• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Di era globasasi ini, penyebaran budaya berlangsung secara cepat dan semakin terlihat dengan adanya berbagai pendukung. Budaya populer adalah salah satu fenomena budaya yang dihasilkan dari adanya globalisasi (Adi, 2019, hal. 1). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, fenomena merupakan hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah. Beberapa tahun terakhir ini Korea Selatan dinilai berhasil menyebarkan produk budaya populernya ke dunia internasional. Budaya korea dapat berkembang secara pesat dan meluas serta diterima publik hingga menimbulkan fenomena demam Korean Wave.

Korean Wave merupakan sebuah istilah yang diberikan untuk menandai tersebarnya atau gelombang Korea secara global di berbagai negara dunia salah satunya Indonesia (Simbar, 2016, hal. 2)

Kemunculan K-Pop di Indonesia tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan fenomena demam Korean Wave. K-pop sendiri merupakan sebutan untuk musik pop Korea yang merupakan singkatan dari Korean Pop. K-pop menjadi salah satu bentuk budaya populer yang digunakan oleh Korea Selatan bukan sekadar dari musiknya saja melainkan juga tarian yang dilakukan dari setiap penyanyi di Korea Selatan menjadi “selling point”

tersendiri (Putri I. P., 2019, hal. 69). Tersebarnya budaya K-Pop di Indonesia terjadi secara mudah dan cepat dengan adanya akses internet dan banyaknya media sosial yang memudahkan siapapun untuk dapat mengakses informasi yang tersedia dalam berbagai bahasa. Hal inilah yang memicu girlgroup dan boygroup asal Korea Selatan dapat mudah dikenal dengan cepat oleh masyarakat termasuk Indonesia.

(2)

2

Gambar 1.1. Penyebaran Fans K-pop di Indonesia

Sumber: Infografis IDN Times (2019)

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh IDN Times, menunjukkan hasil bahwa fans atau penggemar K-pop sudah tersebar di seluruh provinsi Indonesia. Peminatnya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dengan total mencapai 76,7 persen. Namun jumlah penggemar di luar Jawapun cukup signifikan dengan jumlah total mencapai 23,2 persen (Triadanti, 2019). Kemunculan idola-idola ini menjadi pemicu menjamurnya fenomena fandom di seluruh belahan dunia salah satunya Indonesia. Fandom adalah sebuah komunitas penggemar yang didasari oleh kesamaan(homogen), hubungan antarindividu yang tidak intensif bahkan tidak kenal satu dengan yang lain. Sederhananya, ketika fans atau penggemar saling berinteraksi dan membentuk suatu komunitas , itulah dinamakan dengan fandom (Sa'adiyah, 2019, hal. 54).

(3)

3

Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan seorang K-popers (penggemar musik K-Pop.

Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh penggemar K-pop di media sosial sangat banyak seperti berinteraksi ataupun bertukar informasi untuk saling memberikan dukungan penuh bagi sang idola. Media sosial sendiri merupakan sebuah media yang berbasis online di mana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial (social network), wiki, forum dan dunia virtual. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas (Putri, Nurwati, & S., 2016, hal.50).

Gambar 1.2. Survey fans K-pop habiskan waktu di media sosial

Sumber: Dok.kumparan (2017)

Dikutip dari survey yang dilakukan oleh Kumparan, rata-rata 56 persen para penggemar K-Pop menghabiskan 1-5 jam berselancar di media sosial mereka untuk mencari tahu segala informasi yang menyangkut tentang idolanya serta sebanyak 28 persen penggemar bahkan rela menghabiskan 6 jam lebih di media sosial untuk melihat berbagai aktivitas dari idola mereka

(4)

4

(Kumparan, 2017). Kebiasan inilah yang kemudian dikenal dengan istilah fangirling/fanboying.

Fangirling/Fanboying berasal dari kata fangirl/fanboy yang memiliki arti seorang perempuan ataupun laki-laki yang memiliki ketertarikan dan kecintaan terhadap idola mereka. Fangirl sebutan untuk penggemar perempuan sedangkan fanboy sebutan untuk penggemar laki-laki. namun pada dasarnya fans ataupun penggemar adalah sama. Fangirling/Fanboying merupakan aktivitas yang dilakukan oleh seorang fanboy/fangirl) dalam mengonsumsi produk budaya ataupun idola yang digemarinya, guna memenuhi hasrat mereka sebagai seorang penggemar. Mereka memanfaatkan media sosial untuk mencari informasi mengenai idola mereka atau berkomunikasi dengan penggemar lain yang menyukai idola yang sama dengan dirinya (Liani & Rina, 2020, hal. 64). Keterlibatan kelompok penggemar K-Pop tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi suatu dorongan kebutuhan informasi yang mengacu pada perilaku penemuan informasi terhadap kegemaran tersebut seperti keaktifan menemukan informasi serta pemecahan masalah yang dihadapi pada saat penemuan informasi mengenai idola mereka.

Instagram merupakan salah satu media sosial yang populer di Indonesia. Laporan terbaru dengan judul “Digital 2021: The Latest Insights Into The State of Digital” oleh agensi marketing We Are Social dan Hootsuite menyebutkan bahwa Instagram menempati urutan ketiga sebagai media sosial terpopuler di Indonesia. Dilihat dari frekuensi penggunaan bulanan, urutan pertama media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Youtube, kemudian disusul oleh Whatsapp, dan Instagram berada di urutan ketiga. Namun apabila dilihat dari total durasi penggunaan media sosial masing-masing Whatsapp menempati urutan pertama di Indonesia dengan rata-rata penggunaan 30,8 jam per bulan, kemudian Facebook dengan 17 jam per bulan, baru kemudian di posisi ketiga Instagram dengan rata-rata penggunaan 17 jam per bulan (Stephanie, 2021).

(5)

5

Gambar 1.3. Media sosial terpopuler di Indonesia

Sumber: We Are Social (2021)

Instagram merupakan media sosial yang memungkinkan para penggunanya untuk mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikanya ke berbagai situs jejaring sosial termasuk instagram itu sendiri. Pengguna Instagram semakin meningkat karena media sosial ini mempunyai fitur yang menarik dan beragam seperti direct message, pengunggahan foto dan video melalui snapgram, instastory bahkan live video. Selain itu, para pengguna Instagram dapat mengunggah foto ataupun video kirimannya dengan menggunakan hastag (#), yang berguna untuk menampilkan spesifik unggahan foto ketika dicari dalam pencarian di aplikasi Instagram (Bernadeta, 2017, p. 95). Instagram juga merupakan salah satu media sosial yang digunakan oleh para fans K-Pop untuk melakukan kegiatan fangirling atau fanboying.

Dalam kajian teori uses and gratification mengatakan khalayak memainkan peran untuk aktif memilih serta menggunakan media. Dengan kata lain, pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik demi memenuhi kebutuhannya. Para teoretikus pendukung teori uses and gratifications menjelaskn bahwa kebutuhan manusialah yang

(6)

6

mempengaruhi cara mereka menggunakan dan merespons saluran media.

Teori ini menunjukkan bahwa masalah utama bukanlah cara media mengubah sikap dan perilaku khalayak, akan tetapi bagaimana cara media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak (Mukarom, 2021, hal.207- 208). Pada penelitian motif dan kepuasan K-popers dalam bermedia sosial Instagram ini, khalayak yang dimaksud sebagai pengguna aktif adalah komunitas NCTzen Solo.

NCTzen merupakan sebutan dari official fandom resmi atau sebutan untuk penggemar dari boygroup Korea yaitu NCT. NCT sendiri adalah salah satu boygrup yang berasal dari Korea Selatan. NCT merupakan singkatan dari Neo Culture Technology, yang dibuat sendiri oleh pendiri SM Entertaiment Lee Soo Man, untuk mendeskripsikan bahwa grup ini memiliki jumlah anggota yang tak terhingga yang akan terbagi ke dalam beberapa sub unit dan berbasis di berbagi kota di dunia. Pada Oktober 2018, salah satu sub unit NCT yaitu NCT 127, berhasil memecahkan rekor di Billboard sebagai idol K-Pop pertama yang melakukan promosi full album pertama yaitu Reguler-Irregular di Los Angeles (Khairani, 2019, hal. 2). Di Indonesia sendiri NCT merupakan salah satu boyband yang sangat digemari oleh masyarakat terutama para remaja. Kepopulerannya di Indonesia dibuktikan dengan NCT yang berhasil menyabet penghargaan “Special Award” dalam ajang Indonesia Television Award (ITA) pada tahun 2019.

Penentuan nominasi dari kategori ITA 2019 adalah survei TOP OF MIND pemirsa mengenai program televisi dan insan pertelevisian terpopuler dari semua channel TV yang ada di Indonesia (Aini, NCT 127 Raih Penghargaan Khusus di Indonesia Television Award 2019, 2019). Hal ini tentu saja tidak akan terjadi tanpa adanya dukungan dari para penggemar atau fans yang setia mengidolakan dan mencintai mereka, salah satunya NCTzen yang tergabung ke dalam komunitas NCTzen Solo.

Sesuai dengan apa yang disebutkan dalam teori uses and gratification. fandom NCTzen Solo, sebagai salah satu Kpopers dalam melakukan fangirling atau fanboying di media sosial Instagram pasti

(7)

7

didasari dengan motif atau tujuan. Setelah itu akan timbul pola penggunaan media yang akan menimbulkan efek kepuasan. Berdasarkan apa yang telah di paparkan di atas, penelitian ini ditulis untuk mengetahui tidaknya korelasi antara motif yang diinginkan oleh NCTzen Solo dengan kepuasan yang mereka dapatkan setelah menggunakan Instagram sebagai media dalam melakukan fangirling/fanboying yang akan terlihat dari bagaimana pola penggunakan Instagram guna memenuhi kebutuhannya sebagai seorang penggemar NCT.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.2.1 Adakah korelasi antara motif dengan penggunaan media sosial Instagram sebagai sarana dalam kegiatan fangirling dan fanboying oleh NCTzen Solo?

1.2.2 Adakah korelasi antara motif dengan tingkat kepuasan NCTzen Solo dalam ber-fangirling atau fanboying di Instagram ?

1.2.3 Adakah korelasi antara penggunan media sosial Instagram dengan tingkat kepuasan NCTzen Solo dalam kegiatan fangirling atau fanboying di Instagram ?

1.2.4 Adakah korelasi bersama-sama antara motivasi melakukan kegiatan fangirling/fanboying di Instagram dan penggunaan media sosial Instagram dengan tingkat kepuasan setelah melakukan kegiatan fangirling/famboying di Instagram ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.3.1 Untuk mengetahui korelasi antara motif dengan penggunaan media sosial Instagram dalam kegiatan fangirling atau fanboying oleh NCTzen Solo.

1.3.2 Untuk mengetahui korelasi antara motif kegiatan fangirling atau fanboying di Instagram dengan tingkat kepuasan setelah melakukan kegiatan fangirling atau fanboying di Instagram oleh NCTZen Solo.

(8)

8

1.3.3 Untuk mengetahui korelasi antara pola penggunaan media sosial Instagram dengan tingkat kepuasan setelah melakukan kegiatan fangirling atau fanboying di Instagram oleh NCTZen Solo

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Manfaat dari penelitian ini sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memperkaya dan memperluas wawasan keilmuan peneliti maupun akademis di Universitas Sebelas Maret khususnya dalam bidang ilmu komunikasi yang berfokus pada penggunaan new media atau media baru.

1.4.2 Manfaat Praktis

- Hasil yang didapatkan dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan ataupun saran terkait dengan penggunaan media baru terutama Instagram.

Selain itu penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan mengenai budaya populer yaitu K-pop, yang hingga kini masih digandrungi oleh masyarakat Indonesia terutama para remaja.

- Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu menjadi sarana informasi dan bahan evaluasi terhadap fenomena K-Pop yang telah menyebar di sebagian besar kalangan remaja sehingga perlu adanya filter yang kuat agar fenomena ini tidak mengikis rasa nasionalisme terutama bagi generasi muda Indonesia.

Gambar

Gambar 1.1. Penyebaran Fans K-pop di Indonesia
Gambar 1.2. Survey fans K-pop habiskan waktu di media sosial
Gambar 1.3. Media sosial terpopuler di Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

7.4.1 Laksana pelepasan, rujuk buku Panduan Ternakan Ikan Air Tawar (OPR/TPU/BP/TERNAKAN/Ikan Air Tawar) atau Modul AFS2001 Siri 6 – Penternakan Hidupan Akuatik dan rekodkan

Perbedaan muatan kurikulum di SMA dan MA, masalah-masalah yang dihadapi remaja pada jenjang sekolah menengah serta perbedaan hasil penelitian dari Rosemary (2008) yang menyebutkan

Berikut merupakan salah satu contoh pengujian yang dilakukan pada aplikasi ARMIPA yaitu pengujian ketepatan titik lokasi pada peta dan kamera dengan markerless

Komunikasi dan Informatika, yang mencakup audit kinerja atas pengelolaan keuangan negara dan audit kinerja atas pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Komunikasi dan

dimana analisis mutu dilakukan pengujian dilaboratorium yang meliputi uji kuat tarik untuk material baja ringan benda uji dibuat menjadi spesimen berdasarkan standar ASTM

Pada Ruang Baca Pascasarjan perlu dilakukan pemebersihan debu baik pada koleksi yang sering dipakai pengguna maupun

Menurut teori hukum Perdata Internasional, untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dengan laju perubahan tata guna lahan yang cukup tinggi. Kondisi tersebut ditandai dengan laju deforestrasi baik disebabkan