• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian implementasi kapitasi berbasis komitmen pelayanan jaminan kesehatan nasional di kota Surakarta Jurnal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kajian implementasi kapitasi berbasis komitmen pelayanan jaminan kesehatan nasional di kota Surakarta Jurnal"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

KAJIAN IMPLEMENTASI KAPITASI BERBASIS KOMITMEN PELAYANAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI KOTA SURAKARTA

Dimar Siswi Utami1), Bhisma Murti2), Nunuk Suryani3) 1)

Program Studi Magister Kedokteran Keluarga

2)

Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat

3)

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Tujuan penelitian ini mengkaji Implementasi Kapitasi Berbasis Komitmen Pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional di Kota Surakarta

Subjek dan Metode:Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi dan kajian dokumen. Informan penelitian ini 6 Pegawai Puskesmas, 2 masyarakat, Ketua Tim JKN Dinas Kesehatan Kota Surakarta dan Kepala Unit MPKP BPJS Cabang Surakarta. Analisa data dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil: Pemahaman Pelaksana dalam Kebijakan Kapitasi Berbasis Komitmen Pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional di Puskesmas sebagian besar sudah paham namun masih mempunyai pemahaman yang berbeda-beda. Proses pelayanan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dan kepatuhan pada standar pelayanan, perilaku tenaga kesehatan yang melayani, kecukupan perbekalan kesehatan (suplai obat dan alat kesehatan). Proses pembayaran kapitasi dari BPJS ke FKTP berjalan dengan lancar, Kepuasan Pelaksana dan pengguna dalam Implementasi Kapitasi Berbasis Komitmen Pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional, sebagian besar informan belum puas dikarenakan masih ditemukan permasalahan dalam pelaksanaannya.

Saran: Perlu mengoptimalkan koordinasi dan sosialisasi terkait dengan Implementasi Kapitasi Berbasis Komitmen Pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional oleh stakeholder dan BPJS Kesehatan.

Kata Kunci: Kapitasi, JKN

PENDAHULUAN

Pemerintah Indonesia dari tahun 1992 hingga kini belum mampu mewujudkan tercapainya peserta program jaminan sosial bagi seluruh penduduk Indonesia (universal coverage) (Mukti & Moertjahjo, 2010). Hal ini berdasarkan data bahwa sekitar 37% (87 juta) dari penduduk Indonesia belum memiliki atau tercover asuransi/jaminan kesehatan. Falsafah dan dasar negara Pancasila terutama sila ke – 5 mengakui hak asasi warga atas kesehatan. Hak ini juga termaktub dalam UUD 1945 pasal 28H dan pasal 34, dan diatur dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. UU 36 Tahun 2009 menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau. Sebaliknya setiap orang juga mempunyai

kewajiban turut serta dalam program jaminan kesehatan (Kemenkes RI, 2013).

Untuk mewujudkan komitmen konstitusi di atas, pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sejak 1 Januari 2014. Dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011, pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bidang kesehatan, selanjutnya produk hukum lain telah diterbitkan sebagai upaya menjawab kendala yang muncul dari para penyelenggara dan pengguna layanan (UU No 24 Tahun 2011).

Pelayanan kesehatan di era JKN diharapkan menjadi terstruktur dan berjenjang, peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan pertama-tama harus memperoleh pelayanan kesehatan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat

(2)

commit to user

Pertama (FKTP). Bila peserta memerlukan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan, harus dilakukan melalui rujukan oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama, kecuali dalam keadaan kegawatdaruratan medis (Kemenkes RI, 2013).

Implementasi JKN pada pelayanan primer maupun lanjutan menganut prinsip managed care. Untuk itu kinerja pelayanan kesehatan ini perlu terjaga mengingat prinsip managed care yang bertumpu pada kendali biaya dan kendali mutu. Kinerja pelayanan kesehatan dalam era JKN dapat dilihat berdasarkan Permenkes RI No 24 Tahun 2015 tentang Penilaian FKTP Berprestasi dan Peraturan Bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI dan Direktur Utama Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial Kesehatan No HK.02.05/III/SK/089/2016 Nomor 3 Tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pembayaran Kapitasi Berbasis Pemenuhan Komitmen Pelayanan Pada FKTP dengan berdasarkan pencapaian indikator yang

meliputi indikator Angka Kontak ≥ 150 per

mil, Rasio Rujukan Rawat Jalan Non Spesialistik < 5% dan Rasio Peserta Prolanis

Rutin Berkunjung Ke FKTP ≥ 50 %. Apabila

FKTP dapat memenuhi indikator tersebut termasuk di dalam zona aman, dan apabila melebihi dari target indikator tersebut termasuk di dalam zona prestasi (PEB No 3/ 2016).

Di Kota Surakarta pelayanan primer khususnya Puskesmas dalam pelaksanaan JKN masih belum optimal hal ini dapat dilihat dari studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Puskesams Kota Surakarta. Melihat hasil data pada bulan Januari sampai dengan Mei 2016 untuk data angka kontak (AK), rasio rujukan rawat jalan non spesialistik (RRNS) dan rasio peserta Prolanis rutin berkunjung ke FKTP (RPPB) sebagai berikut:

Tabel 1.1 Hasil Data AK, RRNS dan RPPB

N o

Kode

FKTP AK Zona RP PB Zona

RRN S Zona

% Pembaya ran

1 171000 1 77.4

Tidak Aman

33. 33

Tidak Aman 0

Presta si 90%

2 171000 3

94.8 3

Tidak Aman 0

Tidak Aman 0

Presta si 90%

N o

Kode

FKTP AK Zona RP PB Zona

RRN S Zona

% Pembaya ran

3 112401 01 77.2 3 Tidak Aman 23. 68 Tidak Aman 0

Presta si 90%

4 112401 02 72.0 1 Tidak Aman 9.6 8 Tidak Aman 0

Presta si 90%

5 112401 03 79.6 2 Tidak Aman 22. 56 Tidak Aman 8.47

Tidak Aman 75%

6 112402 01 98.4 6 Tidak Aman 91. 23 Presta si 0

Presta si 98%

7 112402 02 117. 19 Tidak Aman 36. 11 Tidak Aman 0

Presta si 90%

8 112403 01 60.6 8 Tidak Aman 45. 68 Tidak Aman 0

Presta si 90%

9 112403 02

100. 45

Tidak Aman 0

Tidak Aman 0

Presta si 90%

1 0 112404 01 72.8 8 Tidak Aman 17. 65 Tidak Aman 0

Presta si 90% 1 1 112404 02 90.7 6 Tidak Aman 42. 11 Tidak Aman 0

Presta si 90% 1 2 112405 01 101. 61 Tidak Aman 21. 69 Tidak Aman 0

Presta si 90% 1 3 112405 02 62.7 8 Tidak Aman 9.6 8 Tidak Aman 0

Presta si 90% 1 4 112405 03 85.1 2 Tidak Aman 4.7 6 Tidak Aman 0

Presta si 90% 1 5 112405 04 104. 55 Tidak Aman 69.

14 Aman 0

Presta si 95% 1 6 112405 05 96.8 4 Tidak Aman 65.

52 Aman 0

Presta si 95%

1 7 112405 06 104. 38 Tidak Aman 26. 05 Tidak Aman 0

Presta si 90%

Sumber : BPJS Kesehatan 2016

(3)

commit to user

manusia, kelengkapan sarana dan prasarana, lingkup pelayanan dan komitmen pelayanan (Permenkes 12 Tahun 2016). Untuk pelaksanaan awal disebut dengan norma kapitasi (pra) dan selanjutnya menjadi kapitasi berbasis komitmen pelayanan (pasca). Pelaksanaannya digambarkan sebagai berikut untuk evaluasi kapitasi awal menggunakan besaran kapitasi sesuai norma kapitasi hasil kredensialing/rekredensialing pada bulan pertama, selanjutnya menggunakan evaluasi kinerja untuk bulan kedua dan ketiga. Pada bulan keempat dilakukan evaluasi bulan ketiga dan dilakukan penyesuaian kapitasi berdasarkan komitmen bulan ketiga, konsekuensi pengurangan pembayaran kapitasi dilaksanakan mulai bulan keempat sejak FKTP menerapkan sistem kapitasi berbasis pemenuhan komitmen pelayanan dan akan disesuaikan kembali setiap 3 (tiga) bulan (BPJSK 2016). Perlu dukungan dan komitmen yang tinggi dari seluruh FKTP untuk menjadikan pelayanan primer berkualitas, sehingga menjadi fasilitas kesehatan yang dipercaya dan memberikan pelayanan terbaik bagi peserta BPJS Kesehatan (BPJSK 2016).

Konsep Primary Health Care (PHC) dalam

penguatan fasilitas pelayanan kesehatan primer dapat mendorong efisiensi dalam pelayanan kesehatan. Penguatan peran petugas upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan di layanan primer menjamin keberlangsungan program JKN. Kendali mutu dan kendali biaya pelayanan

primer untuk mendapatkan pelayanan

kesehatan yang berkualitas dan terjangkau perlu ditunjang oleh sumber daya kesehatan yang bekerja di pelayanan primer, kelengkapan sarana dan prasarana, lingkup pelayanan dan komitmen pelayanan. Berdasarkan pemikiran tersebut penelitian tentang Kajian Implementasi Kapitasi Berbasis Komitmen Pelayanan JKN di Kota Surakarta perlu dilakukan

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian kualitatif dengan bentuk penelitian evaluatif dan sifat penelitian diskriptif.Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi dan kajian

dokumen. Informan penelitian ini 6 Pegawai Puskesmas, 2 masyarakat, Ketua Tim JKN Dinas Kesehatan Kota Surakarta dan Kepala Unit MPKP BPJS Cabang Surakarta. Analisa data dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Pemahaman Pelaksana dalam

Implementasi KBKP

Sebagian besar informan sudah paham penerapan KPKP Program JKN namun informan tersebut mempunyai pemahaman yang berbeda-beda mengenai implementasi KBKP Program JKN. Diperlukan pemahaman yang sama dalam menjalankan pelayanan kesehatan Program JKN di fasilitas kesehatan, karena agar program dapat berjalan lancar, kebijakan harus dapat dipahami oleh setiap pelaksana di lapangan sesuai peran masing-masing. Hal ini sejalan dengan Permenkes RI No. 28 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional ditetapkan dalam upaya memberikan pemahaman program Jaminan Kesehatan Nasional kepada seluruh stakeholder terkait sehingga pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik, efektif, efisien, transparan dan akuntabel. Manfaat jaminan yang diberikan kepada peserta dalam bentuk pelayanan kesehatan yang bersifat menyeluruh (kompreensif) berdasarkan kebutuhan medis yang diperlukan. Dengan mengetahui manfaat dan peran pelaksana baik di FKTP Dinas Kesehatan dan BPJS diharapkan dapat menjadi tolok ukur untuk mengetahui tingkat pemahaman pelaksana dalam implementasi KBKP.

(4)

commit to user

digunakan sebagai acuan bagi BPJS, FKTP yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Asosiasi fasilitas kesehatan. Tim kendali mutu kendali biaya, serta pemangku kepentingan terkait dalam penerapan pembayaran kapitasi berbasis pemenuhan komitmen palayanan pada FKTP secara efektif dan efisien.

Upaya pelayanan yang komprehensif terutama meningkatkan upaya promotif dan prefentif serta kendali rujukan diharapkan dalam pelaksanaan KBKP pada FKTP dapat menjadi bagian dari pengembangan sistem kendali mutu pelayanan yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Sistem rujukan yang dimaksud adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggungjawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizintal (Permenkes RI No. 75/ 2014).

Penelitian ini sejalan dengan apa yang disampaikan Situmorang Ketua Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) mengatakan bahwa dalam menjalankan pelayanan kesehatan program JKN di fasilitas pemerintah tenaga kesehatan di puskesmas masih belum tercipta pemahaman yang sama dalam menjalankan pelayanan kesehatan Program JKN. Disamping itu juga sejalan dengan penelitian dari Khariza (2015) dengan hasil sebagai berikut Aparat pelaksana di Rumah Sakit Jiwa Menur sudah memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang program Jaminan Kesehatan Nasional, sehingga menumbuhkan penerimaan dan dukungan yang positif terhadap program tersebut. Para pelaksana juga dapat menyelesaikan tanggungjawab sesuai dengan tugas dan peranannya. Dan sesuai dengan penelitian dari Amalina (2015) bahwa pengetahuan responden tentang JKN yang termasuk dalam kategori baik dapat mempengaruhi tindakan responden sebagai peserta JKN dalam menggunakan

pelayanan kesehatan sesuai dengan prosedur pelayanan JKN dan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang termasuk ke dalam program JKN.

2. Proses Pelayanan dalam Implementasi Kapitasi Berbasis Komitmen Pelayanan di Puskesmas

Berdasarkan hasil penelitian dalam proses pelayanan yang ada di Puskesmas sudah didukung dengan adanya SOP pelayanan, namun SOP pelayanan yang digunakan merupakan SOP yang sudah ada sebelum implementasi KBKP dilaksanakan. Dalam proses pelayanan tersebut dibutuhkan semua dukungan komponen baik SOP, sumber daya yang ada baik sumber daya manusia yang terlatih, sarana prasarana yang memadai, obat-obatan yang sesuai formularium dan alat kesehatan sesuai standar. Dari hasil wawancara tersebut proses pelayanan masih perlu ditingkatkan dalam segala aspek, Puskesmas dapat segera berbenah untuk dapat mengatasi hal tersebut sehingga nantinya pelaksanaan KBKP ke depan lebih baik lagi dengan capaian indikator (QI-3) mencapai hasil yang optimal.

Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Permenkes RI No. 75/ 2014).

Pengadaan obat, alat kesehatan, bahan medis habis pakai dan pengadaan barang/jasa yang terkait dengan dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan lainnya dapat dilakukan oleh SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Permenkes RI No. 21/ 2016). Ciri-ciri pelayanan yang baik adalah :

a. Tersedianya karyawan yang baik

b. Tersedianya sarana dan prasaran yang

(5)

commit to user

c. Bertanggungjawab kepada pelanggan

sejak awal

d. Mampu melayani secara cepat dan

tepat

e. Mampu berkomunkasi

f. Memberikan jaminan kerahasiaan

setiap transaksi

g. Memiliki pengetahuan dan

kemampuan yang baik

h. Berusaha memahami kebutuhan

pelaksna

i. Mampu memberikan kepercayaan

kepada pelanggan

Sejak diberlakukan Januari 2014 implementasi kebijakan JKN sarat permasalahan diantaranya masih belum meratanya sosialisasi, komitmen antara manajemen dan penyedia layanan kesehatan dengan masyarakat berbeda sehingga memunculkan perbedaan komitmen terkait mekanisme, dan masih adanya kesenjangan kapasitas antar daerah (Infrastruktur, database, anggaran, dan SDM). Kesenjangan yang terjadi sesama wilayah akan berdampak pada pelaksanaan program JKN. Kurangnya sosialisasi sebagaimana tersebut berdampak adanya kebingungan masyarakat dengan pelaksanaan pelayanan kesehatan, adanya pemahaman yang berbeda-beda, serta ketidaktahuan bahwa JKN tidak sama. Kekurangpahaman masyarakat akan prosedur pelayanan kesehatan mengakibatkan masyarakat sering kali tidak melalui puskemas rujukan akan tetapi langsung ke rumah sakit yang dituju (PIP lAN, 2014).

Dari permasalahan yang ada dalam pelaksanaan sosialisasi program JKN terdapat rekomendasi yang dapat direkomendasikan:

a. Peningkatan sinergi dan kolaborasi

antar stake holder dalam melaksanakan sosialisasi program JKN kepada masyarakat melalui sharing sumber

daya, sarana dan prasarana,perencanaan, penganggaran

dan substansi sosialisasi serta penguatan fungsi masing-masing

stakeholder dalam melaksanakan sosialisasi secara umum dan khusus

b. Peningkatan kualitas dan kuantitas

SDM untuk melakukan sosialisasi melalui koordinasi antar stakeholder dengan pola regrouping serta melakukan sosialisasi secara berjenjang dengan membentuk fasilitator (PIP lAN, 2014).

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Saputra (2015) mengenai sumber daya manusia, dimana hasil penelitian yang disampaikan bahwa pada pelaksanaan JKN kuantitas dan distribusi SDM pelaksana pelayanan kesehatan di Puskesmas Kelua dan RSUD H. Badaruddin masih mengalami kekurangan , namun sudah dilakukan penambahan, kualitas SDM pelaksana pelayanan kesehatan masih sama seperti sebelum pelaksanaan JKN. Disamping itu juga sejalan dengan penelitian Musrin (2013) yang menyimpulkan bahwa dari segi fasilitas kesehatan primer dan sekunder siap untuk tenaga SDMnya (tenaga dokter), belum siap dari segi regulasi dari pusat belum terselesaikan sepenuhnya serta sosialisasinya belum siap karena tidak maksimal dalam pelaksanaannya.

3. Proses Pembayaran Kapitasi dalam Implementasi Kapitasi Berbasis Komitmen Pelayanan

(6)

commit to user

komitmen pelayanan atau pay for

performance menjadi priorias utama

nasional dan program asuransi medicare. Disamping itu diperoleh hasil bahwa dengan pembayaran dirasakan lebih adil oleh puskesmas. Berdasarkan Permenkes RI No 12 Tahun 2016 bahwa tarif pelayanan kesehatan pada FKTP meliputi tarif kapitasi dan tarif non kapitasi. Pembayaran kapitasi atas pemenuhan target indikator komitmen pelayanan dimulai pada bulan ke- 4 sejak penerapan pembayaran kapitasi akan dilaksanakan berdasarkan hasil. Besaran dan waktu pembayaran diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 yang mengatur secara teknis operasional mengenai besaran dan waktu pembayaran kepada Fasilitas Kesehatan. Pada pasal 37 menentukan bahwa besaran pembayaran kepada Fasilitas Kesehatan ditentukan berdasarkan kesepakatan BPJS Kesehatan dengan asosiasi Fasilitas Kesehatan di wilayah tersebut dengan mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian dari Jannah (2014) Pembayaran yang dilakukan ke faskes tingkat I menggunakan sistem kapitasi,dimana pembayaran dilakukan setiap bulan berdasarkan jumlah peserta, baik peserta berobat atau tidak dalam bulan tersebut. Pembayaran ini dilakukan sesuai dengan prosedur yang dimulai dari penetapan jumlah kapitasi, persiapan pembayaran kapitasi hingga proses pembayaran kapitasi. Pembayaran kapitasi di transfer ke faskes yang bekerja sama setiap bulannya maksimal sampai tanggal 15 setiap awal bulan.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang berkaitan dengan paket asuransi kesehatan seperti diungkapkan Victoor dkk (2014) The basket method cocok untuk mengukur preferensi populasi umum mengenai isi dari rencana asuransi kesehatan, seperti berkinerja baik pada sebagian besar kriteria. Ini memastikan bahwa paket asuransi kesehatan akan lebih

selaras dengan kebutuhan dan preferensi populasi umum. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Chen (2016) dalam jurnal kesehatan berkitan dengan paket anggaran sebagai berikut...untuk mengembangkan skema untuk disesuaikan dengan cakupan evaluasi NHIS dibuat berdasarkan keputusan oleh NHIC berkaitan dengan kesempatan besar dalam memastikan paket manfaat dan negosiasi anggaran global.

Penelitian Robyn (2014) dalam Jurnal terkait dnegan kapitasi sebagai berikut: Jadwal pembayaran kapitasi juga ditentukan oleh peran penting tenaga kesehatan. Fakta bahwa fasilitas kesehatan membiayai biaya layanan dan obat-obatan yang diberikan kepada pendaftar sampai Juli setiap tahun, menyebabkan kesulitan untuk pusat kesehatan tertentu untuk memberikan perawatan yang komprehensif.

4. Kepuasan Pelaksana dan Kepuasan Pengguna

Berdasarkan data dari temuan penelitian didapatkan bahwa kepuasan pelaksana dan pengguna masih belum sepenuhnya puas karena masih ditemukannya berbagai permasalahan yang ada antara lain bertambahnya beban kerja, kurangnya komunikasi dan sosialisasi terhadap peserta serta kurang optimalnya input data p-care.

Di era JKN beban kerja tenaga kesehatan semakin meningkat dengan

meningkatnya demand masyarakat

terhadap layanan kesehatan, karena akses terhadap layanan yang makin baik. Masyarakat yang tadinya tidak bisa berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) karena keterbatasan biaya dengan adanya JKN menjadi bisa mengakses layanan. Peningkatan beban kerja ini belum diiringi dengan kepuasan kerja yang diperoleh tenaga kesehatan. Belum berjalannya sistim rujukan dengan baik berkontribusi menambah beban kerja (Yasmi, 2015).

(7)

commit to user

dalam rangka implementasi sistem KBKP JKN perlu diketahui dan dipahami oleh seluruh masyarakat. Untuk itu perlu dilakukan penyebar luasan informasi melalui sosialisasi kepada semua pemangku kepentingan dan masyarakat pada umumnya.

Dalam hal peserta tidak puas terhadap pelayanan Jaminan kesehatan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, peserta dapat menyelesaikan pengaduaan kepada fasilitas kesehatan dan/atau BPJS Kesehatan (Perpres No 19 Tahun 2016).

Penelitian ini sejalan dengan Hadi (2015) bahwa terdapat hubungan antara program JKN dengan kepuasan, sosialisasi, sistem pembiayaan dan kepersertaan. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Royanah (2015) tingkat

kepuasan pasien peserta Jaminan

Kesehatan Nasional bukan penerima bantuan iuran (non-PBI) di puskesmas dilihat dari aspek ketersediaan SDM, sebagian kecil pasien merasa belum puas dan merasa masih perlu adanya penambahan jumlah SDM, pasien belum sepenuhnya puas dengan pelayanan di puskesmas terkait hubungan antar manusia, terdapat pasien yang merasa membutuhkan komunikasi yang lebih intens dalam proses berjalannya pelayanan.

Penelitian terkait kualitas pelayanan sesuai yang terungkap dalam penelitian Boateng (2016) dalam jurnal kesehatan dengan hasil sebagai berikut: Ada peningkatan nilai paket manfaat NHIS ke pelanggan, namun respon skema untuk kebutuhan keuangan penyedia layanan kesehatan rendah. Perlu dilakukan review kebijakan NHIS untuk meningkatkan kelayakan finansial dan kualitas layanan.

KESIMPULAN,IMPLIKASI DAN SARAN

1. Pemahaman Pelaksana dalam Kebijakan

KBKP Program JKN di Puskesmas sebagian besar sudah paham namun masih

mempunyai pemahaman yang berbeda-beda. Diperlukan pemahaman yang sama dalam menjalankan pelayanan kesehatan Program JKN agar program berjalan dengan baik dan tepat sasaran,

2. Proses pelayanan pada implementasi

KBKP sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dan kepatuhan pada standar pelayanan, perilaku tenaga kesehatan yang melayani, kecukupan perbekalan kesehatan (suplai obat dan alat kesehatan). Dalam Proses Pelayanan pada Implementasi KBKP diharapkan semua komponen bisa memahami prosedur dan mekanisme pelayanan JKN, baik peserta, pemberi pelayanan maupun BPJS bisa menempatkan sesuai kewenangan masing-masing.

3. Proses pembayaran kapitasi dari BPJS ke

FKTP berjalan dengan lancar, dikarenakan Puskesmas sudah menjadi BLUD, maka proses pembayarannya langsung ke puskesmas tanpa lewat Dinas Kesehatan, tetapi masih perlu dilakukan peningkatan koordinasi terkait pembayaran kapitasi antara FKTP dengan BPJS Kesehatan.

4. Kepuasan Pelaksana dan pengguna dalam

implementasi KBKP Program Jaminan Kesehatan, sebagian besar informan belum puas dikarenakan masih ditemukan permasalahan dalam pelaksanaannya. Dalam hal peserta tidak puas terhadap pelayanan Jaminan kesehatan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, peserta dapat menyelesaikan pengaduaan kepada fasilitas kesehatan dan/atau BPJS Kesehatan

IMPLIKASI

1. Implikasi Teoritis

(8)

commit to user

meningkatkan kualitas pelayanan memerlukan kerjasama banyak pihak karena bukan merupakan tanggungjawab tenaga kesehatan saja.

2. Implikasi Praktis

Hasil penelitian ini menyimpulkan masih terdapat beberapa permasalahan dalam implementasi KBKP Program JKN, dalam hal proses pelayanan yaitu sumber daya masih kurang di puskesmas, sosialisasi yang belum merata dan beban kerja yang bertambah. Permasalahan pada implementasi KBKP Program JKN akan menjadikan kualitas pelayanan tidak optimal.

3. Implikasi Metodologi

Penelitian ini hanya melihat dari faktor pelayanan kesehatan saja dalam meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga faktor lain di luar pelayanan kesehatan yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan belum terkaji

SARAN

Penyamaan pemahaman dengan cara sosialisasi dan workshop terkait dengan Implementasi KBKP Progam JKN oleh stakeholder dan BPJS Kesehatan, Koordinasi internal puskesmas dengan cara mengoptimalkan minilokakarya dan forum rapat koordinasi guna mendukung proses pelayanan yang berkualitas, Koordinasi antara stakeholder dan BPJS Kesehatan demi kelancaran proses pembayaran kapitasi dengan cara mengoptimalkan rapat koordinasi lintas sektoral,Peningkatan dan pembenahan kualitas pelayanan demi keberlanjutan program dengan cara mengoptimalkan sumber daya yang ada dan tanggap terhadap kritik dan saran serta opini masyarakat.

REFERENSI

Amalina R,dkk, 2015. Tingkat Pengetahuan Jaminan Kesehatan Nasional Peserta Badan penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan di Puskesmas Plered Kabupaten Purwakarta Tahun 2015. Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X.

http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-kmp538de1de6ffull.pdf. Agustus, 20, 2016

Boateng E N, et al. 2016. Value And Service Quality Assessment Of The National Health Insurance Scheme In Ghana: Evidence From Ashiedu Keteke

District. Value in helath regional

issues 10c (2016) 7 – 13.

Chen PC, et al, 2016. Proposed mechanism for reviewing the coverage of National health insurance benefits: New mission for the national health insurance committee.I journal of the formosan medical association (2016) xx,1-3

Gyakuni F, 2014. Implementasi Program Jaminan Kesehatan Pada Bidan Praktik di Wilayah Puskesmas

Bangkalan. Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Airlangga. Surabaya.

Iriani, M R. 2015. Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (Studi Evaluasi Efektivitas Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosioal (BPJS) Kesehatan di Kabupaten

Temanggun). Surakarta.

https://digilib.uns.ac.id. Agustus,

19,2016.

Jannah, R. (2014). Prosedur Pembayaran Kapitasi ke Fasilitas Kesehatan Tingkat I Pada BPJS Kesehatan KC. Banda Aceh. http://etd.unsyiah.ac.id. Agustus, 26, 2016.

Kementerian Kesehatan RI. 2013. Bahan Paparan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional. Kementerian Kesehatan RI. Jakarta.

Khariza. Program Jaminan Kesehatan

(9)

commit to user

Mempengaruhi Keberhasilan Implementais Program Jaminan Kesehatan Nasional Di Rumah Sakit

Jiwa Menur Surabaya

journal.unair.ac.id/download-fullpapers-kmp538de1de6ffull.pdf. Agustus,20,2016.

Malik, H A, 2015.Analisis Peran Dokter Layanan Primer sebagai Gatekeeper di Era Jaminan Kesehatan Nasional. Perhimpunan Dokter Umum Indonesia. Jakarta.

Menko Kesra, dkk. 2012.Peta Jalan Menuju Jaminan Kesehatan Nasional 2012-2019. Jakarta

Murti, 2006. Desain dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan. Yogyakarta. Gajah Mada University Press.

Musrin DI, dkk. 2013. Kesiapan Stakeholder Dalam Pelaksanaan Jaminn Kesehatan Nasional Di Kota Makasar.

http://repository.unhas.ac.id/ ,

Agustus, 20, 2016

Novayanti, 2013. Implementasi Program Jaminan Kesehatan Gratis Daerah di Puskesmas Sumbang Kecamatan Curio Enrekang. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin. Makasar.

PIP LAN, 2014. Sosialisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN): Permasalahan dan Rekomendasi. http://inovasi.lan.go.id/

uploads/download/ 1427730699_

JKN .pdf. Agustus. 20. 2016

Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan RI. 2013. Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem

Jaminan Sosial Nasional. Kementerian Kesehatan RI. Jakarta.

Robyn P J, et al, 2014 Provider payment methods and health worker motivation in community-based health insuranse: A mixed-methods study.Social Science & Medicine 108 (2014) 223 – 236.

Royanah, 2015. Analisis Tingkat Kepuasan Pasien Peserta Jaminan Kesehatan Nasional Bukan Penerima Bantuan Iuran (NON- PBI) di Puskesmas Halmahera Kota Semarang Tahun 2015. http://lib.unnes.ac.id, Agustus, 26, 2016.

Sabrina.2015. Pelaksanaan Program Jaminan

Kesehatan Nasional (JKN) Dalam Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Di RSU Haji Surabaya. Jurnal Unair Volume 3, Nomor 2, Mei-Agustus 2015

Saputra, M, dkk. 2015. Program Jaminan Kesehatan Nasional Dari Aspek Sumber Daya Manusia Pelaksana Pelayanan Kesehatan.Jurnal Kesehatan Masyarakat KESMAS 11(1)(2015) 32-42.

Wahyu M, 2014. Implementasi Kebijakan

Jaminan Kesehatan Nasional pada Rumah Sakit Umum Kota Tanggeran

Selatan. Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta.

Yasmi, Y. 2015. Kinerja Tenaga Kesehatan di Era JKN. http://www.kompasiana.com/yulia.ya smi/kinerja-tenaga-kesehatan-di-era-jkn_54f6ea5ea3331126438b4752. Agustus,21, 2016.

. Undang-Undang Dasar 1945.

(10)

commit to user

.2004. Undang-Undang No 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Jakarta

.2009. Undang-Undang No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta

.2011. Undang-Undang No 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Jakarta

.2013. Perpres No. 12 Tahun 2013

Tentang Jaminan Kesehatan. Jakarta

. 2013. Perpres No. 111 Tahun 2013 Tentang Perubahan atas Perpres No. 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan. Jakarta

.2013. PMK No. 71 Tahun 2013

Tentang Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional. Jakarta

.2014. Perpres No. 32 Tahun 2014

Tentang Pengelolaan dan pemanfaatan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional Pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Milik Pemerintah Daerah. Jakarta

. 2014. PMK No. 28 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional. Jakarta

2014. Permenkes RI No 75 Tahun

2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta

2014. Permenkes RI No 59 Tahun 2014 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggara Program Jaminan Kesehatan. Jakarta.

. 2015. Permenkes No. 99 Tahun 2015 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 Tentang Pelayanan

Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional. Jakarta

.2015. PMK No. 24 Tahun 2015

Tentang Penilaian Fasilitas

Kesehatan Tingkat Pertama Berprestasi . Jakarta

.2016. Perpres No. 19 Tahun 2016

Tentang Jaminan Kesehatan. Jakarta

.2016. Perpres No 28 Tahun 2016

Tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan. Jakarta

.2016. PMK No. 12 Tahun 2016

Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan No 59 Tahun 2014 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan kesehatan . Jakarta

2016. Perpres No 19 Tahun 2016

Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan. Jakarta

2016. PMK No. 21 Tahun 2016

Tentang Penggunaan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional Untuk Jasa Pelayanan Kesehatan dan Dukungan Biaya Operasional Pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Milik Pemerintah Daerah . Jakarta

. 2016. Peraturan Bersama

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Dan Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan

Sosial Kesehatan Nomor

Referensi

Dokumen terkait

(2) Dalam hal pengawasan kearsipan eksternal pada pencipta arsip tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota, Lembaga Kearsipan Provinsi menyampaikan LAKE sebagaimana

Berdasarkan analisis metode PERT, proyek pre wedding photography dapat diselesaikan dalam waktu 19 hari, dengan satu jalur kritis yaitu pada kegiatan bertemu dengan

bahaya kebakaran dan bencana lainnya. Objek pengamatan studi kasus ini dilakukan di Wisma Barito Pacific. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara observasi

Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Ketua maupun Wakil Ketua yang berkaitan langsung dengan tugas seksi kebersihan dan lingkungan hidup.. Penyusunan

Berisi tentang pemaparan hasil penelitian yang diperoleh berupa analisis data dari factor- factor, dampak, proses serta hasil pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam

Hasil kategorisasi dalam penelitian ini tidak berbeda dengan penelitian dan teori-teori yang sudah ada, dimana meskipun kategorisasi prasangka agama dan konflik

Hipernet IndoData yang sedang berjalan, membuat topologi yang baru berdasarkan kebutuhan klien dengan menggunakan RADIUS sebagai server jaringan hotspot dan perangkat

GUNUNG MAS, KALTENG - Dukungan untuk pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yaitu Joko Widodo dan Jusup Kalla terus mengalir seperti dari Kabupaten Gunung Mas (Gumas) Tim