• Tidak ada hasil yang ditemukan

2013), konstruksi (Hashim et al., 2013), serta pemerintahan (Kaliannan & Awang, 2010). Dengan menerapkan e-procurement ini perusahaan berhasil

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2013), konstruksi (Hashim et al., 2013), serta pemerintahan (Kaliannan & Awang, 2010). Dengan menerapkan e-procurement ini perusahaan berhasil"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

Pada era globalisasi seperti saat ini, teknologi informasi terus mengalami perkembangan. Hal ini menjadi sebuah tantangan dan peluang bagi siapapun untuk terus mengikuti dan memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut. Demikian juga dalam dunia bisnis, banyak perusahaan negara dan swasta yang mengikuti perkembangan tersebut agar dapat mengembangkan usaha dan memenangkan persaingan dengan perusahaan lain. Perusahaan perlu mempelajari dan membuat strategi yang tepat tentang cara-cara memanfaatkan teknologi informasi dalam menciptakan inovasi yang dapat membuat kinerja perusahaan menjadi lebih unggul.

Banyak pejuang bisnis yang beralih dengan memanfaatkan teknologi informasi (IT) untuk mendukung keberlangsungan dan meningkatkan keuntungan mereka (kompasiana.com, 2013). Karena penggunaan bidang IT tersebut terbukti telah memberikan manfaat untuk memperluas pangsa pasar sehingga suatu produk dapat dikenal oleh konsumen di seluruh wilayah tanpa batas ruang dan waktu.

Dengan adanya perkembangan bidang IT telah memunculkan bisnis yang berbasis elektronik, atau dikenal dengan sebutan e-business. E-business adalah penggunaan teknologi informasi dalam memproses dan melakukan komunikasi untuk kegiatan bisnis inti (Grefen, 2010). Dalam bidang bisnis, telah banyak perusahaan yang telah berinisiatif untuk mengadopsi e-business dalam mengelola proses bisnis internalnya serta menjalin hubungan dengan lingkungan bisnisnya (Wu et al., 2009). Dalam prakteknya e-business dirasakan mampu memberikan manfaaat menjadikan hasil kegiatan bisnis yang lebih efektif dan efesien.

Salah satu penerapan e-business yang banyak dijumpai adalah dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa atau disebut e-procurement. E-procurement adalah bentuk praktek business-to-business (B2B) dalam penjualan barang dan jasa melalui internet atau sistem-sistem informasi lain, seperti Electronic Data Interchange (EDI) dan Enterprise Resource Planning (ERP) (Baily, 2008). E-procurement merupakan bentuk dari e-business yang tidak bisa terlepas dari teknologi internet atau komponen komputer. E-procurement sudah banyak diterapkan di berbagai perusahaan dalam berbagai bidang seperti perhotelan (Kothari et al., 2007), rumah sakit (Ateto et al.,

(2)

2013), konstruksi (Hashim et al., 2013), serta pemerintahan (Kaliannan & Awang, 2010). Dengan menerapkan e-procurement ini perusahaan berhasil memperoleh supplier lebih beragam baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri yang memenuhi syarat kualifikasi yang diinginkan.

Di Indonesia e-procurement telah diterapkan dalam lingkungan instansi pemerintahan dan BUMN. Penggunaan e-procurement di lingkungan BUMN berawal dari terbitnya peraturan tentang pengadaan barang dan jasa bagi pemerintah yang dibiayai APBN atau APBD melalui Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Barang dan Jasa Pemerintah. Selanjutnya selang lima tahun kemudian diikuti dengan terbitnya peraturan pengadaan bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada Tanggal 3 September 2008 oleh Kementerian BUMN dalam bentuk Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa BUMN. Pada saat penerbitannya Sofyan Djalil, menteri BUMN saat itu, berpendapat, bahwa pengadaan barang dan jasa yang pendanaannnya di luar APBN atau APBD termasuk di luar pinjaman atau hibah dari luar negeri, perlu memiliki pedoman pengaturan tersendiri. Pemerintah melalui Kementerian BUMN menilai, BUMN sebagai badan usaha perlu melakukan pengadaan barang dam jasa secara cepat, fleksibel, efisien dan efektif. Dengan cara demikian diyakini, BUMN tidak akan kehilangan momentum bisnis yang bisa menimbulkan kerugian. Hanya saja, dalam proses pengadaan barang dan jasa, BUMN dihimbau untuk tetap memperhatikan prinsip; efisien, efektif, kompetitif, transparan dan akuntabel (bumntrack.co.id, 2013).

Pada saat ini, setelah terbitnya Peraturan menteri BUMN tersebut, hampir seluruh BUMN telah menerapkan e-procurement. Salah satunya adalah PT. Pertamina (Persero). Untuk menjalankan operasi bisnisnya, Pertamina memerlukan sistem penyediaan barang/jasa yang cepat, efektif dan efisien. Hal tersebut diperlukan agar Pertamina tidak kehilangan momentum bisnis dalam menghindari hilangnya kesempatan dalam mendapatkan profit. Di samping itu sebagai perusahaan yang seluruh sahamnya dimiliki negara, maka dalam mengadakan barang/jasa Pertamina dituntut untuk memperhatikan good corporate government (GCG) dengan menjalankan aspek competitive, fairness dan transparant terhadap semua peserta pengadaan.

E-procurement semakin diakui manfaatnya karena terbukti mampu meningkatkan kualitas pengelolaan operasi bisnis, khususnya dalam bidang pengadaan barang dan jasa. Peran pengadaan diperhitungkan sebagai peringkat

(3)

kualitas unggulan dalam operasi bisnis, pertama kali dikemukakan oleh Garvin (1983) yang menyatakan bahwa perusahaan terbaik adalah bila kualitas fungsi pengadaannya dijadikan prioritas dalam tujuan utama mereka. Penelitian selanjutnya berasal dari survei (Kerney, 2005) dimana 62% dari responden berpendapat bahwa salah satu tujuan utama dalam strategi e-procurement adalah untuk mencapai kualitas yang lebih tinggi. Kualitas e-procurement dirasakan oleh pengguna itu sendiri jika selama proses pengadaan berjalan dengan efektif dan efisien. Hal ini menunjukkan bahwa peran pengguna juga membantu dalam penilaian kualitas e-procurement.

Pengguna internal maupun ekternal dari sistem e-procurement Pertamina mempunyai peran dalam menjalankan praktek pengadaan. Mulai dari Request for quotation, negosiasi, hingga penerbitan kontrak. Praktek pengadaan tersebut dijalankan oleh panitia pengadaan Pertamina untuk mencari dan mendapatkan vendor-vendor yang memenuhi kualifikasi. Dengan sistem e-procurement proses pengadaan barang dan jasa, dimana dalam pelaksanaannya Pertamina menggunakan teknologi informaasi berbasis web/internet, dianggap dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan pengadaan menggunakan sistem konvensional. Pada pengadaan sistem konvensional, proses transaksi dilakukan melalui pertemuan pihak-pihak yang terkait dalam proses pengadaan secara langsung. Kondisi ini memerlukan biaya realtif besar dan waktu panjang, seperti pertemuan untuk rapat-rapat pada setiap tahapan proses pengadaan. Dengan sistem E-procurement tidak diperlukan lagi rapat-rapat secara langsung, sehingga dapat menghemat biaya dan waktu. E-procurement dianggap

dapat memecahkan masalah ini dengan merampingkan siklus proses, memberikan informasi yang tepat waktu, serta meningkatkan koordinasi dan kolaborasi, yang berdampak pada penghematan biaya dan mengurangi waktu siklus pengadaan (Gunasekaran et al., 2009). Berdasarkan laporan tiga tahun terakhir dari fungsi Procurement Exellence Group (PEG), fungsi yang bertugas menjalankan sistem E-procurement Pertamina, diperoleh data penghematan biaya yang cukup signifikan. Hal ini membuktikan bahwa proses e-procurement telah memberikan efisiensi kinerja perusahaan.

(4)

Gambar 1.1: Laporan Total Spend & Saving E-procurement Sumber: Laporan tahunan pengadaan PEG Pertamina

Sistem e-procurement Pertamina diterapkan sejak tahun 2007 diharapkan akan memberikan dampak yang positif terhadap kinerja perusahaan. Proses pengadaan dengan e-procurement diharapkan dapat menghemat biaya karena tidak diperlukan mencetak dokumen dalam jumlah banyak. Selain itu pelaksanaan e-procurement dapat menghemat waktu karena jadwal dari setiap tahapan proses pengadaan, mulai dari pengumuman lelang hingga penerbitan kontrak sudah terintegrasi dengan sistem e-procurement, sehingga tidak diperlukan entry data secara berulang-ulang. Dampak postif penerapan e-procurement tidak hanya dirasakan oleh pengguna internal perusahaan Pertamina saja, melainkan bagi pengguna eksternal, yaitu supplier/vendor sebagai peserta lelang, diharapkan dapat merasakan juga efektifitas dan efesiensi dari proses pengadaan secara e-procurement ini.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kualitas e-procurement yang dirasakan oleh pengguna dalam menjalankan praktek pengadaan dan dampaknya terhadap kinerja pengadaan, dengan mengangkat judul penelitian “ANALISIS PENGARUH USER-PERCEIVED

(5)

E-PROCUREMENT QUALITY TERHADAP PROCUREMENT PRACTICE DAN DAMPAKNYA PADA PROCUREMENT PERFORMANCE; CASE STUDY: PT. PERTAMINA (PERSERO)”

1.1 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, akan dilakukan penelitian dari masalah-masalah yang dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah user-perceived e-procurement quality berpengaruh terhadap procurement practice pada PT. Pertamina (Persero)

2. Apakah user-perceived e-procurement quality berpengaruh terhadap procurement performance pada PT. Pertamina (Persero)

3. Apakah procurement practice berpengaruh terhadap procurement performance pada PT. Pertamina (Persero)

4. Apakah user-perceived e-procurement quality berpengaruh terhadap procurement practice dalam procurement performance pada PT. Pertamina (Persero)

1.2 Tujuan Penilitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaruh user-perceived e-procurement quality terhadap procurement practice pada PT. Pertamina (Persero)

2. Untuk mengetahui pengaruh user-perceived e-procurement quality terhadap procurement performance pada PT. Pertamina (Persero)

3. Untuk mengetahui pengaruh procurement practice terhadap procurement performance pada PT. Pertamina (Persero)

4. Untuk mengetahui pengaruh user-perceived e-procurement quality terhadap procurement practice dan dampaknya pada procurement performance pada PT. Pertamina (Persero)

(6)

1.3 Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan atau manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. Bagi Perusahaan:

Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu perusahaan untuk mengetahui apakah dengan user-perceived e-procurement quality dapat berpengaruh terhadap procurement practice dalam procurement performance pada PT. Pertamina (Persero)

2. Bagi Penulis:

Penelitian ini merupakan kesempatan untuk menambah pengetahuan dan wawasan yang luas dalam penelitian dan memperluas wahana berfikir ilmiah dalam bidang Manajemen e-procurement.

3. Bagi dunia Pendidikan:

Sebagai referensi untuk dapat memberikan bukti empiris yang bermanfaat sebagai bahan masukan dan acuan untuk pengembangan penelitian lebih lanjut dalam bidang Manajemen e-procurement

Gambar

Gambar 1.1: Laporan Total Spend & Saving E-procurement  Sumber: Laporan tahunan pengadaan PEG Pertamina

Referensi

Dokumen terkait

This research aims to find out the students’ ability to show figurative languages and to mention their functions. The research was conducted to the Semester 3 students

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Bupati Bantul tentang Pemberian Uang Stimulan Pelunasan Pajak Bumi dan

Dalam penampungan semen menggunakan metode Elektroejakulator Persiapan yang dilakukan kurang lebih sama seperti persiapan yang dilakukan ketika melakukan metode Massase

Pengujian Hipotesis Proses Internalisasi Nilai Pada Saat Pre Test dan Post Test Di Kelas Eksperimen ... Pengujian Hipotesis Proses Internalisasi Nilai Pada Saat Pre Test dan

Adapun tujuan dari sesi 8 adalah: Bersama-sama mengakhiri sesi intervensi yang telah disepakati; Mengetahui kondisi konseli setelah menerima intervensi konseling realitas untuk

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Studi Pendidikan Sosiologi. © Jaka Fathin Ammar 2015 Universitas

I Ketut Winarta Pembina

Bintang Lima Citra Cemerlang tersedia Dokumen V-Legal untuk produk yang wajib dilengkapi dengan Dokumen V-Legal, dan telah sesuai dengan dokumen PEB dan dokumen