• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Latar Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Bell’s Palsy Sinistra Di Rsud Sragen.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "A. Latar Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Bell’s Palsy Sinistra Di Rsud Sragen."

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar

Setiap satu sama manusia u mengguna berkomun Salah satu ayat 24, ya

Artinya: “ penuh ken Peruba bagian wa Perubahan susunan k terganggu merupakan gangguan Bell’s p tidak mam Belakang orang men lain. Berbi untuk berko akan saran nikasi denga u penjelasan ang dengan “kamu dapa nikmatan”. ahan yang ajah yang la n ekspresi w

kompleks o u bila terdap n penyebab syaraf dan palsy adala mpu menutu P Masalah

nggunakan b icara merup omunikasi a komunik an orang la n mengenai n jelas meny

at mengetah

sangat kec ain akan mem

wajah yang otot-otot pe pat adanya b yang pa

otot wajah ah kelumpuh up mata atau

1 BAB

PENDAHU

berbagai ca pakan cara y

secara verb kasi non-ve ain, yaitu d ekspresi w yatakan:

hui dari wa

cil pada ben mpengaruhi ditunjukka enyusun w gangguan aling sering

adalah bell han pada sa u mulut pad

I

ULUAN

ara yang be yang paling bal. Akan erbal (tanp dengan men ajah terdapa ajah mereka ntuk mulut i perubahan an tersebut a wajah manu

pada syara g ditemui d

’s palsy.

alah satu sis da sisi yang

erbeda untuk g jelas dan u tetapi, man pa kata-kat nggunakan at pada Q.S

a kesenang

, alis, hidu n ekspresi ya

adalah tang usia. Ekspre af maupun o

di masyara

i wajah, yan g lumpuh. D

k berkomun umum dilak nusia juga ta) untuk ekspresi w S. Al Mutha

gan mereka

(2)

2

bell’s palsy merupakan suatu kelainan pada saraf wajah yang menyebabkan

kelemahan atau kelumpuhan tiba-tiba pada otot di satu sisi wajah. Istilah bell’s palsy biasanya digunakan untuk kelumpuhan nervus VII jenis perifer yang timbul

secara akut. Sir Charles Bell seorang ilmuan dari Skotlandia yang pertama kali menemukan penyakit ini pada abad ke-19 (Fanani, 2011).

Angka kejadian bell’s palsy berkisar 2 sampai 7,3% dari semua kasus peripheral facial paralysis yang ada. Insiden bell’s palsy sebesar 20-30 kasus per

100.000 orang di dunia, dan puncaknya yaitu antara tiga dan lima dekade ini (Guzelant, 2014). Menurut Salvo (2013), kejadian bell’s palsy di Amerika Serikat dialami oleh wanita dan pria berusia 20 sampai 60 tahun dan dengan angka kejadian mencapai 2 dari 10.000 orang.

Fisioterapi sebagai bentuk pelayanan kesehatan yang berfungsi untuk mengembangkan, memelihara, dan memulihkan gerak serta fungsi tubuh menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutik, dan mekanis), pelatihan fungsi dan komunikasi (Kemenkes RI, 2013). Pada kasus bell’s palsy, fisioterapi berperan untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lannjut. Teknologi intervensi fisioterapi yang dapat dipergunakan pada kasus bell’s palsy bervariasi, beberapa diantaranya adalah Infra Red (IR), Electrical Stimulation (ES), massage, dan mirror exercise.

(3)

3

menggunakan modalitas berupa infra red, electrical stimulation, massage, dan terapi latihan dengan mirror exercise.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah: 1. Apakah pemberian Infra Red (IR), Electrical Stimulation (ES), massage,

dan mirror exercise dapat meningkatkan kekuatan otot-otot wajah pada kondisi bell’s palsy ?

2. Apakah pemberian Infra Red (IR), Electrical Stimulation (ES), massage, dan mirror exercise dapat meningkatkan kemampuan fungsional otot-otot wajah pada kondisi bell’s palsy ?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah:

1. Untuk mengetahui manfaat Infra Red (IR), Electrical Stimulation (ES), massage, dan mirror exercise dalam meningkatkan kekuatan otot-otot

wajah pada kondisi bell’s palsy

2. Untuk mengetahui manfaat pemberian Infra Red (IR), Electrical Stimulation (ES), massage, dan mirror exercise dalam meningkatkan

(4)

4

D. Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah: 1. Bagi penulis

a. Untuk mengetahui manfaat pemberian Infra Red (IR), Electrical Stimulation (ES), massage, dan mirror exercise dalam meningkatkan

kekuatan otot-otot wajah dan kemampuan fungsional otot-otot wajah pada pasien bell’s palsy.

b. Untuk menambah wawasan dan menggali ilmu yang telah di didapatkan semasa perkuliahan dan sarana menambah pengalaman berinteraksi langsung dengan pasien.

2. Bagi fisioterapis dan institusi

Untuk memberikan informasi tentang kondisi bell’s palsy yang sering terjadi di masyarakat dan sebagai bahan ajaran dalam pemilihan intervensi untuk meningkatkan kekuatan otot-otot wajah dan kemapuan fungsional otot-otot wajah pada pasien bell’s palsy.

3. Bagi masyarakat

Referensi

Dokumen terkait

Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation arus faradic , Massage dan Mirror Exercise yang bertujuan meningkatkan kekuatan otot dan gerak fungsional wajah serta

Tujuan: Untuk mengetahui penatalaksanaan Fisioterapi dalam meningkatkan kekuatan otot dan meningkatkan kemampuan fungsional otot wajah pada kasus Bell’s Palsy Sinistra

Pemanasan dengan menggunakan IR bertujuan untuk memperlancar peredaran darah, sehingga peradangan dapat berkurang, dan mengurangi spasme otot-otot wajah; massage, sentuhan

Kesimpulan : Infra red dan massage dapat mengurangi rasa tebal-tebal pada wajah kiri, Arus Faradik, dan Mirror Exercise dapat meningkatkan fungsional wajah

Berdasarkan permasalah pada kondisi Bell’s Palsy ini, maka penulis dapat merumuskan masalah adalah: 1) Apakah modalitas Infra Red (IR), Elektrical Stimulation (ES),

Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation arus faradic, Massage dan Mirror Exercise yang bertujuan meningkatkan kekuatan otot dan gerak fungsional wajaha. serta

Kesimpulan: Pada kondisi Bell’s Palsy Dextra dengan manifestasi kelemahan otot-otot wajah dan penurunan kemampuan fungsional wajah bagian kanan, setelah diberikan

Berdasarkan permasalahan yang muncul pada kondisi bell’s palsy dextra, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1) Apakah pemberian infra red, electrical