• Tidak ada hasil yang ditemukan

INISIATIF PEMBANGUNAN RENDAH EMISI DI PROVINSI PAPUA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "INISIATIF PEMBANGUNAN RENDAH EMISI DI PROVINSI PAPUA"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

INISIATIF PEMBANGUNAN RENDAH EMISI DI PROVINSI PAPUA

Disampaikan Oleh:

Augustinus Rumansara dan John Mampioper

SATGAS Pembangunan Rendah Karbon di Provinsi Papua

(2)

OUTLINE

1. Perobahan iklim dan Pembangunan rendah Emisi 2. Komitmen Indonesia untuk penurunan emisi

3. Komitmen Papua untuk menurunkan Emisi GRK dan 4 Strataegi Utama 4. Upaya Pembangunan Rendah Karbon di Papua

a.Pembentukan Satuan Tugas Pembangunan Rendah Karbon Papua b. RAD GRK Provinsi Papua

c. SRAP REDD+ Papua - REL Papua

- Identifikasi Penyebab Emisi

- Rencana Aksi Mitigasi Provinsi Papua

5 . Kontribusi Aksi Mitigasi Provinsi Papua Terhadap Penurunan Net Emisi 6. Kondisi Pemungkin (Enabling Conditions)

7. Prakondisi yang diperlukan (penutup)

(3)

Perubahan Iklim dan Pembangunan Rendah Emisi

(4)

Pemanasan bumi

Sinar matahari yang

mengadung radiasi infrared (panas) :

• sebagian kecil

terrefleksi kembali oleh atmosfir bumi.

• sebagian besar yang menembus ke

permukaan bumi,

teperangkap oleh Gas Rumah Kaca (GRK) yang telah ada di atmosfir,

Pemanasan Bumi dan GRK

4

(5)

GRK Utama Asal industri Asal Degradasi hutan/lahan Carbon dioxide (CO

2

) Bahan bakar fosil dan

pembuatan semen

Penggundulan dan pembakaran hutan Mathane (CH

4

) Penimbunan lahan,

penambangan batu bara, produksi gas alam

Konversi lahan basah, sawah, peternakan

Nitrous Oxide (NO

3

) Bahan bakar fosil dan produksi nitrit

Penggunaan pupuk dan pembakaran biomasa

Hydrofluorocarbons (HFCs)

Proses industri dan

pabrik -

Perfluorocarbons (PFCs) Proses indsutri dan

pabrik -

Sulphur hexafluoride (SF

6

)

Sistem transmisi dan

distribusi listrik -

Gas rumamah kaca (GRK) utama dan asal aktivitas manusia

5

(6)

Laju penimbunan CO2 dalam atmosfir

Dalam 50 thn terakhir, konsentrasi CO2 tumbuh lebih cepat dibandingkan sebelumnya bertambah dengan 1,5 – 2 ppm/thn.

6

(7)

Emisi karbon per Sektor

7

(8)

Hasil Emisi GRK berdasar Kemajuan Pembangunan

8

(9)

Kenaikan suhu bumi

• Suhu rata-rata bumi telah naik 0,74 0 C sejak 1850.

• 11 dari 12 tahun terakhir merupakan yang terpanas sejak 1850.

Perobahan Iklim

• Tanda-tanda perobahan Iklim telah terjadi

9

(10)

Mengapa Pembangunan Rendah Karbon ?

1. Emisi Karbon dan GRK lainnya menyebabkan pemanasan global 2. Pemanasan global menyebabkan perobahan iklim

3. Perobahan iklim menyebabkan bencana alam seperti banjir, longsor, gagal panen dsbnya.

4. Terjadi apa yang disebut “positive feedback loop” yaitu percepatan sebab-akibat bencana terus menerus yang intesitasnya makin

meningkat.

5. Solusinya: a. upaya-upaya adaptasi (pengelolaan das, penanaman pohon, , b. upaya mitigasi (REDD, renewable energy dsbny).

6. Secara global penggundulan dan degradasi hutan mempunyai kontribusi sekitar 20-30 % dalam peningkatan emisi karbon.

10

(11)

Pengertian LCD

• Ada banyak istilah yang dipakai: Low-Carbon

Development (LCD), atau Low Carbon Economy(LCE) atau Low-Fossil-Fuel Economy (LFFE) yaitu suatu model

pembangunan ekonomi yang menghasilkan GHG , khususnya CO2 yang minimal ke biosfir

• Sebuah model ekonomi yang mengutamakan konsumsi energi yang rendah, polusi yang rendah dan emisi GRK (GHG) yang rendah, dengan mengutamakan GDP yang hijau .

• Tujuan dari LCD adalah untuk mengintegrasikan semua aspek (produksi mau pun konsumsi) mulai dari pertanian, manufakturing, transportasi, energi, dengan tehnologi yang dapat menghasilkan energi dan produk dengan sedikit menghasilkan emisi GRK

11

(12)

Komitmen Indonesia untuk penurunan emisi

(13)

Indoesia berkomitmen menurunkan 26- 41% emisi Gas Rumah kaca

President Republic of Indonesia :

Susilo Bambang Yudhoyono

Kami menargetkan menurunkan emisi sebesar 26% dengan usaha sendiri pada kondisi BAU dan jika didukung oleh negara luar /negara donor akan menjadi 41 percent pada tahun 2020.”

Pidato Presiden pada G20 di

Pittsburgh dan COP 15 Copenhagen

In association with Copenhagen Accord

Indonesia Programs Carbon credit

26%

Unilateral

41%

Unilateral &

International Support

National Action Plan

NASIONAL REDD+ STRATEGY

> 41%

Carbon Credit

7%

PERTUMBUH AN EKONOMI

Komitmen Pemerintah untuk Penurunan Emisi

(14)

UNTUK MEWUJUDKAN KOMITMEN PRESIDEN

RENCANA AKSI NASIONAL (RAN) GRK

STRANAS REDD+

S

R

A

P

R

A

D

(15)

Komitmen Papua untuk menurunkan Emisi

GRK dan 4 Strataegi Utama

(16)

Komitmen Papua pada COP 15 Copenhagen

Untuk medukung komitmen Presiden RI pada COP 15 dan untuk membangun masa depan yang lestari bagi seluruh umat, Papua berkomit :

1. Mempertahankan paling sedikit 50 % dari hutan konversi Papua.

2.Tidak menggunakan hutan primer atau areal lain (gambut) yang mempunyai nilai konservasi dan budaya yang tinggi untuk penanaman kelapa sawit, atau penggunaan lahan dalam skala besar.

3.Memastikan agar penanaman kelapa sawit atau penggunaan lahan yang lain

menggunakan standard ‘best-

practice=pengelolaan yang terbaik’.

4.Diversifikasi ekonomi

pedesaan/masyarakat, termasuk bantuan untuk pengembangan energi bersih,

mendukung pengembangan energi ramah

lingkungan, usaha kecil dan menengah dalam

bidang kehutanan masyarakat dan hutan

tanaman industri.

(17)

Low Carbon Development

(apa yang perlu segera dilakukan)

Pertama, meninjau kembali model-model pembangunan ekonomi yang telah berlangsung di Papua selama ini. Peninjauan kembali ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa

pertumbuhan dapat terus berlangsung namun tidak melewati batas-batas ekologi kita. Model pembangunan baru yang kita kembangkan itu harus memastikan bahwa pertumbuhan itu

berlangsung secara merata, yaitu dengan cara meredistribusi kekayaan dan menciptakan tumbuhnya masyarakat kelas menengah Papua yang kuat.

Kedua, meningkatkan mutu dan memperbaharui instrumen-instrumen perencanaan pembangunan, termasuk di dalamnya rencana pembangunan jangka panjang dan jangka menengah, dan Rencana Tata Ruang Provinsi Papua, dalam rangka mendukung pencapaian tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan.

Ketiga, memperkuat kerangka-kerangka hukum dalam rangka melindungi dan

memberdayakan orang-orang asli Papua dalam proses pembangunan berkelanjutan, dengan tetap menghormati hak-hak penduduk Papua lainnya. Termasuk di dalamnya adalah dengan menyusun peraturan daerah dan peraturan daerah khusus yang berisi pengakuan atas hak-hak tersebut, dan pengembangan mekanisme-mekanisme untuk menyelesaikan perbedaan

pendapat.

Yang terakhir, memperkuat mekanisme-mekanisme kelembagaan untuk mewujudkan hasil-

hasil pembangunan berkelanjutan, termasuk di dalamnya bagaimna struktur pengambilan

keputusan di kampung-kampung. Sebagian terbesar orang-orang asli Papua tidak bermukim di

daerah perkotaan, tetapi di kampung-kampung tradisional mereka.

(18)

Upaya Pembangunan Rendah Karbon di Papua

a. Pembentukan Satuan Tugas Pembangunan Rendah Karbon Papua

b. RAD GRK Provinsi Papua c. SRAP REDD+ Papua

- REL Papua

- Identifikasi Penyebab Emisi

- Rencana Aksi Mitigasi Provinsi Papua

(19)

Untuk pengintegrasian dan katalisator berbagai stakeholder untuk

pelaksanaan komitment diatas Gubernur Papua membentuk Satuan Tugas Pembangunan Rendah Karbon pada bulan Februari, 2010

Diangkat dengan SK Gub no 105/2010, tgl 11 Oktober 2010

Ketua Satuan Tugas bertanggung jawab langsung ke Gubernur.

Taskforce mempunyai 4 kelompok kerja

Pembentukan PLCD

Secretary &

Secretariat

19

(20)

Peranan dan inovasi Task Force

Memperoleh mandat dari Gubernur Papua

Sebagai katalisator dan fasiltator untuk mendorong

pembangunan berkelanjutan, rendah karbon di Provinsi Papua dan mendorong kerja sama dengansemua

stakeholder, tetapi tidak mengambil alih tupoksi dari SKPD tekait.

BerInovasi untuk mendorong pembangunan rendah karbon di Papua:

A. Membangun konstituen yang luas untuk Pembangunan Rendah Karbon (PRK).

B. MRV C. R&D

D. Mengupayakan pemberdayaan bagi investasi hijau di Papua.

20

(21)

SRAP REDD+ Papua :

REL Papua dari hutan dan lahan

Identifikasi Penyebab Emisi

Rencana Aksi Mitigasi Provinsi Papua

(22)

REDD +

Mengurangi Emisi dari

DEFORESTATION

Mengurangi emisi dari

DEGRADATION

CONSERVATION Mengkonservasi hutan/stok karbon

Peningkatan karbon stok /

ENHANCING CARBON STOCK

MENGURANGI EMISI DARI SUMBER PENYEBAB DD

(CARBON SOURCE)

PEMELIHARAAN DAN PENINGKATAN SERAPAN KARBON (CARBON SINK)

RENCANA AKSI

STRATEGI Reducing Emission from Deforestation and Degradation Plus

Peranan SUSTAINABLE MANAGEMENT

OF FOREST

STRATEGI KEBIJAKAN SRAP REDD+

(23)

KERANGKA PIKIR PEDOMAN PENGUKURAN KARBON DALAM

SISTEM MRV UNTUK PENERAPAN REDD+

(24)

Baseline dan Sumber Emisi GRK Sektor

Hutan dan Lahan di Provinsi Papua

(25)

21%

25%

19%

15%

13% 7%

KSA/KPA HL HPT HP HPK APL

LUAS KAWASAN HUTAN PROVINSI PAPUA

(26)

SEBARAN LUASAN HUTAN PER-KAB/KOTA

No Kab/Kota

Fungsi Hutan (Ha)

Jumlah Hutan

Konservasi

Hutan Lindung

Hutan Produksi Tetap

Hutan Produksi Terbatas

Hutan Produksi Konversi

Areal Penggunaan

Lain

1 Asmat 318.839 1.123.222 68.548 903.810 8.050 6.374 2.428.843 2 Biak 186.087 122.799 25.726 36.080 783 33.884 405.359 3 Bovendigul - 123.372 1.343.391 461.051 570.925 50.932 2.549.671 4 Deiyai 3.804 131.455 - 1.287 1.974 265 138.785 5 Dogiyai 96.515 254.243 27.811 43.650 39.113 4.481 465.813 6 Intan Jaya 20.764 563.698 193.136 137.475 47.234 10.253 972.560 7 Jayapura 91.107 587.510 80.060 375.950 260.379 124.124 1.519.130 8 Jayawijaya 69.150 13.584 - 3.304 40.924 93.965 220.927 9 Keerom 8.293 254.652 71.212 154.211 172.375 120.206 780.949 10 Lani Jaya 201.762 61.371 - 18.003 50.042 22.472 353.650 11 Mappi - 197.869 569.613 928.412 587.686 23.495 2.307.075 12 Mamberamo Tengah 69.480 234.451 - - 43.477 4.942 352.350 13 Mamberamo Raya 916.482 485.473 339.410 889.892 100.655 20.797 2.752.709 14 Merauke 1.462.667 568.481 1.025.402 235.311 1.103.913 365.381 4.761.155 15 Mimika 791.309 367.513 62.092 407.757 323.143 107.431 2.059.245 16 Nabire 872.770 396.903 186.172 351.605 119.130 92.383 2.018.963 17 Nduga 554.722 193 82.099 21.664 - 1.303 659.981 18 Paniai 243.297 222.870 - 1.986 50.597 11.352 530.102 19 Peg. Bintang 541.329 591.560 272.789 145.667 102.001 6.529 1.659.875 20 Puncak 260.237 184.988 - 60.595 26.394 14.838 547.052 21 Puncak Jaya 58.011 251.354 - 123.384 87.555 2.926 523.230 22 Sarmi 275.553 202.015 259.590 439.970 139.028 100.534 1.416.690 23 Supiori 41.127 6.954 381 - - 17.462 65.924 24 Tolikara 221.446 276.724 - 51.714 62.342 10.482 622.708 25 Waropen - 245.234 176.742 24.878 80.324 33.035 560.213 26 Yahukimo 415.161 636.765 101.600 213.638 201.957 18.375 1.587.496 27 Yalimo 76.555 229.911 - 9.676 47.481 9.345 372.968 28 Yapen 114.537 19.031 2.439 76.437 19.886 14.638 246.968 29 Kota Jayapura 8.337 6.888 25.201 16.926 10.354 20.517 88.223 Jumlah 7.919.341 8.361.083 4.913.414 6.134.333 4.297.722 1.342.721 32.968.614

(27)

Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % 1 Kawasan Suaka Alam/Pelestarian Alam 5,505.16 2.46 19,008.34 8.49 9,315.28 4.161 33,828.78 15.11

2 Hutan Lindung 4,524.02 2.02 14,179.36 6.33 2,141.72 0.957 20,845.10 9.31

3 Hutan Produksi 2,408.40 1.08 79,445.90 35.49 24.86 0.011 81,879.16 36.57

4 Hutan Produksi Konversi 3,938.62 1.76 29,244.66 13.06 1,403.72 0.627 34,587.00 15.45 5 Hutan Produksi Terbatas 3,107.98 1.39 34,525.28 15.42 1,422.10 0.635 39,055.36 17.44

6 Areal Penggunaan Lain 6,195.46 2.77 5,367.38 2.40 2,122.08 0.948 13,684.92 6.11

25,679.64 11.47 181,770.92 81.19 16,429.76 7.339 223,880.32 100.00

No. Zona

Deforestasi Degradasi OLCC

Total Sumber Emisi

Total

Kondisi Eksisting Deforestasi dan Degradasi Hutan

di Provinsi Papua periode 2006-2011 (ha/tahun)

(28)

Reference Emission Level (REL) Provinsi Papua

?

(29)
(30)

10 Sumber Emisi Terbesar di Papua

Awal Perubahan

1 HP HLKP HLKS 72,497.08 11,191,132.58 22.70

2 HPK HLKP HLKS 27,864.00 4,301,272.80 8.72

3 HPT HLKP HLKS 23,503.64 3,628,178.56 7.36

4 KSA HRP HRS 8,169.22 3,231,716.20 6.55

5 HPT HRP HRS 6,349.60 2,511,880.59 5.09

6 HP HRP HRS 4,554.06 1,801,570.96 3.65

7 HL Gambut HRP HRS 4,288.32 1,696,445.10 3.44

8 HL HLKP HLKS 9,213.76 1,422,297.42 2.88

9 KSA HLKP HLKS 8,241.52 1,272,215.97 2.58

10 KSA Gambut HRP HRS 2,419.88 957,296.46 1.94

Persentase Luas (Ha) (%)

Tutupan Lahan Zona

No Net Emission (ton

CO2-Eq/year)

1 Deforestasi 25,679.64 11,705,487.88 23.74

2 Degradasi 181,770.92 36,112,229.27 73.24

3 OLCC 16,429.76 1,488,233.85 3.02

223,880.32 49,305,951.00 100.00 Persentase

(%)

Jumlah

Net Emission (ton CO2-Eq/year) No Sumber Emisi Luas (Ha)

HLKP = Hutan Lahan Kering Primer HLKS = Hutan Lahan Kering Sekunder HRP = Hutan Rawa Primer

HRS = Hutan Rawa Sekunder

(31)

10 Sumber Deforestasi Terbesar di Papua

Awal Perubahan

1 HL HLKP SB 1,596.12 889,570.88 1.80

2 HP HLKP TT 1,251.50 823,695.58 1.67

3 APL HLKS PLKC 1,979.02 797,479.09 1.62

4 HPT Gambut HRP BR 1,046.00 652,888.79 1.32

5 HL HLKS PLKC 1,556.22 627,104.79 1.27

6 KSA HLKS PLKC 1,484.38 598,155.66 1.21

7 KSA HLKS SB 1,455.18 586,389.03 1.19

8 HPK HLKS SB 1,243.70 501,169.64 1.02

9 HPK HLKS PLKC 1,226.72 494,327.27 1.00

10 APL HLKS SB 721.90 290,901.64 0.59

Persentase

No Zona Tutupan Lahan (%)

Luas (Ha) Net Emission (ton CO2-Eq/year)

HLKP= Hutan Lahan Kering Primer HLKS= Hutan Lahan Kering Sekunder HRP = Hutan Rawa Primer

SB= Semak Belukar TT = Tanah Terbuka

PLKC = Pertanian Lahan Kering Campur

BR = Belukar Rawa

(32)

Kontribusi Aksi Mitigasi Provinsi Papua

Terhadap Penurunan Net Emisi

(33)

10 Rencana Aksi Mitigasi Provinsi Papua

1. Pelaksanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) 2. Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR)

3. Hutan Kemasyarakatan (HKm)

4. Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) 5. Pelaksanaan Restorasi Ekosistem Hutan (REH) 6. Pencegahan Perambahan Hutan

7. Pengurangan Konversi Hutan

8. Penurunan Luas Areal RKT IUPHHK

9. Implementasi Reduced Impact Logging (RIL)

10.Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM)

(34)

6:06 AM Sun, Apr 21, 2013 Page 11

1:

1:

1:

2:

2:

2:

3:

3:

3:

0 276151937 552303873

1: Peningkatan Serapan Karbon 2: Stabilisasi Simpanan Karbon 3: Total

KONTRIBUSI AKSI MITIGASI PROVINSI PAPUA TERHADAP PENURUNAN EMISI

(35)

ton CO2-Eq % ton CO2-Eq % I

1 Pencegahan Perambahan Hutan 36,502,447 4.341 182,512,237 21.706

2 Implementasi RIL 28,573,438 3.398 142,867,188 16.991

3 Pengurangan Konversi Hutan 20,889,432 2.484 104,447,161 12.422 4 Penurunan luas areal RKT IUPHHK 17,143,951 2.039 85,719,757 10.195

5 PHBMA 617,520 0.073 3,087,600 0.367

103,726,788 12.336 518,633,943 61.681 II

1 Pembangunan HTI 2,581,568 0.307 12,907,840 1.535

2 Rehabilitasi Hutan dan Lahan 1,290,432 0.153 6,452,160 0.767

3 Pelaksanaan HKm 1,137,503 0.135 5,687,517 0.676

4 Restorasi Ekosistem Hutan 863,960 0.103 4,319,800 0.514

5 Hutan Tanaman Rakyat 860,523 0.102 4,302,613 0.512

6,733,986 0.801 33,669,930 4.004 110,460,774.00 13.137 552,303,873.00 65.686

No Aksi Mitigasi

Kontribusi Penurunan Emisi

Skenario Pesimis Skenario Optimis Stabilisasi Simpanan Karbon Hutan

Sub Total I

Peningkatan Serapan Karbon Hutan

Sub Total II JUMLAH

Kontribusi Aksi Mitigasi Provinsi

Papua Terhadap Penurunan Net Emisi

(36)

Strategi dan Rencana Aksi Provinsi (SRAP) Papua dalam Implementasi REDD+

6:50 PM Wed, Apr 24, 2013 Page 1

2006.00 2009.50 2013.00 2016.50 2020.00

Y ears 1:

1:

1:

2:

2:

2:

3:

3:

3:

4:

4:

4:

0 450000000 900000000

1: HISTORICAL 2: FORWARD LOOKING 3: Skenario Pesimis 4: Skenario Optimis

1

1

1

1

2

2

2

2

3

3

3

3

4

4

4 4

(37)

Kondisi Pemungkin

(Enabling Conditions)

(38)

Kondisi Pemungkin (Enabling Conditions)

1. Kepastian ruang kelola masyarakat adat (lokasi hak ulayat dan legalitas)

- Pemetaan dan mediasi

- Review kebijakan periizinan

- Penguatan Panitia Tata Batas (PTB)

2. Akselerasi dan Implementasi Pembentukan Kesatuan Pengeloaan Hutan (KPH)

3. Pembentukan lembaga independent perubahan iklim

Provinsi Papua.

(39)

Prakondisi yang diperlukan (penutup)

(40)

PRAKONDISI YANG DIPERLUKAN

1. Dukungan komitmen pemerintah daerah melalui penerbitan regulasi terkait dengan kepastian kawasan dan pengakuan hak-hak masyarakat adat atas sumberdaya alam serta perizinan investasi .

2. Perubahan pola pikir dan pola tindak dari pelaku pembangunan diperlukan serta pemahaman bersama akan paradigma pembangunan rendah

karbon melalui strategi REDD+ untuk semua stakeholders baik pada tingkat pimpinan, pelaksana, masyarakat dan pihak ketiga .

3. Koordinasi, sinkronisasi dan integrasi program kegiatan SKPD baik di tingkat provinsi, Kabupaten/kota yang terbingkai dalam RTRWP dan RTRWK dan KPH serta kepastian wilayah kelola masyarakat adat

merupakan kondisi pemungkin utama yang harus dibangun terlebih dahulu sebelum eksi-aksi mitigasi diimplementasikan disetiap lokus dan lawas aksi mitigasi.

4. Kelembagaan pengelola, sumber pendanaan dan intrumen-intrumennya

terutama dalam MRV telah mantap dan telah terbangun baik ditingkat

nasional maupun daerah.

(41)

Referensi

Dokumen terkait

Ini sejalan dengan pendapat Usman (2002:4), apabila dikelompokkan tugas guru terdiri dari 3 jenis, yaitu tugas dalam bidang profesi, tugas dalam bidang kemasyarakatan, dan

Kendala atau faktor yang menjadi hambatan dalam Pemberlakuan Penghapusan Pajak Barang Mewah Terhadap Mobil Murah Ramah Lingkungan di Bandar Lampung adalah:

faktor yang dominan menentukan produktivitas dalam Komunitas Belajar Qaryah. Tayyibah nampak pada faktor input dan faktor proses dalam proses

Program Pembelajaran Membaca Permulaan Untuk Mengakomodasi Siswa Kelas II dengan Kesulitan Membaca di Sekolah Dasar Negeri Cidadap I Kota Bandung.. Universitas Pendidikan Indonesia

Salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh produsen/eksportir produk soya sauce Indonesia untuk meningkatkan nilai ekspor ke Singapura adalah dengan melakukan kerja sama dengan

didasar pada dokumen sumber dan dokumen pendukung berikut ini : “Pencatatan terjadinya piutang didasarkan atas faktur penjualan yang didukung dengan surat order pengiriman dan

Oleh karena itu, CSR berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan", di mana suatu organisasi, terutama perusahaan, dalam melaksanakan aktivitasnya harus

tentunya harus dievaluasi agar upaya peningkatan kinerja pengelolaannya didasarkan pada hasil-hasil evaluasi tersebut dan dengan berdasarkan hal tersebut sehingga penelitian