BAB III
METODE PERANCANGAN
3.1 Data Survei Observasi Lapangan dan Literatur
3.1.1 Observasi Lapangan museum Bank Indonesia• Sejarah Bank Indonesia
Jauh sebelum kedatangan bangsa barat, nusantara telah menjadi pusat perdagangan internasional. Sementara di daratan Eropa, merkantilisme telah berkembang menjadi revolusi industri dan menyebabkan pesatnya kegiatan dagang Eropa. Pada saat itulah muncul lembaga perbankan sederhana, seperti Bank van Leening di negeri Belanda.
Sistem perbankan ini kemudian dibawa oleh bangsa barat yang mengekspansi nusantara pada waktu yang sama. VOC di Jawa pada 1746 mendirikan De Bank van Leening yang kemudian menjadi De Bank Courant en Bank van Leening pada 1752. Bank itu adalah bank pertama yang lahir di nusantara, cikal bakal dari dunia perbankan pada masa selanjutnya. Pada 24 Januari 1828, pemerintah Hindia Belanda mendirikan bank sirkulasi dengan nama De Javasche Bank (DJB).
Selama berpuluh-puluh tahun bank tersebut beroperasi dan berkembang berdasarkan suatu oktroi dari penguasa Kerajaan Belanda, hingga akhirnya diundangkan DJB Wet 1922. Masa pendudukan Jepang telah menghentikan kegiatan DJB dan perbankan Hindia Belanda untuk sementara waktu. Kemudian masa revolusi tiba, Hindia Belanda mengalami dualisme kekuasaan, antara Republik Indonesia (RI) dan Nederlandsche Indische Civil Administrative (NICA). Perbankan pun terbagi dua, DJB dan bank-bank Belanda di wilayah NICA sedangkan "Jajasan Poesat Bank Indonesia" dan Bank Negara Indonesia di wilayah RI. Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 mengakhiri konflik Indonesia dan Belanda, ditetapkan kemudian DJB sebagai bank sentral bagi Republik Indonesia Serikat (RIS).
Status ini terus bertahan hingga masa
kembalinya RI dalam negara kesatuan. Berikutnya sebagai bangsa dan negara yang berdaulat, RI menasionalisasi bank sentralnya. Maka sejak 1 Juli 1953 berubahlah DJB menjadi Bank Indonesia, bank sentral bagi Republik Indonesia.
• Lokasi
- Museum Bank Indonesia beralamat di Jl. Pintu Besar Utara No. 3 Jakarta Barat
- Lokasi Museum Bank Indonesia terletak bersebelahan dengan
Museum Bank Mandiri dan berhadapan
dengan stasiun kota Jakarta (Beos) di kawasan Kota Tua Jakarta.
Museum lainnya dan banguna menarik disekitar lokasi museum seperti, Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Batavia Café, Toko Merah, Jembatan Kota Intan, Hotel Batavia, Museum Bahari, Menara Syahbandar, Pelabuhan Sunda Kelapa.
- Untuk mengunjungi Museum Bank Indonesia dapat menggunakan taksi atau kendaraan umum seperti Busway. Bila menggunakan Busway, gunakan Busway Koridor satu yaitu jurusan Blok M – Kota. Anda turun di Stasiun Kota yang merupakan stasiun terakhir dari rute koridor satu. Letak Museum Bank Indonesia persis diseberang stasiun Kota.
(Peta 3.1 : Site plan lokasi museum Bank Indonesia)
• Eksterior Bangunan
(Foto 3.1 : Tampak Bangunan museum Bank Indonesia) Sumber : Dockumen pribadi Rizki (2013 : 41)
Gedung Kantor Pusat Bank Indonesia Kota merupakan Kantor Bank Indonesia yang pertama, bangunan ini juga merupakan bangunan bekas rumah sakit (Binnen Hospital) dan De Javasche Bank yang berdiri pada tanggal 24 Januari 1828. Bangunan Museum bank Indonesia cukup besar ukurannya dengan lahan parkir yang luas.
Arsitektur khas Eropa begitu jelas terlihat dari tampak bangunan tersebut, Bentuknya begitu mengesankan meski usianya sudah ratusan tahun. Warna putih yang menyelimuti seluruh dindingnya, kian menghadirkan tampilan yang elegan.
• Denah Layout dan Fasilitas Museum Bank Indonesia
( Gambar 3.1 Lantai 1 museum Bank Indonesia ) Sumber : Document Bank Indonesia
1. Pintu masuk belakang
Dari pintu barat ini pengunjung tertentu dapat melewati ruang serbaguna untuk menuju ke Ruang masuk di sebelah depan untuk selanjutnya ke reception/lobby hall. Bagi dissable people tersedia lift yang akan membawa ke lantai 2 guna langsung ke reception hall.
( Gambar 3.2 pintu masuk belakang museum Bank Indonesia ) Sumber : Document Bank Indonesia
2. Ruang Serba Guna
Ruangan ini dapat digunakan untuk ruang makan dalam mendukung kegiatan edukasi yang diselenggarakan di ruang auditorium. Atau kegiatan seni dan budaya.
Ruangan tersebut juga dapat dipakai untuk berbagai keperluan dan disewakan kepada umum untuk resepsi perkawinan, dan lain-lain yang menambah penghasilan bagi museum.
( Gambar 3.3 Ruang serba guna museum Bank Indonesia ) Sumber : Document Bank Indonesia
3. Ruang Emas/ Koleksi Bank
Ruang emas/koleksi bank terletak dilantai 1, tepat dibawah ruang emas moneter. Ruang ini juga bersifat temporer, tetapi sifatnya mempunyai tingkat keamanan yang lebih baik, sehingga cocok unutk memamerkan benda-benda berharga, seperti buku kuno, perhiasan. Ruangan ini juga digunakan untuk pameran temporary.
( Gambar 3.4 Ruang emas museum Bank Indonesia ) Sumber : Document Bank Indonesia
4. Ruang Jeda 3
Pada area ini ditata sejarah OPRI yang dibuat dalam bentuk komik dan display mengenai percetakan ORI
( Gambar 3.5 Ruang Jeda 3 museum Bank Indonesia ) Sumber : Document Bank Indonesia
5. Ruang Penerbitan dan Pengedaran Uang
Di sini akan dipamerkan proses penerbitan uang sejak ide awalnya hingga dicetak dan juga bagaimana proses pengedarannya ke masyarakat termasuk peracikannya dan penarikan kembali dari peredarannya.
( Gambar 3.6 Ruang penerbitan museum Bank Indonesia ) Sumber : Document Bank Indonesia
6. Ruang Perpustakaan
Perpustakaan merupakan salah satu fasilitas unggulan Museum Bank Indonesia. Terdapat dua macam perpustakaan di
Museum Bank Indonesia yaitu:
1. Perpustakaan untuk para peneliti museum 2. Perpustakaan untuk umum
Perpustakaan ini akan menyajikan koleksi lengkap, mulai dari buku-buku referensi, majalah, hingga dokumen-dokumen yang tersimpan dalam perangkat multi media, yang kesemuanya dapat dimanfaatkan oleh pengunjung untuk menambah wawasan, keperluan penelitian, maupun analisis.
( Gambar 3.7 Ruang Perpustakaan museum Bank Indonesia ) Sumber : Document Bank Indonesia
( Gambar 3.8 Lantai 2 museum Bank Indonesia ) Sumber : Document Bank Indonesia
1. Pintu masuk utama
Memasuki pintu masuk utama, pengunjung akan menikmati gedung cagar budaya tahun 1935. Meja di design moder, kontras dengan suasana gedung kuno. Pengunjung diarahkan langsung naik tangga ke lantai 2.
( Foto 3.2 Pintu masuk utama museum Bank Indonesia ) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013 : 33)
2. Ruang penitipan barang
Memasuki lobby/hall di lantai 2, pengunjung akan melihat
“bench”di sepanjang lobby. Ada counter penitipan barang di sebelah kanan tangga. Ruang ini disediakan bagi pengunjung yang hendak menitipkan barang- barangnya selama berkunjung ke Museum Bank Indonesia.
( Foto 3.3 Ruang Penitipan barang museum Bank Indonesia ) Sumber : Document pribadi Rizki (2013 : 33)
3. Ruang Manager
Untuk pengunjung yang memerlukan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi duty manager yang ruangannya terletak di sebelah kiri tangga. Ruangan di design modern dan minimalis.
( Gambar 3.9 Ruang Manager museum Bank Indonesia ) Sumber : Document Bank Indonesia
4. Ruang Lobby Hall
Memasuki lobby/hall di lantai 2. Pengunjung akan menikmati kaca patri yang menunjukkan kondisi tahun 1935
Di sebelah kiri counter informasi pengunjung akan melihat loket-loket teller yang pada backgroundnya ada display photowall suasana tahun 1935
( Foto 3.4 Ruang Lobby hall museum Bank Indonesia ) Sumber : Document pribadi Rizki (2013 : 47)
5. Ruang Pelayanan Pengunjung (receptionis) & ruagn locket Memasuki visitor centre, pengunjung akan melihat counter informasi di tengah ruangan. Ruangan dihiasi banner, dan pada ujung ruangan terdapat signage informasi tentang denah museum. Counter ini juga berfungsi sebagai ticketing.
(Foto 3.5 Ruang Receptionis museum Bank Indonesia ) Sumber : Document pribadi Rizki (2013 : 48)
6. Ruang Peralihan
Dalam ruangan ini akan disajikan “tayangan hologram/3D”
yang menggambarkan uang-uang yang berjatuhan, untuk mengalihkan perhatian dari masa kini untuk dapat masuk ke masa lalu.
(Foto 3.6 : Ruang Peralihan museum Bank Indonesia ) Sumber : Document pribadi Rizki (2013 : 48)
7. Ruang Teater
Memasuki teater Introduksi, pengunjung sudah terbiasa dengan suasana gelap. Teater dapat menampung 30 pengunjung.
(Foto 3.7: Ruang teater museum Bank Indonesia ) Sumber : Document pribadi Rizki (2013 : 49)
8. Ruang Informasi BI
Ruang ini menyajikan sarana komputer lengkap yang menyajikan informasi dari masa lalu hingga masa kini dengan time series yang cukup panjang mengenai sejarah dan peran Bank Indonesia. Informasi tersebut dapat diakses menggunakan perangkat multi media, sehingga bermanfaat untuk keperluan penelitian, pembuatan analisis, dan sebagainya. Di samping informasi yang berasal dari Bank Indonesia, juga dapat diakses informasi dari beberapa sumber lain, dalam dan luar negeri. Disediakan pula fasilitas untuk mencetak (printing) data/informasi dari komputer.
Kelengkapan informasi dalam ruangan ini masih ditambah dengan hadirnya BI Virtual Museum, yang akan memberikan informasi tentang Museum Bank Indonesia melalui jaringan internet.
(Foto 3.8 : Ruang Informasi museum Bank Indonesia ) Sumber : Document pribadi Rizki (2013 : 50)
9. Ruang Sejarah Pra BI
Keluar dari ruang teater introduksi, pengunjung akan melihat peta kuno pada dinding yang membentang di depan pintu keluar ruang teater, yang kemudian disambung dengan replika kapal kuno lengkap dengan kegiatan bongkar muat di pelabuhan. Di depan replika kuno terdapat panel dan aneka replika objek yang menjelaskan mengapa nusantara menjadi pelabuhan dan apa saja barang yang diperdagangkan.
Ruang sejarah pra BI di bagi 2 area :
a. Area Nusantara sebelum awal abad ke-19 b. Area Masa De Javasche Bank
(Foto 3.9 Area Nusantara sebelum awal abad ke-19) Sumber : Document pribadi Rizki (2013 : 50)
(Foto 3.10 : Area Masa De Javasche Bank) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:51)
10. Ruang Sejarah BI Periode 1
Pada periode 1 kiprah Bank Indonesia membiayai inflasi yang besar dan keuangan negara selalu defisit akibat pemberontakan di Indonesia pada masa itu.
(Foto 3.11 : Ruang Sejarah BI periode 1) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:51)
11. Ruang Sejarah BI Periode 2
Kiprah Bank Indonesia pada masa demokrasi terpimpin untuk membiayai mercusuar
(Foto 3.12: Ruang Sejarah BI periode 2) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:52)
12. Ruang Sejarah BI Periode 3
Periode 3 digambarkan dengan Kiprah Bank Indonesia untuk membiayai sektor ekonomi terutama usaha kecil untuk pembangunan perekonomian Indonesia.
(Foto 3.13 : Ruang Sejarah BI periode 3) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:52)
13. Ruang Sejarah BI Periode 4
Periode 4, Kiprah Bank Indonesia mengembangkan perbaikan agar optimal dalam rangka pengerahan dana kepada masyarakat.
(Foto 3.14 : Ruang Sejarah BI periode 4) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:53)
14. Ruang Sejarah BI Periode 5
Periode 5 Kiprah Bank Indonesia menaggulangi perekonomian dan perbankan Indonesia agar dapat secepatnya keluar dari krisis yang melanda Indonesia.
(Foto 3.15 : Ruang Sejarah BI periode 5) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:53)
15. Ruang Sejarah BI Periode 6
Periode 6, Kiprah Bank Indonesia untuk memberdayakan perekonomian maksimal setelah Bank Indonesia memperoleh status independensi.
(Foto 3.16 : Ruang Sejarah BI periode 6) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:54)
16. Ruang Jeda 2 & Children Corner
Setelah mengamati ruang sejarah, pengunjung masuk ke ruang Jeda 2. Di ruang jeda 2 ini terdapat permainan anak-anak berupa ATM yang berfungsi untuk mengambil uang yang sudah ditabung di ruang jeda 1. Pada area ini terdapat bench beristirahat.
(Foto 3.17 : Ruang Jeda 2 & Children Corner) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:54)
17. Ruang Direktur
Keluar dari Ruang Jeda 2, pengunjung diajak melihat bekas ruang kerja Direktur. Ruang bersejarah ini ditata sesuai dengan penataan tahun 1935.
18. Ruang Gubernur
Keluar dari Ruang Jeda 2, pengunjung diajak melihat bekas ruang kerja Gubernur masa lalu. Ruang bersejarah ini ditata sesuai dengan penataan tahun 1935.
(Gambar 3.10 : Ruang Gubernur)
Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:55)
19. Ruang Meeting
masa lalu. Ruang bersejarah ini ditata sesuai dengan penataan tahun 1935.
(Gambar 3.11 : Ruang Meeting)
Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:55)
20. Ruang Gelar Budaya 2
Ruang Temporary Exhibition merupakan ruangan pameran tidak tetap. Ruangan ini dapat digunakan oleh Museum Bank Indonesia atau bekerja sama dengan museum/pihak lainnya dalam rangka men-display pameran dan tema-tema tertentu.
(Foto 3.18 : Ruang Gelar budaya 2) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:56)
21. Ruang Inspirasi
Pada ruangan ini pengunjung akan ditunjukkan testimony Gubernur Bank Indonesia pada masing-masing periode yang mengemukakan kebijakan terpopulernya (maskotnya).
22. Ruang Jeda 4 & Children Corner
Terdapat poster berbagai jenis mata uang di sepanjang koridoe menuju ruang numismatik dan terdapat replika uang 3 dimensi yang bisa difungsikan sebagai bangku (bench).
(Foto 3.19 : Ruang Jeda 4 & Children Corner) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:57)
23. Ruang Numismatic
Memasuki ruang numusmatik, pengunjung akan menikmati pameran mata uang yang disusun secara tematik dan kronologis sehingga mengerti sejarah uang. Di dalamnya pengunjung akan diperlihatkan koleksi uang yang didisplay modern dengan panel vertikal dan kaca pembesar.
(Foto 3.20 : Ruang Numismatic)
Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:57)
24. Ruang BI Future
Ruangan ini menggambarkan destination statement Bank Indonesia 2025.
(Gambar 3.12 : Ruang BI Future) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:58)
25. Ruang Kerja 26. Ruang Emas
Ruang emas moneter merupakan ruang dimana pengunjung dapat melihat bagaimana bentuk emas moneter, dapat merasakan beratnya, dan dapat mengetahui apa fungsi emas moneter.
(Foto 3.21: Ruang Penyimpanan Emas) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:58)
27. Ruang Souvenir dan kios buku
Pengunjung dapat memperoleh berbagai hasil publikasi dan cenderamata yang berkaitan dengan museum, khususnya Museum Bank Indonesia. Snacks juga disediakan di sini.
Terletak di sebelah kiri lobby hall
(Foto 3.22 : Ruang Souvenir dan Kios Buku) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:59)
28. Ruang Auditorium
Auditorium terletak di lantai 2 Museum Bank Indonesia berdekatan dengan pusat informasi BI (BI Information Center). Ruangan ini digunakan sebagai tempat penyelenggaraan ceramah/seminar/diskusi, baik yang disponsori oleh Bank Indonesia maupun pihak luar. Ruang ini dapat juga disewakan kepada pihak luar.
(Foto 3.23 : Ruang Audotorium)
Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:59)
• Benda koleksi
Koleksi Museum Bank Indonesia terdiri dari koleksi - uang – uang logam dan kertas.
- koleksi film Sejarah-sejarah Bank Indonesia, seperti pengerahan dana masyarakat 1953 – 1959,
nasionalisasi bank-bank Belanda, pengedaran uang 1953 – 1959, penyelenggaraan kliring hingga 1959, dewan moneter menurut UU No. 11/1953, sistem kebijakan devisa 1953 – 1959.
- koleksi benda perbankan seperti mesin hitung Ontel REMINGTON 77, mesin tik ROYAL, khazanah harian LIPS, lemari brankas LIPS, ruang brankas (pintu besi) arsek, mesin PTTB tanda bintang RUHAAK, ukiran kayu dengan pepatah Belanda, alat pelubang kupon/deviden, timbangan emas, dan loleksi lainnya.
3.1.2 Observasi Lapangan Museum Polri
• Sejarah
Museum Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan museum semi modern yang dimiliki kepolisian Negara Republik Indonesia saat ini. Dengan desain bangunan tahun 70-an ditambahi jendela-jendela modern menambahkan kesan klasik modern dengan desain interior mendasari konsep galeri. Museum Kepolisian Negara Republik Indonesia menawarkan penelusuran sejarah kepolisian Negara Republik Indonesia melalui sentuhan galeri sehingga tanpa terasa membawa para pengunjung pada alam kepolisian masa lalu hingga masa kini. Menyajikan Warisan-warisan kekayaan Kepolisian Negara Republik Indonesia
• Lokasi
Museum polri berada di Jl. Trunojoyo No. 3, Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12110
(Peta 3.2 : Site plan lokasi museum Polri) Sumber : Document Museum Polri
• Eksterior Bangunan
(Gambar 3.13 : Tampak Bangunan Museum Polri) Sumber : Document Museum Polri
Musem polri jakarta memiliki tampak bangunan berbentuk simple dan minimalis, terletak di depan jalan utama.
• Denah Layout dan Fasilitas Museum Polri
(Gambar 3.14 Lantai 1 musium Polri) Sumber : Document Museum Polri
1. Pintu masuk (Entrance)
2. Lobi dan Informasi (lobby and informastion)
Ruang depan dari museum Polri, diruangan ini terdapat pusat informasi umum, slogan Kepolisian, dan Kendaraan Polisi Indonesia.
(Foto 3.24 : Lobby, Informasi dan penitipan barang Museum Polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:62)
(Foto 3.25: Slogan Kepolisian yang berada di area lobby) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013: 63)
(Foto 3.26: Kendaraan polisi Indonesia yang berada di area lobby) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:63)
3. Ruang sejarah
Di area lantai 1 terdapat ruang sejarah Kepolisian Indonesia dan perkembangannya. Ruangan ini mencakup :
- Awal mula pengamanan yang dilakukan di masa kerajaan - Awal mula pengamanan dan keamanan masyarakat dalam
tatanan kenegaraan.
- Sejarah kepolisian dari masa kolonial dan masa-masa selanjutnya.
(Foto 3.27: Ruang Sejarah Pameran tetap museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:64)
(Foto 3.28: Ruang Sejarah Pameran tetap museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:64)
4. Ruang koleksi dan peristiwa
Dalam ruangan ini terdapat berbagai macam koleksi dan peralatan yang khas digunakan oleh kepolisian Indonesia dalam menjalani tugasnya.
(Foto 3.29 : Ruang Koleksi dan peristiwa Pameran tetap museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:65)
(Foto 3.30 : Ruang Koleksi dan peristiwa Pameran tetap museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:65)
5. Hall of fame
Dalam ruangan ini akan disajikan gambaran foto para pemimpin Kepolisian Negara Republik Indonesia yang telah banyak memberi warna untuk Kepolisian Negara Republik Indonesia.
(Foto 3.31 : Hall of frame Pameran tetap museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:66)
( Gambar 3.15 Lantai 2 musium Polri) Sumber : Document Museum Polri
6. Ruang Kepahlawanan
Pada ruang ini akan diperlihatkan suka duka seorang polisi yang bertugas pada area-area yang tidak banyak orang mengharapkannya.
(Foto 3.32 : Ruang Kepahlawanan Pameran tetap museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:67)
7. Ruang simbol dan Kesatuan Kepolisian
Dalam ruang ini akan disajikan bermacam pangkat dan lambang kesatuan serta pakaian seragam termasuk atributnya dari masa ke masa.
(Foto 3.33 : Ruang Simbol dan kesatuan Pameran tetap museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:67)
(Foto 3.34 : Ruang Kesatuan keolisian Pameran tetap museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:67)
8. Ruang penegakan hukum
Ruang ini menyajikan gambaran bagaimana kepolisian Negara Republik Indonesia menanggapi setiap kejahatan yang sangat mengganggu dan merugikan masyarakat
(Foto 3.35 : Ruang Penegak Hukum Pameran tetap museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:68)
9. Ruang labfor dan identifikasi
(Foto 3.36: Ruang Labfor dan identifikasi Pameran tetap museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:68)
10. Kid’s corner
Ruang ini diperuntukkan kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dan negara. Pengenalan sejak dini pada anak-anak tentang tugas dan fungsi Kepolisian Negara Republik Indonesia dilakukan dengan cara yang menyenangkan.
(Foto 3.37 : Ruang Kids Corner museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:69)
11. Tempat Souvenir
(Foto 3.38 : Ruang Souvenir shop museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:69)
( Gambar 3.16 Lantai 3 museum Polri) Sumber : Document Museum Polri
12. Ruang Audio Visual
Ruangan ini berkapasitas 30 orang, dalam ruang audio visual pengunjung dapat menonton tentang sejarah awal Kepolisian, tugas-tugas yang dilakukkan sehingga memberi gambaran langsung dari pristiwa-pristiwa yang telat di alami oleh Kepolisian Indonesia.
(Foto 3.39 : Ruang Audotorium museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:70)
13. Ruang pameran Temporer
(Foto 3.40 : Ruang Pameran temporer museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (rizki : 71)
14. Ruang staff
(Foto 3.41: Ruang Staff museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:71)
15. Perpustakaan
(Foto 3.42 : Ruang Perpustakaan museum polri) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:71)
• Benda Koleksi
- Koleksi perlengkapan polisi - Motor patroli Polisi
- Koper Identifikasi Sidik Jari (2 buah) - Lie Detector
- Kamera Single Yashica 635
- Kamera Polaroid 195 Land Camera - Kamera Tersamar Chinon.
- Koleksi senjata - Baju segaram - Pet polisi - Piagam
3.1.3 Observasi Lapangan Museum Manggala Wanabakti
• Sejarah
Gedung Manggala Wanabakti yang semula dikenal sebagai Gedung Pusat Kehutanan lahir dari gagasan dan cita-cita mulia Korps Rimbawan Senior yang pada umumnya adalah Rimbawan angkatan '45, yang dipelopori oleh Almarhum Bapak DR. Soejarwo pada sekitar tahun tujuh-puluhan. Gagasan dan cita-cita tersebut muncul dari kesadaran para Rimbawan Indonesia bahwa kepemimpinan nasional dalam bidang Hutan dan Kehutanan yang kuat dan berwibawa, perlu ditunjang dengan sarana kerja yang memadai. Kantor instansi kehutanan yang terpencar-pencar dipandang sulit untuk melakukan koordinasi secara optimal, karena itu Korps Rimbawan mendambakan adanya gedung Forestry Center yang berfungsi sebagai Pusat Pembinaan Kegiatan Hutan dan Kehutanan dan pusat komunikasi, baik antara instansi pusat dan swasta maupun pusat dengan seluruh kegiatan di daerah-daerah. Gagasan tersebut mendapatkan tanggapan yang luas sehingga rumusan gagasan dan rencana global pembangunan Forestry center di sambut baik oleh pemerintah, dengan diterbitkannya Keppres No. 43 Tahun 1974 sebagai dasar hukum yang berisi penugasan kepada Direktur Jendral Kehutanan Departemen
Pertanian untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan Gedung Pusat Kehutanan/Taman Hutan.
Nama yang digunakan untuk gedung Pusat Kehutanan (Forestry Center) yaitu Manggala Wanabakti yang artinya Gedung tempat berkiprahnya para Manggala/Pimpinan/Rimbawan Cendikiawan dalam memberikan komando, bimbingan dan pengawasan pengelolaan/pemanfaatan hutan seisinya dengan sebaik mungkin tanpa meninggalkan Azaz Kelestarian Hutan itu sendiri yang merupakan dharma bakti Rimbawan kepada sesama manusia dengan rela berkorban, iklas tanpa pamrih. Wujud dari Gedung Manggala Wanabakti ini terdiri dari gugusan-gugusan (block) untuk perkantoran pemerintah (Departemen Kehutanan) perkantoran swasta, bangunan fasilitas umum yang terdiri dari ruang Auditorium dan sekitarnya untuk penyelenggaraan berbagai acara, bangunan mechanical/electrical, sarana olahraga beserta kelengkapannya dan bangunan khusus yaitu Museum dan Perpustakaan Kehutanan.
Gugusan bangunan tersebut dikelilingi oleh Taman Hutan yang luasnya sepadan dan memiliki areal parkir kendaraan yang mencukupi.
• Lokasi
- Museum Manggala Wanabakti beralamat di Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta 10270
(Peta 3.3 : Site Plan Lokasi Museum Manggalawa Wanabakti) Sumber : Documen Museum Manggala Wanabakti
- Museum Manggala Wanabakti terletak di dalam kompleks Kementerian Kehutanan yang terletak di samping kompleks Gedung MPR/DPR/DPD. Museum ini hanya berjarak kurang lebih 15–20 menit jalan kaki dari Halte TransJakarta Slipi Petamburan.
Alamat resmi museum ini adalah: Jl. Jend. Gatot Subroto, Kel.
Gelora, Kec. Tanah Abang, Kota Administrasi Jakarta Pusat.
Meskipun begitu, pintu masuk ke kompleks ini bukanlah di jalan utama Gatot Subroto, melainkan di persimpangan jalan ke arah Jl.
Gelora VII.
- Untuk mengunjungi museum Manggala Wanabakti dapat menggunakan taksi atau kendaraan umum seperti Bus, kopaja. Bila menggunakan Bus Umum bisa gunakan bus yang kearah Slipi bawah dan bisa turun di sebelum jembatan arah slipi bawah atau setelah gedung MPR/DPR.
• Eksterior Bangunan
(Foto 3.43 Tampak Bangunan Museum Manggala Wanabakti) Sumber : Documen Museum Manggala Wanabakti
Gedung Manggala Wanabakti yang semula dikenal sebagai Gedung Pusat Kehutanan lahir dari gagasan dan cita-cita mulia Korps Rimbawan Senior yang pada umumnya adalah Rimbawan angkatan '45, yang dipelopori oleh Almarhum Bapak DR. Soejarwo pada sekitar tahun tujuh-puluhan. Bangunan khusus Museum Manggala Wanabakti besar ukurannya dengan lahan parkir luas bergabung dengan kantor kementrian perhutanan. Arsitekturnya tampil dalam gaya monumental
yang mencerminkan keselarasan Lembaga Kehutanan yang dapat mengiringi gedung Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara.
• Denah Layout Museum Manggalawa Wanabakti
Museum ini terdiri dari 2 lantai yang berfungsi sebagai ruang artifak di lantai 1 dan di lantai 2 terdapat ruang perpustakaan, ruang koleksi foto dan informasi.
(Gambar 3.17 : Denah Lantai 1 museum Manggala Wanabakhti) Sumber : Document Museum Manggala Wanabhakti
Lantai 1 terdiri dari ruangan:
- Entrance dan Receptionis
(Foto 3.44 : Receptionis dan pintu masuk museum Manggala Wanabakhti) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:75)
Entrance
- Ruang Pamer Utama
Ruang pamer utama sebagai tempat koleksi-koleksi tentang kehutanan.
(Foto 3.45 : Replika Pohon jati dan ptongan-potongan kayu jati dalam Pameran Tetap museum Manggala Wanabakhti)
Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:76)
(Foto 3.46 : area display contoh-contoh kayu dan perawatannya dalam Pameran Tetap museum Manggala Wanabakhti)
Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:76)
(Foto 3.47 : area display alat-alat dan Kayu-kayu yang sudah di jadikan mamble dalam Pameran Tetap museum Manggala Wanabakhti)
Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:77)
- Ruang Khusus Rimbawan Pejuang
Ruangan kecil yang dijadikan museum mini, yakni Museum Rimbawan Pejuang. Karena hanya menempati ruangan kecil, tidak banyak yang dipamerkan. Hanya terdapat foto-foto para veteran pejuang serta kopian piagam penghargaan dan buku-buku mengenai pejuang itu.
(Foto 3.48 : area Ruang Khusus Rimbawan pejuang museum Manggala Wanabakhti) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:77)
- Ruang Gudang
Dimuseum Manggala Wanabakti terdapat 2 ruang gudang, yaitu:
Gudang 1 : Gudang ini di gunakan untuk menyimpan koleksi- koleksi museum sekaligus gudang untuk konservasi.
Gudang 2 : Gudang ini dugunakan untuk menyimpan benda-benda semasa pameran di luar (Contoh: Banner, kayu, panel)
- Ruang Gamelan
Ruangan ini digunakan para pensiunan kehutanan untuk menyalurkan hobi gamelan, dan ruangan ini juga di gunakan karena terdapat value untuk daya tarik wisatawan asing. Gamelan tersebut terbuat dari kayu jati maka masih ada hubungannya dengan museum kehutanan tersebut.
(Foto 3.49 : Ruang gamelan yang berada di sisi area Pameran Tetap museum Manggala Wanabakhti)
Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:78)
- Diorama Hutan
(Foto 3.50 : Diorama perhutanan dalam Pameran Tetap museum Manggala Wanabakhti) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:79)
Hutan yang di tempatkan di Museum Manggala Wanabakti untuk di representasi, yaitu:
1. Hutan Tropis
Hutan tropis ini terdapat lukisan yang menggambarkan keadaan hutan tropis itu sendiri. Di hutan tropis ini teerdapat jenis binatangnya yaitu haarimau sumatra yang menggambarkan representasi dari hutan alam sumatera. Jenis tanaman di hutan ini juga disesuaikan dengan hutan tropis sesuai kondisi aslinya.
2. Hutan Produksi
Yang biasa di produksi dari hutan ini adalah tanaman-tanaman yang komersil seperti jati yang banyak di tanam di pulau jawa, karena tanah di pulau tersebut cocok dengan tanaman jati.
Diorama pada museum tersebut disesuaikan seperti kondisi hutan produksi, namun di hutan ini masih banyak beberapa binatang liar yang berada di daerah jawa dan di tempatkan karena masih ada hubungannya, antara lain macan tutul, Oa, dan lutung. Jadi selain mengekspor kayu hutan tersebut juga mengekspor hasil hutan non kayu yaitu getah kayu. Misal
pohon pinus yang di produksi diambil getahnya untuk pembuatan weks kelilin atau sebagai campuran pembuatan oli mesin, campuran pembuatan parfume yang di ambil dari getah pinus.
3. Hutan Mangruf
Hutan Mangruf yaitu representasinya seperti kawasan muara angke untuk mencegah abrasi pantai agar tidak melebar dan daratannya terambil. Maka dari itu Hutan Mangruf ini di letakkan binatang yang terkait dengan pantai, seperti badak.
Lantai ke-2 terdapat koleksi foto-foto beserta penjelasan mengenai berbagai jenis dan tipe hutan yang ada di bumi Indonesia. Terdapat pula ruangan yang difungsikan sebagai pusat informasi dan perpustakaan.
Ruangan di lantai dua terdiri atas:
- Ruang Koleksi Foto
Ruang ini di gunakan sebagai tempat penyimpanan koleksi foto- foto kondisi hutan.
(Foto 3.51 : Koleksi Foto dalam Pameran Tetap museum Manggala Wanabakhti) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:80)
- Ruang Perpustakaan
Ruang yang berfungsi sebagai penyimpanan buku-buku mengenai kehutanan, pepohonan kayu-kayuan yang berhubungan dengan kehutanan.
(Foto 3.52 : Ruang Perpustakaan museum Manggala Wanabakhti) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:81)
- Ruang Informasi dan Souvenir
Ruang ini digunakan sebagai tempat informasi untuk para pengunjung museum Manggala Wanabakti dan tempat penitipan barang bagi pengunjung yang ingin masuk keperpustakaan, selain itu juga ruang informasi ini menyediakan tempat untuk fotocopy apabila pengunjung ingin mengopy buku. Dalam ruangan ini terdapat pula display Souvenir bagi pengunjung yang ingin memiliki cindramata.
(Foto 3.53 : Ruang Informasi museum Manggala Wanabakhti) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:81)
(Foto 3.54 : Ruang Informasi dan Souvenir museum Manggala Wanabakhti) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:82)
3.1.4 Survei Pabrik kopi aroma Bandung
Kopi Aroma yang merupakan salah satu produsen kopi ternama, tidak hanya di Kota Bandung, tapi juga di Indonesia. Kesan oldies memang ditonjolkan oleh pabrik kopi yang sudah berdiri sejak tahun 1930 ini, dari bangunan pabriknya yang masih bangunan zaman belanda, kemasan, suasana toko bahkan proses penggilingan kopi yang katanya juga masih menggunakan cara lama. Membuat kopi aroma tetap dicintai oleh banyak peminat kopi.
• Eksterior Bangunan
(Foto 3.55 : Tampak Bangunan Pabrik Kopi Aroma) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:82)
Lokasi : Jln. Banceuy No.51 (pertigaan Jln. Pecinan Lama)
• Proses pengolahan biji kopi di Pabrik Kopi Aroma dapat dibagi menjadi 8 tahap, yaitu:
1. penampungan biji kopi, pabrik membeli dan menampung biji kopi dari petani-petani kopi yang tersebar di seluruh Indonesia. Biji kopi yang ditampung umumnya baru berumur beberapa hari petik yang masih mencirikan warna hijau kekuning-kuningan. Di halaman belakang pabrik, biji kopi hijau yang baru datang dari daerahnya dijemur dengan cara tradisional di bawah sinar matahari selama 3-4 hari, sampai kadar air kopi mencapai 9-10%.
(Foto 3.56 : Proses penjemuran Biji Kopi) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:83)
2. Biji kopi yang terpilih akan disimpan dalam karung goni di gudang penyimpanan. untuk kopi Arabika disimpan selama 8 tahun dan kopi Robusta disimpan selama 5 tahun, Tujuan mengapa kopinya harus disimpan selama itu adalah agar asam yang ada di kopi bisa hilang, jadi meskipun kopinya diminum sebelum makan, tidak akan menyebabkan sakit perut. Proses penyimpanan selama itu juga membuat kadar kafein
yang terdapat pada kopi semakin rendah dan cita rasa kopi semakin mantab.
(Foto 3.57 : Biji Kopi Arabika & Robusta) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:84)
3. Gudang
(Foto 3.58 : Gudang penyimpanan Pabrik Kopi Aroma) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:84)
Gudang biji kopi dengan ketinggian lantai gudang ±15 cm dari lantai utama. Dalam gudang yang masih menggunakan konstruksi rangka dan atap yang tinggi khas Belanda ini disimpan bermacam- macam jenis kopi yang berasal dari banyak tempat di Indonesia, umumnya yang paling banyak adalah kopi berjenis Robusta dan Arabika. Untuk biji kopi berjenis Robusta dapat dikatakan layak jual dengan kualitas terbaik ketika sudah berusia 5 tahun penyimpanan, bahkan untuk Arabika yang biasa tumbuh di ketinggian 1300mdpl membutuhkan waktu lebih lama lagi, 8 tahun penyimpanan. Pabrik Kopi Aroma hampir selalu menggunakan karung goni untuk menyimpan kopi, karena factor bahan goni yang memiliki ventilasi baik, sehingga biji kopi tidak
terlalu lembab/kering. Dengan sistem First In First Out (FIFO), biji kopi yang disimpan terlebih dahulu akan dikeluarkan lebih awal. Penyimpanan kopi yang memakan waktu bertahun-tahun ini bermaksud untuk mengurangi kadar asam dari kopi ketika dikonsumsi, sehingga konsumen terhindar dari kembung serta sakit maag (lambung).
Kualifikasi kopi yang baik tidak hanya ditentukan dari pemilihan biji kopi yang unggulan, namun yang terpenting adalah bagaimana cara pabrik memproses kopi tersebut. Teknologi pengolahan biji kopi di pabrik ini masih tradisional, pure non-chemical serta tidak banyak berubah sejak pertama kali beroperasi di tahun 1930.
4. Setelah 5-8 tahun di gudang, kopi langsung di panggang (proses roasting) dengan menggunakan mesin roaster yang sudah dipakai sejak tahun 1936. Lama memanggang Kopi Aroma adalah sekitar 2 jam. Alat panggang ini masih menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya. Kayu yang digunakan adalah kayu karet. Kayu karet ini digunakan karena asapnya memberikan efek berupa aroma khusus terhadap kopi yang dipanggang. Kopi yang di panggang harus yang berusia sama dan dari kebun yang sama juga.
(Foto 3.59 : Alat panggang Pabrik Kopi Aroma) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:85)
5. Proses pendinginan untuk beberapa saat
6. Biji kopi yang sudah dingin harus melewati proses inspeksi (QC) untuk memilah biji kopi yang baik dan yang rusak, proses ini memilah biji kopi berdasarkan spesifikasi bobot yang telah ditentukan.
(Foto 3.60 : Alat pemilah biji kopi di Pabrik Kopi Aroma) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:86)
7. Pembuangan kulit ari, satu-satunya proses pengolahan yang mengalami moderninasasi dari yang dulu nya menggunakan tangan (manual) dan sekarang diambil alih oleh mesin.
(Foto 3.61 : Alat Pembuangan kulit ari pada biji kopi di Pabrik Kopi Aroma) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:86)
8. Penggilingan biji kopi, atau disebut juga proses grinding ini menggunakan mesin. Untuk mmpertahankan kualitas terutama aroma kopi, biji kopi tidak dibiarkan terlalu lama, jarak waktu antara roasting dengan grinding tidak boleh terlampau jauh.
(Foto 3.62 : Alat Penggiling Biji kopi di Pabrik Kopi Aroma) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:87)
9. proses pengemasan/packaging. Konsistensi pabrik ini tercermin dari kemasan yang tidak pernah berubah dari segi design serta jenis bahan packaging yang selalu menggunakan kemasan berbahan kertas. Kertas dianggap media paling cocok karena tidak ada chemical yang mempengaruhi kualitas kopi.
(Foto 3.63 : Proses Pengemasan di Pabrik Kopi Aroma) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:87)
3.1.5 Desain dan Kesimpulan
Dari hasil survei lapangan yang dilakukkan secara langsung dari 3 museum yaitu, museum Bank Indonesia, Museum Polri dan Museum House of Sampoerna. Dari ketiga analisa tersebut penulis memilih hasil survei pada Museum Bank Indonesia, dikarenakan Desain dan sirkulasi yang baik dan jalur untuk koleksi sejarah sangat terarah sehingga membuat pengunjung tidak merasakan kebingungan ketika sedang melihat koleksi dan sejarah yang ada.
Interior museum Bank Indonesia juga memiliki kapasitas yang baik dan mendukung dari segi fasilitas, pencahayaan, audio visual, ruang-ruang yang disediakan cukup mendukung sarana bagi permuseuman. Namun kelemahan dalam museum Bank Indonesia ini belum menyediakan sarana penunjang seperti Caffe sehingga pengunjung harus keluar area terlebih dahulu jika ingin mencari makan/minum.
3.2 Tinjauan Khusus Desain Interior Museum Bank Indonesia :
3.2.1 Pencahayaan Ruang Pamer(Foto 3.64 : Pencahayaan yang digunakan museum Bank Indonesia pada panil dalam pameran tetap) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:88)
Pada museum Bank indonesia pencahayaan yang di pakai yaitu pencahayaan lampu sorot pada rel aliran listrik, pencahayaan ini mempunyai sudut penyinaran 90° (lampu sorot) perubahan kerucut cahaya pada penyinaran oleh lensa (lensa patung dan lensa fresnel), menggunakan perubahan spektrum oleh filter pelindung IR dan UV (daerah museum, pameran, penjualan) dan filter warna.
Pencahayaan yang digunakan selain lampu sorot pada rel aliran listrik yaitu pencahayaan lampu sorot penerangan langsung, yang diberikan oleh penerangan di area gambar peta Arsitektur museum.
(Gambar 3.18 : Lampu sorot pada rel aliran listrik & lampu sorot penerangan langsung) Sumber : buku data Arsitek jilid 1
3.2.2 Penghawaan
Penghawaan dalam setiap ruang pamer menggunakan penghawaan buatan berupa AC sehingga udara segar pada siang hari dapat merata keseluruh ruangan dan membuat pengunjung akan terasa lebih nyaman saat melihat benda koleksi.
3.2.3 Pengamanan
Dalam museum Bank Indonesia keamanan yang digunakan untuk ruang pamer ada dua jenis keamanan, yaitu :
- Pengamanan terhadap vandalisme (ulah manusia) Dengan memberikan CCTV
- Pengamanan terhadap kebakaran
Dalam setiap ruang Bank Indonesia disediakan alat menditeksi asap kebakaran, water sprinkle dan disetiap sudut disediakan alat untuk meredakan kebakaran.
3.2.4 Display
Bentuk Koleksi display pada museum Bank Indonesia berupa 3D dan 2D, dan di olah sangat menarik dengan sirkulasi yang baik untuk pengunjung
melintas, sehingga pengunjung merasakan kenyamanan saat sedang melihat-lihat koleksi.
Selain itu museum Bank Indonesia juga menyediakan fasilitas monitor Lcd pada setiap ruang yang bertujuan untuk memudahkan pengunjung mendapatkan informasi yang lebih lengkap. Selain itu dalam setiap ruang ada audio suara sesuai dengan kondisi sejarah yang di tampilkan agar memberi kesan pengunjung yang seolah-olah mereka merasakan kondisi saat itu.
3.2.5 Elemen Interior a. Lantai
Setaip ruang pamer di museum Bank Indonesia memiliki perbedaan lantai yang berguna untuk membedakan setiap periode dalam sejarah Bank Indonesia. Ada yang menggunakan granit berwarna abu-abu, granit hitam, parquet warna coklat tua dan karpet pada ruang auditorium.
Dan pada ruangan numismatic, terdapat olahan lantai parquet di campur dengan batu coral, memberi kesan asri dan tetap elegant.
(Foto 3.65 : pengolahan lantai dan Material yang digunakan dalam museum Bank Indonesia) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:90)
b. Dinding
Dalam pengolahan dinding museum Bank Indonesia menggunakan dinding beton dengan finishing yang berbeda dalam setiap ruang pamer. Ada yang menggunakan full cermin, furniture Built- in, kaca
finishing banner print sejarah Bank Indonesia dan finishing cat tembok hitam.
Dalam ruang auditorium menggunakan dinding akustik agar tidak mengganggu aktivitas ruang lain.
(Foto 3.66 : Pengolahan Dinding Menggunakan finishing cat dan tempelan poster) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:91)
(Foto 3.67 : Pengolahan Dinding Menggunakan finishing tempelan poster bergambar) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:91)
(Foto 3.68 : Pengolahan Dinding menggunakan cermin dan kaca) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:91)
c. Ceiling
Museum Bank Indonesia memiliki kombinasi ceiling yang beragam sesuai dengan konsep dan cerita sejarah setiap periode. Ceiling menggunakan material yang ringan, material yang digunakan gypsum board 9mm finishing warna hitam dan menggunakan ceiling akustik pada ruang auditorium.
(Foto 3.69 : Pengolahan Ceiling dalam pameran tetap museum Bank Indonesia) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:92)
d. Sirkulasi antar ruang
Sirkulasi pada ruang pamer menggunakan sirkulasi Linier yaitu sirkulasi yang terbentuk berdasarkan ruang yang telah dilalui dan benda seni yang dipamerkan satu per satu menurut ruang pamer yang berbentuk ulir maupun memulai sampai akhirnya menuju area pintu masuk pertama.
(Gambar 3.19 : Sirkulasi Linier)
Keuntungan :
+ Sirkulasi bersequence/memiliki arah + Pemisahan koleksi jelas
Kerugian :
- Pengunjung tidak bebas memilih lokasi yang diinginkan - Sirkulasi ada kemungkinan terganggu oleh orang yang melihat-
lihat koleksi
Alasan dari pemilihan pola sirkulasi linier dikarenakan materi- materi koleksi yang ada pada museum Bank Indonesia merupakan materi koleksi yang harus dilihat secara berurutan, terutaman pada area Sejarah. Pengunjung akan kehilangan beberapa informasi atau kebingungan jika melihat materi koleksi secara tidak urut.
pengunjung Entrance
e. Diagram sirkulasi antar Ruang Museum Bank Indonesia
(Gambar 3.20 : Diagram sirkulasi pada Museum Bank Indonesia) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:94)
Entrance
Penitipan barang Lobby & Locket
Ruang peralihan Auditorium Ruang Pamer 1 Ruang Pamer 2
Ruang Numismatik
R. Souvenir
Office
Perpustakaan R. serba guna
Keterangan : Pengunjung Pengelola
3.3 Studi Fisik Bangunan dan Lingkungan
3.3.1 Analisa Makro bangunan dan lingkungan
• Tampak Bangunan
(Foto 3.70 : Tampak bangunan gedung KPAI) Sumber : Document Pribadi Rizki (2013:95)
• Site Plan Area
Lokasi Gedung Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sangat strategis, tepatnya berada di tengah kota Jakarta Pusat, yaitu Jalan Teuku Umar No.10-12 Menteng, Jakarta Pusat 10011, Indonesia
(Peta 3.4 : Site Plan gedung Komisi perlindungan anak Indonesia)
• Akses :
Dari toll arah ancol keluar pintu toll kuningan, setelah keluar toll ambil arah belok kiri lalu lurus trus sampai ketemu lampu merah
taman menteng belok kanan, setelah ketemu lampu merah pertama belok kiri, sekitar 200m gedung berada di sebelah kiri jalan.
• Cuaca dan Iklim :
1. Geografi
Wilayah Jakarta Pusat Keadaan terletak antara 106 º .22 '.42 "BT sampai 106 º .58 Artikel Baru' .18" BT dan 5 º 19 ', 12 "LS sampai Artikel Baru 6 º .23 '54 "LS. Permukaan tanahnya relatif yang Datar, terletak sekitar 4 m di Atas permukaan laut Dan Luas wilayahnya 48,13 km 2 Dan memiliki 8 kecamatan yaitu Wilayah Utara Jakarta Utara Dan Barat (Jl. Duri Ry, Jl KH.. Zainul Arifin, Jl. Sukarjo Wiryopranoto, Rel Kereta Api, Jl. Raya Mangga Dua, Jl. Rajawali Selatan 12, Eks Pelud Kemayoran, Jl. Timur Jakarta Timur (Jl. Jend. Ahmad Yani / By Pass) Selatan Jakarta Selatan Dan Timur (Jl. Pramuka, Jl. Matraman, Kali Ciliwung / Banjir Kanala, Jl. Jend. Sudirman, Jl. Lekir) Barat Jakarta Barat Dan Selatan Jakarta Pusat tepat berada di Jantung Ibukota Jakarta mempunyai kekhususan, diantaranya sebagai Pusat pemerintahan Nasional, Pusat Dan bisnisdan keuangan.
Posisi yang melengkapi wilayah ini dengan batasan-batasan:
- Arah Timur berbatasan dengan kota jakarta timur - Arah Barat berbatasan dengan kota jakarta barat
- Arah Utara berbatasan dengan kota jakarta utara dan kota jakarta barat
- Area Selatan berbatasan dengan kota jakarta selatan dan jakarta timur
2. Iklim dan Cuaca
Kawasan ini berada di daerah Menteng jakarta Pusat. Beriklim panas dengan suhu maksimal sebesar 29 derajat celcius dan minimal 24,5 derajat celcius. Dengan tingkat kelembapan antara 68-79%. Rata-rata Curah hujan pada tahun 2008 yaitu 151,1 mm.
3.3.2 Analisa Mikro bangunan dan lingkungan
• Site Plan Area
(Peta 3.5 : Site plan area) Sumber : Internet
• Area Sekitar Gedung
(Gambar 3.21 : Layout keseluruhan) Sumber : Document KPAI
Entrance
• Sebelah kiri Gedung merupakan jalan menuju perumahan warga sekitar jalan Teuku Umar.
(Foto 3.71 : Sebelah kiri gedung)
Sumber : Document pribadi Rizki (2013 : 98)
• Sebelah Kanan Gedung jalan menuju Tugu tani
(Foto 3.72 : Sebelah kanan gedung) Sumber : Document pribadi Rizki (2013 : 98)
• Depan Gedung merupakan bundaran pertigaan jalan dan rumah warga.
(Foto 3.73 : depan gedung, butaran pertigaan dan rumah warga) Sumber : Document pribadi Rizki (2013 : 98)
3.4 Studi Aktifitas Manusia
3.4.1 Data Pemakai
Terdapat dua kategori pengguna dalam sebuah museum yakni sebagai berikut :
a. Pengelola
Pengelola museum adalah petugas yang berada dan melaksanakan tugas museum dan dipimpin oleh seorang kepala museum. Kepala museum membawahkan dua bagian yaitu bagian administrasi dan bagian teknis.
- Bagian administrasi
Petugas administrasi mengelola ketenagaan, keuangan, surat- menyurat, kerumah tanggaan, pengamanan, dan registrasi koleksi.
- Bagian teknis
Bagian teknis terdiri dari tenaga pengelola koleksi, tenaga konservasi, tenaga preparasi, tenaga bimbingan dan humas.
- Tenaga pengelola koleksi bertugas melakukan inventarisasi dan kajian setiap koleksi museum.
- Tenaga konservasi bertugas melakukan pemeliharaan dan perawatan koleksi.
- Tenaga preparasi bertugas menyiapkan sarana dan prasarana serta menata pameran.
- Tenaga bimbingan dan humas bertugas memberikan informasi dan mempublikasikan koleksi untuk dimanfaatkan oleh masyarakat.
b. Pengunjung
Berdasarkan intensitas kunjungannya dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
- Kelompok orang yang secara rutin berhubungan dengan museum seperti kolektor, seniman, desainer, ilmuwan, mahasiswa, dan pelajar.
- Kelompok orang yang baru mengunjungi museum Berdasarkan tujuanya pengunjung dibedakan atas : - Pengunjung pelaku studi
- Pengunjung bertujuan tertentu - Pengunjung pelaku rekreasi 3.4.2 Tugas dan Tanggung Jawab
a. Kepala Museum
Memimpin, mengkoordinator dan merupakan orang yang bertanggung jawab atas kelancaran dari seluruh kegiatan di museum untuk memimpin pelaksanaan tugas dan fungsi museum yang dipimpinnya.
Kepala Museum membawahi beberapa kepala bagian yang membantu lancarnya kerja museum
b. Sub Bagian Tata Usaha
Melakukan urusan tata usaha, rumah tangga, registrasi koleksi, perpustakaan dan ketertiban/keamanan.
c. Kelompok Tenaga Fungsional Koleksi
Mengumpulkan, meneliti dan mengelola semua jenis koleksi yang dimiliki oleh museum.
d. Kelompok Tenaga Preparasi/Konservasi
Melakukan konservasi, restorasi, dan refroduksi koleksi museum yang ada dan melaksanakan preparasi atau mempersiapkan pameran yang dilaksanakan didalam maupun diluar museum.
e. Kelompok Tenaga Fungsional Bimbingan/Edukatif
Melakukan bimbingan dengan metode dan sistem edukatif cultural untuk pengenalan koleksi dalam rangka menanamkan daya apresiasi
Kepala Museum
Sub bagian Tata Usaha
Kelompok Tenaga Fungsional
Koleksi
Kelompok Tenaga Fungsional Preparasi/Konservasi
Kelompok Tenaga Fungsional Bimbingan/Edukatif
dan penghayatan nilai warisan budaya dan ilmu pengetahuan serta melakukan publikasi tentang koleksi museum.
3.4.3 Pola Aktifitas Pemakai Pengunjung
Aktivitas berdasarkan Bagan diatas :
a. Masuk ruang penerima, mencari informasi, membeli tiket dan menitipkan barang.
b. Sebelum Menuju ruang pameran tetap pengunjung dapat melihat pemutaran film tentang sejarah-sejarah kopi pada ruang amphiteater, sehinnga pengunjung mendapatkan informasi tentang sejarah kopi seIndonesia.
c. Setelah Pengunjung melihat pemutaran film, pengunjung dapat melihat ruang pameran benda koleksi dan dapat mencoba secara langsung cara pembuatan kopi.
Masuk Cari Informasi
Beli tiket
Lihat Tearter Film
Lihat Obyek Pamer
Souvenir
Penitipan Barang
Perpustakaan
Caffe Coffee
Workshop
Keluar
d. Setelah melihat area pamer dan Untuk mencari data yang lebih sfesifik tentang kopi pengunjung dapat mencari referensi-referensi diruang perpustakaan.
e. Sebelum dan sesudah melihat pameran pengunjung dapat beristirahat dengan membeli makanan pada ruang kafe serta dapat membeli cindera mata seperti tiruan dari benda-benda koleksi yang dipamerkan.
f. Pengunjung yang ingin belajar lebih dalam tentang kopi dapat memasuki ruang workhsop.
3.4.4 Pola Aktifitas Pengelola Pengelola
Aktifitas pengelola Bagan diatas :
a. Pengelola maupun karyawan melakukan absensi.
b. Melakukan tugas masing-masing sesuai dengan bidangnya.
c. Istirahat melanjutkan kegiatan dan tugas masing-masing lalu pulang.
3.4.5 Pola Aktifitas Barang
Absensi Tugas
Masing-masing
Aktivitas Pulang
Dibongkar Dikemas
Dimuat
Dicatat Didata
Diawetkan
Didokumentasikan
Simpan
Dipamerkan Dibersihkan
Aktivitas Benda koleksi Bagan diatas :
Benda koleksi yang dibawa kemuseum sebelum disimpan ke gudang koleksi dan dipamerkan harus melalui beberapa tahapan antara lain : a. Benda koleksi yang masuk kemuseum, dibongkar terlebih dahulu b. Dicatat dan didata untuk diregistrasi tentang keberadaan asal benda
koleksi.
c. Bila ada kerusakan benda tersebut akan diperbaiki, dan dibersihkan.
d. Setelah mengalami perbaikan dan perawatan benda tersebut diawetkan untuk mempertahankan keaslian benda tersebut.
e. Benda tersebut didokumentasikan baik berdasarkan tahun, tempat ditemukannya benda tersebut.
f. Benda disimpan pada gudang koleksi , dan siapkan untuk dipamerkan berdasarkan program yang dibuat oleh bagian kurator.
3.5 Studi Fasilitas Ruang
3.5.1 Program Aktifitas dan Fasilitas
1. Lobby hall dan locket Berkumpul
Menanyakan Informasi
Kursi Meja 2. Penitipan Barang Menaruh barang-barang Meja Locker 3. Ruang pelayanan
pengunjung dan Locket
Meletakkan brosur Membeli ticket
Meja Kursi
4. Ruang Theater Menonton Big screen
Kursi Proyektor
5. Ruang Pameran Mendisplay Meja display
Rack Display Lcd tv Proyektor Sound Lcd Informasi
6. Toko Souvenir Mendisplay barang Menyimpan barang Transaksi
Display counter Lemari
Meja Kursi
7. Kedai Kopi memasak
Makan Minum
Transaksi pembayaran
Dapur Meja Kursi Meja kasir
8. Office Bekerja
Menyimpan file
Meja Kursi Lemari
9. Metting room Rapat Meja
Kursi Papan tulis
10. Perpustakaan Membaca
Duduk
Mendisplay buku kurator
Coffe table Sofa Kursi Rak buku Meja Kursi lemari
11. Kelas Barista Belajar Meja
Kursi
12. Gudang Menyimpan alat-alat Lemari
penyimpanan
(Tabel 3.1 : Program Aktifitas dan Fasilitas)
Keterangan : Tabel lengkap program Aktivitas dan Fasilitas terdapat dalam lampiran
3.5.2 Matriks Hubungan Antar Ruang
(Tabel 3.2 : Matriks Hubungan Antar ruang)
Keterangan : Tabel Matriks terdapat dalam lampiran
3.5.3 Diagram Sirkulasi Antar Ruang
(Gambar 3.22 : Diagram sirkulasi antar ruang)
Keterangan : Gambar lebih jelas Diagram sirkulasi terdapat dalam lampiran
3.5.4 Zoning
(Gambar 3.23 : Zoning area) Gambar lebih jelas terlampir
3.5.5 Gruping
(Gambar 3.24 : Grouping area) Gambar lebih jelas terlampir
Keterangan : Gambar lebih jelas zoning & Grouping terdapat dalam lampiran
3.6 Studi Permasalahan Khusus Interior
3.6.1 Tinjauan Karakteristik Garis dan Bentuk
• Bentuk
- Bujur Sangkar
Bujur sangkar menunjukkan sesuatu yang murni dan rasional.
Bentuk ini merupakan bentuk yang statis dan netral serta tidak memiliki arah tertentu. Bentuk-bentuk segi empat lainnya dapat dianggap sebagai variasi dari bentuk bujur sangkar yang berubah dengan penambahan tinggi atau lebarnya. Seperti juga segitiga, bujur sangkar tampak stabil jika berdiri pada salah satu sisinya dan dinamis jika berdiri pada salah satu sudutnya.
(Gambar 3.25 : Bentuk bujur sangkar pada pengaplikasian ruangan) Sumber : Buku komposisi arsitektur
- Lingkaran
Lingkaran adalah suatu yang terpusat, berarah ke dalam dan pada umumnya bersifat stabil dan dengan sendirinya menjadi pusat dari lingkungannya. Penempatan sebuah lingkaran pada pusat suatu bidang akan memperkuat sifat dasarnya sebagai poros.
Menempatkan garis lurus atau bentuk-bentuk bersuduat lainnya disekitar bentuk lingkaran atau menempatkan suatu unsure menurut arah kelilingnya, dapat menimbulkan perasaan gerak putar yang kuat.
Komposisi dari lingkaran bisa mencapai titik:
• Netral,
• Stabil
• Tidak stabil
• Seimbang
• Terpusat sendiri
• Dinamis
• Diam ditempat
(Gambar 3.26 : Bentuk Lingkaran pada pengaplikasian ruangan) Sumber : Buku komposisi arsitektur
- Segitiga
Segitiga menunjukkan stabilitas. Apabila terletak pada salah satu sisinya, segitiga merupakan bentuk yang sangat stabil. Jika diletakkan berdiri pada salah satu sudutnya, dapat menjadi seimbang bila terletak dalam posisi yang tepat pada suatu keseimbangan, atau menjadi tidak stabil dan cederung jatuh ke salah satu sisinya
(Gambar 3.27 : Bentuk segitiga pada pengaplikasian ruangan) Sumber : Buku komposisi arsitektur
• Garis
- Garis Chevron
Merupakan adaptasi dari pola grafis dari simbol segitiga yang berhubungan untuk menjadikan motif garis zig-zag. Garis ini menampilkan efek dalam waktu sekejap dengan menyertakan corak ini dapat menciptakan stimulasi visual untuk memberikan efek
“kedalaman” pada furniture atau aksesoris lain.
( Gambar 3.28: garis chevron pada pengaplikasian kedalam ruangan) Sumber : internet
- Garis Horizontal
Motif garis ini mampu “memperbesar” ruangan sempit menjadi lebar. Memberikan pandangan luas di sekitar ruangan.
( Gambar 3.29 : garis Horinsontal pada pengaplikasian kedalam ruangan) Sumber : internet
- Garis Vertikal
Membuat ruangan terasa lebih tinggi. Garis vertikal yang diterapkan pada bagian atas dinding dan langit-langit membuat tampak lebih tinggi.
( Gambar 3.30 : garis vertikal pada pengaplikasian kedalam ruangan) Sumber : internet
3.6.2 Tinjauan sistem furniture
Furniture sebagai fasilitas untuk memamerkan benda koleksi dirancang berdasarkan pada kebutuhan ruang benda koleksi, dan disesuaikan dengan tujuan ruang pamer. Furniture untuk penempatan benda koleksi desertai dengan tempat keterangan untuk menginformasikan tentang benda koleksi.
Furniture dikelompokan berdasarkan sifat benda koleksi yaitu : - benda koleksi langka menggunakan furniture yang bertutup kaca, - benda koleksi yang dapat dilihat secara keseluruhan menggunakan
furniture yang bergerak berputar.
Perancangan furniture berdasarkan pada ukuran, proporsi dan volume benda koleksi yang dipamerkan, untuk memperoleh manfaat dan kenyamanan.
Furniture pada ruang pameran ada yang dipasang secara built in untuk meminimalkan adanya celah pada setiap elemen furniture dan ada pula yang berupa panil, vitrin dan pedestal.
a. Panil, merupakan sarana pokok pameran yang digunakan untuk menggantung atau menempelkan koleksi, terutama yang bersifat dua dimensi dan cukup dilihat dari sisi depan. Kadang-kadang panil hanya
digunakan untuk menempelkan label atau koleksi penunjang lain seperti peta, grafik dan lain sebagainya.
b. Vitrin, merupakan salah satu jenis pokok pameran yang diperlukan untuk tempat meletakkan benda-benda koleksi yang umumnya 3D, dan relatif bernilai tinggi serta mudah dipindahkan. Vitrin mempunyai fungsi sebagai pelindung koleksi baik dari gangguan manusia, maupun dari gangguan lingkungan yang berupa kelembaban udara ruangan, efek negatif cahaya serta perubahan suhu udara ruangan.
c. Pedestal atau alas koleksi, merupakan tempat meletakkan koleksi.
Biasanya berbentuk 3D. Kalau koleksi yang diletakkan di pedestal bernilai tinggi dan berukuran besar, maka perlu mendapat ekstra pengamanan, yaitu paling tidak diberi jarak yang cukup aman dari jangkauan pengunjung. Alas koleksi yang berukuran kecil di letakkan di vitrin sebagai alat bantu agar benda dalam vitrin dapat disajikan dengan baik. Ukuran tinggi rendahnya harus disesuaikan dengan besar kecilnya yang diletakkan di atasnya.
Tim pembinaan permuseuman. (1994). Pedoman Teknis Pembuatan Sarana Pameran Di museum. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
3.6.3 Tinjauan Material lantai, dinding, dan ceiling
Material yang digunakan untuk mendukung tercapainya bentuk ruang yang dinamis, lentur dan fleksibel, selain untuk menciptakan kesan ruang material juga harus mampu menyerap suara, tahan terhadap getaran dinamis maupun statis.
material yang digunakan pada ruang pamer adalah sebagai berikut : Material Dinding :
Material Kelebihan Kekurangan
Beton Dapat dengan mudah dibentuk, mampu memikul beban yang berat, tahan terhadap temperatur yang tinggi,
Bentuk yang telah dibuat sulit untuk diubah, lemah terhadap kuat tarik, mempunyai bobot yang berat, daya
tahan terhadap pengkaratan/
pembusukan oleh kondisi alam.
pantul suara yang besar, pelaksanaan pekerjaan
membutuhkan
ketelitian yang tinggi.
Gypsum Tahan terhadap api, murah, tidak terlalu berat, memiliki banyak pilihan, fleksibel, meredam suara, pemasangan cepat
Tidak tahan terhadap air, mudah rusak, memerlukan keahlian khusus dalam
Kayu Bahan alami yang dapat diperbarui, kuat tarik yang tinggi, dapat dibuat dengan berbagai macam desain dan warna, memberikan efek hangat, dapat meredam suara.
Mudah menyerap air, mudah mengalami kembang-susut, kurang tahan terhadap pengaruh cuaca, rentan terhadap rayap.
Bambu Bahan alami, sangat cepat
pertumbuhannya(mudah didapat), ringan, murah.
Rentan terhadap rayap, jarak ruas dan diameter yang tidak sama dari
ujung sampai
pangkalnya.
Batako semen/
Batako Press
Tiap m2 pasangan tembok membutuhkan lebih sedikit batako jika dibandingkan dengan menggunakan batu bata, pembuatan mudah dan ukuran dapat dibuat sama, Ukurannya besar sehingga waktu dan
Mudah terjadi retak rambut pada dinding, Mudah dilubangi dan mudah pecah karena terdapat lubang pada bagian sisi dalamnya, Kurang baik untuk insulasi panas dan suara.
Tebal spesi : 20- 30 mm, jumlah (kebutuhan) batako press per 1m² : 20-25 buah tanpa
construction waste
ongkos pemasangan juga lebih hemat, Khusus jenis yang berlubang, dapat berfungsi sebagai isolasi udara, Apabila pekerjaan rapi, tidak perlu diplester, Lebih mudah dipotong untuk sambungan tertentu yang membutuhkan potongan, Sebelum pemakaian tidak perlu direndam air, Kedap air sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya
rembesan air,
Pemasangan lebih cepat, Penggunaan
rangka beton
pengakunya lebih luas, antara 9 – 12 m2.
Bata merah Tidak memerlukan keahlian khusus untuk memasang, ukurankecil,
mudah untuk
membentuk bidang kecil, murah, mudah di dapat, tahan panas.
Sulit untuk membuat pasangan bata yang rapi, menyerap panas pada musim panas dan meyerap dingin pada musim dingin, sehingga suhu ruangan
tidak dapat
dikondisikan atau tidak stabil, kualitas kurang beragam dan ukuran
Tebal spesi : 20- 30mm
Jumlah
kebutuhan bata merah per 1m² : 30-35 buah tanpa contruction waste.