SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Per syaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Administr asi Bisnis Pada FISIP UPN “Veteran” J awa Timur
Oleh:
HAFIZ MUFTIR DARYABADI
NPM 1042010028
YAYASAN KESEJ AHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” J AWA TIMUR
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS
Disusun Oleh:
HAFIZ MUFTIR DARYABADI NPM 1042010028
Telah dipertahankan dihadapan dan diterima oleh Tim Penguji Skr ipsi Progdi Ilmu Administr asi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univer sitas Pembangunan
Nasional “Veteran” J awa Timur Pada Tanggal 23J uni 2014
Menyetujui,
Pembimbing Tim Penguji :
1. Ketua
Dra. Lia Nirawati. M.Si Dra. Lia Nir awati. M.Si
NIP.196009241993032001 NIP.196009241993032001
2. Sekretaris
Dra. Sonja Andar ini, M.Si NIP 196503261993092001 3. Anggota
R.Y. Rusdianto, S. Sos, M.Si NPT 372069500461
Mengetahui,
Oleh :
HAFIZ MUFTIR DARYABADI 1042010028
Telah Disetujui Untuk Mengikuti Ujian Skr ipsi
Menyetujui, Pembimbing uta ma
Dr a . Lia Nir awati M.Si NIP. 196009241993032001
Mengetahui, DEKAN
memberikan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi ini yang berjudul “Pengar uh Faktor
Fundamental Ter ha dap Retur n Saha m Pada Per usa haan Lembaga Keuangan
yang Go Public Da n Listed Di Bur sa Efek Indonesia Per iode 2008 Sampai
Dengan 2012”. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu kewajiban bagi
mahasiswa Univeersitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, khususnya
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dalam rangka memenuhi tugas akademik guna
melengkapi sebagian syarat untuk menempuh ujian skripsi.
Hasil penulisan skripsi ini bukanlah kemampuan dari penulis semata, namun
terwujud karena bantuan dan bimbingan dari Ibu Dra. Lia Nirawati, M.Si sebagai
dosen pembimbing. Selain itu, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada
berbagai pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini :
1. Ibu Dra. Ec. Hj. Suparwati, M.Si sebagai dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Ibu Dra. Lia Nirawati, M.Si selaku ketua program studi Ilmu Administrasi
Bisnis Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan
4. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan dan semangat kepada penulis
dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Seluruh teman – teman penulis yang selalu memberi dukungan dan semangat
kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga segala bantuan dan kebaikan yang telah diberikan tersebut dapat
memberi limpahan berkat dari Allah SWT. Penulis menyadari dengan segala
kerendahan hati bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna dan banyak
kekurangan. Oleh karena itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun
senantiasa penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Harapan penulis, semoga dengan terselesainya skripsi ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi semua pihak. Amin.
Surabaya, Juni 2014
HALAMAN PERSETUJ UAN………..…….... ii
1.1Latar Belakang Masalah……….……….. 1
1.2Perumusan Masalah………...………..………. 8
2.2.1 Manajemen Keuangan ………... 12
2.2.2 Manajemen Investasi ………. 13
2.2.3 Investasi……….. 14
2.2.3.1 Pengertian Investasi……….. 14
2.2.3.2 Tujuan Investasi……… 16
2.2.4 Pasar Modal……….…… 17
2.2.4.1 Pengertian Pasar Modal……….. 17
2.2.4.2 Jenis – Jenis Pasar Modal………..……. 20
2.2.4.3 Fungsi Pasar Modal……… 22
2.2.4.4 Para Pelaku Pasar Modal……… 23
2.2.5 Saham……… 24
2.2.7.2.1 Pengaruh ROE Terhadap Return Saham….. 38
2.2.7.3Net Profit Margin (NPM)……….. 39
2.2.7.3.1 Pengaruh NPM Terhadap Return Saham….. 39
2.2.7.4Debt To Equity Ratio (DER)……….. 40
2.2.7.4.1 Pengaruh DER Terhadap Return Saham….. 41
2.2.7.5Price Book Value (PBV)……… 43
2.2.7.5.1 Pengaruh PBV Terhadap Return Saham….. 43
2.2.7.6 Earning Per Share………. 44
2.2.7.6.1 Pengaruh EPS Terhadap Return Saham…….. 45
2.3 Kerangka Pemikiran………... 46
2.4 Hipotesis………. 48
BAB III METODE PENELITIAN………... 49
3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel………..……... 49
3.2 Teknik Penentuan Populasi Dan Sampel……… 53
3.2.1 Populasi……….. 53
3.2.2 Sampel……… 54
3.3 Teknik Pengumpulan Data……… 55
3.3.1 Jenis Data……….. 55
3.3.2 Sumber Data……….. 55
3.3.3 Metode Pengumpulan Data……… 56
3.4 Teknik Analisis Dan Uji Hipotesis……… 56
3.4.1 Teknik Analisis……….. 56
3.4.1.1Uji Analisis……… 57
3.4.1.2Uji Asumsi Klasik………. 58
3.4.2 Uji Hipotesis………. 61
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………. 65
4.1 Deskripsi Obyek Penelitian………. 65
4.1.1 Sejarah Umum Pasar Modal……… 65
4.1.2 Sejarah Umum Bursa Efek Indonesia……… 66
4.1.3.5 Mandala Multi Finance……… 75
4.1.3.6 Trust Finance Indonesia……… 76
4.1.3.7 Wahana Ottomitra Multiartha……….. 78
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian………. 80
4.2.1 Return Saham (Y) Perusahaan Lembaga Keuangan yang Terdaftar di BEI 2008-2012……… 80
4.3 Analisis Statistik Inferensial………. 89
4.3.1 Uji Asumsi Klasik………. 89
4.3.2 Regresi Linier Berganda………. 94
4.3.2.1 Persamaan Regresi………. 95
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……… 117
5.1 Kesimpulan……….. 118
Oleh :
HAFIZ MUFTIR DARYABADI 1042010028
ABSTRAKSI
Investasia adalah penempatan dan pada berbagai asset untuk mendapatkan pengembalian dimasa depan secara optimal. Investor selalu mencari alternatif investasi yang memberikan return tertinggi dengan tingkat risiko tertentu. Untuk melakukan investasi dalam bentuk saham diperlukan analisis untuk mengukur nilai saham, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal.Faktor fundamental perusahaan yang umumnya ditunjukkan dalam laporan keuangan yang merupakan salah satu ukuran kinerja perusahaan. Faktor fundamental sering digunakan untuk memprediksi harga saham. Tujuan investasi adalah untuk memperoleh return (Tingkat keuntungan) yang optimal. Artinya membeli asset yang memberikan pendapatan paling tinggi dengan tingkat resiko yang tertentu.Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor fundamental terhadap return saham pada perusahaan lemabaga keuangan yang go public dan listed di BEI.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan lembagakeuangan yang go publicdanlisteddi BEI. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling, maka jumlah sampel yang dipakai sebanyak 3 perusahaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari data laporan keuangan periode 2008-2012 yang diambil dari Bursa Efek Indonesia. Sedangkan untuk pengujian data menggunakan analisis regresi linear berganda dengan asumsi klasik menggunakan program SPSS.
Hasil penelitian menunjukan bahwa secara simultan semua variabel tidak berpengaruh terhadap return saham, dan secara parsial hasil menunjukkan tidak ada variabel yang berpengaruh terhadap return saham.
Oleh :
HAFIZ MUFTIR DARYABADI 1042010028
ABSTRACT
Investmentis the placementand the various assets to obtain optimum returns in the future. Investor sare always looking for investment alternative sthat provide the highest return with a certain degree of risk. To investin shares of analysis needed to measure the value of shares, namely fundamental analysis and technical analysis. The company's fundamental saregene rally shown in the financial statements whic his one measure of the performance of the company. Fundamental factors are often used to predict stock prices. Investment objective is toob tain areturn (rate of return) isoptimal. This means buying assets that provide the high estrevenuewi tha particular level of risk. Objective This study aims to investigate the influence of fundamental factorson stock returns of financial lemabaga company went publicand listedon the Stock Exchange.
The populationin this studyis afinancial institution that went publicand listedon the Stock Exchange. Sampling technique in this study using purposive sampling method, the number of samples usedas much as3 companies. The data usedinthis studyis asecondary data obtained from the 2008-2012 period financial statement dataare taken from the Indonesia Stock Exchange. As fortest data using multiple linearregression analysis with the classical assumptions using SPSS.
The results showed that all the variables simultaneously has no effecton stock returns, and the partial results show no variables that influence stock returns
1.1. La tar Belaka ng Masa la h
Maraknya investasi di pasar modal mengakibatkan meningkatnya jumlah
investor yang beralih dari sektor perbankan ke dalam sektor pasar modal. Investor
dalam menanamkan dananya membutuhkan berbagai informasi yang berguna untuk
memprediksi hasil investasinya dalam pasar modal. Informasi yang biasa digunakan
oleh para investor dikelompokkan dalam dua hal yaitu informasi fundamental dan
informasi yang bersifat teknikal .
Investasi di pasar modal dinilai menarik karena terdapat banyak pilihan dan
setiap pilihan memiliki tingkat resiko yang berbeda- beda. Di pasar modal investasi
saham resikonya lebih tinggi dibandingkan dengan investasi pada obligasi, demikian
pula investasi obligasi resikonya lebih tinggi dibandingkan dengan investasi pada
deposito berjangka, bahkan resiko antar saham perusahaan yang satu dengan yang
lainnya walaupun dalam satu industri yang sama ternyata berbeda, hal ini
disebabkan oleh perbedaan pemasaran, produksi, keuangan, kualitas produk dan
faktor lain baik internal perusahaan maupun eksternal perusahaan.
Informasi fundamental adalah informasi yang berhubungan dengan kondisi
perusahaan yang umumnya ditunjukkan dalam laporan keuangan yang merupakan
salah satu ukuran kinerja perusahaan. Informasi fundamental sering digunakan untuk
fundamental antara lain : Rasio-rasio keuangan, arus kas, serta ukuran-ukuran kinerja
lainnya yang dihubungkan dengan return saham.
Belakangan ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa ekonomi yang
mempengaruhi keadaan perekonomian di Indonesia. Adanya ketentuan baru tentang
harga tarif cukai spesifik, turunya daya beli masyarakat dan sangat mempengaruhi
keadaan perusahaan lembaga keuangan khususnya yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI). Mengingat perusahaan Lembaga keuangan juga memberikan
kontribusi yang cukup besar bagi negara, maka dirasa perlu untuk mengkaji
perusahaan lembaga keuangan dalam penelitian ini. Dengan adanya motivasi untuk
mengetahui faktor dari dalam perusahaan yang mempengaruhi return saham, peneliti
mengadakan penelitian pada perusahaan yang go public di Indonesia terutama yang
tercatat di BEI. Lebih lanjut penelitian ini difokuskan pada perusahaan lembaga
keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Tujuan investasi adalah untuk memperoleh return (Tingkat keuntungan) yang
optimal. Artinya membeli asset yang memberikan pendapatan paling tinggi dengan
tingkat resiko yang tertentu. Pada kenyataan pendapatan yang diharapkan berbanding
lurus dengan resiko yang dihadapi. Hal ini berarti investor menginginkan
mendapatkan pendapatan yang besar, maka mengandung resiko yang besar pula.
Investor dalam upaya meningkatkan tingkat pengembalian atas investasi melakukan
tindakan berupa memeksimumkan expected retrun pada berbagai tingkat resiko, atau
Tingkat pengembalian yang diharapkan yang diharapkan investor merupakan jumlah
probabilitas keuntungan pada serangkaian peristiwa yang mugkin terjadi.
Untuk memperoleh return yang optimal diperlukan analisis yang disertai
dengan pengetahuan yang cukup terhadap rasio-rasio keuangan yang dapat
mempengaruhi return perusahaan. Untuk melakukan analisis diperlukan banyak
informasi dari berbagai sumber yang menyangkut berbagai aspek berkaitan dengan
investasi dan return dari saham – saham di pasar modal dapat diperoleh melalui
deviden dan capital gain. Makin banyak kinerja suatu perusahaan yang menerbitkan
saham akan makin tinggi laba usahanya dan semakin banyak keuntungan yang
mungkin diminati pemegang saham. Disamping itu juga semakin besar kemungkinan
harga saham akan naik demikian pula sebaliknya.
Sebagai contoh, berikut hasil perhitungan return saham perusahaan lembaga
Tabel 1.1
Hasil Per hitungan Retur n Saham Per usa haan Lembaga Keua ngan yang
go public di BEI
Per iode 2008 sampa i dengan 2012
Nama Perusahaan Periode Tahun
Sumber : PT. Bursa Efek Indonesia, 2014
Dari hasil perhitungan return saham selama 5 tahun terakhir pada perusahaan
lembaga keuangan diatas menunjukan bahwa return saham cenderung berfluktuasi
beberapa tahun terakhir. Ini ditunjukkan pada tahun 2008 return saham pada
perusahaan lembaga keuangan mengalami keadaan minus, pada 2009 return saham
mengalami peningkatan pada beberapa perusahaan lembaga keuangan, tahun 2010
cenderung berfluktuatif untuk beberapa perusahaan, pada 2011 terjadi penurunan
return saham di berbagai perusahaan lembaga keuangan, sedangkan pada tahun 2012
mengalami penurunan kembali
Dalam penelitian ini menggunakan beberapa variabel yaitu Return On Asset
(ROA), Return On Equity (ROE), Net Profit Magin( NPM), Debt to Equty Ratio
yang berpengaruh tehadap return saham sebagai variabel terikat. Berikut daftar
Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE) Net Profit Magin( NPM), Debt to
Equty Ratio (DER), Price to Book Value (PBV), dan Earning Per Share (EPS) dari
tahun 2008 sampai dengan 2012 :
Tabel 1.2
Dafta r Rata – Rata (ROA), (ROE), (NPM), (DER), (PBV), (EPS), (DPR), (DPS)
Per iode 2008 sampa i dengan 2012
Nama Perusahaan
Sumber : PT. Bursa Efek Indonesia, 2014
Dari tabel yang disajikan di atas dapat diambil 8 (delapan) kesimpulan, yaitu
pertama: pada Return On Asset (ROA) perusahaan Adira Dinamika Multi Finance
memiliki nilai paling tinggi, sedangkan pada perusahaan Wahana Ottomitra
Multiartha memiliki nilai ROA paling rendah. Kedua: pada nilai Return On Equity
(ROE) perusahaan Adira Multi Finance , sedangkan pada perusahaan Buana Finance
memiliki ROE paling rendah. Ketiga: pada nilai Net Profit Margin (NPM) tertinggi
Wahana Ottomitra Multiartha. Keempat: nilai DER tertinggi adalah perusahaan
Wahana Ottomitra Multiartha dan nilai DER terendah pada perusahaan Mandala
Multi Finance. Kelima: nilai PBV tertinggi dimiliki oleh perusahaan Adira Dinamika
Mulifinance dan terendah pada perusahaan Wahana Ottomitra Multiartha. Keenam:
nilai EPS tertinggi dimiliki oleh perusahaan Adira Dinamika Mulifinance dan
terendah pada perusahaan Buana Finance.
Menurut Rousana (1997) menyebutkan bahwa di indonesia indikator ROA
merupakan pengukuran umum terhadap kinerja perusahaan. Return On Assets
menunjukan kemampuan untuk menghasilkan laba dari pemanfaatan dari seluruh
aktiva yang digunakan. Rasio ini digunakan untuk mengukur kinerja manajemen
perusahaan dalam menggunakan sumber daya yang ada. Jika rasio ini meningkat
maka dapat mempengaruhi investor untuk berinvestasi yang dapat menaikan harga
saham sehingga return saham juga akan meningkat. (Tandelilin,2001 : 240)
Return On Equity (ROE) adalah rasio antara laba setelah pajak atau Net
Income After Tax (NIAT) terhadap total asset. ROE menunjukan kinerja keuangan
perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari aktiva yang digunakan untuk
operasional perusahaan. ROE digunakan untuk mengetahui kinerja menejemen
perusahaan dalam menggunakan sumberdaya yang ada dengan melihat sejauh mana
pertumbuhan profitabilitas perusahaan. Jika rasio ini meningkat maka dapat
mempengaruhi investor untuk berinvestasi dan harga saham naik maka return saham
Menurut Alexandri (2008 : 200) Net Profit Margin atau NPM merupakan
rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian
keuntungan bersih tehadap pengembalian bersihnya. Nilai NPM yang semakin besar
maka semakin efisien biaya yang dikeluarkan sehingga tingkat pengembalian
keuntungannya bersih semakin besar pula. (Ang, 1997). Semakin besar kinerja NPM,
maka kinerja perusahaan akan semakin produktif, sehingga akan meningkatkan
kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Rasio
ini menunjukan berapa besar presentasi laba yang diperoleh dari setiap penjualan.
Semakin besar rasio ini, maka dianggap semakin baik kemampuan perusahaan untuk
mendapatkan laba yang tinggi. (Bastian dan Suhardjono, 2006: 299)
Menurut Ryanto (1997 : 333) DER merupakan perbandingan antara total
hutang dengan total modal yang digunakan dalam perusahaan. Dengan demikian
dapat memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan,
sehingga dapat dilihat tingkat resiko taktertagihnya suatu hutang. Semakin kecil
hutang yang dipakai untuk mendanai perusahaan maka tingkat resikonya juga
semakin kecil, hal ini akan membuat meningkatnya harga saham dan menghasilkan
return saham. DER menggambarkan sejauh mana laba modal pemilik dapat menutupi
utang-utang kepada pihak luar, semakin kecil rasio ini akan semakin baik, (Fakhrudin
dan Hadianto, 2001 : 61).
Price to Book Value (PBV) merupakan rasio pasar (market ratios) yang
digunakan untuk mengukur kinerja harga saham terhadap nilai bukunya (Robert Ang,
juga dipakai sebagi pendekatan alternative untuk menentukan nilai suatu saham,
karena secara teoritis nilai pasar suatu saham haruslah mencerminkan nilai bukunya.
Rasio ini merupakan perbandingan antara harga saham dengan nilai buku equitas
perusahaan menunjukan tingkat kemampuan perusahaan menciptakan jumlah relative
terhadap jumlah modal yang diinvestasikan oleh pihak investor.
Menurut Tandellin (2001 : 241), Earning Per Share suatu perusahaan
menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua
pemegang saham perusahaan.Menurut Kasmir (2010 : 115), rasio ini memperlihatkan
tingkat keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham.
Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang
saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi, maka kesejahteraan pemegang saham
meningkat.
Sehubungan dengan ini maka penulis tertarik untuk mengadakan suatu
penelitian mengenai “Pengar uh Fa ktor Fundamental Ter hadap Retur n Saha m
Pada Per usahaan Lembaga Keua ngan Yang Go Public da n Listed DI Bur sa
Efek Indonesia Per iode 2008 sampai dengan 2012” .
1.2 Per umusa n Ma salah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dapat dirumuskan pokok
1. Apakah terdapat pengaruh faktor fundamental perusahaan secara simultan
terhadap return saham pada perusahaan Lembaga Keuangan yang terdaftar di
BEI periode tahun 2008-2012 ?
2. Apakah terdapat pengaruh faktor fundamental perusahaan secara parsial
terhadap return saham pada perusahaan Lembaga Keuangan yang terdaftar di
BEI periode tahun 2008-2012 ?
1.3. Tujua n Penelitia n
Sesuai latar belakang dan permasalahan yang telah diuraikan di atas, secara
garis besar tujuan yang ingin dicapai penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor fundamental perusahaan
secara simultan terhadap return saham pada perusahaan Lembaga Keuangan
yang terdaftar di BEI Periode Tahun 2008-2012.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor fundamental perusahaan
secara parsial terhadap return saham pada perusahaan Lembaga Keuangan
yang terdaftar di BEI Periode Tahun 2008-2012.
1.4. Manfaa t Penelitian
1. Sebagai referensi bagi investor dalam menanamkan modalnya pada
perusahaan-perusahaan khususnya perusahaan Lembaga Keuangan di
2. Sebagai referensi bagi penulis yang tertarik untuk meneliti tentang pasar
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Ter dahulu
Dyah Ayu Savitri (2012) melakukan penelitian mengenai Analisis Pengaruh
ROA, NPM, EPS dan PER terhadap Return Saham (Studi Kasus pada Perusahaan
Manufaktur Sektor Food and Beverages periode 2007-2010. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa adanya peningkatan return saham dalam Perusahaan yang
masuk daftar penelitian dengan asumsi variable ROA, NPM, EPS, dan PER tidak
mengalami perubahan. Untuk variable ROA tidak mempunyai pengaruh positif dan
tidak signifikan terhadap return saham, sedangkan pada NPM terdapat positif dan
tidak signifikan terhadap return saham, dan EPS dan PER mempunyai pengaruh yang
positif dan signifikan terhadap return saham perusahaan manufaktur sektor Food and
Beverages.
Arif Nugroho (2012) melakukan penelitian mengenai Pengaruh Faktor
Fundamental dan Kondisi Ekonomi Terhadap Harga Saham Perusahaan Automotive
and Alliend Product Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian
menunjukan bahwa ROA berpengaruh positif terhadap harga saham perusahaan
automotive and allied product di BEI. DER berpengaruh negatif tetapi tidak
Penelitian yang sekarang penulis lakukan yaitu tentang Pengaruh Faktor
Fundamental Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Lembaga Keuangan Yang Go
Public dan Listed di Bursa Efek Indonesia Periode 2008 sampai dengan 2012 dengan
variabel terikat (Y) return saham dan empat variabel bebas yaitu ROA (X1), NPM
(X2), DER (X3), dan PBV (X4).
2.2 Ka jian Teor i
2.2.1 Ma najemen Keuangan
Menurut Husnan ( 2004 : 4 ) manajemen keuangan merupakan semua
kegiatan yang menyangkut kegiatan perencanaan , analisis dan pengendalian
kegiatan keuangan. Orang yang melaksanakan kegiatan tersebut sering disebut
manajer keuangan.
Manajemen keuangan merupakan manajemen terhadap fungsi-fungsi
keuangan. Fungsi – fungsi keuangan tersebut meliputi bagaimana memperoleh dana (
raising of fund ) dan bagaimana menggunakan dana tersebut. Manajer keuangan
berkepentingan dengan penentuan jumlah aktiva yang layak dari investasi pada
berbagai aktiva dan pemilihan sumber-sumber dana untuk membelanjakan aktiva
tersebut. Untuk memperoleh dana, manajer keuangan bisa memperolehnya dari dalam
maupun luar perusahaan. Sumber dari luar perusahaan berasal dari pasar modal, bisa
berbentuk hutang atau modal sendiri.
Manajemen keuangan dapat didefinisikan dari tugas dan tanggung jawab manajer
investasi, pembiayaan kegiatan usaha dan pembagian deviden suatu perusahaan,
dengan demikian tugas manajer keuangan adalah merencanakan untuk
memaksimumkan nilai perusahaan. Kegiatan penting lainnya yang harus dilakukan
manajer keuangan menyangkut empat aspek yaitu:
1. Manajer keuangan harus bekerja sama dengan para manajer lainnya yang
bertanggung jawab atas perencanaan umum perusahaan.
2. Manajer keuangan harus memusatkan perhatian pada berbagai keputusan
investasi dan pembiayaan, serta segala hal yang berkaitan dengannya.
3. Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer diperusahaan agar
perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin.
4. Manajer keuangan harus mampu menghubungkan perusahaan dengan pasar
keuangan, dimana perusahaan dapat memperoleh dana dan surat berharga
perusahaan dapat diperdagangkan.
2.2.2 Ma najemen Investasi
Investasi dalam arti luas merupakan pengorbanan sejumlah uang saat ini
untuk memperoleh sejumlah uang dimasa akan datang. Menurut Sunariyah ( 2004 : 4
) investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan
biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa
yang akan datang. Sedangkan menurut Fakhrudin ( 2001 : 195 ) dikatakan bahwa,
investasi adalah komitmen dana dengan tujuan memperoleh pengembalian ekonomi
selama satu periode waktu, yang biasanya dalam bentuk arus kas periodik dan atau
Definisi berikutnya adalah menurut Tandelilin ( 2001 : 37 ), investasi adalah
komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yng dilakukan saat ini,
dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang akan datang. Menurut
Husnan ( 2004 : 18 ) menyatakan investasi adalah setiap penggunaan uang dengan
maksud untuk memperoleh penghasilan.
Menurut bentuknya investasi dibedakan menjadi investasi dalam aktiva
finansial ( financial investment ) dan investasi dalam aktiva riil ( real investment ).
Investasi dalam aktiva finansial lebih merupakan kepemilikan hak klaim atau aktiva
yang diwujudkan dalam bentuk dokumen legal yang kemudian disebut sebagai
sekuritas ( surat berharga, sedangkan untuk investasi dalam aktiva riil berupa aktiva
berwujud yang tampak nyata (bangunan, tanah). Seorang investor yang menghendaki
tingkat pengembalian tinggi, tentu akan menghadapi resiko yang tinggi pula. Untuk
menyikapi hal tersebut, maka salah satu caranya adalah menggunakan upaya
diversifikasi yang tepat diantara bermacam-macam bentuk pilihan investasi yang ada.
2.2.3 Investasi
2.2.3.1 Penger tian Investa si
Investasi yang akan diteliti adalah investasi yang berkaitan dengan pasar
modal. Investasi menurut Sunariyah (2004 : 4) adalah penanaman modal untuk satu
atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan
Investasi menurut Halim (2003 : 2) adalah penempatan sejumlah dana pada
saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan dimasa mendatang. Proses
investasi menunjukkan bagaimana seharusnya seorang investor membuat keputusan
investasi pada efek-efek yang bisa di pasarkan dan kapan dilakukan. Tahap-tahap
proses investasi menurut Halim (2003 : 2-4) adalah :
a. Menentukan tujuan investasi
Tiga hal yang perlu dipertimbangkan yaitu tingkat pengembalian yang
diharapkan, tingkat resiko, ketersediaan jumlah dana yang akan diinvestasikan.
b. Melakukan Analisis
Investor melakukan analisis terhadap suatu efek / sekelompok efek. Tujuannya
adalah untuk mengidentifikasi efek yang salah harga.
c. Melakukan pembentukan portofolio.
d. Melakukan evaluasi kinerja portofolio
Dalam tahap ini, dilakukan evaluasi atas kinerja portofolio yng telah dibentuk,
baik terhadap tingkat keuntungan yang diharapkan maupun terhadap tingkat
resiko yang ditanggung.
e. Melakukan revisi kinerja portofolio
Pada tahap ini dilakukan revisi terhadap efek-efek yang membentuk portofolio
2.2.3.2 Tujua n Investasi
Menurut Suad Husnan (2004 : 17), investasi tidak hanya dilakukan oleh suatu
perusahaan profit saja, akan tetapi individu yang mempunyai kelebihan dana pun
dapat melakukan investasi dengan tujuan mendapatkan keuntungan dimasa yang akan
dating. Keuntungan yang didapatkan investor dari investasi dalam bentuk saham pada
dasarnya dapat berupa :
1. Capital gain
Capital gain merupakan keuntungan dari hasil jual beli saham, berupa selisih
antara nilai jual yang lebih tinggi dari nilai beli saham.
2. Deviden
Deviden merupakan bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada
pemegang saham. Keuntungan lain dari investasi saham adalah
kemudahannya dalam pemindahan hak perusahaan dari seseorang ketangan
orang lain. Orang – orang yang memiliki dalam perusahaan dapat menjuak
sahamnya kepihak lain saat dan harga tertentu karena setiap lembar sahamnya
adalah aktiva pribadi pemiliknya dan dapat dilepaskan jika dikehendaki,
selain itu ada lagi keuntungan yang didapat dari investasi saham, adalah dapat
ikut menentukan kebijakan yang diambil peerusahaan yaitu lewar hak suara
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Investasi merupakan suatu tindakan melepaskan dan saat sekarang yang
diharapkan untuk memperoleh arus kas masuk pada waktu akan datang selama umur
hiburan, pendirian pabrik, pendirian hotel, restoran dan lain – lain. Serta dapat pula
investasi dalam bentuk keuangan (Financial assets) seperti pembelian surat berharga
berupa saham ataupun obligasi. Investor yang melepaskan dananya untuk membeli
saham berarti investor itu ikut memiliki perusahaan yang menjual saham tersebut.
2.2.4 Pasa r Moda l
2.2.4.1 Penger tia n Pasar Moda l
Pengertian pasar modal di Indonesia tercantum dalam pasal 1 Undang –
Undang no.8 tahun 1995 yang mendefinisikan bahwa pasar modal merupakan
kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek ( saham
), perusahaan public yang berkaitam dengan efek. Menurut Fakhrudin ( 2001 : 258 )
pasar modal merupakan pasar untuk berbagi intrument keuangan jangka panjang yang
bisa diperjual belikan, baik bentuk hutang ataupun modal sendiri.
Menurut Tandelilin ( 2001 : 13 ) pasar modal juga dapat didefinisikan sebagai
pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang pada umumnya memiliki umur lebih
dari satu tahun, seperti saham dan obligasi. Menurut Sunariyah ( 2004 : 4 ) pasar
modal merupakan suatu sistem keuangan yang terorganisasi, termasuk didalamnya
adalah bank-bank komersial dan semua lembaga perantara dibidang keuangan, serta
keseluruhan surat-surat berharga yang beredar. Sedangkan tempat terjadinya jual beli
sekuritas disebut bursa efek.
Pengertian pasar modal secara umum menurut Sunariyah (2004 : 4-5) adalah
komersial dan semua lembaga perantara di bidang keuangan, serta keseluruhan
surat-surat berharga yang beredar. Sedangkan dalam arti sempit, pengertian pasar modal
adalah suatu pasar (tempat berupa gedung) yang disiapkan guna memperdangkan
saham-saham, obligasi-obligasi dan jenis surat berharga lainnya dengan memakai jasa
perantara perdangan efek.
Transaksi investasi atau jual beli surat berharga di pasar modal menurut
Sunariyah (2004 : 5-6) dapat berbentuk:
a. Utang Berjangka (jangka pendek / panjang)
Merupakan salah satu bentuk pendanaan dalam suatu entitas (badan usaha) yang
dilakukan dengan menerbitkan surat berharga dan dijual kepada para pemilik
dana ataupun para investor.
b. Penyertaan
Merupakan salah satu bentuk penanaman modal pada suatu entitas yang
dilakukan dengan menyetorkan sejumlah dana tertentu dengan tujuan untuk
menguasai sebagian hak pemilikan atas perusahaan tertentu.
Peranan pasar modal dalam suatu perekonomian negara menurut Sunariyah
(2004 : 9-10) adalah sebagai berikut:
a. Fungsi Tabungan (Saving Function)
Nilai mata uang cenderung akan turun di masa yang akan datang. Bagi penabung,
metode yang digunakan sangat dipengaruhi oleh kemungkinan rugi sebagai akibat
penurunan nilai mata uang yang dimilikinya, maka perlu mempertimbangkan agar
diperdagangkan yang diperdagangkan di pasar modal member jalan yang begitu
murah dan mudah, tanpa risiko adanya penurunan nilai mata uang untuk
menginvestasikan dana, dengan membeli surat berharga, masyarakat diharapkan
bisa mengantisipasi standar hidup yang lebih baik.
b. Fungsi kekayaan (Wealth Function)
Pasar modal adalah suatu cara untuk menyimpan kekayaan dalam jangka panjang
dan jangka pendek sampai dengan kekayaan tersebut dapat dipergunakan
kembali. Cara ini lebih baik karena kekayaan itu tidak mengalami depresi
(penyusutan) seperti pada aktiva lainnya. Surat berharga mempunyai kekuatan
beli (purchasing power) pada masa yang akan datang.
c. Fungsi likuiditas (Liquidity Function)
Kekayaan yang disimpan dalam surat-surat berharga, bisa dilikuidasi melalui
pasar modal dengan risiko yang lebih kecil dibandingkan dengan aktiva lain.
Proses likuidasi surat berharga dengan biaya relatif murah dan lebih cepat.
Dengan kata lain, psar modal adalah ready market untuk melayani pemenuhan
likuiditas para pemegang surat berharga.
d. Fungsi pinjaman (Credit Function)
Pasar modal bagi suatu perekonomian negara merupakan sumber pembiayaan
pembangunan dari pinjaman yang di himpun dari masyarakat. Pemerintah lebih
mendorong pertumbuhan pasar modal untuk mendapatkan dana yang lebih mudah
dan murah, karena melihat kenyataan bahwa pinjaman dari bank dunia
menjual obligasi di pasar modal untuk mendapattkan dana dengan biaya bunga
rendah dibandingkan dengan bunga bank.
2.2.4.2J enis-J enis Pasar Modal
Penjualan saham kepada masyarakat dapat dilakukan dengan beberapa cara,
umumnya penjuualan dilakukan sesuai dengan jenis ataupun bentuk pasar modal
dimana sekuritas tersebut diperjualbelikan.
Menurut Sunariyah (2004: 13-14) jenis-jenis pasar modal tersebut ada
beberapa macam, yaitu:
a. Pasar Perdana (primary market)
Pasar perdana adalah “Penawaran saham dari perusahaan yang menerbitkan
saham (emiten) kepada investor selama waktu yang ditetapkan oleh pihak yang
menerbitkan sebelum saham tersebut diperdagangkan di pasar sekunder”. Pasar
perdana merupakan pasar modal yang memperdagangkan saham-saham atau sekuritas
lainnya yang dijual untuk pertama kalinya (penawaran umum) sebelum saham
tersebut dicatatkan di bursa. Harga saham di pasar perdana ditentukan oleh penjamin
emisi dan perusahaan yang akan go publik (emiten), berdasarkan analisis fundamental
perusahaan yang bersangkutan untuk pertama kalinya diterbitkan emiten dan dari
hasil penjualan saham tersebut keseluruhannya masuk sebagai modal perusahaan.
b. Pasar Sekunder (Secondary Market)
Pasar sekunder didefinisikan sebagai perdagangan saham setelah melewati
masa penawaran pada masa pasar perdana. Jadi, pasar sekunder merupakan pasar
penjualan di pasar perdana. Harga saham di pasar sekunder ditentukan oleh
permintaan dan penawaran yang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu, pertama faktor
internal perusahaan, merupakan faktor yang berhubungan dengan kebijakan internal
pada suatu perusahaan beserta kinerja yang telah dicapai. Kedua, faktor eksternal
perusahaan, yaitu hal-hal diluar kemampuan perusahaan atau diluar kemampuan
manajemen untuk mengendalikan.
c. Pasar Ketiga (Third Market)
Pasar ketiga adalah tempat perdagangan saham atau sekuritas lain diluar bursa
(over the counter market). Di Indonesia, pasar ketiga ini disebut bursa pararel yang
merupakan suatu system perdagangan efek yang terorganisasi diluar bursa efek resmi,
dalam bentuk pasar sekunder yang diatur dan dilaksanakan oleh perserikatan
perdagangan Uang dan Efek deengan diawasi dan dibina oleh Badan Pengawasan
Pasar Modal. Jadi, dalam pasar ketiga ini tidak memiliki pusat lokasi perdagangan
yang dinamakan floor trading (lantai bursa). Operasi yang ada pada pasar ketiga
berupa pemusatan informasi yang disebut”trading information”. Informasi yang
diberikan dalam pasar ini meliputi : harga-harga saham, jumlah transaksi, dan
keterangan lain mengenai surat berharga yang bersangkutan.
d. Pasar Keempat (Fourth Market)
Pasar Keempat merupakan bentuk perdagangan efek antar pemodal atau
dengan kata lain pengalihan saham dari satu pemegang saham ke pemegang lainnya
tanpa melalui perantara pedagang efek. Bentuk transaksi dalam perdagangan
2.2.4.3 Fungsi Pasar Modal
Fungsi pasar modal meliputi (Sri H. Handoko, Fandy, 2002) :
1. Bagi pemerintah (sektor pembangunan) pasar modal merupakan wahana untuk
memobilisasi dana masyarakat, dimana dana tersebut tidak mempunyai efek
inflatoir.
2. Bagi dunia usaha, modal adalah alternative untuk memperoleh dana segar yaitu
dengan go public.
3. Bagi investor, pasar modal merupakan salah satu alat penyalur dana (investasi)
selain depositi beerjangka dan tabungan.
Tanjung (2000), membedakan fungsi modal menjadi fungsi secara makro dan
mikro.
Dari sudut pandang makro, fungsi pasar modal adalah :
1. Sebagai salah satu alternative sumber pembiayaan investasi aotau
pembangunan nasionalo baik dari sector pemerintahan maupun swata.
2. Sebagai salah satu wujud dari instrument moneter yaitu melalui pelaksanaan
open market policy.
3. Sebagai salah satu cara mengikutsertakan pemodal kecil dalam kegiatan
pembangunan disektor pemerintah atau swasta.
Dari sudut pandang mikro, fungsi pasar modal mencakup beberapa hal :
1. Untuk menyehatkan struktur pemodalan perusahaan.
2. Dalam situasu tertentu go public juga dijadikan salah satu cara untuk
Pasar modal merupakan alternatif mengenai pembiayaan pembangunan.
Modal dari pasar modal dapat berasal dari dalam negeri dan luar negeri. Di pasar
modal yang diperjual belikan adalah kepemilikan perusahaan dan surat penyataan
utang lainnya yang berjangka panjang (Algifari, 2001 : 7). Pasar modal mempunyai
peran penting dalam kegiatan ekonomi makro. Pasar modal dapat berperan sebagai
alat untuk memperoleh dana yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan modal
yang diperoleh dari sector perbankan. Modal yang diperoleh dari sini, selain mudah
memperolehnya, juga biaya yang diperlukan lebih murah (Algifari, 2001).
2.2.4.4Para Pelaku Pa sar Modal
Disebut pelaku utama pasar modal, karena pihak – pihak ini yang paling
berperan dalam perdagangan efek. Berikut ini pelaku utama dalam bursa efek.
1. Emiten
Emiten adalah pihak yang melakukan penjualan surat – surat berharga
atau melakukan emisi di bursa. Dalam melakukan penjualannya, emiten
dapat memilih dua macam instrument pasar modal, yaitu bersifat
kepemilikan atau utang.
2. Investor
Investor adalah pemodal yang akan membeli atau menanamkan modalnya
di perusahaan yang akan melakukan penjualan surat – surat berharga.
Sebelum membelu atau menanamkan modalnya, investor melakukan
analisis terhadap perusahaan tersebut, prospek emiten, dan lain-lainnya.
3. Penjamin Emisi (underwriter)
Penjamin emisi merupakan lembaga yang menjamin terjualnya saham atau
obligasi sampai batas waktu tertentu.
4. Perantara Perdagangan Efek (pialang)
Pialang merupakan perantara antara penjual dengan pembeli surat – surat
berharga. Pialang disebut juga dengan broker. Tugas pialang meliputi :
memberikan informasi tentang emiten , dan melakukan penjualan surat –
surat berharga kepada para investor.
5. Manajer Investasi
Manajer investasi adalah pihak yang kegiatan usahanya mengelola efek
untuk para nasabah
2.2.5 Saham
2.2.5.1Penger tian Saham
Pengertian saham menurut Fakhrudi ( 2001 : 175 ) adalah bukti penyertaan
modal di suatu perusahaan atau merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan.
Sedangkan Hardianto ( 2001 : 6 ) saham adalah tanda penyertaan atau kepemilikan
seseorang yang berupa selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas
tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut ( emiten ).
Wujud saham yang berupa selembar kertas dan menerangkan bahwa pemilik
kertas adalah pemilik perusahaan. Suatu perusahaan dapat menjual hak
sertifikat saham kepada pemiliknya sebagai bukti investasi mereka dalam usaha.
Satuan dasar modal saham adalah lembar saham. Suatu perseroan terbatas
mengeluarkan sertifikat saham untuk sejumlah lembar saham yang diinginkan. Saham
yang ditangan pemegang saham disebut saham beredar. Total jumlah saham dalam
peredaran pada tiap waktu mewakili seratus persen kepemilikan perseroan terbatas
disebut modal saham.
Menurut Fakhrudin ( 2001 : 175 ), ada beberapa sudut pandang untuk
membedakan saham yaitu :
1. Ditinjau dari segi manfaatnya saham digolongkan menjadi dua yaitu :
a. Saham Biasa ( common stock )
Merupakan saham yang menempatkan pemiliknya paling yunior terhadap
pembagian deviden dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan
tersebut dilikuidasi. Saham biasa merupakan saham yang paling banyak dikenal
dan diperdagangkan di pasar.
b. Saham Preferen ( perfered stock )
Merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan
saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi),
tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor.
Saham preferen serupa dengan saham biasa karena dua hal yaitu : mewakili
kepemilikan ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yamg tertulis
diatas lembaran saham tersebut dan membayar deviden.
a. Saham atas unjuk ( bearer stock )
Pada saham tersebut tidak tertulis nama pemiliknya agar mudah dipindah
tangankan dari satu investor ke investor lainnya. Secara hukum, siapa yang
memegang saham tersebut dialah yang diakui sebagai pemiliknya dan berhak
untuk ikut menghadiri dalam RUPS.
b. Saham atas nama ( registered stock )
Merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa nama pemiliknya, di mana cara
peralihannya harus melalui prosedur.
3. Ditinjau dari kinerja perdagangannya dibagi menjadi :
a. Blue Chip Stocks
Yaitu saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, sebagai
leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam
membayar deviden.
b. Income Stocks
Saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan membayar deviden lebih
tinggi dari rata – rata deviden yang dibayarkan pada tahun sebelumnya. Emiten
seperti ini biasanya mampu menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara
teratur membandingkan deviden tunai. Emiten ini tidak suka menekan laba dan
tidak mementingkan potensi pertumbuhan harga saham.
c. Growth Stocks
Saham – saham dari emiten yang dimiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi,
d. Speculative Stocks
Saham suatu perusahaan yang tidak bisa secara konsisten memperoleh
penghasilan dari tahun ke tahun, akan tetapi mempunyai kemampuan penghasilan
tinggi dimasa mendatang, meskipun belum pasti.
e. Counter Cylical Stocks
Saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis
secara umum. Pada saat resesi ekonomi, harga saham ini tetap tinggi, dimana
emitennya mampu memberikan deviden yang tinggi sebagai akibat dari
kemampuan emiten dalam memperoleh penghasilan yang tinggi pada masa resesi.
Emiten seperti ini bisanya bergerak dalam produk yang sangat dan selalu
dibutuhkan masyarakat seperti rokok, consumer goods.
Keuntungan yang diperoleh dalam berinvestasi saham adalah :
1. Capital Gain adalah keuntungan dari jual beli saham, berupa selisih antara
nilai jual yang lebih tinggi dari pada nilai beli saham.
2. Deviden adalah bagian keuntungan perusahaan yang akan dibagikan kepada
pemegang saham.
3. Saham juga dapat dijaminkan ke bank untuk memperoleh kredit sebagai
anggunan tambahan dari anggunan pokok.
4. Saham perusahaan seperti juga tanah atau aktiva berharga sejenis, nilainya
akan meningkat sejalan dengan waktu dan perkembangan atau kinerja
perusahaan. Pemodal jangka panjang mengandalkan kenaikkan nilai saham ini
Kerugian yang diperoleh dalam berinvestasi saham yaitu :
1. Capital Loss adalah kerugian dari hasil jual beli saham, berupa selisih antara
nilai jual yang berlebih rendah daripada nilai beli saham.
2. Opportunity Loss adalah kerugian berupa selisih suku bunga deposito
dikurangi total hasil yang diperoleh dari investasi saham.
3. Kerugian karena perusahaan dilikuidasi, namun nilai likuidasinya lebih rendah
dari harga beli saham.
2.2.6 Retur n Saham
Saham suatu perusahaan bisa dinilai dari pengembalian yang diterima oleh
pemegang saham dari perusahaan yang bersangkutan. Retrun bagi pemengang
saham bisa berupa defiden tunai atau adanya perubahan harga saham pada suatu
periode (Ross: 2002). Retrun suatu saham merupakan hasil yang diperoleh dari
investasi dengan cara menghitung selisih harga saham periode berjalan dengan
periode sebelumnya dengan mengabaikan defiden.
Menurut Brigham et all (2002:192), Pengertian dari Retrun adalah “Measure
The Financial Performance Of An Investment”. Pada penelitian ini, return hanya
digunakan pada suatu investasi untuk mengukur keuangan suatu perusahaan.
Menurut Home dan Wachovizet (2008:26) mendefinisikan Return sebagai “ Return
as Benefit wich Related with owner that includes cash diffidend last year wich is
paid, together with marked cost appreciation or capital gain wich is realization in
Berdasarkan pengertian Return, bahwa Return suatu saham adalah hasil atau
pendapatan yang berhak diperoleh investor, karena menginvestasikan dana dalam
bentuk saham, maka dapat ditulis rumus (Jogiyanto,2003:108)
Pt- Pt-1 Ri =
Pt-1
Keterangan:
R\i = Return saham
Pt = harga saham pada periode t
Pt-1 = harga saham pada periode t- 1
Analisis Saham
Untuk menganalisis pergerakan harga saham menggunakan dua analisis yaitu
analisis teknikal dan analisis fundamental sebagai berikut :
1. Analisis Teknikal
Menuru Fakhrudin ( 2008 : 07 ) analisa teknikal yaitu metode analisa saham
dengan basis pergerakan harga saham dimasa lalu. Metode ini menggunakan beragam
grafik atau chart dalam analisisnya. Penganut aliran teknikal percaya bahwa suatu
keadaan atau tren akan berulang kembali.
Analisa teknis atau lebih dikenal dengan istilah analisa teknikal adalah
memprediksi tren suatu hatga saham dengan cara mempelajari data pasar yang
lampau, terutama pergerakan harga dan volume. Dalam penggunaan perhitungan
berbagai metode atau teknik lebih mengutamakan studi atas grafik harga.
Kelebiahan analisis teknikal yaitu :
a. Grafik dapat digunakan untuk menganalisis untuk satuan waktu, detik, menit,
jam, hingga tahun.
b. Banyak terdapat alat-alat analisa teknikal dan teknik – teknik yang tersedia
untuk digunakan sesuai kebutuhan diberbagai sektor pasar yang berbeda.
c. Analisa teknikal dapat menggunakan data secara akurat dan setiap saat tersedia di
RTI.
Kelemahan analisa teknikal :
a. Memerlukan banyak data untuk akurasi prediksi.
b. Sangat bergantung pada kemampuan trader, sedangkan masing-masing trader
memiliki metode yang berlainan dan belum tentu cocok diterapkan satu sama
lainnya.
c. Analisa teknikal masih menganggap sifat manusia akan berulang.
2. Analisis Fundamental
Menurut Fakhrudin ( 2008 : 07 ) analisa fundamental merupakan metode
analisa data – data atau informasi yang berhubungan dengan kinerja perusahaan.
Laporan keuangan merupakan sumber utama dalam analisis ini termasuk
Analisa fundamental adalah suatu analisa yang mempelajari hal-hal yang
berhubungan dengan kondisi keuangan suatu perusahaan dengan tujuan untuk
mengetahui sifat-sifat dasar dan karakteristik operasional dari perusahaan publik.
Analisa fundamental dapat dianalisis dari dua sudut pandang intern dan
ekstern perusahaan. Faktor intern yang berpengaruh terhadap haega saham suatu
perusahaan memiliki beberapa variabel yaitu :
1. Pertumbuhan pendapatan ( revenue growth ).
2. Rasio laba terhadap saham yang beredar ( earning per share ).
3. Rasio pertumbuhan earning per share.
4. Rasio harga saham terhadap laba per lembar saham ( price earning ratio ).
5. Rasio harga saham terhadap pertumbuhan laba perseroan ( price earning growth
ratio ).
6. Rasio harga saham terhadap penjualan ( price/sales ratio ).
7. Rasio harga saham terhadap nilai buku ( price value ratio ).
8. Rasio hutang perseroan (dept ratio ).
9. Margin pendapatan bersih ( net profit margin ).
Sedangkan faktor ekstern merupakan faktor yang berada diluar perusahaan,
tetapi mempunyai pengaruh terhadap perusahaan.
3. Analisis ekonomi makro
Menurut Tandelilin (2001 : 210) Analisis ekonomi merupakan salah satu dari
tiga analisis yang perlu dilakukan investor dalam penentuan keputusan investasinya.
antara apa yang terjadi pada lingkungan ekonomi makro dan kinerja suatu pasar
modal. Pasar modal mencerminkan apa yang terjadi pada perekonomian makro
karena nilai investasi ditentukan oleh aliran kas yang diharapkan serta tingkat return
yang disyaratkan atas investasi tersebut, dan kedua faktor tersebut sangat dipengaruhi
oleh perubahan ekonomi makro. Dengan demikian, jika kita ingin mengestimasi
aliran kas, bunga, ataupun premi resiko dari suatu sekuritas, maka harus
mempertimbangkan analisis ekonomi makro.
Menurut Reksoprayitno (2000 : 2) ekonomi makro merupakan bagian dari
ilmu ekonomi yang mengkhususkan mempelajari mekanisme bekerjanya
perekonomian sebagai suatu keseluruhan. Dengan demikian hubungan-hubungan
kausal yang ingin dipelajari oleh ekonomi makro pada pokoknya ialah
hubungan-hubungan antara variabel-variabel ekonomi agregatif. Diantara variabel-variabel
agregatif yang banyak dipersoalkan dalam ekonomi makro antara lain ialah: tingkat
pendapatan nasional, tingkat kesempatan kerja, pengeluaran konsumsi rumah tangga,
saving, investasi nasional, jumlah uang yang beredar, tingkat harga, tingkat bunga,
neraca pembayaran internasional, stok kapital nasional, utang pemerintah.
Menurut Sukirno (2006 : 22 ) bentuk-bentuk kebijakan ekonomi yang akan
dilakukan suatu negara sangat tergantung kepada tujuan-tujuan yang ingin
dicapainya. Setiap kebijakan ekonomi bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah
ekonomi yang dihadapi. Tujuan-tujuan kebijakan makroekonomi dapat dibedakan
menjadi lima aspek berikut :
2. Mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja (kesempatan kerja) penuh tanpa
inflasi.
3. Menghindari masalah inflasi.
4. Menciptakan pertumbuhan ekonomi yang teguh.
5. Mewujudkan kekukuhan neraca pembayaran dan kurs valuta asing.
Menurut Tandelilin (2001 : 213) faktor-faktor ekonomi makro secara empiris
telah terbukti mempunyai pengaruh terhadap perkembangan investasi dibeberapa
negara. Beberapa faktor ekonomi makro yang berpengaruh terhadap investasi disuatu
negara, sebagai : tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), laju
pertumbuhan inflasi, tingkat suku bunga, dan nilai tukar uang (exchange rate ).
Berikut ini memperlihatkan hubungan faktor-faktor tersebut dan dampaknya terhadap
investasi disuatu negara.
2.2.7 Analisis Fundamental
Analisis fundamental menyatakan bahwa setiap investasi saham mempunyai
landasan yang kuat yang disebut nilai intristik yang dapat ditentukan melalui suatu
analisis yang sangat hati-hati terhadap kondisi perusahaan pada saat sekarang dan
prospeknya dimasa mendatang. Nilai intrinsic merupakan suatu fungsi faktor-faktor
perusahaan yang dikombinasikan untuk menghasilkan suatu keuntungan (return) yang
diharapkan dengan suatu resiko yang melekat pada saham tersebut. Nilai inilah yang
nilai pasar sekarang sehingga dapat diketahui saham-saham yang overprice maupun
yang underprice (Natarsyah, 2000 : 294 )
Umumnya faktor- faktor fundamental yang diteliti adalah nilai intrinsic, nilai
pasar, Return On Assets (ROA), Return On Investment (ROI), Return On Equity
(ROE), Price to Book Value (PBV), Net Profit Margin (NPM), Debt Equity Ratio
(DER), Deviden Earning, Price Earning Ratio (PER), Deviden Payout Ratio (DPR),
Deviden Yield, dan likuiditas saham.
Pada hakekatnya analisis fundamental mempunyai dua tujuan (Nairbahu, 2001 :
86) yaitu :
1. Untuk mengetahui financial performance suatu perusahaan ditinjau dari
segi :
1) Perbandingan dengan performance masa lalu.
2) Perbandingan dengan performance perusahaan lain dalam kategori
sejenis.
3) Pebandingan dengan performance ekonomi secara global.
Untuk mengetahui financial performance suatu perusahaan beberapa
faktor yang dipertimbangkan antara lain : rasio yang digunakan dalam
analisis laporan dengan maksud untuk mengetahui hubungan timbal
balik yang ada antara Asset,Liabilitas dan Capital. Selanjutnya akan
diketahui Likuiditas,Solvabilitas dan Rentabilitas dari segi resiko
masing-masingkegiatannya. Indikator diatas sangat diperlukan bagi berbagai
pihak yang bersangkutan dalam pengambilan keputusan.
2. Untuk mengetahui apakah haga suatu saham overvalued atau undervalued
dibandingakan dengan harga yang wajar (intrinsic value). Apabila harga
saham overvalued, maka saatnya untuk menjual sebaliknya apabila harga
saham undervalued maka saatnya untuk membeli.
Ada beberapa keunggulan atau manfaat dari analisis laporan keuangan
(analisis fundamental) (Nairbahu, 2001 : 87).keunggulan tersebut adalah:
1) Dengan menggunakan analisis fundamental dapat mengukur kinerja
dari menejemen emiten, dimana pergerakan harga saham merupakan
refleksi dari kinerja (performance) dari menejemen.
2) Analisis fundamental diharapkan akan dapat memberikan informasi
yang lengakap dan akurat dalam rangka pengambilan investasi
jangka panjang.
2.2.7.1 Retur n On Asset
Return on Assets (ROA) menggambarkan kinerja keuangan perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih dari aktiva yang digunakan untuk operasional perusahaan.
ROA digunakan untuk mengetahui kinerja perusahaan berdasarkan kemampuan
perusahaan dalam mendayagunakan jumlah assets yang dimiliki, ROA akan dapat
dalam menghasilkan laba bersih dari aktiva yang digunakan akan berpengaruh pada
pemegang saham perusahaan. ROA yang semakin bertambah menggambarkan kinerja
perusahaan yang semakin baik dan para pemegang saham akan mendapatkan
keuntungan dari dividen yang diterima semakin meningkat. Rumus untuk menghitung
ROA bisa ditulis sebagai berikut:
= × 100%
2.2.7.1.1 Pengar uh Retur n On Asset Ter ha dap Retur n Saham
Return On Asset (ROA) adalah rasio antara laba setelah pajak atau Net
Income After Tax (NIAT) terhadap total asset. ROA menunjukan kinerja keuangan
perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari aktiva yang digunakan untuk
operasional perusahaan. ROA digunakan untuk mengetahui kinerja menejemen
perusahaan dalam menggunakan sumberdaya yang ada dengan melihat sejauh mana
pertumbuhan profitabilitas perusahaan. Jika rasio ini meningkat maka dapat
mempengaruhi investor untuk berinvestasi dan harga saham naik maka return saham
juga meningkat. (Tandelilin, 2001 : 240).
Menurut Lestari dan Sugiharto (2007) ROA adalah rasio yang digunakan
untuk megukur keuntungan bersih yang diperoleh dari penggunaan aktiva. Dengan
kata lain semakin tinggi rasio ini maka semakin baik produktivitas asset dalam
memperoleh keuntungan bersih. Hal ini selanjutnya akan meningkatkan daya tarik
perusahaan kepada investor, karena tingkat pengembalian (return) akan semakin
juga akan semakin meningkat sehingga ROA berpengaruh terhadap return saham
perusahaan. Peningkatan daya tarik perusahaan menjadikan perusahaan tersebut
makin diminati investor, karena tingkat kembalian (return) akan semakin besar. Hal
ini juga akan berpengaruh bahwa harga saham dari perusahaan tersebut di pasar
modal juga akan semakin meningkat. Dengan kata lain ROA berpengaruh positif
signifikan terhadap return saham.
2.2.7.2 Retur n On Equity
Return on equity merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan dengan modal sendiri yang dimiliki. Rentabilitas modal sendiri
merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dengan modal sendiri.
Karena yang bekerja hanya modal sendiri, ,maka laba yang dibagi adalah laba untuk
pemegang saham yakni earning after tax. Selanjutnya Return On Equity (ROE)
adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal
sendiri yang dimiliki, sehingga ROE ini ada yang menyebutkan sebagai rentabilitas
modal sendiri.
( Sutrisno, 2003 : 255 )
Laba bersih
Return on equity = x 100%
2.2.7.2.1 Pengar uh Retun On Equity (ROE) Ter ha dap Retur n Saham
Return On Equity (ROE) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham
perusahaan yang dapat juga disebut sebagai hasil pengembalian modal sendiri.
Menurut Sutrisno ( 2003 : 254 ), Return on equity merupakan kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri yang dimiliki.
Investor sangat berkepentingan terhadap tingkat pengembalian yang akan
diperoleh atas dana yang telah diinvestasikannya dalam bentuk saham suatu
perusahaan.
Menurut Sudana ( 2009 : 26 ), rasio ini penting bagi pihak pemegang
saham untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi pengelolaan modal sendiri yang
dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan. Semakin tinggi rasio ini berarti
semakin efisien penggunaan modal sendiri yang dilakukan pihak manajemen
perusahaan. Demikian pula sebaliknya apabila ROE rendah berarti perusahaan tidak
menggunakan equitynya dengan efisien dan efektif sehingga hal ini dapat mengurangi
kepercayaan investor terhadap nilai perusahaan dan kemudian akan berdampak pada
turunnya harga saham dan return saham.
Jadi ROE dapat dijadikan indikator atas kinerja suatu perusahaan,
mengingat para investor lebih cenderung memperhatikan kemampuan perusahaan
2.2.7.3 Net Pr ofit Ma rgin
Net Profit Margin (NPM) menunjukkan rasio antara laba bersih setelah pajak
atau NIAT terhadap total penjualannya. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan
menghasilkan pendapatan bersihnya terhadap total penjualan yang dicapai oleh
perusahaan. NPM yang semakin tinggi menunjukkan bahwa semakin meningkat
keuntungan bersih yang dicapai perusahaan. Dengan meningkatnya NPM maka akan
meningkatkan daya tarik investor untuk menanamkan saham sehingga harga saham
perusahaan juga cenderung akan meningkat. Rumus untuk menghitung NPM dapat
ditulis sebagai berikut:
= × 100 %
2.2.7.3.1 Pengar uh Net Pr ofit Margin Ter hadap Retur n Saha m
NPM merupakan rasio antara laba bersih setelah pajak (Net Income After
Tax) terhadap total penjualan (sales) menunjukan kinerja keungan perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih atas total penjualan bersih yang di capai oleh perusahaan.
Jadi kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih atas penjualan
bersihnya semakin meningkat maka hal ini akan berpengaruh pada meningkatnya
pendapatan yang akan diterima oleh para pemegang saham. NPM yang semakin
meningkat menggambarkan kinerja perusahaan yang semakin baik dan keuntungan
yang diperoleh pemegang saham akan meningkat pula. Dengan semakin
meningkatnya keuntungan (laba bersih sesudah pajak) akan mencerminkan bagian
saham semakin besar. Dengan demikian para investor dan atau calon investor lain
akan tertarik untuk menanamkan dananya kedalam perusahaan tersebut.
Jika permintaan atas saham perusahaan semakin banyak maka harga saham di
pasar modal cenderung meningkat. Dengan meningkatnya harga saham, maka capital
gain (actual return) dari saham tersebut juga meningkat. Hal ini disebabkan karena
actual return merupakan selisih antara harga saham periode saat ini dengan harga
saham sebelumnya. Rasio ini menunjukan berapa besar presentasi laba yang
diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasio ini, maka dianggap semakin baik
kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba yang tinggi. (Bastian dan
Suhardjono, 2006: 299)
NPM yang semakin tinggi menunjukan bahwa semakin meningkat
keuntungan bersih yang dicapai perusahaan. Dengan meningkatnya NPM maka akan
meningkatkan daya tarik investor untuk menanamkan saham sehingga harga saham
perusahaan juga meningkat. Maka apabila NPM meningkat akan berpengaruh
terhadap meningkatnya return saham. Sehingga NPM berpengaruh positif terhadap
return saham.(Asyik dan Sulistyo : 2000)
2.2.7.4 Debt to Equity Ratio
Debt to Equity Ratio (DER) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh berapa bagian dari modal
sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. DER menunjukkan tentang
jaminan tentang seberapa besar hutang-hutang perusahaan dijamin modal sendiri.
DER akan mempengaruhi kinerja perusahaan yaitu semakin meningkatnya beban
tetap perusahaan sekaligus resiko keuangan perusahaan. Maka hal ini akan
mempengaruhi turunnya harga dan return saham. Sehingga DER berpengaruh
signifikan terhadap perubahan harga saham yang akhirnya akan mempengaruhi return
saham. Rumus untuk menghitung rasio DER adalah sebagai berikut:
= × 100%
2.2.7.4.1 Pengar ar uh Debt to Equity Ratio Ter hadap Retur n Saha m
Debt to Equity Ratio (DER) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi seluruh kewajibanya yang ditunjukan oleh berapa bagian dari modal
sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. DER menunjukan besarnya
imbangan antara beban hutang dibandingkan modal sendiri. DER juga memberikan
jaminan tentang seberapa besar hutang-hutang perusahaan dijamin modal sendiri.
Tingginya DER akan mempengaruhi minat investor terhadap saham perusahaan
tertentu, karena investor pasti akan lebih tertarik pada saham yang tidak
menanggung terlalu banyak beban hutang. Dengan kata lain DER berpengaruh
terhadap kinerja perusahaan.
Kinerja perusahaan tentunya juga berpengaruh pada daya tarik saham yang
ditawarkan di pasar modal. Semakin baik kinerja perusahaan maka daya tarik
perusahaan tersebut semakin tinggi, tentunya hal ini menarik bagi investor karena
investor terhadap saham tersebut cukup besar, hal ini dapat berpengaruh terhadap
peningkatan harga saham. Dari keterangan diatas maka dapat dikatakan bahwa DER
mempengaruhi harga saham perusahaan sehingga menghasilkan return saham.
Semakin besar hutang yang dipakai untuk mendanai suatu perusahaan maka tingkat
resikonya juga semakin tinggi, Hal ini akan membuat menurunnya harga saham.
Karena para investor cenderung untuk menghindari resiko. Dengan demikian
besarnya DER dapat berpengaruh negative terhadap harga saham.
Semakin tinggi DER bearti modal sendiri semakin sedikit dibandingkan
dengan hutangnya. Semakin kecil DER semakin baik bagi perusahaan dan akan
meningkatkan harga saham (Fakhrudin dan Hadianto, 2001:61). Demikian dengan
perusahaan yang mempunyai kemampuan membayar hutang, bagi investor
merupakan jaminan keamanan atas perusahaan tersebut dengan begitu maka harga
saham akan semakin naik dan akan memberikan keuntungan bagi investor.
Sebaliknya bila kemampuan perusahaan untuk membayar hutang rendah akan
memberikan kekhawatiran bagi investor yang mengakibatkan harga saham menjadi
rendah dan return saham turun.
Menurut Ardiansyah (2004) Nilai DER yang tinggi akan meningkatkan
kepastian investor dan akan menurunkan tingkat return saham sehingga kemungkinan
return yang akan diterima investor semakin kecil di masa datang. Hal ini dikarenakan
perusahaan akan berusaha memenuhi kewajiban utangnya dahulu sebelum
maka semakin kecil pula return Hal tersebut menggambarkan bahwa DER
menunjukan hubungan yang negatif terhadap return saham.
2.2.7.5 Pr ice to Book Value
Price to Book Value (PBV) yang merupakan rasio antara harga saham
terhadap nilai bukunya. Bila suatu perusahaan mempunyai PBV diatas 1 maka harga
saham perusahaan tersebut dinilai lebih tinggi dari pada nilai bukunya yang
menggambarkan kinerja perusahaan tersebut semakin baik dimata investor. Dengan
demikian semakin tinggi PBV maka return saham akan meningkat. Rumus untuk
menghitung rasio PBV adalah sebagi berikut:
=
2.2.7.5.1 Pengar ar uh Pr ice to Book Value Ter hadap Retur n Saha m
Price to Book Value (PBV) merupakan rasio pasar (market ratios) yang
digunakan untuk mengukur kinerja harga saham terhadap nilai bukunya (Robert Ang,
2007). Hubungan antara harga pasar saham dengan nilai buku per lembar saham bisa
juga dipakai sebagi pendekatan alternative untuk menentukan nilai suatu saham,
karena secara teoritis nilai pasar suatu saham haruslah mencerminkan nilai bukunya.
Rasio ini merupakan perbandingan antara harga saham dengan nilai buku equitas
perusahaan menunjukan tingkat kemampuan perusahaan menciptakan jumlah relative
terhadap jumlah modal yang diinvestasikan oleh pihak investor. Dengan demikian