BAB III
ANALISA DAN PEMBAHASAN
Di dalam prakteknya banyak kasus penyalahgunaan donation based crowdfunding oleh yayasan. Maraknya penyalahgunaan donation based crowdfunding oleh yayasan ini dikarenakan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia belum secara tegas mengatur tentang pertanggungjawaban yayasan. Salah satu kasus yang terkenal adalah kasus Cak Budi yang diduga menggelapkan dana donasi sebesar 1,7 miliar, Uang itu mencakup donasi netizen yang diterima melalui rekening pribadi sebesar Rp560 juta, penyaluran dana lewat situs kitabisa.com Rp814 juta, dan hasil penjualan mobil Rp400 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli mobil fortuner serta sebuah telepon genggam merek iphone. Ia beralasan pembelian barang-barang tersebut untuk keperluan operasional (sumber: BBC News Indonesia).1
Selain kasus cak Budi, muncul juga crowdfunding palsu (hoax) lainnya yang terjadi di Sulawesi. Laman Sure adalah Pemilik situs (platform) donasi abal-abal yang mengatasnamakan korban gempa Palu dan Donggala Sulawesi Tengah. Bermodalkan laptop, tablet, tujuh ponsel, 13 modem internet, puluhan sim card provider, serta pengetahuan seadanya tentang internet, petani yang gagal panen ini berhasil mendapat dana donasi dari masyarakat secara online untuk kepentingan pribadinya sekitar 10 juta rupiah dalam kurun waktu 2 minggu,2 (sumber: Republika.co.id) dan contoh kasus yang mengenai yayasan adalah pemakaian donation based crowdfunding oleh Syam organizer yang diketahui sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di bidang kemanusiaan. Syam organizer melakukan donation based crowdfunding untuk menghimpun dana dan menyalurkan dana sosial itu untuk program ambulans dan bantuan ke Suriah, Palestina, dan daerah Timur
1 BBC News Indonesia, Https://www.BBC.Com/Indonesia/Trensosial-39789188, Diakses Pada Tanggal 5 Agustus 2021 Pukul 15.20 Wib.
2 Republika.Co.Id,
Https://www.Republika.co.id/Berita/Nasional/Daerah/18/10/12/Pgg5a9377-Polisi-Ungkap- Penipuan-Sumbangan-Dana-Untuk-Gempa-Sulteng, Diakses Pada Tanggal 5 Agustus 2021 Pukul 15.45 Wib
Tengah yang diklasifikasikan sebagai jaringan teroris dan kegiatan itu tidak terpantau oleh Bakesbang (sumber: Detik News)3 bila tidak ada peraturan untuk donation based crowdfunding , dikawatirkan kekosongan hukum ini akan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab4 seperti Syam organizer.
Penulis akan membedakan analisa pada penulisan ini menjadi 2 bagian, yaitu analisa implikasi hukum dari pelanggaran yang dilakukan Yayasan karena melakukan kegiatan (penghimpunan dan penyaluran dana sosial) yang tidak sesuai dengan tujuan dan tidak tepat sasaran. Bagian kedua akan menjelaskan bentuk pertanggungjawaban apabila Yayasan melakukan kegiatan (menghimpun dan menyalurkan bantuan sosial) yang bertentangan dengan tujuan yayasan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
1. Analisis Implikasi Hukum Terhadap Pelanggaran Penghimpunan dan Penyaluran Dana Sosial yang Tidak Sesuai
Berikut di bawah ini dikemukakan pembahasan mengenai analisa implikasi hukum dari pelanggaran yang dilakukan Yayasan karena melakukan kegiatan (penghimpunan dan penyaluran dana sosial) yang tidak sesuai dengan tujuan dan tidak tepat sasaran.
A. Pelanggaran yang Dilakukan oleh Yayasan dalam Kegiatan Donation Based Crowdfunding
Suatu yayasan dapat melakukan kegiatan menghimpun dam menyalurkan dana sosial karena memiliki izin dan memiliki kekuatan hukum dalam melakukannya. Dalam melakukan kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana sosial harus tepat sasaran dan sesuai dengan tujuan dan maksud yayasan yaitu harus membantu di bidang sosial, keagamaan dan kemanusiaan. Dengan perkembangan jaman yang semakin berkembang
3 Detik News, Https://News.Detik.Com/Berita-Jawa-Tengah/D-5520576/Kegiatan-Syam- Organizer-Yang-Digeledah-Densus-Tak-Terpantau-Pemkot-Yogya, Diakses Pada Tanggal 5 Agustus 2021 Pukul 15.50 Wib
4 Selly Erisha, Kewenangan Pengawasan Terkait Kegiatan Donation Based Crowdfunding Di Indonesia, Tesis Desember 2019
yayasan lebih dimudahkan dalam menghimpun dana, salah satunya adalah dengandonation based crowdfunding kegiatan ini memanfaatkan internet dan media online (Twitter, Instagram, web, Facebook, dll) dalam menghimpun dana, sehingga dapat menggapai lebih banyak masyarakat, ini sejalan dengan teori kekayaan bertujuan yang menyatakan bahwa kekayaan yayasan adalah milik masyarakat dan bukanlah miliknya pendiri atau pengurus. Selain itu, dalam Undang-undang yayasan pasal 5 ayat (1) dan (2) dicantumkan larangan untuk memberikan kepada pihak ketiga, kecuali pemberian tunjangan sumbangan yang bersifat sosial dan kemanusiaan. Oleh karena itu kegiatan usaha yayasan bukan ditujukan untuk kepentingan pengurusnya, melainkan dipergunakan untuk kepentingan umum. Jadi penekanannya bukan pada keuntungan (profit) melainkan pada kemanfaatan (benefit).5 Karena donation based crowdfunding belum memiliki peraturan yang tegas dan jelas mengatur tentang ini maka banyak sekali penyalahgunaan terjadi yang dilakukan oleh perseorangan, kelompok, maupun yayasan. Pelanggaran donation based crowdfunding dapat dilakukan hanya dengan mencantumkan hal yang membuat masyarakat tersentuh seperti sumbangan bencana alam, perang, anak yatim, orang yang mengidap penyakit langka atau berbahaya, dan lain- lain. Oknum perorangan, kelompok, maupun yayasan dapat mendapatkan dana untuk kepentingan mereka pribadi atau yang bertentangan dengan undang-undang.
Yayasan haruslah melakukan penghimpunan dana ini sesuai dengan tujuan awal yayasan dan teori kekayaan bertujuan, tetapi dari beberapa kasus yang sudah diteliti oleh penulis, banyak yayasan yang melakukan pelanggaran seperti dalam kegiatan penghimpunan dana (donation based crowdfunding) untuk kepentingan pribadi pendiri atau organ yayasan, pencucian uang, bahkan untuk pendanaan terorisme selain itu sebuah yayasan yang melakukan donation based crowdfunding yang bertentangan dengan tujuan atau teori kekayaan bertujuan dan peraturan perundang-undangan pasti tidak memiliki izin dari pemerintah. Walaupun belum ada pengaturan yang
5 Nurul Hudayanti, Distribusi Aset Dan Kekayaan Yayasan: Perspektif Perundang- Undangan , Jurnal Al-Daulah, Vol. 6, No. 2, 2017, H., 213
mengatur tentang donation based crowdfinding, namun tindakan penyelewengan dana oleh organ yayasan masih tetap bisa diberikan sanksi sesuai dengan peraturan yang saat ini berlaku. Sanksi tersebut mengikuti kemana tujuan dana tersebut digunakan. Artinya sanksi yang akan dijatuhkan tergantung kegunaan dari dana tersebut, apakah dana tersebut dicuci, atau diberikan kepada organisasi terorisme, atau hal lainnya. Sedangkan dalam ranah administrative, sanksnya berupa pencabuatan SK badan hukum yayasan. Pencabutan SK yayasan ini dimaksudkan untuk: hilangnya status badan hukum yayasan; pengurus tidak lagi dapat bertindak atas nama yayasan demi kepentingan yayasan; dan pertanggungjawaban atas perbuatan pengurus menjadi tanggung jawab renteng, bukan tanggung jawab yayasan keterangan ini dikuatkan oleh Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta No. 111 G Tahun 2009. Berdasarkan Pasal 1367 Ayat (1) Kitab Undang–Undang Hukum Perdata, seseorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatan orang–orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan oleh barang–barang yang berada dibawah pengawasannya.
Dalam undang-undang ini setiap kerugian atau perbuatan yang melawan hukum harus dapat dipertanggungjawabkan oleh pengurus terutama dalam kegiatan yang akan dilakukan yayasan haruslah dengan sepengetahuan pengurus karena pembina hanya berwenang menetapkan kebijakan umum dan rancangan anggaran tahunan, ini dipertegas dalam Pasal 28 ayat (1) dan ayat (2) Undang – Undang Yayasan Nomor 16 Tahun 2001 jo Undang–
Undang Yayasan Nomor 28 Tahun 2004.
B. Pengaturan Tentang Donation Based Crowdfunding di Indonesia dan Analisis
Di Indonesia belum ada peraturan yang secara mendalam dan khusus yang mengatur tentang donation based crowdfunding, tetapi ada beberapa peraturan di Indonesia yang mengatur tentang kegiatan penghimpunan uang dan barang. Beberapa peraturan yang perlu ditinjau adalah,
1. Undang – Undang Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang
a. Menurut pasal 1 Undang-undang Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang menyatakan bahwa “Yang diartikan dengan pengumpulan uang atau barang dalam undang- undang ini adalah setiap usaha mendapat uang atau barang untuk pembangunan dalam bidang kesejahteraan social, mental/ agama/
kerohanian, kejasmanian, dan bidang kebudayaan.”6
b. Menurut Pasal 2, dinyatakan bahwa “legalitas penyelenggaraan pengumpulan sumbangan harus didasarkan pada keberadaan izin dari pejabat yang berwenang, terkecuali untuk kegiatan pengumpulan uang atau barang yang diwajibkan oleh hukum agama, hukum adat dan adat-istiadat, atau yang diselenggarakan dalam, lingkungan terbatas.”
c. Menurut pasal 3, dinyatakan bahwa “Izin untuk menyelenggarakan pengumpulan uang atau barang diberikan kepada perkumpulan atau organisasi kemasyarakatan dengan maksud sebagai mana tersebut dalam Pasal 1 yang tidak bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan”.
Dalam pasal 2 dan 3 undang-undang no. 9 Tahun 1961 tentang pengumpulan uang atau barang ini menyatakan bahwa untuk menyelenggarakan pengumpulan uang dan barang harus memiliki izin dari pejabat yang berwenang, dan izin ini hanya diberikan kepada organisasi kemasyarakatan, tidak untuk individu atau perseorangan.
d. Menurut Pasal 4 ayat (1) undang-undang ini, pejabat yang berwenang memberikan izin pengumpulan uang atau barang ialah: Menteri Kesejahteraan Sosial untuk ruang lingkup seluruh wilayah negara atau melampaui daerah tingkat I atau untuk menyelenggarakan/membantu suatu usaha sosial di luar negeri, Gubernur apabila pengumpulan itu diselenggarakan di dalam seluruh wilayahnya yang melampaui suatu daerah tingkat II dalam wilayah daerah tingkat I yang bersangkutan, dan
6 Pasal 1 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1961 Tentang Pengumpulan Uang Atau Barang
Bupati/Walikota, Kepala Daerah tingkat II, apabila pengumpulan itu diselenggarakan dalam wilayah daerah tingkat II yang bersangkutan.
Dalam pasal 4 Undang-undang No. 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan uang atau barang ini, Menteri Kesejahteraan Sosial, Gubernur, Bupati/Walikota merupakan pejabat yang berwenang mengeluarkan izin untuk terselenggara atau tidaknya pengumpulan uang atau barang.
e. Pasal 8 ayat (1) undang-undang ini mengancam sanksi pidana bagi pelaksana kegiatan pengumpulan uang atau barang yang tidak berizin, dengan pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp.10.000,-(sepuluh ribu rupiah).
Menurut penulis, Undang-undang No. 9 tahun 1961 tentang Pengumpulan uang atau barang sama sekali tidak mengatur atau mencangkup mengenai seluruh kegiatandonation based crowdfunding. Peraturan ini perlu diperbaharui karena sudah tidak cocok dengan kemajuan zaman sekarang ini.
Karena pesatnya perkembangan zaman penghimpunan dana dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi internet. Hal inilah yang menimbulkan suatu kekosongan hukum dan akan menjadi permasalahan yang sulit diselesaikan.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1980 Tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan
Peraturan ini merupakan peraturan pelaksana dari Undang – Undang Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang.
a. Pasal 1 angka 3 pengumpulan sumbangan adalah setiap usaha mendapatkan uang atau barang untuk pembangunan dalam bidang kesejahteraan sosial, mental/ agama/kerohanian, kejasmanian, pendidikan dan bidang kebudayaan.7
7 Thommy Budiman, Rahel Octora, Op.Cit. H.,225-226
b. Pasal 3 ayat (1), menyebutkan bahwa “Usaha pengumpulan sumbangan dilakukan oleh organisasi dan berdasarkan sukarela tanpa paksaan langsung atau tidak langsung”.8
Di dalam PP No. 29 Tahun 1980 sebagai peraturan pelaksanannya juga belum mengatur organisasi apa saja yang diperbolehkan untuk melakukan usaha pengumpulan sumbangan, hanya dalam pasal 1 angka 2 PP No.29 tahun 1980 menyatakan bahwa: “Organisasi adalah organisasi kemasyarakatan Indonesia yang memenuhi persyaratan tertentu yang mempunyai program, upaya, dan kegiatan yang ditujukan untuk mewujudkan, membina, memelihara, dan meningkatkan kesejahteraan sosial dan masyarakat”. Sehingga dalam pasal tersebut hanya menggambarkan orgnisasi itu tersebut tidak menyebutkan organisasi apa saja yang diperbolehkan.
c. Pasal 5 ayat (2) UU No. 9 Tahun 1961 menentukan syarat permohonan izin penyelenggaraan pengumpulan uang atau barang yang harus mencangkup 6 hal, yaitu:
(1) Maksud dan tujuan pengumpulan uang atau barang;
(2) Cara menyelenggarakan;
(3) Siapa yang menyelenggarakan;
(4) Batas waktu penyelenggaraan;
(5) Luasnya penyelenggaraan (wilayah, golongan);
(6) Cara penyalurannya.9
Meski dalam Pasal 5 ayat (2) huruf b berisi mengenai cara penyelenggaraan pengumpulan uang atau barang, namun hal ini belum cukup rinci mengenai ketentuan penyelenggaraan. PP No. 29 Tahun 1980 sebagai peraturan pelaksanaannya juga belum mengatur hal tersebut. Salah satunya adalah penyelenggaraan pengumpulan sumbangan dengan memakai jaringan internet. Padahal kegiatan yayasan saat ini marak dilakukan dengan memanfaatkan media sosial dan jaringan internet10, sehingga di dalam peraturan perundang-undangan ini menunjukan kekosongan hukum yaitu
8 Iswi Hariyani, Cita Yustisia Serfiyani, Op.Cit. H.,9
9 Pasal 5 Ayat (2) Uu No. 9 Tahun 1961 Tentang Pengumpulan Uang Atau Barang.
10 Rr. Dyah Citra Harina. Politik Hukum Pembaruan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1961 Tentang Pengumpulan Uang Atau Barang Dalam Kegiatan Filantropi Di Indonesia. Jurnal Lex Renaissance. No. 1. Vol. 4. 2019. H., 189
peraturan ini tidak mengatur tentang tanggung jawab hukum dalam penghimpunan sumbangan dana (donation based crowdfunding) dan penyaluran dana sosial pada Yayasan yang memanfaatkan media online dalam berdonasi. Hal ini dapat berpotensi menimbulkan penyalahgunaan dana tersebut yang tidak sesuai dengan tujuan awal yayasan.
d. Pasal 6 ayat (1), Pelaksana kegiatan pengumpulan sumbangan diperkenankan memotong hasil pendapatan sumbangan sebanyak- banyaknya 10% (sepuluh persen) dari hasil pengumpulan sumbangan yang bersangkutan.
Apabila pengelola kegiatan pengumpulan sumbangan adalah yayasan maka Pemotongan hasil pendapatan (fee) sumbangan sebesar 10% bukan untuk keuntungan yayasan melainkan untuk keberlangsungan kegiatan tersebut seperti membayar gaji atau upah pengurus.
e. Pasal 13, pengawasan pemberian izin menjadi tanggung jawab dari Menteri.
f. Pasal 14 ayat (1) dan (2) memberikan kewajiban pada Pemegang izin / penyelenggara pengumpulan sumbangan, untuk mempertanggungjawabkan penggunaan sumbangan yang dikumpulkan kepada pemberi izin. Pejabat pemberi izin wajib membuat laporan berkala kepada Menteri.
g. Dalam hal terjadi tindakan yang menimbulkan potensi penyimpangan, maka menurut Pasal 18, akan dilakukan usaha penertiban dengan Tindakan preventif dan represif.
adanya pengawasan internal dan eksternal untuk meningkatkan kinerja dan akuntabilitas. Pengawas internal menegakkan kode etik organisasi dan memutuskan pemberian sanksi di internal organisasi. Pengawasan eksternal dilakukan masyarakat, Pemerintah, Pemerintah Daerah. Salah satu bentuknya berupa pengaduan masyarakat yang disampaikan kepada Pemerintah atau Pemerintah Daerah.11 Dalam rangka pengendalian penyelenggaraan pengumpulan sumbangan yang dapat dipertanggungjawabkan secara benar
11 Iswi Hariyani, Cita Yustisia Serfiyani, Op.Cit. H., 16
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka Langkah-langkah pengawasan yang dilakukan bersifat preventif (pencegahan) diatur dalam pasal 19 dan represif.
h. Pasal 19, pejabat pemberi izin wajib melakukan usaha penertiban dalam batas – batas kewenangannya.
Pengelola situs donation based crowdfunding, baik berbentuk perkumpulan berbadan hukum ataupun yayasan, mengajukan permohonan izin penyelenggaraan pengumpulan sumbangan kepada Kementerian Sosial.
Kementerian Sosial kemudian mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Sosial Republik Indonesia. Jadi, pengawasan preventif dilakukan oleh Kementerian Sosial sebagai pejabat fungsional yang berwenang melakukan penertiban.12
i. Pasal 20 ayat (1), tugas di bidang pengawasan dilaksanakan oleh pegawai-pegawai departemen sosial.13 Kementerian sosial lalu mendelegasikan kewenangan pengawasan preventif kepada direktorat jenderal perlindungan dan jaminan sosial.14 Penyimpangan penggunaan dana yang memenuhi unsur tindak pidana akan diproses lebih lanjut oleh penyidik.15
3. Undang-Undang Nomor 9 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme
Donation based crowdfunding juga tunduk terhadap Undang-Undang Nomor 9 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme, apabila kegiatan Donation based crowdfunding ini diklasifikasikan sebagai kegiatan pencucian uang dan pendanaan untuk terorisme.
a. Pasal 1 ayat (1) menyatakan bahwa Pendanaan Terorisme adalah segala perbuatan dalam rangka menyediakan, mengumpulkan, memberikan, atau meminjamkan Dana, baik langsung maupun tidak langsung,
12 Ibid. H.17
13 Thommy Budiman, Rahel Octora, Op.Cit. H.,226
14 Iswi Hariyani, Cita Yustisia Serfiyani, Op.Cit. H.,17
15 Thommy Budiman, Rahel Octora, Op.Cit. H.,226
dengan maksud untuk digunakan dan/atau yang diketahui akan digunakan untuk melakukan kegiatan terorisme, organisasi teroris, atau teroris16
b. Pasal 2 ayat (1) huruf a menyatakan bahwa Undang-Undang ini berlaku terhadap “Setiap Orang yang melakukan atau bermaksud melakukan tindak pidana pendanaan terorisme di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan/atau”.17
Pada pasal ini menyatakan setiap orang yang melakukan perbuatan yang dengan maksud untuk digunakan untuk pendanaan kegiatan terorisme diatur dalam undang-undang no. 9 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme. Sehingga dalam hal ini pelaku (organ yayasan) yang menyuruh, membuat, dan melaksanakan donation based crowdfunding untuk pendanaan terorisme terancam undang- undang ini.
c. Pasal 4 menyatakan bahwa “Setiap Orang yang dengan sengaja menyediakan, mengumpulkan, memberikan, atau meminjamkan Dana, baik langsung maupun tidak langsung, dengan maksud digunakan seluruhnya atau sebagian untuk melakukan Tindak Pidana Terorisme, organisasi teroris, atau teroris dipidana karena melakukan tindak pidana pendanaan terorisme dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”.18
d. Apabila dilakukan oleh korporasi pasal 8 ayat (4) dan (5) menyatakan bahwa korporasi akan:
(4) Pidana pokok yang dijatuhkan terhadap Korporasi berupa pidana denda paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).
16 Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme.
17 Pasal 2 Ayat (1), Ibid.
18 Pasal 4, Ibid
(5) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (4), terhadap Korporasi juga dapat dijatuhi pidana tambahan berupa:
a) pembekuan sebagian atau seluruh kegiatan Korporasi;
b) pencabutan izin usaha dan dinyatakan sebagai Korporasi terlarang;
c) pembubaran Korporasi;
d) perampasan aset Korporasi untuk negara;
e) pengambilalihan Korporasi oleh negara; dan/atau f) pengumuman putusan pengadilan.19
Dalam pasal 8 ini lebih menegaskan terhadap pelaku korporasi yang dalam pembahasan skripsi ini adalah yayasan. Setiap korporasi (yayasan) yang melakukan kegiatan pendanaan terorisme akan dijatuhi pidana denda paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah), selain denda korporasi (yayasan) akan diberikan sanksi sesuai dengan pasal 8 ayat (5).
(6) Untuk mencegah terjadinyadonation based crowdfunding yang disalahgunakan, pasal 11 menyatakan bahwa “Upaya pencegahan tindak pidana pendanaan terorisme dilakukan melalui:
a) penerapan prinsip mengenali Pengguna Jasa Keuangan;
b) pelaporan dan pengawasan kepatuhan PJK;
c) pengawasan kegiatan pengiriman uang melalui sistem transfer atau pengiriman uang melalui sistem lainnya; dan
d) pengawasan pembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lain ke dalam atau ke luar daerah pabean Indonesia.”20
Pengawasan donation based crowdfunding dapat termasuk pada pasal 11 huruf c dan d yang menyatakan kegiatan pengiriman melalui sistem lain dan instrumen pembayaran lain ke dalam atau ke luar daerah pabean Indonesia. Donation based crowdfunding termasuk sebagai sistem atau intrumen lain.
19 Pasal 8 Ayat (4) Dan (5), Ibid
20 Pasal 11, Ibid
(7) Pasal 20 ayat (1) dan (2) mengatur tentang pengawasan kegiatan pengiriman uang melalui sistem lainnya menyatakan,
1) PJK yang menyelenggarakan kegiatan pengiriman uang melalui sistem lainnya wajib memperoleh izin dari dan/atau terdaftar di LPP.
2) PJK yang menyelenggarakan kegiatan pengiriman uang melalui sistem lainnya wajib menyampaikan laporan tertulis mengenai penyelenggaraan kegiatan pengiriman uang ke LPP 21
(8) Yang melakukan pengawasan terhadap pembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lain yang terkait pendanaan terorisme adalah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai ini sesuai dengan pasal 21.
(9) Apabila dana daridonation based crowdfunding yang secara langsung atau tidak langsung atau yang diketahui atau patut diduga digunakan atau akan digunakan, baik seluruh maupun sebagian, untuk Tindak Pidana Terorisme maka dana itu akan diblokir sesuai dengan pasal 22.22 (10) Pemblokiran dapat dilakukan oleh dilakukan oleh PPATK, penyidik,
penuntut umum, atau hakim dengan penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk meminta atau memerintahkan PJK atau instansi berwenang untuk melakukan pemblokiran sesuai dengan pasal 23.23 C. Pengawasan Sistem Donation Based Crowdfunding Pada Yayasan
Sistem donation based crowdfunding tidak melibatkan investasi finansial dengan imbal balik berupa keuntungan finansial sehingga hal ini berada di luar ruang lingkup pengawasan Lembaga Pengawas Keuangan. PP No. 29 Tahun 1980 mengatur adanya pengawasan internal dan eksternal untuk meningkatkan kinerja dan akuntabilitas yayasan24
Pengawasan yayasan secara internal dilakukan oleh organ di dalam yayasan sesuai dengan AD/ART. Pengawasan secara internal ini dilakukan agar dapat menegakkan kode etik yang sesuai dengan (teori kekayaan
21 Pasal 20 Ayat (1) Dan (2), Ibid
22 Pasal 22, Ibid
23 Pasal 23, Ibid
24Iswi Hariyani, Cita Yustisia Serfiyani, Op.Cit. H., 16
bertujuan) tujuan yayasan dan memutuskan pemberian sanksi kepada organ yayasan (internal) apabila melakukan penyalahgunaan atau penyelewengan.
Pengawasan eksternal yayasan dilakukan oleh masyarakat, pemerintah, pemerintah daerah dan salah satu bentuknya berupa pengaduan masyarakat yang disampaikan kepada Pemerintah atau Pemerintah Daerah 25
Dalam rangka pengendalian penyelenggaraan pengumpulan sumbangan yang dapat dipertanggungjawabkan secara benar sesuai ketentuan peraturan perundang–undangan yang berlaku, Pengawasan preventif dan represif sudah diatur oleh pasal 2 ayat (1) UU Nomor 9 Tahun 1961:
“pemberian izin itu dimaksudkan terutama untuk menjaga dan memelihara keselamatan dan ketentraman rakyat banyak baik secara preventif (mencegah) , maupun represif (menekan) dari perbuatan orang-orang yang kurang bertanggung jawab”.26 Dan pengawasan preventif diatur oleh Pasal 19 PP Nomor 29 Tahun 1980 menyatakan bahwa “pejabat pemberi izin wajib melakukan usaha penertiban dalam batas – batas kewenangannya”. Dalam hal pengawas yayasan, dapat dikenai tanggung gugat dalam hal laporan tahunan yang dibuat dan ditandatangani pengawas ternyata tidak sesuai atau tidak benar, maka berdasarkan pasal 52 UU Nomor 16 tahun 2001 tentang yayasan pengawas dan pengurus secara tanggung renteng bertanggung jawab terhadap pihak yang dirugikan. 27
Pengelolaan situsdonation based crowdfunding oleh yayasan harus mengajukan permohonan izin penyelenggaraan pengumpulan sumbangan kepada Kementerian Sosial. Kementerian Sosial kemudian mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Sosial Republik Indonesia. Jadi, pengawasan preventif dilakukan oleh Kementerian Sosial sebagai pejabat fungsional yang berwenang melakukan penertiban.28 Pegawai departemen sosial yang ditunjuk oleh Menteri melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pengumpulan sumbangan tersebut ini sesuai dengan pasal 20 ayat (1) PP
25 Pasal 53-55 Pp No. 29 Tahun 1980
26 Pasal 2 Ayat (1) UU Nomor 9 Tahun 1961 Tentang Pengumpulan Uang Atau Barang
27 Pasal 52 Uu Nomor 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan
28 Iswi Hariyani, Cita Yustisia Serfiyani, Op.Cit. H.,17
Nomor 29 Tahun 1980 29 lalu Kementrian Sosial mendelegasikan kewenangan pengawasan preventif kepada Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial. Pengawasan represif dilakukan oleh Kepolisian yang berkoordinasi dengan Kementerian Sosial. Apabila pihak Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial mengetahui adanya perbuatan yang dilakukan oleh pengumpul sumbangan yang menurut Undang-undang No. 9 Tahun 1961 dapat dipidana, maka ia harus segera melaporkan kepada Pejabat Penyidik yang ditetapkan berdasarkan aturan hukum acara pidana.30
Pasal 8 ayat (1) huruf a dan b menyebutkan perbuatan pengumpulan sumbangan yang dapat dipidana adalah:
a. menyelenggarakan, menganjurkan atau membantu menyelenggarakan pengumpulan uang atau barang dengan tidak mendapat izin lebih dahulu.
b. tidak memenuhi syarat dan perintah dalam keputusan pemberian izin;31 Pengumpulan sumbangan yang dilakukan tanpa izin pejabat berwenang, atau di kemudian hari diketahui tidak sesuai dengan syarat-syarat dalam surat izin, atau menyimpang dari ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku, dapat dikenakan sanksi pidana. Pasal 8 ayat (2) UU Nomor 9 Tahun 1961 menyatakan “tindak pidana tersebut dalam ayat (1) pasal ini dianggap sebagai pelanggaran”32.
Di Amerika Serikat, pengelola donation based crowd funding tunduk pada undang-undangcharity solicitation act di masing-masing negara bagian.
Contohnya, the Solicitation of Funds for Charitable Purposes Act di Pennsylvania, Marylands Solicitation Actdi Maryland, dan Washington States Charitable Solicitation Act di Washington D.C. Registrasi dilakukan ke secretary of state masing-masing negara bagian dan terdapat peranattorney general dalam pengawasan. Secretary of state yang berwenang mengurus
29 20 Ayat (1) Pp Nomor 29 Tahun 1980 Tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan.
30 Iswi Hariyani, Cita Yustisia Serfiyani, Op.Cit. H.,17-18
31 Pasal 8 Ayat (1) Huruf A Dan B UU Nomor 9 Tahun 1961 Tentang Pengumpulan Uang Atau Barang
32 Pasal 8 Ayat (2) UU Nomor 9 Tahun 1961 Tentang Pengumpulan Uang Atau Barang
pendaftaran organisasi yang akan melakukan kegiatan pengumpulan sumbangan. Ia menjalankan fungsi pengawasan preventif sejak permohonan diterima dan diseleksi, kemudian Attorney General berwenang mencabut ijin organisasi pengumpul donasi yang menyalahi ketentuan undang-undang serta memberikan sanksi pidana.33
2. Analisis Pertanggungjawaban Organ Yayasan Berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan yang Berlaku di Indonesia
Apabila organ yayasan tidak melaksanakan kewajiban dan melanggar hukum, maka ia melanggar kewajiban hukum yang diatur oleh UU Yayasan dan dapat dikatakan sebagai perbuatan melawan hukum, sehingga menimbulkan akibat hukum. Pertanggungjawaban hukum dapat dimintakan pertanggungjawaban hukum baik secara pidana seperti penggelapan keuangan yayasan, terorisme, penipuan, pencucian uang, ataupun tindak pidana korupsi terkait adanya sumbangan yang berasal dari negara, dan masih banyak lagi. Secara perdata maka akan diberikan sanksi mengganti kerugian serta sanksi administratif berupa pencabuatan SK badan hukum yayasan.
Pencabutan SK yayasan ini dimaksudkan untuk: hilangnya status badan hukum yayasan; pengurus tidak lagi dapat bertindak atas nama yayasan demi kepentingan yayasan; dan pertanggungjawaban atas perbuatan pengurus menjadi tanggung jawab renteng, bukan tanggung jawab yayasan keterangan ini dikuatkan oleh Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta No. 111 G Tahun 2009. 34
Untuk dapat menentukan siapa yang dapat bertanggung jawab terhadap kerugian pada penyelenggaraan usaha yayasan, maka yang bertanggung jawab itu siapa yang melakukan kesalahan, apabila pengurus yang melakukan kesalahan atau kelalaian maka pengurus lah yang melakukan
33 Iswi Hariyani, Cita Yustisia Serfiyani, Op.Cit. H.,18-19
34 Pasal 13A Undang-undang Nomor 28 Tahun 2004 dalam Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta No.111/G/2009/PTUN-JKT
pertanggungjawaban, akan tetapi apabila kesalahan itu merupakan kesalahan penyelenggara usaha maka penyelenggara lah yang bertanggung jawab.35
Amanat Undang-Undang No 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan jelas tertera bahwa pengawas dalam menjalankan tugas dan kewenangannya harus beritikad baik, artinya dalam melakukan pengawasan maka pengawas harus dituntut secara objektif melakukan pengontrolan serta memberikan nasihat yang baik dalam hal pengelolaan yayasan, hal ini diatur dalam pasal 47 Undang-Undang No 21 Tahun 2001 tentang Yayasan. Begitu pula halnya pembina juga dapat dimintai pertanggungjawaban hukum jika tidak mampu merencanakan dan mengarahkan yayasan sesuai dengan maksud dan tujuan dibentuknya yayasan sesuai dengan AD/ART.36 Di dalam pasal 70 ayat (1) dan (2) UU No. 16 tahun 2001 tentang yayasan juga menyatakan bahwa, 1) Setiap anggota organ Yayasan yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun.
2) Selain pidana penjara, anggota organ yayasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) juga dikenakan pidana tambahan berupa kewajiban mengembalikan uang, barang, atau kekayaan yayasan yang dialihkan atau dibagikan.37
Tetapi berdasarkanPasal 1367 Ayat (1) Kitab Undang–Undang Hukum Perdata yang menyebutkan bahwa seseorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatan orang–orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan oleh barang–barang yang berada dibawah pengawasannya.38 Dalam undang-undang ini setiap kerugian atau perbuatan yang melawan hukum harus dapat dipertanggungjawabkan oleh pengurus terutama dalam kegiatan yang akan dilakukan yayasan haruslah dengan
35 YB, Sigit Hutomo, Reformasi Yayasan Perspektif Hukum Dan Manajemen, The Jakarta Consulting Group (Editor) 360” Approach on Foundation, Andi, Yogyakarta, 2002, H.,131
36 Djojodirdjo Moegni, Perbuatan Melawan Hukum: Tanggung Gugat (Aansprakelijkheid) Untuk Kerugian, Yang Disebabkan Karena Perbuatan Melawan Hukum, Jakarta: Pradnya Paramita, 1979, H., 76
37 Pasal 70 Ayat (1) Dan (2) UU No. 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan
38 Pasal 1367 Ayat (1) Kitab Undang – Undang Hukum Perdata
sepengetahuan pengurus karena pembina hanya berwenang menetapkan kebijakan umum dan rancangan anggaran tahunan, ini dipertegas dalam Pasal 28 ayat (1) dan ayat (2) Undang – Undang Yayasan Nomor 16 Tahun 2001 jo Undang–Undang Yayasan Nomor 28 Tahun 2004.
Pengurus juga berpedoman pada prinsip–prinsip dalam doktrin fiduciary duty, ada tiga yaitu the conflict rule yaitu pengurus tidak boleh menjalankan tugas untuk kepentingannya atau kepentingan pihak lain sebelum disetujui yayasan. Yang kedua adalah the profit rule yaitu pengurus tidak menggunakan kedudukannya untuk mendapatkan keuntungan baik untuk keuntungan pribadi maupun untuk keuntungan pihak ketiga tanpa persetujuan yayasan, dan yang terakhir adalahthe misappropriation rule yaitu pengurus dilarang memakai atau menyalahgunakan segala milik yayasan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan pihak ketiga.39
39 T. Musahiddinsyah, Loc.Cit H., 78