PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU.

51  463  Download (2)

Teks penuh

(1)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA

PADA ANAK TUNARUNGU

(Studi Single Subject Research terhadap Anak Tunarungu di SDN Sabajaya II)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Departemen Pendidikan Khusus

Oleh :

Yunia Sri Hartanti

NIM 1105350

DEPARTEMEN PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2015

(2)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

PENERAPAN METODE MULTISENSORI

UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN

PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA

INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Oleh Yunia Sri Hartanti

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan

© Yunia Sri Hartanti 2015 Universitas Pendidikan Indonesia

Agustus 2015

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(3)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu LEMBAR PENGESAHAN

Yunia Sri Hartanti 1105350

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

(Studi Single Subject Research terhadap Siswa Tunarungu di SDN Sabajaya II)

Disetujui dan Disahkan oleh Pembimbing: Pembimbing I

Drs. Endang Rusyani, M.Pd._ NIP. 19570510 198503 1 003

Pembimbing II

Dr. Nia Sutisna, M.Si. NIP. 19570131 198603 1 001

Mengetahui,

(4)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Dr. Budi Susetyo, M.Pd

(5)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRAK

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK

TUNARUNGU

(Studi Single Subject Research terhadap Anak Tunarungu di SDN Sabajaya II)

Yunia Sri Hartanti (1105350)

Anak tunarungu secara lahiriah tidak berbeda dengan anak pada umumnya, akan tetapi akibat dari keterbatasan dalam pendengaran yang dialami anak tunarungu berimplikasi tehadap perkembangan bicara dan berbahasanya. Hal ini disebabkan karena kemampuan pengucapan kosakata anak tunarungu kurang begitu jelas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengucapan kosakata bahasa indonesia pada anak tunarungu melalui penerapan metode Multisensori yang pada penelitian ini mencakup tiga aspek indera penangkap yaitu, visual, kinestetik, dan taktil di SD Negeri Sabajaya II Karawang. Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah luar biasa pada anak tunarungu cenderung lebih mengarah pada peningkatan kemampuan siswa dalam memahami kosakata Bahasa Indonesianya saja tanpa memperbaiki cara pengucapan kosakata yang salah yang dilakukan oleh peserta didik. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Single Subject Research dengan pola desain A-B-A yang dilakukan pada subjek penelitian selama 16 sesi. Data yang sudah terkumpul kemudian diolah dan di analisis. Berdasarkan hasil penelitian terdapat peningkatan skor dari fase baseline-1 (A1), fase intervensi (B), dan baseline-2 (A2). Hal ini menunjukan bahwa metode multisensori dapat meningkatkan kemampuan pengucapan kosakata Bahasa Indonesia pada anak tunarungu, dengan demikian metode multisensori ini dapat direkomendasikan untuk menjadi metode yang digunakan dalam proses pembelajaran.

(6)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ABSTRACT

THE APPLICATION OF MULTISENSORY METHODS TO IMPROVE THE PRONOUNCIATION OF INDONESIAN LANGUAGE VOCABULARY IN CHILDREN

WITH HEARING IMPAIRMENT

(The Single Subject Research Study to the Children with hearing impairment in SDN Sabajaya II)

Yunia Sri Hartanti (1105350)

Naturally, children with hearing impairment are not diffrent from the other normal children, but they have special needs in hearing, sothat it causes impacts to the development in speaking and languages. It is because, the vocabulary pronounciation of children with hearing impairment is not clear. This study aims to improve the pronounciation of Indonesian language Vocabulary in children with hearing impairment through the application of multisensory method which covers three aspects of sensescatcher in this study, they are visual, kinesthetic, and tactil) in SD Negeri Sabaya II Karawang. Indonesian language teaching in special schools for children with hearing impairment tends to lead to the developments students’ capability in understanding indonesian language vocabulary without correcting the wrong pronounciation vocabulary by the students. the method used in this study is Single Subject Research with patterns design A-B-A which is performed during 16 session to the research subject. the data collected is the processed and analyzed. based on the research result, there are the improvements from baseline-1 (A1) phase, intervension (B) phase, and baseline-2 (A2) phase. it indicates that multisensory method can improve the prornounciation of indonesia language vocabulary in children with hearing impairment, this method can be recomended to be method which can be appllicated in learning process.

(7)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

(8)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR ISI

(9)

ix

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

E. Prosedur Penelitian…….. ………..………..………..………..………. 32 F. Teknik Pengumpulan Data……… ………..………..………..………. 33 G. Teknik Analisis Data…... ………..………..………..………..………. 33 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN… ………..………. 35 A. Hasil Penelitian... ………..………..………..………..………..………. 35 B. Analisis Data…... ………..………..………..………..………..………. 40 1. Analisis Dalam Kondisi……... ………..………..………..………. 40 2. Analisis Antar Kondisi……… ………..………..………..………. 59

C. Pembahasan…… ………..………..………..………..………..………. 66

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI….. ………..………..………. 68 A. Simpulan………. ………..………..………..………..………..………. 68 B. Rekomendasi….. ………..………..………..………..………..………. 68 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(10)

ix

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Daftar Para Ahli Untuk Expert Judgement Instrumen………….. 30

Tabel 3.2 Hasil Validitas Instrumen…..

………..….… 31

Tabel 4.1 Persentase Nilai Kemampuan Pengucapan Kosakata Subjek

RM……….

………...… 37

Tabe 4.2 Panjang Kondisi………... 41 Tabel 4.3 Data Estimasi Kecenderungan Arah Dalam Aspek Visual Pada

Subjek RM…..

………...… 42

Tabel 4.4 Data Estimasi Kecenderungan Arah Dalam Aspek Kinestetik Pada

Subjek RM……….…..….. 43

Tabel 4.5 Data Estimasi Kecenderungan Arah Dalam Aspek Taktil Pada

Subjek RM……….…... 44

Tabel 4.6 Rangkuman Kondisi Kecenderungan Stabilitas Subjek

RM……… 54

Tabel 4.7 Kondisi Jejak Data……… 55

Tabel 4.8 Kondisi Level Stabilitas Dan Rentang (Level Stability And

Range)……….……….. 55

Tabel 4.9 Kondisi Perubahan Level (Level Change) ………... 56

Tabel 4.10 Rangkuman Hasil Analisis Perubahan Dalam Kondisi Aspek

Visual………... 57

Tabel 4.11 Rangkuman Hasil Analisis Perubahan Dalam Kondisi Aspek

(11)

ix

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Tabel 4.12 Rangkuman Hasil Analisis Perubahan Dalam Kondisi Aspek

Taktil……….. 59

Tabel 4.13 Data Jumlah Yang Diubah……… 60

Tabel 4.14 Data Kecenderungan Arah dan Efeknya Pada Aspek Visual…… 60

Tabel 4.15 Data Kecenderungan Arah dan Efeknya Pada Aspek Kinestettik 60

Tabel 4.16 Data Kecenderungan Arah dan Efeknya Pada Aspek Taktil…… 61

Tabel 4.17 Data Perubahan Kecenderungan Stabilitas Pada Aspek Visual… 61

Tabel 4.18 Data Perubahan Kecenderungan Stabilitas Pada Aspek Kinesteti 61

Tabel 4.19 Data Perubahan Kecenderungan Stabilitas Pada Aspek Taktil…. 61

Tabel 4.20 Data Perubahan Level Subjek RM……… 62

Tabel 4.21 Rangkuman Data Overlap Kemampuan Pengucapan Kosakata

Bahasa Indonesia………... 66

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Perkembangan Kemampuan Pengucapan Dengan Metode VAKT Dalam Aspek Visual Pada Kondisi Baseline-1 (A1), Intervensi (B), dan Baseline-2 (A2) ………..… 38 Grafik 4.2 Perkembangan Kemampuan Pengucapan Dengan Metode VAKT

(12)

ix

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Grafik 4.3 Perkembangan Kemampuan Pengucapan Dengan Metode VAKT Dalam Aspek Taktil Pada Kondisi Baseline-1 (A1), Intervensi (B), dan Baseline-2 (A2) ……….. 40 Grafik 4.4 Estimasi Kecenderungan Arah Dalam Aspek Visual Pada Subjek

RM………... 42

Grafik 4.5 Estimasi Kecenderungan Arah Dalam Aspek Kinestetik Pada

Subjek RM………...…….. 43

Grafik 4.6 Estimasi Kecenderungan Arah Dalam Aspek Taktil Pada Subjek

RM………. 44

Grafik 4.7 Kecenderungan Stabilitas Aspek Visual Pada Kondisi Baseline-1

(A1) ……….….. 45

Grafik 4.8 Kecenderungan Stabilitas Aspek Kinestetik Pada Kondisi

Baseline-1 (ABaseline-1) ……….……….….. 46

Grafik 4.9 Kecenderungan Stabilitas Aspek Taktil Pada Kondisi Baseline-1

(A1) ……….……….. 47

Grafik 4.10 Kecenderungan Stabilitas Aspek Visual Pada Kondisi Intervensi

(B) ……….………..…….. 48

Grafik 4.11 Kecenderungan Stabilitas Aspek Kinestetik Pada Kondisi

Intervensi (B) ………..….. 49

Grafik 4.12 Kecenderungan Stabilitas Aspek Taktil Pada Kondisi Intervensi (B)

………... 50

Grafik 4.13 Kecenderungan Stabilitas Aspek Visual Pada Kondisi Baseline-2

(A2) ………... 51

Grafik 4.14 Kecenderungan Stabilitas Aspek Kinestetik Pada Kondisi

Baseline-2 (ABaseline-2) ……….... 52

Grafik 4.15 Kecenderungan Stabilitas Aspek Taktil Pada Kondisi Baseline-2

(13)

ix

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Lampiran 1. S.K. Dosen Pembimbing

Lampiran 2. S.K. Penelitian

Lampiran 3. Surat dari KESBANGPOL

Lampiran 4. Surat dari Dinas Pendidikan Jawa Barat Lampiran 5. Surat Balasan dari Sekolah

Lampiran 6. Kisi-kisi Instrumen Lampiran 7. Instrumen Penelitian Lampiran 8. Program Intervensi

Lampiran 9. Permohonan Expert Judgement Lampiran 10. Hasil Penelitian

(14)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk sosial yang menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, bahasa itu sendiri merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Manusia dituntut menguasai bahasa, sebagai alat berinteraksi dengan manusia lainnya. Manusia sebagai makhluk sosial selalu melakukan interaksi secara verbal dengan manusia lainnya. Pada kenyataanya tidak semua manusia dapat berkomunikasi secara verbal dengan baik, hal ini terjadi pada anak tunarungu. Anak tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian fungsi pendengaran yang mengakibatkan anak tersebut tidak dapat menangkap ransangan yang bersifat audiotoris dengan baik.

Anak tunarungu secara lahiriah tidak berbeda dengan anak pada umumnya, akan tetapi akibat dari keterbatasan dalam pendengaran yang dialami anak tunarungu berimplikasi tehadap perkembangan bicara dan berbahasanya. Hal ini dapat terjadi karena kemampuan mendengar erat kaitannya dengan kemampuan bicara.

Menurut Sadja’ah (2013, hlm.6) masalah terbesar yang dihadapi anak tunarungu di masyarakat adalah terhambatnya komunikasi dengan lingkungan. Hal ini disebabkan karena masyarakat kurang mengerti komunikasi anak tunarungu. Apabila disadari sepenuhnya, komunikasi mengandung makna yang luas. Melalui komunikasi, manusia mampu menciptakan interaksi dua arah dengan sesamanya. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih dengan cara yang tepat, sehingga pesan tersebut dapat dipahami.

(15)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kejelasan dalam berbicara. Anak tunarungu biasanya mengalami masalah dalam artikulasi yaitu mengucapkan kata-kata yang tidak atau kurang jelas.

Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah luar biasa pada anak tunarungu cenderung lebih mengarah pada peningkatan kemampuan siswa dalam memahami kosakata Bahasa Indonesianya saja tanpa memperbaiki cara pengucapan kosakata yang salah yang dilakukan oleh peserta didik. Penggunaan bahasa isyarat yang lebih dominan dibandingkan dengan penggunaan bahasa verbal dalam komunikasi anak tunarungu dapat menghambat kemampuan berbicara verbal anak tunarungu. Anak tunarungu yang sudah terbiasa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat, kemampuan organ bicaranya berbeda dengan anak tunarungu yang sudah terbiasa menggunakan bahasa secara verbal.

Metode dan pendekatan yang digunakan dalam mengaplikasikan teknik-teknik bicara sudah banyak dilaksanakan dengan tujuan keberhasilan dalam pembinaan, sehingga anak tunarungu mampu berbicara walaupun ia tidak mendengar, ia mampu mengaplikasikannya dalam proses belajar untuk kepentingan kehidupannya. Bicara pada hakikatnya merupakan wujud berbahasa secara lisan (verbal), dengan berbahasa lisan sebagai hasil binaan, anak tunarungu diharapkan mampu berkomunikasi secara lisan dengan teman, keluarga ataupun orang lain yang mendengar, yang berada di lingkungannya. Dengan demikian bina bicara harus diupayakan melalui pendekatan dan teknik-teknik bicara yang efektif dan bermakna bagi anak dan dijadikan prioritas dalam pelaksanaannya. Teknik-teknik mengajar yang lebih memudahkan guru dalam melaksanakannya dan memudahkan anak dalam memahami apa yang diajarkan (Sadja’ah, 2013, hlm.141)

(16)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Pada pelaksanaannya peserta didik dibina bicaranya di ruangan khusus bina bicara, alat peraga berupa gambar-gambar disediakan sebagai stimulasi, saat melihat gambar tersebut, spontan peserta didik akan mengucapkan kata yang sesuai dengan gambar, peneliti merespon dan memotivasi peserta didik agar mengucapkan kembali kata tersebut. Sensori visual digunakan peserta didik untuk mencontoh ucapan peneliti. Proses selanjutnya, yaitu dengan cara rabaan (taktil) peserta didik merasakan getaran-getaran suaranya, melalui tangan yang diletakan pada salah satu alat tubuh, seperti pada lehernya atau dadanya, sehingga fonem tertentu akan dirasakan getarannya oleh tangan. Sedangkan untuk sensor kinestetik, dilakukan pada saat peserta didik mengucapkan

Pengamatan yang telah peneliti lakukan kepada seorang anak tunrungu di lingkungan rumah peneliti, menunjukkan bahwa sedikit sekali kosakata yang diucapkan peserta didik terdengar jelas. Hal ini disebabkan oleh, tidak adanya layanan atau sekolah luar biasa di lingkungan peneliti sehingga peserta didik belum pernah melakukan latihan artikulasi. Peserta didik ini lebih memilih mengunakan bahasa isyarat dari pada bahasa verbal dalam berkomunikasi, sedangkan penggunaan bahasa secara lisan atau verbal sangat bermanfaat untuk melatih artikulasi.

Melihat kondisi tersebut, peneliti mencoba mengajak peserta didik untuk mengobrol, disini peneliti berusaha untuk berbicara secara lisan tanpa menggunakan bahasa isyarat agar peserta didik dapat membaca ujaran peneliti. Peserta didik tidak dapat memahami apa yang telah peneliti ucapkan.

Berdasarkan permasalahan yang telah di paparkan, peneliti tertarik untuk memilih judul : Penerapan Metode Multisensori untuk Meningkatkan Kemampuan Pengucapan Kosakata Bahasa Indonesia

pada Anak Tunarungu.

B. Identifikasi Masalah

(17)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1. Anak tunarungu pada umumnya mengalami hambatan dalam kejelasan pengucapan kata-kata, seperti: kata sifat, kata benda, kata kerja, kata ganti, dan kata perintah.

2. Pengoptimalan kemampuan pengucapan kosakata khususnya kata benda pada anak tunarungu, dapat diterapkan metode-metode untuk latihan artikulasi, seperti: metode global berdiferensiasi, metode tangkap dan peran ganda, metode analisis sintesis, metode suara ujaran, metode VAKT atau multisensori, dan sebagainya.

3. Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan pengucapan kosakata khususnya kata benda pada anak tunarungu adalah dengan menggunakan Metode Multisensori yang mencakup tiga indera penangkap yaitu, visual, kinestatik, dan taktil.

C. Batasan Masalah

Penelitian ini agar lebih spesifik, terarah dan fokus maka peneliti membatasi penelitian ini terbatas pada Penerapan Metode Multisensori untuk Meningkatkan Kemampuan Pengucapan Kosakata Bahasa Indonesia pada Anak Tunarungu. Kemampuan yang dimaksud adalah kejelasan dalam mengucapkan kata benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kata benda yang dimaksud dalam penelitian ini, terbatas hanya dengan tiga kata benda saja yaitu, meja, baju, dan buku.

D. Rumusan Masalah

(18)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu E. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Tujuan umum yang ingin diperoleh dari penelitian ini yaitu: Untuk memperoleh gambaran langsung mengenai penerapan metode Multisensori untuk meningkatkan kemampuan pengucapan kosakata bahasa indonesia pada anak tunarungu.

b. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khususnya adalah sebagai berikut:

1) Mengetahui gambaran umum mengenai kemampuan pengucapan kosakata Bahasa Indonesia anak tunarungu.

2) Mengetahui kemampuan pengucapan kosakata Bahasa Indonesia pada anak tunarungu sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dengan metode multisensori.

3) Mengetahui seberapa besar peningkatan kemampuan pengucapan kosakata Bahasa Indonesia pada anak tunarungu dengan menggunakan metode multisensori.

2. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara langsung ataupun tidak kepada pihak-pihak yang terkait dalam pengembangan pendidikan, khususnya dalam Pendidikan Khusus. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Manfaat Teoritis

Sebagai sumbangan dan informasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam penanganan permasalahan kemampuan pengucapan kosakata Bahasa Indonesia pada anak tunarungu melalui metode pembelajaran multisensori.

(19)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1) Bagi peserta didik : sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan pengucapan kosakata Bahasa Indonesia.

2) Bagi para orangtua : Sebagai bahan masukan dalam memberikan penanganan mengenai kemampuan pengucapan kosakata Bahasa Indonesia pada anak tunarungu.

(20)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

(21)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Anak Tunarungu

1. Pengertian Anak Tunarungu

Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai ransangan, terutama melalui indera pendengarannya. Batasan pengertian anak tunarungu telah banyak dikemukakan oleh para ahli yang semuanya itu pada dasarnya mengandun pengertian yang sama. Di bawah ini dikemukakan beberapa definisi anak tunarungu. Pendapat Hallahan dan Kauffman (1991, hlm.266) dalam Wardani dkk. (2007, hlm.5.3) yaitu berikut ini ;

Hearing impairment. A generic term indicating a hearing disability that may range in severity from mild to profound it includes the subsets of deaf and hard of hering. A deaf person in one whose hearing, disability precludes successful processing of linguistic information throught audition, with or without a hearing aid. A hard of hearing person in one who, generally with the use of a hearing aid, has residual hearing sufficient to enable successful processing of linguistic information throuh audition.

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat diartikan bahwa tunarungu (hearing impairment) merupakan salah satu istilah umum yang menunjukkan ketidakmampuan mendengar dari yang ringan samapai yang berat sekali yang digolongkan kepada tuli (deaf) dan kurang dengar (a hard of heraing). Orang yang tuli (a deaf person) adalah seseorang yang mengalami ketidakmampuan mendengar sehingga mengalami hambatan di dalam memproses informasi bahasa melalui pendengarannya dengan atau tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aid). Sedangkan orang yang kurang dengar (a hard of

hearing person) adalah seseorang yang biasanya dengan menggunakan alat

(22)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

yang kurang dengar tersebut menggunakan hearing aid, ia masih dapat menangkap pembicaraan melalui pendengarannya (Wardani dkk, 2007, hlm.5.3-5.4).

Permanarian Somad dan Tati Hernawati (1995, hlm. 27) menyatakan bahwa anak tunarungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat menggunakan alat pendengarannya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa dampak terhadap kehidupannya secara kompleks.

Andreas Dwidjosumarto dalam Somantri (2006, hlm. 93) mengemukakan bahwa seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suatu dikatakan tunarungu. Ketunarunguan dibedakan menjadi dua kategori yaitu tuli (deaf) dan kurang dengar (low of hearing). Tuli adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengaran tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan maupun menggunakan alat bantu dengar (hearing aids).

Selain itu, Mufti Salim dalam Somantri (2006, hlm. 93-94) menyimpulkan bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfunginya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya. Ia memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus untuk mencapai kehidupan lahir batin yang layak.

(23)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 2. Penyebab Ketunarunguan

Menurut Somad dan Hernawati (1995, hlm.32) secara umum penyebab ketunarunguan dapat terjadi sebelum lahir (prental), ketika lahir (natal) dan sesudah lahir (post natal). Banyak para ahli yang mengungkap tentang penyebab ketulian dan ketunarunguan, tentu saja dengan sudut pandang yang berbeda dalam penjabarannya.

Trybus dalam Somad dan Hernawati (1995, hlm.32) mengungkapkan enam penyebab ketunarunguan pada anak-anak di Amerika Serikat yaitu : a) Faktor dalam Diri Anak

1) Keturunan dari salah satu kedua orangtuanya yang mengalami ketunarunguan. Banyak kondisi genetik yang berbeda sehingga dapat menyebabkan ketunarunguan. Transmisi yang disebabkan oleh gen yang dominan represif dan berhubungan dengan jenis kelamin. Meskipun sudah menjadi pendapat umum bahwa keturunan merupakan penyebab dari ketunarunguan, namun belum ada kepastian berapa persen ketunarunguan yang disebabkan oleh faktor keturunan, hanya perkiraan Moores dalam Somad dan Hernawati (1995, hlm.33) adalah 30 sampai 60 persen.

2) Ibu yang sedang mengandung menderita penyakit Campak Jerman (Rubella). Penyakit Rubella pada masa kandungan tiga bulan pertama akan berpengaruh buruk pada janin. Hardy Somad dan Hernawati (1995, hlm.33), melaporkan 199 anak-anak yang ibunya terkena Virus Rubella selagi mengandung selama masa tahun 1964 sampai 1965, 50% dari anak-anak tersebut mengalami kelainan pendengaran. Rubella dari pihak ibu merupakan penyebab yang paling umum yang dikenal sebagai penyebab ketunarunguan dalam (Somad dan Hernawati 1995, hlm.33).

3) Ibu yang sedang mengandung menderita keracunan darah

(24)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

mempengaruhi terhadap pertumbuhan janin. Jika hal tersebut menyerang syaraf atau alat-alat pendengaran maka anak tersebut akan terlahir dalam keadaan tunarungu dalam (Somad dan Hernawati 1995, hlm.33).

b) Faktor Luar dari Anak

Menurut Somad dan Hernawati (1995, hlm.34) :

1) Anak mengalami infeksi pada saat dilahirkan atau kelahiran. Misal, anak terserang Harpes Imlex, jika infeksi ini menyerang alat kelamin ibu dapat menular pada saat anak dilahirkan. Demikian pula pada penyakit kelamin yang lain, dapat ditularkan melalui terusan jika virusnya masih dalam keadaan aktif. Penyakit-penyakit yang ditularkan kepada anak yang dilahirkannya dapat menimbulkan infeksi yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat-alat atau syaraf pendengaran.

2) Meningitis atau radang selaput otak, dari hasil penelitian para ahli ketunarunguan yang disebabkan karena meningitis antara lain penelitian yang dilakukkan oleh Vermon (1968), sebanyak 8,1%, Ries (1973), melaporkan 4,9%, sedangkan Trybus (1985), memberikan keterangan sebanyak 7,33%.

(25)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

terjadi karena penyakit pernafasan yang berat sehingga menyebabkan hilangnya pendengaran. Davis dan Flower dalam Somad dan Hernawati (1995, hlm.34) mengatakan bahwa nanah yang ada di telinga bagian tengah lebih sering yang menjadi penyebab hilangnya pendengaran dari pada yang diturunkan oleh orangtua. Otitis media juga dapat ditimbulkan karena infeksi pernafasan atau pilek dan penyakit anak-anak seperti campak. 4) Penyakit lain atau kecelakaan yang dapat mengakibatkan kerusakan

alat-alat pendengaran bagian tengah dan dalam.

3. Dampak ketunarunguan

Ketunarunguan pada seseorang/anak memunculkan dampak luas yang akan menjadi gangguan pada kehidupan diri yang bersangkutan. Menurut Arthur Borthroyd dalam Sadja’ah (2005, hlm.1) berbagai dampak yang ditimbulkan sebagai akibat ketunarunguan mempengaruhi dalam hal : masalah persepsi auditif, masalah bahasa dan komunikasi, masalah intelektual dan kognitif, masalah pendidikan, masalah sosial, masalah emosi, bahkan masalah vokasional. Ketunarunguan berdampak luas dan kompleks terhadap anak dan terhadap kehidupan keluarganya bahkan akan mempengaruhi sikap-sikap masyarakatnya pula.

Pakar pendidikan anak tunarungu seperti Daniel Ling dalam Sadja’ah (2005, hlm.1) mengemukakan bahwa ketunarunguan memberikan dampak inti yang diderita oleh yang bersangkutan yaitu gangguan/hambatan perkembangan bahasa. Hambatan perkembangan bahasa memunculkan dampak-dampak lain yang sangat kompleks lainnyas seperti aspek pendidikan, hambatan emosi-sosial, perkembangan inteligensi dan akhirnya hambatan dalam aspek kepribadian, artinya dampak inti yang di derita menimbulkan/mengait pada dampak lain yang mengganggu kehidupannya.

(26)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pendengaran pun berkurang menyebabkan persepsi auditorisnya kurang berkembang. Mereka sulit menangkap suara-suara khususnya bunyi bahasa melalui pendengarannya itu, akibatnya anak tidak dapat menirukan atau mengulang kata-kata hingga menjadi bahasa. Kesimpulannya anak tunarungu mengalami gangguan komunikasi khususnya komunikasi verbal/lisan.

Di antara dampak utama ketunarunguan pada perkembangan anak adalah dalam bidang bahasa dan ujaran (speech). Kita perlu membedakan antara bahasa (sistem utama yang kita pergunakan untuk berkomunikasi) dan ujaran (bentuk komunikasi yang paling sering dipergunakan oleh orang yang dapat mendengar). Besar atau kecilnya hambatan perkembangan bahasa dan ujaran anak tunarungu tergantung pada jenis dan tingkat kehilangan pendengarannya. Hambatan tersebut dapat mengakibatkan kesulitan dalam belajar di sekolah dan dalam berkomunikasi dengan orang yang dapat mendengar/berbicara sehingga berdampak pada perkembangan sosial, emosi, perilaku, dan keragaman pengalamannya. Ini karena sebagian besar perkembangan sosial masyarakat didasarkan atas komunikasi lisan, begitu pula perkembangan komunikasi itu sendiri, sehingga gangguan dalam gangguan pendengaran menjadi menimbulkan masalah.

a) Dampak Terhadap Perkembangan Bahasa Anak Tunarungu

Telah dikemukakan di atas bahwa dalam banyak hal dampak yang paling serius dari ketunarunguan yang terjadi pada masa prabahasa terhadap perkembangan individu adalah dalam perkembangan bahasa lisan, dan akibatnya dalam kemampuannya untuk belajar secara normal di sekolah yang sebagian besar didasarkan atas pembicaraan guru, membaca dan menulis. Seberapa besar masalah yang dihadapi dalam mengakses bahasa itu bervariasi dari individu ke individu. Ini tergantung pada parameter ketunarunguannya, lingkungan auditer, dan karakteristik pribadi masing-masing anak, tetapi ketunarunguan ringan pada umumnya menimbulkan lebih sedikit masalah daripada ketunarunguan berat.

(27)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

keterbatasan dalam pendengaran, tidak terjadi proses peniruan suara. Melainkan mereka hanya menjalani proses peniruan visual. Bahasa merupakan alat komunikasi utama yang dipergunakan manusia untuk mengadakan hubungan atau interaksi dengan sesama. Bila seorang anak memiliki kemampuan berbahasa, mereka memiliki sarana untuk mengembangkan segi sosial, emosional, maupun intelektualnya. Mereka juga dapat mengungkapkan perasaan dan keinginannya dan bertukar pikiran. Sedangkan perkembangan berbahasa anak tunarungu terutama tunarungu total tidak dapat sampai pada penguasaan berbahasa melalui pendengaran, melainkan mereka harus melalui indera lainnya seperti pengelihatannya dalam berkomunikasi. Untuk mengantisipasi kesulitan anak tunarungu dalam bekomunikasi, dapat menggunakan bahasa isyarat.

b) Dampak Terhadap Perkembangan Kognitif Anak Tunarungu

(28)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

individu tunarungu yang sesungguhnya bila masalah bahasanya dapat diatasi.

Perkembangan alat-alat tes sesudah Perang Dunia II yang memisahkan antara elemen verbal dan kinerja (performance) dalam item-item tes inteligensi, menunjukkan bahwa meskipun rata-rata skor tes verbalnya sekitar 60, yang mencerminkan defisit bahasa testee, tetapi skor rata-rata hasil tes kinerjanya pada umumnya berada pada kisaran normal, baik dalam mean-nya maupun distribusinya, bila subyek tunarungu itu tidak menyandang ketunaan lain. Akan tetapi, kini terdapat kecenderungan meningkatnya jumlah populasi tunarungu yang menyandang ketunaan tambahan, sebagai akibat dari meningkatnya kemajuan dalam bidang kedokteran, sehingga bayi tunarungu yang menyandang ketunagandaan dapat bertahan hidup Moores (Rosyanti, 2013, hlm. 17). Akibatnya, secara kelompok, skor tes inteligensi individu tunarungu menjadi lebih rendah.

Akhir-akhir ini, minat para ahli bergeser dari masalah tingkat rata-rata inteligensi individu tunarungu secara umum serta distribusinya ke masalah struktur kognitifnya dan ke masalah apakah berpikir itu dapat dilakukan tanpa bahasa. Yang paling menonjol dalam bidang ini adalah Hans Furth, yang karyanya dituangkan dalam bukunya yang berjudul

Thinking Without Language (1966) Rosyanti (2013, hlm. 17). Sebagai hasil

(29)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu c) Dampak Terhadap Perkembangan Emosi Anak Tunarungu

Kekurangan akan pemahaman bahasa lisan atau tulisan seringkali menyebabkan anak tunarungu menafsirkan sesuatu secara negatif atau salah dan ini sering menjadi tekanan bagi emosinya. Tekanan pada emosinya itu dapat menghambat perkembangan pribadinya dengan menampilkan sikap menutup diri, bertindak agresif, atau sebaliknya menampakan kebimbangan dan keragu-raguan. Emosi anak tunarungu selalu bergolak di satu pihak karena kemiskinan bahasanya dan dipihak lain karena pengaruh dari luar yang diterimanya. Anak tunarungu bila ditegur oleh orang yang tidak dikenalnya akan tampak resah dan gelisah.

d) Dampak Terhadap Perkembangan Sosial Anak Tunarungu

Sama seperti manusia lainnya, anak tunarungu juga makhluk sosial yang selalu memerlukan kebersamaan dengan orang lain. Akan tetapi, karena memiliki kekurangan dalam segi fisik, biasanya mereka mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Mereka banyak yang merasa rendah diri dan merasa kurang berharga. Dengan demikian, penilaian dari lingkungan terhadap dirinya memberikan pengaruh yang besar terhadap fungsi sosialnya.

Oleh karena itu, seluruh anggota keluarga dan masyarakat di sekitarnya hendaknya berusaha memahami keadaan mereka. Kita harus menjaga perasaannya, jangan membuat hal-hal yang dapat menyebabkan mereka tersinggung atas kekurangannya. Anak tunarungu juga seringkali me-ngalami berbagai konflik, kebingungan, dan ketakutan akibat menghadapi lingkungan yang bermacam-macam. Karena itu, kita harus membantu dan memberi pengertian kepada mereka agar mereka dapat keluar dari konflik yang dialaminya walaupun sangat sulit untuk memahami perasaan dan pikirannya.

e) Dampak Terhadap Perkembangan Perilaku Anak Tunarungu

(30)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

menerima rangsang pendengaran, keterbatasan dalam berbahasa, ketidak-tetapan emosi, keterbatasan intelegensi dihubungkan dengan sikap lingkungan terhadapnya menghambat perkembangan kepribadiannya.

4. Klasifikasi Anak Tunarungu

Klasifikasi anak tunarungu menurut Samuel A. Kirk dalam Somad dan Hernawati (1995, hlm. 29) :

a) 0 dB : menunjukkan pendengaran yang optimal.

b) 0 - 26 dB : menunjukan seseorang masih mempunyai pendengaran yang normal.

c) 27 – 40 dB : mempunyai kesulitan mendengar bunyi-bunyi yang jauh, membutuhkan tempat duduk yang strategis letaknya dan memerlukan terapi bicara (tergolong tunarungu ringan).

d) 41 – 55 dB : mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas, membutuhkan alat bantu dengar dan terapi bicara (tergolong tunarungu sedang).

e) 56 – 70 dB : hanya bisa mendengar suara dari jarak yang sangat dekat, masih mempunyai sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan bicara dengan menggunakan alat bantu mendengar serta dengan cara yang khusus (tergolong tunarungu agak berat).

f) 71 – 90 dB : hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang-kadang dianggap tuli, membutuhkan pendidikan luar biasa yang instensif, membutuhkan alat bantu dengar dan latihan biacara secara khusus (tergolong tunarungu berat).

g) 91 dB ke atas : mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak bergantung pada penglihatan daripada pendengaran untuk proses menerima informasi, dan yang bersangkutan dianggap tuli (tergolong tunarungu berat sekali).

B. Metode Multisensori

(31)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Metode berasal dari dua kata, yaitu meta dan hados, meta berarti melalui, dan hados berarti jalan atau cara. Sehingga metode mengandung pengertian suatu jalan yang dilalui untuk me ncapai suatu tujuan Arifin dalam (Habsah, 2012, hlm. 24). Dalam proses pendidikan metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena metode menjadi sasaran dalam menyampaikan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum. Tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan dapat terproses secara efektif dan efisien dalam proses belajar mengajar (PBM).

Multisensori terdiri dari dua kata yaitu multi dan sensori. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Sessiani (2007, hlm. 40) , kata “multi”

artinya banyak atau lebih dari satu atau dua, sedangkan “sensori” (KBBI,

1999, h. 916) artinya panca indera. Maka gabungan kedua kata ini berarti lebih dari satu panca indera.

Yusuf dalam Sessiani (2007, hlm. 40) menyatakan bahwa pendekatan multisensori mendasarkan pada asumsi bahwa anak akan dapat belajar dengan baik apabila materi pengajaran disajikan dalam berbagai modalitas alat indera. Modalitas yang dipakai adalah visual, auditoris, kinestetik, dan taktil, atau disingkat dengan VAKT.

(32)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Metode multisensori yang dikembangkan oleh Grace Fernald merupakan sebuah metode membaca remedial – kinestetik yang dirancang untuk mengajari individu dengan kesulitan membaca yang ekstrim. Namun semua orang dengan inteligensi normal pun diterima dalam program ini dan dalam beberapa kasus mereka belajar membaca selama beberapa bulan hingga 2 tahun Myers dalam Sessiani (2007, hlm. 42). Fernald membagi programnya dalam 4 tingkatan dalam jangka waktu yang panjang, dengan evaluasi yang terus – menerus dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca anak sampai suatu tingkat yang setaraf dengan tingkat intelektual dan tingkat pendidikan yang diinginkan. Adapun gambaran singkat pelaksanaan program remedial multisensoris adalah sebagai berikut. (Sessiani, 2007, hlm. 42)

Menurut Habsah (2012, hlm. 17) pada awalnya metode ini menekankan pada sensori penglihatan, pendengaran, kinestetik, dan taktil untuk menelusuri dan mengenali huruf, bentuk, dan informasi lainnya yang dipandang sebagai hambatan perkembangan yang terjadi pada indera tertentu dapat diatasi bgian lain yang masih berfungsi dengan baik, kemudian dijelaskan bahwa stimulasi kinestetik ( gerakan persendian dan otot), taktil diberikan dengan stimulus auditori dan visual.

Habsah (2012, hlm. 18) Pendekatan multisensori memiliki prinsip yang dijadikan pegangan, prinsip tersebut merupakan ciri khas yang harus dilakukan dalam setiap penerapan metode multisensory, prinsip-prinsip tersebut meliputi :

1. Prinsip Kesenangan

Jhon Eisension dalam Sadj’ah (Habsah, 2012, hlm. 18) mengatakan

specch is fun” maksudnya adalah: pada setiap penerapan metode

multisensory, anak dibawa dalam situasi yang menyenangkan sehingga anak akan mudah menerima latihan.

2. Prinsip Individualitas

(33)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

antara individu yang satu dengan individu yang lain memiliki perbedaan dalam kemampuan, kecerdasan, minat, dan lain sebagainya. Dengan memperhatikan banyaknya perbedaan, maka pemberian layanan harus memprioritaskan faktor kondisi yang dimiliki individu tersebut.

3. Prinsip Kontinyuitas

Pelaksanaan metode multisensory bersifat kontinyu artinya pelaksanaan dilakukan secara terus menerus dan terjadwal dengan memperhatikan kemajuan anak atau mengulang kembali dengan catatan program yang direncanakan belum dicapai sebagaimana mestinya. Prinsip kontinyu ini sebagai upaya dalam membiasakan anak agar ingat dengan apaya yang telah diajarkan.

4. Prinsip Berkelanjutan

Berkelanjutan di sini maksudnya ialah terciptanya kebiasaan anak dalam mengucapkan satu fonem dalam kata-kata tertentu. Anak tidak perlu dilatih untuk mengapresiasikannya tetapi dilanjutkan denganfonem lain dengan berbagai variasi vocal dan konsonan

5. Prinsip Khusus

Prinsp khusus ialah pengelompokan fonem atau huruf vokal yang berada di depan, di tengah, dan di belakang dalam sebuah kata serta melafalkan kata atau fonm tersebut jelas atau tidak jelas. Sehingga secara lebih khusus kita dapat mengetahui dimana letak kesulitan anak dalam mengucapkan fonem atau kata yang berada di depan, di tengah atau di belakang kata.

Metode multisensori ini dilakukan berdasarkan prinsip pengamatan terhadap berbagai indera-indera secara terpadu yang dimiliki seseorang. Multisensory artinya mengfungsikan seluruh indera sensori ( indera penangkap) dalam memperoleh kesan-kesan melalui perabaan, visual, perasaan, kinestetik, dan pendengaran Tarmansyah dalam ( Habsah, 2012, hlm. 19).

(34)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dimilikinya. Berkaitan dengan masalah sensori Prayitno dalam Habsah (2012, hlm. 20) menyatakan bahwa :”makin banyak inderaanak yang terlibat dalam proses belajar maka makin mudah dan pahamlah anak dengan apa yang dipelajari”. Pendapat itu didukung Amin dalam Habsah (2012, hlm. 20) yang mengungkapkan bahwa :”melatih sensori motor atau penginderaan merupakan suatu pekerjaan yang memiliki arti sangat penting dalam

pendidikan”. (Habsah, 2012, hlm. 20)

C. Kosakata

1. Pengertian Kosakata

Kosa kata adalah himpunan kata yang diketahui oleh seseorang atau merupakan bagian dari suatu bahasa tertentu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:597) kosa kata sama dengan pembendaharaan kata. Menurut Yulianti (dalam Heryani, 2008, hlm. 14) mengemukakan bahwa kosa kata ialah:

a) Komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna pemakaian kata dalam bahasa;

b) Kekayaan yang dimiliki seorang pembicara atau penulis; c) Daftar yang dipakai dalam satu bidang ilmu pengetahuan;

d) Daftar kata yang seperti kamus tetapi dengan pejelasan yang singkat danpraktis.

Selain itu Moeliono ( dalam Heryani, 2008, hlm. 15) memberikan batasan kosakata sebagai berikut:

a) Semua kata yang terdapat dalam semua bahasa

b) Kata-kata yang dikuasai oleh seseorang adalah kata-kata yang dipakai oleh segolongan orang dari lingkungan yang sama

c) Kata-kata yang dipakai dalam satu bidang ilmu

d) Seluruh morfem bebas yang ada dalam suatu bahasa dan

(35)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Kosakata atau pembendaharaan kata itu tidak lain dari daftar kata-kata yang segera kita ketahui artinya bila mendengarnya kembali, walaupun jarang atau tidak pernah digunakan dalam percakapan atau tulisan lisan.(Heryani, 2008, hlm. 15)

2. Tujuan Pembelajaran Kosa Kata

Kosa kata menurut perkembangannya selalu bertambah dari waktu ke waktu sesuai dengan kemajuan jaman. Sudah seharusnya setiap orang mengetahui kata-kata baru. Tujuan mempelajari kosa kata adalah terampil berbahasa. Terampil disini artinya terampil berkomunikasi. Sehubungan dengan hal tersebut Keraf ( dalam Heryani, 2008 hlm. 16) mengutarakan pendapatnya, “untuk mudah berkomunikasi dengan anggota masyarakat yang lain, setiap orang perlu memperluas kosa katanya, perlu mengetahui sebanyak-banyaknya pembendaharaan kata dalam bahasa.” Komunikasi akan berjalan dengan baik kalau orang/para komunikasinya mengetahui kosa kata dengan baik pula.

3. Jenis Kosakata

Kosakata dasar (basic vocabulary) adalah kata-kata yang tidak mudah berubah atau sedikit sekali kemungkinannya dipungut dari bahasa lain (Tarigan, 2011, hlm.3). Menurut Tarigan (2011, hlm. 3) kosakata dasar terdiri atas:

a) Istilah kekerabatan; misalnya: ayah, ibu, anak, adik, kakak, nenek, kakek, paman, bibi, menantu mertua.

b) Nama-nama bagian tubuh;misalnya: kepala, rambut, mata, telinga, hidung, mulut, bibir, gigi, lidah, pipi, leher, dagu, bahu, tangan, jari, dada, perut, pinggang, paha, kaki, betis, telapak, punggung, darah, napas. c) Kata ganti (diri, penunjuk);misalnya: saya, kamu, dia, kami, kita, mereka,

(36)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

d) Kata bilangan pokok;misalnya: satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, dua puluh, sebelas, dua belas, seratus, dua ratus, seribu, dua ribu, sejuta, dua juta.

e) Kata kerja pokok;misalnya: makan, minum, tidur, bangun, berbicara, melihat, mendengar, menggigit, berjalan, bekerja, mengambil, menangkap, lari.

f) Kata keadaan pokok;misalnya: suka, duka senang susah, lapar, kenyang, haus, sakit, sehat, bersih, kotor, jauh, dekat, cepat lambat, besar, kecil, banyak, sedikit terang, gelap, siang, malam, rajin, malas, kaya, miskin, tua, muda, hidup, mati.

g) Benda-benda universal;misalnya: tanah, air, api, udara, langit, bulan, bintang, matahari, binatang, tumbuh-tumbuhan.

Menurut Tarigan (2011, hlm. 5) mempelajari sebuah kata baru dengan sendirinya membawa efek ekplosif, mengakibatkan pengaruh luas dalam kehidupan. Mari kita ambil contoh dari kehidupan sehari-hari, yaitu kata

kebersihan. Mula-mula mempelajari kata itu kita mencari serta memahami

apa maknanya. Kemudian kita praktikkan dalam kehidupan pribadi kita. Selanjutnya kita pun apalagi seorang guru ingin menjelaskan makna kata itu kepada orang lain atau anak didik kita serta mengharapkan agar mereka pun

mempraktikkan “kebersihan” itu dalam kehidupan sehari-hari. Apabila hal itu

dilakukan, praktis kehidupan mereka turut berubah pula.

Mempelajari kata-kata baru merupakan suatu proses dinamis yang melibatkan pemerolehan perhatian dan kepentingan ganda. Kata-kata baru dalam perbendaharaan responsi seseorang cenderung bertambah dan meningkat, intrusif atau menggangu, propulsif atau mendorong; dan hal ini mendorong sang pemilik untuk mencari serta mendapatkan penerapan-penerapan atau aplikasi-aplikasi baru. Apabila kata-kata itu berubah, maka kita pun berubah pula Tarigan (Dale[et al];1971, hlm.9).

(37)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

tunarungu diberikan dalam bentuk kartu bergambar dan menunjukan bendanya secara langsung, sehingga peserta didik akan mudah memahami kata dengan meniru gerak bibir peneliti.

D. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan adalah suatu penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu yang dapat di pertanggungjawabkan keabsahannya untuk melakukan penelitian yang dilakukan peniliti sekarang. Berikut ini merupakan beberapa hasil penelitian terdhulu mengenai metode VAKT dan penggunaan media gambar dalam pembelajaran :

1. “Penggunaan Metode VAKT (Visual,Auditory,Kinesthetic,Tactile) dalam

Meningkatkan Kemampuan Membaca Huruf Hijaiyah pada Anak Tunarungu”, yang diteliti oleh Risma Rosyanti pada tahun 2013. Hasil penelitian mengatakan bahwa terdapat peningkatan persentase kemampuan membaca huruf hijaiyah dari baseline satu kemudian fase intervensi dan yang terakhir adalah fase baseline dua.

2. “Penggunaan Media Kartu Gambar Dan kartu kata untuk meningkatkan kemampuan kosakata pada anak tunarungu kelas D1”, yang diteliti oleh

Yeeni Heryani pada tahun 2008. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penggunaan media kartu gambar dan kartu kata cukup memberikan dampak positif dalam kegaiatan pembelajaran Bahasa Indonesia siswa tunarungu kelas D1.

3. “Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Tunarungu melalui

Pendekatan Multi Sensoris dengan Media Power Point dalam Pembelajaran BKBPI Kelas V di SLB Budi bhakti II Kawali Kabupaten

Ciamis”, yang diteliti oleh Aab Habsah pada tahun 2012. Hasil penelitian

menyimpulkan bahwa setelah diberikan tindakan dengan menggunakan metode multi sensoris dengan media power point pada proses pembelajaran BKBPI, hasil tes belajar siswa meningkat.

(38)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 1. Kerangka Berpikir

Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai ransangan, terutama melalui indera pendengaran. Anak tunarungu memiliki hambatan dalam berbahasa khususnya berbicara, terkadang apa yang diucapkan oleh anak tunarungu sangat sulit dipahami oleh orang pada umumnya. Kenyataanya anak tunarungu dituntut untuk mampu mengekspresikan keinginannya melalui bahasa verbal (bicara), tulisan atau tanda (gesture, isyarat, mimik, dan bahasa tubuh).

Berdasarkan pernyataan di atas, maka perlu dilakukan tindakan-tindakan atau metode yang dapat mengoptimalkan kemampuan berbahasa anak tunarungu, dengan mengoptimalkan indera penangkap (sensori) lainnya, seperti visual, kinestetik, dan taktil. Metode yang mencakup berbagai aspek indera penangkap tersebut adalah metode multisensori.

Metode multisensori dalam penelitian ini mencakup tiga aspek yaitu visual, kinestetik, dan taktil, yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan bicara anak tunarungu. Pada pelaksanaanya, sensori visual digunakan peserta didik untuk melihat dan mencontoh ucapan peneliti, selain itu juga untuk melihat gambar yang ditunjukan oleh peneliti.

Proses tersebut dilakukan bersamaan dengan penggunaan sensori taktil (rabaan) sehubungan peserta didik merasakan getaran-getaran suara peneliti ataupun suaranya sendiri, melalui tangan yang diletakkan pada leher atau dadanya, sehingga fonem tertentu akan dirasakan getarannya oleh tangan. Sensori kinestetik digunakan pada saat anak manirukan gerakan bibir peneliti dan mengucapkan kata-kata tersebut

2. Hipotesis Penelitian

(39)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

umum, hipotesis dibagi menjadi dua macam, yaitu hipotesis nol dan hipotesis kerja.

(40)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, karena masalah yang dibawa oleh oleh peneliti sudah jelas. Seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono (2014, hlm 53). Setiap peneltian selalu berangkat dari masalah, atau dari potensi. Dalam penelitian kuantitatif, masalah yang dibawa oleh peneliti harus sudah jelas, dan ditunjukkan dengan data yang valid.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan subjek penelitian tunggal (Single Subject Research). Metode eksperimen ini digunakan karena sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti, yaitu untuk mengetahui apakah metode multisensori dapat meningkatkan kemampuan pengucapan kosakata Bahasa Indonesia pada anak tuna rungu.

Design penelitian menggunakan design A-B-A. Design A-B-A merupakan penelitian yang pengolahan datanya dipergunakan untuk penyelidikan perubahan perilaku, dalam hal ini adalah efektivitas penerapaan Metode multisensori untuk meningkatkan kemampuan pengucapan kosakata Bahasa Indonesia pada anak tunarungu.

B. Subjek dan Tempat Penelitian

1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah seorang anak dengan hambatan pendengaran.

Nama : RM Jenis Kelamin : laki-laki Umur : 11 tahun

(41)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

RM mengalami ketunurungan sejak lahir dan belum pernah mendapatkan layanan serta pendidikan yang khusus sehingga kemampuan berbahasanya sangat kurang bahkan tidak jelas.

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di rumah peserta didik RM yang terletak di kampung Jamantri II Desa Sabajaya Kecamatan Tirtajaya Kabupaten Karawang.

C. Variabel Penelitian

Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau obyek, yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain (Hatch dan Farhady, 1981) dalam Sugiyono (2014, hlm.63). Sedangkan menurut Sunanto dkk. (2006, hlm.12) secara konseptual, variabel merupakan suatu konsep yang memiliki keragaman nilai. Sementara konsep merupakan gambaran abstrak tentang suatu fenomena atau benda. Misalnya jika kita menyebut istilah, badan, kendaraan, rumah, pendidikan dan lain-lain. Badan, kendaraan, rumah, dan pendidikan tersebut merupakan sebuah konsep karena istilah-istilah tersebut menggambarkan sesuatu namun belum mengandung keragaman nilai atau ukuran tertentu. Sebaliknya istilah seperti, tinggi badan, berat badan, jenis kendaraan, tingkat pendidikan di dalamnya telah terkandung keragaman ukuran atau nilai tertentu oleh karena itu dapat disebut variabel.

1. Definisi Konsep Variabel

a. Metode Multisensori

(42)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Metode multisensori yang dikembangkan oleh Grace Fernald merupakan sebuah metode membaca remedial – kinestetik yang dirancang untuk mengajari individu dengan kesulitan membaca yang ekstrim. Namun semua orang dengan inteligensi normal pun diterima dalam program ini dan dalam beberapa kasus mereka belajar membaca selama beberapa bulan hingga 2 tahun Myers dalam Sessiani (2007, hlm. 42). Fernald membagi programnya dalam 4 tingkatan dalam jangka waktu yang panjang, dengan evaluasi yang terus – menerus dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca anak sampai suatu tingkat yang setaraf dengan tingkat intelektual dan tingkat pendidikan yang diinginkan. Adapun gambaran singkat pelaksanaan program remedial multisensoris adalah sebagai berikut. (Sessiani, 2007, hlm. 42)

b. Kosakata

Kosakata dasar (basic vocabulary) adalah kata-kata yang tidak mudah berubah atau sedikit sekali kemungkinannya dipungut dari bahasa lain Tarigan (2011, hlm.3). Menurut Tarigan (2011, hlm. 3) kosakata dasar terdiri atas:

a) Istilah kekerabatan; misalnya: ayah, ibu, anak, adik, kakak, nenek, kakek, paman, bibi, menantu mertua.

b) Nama-nama bagian tubuh;misalnya: kepala, rambut, mata, telinga, hidung, mulut, bibir, gigi, lidah, pipi, leher, dagu, bahu, tangan, jari, dada, perut, pinggang, paha, kaki, betis, telapak, punggung, darah, napas.

c) Kata ganti (diri, penunjuk);misalnya: saya, kamu, dia, kami, kita, mereka, ini, itu, sini, situ, sana.

(43)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

e) Kata kerja pokok;misalnya: makan, minum, tidur, bangun, berbicara, melihat, mendengar, menggigit, berjalan, bekerja, mengambil, menangkap, lari.

f) Kata keadaan pokok;misalnya: suka, duka senang susah, lapar, kenyang, haus, sakit, sehat, bersih, kotor, jauh, dekat, cepat lambat, besar, kecil, banyak, sedikit terang, gelap, siang, malam, rajin, malas, kaya, miskin, tua, muda, hidup, mati.

g) Benda-benda universal;misalnya: tanah, air, api, udara, langit, bulan, bintang, matahari, binatang, tumbuh-tumbuhan. (Tarigan, 1983, hlm.9-10).

Mempelajari sebuah kata baru dengan sendirinya membawa efek

ekplosif, mengakibatkan pengaruh luas dalam kehidupan. Mari kita ambil

contoh dari kehidupan sehari-hari, yaitu kata kebersihan. Mula-mula mempelajari kata itu kita mencari serta memahami apa maknanya. Kemudian kita praktikkan dalam kehidupan pribadi kita. Selanjutnya kita pun apalagi seorang guru ingin menjelaskan makna kata itu kepada orang lain atau anak didik kita serta mengharapkan agar mereka pun mempraktikkan “kebersihan” itu dalam kehidupan sehari-hari. Apabila hal itu dilakukan, praktis kehidupan mereka turut berubah pula.

Mempelajari kata-kata baru merupakan suatu proses dinamis yang melibatkan pemerolehan perhatian dan kepentingan ganda. Kata-kata baru dalam perbendaharaan responsi seseorang cenderung bertambah dan meningkat, intrusif atau menggangu, propulsif atau mendorong; dan hal ini mendorong sang pemilik untuk mencari serta mendapatkan penerapan-penerapan atau aplikasi-aplikasi baru. Apabila kata-kata itu berubah, maka kita pun berubah pula Tarigan (Dale[et al];1971, hlm.9).

2. Definisi Operasional

a. Variabel Bebas

(44)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dengan istilah intervensi atau perlakuan, penggunaan metode multisensori merupakan intervensi dalam penelitian ini. Metode multisensory pada penelitian ini mencakup tiga aspek indera/sensori yaitu, visual, kinestetik, dan taktil. Metode multisensori suatu cara yang teratur yang digunakan untuk membantu anak mencapai peningkatan pemungsian semua indra/sensori (seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, kinestetik dan pengecapan) dari anak secara stimultan.

b. Variabel Terikat

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas Sunanto dkk. (2006, hlm.12). Variabel dalam penelitian dengan subyek tunggal dikenal dengan nama perilaku sasaran atau target

behavior. Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel terikat yaitu

kemampuan pengucapan kosakata Bahasa Indonesia. Kriteria kemampuan dalam penelitian ini dapat diukur dari kemampuan kejelasan anak dalam mengucapkan kata meja dan baju.

Adapun satuan ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan persentase, yaitu dengan menggunakan setiap langkah kemampuan dan dibagi dengan keseluruhan jumlah langkah peristiwa kemudian dikalikan 100%.

D. Instrumen Penelitian

Menurut Sugiyono (2014, hlm.148) instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukurfenomena alam ataupun sosialyang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian. Sedangkan menurut Arikunto (2002, hlm.136) Instrumen penelitian adalah “alat yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah.”

(45)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok” (Arikunto 2002, hlm.136).

a. alat ukur

Alat Ukur yang dipakai sebagai tes atau latihan dalam penelitian ini yaitu dengan mengukur Efektivitas Penerapan Metode multisensori untuk Meningkatkan Kemampuan Pengucapan Kosakata Bahasa Indonesia pada Anak Tunarungu . Kemudian setelah data terkumpul akan dihitung dengan menggunakan rumus persentase.

b. persyaratan validitas

Sebuah penelitian diharapkan memiliki hasil yang valid, oleh karena itu untuk mendapatkan hasil yang diinginkan maka sebuah instrumen yang digunakan pun harus valid. “Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur” (Sugiyono, 2013, hlm.173).

1. Uji Validitas Instrumen

Uji validitas yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengujian validitas isi. Dimana pengujian validitas ini dengan membandingkan program yang ada dan konsultasi dari para ahli (experts judgement). Berikut adalah penilaian ahli yang menilai kelayakan instrumen yang dibuat oleh peneliti:

No Nama Jabatan

(46)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2 K Guru SLBN Trituna Subang

3 M.R Guru SLBN 1 Subang

Tabel 3.1

Daftar para ahli untuk expert judgement Instrumen

Data yang diperoleh melalui expert judgement akan dihitung dengan rumus:

(47)

Yunia Sri Hartanti, 2015

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

14 C C C 3

Berdasarkan hasil perhitungan aspek yang dinilai pada penelitian ini mengahasilkan persentase 100% hal ini menandakan bahwa instrumen dinyatakan valid dan dapat digunakan dalam penelitian. Instrumen penelitian terlampir.

Figur

Tabel 3.2 Hasil validitas instrumen

Tabel 3.2

Hasil validitas instrumen p.47

Referensi

Memperbarui...