26
Jenis penelitian ini adalah pre-eksperimental design karena masih terdapat variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap variabel dependen.
Racangan penelitian ini yang digunakan adalah Pretest-Posttest Design.
Dalam desain ini dilakukan dengan cara memberikan pretest (pengamatan awal) terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi (perlakuan) dan dilakukan posttest (pengamatan akhir) setelah dilakukan intervensi (Hidayat, 2014).
Sedangkan proses penelitiannya dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu:
Pertama : melaksanakan pretest untuk mengetahui kondisi awal responden sebelum di lakukan terapi.
Kedua : melakukan terapi akupunktur
Ketiga : melakukan posttest untuk mengetahui keadaan variabel terikat sesudah melakukan terapi.
Perbedaan antara pretest dan posttest merupakan hasil perlakuan terapi, tetapi sulit untuk mengatakan apakah selisih tersebut betul-betul merupakan akibat perlakuan terapi, karena banyak variabel yang tidak dapat dikontrol (Yusuf, 2013).
Rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Pretest Perlakuan Post test
Bagan 3.1. Desain penelitian (Yusuf, 2013).
Keterangan :
O1 = Nilai pretest (sebelum dilakukan perlakuan) X = Perlakuan (terapi akupunktur)
O2 = Nilai posttest (setelah dilakukan perlakukan)
01 X 02
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Subjek penelitian berupa benda. Semua benda yang memiliki sifat (atribut) atau ciri, adalah subyek yang bisa diteliti (Machfoedz 2011). Dalam kerangka penelitian populasi salah satu hal yang esensial dan perlu mendapatkan perhatian dengan seksama apabila peneliti ingin menyimpulkan suatu hasil yang dapat dipercaya dan tepat guna untuk subjek penelitian (Yusuf, 2013). Dalam penelitian ini populasi yang ada sejumlah 177 Mahasiswa Prodi D-IV Jurusan Akupunktur Poltekkes Kemenkes Surakarta.
2. Sampel dan Teknik Sampling
Sampel merupakan sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Apabila populasi besar dan penelitian tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut (Sugiyono, 2008).
Cara menentukan sampel yaitu dengan teknik sampling. Pada penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling didasarkan pada suatu pertimbangan yang dibuat oleh peneliti yang disesuikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan (Hidayat, 2014).
Adapun kriteria pengambilan sampling adalah sebagai berikut:
a. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek peneliti dari suatu populasi target dan terjangkau yang akan diteliti atau karakteristik sampel yang layak diteliti (Nursalam, 2016). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
1) Bersedia menjadi subyek penelitian 2) Mengalami gangguan tidur/insomnia
3) Mahasiswa aktif Prodi D-IV Jurusan Akupunktur Poltekkes Kemenkes Surakarta
4) Bersedia menjalani program terapi akupunktur dalam satu seri terapi sebanyak 10 kali terapi.
b. Kriteria ekslusi
Kriteria eksklusi adalah kriteria yakni subyek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian (Hidayat, 2014). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:
1) Tidak mau dijadikan subyek penelitian 2) Tidak mengalami gangguan tidur/insomnia
3) Bukan merupakan Mahasiswa aktif Prodi D-IV Jurusan Akupunktur Poltekkes Kemenkes Surakarta.
4) Mengundurkan sebagai subyek penelitian
5) Tidak selesai dalam satu seri terapi sebanyak 10 kali terapi 3. Besar Sampel
Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Teknik Purposive sampling adalah pengambilan sampel secara Purposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri (Hidayat, 2014). Berdasarkan ciri atau sifat-sifat sampel yang sudah diketahui sebelumnya dimana subyek penelitian dari Mahasiswa Prodi D-IV Jurusan Akupunktur Poltekkes Kemenkes Surakarta yang menderita insomnia sejumlah 30 responden baik laki-laki maupun perempuan berusia kurang lebih 19-23 tahun yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian yang telah ditetapkan.
C. Waktu dan Tempat
Tempat penelitian dilaksanakan di Jurusan Akupunktur Poltekkes Kemenkes Surakarta. Waktu penelitian dimulai dari bulan Oktober 2018 sampai dengan bulan Mei 2019. Waktu penelitian dibagi menjadi beberapa
tahap meliputi penyusunan proposal, pengumpulan data, pengolahan data dan pelaporan hasil penelitian. Dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
Tabel 3.1. Jadwal Penelitian
No Kegiatan Waktu
1. Studi pendahuluan Oktober-November 2018 2. Penyusunan proposal Oktober 2018–Januari 2019 3. Ujian proposal Januari 2019
4. Revisi proposal Januari 2019 5. Pengambilan data penelitian Februari 2019 6. Pengolahan data Februari- April 2019 7. Penyusunan laporan penelitian Maret-April 2019 8. Presentasi hasil penelitian Mei 2019
9. Revisi hasil penelitian Mei 2019
D. Variabel Penelitian
1. Variabel independen (bebas)
Variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Terapi Auricular akupunktur (CO.15) dan titik Baihui (GV 20), Shenmen (HT 7), Neiguan (PC 6).
2. Variabel dependen (terikat)
Variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kasus insomnia.
E. Definisi Operasional Variabel Tabel 3.2. Definisi Operasional
Variabel Independen
Definisi Operasional
Alat Ukur Kriteria Skala
Pengukuran Pengaruh
Terapi Akupunktur Auricular akupunktur (CO.15) dan titik Baihui (GV 20), Shenmen (HT 7), Neiguan (PC 6).
Penusukan titik auricular akupunktur (CO.15) dan titik Baihui (GV 20), Shenmen (HT 7), Neiguan (PC 6) sebanyak 10 kali terapi dan 2 kali seminggu.
Jarum akupunktur
Penusukan dilakukan secara tepat pada lokasi titik
akupunktur dan sensasi rasa de Qi
Nominal
Variabel Dependen
Definisi Operasional
Alat Ukur Kriteria Skala
Pengukuran Tingkat
Insomnia
Gangguan tidur insomnia adalah keadaan
Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI)
Skor 0 = Tidak ada gangguan tidur, skor
Ordinal
dimana seseorang mengalami kesulitan tidur atau sering terbangun dan tidak dapat tidur nyenyak.
memiliki konsisten internal koefisien reliabilitas sebesar 0,83 untuk ketujuh komponenn ya.
(Smyth, 2007)
1-7
= gangguan tidur ringan, skor 8-13 = gangguan tidur
sedang, skor 14-21 = gangguan tidur berat
F. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian yaitu Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang berisi close-ended questions atau kuisioner.
Kuisioner ini merupakan daftar pertanyaan dalam rangka wawancara terstruktur oleh peneliti dengan responden. Keuntungan menggunakan PSQI karena memiliki validitas dan reabilitas yang tinggi. Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dikembangkan oleh The Hartford Institute for Geriatric Nursing, College of Nursing, New York University. PSQI memiliki konsisten internal dan koefisien reliabilitas sebesar 0,83 untuk ketujuh komponennya. Banyak peneliti yang menggunakan PSQI untuk mengukur tingkat insomnia pada populasi orang yang terkena insomnia di berbagai setting pelayanan kesehatan (Smyth, 2007). Hasil kuisioner dapat diinterprestasikan menjadi 4 pilihan yaitu tidak ada gangguan tidur (nilai atau skor 0), gangguan tidur ringan (nilai atau skor 1-7), gangguan tidur sedang (nilai atau skor 8-13), dan gangguan tidur berat (nilai atau skor 14- 21). Semakin kecil skor global, semakin menunjukkan tingkat insomnia yang lebih baik.
G. Alat dan Bahan Penelitian
Alat-alat yang digunakan, antara lain:
1. Jarum Akupunktur Telinga Press Needle merk Huantiao. dan jarum akupunktur 1 cun merk Huanqiu.
2. Kapas gulung 3. Alkohol 70%
4. Pinset Anatomis 5. Bengkok
6. Kom stainless 7. Lembar Observasi
8. Lembar Informed Consent
H. Prosedur Pengambilan Data 1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan studi pendahuluan, penysusunan proposal, megurus perijinan penelitian, sosialisasi di Jurusan D-IV Akupunktur Poltekkes Kemenkes Surakarta.
2. Pelaksanaan Penelitian
Setelah mendapat ijin, peneliti mencari subyek peneliti kasus insomnia Mahasiswa Prodi D-IV Jurusan Akupunktur Poltekkes Kemenkes Surakarta sebagai subyek penelitian.
3. Sebelum dilakukan terapi akupunktur dilakukan pengukuran kasus insomnia dengan menggunakan lembar kuisioner yang telah diberikan. Pada kunjungan ke-1 dan setelah mengisi kuisioner tersebut dilakukan terapi akupunktur pada kunjungan selanjutnya ke-2 sampai ke-9 hanya dilakukan terapi akupunktur (tanpa mengisi kuisioner), setelah terapi ke-10 dilakukan pengukuran kasus insomnia dengan menggunakan lembar kuisoner kembali untuk mngetahui perkembangan kasus insomnia setelah dilakukan tindakan.
4. Terapi akupunktur pada penelitian ini akan dilakukan perlakuan 10 kali terapi.
5. Tahap Penyusunan Laporan Penelitian
Pada tahap ini dilakukan penyusunan dan pelaporan hasil penelitian yang dilakukan dari pengakajian dan pembahasan.
I. Analisis Data 1. Uji univariat
Analisis univariat ini dilakukan dengan tujuan untuk mendiskripsikan setiap variabel secara terpisah dengan cara membuat tabel distribusi frekuensi dari masing-masing variabel. Data yang ditampilkan dalam analisa univariat adalah distribusi frekuensi dari karakteristik dari subyek penelitian (Hidayat, 2014). Dalam penelitian ini karakteristik berdasarkan usia, jenis kelamin dan distribusi berdasarkan kasus insomnia sebelum dan sesudah diterapi akupunktur.
2. Uji bivariat
Analisa bivariat untuk melihat pengaruh antara dua variabel.
Dalam hal ini adalah terapi akupunktur dengan penusukan auricular akupunktur (CO.15) dan titik Baihui (GV 20), Shenmen (HT 7), Neiguan (PC 6) sebelum dan sesudah dilakukan terapi akupunktur terhadap kasus insomnia pada Mahasiswa Prodi D-IV Jurusan Akupunktur Poltekkes Kemenkes Surakarta. Tujuan dari analisis adalah menganalisis pengaruh tingkat insomnia sebelum dan sesudah dilakukan terapi akupunktur menggunakan uji Paired T-test (berpasangan) dengan memenuhi kriteria variabel yang sama pada kasus insomnia yang diambil dari subyek yang sama dengan dua kali pengukuran nilai pre-test dan post-test daru satu sampel (Dahlan, 2014).
Metode ini digunakan untuk mengetahui kasus insomnia sebelum dan sesudah diterapi akupunktur. Selanjutnya hasil kasus insomnia dibandingkan antara sebelum terapi akupunktur (pre test) dengan setelah terapi akupunktur (post test). Apabila data berdistribusi tidak
normal maka menggunakan uji Wilcoxon dikarenakan skala yang digunakan pada penelitian ini adalah rasio dan rasio lebih tinggi dari pada interval (Sugiyono, 2017).
J. Etika Penelitian
Sumantri (2015) memiliki pendapat empat etika dalam penelitian yang perlu dipahami oleh pembaca, antara lain:
1. Menghormati harkat dan martabat manusia
Peneliti perlu mempertimbangkan hak-hak subjek untuk mendapatkan informasi yang terbuka berkaitan dengan jalannya penelitian serta memiliki kebebasan menentukan pilihan dan bebas dari paksaan untuk berpartisipasi dalam kegiatan penelitian.
2. Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek penelitian
Peneliti tidak boleh menampilkan informasi mengenai identitas baik nama maupun alamat asal subjek dalam kuisioner dan alat ukur apa pun untuk menjaga kerahasiaan identitas subjek. Peneliti dapat menggunakan inisial sebagai pengganti identitas responden.
3. Keadaan dan inklusivitas
Penelitian dilakukan secara jujur, hati-hati, professional, berperikemanusiaan, dan memperhatikan faktor-faktor ketepatan, keseksamaan, kecermatan, serta perasaan religious subjek penelitian.
4. Memperhitungkan manfaat dan kerugiaan yang ditimbulkan
Peneliti melaksanakan penelitian sesui dengan prosedur penelitian guna mendapatkan hasil yang bermanfaat semaksimal mungkin bagi subjek penelitian.