• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP SISWA TUNANETRA SMA TERHADAP PENDIDIKAN INKLUSIF.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SIKAP SISWA TUNANETRA SMA TERHADAP PENDIDIKAN INKLUSIF."

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu SIKAP SISWA TUNANETRA SMA TERHADAP

PENDIDIKAN INKLUSIF

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus

Oleh :

Rika Saptaningrum, S.Pd 1101203

PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

SIKAP SISWA TUNANETRA SMA TERHADAP

PENDIDIKAN INKLUSIF

Oleh Rika Saptaningrum

S.Pd Univesitas Pendidikan Indonesia, 2013

Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Prodi Pendidikan Kebutuhan Khusus

© Rika Saptaningrum 2013 Universitas Pendidikan Indonesia

Juli 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Tesis ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,

(3)

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

LEMBAR PENGESAHAN TESIS

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING :

Pembimbing

DR. Didi Tarsidi, M. Pd. NIP: 195106011979031003

Mengetahui,

Ketua Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus

(4)

ii

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu SIKAP SISWA TUNANETRA SMA TERHADAP

PENDIDIKAN INKLUSIF

(Oleh : Rika Saptaningrum, S.Pd, NIM : 1101203, Prodi: PKKh)

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang ada di lapangan yaitu permasalahan yang dirasakan siswa tunanetra yang mengikuti pendidikan inklusif, diantaranya yaitu: masih kurangnya media pembelajaran khusus untuk siswa tunanetra, serta dengan adanya penghapusan soal Ujian Nasional (UN) berhuruf Braille. Untuk itu perlu kiranya ada sebuah penelitian mengenai sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif. Penelitian ini dilakukan di lima sekolah penyelenggara pendidikan inklusif di kota Bandung yang terdiri atas enam subjek (tiga subjek dari SMA Negeri, dua subjek dari SMA Swasta, dan satu subjek dari Madrasah Aliyah Negeri).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1) Mendapatkan gambaran bagaimana sikap siswa tunanetra SMA yang mengikuti pendidikan inklusif, 2) Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pembentukan sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif. Penelitian ini menggunakan mixed method dengan desain data transformation model. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan angket skala sikap model Likert, sedangkan pengumpulan data kualitatif dengan menggunakan wawancara dan informal talk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) secara umum sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif sudah baik, dengan kecenderungan sikap positif sebesar 80.93% 2) Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif, berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif, tetapi yang paling dominan mempengaruhi sikap mereka adalah orang tua dan guru. Orang tua siswa tunanetra yang mengikuti pendidikan inklusif memiliki pandangan yang positif mengenai pendidikan inklusif, dimana mereka mendorong agar anaknya yang tunanetra untuk masuk ke sekolah inklusif.

(5)

ii

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

The Students with Visual Impairment Attitudes Toward Inclusive Education

(Oleh Rika Saptaningrum, NIM: 1101203, Prodi: PKKh)

ABSTRACT

This research is motivated by the problems in the field about the students with the visual impairment who follow an inclusive education, such as: the lack of learning media for students with visual impairments, as well as with the elimination of about National Examination (UN) lettered braille. Therefore, there should be a study of the high school student with the visual impairment attitudes towards inclusive education. The study was conducted in 5 inclusive schools in the Bandung city, consisting of 6 the visual impairment attitudes towards inclusive education.This study uses a mixed method with the data transformation models design. The quantitative data collection conducted with the questionnaire model of Likert attitude scale, while the qualitative data collection used formal and informal interviews.The results showed that: 1) generally, the high school students with the visual impairment attitudes’ towards the inclusive education are good, with a tendency for 80.93% positive the attitude. 2) the factors that influence the formation of the visually impaired high school

students ‘attitudes towards inclusive education, based on the results of the

(6)

ii

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

(7)

vii

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

(8)

viii

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB III METODE PENELITIAN ……….. 30

A. Pendekatan Penelitian ……….. 30

B. Subjek dan Lokasi Penelitian ……….. 30

C. Teknik Pengumpulan Data ……….. 34

D. Teknik Analisis Data ……….. 34

E. Alur Penelitian ……….. 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …….. 36

A. Hasil Penelitian ……….. 36

1. Analisis Data Kuantitatif ……….. 36

2. Analisis Data Kualitatif ……….. 97

B. Pembahasan ……….. 105

1. Sikap Siswa Tunanetra Terhadap Pendidikan Inklusif ……….. 105

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif ... 110

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ……….. 115

A. Kesimpulan ……….. 115

B. Saran ……….. 115

DAFTAR PUSTAKA ……….. 118

(9)

ix

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR TABEL

Tabel Hal

(10)

x

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR GAMBAR

Tabel Hal

3.1 Data Transformation Model 30

3.2 Alur penelitian 35

3.1 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

inklusif 33

3.2 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan inklusif 33 4.1 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 1 37

4.2 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

inklusif Item 1 37

4.3 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 2 38

4.4 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

inklusif Item 2 38

4.5 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 3 39

4.6 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 3 39

4.7 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 4 40

4.8 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 4 40

4.9 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 5 41

4.10 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 5 42

4.11 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 6 42

4.12 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 6 43

(11)

xi

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pendidikan inklusif Item 7 44

4.14 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 7 44

4.15 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 8 45

4.16 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 8 45

4.17 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 9 46

4.18 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 9 46

4.19 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 10 47

4.20 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 10 47

4.21 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 11 48

4.22 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 11 48

4.23 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 12 49

4.24 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 12 50

4.25 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 13 50

4.26 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 13 51

4.27 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 14 51

4.28 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 14 52

4.29 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 15 53

4.30 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 15 53

(12)

xii

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pendidikan inklusif Item 16 54

4.32 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 16 54

4.33 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 17 55

4.34 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 17 55

4.35 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 18 56

4.36 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 18 56

4.37Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 19 57

4.38 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 19 57

4.39 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 20 58

4.40 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 20 59

4.41 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 21 59

4.42 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 21 60

4.43 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 22 61

4.44 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 22 61

4.45 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 23 62

4.46 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 23 62

4.47 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 24 63

4.48 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 24 63

4.49 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

(13)

xiii

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

4.50 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 25 64

4.51 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 26 65

4.52 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 26 65

4.53 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 27 66

4.54 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 27 67

4.55 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 28 67

4.56 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 28 68

4.57 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 29 69

4.58 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 29 69

4.59 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 30 70

4.60 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 30 70

4.61 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 31 71

4.62 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 31 71

4.63 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 32 72

4.64 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 32 73

4.65 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 33 73

4.66 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 33 74

4.67 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 34 75

(14)

xiv

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Inklusif Item 34 75

4.69 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 35 76

4.70 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 35 76

4.71 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 36 77

4.72 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif Item 36 77

4.73 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif Item 37 78

4.74 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 37 79

4.75 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 38 79

4.76 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 38 80

4.77 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 39 81

4.78 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 39 81

4.79 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 40 82

4.80 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 40 82

4.81 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 41 83

4.82 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 41 83

4.83 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 42 84

4.84 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 42 85

4.85 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 43 85

(15)

xv

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Inklusif item 43 86

4.87 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 44 87

4.88 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 44 87

4.89 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 45 88

4.90 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 45 88

4.91 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 46 89

4.92 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 46 89

4.93 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 47 90

4.94 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 47 91

4.95 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 48 91

4.96 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 48 92

4.97 Kecenderungan sikap siswa tunanetra terhadap

pendidikan inklusif item 49 93

4.98 Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan

Inklusif item 49 93

4.99 Persentase total keseluruhan sikap siswa tunanetra

(16)

xvi

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR LAMPIRAN

1. Kisi-kisi instrument skala sikap

2. Instrumen skala sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan inklusif 3. Instrumen wawancara

4. Pernyataan judgement

5. Surat pernyataan telah melakukan penelitian 6. Surat keputusan pembimbing

(17)

1

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemerintah Indonesia berkewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada seluruh anak untuk memperoleh layanan pendidikan tanpa adanya diskriminasi, yaitu pendidikan yang melayani seluruh anak dengan memperhatikan kebutuhan khusus masing-masing anak.

Dalam pendidikan, semua anak, termasuk anak tunanetra, seharusnya memperoleh kesempatan yang sama sebagai subjek didik di dalam proses belajar/mengajar. Hal ini sesuai dengan isi dari pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yaitu mengenai persamaan hak dalam memperoleh pendidikan bagi seluruh warga Negara, termasuk anak tunanetra.

Untuk mendapatkan pendidikan, ada dua alternatif yang dapat diikuti oleh anak tunanetra yang pertama yaitu anak tunanetra dapat mengikuti pendidikan bersama-sama dengan anak berkebutuhan khusus lainnya di sekolah luar biasa (SLB) atau mengikuti pendidikan di sekolah reguler dimana anak tunanetra dapat belajar dan berinteraksi dengan anak-anak normal lainnya yaitu di sekolah inklusif.

Keberadaan anak tunanetra di sekolah inklusif bersama-sama dengan anak-anak reguler dimaksudkan agar mereka dapat belajar dan bersosialisasi bersama teman-teman sebayanya, dengan demikian anak akan mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga yang tidak didapat dengan model sekolah lainnya. Selain itu, anak tunanetra akan beinteraksi dengan dunia luar, dan anak akan mendapatkan pengalamanan itu di sekolah inklusif.

(18)

2

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pembelajaran sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh mereka. Ini akan menuntut guru untuk mengelola kelas sehingga baik siswa awas maupun siswa tunanetra dua-duanya terlayani dengan baik. Dengan demikian, guru, sekolah, dan sistem membutuhkan suatu perubahan agar anak menjadi lebih baik dalam mengikuti proses belajarnya.

Hal ini membutuhkan perubahan sikap, tingkah laku, metode mengajar, kurikulum, dan lingkungan yang dapat mendukung kebutuhan semua siswa. Pada sekolah inklusif setiap anak sesuai dengan kebutuhan khususnya, semua diusahakan dapat dilayani secara optimal dengan melakukan berbagai modifikasi dan/atau penyesuaian, mulai dari kurikulum, sarana prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya (Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan inklusif: 2007). Tanpa perubahan sistem, pendidikan inklusif tidak akan pernah dapat terwujud dan akan menimbulkan kesulitan bagi siswa, khususnya siswa tunanetra yang mengikuti pendidikan inklusif.

Berbagai kesulitan dirasakan oleh siswa tunanetra yang mengikuti pendidikan di sekolah inklusif, diantaranya adalah dalam kegiatan belajar/mengajar. Ada beberapa materi yang dirasa cukup sulit untuk ditangkap dan dimengerti oleh siswa tunanetra seperti materi pelajaran yang berhubungan dengan kesan visual dan konsep yang bersifat abstrak, seperti simbol-simbol rumus pada mata pelajaran matematika, kimia, biologi dan fisika. Hal ini disebabkan karena belum tersedianya alat belajar berupa buku-buku yang menggunakan huruf Braille.

(19)

3

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

semakin sulit karena keterbatasan mereka. Hal ini kontraproduktif jika dilihat dari pemikiran awal pendidikan inklusif yang ingin memberikan layanan lebih baik bagi anak berkebutuhan khusus.

Kesulitan lain yang dirasakan oleh siswa tunanetra di sekolah inklusif adalah dengan adanya penghapusan naskah soal berhuruf braille untuk Ujian Nasional (UN).

Karena naskah soal berhuruf braille untuk UN dihapuskan, maka dalam pengerjaannya, siswa tunanetra memerlukan pengawas untuk membacakan. Jika saja naskah soal UN dengan menggunakan huruf Braille tidak dihapuskan, maka siswa tunanetra justru akan lebih mandiri dan tidak bergantung lagi kepada orang lain. Kemandirian inilah yang seharusnya ditanamkan dengan menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang. Salah satunya adalah menyediakan naskah soal ujian berhuruf braille.

Kesulitan ini dirasakan jika anak-anak tunanetra harus mengerjakan soal-soal matematika, kimia, fisika, dan biologi yang berkaitan erat dengan simbol-simbol dan gambar-gambar yang sulit untuk di deskripsikan. Selain menyulitkan anak tunanetra, hal ini pun sangat menyulitkan pengawas yang harus membacakan soal-soal tersebut. Presepsi pengawas tentang suatu gambar belum tentu sama dengan presepsi anak-anak tunanetra.

(20)

4

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dengan melihat kesulitan yang dirasakan oleh tunanetra itulah peneliti melakukan penelitian untuk mendapatkan gambaran bagaimana sebenarnya sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif.

B. Fokus Penelitian

Fokus dalam penelitian ini adalah sikap siswa tunanetra yang mengikuti pendidikan inklusif di lima SMA di Kota Bandung. (Demi kode etik penelitian, ketiga SMA tersebut selanjutnya disebut sebagai SMA A, SMA B, SMA C, SMA D dan SMA E).

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagaai berikut :

1. Bagaimanakah sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif? 2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pembentukan sikap siswa tunanetra

SMA tersebut terhadap pendidikan inklusif?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap siswa SMA tunanetra terhadap pendidikan inklusif. Secara spesifik tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mendapatkan gambaran bagaimana sikap siswa tunanetra SMA yang

mengikuti pendidikan inklusif.

2. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pembentukan sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif.

E. Manfaat Penelitian

(21)

5

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1. Sebagai masukan bagi guru bagaimana gambaran sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif.

2. Sebagai bahan masukan bagi kepala sekolah dan guru faktor apa saja yang mempengaruhi pembentukan sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif.

Secara sederhana sikap dapat didefinisikan sebagai ekspresi tentang bagaimana kita suka atau tidak suka terhadap beberapa hal. Sikap adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, obyek atau isue. (Petty, cocopio, 1986 dalam Azwar S., 1995 : 6). Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut (Berkowitz, 1972 dalam Azwar S, 1995:5).

Sikap dalam penelitian ini maksudnya adalah perasaan siswa tunanetra yang mengikuti pendidikan inklusif terhadap implementasi pendidikan inklusif tersebut di sekolahnya.

2. Tunanetra

(22)

6

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dimiliki orang ”dapat melihat awas”; 2) terjadi kekruhan pada lensa mata atau terdapat cairan tertentu, 3) posisi mata sulit dikendalikan oleh syaraf otak, 4) terjadi kerusakan susunan syaraf otak yang berhubungan dengan pengelihatan.

Tunanetra dalam penelitian ini adalah semua siswa siswi tunanetra, baik tunanetra total maupun low vision yang bersekolah di SMA inklusif di kota Bandung.

3. Pendidikan Inklusif

Pendidikan inklusif adalah Layanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus (ABK) belajar bersama anak non-ABK usia sebayanya di kelas reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Proses pembelajaran lebih bersifat kooperatif dan kerjasama diantara peserta didik sebagai anggota kelas, mereka mempunyai kewajiban dan hak yang sama dalam melaksanakan tugas dan layanan sekolah. Menurut Permendiknas nomor 70 tahun 2009 pasal satu yang dimaksud dengan pendidikan inklusif adalah system penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

Pendidikan inklusif disini adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) reguler yang menerima siswa tunanetra untuk dapat belajar bersama-sama dengan siswa awas.

G. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan mixed

(23)

7

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Teknik analisis data kuantitatif yang digunakan adalah statistik deskriptif, sedangkan untuk teknik analisis data kualitatif menggunakan prosedur analisis data yang terdiri atas tiga dasar yaitu : (a) reduksi data, (b) display data , (c) mengambil kesimpulan dan verifikasi data.

(24)

30

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini akan menguraikan tentang: metode dan pendekatan penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data serta teknik analisis data.

A. Metode dan Pendekatan Penelitian

1. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan mixed method desain data transformation model. Dimana peneliti melakukan pengumpulan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif secara terpisah, dan selanjutnya mentransformasikan dari jenis data yang satu dengan jenis data yang lain. Hal ini akan saling melengkapi yaitu apakah data kuantitatif melengkapi untuk menghasilkan temuan kualitatif atau sebaliknya data kualitatif melengkapi temuan kuantitatif (Creswell, John W. and Vicki L. Plano Clark: 2007).

Gambar 3.1

Data Transformation Model

2. Pendekatan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian yang dikemukakan pada bab I, yaitu tentang sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif, data yang diperoleh berupa data kuantitatif. Sedangkan untuk pertanyaan penelitian yang kedua yaitu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan

(25)

31

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

sikap siswa tunanetra SMA tersebut terhadap pendidikan inklusif, data yang diperoleh berupa data kualitatif. Dengan demikian, penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif.

Alasan mengapa penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yaitu karena dalam penelitian ini data yang dihasilkan berupa data kuantitatif dan data kualitatif yang keduanya saling berkaitan dan saling melengkapi.

B. Subjek dan Lokasi Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi tunanetra yang mengikuti pendidikan di SMA Inklusif. Sedangkan lokasi penelitiannya adalah lima SMA penyelenggara pendidikan inklusif di kota Bandung, yaitu dua SMA Negeri, dua SMA Swasta serta satu Madrasah Aliyah.

Tabel 3.1

(26)

32

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Jenis skala sikap yang digunakan adalah model Likert, dimana para responden harus menyatakan sikapnya dalam lima pilihan yaitu: sangat setuju, setuju, tidak tahu, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Skor penilaian yang digunakan yaitu :

Pemberian skor arah pernyataan positif, sebagai berikut: SS : sangat setuju diberi skor 5

S : setuju diberi skor 4 TT : tidak tahu diberi skor 3 TS : tidak setuju diberi skor 2 STS : sangat tidak setuju diberi skor 1

Pemberian skor arah pernyataan negatif, sebagai berikut: SS : sangat setuju diberi skor 1

S : setuju diberi skor 2 TT : tidak tahu diberi skor 3 TS : tidak setuju diberi skor 4 STS : sangat tidak setuju diberi skor 5

(Riduwan : 2004) Langkah-langkah yang dilakukan untuk pengolahan data adalah sebagai berikut :

1. Mengumpulkan kembali instrumen skala sikap yang telah diisi oleh para responden

2. Menentukan skala penilaian terhadap jawaban yang telah diberikan responden pada instrumen berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan

(27)

33

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

4. Setelah ditemukan skor kecenderungan sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif, maka selanjutnya akan diGambar Skalakan sebagai berikut:

Gambar Skala 3.2

Kecenderungan Sikap Siswa Tunanetra Terhadap Pendidikan inklusif

5. Selanjutnya menentukan persentase sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif, yaitu dengan cara skor yang diperoleh tiap responden dibagi jumlah skor ideal dikali 100

%

Maka selanjutnya dapat diGambar Skalakan sebagai berikut:

Gambar Skala 3.3

Persentase sikap siswa tunanetra terhadap pendidikan inklusif

Kriteria Interpretasi Skor sebagai berikut : 0% - 20% = Sangat Lemah

21% - 40% = Lemah 41% - 60% = Cukup 61% - 80% = Kuat

81% - 100% = Sangat Kuat

Kriteria ini diambil berdasarkan system penilaian Skala Sikap

(28)

34

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

(Riduwan : 2004)

Instrumen Penelitian

Instrumen diperlukan untuk mendapatkan data yang akurat, maka untuk mendapatkan data tersebut diperlukan instrumen yang tepat pula yaitu instrumen skala sikap dan wawancara. Sebelum dibuat instrumen, terlebih dahulu dibuat kisi-kisi instrumen untuk memberi Gambar Skalaan tentang indikator-indikator yang akan diteliti.

Landasan penyusunan kisi-kisi penelitian ini adalah buku Inklusi Sekolah Ramah untuk Semua karangan David Smith. Indikator yang digunakan dalam instrumen ini mencakup hal-hal yang berkaitan mengenai sikap siswa tunanetra SMA inklusif terhadap : penerimaan siswa terhadap kurikulum, lingkungan/aksesibilitas, interaksi sosial, dan konsep sekolah (Smith:2005), (instrumen terlampir)

Sebelum melakukan penelitian, maka terlebih dahulu instrumen yang telah dibuat akan diuji coba/validasi. Validasi instrumen dilakukan dengan cara expert judgement yaitu dengan meminta evalusi dari beberapa orang ahli terhadap

instrumen yang telah dibuat. Expert judgement dilakukan kepada tiga orang, yaitu : dua orang dosen dan satu guru.

Pengumpulan Data Kualitatif

Data kualitatif diperoleh dengan cara wawancara serta informal talk. Wawancara dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap siswa tunanetra SMA tersebut terhadap pendidikan inklusif.

Instrumen wawancara yang digunakan mencakup hal-hal yang berkaitan dengan faktor-faktor pembentuk sikap seprti: pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang lebih penting, pengaruh kebudayaan, media masa, lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta pengaruh faktor emosional (Azwar: 1998).

(29)

35

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu D. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan statistik deskriptif. Sedangkan untuk teknik analisis data kualitatif dalam penelitian ini menggunakan prosedur analisis data yang terdiri atas tiga dasar yaitu reduksi data, display data dan verifikasi data.

1. Reduksi Data.

Reduksi data adalah data-data yang terkumpul dari lapangan dirangkum dan difokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya sehingga memberikan Gambar Skalaan yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya

2. Display Data

Display data atau penyajian data, yaitu data yang telah direduksi selanjutnya disajikan dalam bentuk uraian singkat, tabel, grafik, flowchart, dan sejenisnya. Sehingga data terorganisasikan, tersusun dalam bentuk pola hubungan supaya lebih mudah difahami .

3. Verifikasi Data

Verifikasi data atau pengambilan kesimpulan. Kesimpulan yang diambil adalah kesimpulan awal yang masih bersifat sementara, dan akan berubah bila di dukung dengan bukti-bukti kuat yang mendukung tahap pengumpulan data berikutnya. Proses untuk mendapatkan bukti-bukti inilah yang disebut sebagai verifikasi data.

(30)

36

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Gambar 3.2

Alur Penelitian

Rekomendasi

(31)

115

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Pada bab ini akan dikemukakan kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan, yaitu tentang sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif. Maka kesimpulannya akan dipaparkan sebagai berikut:

1. Sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara umum sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif sudah baik, dengan kecenderungan sikap positif sebesar 80.93%. Walaupun dalam penyelenggaraannya masih terdapat kekurangan-kekurangan seperti: belum tersedianya guru pembimbing khusus, media belajar yang belum lengkap, aksesibilitas fisik yang masih menyulitkan bagi siswa tunanetra, serta belum adanya modifikasi kurikulum untuk mata pelajaran olah raga.

2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pembentukan sikap siswa tunanetra SMA tersebut terhadap pendidikan inklusif

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap siswa tunanetra SMA terhadap pendidikan inklusif adalah 1) pengaruh orang yang dianggap lebih penting, seperti: orang tua, guru, saudara/kakak, alumni sekolah inklusif, 2) media masa/cetak seperti: buku, televisi, dan internet, 3) lembaga pendidikan/lembaga agama, tetapi yang paling dominan mempengaruhi sikap mereka adalah orang tua dan guru. Orang tua siswa tunanetra yang mengikuti pendidikan inklusif memiliki pandangan yang positif mengenai pendidikan inklusif, dimana mereka mendorong agar anaknya yang tunanetra untuk masuk ke sekolah inklusif.

B. Rekomendasi

(32)

116

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dapat diatasi. Maka dari itu, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya untuk menciptakan sekolah inklusif yang sesuai dengan konsepnya. Rekomendasi yang dapat penulis sampaikan untuk sekolah dan guru yaitu:

1. Berkaitan dengan kurikulum yaitu sekolah sebaiknya memperhatikan kemampuan masing-masing siswa khususnya siswa tunanetra. Modifikasi kurikulum dapat dilakukan terutama untuk mata pelajaran olah raga, dimana siswa tunanetra tidak dapat mengikuti pelajaran olah raga sebagaimana siswa reguler lainnya. Guru harus memodifikasi materi pelajaran yang akan disampaikan terutama agar siswa tunanetra dapat mengikuti kegiatan olah raga tanpa merasa kesulitan.

2. Sarana prasarana/aksesibilitas fisik dan non fisik sekolah yang perlu ditingkatkan. Sekolah perlu menyediakan atau menambah ketersediaan alat-alat/media pembelajaran khusus untuk siswa tunanetra, seperti : buku teks braille, komputer dengan program pembaca layar JAWS, alat bantu hitung (misalnya talking calculator), talking books.

3. Aksesibilitas fisik sekolah disesuaikan dengan kemampuan siswa tunanetra, agar siswa tersebut tidak merasa kesulitan untuk dapat mengakses seluruh lingkungan sekolah, contohnya : building blok, jendela yang tidak terbuka keluar, serta adanya petunujuk-petunjuk lingkungan yang akan memudahkan siswa menemukan ruangan.

(33)

117

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

5. Dalam pelaksanaannya, sekolah sebagai penyelenggara pendidikan inklusif harus mempertimbangkan keberadaan guru konsultan dari PLB, agar semua kebutuhan siswa terpenuhi, terutama ketika siswa mengalami kesulitan. 6. Berkaitan dengan evaluasi. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan

(34)

118

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA

Alimin, Z. (2010). Menjangkau Anak-Anak Yang Terabaikan Melalui Pendekatan Inklusif Dalam Pendidika. [Online]. Tersedia : http://z-alimin.blogspot.com/2010/03/menjangkau-anak-anak-yang-terabaikan.html [12 Februari 2013]

Azwar, S. (1995). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Creswell, John W. and Vicki L. Plano Clark (2007). Designing and conducting mixed methods research. [online]. Tersedia : http://itpcrg.pbworks.com/f/Creswell+&Plano+Clark+2007+TEXTBOOK+ mixed+methods+design+-+Triangulation-convergence.pdf-Adobe Reader.

Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Mandikdasmen, Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. (2007) Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif. Jakarta : Depdiknas

Kementrian Pendidikan nasional. (2010). Modul Pelatihan Pendidikan Inklusif. Jakarta : Kementrian Pendidikan Nasional

Mar’at. (1986). Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukurannya. Jakarta: Galia

Permendiknas. (2009). No. 70 Tahun 2009. Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Anak yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan atau Bakat Khusus. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Rahayu-Ningsih, U. (2005). Psikologi Umum 2. [Online]. Tersedia :

nurul_q.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/9095/bab1-sikap-1. [10 Februari 2013]

Riduwan. (2004). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung : Alfabeta

Smith-David, J. (2005). Inklusi Sekolah Ramah untuk Semua. Nuansa.

(35)

119

Rika Saptaningrum, 2013

Sikap Siswa Tunanetra SMA Terhadap Pendidikan Inklusif

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Tarsidi, D. (2008 a). Hakikat Sikap. [Online]. Tersedia : http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/05/hakikat-sikap.html [11 Februari 2013]

Tarsidi, D. (2008 b). Pembentukan Sikap. [Online]. Tersedia : http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/06/pembentukan-sikap.html. [11 Februari 2013]

Tarsidi, D. (2008 c). Metode-Metode Pengukuran Sikap Dan Permasalahannya. [Online]. Tersedia : http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/05/metode-metode-pengukuran-sikap-dan.html [11 Februari 2013]

Tarsidi, D. (2008 d). Perubahan Sikap. [Online]. Tersedia : http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/06/perubahan-sikap.html [11 februari 2013]

Tarsidi, D. (2008 e). Asesmen Penglihatan. [Online]. Tersedia : http://d-tarsidi.blogspot.com/2008/06/asesmen-penglihatan.html [11 Februari 2013]

Tarsidi, D. (2008 f). Bab 3 : Konsep-konsep Utama: Apakah Sesungguhnya Pendidikan Inklusif Itu? [Online]. Tersedia : http://d-

tarsidi.blogspot.com/2008/06/pendidikan-inklusif-konsep-konsep-utama.html [11 Februari 2013]

Tarsidi, D. (2011). Definisi Tunanetra. [Online]. Tersedia : http://d-t arsidi.blogspot.com/2011/10/definisi-tunanetra.html [11 Februari 2013]

Gambar

Tabel    3.1 Subjek  Penelitian
Tabel    3.1 Data Transformation Model
Gambar 3.1 Data Transformation Model
Tabel 3.1 Subjek Penelitian
+4

Referensi

Dokumen terkait

Sikap guru terhadap komponen pelaksanaan pendidikan inklusif baik dengan persentase 80%, hal ini menunjukan bahwa guru sudah melaksanakan modifikasi kurikulum, memahami

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh personal branding Ridwan Kamil yang terdiri dari roles, standards dan style terhadap sikap siswa SMA Kota Bandung pada gerakan

Penelitian ini merupakan studi kasus deskriptif yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena dan situasi pendidikan inklusif yang sebenarnya (Baxter dan Jack, 2008).

STUDI KOMPARATIF KEMAMPUAN MANAJEMEN STRATEGIK KEPALA SEKOLAH DI SEKOLAH PENYELENGGARA PENDIDIKAN INKLUSIF SMA NEGERI 6 DAN SMA MUTIARA BUNDA BANDUNG.. Universitas Pendidikan

2007). Subjek penelitian yaitu kelas XI dari salah satu SMA di Kota Bandung yang belum menerapkan materi pembelajaran sel volta. Kelas yang diambil sebanyak dua

Dari hasil penelitian terlihat bahwa iklim Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Negeri Banjarmasin yang terdiri dari a Pengakuan terhadap tujuan Pendidikan Kewarganegaraan; b Kebermaknaan

Perencanaan Strategik Pendidikan Inklusif SMA di Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat NTB Perencanaan strategik pendidikan inklusif SMA di Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara

Adapun beberapa permasalahan hasil kesimpulan penelitian tersebut diantaranya: “1 pemahaman guru terhadap pendidikan inklusif dan sekolah penyelenggara pendidikan inklusif masih