UJI KUALITAS FISIK TABLET EFFERVESCENT EKSTRAK KENTAL BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus)
DENGAN PERBANDINGAN PVP SEBAGAI BAHAN PENGIKAT (BINDER)
JURNAL
Disusun oleh : DIYAH NOVITA SARI
F.004.016.003
PROGRAM STUDI DIPLOMA III FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
(STIKES) DUTA GAMA KLATEN 2019
ii
UJI KUALITAS FISIK TABLET EFFERVESCENT EKSTRAK KENTAL BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) DENGAN PERBANDINGAN PVP
SEBAGAI BAHAN PENGIKAT (binder) Diyah Novita Sari1), M. Nur Khamid2), Mitta Aninjaya3)
INTISARI
Latar Belakang : Buah naga merupakan salah satu buah yang melimpah di Indonesia yang memiliki banyak manfaat. Akan tetapi masyarakat kurang mengetahui cara pemanfaatannya selain dikonsumsi secara langsung. Tablet effervescent salah satu jenis tablet yang penyajiannya mudah dan menarik. Hal itu dikarenakan ketika tablet dilarutkan dalam air akan terjadi reakasi asam dan basa yang akan membetuk buih. Salah satu bahan yang mempengaruhi kelarutan tablet effervescent adalah bahan pengikat. PVP merupakan salah satu pengikat tablet yang memiliki sifat alir baik, sudut diam minimum dan daya kompaktibilitas baik.
Tujuan : Mengetahui kualitas fisik tablet effervescent dengan perbandingan PVP 0,5%, 0,75% dan 1% sebagai bahan pengikat. Mengetahui berapa kadar PVP yang mempengaruhi sifat fisik tablet effervescent.
Metode : Penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang menggunakan desain postted dengan kelompok kontrol (Postted Only Control Group Design). Tablet effervescent dibuat dengan metode granulasi basah.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan tablet effervescent yang dihasilkan memenuhi syarat tablet effervescent yang baik.
Kesimpulan : sifat fisik yang dihasilkan dengan konsentrasi bahan pengikat 0,5%, 0,75%, 1%. Sifat fisik yang memenuhi syarat yaitu keseragaman bobot, keseragaman ukuran, dan waktu larut. Kadar bahan pengikat PVP 1% menghasilkan tablet yang lebih baik daripada penambahan kadar PVP 0,5% dan 0,75%.
Kata Kunci : Tablet Effervescent, PVP, Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus)
1Mahasiswa Stikes Duta Gama Klaten
2Pembimbing I
3Pembimbing II
iii
THE PHYSICAL QUALITY TEST OF EFFERVESCENT TABLETS OF THICK RED DRAGON FRUIT (Hylocereus polyrhizus) EXCTRACT WITH A
COMPARISON OF PVP AS BINDER MATERIAL Diyah Novita Sari1), M. Nur Khamid2), Mitta Aninjaya3)
ABSTRACT
Background: Dragon fruit is one of the abundant fruits in Indonesia which has many benefits. However, people do not know how to use it other than directly consumed.
Effervescent tablets are one type of tablet that is easy and attractive. That is because when a tablet is dissolved in water there will be a reaction of acids and bases that will form foam. One of the ingredients that affect the solubility of effervescent tablets is a binder.
PVP is one of the tablet binders which has good flow properties, minimum stationary angle and good compactibility.
Objective: To determine the physical quality of effervescent tablets with a ratio of 0.5%, 0.75% and 1% as a binder. Knowing how much PVP levels affect the physical properties of effervescent tablets.
Method: This study is an experimental research that uses Postted Only Control Group Design. Effervescent tablets are made by wet granulation method.
Results: The results showed that the effervescent tablets produced met the requirements of good effervescent tablets.
Conclusion: physical properties produced with a concentration of binder 0.5%, 0.75%, 1%. Physical properties that meet the requirements are weight uniformity, size uniformity and dissolution time. The level of 1% PVP binder produced tablets which were better than the addition of 0.5% and 0.75% PVP levels.
Key Word: Effervescent Tablets, PVP, Red Dragon Fruit (Hylocereus polyrhizus)
1Student of Stikes Duta Gama Klaten
2Supervisor I
3Supervisor II
1 PENDAHULUAN
Buah naga merupakan salah satu jenis buah yang melimpah di Indonesia. Saat ini, produksi buah naga terus meningkat tiap tahunnya.
Pada tahun 2012, di wilayah Banyuwangi produksi buah naga merah sebesar 12.936 ton, lalu meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi 42.349 ton pada tahun 2017.
(Liputan6.com).
Melimpahnya buah naga dikarenakan ketidaktahuan masyarakat akan kandungan gizi, manfaat dan cara mengonsumsi buah naga selain dimakan secara langsung. Buah naga mengandung banyak vitamin C, beta karoten, kalsium dan serat yang berfungsi untuk menurunkan kolesterol, penyeimbang guka darah, dan mencegah hipertensi (Hermanto, dkk., 2013). Banyaknya khasiat yang dihasilkan oleh buah naga,
maka perlu diupayakan pembuatan sediaan yang menarik dalam penggunaannya dan mudah dalam penyajian, salah satunya dibuat dalam bentuk tablet effervescent.
Selain meminimalisir jumlah buah naga yang melimpah juga dapat digunakan sebagai pengembangan sediaan tablet di bidang farmasi.
Tablet effervescent merupakan salah satu jenis tablet yang sukar di temui di pasaran.
Penyajian tablet effervescent mudah dan menarik, hal itu disebabkan adanya reaksi (dalam air) asam dan basa yang menghasilkan karbondioksida dalam bentuk buih (Lee,2005). Dalam pembuatan tablet effervescent terdapat berbagai macam bahan tambahan salah satunya adalah bahan pengikat.
PVP (Polivinil pirolidon) merupakan salah satu bahan pengikat
2 yang sering digunakan dalam pembuatan tablet. Granul dengan pengikat PVP memiliki sifat alir yang baik, sudut diam minimum, menghasilkan fines lebih sedikit dan daya kompaktibilitasnya lebih baik (Andreson,1986).
Metode pembuatan tablet effervescent kurang lebih sama dengan metode pembuatan tablet jenis lainnya yaitu dengan metode cetak langsung dan metode granulasi.
Berdasarkan latar belakang tersebut sangat diperlukan penelitian dengan judul Uji Kualitas Fisik Tablet Effervescent Ekstrak Kental Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Dengan Perbandingan PVP Sebagai Bahan Pengikat (binder).
METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan yaitu rancangan posttest
dengan kelompok kontrol (Posttest Only Control Group Design).
Rancangan ini digunakan untuk mengukur pengaruh perlakuan pada kelompok eksperimen dengan cara membandingkan kelompok dengan kontrol, tetapi tidak memungkinkan untuk menentukan seberapa besar perubahan terjadi karena pretest tidak dilakukan untuk menentukan data awal (Notoadmodjo, 2010).
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah naga merah yang diperoleh dengan membeli di Pasar Kartasura Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.
Alat yang digunakan adalah : Timbangan analitik, pisau, blender, wadah kaca, kain flanel, kompor, panci gerabah, mesin tablet single punch (Korsch Ek-1), ayakan mesh 14 dan 16, oven, nampan
3 alumunium, alat-alat gelas, oven, mortir dan stanper, hardnesstester (uji kekerasan), friabilator (uji kerapuhan), disintegrator tester (uji waktu hancur), stopwatch, corong uji sifat alir dan sudut diam.
Cara kerja :
1. Preparasi Bahan
Pembuatan ekstrak kental buah naga merah dilakukan dengan cara 1kg buah naga dipisahkan dari kulitnya. Buah naga yang telah dipisahkan dari kulitnya kemudian di potong seukuran dadu. Buah naga yang telah dipotong kemudian dihaluskan dengan cara diblender. Setelah dihaluskan didapatkan sari buah naga dengan volume 250 ml kemudian dilakukan proses penyaringan sari buah naga dengan menggunakan alat
penyaring. Setelah dilakukan proses penyaringan kemudian sari buah naga diuapkan dengan pemanasan dan pengadukan, sampai volume berkurang hingga kurang lebih 50 persen dari volume awal (separuhnya) yaitu 125 ml.
2. Pembuatan Tablet Effervescent
Pembuatan tablet
Effervescent dengan perbandingan kadar bahan pengikat PVP sebesar 0,5%, 0,75% dan 1%. Pembuatan formulasi I, III dan III dibuat dengan cara yang sama.
a. Formulasi Tablet
Tablet effervescent ekstrak kental buah naga merah dibuat dengan 3 formulasi yang berbeda dengan variasi kadar bahan
4 pengikat sebesar 0,5%, 0,75%, 1%. Tablet effervescent ekstrak kental buah naga merah dibuat dengan berat tiap tabletnya 4,6 mg.
Tabel 1 formulasi
b. Granulasi
Tablet effefvescent ekstrak kental buah naga merah dibuat dengan metode granulasi. Granul dibuat secara terpisah antara granul
asam dan granul
basa.Tahapan pembuatan
tablet effervescent ektrak kental buah naga merah dengan variasi kadar bahan pengikat PVP 0,5% , 0,75%, 1%. Dalam formulasi 1, 2 dan 3 dibuat dengan cara yang sama yaitu sebagai berikut : 1) Granul asam
Siapkan alat dan bahan. Timbang semua bahan yang akan digunakan.
Masukkanlaktosa sebagai bahan pengisi, 690 mg asam sitrat dan 460 mg asam tartarat sebagai sumber asam,kemudian ditambahkan sebagian PVP sebagai bahan pengikat kedalam baskom lalu diaduk hingga homogen. Pengadukan dilakukan secara manual.
Bahan F1 (Mg)
F2 (Mg)
F3 (Mg) Ekstrak
kental buah naga merah
280 280 280
Asam tartat
460 460 460
Asam sitrat
690 690 690
Na bikarbonat
1150 1150 1150 PVP (b/b) 0,5% 0,75% 1%
Aspartam 23 23 23
PEG 4000 46 46 46
Mg Stearat
46 46 46
Laktosa ad
4600 4600 4600
5 Setelah homogen basahi campuran dengan ekstrak tetes demi tetes sambil diaduk hingga membentuk masa granul. Setelah membentuk masa granul ayak granul dengan ayakan mesh no. 14. Setelah dilakukan pengayakan keringkan granul di dalam oven pada suhu 60oC selama 18 jam atau sampai menjadi granul kering.
Granul kering di ayak dengan ayakan mesh no.
16.
2) Granul basa
Granulasi basa dilakukan dengan cara 1150 mg natrium bikarbonat sebagai sumber basa dan sisa PVP sebagai
bahan pengikat
dimasukkan kedalam baskom lalu aduk sampai homogen. Basahi campuran dengan aquades tetes demi tetes sampai membentuk masa granul.
Ayak granul basah dengan ayakan mesh no. 14.
Setelah dilakukan pengayakan granul dikeringkan di dalam oven pada suhu 60oC selama 3 jam atau sampai menjadi granul kering. Granul kering diayak dengan ayakan mesh no.16.
Setelah granul selesai diayak, granul asam dan granul basa dicampurkan.
Kemudian ditambahkan 46 mg PEG 4000, 46 mg Mg stearat sebagai bahan pelicin dan 23 mg
6 aspartam sebagai pemanis. Setelah semua bahan tercampur dilakukan uji sifat fisik granul.
c. Pembuatan Tablet
Setelah dilakukan uji sifat fisik granul, tablet di cetak dengan mesin tablet korsch pada tekanan tertentu dimana berat tablet 4600 mg. Tablet yang dihasilkan diuji sifat fisik tablet.
3. Uji Sifat Fisik Tablet Effervescent
a. Uji Granul 1) Uji organoleptis
meliputi ukuran granul, warna, bau, bentuk yang di hasilkan.
2) Uji Sifat Alir
Masukkan Uji waktu alir dilakukan dengan cara
menimbang 100 gram granul dimasukkan kedalam corong yang bagian bawahnya tertutup. Pada saat bersamaan tutup dibuka dan stopwatch dihitung
3) Uji Sudut Diam
Uji sudut diam dilakukan dengan cara menimbang 100 gram granul dan masukkan dalam corong yang pada bagian bawahnya tertutup.
Tutup dibuka dan biarkan granul mengalir seluruhnya.
Lalu ukur diameter dasar granul dan tinggi kerucut yang terbentuk dengan penggaris.
b. Uji Sifat Fisik Tablet 1) Uji organoleptis
meliputi ukuran granul, warna, bau, bentuk yang di hasilkan.
7 2) Keseragaman Ukuran
Mengukur 10 tablet dengan menggunakan jangka sorong.
3) Uji Keseragaman Bobot Uji keseragaman bobot dilakukan dengan cara menimimbang 10 tablet dan dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-
masing bobotnya
menyimpang dari bobot rata- rata kolom A, dan tidak ada satu tablet yang bobotnya menyimpang dari bobot rata- rata lebih dari harga kolom B. Jika 20 tablet tidak mencukupi, gunakan 10 tablet .
4) Uji Waktu Larut
Satu persatu tablet sebanyak 5 tablet, dimasukkan ke
dalam gelas berisi air dan dihitung waktu yang diperlukan tablet untuk melarut sempurna.
5) Uji Kekerasan Tablet
Uji kekerasan tablet dilakukan dengan cara tablet diambil sebanyak 10 tablet, lalu dimasukkan satu per satu ke dalam alat hardness tester dan alat dinyatakan, jarum petunjuk takaran akan bergerak sesuai tekanan yang diberikan tablet. Saat tablet pecah atau retak jarum akan berhenti pada suatu angka.
6) Uji Keregasan
Uji keregasan tablet dilakukan dengan cara 10 tablet di bersihkan dari debu, kemudian timbang (W1 gram). Masukkan tablet
8 kedalam alat friability tester untuk diuji. Putar alat tersebut selama 4 menit.
7) Uji pH
Uji pH tablet dilakukan dengan cara melarutkan tablet dalam 200 ml aquadest, kemudian masukkan kertas Ph dalam larutan tersebut. Cocokkan dengan pH meter.
HASIL PENELITIAN 1. Determinasi Tanaman
Berdasarkan hasil derterminasi yang dilakukan di Laboratorium Universitas Muhammadiyah Surakarta kunci determinasi sampel tumbuhan adalah sebagai berikut:
1036b,... Familia : Cactaceae
1a, 2b, 4b, 6a,... Genus : Hylocereus
Species : Hylocereus polyrhizus
2. Uji Sifat Fisik
a. Uji Organoleptis Ekstrak
Tabel 3 hasil uji organoleptis granul
Karakterstik Ekstrak Kental
Buah Naga
Hasil Pengamatan
Bentuk Kental
Warna Merah tua
Bau Khas buah naga
b. Uji Sifat Fisik Granul 1) Uji Organoleptis
Tabel 3 hasil uji organoleptis granul
Formulasi Bentuk Warna Rasa I Serbuk Putih
keunguan
Asam II Serbuk Putih
keunguan
Asam III Serbuk Putih
keunguan
Asam
2) Uji Waktu Alir
Tabel 4 uji waktu alir granul
Formulasi Waktu alir granul gram/detik
I 4,5
II 9,7
III 10
9 3) Uji Sudut Diam
Tabel 5 Uji Sudut diam
Formulasi Tinggi (h)
Diameter (d)
Sudut diam
I 4 cm 14 cm 290
II 5 cm 10 cm 450
III 4 cm 14 cm 290
c. Uji Sifat Fisik Tablet 1) Uji Organoleptis
Tabel 6 uji organoleptis
Formulasi Bentuk Warna Rasa Bau Bentuk permukaan
Cacat fisik
I Bulat,
pipih, lebar
Putih keung uan
asam Khas asam
Rata (halus)
Tidak
II Bulat, pipih, lebar
Putih keung uan
asam Khas asam
Rata (halus)
Tidak
III Bulat, pipih, lebar
Putih keung uan
asam Khas asam
Rata (halus)
Tidak
2) Uji Keseragaman Bobot, Keseragaman Ukuran, Uji Waktu Larut, Uji Kekerasan, Uji Keregasan, Uji pH
Uji FI F2 F3
keseragaman bobot
D = 25.09 T = 8.25
D = 25.17 T = 7.19
D = 25.18 T = 6.43
Keseragaman ukuran
4,64 4,39 4,52
Uji Ph 5 5 5
Kekerasan 2,15 2,60 3,76
Kergasan 3% 2% 0,6%
Waktu Larut 28
detik 30 detik
55 detik
Nb : D = Diameter T = Tebal
PEMBAHASAN
1. Determinasi Tanaman Buah Naga (Hylocereus polyrhizus)
Hasil determinasi yang dilakukan menyatakan bahwa sampel tanaman yang diuji sudah sesuai dengan deskripsi tanaman buah naga yang terdapat pada sumber literatur. Klasifikasi tanamannya yaitu divisi spermathophyta, kelas dicotyledoneae, famili cactaceae, genus Hylocereus dan spesies Hylocereus polyrhizus.
2. Pembuatan Ekstrak Kental Buah Naga
Pembuatan ekstrak kental buah naga dilakkan dengan cara
10 penguapan diatas kompor dengan api kecil. Wadah yang digunakan yaitu wadah yang terbuat dari tanah liat agar saat proses pengentalan ekstrak kental buah naga tidak gosong. Sebelum proses pengentalan di lakukan, buah naga di kupas terlebih dahulu lalu di potong dadu untuk
mempermudah dalam
penghalusan bahan. Buah naga yang sudah di potong dadu kemudian di blender tanpa ada penambahan air, karena buah naga mengandung kadar air tinggi sekitar 90 % dari berat buah (Syukur, Muda, 2015). Buah naga memiliki biji yang melimpah sehingga setelah proses pemblenderan sari buah naga di saring terlebih dahulu. Pada pembuatan ekstrak kental buah naga ini peneliti menggunakan
alat penyaring biasa sehingga masih ada biji yang tidak tersaring. Sari buah naga diukur lalu diuapkan diatas kompor dengan api kecil sampai mengental atau sampai volume berkurang 50%.
3. Pembuatan Tablet Effervescent.
Formulasi tablet effervescent ini terdiri dari beberapa komposisi yaitu asam sitrat dan asam tartarat sebagai sumber asam. Na bikarbonat sebagai sumber basa.
PVP sebagai pengikat (binder) aspartam sebagai pemanis. PEG 4000 dan Mg strearat sebagai bahan pelicin atau lubrikan dan laktosa sebagai bahan pengisi.
Penggunaan kombinasi antara asam sitrat dan asam tartarat karena jika hanya menggunakan asam tunggal saja akan menimbulkan kesukaran (Ansel,
11 1989). Na Bikarbonat merupakan bagian terbesar sumber karbonat dengan kelarutan yang sangat baik didalam air dan tidak higroskopis (Ansel, 1989). Na Bikarbonat juga menunjukkan efek menstabilkan.
Karena mampu menyerap
kelembapan sehingga
meminimalisisr reaksi effervescent sebelum dilarutkan (Lieberman, 1989).
PVP merupakan pengikat paling efektif untuk tablet effervescent karena PVP sebagai bahan pengikat menghasilkan granul dengan daya kompresi yang baik. Menghasilkan tablet yang kuat dan cepat larut (Mohrle, 1980). Penambahan aspartam dimaksudkan untuk menambah rasa manis pada tablet effervescent. WHO telah menetapkan asupan harian yang
dapat diterima untuk aspartam maksimal hingga 40 mg / kg berat badan (Rowe, 2006).
Kemudian ditambahkan PEG 4000 dan Mg Stearat sebagai bahan pelicin.
4. Sifat Fisik Granul
Dari data hasil uji waktu alir pada tabel 4.5, didapatkan hasil Kecepatan aliran granul semua formula berada di bawah 10 gram/detik. Hal ini dapat diartikan bahwa granul cenderung mengalir lambat, sehingga memerlukan penanganan yang khusus ketika granul akan dikempa. Hal tersebut terjadi karena bahan pembuat granul efervesen yang cenderung higroskopis, sehingga ketika pengujian, granul menjadi tidak stabil bila waktu pengujiannya terlalu lama (Asiani, dkk., 2012).
12 Sedangkan untuk hasil uji sudut diam menurut data hasil uji sudut diam pada tabel 4.6, didapatkan hasil yaitu semua formula granul memiliki sudut diam pada rentang 30-40°. Dapat disimpulkan bahwa granul memiliki sifat aliran sedang (Sulaeman, 2007). Hal ini berarti granul ketika dikempa menjadi tablet, diperkirakan akan menghasilkan tablet dengan kualitas sedang, karena sifat granul menggambarkan kualitas tablet tersebut sebelum dikempa atau dicetak.
5. Uji Sifat Fisik Tablet
Uji sifat fisik tablet meliputi uji keseragaman ukuran, uji keseragaman bobot, uji kekerasan tablet, uji waktu larut, uji keregasan dan uji pH. Uji Keseragaman Ukuran didapatkan
hasil tablet dari formulasi I, II dan III relatif konstan karena menggunakan punch yang sama.
Akan tetapi meiliki ketebalan yang berbeda antara formulasi I, II, dan III. Ukuran tablet mempunyai diameter 25mm dan tebalnya 8 mm untuk formulasi I, 7 mm untuk formulasi II dan 6 mm untuk formulasi III.
Berdasarkan departemen kesehatan RI (1995) ukuran tablet yang baik tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet. Tablet yang dihasilkan dari penelitian ini memenuhi syarat yang telah ditentukan Farmakope Indonesia. Uji Keseragaman Bobot di dapatkan hasil penyimpangan bobot rata – ratanya tidak lebih dari 5%
sehingga semua tablet memenuhi persyaratan pengujian tablet.
13 Peningkatan kadar PVP tidak mempengaruhi bobot tablet yang dihasilkan. Keseragaman bobot tablet dipengaruhi oleh konsistensi mesin kempa tablet (Asiani,dkk., 2012). Uji Kekerasan Tablet berpengaruh pada ketahanan terhadap guncangan mekanik saat pembuatan, pengepakan dan pengangkutan (Lachman, 1986).
Berdasarkan tabel kekerasan terdapat kekerasan yang berbeda di setiap formula. Menurut Penelitian (Asiani,dkk., 2012) peningkatan kadar PVP akan meningkatkan kekerasan tablet.
Hal ini dikarenakan peningkatan kadar PVP akan meningkatkan ikatan antara senyawa dalam tablet, sehingga tablet semakin keras apabila semakin tinggi kadar PVP (Ansel, 1989). Ketiga
formulasi memiliki kekerasan dibawah rentang 4 – 10 kg, dan hanya tablet formula 3 yang tingkat friabilitasnya memenuhi syarat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hanya formulasi III yang memenuhi pengujian kekerasan tablet. Uji Keregasan Tablet Tablet dikatakan baik apabila kerapuhannya tidak lebih dari 0,8% (Syamsuni, 2015). Pada hasil uji keregasan menyatakan bahwa tablet formulasi I dan II tidak memenuhi syarat keregasan tablet, karena tablet yang dihasilkan memiliki kergasan lebih dari 0,8%. Sedangkan tablet formulasi III memenuhi syarat keregasan tablet karena tablet yang dihasilkan memiliki kergasan kurang dari 0,8%.
Menurut penelitian (Asiani,dkk.,
14 2012) kadar PVP menurunkan keregasan tablet. Hal ini dikarenakan semakin tinggi kadar PVP dalam tablet, maka semakin keras tablet, tingkat kerapuhannya semakin kecil, dan nilai keregasannya semakin kecil.
Faktor lain yang mempengaruhi nilai keregasan tablet adalah suhu dan kelembapan ruangan karena tablet effervescent mudah terurai dalam suhu dan kelembapan yang tinggi. Uji Waktu Larut tablet mendapatkan hasil formulasi I lebih cepat larut dari tablet formulasi II dan tablet formulasi II lebih cepat larut dari tablet formulasi III. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kadar PVP dalam tablet, maka semakin lama tablet melarut. Hal tersebut dikarenakan PVP sebagai bahan pengikat
mempengaruhi nilai kekerasan tablet. Semakin tinggi kadar PVP, semakin keras tablet maka semakin lama waktu larutnya.
Syarat waktu larut tablet effervescent adalah dapat larut kurang dari 2 menit (Mohrle, 1989). Kesimpulannya formulasi I, II dan III masih memenuhi syarat waktu larut tablet effervescent.
Hasil akhir dari sediaan tablet effervescent adalah berupa larutan yang berwarna merah muda, masih terdapat biji buah naga karena pada proses penyaringan tidak menggunakan alat saring yang tepat, dan adanya busa diatas permukaan larutan dikarenakan adanya reaksi asam sitrat dan natrium bikarbonat dengan perbanding natrium bikarbonat yang lebih banyak. Yang terakhir
15 adalah uji pH. Nilai pH larutan effervescent adalah 7 kerena terjadi reaksi penggaraman yang optimal pada perbandingan nilai asam dan basa yang sesuai (Lestari, P.M.,dkk, 2014). Uji pH larutan effervescent menghasilkan nilai 5 yang bersifat asam. Hal tersebut kemungkinan karena dalam penelitian ini menggunakan 2 sumber asam memiliki tingkat keasaman yang kuat, sehingga terjadi kelebihan mol asam yang tidak bereaksi dengan sejumlah basa yang tersedia. pH yang sedikit asam menambah rasa segar pada sediaan tablet effervescent.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
Perbandingan PVP mempengaruhi sifat alir dan sudut diam granul semakin banyak konsentrasi PVP semakin baik sifat alir dan sudut diam.
1. Ketiga formula tablet memenuhi syarat keseragaman bobot, keseragaman ukuran dan waktu larut tablet effervescent.
2. Tablet formula I dan II tidak tidak memenuhi syarat kekekerasan dan keregasan tablet. Hanya tablet formula III yang memenuhi.
3. Dari ketiga formula tablet effervescent formula terbaik adalah formula III dengan konsentrasi 1%.
SARAN
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat
16 tanaman buah naga secara farmakologi.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang bahan tambahan tablet effervescent lain yang dapat mempengaruhi waktu larut tablet.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang tablet effervescent dengan perbandingan sumber asam dan basa yang seimbang sehingga waktu larut tablet baik.
4. Pelu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang bahan tambahan tablet effervescent yang dapat mempengaruhi sifat organoleptis dari tablet tersebut, sehingga dapat memperbaiki tampilan tablet.
KETERBATASAN PENELITIAN Pada penelitian uji kualitas fisik tablet effervescent ekstrak kental
buah naga merah (Hylocereus polyrhizus)dengan perbandingan PVP sebagai bahan pengikat (binder) yang diteliti terbatas pada proses pengempaan dan pengujian tablet yang tidak langsung dilakukan karena terkendala jadwal laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H. C, 2005, Pengantar Bentuk
Sediaan Farmasi,
diterjemahkan oleh Ibrahim, F, Edisi IV, Jakarta, UI Press.
Asiani, W.T., 2012, Formulasi Tablet Effervescent dari Ekstrak Etanol Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus Sabdariffa L.), Yogyakarta:
Fakultas Kedokteran dan Ilmu – Ilmu Kesehatan, Universitas Jendral Soedirman
Banker, S.G., and Anderson, R.N., 1986, Tablet In Lachman, L.
Lieberman, The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 3 rd ed., Lea and Febiger, Philadelphia
Hermanto,C, Indriani, N.L.P, Hadiati,S, Keragaman dan Kekayaan Buah Tropika
17 Nosantara,2013, Jakarta, IAARD Press.
Https://Www.Liputan6.Com/Bisnis/
Read/3877266/Petani-Buah- Naga-Banyuwangi-Dapat- Kontrak-Pembelian-150- Ton?Source=Search (Diakses 01/01/2019)
Lachman L., H. Liebermen, and J.
Kanig, L., 1989, Teori dan Praktek Farmasi Industri, Terjemahan: Siti Suyatmi, Jilid II Edisi 3, UI Press:
Jakarta
Lee, R.E, 2005, Effervescent Tablets, Copyright CSS Publishing, Tablet and Capsules.
Lestari, P.M., 2014, Formulasi dan Evaluasi Fisik Granul Effervescent Sari Buah Naga (Hylocereus undatus), Journal Ilmiah, Farmasains, Vol 2. No. 4, Jakarta:
Fakultas Farmasi dan Sains, UHAMKA.
Lieberman, H.A, Lachman,L, Schwartz, J.B, 1989, Pharmaceutical Dosage Forms : Tablets Vol.1, Marcle Dekker, INC. New York.
Mohrle R., 1989, Effervescent Tablets, In Lieberman, H.A., Lachman, L., and Schwartz,
J.B. (editors),
Pharmaceutical Dosage Forms Tablets, Vol. I, 2th Ed, Marcel Dekker Inc, New York
Notoatmodjo, S., 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta.
Rowe R.C., Sheskey P.J. and Owen S.C., 2006, Handbook of Pharmaceutical Excipient, Fifth Edit., Pharmaceutical Press, Washington, USA.
Syamsuni, 2005, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Syukur, Muda, W.2015. Mengenal Buah Naga. Jambi. Balai Pelatihan Pertanian Jambi.
Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.