• Tidak ada hasil yang ditemukan

AUDIT REPORT. Organization No. Scheme Audit Type Audit No. SMK SMK3 PP Certification 01

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AUDIT REPORT. Organization No. Scheme Audit Type Audit No. SMK SMK3 PP Certification 01"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

AUDIT REPORT

Organization No. Scheme Audit Type Audit No.

SMK 01592 SMK3 PP50-2012 Certification 01

Name : PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO

Address : Jalan Kemakmuran 3 No. 58, Marga Jaya, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.

Audit Objectives : Audit dilakukan pada Kantor Pusat & Administrasi PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO dan Proyek Pekerjaan Arsitektur, Mekanikal, dan Elektrikal Bangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah Tahap II, sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja No. 01/PRRJ/IV.0/C/2015 tertanggal 08 Juni 2015.

Audit Date(s) : 28 - 29 Januari 2016

Scope (Category) : Jasa Konstruksi Umum

Sector Code : Not Identified

Audit Location : PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO

Jalan Kemakmuran 3 No. 58, Marga Jaya, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.

Audit Team : Suryono (SY) / ATL ; Muhammad Jaza (MJZ) / auditor

This audit report is based on objective evidence presented at this time and does not mean that areas which were not reviewed or mentioned are considered satisfactory or preclude the issue of Non Conformity Reports at a later date.

(4)

Exclusions

Applicable statutory and regulatory requirements:

General Overview of Organization’s Management System:

PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO telah menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor: 50 tahun 2012 Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Secara umum penerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di setiap bagian di perusahaan, baik di kantor maupun di proyek yang berada di bawah kendali perusahaan, sudah memadai.

PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO mempunyai bisnis utama dalam penyediaan Jasa Kontruksi Umum, dengan spesialisasi pekerjaan sesuai dengan Sertifikat Badan Usaha (SBU) Jasa Pelaksana Konstruksi yang dimiliki, meliputi Pekerjaan Pengeboran Sumur Air Tanah Dalam (SP008), Lansekap/Pertamanan (SP015), Konstruksi Hunia Tunggal & Kopel (BG001), Bangunan Multi dan Banyak Hunian (BG002), Gudang & Industri (BG003), Komersial (BG004), Hiburan Publik (BG005), Pendidikan (BG006), Hotel, Restoran & Bangunan Serupa (BG007), Kesehatan (BG008), Gedung Lain (BG009), Jasa Pelaksanaan Keterampilan (KT001 s/d KT009), Bangunan Sipil (SI001, SI003, SI004, SI011, SI012), Jasa Pelaksanaan Spesialis (SP002, SP003, s.d SP006, SP007, SP009, SP010, SP011, SP014, SP013, SP016), Instalasi Elektrikal (EL001 s.d EL007, EL009 s.d EL011), Instalasi Mekanikal (MK001 s.d MK010).

Perusahaan di dalam menerapkan system manajemen sudah berkomitmen untuk pemenuhannya, salah satunya dengan sudah memiliki system dokumentasi yang memudahkan pengguna/pelaksana system manajemen dalam melaksanakan penerapannya. Dokumentasi yang ditetapkan, mencakup persyaratan dokumen SMK3 berupa manual sampai dengan formulir, yang juga rekaman pelaksanaan system.

Pelaksanaan audit ini merupakan sertifikasi/final audit SMK3 berdasarkan standar klausul PP No. 50 tahun 2012. Audit dilakukan menggunakan pendekatan PDCA (perencanaan, penerapan, pemeriksaan dan kaji ulang atau komitmen & kebijakan K3, perencanaan, penerapan, pengukuran dan evaluasi dan peninjauan ulang dan peningkatan manajemen).

Kesimpulan umum penerapan SMK3 di PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO sebagai berikut:

KOMITMEN DAN KEBIJAKAN

Perusahaan sudah menetapakan Kebijakan SMK3 PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO, yang digunakan terintegrasi untuk penerapan SMK3 dan SML. Sebagai penunjang terhadap penggunaan Kebijakan, perusahaan mengaturnya dalam Manual K3LH No. MK3LH. Kebijakan ditetapkan per tanggal 22 Desember 2015 oleh Direktur Utama.

Kebijakan sudah secara spesifik menyebutkan tujuan utama penerapan SMK3, dan menetapkan 6 (enam) point terhadap komitmen perusahaan di dalam menerapkan Sistem Manajemen K3, yaitu Menerapkan SMK3 Pada Semua Tingkatan Dalam Organisasi, Melakukan Perbaikan Berkelanjutan, Menciptakan Lingkungan Kerja Yang Aman & Sehat Dengan Mencegah Kecelakaan Kerja & PAK, Memenuhi Persyaratan Peraturan Perundang- Undangan & Persyaratan Lain Yang Berlaku, Mengembangkan Kompetensi & Profesionalisme SDM, dan Menerapkan Sistem Manajemen K3 Secara Efektif dan Efisien.

Kebijakan yang ditetapkan untuk digunakan tidak dapat dipastikan sudah melalui proses konsultasi dengan perwakilan tenaga kerja dalam menetapkannya. Kebijakan yang ditetapkan sudah dilakukan sosialisasi kepada semua pekerja, tamu atau pengunjung yang berada pada lingkungan kerja perusahaan, dalam bentuk dilakukan penempelan pada area yang terdapat pengunjung atau tamu baik di lingkungan Kantor Pusat Perusahaan,

(5)

maupun pada area proyek.

Sebagai bentuk komitmen untuk implementasi SMK3 yang memadai, Direktur Utama PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO telah menetapkan struktur organisasi P2K3, dengan Surat Keputusan Direktur tanggal 27 November 2015. P2K3 belum disahkan oleh Kepala Disnakertrans Pemerintah Kota Bekasi, tetapi surat permohonan untuk pengesahan sudah dilayangkan dengan Surat Permohonan Direktur Utama PT. CPK Nomor 08/Per-P2K3/CPK/XII/2015 tertanggal 23 Desember 2015, menurut tanda terima yang ada pengesahan P2K3 sedang dalam proses.

Tanggung jawab dan wewenang dari organisasi untuk implementasi SMK3, dijelaskan pada uraian tugas pengurus P2K3 yang terdapat pada Prosedur Job Description & Kompetensi No. JD-CPK-01.

PERENCANAAN

Tujuan, Sasaran dan Program.

Sasaran K3 PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO sudah ditetapkan untuk penerapan SMK3 secara khusus.

Pastikan sasaran ditetapkan untuk periode pelaksanaan penerapan satu tahun, karena sasaran SMK3 yang ditetapkan tanpa ditetapkan untuk periode penerapan waktu setahun.

Sasaran SMK3 ditandatangani oleh Direktur Utama pada tanggal 22 Desember 2015, dan dilampirkan pada Manual SMK3 No. MK3LH. Satu dari 1 (satu) sasaran K3 yang ditetapkan sudah terukur, yaitu ”Zero Kecelakaan Kerja/Zero Accident”. Pastikan tidak menetapkan sasaran kualitatif, karena akan menyulitkan dalam mengukur pencapaian kinerja K3 pada kurun waktu tertentu yang harus dilakukan.

Perusahaan memastikan untuk mencapai sasaran yang sudah ditetapkan, dilakukan pemantauan yang memadai, agar sasaran yang ditetapkan dapat tercapai effektif. Terhadap sasaran yang ditetapkan, perusahaan sudah menetapkan program kerja dengan menggunakan Form Tujuan, Sasaran dan Program Manajemen K3 PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO Per Tahun No. FM-CPK-MR-03C yang direncanakan. Di dalam form sudah diinformasikan tentang jadwal mulai pelaksanaan dan penanggung jawab dari perencanaan pelaksanaan program kerja yang ada. Pastikan perencanaan terselesai dari program kerja yang ditetapkan, sehingga terlaksana program kerja yang ditetapkan sesuai dengan jadwal yang ditentukan agar dapat dipastikan.

Program kerja belum diditetapkan berdasarkan semua fungsi/bagian yang ada di perusahaan, seperti Fungsi Personalia untuk pelatihan, dan Fungsi Tehnik & Peralatan untuk teknis. Program kerja hanya ditetapkan untuk Fungsi P2K3L dan Fungsi Manajemen.

Pastikan bahwa program kerja dibuat sesuai dengan semua pengendalian risiko yang sudah ditetapkan untuk risiko dari potensi bahaya yang sudah teridentifikasi. Contoh tentang pengendalian dengan menggunakan Instruksi kerja (IK) Bekerja Aman di Area Proyek, untuk pelaksanaannya

belum dibuatkan perencanaan pelaksanaannya seperti jadwal perencanaan sosialisasinya, walau IK Bekerja Aman Di Proyek No. IK-K3-03 sudah ditetapkan.

Identifikasi Bahaya Penilaian dan Pengendalian Risiko (IBPPR)

Kegiatan penerapan SMK3 diawali dengan menyusun identifikasi potensi bahaya, penilaian dan pengendalian risikonya, dengan mengacu pada Prosedur Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko No. CSMS-P-CPK-K3- 01. Perusahaan sudah membuat identifikasi bahaya penilaian risiko dan pengendaliannya dengan Form Identifikasi Bahaya Penilaian dan Pengendalian Risiko No. FM-CPK-K3-01A. IBPPR yang telah dibuat tidak dapat dipastikan sudah dibuat untuk semua proses pekerjaan di dalam setiap aktifitas pada lokasi kerja yang ada. Contoh pembuatan IBPPR untuk semua aktifitas pekerjaan yang ada di kantor & area proyek perusahaan, seperti IBPPR untuk aktifitas pekerjaan house keeping dan pembersihan lahan di proyek.

Sesuai point 6.1.2.1 pada prosedur, pastikan tim yang melaksanakan pembuatan IBPPR adalah petugas yang sudah mengikuti pelatiihan manajemen risiko. Tim IBPPR tidak dapat dipastikan sudah pelatihan manajemen risiko, karena masih ditemukan beberapa ketidaksesuaian dalam menyusun IBPPR.

Nilai tingkat risiko (TR) awal terhadap 2 (dua) akibat/risiko berbeda ditetapkan sama, contoh TR untuk risiko kerusakan mata dari potensi bahaya radiasi sinar komputer ditetapkan sama yaitu TR=Tinggi (H) terhadap TR untuk risiko meninggal dunia karena tersengat listrik. Seharusnya TR ditetapkan mempunyai nilai yang berbeda, karena untuk akibat/risiko kerusakan mata akibat sinar radiasi hanya kecelakaan sedang, sedangkan meninggal dunia adalah fatality. Nilai TR=Tinggi (H) karena terhadap keduanya diberi nilai kemungkinan terjadi (KT) awal

(6)

yaitu hampir pasti (A), dan tingkat paparan (TP) yaitu besar (4), seharusnya untuk paparan radiasi nilai TP adalah sedang (3), sehingga nilai TR untuk paparan radiasi komputer seharusnya Ax3=M (sedang).

Pengendalian risiko diidentifikasii di dalam Form Identifikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Risiko No.

FM-CPK-K3-01. Untuk pengendalian yang sudah ditetapkan tidak dapat dipastikan berdasarkan hirarki pengendalian yang terukur yang direncanakan, karena menggunakan hirarki pengendalian yang dalam aktifitasnya tidak diterangkan secara jelas untuk melakukannya, seperti pengendalian dengan “pengawasan”.

Pastikan pengendalian menggunakan aktifitas pasti dalam pelaksanaannya, seperti “inspeksi atau pemasangan rambu”. Di dalam prosedur belum menetapkan pada skala mana risiko dapat diterima (acceptable risk), terhadap tingkat risiko yang sudah ditetapkan di dalam form

Selain untuk IBPPR bagi aktifitas pekerjaan, perusahaan tidak dapat dipastikan sudah membuat IBPPR untuk proses kerja dalam aktifitas penanganan secara manual maupun mekanis terutama untuk semua B3 yang digunakan oleh perusahaan di area proyek, seperti penggunaan dan penempatan cat & thiner, dan lain-lain, sesuai dengan Prosedur Pengendalian Gudang No. CSMS-P-CPK-LOG-03 dan Instruksi Kerja Penanganan Material No. IK-K3-08.

Untuk perancangan dan perancangan ulang perusahaan sudah memiliki panduan untuk pelaksanaannya, yaitu Prosedur Perancangan Design No. CSMS-P-CPK-K3-15. Prosedur merupakan panduan teknis yang digunakan hanya untuk SMK3, tetapi dari informasi yang terdapat di dalam prosedur, mekanisme pelaksanaan perancangan di peruntukan bagi hasil dari pelaksanaan pekerjaa dengan aspek K3 untuk peminta jasa (Owner), bukan perancangan dengan hasil diperuntukan bagi aspek K3 untuk pekerja yang akan beraktifitas di area hasil perancangan tadi.

Di dalam Prosedur sudah ditetapkan media yang akan digunakan sebagai perekamannya yaitu Formulir Verifikasi K3 & Form Usulan Perancangan dan Perancangan Ulang (keduanya tanpa nomor dukumen, dan kedua form yang ditetapkan tersebut belum dilampirkan di dalam prosedur, sehingga terhadap penggunaannya tidak dapat dipastikan memadai). Dengan kata lain penetapan panduan teknis untuk perancangan dan perancangan ulang untuk aspek mutu perusahaan yang sudah ditetapkan dengan detail.

Pastikan ’mempertajam’ panduan teknis yang digunakan, untuk perencanaan perancangan sesuai dengan persyaratan K3 yang ada, yaitu mempersyaratkan pembuatan IBPPR atau JSA, yang akan digunakan sebagai perencanaan perancangan dan perancangan ulang terhadap semua proses pekerjaan di dalam setiap aktifitas pada lokasi kerja yang ada.

Perusahaan sudah menetapan prosedur yang mengatur ijin mengerjakan pekerjaan yang berisiko tinggi, yaitu Prosedur Pengendalian Kerja Risiko Tinggi No. CSMS-P-CPK-K3-12, dengan dibantu panduan teknis lainnya seperti IK Keamanan Bekerja di Ketinggian No. IK-K3-11, Kontruksi Di Bawah Tanah No. IK-K3-19, Pekerjaan Penggalian No. IK-K3-22, Perancah No. IK-K3-23, dan Pekerjaan Pembongkaran No. IK-K3-21.

Untuk pelaksanaan penerapan ijin kerja, perusahaan sudah menetapkan formulir sebagai media perekamannya, yaitu Form Surat Ijin Pekerjaan Risiko Tinggi No. FM-CPK-MR-12A. Penerapan mekanisme ijin kerja tidak dapat dipastikan sudah memadai untuk area proyek, karena terdapat aktifitas penggunaan perancah yang seharusnya diberlakukan mekanisme ijin kerja tetapi belum dilakukan.

Pemenuhan terhadap Persyaratan Hukum K3

Perusahaan sudah menetapkan Prosedur Identifikasi dan Evaluasi Peraturan Perundangan No. CSMS-P-CPK- K3-02, untuk dasar pengendalian semua Perundangan dan Regulasi terkait K3 yang terdapat di perusahaan. Di dalam Prosedur belum metapkan fungsi yang akan mengadministrasikan, menyebarluaskan, dan mengatur tentang mekanisme perusahaan melakukan identifikasi peraturan perundangan yang relevan, dan perusahaan belum memperhatikan dilakukan evaluasi pematuhan perundangan yang sidah teridentifikasi.

MR K3 bertanggung jawab terhadap identifikasi, mendapatkan, mencatat, memelihara, melakukan update (revisi) perubahan, memperbaharui, dan melakukan evaluasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan perusahaan pada Formulir Daftar Peraturan, Perundangan dan Persyaratan SMK3 No. FM-CPK-K3- 02A.

Dalam implementasinya perusahaan sudah menetapkan dan memelihara peraturan perundang-udangan yang relevan pada form tersebut. Pastikan untuk melengkapi form tersebut dengan semua perundang-undangan atau persyaratan lain yang dipunyai oleh perusahaan dan berhubungan dengan K3, serta dilakukan update secara bertahap sesuai dengan perundangan K3 yang terbaru, karena belum teridentifikasi untuk Perundangan Permenaker No. 12 Tahun 2015, SKB dua Menteri antara Kementrian PU No. 104/KPTS/1986 & Kementerian Tenaga Kerja No. KEP-174/MEN/1986, Permenaker No. 26 Tahun 2014 dan yang lainnya.

(7)

Di dalam form belum menginformasikan tentang evaluasi pemenuhannya, bila dilakukan evaluasi pastikan yang dilakukan dalam bentuk nilai prosentase terhadap pelaksanaan yang sudah dilakukan, dari masing-masing pasal atau klausul yang terdapat pada sebuah perundangan K3 yang harus dilakukan penerapannya di lingkungan perusahaan.

Sebagai pengadministrasian terhadap semua standar atau persyarataan teknis/hukum (dokumen eksternal) yang digunakan dan berhubungan langsung dengan bisnis perusahaan, sudah ditetapkan secara khusus Form Daftar Induk Dokumen Eksternal No. FM-CPK-MR-01C, sebagai media untuk mengendalikannya.

Form tersebut belum digunakan untuk mengidentifikasi standar atau persyaratan lain yang terkait dengan SMK3, yang dimiliki oleh perusahaan. Identifikasi hanya dilakukan terhadap peraturan atau perundangan K3 yang dimiliki perusahaan.

PENERAPAN

Struktur dan Tanggung Jawab Penerapan K3

Perusahaan berkomitmen terhadap penerapan SMK3, dengan sudah menetapkan fungsi/tim yang dibutuhkan untuk pengawasan dalam penerapan sistem manajeman K3, yaitu struktur organisasi P2K3.

P2K3 ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur. P2K3 belum disahkan oleh Kepala Disnakertrans Pemerintah Kota Bekasi, tetapi surat permohonan untuk pengesahan sudah dilayangkan dengan Surat Permohonan Direktur Utama PT. CPK Nomor 08/Per-P2K3/CPK/XII/2015 tertanggal 23 Desember 2015, menurut tanda terima yang ada pengesahan P2K3 sedang dalam proses.

Tanggung jawab dan wewenang pada perusahaan untuk implementasi SMK3, adalah sebagaimana dijelaskan pada uraian tugas pengurus P2K3 yang terdapat pada Prosedur Job Description & Kompetensi No. JD-CPK-01.

Sesuai peraturan perundangan Ketua P2K3, adalah salah Pimpinan Puncak Perusahaan, yaitu Direktur Utama.

Petugas yang ditetapkan sebagai Sekertaris P2K3 belum mengikuti pelatihan Ahli K3 baik AK3 umum maupun AK3 spesialis, seperti AK3 Konstruksi.

P2K3 sudah menetapkan program SMK3 yang sekaligus menjadi program SMK3 perusahaan. Program kerja ditetapkan dengan menggunakan Form Tujuan, Sasaran dan Program Manajemen K3 PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO Per Tahun No. FM-CPK-MR-03C. P2K3 yang ada untuk dapat dipastikan sudah melakukan rapat rutin bulanan dengan menggunakan Form Risalah Rapat P2K3 No. FM-CPK-MR-03B, perlu diperhatikan untuk mengirimkan terhadap hasil aktifitasnya selama pertiga bulan ke Disnaker setempat secara rutin.

Konsultasi dan Komunikasi

Prosedur Komunikasi dan Partisipasi K3 No. CSMS-P-CPK-K3-04, digunakan oleh Perusahaan sebagai dasar pelaksanaan komunikasi dan konsultasi antar pekerja, dan antara pekerja dengan manajemen yang harus dilakukan untuk pendukung pelaksanaan SMK3 yang sudah diterapkan oleh perusahaan. Dalam Prosedur sudah membahas mekanisme komunikasi yang akan dilakukan, seperti komunikasi internal antara lain, melalui pelatihan, rapat P2K3, safety meeting, safety induction, papan pengumuman, dan media lainnya. Sedangkan komunikasi eksternal dilakukan melalui surat-menyurat, rapat, mengikuti penyuluhan.

Sedangkan kegiatan konsultasi K3 disediakan untuk segala perubahan yang akan mempengaruhi aspek keselamatan dan kesehatan, baik tempat kerja maupun sistem kerja. Di dalam prosedur belum secara jelas menerangkan tentang mekanisme yang digunakan untuk pelaksanaan konsultasi, namun secara tersirat perusahaan sudah menjelaskan beberapa media yang akan digunakan untuk pelaksanaannya, seperti ditetapkan media yang digunakan adalah Rapat Kelompok (rapat toolbox harian, rapat K3 Operasional Bulanan, rapat K3 Manajemen 6 bulanan).

Jadwal pelaksanaan konsultasi yang harus dilaksanakannya, sebaiknya dipastikan terencana di dalam Form Tujuan, Sasaran dan Program Manajemen K3 PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO Per Tahun No. FM-CPK- MR-03C yang sudah ditetapkan, sehingga pemastian semua media dan jadwal pelaksanaan konsultasi tersebut dilaksanakan oleh perusahaan dapat dipastikan.

Penerimaan, Pelatihan dan Kompetensi

Perusahaan menggunakan panduan teknis Prosedur Penerimaan Karyawan No. CSMS-P-CPK-HRD-01, sebagai dasar semua penerimaan pekerja yang berada pada lingkungan perusahaan. Di dalam Prosedur sudah

(8)

mempersyaratkan persyaratan kesehatan, bagi semua tenaga kerja baru yang akan diterima pada perusahaan.

Untuk tahun 2015 perusahaan belum melakukan penerimaan pekerja.

Dalam rangka mengembangkan kompetensi dan keahlian karyawan sesuai tuntutan perusahaan, dan permintaan keahlian sesuai dengan profesi, serta agar karyawan memberikan kontribusi yang maksimal kepada perusahaan, juga pemahaman agar dapat bekerja dengan aman & sehat, ditetapkan proses penerapannya dengan berdasarkan kepada Prosedur Pelatihan dan Pengembangan Karyawan No. CSMS-P-CPK-HRD-02.

Perusahaan tidak dapat dipastikan sudah memiliki Training Need Analysis (TNA), perfungsi jabatan yang terdapat di perusahaan sebagai perencanaan pelatihan yang harus diikuti oleh semua pekerja

Untuk jadwal pelatihan pada tahun 2015 (tahun 2016 sedang dalam proses penetapan), perusahaan sudah membuat rencana dalam Form Program Pelatihan Untuk Tahun 2015 No. FM-CPK-HRD-02A. Bagian HRD/Administrasi perlu memastikan agar program pelatihan yang sudah ditetapkan, direncanakan akan dibuat untuk semua struktur kepegawaian di dalam perusahaan, serta dilakukan monitoring atas realiasi pelaksanaannya, agar effektifitas dari program perencanaan pelatihan dapat dilakukan.

Pelaksanaan pelatihan dibagi menjadi 2 jenis pelatihan yaitu eksternal dan internal. Pelatihan eksternal yaitu penyelenggaraan pelatihan bagi pegawai dalam rangka peningkatan kompetensi dan kebutuhan organisasi, yang penyelenggaraannya oleh pihak eksternal, lokasi penyelenggaraanya dapat dilakukan di luar perusahaan, atau memanggil instruktur ke dalam perusahaan. Sedangkan penyelenggaran pelatihan internal adalah berbagi pengetahuan kepada pegawai di perusahaan oleh pegawai yang telah mengikuti pelatihan eksternal dengan menggunakan media diskusi atau rapat informal.

Perusahaan di dalam Prosedur sudah menetapkan Form Rekaman Pelatihan No.FM-CPK-HRD-02C, sebagai media untuk perekaman semua riwayat pelatihan yang pernah diikuti oleh setiap pekerja, tetapi sampai saat audit dilakukan perekaman hasil pelatihan belum teradministrasi dengan memadai, masih terlihat pelaksanaan pelatihan yang belum dilakukan perekamannya, seperti sosialisasi SMK3 PP RI No. 50 Tahun 2012 oleh Konsultan tanggal 05 Januari 2016, yang belum dilakukan perekamannya. Rencananya form akan dilakukan pengisian setelah semua database tentang pekerja disempurnakan, untuk perencanaan tersebut akan dilaksanakan diawal tahun 2015.

Perlu dilakukan perbaikan ke depan, adalah penyimpanan bukti pelatihan yang belum dilakukan dengan memadai. Hal ini terbukti dari tidak adanya bukti pelatihan baik daftar hadir maupun sertifikat untuk pelatihan pemahaman SMK3 bagi seluruh karyawan yang pernah dilakukan.

Dari awal tahun 2016 sampai saat audit dilakukan, perusahaan belum mengikutsertakan pekerjanya pada pelatihan eksternal. Pelatihan yang sudah dilaksanakan bersifat internal dengan melibatkan konsultan yang ditunjuk.

Pelatihan yang akan dilaksanakan perusahaan sudah mempunyai mekanisme untuk evaluasinya, baik yang dilakukan oleh atasan langsung ataupun oleh bagian yang terkait seperti Bagian Administrasi, sesuai dengan Prosedur Pelatihan dan Pengembangan Karyawan No. CSMS-P-CPK-HRD-02, evaluasi dilakukan dengan menggunakan Form Evaluasi Pelatihan No. F-MSHRD-02B. Mekanisme evaluasi dilakukan agar diketahui effektifitas mengikuti pelatihan bagi seorang pegawai. Saat dilakukan audit, kegiatan evaluasi belum dilakukan karena belum terdapat pekerja yang dikirim untuk mengikuti pelatihan.

Pada prosedur belum dilakukan pengaturan terhadap pelaksanaan mekanisme evaluasi yang harus dilakukan untuk vendor penyelenggara pelatihan, sehingga perusahaan tidak dapat memastikan sudah melakukan evaluasi program pelatihan bagi pihak penyelenggara atau vendor. Evaluasi penyelenggara umumnya dilakukan oleh peserta pelatihan dengan indikator penilaian yang telah ditentukan.

Perusahaan belum melakukannya karena pelaksanaan program pelatihan belum terlaksana untuk tahun 2015.

Mekanisme pemberian pelatihan awal atau orientasi, tidak dapat dipastikan diberikan kepada pegawai yang dilakukan rotasi atau mutasi ketempat kerja baru. Penentuan rotasi dan mutasi yang pernah dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian pendidikan dari pegawai dengan tepat kerja yang akan di rotasi atau mutasi.

Perusahaan tidak memiliki peralatan yang mewajibkan operatornya memiliki lisensi, seperti overhead crane atau yang lainnya. Beberapa peralatan yang membutuhkan operator berlisensi, merupakan peralatan sewa dari pihak lain. Semua peralatan yang akan disewa dengan operator membutuhkan lisensi seperti tower crane, perusahaan sudah mengharuskan vendor yang disewa peralatannya untuk melengkapi operator-operator yang mengoperasikan peralatan tersebut dilengkapi oleh SIO.

(9)

Prosedur untuk informasi dengan pihak eksternal dimasukan di dalam Prosedur Pengendalian Supplier- Subkontraktor No. CSMS-P-CPK-K3-11. Pelaksanaannya briefing kepada tamu atau pengunjung yang datang ke kantor pusat perusahaan dan/atau ke proyek, perusahaan harus memperhatikan untuk pelaksanaan induksinya dalam bentuk informasi visual/announcement/tulisan. Briefing berisikan informasi semua aspek K3 yang kemungkinan akan ditemukan, dan informasi penanggulangannya, kepada semua tamu dan rekanan yang datang kelokasi kerja perusahaan, baik ke Kantor Pusat maupun ke area proyek yang ditangani oleh perusahaan.

Manual SMK3 dan Pengendalian Dokumen

Sebagai dasar penerapan sistem manajemen, perusahaan sudah membuat dokumen sesuai dengan tingkatan hirarkinya. Dokumen level I yang digunakan untuk penerapan sistem manajemen K3, adalah Manual SMK3 No.

MK3LH. Manual digunakan hanya untuk sistem manajemen K3. Di dalam manual sudah memasukkan tujuan dibuatnya manual untuk penerapan sistem manajemen, dan di dalam manual juga sudah membahas tentang tujuan terhadap penerapan sistem manajemen di perusahaan.

Selain sudah membahas tujuan, di dalam manual juga sudah membahas tentang overview perusahaan, membahas tentang korelasi prosedur sebagai pendukung teknis penjabaran yang ada di manual, dengan menggunakan Form Matrik Proses Manajemen dan Pengendalian Sistem dan Matrik Proses Pendukung.

Manual sudah dilampirkan kebijakan perusahaan untuk penerapan sistem manajemen K3, sudah melampirkan struktur organisasi yang ada. Manual juga sudah membahas tanggung jawab untuk struktur kepegawaian yang ada, sesuai dengan struktur organisasi perusahaan yang ada dengan mengkorelasikan pada dokumen Job Description dan Kompetensi No. JD-CPK-01.

Kegiatan pengendalian dokumen SMK3 mengacu pada Prosedur Pengendalian Dokumen No. CSMS-P-CPK- MR-01. Setiap dokumen yang diterbitkan sudah ditandatangani oleh otorisasi penerbitan dokumen, sesuai dengan yang dipersyaratkan di dalam Prosedur Pengendalian Dokumen tersebut, yaitu pembuat dilakukan oleh Sekertariat P2K3, diperiksa dan disetujui oleh Direktur Utama.

Dokumen SMK3 sudah memiliki identitas nomor revisi, dan tanggal penerbitan. Setiap dokumen hardcopy yang ada sudah memiliki tanda status dokumen Terkendali atau Master, walau belum diinformasikan nomor salinan pada dokumen terkendali. Distribusi dokumen yang dilakukan, direkam pencatatannya pada Form Pengiriman dan Pengembalian Dokumen No. FM-CPK-MR-01D, dan Form Matrix Distribusi Dokumen No. FM-CPK-MR- 01B, sehingga semua dokumen yang terdistribusi dapat dilakukan pengawasannya dengan memadai.

Untuk pengendalian dokumen SMK3 perusahaan seharusnya menunjuk fungsi untuk melakukan pengendaliannya. Terhadap dokumen yang harus didistribusikan pada area proyek harus dapat dipastikan semua dokumentasi yang terkait dengan SMK3 sudah terdistribusikan, sesuai dengan perekaman yang sudah dilakukan dengan Form Matrik Distribusi Dokumen No. FM-CPK-MR-01B.

Prosedur pengendalian dokumen juga sudah mengatur perihal revisi, dan mekanisme pembuatan dokumen baru yang mungkin dibutuhkan jika diperlukan. Untuk pelaksanaan revisi diharuskan mengisi Formulir Permintaan (*.perubahan/penambahan) Dokumen No. F-MSMR-01E. Untuk memantau status penerbitan dokumen dilapangan, maka semua dokumen baik terbitan baru maupun revisi, akan dicatatkan pada Form Daftar Induk Dokumen SMK3 PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO No. FM-CPK-MR-01A, dan dicatatkan nomor revisi terkininya.

Pengelolaan dokumen kadaluarsa dilakukan dengan cara ditarik dan dimusnahkan, dengan menggunakan Form Pengiriman dan Pengembalian Dokumen No. FM-CPK-MR-01D. Dokumen yang masih diperlukan akan disimpan dengan diberi penandaan khusus, Jika tidak dibutuhkan maka dokumen ini akan segera dimusnahkan.

Pengendalian Catatan K3

Dalam pengelolaan rekaman atau catatan K3, perusahan menggunakan Prosedur Pengendalian Rekaman No.

CSMS-P-CPK-MR-02, sebagai Prosedur untuk mengendalikannya. Di dalam Prosedur sudah membahas tentang identifikasi, penyimpanan & pemeliharaan dan penarikan serta pemusnahan.

Di dalam Prosedur belum menetapkan tentang apa suatu rekaman dinyatakan rahasia, bila dilakukan penetapan, pastikan ditambahkan informasi tentang bagaimana suatu dokumen rahasia dikendalikan semisal penetapan personel yang akan melakukan penyimpanan serta otorisasi pengambilannya.

Perusahaan sudah menetapkan Daftar Induk Rekaman yang mencatatkan informasi perihal media penyimpanan

(10)

yang digunakan, yaitu Form Rekaman No. FM-CPK-MR-02A. Di dalam form sudah menginformasikan identitas rekaman, masa simpan, dan lokasi penyimpanan. Sampai audit dilakukan daftar rekaman belum digunakan sebagai media perekaman semua hasil penerapan SMK3 yang sudah dilakukan secara memadai, untuk semua rekaman pelaksanaan SMK3 yang ada, termasuk semua rekaman yang dilakukan di proyek.

Untuk mengadministrasikan semua dokumen eksternal, perundang-undangan serta persyaratan yang berhubungan dengan penerapan SMK3, dan proses bisnis perusahaan yang digunakan, perusahaan menggunakan Prosedur Identifikasi dan Evaluasi Peraturan Perundangan No. CSMS-P-CPK-K3-02A. Untuk dokumen eksternal sudah disiapkan form pencatatannya, yaitu Form Daftar Induk Dokumen Eksternal No. FM- CPK-MR-01C.

Perlu diperhatikan untuk dapat terimplementasi di dalam pendokumentasiannnya, karena pencatatan dokumen eksternal yang ada adalah pencatatan terhadap semua perundangan dari lembaga regulasi pemerintah yang ada. Pastikan dilakukan perekaman terhadap standar atau persyaratan di luar yang penerbitannya dilakukan oleh lembaga non-regulasi pemerintah yang dibutuhkan perusahaan dalam melaksanakan aktifitas bisnisnya.

Agar diperhatikan terhadap kegiatan pengumpulan dan analisa data K3, agar tidak hanya dilakukan pada RTM saja, tetapi juga untuk dilakukan dengan konsisten dan periodik untuk dibahas di rapat P2K3, atau dianalisa sesuai dengan Prosedur Pemantauan dan Pengukuran K3 no, CSMS-P-CPK-K3-05 yang digunakan.

Pengendalian Operasional

Audit dilakukan pada Kantor Pusat & Administrasi PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO dan Proyek Pekerjaan Arsitektur, Mekanikal, dan Elektrikal Bangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah Tahap II, sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja No. 01/PRRJ/IV.0/C/2015 tertanggal 08 Juni 2015.

Aktifitas operasional dan administrasi secara garis besar pada Kantor Pusat & Administrasi PT. CITRA PRASASTI KONSORINDO, dan Proyek Pekerjaan Arsitektur, Mekanikal, dan Elektrikal Bangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah Tahap II, telah memenuhi aspek K3. Salah satu penerapan, tergambar dalam Daftar Penilaian dan Pengendalian Risiko K3 yang hampir sudah dibuat secara detail, untuk semua aktifitas yang dilakukan pada area kantor dan proyek.

Perusahaan sudah memperhatikan untuk memberikan informasi cara kerja yang aman dan sehat kepada para pekerja dalam bentuk instruksi-instruksi, maupun pedoman bekerja yang memperhatikan aspek K3. Secara umum sudah ditetapkan panduan-panduan untuk pelaksanaan hal tersebut dalam bentuk dokumen level 3 (Instruksi Kerja).

IK-IK yang sudah ditetapkan tersebut antara lain: IK Keselamatan Bekerja Di Proyek, IK Pekerjaan Pemancangan, IK Pekerjaan Pembongkaran, IK Alat Angkat & Angkut, dan lainnya. Panduan yang sudah ditetapkan untuk pelaksanaan pekerjaan agar dapat bekerja dengan aman dan sehat, harus dipastikan sudah diterapkan. Pastikan semua panduan teknis tersebut disimpan atau dipajang di setiap lokasi yang menjadi area kerja perusahaan.

APD sudah disediakan dan digunakan oleh sebagian besar pekerja saat bekerja, sesuai dengan Prosedur Alat Pelindung diri No. CSMS-P-CPK-K3-13. Perusahaan harus memperhatikan agar semua pekerja yang ada menggunakan APD yang sudah dipersyaratkan, dan ditetapkan dalam semua proses kerjanya, seperti penggunakan helmet, menggunakan sepatu boot/safety, masker, kaca mata dan lainnya.

Masih ditemukan pekerja tidak menggunakan APD yang dipersyaratkan, seperti ditemukan pekerja di area proyek sedang melakukan pekerjaan pemasangan atap (genteng) di atas gedung tidak menggunakan APD yang sesuai dengan potensi bahayanya yaitu safety body harness atau safety belt. Selain itu masih ditemukan pekerja yang tidak menggunakan APD pelindung kaki (sepatu), karena pekerja hanya menggunakan sandal jepit dan semua pekerja tidak menggunakan helmet.

Sebaiknya APD yang disediakan dan digunakan oleh pekerja saat bekerja merupakan APD sesuai dengan standar yang dipersyaratkan seperti SNI dan ANSI.

Perusahaan tidak memiliki gudang pada area proyek/kantor pusat. Gudang di area proyek hanya sebagai transit material sementara yang dipergunakan, sebagai sarana menyimpan bahan material yang digunakan langsung maupun tidak langsung terkait aktifitas proyek yang ada. Pada gudang dalamnya tersimpan B3 yang akan digunakan seperti peralatan elektrikal dan lainnya. Perhatikan bila menggunakan B3, untuk B3 yang disimpan harus dilengkapi dengan MSDS, label dan rambu sebagai tanda kandungan berbahaya yang terkandung pada

(11)

B3 yang disimpan tersebut.

Sebaiknya menetapkan kepada semua penjamah B3 yang ada, untuk memperhatikan panduan teknis yang berupa dokumen terkait penanganan B3 (IK Penanganan Bahan Kimia No. IK-K3-25), agar semua penjamah B3 dapat bekerja dengan aman dan sehat. Selain itu seharusnya semua penempatan B3 yang ada, sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Peralatan yang digunakan diharuskan dilengkapi dengan peralatan keamanan peralatan (safety device) tersebut harus dalam keadaan berfungsi, karena ditemukan tabung oxygen/tabung gas elpiji yang digunakan untuk mengelas diletakan pada tempat tanpa terikat juga penandaan tekanan gas (indicator pressure) dalam keadaan tidak berfungsi.

Perusahaan memiliki beberapa peralatan untuk bantu kerja, peralatan tersebut adalah mesin las, grinda mesin dan lainnya. Untuk semua peralatan yang diwajibkan memiliki izin penggunaan dari instansi terkait bila akan digunakan oleh perusahaan. Seharusnya terhadap peralatan sewa tersebut, sudah mendapatkan sertifikasi ijin pengesahan penggunaannya dari Disnaker setempat, serta terhadap operator pelaksananya harus memiliki legalitas yang dipersyaratkan seperti SIO.

Pada area proyek digunakan perancah untuk pekerjaan di area luar gedung. Perancah (scaffolding) yang digunakan tidak dapat dipastikan sudah dilakukan pengawasan atau inspeksinya terhadap faktor keselamatan bila digunakan. Perancah yang digunakan tidak dilengkapi dengan penandaan sesuai perundangan yang mengaturnya. Di bagian luar perancah tidak ditempatkan jarring atau net pada area-area dimana dimungkinkan terdapat benda atau material jatuh yang dapat menjatuhi orang atau pekerja yang ada di bawah.

Pada area kerja kedua proyek, masih dimungkinkan terdapat ada orang yang tidak berkepentingan berlalu- lalang, namun untuk memperingati terdapat pekerjaan yang membahayakan belum ditetapkannya daerah kerja tersebut sebagai daerah terbatas yang hanya bisa dimasuki oleh personal dengan ijin tertentu.

Belum ditempatkan rambu-rambu atau informasi K3 yang memadai sebagai peringataan yang menginformasikan hal-hal berbahaya yang terdapat di area kerja. Hal sama juga belum ditetapkan secara memadai untuk rambu peringatan menggunakan APD tertentu, sesuai dengan potensi bahaya sudah teridentifikasi di tempat kerja, seperti penggunaan APD helmet, sepatu safety, dan lain-lain.

Penempatan rambu bahaya juga seharusnya ditempatkan pada daerah-daerah yang membutuhkannya, seperti pada beberapa area proyek. Beberapa area tersebut seharusnya diberikan rambu atau safety line yang dapat digunakan sebagai peringatan bagi semua orang-orang yang bekerja berdekatan dengan area tersebut.

Pada area proyek pastikan dilakukan pengawasan secara menyeluruh untuk semua kabel dengan bagian yang tersambung antar bagiannya, agar dilakukan isolasi dengan effektif di muka kabel yang terkelupas, agar muka kabel yang terkelupas tersebut tidak menyebabkan masalah K3 bagi pekerja yang menyentuhnya.

Untuk peralatan listrik yang digunakan pada area luar (outdoor), dipastikan tidak menggunakan peralatan listrik indoor (peralatan listrik yang digunakan harus ber-standar outdoor), agar masalah K3 akibat potensi bahaya arus listrik dapat diperkecil.

Manajemen Building/Kantor Pusat

Kantor Pusat Perusahaan terletak pada bangunan berlantai 3 (tiga). Untuk aktifitas ke lantai 3 (tiga) hanya terdapat 1 (satu) lokasi tangga untuk masuk & keluar ke Kantor Pusat, bila keadaan darurat terjadi tidak terdapat tangga darurat yang dapat digunakan sebagai alternatif bila pegawai ingin keluar dari kantor pusat.

Di area Kantor Pusat pada lantai 2 (dua & 3 (tiga) terdapat beberapa jendela yang dapat dibuka tanpa halangan

& dapat digunakan sebagai media jalur darurat dengan jarak jendela cukup dekat dari lantai dasar sekitar 3 (tiga) meter. Pastikan pada jendela yang akan dipergunakan sebagai jalur evakuasi pada lantai 3 (tiga) disediakan alat pemecah kaca, dan sarana untuk turun dalam bentuk tangga darurat yang ditetapkan (seperti tangga yang dibuat dari bahan tali), sehingga evakuasi dapat dilakukan effektif.

Di area Kantor Pusat perusahaan cukup tersedia sarana dan prasarana yang mendukung aktifitas pekerja seperti toilet, pantry, ruang kerja ber AC dan sebagainya.

Terdapat pekerjaan di malam hari, namun di area ruangan kantor belum disediakan emergency lamp, pastikan terdapat emergency lamp dalam jumlah dan kondisi memadai, sehingga bila keadaan darurat terjadi dan aliran

(12)

listrik tidak berfungsi dapat membimbing semua pekerja yang ada untuk evakuasi berjalan effektif. Pada area kantor pusat tidak terdapat alat yang berfungsi menginformasikan secara masal bila terjadi keadaan darurat seperti alarm/sirine baik yang manual maupun automatis.

Persiapan Keadaan Darurat

Untuk mengantisipasi kondisi keadaan darurat yang mungkin dapat terjadi sewaktu-waktu, Perusahaan sudah menetapkan Prosedur Kesiagaan Tanggap Darurat No. CSMS-P-CPK-K3-05 sebagai acuan. Potensi- potensi keadaan darurat sudah diidentifikasi mencakup kebakaran, gempa bumi, kerusuhan masa dan banjir.

Perencanaan untuk menghadapi keadaan darurat yang ada dilakukan dengan membuat perencaan dalam bentuk sekenario yang ditetapkan di dalam prosedur. Untuk keadaan darurat kebakaran ditetapkan IK Penanganan Kebakaran dan Pengoperasian APAR No. IK-K3-07, dan IK Pencegahan Kebakaran No. IK-K3-09.

Pastikan untuk kesiapan semua tenaga kerja yang ada, perusahaan sudah memberikan sosialisasi pedoman cara menghadapi masing-masing keadaan tersebut, dengan cara ditempelkan pada area-area tertentu seperti pada area proyek dan kantor pusat perusahaan, untuk menginformasikan kepada setiap pekerja/pengunjung dengan memadai. Pedoman yang ada dituangkan dalam dokumen panduan kerja (level III) penanganan masing-masing keadaan darurat, yang dilampirkan di dalam prosedur.

Simulasi untuk tahun 2015 belum dilakukan untuk semua keadaan darurat yang sudah teridentifikasi. Pada area proyek yang dikerjakan, perusahaan pernah melaksanakan terhadap simulasi keadaan darurat kebakaran yang dilakukan oleh Kontraktor Utama, ketika itu perusahaan menjadi Sub Kontraktornya. Terhadap simulasi yang pernah diikuti, perusahaan tidak melakukan evaluasi sesuai dengan sekenario, orang, alat & peralatan, material yang digunakan, serta lingkungan sekitar dari pelaksanaan simulasi yang diikuti. Bukti-bukti kepesertaan hanya dilakukan melalui photo sehingga effektifitas pelaksanaan simulasi tidak dapat dipastikan diketahui.

Terhadap keadaan darurat lainnya yang belum tersimulasi sudah direncanakan untuk melaksanakan bertahap simulasi yang dilaksanakan bersamaan dengan pelatihannya pada bulan Arpril 2016 sampai dengan Desember 2016. Bila belum terlaksana secara keseluruhan sampai dengan akhir tahun 2015, simulasi direncanakan akan dilakukan sampai dengan 3 (tiga) tahun kedepan. Perencanaan simulasi sudah dijadwalkan pada program kerja SMK3 yang ada. Terhadap keadaan darurat yang akan dilakukan simulasinya harus dapat dipastikan dilakukan evaluasi.

Belum ditetapkan mekanisme pemulihan untuk sarana dan prasanana serta pekerja yang mungkin mengalami keadaan darurat, pada Prosedur Rencana dan Pemulihan Keadaan Darurat No. CSMS-P-CPK-K3-06 yang digunakan. Pastikan di dalam prosedur sudah mengatur pemulihan kondisi tenaga kerja serta sarana dan prasarana yang mengalami kerusakan sesegera mungkin setelah keadaan darurat, kecelakaan dan atau PAK terjadi.

Perusahaan sudah membentuk struktur penanggung-jawab untuk keadaan darurat. Anggota tim yang sudah ditunjuk tidak dapat dipastikan sudah diberikan pelatihan oleh lembaga yang kompeten, seperti pemadam kebakaran daerah, serta tim tanggap darurat belum diberi tanda khusus, baik untuk tim yang berada di kantor pusat maupun tim yang berada di proyek.

Pada area Kantor Pusat Perusahaan sudah tersedia alat proteksi kebakaran seperti APAR, namun belum memadai, karena tersedia 1 (satu) dengan kapasitas 3 kg. Bila terjadi keadaan bahaya kebakaran, “pertolongan pertama” untuk penanggulangannya tidak dapat dipastikan effektif dilakukan, walaupun sekertariat PMK daerah berdekatan dengan lokasi sekitar 1 (satu) KM yaitu PMK Daerah.

Nomor-nomor telpon penting yang dapat dihubungi, layout jalur evakuasi, penetapan titik berkumpul yang aman bila keadaan darurat terjadi belum ditetapkan & disosialisasikan, pada area kerja yang dapat untuk memandu evakuasi, jika terjadi keadaan darurat pada area Kantor Pusat Perusahaan & area proyek.

Pada tim tanggap darurat, sudah dibentuk tim yang bertugas sebagai Tim P3K. Tim P3K yang ada tidak dapat dipastikan sudah mendapatkan pelatihan dari lembaga yang berkompeten, seperti PMI dan belum mendapatkan pengesahan lisensi dari Disnaker setempat. Perusahaan pastikan menyediakan kotak-kotak P3K yang disediakan di area kerja kantor pusat dan pabrik yang isinya disesuaikan dengan ketentuan Lampiran 2 Permenakertrans No. 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di Tempat Kerja.

Pelaporan dan Penyelidikan Accident

Untuk pengaturan pelaporan dan investigasi terhadap insiden, perusahaan menggunakan Prosedur Investigasi

(13)

dan Pelaporan Kecelakaan Kerja dan PAK No. CSMS-P-CPK-K3-08. Untuk kecelakaan kerja dan insiden, di dalam Prosedur sudah membahas mekanisme bagaimana pembuatan laporan dan penyelidikannya, termasuk sudah dilampirkan form yang harus digunakan, yaitu Form Laporan Kecelakaan, Investigasi dan Penyelesaian No. FM-CPK-MR-06A.

Untuk PAK yang mungkin terjadi, sudah ditetapkan mekanisme pelaporannya, tetapi di dalam prosedur belum menetapkan mekanisme penyelidikan PAK yang mungkin terjadi secara spesifik, seperti mekanisme untuk pembuatan penyelidikannya. Tim yang ditetapkan untuk membuat laporan PAK, yaitu Dokter yang melaksanakan MCU, tetapi untuk melakukan pelaksanaan penyelidikan PAK yang mungkin terjadi belum ditetapkan tim pelaksananya.

Sampai dengan audit dilakukan, belum terdapat pelaporan dan penyelidikan yang dilakukan untuk kecelakaan kerja yang terjadi, sesuai informasi belum pernah terjadi kecelakaan kerja di semua aktifitas pekerjaan perusahaan. Bila dilakukan pelaporan dan penyelidikan, perlu diperhatikan bila melakukan penyusunan hasil penyelidikan kejadian yang menyebabkan masalah K3 yang terjadi, harus memperhatikan pembuatan kronologis kejadian secara detail, kesimpulan dengan menyebutkan sebab sebagai akar utama permasalahan dari hasil penyelidikan, saran secara preventif & korektif yang diberikan oleh penyelidik, rekomendasi perbaikan, penanggung jawab tindak lanjut perbaikan, atau personil yang bertanggung jawab, dan batasan waktu penyelesaiannya.

Hindari penggunaan kata-kata yang “tidak terukur” seperti kata-kata “bekerja tidak hati-hati”, “melakukan aktifitas tidak waspada” dan lain-lain, sehingga hasil penyelidikan yang dilakukan dapat effektif digunakan sebagai referensi agar kejadian yang menyebabkan masalah K3 tersebut diminimalisir untuk terjadi lagi.

Untuk pelaporan dan penyelidikan masalah K3 yang mungkin terjadi, perusahaan menggunakan Prosedur Komunikasi dan Konsultasi K3 No. CSMS-P-CPK-K3-04 dan Prosedur Tindakan Perbaikan & Pencegahan No.

CSMS-P-CPK-MR-05 dan Prosedur Pengendalian Ketidaksesuaian No. CSMS-P-CPK-MR-04 sebagai dasar pelaksanaannya.

Pengadaan Barang dan Jasa

Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan mengacu pada Prosedur Pembelian No. PM-CPK-PUR-01 dan Prosedur Seleksi & Evaluasi Supplier/Subkon No. PM-CPK-PUR-02. Di dalam Prosedur sudah memasukkan persyaratan K3 dalam permintaan pengadaan barang dan jasa, pastikan di dalam permintaan pengadaannya, baik dengan purchase order maupun dengan surat perjanjian supply barang/material, sudah memasukkan persyaratan K3 sebagai parameternya.

Terdapat Prosedur Seleksi dan Evaluasi Supplier/Subkon No. PM-CPK-PUR-02, sebagai panduan seleksi dan evaluasi mengenai K3 dari supplier/subkontraktor. Pelaksanaan seleksi dan evaluasi sudah ditetapkan formulir sebagai media pelaksanaannya, yaitu Form Kuesioner Seleksi Supplier No. FM-CPK-PUR-02B, Form Daftar Calon Supplier No. FM-CPK-PUR-02A, Form Daftar Supplier No. FM-CPK-PUR-02C dan Form Evaluasi Supplier No. FM-CPK-PUR-02D.

Sampai dengan audit dilakukan semua form yang ada belum digunakan, serta terhadap form yang ada hanya difungsikan untuk pelaksanaan pengadaan barang dan jasa berdasarkan persyaratan SMM, sedangkan untuk persyaratan SMK3 belum terakomodir, sehingga pelaksanaan seleksi vendor/supplier berdasarkan pesyaratan K3 belum memadai. Contoh pada pengadaan jasa penggunaan mini excavator di area proyek, pada PO yang digunakan (PO No. 21-Muhammadiyah BDG-VI-2015 tertanggal 28 Juni 2015) persyaratan aspek K3 terkait Legalisasi Peralatan (sertifikat penggunaan alat) dan SIO bagi operatornya belum ditetapkan.

Seperti halnya penerapan seleksi supplier, pelaksanaan kegiatan evaluasi kinerja vendor/supplier juga belum dilakukan untuk tahun 2014, sesuai dengan dasar Prosedur Seleksi dan Evaluasi Supplier No. CSMS-P-CPK- PUR-02, dan Prosedur Pengendalian Suplier-subkontraktor No. CSMS-P-CPK-K3-11.

Untuk tahun 2015 perusahaan sudah merencanakan pelaksanaan evaluasi vendor/supplier, tetapi evaluasi belum dilakukan, karena di dalam prosedur ditetapkan per periode pelaksanaan evaluasi dilakukan dalam waktu setahun sekali. Evaluasi Supplier dilakukan dengan menggunakan Form Evaluasi Supplier No. FM-CPK-K3- 11A, terhadap semua pemasok barang dan jasa ke perusahaan dengan memasukkan persyaratan K3 sebagai salah satu parameternya.

(14)

PENGUKURAN DAN EVALUASI

Perusahaan melakukan kegiatan pengukuran dan evaluasi terhadap kinerja K3 melalui kegiatan inspeksi K3, pemantauan kondisi lingkungan kerja, pemantauan kesehatan tenaga kerja, dan audit internal K3. Sebagai Pelaksanaan inspeksi K3 digunakan Prosedur Observasi dan Inspeksi K3 No. CSMS-P-CPK-K3-14, pemantauan lingkungan kerja digunakan Prosedur Pemantauan dan Pengukuran K3 No. CSMS-P-CPK-K3-07, dan kesehatan kerja digunakan Prosedur Kesehatan Kerja No. CSMS-P-CPK-K3-07, sedangkan audit internal K3 mengacu pada Prosedur Audit Internal No. CSMS-P-CPK-MR-03.

Inspeksi K3

Perusahaan menetapkan kegiatan inspeksi K3 dalam 2 macam, yaitu: inspeksi bulanan dan, inspeksi waktu tertentu. Inspeksi bulanan adalah inspeksi rutin yang dimaksudkan untuk dilakukan dengan objek inspeksi tempat dan cara kerja, di seluruh bagian lokasi kerja yang dijadwalkan satu bulan sekali. Inspeksi yang sudah dilakukan, menggunakan Form Laporan Inspeksi K3 No. FM-CPK-K3-07B, dan Form Checklist Inspeksi House Keeping (tidak bernomor dokumen). Pastikan inspeksi sudah dilakukan untuk parameter cara kerja dilakukan secara spesifik, seperti pemantauan aktifitas pekerja yang disesuaikan dengan panduan kerja yang ditetapkan.

Di dalam form checklist inspeksi sudah menginformasikan parameter APD sebagai parameter yang akan diinspeksi.

Pastikan inspeksi sudah dilakukan untuk semua area kerja yang ada termasuk area kerja proyek, karena di dalam form hanya diinformasikan lokasi inspeksi dilakukan pada area Kantor Pusat. Inspeksi waktu tertentu dilakukan jika dipandang perlu dan ada masalah khusus.

Inspeksi K3 dilakukan oleh P2K3, petugas yang ditetapkan untuk pelaksanaan inspeksi dapat dipastikan sudah mendapatkan pelatihan manajemen risiko internal dari Konsultan SMK3, sesuai dengan yang dipersyaratkan.

Checklist Inspeski House Keeping sudah disusun untuk digunakan ketika pelaksanaan inspeksi sesuai dengan Prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Kantor No. CSMS-P-CPK-K3-08. Inspeksi sudah dilakukan untuk Kantor Pusat Perusahaan, tetapi pelaksanaan inspeksi belum dilakukan untuk lokasi proyek. Untuk objek dari inspeksi sudah dilakukan untuk K3 dan kebersihan. Petugas inspeksi perlu untuk melakukan pembuatan laporan hasil inspeksi secara komprehensif dan diserahkan kepada ketua P2K3, dan dibahas pada rapat bulanan P2K3 jika diperlukan.

Terhadap hasil temuan ketidaksesuaian yang mungkin akan ditemukan ketika pelaksanaan inspeksi dilakukan, pastikan dilakukan tindakan perbaikan untuk pelaksanaan tindak lanjutnya. Pastikan dilakukan monitoring untuk pelaksanaannya dengan menggunakan Form Laporan Ketidaksesuaian dan Tindakan Perbaikan sesuai dengan Prosedur Tindakan Perbaikan dan Tindakan Pencegahan No. CSMS-P-CPK-MR-04 & CSMS-P-CPK-MR-05.

Pemantauan lingkungan kerja

Untuk tahun 2015 pemantauan lingkungan kerja belum dilakukan oleh perusahaan. Sesuai dengan panduan pelaksanaannya, pemantauan lingkungan kerja harus dilakukan untuk parameter kebisingan, penerangan, debu, temperatur, getaran dan iklim kerja. Terhadap rencana pelaksanaannya perusahaan sudah menjadwalkan pada program kerja SMK3 perusahaan untuk tahun 2015, direncanakan pemantauan dilaksanakan pada bulan Juni 2016. Bila sudah dilakukan hal yang perlu diperhatikan adalah harus dapat dipastikan, bahwa semua dimonitor penyelesaian tindak lanjutnya dari semua ketidaksesuaian yang ditemukan ketika dilaksanakan pemantauan lingkungan kerja tersebut.

Pemantauan Kesehatan

Sebagai dasar pelaksanaan pemantauan kesehatan pekerja, perusahaan menggunakan Prosedur Kesehatan Kerja No. CSMS-P-CPK-K3-09. Untuk tahun 2015 perusahaan sudah melaksanakan pemantauan kesehatan untuk beberapa karyawan yang berstatus pegawai tetap, yaitu Direktur Utama dan beberapa Proyek Manager.

MCU dilakukan oleh penyelenggara independen yang kompeten yaitu Rumah Sakit Mitra Keluarga, Bekasi Barat. Pastikan RS Mitra Keluarga Bekasi Barat telah memiliki Dokter Pemeriksa yang melakukan pemeriksaan kesehatan karyawan yang telah mendapatkan penunjukan sesuai dengan Permenaker No. 02/MEN/1980.

Terhadap pemantaauan kesehatan yang sudah dilakukan, belum dilakukan diidentifikasii bagi setiap karyawannya yang berada pada lokasi pekerjaan dengan potensi bahaya bagi kesehatan tinggi, seperti karyawan operasional yang beraktifitas pada area proyek, atau untuk karyawan bukan karyawan tetap (karyawan kontrak). Pastikan terhadap perencanaan MCU yang sudah dibuat perusahaan, harus dapat

(15)

dipastikan sudah melakukan identifikasi keadaan di mana diperlukan pemeriksaan kesehatan untuk pekerja dilakukan, sebagaimana diatur pada Prosedur Pemantauan Kesehatan yang digunakan.Perusahaan.

Dalam rangka melindungi tenaga kerja terhadap setiap gangguan kesehatan yang ada dari pekerjaan atau lingkungan kerja, serta kemampuan fisik dari tenaga kerja, perusahaan sudah mempunyai program untuk memberikan pengobatan, dan pelayanan kesehatan bagi semua level tenaga kerja, melalui penyediaan pelayanan kesehatan, yang bekerja sama dengan semua Rumah Sakit yang berada pada area dimana pekerja tinggal, melalui mekanisme BPJS dan reimbursement untuk biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh pekerja, disesuaikan dengan Peraturan Perusahaan yang ditetapkan.

Audit Internal K3

Audit internal mengacu kepada Prosedur Audit Internal No. CSMS-P-CPK-MR-03. Untuk penerapan Sistem Manajemen K3 periode kinerja sampai dengan bulan Desember 2015, audit internal sudah dilakukan pada tanggal 17 Desember 2015 oleh Tim Auditor Internal yang ditunjuk oleh Top Manajemen, sesuai dengan Daftar Internal Auditor Form No. FM-CPK-MR-03A.

Tim auditor yang ditunjuk tidak dapat dipastikan sudah mengikuti pelatihan auditor internal untuk SMK3 berdasarkan Permenaker No. 05/MEN/1996 atau PP No. 50 tahun 2012, walau auditor sudah pelatihan auditor internal OHSAS 18001:2007 yang pelatihan dilakukan oleh konsultan System Manajemen perusahaan.

Dalam pelaksanaan audit sudah dilakukan tahapan-tahapan pelaksanaannya seperti pembutan audit plan yang berisikan informasi perencanaan audit pada setiap fungsi di perusahaan, menggunakan Form Jadual Pelaksanaan Audit Internal SMK3 No. FM-CPK-MR-03D. Pastikan audit plan sudah memasukkan informasi kriteria-kriteria SMK3 PP50 yang akan dilihat pada setiap fungsi, dilakukan rapat pembukaan dan penutupan.

Dalam pelaksanaan audit sudah digunakannya daftar pertanyaan audit dengan Form Audit Checklist No. FM- CPK-MR-03.B.

Hasil temuan ketidaksesuaian yang ditemukan ketika audit dilakukan yang terdapat pada Form Laporan Hasil Audit Sistem Manajemen K3 No. FM-CPK-MR-03C dan Form Laporan Ketidaksesuaian dan Tindakan Perbaikan (form tidak bernomor). Hasil temuan belum semua dikorelasikan dengan benar terhadap 166 standar audit yang terdapat di lampiran 2 PP No. 50 tahun 2012. Contoh temuan tentang belum semua tim tanggap darurat dan P3K mendapatkan pelatihan khusus (LKP No. 01/ HRD/XII/2015), hanya dikorelasikan dengan klausul 6.7 & 7.8, seharusnya dikorelasikan dengan standar klausul SMK3 6.7.4 & 6.8.1.

Status temuan ketidaksesuaian yang ada belum dikorelasikan dengan katagori dari ketidaksesuaian tersebut seperti kritikal, mayor dan minor sesuai dengan lampiran pada PP No. 50 tahun 2012.

Terhadap temuan ketidaksesuaian yang ditemukan ketika audit dilakukan, sudah dilakukan pembuatan tindak lanjutnya dengan menggunakan Form Permintaan Tindakan Perbaikan dan Pencegahan. Semua kolom sebagai informasi monitoring legalitas perbaikannya, sudah dilakukan pengisiannya, tetapi terhadap tindak lanjut yang sudah dilakukan, belum disertai dengan bukti-bukti sebagai lampiran keterangan tindak lanjut tersebut.

TINJAUAN ULANG MANAJEMEN

Tinjauan manajemen diatur pada Prosedur Tinjauan Manajemen No. CSMS-P-CPK-MR-06. Di dalam prosedur sudah menetapkan agenda acara yang harus dibahas di dalam RTM yang dilakukan, agenda acara RTM tersebut sudah sesuai dengan lampiran 1 PP No. 50 tahun 2012. RTM sudah dilakukan pada tanggal 19 Desember 2015.

Agenda acara yang dibahas sudah sesuai prosedur dan lampiran 1 PP No. 50 tahun 2012, tetapi terhadap hasil RTM yang sudah ditetapkan, belum dilengkapi dengan materi-materi pembahasan, dan dilengkapi bukti terhadap pembahasan masing-masing agenda acara tersebut. Pada RTM yang sudah dilakukan, belum secara spesifik membahas terhadap pencapaian kinerja dari tujuan, sasaran dan program yang telah ditetapkan, walau penerapan SMK3 baru berjalan beberapa bulan.

Dalam pelaksanaan RTM sudah dihadiri oleh semua top manajemen perusahaan (sesuai daftar hadir yang terlampir). Pada hasil RTM yang ada sudah dilengkapi dengan keputusan yang dilengkapi dengan PIC dan tanggal terakhir penyelesaian tindak lanjut yang harus dilakukan, sehingga semua effektifitas penyelesaiannya dapat termonitor.

(16)
(17)

* Please send your response(s) to this Non Conformitie(s) + obs also in softcopy

Non Conformity / Observation Report

Organization No. Audit No. Standard. Audit Date : 29-01-2016 (SY, MJZ, )

(1) SMK3 (Certification) ATL / Auditor :

……….(signature) Organization Rep. :

……….(signature) 14742 No. Category Clause Std Auditor Description Root Cause Investigation* Corrective Action & Evidence* Audit Team Review

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

1 Minor 1.1.2 PP50-12 SY

Kebijakan SMK3 yang ditetapkan untuk digunakan tidak dapat dipastikan sudah melalui proses konsultasi dengan perwakilan

tenaga kerja dalam

menetapkannya.

2 Minor 2.1.4 PP50-12 SY

1. Program kerja belum diditetapkan berdasarkan semua fungsi/bagian yang ada di perusahaan, seperti Fungsi Personalia untuk pelatihan, dan Fungsi Tehnik & Peralatan untuk teknis. Program kerja hanya ditetapkan untuk Fungsi P2K3L dan Fungsi Manajemen. 2.

Program kerja dibuat sesuai dengan semua pengendalian risiko yang sudah ditetapkan untuk risiko dari potensi bahaya yang sudah teridentifikasi. Contoh tentang

pengendalian dengan

menggunakan Instruksi kerja (IK) Bekerja Aman di Area Proyek, untuk pelaksanaannya

belum dibuatkan perencanaan pelaksanaannya.

SMK 01592

(18)

3 Minor 6.1.1 PP50-12 SY

tingkat resiko (TR) awal terhadap resiko yang sangat berbeda, yaitu TR untuk resiko penglihatan karena radiasi komputer serta TR untuk resiko meninggal dunia karena tersetrum, seharusnya ditetapkan mempunyai nilai yang berbeda karena untuk resiko penglihatan hanya kecelakaan sedang sedangkan meninggal dunia adalah fatality. tetapi terhadap perbedaan tersebut ditetapkan TR dengan nilai sama.

2. IBPPR sudah dibuat untuk sebagian besar pekerjaan- pekerjaan di areal Kantor Pusat namun IBPPR belum tersusun untuk areal pekerjaan proyek semisal belum ditetapkan IBPPR untuk aktifitas pemasangan atap.

3. Pengendalian resiko yang ditetapkan belum berdasarkan hirarki pengendalian yang terukur yang direncanakan karena mengunakan hirarki pengendalian yang merupakan pengendalian tidak jelas untuk melakukannya seperti pengendalian dengan

“monitoring”.

4 Minor 1.4.3 PP50-12 FEB

P2K3 belum disahkan oleh Kepala Disnakertrans Pemerintah Kota Bekasi, tetapi surat permohonan untuk pengesahan sudah dilayangkan dengan Surat Permohonan Direktur Utama PT.

CPK Nomor 08/Per-

P2K3/CPK/XII/2015 tertanggal 23 Desember 2015, menurut tanda terima yang ada pengesahan P2K3 sedang dalam proses.

(19)

5 Minor 6.1.5 PP50-12 SY

memadai untuk areal proyek yang sudah selesai dilakukaan, karena terdapat aktifitas pengalian &

ketinggian mengunakan perancah yang seharusnya diberlakukan mekanisme ijin kerja tetapi belum dilakukan.

6 Minor 1.4.5 PP50-12 MJZ

Sekretaris P2K3 belum ada bukti memiliki penunjukan sebagai Ahli K3 (sesuai PER.04/MEN/1987 dan PER.02/MEN/1992).

7 Minor 6.4.3 PP50-12 MJZ

Kantor pusat perusahaan terletak pada bangunan berlantai 3 (tiga), untuk aktifitas ke lantai 3 hanya terdapat 1 (satu) lokasi tangga untuk masuk & keluar kekantor pusat, maka bila keadaan darurat terjadi tidak terdapat tangga darurat yang dapat digunakan sebagai alternatif bila pegawai ingin keluar dari kantor pusat, tetapi diareal kantor pusat terdapat beberapa jendela yang dapat dibuka tanpa halangan & dapat digunakan sebagai media jalur darurat dengan jarak jendela cukup dekat dari lantai dasar sekitar 3 (tiga) meter.

(20)

8 Minor 6.7.2 PP50-12 SY

terhadap simulasi keadaan darurat kebakaran dengan ikut serta kepada Kontraktor Utama, namun terhadap simulasi yang dilakukan, perusahaan tidak melakukan evaluasi sesuai dengan sekenario, orang, dan alat terhadap pelaksanaan simulasi yang diikuti, bukti-bukti pelaksanaan hanya dilakukan melalui photo sehingga effektifitas pelaksanaan simulasi tidak dapat dipastikan diketahui.

9 Minor 6.7.4 PP50-12 SY

Anggota tim penangganan keadaan darurat yang sudah ditunjuk tidak dapat dipastikan sudah diberikan pelatihan oleh lembaga yang kompeten seperti pemadam kebakaran daerah serta tim tanggap darurat belum diberi tanda khusus baik untuk tim yang berada dikantor pusat maupun tim yang berada di proyek.

(21)

10 Minor 6.7.7 PP50-12 SY

proteksi kebakaran seperti APAR, namun belum memadai, karena tersedia 1 (satu) dengan kapasitas 3 kg sehingga bila terjadi keadaan bahaya kebakaran terjadi

“pertolongan pertama” untuk penanggulangannya tidak dapat dipastikan effektif dilakukan. 2.

belum terdapat emergency lamp diareal kantor pusat walau terdapat pekerjaan dimalam hari serta pada areal kantor pusat tidak terdapat

alat yang berfungsi

menginformasikan secara masal bila terjadi keadaan darurat seperti alarm/sirine baik yang manual maupun automatis.

11 Minor 7.1.1 PP50-12 MJZ

Inspeksi yang sudah dilakukan tidak dapat dipastikan sudah dilakukan untuk parameter cara kerja sudah secara spesifik walaupun didalam inspeksi parameter APD sudah ditetapkan sebagai parameter yang akan diinspeksi serta inspeksi belum dilakukan untuk areal proyek.

12 Minor 6.8.2 PP50-12 SY

Pada tim tanggap darurat juga sudah dibentuk yang bertugas sebagai Tim P3K, namun tim P3K yang ada tidak dapat dipastikan sudah mendapatkan pelatihan dari lembaga yang berkompeten seperti PMI dan belum mendapatkan pengesahan lisensi dari Disnaker setempat.

13 Minor 7.2.1 PP50-12 MJZ

Untuk tahun 2015 pemantauan lingkungan kerja belum dilakukan oleh perusahaan.

(22)

14 Minor 7.4.2 PP50-12 MJZ

diidentifikasi bagi setiap karyawannya yang berada pada lokasi pekerjaan dengan potensi bahaya bagi kesehatan tinggi seperti karyawan pada areal pabrik karena status karyawan tersebut bukan karyawan tetap (karyawan kontrak).

15 Minor 11.1.2 PP50-12 SY

Terhadap tim auditor internal yang ditunjuk tidak dapat dipastikan sudah mengikuti pelatihan auditor internal untuk SMK3 berdasarkan Permenaker no. 05/MEN/1996 atau PP no. 50 tahun 2012.

16 Minor 5.1.2 PP50-12 SY

Pada area proyek digunakan mini excavator, tetapi terhadap pengadaan yang dilakukan persyaratan K3 seperti wajib memilki Sertifikasi Alat dan SIO untuk opertaor tidak dapat dipastikan sudah ditetapkan.

17 Minor 6.4.4 PP50-12 SY

Nomor-nomor telpon penting yang dapat dihubungi, layout jalur evakuasi, penetapan titik berkumpul yang aman bila keadaan darurat terjadi belum ditetapkan & disosialisasikan pada area kerja Kantor Pusat Perusahaan.

(23)

18 Minor 6.1.6 PP50-12 MJZ

dipersyaratkan seperti ditemukan pekerja diareal proyek sedang melakukan pekerjaan ketinggian tidak mengunakan APD safety bodiharness, dan masih ditemukan pekerja yang tidak mengunakan APD pelidung kaki (sepatu) karena pekerja hanya mengunakan sandal jepit, serta pekerja tidak mengunakan helmet.

19 Minor 2.3.1 PP50-12 MJZ

Dalam verifikasi daftar peraturan dan perundangan SMK3, masih ditemukan

(a) Peraturan perundangan yang sudah tidak berlaku, antara lain Kep. 19/M/Bw/1997, Kep- 51/Men/1999, Per.04/M/1998

(b) Peraturan yang belum teridentifikasi UU18/1999, Kep.333/Men1989, Kep.155/1984.

20 Minor 4.1.1 PP50-12 MJZ

(a). Beberapa rekaman belum ada nomor dokumennya, seperti Daftar Induk Dokumen Eksternal.

(b). Beberapa formulir yang dipakai, memiliki lebih dari satu nomor dokumen, seperti formulir Laporan Ketidaksesuaian dan Tindakan Perbaikan bernomor F- MS-MR-04A dan F-MS-MR-05A.

(c). belum diinformasikan nomor salinan pada dokumen hardcopy salinan terkendali.

Referensi

Dokumen terkait

Langkah awal yang dilakukan untuk mendapatkan model regresi logistik nonparametrik aditif berdasarkan estimator polinomial lokal adalah menentukan nilai awal fungsi

Orang tua merupakan faktor penentu bagi perkembangan baik fisik maupun mental anak (Permono, 2013). Orang tua yang bekerja akan mengurangi waktu untuk berperan

Konsep pembelajaran sepanjang hayat juga ada dalam konsep literasi informasi, seperti yang disebutkan UNESCO, dalam Progue Declaration yang dideklarasikan dalam

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan nilai kualitas komunikasi data pada tower bersama menurun adalah antrian yang berlebihan dalam jaringan, overload traffic di dalam jaringan,

NUR

Meskipun nilai bilangan Mach dan faktor kompresibilitas fluida terhadap aliran di sepanjang bilah prototipe turbin berbeda dengan miniaturnya, kesamaan nilai bilangan Reynolds

Tingkat tegangan yang lebih tinggi, selain untuk memperbesar daya hantar dari saluran transmisi yang berbanding lurus dengan kuadrat tegangan, juga untuk memperkecil rugi-rugi

Penelitian ini berjalan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat oleh peneliti sebagaimana terlampir. Data dalam penelitian ini diperoleh