• Tidak ada hasil yang ditemukan

Politik adalah Warisan Nabi. Oleh: Achmad Napis Qurtubi 1 Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, STAI Duta Bangsa 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Politik adalah Warisan Nabi. Oleh: Achmad Napis Qurtubi 1 Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, STAI Duta Bangsa 1"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1

Politik adalah Warisan Nabi

Oleh: Achmad Napis Qurtubi1

Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, STAI Duta Bangsa1 [email protected]

Abstrak

Dalam bahasa Arab, kata politik biasa disebut dengan as-siyâsah. As-siyâsah merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata kerja sâsa-yasûsu, yang pelakunya disebut sâ`is, berarti mengatur, mengurus, dan memerintah. Maka praktik politik adalah pengaturan masyarakat dengan aturan yang bersumber dari wahyu. Artinya, praktik pengaturan (politik) adalah perilaku yang dilakukan oleh para Nabi sepanjang masa kerisalahannya. Hal ini bisa dilihat, misalnya teladan kehidupan Nabi Sulaiman as., Nabi Musa as., atau Nabi Yusuf as., begitu juga dengan Nabi Muhammad Saw, sehingga sangat tepat jika praktik kehidupan para Nabi ketika mereka memimpin umat adalah kehidupan pengaturan dengan risalah (kehidupan politik).

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengetahui bahwa bahwa para Nabi selain menyampaikan risalah wahyu, juga mempraktikan kegiatan politik dalam sebuah masyarakat yang dipimpinnya. Para Nabi dalam politiknya berusaha mengurus dan mengendalikan kaumnya dalam bidang yang terkait urusan publik maupun privat, lahir maupun batin. Itu menandakan bahwa persoalan pengaturan (politik dengan basis wahyu) dalam tradisi Islam bukanlah hal yang baru dan asing.

Kata Kunci: Politik, Nabi, Kepemimpinan Abstract

In Arabic, the word politics is called as-siyâsah. As-siyâsah is a form of mashdar (infinitive) of the verb sâsa-yasûsu, whose culprit is called sâ`is, meaning to organize, manage, and govern. So political practice is the arrangement of society with rules derived from revelation. That is, the practice of regulation (politics) is a behavior undertaken by the Prophets throughout the time kerisalahannya. This can be seen, for example, the example of the life of Prophet Sulayman (as), the Prophet Musa (as), or the Prophet Yusuf (as), as well as the Prophet Muhammad (sallallahu 'alaihi wa sallam), so it is appropriate that the life practice of the Prophets as they lead the people is a life of arrangement with the message political).

This paper is meant to know that the Prophets other than to convey the message of revelation, also practiced political activity in a society he leads. Prophets in politics seek to take care of and control his people in the field of public and private affairs, both inner and outer. It signifies that the issue of regulation (politics with the basis of revelation) in Islamic tradition is not new.

1 Dosen Hukum Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Duta Bangsa bidang Ushul Fikih Keuangan Syariah dan Hukum Pidana.

(2)

2 Pendahuluan

Pada kenyataannya umat Islam semenjak masa Rasulullah sampai sekarang tidak bisa lepas dari persoalan-persoalan politik. Setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad Saw. tampil sebagai pemimpin masyarakat yang oleh sejumlah pakar digambarkan sebagai negara karena terpenuhinya unsur-unsur negara di dalamnya seperti adanya wilayah, penduduk, pemerintahan dan kedaulatan.

Oleh karena itu, Montgomery Watt dalam bukunya Muhammad Prophet and Statesman menyatakan bahwa Muhammad Saw. bukan hanya nabi tetapi juga kepala negara (negarawan). Sejarah telah mencatat bahwa diantara persoalan-persoalan yang diperselisihkan pada hari-hari pertama sesudah wafat Rasulullah Saw. adalah persoalan politik atau yang biasa disebut persoalan al-imâmah (kepemimpinan).

Dalam kamus-kamus bahasa Arab modern, kata politik biasanya diterjemahkan dengan kata siyâsah. Kata ini terambil dari akar kata sâsa-yasȗsu yang biasa diartikan mengemudi, mengendalikan, mengatur, dan sebagainya. Dalam Al-Qur`an tidak ditemukan kata yang terbentuk dari akar kata sâsa-yasȗsu, yang biasa diartikan sebagai politik dalam bahasa Arab, akan tetapi bukan berarti Al-Qur`an tidak berbicara dalam urusan politik. Penggunaan istilah tersebut bisa ditemukan dalam hadits Rasulullah Saw., yang menjelaskan kepada kita bahwa para Nabi selain menyampaikan risalah wahyu, juga mempraktikan risalah (kehidupan politik) tersebut dalam sebuah masyarakat yang dipimpinnya.

Pembahasan Definisi Politik

Etimologis kata politik berasal dari bahasa Yunani, yaitu polis, yang dapat berarti kota atau negara-kota. Dari kata polis ini, kemudian diturunkan kata-kata lain seperti polites (warga negara) dan politicos nama sifat yang berarti kewarganegaraan (civic),2 dan politike techne untuk kemahiran politik serta politike episteme untuk ilmu politik.

Gabriel A. Almond, et. al., mendefinisikan politik sebagai: ―… the activities associated with the control of public decisions among a given people and in a given territory, where this control may be backed up by authoritative and coercive means.

Politics refers to the use of these authoritative and coercive means—who gets to employ

2 R. N. Gilchrist, Principle of Political Science, Madras: Orient Longmas, 1957, Cet. Ke-7, hal. 1

(3)

3

them and for what purpose.‖3 ―… Kegiatan yang berhubungan dengan kendali pembuatan keputusan publik dalam masyarakat tertentu di wilayah tertentu, dimana kendali ini disokong lewat instrumen yang sifatnya otoritatif (berwenang secara sah) dan koersif (bersifat memaksa). Politik mengacu pada penggunaan instrumen otoritatif dan koersif ini—siapa yang berhak menggunakannya dan tujuan apa.‖

Menurut Miriam Budiardjo, politik (politics) adalah usaha untuk menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa masyarakat ke arah kehidupan bersama yang harmonis. Usaha menggapai the good life ini menyangkut bermacam-macam kegiatan yang antara lain menyangkut proses penentuan tujuan dari sistem, serta cara-cara melaksanakan tujuan itu.

Masyarakat mengambil keputusan mengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu dan hal ini menyangkut pilihan antara beberapa alternatif serta urutan prioritas dari tujuan-tujuan yang telah ditentukan itu.4

Dalam bahasa Arab, kata politik biasa disebut dengan as-siyâsah. As-siyâsah merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata kerja sâsa-yasûsu, yang pelakunya disebut sâ`is. Secara etimologis, kata as-siyâsah dapat berarti mengatur, mengurus, dan memerintah.5 Siyâsah juga bisa berarti pemerintahan dan politik atau membuat kebijaksanaan.6 Secara tersirat, dalam pengertian siyâsah terkandung dua dimensi yang berkaitan satu sama lain: 1) ―tujuan‖ yang hendak dicapai melalui proses pengendalian;

2) ―cara‖ pengendalian menuju tujuan tersebut. Oleh karena itu, siyâsah pun diartikan:

ُُماَيِقلا

ُُوُحِلْصُيُاَِبُِِئَّشلاُىَلَع ُ

Memimpin sesuatu dengan cara yang membawa kemaslahatan.7

Politik atau siyâsah dalam Islam bermakna mengurus, memimpin, memerintah, menyuruh, mengelola kepentingan umum, al-ẖâkimiyah, al-mulk, menegakkan syari‘at.8

Ulama telah memberikan berbagai definisi siyâsah, baik secara khusus maupun umum.

3 Gabriel A. Almond, et al., Comparative Politics Today: A World View, Eigth Edition, Delhi:

Dorling Kindersley Publishing, Inc., 2004, hal. 2

4 Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008, Edisi Revisi Cet. Ke-2, hal. 15.

5 Jamâl al-Dîn Muhammad Ibn Mukarram al-Anshârî Ibn Manzhûr, Lisân al-„Arab, Beirut: Dâr al- Masyriq, 1968, Juz VI, hal. 108.

6 Abd al-Wahhâb Khallâf, as-Siyâsah asy-Syar„iyyah, Kairo: Dâr al-Anshâr, 1977, hal. 4

7 Muhammad Murtadhâ al-Husainî az-Zabîdî, Tâj al-„Arȗs min Jawâhir al-Qâmȗs, Mahmud Muhammad ath-Thanâhî (ed.), Kuwait: Mathba‘ah Hukȗmah Kuwait, 2004, Juz XVI, hal. 157.

8 Rifyal Ka‘bah, Politik dan Hukum Dalam Al-Qur`an, Jakarta: Khairul Bayan, 2005, hal. 11.

(4)

4 a. Makna siyasah secara khusus

Yaitu berkaitan dengan „uqȗbah (sanksi pidana). Dalam konteks ini, dapat dikemukakan definisi ―siyasah‖ sebagaimana dinyatakan oleh Zainuddin Ibn Nujaim al- Hanafi (w. 970 H):

ُ يِئْزُجٌُليِلَدُِلْعِفْلاَُكِلَذِبُْدِرَيَُْلَُْنِإَوُ،اَىاَرَ يٍُةَحَلْصَمِلُِمِكاَْلْاَُنِمٍُءْيَشُُلْعِف

“Siyasah adalah kebijakan yang diambil hakim untuk mewujudkan kemaslahatan yang diyakininya, sekalipun kebijakannya itu tidak ada dalilnya secara khusus”.9

b. Makna secara umum

Yaitu berkaitan dengan daulah (kenegaraan/pemerintahan) dan sulthah (kekuasaan). Dalam konteks ini dapat dikemukakan definisi siyasah sebagai berikut:

Ibn ‗Aqil, ahli fikih bermadzhab Hanbali (w. 513 H), sebagaimana dikutip Ibn al- Qayyim, mendefinisikan:

ُْوُسَّرلاُُوْعَضَيَُْلَُْنِإَوُِداَسَفْلاُِنَعَُدَعْ بَأَوُِحَلاَّصلاُ َلَِإَُبَرْ قَأُُساَّنلاُُوَعَمُُنْوُكَيًُلاْعِفَُناَكُاَم

ٌُيَْْوُِوِبَُلَزَ ََُاَوُُل

“Siyasah adalah segala perbuatan yang membawa manusia lebih dekat kepada kemaslahatan dan lebih jauh dari ke-mafsadat-an (kerusakan), sekalipun Rasulullah saw tidak menetapkannya dan (bahkan) Allah Swt. tidak menentukannya.”10

Ibn ‗Abidin, ahli fikih bermadzhab Hanafi (w. 1252 H) memberi batasan:

ُْلاُ ِقيِرَّطلاُ َلَِإُْمِىِداَشْرِإِبُِقْلَْلْاُُحَلاْصِتْسا

ُ ِفُِِةَّماَعْلاَوُِةَّصاَْلْاُىَلَعُِءاَيِبََْْلْاُْنِمَُيِهَفُلِج ْلْاَوُلِجاَعْلاُ ِفُِيِّجَنُم

اَمَلُعْلاَُنِمَوُ،ُرْ يَغُ َاُِهِرِىاَظُ ِفُِْمُهْ نِمٍُّلُكُىَلَعُِكوُلُمْلاَوُِينِط َلاَّسلاُْنِمَوُ،ْمِهِنِطاَبَوُْمِىِرِىاَظ

ُىَلَعُِءاَيِبََْْلْاُِةَثَرَوُِء

ُُرْ يَغُ َاُْمِهِنِطاَبُ ِفُِِةَّصاَْلْ ا

“Siyasah adalah kemaslahatan untuk manusia dengan menunjukannya kepada jalan yang menyelamatkan, baik di dunia maupun di akhirat. Siyasah berasal daripada Nabi, baik secara khusus maupun secara umum, lahir maupun batin. Segi lahiriyah siyasah berasal dari para pemegang kekuasaan (para sulthan dan raja) bukan dari ulama;

sedangkan secara batiniyahnya, siyasah berasal dari ulama pewaris Nabi bukan dari pemegang kekuasaan.”11

Dan menurut Salim Ali al-Bahnasawi, politik ialah cara dan upaya menangani masalah-masalah rakyat dengan seperangkat undang-undang untuk mewujudkan

9 Ibnu Nujaim al-Hanafi, al-Baẖr ar-Raîq Syarẖ Kanz ad-Daqâiq, Beirut: Dâr al-Ma‘rifah, t.th., Jilid 5, hal.11.

10 Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, at-Thuruq al-Hukmiyyah fî as-Siyâsah asy-Syar‟iyyah, Nâyif ibn Ahmad al-Hamad (ed.), Makkah al-Mukarramah: Dâr ‗Âlam al-Fawâid, 1428 H, Cet. Ke-1, Jilid 1, hal.

29.

11 Ibnu ‗Âbidîn, Radd al-Mukhtâr alâ ad-Dur al-Mukhtâr Syarẖ Tanwîr al-Abshâr, Riyadh: Dâr

‗Âlam al-Kutub, 1423 H/2003 M, Juz VI, hal. 20.

(5)

5

kemaslahatan dan mencegah hal-hal yang merugikan bagi kepentingan manusia. Oleh sebab itu, Islam dan umat Islam memberi perhatian pada masalah politik.12

Politik Para Nabi

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim disebutkan:

ُللهاُىلصُِِّبَِّنلاُِنَعُ ُثِّدَُيُُُوُتْعِمَسَفَُينِنِسُ َسَْخََُةَرْ يَرُىُاَبَأُ ُتْدَعاَقُ َلاَقُ ٍمِزاَُْاَبَأُ ُتْعَِسَُ َلاَق ملسوُويلع

ُ

َُليِئاَرْسِإُوُنَ بُْتََاَك

ُْكَيَ فُُءاَفَلُخُُنوُكَيَسَوُىِدْعَ بَُِّبَََُِاُُوََِّإَوُ ِبََُُِوَفَلَخُ ِبَََُِكَلَىُاَمَّلُكُُءاَيِبََْلْاُُمُهُسوُسَت

َُنوُرُ ث

َُّمَعُْمُهُلِئاَسَُوَّللاَُّنِإَفُْمُهَّقَُْْمُىوُطْعَأُ ِلَّوَلْاَفُ ِلَّوَلْاُِةَعْ يَ بِبُاوُفَُلاَقُاََُرُمْأَتُاَمَفُاوُلاَق

ُْمُىاَعْرَ تْساُا .

―Aku mendengar Abu Hazim; ia berkata, "Aku telah mengikuti majelis Abu Hurairah selama lima tahun dan aku pernah mendengar ia menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda: adalah Bani Israil yang mengatur urusan mereka adalah para Nabi. Bila seorang nabi wafat, diganti Nabi berikutnya. Tetapi, tidak ada lagi Nabi sesudahku, tetapi akan banyak khalifah … Para sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami? Rasulullah saw. bersabda, penuhi baiat yang pertama, dan hanya yang pertama berikan kepada mereka (para khalifah) hak mereka.

Sesungguhnya, Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa saja yang mereka urus”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Ibn Majah).13

Berkenaan lafaz tasȗsuhum al-anbiyâ`, Ibn Hajar al-‗Asqalânî berkata, ―Dalam hal ini terdapat isyarat bahwa harus ada bagi rakyat, orang yang mengatur urusan mereka, membimbing mereka ke jalan yang baik, dan memberikan keadilan kepada orang yang dizalimi dari orang yang zalim‖.14 Menurut Imam as-Suyȗthi pula, tasȗsuhum bermaksud ―yang menjalankan urusan mereka‖.15 Dan menurut Imam an-Nawawi, tasȗsuhum berarti ―yang menangani urusan mereka sebagaimana para amir dan wali menangani urusan rakyat‖.16 Hadits ini, dan yang semakna dengannya, menjelaskan kepada kita bahwa para Nabi selain menyampaikan risalah wahyu, juga mempraktikan risalah tersebut dalam sebuah masyarakat yang dipimpinnya. Makna frasa ―mengatur urusan mereka‖ (tasȗsuhum) berasal dari akar kata sâsa-yasȗsu-siyâsatan (pengaturan).

Praktik politik adalah pengaturan masyarakat dengan aturan yang bersumber dari

12 Salim Ali al-Bahnasawi, Wawasan Sistem Politik Islam, diterjemahkan oleh Mustolah Maufur dari asy-Syarî‟ah al-Muftarâ „Alaihâ, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1996, Cet. Ke-1, hal. 23.

13 Abu ‗Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shaẖîẖ al-Bukhârî, Beirut: Dar Ibn Katsîr, 1423 H/ 2002 M, Cet. Ke-1, hal. 856, no. hadits 3455, Kitâb Aẖâdîts al-Anbiyâ`, Bâb Mâ dzukira ‟an Banî Isrâîl.

14 Ibn Hajar al-‗Asqalani, Fatẖ al-Bârî, M. Fuad Abdul Baqi-Muhibuddin al-Khathib, (ed.), Beirut:

Dâr al-Ma‘rifah,1379 H, Juz IV, hal. 497.

15 Abdurrahman bin Abi Bakr As-Suyuthi, ad-Dîbâj „alâ Shaẖîẖ Muslim, Abu Ishaq al-Huwaini al- Atsari (ed.), al-Khabr as-Su‘udiyah: Dar Ibn Affan, 1996 M/1416 H, Juz IV, hal. 456.

16 Imam an-Nawawi, Shahîh Muslim bi Syarh an-Nawâwî, Cairo: al-Mathba‘ah al-Mishriyah bi al- Azhar, 1349 H/ 1930 M, Cet. Ke-1, Juz XII, hal. 231.

(6)

6

wahyu. Artinya, praktik pengaturan (politik) adalah perilaku yang dilakukan oleh para Nabi sepanjang masa kerisalahannya.17 Hal ini bisa dilihat, misalnya teladan kehidupan Nabi Sulaiman as., Nabi Musa as., atau Nabi Yusuf as., sehingga sangat tepat jika praktik kehidupan para Nabi ketika mereka memimpin umat adalah kehidupan pengaturan dengan risalah (kehidupan politik).18

Menurut al-Ghazali, politik kenabian merupakan politik tertinggi. Para Nabi dalam politiknya berusaha mengurus dan mengendalikan kaumnya dalam bidang yang terkait urusan publik maupun privat, lahir maupun batin. Tingkatan kedua adalah politiknya para khalifah, para raja dan sultan, mereka mengurus dan mengendalikan rakyatnya dalam aspek privat maupun publik tetapi terbatas pada aspek lahiriyah saja bukan aspek batiniyah atau spiritual. Tingkatan ketiga, politik para ulama, mereka sebagai pewaris agama dari para Nabi, bertugas mengendalikan dan mengurus masyarakat pada aspek batiniyah atau spiritual saja bukan pada aspek lahiriyah. Mereka tidak memiliki kekuatan untuk memaksakan atau untuk mencegah. Keempat, politiknya para al-wu‟âzh (juru dakwah), mereka hanya mengurus aspek batin atau spiritual dari masyarakat umum.19

Jadi, jelaslah bahwa persoalan pengaturan (politik dengan basis wahyu) dalam tradisi Islam bukanlah hal yang baru dan asing. Ia terkait dengan peran Nabi Muhammad sejak diutus hingga menjadi pemimpin negara dan masyarakat secara riil di Madinah dan dilanjutkan oleh para khalifah sesudahnya. Tentu menjadi masalah ketika hari ini, umat Islam menjadi asing dengan politik atau menjauhkan diri dari politik.

Padahal, pada saat yang sama, konsep dan dimensi perilaku para nabi, termasuk Nabi Muhammad Saw. adalah berpolitik di bawah naungan wahyu.20

Politik Nabi Muhammad Saw.

Semua umat Islam sepakat dalam memandang Nabi Muhammad Saw. sebagai ideal type atau uswatun hasanah yang perjalanan hidupnya selalu menjadi sumber inspirasi bagi mereka. Umat Islam juga sepakat untuk mengakui bahwa Nabi Muhammad saw adalah pemimpin moral. Pengakuan ini tidak hanya dikukuhkan oleh Al-Qur`an (al-Qalam/ 68: 4), tetapi juga diakui oleh Nabi lewat sabdanya:

17 Muhammad D. Riyan, Political Quotient: Meneladani Perilaku Politik Para Nabi, Bandung:

Madani Prima, 2008 M/1429 H, Cet. Ke-1, hal. 71-72.

18 Muhammad D. Riyan, Political Quotient: Meneladani Perilaku Politik Para Nabi, hal. 72.

19 Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Iẖyâ` „Ulȗm ad-Dîn, Kairo: Dâr ar-Rayyân li at-Turâts, 1405 H/1987 M, Cet. Ke-1, Jilid I, hal. 24.

20 Muhammad D. Riyan, Political Quotient: Meneladani Perilaku Politik Para Nabi, hal. 72-73

(7)

7

َُعُْن

َُُأ

ُُىَُُ ُِب رُْيَُةر

َُُر

َُيُ ُِض

ُُللها

َُُعُْن

ُُوَُُق

َُقُ: َُلا

َُلا

ُ

َُّنلا

ُيِبُ

َُصَُّل

ُُللهاُى

َُُعَُل

ُْيُِوُ

َُوَُس

َُّلَُم

ُِإُ:

ََُّنّ

ُُبُا

ُِعُْث

ُُت

ُُِلْ ُ

َُِّتَُم

َُُم

َُك

َُمُ ُِرا

َُْلْا

ُْخ

َُلا

ُهاورُ ُ.ق.

)ُىقهيبلا

ُ

Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan keutamaan akhlak. (HR. al- Baihâqî)21

Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. selalu terkait dengan masalah keimanan. Ia tidak melakukan manuver-manuver politik, jihad, perjanjian damai, kecuali dengan dasar iman yang menjadi penggerak utama perbuatannya. Iman yang menjadi tema sentral dari ajaran yang diembannya. Oleh karena itu, ia senantiasa di-monitoring oleh wahyu samawi dalam menjalankan kepemimpinannya.

Para ahli sejarah barat selalu membuat garis pemisah di antara periode Makkah dengan periode Madinah. Sewaktu Nabi Muhammad Saw. masih berada di Makkah belumlah pernah beliau membicarakan soal-soal politik dan soal-soal duniawi lainnya, kecuali soal iman dan akhlak. Maka setelah berada di Madinah, Nabi telah mengubahkan agamanya, memasukkan permasalahan duniawi, sosial, ekonomi dan politik, di samping tauhid dan akhlak. Keterangan ini bertentangan dengan bukti-bukti sejarah, bahkan kitab suci Al-Qur`an membantah pendapat demikian. Ayat-ayat Al- Qur`an, seperti surat asy-Syȗrâ/ : 36-41, yang seluruhnya diturunkan pada tahun 8 ke- Nabi-an, yaitu 5 tahun sebelum terjadi hijrah ke Madinah. Pada tahun itulah terjadinya meninggal paman Nabi –Abu Thalib—dan beberapa hari kemudiannya meninggal pula istri beliau yang tercinta Khadijah. Tahun itu dinamakan ―Âmul Hazni‖ (Tahun Kesedihan).22

Justru pada tahun musibah yang sangat besar menimpa Nabi itulah, turun ayat- ayat yang membawa prinsip-prinsip bernegara. Bagaikan ayat-ayat itu menghapus segala kesedihan-kesedihan dari hati Nabi, karena menengok jauh ke depan kepada tugas-tugas kenegaraan dan kemasyarakatan, yang merupakan ―dasar-dasar ideologi‖

yang harus beliau tanamkan sejak itu. Ayat-ayat penting itu mengajarkan 10 buah prinsip yang harus ditanamkan di dalam 5 bidang kehidupan. Terlebih dahulu ditunjukkan bahwa segala kenikmatan yang dirasai di dalam hidup ini hanyalah sekedar hiburan duniawi semata yang bersifat sementara. Jauh bedanya dengan nikmat-nikmat akhirat yang disediakan Allah, yang mutunya jauh lebih baik dan bersifat abadi. Nikmat

21 Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubrâ, Hyderabad: Majelis Dâirah al-Ma‘ârif an-Nizhâmiyah, 1344 H, Jilid 10, hal. 191-192, Bâb Bayân Makârim al-Akhlâq.

22 Zainal Abidin Ahmad, Ilmu Politik Islam II: Konsepsi Politik dan Ideologi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1977, Cet. Ke-1, hal. 115-116.

(8)

8

dunia dan akhirat hanyalah dapat dimiliki oleh umat yang mempunyai 10 prinsip sebagai berikut: a) Bidang kepercayaan mempunyai prinsip-prinsip: 1. Iman sepenuhnya kepada Allah; 2. Bertawakal senantiasa kepada Allah; b) Bidang akhlak, memiliki sifat-sifat: 1. Menjauhi segala dosa besar; 2. Suka memaafkan kalau ada sesuatu yang menimbulkan amarahnya; c) Bidang ibadat, mempunyai pendirian: 1.

Memenuhi segala panggilan Allah; 2. Mengerjakan shalat tepat pada waktunya; d) Bidang kenegaraan dan kemasyarakatan, mempunyai prinsip: 1. Bermusyawarah di dalam segala urusan; 2. Suka memberikan ―infaq‖ dari rezeki yang diperolehnya; dan e) Bidang perjuangan, mempunyai sifat-sifat: 1. Membela diri setiap kali menghadapi kezhaliman; 2. Dan mengutamakan perdamaian dalam menyelesaikan setiap sengketa.23 Di antara 5 bidang yang disebutkan di atas, tampak sudah dimulai bidang politik.

Dua yang pertama yaitu bidang-bidang akidah (kepercayaan) dan akhlak sangat diutamakan selama periode Makkah. Bidang ibadah baru dimulai pelaksanaannya semenjak Isra dan Mi‘raj Nabi, pada waktu sudah mendekati masa hijrah. Adapun dua yang terakhir, pastilah mengenai permasalahan politik, yaitu bidang kenegaraan dan kemasyarakatan, dan bidang perjuangan. Meskipun dalam praktek belumlah diaktifkan sewaktu Nabi di Makkah, tetapi prinsip-prinsipnya sudah ditanamkan jauh sebelum beliau hijrah ke Madinah.24 Di periode Makkah, Nabi sudah barang pasti telah memiliki wacana politik, hal yang berkaitan dengan kekuasaan dan pemerintahan. Di samping pernah melawat ke negeri Syam, Arab sebelah utara, beliau juga memperoleh wahyu yang berisi kisah umat terdahulu, seperti Nabi Musa dengan Fir‘aun, Nabi Sulaiman dan ratu Saba`, Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya, dan sebagainya. Kisah-kisah yang dimuat dalam Al-Qur`an, sebagian besar turun di Makkah, mengandung berbagai keteladanan yang secara simultan dapat membentuk kepribadian bertauhid dan humanis.

Bagaimana menjadi pemimpin dan pemegang pemerintahan yang baik dapat diperoleh dari sana.25

Di periode ini juga, menurut Zainal Abidin Ahmad, Nabi Muhammad Saw.

sebenarnya telah melakukan persiapan-persiapan bagi pekerjaan besar yang akan dilancarkannya di Madinah nanti, di antarannya yaitu melakukan bai‟at „aqabah ȗlâ (perjanjian ‗Aqabah pertama pada 621 M) dan tsâniyah (‗Aqabah kedua pada 622 M),

23 Zainal Abidin Ahmad, Ilmu Politik Islam II: Konsepsi Politik dan Ideologi Islam, hal. 116.

24 Zainal Abidin Ahmad, Ilmu Politik Islam II: Konsepsi Politik dan Ideologi Islam, hal. 117

25 Muh. Zuhri, Potret Keteladanan Kiprah Politik Muhammad Rasulullah, Yogyakarta: LESFI, 2004, Cet. Ke-1, hal. 26.

(9)

9

setelah melakukan sumpah setia (bai‘at), maka Nabi Muhammad melakukan pemilihan di antara 75 orang warga Muslim untuk memilh 12 orang pemimpin dan selanjutnya Nabi melakukan hijrah (migration); suatu revolusi sejarah yang sangat penting dalam perjalanan perjuangan Nabi Muhammad Saw. Tidak lebih dari tiga bulan sesudah perjanjian ‗Aqabah, Nabi ditemani oleh sahabat Abu Bakar, telah meninggalkan kota Makkah menuju kota Yatsrib (Madinah).

Proses pengangkatan Rasulullah sebagai kepala negara ini berdasarkan kesepakatan yang disebut dalam perjanjian, bukan berdasarkan wahyu. Dalam ilmu politik, proses ini disebut ―kontrak sosial‖. Implikasi bai‟at adalah proteksi dan kerjasama yang saling menguntungkan. Dengan demikian, bai‟at semacam itu termasuk perilaku politik karena dalam dunia politik, proteksi dan kelompok, yang sekarang disebut partai merupakan isu penting untuk sebuah perjuangan. Kita melihat, masyarakat kesukuan menerapkan sebuah sistem politik proteksi. Suku yang kuat dapat diminta melindungi suku yang lemah. Orang Badui yang berada di luar suku merasa perlu masuk dalam suku tertentu untuk mendapatkan proteksi. Kalau suku Aus dan Khazraj melindungi warga sukunya dari ―ancaman‖ Yahudi, maka melalui perjanjian

‗Aqabah mereka berkoalisi dengan Rasulullah dalam sebuah proteksi yang lebih besar, apalagi mereka yakin bahwa Muhammad Rasulullah bukan orang sembarangan.

Sebaliknya, Rasulullah beserta para pengikut memperoleh sebuah proteksi yang menyejukkan, karena selama di Makkah mereka merasa dalam ancaman tanpa batas akhir.26

Tampaknya Rasulullah Saw. menangkap gelagat bahwa tidak semua orang Yatsrib bisa menerimanya sepenuh hati kendati orang-orang Yatsrib telah berjanji mem-back up beliau dalam perjanjian ‗Aqabah. Itu sebabnya beliau memilih singgah di Quba agak tiga hari dan membangun masjid di sana sebagai masjid pertama sebelum masuk Yatsirb. Waktu tiga hari digunakan untuk memperoleh informasi lengkap tentang sikap penduduk Yatsrib, siapa yang mendukung dan siapa yang simpati dan siapa pula yang berpotensi untuk memusuhinya (munafiq). Lebih dari itu, beliau memilih membeli sebidang tanah di Yatsrib untuk membangun tempat tinggal, kendati Bani Najar, pemilik tanah, akhirnya tidak mau menerima pembayaran pembelian itu karena ingin

26 Muh. Zuhri, Potret Keteladanan Kiprah Politik Muhammad Rasulullah, hal. 32-33.

(10)

10

menunjukkan kebaikan untuk sang pemimpin. Lagi-lagi di bidang tanah ini beliau membangun masjid berdampingan dengan tempat tinggalnya.27

Selama kepemimpinan Nabi selaku pemimpin negara yang berpusat di Madinah, tidak membentangkan garis demarkasi (garis pemisah) antara agama dan negara, justru terintegrasikan. Relasi agama dan negara tidak terpisahkan. Pada masa Nabi, totalitas nilai-nilai agama mewarnai konstitusi pemerintahaan Nabi dalam Piagam Madinah.

Dalam perspektif politik, posisi Nabi sebagai pemimpin politik dan pemimpin negara berhasil meletakkan sistem pemerintahan yang mengedepankan kemaslahatan umatnya.

Seluruh aspek dan sendi-sendi kehidupan masyarakat berjalan dinamis. Kunci keberhasilan Nabi terletak pada keteladanannya dalam memimpin. Aspek keteladanan inilah yang menjadi penting diwarisi para pemimpin negara. Sosok kenegarawanan Nabi acapkali diabaikan karena semata diposisikan sebagai pemimpin spiritual belaka.

Akibatnya dunia politik berjarak dari spirit agama, justru yang sering dijumpai hanya menjadi alat, bukan mewarnai apalagi menjadi tujuan. Tegasnya, agama hanya diperalat sehingga agamawan dan politisi berkolaborasi dalam kubangan politisasi agama.

Kesucian agama tereduksi pragmatisme politik kekuasaan.28 Keberhasilan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. tidak terlepas dari aspek keteladanan dan kepribadiannya. Karakteristik kepemimpinan politik Nabi sebagai negarawan berpijak pada sifat-sifat kenabian yang melekat pada dirinya. Maka aspek terpenting diteladani dari Nabi dalam konteks politik adalah kepemimpinan politiknya didasarkan pada empat sifat kenabian yang meliputi; amanah (tanggung jawab), shiddiq (terpercaya), fathonah (cerdas), tabligh (penyampai).29

Dalam kepemimpinannya, terdapat banyak bentuk keberhasilan manuver-manuver politik Rasulullah Saw., diantaranya:

Pertama: Politik Rasulullah Saw dalam perang Khandaq

Perang Khandaq sangat layak untuk dianalisa dalam perspektif politik, oleh karena memang perang tersebut penuh dengan nuansa politik, paling tidak ada dua hal yang

27 Muh. Zuhri, Potret Keteladanan Kiprah Politik Muhammad Rasulullah, hal. 33.

28 Firdaus Muhammad, ―Meneladani Kepemimpinan Politik Nabi‖, dalam http://makassar.tribunnews.com/2012/02/03/meneladani-kepemimpinan-politik-nabi, diakses pada hari Ahad, 22 Februari 2018

29 Firdaus Muhammad, ―Meneladani Kepemimpinan Politik Nabi‖, dalam http://makassar.tribunnews.com/2012/02/03/meneladani-kepemimpinan-politik-nabi.

(11)

11

perlu dicermati, yakni pemakaian ide sahabat Salman al-Farisi dan penerapan ide strategi parit itu sendiri.30

a. Pemakaian ide Salman al-Farisi

Pemakaian gagasan Salman al-Farisi oleh Rasulullah Saw. memang sangat beralasan.

Sebab seandainya Rasulullah bersama kaum muslimin melakukan perlawanan terbuka dengan kaum Quraisy, tidak menutup kemungkinan akan berakibat fatal, atau mungkin akan mengalami kekalahan. Dari sini nampak jelas, bahwa Rasulullah adalah figur seorang leader (pemimpin) yang sangat demokratis. Beliau tidak arogan, tidak memaksakan kehendak, tidak otoriter serta bertangan besi. Namun Rasulullah Saw. suka memperlihatkan aspirasi yang berkembang di arus bawah, bahkan jika baik, beliau akan mempergunakan aspirasi itu untuk menentukan policy (kebijakan) dalam mengatur segala aspek kehidupan bermasyarakat, baik yang menyangkut strategi perang, menata kehidupan masyarakat, mengatur jalannya roda pemerintahan dan lain sebagainya.31

b. Penerapan Ide Tentang Strategi Perang Parit

Penerapan ide Salman al-Farisi tentang strategi parit merupakan satu sisi taktik dalam berperang, karena perang itu sendiri identik dengan taktik dan taktik identik dengan tipu muslihat, sebagaimana yang dituturkan Rasulullah kepada Nu‘aim bin Mas‘ud al-Asyja‘i,32 salah seorang rival Rasulullah dari Ghathafan33 yang telah menyatakan diri masuk Islam. Taktik politik semacam ini, sah-sah saja, bahkan sangat diperbolehkan dalam Islam manakala terjadi peperangan melawan musuh-musuh yang hendak menghancurkan Islam asalkan tertata dengan sistem manajemen yang baik disertai konsolidasi internal yang solid antar sesama pasukan.34

Tidak hanya itu, Islam juga memperbolehkan berdusta dalam peperangan. Padahal hukum asal dari berdusta adalah haram berdasarkan nash yang terdapat dalam Al- Qur`an (Ali ‗Imrân/ 3: 61). Meskipun begitu, terdapat juga nash yang mengecualikan

30 Ahmad ZS dan M. Ahnan, Politik Ala Rasulullah, Cara Rasulullah Saw. Berpolitik, t.t.p: Al Basith, t.t.th., Edisi Revisi, hal. 25.

31 Ahmad ZS dan M. Ahnan, Politik Ala Rasulullah, Cara Rasulullah Saw. Berpolitik, hal. 25.

32 Nu‘aim bin Mas‘ud bin ‗Amir bin Anif al-Asyja‘i al-Ghathafani, dikenal dengan Abu Salamah berasal dari Ghathafan.

33 Bani Ghathafan (نافطغ ونب ) adalah suku kuno besar dari utara Madinah dan dari mereka muncul suku Bani Abs dan Ashga dan Bani Thibyan. Mereka adalah salah satu suku arab yang berinteraksi dengan Nabi Muhammad. Mereka terkenal karena bersekutu dengan bani Quraisy pada perang Khandaq.

34 Ahmad ZS dan M. Ahnan, Politik Ala Rasulullah, Cara Rasulullah Saw. Berpolitik, hal. 27.

(12)

12

haramnya berdusta dalam bebrapa hal yang telah ditentukan dan dibatasi, serta tidak boleh diselewengkan, berdasarkan riwayat dari Rasulullah Saw:

ُ: ْتَلاَقُ،َدْيِزَيُ ِتْنِبَُءاَْسََأُْنَع

َُصُِوَّللاُُلوُسَرَُلاَق

َُمَّلَسَوُِوْيَلَعُُوَّللاُىَّل

؛ ٍثَلاَثُ ِفُِ َّاِإُُبِذَكْلاُيلَِيُُ َا :ُ

ُُثِّدَُيُ ُ

ُُلُجَّرلا

َُتَأَرْما اَهَ يِضْرُ يِلُِو

َُوُ،

ُِبْرَْلْاُ ِفُِ ُبِذَكْلا

َُوُ،

ُ ُبِذَكْلا

َُْينَ بَُحِلْصُيِل

ُ

ُِساَّنلا

ُ َاُ:ِوِثْيِدَُْ ِفٌُِدْوُمَْمَُ َلاَقَوُ.

. ٍثَلاَثُ ِفُِ َّاِإُُبِذَكْلاُُحُلْصَي )يذمترلاُهاور

ُ

Dari Asma binti Yazid, berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Tidak halal dusta itu kecuali dalam tiga keadaan, yakni suami yang berdusta kepada isterinya untuk menyenangkannya, berdusta dalam peperangan, dan berdusta di antara dua orang manusia untuk mendamaikan keduanya. Mahmud berkata dalam hadistnya: Tidak patut (layak) berdusta kecuali dalam tiga keadaan. (HR. Tirmidzi)35

Tiga perkara inilah yang merupakan pengecualian dari keharaman berdusta berdasarkan nash yang shahih. Maka tidaklah halal terjadinya kedustaan pada selain ketiga hal tersebut, karena tidak ada yang dikecualikan oleh keumuman nash selain yang dikhususkan oleh dalil.

Kata perang (al-harb), sebagaimana yang tercantum dalam hadits diatas hanya mempunyai satu arti, yaitu keadaan perang secara nyata. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan sama sekali berdusta dalam keadaan yang bukan perang.36 Dari uraian diatas dapatlah diambil sebuah kesimpulan bahwa dalam berperang diperbolehkan dengan tujuan untuk menyesatkan musuh, selagi itu bukan termasuk dalam pembatalan perjanjian atau pelanggaran perdamaian.

c. Spionase (Tajassus)

Pada peristiwa perang Khandaq terdapat kaitannya dengan masalah spionase (menyelidiki berita). Dalam bahasa Arab yang berkenaan dengan kegiatan ini, berkisar pada kalimat tajassasa yang berarti menyelidiki, memata-matai. Kalimat ini berasal dari jassa yang mempunyai arti memandang dengan tajam, membelalakkan matanya agar jelas.37 Tajassus adalah mengorek-ngorek suatu berita. Secara bahasa bila dikatakan, jassa al-akhbar wa tajassasaha, artinya adalah mengorek-mengorek suatu berita. Jika seseorang mengorek-ngorek berita, baik berita umum maupun rahasia, maka ia telah melakukan aktivitas tajassus (spionase). Orang semacam ini disebut jâsus (mata-mata). Suatu aktivitas bisa terkategori tajassus (spionase), jika di

35 Abu ‗Isa Muhammad bin ‗Isa at-Tirmidzi, al-Jâmi‟ al-Kabîr, Basysyar ‗Awwad Ma‘ruf (ed.), Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1996, Cet. Ke-1, Jilid 3, hal. 494, no. hadits 1939, Bab Mâ Jâ`a fî Ishlâẖ Dzât al-Bain.

36 Ahmad ZS dan M. Ahnan, Politik Ala Rasulullah, Cara Rasulullah Saw. Berpolitik, hal. 28.

37 Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, Surabaya: Pustaka Progressif, 1997, hal. 192.

(13)

13

dalamnya ada unsur mengorek-ngorek (mencari-cari) berita. Sedangkan berita yang dikorek-korek (dicari-cari itu) tidak harus berita rahasia. Akan tetapi semua berita, baik umum maupun rahasia.38

Adapun orang yang mencari berita untuk dikumpulkan, dan menelitinya tidak untuk tujuan mengusut berita itu lebih lanjut, namun mengumpulkannya untuk disebarkan kepada masyarakat, maka hal ini tidak disebut tajassus. Orang yang mencari, dan mengumpulkan berita, seperti redaktur koran, atau wakil-wakil kantor berita tidak disebut dengan jâsus (mata-mata). Pegawai dinas intelijen, biro mata-mata, dan lain- lainnya, yang bertugas mengorek-ngorek berita (memata-matai), maka mereka adalah jâsus. Sebab, aktivitasnya sudah terkategori sebagai aktivitas spionase tajassus.39 Dalam sejarah Islam, tercatat nama Hudzaifah bin Yaman sebagai salah satu agen intelijen atau spion andalan Rasulullah Saw. dalam menghadapi orang-orang kafir dan munafik yang ingin memerangi Islam dan Muslim. Oleh Rasulullah, Ibn Yaman dinilai sebagai orang yang bisa dipercaya, memiliki ingatan yang kuat cerdik dan cerdas dalam mengolah informasi. Ibn Yaman juga dikenal sosok yang mudah bergaul yang memudahkannya untuk menjalankan operasi mata-mata.40 Dalam perang Khandaq (perang parit), Rasulullah menugaskan Hudzaifah bin Yaman untuk memata-matai pasukan kafir Quraisy dari Makkah yang berkekuatan 10.000 orang, ditambah bantuan dari orang-orang Yahudi. Mereka berencana untuk menyerang kota Madinah yang hanya memiliki 3000 orang pasukan perang.41

Kedua: Politik Rasulullah Saw dalam mewujudkan rekonsiliasi 1. Analisis Politis terhadap Perjanjian Hudaibiyah

Jika dianalisa secara politis, maka sesungguhnya tujuan Rasulullah Saw.

berkenan untuk mengadakan perjanjian adalah adanya keinginan beliau dalam mewujudkan rekonsiliasi antara kelompok muslimin dan kafir Quraisy. Beliau ingin agar kedua kelompok tersebut dapat hidup berdampingan secara damai, tanpa adanya

38 Ahmad ZS dan M. Ahnan, Politik Ala Rasulullah, Cara Rasulullah Saw. Berpolitik, hal. 28.

39 Taqiyyuddin an-Nabhâni, asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah,ed. III, Beirut: Dâr al-Ummah, 1994, Juz II , hal. 211-212.

40 Fauzan Jamal, Intelijen Nabi: Melacak Jaringan Intelijen Militer dan Sipil Pada Masa Rasulullah, Bandung: Pustaka Oasis, 2009, hal. 62.

41 Fauzan Jamal, Intelijen Nabi: Melacak Jaringan Intelijen Militer dan Sipil Pada Masa Rasulullah, hal. 62.

(14)

14

permusuhan, meskipun pada akhirnya seringkali kelompok kafir Quraisy selalu melanggar perjanjian yang telah mereka sepakati dengan kelompok muslimin.42

Di samping perjanjian tersebut merupakan usaha Rasulullah Saw. dalam menciptakan rekonsiliasi atau ishlâẖ, perjanjian juga merupakan salah satu bentuk

―kompromi politik‖ antar dua kelompok yang saling berbeda pendapat, berbeda pandangan serta saling berseberangan.

Kompromi politik atau al-ẖilf as-siyâsî, sebagaimana yang termaktub dalam at- taẖâluf as-siyâsî fî al-islâm, karya Munir Ghadhban, secara etimologis berati perjanjian antarkaum atau teman, seperti seorang teman berjanji untuk tidak meninggalkan temannya. Ibnu Zakaria berpendapat, ẖilfu terdiri dari huruf ha`, lam dan fa` yang artinya kebersamaan, seperti perkataan fulan berjanji kepada fulan, apabila ia bersamanya. Al-Jauhari berpendapat bahwa ẖilfu dengan mengkasrahkan huruf ha` adalah perjanjian antar kelompok. Ia mengadakan kompromi berarti ia telah mengadakan suatu perjanjian. Dalam hadits Nabi Muhammad Saw. disebutkan:

―orang-orang Quraisy mengadakan kompromi dengan orang-orang Anshar‖, artinya menjadikan persaudaraan di antara mereka, karena tidak ada istilah kompromi dalam Islam.43 Terlepas dari pengertian ―kompromi politik‖ di atas, yang jelas perjanjian Hudaibiyah merupakan salah satu bentuk kompromi politik yang pernah dilakukan Rasulullah Saw. Di dalam rangka mencari solusi terbaik dari pertikaian antara kaum Quraisy dengan kaum msulimin, meskipun pada akhrinya kaum muslimin banyak menikmati keuntungan dari perjanjian tersebut. Hal ini disebabkan oleh karena sikap toleransi (tasâmuẖ) yang diperlihatkan oleh Rasulullah Saw.44 Perlu diketahui bahwa kompromi politik sangat diperbolehkan dalam Islam, asalkan –menurut Munir Muhammad Ghadhban—menggunakan asas Islam, di samping kesediaan-kesediaan dari orang-orang yang melakukan kompromi itu untuk menerima aturan Islam dan meninggalkan aturan-aturan yang bertentangan dengannya serta dapat mengikat pihak-pihak yang berselisih tersebut dalam sistem Islam tanpa memandang hubungan antarmereka, baik dekat maupun jauh. Selanjutnya, kompromi politik itu dapat menjadi berbahaya dan –bahkan—diharamkan apabila kompromi tersebut dapat mengakibatkan musuh menekan gerakan umat Islam, dimana musuh tadi mempunyai

42 Ahmad ZS dan M. Ahnan, Politik Ala Rasulullah, Cara Rasulullah Saw. Berpolitik, hal. 54.

43 Ahmad ZS dan M. Ahnan, Politik Ala Rasulullah, Cara Rasulullah Saw. Berpolitik, hal. 55.

44 Ahmad ZS dan M. Ahnan, Politik Ala Rasulullah, Cara Rasulullah Saw. Berpolitik, hal. 56.

(15)

15

kekuatan yang sangat besar dan membenci Islam. Kompromi semacam ini jelas diharamkan, sebab dengan diadakannya kompromi itu, maka kelemahan, strategi dan cara berpikir umat Islam dapat diketahui, sehingga mereka dapat ditaklukkan dengan mudah.

2. Perdamaian dalam Pandangan Islam

Perjanjian Hudaibiyah merupakan salah satu usaha Rasulullah Saw dalam merealisasikan ishlaẖ, dimana tujuan dari adanya ishlâẖ adalah tercapainya perdamaian abadi antar kedua kelompok yang saling bertikai.45 Dalam ranah politik ishlâẖ identik dengan rekonsiliasi atau menyatunya dua kubu yang berseberangan jalur atau kelompok yang memiliki pandangan berbeda dengan mengupayakan dua hal; pertama, berbuat baik atau memperbaiki hubungan dengan kelompok atau lawan politik yang selama ini berbeda cara pandang, dan kedua, mengadakan kompromi dialogis dengan cara win win solution (mencari solusi yang dapat menguntungkan bersama) di antara kedua kubu yang berseberangan.

Dalam Islam, perdamaian dikenal dengan ash-shulẖ/al-ishlâẖ yang berarti memperbaiki, mendamaikan dan menghilangkan sengketa atau kerusakan. Berusaha menciptakan perdamaian, membawa keharmonisan, menganjurkan orang untuk berdamai antara satu dengan lainnya, melakukan perbuatan baik, berperilaku sebagai orang suci.46 Perjanjian damai antara kaum muslimin dengan kaum yang bukan muslim diperbolehkan dalam Islam, karena Rasulullah Saw. sendiri pernah melakukan hal itu pada tahun perjanjian Hudaibiyah. Namun diperbolehkannya perdamaian itu terikat dengan adanya kepentingan yang dituntut oleh jihad atau penyiaran dakwah. Hal itu disebabkan sebelum Nabi Muhammad Saw. sampai ke Hudaibiyah, beliau mendengar bahwa telah terjadi persetujuan antara penduduk Khaibar dengan penduduk Makkah untuk menyerang kaum muslimin. Maka, sepulang beliau dari Hudaibiyah, beliau segera menyerang Khaibar dan cepat-cepat mengirim surat-surat kepada para raja untuk menyeru kepada mereka masuk Islam.

Ini menunjukkan bahwa perdamaian Hudaibiyah adalah untuk kepentingan yang berhubungan dengan jihad dan penyiaran dakwah, sebab perdamaian dengan kaum

45 Ahmad ZS dan M. Ahnan, Politik Ala Rasulullah, Cara Rasulullah Saw. Berpolitik, hal. 62.

46 Abdul Aziz Dahlan (et al.), Ensiklopedia Hukum Islam, Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996, hal. 740.

(16)

16

Quraisy itu dapat dipergunakan untuk memerangi Khaibar dan untuk berdakwah kepad para raja dan para amir.47

Perdamaian tidak boleh diadakan bila tidak untuk kepentingan jihad dan penyiaran dakwah, karena perdamaian berarti meninggalkan peperangan yang diwajibkan. Sedang meninggalkan peperangan yang wajib tidak diperbolehkan, kecuali dalam keadaan yang dapat menjadi perantara untuk perang, dan selanjutnya keadaan tersbut bisa berubah menjadi perang. Dalam hal ini, Allah menegaskan dalam firman-Nya:

اَلَف اىَلِإاْا ٓوُع ۡدَت َواْاوُنِهَت ا اِمۡلَّسلٱ

اُمُتنَأ َو ا اَن ۡوَل ۡعَ ۡلۡٱ اَو ا

اَُّللّٱ ا ۡمُكَل ََٰم ۡعَأا ۡمُك َرِتَيانَل َوا ۡمُكَعَم ا ٥٣

Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.

(Muhammad/ 47: 35)

Apabila terdapat kepentingan untuk mengadakan perdamaian, maka wajib ditentukan waktu tertentu yang telah ditetapkan, sebab penentuan waktu itu merupakan salah satu syarat dari syarat-syarat sahnya sebuah perdamaian. Apabila tidak ditentukan waktu tertentu di dalam perdamaian, maka akad perdamaian tidaklah sah. Oleh sebab itu, perdamaian Hudaibiyah pun ditentukan batas waktunya. Apabila perdamaian diadakan dan sah, maka wajib menahan diri dan memelihara perjanjian damai itu, sehingga habis waktunya atau dari salah satu pihak yang mengadakan perdamaian tersebut melanggarnya, karena rusaknya sebuah perdamaian berdasarkan atas pernyataan mereka atau peperangan atau perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan syarat-syarat perdamaian. Jika hal ini terjadi, maka habislah perdamaian itu bagi masing-masing pihak.

Selanjutnya, apabila muncul tanda-tanda yang dapat merusak perdamaian, maka mereka boleh diserang kapan saja, baik siang atau malam, karena pengerusakan terhadap perdamaian itu memperbolehkan kaum muslimin untuk menyerang mereka, si pengrusak perdamaian. Rasulullah Saw. juga pernah berdamai dengan orang-orang Quraisy, namun mereka melanggar janji, sehingga beliau menghalalkan apa yang tadinya diharamkan kepada mereka. Lalu beliau pun memerangi mereka dan menaklukkan kota Makkah, oleh karena perdamaian itu berupa ikatan sementara yang berakhir dengan berakhirnya waktu atau terjadi sebuah pelanggaran. Allah Swt.

menegaskan dalam firman-Nya (surat at-Taubah/ 9: 7 dan 12-13).

47 Ahmad ZS dan M. Ahnan, Politik Ala Rasulullah, Cara Rasulullah Saw. Berpolitik, hal. 62.

(17)

17 Penutup

Dari pembahasan di atas, dapat diambil kesimpulan, bahwa persoalan pengaturan (politik dengan basis wahyu) dalam tradisi Islam bukanlah hal yang baru dan asing. Ia terkait dengan peran Nabi Muhammad sejak diutus hingga menjadi pemimpin negara dan masyarakat secara riil di Madinah dan dilanjutkan oleh para khalifah sesudahnya. Tentu menjadi masalah ketika hari ini, umat Islam menjadi asing dengan politik atau menjauhkan diri dari politik. Padahal, pada saat yang sama, konsep dan dimensi perilaku para nabi, termasuk Nabi Muhammad Saw. adalah berpolitik di bawah naungan wahyu.

Dalam perspektif politik, posisi Nabi sebagai pemimpin politik dan pemimpin negara berhasil meletakkan sistem pemerintahan yang mengedepankan kemaslahatan umatnya.

Seluruh aspek dan sendi-sendi kehidupan masyarakat berjalan dinamis. Kunci keberhasilan Nabi terletak pada keteladanannya dalam memimpin. Aspek keteladanan inilah yang menjadi penting diwarisi para pemimpin negara. Sosok kenegarawanan Nabi acapkali diabaikan karena semata diposisikan sebagai pemimpin spiritual belaka.

Akibatnya dunia politik berjarak dari spirit agama, justru yang sering dijumpai hanya menjadi alat, bukan mewarnai apalagi menjadi tujuan. Tegasnya, agama hanya diperalat sehingga agamawan dan politisi berkolaborasi dalam kubangan politisasi agama.

Kesucian agama tereduksi pragmatisme politik kekuasaan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Montgomery Watt, Muhammad Prophet and Statesman, Oxford University Press, 1961

2. R. N. Gilchrist, Principle of Political Science, Madras: Orient Longmas, 1957, Cet.

Ke-7

3. Gabriel A. Almond, et al., Comparative Politics Today: A World View, Eigth Edition, Delhi: Dorling Kindersley Publishing, Inc., 2004

4. Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008, Edisi Revisi Cet. Ke-2

5. Salim Ali al-Bahnasawi, Wawasan Sistem Politik Islam, diterjemahkan oleh Mustolah Maufur dari asy-Syarî‟ah al-Muftarâ „Alaihâ, Jakarta: Pustaka Al- Kautsar, 1996, Cet. Ke-1

6. Abd al-Wahhâb Khallâf, as-Siyâsah asy-Syar„iyyah, Kairo: Dâr al-Anshâr, 1977

(18)

18

7. Muhammad Murtadhâ al-Husainî az-Zabîdî, Tâj al-„Arȗs min Jawâhir al-Qâmȗs, Mahmud Muhammad ath-Thanâhî (ed.), Kuwait: Mathba‘ah Hukȗmah Kuwait, 2004, Juz XVI.

8. Rifyal Ka‘bah, Politik dan Hukum Dalam Al-Qur`an, Jakarta: Khairul Bayan, 2005.

9. Ibnu Nujaim al-Hanafi, al-Baẖr ar-Raîq Syarẖ Kanz ad-Daqâiq, Beirut: Dâr al- Ma‘rifah, t.th., Jilid 5

10. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, at-Thuruq al-Hukmiyyah fî as-Siyâsah asy-Syar‟iyyah, Nâyif ibn Ahmad al-Hamad (ed.), Makkah al-Mukarramah: Dâr ‗Âlam al-Fawâid, 1428 H, Cet. Ke-1, Jilid 1.

11. Ibnu ‗Âbidîn, Radd al-Mukhtâr alâ ad-Dur al-Mukhtâr Syarẖ Tanwîr al-Abshâr, Riyadh: Dâr ‗Âlam al-Kutub, 1423 H/2003 M, Juz VI.

12. Abu ‗Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shaẖîẖ al-Bukhârî, Beirut: Dar Ibn Katsîr, 1423 H/ 2002 M, Cet. Ke-1.

13. Ibn Hajar al-‗Asqalani, Fatẖ al-Bârî, M. Fuad Abdul Baqi-Muhibuddin al-Khathib, (ed.), Beirut: Dâr al-Ma‘rifah,1379 H, Juz IV.

14. Abdurrahman bin Abi Bakr As-Suyuthi, ad-Dîbâj „alâ Shaẖîẖ Muslim, Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari (ed.), al-Khabr as-Su‘udiyah: Dar Ibn Affan, 1996 M/1416 H, Juz IV.

15. Imam an-Nawawi, Shahîh Muslim bi Syarh an-Nawâwî, Cairo: al-Mathba‘ah al- Mishriyah bi al-Azhar, 1349 H/ 1930 M, Cet. Ke-1, Juz XII.

16. Muhammad D. Riyan, Political Quotient: Meneladani Perilaku Politik Para Nabi, Bandung: Madani Prima, 2008 M/1429 H, Cet. Ke-1.

17. Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Iẖyâ` „Ulȗm ad-Dîn, Kairo: Dâr ar-Rayyân li at-Turâts, 1405 H/1987 M, Cet. Ke-1, Jilid I.

18. Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubrâ, Hyderabad: Majelis Dâirah al-Ma‘ârif an-Nizhâmiyah, 1344 H, Jilid 10.

19. Zainal Abidin Ahmad, Ilmu Politik Islam II: Konsepsi Politik dan Ideologi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1977, Cet. Ke-1.

20. Muh. Zuhri, Potret Keteladanan Kiprah Politik Muhammad Rasulullah, Yogyakarta: LESFI, 2004, Cet. Ke-1.

21. Firdaus Muhammad, ―Meneladani Kepemimpinan Politik Nabi‖, dalam http://makassar.tribunnews.com/2012/02/03/meneladani-kepemimpinan-politik- nabi, diakses pada hari Jum‘at, 30 Desember 2016

22. Ahmad ZS dan M. Ahnan, Politik Ala Rasulullah, Cara Rasulullah Saw. Berpolitik, t.t.p: Al Basith, t.t.th., Edisi Revisi.

(19)

19

23. Abu ‗Isa Muhammad bin ‗Isa at-Tirmidzi, al-Jâmi‟ al-Kabîr, Basysyar ‗Awwad Ma‘ruf (ed.), Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1996, Cet. Ke-1, Jilid 3

24. Taqiyyuddin an-Nabhâni, asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah,ed. III, Beirut: Dâr al- Ummah, 1994, Juz II.

25. Fauzan Jamal, Intelijen Nabi: Melacak Jaringan Intelijen Militer dan Sipil Pada Masa Rasulullah, Bandung: Pustaka Oasis, 2009.

26. Abdul Aziz Dahlan (et al.), Ensiklopedia Hukum Islam, Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996.

Referensi

Dokumen terkait

Inti Bangun Buana Lestari telah menerapkan pencatatan laporan akuntansi sesuai yang telah ditetapkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, namun

Berdasarkan beberapa penjelasan dan hasil penelitian sebelumnya, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berfokus pada prediksi perkembangan perbankan

Pattongko’ siri’ merupakan suatu tindakan pemulihan harkat dan martabat atau harga diri seseorang atau keluarga dengan jalan melaksanakan perkawinan di mana seseorang menikahi

Sehamsnya agar ti- dak teijadi penyalahgunaan dalam penerapan isi pasal, titik tekan da lam produk hukum perkawinan Indonesia mengacu pada fomena sosial bahwa perkawinan antar

(b) jika terjadi kesalahan hasil pengalian antara volume dengan harga satuan pekerjaan maka dilakukan pembetulan, dengan ketentuan volume pekerjaan sesuai

Deskriptif Sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah Kabupaten Toba Samosir telah sesuai dengan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006, namun belum mengatur secara

Guru meminta siswa untuk menjelaskan Perang Mu’tah, sebab-se - bab Fat p u Makkah, penaklukan Kota Mekah, Perang Hunain, Pe- rang Tabuk, tahun perutusan, dan haji wadak , di

Dengan demikian diketahui bahwa nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0,64 > 0,29), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan