• Tidak ada hasil yang ditemukan

Scanned by TapScanner

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Scanned by TapScanner"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

Scanned by TapScanner

(5)
(6)

Scanned by TapScanner

(7)

Scanned by TapScanner

(8)
(9)

Konsep diri adalah semua bentuk kepercayaan, perasaan, dan penilaian yang diyakini individu tentang dirinya sendiri dan mempengaruhi proses interaksi sosial dengan lingkungan sekitar (Pambudi, 2012). Konsep diri terbentuk melalui pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan lingkungan baik itu lingkungan keluarga, maupun masayarakat. Konsep diri merupakan cara berpikir seseorang dalam memandang pribadinya meliputi identitas, pikiran, perasaan, perilaku, penampilan, dan karakteristik pribadi yang mempengaruhi seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya.

Konsep diri terdiri dari beberapa komponen yaitu : identitas, citra tubuh, harga diri, ideal diri dan peran.

Perubahan dalam penampilan, struktur atau fungsi bagian tubuh akan membutuhkan perubahan dalam gambaran diri (citra tubuh). Persepsi seseorang tentang perubahan tubuh dapat dipengaruhi oleh perubahan tersebut (Potter & Perry,

1

(10)

2005). Konsep diri dan persepsi tentang kesehatan sangat berkaitan erat satu sama lain. Pasien yang mempunyai keyakinan tentang kesehatan yang baik akan dapat

meningkatka konsep diri. Tetapi sebaliknya, pasien yang memiliki persepsi diri yang negatif akan menimbulkan keputusasaan.

Setiap pasien memiliki latar belakang berbeda dalam proses perjalanan kehidupannya, sehingga setiap individu memiliki cara sendiri untuk mengidentifikasi masalah serta menyikapi perubahan terhadap kondisinya. Perubahan konsep diri pada pasien dengan luka kaki diabetik terutama disebabkan oleh cara pandang diri pasien terhadap dirinya seiring dengan kondisi yang dialami. Pasien akan mengalami perubahan penampilan fisik, kemampuan, dan fungsi tubuh yang akan mengakibatkan tidak stabilnya konsep diri akibat dari kondisi yang dialami. Pasien yang memiliki konsep diri rendah cenderung tidak akan mencari bantuan untuk meningkatkan kesehatan fisik atau emosional.

Berdasarkan hasil penelitian Winter (2009) ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara konsep diri, peran hubungan dan interaksi sosial dengan penyembuhan luka pasien. Perubahan pada aspek sosial pasien DM dapat muncul jika timbul komplikasi seperti adanya LKD. Menurut Hidayat (2010) perubahan pada aspek sosial, seperti peran keluarga, ekonomi, produktivitas, gaya hidup dan harga diri merupakan

2

(11)

dampak yang berpengaruh secara signifikan pada penyembuhan LKD.

Pengaruh konsep diri, hubungan dan dukungan sosial pasien dengan LKD dalam proses penyembuhannya banyak sekali ditemukan. Hasil penelitian Ningsih (2012) menunjukkan pengaruh tersebut diantaranya muncul perasaan negatif, penurunan harga diri, perubahan citra tubuh serta lamanya perawatan dengan LKD yang akan sangat berpengaruh pada kualitas hidup pasien.

Individu yang harga dirinya tinggi memiliki sikap penerimaan dan memiliki rasa percaya diri. Pasien LKD memandang negatif tentang keadaan luka yang ada ditubuhnya. Apalagi jika disertai dengan tindakan amputasi sehingga ada sebagian anggota tubuh yang akan hilang dan membuat perubahan besar dalam hidupnya yang menyebabkan pandangan hidupnya juga akan berubah. Tidak hanya itu tingkat kemandirian penderita ulkus diabetikum juga mengalami perubahan sehingga penderita harus menerima bantuan dari orang lain dan melakukan aktifitas mandiri yang terkadang harus dibantu oleh orang lain. Hal ini menyebabkan harga diri dari penderita juga berkurang.

3

(12)

4

(13)

Pengertian Konsep diri

Konsep diri adalah pandangan seseorang tentang dirinya sendiri yang meliputi gambaran dirinya dan kepribadian yang diinginkan yang diperoleh dari hasil pengalaman dan interaksi yang mencakup aspek fisik ataupun psikologis. Cara pandang individu terhadap dirinya akan membentuk suatu konsep tentang dirinya sendiri. Konsep tentang diri tersebut merupakan hal-hal yang penting bagi kehidupan individu. Hal ini dikarenakn konsep diri menentukan bagaimana individu tersebut bertindak dalam berbagai situasi.

Pemegang peranan penting dalam pengintegrasian kepribadian individu ini salah satunya adalah konsep diri karena didalamnya terdapat terdapat motivasi tingkah laku serta pencapaian kesehatan mental. Individu akan bertindak tergantung pada bagaimana penghargaan orang lain terhadap dirinya sendiri apalagi seorang individu berpikir bahwa

5

(14)

dirinya bisa, maka individu akan cenderung sukses, dan bila individu tersebut merasa dirinya gagal, maka sebenarnya dirinya telah menyiapkan dirinya untuk gagal. Jadi konsep diri merupakan bagian diri yang mempengaruhi setiap aspek pengalaman baik pikiran, perasaan, persepsi dan tingkah laku individu tersebut.

Dibawah ini akan dipaparkan beberapa pendapat para ahli terkait pengertian konsep diri:

1. Stuart dan Sudden dalam Heidemans tahun 2009, konsep diri adalah ide, pikiran, kepercayaan da pendirian yang melekat pada individu yang mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.

2. Burn tahun 1989 Mengatakan bahwa Konsep diri merupakan suatu gambaran dari apa yang kita pikirkan, yang orang lain berpendapat mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan, yang mana konsep diri merupakan berbagai kombinasi dari berbagai aspek yaitu citra diri, intensitas afektif, evaluasi diri dan kecenderungan member respon.

3. Hurlock tahun 1993 mengatakan bahwa konsep diri merupakan gambaran mental yang dimiliki seseorang tentang dirinya yang mencakup citra fisik dan psikologis.

4. Rahmat dalam Ghfron dan Risnawati tahun 2011 mengatakan bahwa konsep diri bukan hanya gambaran

6

(15)

deskriptif, melainkan juga penilaian individu mengenai dirinya sendiri.

Jadi, konsep diri merupakan sesuatu yang dipikrikan dan dirasakan tentang dirinya sendiri. Terdapat dua konsep diri, yaitu konsep diri dari komponen kognitif dan konsep diri komponen afektif. Komponen kognitif tersebut disebut juga sel image dan komponen afektif disebut sebagai komponen self esteem. Komponen kognitif merupakan pengethuan individu tentang dirinya yang mencakup pengetahuan “siapa saya” yang akan memberikan gambaran tentang diri saya, gambaran ini disebut citra diri. Sementara itu, komponen afektif adalah penilaian individu terhadap dirinya sendiri yang akan membentuk bagaimana penerimaan terhadap dirinya sendiri dan harga diri individu tersebut.

Komponen Konsep diri

Komponen Konsep Diri Konsep diri dapat digambarkan dalam istilah rentang diri kuat sampai lemah atau positif sampai negatif yang kesemuanya tergantung pada kekuatan individu dari kelima komponen konsep diri (Stuart, 2013), kelima komponen konsep diri tersebut adalah sebagai berikut:

1. Citra Tubuh

Citra tubuh adalah sikap individu terhadap tubuhnya baik disadari atau tidak disadari meliputi persepsi masa

7

(16)

lalu atau masa sekarang mengenai ukuran dan bentuk, fungsi, penampilan dan potensi tubuh. Citra tubuh sangat dinamis karena secara konstan berubah seiring dengan persepsi dalam pengalaman-pengalaman baru. Citra tubuh harus realistis karena semakin dapat menerima dan menyukai tubuhnya individu akan lebih bebas dan merasa aman dari kecemasan (Suliswati, dkk, 2005). Citra tubuh adalah persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara internal maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan pada tubuh. Konsep diri yang baik tentang citra tubuh adalah kemampuan seseorang menerima bentuk tubuh yang dimiliki dengan senang hati dan penuh rasa syukur serta selalu berusaha untuk merawat tubuh dengan baik.

2. Identitas diri

Kesadaran akan keunikan diri sendiri yang bersumber dari penilaian dan observasi diri sendiri. Hal ini mencakup keutuhan internal individu, konsistensi individu tersebut sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi. Identitas menunjukan ciri khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain, tetapi menjadikannya unik. Seseorang yang memiliki identitas yang kuat akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain, dan tidak ada keduanya. Kemandirian timbul dari perasaan berharga, kemampuan dan penguasaan diri. Dalam

8

(17)

identitas diri ada otonomi yaitu mengerti dan percaya diri, respek terhadap diri, mampu menguasai diri, mengatur diri dan menerima diri (Suliswati, dkk, 2005).

3. Peran diri

Peran adalah suatu pola sikap, nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang yang berdasarkan posisinya dimasyarakat. Sementara untuk posisi tersebut merupakan identifikasi dari status atau tempat seseorang. Peran juga diartikan sebagai serangkaian perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu dalam berbagai kelompok sosial. Peran memberikan sarana untuk berperan serta dalam kehidupan sosial dan merupakan cara untuk menguji identitas dengan memvalidasi pada orang yang berarti (Suliswati, dkk, 2005).

4. Ideal Diri

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia seharusnya bertingkah laku berdasarkan standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan tipe orang yang diinginkan atau sejumlah inspirasi, tujuan, nilai yang diraih. Idela diri akan mewujudkan cita-cita atau pengharapan diri berdasarkan norma-norma sosial di masyarakat tempat individu tersebut melahirkan penyesuaian diri. Seseorang yang memiliki konsep diri yang baik tentang ideal diri apabila dirinya mampu

9

(18)

bertindak dan berperilaku sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya dan sesuai dengan apa yang diinginkannya. Pembentukan ideal diri dimulai pada masa kanak-kanak dipengaruhi oleh orang yang penting pada dirinya yang memberikan harapan atau tuntutan tertentu.

Seiring dengan berjalannya waktu individu menginternalisasikan harapan tersebut dan akan membentuk dasar dari ideal diri (Suliswati, dkk, 2005).

5. Harga Diri

Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain yaitu dicintai, dihormati dan dihargai. Individu akan merasa harga dirinya tinggi bila sering mengalami keberhasilan, sebaliknya individu akan merasa harga dirinya rendah bila sering mengalami kegagalan, tidak dicintai atau diterima lingkungan. Pada masa dewasa akhir timbul masalah harga diri karena adanya tantangan baru, ketidakmampuan fisik, kehilangan perasaan dan sebagainya (Suliswati, dkk, 2005). Seseorang memiliki konsep diri yang baik berkaitan dengan harga diri apabila mampu menunjukan keberadaannya dibutuhkan oleh orang banyak, dan menjadi bagian yang dihormati oleh lingkungan sekitar. Berupa penilaian individu tentang

10

(19)

pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Penilaian harga diri didasarkan pada faktor internal dan eksteral, serta harga diri tentang nilai diri.

Dimensi Konsep diri

Calhoun dan Acocela pada tahun 1990 mengatakan bahwa dalam konsep diri memiliki tida dimensi yaitu, Pengetahuan terhadap diri sendiri, Pengharapan mengenai diri sendiri, dan penilaian tentang dirinya sendiri.

1. Pengetahuan terhadap diri sendiri

Aspek pertama dari dimensi aspek –aspek konsep diri ini adalah pengetahuan terhadap diri sendiri.

Pengetahuan terhdap diri sendiri yang dimiliki individu meruapakan sesuatu yang individu ketahui tentang dirinya. Dalam pemiiran individu terdapat satu daftar julukan yang menggambarkan tentang dirinya, hal ini mengacu pada istilah-istilah kuantitas seperti nama, usia, jenis kelamin, kebangsaan, pekerjaan, agama dan lain sebagainya serta sesuatu yang merujuk pada istilah-istilah kualitas seperti egois, baik hati, tenang, dan memiliki temperamental yang tinggi. Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan cara membandingkan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Pengetahuan individu tidaklah menetap sepanjang kehidupannya karena

11

(20)

pengethuan individu bisa saja mengalami perubahan tingkah laku sehingga padangan orang lain akan individu tersebut akan berubah pula.

2. Pengharapan mengenai diri sendiri

Aspek yang kedua ini adalah harapan mengenai diri sendiri. Harapan mengenai diri sendiri merupakan aspek dimana individu mempunyai berbagai pandangan kedepan tentang siapa dirinya, menjadi apa dimasa yang akan datang, maka individu tersebut mempunyai harapan terhadap diri sendiri. Pengharapan pada tiap-tiap individu memiliki perbedaan hal ini dikarenakan didasarkan pada bakat dan minat individu tersebut mau jadi apa dan bagaimana kedepannya.

3. Penilaian tentang dirinya sendiri

Aspek yang ketiga atau aspek yang terakhir adalah penilaian terhadap diri sendiri. Seperti yang kita ketahui bahwa individu berkedudukan sebagai penilai terhadap diri sendiri setiap saat. Penilaian terhadap diri sendiri tersebut merupakan pengukuran individu tetang keadaannya saat ini dngan apa yang menurutnya dapat dan akan terjadi pda dirinya. Setiap individu berperan sebagai penilai terhadap dirinya sendiri dan standar pada tiap-tiap individu terhadap penilaian tersebut berbeda- beda.

12

(21)

Menurut Robinson dalam Heidemans pada tahun 2009 mengemukakan bahwa konsep diri tersebut dibagi kedalam lima aspek

a. Diri fisik, merupakan bagaiaman seseorang itu melihat dan menilai dirinya sendiri dari segi fisik, kesehatan, peampilan dan dari gerak motoriknya.

b. Diri keluarga, merupakan bagaimana seseorang tersebut menilai sebagai anggota keluarga dan harga diri sebagai anggota keluarga.

c. Diri pribadi, merupakan bagaimana seseorang menggambarkan identitas dirinya dan bagaimana menilai dirinya sendiri.

d. Dari moral etik, merupakan bagaimana persaan seseorang mengenai hubungannya dengan Tuhan dan penilainya mengenai hal-hal yang dianggap baik dan buruk.

e. Diri sosial, merupakan bagaimana seseorang melakukan gabungan atau interaksi sosial.

Perkembangan Konsep diri

Konsep diri merupakan proses yang berkelanjutan sepanjang hidup manusia. Kosnep diri masih dapat dirubah asalkan aa keinginan dari yang bersangkutan. Symond dalam Agustiani pada tahun 2006 mengemukakan bahwa persepsi tentang diri tidak langsung muncul ketika individu dilahirkan,

13

(22)

akan tetapi berkembang bertahap seiring dengan munculnya kemampuan untuk memahami sesuatu. Selama periode awal kehidupan, konsep diri sepenuhnya didasari oleh persepsi diri sendiri. Akan tettapi, seiring dengan bertambahnya usia, paradigma mengenai diri sendiri ini mulai dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diperoleh dari hasil berinteraksi dengan orang lain. Dengan kata lain, konsep diri juga merupakan hasil belajar melalui hubungan individu dengan individu lainnya.

Konsep diri muncul bukan secara tiba-tiba dan bukan juga bawaan dari lahir, tetapi berkembang secara perlahan- lahan selama rentang kehidupan individu melalui interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Lingkungan ini merupakan sesuatu yang paling mempengaruhi dalam pembentukan dan perkembangan konsep diri adalah keluarga dan masyarakat.

Perubahan secara permanen aspek psikologis yang terjadi pada diri seseorang sebagai akibat dari pengalaman hidupnya.

Pengalaman belajar yang awal terutama didapat dirumah dan kemudian pengalaman tersebut juga idperoleh dari berbagai lingkungan luar rumah. Tiga dimensi yang paling penting dalam membentuk konsep diri adalah asosiasi, akibat dan motivasi.

Konsep diri terbentuk dikarebakan terdapat proses belajar tentang nulai-nilai, sikap, peran dan identitas dalam hubungan interaksi antara dirinya dengan kelompok primer yaitu keluarga. Hubungan tatap muka dalam kelompok

14

(23)

primer tersebut bagaimana seorang individu mampu memberikan umpan balik kepda individu tentang bagiamana penilaian orang lain terhadap dirinya sendiri. Dengan kata lain bahwa perkembangan setiap individu tentang perkambangan konsep dirinya sangan dipengaruhi oleh orang disekitar dn lingkungannya. Semakin baik lingkungan maka perkembangan setiap individu tentang konsep dirinya akan semakin baik pula begitu pula sebaliknya. Menurut Adlr, Rosenfeld dan Towne dalam Heidemans pada tahun 2009, Terdapat dua teori tentang terbentuknya konsep diri ini, yaitu:

1. Reflected Appraisal

Teori ini menjelaskan bahwa konsep diri seseorang terbentuk atas pengaruh lingkungan sekitar, bagaimana oranh-orang lain memberi respon dan menila individu tersebu. Peran oranglian yang berarti (Significant other) dalam kehidupan seseorang sangat menentukan.

2. Social Comparison

Teori ini menjelaskan bahwa konsep diri berkembang melalui proses interaksi seseorang dengan lingkungan sepanjang rentang kehidupannya. Seseorang secara terus- menerus membentuk nilai-nilai yang dialami dan dipelajari bersama orang lain dilingkungannya. Selama proses tersebut berlagsung akan terajdi perbandingan- perbandingan yang seorang individu lakukan terhadap dirinya dan orang lain. Segala yang dipelajrari dan

15

(24)

dialami oleh seorang individu akan berkaitan dengan segala hal tentang dirinya yang akan dipersepseikan kedalam diri dan membentuk citra diri/ gambaran diri terhadap diri sendiri.

Faktor yang dapat mempengaruhi konsep diri

Pembentukan konsep diri ini tidak dapat terbentuk secara cepat, namun hal tersebut akan memakan waktu yang relative lama an pembentuka ini tidak dapat dikatakan bahwa reaksi yang tidak biasa dari seseorang yang dapat mengubah konsep dirinya. Ketika seseorang lahir, individu tidak memiliki pengetahuan tentang dirinya, tidak memiliki penilaian tentang dirinya. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan situasi serta lingkungan, individu mulai bisa membedakan antara dirinya, orang lain dan benda-benda disekitarnya, serta pada akhirnya individu mulai mengetahui siapa dirinya, apa yang diinginka serta dapat melakukan penilaian yang berdmpak paa perkembangan individu tersebut.

Calhoun dan Acocela paa tahun 1999 mengemukakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi konsep diri seseorang adalah orang tua, teman sebaya, masyarakat, sedangkan Rais dalam Gunarsa paa tahun 1989 menjelaskan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konsep diri adalah jenis kelamin, harapan-harapan, suku bangsa, nama

16

(25)

dan pakaian. Pendapat lain disampaikan oleh Argy dalam Hardy dan Heyes pada tahun 1988 mengemukakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi konsep diri adalah reaksi orang lain, perbandingan dengan orang lain, peranan seseorang dan identifikasi terhadap orang lain. Mari kita simak satu satu ulasanya.

1. Orang tua

Orang tua kita adalah kontak sosial yang paling awal dan paling kuat. Apa yang dikomunikasiakn oleh orang tua pada anak lebih menancap dari pada informasi lain yang diterima sepanjang daur kehidupannya. Orang tua kita mengajarkan bagaimana menilai diri sendiri dan orang tua yang lebih banyak membentuk kerangka dasar untuk konsep diri tersebut. Pola asuh orang tua menjadi faktor yang signifikan dalam membentuk konsep diri seseorang.

Sikap positif orang tua akan menumbuhkan konsep pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri sendri.

Sikap negative orang tua akan mengundang pertanyaan pada anak dan menimbulkan asumsi bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk disayangi dan dihargai.

2. Teman sebaya

Penerimaan anak terhadap kelompok tema sebaya sangat dibutuhkan setelag mendapat cinta dari orang lain dalam mempengaruhi kosnep diri. Jika oenerimaan ini tidak muncul, dibentak atau dijauhi maka konsep akan

17

(26)

terganggu. Disamping masalah penerimaan atau penolakan, peran yang diukur anak dalam kelompok teman sebayanya sangat mempengaruhi secara kuat pada pandagannya tentang dirinya sendiri.

3. Masyarakat

Individu tidak terlalu mementingkan kelahiran mereka, tetapi masyarakat menganggap penting fakta-fakta yanga da paa seorang anak, seperti siapa bapaknya, ras dan lain- lain. Akhirnya penilaian ini sampai kepada anak dan masuk kedalam konsep diri. Masyarakat memberikan harapan-harapan kepada anak dan melaksanakan harapan tersebut. Jadi, orang tua, teman sebaya dan masyarakat memberitahu kita bagaimana mengindentifikasi diri kita sendiri sehingga hal ini berpegaruh tehadap konsep diri yang dimiliki seorang individu.

4. Jenis kelamin

Keluarga, lingkungan sekolah ataupun lingkunga masyarakat yang lebih laus akan berkembang bermacam-macam tuntutan peran yag berbeda berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Menjelang masa bebas, begitu banyak tekanan-tekanan sosial yang dialami seseorang dan berpengaruh secara signifikan terhadap perkemabngan konsep dirinya. Seseorang harus mampu memegang peranan penting dalam menentukan

18

(27)

bagaimana seharusnya seorang wanita atau pria bertindak dan berprasaan.

5. Harapan-harapan

Harapan-harapan seseorang terhadap diri sendiri sangat penting bagi konsep dirinya. Hal ini dikarenakan orang lain mencetak kita, dan setidaknya kitapun mengasumsikan apa yang orang lain asumsikan tentang diri kita. Berdasrkan asumsi-asumsi tersebut, kita bisa memulai memainkan peran-peran terntentu yang diharapkan orag lain.

6. Suku bangsa

Masyarakat umumnya terdapat suatu kelompok suku bansga tertentu yang dapat diakatakan tergolong sebagai kaum minoritas, baisanya kelompok semacam ini mempunyai konsep diri yang cenderung akresif.

7. Nama dan pakaian

Nama-nama tertentu ang akhirnya menjadi bahan tertawaan dari teman-teman, akan memabwa seseorang kepada pembentukan konsep diri yang lebih negative, karena nama-nama julukan yang bernada negative dapat menyebabkan seseorang benar-benar beranggapan bahwa dirinya memang demikian. Sebaliknya, nama- nama panggilan yang bernada positif dapat mengubah seseorang kearah positif pula. Demikian hal nya dengan

19

(28)

cara berpakaian, seseorang dapat menilai atau mempunyai gambaran mengenai dirinya sendiri.

8. Reaksi dari orang lain

Dengan mengamati cerminan perilaku diri sendiri sesorang terhadap respon yang diberikan, hal ini membuktikan bahwa dapat mempelajari dirinya sendiri.

Orang-orang yang memiliki arti pada diri individu sangat berpengaruh dalam pembentukan konsep diri.

9. Perbandingan dengan orang lain

Setiap individu dalam memandang konsep diri sangat tergantung pada bagaimana cara individu tersebut membandingkan dirinya dengan orang lain. Kita biasanya lebih suka membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain yang hampir serupa denga kita.

Dengan demikian dapat dikatakan bajwa bagian-bagian konsep diri dapat berubah cukup cepat didalam suasana sosial.

10. Peranan seseorang

Setiap orang memakai peran yang berbeda-beda. Dalam suatu peran tersebut seseorang diharapkan melakukan perbuatan dengan cara-cara tertentu. Pengalaman dan harapan-harapan yang berhubungan dengan peran yang berbeda akan berpengaruh pada konsep diri seseorang.

Kritik terhadap diri sendiri berfungsi sebagai rambu- rambu dalam bertindak dan berprilaku agar keberadaan

20

(29)

kita diterima dan dapat berdaptasi. Walau demikian, kritik terhadap diri sendiri yang berlebihan dapat mengakibatkan individu menjadi lemah dan rendah diri.

11. Identifikasi terhadap orang lain.

Seringkali seorang anak mengagumi orang-orang dewasa, dan mencoba menjadi pengikut dan meniru beberapa nilai, keyakinan dan perbuatan. Proses identifikasi ini menyebabkan individu merasakan bahwa mereka telah memiliki beberapa sifat dari orang-orang yang kita kagumi. Dengan demikian, dpat ditarik kesimpulan bahwa seorang individu tidak lahir dari konsep diri. Konsep diri terbentuk seiring dengan perkembangan konsep diri. Konsep diri merupakan interkasi individu dengan orang lain, yaitu oramg tua, teman sebaya, dan masyarakat yang meberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung.

Jenis-jenis konsep diri

Setiap individu memiliki perbedaan dalam menerima dirinya sendiri maupun menerima apa pendapat orang lain terhadap dirinya sendiri., maka konsep diri yang akan muncul psti akan berbeda dan karakteristik dari konsep diri tersebut tidaklah sama. Terdapat beberapa ahli mengatakan jenis-jenis

21

(30)

konsep diri adalah tinggi, sedang dan rendah serta ada yang mengatakan konsep diri positif dan konsep diri negative.

1. Konsep diri positif

Konsep diri yang lebih berupa penerimaan diri bukan sebagai suatu kebanggaan yang besar tentang dirinya, dapat memahami dan menerima dirinya sendiri secara apa adanya, evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif dan dapat menerima orang lain. Sesorang yang memiliki konsep diri positif akan merancang tujuan-tujuan yang sesuai dengan realitas, yaitu tujuan yang memiliki kemungkinan besar untuk dapat dicapai, pengetahuan yang laus, harga diri yang tinggi, mampu menghadapi kehidupan didepannya serta menganggap bahwa hidup adalah suatu proses penemuan. Pada dasarnya adalah individu yang mempunyai konsep diri positif adalah individu yang tahu betul siapa dirinya sehingga dirinya menjadi lebih positif serta mampu merancang tujuan- tujuan yang jelas dan realitas. Ciri- ciri seseorang yang memiliki konsep diri positif adalah yakin akan kemampuannya dalam mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa malu, menyadari bahwa setiap individu memilki perasaan, keinginan dan perilaku yang tiak seluruhnya disetujui oleh masarakat serta mampu memperbaiki diri karena

22

(31)

sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenangi dan berusaha disenangi.

2. Konsep diri negatif

Terdapat dua tipe konsep diri negative menurut Calhoun dan Acocella tahun 2009.

a. Pandangan seseorang tentang dirinya sendiri benra- benar tidak teratur, tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri. Orang tersebut benar-benar tidak tahu siapa dirinya, apa kelemahannya dan apa kelebihannya atau apa yang ia hargai dalam kehidupannya. Orang yang memiliki konsep diri positif ditandai dengan yakin akan kemampuan mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain.

b. Pandangan tentang dirinya yang terlalu kaku, stabil dan teratur. Hal demikin bisa terjadi sebagai akibat pola asuh yang terlalu keras dan kepatuhan yang terlalu kaku. Disini, sesorang individu merupakan aturan yang terlalu keras pada dirinya sendiri sehingga tidak dapat menerima sedikit saja penyimpangan atau perubahan dalam kehidupannya.

Ciri-ciri sesorang yang mimiliki konsep diri negative adalah peka terhadap kritik, respnsif terhadap pujian, sikap hiperkritis, cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain, pesimis terhadap kompetisi.

23

(32)

Konsep diri menerima akan berkembang menjadi konsep diri positif begitu pula sebaliknya, konsep diri menolak akan berkembang menajdi konsep diri negative.

Sikap diri yang positif berbeda dengan kesombongan, egosime. Konsep diri positif lebih mengarahpada penerimaan diri secara apa adanya dan mengembangkan harapan yang realistis sesuai dengan kemammpuan yang dimiliki seorang individu tersebut. Pada dasarnya adalah seseorang yang memiliki kosep diri positif, merupakan oarng yang mampu menikmati apa yang ada dalam dirinya baik kekuranhan maupun kelemhannya, mampu menerima saran dan kritik yang disampaikan oleh orang lain tanpa merasa tersinggung, puas terhadap keadan diri dan yakin akan keammpuannya untuk meraih cita-cita dan harapannya.

Konsep diri negative merupakan penilaian yang negative terhadap diri seniri, seseorang yang memiliki konsep diri negative, informasi terbaru tentan dirinya pasti akan menajdi sebuah kecemasan, rasa ancaman teradap diri. Apapun yang diperoleh, tidak akan berharga dibadningkan dengan apa ynag di[eroleh oleh orang lain.

Ia selalu merasa cemas dan rendah diri dalam pergulan sosialnya karena tidak ada perasaan yang menghargai pribadi dan penrimaan terhadap dirinya. Jadi individu yang memiliki kosneo diri negative akan selalu

24

(33)

meamndang dirinya negative, selalu memandang negative berbagai hal. Ia measa tidak puas dengan apa yang dimiliki dalam hidup dan selalu merasa kurang, merasa tidak cukup mempunyai keampuan untuk meraih cita-cita dn harapan yang diinginkan.

Konsep diri dalam pandangan perspektif islam

Islam mengajarkan kepada kita sebagai seorang muslim diharuskan memiliki keyakinan bahwa manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari mahkluk lain yang ada di bumi ini.untuk itu seorang muslim tidak boleh bersika lemah dan putus asa. Sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 139 yang artinya adalah “ janganlah kamu bersikap lemah, an jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang- orang yang beriman”.

Manusia merupakan mahluk paling tinggi derajatnya serta dapat menempuh kemajuan dalam hidupnya dari zaman ke zaman. Oleh karena itu, orang-orang muslim tidak perlu menandang dirinya remdah dan negative. Hal ini dikarenakan pada dasarnya manusia diberi kelebihan daripada mahluk mahluk yang lain, dengan kelebihannnya yang sempiurna.

Sebagaimana dengan firman Allah dalam surah Al Isra ayat 70 yang artinya adalah “dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak adam, kami agkut mereka didaratan dan

25

(34)

dilautan. Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahkluk yang telah kami ciptakan”. Begitu mulianya manusia dibandingkan dngan mahklik lain, sehingga sangat disayangkan jika manusia masih mempunyai sikap yang tidak memghargai terhadap apa yang dianugerahkan oleh Allah SWT.

Hal demikian menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kita dianjurkan untuk lebih mensyukuri dengan kenikmatan yang Allah berikan kepada kita sebagai manusia ciptaanNya tabpa mengubah sedkitpun. Karena ketika kita mengubah ciptaanNya maka kita akan dilaknat oleh Allah SWT apabila mendatngkan dampak negative dari perubahan tersebut.

Mampu menerima apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita sudah termasuk memiliki konsep diri yang jelas.konsep diri juga menuntut kesadaran kita terahdap hakikat kemanuasiaa, pertama untuk beribadah dan memurnikan ketaannya kepada Allah. Sebagaiman firman Allah dalam surah Adz-Dariyat ayat 46 dikatakan bahwa

“dan kau tidak menciptakan jin dan manusia melainnkan supaya mereka mengabdi kepdaKu”.

Ibadah adalah tujuan dari penciptaan manusia dan kesempurnaan yang kembali kepda penciptaNya. Allah menciptakan manusia untuk memberi ganjaran kepda manusia. Menurut syeikh muhamamd Abduh, bahwa ibadah

26

(35)

bukan sekedar ketaatan yang mencapai puncaknya akibata danya rasa kagungan dalam jiwa individu terhadp siapa saja yang dikehendaki. Ia juga merupakan dampak dari keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang meiliki kekuasaan yang tidak terjangkau hakikatnya.

Allah SWT memberitahu tahu bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah, terutama dalam mengahdapi nafsu,. Oleh karena itu, seorang muslim menjaga diriynya agar jangan sampai melakukan larangan-larangan Allah SWT. Ini semua dalam rangka membentengi manusia dari pengaruh-pengaruh negative dan hawa nafsu yang dapat menjerumuskannya. Maka manusia harus menyadari sendiri bahwa manusia dijadikan bersifat lemah, oleh karena itu perlu membentengi dirinya dengan iman yang kuat dan dengan cara-cara mengatasi godaan hawa nafsu.

Seseorang yang memiliki konsep diri negative lebih mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang baru dan indah tbapa memikirkan Sesutu dibalik keindahan itu. Mereka melihat dirinya serta kekurangan, lebih rendah dari orang lain sehingga mudah terbawa bujkan setan untuk mengikuti caranya dalam menutupi kekurangannya itu. Sedangkan konseo diri positif lebih mudah menerima keadaan dirinya baik kekurangan atau kelebihannya, lebih pecara diri tabpa memandang kelebihan orang lain sehingga keimanannya lebih kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh bujukan setan.

27

(36)

28

(37)

Pasien dengan LKD memandang negatif tentang keadaan luka yang ada ditubuhnya. Apalagi jika disertai dengan tindakan amputasi sehingga ada sebagian anggota tubuh yang hilang dan ini menyebabkan pandangan hidupnya berubah (Nurrachmah, 2011). Tingkat kemandirian penderita LKD mengalami perubahan sehingga penderita harus menerima bantuan dari orang lain dan melakukan aktifitas mandiri yang terkadang harus dibantu oleh orang lain. Beberapa hal inilah yang akhirnya menyebabkan konsep diri dari penderita terganggu. Terganggunya konsep diri pada pasien tergantung pada mekanisme kopingnya, sebagian pasien bisa saja mempunyai konsep diri yang negatif dan sebagian lagi konsep dirinya positif.

Sofiana (2012) mengatakan bahwa sebagian besar pasien mempunyai konsep diri negatif, dan tingkat stress berat lebih

29

(38)

besar. Konsep diri pasien yang negatif disebabkan karena komponen-komponen dari konsep dirinya yang juga negatif.

Komponen konsep diri pada pasien dengan LKD dijelaskan pada bagian berikut ini, komponen konsep diri yang dibahas terdiri dari harga diri, citra tubuh, ideal diri, identitas personal dan peran diri pasien.

1. Harga Diri

Harga diri merupakan hasil penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Penilaian ini menyatakan suatu sikap yang berupa penerimaan atau penolakan dan menunjukkan seberapa besar individu itu percaya bahwa dirinya mampu, berarti, berhasil, dan berharga (Coopersmith, 1967 dalam Lubis & Hasnida, 2009).

Pasien yang mempunyai harga diri yang tinggi akan mempunyai mental yang sehat dan lebih puas terhadap hidupnya sehingga akan lebih mempercepat kesembuhannya (Rosenberg, 1965; Waltz, 1986 dalam Firman, 2012).

Apabila dukungan tersebut tidak ada maka keberhasilan penyembuhan atau pemulihan akan berkurang (Friedman, 2010). Dalam hal ini keluarga berpengaruh dalam menyelesaikan masalah kehidupan, nilai kesehatan individu dan menentukan program pengobatan yang mereka terima.

Individu yang menilai dirinya positif cenderung bahagia, sehat, dan dapat menyesuaikan diri. Sebaliknya orang yang

30

(39)

menilainya negatif cenderung tidak sehat, cemas, tertekan dan pesimis tentang masa depannya dan mudah untuk gagal.

Individu yang harga dirinya rendah memiliki suatu sikap penolakan akan dirinya dan menyalahkan diri sendiri (Potter

& Perry, 2005). Luka kaki diabetik merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat mengganggu kemampuan aktifitas pasien. Dalam meningkatkan harga diri pada pasien LKD dibutuhkan bantuan serta dukungan informasi dari berbagai sumber.

Harga diri yang tinggi sangat penting bagi penderita LKD, karena hal ini dapat meningkatkan perasaan berharga seseorang yang pada akhirnya berpengaruh pada konsep dirinya. Individu yang memiliki harga diri tinggi lebih dapat bertahan serta beradaptasi dengan kebutuhan dan kondisi yang sedang dialaminya.

2. Citra Tubuh

Citra Diri pasien adalah gambaran diri pasien yang tertanam dalam pikiran bawah sadar dan menentukan siapa dirinya. Citra Diri ini dibentuk sejak lahir dari lingkungan, pengalaman masa lalu, dan juga pengaruh orang lain. Dengan beragamnya karakter masyarakat serta budaya yang ada dilingkungan pasien akanmenentukan cara pandang pasien terhadap citra dirinya. Prinsip, keyakinan, dan juga pola pikir

31

(40)

keluarga dan pengaruh lingkungan pergaulan bisa saja membentuk citra diri pasien.

Penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Ningsih (2012) tentang pengalaman psikososial pasien ulkus diabetikum menyimpulkan bahwa perubahan fungsi bagian tubuh pada penderita ulkus diabetikum baik karena kaki yang tidak bisa berfungsi secara optimal ataupun penurunan fungsi tubuh secara keseluruhan karena DM akan membuat responden merasa tidak berdaya karena tidak dapat menjalankan perannya sehari-hari, mempunyai perasaan menjadi beban keluarga dan menjadi tidak sebebas dan seaktif dulu ketika tidak mengalami ulkus diabetikum. Hal inilah akhirnya mempengaruhi citra tubuh. Citra tubuh dibagi menjadi dua yaitu citra tubuh positif dan negatif.

Citra tubuh positif adalah keadaan dimana individu mampu menerima perubahan dalam penampilan, struktur atau fungsi tubuh, tidak mengekspresikan perasaan yang tidak berdaya, tidak putus asa, mampu mengendalikan situasi dan bersikap baik. Citra tubuh yang positif akan menimbulkan konsep diri yang positif.

Citra tubuh individu berkembang dari sikap dan respon orang lain terhadap individu tersebut, selain itu persepsi citra tubuh ini juga dapat berasal dari dirinya sendiri (Kozier, 2010). Salah satu faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah sumber daya internal yaitu rasa percaya diri dan nilai

32

(41)

diri, semakin besar sumber daya ini dimiliki individu maka semakin besar pengaruhnya pada konsep diri yang positif.

Citra tubuh negatif adalah keadaan tidak mampu menerima perubahan dalam penampilan, struktur maupun fungsi dari tubuhnya, mengekspresikan perasaan yang tidak berdaya, putus asa serta tidak mampu mengendalikan situasi yang sedang dialami. Pasien dengan citra tubuh negatif umunya dikarenakan ada perasaan malu, terasing, serta kurang puas terhadap kondisi luka yang ada pada dirinya.

Penilaian terhadap citra tubuh seseorang berbeda antara satu dengan yang lainnya, hal ini juga tergantung dari bagaimana individu tersebut mempersepsikan kondisi yang sedang dialaminya.

3. Ideal Diri

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu (Stuart and Sundeen,1991). Ideal diri pada pasien dengan LKD sangat ditentukan oleh standar yang ditentukan oleh pasien itu sendiri. Agar pasien mampu berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri. Ideal diri pasien ini hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai.

33

(42)

Penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2010) mendapatkan hasil bahwa pada pasien ulkus diabetikum dengan adanya perubahan fisik dan penafsiran semua situasi tersebut sebagai hal yang negatif. Penelitian ini juga didukung oleh teori bahwa perubahan dalam penampilan, struktur atau fungsi tubuh memerlukan penyesuaian citra tubuh (Potter & Perry, 2010). Nizam (2014) berpendapat bahwa ideal diri pada pasien LKD cenderung menurun akibat perubahan penampilan dan fungsi tubuh dan luka yang sulit untuk sembuh.

Interprtasi ideal diri pada pasien LKD ini tergantung dari standar yang ditentukan oleh pasien itu sendiri, pasien diharapkan dapat menyesuaikan ideal dirinya sebelum dan setelah kondisi sakitnya. Ideal diri pasien LKD diharapkan sedikit melebihi standar pada dirinya, hal ini dapat menjadi motivasi bagi pasien dalam mempercepat proses penyembuhan pada dirinya. Pemahaman tentang ideal diri ini merupakan salah satu tanggung jawab dari keluarga dan tenaga kesehatan yang berperan dalam penyembuhan pasien.

4. Identitas Diri

Identitas diri adalah identitas yang menyangkut kualitas

“eksistensi” dari pasien, yang berarti bahwa pasien memiliki suatu gaya pribadi yang khas. Identitas diri berarti mempertahankan suatu gaya keindividualitasan diri sendiri.

34

(43)

Penyakit dan trauma yang dialami oleh pasien secara psikologis akan mempengaruhi identitas diri (Ningsih, 2012).

Respon pasien dengan luka kaki diabetik terhadap stressor seperti penyakit dan perubahan yang berhubungan dengan penyakit akan berbeda, reaksi yang muncul diantaranya penerimaan, menolak, menarik diri, dan depresi sehingga berpengaruh pada peran diri pasien di masyarakat dan berakibat pada identitas dan ideal diri pasien.

Sumber daya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi identitas individu. Sumber daya ini dapat bersumber dari internal maupun eksternal lingkungan individu, sumber daya eksternal berupa persepsi dan sikap masyarakat kepada pasien, sedangkan sumber daya internal adalah motivasi, persepsi dan aktualisasi diri dari dalam diri pasien itu sendiri. semakin besar jumlah sumber daya yang dimiliki dan digunakan individu, pengaruhnya pada identitas diri akan semakin positif. Sumber daya yang bersifat positif tentunya akan berpengaruh pada identitas diri pasien.

5. Peran Diri

Menurut Scott (2012), peran adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan oleh masyarakat, dihubungkan dengan fungsi individu di dalam kelompok sosialnya. Peran memberikan sarana untuk berperan serta dalam kehidupan sosial dan merupakan cara

35

(44)

untuk mengaktualisasikan identitas diri, harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang terpenuhi dan berdampak pada ideal diri (Sofiana, 2012). Penyakit kronis sering menganggu peran, yang akhirnya dapat mengganggu identitas diri, ideal diri dan harga diri seseorang (Perry & Potter, 2010). Interpretasi peran seseorang dapat dilihat dari aktivitas individu terhadap perannya, interpretasi ini terbagi atas kepuasan peran dan ketidakpuasan peran.

Kepuasan peran merupakan hasil dari kemampuan individu dalam menyesuaikan diri terhadap kondisi yang terjadi selama sehat hingga sakit. sedangkan ketidakpuasan peran merupakan akibat dari ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dari kondisi yang sehat ke kondisi sakit, hal ini tentunya dapat menimbulkan konflik peran pada individu tersebut. Individu dengan ketidakpuasan peran dapat dilihat dari aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Aktivitas yang dilakukan cenderung terganggu dan terjadi perubahan akibat dari kondisi luka yang dialami oleh pasien.

Terganggunya performa aktivitas peran ini akan menimbulkan rasa ketidakpuasan peran.

36

(45)

1. Motivasi

Ketakutan yang terjadi paling banyak pada pasien adalah ketakutan terhadap kekambuhan, semakin parahnya luka dan yang paling ditakuti adalah amputasi salah satu bagian tubuh yang digunakan untuk berjalan. kejadian luka kaki yang sulit sembuh sangat mengganggu aktivitas yang berdampak pada keluarga, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari

Motivasi pada pasien LKD dipengaruhi oleh persepsi dan koping individu. Semakin baik persepsi pasien terhadap kondisi yang dihadapinya, maka semakin baik pula motivasi pasien dalam mengikuti perawatan begitu juga sebaliknya.

Persepsi negatif merupakan sikap pasien terhadap gambaran dirinya. Persepsi yang negatif sangat

37

(46)

berpengaruh pada pembawaan diri dalam interaksi sosialnya. Gambaran diri membentuk persepsi seseorang tentang tubuh baik secara internal maupun eksternal.

Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditunjukan baik secara sadar maupun tidak sadar, meliputi:

penampilan, potensi, serta persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk tubuh. Komplikasi pada penderita LKD mempengaruhi persepsi yang cenderung kurang percaya diri. Persepsi negatif tersebut merupakan sikap penderita terhadap gambaran dirinya yang dirasa kurang menyenangkan, dan berpengaruh pada interaksi sosialnya.

Citra tubuh adalah ide seseorang mengenai penampilannya dihadapan orang lain. Citra tubuh merupakan fondasi dasar dari keseluruhan kepribadian manusia. Jika memiliki cara berpikir positif, akan dapat menerima perubahan penampilan fisik yang dialami, tetapi jika berpikir secara negatif, akan bersikap menolak penampilan tubuhnya sehingga akan mempengaruhi citra tubuh.

Persepsi dan koping individu yang adaptif tergantung dari perubahan fungsi tubuh yang disebabkan oleh LKD yang membuat pasien tidak dapat melakukan peran dan fungsinya. Apabila pasien melihat hal tersebut sebagai hal yang positif, maka pasien memiliki citra tubuh dan gambaran diri yang positif, tetapi apabila pasien melihat

38

(47)

hal tersebut sebagai hal yang negatif, maka citra tubuh dan gambaran diri pasien juga negatif.

2. Pengalaman

Dampak LKD yang lama terhadap kelangsungan kualitas hidup individu selain membutuhkan biaya yang cukup banyak dan waktu yang tidak sebentar, berdampak juga pada psikologis pasien. Selain manajemen psikologis, jenis dressing juga merupakan salah satu hal yang mendukung penyembuhan luka dengan cepat. Cara perawatan luka yang lama, biasa dikenal dengan metode konvensional, sedangkan saat ini sudah dikembangkan metode perawatan luka dengan memperhatikan moisture balance atau dengan kata lain adalah kelembaban (Turner, 2012).

Metode perawatan luka yang berkembang pesat saat ini yang lebih dikenal prinsip moisture balance tersebut memakai alat ganti balutan yang lebih modern, dengan memperhatikan jenis dressing yang diaplikasikan pada luka. Perawatan luka dengan konsep lembab yang dilakukan secara rutin akan mempercepat pengurangan luka dan mempercepat proses pembentukan jaringan granulasi dan reepitelisasi, kelembapan pada lingkungan luka akan mempercepat proses penyembuhan luka.

Manfaat lain yang dirasakan oleh pasien dengan metode

39

(48)

perawatan luka modern ini adalah mengurangi nyeri saat penggantian balutan dan memudahkan pelepasan kassa yang diaplikasikan pada perawatan sebelumnya.

Perawatan kaki pasien dengan luka diabetik bersifat preventif dan kuratif, kegiatan ini mencakup tindakan mencuci kaki dengan benar, mengeringkan dan mengaplikasikan dressing yang tepat. Dengan melakukan perawatan kaki secara teratur dapat mengurangi penyakit kaki diabetik sebesar 50-60% yang mempengaruhi kualitas hidup. Kemauan melakukan perawatan kaki diabetik memerlukan motivasi dan harus mempunyai niat yang tinggi, karena perawatan kaki diabetik ini harus dilakukan secara teratur, jika ingin mendapatkan kualitas hidup yang baik.

3. Dressing

Teori kebutuhan Maslow menyatakan beberapa hirarki kebutuhan yang terkait atau berhubungan erat dengan motivasi seorang individu adalah berdasarkan tingkatan – tingkatan. Salah satu kebutuhan yang menduduki prioritas dalam pemenuhannya adalah kebutuhan fisiologis. Kebutuhan yang meliputi makan, minum, tempat tinggal, dan sembuh dari sakit. pasien memiliki motivasi yang tinggi untuk menggunakan

40

(49)

modern dressing pada perawatan luka. Hal ini dikarenakan manfaat dari dressing ini.

Penggunaan modern dressing dianggap dapat dengan cepat memberikan kesembuhan pada kondisi yang dialami pasien. Penggunaan modern dressing ini tentunya juga dipengaruhi oleh motivasi yang muncul dari pasien.

Faktor yang mempengaruhi motivasi dibedakan atas 2 (dua) yaitu faktor ekstern dan faktor intern. Dimana faktor internal yang berupa: pembawaan individu, tingkat pendidikan, pengalaman yang dimiliki, keinginan dan harapan untuk masa yang akan datang.

Turner (2012) mengatakan bahwa keuntungan yang dapat dirasakan pasien dengan metode perawatan luka dengan modern dressing ini diantaranya mempercepat granulasi dan reepitelisasi. Kelembapan pada lingkungan luka pada konsep modern dressing akan mempercepat proses penyembuhan luka. Terdapat beberapa manfaat yang dirasakan melalui modern dressing, diantaranya luka lebih bersih, kering, tidak berbau, rapi, dan mengurangi nyeri. Pasien termotivasi untuk melakukan perawatan dengan rutin karena pasien merasakan manfaat yang positif. Manfaat lain yang dirasakan pasien adalah kepercayaan diri yang tinggi saat bersosialisasi dengan kondisi luka yang tertutup rapi oleh balutan yang digunakan.

41

(50)

4. Psikologis (Kondisi Stress)

Seseorang yang memiliki penyakit kronis selalu sulit untuk menerima kenyataan bahwa mereka harus melakukan perubahan gaya hidup. Hal ini disebabkan karena pasien biasanya sadar bahwa mereka rentan terhadap penyakit lanjut dan harapan hidup mereka menjadi lebih pendek. Tidak mengejutkan jika respon emosional terhadap DM sering menghambat terapi.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan ada hubungan antara stress dengan konsep diri pada pasien yang sudah mengalami komplikasi. Komplikasi tersebut berupa peripheral neurophaty yaitu kerusakan saraf pada tangan dan kaki. Komplikasi jangka panjang lainnya yang mereka rasakan yaitu retinopati diabetik yangmenyebabkan kemampuan indra penglihatan mereka berkurang hingga mengakibatkan kebutaan. Terjadinya retinopati diabetik disebabkan oleh perubahan dalam pembuluh darah kecil pada retina mata sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan penglihatan.

Efek selanjutnya adalah nefropati yaitu kerusakan nefron pada ginjal sehingga harus menjalani hemodialisa secara rutin. Segala macam komplikasi yang dialami oleh penderita DM tipe 2 tersebut menyebabkan perubahan besar pada tubuhmereka. Perubahan besar tersebut menyebabkan stress.

42

(51)

Stress dapat mengganggu cara seseorang menyerap realitas, menyelesaikan masalah, berpikir secara umum, dan hubungan seseorang dan cara memiliki. Selain itu, stress dapat mengganggu persepsi seseorang terhadap hidup, sikap, serta status kesehatannya. Stress bisa memiliki konsekuensi secara fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Biasanya akibat tersebut tercampur aduk, karena akibat yang ditimbulkan oleh stress mempengaruhi keseluruhan individu.

Secara fisik, stress dapat mengancam homeostasis fisiologis individu. Secara emosional, stress dapat mengakibatkan perasaan negatif atau nonkonstruktif terhadap diri. Secara intelektual, stress dapatmempengaruhi persepsi dan kemampuan memecahkan masalah. Secara sosial, stress dapat mengubah hubungan seseorang dengan orang lain. Secara spiritual, stress dapatmempengaruhi nilai dan kepercayaan individu (Kozier, Erb, Berman & Snyder (2004). Setiap perubahan dalamkesehatan dapatmenjadi stressor yang mempengaruhi konsep diri. Stressor konsep diri adalah segala perubahan nyata yang mengancam identitas, citra tubuh, harga diri dan perilaku peran (Perry & Potter, 2005).

43

(52)

5. Tindakan Amputasi

Individu dengan amputasi dihadapkan dengan adaptasi terhadap beberapa kehilangan dan perubahan- perubahan di dalam gaya hidup, interaksi sosial, dan identitasnya. Salah satu perubahan terbesar yang menyebabkan individu harus menyesuaikan diri apabila amputasi adalah hilangnya fungsi fisik dan kemandirian.

Adanya gangguan mobilitas akibat dari amputasi tampaknya menjadi penyebab utama terjadinya restriksi sosial yang dialami partisipan. Disabilitas atau ketidakmampuan sering menyebabkan perubahan dalam hubungan atau interaksi sosial karena mereka harus

membatasi sejumlah aktivitas sosial sehingga mengakibatkan adanya isolasi sosial. Bahkan ketika individu dengan disabilitas atau ketidakmampuan ingin mencoba untuk tetap aktif secara sosial, mereka akan mengalami kesulitan untuk bergabung di dalam masyarakat karena hambatan lingkungan.

Selain dampak gangguan mobilitas dan kemandirian, perubahan fungsi seksual juga dialami partisipan setelah amputasi. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti penyakit vaskular perifer yang menyebabkan disfungsi ereksi, anemia sebagai efek dari pembedahan, dan kele-lahan. Obat-obatan seperti analgesik, antiemetik, dan hipertensi juga dapat mengganggu fungsi seksual.

44

(53)

Selain itu, harga diri rendah, perubahan citra tubuh, perasaan tidak menarik, dan depresi dapat pula menyebabkan dampak pada fungsi seksual klien pasca amputasi.

Amputasi menyebabkan nyeri dan hal tersebut dirasakan oleh sebagian besar klien pasca amputasi. Salah satu jenis nyeri yang dirasakan adalah nyeri pantom. Nyeri dapat dirasakan seperti kesemutan, pegal, atau berdenyut.

Reaksi cemas, menangis, dan menyesal dialami oleh partisipan ketika mereka telah menyadari adanya perubahan pada fisiknya. Depresi muncul ketika seseorang menyadari tentang adanya kehilangan dan dampaknya.

Mekanisme koping yang digunakan oleh partisipan dalam mengatasi berbagai permasalahan sebagai dampak amputasi adalah meningkatkan integritas spiritual. Selain pendekatan spiritual, adanya semangat dan dukungan sosial juga tampak sebagai faktor yang meningkatkan penerimaan partisipan terhadap amputasi.

Berbagai permasalahan yang diakibatkan oleh perubahan pasca amputasi memberikan makna hidup bagi pasien.

Perubahan makna ini dapat mempengaruhi konsep diri pasien.

45

(54)

6. Reaksi Orang di Sekitar

Persepsi negatif yang dialami oleh pasien disebabkan karena perubahan pada penampilan dan fungsi tubuh dimana terdapatnya luka pada kaki yang sulit sembuh.

Disamping itu karena terjadinya perubahan pada tubuh secara fisik terdapat ketidakpercayaan diri seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain. Karena perubahan yang terjadi secara fisik perubahan sosial yang dirasakan juga berhubungan erat dengan aktivitas-aktivitas sosial pasien dimasyarakat.

Citra tubuh yang negatif pada penderita ulkus diabetikum karena terjadinya perubahan penampilan dan fungsi tubuh dimana kaki tidak lagi bisa berfungsi dengan normal dan luka yang akan sulit untuk sembuh sehingga membuat penderita ulkus diabetikum mempersepsikan hal yang negatif tentang dirinya. Citra tubuh merupakan fondasi dasar dari keseluruhan kepribadian manusia. Jika memiliki cara berpikir positif, akan dapat menerima perubahan penampilan fisik yang dialami, tetapi jika berpikir secara negatif, akan bersikap kurang menerima atau menolak penampilan tubuhnya sehingga akan mempengaruhi citra tubuh.

Persepsi orang lain dilingkungan pasien terhadap tubuh pasien turut mempengaruhi penerimaan pasien pada dirinya sehingga bisa mempengaruhi citra tubuh. Menurut

46

(55)

Ridha (2012) body image dapat diartikan sebagai gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya, bagaimana seseorang mempersepsikan dan memberikan penilaian atas apa yang dipikirkan dan rasakan terhadap bentuk tubuhnya dan atas penilaian orang lain terhadap dirinya.

Reaksi orang lain baik itu secara verbal atau hanya secara non verbal dapat mempengaruhi penilaian pasien ulkus diabetikum terhadap dirinya sendiri sehingga akan mempengaruhi penerimaan terhadap kondisi yang sedang ia alami yang akhirnya mempengaruhi citra tubuh.

Perubahan penampilan tubuh, perubahan fungsi bagian tubuh, reaksi orang lain dan perbandingan dengan orang lain dapat mempengaruhi citra tubuh pasien DM yang mengalami ulkus diabetikum. Faktor-faktor yang mempengaruhi citra tubuh tersebut merupakan stressor yang mempengaruhi penerimaan pasien DM dengan ulkus diabetikum terhadap kondisi yang sedang mereka alami sehingga mempengaruhi citra tubuh.

47

(56)

48

(57)

Pasien yang memiliki koping individu adaptif ditunjukkan dengan aktualisasi diri yang baik pada peran dan fungsinya di masyarakat dan tempat kerja. Terdapat beberapa faktor yang membantu meningkatkan kepercayaan diri pasien dengan luka kaki diabetik, yaitu manfaat dari perawatan secara rutin yang dirasakan langsung, seperti kondisi luka menjadi lebih rapi, tidak bau, sehingga membantu pasien lebih produktif dan merasa nyaman saat berinteraksi dengan masyarakat. Faktor lainnya adalah pasien merasa sangat berguna karna masih dapat bekerja dan beraktifitas di masyarakat, faktor ini juga berperan dalam meningkatkan konsep diri pasien, sehingga pasien tidak menarik diri karna fungsi tubuh yang berubah.

Pasien luka kaki diabetik memang mempunyai masalah pada konsep dirinya, hal tersebut seharusnya tidak mempengaruhi aktifitas pasien di masyarakat. Hal ini dipengaruhi oleh memiliki koping yang baik, faktor lain yang

49

(58)

mendukung adalah karna luka yang sudah membaik dan tidak menyebabkan ketidaknyamanan saat berinteraksi dengan masyarakat di lingkungan.

Masyarakat yang mendukung dan menerima kondisi pasien membuat pasien merasa masih berguna dan dihargai oleh masyarakat, hal ini juga membangun harga diri pasien untuk tetap bersosialisasi. Keaktifan pasien untuk tetap bersosialisasi di masyarakat, seperti mengikuti pengajian, arisan ataupun gotong royong merupakan beberapa cara untuk pengisian waktu luang dan ini akan berdampak baik bagi psikologisnya.

Psikologis yang baik akan meningkatkan kualitas hidup yang baik pula pada pasien, Dengan kondisi psikologis yang baik, maka sudah pasti akan berpengaruh pada proses kesembuhan pasien, dengan meningkatkan produksi hormon dan beberapa zat yang mempercepat penyembuhan luka, sehingga pasien tidak harus menghabiskan waktu dan biaya yang lama untuk mencapai kesembuhan.

50

(59)

Daftar Pustaka

Agustin, Y. (2013). Pengalaman Klien Diabetes Melitus Tipe 2 Pasca Amputasi Mayor Ekstremitas Bawah. Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 16, No. 2, Juli 2013, hal.107-113

Alligood, M.R. (2014). Nursing Theorist and Their Work, Eight Edition, USA. Elsevier

Brod,M. (2010). Pilot Study: Quality of Life Issues in Patients With Diabetes and Lower Extremity Ulcers:

Patients and Care Givers. Lippincott, Vol.7, 365-372 Chaplin. E,S. (2010). Coping, Control, and Adjustment in

Type 2 Diabetes. Journal of Consulting and Clinical Psychology. Vol.20.No.3. 208-216.

Chen. (2012). Health Behavior and Health education : Theory, Research and Practice Fourth Edition.

United States America: John Wiley and Sons

Effendi, F. (2013). Keperawatan kesehatan Komunitas : Teori Dan Praktek Dalam Keperawatan. Jakarta.

Salemba Medika

Firman, A., Wulandari, I., & Rochman, D. (2012). Kualitas Hidup Pasien Ulkus Diabetik Di Rumah Sakit Umum Daerah Serang. Tesis. Universitas Indonesia. Jakarta Frank, W., Mayer., Hans, E., Hans O. (2009). Evidance

Based Management Strategies for Treatment of

51

(60)

Chronic Wound. Jerman. Open Access Journal. Vol.

9.

Friedman, M.M. (2010). Buku Ajar Keperawatan Keluarga:

Riset, Teori dan Praktek. Jakarta. EGC

Frykberg. R., Darwis. B., Tasya. J., Shaka. G. (2006).

Diabetic Foot Disorders: a Clinical Practice Guideline (2006 revision). The journal of foot and ankle surgery, 45(5), S1-S66

Gouin, J.P., Janic, K.K.G. (2012). The Impact of Psychological Stress on Wound Heaking: Methods and Mechanisms. NIH Public Access, 31(1): 81-93 Kitchener. (2010). Wound Care and Pain Assessment.

Proquest Nursing and Allied Health Sources Nursing Standart, Vol 24, No: 24, Feb 2010: 51

Kristanto, B. (2015). Perbandingan Motivasi Penggunaan Modern Dressing Pada Penderita Ulkus Diabetikum.

KOSALA ”JIK”. Vol. 3, No. 1, Maret 2015

Kristianto, H. (2011). Analisis Penerapan Teori Kenyamanan Pada Pasien Diabetes Mellitus, Depok Indonesia.

Makara Kesehatan, Vol.10, No.3, Juni 2012: 47-53

Markova,A.,M, E. (2012). US Skin Disease Assessment Ulcer and Wound Care. Dermatol Clin, Vol.30 (2012), pp 107-111

Matsaad, A. Z., Khoo, T. L., & Halim, A. S. (2013). Wound bed preparation for chronic diabetic foot ulcers. ISRN endocrinology, 2013.

Melliana, M.N. (2006). Diabetes Mellitus : Gangren, Ulcer, Infeksi. Mengenal gejala, Menanggulangi dan Mencegah Komplikasi Edisi 1. Jakarta. Pustaka Po

52

(61)

Ningsih, E. S. P. (2012). Pengalaman Psikososial Pasien Dengan Ulkus Kaki Diabetes Dalam Konteks Asuhan Keperawatan Diabetes Mellitus. Tesis. Universitas Indonesia. Jakarta

Nizam, W.K. (2014). Faktor Faktor yang Mempengaruhi Citra Tubuh Pasien Diabetes Mellitus yang Mengalami Ulkus Diabetikum. JOM PSIK, Vol. 1, No. 2, Oktober 2014

Nizam, W.K., Yesi, H., Arneliwati. (2014). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Citra Tubuh Pasien Diabetes Melitus yang Mengalami Ulkus Diabetikum. JOM PSIK. Vol.1,No.2

Nurachmah, E. (2011). Aspek Kenyamanan Pasien Luka Kronik Ditinjau Dari Transforming Growth Factor β1 dan Kadar Kortisol. Makara Kesehatan, Vol. 15, no.

2, Desember 2011: 73-80

Nurcahyani, D.D. Body Image Pasien Diabetes Mellitus yang Mengalami Ganggren. Artikel Ilmiah Mahasiswa.

Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Potter, A. P. & Perry, G. A. (2010). Fundamental Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Reinhardt. J.P. (2013). Effect of Positive and Negative Support Received and Provided on Adaptation to Chronic Visual Impairment. Applied Developmental Sciences, 5 (2), 76-85

Richard, P.L. (2009). Wound Care 10-Year Progress Report.

Proquest, Long-Term Living, Vol.58. pages 23

Sarafino, E.P. (2015). Health Psychology: Biopsychosocial Interaction. New York: John Wilky Inc

53

(62)

Scott, J. (2012). Teori Sosial: Masalah Pokok dalam Sosiologi Kesehatan. Penerjemah: Ahmad Lintang Lazuardi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Sia, W.S., Khomapak, M., Titis, K. (2013). Effect of Self Management Support Program On Diabetic Foot Care Behaviors. International Journal of Research in Nursing. Vol.4(1): 14-21

Smeltzer, S. (2001). Brunner & Suddarth Textbook of Medical Surgical Nursing. Philadelpia : Lippincott

Sofiana, L.I. (2012). Hubungan Antara Stress dengan Konsep Diri pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2. Jurnal Ners Indonesia. Vol. 2, No. 2, Maret 2012

Sofiana, L.I., Veny, E., Wasisto, U. (2012). Hubungan Antara Stress Dengan Konsep Diri Pada Penderita Diabettes Mellitus Tipe 2. Jurnal Ners Indonesia, Vol.2 No.2.

pp167-176

Sumarwati, M. (2008). Eksplorasi Persepsi Penderita Tentang Faktor-Faktor Penyebab Dan Dampak Penyakit Diabetes Mellitus. Jurnal Keperawatan Soedirman.

Volume 3, No.3, November 2008

Sunaryo. (2014). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta.

EGC

Tracey, P. (2010). Psychological Aspects of Wound Care:

Implications For Clinical Practice. JCN. Vol.16, No.1.

pages 23-38

Turner, D.H. (2012). Convoys of Social Support : An Intergenerational Analysis. Journal of Psychology and Aging. 4 (3) : 323-326.

54

(63)

Upton, D. (2014). Psychological Aspects of Wound Care:

Implications For Clinical Practice. JCN. Vol.28, No.2.

pages 52-57

Wang, A., Sun, X. (2014). A study of Prognosis Factors in Chinese Patients With Diabetic Foot Ulcers.

COACTION, Clinical Research Article.

Widiarta, G.B. (2018). Studi Fenomenologi Persepsi Pasien Diabetes Mellitus Dengan Komplikasi Diabetic Foot di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buleleng.

Jurnal Kesehatan MIDWINERSLION. Vol.3, No.1, Maret 2018

Winter. (2009). Coping, Control, and Adjustment in Type 2 Diabetes. Journal of Consulting and Clinical Psychology. Vol.20.No.3. 208-216.

Yazdanpanah, E. (2015). Literature review on the management of diabetic foot ulcer. World Journal of Diabetes, 6(1), 37–53

55

(64)

Biografi Penulis 1

Terlahir di Sungai Pinyuh 16 Oktober 1985dan diberi nama Gusti Jhoni Putra dari pasangan Gusti Makmun Sayuti dan Ernawati.

Nama panggilan lebih dikenal dengan nama Jhoni. Ia menghabiskan masa kecil

dengan menempuh sekolah dasar di SDN 01 Sungai Pinyuh, kemudian meneruskan Sekolah Menengah Pertama di SLTP 01 Sungai Pinyuh dan selanjutnya sekolah menengah atas di SLTA 01 Sungai Pinyuh sampai dengan 2003. Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Akademi Keperawatan Muhammadiyah Pontianak dan lulus di tahun 2007. Perjalanan pendidikannya masih terus berlanjut, ia kemudian terdaftar sebagai mahasiswa keperawatan di Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta di tahun yang sama, dan menyelesaikan pendidikan Sarjana serta profesi Ners dengan waktu studi dua setengah tahun. Disinilah ia memperoleh gelar Sarjana Keperawatan dan Ners (S.Kep.,Ners).

56

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, Leverage, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan dividen Pada Perusahaan Manufaktur Di Sektor Industri Barang Konsumsi Yang

Scanned by TapScanner... Scanned

Scanned by TapScanner... Scanned

Scanned by TapScanner... Scanned

Scanned by TapScanner... Scanned

Scanned by TapScanner... Scanned

Scanned by TapScanner... Scanned

Scanned by TapScanner... Scanned