• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN TEORI PHYSICAL TRACES PADA RUANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KAJIAN TEORI PHYSICAL TRACES PADA RUANG"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN TEORI

PHYSICAL TRACES

PADA RUANG TERBUKA

PUBLIK

(Studi Kasus : Lapangan Merdeka Medan)

Faurantia F . Sigit

Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara Jl. Perpustakaan Gedung D Kampus USU Padang Bulan, Medan

Email : [email protected]

ABSTRAK

Ruang terbuka publik merupakan salah satu fasilitas yang dibutuhkan kota sebagai suatu tempat yang mampu mengakomodasikan kebutuhan masyarakat untuk berinteraksi dan menyalurkan hobi. Lapangan Merdeka merupakan salah satu ruang terbuka publik di kota Medan. Beberapa rancangan Lapangan Merdeka tidak digunakan pengguna sesuai rencana desain awal dengan alasan kenyamanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku penguna Lapangan Merdeka dan modifikasi pola perilaku dengan fokus jejak fisik. Metode yang digunakan adalah studi literatur, pengamatan langsung disertai pemetaan perilaku dan diuraikan secara deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jejak fisik terjadi karena pengguna merasa lebih nyaman untuk melakukannya seperti contoh duduk maupun olahraga di area rumput.

Kata Kunci: Ruang terbuka publik, Seting perilaku, Jejak fisik

ABSTRACT

Public open space is one of the facilities needed by a town to be capable to accommodate people requirement in interaction and hobbies. Lapangan Merdeka is one of the areas in Medan city. Some of the designs do not utilize by the visitors since it is not comfort enough for the visitors. This research is to identify the visitors’act in using Lapangan Merdeka and to modify their behavior and focus to physical traces. The methode used is literature study, observation and centered mapping which explain descriptive with qualified approach. The research result shows that physical traces happen because the visitors feel more comfortable to do the activities by sitting or sport at the grass areas.

Keywords: Public open space, Behavior setting, Physical traces

PENDAHULUAN

Ruang terbuka publik merupakan salah satu fasilitas yang dibutuhkan kota. Ruang terbuka publik merupakan lahan yang tidak terbangun dengan penggunaan tertentu, ruang terbuka publik tidak ditempati oleh bangunan dan dapat dirasakan apabila mempunyai pembatas disekitarnya. Ruang terbuka mempunyai fungsi dan kualitas yang terlihat dari komposisinya (Rapuano, 1994). Masyarakat dari berbagai golongan membutuhkan ruang terbuka publik yang mampu mengakomodasikan kebutuhan mereka sebagai tempat rekreasi dan menyalurkan hobi. Daya tarik sebuah ruang terbuka publik adalah karena manusia memiliki sifat sebagai mahluk sosial yang membutuhkan interaksi sosial dengan orang lain.

Lapangan Merdeka merupakan salah satu ruang terbuka publik di kota Medan. Letaknya yang berada di jantung kota menjadi salah satu penunjang bagi area publik ini karena dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat kota. Lapangan ini sering dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana olahraga, tempat interaksi, aktivitas sosial dan kebutuhan rekreasi. Lapangan Merdeka yang telah dirancang secara baik dan menarik oleh pemerintah kota ternyata tidak semua desain yang dirancang tersebut digunakan secara maksimal oleh pengguna. Banyak pengguna Lapangan Merdeka yang tidak mengikuti desain yang sudah ada khususnya dalam path yang sudah dirancang. Akibatnya banyak “jalur” baru yang dibuat oleh pengguna diluar dari rancangan arsitek.

(2)

dimanfaatkan untuk melihat sejauh mana keberhasilan suatu desain berdasarkan perilaku penggunanya. Tehnik tersebut dapat melihat lingkungan fisik sebagai cerminan dari aktifitas sebelumnya. Secara tidak sadar manusia akan meninggalkan jejak pada setiap aktifitasnya, seperti tapak kaki di tanah atau bercak tangan di lantai. Disisi lain, physical traces dapat mengubah perilaku manusia di lingkungan, contohnya pada saat seseorang memasuki gedung baru tentu perilakunya akan berbeda dengan saat ia berada di gedung sebelumnya (Zeisel, 1980).

KAJIAN TEORI

Hubungan Arsitektur, Lingkungan dan Perilaku

Haryadi (2010) menjelaskan bahwa perilaku dioperasionalisasikan sebagai kegiatan manusia yang membutuhkan seting atau wadah kegiatan yang berupa ruang. Berbagai kegiatan manusia saling berkaitan dalam satu system kegiatan. Wadah-wadah berbagai kegiatan tersebut juga terkait dalam suatu system pula. Keterkaitan wadah-wadah inilah yang membentuk tata ruang yang merupakan bagian dari bentuk arsitektur.

Secara tidak langsung terdapat hubungan antara perilaku dan ruang dalam dua sudut pandang. Pertama, sudut pandang dalam memahami pola perilaku, termasuk keinginan, motivasi, dan perasaan, merupakan hal yang harus dipahami dalam suatu ruang dikarenakan ruang merupakan perwujudan fisik dari pola-pola tersebut. Kedua, sudut pandang terhadap ruang mempengaruhi perilaku dan jalannya kehidupan. Kedua aspek tersebut memiliki dampak yang besar dan menjadi perhatian khusus bagi arsitek dan semua yang terlibat didalamnya (Rapoport, 1969).

Seting Perilaku (Behavior Setting)

Behavioral setting dapat diartikan secara sederhana sebagai suatu interaksi antara suatu kegiatan dengan tempat yang spesifik. Behavior setting mengandung unsur-unsur sekelompok orang yang melakukan suatu kegiatan, aktifitas atau perilaku dari sekelompok orang tersebut, tempat dimana kegiatan tersebut dilakukan, serta waktu spesifik saat kegiatan tersebut dilaksanakan (Haryadi, 2010).

Menurut Barker (1968), dalam Laurens (2004), behavior setting disebut juga dengan “tatar perilaku” yaitu pola perilaku manusia yang berkaitan dengan tatanan lingkungan fisiknya. Senada dengan Haviland (1967) dalam Laurens (2004:131) bahwa tatar perilaku sama dengan “ruang aktifitas” untuk menggambarkan suatu unit hubungan antara perilaku dan lingkungan bagi perancangan arsitektur.

Rapoport (1977) dalam Utami (2003) mengatakan bahwa perilaku adalah aspek signifikan dari sebuah proses yang merupakan interaksi pendekatan dialektik antara manusia dan lingkungan dengan mempertimbangkan proses interaksi manusia dalam menetapkan konsepnya sendiri. Pendekatan perilaku memperhatikan hubungan manusia dengan lingkungan yang mempengaruhi apresiasi dan kesadaran manusia.

Lang (1987) dalam Utami (2003) mengatakan bahwa seting perilaku merupakan pemahaman tentang lingkungan binaan sebagai bagian perilaku. Jika tampilan lingkungan tidak mampu mengikuti pola perilaku maka manusia juga tidak akan dapat mengikuti tujuan. Jejak merupakan sesuatu yang tertinggal atau mereka sadar akan perubahan (Zeisel, 1980).

Teori Physical Traces (Jejak Fisik)

Physical traces (jejak yang ditinggalkan) dapat diketahui dengan memperhatikan lingkungan fisik di sekitar untuk menemukan aktifitas sebelumnya. Secara tidak sadar manusia akan meninggalkan jejak pada setiap aktifitasnya, seperti tapak kaki di tanah atau bercak tangan di lantai. Disisi lain, physical traces dapat mengubah perilaku manusia di lingkungan, contohnya pada saat seseorang memasuki gedung baru tentu perilakunya akan berbeda dengan saat ia berada di gedung sebelumnya (Zeisel, 1980).

Physical Traces adalah suatu metode penelitian dalam perilaku manusia yang bertujuan untuk mengetahui jejak yang dapat menjadi acuan perbaikan rancangan. Physical traces juga dapat digunakan sebagai analilis pada rancangan suatu lingkungan dan menilai apakah lingkungan tersebut sudah berfungsi secara efektif (Utami, 2003).

Ruang Terbuka Publik

(3)

ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur di mana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan.

Menurut Hakim (1991), ruang terbuka pada dasarnya merupakan suatu wadah yang dapat menampung kegiatan aktivitas tertentu dari warga lingkungan tersebut baik secara individu atau secara kelompok. Bentuk daripada ruang terbuka ini sangat tergantung pada pola susunan massa bangunan.

Menurut Urban Land Institute dalam Deazaskia (2008) pengertian umum ruang publik adalah ruang-ruang yang berorientasi manusia (people oriented speces). Ruang publik adalah suatu tempat atau ruang yang terbentuk karena adanya kebutuhan manusia akan tempat untuk bertemu ataupun berkomunikasi.

Fungsi Ruang Terbuka Publik

Menurut Rustam Hakim (1987) dalam Suwandy (2015), fungsi ruang terbuka publik antara lain:

1. Fungsi umum

Yaitu ruang terbuka sebagai tempat bersantai, bermain, berolahraga, sebagai pembatas atau jarak bangunan, sebagai sarana penghubung antar tempat, sebagai ruang terbuka untuk mendapat udara segar, sebagai tempat komunikasi sosial, tempat peralihan atau menunggu.

2. Fungsi ekologis

Yaitu ruang terbuka sebagai tempat penyerapan air hujan, penyegaran udara, tempat untuk memelihara ekosistem, pengendali banjir dan penghalus arsitektur pada bangunan.

Peraturan Ruang Terbuka Publik

Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, khususnya pada pasal 29 ayat (2) mengamanatkan bahwa proporsi 30 (tiga puluh) persen merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan sistem mikroklimat, maupun sistem ekologis lain, yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. Untuk lebih meningkatkan fungsi dan proporsi ruang terbuka hijau di kota, pemerintah, masyarakat, dan swasta didorong

untuk menanam tumbuhan di atas bangunan gedung miliknya.

Ayat (3) menyebutkan bahwa proporsi ruang terbuka hijau publik seluas minimal 20 (dua puluh) persen yang disediakan oleh pemerintah daerah kota dimaksudkan agar proporsi ruang terbuka hijau minimal dapat lebih dijamin pencapaiannya sehingga memungkinkan pemanfaatannya secara luas oleh masyarakat. Jika proporsi tersebut dibandingkan dengan luas wilayah Kota Medan sebesar 26.510 Ha, maka idealnya luas Ruang Terbuka Hijau yang harus ada di Kota Medan adalah sekitar 7.953 Ha.

Pemetaan Perilaku pada Ruang Terbuka Publik

Haryadi dan B. Setiawan (2010) juga membagi jenis-jenis perilaku yang biasa dipetakan antara lain meliputi: pola perjalanan (trip pattern), migrasi (migration), perilaku konsumtif (consumptive behavior), kegiatan rumah tangga (households activities), hubungan ketetanggaan (neighbouring) serta penggunaan berbagai fasilitas publik (misalnya: pedestriam, lapangan terbuka dan lain-lain). Terdapat dua cara untuk melakukan pemetaan perilaku yakni: 1. Pemetaan berdasarkan tempat

(place-centered mapping)

Teknik ini digunakan untuk mengetahui bagaimana manusia atau sekelompok manusia memanfaatkan, menggunakan, atau mengakomodasikan perilakunya dalam suatu situasi waktu dan tempat tertentu. Dengan kata lain, perhatian dari teknik ini adalah satu tempat yang spesifik, baik kecil maupun besar.

2. Pemetaan berdasarkan pelaku (person-centered mapping)

Berbeda dengan teknik placed-centered mapping, teknik ini menekankan pada pergerakan manusia pada suatu periode waktu tertentu. Dengan demikian, teknik ini akan berkaitan dengan tidak hanya satu tempat atau lokasi akan tetapi dengan beberapa tempat atau lokasi.apabila placed-centered mapping ini peneliti berhadapan dengan banyak manusia, pada person-centered mapping ini peneliti berhadapan dengan seseorang yang khusus diamati.

METODE PENELITIAN

(4)

pengumpulan data dilakukan dengan observasi, studi literatur dan pemetaan perilaku.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinjauan Lapangan Merdeka

Lokasi penelitian yang dipilih adalah Lapangan Merdeka, Medan. Lapangan Merdeka merupakan salah satu ruang terbuka publik di Kota Medan yang terletak di pusat kota disekeliling Jalan Balai Kota, Jalan Bukit Barisan, Jalan Stasion dan Jalan Pulau Pinang (gambar 1.1).

Gambar 1.1. Peta Lapangan Merdeka

Pemetaan Perilaku Dalam Penggunaan Ruang di Lapangan Merdeka

Perilaku pengguna berkaitan erat dengan kondisi fisik Lapangan Merdeka sesuai dengan teori Barker (1968) dalam Laurens (2004). Lapangan Merdeka sering digunakan sebagai tempat olahraga, rekreasi, bersantai, dan sebagainya. Tempat ini hampir selalu ramai pengguna pada pagi dan sore hari. Pengguna Lapangan Merdeka berasal dari berbagai kalangan dan golongan. Pembagian zona pada Lapangan Merdeka dapat dilihat pada gambar dibawah ini (gambar 1.2).

Gambar 1.2. Peta Lapangan Merdeka

Terdapat 5 (lima) zona yang aktif digunakan oleh pengguna. Zona pertama adalah jogging track. Area ini selain dijadikan tempat jogging, beberapa pengguna memanfaatkannya sebagai area bersepeda (gambar 1.3), berdagang, bermain bola.

Gambar 1.3. Pengguna bersepeda

Zona kedua adalah bagian alat olahraga/gym. Area ini dimanfaatkan pengguna sebagai bantuan untuk berolahraga. Berbagai alat untuk berbagai kegiatan olahraga disediakan di zona ini dapat dilihat pada gambar dibawah (gambar 1.4).

Gambar 1.4. Alat olahraga

(5)

Gambar 1.5. Bersantai

Gambar 1.6. Event suatu acara

Zona keempat adalah lapangan voli/badminton. Terdapat 4 (empat) lapangan voli/badminton dengan dua bagian berbeda. Satu bagian terletak berdekatan dengan tempat parkir dan satu bagian lainnya terletak di sebelah tugu dan dalam waktu tertentu lapangan pada bagian ini digunakan sebagai area skateboard seperti yang terlihat pada gambar 1.7.

Gambar 1.7. Lapangan badminton

Zona kelima yaitu area permaninan anak-anak. Area ini menyediakan banyak permainan anak seerti ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, panjatan, dll. Area ini tentu banyak dimanfaatkan oleh anak-anak namun beberapa orang dewasa juga sering memanfaatkan area ini sebagai area santai ataupun mengingat masa kecilnya. Beberapa pengguna lainnya adalah orang tua yang menemani anaknya bermain dan

pedagang yang memanfaatkan area ini sebagai tempat berjualan (gambar 1.8).

Gambar 1.8. Area permainan anak

Jalur Masuk

Lapangan Merdeka memiliki dua jalur masuk utama dan satu jalur masuk tambahan. Jalur masuk utama berada di Jalan Pulau Pinang dan Jalan Bukit Barisan sedangkan jalur masuk tambahannya dapat diakses melalui Merdeka Walk (gambar 1.9). Jalan masuk utama dapat diakses oleh kendaraan motor dan mobil sedangkan jalan masuk melalui Merdeka Walk hanya dapat diakses oleh pejalan kaki

Gambar 1.9. Jalur masuk

Area Jogging Track

(6)

Gambar 1.10. Area jogging track

Alat olahraaga/gym

Area alat olahraga didesain bersebelah disalah satu sisi jogging track namun berada hampir ke pinggir lapangan. Area ini juga berada persis disebelah Merdeka Walk terlihat dari gambar 1.11. Berdampingan dengan alat olahraga, disediakan juga track untuk pengguna yang menggunakan sepeda maupun skateboard.

Gambar 1.11. Alat olahraga

Area bermain anak-anak

Area bermain anak didesain diujung lapangan terletak tidak begitu jauh dari jalur masuk utama Jalan Pulau Pinang sehingga cukup mudah untuk diakses (gambar 1.12). Area ini didesain cukup besar dengan menyediakan bermacam-macam permainan dan bangku taman sebagai sitting area.

Gambar 1.12. Area bermain anak

Lapangan voli/badminton

Lapangan voli atau badminton didesain terpisah oleh dua bagian mengikuti pola bentuk Lapangan Merdeka. Satu bagian terletak dekat dengan kantor Polantas dan satunya lagi terletak disebelah tugu (gambar 1.13).

Gambar 1.13. Lapangan badminton

Pendopo dan Tugu

(7)

Gambar 1.14. Pendopo dan tugu

Area Hijau (Rumput)

Banyak jejak fisik yang dijumpai pada Lapangan Merdeka. Perilaku pengguna yang tidak sesuai dengan desain yang sudah dirancang menjadi suatu kebiasaan baru bagi pengguna sesuai dengan teori Lang (1987) dalam Utami (2003) yang mengatakan bahwa jika tampilan lingkungan tidak mampu mengikuti pola perilaku maka manusia juga tidak akan dapat mengikuti tujuan. Contoh yang paling sering dijumpai adalah kerusakan rumput yang tidak lagi hijau. Berdasarkan pengamatan, salah satu kerusakan rumput diakibatkan dari aktifitas pengguna misalnya berlalu lalang diatas rumput. Aktifitas lainnya adalah pengguna yang melakukan olahraga diatas rumput terlihat pada gambar 1.15 dan gambar 1.16.

Gambar 1.15. Remaja bermain badminton diatas

rumput

Gambar 1.16. Sekelompok remaja bermain sepak

bola diatas rumput

Adanya beberapa event yang sering memanfaatkan Lapangan Merdeka yang dilakukan ditengah area rumput menambah kerusakan rumput. Panggung ditengah area rumput menjadi salah satu penyebabnya karena secara otomatis orang-orang akan beramai-ramai menginjak rumput menuju event tersebut (gambar 1.17).

Gambar 1.17. Tenda suatu acara diatas rumput

Penyebab lainnya adalah banyaknya kendaraan motor dan mobil yang masuk ke Lapangan Merdeka dan naik keatas rumput menuju event tersebut padahal area parkir kendaraan mobil dan motor sudah ada disediakan oleh perancang seperti gambar dibawah (gambar 1.18).

Gambar 1.18. Mobil parkir diatas rumput

(8)

Gambar 1.19. Pembatas area rumput dan jogging

track yang hancur

Hal lainnya yang dapat menyebabkan kerusakan rumput adalah banyaknya pengguna yang memanfaatkan area ini sebagai suatu kegiatan beraktifitas. Sebagai contoh, pengguna sering beristirahat diatas rumput, bermain, yoga, maupun sekedar bersantai seperti pada beberapa gambar dibawah (gambar 1.20 dan gambar 1.21).

Gambar 1.20. Remaja duduk bersantai diatas

rumput

Gambar 1.21. Beberapa remaja bermain diatas

rumput

Permainan Anak-anak

Area permainan anak disediakan untuk anak-anak dapat menikmati permainan di Lapangan Merdeka. Seharusnya area ini diperuntukkan untuk anak-anak namun yang terlihat adalah beberapa kalangan remaja dan dewasa ikut menikmati area ini. Beberapa orang tua ada yang menemani anaknya bermain namun mereka tidak menempati sitting area

yang sudah disediakan dan justru memafaatkan beberapa permainan yang ada (gambar 1.22). Disatu sisi perilaku ini menjadi penghalang anak-anak bermain.

Gambar 1.22. seorang Bapak duduk disalah satu

permainan anak-anak

Adanya kalangan remaja dan dewasa yang menikmati permainan juga menjadi penghalang anak-anak dalam menikmati areanya (gambar 1.23 dan gambar 1.24). Keinginan mereka untuk bermain suatu permainan terhalang dengan adanya pengguna lain yang seharusnya tidak menggunakan permainan tersebut.

Gambar 1.23. Remaja duduk di komedi putar

(9)

Sitting Area

Kegiatan lainnya yang mengganggu adalah banyaknya pengguna yang duduk disembarang tempat dan tidak menggunakan area duduk yang sudah disediakan (gambar 1.25 dan gambar 1.26). Jika perilaku ini semakin sering dilakukan pengguna maka dapat merusak fasilitas Lapangan Merdeka.

Gambar 1.25. Remaja duduk dipembatas tanaman

Gambar 1.26. Seorang anak duduk dirantai pagar

KESIMPULAN

Desain Lapangan Merdeka mempengaruhi perilaku pengguna. Lapangan Merdeka sudah didesain dengan baik namun tidak semua desain digunakan dengan pengguna secara baik. Beberapa perilaku pengguna menyebabkan kerusakan pada desain Lapangan Merdeka seperti rumput yang sudah tidak lagi hijau merata serta banyaknya alat olahraga dan permainan anak-anak yang sudah rusak. Phisical traces dapat menjadi metode yang berguna dalam melakukan penelitian ini sehingga dapat dijumpai beberapa jejak baru yang dibuat akibat perilaku pengguna.

Daftar Pustaka

[1] Haryadi dan Setiawan B, 2010. Arsitektur,

Lingkungan dan Perilaku,

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

[2] Darmawan, 2007. Peranan Ruang Publik Dalam Perancangan Kota (Urban Design, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro

[3] Hakim, Rustam dan Hardi Utomo, 2008. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap, Jakarta: PT Bumi Aksara

[4] Laurens, Joyce Marcella, 2004. Arsitektur dan Perilaku Manusia, Jakarta: PT Grasindo.

[5] Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasaan Perkotaan. 2007. Jakarta Sekretariat Negara.

[6] Prihutami, Deazaskia, 2008. Ruang Publik Kota Yang Berhasil. SkripsiFakultas Teknik Departemen Arsitektur Universitas Indonesia, Jakarta

[7] Rapoport, Amos, 1969. The Meaning of Built the Environment, Tucson: The University of Arizona Press

[8] Shirvani, Hamid, 1985. Urban Design Process, New York : Van Nostrand Reinhold

[9] Suwandy, 2015. Studi Elemen Ruang Publik (Studi Kasus: Kawasan Taman Biro Administrasi Universitas Sumatera Utara). Skripsi Fakultas Teknik Departemen Arsitektur Universitas Sumatera Utara, Medan

[10] Utami, Wahyu, 2003. Children Physical Traces in Open Space (Case Study Ahmad Yani Park, Medan)

Gambar

Gambar 1.3. Pengguna bersepeda
Gambar 1.6. Event suatu acara
Gambar 1.10. Area jogging track
Gambar 1.14. Pendopo dan tugu
+3

Referensi

Dokumen terkait

Persebaran ruang terbuka hijau terbanyak terletak di sebelah timur Kecamatan Jebres tepatnya di Kelurahan Jebres, Pucangsawit dan Mojosongo sedangkan pada bagian barat dan

Apabila diketahui gen sifat mengeram terletak pada kromosom Z, hal tersebut merupakan satu dari tiga gen yang mempunyai pengaruh yang sama terhadap sifat mengeram, dua gen lainnya

Seorang wanita dengan kanker pada satu payudara memiliki peningkatan risiko terkena kanker baru di payudara lainnya atau di bagian lain dari payudara yang

fungsi murni estetis karena memperindah bagian resplang atas Masjid. Kiambang merupakan salah satu ornamen dengan bentuk Sulur yaitu.. Ornamen Kiambang ini terletak pada

berkumpul bersama-sama dan membentuk satu kesatuan, saling berinteraksi dan bekerjasama antara bagian satu dengan yang lainnya dengan cara tertentu untuk melakukan

Menurut Komalasari (2011:31), sistem adalah suatu totalitas yang terdiri sejumlah komponen atau bagian yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan

bersama-sama dan membentuk satu kesatuan, saling berinteraksi dan bekerjasama antara bagian satu dengan yang lainnya dengan cara-cara tertentu untuk melakukan fungsi

Keselarasan yang baik akan menimbulkan kesan gerak gemulai yang menyambung dari bagian satu dengan bagian yang lainnya pada suatu benda atau dari unsur satu ke