• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sampul Depan Sumber Foto : Agus Budiyanto Desain Cover : Siti Balkis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sampul Depan Sumber Foto : Agus Budiyanto Desain Cover : Siti Balkis"

Copied!
134
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Sampul Depan

Sumber Foto : Agus Budiyanto Desain Cover : Siti Balkis

(3)

STUDI BASELINE TERUMBU KARANG

DI LOKASI

DAERAH PERLINDUNGAN LAUT

KABUPATEN PANGKEP

TAHUN 2008

Koordinator Tim Penelitian

ANNA E.W. MANUPUTTY

Disusun oleh :

BAYU PRAYUDA

PETRUS MAKATIPU

(4)

i

RINGKASAN EKSEKUTIF

PENDAHULUAN

Program COREMAP telah terlaksana sampai ke Fase II. Dalam Fase sebelumnya Fase ini telah banyak kegiatan yang dilakukan untuk mengamati kondisi karang dan ekosistem terumbu karang, perkembangan yang terjadi, apakah itu ke arah yang lebih baik ataupun semakin buruk. Metode-metode pemantauan telah dilakukan dan di ujicobakan dalam kegiatan studi baseline maupun monitoring terumbu karang di lokasi-lokasi COREMAP. Metode-metode yang dipakai disesuaikan dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai. Metode-metode tersebut, masing-masing mempunyai kekurangan maupun kelebihan. Metode “Rapid Reef Resources Inventory” (RRI), dapat dipakai untuk pemantauan suatu area terumbu karang yang luas dalam waktu yang singkat, namun kekurangannya terletak pada daya visualisasi sipengamat. Metode pemantauan dengan “Line Intercept Transect” dianggap terlalu ilmiah, dan kurang tepat untuk menjawab perubahan yang terjadi di suatu area terumbu karang yang luas karena hanya terpatok pada lokasi transek permanen saja. Namun untuk menjawab keanekaragaman karang, metode ini lebih cocok. Untuk keperluan manajemen terumbu karang, dan untuk menjawab naik maupun turunnya persentase tutupan ataupun kehadiran karang hidup, yang dipantau di suatu lokasi yang luas dalam waktu yang singkat digunakan metode “Point Intercept Transect” (PIT). Metode ini diujicobakan di lokasi-lokasi konservasi yang dipatok oleh masyarakat desa setempat, yaitu di lokasi daerah perlindungan laut (DPL). Metode ini lebih sederhana tapi terukur, karena dapat menghihasilkan persentase jumlah individu karang hidup dalam waktu yang singkat dan mencakup area yang luas. Diharapkan masyarakat setempat yang diwakili oleh staf CRITC daerah dapat melakukan sendiri monitoring kondisi terumbu karang di masing-masing lokasi DPL, yang sudah diawali dengan studi baseline di lokasi yang sama oleh staf CRITC pusat.

Informasi tentang kondisi ekosistem terumbu karang dengan berbagai komponen bentik yang membentuknya sangat dibutuhkan dalam penilaian status keberadaannya. Pulau-Pulau Sekitar Kabupaten Pangkep merupakan salah satu kabupaten yang secara administratif termasuk dalam gugusan pulau-pulau yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. Secara umum pulau-pulau yang ada di kabupaten ini mempunyai ekosistem pantai yang didominasi oleh terumbu karang dan ada sebagian pulau memiliki hutan bakau serta ekosistem lamun.

(5)

ii

Tujuan penelitian ini yaitu untuk melakukan studi baseline ekologi di lokasi Daerah Perlindungan Laut (DPL), di perairan Pangkep, termasuk Kecamatan Liukkang Kalmas, yang meliputi pengamatan di bidang Sistem Informasi Geografis (SIG), kondisi karang, ikan karang dan megabentos membuat plot transek permanen untuk keperluan pemantauan diwaktu mendatang. Data yang dikumpulkan dipakai sebagai data dasar, sebagai acuan untuk pemantauan di lokasi yang sama pada waktu mendatang.

HASIL

Pengamatan karang di lokasi DPL Kabupaten Pangkep dilakukan di 24 stasiun transek di 12 pulau meliputi pulau-pulau di sebelah utara dan selatan perairan Pangkep, dan 19 stasiun di perairan Kalmas. Di masing-masing lokasi DPL di perairan utara dan selatan Pangkep, dibuat 2 transek permanen, mengingat areanya yang tidak terlalu luas, rata-rata panjang (sejajar garis pantai) 20 – 1000 meter. Di perairan Kalmas, dimana banyak pulau-pulau kecil dengan rataan terumbu yang luas, jumlah transek umumnya lebih dari dua transek. Hasil pengamatan disajikan dalam bentuk tabel dan peta tematik. Hasil selanjutnya sebagai berikut :

• DPL terluas terdapat di Desa Mattiro Adae dengan luas 47,7 ha. DPL ini terdapat di sebelah Selatan rataan terumbu Pulau Bontosua dengan bentuk persegi empat dan keliling ± 2,7 kilometer.

• Berdasarkan perhitungan luas DPL melalui analisa SIG, maka jumlah total luas DPL yang terdapat di Kecamatan LIukkang Tuppabiring dan Liukkang Kalmas sebesar 432,72 ha.

• Jika dibandingkan dengan total luas terumbu karang di kedua kecamatan tersebut yaitu 34589,86 Ha (LIPI,2006, 2007), maka persentase total luas DPL terhadap luas terumbu karang adalah 1,25 %. Dengan demikian maka ada 98,75 % luas terumbu karang di kedua kecamatan ini yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lainnya.

• Pengamatan karang di lokasi DPL Kabupaten Pangkep dilakukan di 24 stasiun transek di 12 pulau di Kecamatan Liukkang Tuppabiring, tersebar di pulau-pulau di sebelah utara dan selatan wilayah kecamatan, dan 19 stasiun di perairan Kecamatan Liukkang Kalmas, meliputi bagian pulau-pulau di bagian timur dan barat wilayah kecamatan.

• Karang batu yang yang dominan di lokasi DPL bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring umumnya dari jenis Porites cylindrica dan Acropora palifera.

(6)

iii

• Jumlah dan persentase karang batu tertinggi, di utara kecamatan ini dicatat di lokasi DPL Mattiro Baji, P. Saugi, dengan jumlah jenis karang batu 44 jenis dengan persentase jumlah individu 88 %.

• Jumlah dan persentase karang batu, tertinggi di bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, yaitu dicatat di lokasi DPL Mattiro Deceng, P. Baddi, yaitu 33 jenis dengan persentase jumlah individu 66 %.

• Jumlah dan persentase karang, tertinggi di bagian barat Kecamatan Liukkang Kalmas dicatat di lokasi DPL Pulau Sabaru, dengan jumlah jenis karang batu 43 jenis dengan persentase jumlah individu 86 %.

• Jumlah dan persentase karang di bagian timur Kecamatan Liukkang Kalmas, tertinggi dicatat di lokasi DPL Pulau Marasende,dengan jumlah jenis karang batu 35 jenis dengan persentase jumlah individu 70 %.

• Hasil pengamatan di 24 stasiun pada 17 lokasi (Kecamatan Liukkang Tuppabiring) menunjukkan bahwa kelimpahan rata-rata biota megabentos tertinggi yaitu Fungia spp. sebanyak 1280 individu dijumpai di lokasi Pulau Sarrapo Lompo, sedangkan Diadema setosum tetinggi dijumpai di lokasi Pulau Balang Lompo dengan jumlah individu sebanyak 60 individu.

• Dari 19 lokasi transek di Kecamatan Liukkang Kalmas, dapat dicatat bahwa “mushroom coral” (CMR) yaitu karang jamur Fungia spp. dicatat mendominasi lokasi transek. Jumlah tertinggi dicatat di lokasi KAL 05 (106 individu) kemudian di lokasi KAL 17 (69 individu) dan KAL 07 (52 individu). Biota ini ditemukan di hampir semua lokasi kecuali di KAL 02 dan KAL 03.

• Lain halnya dengan biota Diadema setosum dimana di perairan DPL Kecamatan Liukkang Tuppabiring jumlahnya cukup banyak (tertinggi 68 individu), di lokasi Liukkang Kalmas jumlahnya sangat sedikit, berkisar antara 1-3 individu, dan hal ini dicatat di 5 stasiun transek saja. Di stasiun-stasiun lainnya tidak ditemukan biota ini.

• Dari 24 Daerah Pelindungan Laut (DPL) yang diamati di pulau-pulau di Kecamatan Liukang Tuppabiring utara dan selatan perairan Kabupaten Pangkep, ditemukan sebanyak 213 jenis ikan karang yang termasuk dalam 36 suku, dengan nilai kelimpahan ikan karang sebesar 14.744 individu pada luasan area 8.400 m2.

• Berdasarkan kelimpahan total ikan karang pada dua puluh empat lokasi DPL ternyata Jenis Chromis ternatensis merupakan jenis ikan karang yang memiliki kelimpahan

(7)

iv

tertinggi dibandingkan dengan jenis ikan karang lainnya, yaitu sebesar 3.955 individu, kemudian diikuti oleh Chromis viridis (2375 individu) dan Sthelophorus sp. (1200 individu). • Kelimpahan beberapa jenis ikan ekonomis penting yang

termasuk dalam kategori ikan target yang ditemukan di 19 lokasi DPL Kecamatan Liukkang Kalmas, seperti ikan kakap (termasuk kedalam suku Lutjanidae) yaitu 334 individu/6650 m2, ikan kerapu (termasuk dalam suku Serranidae) 197 individu, ikan ekor kuning (termasuk dalam suku Caesionidae) yaitu 470 individu.

• Ikan kepe-kepe (Butterfly fish; suku Chaetodontidae) yang merupakan ikan indikator untuk menilai kesehatan terumbu karang memiliki kelimpahan 864 individu.

• Hasil pengamatan di dalam laporan ini diuraikan secara deskriptif dan tidak dilakukan analisa secara statistik, sehingga secara detail tidak dapat dibuat suatu kesimpulan.

SARAN

Beberapa saran dapat dikemukakan dalam pengamatan di lokasi ini sebagai berikut :

• Perlu adanya keseragaman kriteria dalam penentuan batas suatu DPL.

• Hal-hal yang perlu diperhatikan ialah kondisi geografi, batimetri dan kondisi pantai maupun pesisir lainnya, seperti kondisi pesisir pantai yang landai atau terjal, mengingat ada DPL yang ukurannya luas dan ada yang sempit.

• Penarikan batas wilayah DPL sebaiknya seragam, dimulai dari ujung tubir hingga ke arah garis pantai sejajar dengan lebar rataan terumbu.

• Atau juga lokasi yang wilayahnya ditentukan hanya pada wilayah tubir dan sejajar mengikuti bentuk tubir.

• Keberadaan DPL hendaknya dapat mewakili keseluruhan desa secara merata di Kabupaten Pangkep.

(8)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan karunia berupa wilayah perairan laut Indonesia yang sangat luas dan keanekaragaman hayatinya yang dapat dimanfaatkan baik untuk kemakmuran rakyat maupun untuk objek penelitian ilmiah.

Sebagaimana diketahui, COREMAP yang telah direncanakan berlangsung selama 15 tahun yang terbagi dalam 3 Fase, kini telah memasuki Fase kedua. Pada Fase ini beberapa penelitian telah dilakukan, dengan penyandang dana dari ”World Bank” (WB). Salah satu diantaranya penelitian ekologi terumbu karang untuk mendapatkan data dasar (baseline data) di lokasi-lokasi COREMAP. Khususnya di lokasi ”Daerah Perlindungan Laut” (DPL) yang dicanangkan oleh penduduk setempat, dilakukan pengamatan dengan menggunakan metode ”Point Intercept Transect” (PIT), yang lebih sederhana tapi menghasilkan data yang lebih cepat dan terukur.

Kegiatan baseline ini bertujuan untuk mengetahui kondisi awal terumbu karang di lokasi tersebut. Hasil studi baseline akan dipakai sebagai data dasar, berupa data rujukan untuk pengamatan selanjutnya dengan metode yang sama dan di lokasi yang sama. Pada kesempatan ini pula kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan penelitian lapangan dan analisa data, sehingga buku tentang studi baseline terumbu karang dengan metode ”PIT” dapat tersusun dengan baik.Kami menyadari , buku ini belum sempurna dan banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun kami harapkan, demi kesempurnaan buku ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, Desember 2008 Direktur CRITC-COREMAP II - LIPI

(9)

vi

DAFTAR ISI

RINGKASAN EKSEKUTIF ………... i A. PENDAHULUAN ………... i B. HASIL ………... ii C. SARAN ………... Iv KATA PENGANTAR ………... v DAFTAR ISI ………... Vi DAFTAR TABEL ………... Vii DAFTAR GAMBAR ………... x

DAFTAR LAMPIRAN ………... xiii

BAB I. PENDAHULUAN ………... 1

I.1. LATAR BELAKANG ………... 1

I.2. TUJUAN PENELITIAN ………... 2

I.3. RUANG LINGKUP PENELITIAN ………... 3

BAB II. METODE PENELITIAN ………... 4

II.1. LOKASI PENELITIAN ………... 4

II.2. WAKTU PENELITIAN ………... 6

II.3. PELAKSANAAN PENELITIAN ………... 6

II.4. METODE PENARIKAN SAMPEL DAN ANALISA DATA ... 6

II.4.1. SIG (Sistem Informasi Geografis) 7 II.4.2. Karang ... 10

II.4.3. Megabentos ... 11

II.4.4. Ikan Karang ... 12

BAB III. HASIL PENGAMATAN... 13

III.1. Hasil Pengamatan SIG 13 III.2. Hasil Pengamatan Karang ... 16

III.3. Hasil Pengamatan Megabentos ... 54

III.4. Hasil pengamatan Ikan Karang ... 57

UCAPAN TERIMA KASIH ... 62

DAFTAR PUSTAKA ... 63

(10)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan substrat di lokasi DPL Mattiro Bombang, Gosong Batu Siborange, P. Salemo, bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 19 Tabel 2. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Mattiro Kanja,P. Sabutung, bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 21 Tabel 3. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Mattiro Baji, P. Saugi, bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 23 Tabel 4. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Mattiro Uleng, P. Kulambing, bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 24 Tabel 5. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Mattiro Labangeng, P. Laia, bagian utara Kecamatan Liukkang Tupabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 26 Tabel 6. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Mattiro Bulu, P. Karangrang, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 28 Tabel 7. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Mattiro Dolangeng, P. Podangpodang Lompo, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008. 30 Tabel 8. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Mattiro Langi, P. Sarappo Lompo, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 31

(11)

viii

Tabel 9. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan substrat di lokasi DPL Mattiro Sompe, P. Balang Lompo, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 33 Tabel 10. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Mattiro Bone, P. Sanane, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 35 Tabel 11. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Mattiro Adae, P. Bontosua, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 37 Tabel 12. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Mattiro Deceng, P. Baddi, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008...

38

Tabel 13. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan substrat lokasi DPL Takat Sarassa, bagian barat Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 40 Tabel 14. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Pulau Kalukalukuang, bagian barat Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 42 Tabel 15. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Pulau Sabaru, bagian barat Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 45 Tabel 16. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Pulau Doang-Doangan Caddi, bagian timur Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 47 Tabel 17. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Pulau Doang-Doangan Lompo, bagian timur Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 48

(12)

ix

Tabel 18. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan substrat di lokasi DPL Pulau Marasende, bagian timur Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 50 Tabel 19. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan

substrat di lokasi DPL Pulau Dewakang Lompo, bagian timur Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 52 Tabel 20. Dua puluh jenis ikan karang dengan kelimpahan

tertinggi di lokasi DPL, Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 58 Tabel 21. Dua puluh jenis ikan karang dengan kelimpahan

tertinggi di lokasi DPL, Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 60

(13)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1a. Peta stasiun DPL di bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 4 Gambar 1b. Peta stasiun DPL di bagian selatan Kecamatan

Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 5 Gambar 1c. Peta stasiun DPL dibagian barat Kecamatan

Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008.. 5 Gambar 1d. Peta stasiun DPL di bagian timur Kecamatan

Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008.. 6 Gambar 2. Citra landsat komposit 453... 8 Gambar 3a. Peta bentuk dan luas DPL di bagian utara

Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 13 Gambar 3b. Peta bentuk dan luas DPL di bagian selatan

Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 14 Gambar 4a. Peta bentuk dan luas DPL di bagian barat

Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 15 Gambar 4b. Peta bentuk dan luas DPL di bagian timur

Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 16 Gambar 5a. Persentase jumlah individu karang batu,

biota bentik dan substrat hasil studi baseline dengan metode PIT di lokasi DPL, bagian utara Kecamatan Liukkang Tupabbiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 18

(14)

xi

Gambar 5b. Persentase jumlah individu karang batu, biota bentik dan substrat hasil studi baseline dengan metode PIT di lokasi DPL, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 19 Gambar 6a. Persentase jumlah individu karang batu,

biota bentik dan substrat hasil studi baseline dengan metode PIT di lokasi DPL, bagian barat Kec. Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 44 Gambar 6b. Persentase jumlah individu karang batu,

biota bentik dan substrat hasil studi baseline dengan metode PIT, di lokasi DPL, bagian timur Kec. Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 44 Gambar 7a. Kelimpahan biota megabentos hasil studi

baseline dengan metode “reef check” di lokasi DPL, bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 54 Gambar 7b. Kelimpahan biota megabentos hasil studi

baseline dengan metode “reef check” di lokasi DPL, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008... 55 Gambar 8a. Kelimpahan biota megabentos hasil studi

baseline dengan metode “reef check” di lokasi DPL, bagian barat Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008.. 56 Gambar 8b. Kelimpahan biota megabentos hasil studi

baseline dengan metode “reef check” di lokasi DPL, bagian timur Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008.. 56 Gambar 9a. Kelimpahan ikan karang , hasil studi baseline

deng0an metode “UVC” di lokasi DPL, bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring Utara, Kabupaten Pangkep, 2008... 59

(15)

xii

Gambar 9b. Kelimpahan ikan karang, hasil studi baseline dengan metode “UVC” di lokasi DPL, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring Utara, Kabupaten Pangkep, 2008... 59 Gambar 10a. Kelimpahan ikan karang, hasil studi baseline

dengan metode “UVC” di lokasi DPL, bagian barat Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 61 Gambar 10b. Kelimpahan ikan karang, hasil studi baseline

dengan metode “UVC” di lokasi DPL, bagian timur Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008... 62

(16)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Posisi DPL di Kabupaten Pangkep, 2008... 64 Lampiran 2. Sebaran karang batu di lokasi DPL

Kecamatan Liukkang Tuppabiring,

Kabu-paten Pangkep, 2008... 66 Lampiran 3. Sebaran karang batu di lokasi DPL

Kecamatan

Liukkang Kalmas, Kabupaten

Pangkep, 2008...

73 Lampiran 4.

Kelimpahan biota megabentos di lokasi

DPL Kecamatan Liukkang Tuppabiring,

Kabupaten Pangkep, 2008...

80

Lampiran 5.

Kelimpahan biota megabentos di lokasi

DPL Kecamatan Liukkang Kalmas,

Kabupaten Pangkep, 2008...

81

Lampiran 6. Sebaran jenis ikan karang di lokasi DPL Kecamatan

Liukkang Tuppabiring,

Kabu-paten Pangkep 2008...

82 Lampiran 7. Sebaran jenis ikan karang di lokasi DPL

Kec.

Liukkang Kalmas, Kabupaten

Pangkep, 2008...

100

(17)

1

BAB I. PENDAHULUAN

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem perairan tropis yang memiliki produktivitas yang sangat tinggi. Komponen yang sangat penting dalam menyusun ekosistem ini adalah karang batu. Biota-biota lain seperti ikan, moluska, ekinodermata dan rumput laut memanfaatkan lingkungan terumbu karang sebagai tempat hidup, membesarkan diri, melahirkan keturunan serta mencari makan.

Informasi tentang kondisi ekosistem terumbu karang dengan berbagai komponen bentik yang membentuknya sangat dibutuhkan dalam penilaian status keberadaannya. Pulau-Pulau sekitar Kabupaten Pangkep merupakan salah satu kabupaten yang secara administratif termasuk dalam gugusan pulau-pulau yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. Secara umum pulau-pulau yang ada di kabupaten ini mempunyai ekosistem pantai yang didominasi oleh terumbu karang dan ada sebagian pulau memiliki hutan bakau serta ekosistem lamun.

Hasil pengamatan kondisi terumbu karang Indonesia yang dilakukan oleh COREMAP menunjukkan bahwa hanya tinggal 6 % karang yang sangat baik dan 32 % kurang baik. Informasi ini menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah, pemerintah pusat maupun badan internasional untuk dapat mengurangi tekanan yang terjadi terhadap terumbu karang. Salah satu solusi yang diajukan adalah menciptakan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) dengan fokus utamanya adalah daerah perlindungan laut (DPL). Penelitian ini dilakukan untuk melihat kondisi karang yang ada di kawasan daerah perlindungan laut pulau-pulau Kabupaten Pangkep, dengan harapan hasilnya dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi semua “stakeholders” (instansi pemerintah, perusahan, LSM, akademisi dan kelompok masyarakat) dalam memanfaatkan kawasan laut sebagai sumber kehidupannya.

LATAR BELAKANG

Program COREMAP telah terlaksana sampai ke Fase II. Dalam fase sebelumnya fase ini telah banyak kegiatan yang dilakukan untuk mengamati kondisi karang dan ekosistem terumbu karang, perkembangan yang terjadi, apakah itu ke arah yang lebih baik ataupun semakin buruk. Metode-metode pemantauan telah dilakukan dan di ujicobakan dalam kegiatan studi baseline maupun monitoring terumbu karang di lokasi-lokasi COREMAP. Metode-metode yang dipakai disesuaikan dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai. Metode-metode tersebut, masing-masing mempunyai

(18)

2

kekurangan maupun kelebihan. Metode “Rapid Reef Resources Inventory” (RRI), dapat dipakai untuk pemantauan suatu area terumbu karang yang luas dalam waktu yang singkat, namun kekurangannya terletak pada daya visualisasi sipengamat. Metode pemantauan dengan “Line Intercept Transect” dianggap terlalu ilmiah, dan kurang tepat untuk menjawab perubahan yang terjadi di suatu area terumbu karang yang luas karena hanya terpatok pada lokasi transek permanen saja. Namun untuk menjawab keanekaragaman karang, metode ini lebih cocok. Untuk keperluan manajemen terumbu karang, dan untuk menjawab naik maupun turunnya persentase tutupan ataupun kehadiran karang hidup, yang dipantau di suatu lokasi yang luas dalam waktu yang singkat digunakan metode “Point Intercept Transect” (PIT). Metode ini diujicobakan di lokasi-lokasi konservasi yang dipatok oleh masyarakat desa setempat, yaitu di lokasi daerah perlindungan laut (DPL). Metode ini lebih sederhana tapi terukur, karena dapat menghasilkan persentase tutupan kehadiran karang hidup dalam waktu yang singkat dan mencakup area yang luas. Diharapkan masyarakat setempat yang diwakili oleh staf CRITC daerah dapat melakukan monitoring kondisi terumbu karang di lokasi-lokasi DPL yang sudah diawali dengan studi baseline di lokasi yang sama oleh staf CRITC pusat. Dengan demikian informasi akurat tentang perubahan kondisi terumbu karang yang terjadi di lokasi DPL dapat dicatat, untuk kemudian dilakukan langkah pengelolaan selanjutnya.

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

• Untuk mendapatkan data dasar tentang kondisi karang dan terumbu karang termasuk ikan karang. Juga data biota bentik lainnya yang memiliki nilai ekonomis penting di lokasi daerah perlindungan laut (DPL) Kabupaten Pangkep, Propinsi Sulawesi Selatan.

• Menganalisa hasil pengamatan untuk selanjutnya akan dijadikan sebagai bahan acuan dalam mengetahui perubahan yang terjadi di Daerah Perlindungan Laut (DPL) dan mencari jalan keluar untuk mengatasi perubahan atau kerusakan yang terjadi.

(19)

3

RUANG LINGKUP PENELITIAN

Ruang lingkup pengamatan kondisi karang ini meliputi empat tahapan yaitu :

1. Tahap persiapan, meliputi kegiatan administrasi, koordinasi dengan tim penelitian baik yang berada di Jakarta maupun di daerah setempat. Pengadaan dan mobilisasi peralataan penelitian serta perencangan penelitian untuk memperlancar perlaksanaan survey di lapangan. Selain itu, dalam tahapan ini juga dilakukan persiapan penyediaan peta dasar untuk lokasi penelitian yang akan dilakukan.

2. Tahap pengumpulan data, yang dilakukan langsung di lapangan yang meliputi data tentang karang, bentos dan ikan karang.

3. Tahap analisa data, yang meliputi verifikasi data lapangan dan pengelolaan data sehingga data lapangan bias disajikan dengan lebih informatif.

4. Tahap pelaporan, berupa laporan sementara dan laporan akhir dari kegiatan penelitian.

(20)

BAB II. METODE PENELITIAN

II.1. LOKASI PENELITIAN

Lokasi penelitian dipusatkan di Kabupaten Pangkep khususnya di lokasi DPL yang telah ditentukan, di pulau-pulau di perairan Kecamatan Liukkang Tuppabiring (Gambar 1a dan 1b). Dan Kecamatan Liukkang Kalmas (Gambar 1c dan 1d). Lokasi DPL ini terletak di 12 pulau yang meliputi 24 stasiun pengamatan yaitu Gosong Batu Siborange, P. Salemo (PKPP 01 dan PKPP 02), P. Sibutung (PKPP 03 dan PKPP 04), P. Saugi (PKPP 05 dan PKPP 06), P. Kulambing (PKPP 07 dan PKPP 08),P. Laia (PKPP 09 dan PKPP 10), P. Karangrang (PKPP 11 dan PKPP 12), P. Podangpodang Lompo (PKPP 13 dan PKPP 14 ), P. Sarappo Lompo (PKPP 15 dan PKPP 16 ), P. Balang Lompo (PKPP 17 dan PKPP 18), P. Sanane (PKPP 19 dan PKPP20 ), P. Bontosua (PKPP 21 dan PKPP 22) dan P. Baddi (PKPP 23 dan PKPP 24). Ke arah barat, juga dilakukan studi baseline di Kecamatan Liukkang Kalmas, di pesisir pulau-pulau kecil maupun takat (gosong). Sejumlah 19 transek telah dilakukan di pulau-pulau tersebut (Gambar 1c dan 1d), meliputi Takat Sarassa (KAL 14,15,16), P. Kalulalukuang (KAL09,10), P. Sabaru (KAL11,12,13), di bagian barat, dan P. Doang-Doangan Caddi (KAL 06,07,08), P. Doang-Doangan Lompo (KAL 03,04,04), P. Marasende (KAL 17,18,19) dan P. Dewakang Lompo (KAL 01,02) di bagian timur.

Gambar 1a. Peta stasiun DPL di bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008.

(21)

Gambar 1b. Peta stasiun DPL di bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008.

Gambar 1c. Peta stasiun DPL dibagian barat Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008.

(22)

Gambar 1d. Peta stasiun DPL di bagian timur Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008.

Nama-nama DPL di masing-masing pulau dan lokasi dapat dilihat dalam Lampiran 1.

II.2. WAKTU PENELITIAN

Pengamatan kondisi karang dan biota lainnya di lokasi DPL Kabupaten Pangkep dilakukan pada bulan November 2008.

II.3. PELAKSANA PENELITIAN

Penelitian dilakukan oleh Staf CRITC-COREMAP-LIPI Jakarta, dibantu oleh beberapa Staf dan teknisi Puslit Oseanografi LIPI Jakarta dan personal CRITC daerah setempat.

II. 4. METODE PENARIKAN SAMPEL DAN ANALISA DATA

Metode penarikan sampel diuraikan berdasarkan masing-masing substansi yang terlibat dalam penelitian ini.

(23)

7

II.4.1. SIG (Sistem Informasi Geografis) Penyiapan Peta Dasar

Peta dasar terumbu karang dibuat dengan memanfaatkan data citra satelit Landsat. Saluran panjang gelombang yang digunakan pada penelitian ini adalah saluran tampak hingga inframerah dekat. Pada citra Landsat, saluran tersebut terdapat pada saluran 1, 2, 3, 4, dan 5. Liputan citra yang digunakan adalah liputan 2 scene Landsat dengan ukuran masing – masing 185 km x 185 km persegi pada liputan path/row 113/064 dan 113/065, yang merekam keseluruhan Kepulauan Kabupaten Raja Ampat. Ukuran terkecil objek yang diwakili oleh satu piksel pada citra multispektral (saluran 1, 2, 3, 4, 5, dan 7) mewakili area permukaan bumi dengan ukuran 30 m x 30 m persegi.

Citra yang digunakan merupakan citra satelit Landsat ETM+ 7 level 1G, sehingga citra tersebut sudah mengalami restorasi citra yang mencakup koreksi radiometri dan koreksi geometri. Koreksi radiometri dilakukan untuk mengatasi distorsi citra yang menyebabkan gangguan yang sifatnya spektral, sedangkan koreksi geometri dilakukan untuk gangguan yang sifatnya spasial. Pada citra level 1G, koreksi geometri yang dilakukan adalah koreksi geometri untuk kesalahan atau distorsi yang sifatnya sistematis sehingga sudah diperhitungkan sebelumnya (NASA, 1999).

Identifikasi objek pada terumbu karang dilakukan dengan memanfaatkan kombinasi saluran 1, 2, dan 3 yang merupakan saluran tampak. Saluran tampak digunakan untuk identifikasi objek di terumbu karang, karena pada panjang gelombang ini, sinar sanggup menembus kolom air hingga kedalaman 20 meter (Campbell, 1996). Saluran 4 yang merupakan saluran inframerah dekat, digunakan untuk membatasi wilayah daratan dan perairan serta untuk membedakan objek vegetasi, dalam hal ini mangrove. Pembedaan objek vegetasi mangrove dengan vegetasi lainnya dilakukan dengan memanfaatkan saluran 5. Hal ini disebabkan karena saluran 5 merupakan saluran inframerah tengah yang peka terhadap kelembaban lahan. Mangrove tumbuh pada lahan basah, sehingga dapat dibedakan dengan vegetasi lainnya menggunakan saluran 5 ini. Ciri khas lahan yang ditumbuhi mangrove pada citra komposit saluran 453 adalah berwarna jingga gelap (Gambar 2). Warna jingga mewakili warna vegetasi yang ditonjolkan oleh saluran 4, dan warna gelap menunjukkan pada objek tersebut terletak pada lahan yang basah.

(24)

Mangrove

Vegetasi lainnya

Gambar 2. Citra landsat komposit 453.

Peta sebaran terumbu karang dan mangrove tentatif dibuat terlebih dahulu di laboratorium sebelum dilakukan kerja lapangan. Peta ini digunakan sebagai bahan untuk pemilihan lokasi sampling dan alat bantu navigasi di lapangan. Peta tentatif ini selanjutnya akan dijadikan sebagai peta dasar terumbu karang setelah diuji/dikoreksi dengan keadaan sesungguhnya dilapangan. Langkah-langkah penyusunannya adalah sebagai berikut:

1. Penyiapan citra, yang meliputi penghilangan pengaruh gangguan atmosfer dengan jalan mengurangi nilai piksel pada seluruh liputan citra dengan nilai digital minimum citra. Hal ini dilakukan dengan asumsi nilai digital minimum citra seharusnya nol. Apabila nilai piksel minimum tidak sama dengan nol, maka ada nilai bias yang dipandang sebagai hasil dari hamburan atmosfer.

2. Menghilangkan pengaruh awan dengan cara meng-eliminasi liputan awan dengan metode ”masking”. ”Masking” liputan awan dilakukan dengan jalan mengambil beberapa sampel (training area) nilai digital awan dan kemudian nilai digital tersebut dijadikan acuan untuk pembuatan citra ”masking”. Citra masking tersebut kemudian digunakan untuk meng-ekstrak liputan citra yang tidak tertutup awan.

3. Setelah citra bebas dari tutupan awan, maka dilakukan proses digitisasi garis pantai untuk memisahkan objek daratan/pulau dan perairan/laut. Digitisasi dilakukan dengan teknik ”on-screen digitizing”, yaitu digitisasi langsung pada layar monitor computer. Kebaikan metode ”on-screen

(25)

9

digitizing” dibanding metode digitasi manual (Stefanovic, 1991) adalah :

1. Tugas operator lebih mudah dari pada menggunakan alat “digitizer”.

2. Lebih teliti, adanya fasilitas “zooming” memungkinkan operator meletakkan posisi tepat ditengah garis yang didigitasi.

3. Lebih cepat, proses digitasi dan perbaikan dalam satu tempat dan satu waktu.

Digitisasi dilakukan dengan memanfaatkan saluran 4 untuk mempertegas batas antara daratan dan zona perairan. Agar diperoleh hasil yang memadai, digitisasi dilakukan pada perbesaran/skala 1:25.000.

4. Setelah objek perairan dipisahkan dari daratan, dengan cara yang sama pada mintakat laut didigitisasi batas terluar dari mintakat terumbu. Komposit citra yang digunakan adalah komposit citra 321, dan di tajamkan dengan teknik ”linier stretching”. Untuk identifikasi mangrove, juga dilakukan dengan jalan digitisasi pada batas areal mangrove dengan memanfaatkan komposit citra 453, juga ditajamkan dengan teknik ”linier stretching”.

5. Berdasarkan peta tentative tersebut kemudian dipilih lokasi-lokasi sampel secara acak. Lokasi sampel yang berupa informasi koordinat, digunakan sebagai panduan pada saat ke lapangan dengan bantuan alat navigasi GPS (Global Positioning System). GPS yang digunakan saat kerja lapangan adalah GPS Map GARMIN 76 C dengan ketelitian posisi absolute sekitar 15 meter, bahkan di atas laut ketelitiannya bias mencapai 5 meter. Data hasil lapangan digunakan selanjutnya untuk interpretasi ulang dan digitisasi ulang sehingga diperoleh batas yang lebih akurat.

Pemetaan Daerah Perlindungan Laut (DPL)

Pemetaan DPL dilakukan dengan memanfaatkan informasi koordinat batas DPL yang tersedia di daerah kajian. Informasi koordinat tersebut bersifat sementara, sehingga informasi lebih lanjut/detil didapatkan melalui keterangan penduduk setempat. DPL yang dibuat oleh penduduk/masyarakat, merupakan DPL yang digunakan untuk perlindungan ekosistem terumbu karang. Letak DPL bervariasi tergantung pada karakteristik lingkungan disekitarnya. Pada wilayah dengan rataan terumbu karang yang sempit dan menempel pada pulau, garis batas DPL ditarik mulai dari wilayah

(26)

10

yang terdapat karang hingga kea rah garis pantai. Untuk wilayah dengan rataan terumbu karang yang luas, batas DPL dibuat mulai dari tubir terumbu hingga batas wilayah yang memiliki karang. Langkah-langkah pemetaannya adalah sebagai berikut:

1. Penyiapan peta tentatif posisi DPL dilakukan dengan jalan memasukkan koordinat DPL sementara berdasarkan informasi awal ke dalam peta dasar terumbu karang yang dikombinasikan dengan data citra satelit. Peta tentatif ini nantinya digunakan sebagai panduan untuk mendatangi lokasi yang diduga sebagai DPL pada saat kerja lapangan. 2. Setelah peta dibawa ke lapangan, melalui informasi yang

didapat di lapangan baik melalui informasi penduduk maupun dari dinas terkait, maka ujung-ujung batas DPL dipetakan dengan mencatat koordinatnya menggunakan alat GPS. Pembuatan sket bentuk DPL juga dilakukan agar dapat digunakan sebagai panduan dalam penarikan garis batas pada saat pembuatan peta DPL.

3. Pembuatan peta DPL dilakukan di laboratorium dengan memanfaatkan perangkat lunak SIG dan pengolah data tabular (excel). Data yang diambil dari GPS merupakan data koordinat ujung-ujung batas DPL yang bentuknya berupa data tabular. Data tabular GPS mencatat informasi koordinat longitude dan latitude, identitas titik, serta informasi tambahan lainnya seperti waktu pengambilan titik, elevasi dari permukaan laut rata-rata bidang ellipsoid, dan symbol titik. Data ini diolah didalam perangkat lunak SIG menjadi peta sebaran titik. Kemudian, titik-titik tersebut dihubungkan dengan garis sehingga membentuk sebuah batas DPL. Hasil peta garis batas tersebut kemudian dibangun topologinya menjadi sebuah topologi polygon agar dapat diketahui luasan area DPL tersebut.

II.4.2. Karang

Bahan yang dibutuhkan untuk pengamatan karang, biota bentik dan substrat (komponen bentik) ialah peralatan selam lengkap (SCUBA), perahu motor (rubber boat), alat tulis dalam air (kertas, pensil), papan pengalas, pita berskala (100 m), besi (diameter ± 20 mm) dengan panjang 30 cm yang digunakan sebagai patok, martil (palu) dan tali plastik (nilon) ukuran diameter 6 mm. Metode yang digunakan adalah metode transek garis, panjang transek 25 meter, dibentangkan sejajar garis pantai dimana daratan/pulau berada di sebelah kiri. Pencatatan kehadiran koloni

(27)

11

karang dilakukan dengan “Point Intercept Transect (PIT)“ Tiap koloni karang, biota bentos maupun substrat yang dilewati atau berada di bawah garis transek dicatat dengan interval 50 cm. Secara teknis di lapangan, yang dicatat ialah komponen bentik dimulai dari titik 0,50; 1; 1,50; 2; 2,5 dan seterusnya sampai ke titik 25. Total jumlah titik yang dilalui dan dicatat, 50 titik. Transek dilakukan di daerah lereng terumbu bagian atas dengan asumsi pertumbuhan karang batu cukup baik di area ini. Data pengamatan selanjutnya disusun dalam bentuk tabel untuk kepentingan analisa lanjutan antara lain untuk melihat persentase kehadiran jenis karang, biota bentik dan substrat. Disamping itu untuk melengkapi laporan ini dibuat deskripsi lokasi dan gambar bentuk dasar perairan tiap lokasi. Hasil pengamatan disajikan dalam bentuk Tabel maupun peta tematik. Untuk analisa data hanya dilakukan secara deskriptif, dengan perhitungan persentase komponen bentik sebagai berikut : Jumlah Tiap Komponen

(%) Jumlah Individu = --- x 100 % Total Komponen

II.4.3. Megabentos

Sampling dilakukan sesudah kegiatan PIT, dengan metode ”Reef Check” pada transek yang sama sepanjang 25 m dan dengan lebar 1 meter ke kanan dan 1 meter ke kiri dari garis transek. Total bidang pengambilan/pencatatan biota makrobentik : (2 X 25) m2 = 50 m2. Biota yang dicatat jumlah individunya sepanjang transek ialah :

ƒ

Lobster (udang barong)

ƒ

”Banded coral shrimp” (udang karang kecil yang hidup di sela cabang karang Acropora spp, Pocillopora spp. atau Serriatopora spp.)

ƒ

Acanthaster planci (bintang bulu seribu)

ƒ

Diadema setosum (bulu babi hitam)

ƒ

“Pencil sea urchin” (bulu babi seperti pensil)

ƒ

“Large Holothurian” (teripang ukuran besar, panjangnya ≥ 20 cm )

ƒ

“Small Holothurian” (teripang ukuran kecil, panjangnya < 20 cm)

ƒ

“Large Giant Clam” (kima ukuran besar, panjangnya ≥ 20 cm)

ƒ

“Small Giant Clam” (kima ukuran kecil, panjangnya < 20 cm)

(28)

12

ƒ

Drupella (sejenis keong, berukuran kecil yang hidup

disela-sela karang)

ƒ

“Mushroom coral’ (karang jamur, Fungia spp.) II.4.4. Ikan Karang

Seperti halnya karang, pengamatan ikan dilakukan di sepanjang garis transek. Metode yang digunakan yaitu metode ”Underwater Fish Visual Census” (UVC), dimana ikan-ikan yang dijumpai pada jarak 2,5 m di sebelah kiri dan sebelah kanan garis transek sepanjang 25 m dicatat jenis dan jumlahnya. Sehingga luas bidang yang teramati per transeknya yaitu (5 x 25) = 125 m2. Identifikasi jenis ikan karang mengacu kepada Matsuda, et al. (1984), Kuiter (1992) dan Lieske dan Myers (1994). Khusus untuk ikan kerapu (grouper) digunakan acuan dari Randall and Heemstra (1991) dan Heemstra dan Randall (1993). Selain itu juga dihitung kelimpahan jenis ikan karang dalam satuan unit individu/transek. Data kelimpahan tiap jenis ikan karang yang dicatat dimasing-masing stasiun transek, ditampilkan dalam bentuk tabel dan peta tematik.

Jenis-jenis ikan yang didata dikelompokkan ke dalam 3 kelompok utama (ENGLISH, et al., 1997), yaitu:

a. Ikan-ikan target, yaitu ikan ekonomis penting dan biasa ditangkap untuk konsumsi. Biasanya mereka menjadikan terumbu karang sebagai tempat pemijahan dan sarang / daerah asuhan. Ikan-ikan target ini diwakili oleh famili Serranidae (ikan kerapu), Lutjanidae (ikan kakap), Lethrinidae (ikan lencam), Nemipteridae (ikan kurisi), Caesionidae (ikan ekor kuning), Siganidae (ikan baronang), Haemulidae (ikan bibir tebal), Scaridae (ikan kakak tua) dan Acanthuridae (ikan pakol);

b. Ikan-ikan indikator, yaitu jenis ikan karang yang khas mendiami daerah terumbu karang dan menjadi indikator kesuburan ekosistem daerah tersebut. Ikan-ikan indikator diwakili oleh famili Chaetodontidae (ikan kepe-kepe); c. Ikan-ikan major, merupakan jenis ikan berukuran kecil,

umumnya 5–25 cm, dengan karakteristik warna yang beragam sehingga dikenal sebagai ikan hias. Kelompok ini umumnya ditemukan melimpah, baik dalam jumlah individu maupun jenisnya, serta cenderung bersifat teritorial. Ikan-ikan ini sepanjang hidupnya berada diperairan terumbu karang, diwakili oleh famili Pomacentridae (ikan betok laut), Apogonidae (ikan serinding), Labridae (ikan sapu-sapu), dan Blenniidae (ikan peniru).

(29)

III. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan akan diuraikan berdasarkan masing-masing substansi yang diamati, yaitu SIG, karang, megabentos dan ikan karang. Karena luasnya pulau, untuk menjadikan lebih informatif, peta-peta yang ditampilkan dipilah menjadi beberapa gambar. III.1. Hasil Pengamatan SIG

Hasil pengamatan SIG disajikan dalam bentuk peta yang menggambarkan polygon dan luas daerah DPL di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Gambar 3 dan 4). Posisi masing-masing DPL disajikan dalam lampiran.

Gambar 3a. Peta bentuk dan luas DPL di bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008.

Penelitian dilakukan di Kabupaten Pangkajene Kepulauan mencakup Kecamatan Liukkang Tupabbiring dan Kecamatan Liukkang Kalmas. Berdasarkan hasil penelusuran lapangan, di Kecamatan Liukkang Tupabbiring terdapat 12 DPL yang tersebar mulai dari utara Pulau Salemo hingga Pulau Badi. Begitu juga di Kecamatan Liukkang Kalmas, terdapat 7 DPL yang tersebar dari Pulau Pemantuan di sebelah Barat membujur ke bagian Timur hingga Pulau Dewakang Lompo. Letak DPL bervariasi, dapat berada

(30)

di ujung “fringing reef“ (tubir) atau terdapat juga di wilayah “patch reef” (gosong). Bentuk bidang wilayah DPL sebagian besar cenderung teratur membentuk bidang persegi, hal ini dimaksudkan agar mudah didalam pengelolaannya.

Luasan dan bentuk DPL di Kecamatan Liukkang Tupabbiring dapat dilihat pada peta lokasi di Gambar 1 dan Gambar 2. Berdasarkan peta tersebut dapat diketahui bahwa DPL terluas terdapat di Desa Mattiro Adae dengan luas 47,7 ha. DPL ini terdapat di sebelah Selatan rataan terumbu Pulau Bontosua dengan bentuk persegi empat dan keliling ± 2,7 kilometer. Jika dicermati pada peta, wilayah DPL tersebut meliputi tubir rataan terumbu hingga pangkal terumbu yang terletak di garis pantai pulau. Lebar rataan terumbu pada wilayah tersebut dapat mencapai hingga lebih dari 400 meter.

Gambar 3b. Peta bentuk dan luas DPL di bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008.

DPL tersempit terdapat di sebelah Timur Pulau Karanrang yang merupakan wilayah Desa Mattiro Bulu. DPL di wilayah tersebut memiliki luas 0,5 Ha dan mencakup seluruh wilayah gosong (patch reef). Bentuk DPL berupa bidang segiempat dengan keliling wilayahnya sepanjang ± 281 meter. Sempitnya wilayah DPL disebabkan karena gosong yang dijadikan wilayah DPL memang merupakan gosong yang sempit. Hanya DPL Mattiro Deceng yang terdapat dirataan terumbu Pulau Badi yang berbeda bentuknya

(31)

dengan DPL lainnya. Pada DPL tersebut, pembatasan wilayah DPL dimulai dari pangkal rataan terumbu yang berupa garis pantai hingga ke ujung tubir terumbu, sehingga bentuk bidang wilayahnya tidak berbentuk persegi pada umumnya. Pada garis pantai bentuk batas DPL mengikuti lekuk garis pantai dan pada wilayah tubir terumbu polanya mengikuti bentuk batas terumbu. Luas DPL Mattiro Deceng tersebut adalah 25,1 Ha dengan lebar rataan terumbu ± 600 meter.

Wilayah Kecamatan Liukkang Kalmas terletak cukup jauh dari wilayah daratan Kabupaten Pangkajene Kepulauan dengan jarak ± 187 kilometer. Kecamatan ini wilayahnya berupa kepulauan dengan Pulau terbesar adalah Pulau Doangdoangan Besar dengan luas ± 1332,54 ha. DPL terluas pada Kecamatan ini juga terdapat pada rataan terumbu pulau tersebut, yaitu seluas 107,8 ha dengan lebar terumbu mencapai ± 1,2 Kilometer. Bentuk bidang DPL memanjang dari pangkal terumbu pada garis pantai hingga ke ujung tubir terumbu, sehingga memungkinkan membentuk suatu wilayah DPL yang cukup luas. Jika dilihat pada dan Gambar 4a dan 4b, dapat diketahui bahwa tidak semua DPL yang terdapat pada rataan terumbu yang lebar memiliki wilayah DPL yang luas.

Gambar 4a. Peta bentuk dan luas DPL di bagian barat Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008.

(32)

Gambar 4b. Peta bentuk dan luas DPL di bagian timur Kecamatan Liukkang Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008.

Hal ini sangat tergantung pada kepentingan masyarakat setempat yang memilih lokasi tersebut. Dari ke-7 DPL yang ada pada kecamatan ini, hanya DPL Takat Sarassa saja yang terdapat di “patch reef” (gosong) dengan luas 16,3 ha. Lokasi DPL tersebut terletak di sebelah utara Pulau Pemantuan dan merupakan wilayah paling utara dari Kecamatan Liukkang Kalmas.

Berdasarkan perhitungan luas DPL melalui analisa SIG, maka jumlah total luas DPL yang terdapat di Kecamatan LIukkang Tuppabiring dan Liukkang Kalmas sebesar 432,72 ha. Jika dibandingkan dengan total luas terumbu karang di kedua kecamatan tersebut yaitu 34589,86 ha (LIPI, 2006, 2007), maka persentase total luas DPL terhadap luas terumbu karang adalah 1,25 %. Dengan demikian maka ada 98,75 % luas terumbu karang di kedua kecamatan ini yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lainnya. III.2. Hasil Pengamatan Karang

Pengamatan karang di lokasi DPL Kabupaten Pangkep dilakukan di 24 stasiun transek di 12 pulau di Kecamatan Liukkang Tuppabiring, tersebar di pulau-pulau di sebelah utara dan selatan wilayah kecamatan, dan 19 stasiun di perairan Kecamatan Liukkang Kalmas, meliputi bagian pulau-pulau di bagian timur dan barat

(33)

17

wilayah kecamatan. Di masing-masing lokasi DPL di perairan utara dan selatan Kecamatan Liukkang Tupabiring, dibuat 2 transek permanen, mengingat areanya yang tidak terlalu luas, rata-rata panjang (sejajar garis pantai) 20 – 1000 meter. Di perairan Kecamatan Liukkang Kalmas, dimana terdapat banyak pulau-pulau kecil dengan rataan terumbu yang luas, jumlah transek umumnya lebih dari dua transek. Hasil pengamatan disajikan dalam bentuk tabel dan peta tematik.

Untuk menampilkan peta yang lebih jelas dan informatif, hasil maupun peta tematik ditampilkan dalam beberapa gambar. Hasil pengamatan tentang kondisi karang batu, biota lain dan substrat ditampilkan dalam bentuk diagram pai (Gambar 5a dan 5b,) untuk lokasi DPL di Kecamatan Liukkang Tuppabiring, sedangkan untuk Kecamatan Liukkang Kalmas dapat dilihat dalam Gambar 6a dan 6b. Selanjutnya, hasil lengkapnya diuraikan berdasarkan wilayah kecamatan.

III.2.1.Hasil pengamatan di Kecamatan Liukkang Tuppabiring Pengamatan kondisi terumbu karang yaitu studi baseline di kecamatan ini dilakukan di lokasi DPL, yang sudah ditentukan oleh masyarakat setempat. Lokasi DPL umumnya terletak di pesisir pulau-pulau kecil, yang tersusun dari pesisir utara wilayah kecamatan sampai ke arah barat daya, tidak terlalu jauh dari daratan utama Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil pengamatan yang disajikan dalam bentuk gambar dan tabel, diuraikan selanjutnya. Pulau-Pulau di bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep

1.DPL Mattiro Bombang, Gosong Batu Siborange, P.Salemo

Lokasi ini merupakan gosong pulau (patch reef) yang terletak di tengah perairan. Pengamatan di lokasi ini dilakukan di 2 daerah perlindungan laut (DPL) yaitu PKPP 01 yang berada pada bagian selatan dan PKPP 02 yang berada pada bagian utara. Karena lokasi ini merupakan gosong pulau, maka tidak mempunyai daerah pantai. Bentuk dasar perairan agak landai sampai kedalaman ± 2 m, dengan substrat dasar perairan berupa patahan karang dan pasir berlumpur. Karang batu yang yang dominan ditemukan di lokasi PKPP 01 berasal dari jenis Porites cylindrica dan Acropora palifera. Sedangkan di stasiun PKPP 02 didominasi oleh jenis karang masif seperti Goniopora spp., Symphyllia spp., Favia spp., Acropora spp.

(34)

dan Porites lutea. Disamping itu ditemukan juga beberapa jenis Algae terutama dari jenis Eucheuma spinosum dan Halimeda sp. serta beberapa jenis spong (SP), karang lunak (SC), gorgonia dan beberapa jenis ”Hydroid”. Kondisi perairan pada saat pengamatan berlangsung mempunyai kecerahan yang rendah dimana terlihat adanya sedimentasi sehingga air menjadi keruh. Persentase kehadiran karang batu di lokasi PKPP 01 tertinggi yaitu dari karang batu non-Acropora sebesar 48 % dengan jumlah individu sebanyak 24 individu yang dijumpai di stasiun PKPP 02. Karang batu dari marga Acropora persentase kehadiran sebesar 4 % yang dijumpai di kedua stasiun dan terdiri hanya 1 jenis yaitu Acropora palifera. Komponen lain yang mempunyai persentase kehadiran tertinggi yaitu spong (SP) dan alga (FS) sebesar 16 % dengan jumlah individu sebanyak 8 individu yang dijumpai di stasiun PKPP 01. Hasil lengkap dari persentase jumlah individu karang batu dan komponen lainnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Gambar 5a. Persentase jumlah individu karang batu, biota bentik dan substrat hasil studi baseline dengan metode PIT di lokasi DPL, bagian utara Kecamatan Liukkang Tupabbiring, Kabupaten Pangkep, 2008.

(35)

Gambar 5b. Persentase jumlah individu karang batu, biota bentik dan substrat hasil studi baseline dengan metode PIT di lokasi DPL, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008.

Tabel 1. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan substrat di lokasi DPL Mattiro Bombang, Gosong Batu Siborange, P. Salemo, bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008.

Jenis Karang Batu Jumlah Individu % Jumlah Individu PKPP 01 PKPP 02 PKPP 01 PKPP 02 ACROPORA Acropora palifera 2 2 4 4 Total 2 2 4 4 NON-ACROPORA Cyphastrea chalcidicum 0 1 0 2 Favia matthaii 0 2 0 4 F. speciosa 0 3 0 6 Favia sp. 1 0 2 0 Favites pentagona 0 1 0 2 Goniastrea favulus 0 1 0 2 Porites lutea 1 1 2 2 P. cylindrica 2 0 4 0 Porites sp. 1 0 2 0

19

(36)

20

Symphyllia radians 1 0 2 0 S. agaricia 0 1 0 2 Diploastrea heliopora 0 2 0 4 Platygyra lamellina 0 1 0 2 Stylophora pistillata 2 0 4 0 Galaxtrea astreata 1 0 2 0 Oulophyllia crispa 1 2 2 4 Goniopora stockesi 0 2 0 4 Goniopora columna 0 2 0 4 G. djiboutensis 0 1 0 2 Lobophyllia pachysepta 1 0 2 0 Leptastrea pruinosa 0 1 0 2 Echinophyllia aspera 0 2 0 4 Turbinaria messenterina 0 1 0 2 Total 11 24 22 48 Komponen Lain DC 0 0 0 0 DCA 7 6 14 12 SC 0 1 0 2 SP 8 2 16 4 OT 2 3 4 6 FS 8 0 16 0 R 3 0 6 0 S 7 5 14 10 SI 2 7 4 14 RK 0 0 0 0 Total 37 24 74 48 Jumlah Total 50 50 100 100

2. DPL Mattiro Kanja, Pulau Sabutung

Pengamatan di lokasi ini dilakukan di 2 daerah perlindungan laut (DPL) yaitu stasiun PKPP 03 dan PKPP 04 yang merupakan gosong pulau yang berdekatan dengan pulau Sabutung. Lokasi pengamatan PKPP 03 berjarak ± 500 m dari garis pantai kearah laut dan pantainya berpasir. Pengamatan berlangsung pada areal yang agak miring (slope) dengan kemiringan ± 45º dimana diatasnya ditemukan karang batu dari jenis Fungia spp., Montipora spp., Porites cylindrica dan Echinopora horrida. Kecerahan pada saat pengamatan ± 5 m dan substrat dasarnya berupa patahan karang dan pasir. Pertumbuhan karang batu sampai kedalaman ± 4 m, selanjutnya kedalaman diatas 4 m tidak terlihat adanya pertumbuhan karang batu tetapi didominasi oleh pasir. Stasiun PKPP 04 tidak memiliki pantai berpasir karena lokasi ini hanya

(37)

21

merupakan gosong pulau (patch reef) yang berada pada kedalaman ± 2 m pada saat pengamatan berlangsung. Substrat dasar peraian berupa pasir dimana diatasnya dijumpai “Turf Algae” dan beberapa jenis karang batu antara lain Pocillopora damicornis, Porites cylindrica, Heliopora coerulea dan Fungia spp. Disamping itu ditemukan juga fauna lain seperti “Tunicate” dan “Hydroid”. Pertumbuhan karang batu pada lokasi ini sampai kedalaman ± 4 m dan selanjutnya diatas kedalaman 4 m sudah tidak ada pertumbuhan karang batu hanya berupa pasir. Kecerahan perairan pada saat pengamatan ± 3 m sehingga terlihat air keruh karena adanya sedimentasi. Persentase kehadiran karang batu tertinggi adalah karang non-Acropora sebesar 62 % dengan jumlah individu sebanyak 31 individu yang dijumpai di stasiun PKPP 03. Karang dari marga Acropora , persentase kehadiran tertinggi yaitu 10 % dengan jumlah individu sebanyak 5 individu yang ditemukan di stasiun PKPP 04. Komponen lain yang mempunyai persentase kehadiran tertinggi yaitu karang mati beralga (DCA) sebesar 20 % dengan jumlah individu sebanyak 5 individu yang ditemukan di stasiun PKPP 04. Hasil lengkap dari persentase jumlah individu karang batu dan komponen lain dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan substrat di lokasi DPL Mattiro Kanja,P. Sabutung, bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008.

Jenis Karang Batu Jumlah Individu % Jumlah Individu PKPP 03 PKPP 04 PKPP 03 PKPP 04 ACROPORA Acropora palifera 3 0 6 0 A. divaricata 0 1 0 2 A. brueggemanni 0 2 0 4 Acropora sp 0 2 0 4 Total 3 5 6 10 NON-ACROPORA Favia matthaii 1 0 2 0 F. speciosa 1 0 2 0 Montipora venosa 0 1 0 2 Montipora sp 1 0 2 0 M. aequituberculata 1 0 2 0 Porites cylindrica 14 5 28 10 Fungia fungites 0 1 0 2 F. mollucensis 1 0 2 0

(38)

Merulina scabricula 2 0 4 0 Millepora tenella 2 0 4 0 Pavona deccusatta 1 1 2 2 Echinopora horrida 4 0 8 0 Galaxtrea astreata 0 1 0 2 Pocillopora damicornis 0 2 0 4 Heliopora coerulea 0 2 0 4 Pectinia alcicornis 3 0 6 0 Total 31 13 62 26 Komponen Lain DC 0 0 0 0 DCA 4 10 8 20 SC 0 2 0 4 SP 4 6 8 12 OT 0 1 0 2 FS 0 3 0 6 R 3 1 6 2 S 4 9 8 18 SI 1 0 2 0 RK 0 0 0 0 Total 16 32 32 64 Jumlah Total 50 50 100 100

3. DPL Mattiro Baji,Pulau Saugi

Pengamatan di lokasi ini dilakukan pada 2 daerah perlindungan laut (DPL) yaitu stasiun PKPP 05 dan PKPP 06 yang terdapat di Pulau Saugi. Bagian pantai didominasi oleh vegetasi berupa beberapa jenis tanaman pantai dengan pantai berpasir. Lokasi pengamatan kedua stasiun ini berada ± 800 m dari garis pantai pada daerah yang agak miring (slope) dengan kemiringan ± 20º. Kecerahan perairan pada saat pengmatan berlangsung ± 1,5 m yang menunjukkan bahwa perairan lokasi ini cukup keruh karena proses sedimentasi yang cukup tinggi. Pertumbuhan karang batu di stasiun PKPP 05 sampai kedalaman ± 1,5 m sedangkan di stasiun PKPP 06 sampai kedalaman 2 m. Substrat dasar perairan berupa pasir dan patahan karang. Jenis karang batu yang dominan di lokasi PKPP 05 yaitu Galaxea astreata, Lobophyllia corymbosa dan Acropora palifera, serta beberapa jenis sponges. Sedangkan di stasiun PKPP 06, karang batu yang dominan yaitu Galaxea astreata, Porites spp. dan Turbinaria mesenterina. Persentase kehadiran karang batu tertinggi yaitu karang non-Acropora sebesar 74 % dengan jumlah individu sebanyak 37 individu yang dijumpai di stasiun PKPP 05. Demikian juga dengan karang Acropora tertinggi di

(39)

23

jumpai di stasiun PKPP 05 sebesar 14 % dengan jumlah individu sebanyak 7 individu. Komponen lain yang tertinggi persentase kehadirannya yaitu spong sebesar 16 % dengan jumlah individu sebanyak 8 individu yang dijumpai di stasiun PKPP 06. Hasil selengkapnya dari persentase jumlah individu karang batu dan komponen lainnya di lokasi ini dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan substrat di lokasi DPL Mattiro Baji, P. Saugi, bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008.

Jenis Karang Batu Jumlah Individu % Jumlah Individu PKPP 05 PKPP 06 PKPP 05 PKPP 06 ACROPORA Acropora palifera 4 0 8 0 Acropora sp 1 0 2 0 A. fastigasi 2 1 4 2 Total 7 1 14 2 NON-ACROPORA Favites halicora 1 0 2 0 Porites lutea 0 3 0 6 P. cylindrica 2 0 4 0 P. lobata 0 1 0 2 Merulina scabricula 1 1 2 2 Hydnophora rigida 0 1 0 2 Pavona decussata 0 1 0 2 Seriatophora caliendrum 1 0 2 0 Galaxea fascicularis 1 0 2 0 G. astreata 28 20 56 40 Pocillopora damicornis 1 0 2 0 Oxypora lacera 1 0 2 0 Lobophyllia corymbosa 1 0 2 0 Montastrea curta 0 1 0 2 Turbinaria mesenterina 0 3 0 6 Total 37 31 74 62 Komponen Lain DC 0 0 0 0 DCA 3 4 6 8 SC 0 0 0 0 SP 3 8 6 16 OT 0 1 0 2 FS 0 1 0 2

(40)

24

R 0 0 0 0 S 0 4 0 8 SI 0 0 0 0 RK 0 0 0 0 Total 6 18 12 36 Jumlah Total 50 50 100 100

4. DPL Mattiro Uleng, Pulau Kulambing

Pengamatan di lokasi ini dilakukan di 2 daerah perlindungan laut (DPL) yaitu stasiun PKPP 07 dan PKPP 08. Lokasi ini merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di tengah perairan. Daerah rataan (reef flat) tidak terlalu lebar, selanjutnya dasar laut agak miring dengan kemiringan ± 60º (PKPP 07) sedangkan di DPL 08 kemiringan ± 30º. Substrat dasar perairan secara umum berupa pasir, patahan karang dan karang mati. Kecerahan perairan pada saat pengamatan berkisar antara 3–4 m. Pertumbuhan karang batu sampai kedalaman ± 5 m, selajutnya didominasi oleh pasir. Jenis karang batu yang dominan pada PKPP 07 yaitu Goniopora spp., Porites lobata, Pectinia spp., Lobophyllia spp., Favia spp. dan Astreopora spp. sedangkan di stasiun PKPP 08 didominasi oleh jenis Euphyllia glabrescens, Lobophyllia corymbosa, Goniastrea spp., Pectinia spp. dan Fungia spp. yang dijumpai cukup banyak. Persentase kehadiran karang batu tertinggi yaitu karang non-Acropora sebesar 48 % dengan jumlah individu sebanyak 24 individu yang dijumpai di stasiun PKPP 08. Karang Acropora hanya terdapat di stasiun PKPP 08 sebanyak 2 individu dengan persentase kehadiran sebesar 4 %. Komponen lain yang terbanyak adalah fauna lain (OT) sebesar 44 % dengan jumlah individu sebanyak 22 individu yang dijumpai di stasiun PKK 07. Hasil lengkap dari persentase jumlah individu karang batu dan komponen lain lokasi ini dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan substrat di lokasi DPL Mattiro Uleng, P. Kulambing, bagian utara Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008. Jenis Karang Batu PKPP 07 PKPP 08 PKPP 07 PKPP 08 Jumlah Individu % Jumlah Individu

ACROPORA

A. palifera 0 1 0 2

A. intermedia 0 1 0 2

(41)

25

NON-ACROPORA Favia maxima 0 1 0 2 F. abdita 1 0 2 0 Goniastrea favulus 1 0 2 0 Montipora informis 0 1 0 2 M. aequituberculata 0 2 0 4 Plerogyra sinuosa 1 0 2 0 Seriatophora caliendrum 0 1 0 2 Leptoria phrygia 0 1 0 2 Galaxea fascicularis 0 1 0 2 G. astreata 0 1 0 2 Oxypora lacera 0 3 0 6 Pectinia alcicornis 1 0 2 0 Goniopora sp 1 0 2 0 G. minuta 1 0 2 0 Lobophyllia hemprichii 1 2 2 4 L. corymbosa 0 1 0 2 Euphyllia glabrescens 0 10 0 20 Montastrea curta 1 2 Total 8 24 16 48 Komponen Lain DC 0 0 0 0 DCA 1 2 2 4 SC 0 0 0 0 SP 18 8 36 16 OT 22 10 44 20 FS 1 0 2 0 R 0 0 0 0 S 0 4 0 8 SI 0 0 0 0 RK 0 0 0 0 Total 42 24 84 48 Jumlah Total 50 50 100 100 5. DPL Mattiro Labangeng, Pulau Laia

Pengamatan di lokasi ini dilakukan di 2 stasiun daerah perlindungan laut (DPL) yaitu stasiun PKPP 09 dan PKPP 10. Lokasi pengamatan disini merupakan gosong pulau (patch reef) dengan kedalaman ± 5 m pada saat pengamatan. Substrat dasar perairan berupa pasir dan patahan karang. Lokasi ini memiliki bentuk dasar perairan yang agak miring (slope) dengan kemiringan ± 45º yang ditemukan di stasiun PKPP10. Karang batu yang dominan di stasiun

(42)

26

PKPP 09 yaitu Goniopora columna, Favia spp., Echinophyllia spp. dan Astreopora spp serta beberapa jenis ”Tunicate” ,gorgonia dan hydroid. Stasiun PKPP 10 didominasi oleh karang batu dari jenis Astreopora spp., Merulina spp., Porites spp. dan Goniopora spp. serta beberapa jenis spong, Tunicata dan gorgonia. Kecerahan perairan pada saat pengamatan ± 4 m dimana perairan cukup keruh akibat proses sedimentasi. Pertumbuhan karang batu dijumpai sampai pada kedalaman ± 9 m dan selanjutnya dasar perairan didominasi oleh pasir. Tidak ditemukan karang Acropora di lokasi transek. Kehadiran karang batu, di lokasi ini hanya dijumpai karang batu Non-Acropora saja, sebesar 32 % dengan jumlah individu sebanyak 16 individu. Komponen lain yang tertinggi untuk stasiun PKPP 09 yaitu spong dengan persentase kehadiran sebesar 28 % dengan jumlah individu sebanyak 14 individu, dan stasiun PKPP 10 tertinggi yaitu karang mati beralge (DCA) sebesar 28 % dengan jumlah individu sebanyak 14 individu. Hasil lengkap persentase jumlqah individu karang batu dan komponen lain dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan substrat di lokasi DPL Mattiro Labangeng, P. Laia, bagian utara Kecamatan Liukkang Tupabiring, Kabupaten Pangkep, 2008. Jenis Karang Batu PKPP 09 PKPP 10 PKPP 09 PKPP 10 Jumlah Individu % Jumlah Individu

NON-ACROPORA Astreopora sp. 1 0 2 0 A. ocellata 0 2 0 4 Cyphastrea chalcidicum 1 0 2 00 C. serailla 0 1 0 2 Echinophyllia sp. 1 0 2 0 Favia speciosa 1 0 2 0 Favia sp. 0 1 0 2 Favites abdita 1 0 2 0 Favites pentagona 1 0 2 0 Goniopora columna 1 0 2 0 Leptastrea purpurea 1 0 2 0 Leptoria phrygia 2 0 4 0 Lobophyllia corymbosa 1 0 2 0 L. hemprichii 1 1 2 2 Merulina scabricula 1 1 2 2 Montipora incrassata 1 0 2 0 M. informis 0 1 0 2 Oxypora lacera 1 0 2 0 Turbinaria mesenterina 1 0 2 0

(43)

27

Euphyllia ancora 0 1 0 2 E. glabrescens 0 1 0 2 Heliophora coerulea 0 1 0 2 Oulophyllia crispa 0 1 0 2 Platygyra lamellina 0 1 0 2 Porites lutea 0 1 0 2 Total 16 13 32 26 Komponen Lain DC 0 0 0 0 DCA 7 14 14 28 SC 0 0 0 0 SP 14 11 28 22 OT 7 4 14 8 FS 1 0 2 0 R 1 2 2 4 S 4 5 8 10 SI 0 1 0 2 RK 0 0 0 0 Total 34 37 68 74 Jumlah Total 50 50 100 100 Pulau-Pulau di bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring,

Kabupaten Pangkep

6. DPL Mattiro Bulu, Pulau Karangrang

Lokasi pengamatan, agak ke selatan ke arah barat, letaknya sedikit lebih jauh dari daratan utama Pulau Sulawesi. Pengamatan di lokasi ini dilakukan di perairan Dusun Matiro Bulu yang merupakan daerah perlindungan laut (DPL) stasiun PKPP 11 dan stasiun PKPP 12. Lokasi ini memiliki pantai berpasir dan beberapa jenis tumbuhan pantai. Areal pengamatan terumbu karang di stasiun PKPP 11 berjarak ± 500 m dari garis pantai sedangkan stasiun PKPP 12 berjarak ± 300 m dari garis pantai kearah laut. Pengamatan di stasiun PKPP 11 berlangsung pada daerah yang agak miring (slope) dengan kemiringan ± 20º, demikian juga dengan di stasiun PKPP 12 dimana kemiringannya mencapai ± 45º. Substrat dasar perairan kedua stasiun ini berupa pasir dan patahan karang. Jenis karang batu yang dominan di stasiun PKPP 11 yaitu Seriatopora caliendrum, Montipora spp., Favia spp. dan Porites spp. dan juga beberapa jenis spong dan alga, terutama jenis Echeuma sp. Sedangkan di stasiun PKPP 12 didominasi oleh karang batu jenis Porites cylindrica, Galaxea fascicularis, Favia spp., Fungia spp. dan Lobophyllia corymbosa serta beberapa jenis ”Tunicate”, ”Crinoid” dan spong.

(44)

28

Persentase kehadiran karang batu tertinggi yaitu karang Non-Acropora sebesar 34 % dengan jumlah individu sebanyak 17 individu yang dijumpai di stasiun PKPP 12. Karang dari marga Acropora hanya ditemukan distasiun PKPP 11 sebesar 2 % dengan jumlah individu sebanyak 1 individu. Komponen lain yang mempunyai persentase kehadiran tertinggi yaitu karang mati beralge (DCA) sebesar 36 % dengan jumlah individu sebanyak 18 individu ang dijumpai di stasiun PKPP 12. Hasil lengkap dari persentase jumlah individu karang batu dan komponen lain di lokasi ini dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan substrat di lokasi DPL Mattiro Bulu, P. Karangrang, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008.

Jenis Karang Batu Jumlah Individu % Jumlah Individu PKPP 11 PKPP 12 PKPP 11 PKPP 12 ACROPORA Acropora cytherea 1 0 2 0 Total 1 0 2 0 NON-ACROPORA Favia matthaii 0 1 0 2 F. rotundata 1 0 2 0 Favia sp. 1 0 2 0 F. digitata 0 1 0 2 F. halicora 1 0 2 0 Goniastrea edwardsi 0 1 0 2 Montipora venosa 2 0 4 0 Montipora sp. 1 0 2 0 M. incrasata 1 0 2 0 M. millepora 1 0 2 0 Porites nigrecens 0 1 0 2 P. cylindrica 0 6 0 12 P. lobata 0 1 0 2 Fungia paumotensis 0 1 0 2 Polypyllia talpina 0 1 0 2 Diploastrea heliopora 4 0 8 0 Seriatophora caliendrum 3 0 6 0 Galaxea fascicularis 0 1 00 2 Pectinia lactuca 1 1 2 2 Lobophyllia corymbosa 0 1 0 2 Turbinaria mesenterina 0 1 0 2 Total 16 17 32 34

(45)

Komponen Lain DC 0 0 0 0 DCA 8 18 16 36 SC 2 0 4 0 SP 13 5 26 10 OT 0 3 0 6 FS 3 0 6 0 R 3 5 6 10 S 4 2 8 4 SI 0 0 0 0 RK 0 0 0 0 Total 33 33 66 66 Jumlah Total 50 50 100 100

7. DPL Mattiro Dolangeng, Pulau Podangpodang Lompo

Pengamatan kondisi terumbu karang di lokasi ini dilakukan di perairan Dusun Matiro Dolangeng di 2 lokasi daerah perlindungan laut (DPL) yaitu stasiun PKPP 13 dan PKPP 14. Kedua lokasi ini tidak memiliki daerah pantai karena merupakan gosong pulau (patch reef) yang berada pada kedalaman ± 5,5 m untuk PKPP 13 sedangkan PKPP 14 pada kedalaman ± 2 m. Bentuk dasar perairan agak landai dan tidak terlalu miring, dengan substrat berupa patahan karang dan pasir. Kecerahan perairan pada saat pengamatan berlangsung ± 10 m yang menunjukkan bahwa perairan cukup terang. Jenis karang batu yang dominan di stasiun PKPP 13 yaitu Montipora spp., Porites spp dan Pocillopora spp., sedangkan di stasiun PKPP 14 didominasi oleh Pocillopora verrucosa, Stylophora pistillata dan Montipora spp. Disamping karang batu dijumpai juga beberapa jenis ”Tunicate” dan gorgonia. Tidak ditemukan karang Acropora di lokasi transek. Persentase kehadiran karang batu di lokasi ini hanya diwakili oleh karang non-Acropora, dimana kedua stasiun ini mempunyai nilai yang sama yaitu 24 % dengan jumlah individu sebanyak 12 individu. Komponen lain yang mempunyai persentase kehadiran tertinggi yaitu patahan karang (R) sebesar 48 % dengan jumlah individu sebanyak 24 individu. Hasil lengkap dari persentase jumlah individu karang batu dan komponen lain lokasi ini dapat dilihat pada Tabel 7.

(46)

30

Tabel 7. Jumlah dan persentase karang, biota bentik dan substrat di lokasi DPL Mattiro Dolangeng, P. Podangpodang Lompo, bagian selatan Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008.

Jenis Karang Batu Jumlah Individu % Jumlah Individu PKPP 13 PKPP 14 PKPP 13 PKPP 14 NON-ACROPORA Cyphastrea chalcidicum 1 0 2 0 Favia palida 0 1 0 2 Goniastrea favulus 1 0 2 0 Montipora informis 0 1 0 2 M. foliosa 1 0 2 0 M. incrasata 1 1 2 2 M. millepora 1 0 2 0 Porites lutea 0 1 0 2 P. lobata 1 1 2 2 Polypyllia talpina 1 0 2 0 Millepora tenella 1 0 2 0 Stylophora pistillata 0 3 0 6 Galaxea astreata 0 1 0 2 Pocillopora verrucosa 2 2 4 4 Leptastrea pruinosa 1 0 2 0 L. transversa 1 0 2 0 L. purpurea 0 1 0 2 Total 12 12 24 24 Komponen Lain DC 0 0 0 0 DCA 7 11 14 22 SC 0 0 0 0 SP 1 4 2 8 OT 0 0 0 0 FS 0 0 0 0 R 24 19 48 38 S 6 4 12 8 SI 0 0 0 0 RK 0 0 0 0 Total 38 38 76 76 Jumlah Total 50 50 100 100

Gambar

Gambar 1a. Peta stasiun DPL di bagian utara Kecamatan Liukkang  Tuppabiring,  Kabupaten Pangkep, 2008
Gambar 1b. Peta stasiun DPL di bagian selatan Kecamatan Liukkang  Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, 2008
Gambar 1d. Peta stasiun DPL di bagian timur Kecamatan Liukkang  Kalmas, Kabupaten Pangkep, 2008
Gambar 2.  Citra landsat komposit 453.
+7

Referensi

Dokumen terkait

dirasakan di organisasi pariwisata Aljazair tinggi terhadap penggunaan e-commerce, kegunaan dan kemudahan penggunaan e-commerce akan kurang dirasakan oleh

Pengolah Kata Spreadsheet Basis Data Presentasi Grafis Pencatatan Personal information manager Peranti Lunak Bisnis untuk PDA Kumpulan peranti lunak Manajemen Proyek

Karakteristik khusus gender bI, di antaranya (1) gender ditandai secara fonemis, morfemis, dan leksikal; (2) secara umum, penanda gender ini adalah penanda yang

Dibutuhkan peran pemerintah untuk mewajibkan dan memudahkan penyelenggaraan materi dan praktek yang berkaitan dengan usaha membangun karakter bisnis melalui

Pengaruh Kompensasi Terhadap Motivasi Kerja Dan Kinerja (Studi Pada Karyawan PT. Telekomunikasi Indonesia, TBK Malang).. Jurnal Administrasi Bisnis

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada peneliti, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Peran

4 Menyampai kan hasil percobaan Menyampaikan hasil percobaan dengan kalimat yang jelas dan sesuai dengan materi Menyampaikan hasil percobaan dengan kalimat yang

Salah satu contohnya adalah dengan teknologi yang semakin aktual, maka akan terlahir darinya suatu budaya yang terbilang konsumtif di kalangan