• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI COVID-19 (STUDI KASUS: SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 19 PESAWARAN)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DINAMIKA IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI COVID-19 (STUDI KASUS: SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 19 PESAWARAN)"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL

PENELITIAN DOSEN PEMULA UNIVERSITAS LAMPUNG

DINAMIKA IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI COVID-19 (STUDI KASUS: SEKOLAH MENENGAH

PERTAMA NEGERI 19 PESAWARAN)

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS LAMPUNG 2021

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... ii

RINGKASAN... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Target dan Luaran Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1 Implementasi Kebijakan ... 9

2.2 Peta Jalan ( Road Map) Penelitian ... 11

BAB III METODE PENELITIAN ... 13

3.1 Lokasi Penelitian ... 13

3.2 Teknik Pengumpulan Data ... 13

3.3 Tahapan Penelitian ... 13

BAB IV RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN ... 17

4.1 Rencana Anggaran Biaya ... 17

4.2 Jadwal Penelitian ... 17

4.3 REFERENSI ... 18

(3)

RINGKASAN

Wabah COVID-19 yang muncul diseluruh aktivitas manusia dibatasi, termasuk kegiatan pembelajaran baik di jenjang sekolah dasar sampai jenjang perkuliahan mulai menerapkan kegiatan belajar dari rumah. Hal ini dilakukan guna membatasi penyebaran virus yang masif. Kebijakan belajar dari rumah mulai diterapkan pada tanggal 9 Maret 2020 setelah menteri pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan surat edaran nomor 2 tahun 2020 dan nomor 3 tahun 2020 tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19).

Namun kenyataan di lapangan banyak sekolah-sekolah yang belum bisa menjalankan kebijakan ini secara maksimal. Di SMP Negeri 19 Pesawaran sudah menerapkan system dalam jaringan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar, namun nyatanya belum bisa mengatasi keefektifan belajar mengajar guru dan siswa. Penelitian ini menggunakan Teori Implementasi Kebijakan dengan menggunakan metode kualitatif. Dengan melakukan pengumpulan data di SMP Negeri 19 Pesawaran. Penelitian ini direncanakan dapat diselesaikan dalam tempo 6 bulan dengan tahapan-tahapan yang dimulai dari merumuskan instrumen penelitian, memvalidasinya, mengujinya di lapangan, menganalisis data, menulis laporan akhir, dan menulis artikel jurnal dan prosiding.

Luaran penelitian ini ditargetkan dapat menghasilkan satu artikel jurnal yang siap untuk disubmit ke JKAP (Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik) (Terindeks Sinta 2) dan diharapkan dapat diterbitkan pada Vol. 25 No. 1, Mei 2021. Disamping itu, penelitian ini juga dipersiapkan untuk dapat menghasilkan satu artikel prosiding yang siap untuk dipresentasikan pada pertemuan ilmiah LPPM Universitas Lampung.

Kata kunci: COVID-19, Kebijakan Pendidikan, Pembelajaran Daring

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Proses pembelajaran secara daring dinilai sebagai tantangan baru di dalam era revolusi industri 4.0, apalagi di tengah pandemi seperti sekarang ini. Pada pertengahan bulan November 2019 virus Corona atau virus baru ini muncul di negara China, bertetapan di daerah Wuhan. Virus Corona telah menyebar luas keseluruh penjuru dunia dari negara satu ke negara lainnya (Pandemi). Virus ini menyebar dengan pesat lewat penyebaran dari manusia yang terjangkit ke manusia lainnya dengan penyebaran lewat udara sehingga virus ini mudah menyebar dan mudah masuk ketubuh manusia. Di negara Indonesia sendiri Virus Corona awal mula munculnya pada pertengahan bulan Februari 2020 di daerah Depok dengan diketahui 2 orang perempuan yang terinfeksi virus tersebut setelah malakukan kontak dengan seorang warga negara Jepang yang berdomisili di Malaysia yang sebelumnya sempat bertemu di Indonesia.

Dengan adanya virus Corona, negara Indonesia sendiri sangat sulit dalam menangani virus ini, walaupun pemerintah Indonesia sudah menangani kasus Corona dengan secara maksimal, baik dari segi kesehatan dan dari segi kebijakan (social distencing), agar supaya virus Corona tidak menyebar luas di Indonesia. Akan tetapi ketika kita melihat dari data di atas kasus yang terpapar virus Corona semakin hari semakin bertambah sehingga agak sulit untuk segera menghilangkan virus ini. Ketika virus Corona semakin hari semakin bertambah kasusnya maka bisa kita lihat dampaknya di bidang ekonomi, sosial, politik, dan bahkan di bidang pendidikan.

Dampak dari virus corona di bidang pendidikan sangat negatif, karena masyarakat indonesia khususnya pelajar (siswa/siswi) dari tingkat TK, SD, SMP, SMA bahkan Perkuliahan dipaksa untuk belajar di rumah atau sering disebut secara daring.

SMP Negeri 19 Pesawaran, Lampung salah satu sekolah yang menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar menggunakan secara daring. Menurut Kepala Sekolah SMP Negeri 19 Pesawaran , Dra. Uniroh, salah satu alasan paling mendasar yang mengemuka adalah keterbatasan ekonomi sekolah dan orang tua siswa sehingga sekolah tidak bisa menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring secara optimal. Data di Tabel 1 menunjukan tingkat penghasilan Wali murid SMPN 19 Pesawaran. Pihak sekolah bukan tidak berusaha untuk meningkatkan kemampuan para guru untuk beradaptasi dengan pembelajaran daring, pelatihan-pelatihan tentang media pembelajaran daring sudah dilakukan, namun tidak menunjukan hasil yang maksimal.

(5)

Tabel 1. Jumlah Siswa Berdasarkan Penghasilan Orang Tua/Wali

Penghasilan L P Total

Tidak di isi 8 4 12

Kurang dari Rp. 500,000 44 49 93

Rp. 500,000 - Rp. 999,999 159 163 322 Rp. 1,000,000 - Rp. 1,999,999 49 76 125 Rp. 2,000,000 - Rp. 4,999,999 17 19 36 Rp. 5,000,000 - Rp. 20,000,000 0 0 0

Lebih dari Rp. 20,000,000 0 0 0

Total 277 311 588

Sumber: Data SMPN 19 Pesawaran, 2020

Jika dilihat dari data diatas mayoritas penghasilan orang tua siswa berada dikisaran Rp.

500.000,- sampai Rp. 999.999,-.

1.2. Rumusan Masalah

Pertanyaan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana Implementasi kebijakan pendidikan pada masa pandemi Covid-19 di SMP Negeri 19 Pesawaran?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 di SMP Negeri 19 Pesawaran.

1.4. Target dan Luaran Penelitian

Mengingat isu dan topik yang diangkat oleh penelitian ini yang termasuk hangat dan up to date, maka luaran penelitian ini ditargetkan menghasilkan manuskrip yang akan disubmit pada JKAP (Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik) (Terindeks Sinta 2) dan diproyeksikan terbit pada JAKP Volume 25 No. 1, Mei 2021. Penelitian ini juga ditargetkan menghasilkan 1 artikel prosiding yang dipresentasikan pada pertemuan ilmiah yang diselenggarakan oleh LPPM Universitas Lampung. Berikut ini adalah ringkasan luaran yang ingin dicapai oleh penelitian ini.

(6)

Tabel 2 Luaran Penelitian

No Jurnal/Prosiding Rencana Judul Artikel Target 1 JKAP (Jurnal Kebijakan

dan Administrasi Publik) (Sinta 2)

Education In Pandemic Era Published Vol. 25

No. 1, Mei 2021

2 Prosiding pertemuan ilmiah LPPM

Universitas Lampung

Education In Pandemic Era Published Desember

2021

(7)

BAB II

TINJUAN PUSTAKA 2.1. Implementasi Kebijakan

Implementasi merupakan bagian dari fase dalam kebijakan publik yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan dalam suatu kebijakan. Lebih jauh Lester dan Stewart dalam Winarno (2002: 102) Implementasi kebijakan merupakan alat administrasi hukum dimana actor, organisasi, prosedur, dan teknik yang bekerja bersama- sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan yang diinginkan.

Implementasi kebijakan menjadi salah satu tahapan yang cukup penting. Dalam tahap ini, kebijakan yang telah diformulasikan akan diaplikasikan oleh mesin administratif pemeritahan sehingga akan banyak variabel, baik yang bersifat individual maupun kelompok atau institusi, yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan.

Implementasi dari suatu program kebijakan akan melibatkan upaya-upaya dari policy makers dalam mempengaruhi perilaku birokrat pelaksana. James Anderson pun menyebutkan bahwa dalam kebijakan publik terdapat beberapa kelompok yang mempunyai akses lebih daripada yang lain. Kebijakan publik dalam waktu kapan pun akan merefleksikan kepentingan orang yang dominan. Dalam pembuatan kebijakan tersebut, baik secara ekonomi atau politik, policy makers tersebut akan didorong oleh pilihan-pilihan, dan kemudian akan mencari cara untuk memaksimalkan keuntungan yang akan mereka dapatkan.

Keberhasilan implementasi kebijakan juga akan ditentukan oleh banyak variabel dimana masing-masing variabel tersebut saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Variabel ini lah yang kemudian akan membuat kebijakan apakah sudah berjalan sesuai dengan kebijakan yang di formulasikan apa tidak dan akan diketahui pula kelebihan atau kelemahan dari kebijakan tersebut yang akan dijadikan sebagai bahan evaluasi kebijakan untuk kemudian kembali lagi pada proses atau tahapan awal kebijakan tersebut. Menurut George C. Edward III, terdapat empat variabel yang akan mempengaruhi implementasi kebijakan, yakni :1) Komunikasi; 2) Sumber Daya; 3) Disposisi; dan 4) Struktur Birokrasi.

1) Komunikasi

Keberhasilan implementasi kebijakan mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan sasaran harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran (target group) sehingga akan mengurangu distorsi implementasi. Apabila tujuan dan sasaran kebijakan tidak jelas atau bahkan tidak diketahui oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi resistensi dari

(8)

kelompok sasaran. Sosialisasi program kebijakan menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberitahukan tujuan dan manfaat dari adanya suatu program kebijakan tersebut yang dapat dilakukan melalui berbagai media.

2) Sumber Daya

Walaupun isi kebijakan sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila implementor kekurangan sumber daya untuk melaksanakan, maka implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, yakni kompetensi implementor, dan sumber daya financial. Sumber daya adalah faktor penting untuk implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumber daya, kebijakan hanya akan menjadi sebuah dokumen yang tertulis di kertas.

3) Disposisi

Disposisi merupakan watak dan karakteristik yang dimiliki oleh implementor, seperti komitmen, kejujuran, dan sifat demokratis. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik, maka dia akan menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implementor memiliki sikap atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif.

4) Struktur Birokrasi

Struktur organisasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Salah satu dari aspek struktur yang penting dari setiap organisasi adalah adanya prosedur operasi yang standar (SOP).

SOP ini menjadi pedoman bagi setiap implementor dalam bertindak. Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan yang menimbulkan red-tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks. Ini pada gilirannya menyebabkan aktivitas organisasi tidak fleksibel.

Pendapat yang dikemukakan oleh Edward III melahirkan teori baru yang memandang perlu adanya pemerintahan bottom up untuk menentukan keberhasilan sebuah kebijakan. Implementasi dengan pendekatan bottom up muncul sebagai kritik terhadap model pendekatan rasional (top down). Empat bidang perhatian yang dikemukakan oleh Edward III belum bisa diartikan sebagai hal-hal yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam suatu kebijakan. Dalam suatu kebijakan faktor-faktor

(9)

eksternal menjadi salah satu yang sangat penting dalam implementasi kebijakan. Dalam hal ini Parsons (2006) mengemukakan bahwa yang benar-benar penting dalam implementasi adalah hubungan antara pembuat kebijakan dengan pelaksana kebijakan.

Model bottom up adalah model yang memandang proses sebagai sebuah negoisasi dan pembentukan consensus. Model pendekatan bottom up menekankan kepada fakta bahwa implementasi di lapangan masih memberikan keleluasaan dalam penerapan kebijakan.

Ahli kebijakan yang lebih memfokuskan model implementasi kebijakan dalam perspektif bottom up adalah Adam Smith. Menurut Smith (1973) dalam Islamy (2001), implementasi kebijakan dipandang sebagai suatu proses atau alur. Model Smith ini memandang proses implementasi kebijakan dari proses kebijakan yang dibuat oleh pemerintah bertujuan untuk mengadakan perbaikan atau perubahan dalam masyarakat sebagai kelompok sasaran. Prosedur-prosedur rutin lewat saluran birokrasi, melainkan lebih jauh lagi dari itu, implementasi kebijakan menyangkut masalah politik, keputusan dan siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan.

Sementara itu, Daniel Mazmanian dan Paul A.Sabatier (1983) mengembangkan model implementasi kebijakan publik menjadi tiga kelompok variable yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan, yaitu karakteristik masalah (Trackability of the problem), karakteristik kebijakan (Ability of statute of structure implementation), dan lingkungan kebijakan (Non Statutory Variables Affecting Implementation) (Subarsono, 2005, hal 94). Model Mazmanian dan Sabatier disebut model Kerangka Analisis.

(10)

2.2. Peta Jalan (Road Map) Penelitian

Gambar. 1 Road Map Penilitian

Implementasi Kebijakan

Kebijakan pendidikan Kebijakan Masa

Pandemi

Pemerintah

Guru dan Siswa

(11)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 19 Pesawaran, Lampung. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan post-positivist.

Pendekatan ini memandang realitas tidak bisa ditangkap secara utuh, melainkan hanya bisa diperkirakan. Pendekatan post- positivist digunakan untuk mencapai sebuah pemahaman yang mendalam dan menyeluruh dan melihat ilmu sosial sebagai suatu metode yang terorganisir untuk mengkombinasikan logika deduktif dengan pengamatan empiris guna secara probabilistic menemukan atau memperoleh konfirmasi meng.enai hukum sebab akibat yang dapat dipergunakan untuk memprediksi pola-pola umum suatu gejala sosial tertentu. Dalam pendekatan ini, peneliti tidak terlihat, netral, dan obyektif ketika mengukur berbagai aspek dalam kehidupan sosial, meneliti berbagai bukti dan mengulang suatu penelitian lain.

Pendekatan penelitian post-positivist ini digunakan oleh peneliti karena peneliti menggunakan teori sebagai guidance dalam menguji Implementasi Kebijakan Pendidikan Di masa pandemi Covid-19

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan diinginkan. Dalam melakukan penelitian deskriptif kualitatif ini, sumber data dari instrument penelitian akan peneliti peroleh dengan cara Purposive sampling. Teknik ini peneliti pilih berdasarkan beberapa informasi yang diperoleh dari beberapa media sehingga peneliti dapat mempertimbangkan kriteria-kriteria tertentu yang telah dibuat terhadap obyek atau sample yang sesuai dengan tujuan penelitian. Selain itu, teknik penarikan sample ini peneliti pilih dengan harapan peneliti dapat memperoleh informasi lebih lanjut dari

(12)

orang yang terlibat dalam kebijakan dan dapat memberikan keterangan dan memahami masalah yang akan diteliti di lapangan.

Adapun teknik pengumpulan data yang akan peneliti lakukan adalah sebagai berikut:

1) Wawancara Mendalam (in-depth interview)

Wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil menatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial informan.

Teknik pengumpulan data dengan wawancara dipilih dalam penelitian ini karena selain peneliti dapat bertatap muka langsung dengan informan, wawancara juga akan membantu peneliti dalam memperoleh data secara lisan langsung dari objek yang mengalami ataupun terlibat langsung maupun tidak langsung

2) Studi Dokumentasi

Studi dokumenter merupakan salah satu teknik pengumpulan data dengan menelusuri data historis mengenai objek penelitian. Data ini dapat diperoleh dari dokumen pemerintah maupun swasta, data di website, maupun dari literatur-literatur lainnya yang berkaitan dengan implementasi kebijakan.

(13)

3.3. Tahapan Penelitian

Gambar 2. Tahapan Penelitian

Sumber: Diolah Oleh Peneliti Wawancara

Mendalam

Studi

dokumentasi Observasi

Penyajian Data

Analisis Data

Penarikan Kesimpulan

(14)

BAB IV

RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

4.1 Rencana Anggaran Biaya

Ringkasan biaya penelitian dosen pemula yang diajukan ke LPPM Universitas Lampung adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1 Usulan Anggaran dan Biaya Penelitian

No Jenis Pengeluaran Biaya yang Diusulkan (Rp) 1. Pengadaan alat dan bahan penelitian Rp. 7.688.000,00 2. Biaya perjalanan penelitian Rp. 3.382.000,00 3. Alat tulis kantor/bahan habis pakai Rp. 2.430.000,00 4. Laporan/Diseminasi/Publikasi Rp. 1.500.000,00

Jumlah Rp. 15.000.000,00

4.2 Jadwal Penelitian

Penelitian ini direncanakan dirampungkan dalam jangka waktu 8 bulan efektif, dengan skema rencana jadwal penelitian sebagai berikut :

Tabel 4.2 Rencana dan Jadwal Penelitian

No Kegiatan Waktu

April Mei Juni Juli Agustus September 1 Persiapan instrumen

penelitian

2 Uji coba instrumen penelitian

3 Pengumpulan data 4 Pengolahan data 5 Pengusunan laporan

akhir

6 Penyusunan artikel jurnal dan prosiding 7. Submit artikel jurnal dan

prosiding

(15)

DAFTAR PUSTAKA

A Nation Online, 2002 : How Americans Are Expanding Their Use of the Internet. USA : U. S Departement of Commerce.

Acilar, Ali. 2011 : Exploring the Aspects of Digital divide in a Developing Country. Bilecik University, Turkey.

Burhan, Bingin. 2005 : Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta : Prenada Media Grup.

Dewan, S and Riggins, F. J, 2005 : The Digital Divide : Current and Future Research Directions. xxx : Journal of the Association for Information Systems.

Fuchs, C dan Horak, Eva. 2007 : Informational Capitalism and Digital Divide in Africa.

Masaryk University : Journal of Law and Technology.

Hall, Bronwyn H dan Khan, Beethika. 2002 : Adoption New Technology. California : New Economy Handbook.

Kadiman, Kusmayanto. 2006 : Penelitian Pengembangan dan Penerapan Ilmu

Pengetahuan dan Teknologi Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi 2005 – 2025. Jakarta : Kementrian Negara Riset dan Teknologi.

Keniston, Kenneth dan Kumar, Depak. 2003 : The Four Digital Divide. New Delhi : Sage Publisher.

Kim, Yong Jin. 2003 : A Theory of Digital Divide : Who Gains and Loses from Technology Changes ?. xxx : Journal of Economic Development.

Nahon, Karine Barzilai, 2006 : GAPS AND BITS: CONCEPTUALIZING MEASUREMENTS FOR DIGITAL DIVIDE/S. Washington : The Information Society.

Nusantara, Toto. 2010 : Peran Teknologi Informasi dalam Pendidikan. Malang : Universitas Negeri Malang.

Nusantara, Toto. 2010 : Peran TI dalam Pembelajaran. Solo : Seminar Nasional Universitas Sebelas Maret Solo.

Prensky, Mark, 2001 : Digital Natives, Digital Immigrants. xxx : University Press. Rahman, Arief dan Quaddus, Muhammed. 2012 : Qualitative Investigation of Digital Divide in Indonesia (Toward to Comprehensive Framework). Geelong : Curtin Graduate

School of Business.

(16)

Rallis – Helen Morgan, 2009 : Digital Natives and Digital Immigrants : Exploring the Intergenerational Digital Divide. xxx : UMD.

Robinson, Les. 2009 : A Summary of Diffusion of Innovations. xxx : Enabling Change Rogers, Everett M; Singhal, Arvind; dan Quinlan, Margaret M. xxx : Diffusion of

Innovation. New York : Routledge.

Sahin, Ismail. 2006 : Detailed Review of Rogers’ Diffusion of Innovations Theory and Educational Technology – Related Studies Based on Rogers’ Theory. Iowa : Iowa Stated University – TOJET (The Turkish Online Journal of

Educational Technology).

Selhofer, Hannes dan Husing, Tobias. The Digital Divide Index – A Measure of Social Inequalities in the Adaption of ICT. Bonn :

Singarimbun, Masri. 1989 : Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3S.

Subagyo, Joko. 1991 : Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek.

Jakarta : PT Trineka Cipta.

Sugiyono. 2008 : Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D.

Bandung : Alfabeta.

Gambar

Tabel 1. Jumlah Siswa Berdasarkan Penghasilan  Orang Tua/Wali  Penghasilan  L  P  Total  Tidak di isi  8  4  12  Kurang dari Rp
Tabel 2 Luaran Penelitian
Gambar 2. Tahapan Penelitian
Tabel 4.2 Rencana dan Jadwal Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Perlu adanya kebijakan baru yang direkomendasikan dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada masa pandemi COVID-19 dalam rangka meningkatkan efektivitas pembelajaran sekolah

Penelitian yang berjudul “Implementasi Pembelajaran Daring Tingkat Sekolah Menengah Pertama dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 19 di Kecamatan Indralaya

Berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penelitian terhadap 34 responden yang mengalami Morning Sickness sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang

Berdasarkan hasil analisis hasil penelitian tentang Implementasi Kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di SMAN 6 Kota Bandung pada Masa Pandemi Covid 19, dapat

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal merupakan proses penyampaian informasi, pikiran

(ii) Pendaftar Pusat Operasi e-Lelong hendaklah dalam tempoh empat belas (14) hari daripada tarikh penerimaan perakuan bertulis penerimaan baki harga belian

Ada beberapa Regulasi yang menjadi Acuan dan Yang dikeluarkan Oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan dalam pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh atau Belajar Dari

Sesuai dengan Prinsip Kebijakan Pendidikan di Masa Pandemi COVID-19 yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, Kementerian Agama,