• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memo Direktur LAPORAN KINERJA (LKJ) TRIWULAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Memo Direktur LAPORAN KINERJA (LKJ) TRIWULAN"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

Memo Direktur

(2)

Cover

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan ridho -Nya, Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Dit. P4K) Triwulan I 2021 dapat diselesaikan.

Maksud penyusunan LAKIP Dit. P4K Tahun 2021 adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban Direktur Pendayagunan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil atas pengelolaan anggaran dan pelaksanaan program/kegiatan dalam rangka mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan. LAKIP ini bertujuan untuk menginformasikan capaian kinerja Dit. P4K Triwulan I 2021 dimana capaian kinerja (performance results) tahun 2021 dibandingkan dengan penetapan kinerja (performance plan) tahun 2021 sebagai tolak ukur keberhasilan organisasi.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dan terlibat dalam penyusunan laporan ini. Berbagai masukan dan saran terbuka untuk perbaikan di masa yang akan dating.

Jakarta, April 2021

Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Muhammad Yusuf, S.Hut, M.Si

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

BAB I. PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Maksud dan Tujuan ... 2

C. Rencana Strategis Tahun 2020 – 2024... 3

D. Tugas dan Fungsi Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil... 4

1. Koordinator Restorasi... 6

2. Koordinator Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (MBAPI) ... 6

3. Koordinator Masyarakat Hukum Adat... 7

4. Koordinator Pulau-Pulau Kecil dan Terluar ... 9

5. Sub Koordinator Tata Usaha ... 10

BAB II. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN DIREKTORAT P4K TRIWULAN PERTAMA TAHUN 2021 ...12

2.1. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil/Terluar yang Dibangun Sarana Prasarananya ... 13

2.2. Pulau-Pulau Kecil/Terluar yang Memiliki Sertipikat Hak Atas Tanah (HAT) dan/atau Difasilitasi Pemanfaatannya (pulau) ... 17

2.3. Masyarakat Hukum Adat di Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang Terfasilitasi Dalam Rangka Perlindungan dan Penguatan (Kumulatif) (Komunitas) ... 25

2.4. Masyarakat Tradisional dan Lokal di Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang Terfasilitasi Dalam Rangka Perlindungan (Kumulatif) (Komunitas) ... 38

2.5. Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang Meningkat Ketangguhannya Terhadap Bencana dan Dampak Perubahan Iklim (Kawasan) ... 40

2.6. Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang Direhabilitasi (Kawasan) ... 55

2.7. Kawasan Mangrove di Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang Direhabilitasi Seluas 400 Hektar (Kawasan) ... 56

2.8. Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang Dilakukan Penanggulangan Pencemaran ... 58

2.9. Tingkat Kemandirian Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Kab. Kepulauan Morotai (Skala 1-5) ... 61

2.10. Tingkat Efektivitas Pelaksanaan Kegiatan Bantuan Pemerintah Direktorat PPPPK (%) ... 69

2.11. Indeks Profesionalitas ASN Direktorat PPPK (Indeks) ... 69

2.12. Nilai Rekonsiliasi Kinerja Direktorat PPPK (Nilai) ... 70

2.13. Persentase Unit Kerja Direktorat PPPK yang Menerapkan Sistem Manajemen Pengetahuan yang Terstandar ... 70

2.14. Persentase Rekomendasi Hasil Pengawasan Lingkup Direktorat PPPK yang Dokumen Tindak Lanjutnya Telah Dilengkapi dan Disampaikan (%) ... 71

2.15. Nilai IKPA Direktorat PPPPK (Nilai)... 72

(5)

2.16. Nilai Kinerja Anggaran Direktorat PPPPK (Nilai) ... 72

2.17. Persentase Penyelesaian Temuan LH BPK Direktorat PPPPK (%) ... 73

BAB III REALISASI ANGGARAN ...74

BAB IV PENUTUP ...76

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Target dan Realisasi Indikator Kinerja... 12

Tabel 2. Target dan Realisasi Jumlah pesisir dan pulau-pulau kecil ... 14

Tabel 3. Realisasi Keuangan Kegiatan IKU 01 s/d 31 Maret 2021 ... 16

Tabel 4.Target dan Realisasi Jumlah pulau kecil/terluar ... 18

Tabel 5. Sertipikat HAT yang Telah Terbit di PPK/T... 20

Tabel 6. Realisasi Keuangan Kegiatan IKU 02 s/d 31 Maret 2021 ... 25

Tabel 7. Realisasi Keuangan Kegiatan IKU 3 s.d. 31 Maret 2021 ... 37

Tabel 8. Realisasi Keuangan Kegiatan IKU 04 s/d 31 Maret 2021 ... 39

Tabel 9. Peta Jalan (Roadmap) PKPT ... 48

Tabel 10. Realisasi Kegiatan IKU 05 s/d 31 Maret 2021 ... 54

Tabel 11. Realisasi Keuangan Kegiatan IKU 06 s.d 31 Maret 2021 ... 56

Tabel 12. Realisasi Keuangan Kegiatan IKU 07 s.d 31 Maret 2021 ... 58

Tabel 13. Realisasi Keuangan Kegiatan IKU 08 s.d 31 Maret 2021 ... 60

Tabel 14. Kategori penilaian Morotai ... 61

Tabel 15. Penilaian status level pengelolaan SKPT Morotai ... 62

Tabel 16. Data Produksi Perikanan Tangkap s/d November 2020 ... 65

Tabel 17. Realisasi Keuangan Kegiatan IKU 09 s.d. 31 Maret 2021 ... 68

Tabel 18. Capaian Manajemen Pengetahuan Dit. P4K ... 71

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur Organisasi Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil ... 11

Gambar 2. Proses perencanaan dermaga... 15

Gambar 3. Tahapan proses pensertipikatan PPK/T ... 19

Gambar 4. Capaian proses pensertipikatan PPK/T ... 19

Gambar 5. Kegiatan Sertipikasi di Aceh dan Rote Ndao... 23

Gambar 6. Koordinasi awal identifkasi dan pemetaan MHA di Kota Ambon... 27

Gambar 7. Identifkasi dan pemetaan MHA di Kab. Buton Selatan... 28

Gambar 8. Identifkasi dan pemetaan MHA di Kab. Kep. Aru ... 29

Gambar 9. Diseminasi hasil identifikasi dan pemetaan MHA di Kab. SBT... 31

Gambar 10. Diseminasi hasil identifikasi dan pemetaan MHA di Kab. Buru Selatan ... 32

Gambar 11. Inventarisasi Potensi Sumberdaya KP di Kab. Wakatobi ... 34

Gambar 12. Inventarisasi Potensi Sumberdaya KP di Kab. Buton ... 35

Gambar 13. Kegiatan Rona Awal Penanaman Vegetasi Kab. Tasikmalaya ... 43

Gambar 14. Kegiatan Rona Awal Penanaman Pesisir Kab. Pesisir Selatan ... 45

Gambar 15. Lokasi Pelaksanaan PKPT Tahun 2021 di Kecamatan Jerowaru, ... 46

Gambar 16. Lokasi Pelaksanaan PKPT Tahun 2021 di Kecamatan Rarowatu Utara... 46

Gambar 17. Fokus Intervensi PKPT ... 48

Gambar 18. Reviu RPKP PKPT Kab. Bombana dan Kab. Lombok Timur ... 49

Gambar 19. Pelaksanaan Bimtek SPI... 51

Gambar 20. Lokasi Penyadaran Masyarakat ... 52

Gambar 21. Kegiatan Penyadartahuan Mitigasi Bencana ... 53

Gambar 22. Verifikasi Lapangan Lokasi Penanaman Mangrove di 22 lokasi ... 57

Gambar 23. Survei lokasi calon TPS di Nusapenida, Kab. Klungkung, Bali... 59

Gambar 24. Survei lokasi calon TPS di Tanjung Batu, Kab. Berau ... 59

Gambar 25. Survei lokasi calon TPS di Tanjung Harapan, Kab. Nunukan ... 60

Gambar 26. Siteplan Pembangunan SKPT Morotai... 61

Gambar 27. Capaian SKPT TA 2017 ... 62

Gambar 28. Capaian SKPT TA 2018 ... 62

Gambar 29. Capaian SKPT TA 2019 ... 62

Gambar 30. Capaian SKPT TA 2020 ... 62

Gambar 31. Rapat SKPT dan Survei Perbaikan Talut ... 67

(8)

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut, ke arah darat mencakup wilayah administrasi kecamatan dan ke arah laut sejauh 12 mil laut diukur dari garis pantai.

Disamping terkandung sumberdaya alam non hayati tak terbaharui, energi dan jasa lingkungan, yang tidak kalah pentingnya lagi adalah kandungan sumberdaya dapat diperbaharui (renewable resources) yang merupakan kekayaan keanekaragaman hayati laut Indonesia seperti ikan, udang, moluska, kerang mutiara, kepiting, rumput laut, mangrove, karang, lamun, penyu dan biota lainnya.

Disamping itu, Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Pulau-pulau kecil tersebut tersebar dan terisolasi dengan kondisi sarana dan prasarana yang kurang memadai. Berdasarkan hasil toponimi dan verifikasi oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupa Bumi, Indonesia memiliki kurang lebih 16.671 pulau yang telah bernama dan telah didepositkan ke PBB, yang sebagian besar merupakan pulau-pulau kecil serta 111 pulau diantaranya adalah pulau-pulau kecil terluar.

Pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki potensi sumberdaya alam yang dapat didayagunakan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi karena memiliki sumberdaya hayati tinggi, dan jasa lingkungan. Pengelolaan pulau-pulau kecil memerlukan koordinasi lintas sektor, terutama dari para pemangku kepentingan (stakeholders) yang meliputi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat baik secara horizontal (antar sektor) maupun keterpaduan secara vertikal (dalam satu sektor).

Isu dan permasalahan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil antara lain: abrasi wilayah pesisir, deforestasi mangrove, kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang rusak dan tidak terkelola dengan baik, pencemaran wilayah pesisir dan laut , ketertinggalan perekonomian terutama di pulau-pulau terdepan; perubahan iklim yang berakibat pada penurunan populasi ikan dan punahnya beberapa spesies perikanan serta isu bencana di wilayah pesisir seperti rob, gelombang pasang, tsunami dan lain- lain.

Isu dan permasalahan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sebagaimana disampaikan sebelumnya, pemanfaatan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil secara optimal dan berkesinambungan dapat terwujud apabila pengelolaannya dilakukan secara terpadu dengan menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, sesuai dengan tugas dan fungsinya, secara bertahap melakukan upaya pengelolaan terhadap:

(9)

1. Pulau-Pulau Kecil Terluar;

2. Restorasi kawasan pesisir;

3. Pengembangan strategi mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim;

4. Masyarakat hukum adat.

Untuk mewujudkan pendayagunaan pesisir dan pulau-pulau kecil yang efektif dan efisien diperlukan adanya manajemen kinerja yang di dalamnya meliputi aspek perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pengukuran dan evaluasi hasil pelaksanaan kegiatan. Sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 29 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil - Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) sebagai instansi pemerintah dan unsur penyelenggara negara diwajibkan menetapkan target kinerja serta melakukan pengukuran kinerja.

Pengukuran kinerja Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tahun 2021 dilakukan melalui mekanisme pengukuran kinerja periode tahunan yang bertujuan untuk penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIP) tahun 2021.

B. Maksud dan Tujuan

Maksud penyusunan Laporan Akuntabiltas Kinerja (LAKIP) Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tahun 2021 adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut serta Menteri Kelautan dan Perikanan atas pengelolaan anggaran dan pelaksanaan program/kegiatan dalam rangka mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan. Pelaporan Akuntabilitas Kinerja ini juga dimaksudkan sebagai media untuk mengomunikasikan pencapaian kinerja pendayagunaan pesisir dan pulau-pulau kecil selama satu tahun anggaran kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya.

Laporan Akuntabiltas Kinerja Direktorat Pendayagunaan Pesisir Tahun 2016 disusun berdasarkan dasar hukum sebagai berikut:

a. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5);

b. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4616);

c. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;

d. Peraturan Presiden Nomor 165 Tahun 2014 tentang Penataan Tugas dan Fungsi Kabinet Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 339);

e. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.

(10)

f. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 68/PERMEN-KP/2017 tentang Pedoman Pengelolaan Kinerja Organisasi di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Laporan Akuntabiltas Kinerja ini bertujuan menginformasikan capaian kinerja Direktorat P4K selama triwulan pertama Tahun 2020. Capaian Kinerja (Performance Results) Direktorat P4K triwulan pertama tahun 2020 tersebut dibandingkan dengan Penetapan Kinerja (Performance Plan) Direktorat Pendayagunaan Pesisir Tahun 2020 sebagai tolak ukur keberhasilan tahunan organisasi.

C. Rencana Strategis Tahun 2020 – 2024

Visi Presiden dan Wakil Presiden tahun 2020-2024 adalah Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong.

Sebagai organisasi yang membantu Presiden untuk urusan kelautan dan perikanan, maka visi KKP tahun 2020-2024 ditetapkan untuk mendukung terwujudnya Visi Presiden dan Wakil Presiden.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17/Permen-KP/2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2020-2024 disusun untuk mewujudkan visi dan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sesuai permen tersebut Visi KKP adalah Terwujudnya Masyarakat Kelautan dan Perikanan yang Sejahtera dan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan yang Berkelanjutan untuk mewujudkan Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong.

Mengacu pada tugas, fungsi, dan wewenang yang telah dimandatkan dalam peraturan perundang-undangan kepada KKP dan untuk melaksanakan misi Presiden dan Wakil Presiden dalam RPJMN 2020-2024, KKP terutama melaksanakan empat dari sembilan misi Presiden dan Wakil Presiden dengan uraian sebagai berikut:

1. Peningkatan Kualitas Manusia Indonesia melalui Peningkatan Daya Saing Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan dan Pengembangan Inovasi dan Riset Kelautan dan Perikanan;

2. Struktur Ekonomi yang Produktif, Mandiri, dan Berdaya Saing melalui Peningkat an Kontribusi Ekonomi Sektor Kelautan dan Perikanan terhadap Perekonomian Nasional;

3. Mencapai Lingkungan Hidup yang Berkelanjutan melalui Peningkatan Kelestarian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan; dan

4. Pengelolaan Pemerintahan yang Bersih, Efektif, dan Terpercaya melalui Peningkatan Tata Kelola Pemerintahan di KKP.

Di dalam Renstra KKP 2020-2024, Menteri Kelautan dan Perikanan memberikan arahan kebijakan yang terkait Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut yaitu melalui strategi pengelolaan wilayah laut, pesisir dan pulau-pulau kecil, dengan sasaran yaitu:

(i) Peningkatan pengelolaan wilayah pesisir berkelanjutan melalui upaya mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim;

(11)

(ii) Perbaikan dan peningkatan kualitas eksosistem pesisir yang rusak melalui kegiatan rehabilitasi di WP3K,

(iii) Pengelolaan ekosistem kelautan dan pemanfaatan jasa kelautan secara berkelanjutan;

(iv) Penanganan pencemaran laut dan sampah plastik;

(v) Peningkatan manajemen dan pemanfaatan kawasan konservasi perairan secara berkelanjutan, rehabilitasi mangrove dan terumbu karang;

(vi) Peningkatan pengelolaan keanekaragaman hayati perairan yang dilindungi, dilestarikan dan/atau dimanfaatkan;

(vii) Penguatan Jejaring, Kemitraan / Kerjasama, dan peran KKP dalam konvensi konservasi keanekaragaman hayati laut;

(viii) Peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil/ terluar;

(ix) Peningkatan produksi dan usaha garam nasional, ekstensifikasi dan intensifikasi lahan garam, dan peningkatan kualitas garam;

(x) Pembangunan sarana prasarana di kawasan wisata bahari;

(xi) Peningkatan jasa kelautan yang dikelola untuk pengembangan ekonomi;

(xii) Pengakuan dan Penguatan Masyarakat Hukum Adat, Lokal dan Tradisional di Pesisir dan Pulau-pulau Kecil;

(xiii) Pengelolaan biofarmakologi dan peningkatan pemanfaatan marine bioproduct dan bioteknologi, pengembangan rendah karbon pesisir dan laut;

(xiv) Penguatan Sistem Perizinan Pemanfaatan Ruang Laut;

(xv) Penyelesaian perencanaan ruang laut meliputi rencana zonasi Kawasan Laut dan Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil, Rencana Aksi dan Peninjauan Kembali serta penyelarasannya dengan Rencana Tata Ruang;

(xvi) Akselerasi pengendalian pemanfaatan ruang laut dan PPK serta perairan di sekitarnya antara lain melalui pelaksanaan perizinan lokasi perairan dan penyelenggaraan kadaster lauti;

(xvii) Pengembangan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT); dan (xviii) Peningkatan UPT Pengelolaan Ruang Laut.

Untuk itu, pendayagunaan pesisir dan pulau-pulau kecil tahun 2020-2024 akan menjabarkan agenda pembangunan nasional, arahan-arahan Presiden dan arahan Menteri Kelautan dan Perikanan serta strategi dan sasaran pengelolaan wilayah laut, pesisir dan pulau-pulau kecil Ditjen Pengelolaan Ruang Laut tersebut ke dalam program dan kegiatan Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

D. Tugas dan Fungsi Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil

Sebagai salah satu unit teknis eselon II pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL), Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Dit.

PPPPK) melakukan berbagai kegiatan yang mendukung pencapaian visi dan misi KKP dan sasaran Ditjen PRL.

(12)

Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil memiliki tugas dan fungsi terkait dengan pendayagunaan pulau-pulau kecil. Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: 48/PERMEN-KP/2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang pengelolaan pesisir terpadu, rehabilitasi, mitigasi bencana, adaptasi perubahan iklim dan penguatan masyarakat hukum adat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta pengelolaan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau kecil terluar.

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas, maka Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menyelenggarakan fungsi:

a. penyiapan perumusan kebijakan di bidang rehabilitasi, penanggulangan pencemaran laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil, mitigasi bencana, adaptasi perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, penguatan masyarakat hukum adat, pengelolaan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau kecil terluar, serta kajian teknis rekomendasi pemanfaatan pulau-pulau kecil;

b. penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang rehabilitasi, penanggulangan pencemaran laut, pesisir, dan pulaupulau kecil, mitigasi bencana, adaptasi perubahan iklim wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, penguatan masyarakat hukum adat, pengelolaan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau kecil terluar, serta kajian teknis rekomendasi pemanfaatan pulau-pulau kecil;

c. penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang rehabilitasi, penanggulangan pencemaran laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil, mitigasi bencana, adaptasi perubahan iklim wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, penguatan masyarakat hukum adat, pengelolaan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau kecil terluar;

d. penyiapan bahan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang rehabilitasi, penanggulangan pencemaran laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil, mitigasi bencana, adaptasi perubahan iklim wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, penguatan masyarakat hukum adat, pengelolaan pulau-pulau kecil, serta kajian teknis rekomendasi pemanfaatan pulau-pulau kecil;

e. penyiapan pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang rehabilitasi, penanggulangan pencemaran laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil, mitigasi bencana, adaptasi perubahan iklim wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, penguatan masyarakat hukum adat, pengelolaan pulaupulau kecil dan pulau-pulau kecil terluar, serta kajian teknis rekomendasi pemanfaatan pulau-pulau kecil; dan f. pelaksanaan urusan ketatausahaan.

g. Penjabaran tugas dan fungsi masing-masing Koordinator dan Subkoordinator lingkup Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil diuraikan sebagai berikut:

(13)

1. Koordinator Restorasi

Koordinator Restorasi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang rehabilitasi kerusakan ekosistem, dan penanggulangan pencemaran wilayah laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil.

Fungsi Koordinator Restorasi sebagai berikut:

a. penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang rehabilitasi kerusakan ekosistem, dan penanggulangan pencemaran wilayah laut, pesisir dan pulau-pulau kecil;

b. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang rehabilitasi kerusakan ekosistem, dan penanggulangan pencemaran wilayah laut, pesisir, pulau-pulau kecil;

c. penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang rehabilitasi kerusakan ekosistem, dan penanggulangan pencemaran wilayah laut, pesisir, pulau-pulau kecil;

d. penyiapan bahan pemberian bimbingan teknis di bidang rehabilitasi kerusakan ekosistem, dan penanggulangan pencemaran wilayah laut, pesisir, dan pulau- pulau kecil; dan

e. penyiapan pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang rehabilitasi kerusakan ekosistem dan penanggulangan pencemaran wilayah laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil.

Koordinator Restorasi terdiri atas:

a. Sub Koordinator Rehabilitasi; dan

b. Sub Koordinator Penanggulangan Pencemaran.

Tugas Sub Koordinator Rehabilitasi mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan rehabilitasi kerusakan ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil.

Tugas Sub Koordinator Penanggulangan Pencemaran mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang penyusunan rencana pengendalian, penyadaran masyarakat, valuasi dampak ekonomi, sosial, dan budaya akibat pencemaran, dan penanggulangan pencemaran wilayah laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil.

2. Koordinator Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (MBAPI) Koordinator Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta

(14)

evaluasi dan pelaporan di bidang mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Fungsi Koordinator Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (MBAPI) sebagai berikut:

a. penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang identifikasi potensi kerentanan dan kerawanan bencana, perencanaan, pelaksanaan, dan fasilitasi sarana dan prasarana mitigasi bencana, serta adaptasi terhadap dampak perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;

b. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang identifikasi potensi kerentanan dan kerawanan bencana, perencanaan, pelaksanaan dan fasilitasi sarana dan prasarana mitigasi bencana, serta adaptasi terhadap perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;

c. penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang identifikasi potensi kerentanan dan kerawanan bencana, perencanaan, pelaksanaan dan fasilitasi sarana dan prasarana mitigasi bencana, serta adaptasi terhadap dampak perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;

d. penyiapan bahan pemberian bimbingan teknis di bidang identifikasi potensi kerentanan dan kerawanan bencana, perencanaan, pelaksanaan dan fasilitasi sarana dan prasarana mitigasi bencana, serta adaptasi terhadap dampak perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan

e. penyiapan pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang identifikasi potensi kerentanan dan kerawanan bencana, perencanaan, pelaksanaan dan fasilitasi sarana dan prasarana mitigasi bencana, serta adaptasi terhadap dampak perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Koordinator Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (MBAPI), terdiri atas:

a. Subkoordinator Mitigasi Bencana; dan b. Subkoordinator Adaptasi Perubahan Iklim.

Subkoordinator Mitigasi Bencana mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang identifikasi potensi kerentanan dan kerawanan bencana, serta perencanaan dan pelaksanaan mitigasi bencana di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Subkoordinator Adaptasi Perubahan Iklim mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang penyadaran dan pendampingan kepada masyarakat dalam adaptasi dan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

3. Koordinator Masyarakat Hukum Adat

Koordinator Masyarakat Hukum Adat mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan

(15)

kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang penguatan masyarakat hukum adat.

Fungsi Koordinator Masyarakat Hukum Adat sebagai berikut:

a. penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang identifikasi dan pemetaan wilayah hukum dan pranata adat, fasilitasi pelembagaan, penguatan kelembagaan, fasilitasi izin lokasi dan izin pengelolaan ruang laut untuk masyarakat lokal dan tradisional, revitalisasi kearifan lokal, perlindungan masyarakat hukum adat, peningkatan peran serta dan kesadaran masyarakat terhadap hukum adat, fasilitasi sarana dan prasarana, serta pengembangan usaha ekonomi produktif bagi masyarakat hukum adat, lokal, dan tradisional;

b. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang identifikasi dan pemetaan wilayah hukum dan pranata adat, fasilitasi pelembagaan, penguatan kelembagaan, fasilitasi izin lokasi dan izin pengelolaan ruang laut untuk masyarakat lokal dan tradisional, revitalisasi kearifan lokal, perlindungan masyarakat hukum adat, peningkatan peran serta dan kesadaran masyarakat terhadap hukum adat, fasilitasi sarana dan prasarana, serta pengembangan usaha ekonomi produktif bagi masyarakat hukum adat, lokal, dan tradisional;

c. penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang identifikasi dan pemetaan wilayah hukum dan pranata adat, fasilitasi pelembagaan, penguatan kelembagaan, fasilitasi izin lokasi dan izin pengelolaan ruang laut untuk masyarakat lokal dan tradisional, revitalisasi kearifan lokal, perlindungan masyarakat hukum adat, peningkatan peran serta dan kesadaran masyarakat terhadap hukum adat, fasilitasi sarana dan prasarana, serta pengembangan usaha ekonomi produktif bagi masyarakat hukum adat, lokal, dan tradisional;

d. penyiapan bahan pemberian bimbingan teknis di bidang identifikasi dan pemetaan wilayah hukum dan pranata adat, fasilitasi pelembagaan, penguatan kelembagaan, fasilitasi izin lokasi dan izin pengelolaan ruang laut untuk masyarakat lokal dan tradisional, revitalisasi kearifan lokal, perlindungan masyarakat hukum adat, peningkatan peran serta dan kesadaran masyarakat terhadap hukum adat, fasilitasi sarana dan prasarana, serta pengembangan usaha ekonomi produktif bagi masyarakat hukum adat, lokal, dan tradisional; dan

e. penyiapan bahan pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang identifikasi dan pemetaan wilayah hukum dan pranata adat, fasilitasi pelembagaan, penguatan kelembagaan, fasilitasi izin lokasi dan izin pengelolaan ruang laut untuk masyarakat lokal dan tradisional, revitalisasi kearifan lokal, perlindungan masyarakat hukum adat, peningkatan peran serta dan kesadaran masyarakat terhadap hukum adat, fasilitasi sarana dan prasarana, serta pengembangan usaha ekonomi produktif bagi masyarakat hukum adat, lokal, dan tradisional.

Koordinator Masyarakat Hukum Adat terdiri atas:

a. Sub Koordinator Wilayah Hukum Adat; dan b. Sub Koordinator Pranata Adat.

(16)

Sub Koordinator Wilayah Hukum Adat mempunyai tugas melakukan melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang identifikasi dan pemetaan wilayah hukum adat, fasilitasi pelembagaan, penguatan kelembagaan, fasilitasi izin lokasi dan izin pengelolaan ruang laut bagi masyarakat hukum adat, lokal dan tradisional.

Sub Koordinator Pranata Adat mempunyai tugas melakukan melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang identifikasi dan pemetaan pranata adat, revitalisasi kearifan lokal, peningkatan peran serta dan kesadaran masyarakat terhadap hukum adat, fasilitasi sarana dan prasarana, serta pengembangan usaha ekonomi produktifmasyarakat hukum adat dan lokal.

4. Koordinator Pulau-Pulau Kecil dan Terluar

Koordinator Pulau-Pulau Kecil dan Terluar mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang pengelolaan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau kecil terluar.

Fungsi Koordinator Pulau-Pulau Kecil dan Terluar sebagai berikut:

a. penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang identifikasi, penyiapan data potensi, desain pengembangan, koordinasi pengelolaan, dan fasilitasi implementasi pengelolaan kawasan gugus pulau dan pulau-pulau kecil terluar, penyiapan rekomendasi pemanfaatan, rekomendasi investasi, koordinasi dan kerja sama kemitraan, dan fasilitasi sarana dan prasarana di pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya serta pulau-pulau kecil terluar;

b. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang identifikasi, penyiapan data potensi, desain pengembangan, koordinasi pengelolaan, dan fasilitasi implementasi pengelolaan kawasan gugus pulau dan pulau-pulau kecil terluar, penyiapan rekomendasi pemanfaatan, rekomendasi investasi, koordinasi dan kerja sama kemitraan, dan fasilitasi sarana dan prasarana di pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya serta pulau-pulau kecil terluar;

c. penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang identifikasi, penyiapan data potensi, desain pengembangan, koordinasi pengelolaan, dan fasilitasi implementasi pengelolaan kawasan gugus pulau dan pulau-pulau kecil terluar, penyiapan rekomendasi pemanfaatan, rekomendasi investasi, koordinasi dan kerja sama kemitraan, dan fasilitasi sarana dan prasarana di pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya serta pulau-pulau kecil terluar;

d. penyiapan bahan pemberian bimbingan teknis di bidang identifikasi, penyiapan data potensi, desain pengembangan, koordinasi pengelolaan, dan fasilitasi

(17)

implementasi pengelolaan kawasan gugus pulau dan penyiapan rekomendasi pemanfaatan, rekomendasi investasi, koordinasi dankerja sama kemitraan, dan fasilitasi sarana dan prasarana di pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya serta pulau-pulau kecil terluar; dan

e. penyiapan bahan elaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang identifikasi, penyiapan data potensi, desain pengembangan, koordinasi pengelolaan, dan fasilitasi implementasi pengelolaan kawasan gugus pulau dan pulau-pulau kecil terluar, penyiapan rekomendasi pemanfaatan, rekomendasi investasi, koordinasi dan kerja sama kemitraan, dan fasilitasi sarana dan prasarana di pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya serta pulau-pulau kecil terluar.

Koordinator Pulau-Pulau Kecil dan Terluar terdiri atas:

a. Sub Koordinator Penataan Gugus Pulau; dan b. Sub Koordinator Pemanfaatan Pulau.

Sub Koordinator Penataan Gugus Pulau mempunyai tugas penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang identifikasi, penyiapan data potensi, desain pengembangan, koordinasi pengelolaan, fasilitasi sarana dan prasarana, dan fasilitasi implementasi pengelolaan kawasan gugus pulau dan pulau-pulau kecil terluar.

Sub Koordinator Pemanfaatan Pulau mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang penyiapan rekomendasi pemanfaatan, rekomendasi investasi, fasilitasi sarana dan prasarana, koordinasi dan kerja sama kemitraan di pulau- pulau kecil dan perairan sekitarnya, serta pulau-pulau kecil terluar.

5. Sub Koordinator Tata Usaha

Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan koordinasi dan pelaksanaan penyusunan rencana, program, dan anggaran, pengelolaan kinerja, keuangan, dan barang milik negara, sumber daya manusia aparatur, organisasi dan tata laksana, kearsipan, persuratan, dan kerumahtanggaan serta evaluasi dan pelaporan lingkup direktorat.

Susunan organisasi Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil terdiri atas Kelompok Jabatan Fungsional. Struktur organisasi Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil berdasarkan Permen KP Nomor 48/PERMEN-KP/2020 sebagai berikut:

(18)

Gambar 1. Struktur Organisasi Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

(19)

BAB II. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN DIREKTORAT P4K TRIWULAN PERTAMA TAHUN 2021

Sebagai bentuk kewajiban mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan yang dibiayai melalui anggaran negara pada tahun 2021, maka Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menyusun laporan pelaksanaan kegiatan tahun 2021 periode triwulan pertama yang bertujuan untuk mengetahui capaian kinerja yang telah dilakukan.

Pengukuran capaian kinerja Direktorat P4K tahun 2021 dilakukan dengan cara membandingkan antara target (rencana) dan realisasi indikator kinerja utama pada masing-masing perspektif. Pencatatan dan pengukuran kinerja dilakukan dengan bantuan perangkat lunak berbasis balanced scorecard dari Kementerian Kelautan Perikanan. Secara rinci, capaian masing-masing sasaran strategis dan indikator kinerja utama Direktorat P4K Tahun 2021 adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Target dan Realisasi Indikator Kinerja Direktorat P4K TW-1 Tahun 2021

INDIKATOR KINERJA Target

Tahun 2021

Frekuensi Realisasi Triwulan

I

Persentase

No Uraian (%)

IKU 01 Pesisir dan Pulau-Pulau

Kecil/Terluar yang Dibangun Sarana dan Prasarananya (Pulau)

5 Tahunan 0 0

IKU 02 Pulau-Pulau Kecil/Terluar yang Memiliki Sertipikat Hak Atas Tanah (HAT) dan/atau Difasilitasi

Pemanfaatannya (Pulau)

10 Tahunan 0 0

IKU 03 Masyarakat Hukum Adat di Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang Terfasilitasi Dalam Rangka Perlindungan dan Penguatan (Komunitas)

6 Semesteran 0 0

IKU 04 Masyarakat Tradisional dan Lokal di Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang Terfasilitasi Dalam Rangka

Perlindungan (Komunitas)

2 Tahunan 0 0

IKU 05 Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang Meningkat

Ketangguhannya Terhadap Bencana dan Dampak Perubahan Iklim

8 Semesteran 0 0

IKU 06 Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang Direhabilitasi (Kawasan)

4 Tahunan 0 0

(20)

INDIKATOR KINERJA Target Tahun 2021

Frekuensi Realisasi Triwulan

I

Persentase

No Uraian (%)

IKU 07 Kawasan Mangrove di Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang Direhabilitasi Seluas 400 Hektar (Kawasan)

22 Tahunan 0 0

IKU 08 Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau

Kecil yang Dilakukan

Penanggulangan Pencemaran (Kawasan)

6 Semesteran 0 0

IKU 09 Tingkat Kemandirian SKPT Kab.

Pulau Morotai

4 Tahunan 0 0

IKU 10 Tingkat Efektivitas Pelaksanaan Kegiatan Bantuan Pemerintah Direktorat PPPPK

72,5 Tahunan 0 0

IKU 11 Indeks Profesionalitas ASN Direktorat PPPPK (Indeks)

73 Semesteran 0 0

IKU 12 Nilai Rekonsiliasi Kinerja Direktorat PPPPK (%)

91 Tahunan 0 0

IKU 13 Persentase Unit Kerja Direktorat PPPPK yang Menerapkan Sistem Manajemen Pengetahuan yang Terstandar (%)

84 Triwulanan 84 100

IKU 14 Persentase Rekomendasi Hasil Pengawasan Lingkup Direktorat PPPPK yang Dokumen Tindak Lanjutnya telah Dilengkapi dan Disampaikan

65 Triwulanan 95 146,15

IKU 15 Nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) Direktorat PPPPK (Nilai)

89 Semesteran 0 0

IKU 16 Nilai Kinerja Anggaran Dit. PPPPK (Nilai)

86 Semesteran 0 0

IKU 17 Persentase Penyelesaian Temuan LHP BPK Dit. PPPPK (%)

100 Tahunan 0 0

2.1. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil/Terluar yang Dibangun Sarana Prasarananya

Target Indikator Kinerja Utama Jumlah Pulau-Pulau Kecil yang Dibangun Sarana Prasarananya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Penghitungan dilakukan secara kumulatif dari tahun-tahun sebelumnya. Target tahun 2016 sebesar 25 pulau mengalami penambahan 6 pulau pada tahun 2017 sehingga menjadi 31 pulau. Pada tahun 2018, target tetap berjumlah 31 pulau, pada tahun 2019 target ditetapkan

(21)

sejumlah 6 pulau dan pada tahun 2020 bertambah 1 pulau. Untuk TA 2021 target yang ditetapkan berjumlah 5 Pulau.

Target yang ditetapkan untuk mengukur keberhasilan indikator kinerja pada sasaran strategis ini, serta realisasi pada tahun 2021 ini dijelaskan pada tebel tabel berikut:

Tabel 2. Target dan Realisasi Jumlah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dibangun sarana prasarananya (pulau)

No INDIKATOR KINERJA

2018 2019 2020 2021

Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi 1 Jumlah

Pesisir dan Pulau-pulau kecil yang dibangun sarana prasarananya (pulau)

31 34 6 6 1 1 5

Sumber data: Ditjen PRL, KKP

Pesisir dan Pulau-pulau kecil yang dibangun sarana prasarananya adalah wilayah pesisir dan PPK/PPKT (khususnya PPKT berpenduduk) dimana dilakukan upaya penyediaan sarana prasarana dasar berupa Dermaga Apung. Indikator Kinerja Utama merupakan IKU lanjutan tahun sebelumnya, pada tahun 2017 target sejumlah 37 pulau, tahun 2018 target yang ditetapkan 31 pulau dan tahun 2020 target yang ditetapkan awalnya berjumlah 6 pulau menjadi 1 pulau dikarenakan pandemi covid- 19 yang berakibat pada pemotongan anggaran kegiatan.

Untuk TA 2021 target yang ditetapkan berjumlah 5 lokasi yaitu Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Tojo Una Una, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Sinjai dan Kota Bima.

Teknik menghitung pencapaian IKU ini adalah dengan menginventarisasi dan menjumlahkan Pesisir dan Pulau-pulau kecil yang dibangun sarana prasarana di wilayah Pesisir dan PPK berupa pembangunan dermaga apung.

Sampai dengan Triwulan I Tahun 2021 kegiatan yang telah dilaksanakan untuk mendukung IKU ini adalah sebagai berikut:

1. Rapat Juknis Bantuan Prasarana Dermaga Apung di Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil.

2. Rapat Pembahasan hasil perencanaan dermaga apung di Kabupaten Probolinggo tanggal 8 Januari 2021.

3. Rapat pembahasan hasil perbaikan dokumen perencanaan dan persiapan survei tanggal 20 Januari 2021.

4. Rapat pelaksanaan pembangunan dermaga apung TA 2021 tanggal 26 Januari 2021.

(22)

5. Rapat persiapan survei dermaga Kab.Touna tanggal 16 Februari 2021.

6. Rapat Persiapan survey dermaga apung Kab. Sinjai tanggal 17 Februari 2021.

7. Pelaksanaan survei perencanaan dermaga apung/tambat labuh di Kabupaten Indragiri Hilir pada tanggal 16-19 Februari 2021

8. Pelaksanaan survei perencanaan dermaga apung/tambat labuh di Kabupaten Sinjai tanggal 18-23 Februari 2021.

9. Pelaksanaan survei perencanaan dermaga apung/tambat labuh di Kabupaten Tojo Una Una tanggal 24 Februari-1 Maret 2021.

10. Koordinasi dan survey HPS untuk pembangunan dermaga apung di Kab.

Probolinggo tanggal 24-27 Februari 2021

11. Pelaksanaan survei dan pemodelan hidrooseanografi di Kab. Tojo Una Una sesuai SPK No.341/SPK/PRL.3/II/2021 tanggal 11 Februari 2021.

12. Pelaksanaan survei dan pemodelan hidrooseanografi di Kab. Sinjai

13. Pelaksanaan survei dan analisis uji tanah di Kab. Indragiri Hilir sesuai SPK No.571/SPK/PRL.3/III/2021 tanggal 10 Maret 2021.

14. Pelaksanaan survei dan analisis uji tanah di Kab. Tojo Una Una sesuai SPK No.573/SPK/PRL.3/III/2021 tanggal 10 Maret 2021

15. Rapat Persiapan Tender Dermaga Apung TA 2021 Kab. Probolinggo pada tanggal 31 Maret 2021.

Gambar 2. Proses perencanaan dermaga

Dari realisasi yang ada, pelaksanaan jumlah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dibangun sarana prasarananya sampai dengan Triwulan I dapat disimpulkan sebagai berikut:

(23)

1. Target jumlah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dibangun sarana prasarananya dihitung tahunan dan sampai dengan Triwulan I masih belum dapat dinilai.

2. Realisasi kinerja serta capaian kinerja pada triwulan I tahun 2021 meningkat apabila dibandingkan realisasi kinerja serta capaian kinerja pada triwulan I tahun 2020;

3. Realisasi kinerja dibandingkan dengan standar nasional yaitu Renstra KKP Tahun 2020-2025 adalah target jumlah pulau-pulau kecil yang dibangun sarana dan prasarana masih belum dapat dinilai.

4. Permasalahan yang dihadapi selama TA 2021 adalah adanya refocusing anggaran dan terjadi pergeseran jadwal. Solusi yang dilakukan adalah berkoordinasi dengan bagian program dan melakukan koordinasi secara online.

5. Efisiensi penggunaan sumber daya dalam hal ini adalah :1) Penggunaan anggaran yaitu adanya efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan; 2) SDM. Sumber daya manusia yang melaksanakan kegiatan merupakan SDM yang memiliki kemampuan dalam bidangnya; 3) Efisiensi penggunaan mesin dan peralatan yaitu penggunan peralatan survei yang dimiliki oleh Dit. P4K. Sampai dengan Triwulan I, efisiensi penggunaan sumberdaya dilakukan melalui pemilihan tipe kegiatan dari kontraktual menjadi swakelola. Kegiatan perencanaan yang biasanya dilakukan oleh konsultan dengan melalui proses tender dapat dilakukan secara swakelola dengan melibatkan Pakar di bidangnya melalui penunjukkan konsultan individu.

6. Keberhasilan kegiatan pelaksanaan jumlah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dilaksanakan melalui perencanaan sarana prasarananya akan mendukung capaian/keberhasilan Perjanjian Kinerja Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil.

7. Realisasi anggaran pada TA 2021 sebagai berikut:

Tabel 3. Realisasi Keuangan Kegiatan IKU 01 s/d 31 Maret 2021 No. Komponen/

Sub- Komponen

Target Pagu Realisasi Persentase (%)

1. Pembangunan Infrastruktur Dasar di PPK/T

5 12.000.000.000 293.541.957 2,44

a. Pembangunan Prasarana Dermaga Apung di Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

10.501.800.000 99.968.000 0,95

b. Bansar Ekosistem Mangrove di Pesisir dan

487.100.000 19.000.000 3,90

(24)

No. Komponen/

Sub- Komponen

Target Pagu Realisasi Persentase (%)

Pulau-Pulau Kecil

c. Dukungan pembangunan infrastruktur di pulau-pulau kecil/terluar

1.011.100.000 174.573.957 17,26

Rencana kegiatan triwulan selanjutnya adalah finalisasi dokumen perencanaan pembangunan dermaga apung dan proses tender pembangunan dermaga apung/tambat labuh di 5 lokasi.

2.2. Pulau-Pulau Kecil/Terluar yang Memiliki Sertipikat Hak Atas Tanah (HAT) dan/atau Difasilitasi Pemanfaatannya (pulau)

Indikator Kinerja Utama pulau kecil/terluar yang difasilitasi pemanfaatannya memiliki target sejumlah 10 pulau kecil dengan pelaporannya bersifat tahunan. Upaya yang dilakukan untuk fasilitasi pemanfaatan pulau pulau kecil/terluar meliputi kegiatan penyusunan dokumen pra-sertipikat dan fasilitasi periijinan pemanfaatannya. IKU ini dapat dicapai dengan teknik penghitungan menginventarisasi dan menjumlahkan:

1. Pulau Kecil/Terluar yang memiliki dokumen prasertipikat HAT/Sertipikat HAT 2. Pulau Kecil/Terluar yang terfasilitasi perizinan pemanfaatannya.

Σ Pulau Kecil dan Terluar yang memiliki Dokumen Prasertipikat HAT + Σ Pulau Kecil dan Terluar yang terfasilitasi perizinan pemanfaatannya

2.2.1. Jumlah Pulau Kecil dan Terluar yang Memiliki Dokumen Prasertipikat HAT

Hak Atas Tanah (HAT) adalah hak, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 16 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- pokok Agraria, dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain serta badan-badan hukum yang meliputi hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak sewa, hak membuka tanah, hak memungut hasil hutan, hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak tersebut diatas yang akan ditetapkan dengan undang-undang serta hak-hak yang sifatnya sementara. HAT diproses dalam program penataan dan peanfaatan PPK/T berupa hak pakai atau hak pengelolaan atas nama pemerintah RI c.q Kementerian Kelautan dan Perikanan.

(25)

Tabel 4.Target dan Realisasi Jumlah pulau kecil/terluar yang difasilitasi sertifikasi Hak Atas Tanah (HAT)

No .

Indikator Kinerja

Th.2018 Th.2019

Th.2021 Th.2021 Target Realisasi Target Realisasi Targe

t

Realisas i

Targe t

Realisas i 1 Jumlah pulau

kecil/terluar yang memiliki Hak Atas Tanah (HAT) (pulau)

37 19 20 20 5 5 8

Sertipikasi hak atas tanah merupakan upaya penataan pemanfaatan PPKT yang bertujuan untuk 1) Menjaga kedaulatan Negara; 2) Melakukan tertib administrasi pertanahan di PPK/T; 3) Meningkatkan PNBP dalam rangka pemanfaatan PPK/T; 4) Mempertahankan budaya masyarakat adat dan lokal di PPK/T; dan 5) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat PPK/T. Output yang dihasilkan adalah berkas pengajuan dan/atau sertipikat Hak Atas Tanah (dokumen prasertifikat) di pulau-pulau kecil dan pulau-pulau kecil terluar dari Kantor Pertanahan/BPN. Kriteria Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT) yang akan disertipikatkan:

1. PPK Terluar yang bukan Kawasan Hutan (Hutan Lindung, Hutan Produksi, Hutan Konservasi-CA/CAL, SMG, TN/TNL, Suaka Alam, TB, KPA)

2. PPK Terluar yang belum ada pemanfaatan, penguasaan, atau Sertipikat Hak Atas Tanahnya

3. PPK Terluar Tidak Berpenduduk

4. PPK Terluar yang dikuasai Masyarakat Adat dan sebagian tanahnya dihibahkan kepada KKP untuk disertipikatkan atas nama Pemerintah RI c.q Kementerian Kelautan dan Perikanan.

5. PPK Terluar yang berbatasan/berhadapan langsung dengan negara lain (misal PPKT di Selat Malaka, Laut Natuna, atau Selat Philip/Singapura)

6. PPKT yang potensial untuk menjadi atau mendukung pengelolaan kawasan konservasi 7. PPKT dan perairan di sekitarnya yang mempunyai nilai ekonomi dan strategis.

Sedangkan mekanisme kerja penyusunan dokumen pra sertipikat adalah sebagai berikut:

1. Berkoordinasi dengan Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota-Kementerian ATR/BPN 2. Berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

3. Memetakan pulau-pulau kecil yang masuk Kawasan Hutan, Kawasan Konservasi, dan pulau kecil yang sudah ada Hak Atas Tanahnya

4. Menentukan PPKT prioritas yang akan disertipikatkan lahannya.

Lokasi sertipikasi pada TA 2021 meliputi Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Simeulue, Kabupaten Bengkulu Utara,

(26)

Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Maluku Barat Daya, Kabupaten Mamuju, Kota Pariaman, Kota Batam, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Serdang Bedagai, Kepulauan Selayar.

Gambar 3. Tahapan proses pensertipikatan PPK/T

Gambar 4. Capaian proses pensertipikatan PPK/T

Sejak dilaksanakan pada tahun 2017 sampai saat ini telah terbit sebanyak total 50 Sertipikat Hak Pakai dimana total PPKT yang sudah terbit Sertipikat sebanyak 42 PPKT dan non PPKT yang sudah terbit sertipikat sebanyak 3 lokasi.

(27)

Tabel 5. Sertipikat HAT yang Telah Terbit di PPK/T

No. Nama

Pulau Desa Kec. Kab/

Kota Prov Nomor Seri Jenis Hak

Nomor Sertipikat

Luas Tanah

(m2) 1. Pulau Berakit Berakit Teluk

Sebong Bintan Kep.

Riau AAC602179 Hak

Pakai 00004 7.700

2. Pulau Malang

Berdaun Berakit Teluk

Sebong Bintan Kep.

Riau AAC602180 Hak

Pakai 00005 1.195

3. Pulau

Batukolotok Cimanuk Cikalong Tasikmala ya

Jawa

Barat AAD296143 Hak

Pakai 00002 3.750

4. Pulau

Nusamanuk Cimanuk Cikalong Tasikmala ya

Jawa

Barat AAD296144 Hak

Pakai 00003 2.197

5. Pulau Tokong

Belayar Mubur Palmatak Kep.

Anambas Kep.

Riau BK610200 Hak

Pakai 00001 10.510

6. Pulau Tokong

Malang Biru Kiabu Siantan Selatan

Kep.

Anambas Kep.

Riau BK610208 Hak

Pakai 00001 14.270

7. Pulau Damar Mampok Jemaja Kep.

Anambas Kep.

Riau BK610209 Hak

Pakai 00004 41.200

8. Pulau Tokong

Nanas Bayat Palmatak Kep.

Anambas Kep.

Riau BK610210 Hak

Pakai 00001 12.143

9. Pulau Wunga I Afulu Afulu Nias Utara Sumut AAH938082 Hak

Pakai 00006 9.919

Pulau Wunga II Afulu Afulu Nias Utara Sumut AAH938083 Hak

Pakai 00007 3.786

Pulau Wunga

III Afulu Afulu Nias Utara Sumut AAH938084 Hak

Pakai 00008 50.300

10. Pulau Pagai

Utara Betumonga Pagai

Utara

Kep.

Mentawai Sumbar AAJ280644 Hak

Pakai 00001 14.110

11. Pulau Sebetul Air Payang Pulau

Laut Natuna Kep.

Riau AAG741655 Hak

Pakai 00099 1.918

12. Pulau Sambit Bohe Silian Maratua Berau Kaltim AAC366348 Hak

Pakai 00007 6.976

13. Pulau Sebatik Pancang Sebatik

Utara Nunukan Kalitara AAG686424 Hak

Pakai 00019 12.000

14. Pulau Salando Kapas Dako

Pemean Toli-Toli Sulteng BW666154 Hak

Pakai 00003 1.124

15. Pulau Lingayan Ogotua Dampal

Utara Toli-Toli Sulteng AAC461901 Hak

Pakai 00020 8.290

16. Pulau Jiew Gemia Patani Utara

Halmahera Tengah

Maluku

Utara BX484476 Hak

Pakai 00001 117.000

17. Pulau Intata Kakorotan Nanusa Kep.

Talaud Sulut AAD526070 Hak

Pakai 00011 83.200

18. Pulau Marampit I

Marampit

Timur Nanusa Kep.

Talaud

Sulut

AAD526071 Hak

Pakai 00002 97.400

Pulau Marampit II

Marampit

Timur Nanusa Kep.

Talaud

Sulut

AAD526072 Hak

Pakai 00003 1.768

(28)

No. Nama

Pulau Desa Kec. Kab/

Kota Prov Nomor Seri Jenis Hak

Nomor Sertipikat

Luas Tanah

(m2) 19. Pulau Rupat Tanjung

Punak

Rupat

Utara Bengkalis Riau AAL469493 Hak

Pakai 00011 17.060

20. Pulau Bengkalis Muntai Bengkalis Bengkalis Riau AAL466118 Hak

Pakai 00005 2.630

21. Pulau Batugoyang

Batu Goyang

Aru Selatan Timur

Kep. Aru Maluku AAI424040 Hak

Pakai 00002 901

22. Pulau Kultubai

Utara I Mesiang

Aru Tengah Selatan

Kep. Aru Maluku AAI424037 Hak

Pakai 00004 21.480

Pulau Kultubai

Utara II Gomogomo

Aru Tengah Selatan

Kep. Aru Maluku

AAI424038 Hak

Pakai 00001 15.040

23. Pulau Nuhu Yut Weduar Feer

Kei Besar Selatan

Maluku

Tenggara Maluku AAK907483 Hak

Pakai 00001 77.900

24. Pulau Simeulue

Cut Bubuhan Simeulue

Cut Simeulue Aceh AAC565472 Hak

Pakai 00002 11.530

25. Pulau Tokongboro

Kelarik Barat

Bunguran

Utara Natuna Kep.

Riau AAC565472 Hak

Pakai 00031 1.304

26. Pulau Sekatung Tanjung Pala

Pulau

Laut Natuna Kep.

Riau AAQ291551 Hak

Pakai 00174 4.355

27. Pulau Subi

Kecil Subi Subi Natuna Kep.

Riau AAI027432 Hak

Pakai 00091 8.964

28. Pulau Fani Reni Kep.

Ayau

Raja

Ampat Papua AAB671926 Hak

Pakai 00001 20.000

29. Pulau

Moff/Budd Runi Ayau Raja

Ampat Papua AAB671925 Hak

Pakai 00001 10.000

30. Pulau Mangkai

I Keramut Jemaja Kep.

Anambas Kep.

Riau AAG727963 Hak

Pakai 00142 400

Pulau Mangkai

II Keramut Jemaja Kep.

Anambas Kep.

Riau AAG727964 Hak

Pakai 00143 9.243

31. Pulau Selaru Fursuy Selaru Tanimbar Maluku Hak

Pakai 4.027

32. Pulau Larat Kelaan Tanimbar

Utara Tanimbar Maluku Hak

Pakai 14.460

33. Pulau Nipa Pemping Belakang Padang

Kota

Batam Kepri Hak

pakai 290.000

34. Pulau

Batarkusu Fursuy Selaru Tanimbar Maluku Hak

pakai 276

35. Pulau Rangsang

Tanjung Kedabu

Rangsang Pesisir

Kep.

Meranti Riau AAR876185 Hak

pakai 00004 8.924

Gambar

Gambar 1. Struktur  Organisasi Direktorat Pendayagunaan  Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Tabel 2. Target dan Realisasi Jumlah  pesisir dan pulau-pulau  kecil  yang dibangun  sarana prasarananya (pulau)
Tabel 3. Realisasi Keuangan  Kegiatan  IKU 01 s/d 31 Maret 2021  No.  Komponen/
Tabel 4.Target  dan Realisasi Jumlah pulau  kecil/terluar   yang difasilitasi sertifikasi Hak Atas Tanah (HAT)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian Laporan Akuntabilitas kinerja ini merupakan pertanggung jawaban pelaksanaan misi Badan Penanaman Modal Daerah dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Indragiri

Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal sebagai penyelenggara Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) melaksanakan kegiatan penyelenggaraan perizinan yang

Terkait dengan transparansi dan akuntabilitas, maka Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Hulu Sungai Selatan wajib

Pada tahun 2015, Badan Penanaman Modal Dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Boyolali Dari 5 (lima) sasaran dengan 12 (dua belas) indikator kinerja yang

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (BPMPT) merupakan bentuk pertanggung jawaban atas rencana, capaian dan realisasi

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKj IP) Badan Penanaman Modal Daerah Provinsi Jawa Tengah disusun berdasarkan kebijakan Umum Anggaran (KUA) Tahun Anggaran 2015,