• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Proyek Pembangunan Gedung Kuningan City dibangun pada lahan seluas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Proyek Pembangunan Gedung Kuningan City dibangun pada lahan seluas"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

I-1 BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Proyek Pembangunan Gedung Kuningan City dibangun pada lahan seluas 27.247 m2 yang terdiri dari apartement 50 lantai dengan luas 43.858,55 m2, office 41 lantai dengan luas 59.873,84 m2 dan pusat perbelanjaan 12 lantai dengan luas 184.268,66 m2, juga terdiri oleh Basement 2 lantai dengan luas 44.118,64 m2. Proses pembangunan gedung kuningan city dimulai tanggal 29 April 2009 sampai dengan 18 November 2011. Pada pelaksanaan proyek pembangunan gedung kuningan city dihadapkan pada tiga kendala yaitu biaya, waktu, dan mutu. Ketiga kendala ini dapat diartikan sebagai sasaran proyek, yang didefiniskan sebagai tepat biaya, tepat waktu, dan tepat mutu.

Keberhasilan pelaksanaan suatu proyek akan dikaitkan dengan sejauh mana ketiga sasaran tersebut dapat terpenuhi. Sehubungan dengan karakteristik proyek yang dinamis diperlukan pengelolaan proyek yang baik agar ketiga sasaran tersebut dapat terpenuhi. Manajemen proyek adalah proses pengelolaan proyek yaitu melalui pengelolaan, pengalokasian, dan penjadwalan sumberdaya dalam proyek untuk mencapai sasaran tersebut. Sebagai bagian dari proses manajemen proyek, perencanaan dan pengendalian yang baik belum menjamin terwujudnya sasaran proyek. Selalu terdapat kemungkinan tidak tercapainya suatu tujuan atau selalu terdapat ketidakpastian atas keputusan apapun yang diambil. Suatu kondisi yang timbul karena ketidakpastian dengan seluruh

(2)

I-2 konsekuensi tidak menguntungkan yang mungkin terjadi disebut risiko

Di dalam bisnis jasa pembangunan terdapat sifat-sifat unik sehingga diperlukan sejumlah asumsi untuk memperkirakan data-data dan informasi yang belum tersedia selama proses berjalannya proyek, sejak tahap perencanaan sampai pelaksanaan. Asumsi dan perkiraan yang digunakan mendukung adanya ketidakpastian ini. Termasuk dalam tahapan manajemen risiko adalah perencanaan manajemen risiko, identifikasi risiko, analisa risiko, penanganan risiko, dan monitor terhadap risiko. Identifikasi risiko adalah langkah awal dalam penerapan manajemen risiko dan merupakan tahapan yang penting dalam pelaksanaan kegiatan. Risiko merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Lebih-lebih dalam kehidupan usaha jasa konstruksi, penuh dengan risiko yang harus dihadapi. Beberapa risiko yang sering muncul dalam dunia usaha jasa konstruksi, yang secara langsung dapat menimbulkan kerugian antara lain (l) ketidak cocokan kondisi lapangan dengan data-data yang didapat sebelumnya padahal kontraknya lumpsum, (2) keterlambatan angsuran dari pemilik, (3) keterlambatan pencairan kredit, (4) keadaan cuaca di lokasi lapangan, (5) lonjakan harga, (6) perubahan moneter.

. Konsekuensi tidak menguntungkan mengacu pada tidak terwujudnya sasaran proyek, yaitu tepat biaya, tepat waktu, dan tepat mutu.

Pada proyek kontruksi Gedung Kuningan City terdapat risiko yang terlibat di dalamnya antara lain meliputi risiko eksternal, risiko internal, risiko teknis, dan risiko legal. Pada pelaksanaannya, dalam proyek konstruksi gedung kuningan city tidak semua pekerjaan dilaksanakan oleh kontraktor utama akan

(3)

I-3 tetapi ada beberapa pekerjaan dan material yang langsung diadakan dan dikontrak oleh owner. Dalam kasus ini dinamakan direct contractor (kontraktor yang ditunjuk langsung oleh owner) dan direct supplier (suplier yang ditunjuk langsung oleh owner).

Kontraktor utama bertanggung jawab kepada pengawasan dan koordinasi umum kepada direct contraktor dan direct supplier,

sedangkan kontraktor utama hanya mendapatkan biaya koordinasi yang meliputi penyedian listrik kerja, air kerja, penyedian alat untuk direct kontraktor, penyedian tenaga koordinasi, gambar koordinasi, dan gambar komposite. Biaya koordinasi dihitung dari schedule pekerjaan dan schedule pemakaian alat, kontraktor utama juga mendapat fee coordinasi yaitu 25 % dari biaya koordianasi, akan tetapi ada juga pengadaan material dan subkontraktor yang di kontrak kontraktor utama, oleh karena itu sekripsi ini mengangkat resiko-resiko yang terjadi akibat direct contraktor dan direct supplier.

Semua keterlambatan yang terjadi akibat perselisihan atau perbedaan antara pemberi tugas, kontraktor utama, direct contraktor dan direct supplier pada saat pelaksanaan pekerjaan atau setelah pekerjaan selesai

maka selama penyelesaian perselisihan maka kontraktor utama tidak dapat menjadikanya sebagai alasan untuk menunda pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, dan juga jika ada kesalahan akibat koordinasi yang kurang baik maka akan dibebankan kekontraktor utama, pekerjaan yang

(4)

I-4 merupakan sistem yang tidak ada dikontrak kontraktor utama ataupun direct contractor tetapi ada digambar maka pekerjaan tersebut menjadi tanggung

jawab kontraktor utama.

Berdasarkan uraian diatas, maka diadakan penelitian lebih lanjut tentang permasalahan tersebut dan menjabarkannya dalam suatu laporan penelitian dengan judul ANALISIS MANAJEMEN RISIKO AKIBAT DIRECT CONTRACTOR DAN DIRECT SUPPLIER (Studi Kasus Proyek

Pembangunan Gedung Kuningan City – Jakarta Selatan)

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Bagaimana menganalisis data resiko-resiko yang terjadi pada proyek konstruksi Gedung Kuningan City yang disebabkan oleh direct contraktor dan direct supplier?

b. Bagaimana cara mengantisipasi dan meminimalisir resiko-resiko yang terjadi di proyek

(5)

I-5 1.3. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

a. Untuk menganalisa resiko-resiko yang terjadi pada proyek konstruksi Gedung Kuningan City yang disebabkan oleh direct contraktor dan direct

supplier.

b. Untuk mendapatkan upaya-upaya apakah yang dapat dilakukan guna mengantisipasi dan meminimalisasi kemungkinan resiko-resiko yang akan terjadi pada proyek konstruksi Gedung Kuningan City akibat direct contraktor dan direct supplier tersebut.

1.4. Batasan Masalah

Penetapan batasan masalah penelitian sebagai fokus penelitian dimaksudkan sebagai batas yang berguna untuk mencegah terjadinya kekaburan dalam mempersepsikan dan membahas masalah yang sedang diteliti.

Dalam penelitian ini juga telah ditetapkan fokus penelitian yang sesuai dengan judul, yaitu:

1. Resiko-resiko yang akan terjadi sampai dengan selesai pada proyek konstruksi Gedung Kuningan City yang diakibatkan oleh direct

contraktor (kontraktor yang ditunjuk langsung oleh owner) dan

direct supplier (siplier yang ditunjuk langsung oleh owner)

(6)

I-6 2. Faktor pendukung dan penghambat proses antisipasi dan minimalisasi

kemungkinan resiko-resiko yang akan terjadi.

3. Penilitian dibatasi pada kontraktor utama.

1.5. METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode AHP (analytical hierarchy process), metode AHP adalah suatu model pendekatan yang memberikan kesempatan bagi setiap individu atau kelompok untuk membangun gagasan-gagasan atau ide-ide dan mendefinisikan persoalan- persoalan yang ada dengan cara membuat asumsi-asumsi dan selanjutnya mendapatkan pemecahan yang diinginkannya.

Penelitian ini menggunakan metode ahp dikarenakan metode ini sangat cocok digunakan dalam menganalisa tentang peringkat keberhasilan manajemen resiko yang disebabkan oleh direct contraktor dan direct supplier. Berikut adalah keungtungan menggunakan metde

AHP antara lain :

1. AHP memberikan satu model yang mudah dimengerti, luwes untuk macam-macam persoalan yang tidak terstruktur.

2. AHP dapat mengolah data yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

Selain itu AHP mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang multi-objektif dan multi-kriteria yang didasarkan pada perbandingan preferensi dari setiap element dalam hierarki

(7)

I-7 3. AHP memberikan suatu skala pengukuran dan memberikan metoda untuk

menetapkan prioritas.

4. AHP memberikan penilaian terhadap konsistensi logis dari pertimbangan- pertimbangan yang digunakan dalam menentukan prioritas.

5. AHP menuntun ke suatu pandangan menyeluruh terhadap alternatif- alternatif yang muncul untuk persoalan yang dihadapi

6.AHP memberikan satu sarana untuk penilaian yang tidak dipaksakan tetapi merupakan penilaian yang sesuai pandangannya masing-masing.

7.AHP memadukan ancangan deduktif dan ancangan berdasarkan sistem dalam memecahkan persoalan kompleks

1.6. KEASLIAN DARI PENELITIAN

Pada penelitian ini sendiri terdapat kesamaan dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan, namun tetap pada keasliannya.

Tulisan-tulisan dari penelitian sebelumnya ataupun dari jurnal-jurnal yang memiliki kesamaan dengan peneitian ini, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Skripsi dengan judul ”MANAJEMEN PENGENDALIAN PEKERJAAN SUBKONTRAKTOR BERBASIS RESIKO DITINJAU DARI SEGI MUTU (STUDI KASUS PROYEK JALAN PURWAKARTA SELATAN-PLERED)”

Yang ditulis oleh HERRY GETSEMANE . Fakultas Teknik UI, Januari 2008.

(8)

I-8

• Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengendalian Subkontraktor berbasis Manajemen Resiko.

Maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah :

• Mengetahui faktor pendukung dan penghambat manajemen resiko

• Faktor-faktor yang berpengaruh dominan terhadap keberhasilan pengajuan Pengendalian Subkontraktor agar pekerjaan subkontraktor memenuhi hasil yang ditargetkan secara mutu yang diharapkan. Karakteristik yang dimaksud adalah adanya kebijakan prosedur pelaksanaan proyek yang telah tertata dengan baik. Dimulai dari sistem perencanaan, pencatatan, pengarsipan dan formalisasi yang telah dibakukan dalam bentuk format laporan harian dan prosedur administrasi pelaksanaan.

Hasil Penelitian ini adalah :

• Dalam pelaksanaannya, faktor faktor yang berpengaruh dominan terhadap keberhasilan manajemen resiko subkontraktor dalam penelitian ini dapat diringkas kedalam 2 kategori pelaksanaan:

 Penyiapan bukti yang lengkap beserta formalisasinya melalui penerapan pola administrasi yang baik. Dalam setiap aktivitas konstruksi, kegiatan perencanaan, pendokumentasian, pencatatan, pengarsipan dan formalisasi yang dilakukan dengan teratur, terinci, terorganisasi dan dengan format yang baik akan mempermudah pengajuan bukti yang lengkap dan akurat.

 Profesionalisme kerja dengan mengutamakan pencapaian kinerja mutu, waktu, dan safety yang dapat meningkatkan kepuasan pelanggan. Dengan adanya hubungan yang baik serta komitmen untuk sama-sama melaksanakan pekerjaan sesuai perencanaan, akan mempermudah proses negosiasi untuk mencapai kesepakatan bersama.

2. Tesis dengan judul ”PENGARUH RESIKO TERHADAP KINERJA WAKTU PADA PROYEK BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT”

Yang ditulis oleh Astawa Gde . Fakultas Teknik UI, Januari 2000.

(9)

I-9

• Mempelajari pengaruh dari pelaksanaan resiko terhadap kinerja waktu akhir proyek, serta pengendalian proyek dari sudut biaya, mutu dan waktu.

Maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah :

• Mengetahui seberapa besar tingkat keeratan yang berpengaruh nyata antara pengaruh resiko dengan kinerja waktu proyek

• Pengaruh dari pelaksanaan resiko sangat besar, karena keberhasilan manajemen resiko memberikan keuntungan tersendiri bagi kontraktor.

Hasil Penelitian ini adalah :

• Hubungan antara pengaruh resiko dengan kinerja waktu proyek sangat erat, karena semakin besar kesuksesan manajemen resiko yang dilakukan semakin rendah kinerja waktu proyek.

3. Makalah dengan judul “SENGKETA DALAM PENYELENGGARAAN KONSTRUKSI DI INDONESIA: PENYEBAB DAN PENYELESAINNYA”. Yang ditulis oleh Purnomo Soekirno, Reini D.

Wirahadikusumah dan Muhamad Abduh. Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung, Agustus 2005.

• Mempelajari bagaimana menyajikan penyelesaian dalam tahap pelaksanaan konstruksi

Maksud dan Tujuan Penelitian ini adalah :

• Mengkaji pengembangan sistem alternatif penyelesaian sengketa dalam jasa konstruksi

• Sengketa konstruksi diIndonesia jarang terjadi karena diselesaikan secara kekeluargaan.

Hasil Penelitian ini adalah :

• Acuan Hukum di Indonesia perlu diperjelas lagi agar lebih mengikat .

(10)

I-10 4. Tesis dengan judul ” FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

KEBERHASILAN PENGAJUAN KOMPENSASI BIAYA AKIBAT PERPANJANGAN WAKTU PELAKSANAAN PROYEK ”

Yang ditulis oleh Pangrukti Pinilih . Fakultas Teknik UI, Januari 2008.

• Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengajuan kompensasi biaya akibat perpanjangan waktu pelaksanaan proyek.

Maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah :

• Dalam pelaksanaannya, keenam faktor faktor yang berpengaruh dominan terhadap keberhasilan pengajuan kompensasi biaya akibat perpanjangan waktu pelaksanaan proyek dari hasil penelitian ini dapat diringkas kedalam 2 kategori pelaksanaan

Hasil Penelitian ini adalah :

5. Penelitian dengan judul “ RISK ASSESSMENT AND BEST PRACTICES IN SCHEDULING ANNUAL CONFERENCE” Yang ditulis Steven Pinnel, PE. ( Project Anagement Institute College Of Scheduling ) 2005.

Dalam penelitiannya terhadap 66 kontraktor, Pinnell mengemukakan bahwa lebih dari setengah pelaksanaan pekerjaan konstruksi mengalami keterlambatan. Mendekati sepertiga dari keterlambatan disebabkan oleh pemilik proyek akibat perubahan lingkup pekerjaan selama masa konstruksi. Kesalahan pada disain menempati urutan kedua dengan 19%

keterlambatan, diikuti oleh perubahan kondisi lapangan (11%), penjadwalan yang tidak baik(10%), akibat keterlambatan pihak ketiga (9%), cuaca (8%), kesalahan pada kontraktor (6%), keterlambatan subkontraktor (6%) dan alas an lain sebesar 2%.

Maksud dan Hasil Penelitian ini adalah :

Dari beberapa penelitian yang relevan diatas, Penelitian ini berbeda karena studi kasus yang diambil adalah proyek Kuningan City.

(11)

I-11 Proyek ini memiliki suatu permasalahan terhadap direct contraktor dan direct supplier yang pasti akan melibatkan pihak owner juga dalam permasalahanya, sehingga peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian tentang analisis manajemen risiko akibat direct contraktor dan direct supplier.

Dan berdasarkan beberapa karya tulis diatas, maka sejauh yang penulis ketahui bahwa penelitian ini bukan merupakan tiruan ataupun publikasi dari karya tulis yang sudah pernah dipublikasikan dan atau penuh dipakai untuk mendapatkan gelar kesarjanaan dilingkungan teknik Universitas Mercubuana maupun di Perguruan Tinggi atau Instansi manapun, kecuali pada bagian sumber informasi yang penulis cantumkan sebagaimana mestinya.

1.7. Kontribusi Penelitian

Dalam penelitian ini, pada akhirnya manfaat yang diharapkan dapat diperoleh adalah sebagai berikut :

a. Secara akademis, penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan sumbangan informasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagai masukan untuk penelitian selanjutnya

b. Secara praktis, penelitian ini diharapkan berguna untuk memberikan masukan kepada proyek kuningan city pada khusunya dan proyek-proyek lain pada umumnya.

Referensi

Dokumen terkait

Variabel proses pengadaan ini menjelaskan bahwa kebijakan kontrak yang tidak tepat untuk kalangan kontraktor kecil dan menengah serta sikap profesionalitas dan

Dari daerah Ciwaru inilah Sutan Akbar dapat mengendalikan pergerakan Divisi Bambu Runcing di seluruh wilayah Jawa Barat; namun di Ciwaru ini juga Divisi Bambu Runcing

correcting atau mengkoreksi penampilan temannya dalam membaca puisi, pengkoreksian dilakukan berdasarkan panduan dari media kartu kuning yang berisi teks puisi

Efek lokal terbatas pada beberapa bagian tubuh yang kontak dengan zat kimia yaitu kulit, mata, jalur udara, dan usus. Contoh efek racun lokal yakni kulit terbakar, mata berair

Seorang wanita 56 tahun datang ke polimata dengan keluhan penglihatan kabur mendadak sejak 1 hari yang lalu, disertai nyeri mata hebat, nyeri kepala hebat, mual, muntah, pasien

Selain itu, berdasarkan hasil penelitian asupan energy dan protein sampel juga pada umumnya baik, hal ini dapat disebabkan karena pola asuh ibu yang baik dan

Kemudian kriteria penilaian dari masing-masing siswa didistribusikan ke dalam tabel 4.3 untuk mendapatkan persentase kriteria penilaian tinggi, sedang dan rendah,

Kedua, mengidentifikasi dan menganalisis fakta : tamu/pengunjung biasanya langsung menuju ke arah belakang pendopo untuk mencari informasi; pendopo harus menampung 25 –