia ijarah selalu berkaitan dengan masalah muamalah, sehingga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk muamalah dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup manusia, seperti sewa menyewa kontrak, atau menjual jasa seperti tenaga ahli dan sebagainya. Berdasarkan definisi ijarah adalah transaksi

37Hendi Suhendi, Fiqh Mualamah, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,2011), hal.114.

(31)

31 terhadap suatu manfaat yang dituju, tertentu bersifat mubah dan bisa dimanfaatkan dengan imbalan tertentu.38

b. Dasar Hukum Sewa-Menyewa (Ijarah)

Dasar-dasar hukum ijarah adalah Al-Qur’an dan Al-Sunnah, yaitu :39 1. Dasar Hukum ijarah dalam Al-Qur’an adalah :



Artinya : “jika mereka telah menyusukan anakmu, maka berilah upah mereka”. (Al-Thalaq : 6)

2. Dasar Hukum ijarah dari Al-Sunnah adalah :

هُقُرُع َفِجيَّ ْنَا َلْبَق ُهَرْجَأَ ْيِْجاَلأْااو ُطُعُأ

Artinya : “berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering” (Riwayat Ibnu Majah).

)لمسمو ىراخبما هاور( ُهَرْجَأ َماججُلحا ِطْعاَو ْمِجَتْحِا

Artinya : “berbekamlah kamu, kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada tukang bekam itu” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

م ص ِالله لْو ُسَر ىىَ َنََف ِع ْرجزما َنِم ِفِاَو جسما َلََع اَمِب َضْرَلأا ىِرْكُن اجنُك ادوباو دحما هاور( ٍقَر َوْوَا ٍبَهَذِبَ َنَ َرَمَاَو َلكِذ

)دو

Artinya : “dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh. Lalu Rasulullah melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan uang mas atau perak” (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud).

38Muhammad, Kebijakan Fiskal dan Moneter dalam Ekonomi islami, (Jakarta : PT.

Salemba Emban Patria, 2002), hal.111.

39 Hendi Suhendi, Fiqh Mualamah, (Jakarta :PT. Raja Grafindo Persada,2011), hal.116.

(32)

32 c. Syarat Akad Ijarah

Akad ijarah mengandung rukun (syarat) sebagai berikut :40

1. Subjek Akad (pihak yang menyewakan dan pihak yang menyewa barang).

Pihak yang menyewakan haruslah cakap untuk bertindak melakukan perbuatan hukum dalam akad.

2. Objek Akad (barang yang disewakan)

Tujuan penggunaan barang yang disewakan harus dicantumkan dalam akad ijarah. Apabila penggunaan barang yang disewakan tidak dinyatakan secara pasti, barang yang disewakan tersebut digunakan berdasarkan aturan umum dan kebiasaan.

3. Akad

dalamijarah dibuat suatu ketentuan bahwa akad bisa dilakukan secara lisan, tulisan, dan isyarat. Namun, harus ada kata sepakat (shigat akad) dengan menggunakan kalimat yang jelas.

d. Sistem Sewa Menyewa dalam Islam

Musta’jir atau orang yang melakukan akad sewa-menyewa dibolehkan menyewakan lagi barang sewaan kepada orang lain dengan syarat penggunaan barang itu sesuai dengan penggunaan yang dijanjikan akad, seperti penyewaan seekor kerbau, ketika akad dinyatakan bahwa kerbau itu disewa untuk membajak di sawah, kemudian kerbau tersebut

40 Irma Devita Purnamasari dan Suswinarno, Akad Syariah, (Bandung : Mizan Media Utama,2011), hal.110.

(33)

33 disewakan lagi dan timbul musta’jir kedua, maka kerbau itu pun harus digunakan untuk membajak pula. Harga penyewaan yang kedua ini bebas- bebas saja, dalam arti boleh lebih besar, lebih kecil, atau seimbang.

Bila ada kerusakan pada benda yang disewa, maka yang bertanggung jawab adalah pemilik barang (mu’jir) dengan syarat kecelakaan itu bukan akibat dari kelalaianmusta’jir.Bila kecelakaan atau kerusakan benda yang disewa akibat kelalaian musta’jir maka yang bertanggung jawab adalah musta’jir itu sendiri, misalnya menyewa mobil, kemudian mobil itu hilang dicuri karena disimpan bukan tempat yang layak.41

41 Hendi Suhendi, Fiqh Mualamah, (Jakarta :PT. Raja Grafindo Persada,2011), hal.121.

(34)

34 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini bersifat field research (penelitian lapangan) dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu penelitian yang mencoba menggambarkan, memaparkan dan menafsirkan suatu fenomena yang terjadi pada saat ini.42 Karena itu penulis akan menganalisis bagaimana pengaruh peningkatan pendapatan masyarakatGaregeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi dalam membuka usaha sewa rumah kos disekitar kampus IAIN Bukittinggi.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Garegeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, yang difokuskan kepada masyarakat Garegeh Kecamatan Mandiangin Koto Selayan yang memiliki usaha sewa rumah kos.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilaksanakan dari tanggal 21-24 Desember 2015.

42 Lexy J. Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 1995), hal.3.

(35)

35 C. Jenis Data

data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari sumber pertama.43Pada penelitian ini yang menjadi data primer adalah data yang diperoleh langsung dari masyarakat Garegehyang memiliki rumah kos di sekitar kampus IAIN Bukittinggi di Garegeh dengan mengajukan pertanyaan dan pernyataan pada responden terpilih melalui kuesioner dan wawancara.

2. Data Sekunder

Data sekunder yaitu jenis data dalam bentuk yang sudah jadi melalui publikasi dan informasi.44Pada penelitian ini yang menjadi data sekunder adalah Data yang diperoleh secara tidak langsung, hanya didapat dari kepastian literatur buku pustaka baik bacaan maupun data yang memungkinkan serta relevan dengan penelitian, serta didapat dari situs internet.

D. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti.45Populasi merupakan keadaan dan jumlah objek penelitian secara keseluruhan yang memiliki karakteristik tertentu, dan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah masyarakat Garegeh yang memiliki usaha jasa sewa rumah kos. Populasi

43 Joko Subagyo, Metodologi Penelitian dan Teori Praktek, (Jakarta : Rineka Cipta, 1997), hal. 87.

44Supranto,Metode Ramalan Kuantitatif, (Jakarta : Rineka Cipta, 1993), hal. 8.

45Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Yogyakarta : PT. Rineka Cipta, 2007), hal.85.

(36)

36 penelitian ini adalah masyarakat Garegeh yang memiliki usaha jasa sewa rumah kos yang berjumlah 42 orang.

E. Instrument Penelitian

Penggunaan instrument dalam penelitian yang tepat akan memperoleh data yang diinginkan dari responden. Angket adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendapatkan data tersebut, penyusunan instrument penelitian dituangkan dalam bentuk pernyataan.

Metode yang digunakan adalah metode skala likert dengan diberi skor atau nilai.46

Sangat setuju (SS) = 5

Setuju (S) = 4

Netral (N) = 3

Tidak setuju (TS) = 2 Sangat tidak setuju (STS) = 1

Sehingga dengan menggunakan pilihan jawaban tersebut responden dapat memahami pernyataan yang diajukan. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :

46Muhammad, Metodologi Penelitian Ekonomi Islam Pendekatan Kuantitatif, (Jakarta : Raja Wali Pers, 2008), hal. 154.

(37)

37

Tabel 3.1

Instrument Penelitian

No Indikator Pernyataan

1 Ekonomi 1.1 Dengan adanya Kampus I IAIN Bukittinggi di Garegeh masyarakat sekitar tidak lagi kesulitan mencari nafkah.

1.2 Dengan adanya Kampus I IAIN Bukittinggi di Garegeh menambah penghasilan bagi masyarakat sekitar.

1.3 Dengan adanya Kampus I IAIN Bukittinggi di Garegeh masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

1.4 Dengan adanya Kampus I IAIN Bukittinggi di Garegeh masyarakat setempat memiliki pekerjaan tetap dan lebih mudah untuk melaksanakan pekerjaan.

2 PeningkatanPendapatan 2.1 Keberadaan Kampus I IAIN Bukittinggi di Garegeh menggerakan roda ekonomi masyarakat.

2.2 Keberadaan Kampus I IAIN Bukittinggi di Garegeh dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga kemampuan masyarakat untuk berkonsumsi dan menabung bertambah.

3 Jasa Sewa Rumah Kos 3.1 Keberadaan jasa sewa rumah kos di sekitar Kampus IAIN Bukittinggi di Garegeh sangat mempengaruhi Mahasiswa dan Masyarakat umum yang berdomisili dari daerah lain untuk menerima penawaran jasa sewa rumah kos.

3.2 Keberadaan jasa sewa rumah kos di sekitar Kampus IAIN Bukittinggi di Garegeh sangat mempengaruhi Mahasiswa dan Masyarakat umum yang berdomisili di Bukittinggi untuk menerima penawaran jasa sewa rumah kos.

(38)

38 F. Teknik Pengumpulan Data

1. Interview (wawancara)

Wawancara merupakan bentuk komunikasi antara peneliti dengan subjek yang diteliti dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam mencari informasi berdasarkan tujuan.47 Wawancara dilakukan kepada masyarakat Garegeh kecamatan Mandiangin Koto Selayan yang memiliki rumah kos di sekitar kampus IAIN Bukittinggi di Garegeh.

2. Kuesioner (angket)

Kuesioner merupakan alat teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.48 Kuesioner ini diberikan kepada masyarakat Garegeh kecamatan Mandiangin Koto Selayan yang memiliki rumah kos di sekitar kampus IAIN Bukittinggi di Garegeh.

G. Teknik Pengolahan Data

Setelah data terkumpul, kemudian penulis mengolah data dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Data kualitatif yang diolah dengan menggunakan metode statistik seperti rata-rata.49

47Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Social (Kuantitatif dan Kualitatif), (Jakarta : Gaung Persada Per, 2008), hal.253.

48Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung : Alfabet, 2011), hal. 142.

49Joko Subagyo, Metodologi Penelitian Dalam Study dan Praktek, (Jakarta : Rineka Cipta, 1997), hal. 39.

(39)

39 Perhitungan persentase dilakukan dengan rumus :

P = f x 100 N

Keterangan :

P = Jumlah persentase peningkatan pendapatan masyarakat Garegeh yang memiliki rumah kos di sekitar kampus IAIN Bukittinggi di Garegeh.

f = Frekuensi jawaban N = Jumlah Sampel H. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencari, menyusun secara sistematis sehingga mudah dipahami dan dapat diambil kesimpulan pada data yang didapat.50Berdasarkan inti penyusunan diatas, maka dalam melaksanakan penganalisa penyusunan penelitian ini, penulis menggunakan metode analisis yang bersifat kualitatif deskriptif.

Data yang muncul berupa data-data tertulis atau lisan dari masyarakat yang diamati yang diproses melalui catatan. Kemudian disusun dalam teks diperluas. Data-data yang diperoleh akan dianalisis dengan beraturan dan instruksional yang terdiri dari :

1. Pengumpulan data sekaligus reduksi data.

2. Penyajian data, setelah data direduksi disajikan dalam bentuk narasi.

3. Penarikan kesimpulan atau verifikasi. Penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap kedua.

50Afifuddin, Beni Ahmad Saebani, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Pustaka Setia, 2012), hal. 145.

(40)

40 BAB IV

HASIL PENELITIAN A. Monografi IAIN Bukittinggi

1. Sejarah

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi merupakan perubahan atau pengalihan status dari Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 11 Tahun 1997 tanggal 21 Maret 1997 Tentang Pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Surat Menteri agama RI No. 196 tahun 1997 tanggal 30 Juni 1997 tentang Organisasi dan Tata kerja STAIN Bukittinggi, Surat Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam nomor E/136/1997 tanggal 30 Juni 1997 tentang Alih Status dari Fakultas Daerah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri.

Keberadaan Perguruan Tinggi Islam Darul Hikmah, Universitas Islam Darul Hikmah, Fakultas Agama Islam Syar’iyyah (FAIS) dan Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol di Bukittinggi merupakan bagian penting dari sejarah panjang berdirinya STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.

Perguruan Islam Tinggi Darul Hikmah didirikan di Bukittinggi oleh Yayasan Darul Hikmah yang dipimpin oleh Ustadz Nazharuddin Thaha pada tanggal 27 Rajab 1373 H atau tahun 1953 dengan Dekan pertamanya adalah Sjech

(41)

41 Ibrahim Musa Parabek. Kampus perguruan tinggi ini semula berlokasi di Garegeh (Ex SD 17 atau SD 04 Sekarang). Pada tanggal 1 Agustus 1956 Perguruan Islam Tinggi Darul Hikmah ini dipindahkan dari Garegeh ke Padang Luar (terletak di sebelah kanan jalan Raya Bukittinggi – Padang atau sebelum SMP Standar Padang Luar).

Perguruan Islam Tinggi Darul Hikmah berkembang menjadi Universitas Islam Darul Hikmah yang diresmikan oleh Menteri Agama RI KH. Ilyas pada tanggal 18 Rabiul Awal 1377 H atau tanggal 12 Oktober 1957, bertempat di Gedung olahraga Polisi (Belakang SMA 2 sekarang) dengan Presiden/Rektor pertamanya Sjech Ibrahim Musa Parabek. Universitas ini merupakan Universitas Islam pertama di Sumatera Tengah (Sumatera Barat, Riau dan Jambi).

Universitas Darul Hikmah ini terdiri dari 5 fakultas yaitu: Fakultas Hukum Islam (Syari’ah) di Bukittinggi (Ex. Perguruan Islam Tinggi Darul Hikmah).

Fakultas Ushuluddin di Padang Panjang didirikan pada tanggal 12 Agustus 1956, Fakultas Ad-da’wah wal Irsyad di Payakumbuh didirikan pada tanggal 23 Juni 1957, Fakultas Fiqh Wal Ushul di Solok didirikan pada tanggal 6 Agustus 1957 dan Fakultas Lughatul Adabiyyah wat Tarbiyyah di Padang didirikan pada tanggal 9 Agustus 1957.

Universitas Islam Darul Hikmah di Bukittinggi terpaksa menghentikan kegiatannya semenjak hari Minggu tanggal 4 Mei 1958, karena pada hari itu tentara Pusat (APRI) memasuki kota Bukittinggi dalam rangka membebaskan Sumatera Tengah dari pergolakan daerah. Sejak hari itu Gedung perkuliahan di Padang Luar yang ditempati semenjak tanggal 1 Agustus 1956 ditutup. Demikian

(42)

42 pula keadaaannya pada fakultas-fakultas yang ada di Payakumbuh, Padang Panjang, Batusangkar, Solok dan Padang. Rektor yang mulia Sjech Ibrahim Musa Parabek (Alm), para Pembantu Rektor, dan para pegawai mengungsi. Sedangkan sebagian Mahasiswa memanggul senjata dan bergabung dalam Kompi Mawar menghadapi tentara APRI.

Walaupun Kegiatan Universitas Darul Hikmah terhenti dari tanggal 4 Mei 1958 s/d 4 Juni 1962, namun semangat dan keinginan masyarakat Sumatera Barat untuk mendirikan Perguruan Tinggi Islam tetap semakin hidup dan menyala, terbukti Yayasan Imam Bonjol yang dipimpin oleh Bapak Drs. Azhari (alm) asal Parit Putus IV Angkat Candung berhasil mendirikan Fakultas Sosial Politik dan Fakultas Tarbiyah Yayasan Imam Bonjol tanggal 5 Juni 1962 di Padang. Fakultas Tarbiyah ini dinegerikan tanggal 21 September 1963 dan menjadi cabang fakultas Tarbiyah Syarif Hidayatullah Ciputat, Jakarta.

Kemudian Bapak Drs. Azhari (Ketua Yayasan Imam Bonjol/Walikota Padang), Bapak Firdaus Khaerani, SH (Ketua Pengadilan Negeri Bukittinggi) dan Ibu Hj. Naemah Djambek selaku pengurus Yayasan Imam Bonjol berhasil mendirikan Fakultas Agama Islam Syar’iyyah (FAIS) Yayasan Imam Bonjol di Bukittinggi dan diresmikan oleh Bapak Drs. Azhari sendiri selaku ketua Yayasan.

Acara peresmian ini sempat terancam batal disebabkan pihak kepolisian tidak bersedia mengeluarkan surat izin karena diduga seluruh mahasiswa FAIS terlibat PRRI. Akhirnya dengan izin Allah SWT serta melalui dialog yang cukup melelahkan dan usaha yang sungguh-sungguh dari beliau bertiga, maka izin dari

(43)

43 pihak Kepolisian diperoleh juga sehingga acara peresmian tersebut dapat dilaksanakan sesuai rencana.

Peresmian FAIS ini dilaksanakan pada Senin malam sesudah shalat Isya jam 08.00 WSU tanggal 21 Januari 1963 bertempat di Gedung Nasional Bukittinggi (sekarang Kantor DPRD Kota Bukittinggi). Dekan pertamanya adalah Bapak Firdaus Khaerani, SH. Sehari setelah peresmian Fakultas Agama Islam Syar’iyyah (FAIS) Yayasan Imam Bonjol di Bukittinggi, maka pada hari Selasa tanggal 22 Januari 1963 diresmikan pula Fakultas Adab Yayasan Imam Bonjol di Payakumbuh.

Tujuan pertama mendirikan Fakultas Agama Islam Syar’iyyah (FAIS) ini adalah untuk melenyapkan pengaruh PKI dan antek-anteknya, dengan jalan membekali pemuda-pemudi di sekolah dan luar sekolah (da’wah). Dengan demikian diharapkan agar mereka menjadi ulama yang bertanggung jawab untuk berkembangnya Agama Islam ditengah-tengah masyarakat sehingga pemba- ngunan dalam bidang mental dan spiritual akan terwujud sesuai dengan yang dicita-citakan bersama.

Modal untuk mendirikan Agama Islam Syar’iyyah Yayasan Imam Bonjol adalah keimanan, ketaqwaan dan semangat yang tinggi. Sebab sarana dan prasarana kepunyaan Fakultas tidak ada dan pada umumnya merupakan pinjaman.

Kantor tata usaha dan ruangan untuk pertemuan dan acara-acara mahasiswa diadakan di Surau Inyiak Djambek JL. Tengah Sawah No. 4 Bukittinggi.

Sedangkan Gedung perkuliahan sering berpindah-pindah tempat, pertama di SD Perwari Tengah Sawah (Kampus Stisipol Pancasakti sekarang), selanjutnya di

(44)

44 Sekolah PGA 4 tahun Jirek (Eks. Gedung AKPER Perintis), kemudian pindah ke Sekolah Muhammadiyah Tarok (sekarang STM/SMK Muhammadiyah) sampai FAIS dinegerikan menjadi fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol tanggal 29 Nopember 1966.

Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol Bukittinggi lahir bersamaan dengan lahirnya IAIN Imam Bonjol Padang yaitu tanggal 29 Nopember 1966. Peresmian dilakukan oleh Menteri Agama pada waktu itu KH Saifuddin Zuhri bertempat di Gedung Negara Tri Arga (Sekarang Istana Bung Hatta Bukittingg). Dalam Peresmian itu ditetapkan dan dilantik H. Mahmud Yunus sebagai Rektor, H.

Mansur Dt. Nagari Basa sebagai Dekan Fakultas Syari’ah di Bukittinggi. H.

Izzuddin Marzuki LAL sebagai Dekan Fakultas Adab di Payakumbuh, H.

Baharuddin Syarif, MA sebagai dekan Fakultas Ushuluddin di Padang Panjang dan H. Mahmud Yunus sebagai Dekan Fakultas Tarbiyyah di Padang.

Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol Bukittinggi ini berasal dari Fakultas Agama Islam Syar’iyyah (FAIS) Yayasan Imam Bonjol Bukittinggi. Dengan kata lain bahwa Fakultas Agama Islam Syar’iyyah (FAIS) Yayasan Imam Bonjol Bukittinggi inilah yang diresmikan menjadi Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol Bukittinggi. Ketua panitia peresmian Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol adalah H.A. Kamal. SH. Sama seperti halnya Fakultas Agama Islam Syar’iyyah (FAIS) Yayasan Imam Bonjol Bukittinggi, fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol di Bukittinggi setelah diresmikan pada tanggal 29 Nopember 1966 juga tidak mempunyai sarana dan prasarana yang memadai. Kantor, Gedung Perkuliahan, dan mobil operasional tidak ada. Mula-mula fakultas ini berkantor di Surau Inyiak

Referensi

Dokumen terkait

silinder yang berupa lubang yang menembus shell atau head dari bejana tekan. Sambungan untuk pengelasan yang digunkan untuk

Metodologi penelitian yang digunakan dalam pembuatan Program Visualisasi Panduan Manasik Haji Bagi Calon Jamaah Haji ini diawali dengan pengumpulan data,

Proses pembelajaran mingguan dalam perkuliahan TAKSONOMI TUMBUHAN TINGKAT RENDAH yang telah dirancang pada poin B.7 diharapkan dapat memotivasi mahasiswa untuk

[r]

Maka dalam penulisan tugas akhir ini Jembatan Kali Pepe direncanakan ulang sebagai jembatan cable stayed asimetris dengan meggunakan box girder beton

Prinsip-prinsip dasar Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim diimplementasikan dalam 10 (sepuluh) aturan perilaku sebagai berikut: 1). Bersikap Mandiri; 5)

Melakukan klasifikasi data sesuai dengan fokus penelitian yaitu perilaku keagamaan varian abangan, santri, dan priyayi yang ada dalam novel Reinkarnasi karya Sinta

Persentase kenaikan jumlah penumpang terjadi pada keberangkatan menggunakan kapal ferry sebesar 31,01 persen, sebaliknya jumlah keberangkatan penumpang yang