• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia.

Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosiokultural maupun geografis yang begitu kompleks, beragam, dan luas. Prinsip dan Heterogenitas negara Indonesia diikat dalam Pancasila dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Kemajemukan dan perbedaan bangsa Indonesia merupakan suatu keunikan tersendiri yang menjadi identitas Negara Indonesia. Bersatu dalam perbedaan harus disadari oleh setiap orang sebagai suatu kekuatan dan kerukunan beragama, berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, kemajemukan terkadang memiliki potensi yang besar untuk terjadinya konflik antar kelompok, etnis, agama, dan suku bangsa. Hal ini mulai dikhawatirkan karena muncul indikasi kearah yang dikhawatirkan. Salah satu dari indikasinya yaitu mulai tumbuh suburnya berbagai organisasi kemasyarakatan, profesi, agama dan organisasi lainya yang berjuang dan bertindak atas nama kepentingan kelompoknya atau kepentingan lainnya yang memicu konflik sosial yang bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan).

Agama pada dasarnya merupakan pedoman hidup bagi manusia yang terdiri atas nilai-nilai kebaikan, namun agama terkadang menjadi pemicu dan sangat rentan memunculkan persoalan-persoalan konflik/ intoleransi (Kahmad, 2002: 151). Konflik yang berlatar belakang agama tersebut bukan dipicu oleh ajaran agamanya, tetapi dipicu oleh umat beragama yang memahami ajaran agamanya secara ekstrem dan menjadikan agama sebagai legitimasi. Burhani (2001: 22) menegaskan bahwa “Ekstrimisme banyak menjalar dan agama merupakan medan yang paling subur untuk tumbuhnya tindakan-tindakan itu”.

Tanah yang subur untuk tempat perkembangan radikalisme dan ekstremisme tersebut diantaranya adalah agama Islam, Kristen dan Yahudi (Hendropriyono, 2009: xxix). Pernyataan di atas, setidaknya menjelaskan bahwa agama sangat rentan sebagai tempat tumbuh suburnya ekstremisme. Indonesia bukan merupakan

(2)

2

negara agama, namun “Aktivitas dan semangat beragama penduduk Indonesia mencapai 99% sementara yang menyatakan tidak beragama hanya mencapai 1%”

(Qodir, 2014: 268).

Menurut Khamami Zada (2002) tumbuh suburnya radikalisme di Indonesia disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal umat beragama.

Faktor internal radikalisme tersebut berhubungan dengan pemahaman agama yang ekstrem, sedangkan faktor eksternalnya berkaitan dengan politik dan ekonomi global dan nasional (Sidiq, 2012: 73). Menurut Samuel P. Huntington, faktor eksternal itu disebut sebagai clash of civilization (benturan peradaban) yang menempatkan Islam sebagai musuh Barat dalam bidang politik, ekonomi dan militer (Azra, 2002: 10).

Pernyataan di atas dapat dimaknai, bahwa radikalisme dapat lahir dan tumbuh subur dalam kehidupan umat beragama yang memahami ajaran agamanya secara ekstrem dan menjadikan agama sebagai legitimasi terhadap berbagai masalah benturan peradaban Barat dengan umat Muslim dalam bidang politik dan ekonomi. Pada konflik Internasional, benturan peradaban antara Barat dengan umat Muslim tersebut kemudian melahirkan gerakan-gerakan agama ekstrem dan radikal yang tujuannya sebagai perlawanan atas dominasi negara Barat seperti kelompok Al-Qaeda dan Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) atau Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) yang mengklaim Abu Bakar Al-Baghdadi sebagai khalifah baru umat muslim. Munculnya gerakan radikal seperti ISIS dan kelompok Al-Qaeda, memiliki intensi untuk menjadikan Islam sebagai justifikasi kekuasaan dengan mengabsahkan kekerasan dan diskriminasi (Fajar dalam Komaruddin Hidayat, 2014: 165).

Perkembangan gerakan radikalisme agama seperti ISIS (NISS) diberbagai negara di dunia termasuk Indonesia yang mayoritas muslim telah mendapatkan simpatisan dan dukungan dari kelompok masyarakat tertentu. Bahkan tidak sedikit dari kelompok simpatisan tersebut ikut bergabung bersama dalam mendeklarasikan negara Khilafah atas nama kedaulatan Tuhan versi mereka.

Perkembangan radikalisme tidak terlepas dari percepatan proses global. Menurut David Hell “Globalisasi mempercepat keterhubungan manusia di seluruh dunia

(3)

3

dalam segala aspek kehidupan kontemporer, kulural hingga kriminal, finansial hingga spiritual” (Kalidjernih, 2011: 54). Pernyataan tersebut memberikan suatu bentuk pengertian bahwa globalisasi pada kenyataannya dapat menghubungkan dan memfasilitasi kelompok-kelompok ekstrem radikalis untuk menyebarkan ideologinya dan menunjukkan eksistensinya melalui percepatan proses global via media berbasis teknologi informasi dan komunikasi kepada seluruh masyarakat di dunia. Maka globalisasi secara tidak langsung dapat mendorong penyebaran paham radikalisme diberbagai negara.

Menurut MUI pusat “Radikalisme merupakan paham dan tindakan yang melekat pada seseorang atau kelompok yang menginginkan perubahan, baik bidang sosial, politik dengan menggunakan kekerasan, berpikir asasi dan bertindak ekstrem” (Qodir, 2014: 80). Artinya, paham radikalisme mempunyai rencana dan harapan adanya perubahan dalam kondisi kehidupan masyarakat dengan berpikir asasi dan ekstrem. Lebih lajut, menurut Agus (2014: 155), radikalisme dikelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu:

1) Pemikiran, dalam hal pemikiran radikalisme berfungsi sebagai ide bersifat abstrak dan diperbicangkan sekalipun mendukung penggunaan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan.

2) Tindakan, dalam bentuk aksi atau tindakan, radikalisme telah berwujud pada aksi dan tindakan yang dilakukan oleh aktor-aktor kelompok garis keras dengan cara-cara kekerasan dan anarkis untuk mencapai tujuan utamanya baik bidang keagamaan, sosial, politik dan ekonomi.

Pada level ini, radikalisme mulai bersinggungan dan memiliki unsur- unsur teror sehingga ia berpotensi berkembang dan berproses menjadi terorisme.

Pernyataan di atas dapat dimaknai, bahwa konflik yang terjadi dalam beragama bukan karena ajaran agamanya namun karena umat beragama yang ekstrem dan menjadikan agama sebagai legitimasi pada masalah politik dan ekonomi. Dimana radikalisme dapat berbentuk pemikiran dan dapat berbentuk tindakan. Radikalisme sebagai bentuk pemikiran apabila dalam perkembanganya tidak dapat dinetralisir maka akan berproses pada radikalisme dalam bentuk aksi dan berpotensi menjadi terorisme.

Perkembangan radikalisme juga menyasar di negara Indonesia, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Islam dan

(4)

4

Perdamaian (LaKIP) Jakarta pada tahun 2011 sungguh mengejutkan, hampir 50%

siswa di Jabodetabek menyatakan persetujuannya terhadap aksi radikal. Seperti dilansir berita online BBC Indonesia bahwa:

Survei tentang radikalisme yang dilakukan di 100 sekolah menengah di Jakarta dan sekitarnya menunjukkan hampir 50% pelajar mendukung cara- cara keras dalam menghadapi masalah moralitas dan konflik keagamaan.

Bahkan, belasan pelajar menyetujui aksi bom bunuh diri. Survei ini dikerjakan sejak Oktober 2010 hingga Januari 2011 oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo --yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam

Negeri (UIN) Jakarta. (Sumber:

http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/04/110426_surveir adikalisme.shtml, diakses pada 17 Desember 2014).

Radikalisme juga terjadi di kota solo dan sekitarnya. Menurut Ikhwanuddin Syarif, Tim Ahli Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Sumber Daya Manusia (LPPSDM), mengatakan bahwa:

Kota Solo dinilai sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi lokasi berkembangnya gerakan-gerakan radikal. Karena itu Solo diprioritaskan sebagai sasaran dalam program deradikalisasi yang diadakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Sumber Daya Manusia (LPPSDM).

(Septhia Ryanthie, 2012. http://www.solopos.com/2012/03/31/gerakan- radikal-solo-berpotensi-jadi-lahan-radikalisme-174889/comment-page-1 diakses pada 17 Desember 2014).

Berkenaan dengan perkembangan radikalisme di kota Solo, Mansour fakih (2007) mengungkapkan bahwa “Persemaian berbagai macam gerakan sosial, dari yang paling kiri, sampai yang paling kanan. Dalam bahasa lain dapat dikatakan bahwa Surakarta merupakan lahan yang subur untuk tumbuhnya gerakan radikal Islam dan komunisme kiri” (Qodir, 2014: 9). Lebih lanjut, menurut hasil penelitian Ahmad Gaus (2013: 186) terkait pemetaan radikalisme di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Surakarta, menemukan fakta bahwa:

Di SMA Negeri 1 Surakarta, transmisi ideologi dilakukan melalui metode kajian Halaqoh untuk siswa kelas 1 (X) SMA. Pada mulanya proses rekrutmen itu bermula pada masa orientasi siswa atau MOS. Transmisi pengetahuan yang terjadi dilingkungan SMA Negeri 1 Surakarta ini dilakukan dengan dibantu oleh organisasi yang berada diluar sekolah.

Organisasi yang dimaksud adalah pondok pesantren Daarussalaf Ibn Taimiyyah, di kawasan Ngruki, Grogol, Sukoharjo….. Adanya

(5)

5

kecenderungan transmisi gerakan salaf ini mendapatkan pembenaran ketika transmisi pengetahuan itu bersumber dari ponpes Daarussalaf Ibn Taimiyyah; salah satu pondok pesantren salaf di kota surakarta. Dari fakta ini dapat ditarik kesimpulan bahwa sekolah, dalam hal ini SMA Negeri 1 Surakarta telah menjadi ruang kontestasi dari sekian ideologi keagamaan yang ada di Surakarta.

Pernyataan di atas dipertegas oleh salah satu alumni SMA Negeri 1 Surakarta yang sekarang sebagai Mahasiswi Fakultas Pertanian di salah satu Universitas favorit kota surakarta, berdasarkan hasil wawancara pada saudari Anis, menyatakan bahwa SMA Negeri 1 Surakarta memang berpaham salaf, dan kebanyakan yang mengisi dakwah adalah ustadz dari kelompok salaf yang literal dan sulit dipahami, sehingga banyak teman-teman yang tidak mengerti konteks bahasanya yang terlalu tinggi dan menjadi takut karena mengkaji Islam secara mendalam dari penafsiran mereka (Wawancara, 27 Desember 2014).

Salafi merupakan Islam yang murni dan bebas dari penambahan, pengurangan dan perubahan. Dakwah Salafi mengajarkan ketaatan yang total (kaffah). Al-Ustaz Muhammad Umar Al-Sewed menjelaskan bahwa:

Kelompok dakwah salafi cenderung menolak konsep politik nation state dan juga demokrasi. Mereka menghendaki agar sistem politik dikembalikan kepada supremasi syariat Islam….Konsep negara versi mereka terbatas pada ide negara Islam Ibnu Taimiyah, Al-Mawardi, Al- Juwaini, Ibnu Qayyim dan ulama-ulama sealiran yang hanya menekankan pada penerapan syariat Islam, baiat dan konsep penguasaan yang adil (Rahmat, 2005: 146).

Paham keagamaan yang demikian, menurut Qodir (2013: 52) dalam analisanya terhadap gerakan radikal di kalangan anak muda disebut dengan istilah gerakan radikalisme keagamaan non-mainstream, yaitu suatu paham agama yang mana berbeda dengan mainstream-nya. Gerakan keagamaan di Indonesia yang sesuai dengan mainstream-nya adalah NU dan Muhammadiyah (Syaiful Arif, 2010: 1-2). Mainstream adalah “Paham yang dianut mayoritas umat, atau lebih tepat, mayoritas ulama dan lebih tepat lagi, golongan ulama yang dominan”

(Qodir, 2014: 7). Lebih lanjut, Zuly Qodir dalam bukunya yang berjudul Radikalisme Agama (2014: 8-9) menyatakan bahwa:

(6)

6

Gerakan keagamaan non-mainstream adalah gerakan Islam diperjuangkan bukan sebagai konsep agama, tetapi sebagai ideologi total (kaffah) sesuai yang dipraktikan pada zaman Rassululah atau menjalankan Sunah Rasul secara keseluruhan. Hal ini merupakan gerakan keagamaan yang menjadi jangkar dan medan transformasi sosial yang berpotensi memunculkan kontroversi di kalangan masyarakat.

Gerakan keagamaan non-mainstream di atas, antara lain “Majelis Tafsir Al-Quran Surakarta, MMI, FPI, radikalisasi Islam di kampus, radikalisasi Islam di sekolahan dan radikalisasi Islam di kalangan kaum muda” (Qodir, 2014: 29) .

Menurut Greg Fealy bahwa:

Secara umum dan tentatif, tumbuhnya gerakan-gerakan baru non- mainstream ini mengambil dua bentuk. Pertama, gerakan non salafi yang mengikatkan diri dengan semangat mewujudkan doktrin secara kaffah dalam arti literal. Kedua, gerakan salafi yang mewujudkan cita-cita sosial politik Islam yang berbeda dengan formulasi gerakan Islam mainstream (Qodir, 2014: 27).

Hal ini kemudian dipertegas Said (2011) bahwa:

Gerakan-gerakan Islam non-mainstream dalam kelompok Non-Salafi adalah Darul Arqam, Jam’ah Tabligh, Ihwanul Muslimin, Isa Bugis, IJABI (Ikatan Jamaah Ahlu al Bait Indonesia), FPI, DI, Hizbut Tahrir, dll.

Sedangkan yang masuk dalam kelompok salafi adalah (Majelis Mujahidin Indonesia), Laskar Jihad, Jamaah Islamiyah, dan grub-grub informal seperti Abdul Hakim Haddad, Yazid Jaws, Husein As-Sewed, dan lain- lain; sementara yang masuk kelompok-kelompok pengajian, diantaranya Daurah, Halaqah, dan lain-lain (Qodir, 2014: 28).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa radikalisme dalam bentuk pemikiran telah berkembang di berbagai wilayah negara Indonesia, termasuk wilayah Surakarta yang mana terkenal sebagai persemaian dan tempat tumbuh suburnya gerakan radikalisme. Hasil pemetaan radikalisme di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Surakarta, menunjukkan bahwa SMA Negeri 1 Surakarta menjadi salah satu ruang kontestasi ideologi dari sekian banyak ideologi yang berkembang di Surakarta. Kontestasi Ideologi tersebut terjadi melalui kegiatan keagamaan berbentuk Halaqoh, yaitu kelompok pengajian kaderisasi dijenjang anggota pendukung pemikiran Ibnu Taimiyah.

(7)

7

Radikalisme agama di Indonesia tidak sejalan dengan aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Sebagaimana pendapat Yudi Latif, bahwa:

Dengan semangat dasar kelima prinsip Pancasila, negara atau bangsa Indonesia memiliki pandangan dunia yang begitu visioner dan tahan banting. Prinsip-prinsip dalam pancasila pada dasarnya mampu mengantisipasi dan merekonsiliasikan antara paham kenegaraan radikalisme sekularis dan radikalisme keagamaan… (Komaruddin Hidayat, 2014: 268).

Maksudnya, Pancasila dapat menjadi jawaban terhadap permasalahan antara paham radikalisme sekularis dan radikalisme keagamaan.

Menurut Abegebriel (2004) sikap seseorang yang radikal ditandai dengan empat hal, yaitu:

1) sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, 2) sikap fanatik, yaitu selalu merasa benar sendiri, menganggap orang lain salah, 3) sikap eksklusif, yaitu membedakan diri dari kebiasaan kebanyakan, dan 4) sikap revolusioner, yaitu cenderung memakai kekerasan untuk mencapai tujuan (Rosidin, 2014: 15).

Dari empat hal di atas, tampak bahwa salah satu aspek yang turut membentuk lahirnya radikalisme adalah sikap tidak toleran.

Tumbuh suburnya pemikiran tentang radikalisme di kalangan pelajar merupakan suatu ancaman terhadap ketahanan negara, sebab radikalisme berkorelasi dengan aksi kekerasan dan bahkan dalam prosesnya berpotensi pada tindakan terorisme. Seorang yang radikal belum tentu seorang teroris, namun seorang teroris sudah pasti radikal. Maksudnya, akar dari tindakan teroris adalah pemikiran tentang radikalisme. Oleh karena itu, akibat dari seorang atau kelompok yang memiliki pemikiran tentang radikalisme dalam prosesnya dapat berpotensi menjadi ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maka diperlukan strategi pencegahan awal (preventif) terhadap perkembangan paham radikalisme. Strategi pencegahan awal dalam menangkal radikalisme dapat dilakukan dengan cara deradikalisasi. Menurut International Crisis Group (2007) “Deradikalisasi dapat berkaitan dengan proses menciptakan lingkungan yang mencegah tumbuhnya gerakan-gerakan radikal dengan cara

(8)

8

menanggapi “root cause” (akar-akar penyebab) yang mendorong tumbuhnya gerakan-gerakan radikal” (Rokhmad, 2014: 29).

Deradikalisasi sebagai upaya pencegahan perkembangan paham radikalisme dapat dilakukan dengan mengedepankan prinsip multikultural. Salah satu wujudnya adalah dengan saling menghormati dan bersikap toleransi terhadap keragaman yang ada (Yusuf Qardlawi dalam Rosidin, 2014: 2). Lebih lanjut, Masduqi (2011: 5-6) menambahkan bahwa :

Toleransi sangat perlu diwacanakan di masyarakat guna meminimalkan kekerasan atas nama agama yang akhir-akhir ini semakin marak terjadi, baik di luar maupun di dalam negeri. Toleransi semakin mendesak dibumikan dalam rangka mewujudkan koeksistensi, yakni kesadaran hidup berdampingan secara damai dan harmonis ditengah-tengah masyarakat Indonesia yang beragam. Bahkan bisa dikatakan bahwa keberlangsungan Bhinneka Tunggal Ika dan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya penerimaan terhadap keberbedaan tergantung pada sejauh mana toleransi diterima di masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa salah satu aspek yang menyebabkan tumbuh suburnya perkembangan radikalisme adalah sikap tidak toleran. Sehingga perlu adanya usaha dalam membentuk dan membina sikap toleransi guna menangkal perkembangan paham radikalisme di Indonesia.

Toleransi tidak hanya sebatas hubungan antar umat beragama, namun juga hubungan antar warga negara Indonesia yang harmoni, damai dan sejahtera.

Usaha menetralisir atau mencegah perkembangan paham radikalisme ini disebut sebagai deradikalisasi.

Toleransi merupakan salah satu dari 18 (delapan belas) nilai karakter yang harus ditanamkan dan dibina kepada seluruh warga negara Indonesia. Nilai-nilai karakter tersebut lahir dari pandangan hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Tanpa usaha mewariskan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda melalui pandidikan maka tindakan radikalisme akan menyebabkan kehancuran Negara seperti yang telah terjadi di berbagai negara timur tengah pada sekarang ini.

Berkenaan dengan pembentukan sikap toleran, Haryatmoko (2007) menjelaskan bahwa “Sikap toleransi tidak akan datang begitu saja dalam pemikiran dan kesadaran seseorang atau masyarakat. Sikap yang toleran merupakan akumulasi

(9)

9

dari proses pembelajaran dan pembiasaan yang panjang” (Naim & Sauqi, 2010:

106). Artinya cara pandang yang toleran adalah hasil dari pembelajaran dan pengasahan kesadaran yang dilakukan terus-menurus. Dengan demikian, pendidikan menjadi salah satu usaha terbaik dalam membentuk sikap toleransi.

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana dalam membentuk sikap warga negara. Hal ini dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pada pasal 3 tentang fungsi pendidikan nasional, yang berbunyi:

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta betanggung jawab.

Ketentuan di atas menjelaskan bahwa pendidikan berfungsi sebagai suatu proses membentuk watak peserta didik menjadi seseorang yang berguna, baik secara fisik maupun pemikirannya agar dapat menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dalam hal ini pendidikan sangat berguna untuk membina sikap peserta didik sebagai sebuah tujuan membentuk watak warga negara guna menciptakan kemajuan bangsa dan bernegara. Maka Guru sebagai pendidik atau agen pembelajaran mempunyai peran besar dalam pembentukan citra dan masa depan bangsa. Sebagaimana pendapat Wringhtman

“Peran Guru adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya”

(Usman, 2005: 4). Pengertian tersebut mengisyaratkan bahwa guru sebagai pendidik mempunyai peran yang penting dalam membentuk sikap dan tingkah laku siswa.

Pendidikan yang syarat dengan muatan sikap adalah Pendidikan Kewarganegaraan. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Pendidikan dasar dan Menengah yang menyatakan bahwa:

Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian cakupan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak,

(10)

10

dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia. Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan, jiwa dan patrotisme bela negara, penghargaan terhadap hak asasi manusia, kemajemukan bangsa.

Nu’man Somantri (2001) mengartikan bahwa:

Pendidikan kewarganegaraan adalah seleksi, adaptasi dari lintas disiplin ilmu-ilmu sosial, ilmu kewarganegaran, humaniora, teknologi, agama, kegiatan dasar manusia (basic human activities) yang diorganisir dan disajikan secara psikologi dan ilmiah untuk ikut mencapai salah satu tujuan pendidikan ilmu pengetahuan sosial dan tujuan pendidikan nasional (Wuryan dan Syaifullah, 2008: 78).

Pernyataan di atas dapat dimaknai, bahwa pendidikan Kewarganegaraan merupakan kelompok mata pelajaran yang berkewajiban meningkatkan kesadaran peserta didik. Kemajemukan bangsa dalam Pendidikan Kewarganegaraan selalu berhubungan dengan sikap toleransi warga negara. Berkenaan dengan sikap toleransi, PKn mengajarkan toleransi dalam hal beragama dan bernegara sebab PKn merupakan mata pelajaran yang kaya akan materi dan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang keilmuan.

Menurut Abdul Darraz (2014: 154) “Lemahnya peran pendidikan kewargaan di sekolah-sekolah umum negeri, telah memberikan ruang terbuka bagi berbagai gerakan radikal keislaman untuk menginfiltrasi ideologi radikal di kalangan pelajar”. Senada dengan hal itu, Hery Nugroho, Direktur Center for Education Studies Jawa Tengah, mengatakan bahwa “Ada 2 mata pelajaran yang bisa mempersempit ruang penyebaran paham radikal: pelajaran agama dan kewarganegaraan. Dengan catatan, materi kedua pelajaran itu dan gurunya perlu menekankan betul pentingnya sikap inklusif dan penghargaan terhadap keberagaman” (Sumber: Ririn Agustia dan Martha, 2011.

http://kliping.kemenag.go.id/downloads/aeb0d7e9282885bcb6dba249bb2e91d7.p df, diakses pada 23 Desember 2014). Pernyataan di atas dapat dimaknai, bahwa peran guru pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dirasa sangat penting dalam mencegah dan menetralisir paham radikalisme di kalangan pelajar yang notabene sebagai generasi penerus bangsa Indonesia. Usaha menetralisir dan mencegah paham radikalisme pelajar ini, disebut sebagai deradikalisasi.

(11)

11

Sehubungan dengan hal itu, menurut Muhari, pendidik pelajaran PPKn kelas Akselerasi, XI, dan XII SMA Negeri 1 Surakarta, bahwa:

Peran guru dalam membentuk sikap toleransi siswa itu lebih memfokus pada saat pembelajaran di kelas. Pada kegiatan belajar mengajar di kelas, siswa diberikan penguatan sikap toleransi secara aktual. Di kelas XI, pembentukan sikap toleransi siswa masuk materi tantangan integrasi nasional. Dalam proses pembelajaran itu, guru memberikan penguatan toleransi, sedangkan mencegah radikalisme atau deradikalisasinya seperti yang mas sampaikan tadi itu, dilakukan dengan dialog atau diskusi pada peserta didik terhadap peristiwa radikalisme, namun tidak disinggung secara detail hanya disampaikan lewat gambar aksi demonstrasi yang anarkis, tindakan terorisme, perkelahian pelajar, dan lain-lain. Sedangkan pelaksanaan pembelajaran yang saya lakukan sesuai dengan pedomannya saja, RPP (wawancara, Rabu, 11 Maret 2015).

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian lebih lanjut dari peran guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pada proses pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui peran guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam membentuk sikap toleransi sebagai upaya deradikalisasi kepada peserta didik di SMA Negeri 1 Surakarta. Maka dari itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian skripsi yang berjudul “Peran Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Dalam Membentuk Sikap Toleransi Sebagai Upaya Deradikalisasi Pada Peserta Didik (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Surakarta)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana peran guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam membentuk sikap toleransi sebagai upaya deradikalisasi pada peserta didik di SMA Negeri 1 Surakarta?

2. Apa saja faktor penghambat dan pendukung guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam membentuk sikap toleransi sebagai upaya deradikalisasi di SMA Negeri 1 Surakarta?

(12)

12

3. Bagaimanakah dampak peran guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam membentuk sikap toleransi sebagai upaya deradikalisasi di SMA Negeri 1 Surakarta?

C. Tujuan penelitian

Penelitian ini memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mendiksripsikan peran guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam membentuk sikap toleransi sebagai upaya deradikalisasi pada peserta didik di SMA Negeri 1 Surakarta.

2. Untuk menjelaskan faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam membentuk sikap toleransi sebagai upaya deradikalisasi di SMA Negeri 1 Surakarta.

3. Untuk mengetahui dampak peran guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam membentuk sikap toleransi sebagai upaya deradikalisasi di SMA Negeri 1 Surakarta.

D. Manfaat Penelitian

Di dalam penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat, baik secara teoretis maupun secara praktis. Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoretis

a. Hasil penelitian ini memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya bidang studi yang sesuai dengan penelitian ini.

b. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pembanding bagi siapa saja yang ingin mengkaji lebih dalam lagi tentang pembentukan sikap toleransi terhadap upaya deradikalisasi.

(13)

13

2. Manfaat Praktis

a. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan sebagai acuan dalam meningkatkan mutu pendidikan dan kinerja guru pada proses pembelajaran untuk melakukan upaya deradikalisasi pada peserta didik.

b. Bagi guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, penelitian ini sebagai masukan untuk meningkatkan perannya dalam membina dan membentuk sikap toleransi siswa sebagai upaya deradikalisasi pada peserta didik.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan dari berbagai data yang te- lah diperoleh mulai dari pratindakan dan data dari tindakan yang dilaksanakan dalam siklus I, siklus II dan siklus III, maka dapat

Hasil penelitian kepuasan kerja karyawan menunjukkan bahwa persentase yang diperolah dari jawaban responden secara keseluruhan adalah sebesar 46,8% dari jumlah

Triwurhana Nilasari Putri (2014) menyatakan bahwa usaha preventif dalam menangani pelanggaran siswa menitikberatkan pada pembinaan moral dan membina kekuatan mental

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, hidayah serta inayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis

Dengan demikian Agama adalah suatu kepercayaan atau keyakinan yang dianut oleh masyarakat menjadi norma dan nilai yang diyakini dan dipercaya. Agama diakui sebagai

Berkaca pada hal di atas, maka Pondok Pesantren Darussalam sebagai salah satu lembaga yang konsen dalam menjalankan pendidikan merasa berbahagia dengan adanya

Perancangan basis data logikal menurut Connoly dan Begg (2002, p294) adalah proses pembentukan suatu model informasi yang digunakan dalam perusahaan berdasarkan pada model data

Dari kajian evaluasi proses, evaluasi formatif, dan evaluasi sumatif yang telah dilakukan. Dapat disimpulkan bahwa pemerintahan Provinsi Banten memiliki komitmen yang