• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Subaltern atau yang sering disebut sebagai subaltern studies

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Subaltern atau yang sering disebut sebagai subaltern studies"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Subaltern atau yang sering disebut sebagai subaltern studies merupakan kajian yang ditunjukkan kepada orang-orang termarginalkan atau terasingkan oleh suatu kelompok. Menurut Nasution (2016:39) kajian subaltern pada awalnya diajukan oleh Gramsci untuk menunjukkan kelompok- kelompok kalah, yang mana kajian ini masuk ke dalam Marxis. Lambat laun kajian subaltern ini diadopsi oleh beberapa pemikir, salah satunya adalah Gayatri Spivak. Gayatri Spivak memfokuskan teori pascakolonial dalam kajian subaltern untuk mengetahui kondisi suatu kaum yang tertindas oleh kaum dominan di lingkungannya. Spivak memiliki pemikiran lain bahwa semua yang diabaikan atau tidak mendapatkan keadilan dalam kehidupannya maka masuk ke dalam kajian kelompok subaltern. Hal ini menarik untuk diteliti karena permasalahan ketertindasan yang dialami seseorang dalam suatu kelompoknya sendiri seperti terjadi di suku Bugis terhadap Bissu.

Suku Bugis merupakan suku terbesar yang mendiami daerah Sulawesi Selatan. Begitu banyaknya penduduk di Suku Bugis mampu mendirikan kerajaan yang sama sekali tidak mengandung pengaruh India, serta membangun tempat keseharian mereka (Kapojos, 2018:154). Seiring berjalannya waktu penduduk yang ada di suku Bugis mulai merantau dengan cara berdagang di berbagai penjuru benua. Perpindahan masyarakat Bugis ke luar sukunya, mereka masih mempertahankan identitas yang dimiliki.

(2)

Pertahanan identitas yang mereka bawa menjadi ciri khas bagi orang Bugis yang merantau ke luar Sulawesi Selatan. Salah satu ciri khas suku Bugis yang terkenal di suku-suku lain memiliki karakter yang keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Serta dapat melakukan apa pun untuk melindungi harga dirinya. Orang Bugis menganggap bahwa identitas keislaman yang mereka punya sebagai integral serta esensial istiadat budaya mereka. Namun, suku Bugis masih mempertahankan kepercayaan peninggalan pra islam yaitu tradisi para Bissu (pendeta waria) yang berada di keraton Bone. Tidak hanya di Bone Bissu juga tersebar di berbagai daerah seperti Shoppeng, Wajo, Luwu, serta Pangkep (Sigeri) dengan jumlah yang terus berkurang.

Bissu merupakan kaum pendeta yang mengakui adanya lima gender.

Lima gender tersebut adalah Oroane (laki-laki), Makunra (perempuan), Calabai (laki-laki yang berpakaian seperti perempuan), Calalai (perempuan

yang berpakaian laki-laki), dan golongan Bissu di mana masyarakat memiliki kepercayaan tradisional menganggap Bissu sebagai kombinasi dari semua jenis kelamin. Budaya Bugis juga mempercayai bahwa Bissu termasuk ke dalam golongan yang khusus, karena mereka dianggap sebagai komunikator antara manusia dengan dewa dalam kehidupan. Hubungan tersebut dilakukan dengan upacara tradisional yang diadakan oleh kaum Bissu menggunakan bahasa langit atau biasa disebut sebagai basa Torilangi, dalam upacara tersebut Bissu memiliki peran untuk menjaga tradisi tutur lisan sastra Bugis kuno sure’la Galigo (Said, 2016:70).

(3)

Tradisi Bugis Bissu tidak selalu mengalami hal-hal yang buruk namun, ada juga yang mengalami hal baik. Pertentangan yang terjadi di suku Bugis karena adanya iri terhadap kehidupan Bissu. Pada masa kerajaan seorang Bissu atau pendeta waria memiliki ekonomi dan status sosial yang tinggi, mereka difasilitasi oleh kerajaan yang ada di sana. Begitu banyaknya orang yang memperhatikan atau menghormati Bissu membuat terjadinya sebuah tragedi yang terjadi di tahun 1950. Pada tahun 1950 Bissu pernah mengalami perpecahan akibat pemberontakan yang dilakukan oleh DI/T II yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Hal tersebut terjadi karena Kahar tidak menyukai keberadaan Bissu. Kejadian tersebut membuat Bissu banyak terbunuh serta saat ini mengalami kekurangan anggota. Terbunuhnya seorang Bissu membuat anggota pendeta waria saat ini menurun dan tidak banyak lagi. Perlakuan baik dan buruk telah di terima oleh seorang Bissu, termasuk saat ia belum masuk ke dalam anggota kelompok pendeta waria.

Penelitian ini membahas mengenai subaltern yang dialami oleh transgender dalam suku Bugis. Novel dengan judul Calabai “Perempuan dalam Tubuh Lelaki” oleh Pepi Al-Bayqunie adalah pemenang ajang penghargaan kesusastraan Indonesia kusala sastra khatulistiwa pada tahun 2016-2017. Novel Calabai diambil dari kisah nyata di suku Bugis, provinsi Sulawesi Selatan. Suku Bugis sering memanggil Calabai dengan sebutan wadam (singkatan dari wanita adam). Novel ini berkisah mengenai tokoh utama bernama Saidi memiliki keistimewaan yang tidak dapat diterima oleh suku Bugis. Keistimewaan yang diberikan sang pencipta kepada Saidi adalah sesuatu yang bisa membuat orang merinding. Ia memiliki tubuh lelaki sejati

(4)

namun perilaku dan tingkah laku yang ditunjukkan sama seperti perempuan.

Bisa dikatakan bahwa tabiat perempuan menguasai dalam tubuh Saidi dan membuatnya memiliki gejolak di dalam hatinya. Penyebab gejolak dalam hati Saidi disebabkan karena kedua orang tua dan masyarakat disekitar yang tidak dapat menerima dirinya.

Keunikan dalam novel Calabai “Perempuan dalam Tubuh Lelaki”

dapat dilihat dari perjuangan yang dilakukan oleh tokoh utama. Pada sosoknya yang kurang sempurna ia bisa menghadapi cacian serta perlakuan yang kurang mengenakkan dari masyarakat sekitar dan menjadi orang yang sangat berpengaruh di Sulawesi Selatan. Sangat banyak sekali hal-hal yang dapat di contoh dari Saidi. Salah satunya adalah saat Saidi menyikapi masyarakat Bugis yang memandang rendah dirinya, serta masyarakat tidak dikenal ikut menindasnya. Bukan hanya itu Saidi harus dihadapkan oleh orang tua yang tidak mau menerima anak yang ditentang oleh suku Bugis. Penindasan yang dialami Saidi menjadi motivasi untuk bisa membuktikan bahwa Calabai pun bisa sukses dan dihormati oleh semua orang.

Penelitian mengenai perilaku sosial pascakolonial atau pun subalten yang tidak banyak dilakukan sebelumnya. Penelitian terdahulu yang dilakukan antara lain adalah “Pribumi Subaltern dalam Novel-Novel Indonesia Pascakolonial” oleh Bahardur (2017) dengan hasil penelitian, ditemukan

mengenai bentuk penjajahan pada pribumi sebagai subaltern khususnya perempuan, serta wujud perjuangan perempuan pribumi subaltern melawan pemikiran para kolonial. Bentuk-bentuk penindasan kolonial terhadap perempuan pribumi meliputi permarginalan, pemiskinan secara ekonomi,

(5)

stereotip, dan pelecehan secara seksual. Sedangkan bentuk-bentuk perjuangan perempuan melawan ideologi kolonial dilakukan melalui semangat dengan mengingat kembali kemenangan di masa lampau, mempraktikkan ilmu yang di peroleh melalui pendidikan modern, mempertahankan nilai-nilai tradisi dan budaya, serta mimikri. Kemudian penelitian selanjutnya “Genealogi Kajian Pascakolonialisme dalam Khazanah Kritik Sastra Arab” oleh Futaqi (2019)

dengan hasil penelitian ditemukan kajian pascakolonialisme masuk ke dalam khazananh kritik sastra arab melalui karya terjemahan, mahasiswa yang belajar di Amerika atau Eropa. Kritik sastra Arab masih sebatas sebagai konsumen dan bukan kreator.

Penelitian lain mengenai novel Calabai “Perempuan dalam Tubuh Lelakií” karya Pepi Al-Boyqunie pernah diteliti Ratnawati (2018) dengan

judul “Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel Calabai Karya Pepi Al- Bayqunie” dengan hasil penelitian bahwa terdapat konflik batin yamg terjadi

di dalam novel konflik tersebut terjadi karena adanya kontradiksi antara yang tidak sesuai dengan harapan, bimbang dalam menghadapi persoalan serta harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Jenis konflik yang dihadirkan adalah konflik batin mendekat-dekat, konflik batin mendekat-menjauh, dan konflik menjauh-jauh. Perbedaan dengan penelitian ini adalah terdapat diskriminasi dari masyarakat sekitar yang dialami oleh kaum calabai selain konflik batin.

Terdapat juga penyimpangan dalam diri tokoh.

Penelitian ini ditemukan karena mengandung permasalahan sosial dalam novel Calabai “Perempuan dalam Tubuh Lelaki” mengenai subaltern atau penindasan dilakukan oleh pihak dominan dan terdominasi yang diterima

(6)

tokoh utama dari masyarakat. Perilaku sosial sering dialami oleh kaum transgender yang termarginalkan dalam suku Bugis. Subaltern atau penindasan yang dialami kaum transgender pro dan kontra bagi masyarakat Bugis.

Pasalnya ada yang menganggap bahwa Calabai adalah sebuah anugerah yang dikirim tuhan sebagai perantara antara manusia dan makhluk lainnya. Adanya peneliti ini dapat dijadikan refrensi untuk menyelesaikan permasalahan mengenai kebudayaan yang sering terjadi di masyarakat supaya dapat hidup bersama.

B. Rumusan Masalah

Permasalahan di atas mendasari dua rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penggambaran perilaku tokoh transgender dalam tradisi Bugis Bissu pada novel Calabai “Perempuan dalam Tubuh Lelaki” karya Pepi Al-Bayqunie?

2. Bagaimana gambaran relasi tokoh transgender dalam tradisi Bugis Bissu pada novel Calabai “Perempuan dalam Tubuh Lelaki” karya Pepi Al- Bayqunie?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan masalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan penggambaran perilaku tokoh transgender dalam tradisi Bugis Bissu pada novel Calabai “Perempuan dalam Tubuh Lelaki” karya Pepi Al-Bayqunie.

2. Mendeskripsikan gambaran relasi sosial tokoh transgender dalam tradisi Bugis Bissu pada novel Calabai “Perempuan dalam Tubuh Lelaki” karya Pepi Al-Bayqunie.

(7)

D. Manfaat Penelitian

Peneliti mengharapkan agar penelitian ini memiliki manfaat baik secara teoritis maupun praktis.

1. Secara teoretis

a) Memperbanyak mengenai kajian sastra khususnya tentang ilmu pascakolonial.

b) Memberikan tambahan refrensi mengenai kajian subaltern yang terdapat dalam karya sastra.

2. Secara praktis

a) Manfaat untuk penulis dapat menambah wawasan mengenai tradisi yang ada di suku Bugis mengenai Bissu sehingga memiliki perspektif yang luas.

b) Manfaat bagi pembaca diharapkan untuk memiliki toleransi yang tinggi terhadap perbedaan gender yang terdapat di masyarakat, supaya tidak saling mengucilkan satu sama lain akibat perbedaan tersebut.

c) Manfaat bagi pembelajaran rasa toleransi yang harus dimiliki oleh masyarakat terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan, tanpa ada mengucilkan satu dengan yang lain supaya saling hidup berdampingan dengan aman dan nyaman.

E. Penegasan Istilah

Untuk membahas permasalahan dalam penelitian ini, perlu penegasan beberapa kata kunci yang pengertian dan pembatasannya perlu dijelaskan.

1. Transgender

Transgender atau sering disebut sebagai waria merupakan orang dengan identitas gender berbeda dengan seksnya yang ditunjukkan sejak lahir. Kelompok

(8)

transgender biasanya menerima perlakukan dominan dari masyarakat. Perlakuan dominan yang diterima dari masyarakat berupa diskriminasi seperti kekerasan, dan terbatasnya akses dari beberapa pelayanan masyarakat (Widiastuti, 2016:83).

2. Bissu

Bissu merupakan sekelompok orang yang dipercayai memliki hubungan dengan dunia mistik. Menurut Trianto (dalam Suliyati, 2018:52) tugas seorang Bissu adalah sebagai pendeta atau pemangku adat. Selain sebagai jembatan antara dunia manusia dan dewa Bissu dianggap menjadi manusia sakti yang sangat diagung-agungkan masyarakat.

3. Novel

Novel merupakan bagian dari prosa memiliki cerita panjang. Rini (2015:3) menyatakan bahwa konflik dalam novel biasanya disebabkan oleh faktor internal dan eksternal dalam cerita. Sehingga cerita tersebut menjadi lebih kompleks dan menarik untuk diteliti atau sekedar dibaca.

4. Penggambaran Perilaku Tokoh di Novel

Tingkah laku atau perilaku tokoh merupakan keadaan jiwa yang melatarbelakangi hampir seluruh tingkah laku manusia (Dirgagumarsa dalam Wibawa, 2009:11). Penggambaran perilaku transgender tokoh utama yang bernama Saidi dalam novel berasal dari individu atau diri sendiri yang terlihat dari cara berpakaian yang digunakan, tingkah laku atau gerak gerik yang dilakukan, psikis, dan dari pergaulan.

5. Relasi Sosial Tokoh di Novel

Relasi sosial merupakan hubungan yang terjalin antara perorangan dengan perorangan atau kelompok masyarakat (Hidayati, 2007:31). Relasi sosial biasanya

(9)

terjalin karena adanya status dan kedudukan sosial namun, berbeda dengan relasi yang terjalin dalam novel dengan masyarakat sekitar. Relasi sosial tokoh utama dengan masyarakat tidak begitu lancar, dikarenakan tokoh utama mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari masyarakat.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan harapan hasil penelitian ini akan menjadi bahan kajian para remaja dalam bergaul dengan teman sebayanya agar sesuai dengan etika yang benar akan

Dalam peristiwa-peristiwa konflik sosial yang terjadi terutama kasus yang mengatasnamakan agama, peneliti memandang bahwa pemikiran- pemikiran Nurcholis Madjid (Cak

Pada bab ini akan dibahas mengenai apa persoalan sesungguhnya yang terjadi antara India dan Pakistan dalam masalah Kashmir, serta cara penyelesaian sengketa Kashmir antara India

Falsafah penelitian dalam bahasa Jerman das sein das sollen, artinya ada kesenjangan yang terjadi antara kenyataan dan harapan yang ideal. Dalam konteks penelitian

Dampaknya pelaksanaan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak sesuai dengan harapan. Kepala Bidang Rehabilitasi dan Jaminan Sosial, mengungkapkan masalah itu

Mengembangkan desain mutu pelayanan unit rawat inap RSMC yang sesuai dengan harapan pelanggan dengan menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD)..

Agar persiapan menghadapi keadaan darurat berjalan baik, maka perlu dinilai kesiapan gedung bertingkat tersebut dalam menghadapi keadaan darurat agar tidak terjadi

Sesuai dengan pokok persoalan dalam penelitian mengenai peran Remaja Islam Masjid al-Manar dalam peningkatan dakwah Islam Di Desa Wonosari Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur ,