• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS SOSIOLOGI DAN PSIKOLOGI SASTRA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS SOSIOLOGI DAN PSIKOLOGI SASTRA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS SOSIOLOGI DAN PSIKOLOGI SASTRA PADA NOVEL BURUNG-BURUNG MANYAR

KARYA Y. B. MANGUNWIJAYA Untuk memenuhi tugas UTS

Yang diampu oleh Bapak Muhammad Fatoni Rohman, M.Pd.

Oleh :

Aditya Tri Hari Pamuji 155110700111017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA

(2)

Abstrak : Novel adalah salah satu bentuk karya sastra. Novel merupakan cerita fiksi dalam bentuk tulisan dan mempunyai unsur instrinsik dan ekstrinsik. Dalam sebuah novel, si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan, nilai nasionalis serta konflik batin internal melalui cerita yang terkandung dalam novel tersebut. Disini penulis akan membahas novel Burung Manyar”. Novel “Burung-Burung Manyar” merupakan novel karya Y.B. Mangunwijaya pada tahun 1981. Cerita dari novel ini menceritakan tentang seorang “anak kolong” bernama Setawijaya yang merupakan anak dari seorang Indo-Belanda dari ibunya, Maurice dan bapak yang menjadi perwira KNIL, Barjabasuki. Karena masa kecil yang dihabiskannya di lingkungan Belanda, maka perlahan-lahan nilai-nila nasionalisme pada diri seorang Setawijaya/Teto mulai menghilang.

Kata Kunci : Novel, Burung-Burung Manyar, Belanda, Pengarang : Y.B. Mangunwijaya

Judul novel : Burung-burung Manyar Pengarang : Y.B. Mangunwijaya Tahun terbit : 1981

Penerbit : Djambatan

“Untuk anak yang normal, kehidupan brandal anak kolong Inlander jauh lebih haibat daripada menjadi sinyo Londo1 yang harus pakai sepatu, baju musti harus putih bersih dan segala macam basa-basi yang membuatnya menjadi marmut dalam kurungan”. [Burung-Burung Manyar, halaman 4]

Kutipan di atas merupakan narasi yang diucapkan oleh Setadewa atau dikenal dengan nama panggilan Teto, narator dalam novel Burung-Burung Manyar karangan Y.B. Mangunwijaya. Burung-Burung Manyar adalah sebuah roman percintaan berlatar sejarah, yaitu pada masa revolusi Indonesia hingga masa peralihan saat pendudukan Jepang dan bahkan sampai masa Orde Baru. Mengangkat tipe cinta yang platonik, adalah dua karakter kuat yang

(3)

Larasati atau dipanggil Atik

SINOPSIS

Pada masa pemerintahan KNIL Belanda, kehidupan keluarga Teto

(Setadewa) sangat berkecukupan. Dia dilahirkan dari keluarga terpandang. Segala kemauannya selalu dituruti oleh kedua orang tuanya. Ayahnya, Letnan

Barjabasuki, adalah salah seorang Letnan tamatan Akademi Militer Breda di Belanda dan menjabat kepala Garnisun Devisi II di Magelang. Itulah sebabnya, Teto bebas bergaul dengan orang-orang inlander, anak-anak Belanda ataupun Indo-Belanda.

Kedua orang tua Teto bukanlah orang biasa. Ayahnya masih keturunan bangsawan keraton, sedangkan ibunya keturunan Indo-Belanda. Masa kecil Teto benar-benar berada dalam kejayaan orang tuanya. Itulah sebabnya Teto merasa sangat bangga pada ayahnya. Dia bercita-cita menjadi tentara KNIL Belanda seperti ayahnya. Ia beranggapan bahwa dengan bergabung dan mengabdi pada KNIL Belanda, maka kehidupanya akan menjadi lebih baik. Ia akan disegani, serta di hormati oleh masyarakat sekitarnya.

Karena masa kecilnya, yaitu zaman tentara KNIL Belanda, Teto hidup dalam kemewahan, maka ketika Jepang berhasil mengusir tentara KNIL Belanda dari Indonesia Teto merasa terpukul. Kehidupan keluarganya berubah menjadi kacau. Ayahnya ditangkap dan disiksa oleh tentara-tentara Jepang. Ia hampir dibunuh oleh tentara Jepang, kalau saja ibunya tidak menyelamatkanya. Ketika pimpinan tentara Jepang memberi pilihan pada ibunya untuk menjadi wanita penghibur pimpinan tentara Jepang atau nyawa suaminya akan melayang, ibu Teto memutuskan untuk menjadi wanita penghibur demi menyelamatkan nyawa suaminya. Berkat pengorbanan istrinya itu, Letnan Barjabasuki atau ayah Teto selamat serta dibebaskan oleh tentara Jepang.

Betapa hancur hati Teto menyaksikan kenyataan itu. Dia merasa gusar dan sangat dendam kepada tentara Jepang. Perlakuan tentara Jepang terhadap kedua orang tuanya dan telah menghancurkan rasa gemilang keluarganya melekat terus dalam hatinya. Dia bertekad untuk membalas semua perlakuan tentara Jepang tersebut sampai kapanpun.

Tiga tahun kemudian, Jepang hengkang dari Indonesia dan tentara KNIL dari Belanda datang kembali ke Indonesia dengan berlindung di balik tentara sekutu. Teto sangat gembira menyambut kedatangan mereka. Dia gembira sebab cita-citanya menjadi seorang tentara KNIL Belanda dapat menjadi kenyataan. Ia pun langsung bergabung dengan tentara KNIL. Berkat bantuan seorang mayor bernama Verbruggen, dia diterima menjadi tentara KNIL.

(4)

sangat di sayang oleh pimpinannya. Hanya dalam waktu dua bulan, dia diangkat menjadi komandan patroli dengan pangkat Letnan dua.

Lain nasib Teto, lain pula nasib ibunya, Maurice yang mempunyai nasib yang naas. Kerena tak tahan menanggung penderitaan lahir dan batin, ia

mengalami gangguan jiwa dan menjadi pasien tetap di sebuah rumah sakit jiwa di Bogor. Sedangkan nasib Letnan Barjabasuki, ayah Teto, tidak jelas. Namun, menurut informasi Mayor Verbruggen, dia bergabung dengan tentara Republik. Dengan demikian, dia termasuk buronan tentara KNIL Belanda. Ini berarti bahwa Letnan Barjabasuki menjadi buronan anaknya sendiri, Letnan dua Teto.

Kejayaan Letnan dua Teto sebagai komandan patroli tentara KNIL Belanda tidak berjalan lama. Tentara KNIL Belanda makin lama makin lemah. Perlawanan rakyat Republik Indonesia terhadap gempuran-gempuran mereka tidak pernah surut. Lama-kelamaan tentara KNIL Belanda menjadi frustasi. Belanda yang hendak menguasai seluruh wilayah Indonesia akhirnya mengalah dan memutuskan kembali ke negerinya.

Kekalahan tentara KNIL Belanda membuat hati Teto menjadi ciut. Dia merasa malu pada dirinya, malu terhadap Larasati wanita yang sangat dicintainya. Bila Larasati berjuang membela bangsanya sendiri, dia malah membela musuh. Pada saat itu Larasati mengabdi di depertemen luar negeri. Kerena perasaan malunya itu, Teto memutuskan untuk keluar dari Indonesia dan berangkat ke Amerika. Di negara tersebut, dia masuk Universitas Harvard mengambil jurusan komputer dan mendapat gelar doktor.

Setamat dari Universitas Harvard, Teto bekerja di sebuah perusahaan besar di Amerika bernama Pacifik Oil Wells Company sebagai tenaga analisis komputer. Perusahaan Pacifik Oil Wells Company tempat ia bekerja menjalin hubungan kerja sama dengan pemerintah Indonesia. Selama bekerja di perusahaan itu, kesejahteraan Teto sangat terjamin. Bahkan, ia kemudian menikah dengan Barbara, putri salah seorang direktur perusahaan itu. Namun semua itu tidak membuat hatinya tenang. Dia tidak bahagia hidupnya di negeri orang. Hatinya terus bergejolak untuk kembali ke tanah air. Dia sangat merindukan orang-orang yang dicintainya. Dia teringat kepada ibunya. Dia juga rindu pada Larasati, kekasih yang sangat dicintainya itu. Hasrat Teto kembali ke tanah air semakin menjadi-jadi ketika dia menemukan kecurangan di perusahaan tempat dia bekerja. Dia bertekat membuka kecurangan tersebut. Apapun resikonya walaupun harus di berhentikan dari pekerjaannya.

Akhirnya, Teto benar-benar kembali ke Indonesia setelah ia bercerai dengan Barbara. Sesampainya di tanah air hatinya gelisah. Perasaannya bergelora ketika melihat perkembangan Indonesia. Tanah airnya telah mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang. Ia juga mengingat semua kejadian yang pernah

(5)

Dia juga teringat Larasati, kekasih yang sangat dirindukannya. Semua itu berkecamuk dalam hatinya. Dia merasa malu kepada Larasati dan takut bertemu dengannya. Namun ia sangat merindukannya. Dua perasaan yang saling

bertentangan berkecamuk dalam dadanya.

Secara diam-diam, Teto menghadiri acara presentasi gelar dokter yang akan dilakukan Larasati di Jakarta. Selama presentasi tersebut, dia hanya diam dan bersembunyi di balik orang-orang yang hadir. Setelah selesai membacakan

disertasinya, Larasati mendapat sambutan yang hangat dari semua yang hadir. Ketika orang-orang berebutan memberi ucapan selamat kepadanya, Teto tidak berani melakukannya. Padahal, dia sangat ingin menyentuh tangan kekasaihnya itu. Perasaan malu dan bersalah dalam dirinya semakin memuncak saat dia mendengar disertasi yang dibacakan Larasati. Disertasi itu membahas tentang burung-burung manyar dan tingkah lakunya. Dia begitu malu sebab tingkah laku burung-burung manyar itu persis seperti tingkah laku dirinya.

Walaupun Teto berusaha keras untuk tidak menemui Larasati, namun nasib berkehendak lain karena keesokan harinya, Larasati dan suaminya datang ke rumahnya. Betapa terkejutnya Teto melihat kedatangan mereka, hatinya berdebar-debar ketika bertatapan mata dengan wanita yang sangat dicintainya itu.

Sebenarnya, Larasati pun memiliki perasaan yang sama. Bagaimanapun dia pernah menaruh hati kepada Teto ketika mereka masih remaja. Teto menyadari bahwa ia pun masih mencintai Larasati. Namun, Larasati kini telah menjadi milik Janakatamsi, anak seorang Direktur Rumah Sakit Jiwa Keramat. Di rumah sakit itulah, ibunya dirawat sampai akhir hayatnya.

Janakatamsi memahami bahwa antara istrinya dan Teto terdapat kisah tertentu. Dengan bijaknya, dia menawarkan kepada Teto untuk menjadi kakaknya. Mendengar ajakan tersebut, hati Teto menjadi terharu dan dia pun menerimanya.

Atas ajakan Janakatamsi, Teto mengunjungi rumah ibu Antana, ibunya Atik di Bogor. Kedatangan Teto di sambut hangat oleh ibu Antana. Ia memang sudah mengenalnya sebab sejak kecil keluarga Atik telah bersahabat dengan keluarga Teto. Kedua keluarga itu sering saling mengunjungi.

Ketika diberi tahukan tentang kecurangan perusahaan tempat Teto bekerja, Janakatamsi mendukung niat Teto untuk membongkar kasus kecurangan yang terjadi dalam perusahaan Pacifik Oil Wells Company. Atas bantuannya pula Teto berhasil membongkar kecurangan keuangan yang dilakukan perusahaan asing tersebut walaupun kemudian dia diberhentikan dari perusahaan itu.

(6)

untuk menjaga dan mendidik mereka menjadi anak yang berbakti pada bangsa dan negara.

Analisis Struktural

Sebuah karya sastra memiliki struktur yang terdiri atas unsur-unsur yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Unsur-unsur karya sastra tersebut membentuk suatu keutuhan, kebulatan dan harmoni. Analisis struktural mengungkapkan hubungan fungsional antar unsur-unsur karya sastra tersebut dalam membangun totalitas makna. Jadi, bukan hanya sekedar memaparkan unsur demi unsur yang terlepas-lepas, karena unsur-unsur tersebut merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh.

1. Tema

Tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan makna dalam

pengalaman manusia, sesuatu yang menjadikan suatu pengalaman begitu diingat. (Stanton, 2007: 36). Untuk menemukan tema sebuah karya fiksi, harus

disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya berdasarkan bagian-bagian tertentu. Dalam novel “Burung-burung Manyar” ini, tema yang diangkat

mengenai Kisah seorang manusia yang selalu merasa gagal dalam mencapai jati dirinya sendiri karena trauma sejarah masa lalu yang rumit.

2. Fakta Cerita

Menurut Stanton (2007) fakta cerita merupakan alur, penokohan, dan latar. Elemen-elemen ini berfungsi sebagai catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita.

a. Alur (Plot)

Alur merupakan rangkain peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Dalam novel “Burung-burung Manyar” yaitu menggunakan alur maju, dimana setiap kejadian selalu bergerak maju sesuai dengan perputaran waktu.

1) Tahap Perkenalan

Teto yang sudah terbiasa dalam kehidupan yang berkecukupan, dihormati bebas bergaul dengan orang-orang Inlander, berhamburan kasih sayang kedua orang tua. Teto adalah anak tunggal kehidupannya sangat berbahagia dan makmur. Ayahnya tamatan Akademi di Belanda dan ibunya seorang Indo-Belanda. Ayahnya Teto adalah seorang kepala Garnisun II dengan pangkat Letnan, keluarga Teto sangat dihormati dan kemewahan dalam kehidupannya.

(7)

Letnam Barjabuki menjadi buronan Jepang, nasibnya di ujung tanduk. Nasib ayahnya Teto tergantung pada istrinya yang bernama Muricce, yang oleh Jepang dipaksa harus memilih sebagai gundik Jepang, maka nyawa suaminya selamat dan apabila tidak bersedia menjadi gundik tentara Jepang, maka nyawa suaminya melayang. Letnan Barjabasuki selamat, sebab istrinya memilih menjadi gundik tentara Kompetai Jepang.

3) Tahap Penyelesaian Konflik

Teto mengalami tekanan batin, dia memutuskan meninggalkan Indonesia dan berangkat ke Amerika. Teto masuk universitas Harvard jurusan komputer, Teto lulus dari Harvard sebagai pakar komputer dengan gelar dokter dan bekerja di perusahaan Pasific Oil Wells Company yang kebetulan bekerjasama dengan Indonesia. Tak lama kemudian Teto menikah dengan salah seorang Direktur yang bernama Barbara.

4) Tahap Penyelesaian

Setelah mengalami nasib tragis, yaitu dipecat dari perusahaan Pasific Oil Wells Company, nasib tragis dan kesedihan bertambah lagi. Ketika Atik dan suaminya naik haji berkat bantuan dana dari Teto juga. Pesawat yang

ditumpanginya mengalami musibah di Colombo, sehingga Atik dan suaminya meninggal dunia.

b. Penokohan

Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel

“Burung-burung Manyar” ini adalah:

Teto : Seorang pemuda modern dan berpendidikan tinggi di bidang komputer tamatan universitas Harvard dengan gelar dokter. Teto nama sebenarnya Setadewa, yang terlahir dengan penuh kebahagiaan dan kemakmuran materi karena lahir sebagai anak tunggal seorang letnan yang bernama Barja Basuki yang bertugas di Garnisun II dimana Pemerintahan KNIL Belanda, ayahnya Teto tamatan Akademi Breda di Belanda dan ibunya seorang Indo-Belanda.

(8)

Janakatamsi : Seorang pemuda modern dan kaya serta berpengetahuan luas pula. Ia seorang Direktur Rumah Sakit Jiwa Kramat dan dia adalah seorang suami yang baik, dia suami Larasati.

Banjabasuki : Seorang letnan tamatan Akademik Breda Belanda Gunisum II semasa Pemerintahan KNIL Belana. Dia seorang Indonesia turunan darah biru (Keraton) setelah Indonesia merdeka, dia bergabung dengan Tentara Revolusi (Tentara Republik Indonesia). Dia adalah ayah kandung Teto.

Ibu Teto : Merupakan istri Banjabasuki, seorang perempuan Indo-Belanda korban keadaan pahit. Akibat tak sanggup menanggung penderitaan batin dan pisik akhirnya menjadi gila dan masuk ke dalam perawatan rumah sakit gila.

Verbruggen : Seorang pimpinan tentara Belanda (KNIL) sewaktu agresi II. Mayor inilah yang menolong Teto untuk bisa masuk ke Batalyon Tentara KNIL

Antana : Seorang ibu yang baik, dia adalah ibu kandung Atik, nama panggilan Larasati.

Barbara : Istri Teto, anak Direktur Pasific Oil Wells Company

Maurice : Ibu Teto

c. Latar (Setting)

Latar merupakan lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita. Semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang

berlangsung. Latar dapat berwujud dekor. Latar juga dapat berwujud waktu-waktu tertentu.

1) Tempat

(9)

2) Waktu

a) Masa Belanda

b) Masa Jepang

c) Masa Kemerdekaan

3) Sosial

Teto membahas segala kebaikan yang telah diberikan oleh keluarga Atik dan Suaminya itu sekaligus demi cintanya sama Atik serta demi membalas segala kesalahannya kepada negaranya. Teto dengan penuh ikhlas mengangkat ketiga orang anak hasil perkawinan Atik dengan Janakatamsi sebagai anaknya sendiri dan berjanji akan menjaga dan memelihara dengan baik. Supaya menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Sarana Sastra a. Sudut Pandang

Sudut pandang merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Cerita pada novel ini berpusat pada Teto, sehingga mayoritas ceritanya berkitar-kitar pada kehidupan privat Teto dan pergumulan batinnya. Di beberapa bagian cerita, Atik memang diceritakan, akan tetapi naratornya bukan orang pertama, melainkan orang ketiga. Sejak awal cerita, Mangunwijaya langsung mengajak pembaca untuk berdialog.

Tokoh Teto atau Satadewa dipandang sebagai pemuda yang gagal dalam hidupnya. Ia dianggap sebagai sosok yang sikapnya sesuai dengan burung-burung manyar. Ia lebih mengutamakan kepentingan bangsa Belanda dibanding dengan bangsanya sendiri, bahkan ia ikut serta dalam pemberontakan terhadap tentara Republik.

Tokoh Larasati adalah seorang wanita yang berpendidikan tinggi. Ia adalah seorang yang setia terhadap Nusa Bangsanya sendiri. Dalam hidupnya ia pergunakan untuk mengabdi terhadap Tanah Airnya.

b. Gaya Bahasa

(10)

ANALISIS SOSIOLOGI DAN PRIKOLOGI SASTRA DALAM NOVEL BURUNG-BURUNG MANYAR

1. Analisis Sosiologi Sastra

Kehidupan yang serba kecukupan dan kasih sayang yang diberikan oleh kedua orangtua Teto semasa pemerintahan KNIL Belanda. Masa kejayaan Teto yang kemudian diangkat menjadi seorang komandan yang berdedikasi tinggi, sehingga disayangi oleh atasan-atasan Belanda.

2. Analisis Makna Psikologis

Teto harus menerima kenyataan pahit yang menimpa keluarganya, hatinya penuh dendam terhadap perlakuan Jepang terhadap kedua orang tuanya, karena masa gemilang yang pernah dinikmati di masa pemerintahan KNIL Belanda maka dengan penuh rasa dendam sekaligus bangga pada KNIL Teto berusaha keras hendak masuk KNIL seperti ayahnya dulu.

Teto memang sudah didasari oleh motivasi yang kuat dan sekaligus kerjanya yang kelas dan disiplin. Sehingga pada waktu dua bulan saja Teto sudah diangkat menjadi seorang salah seorang komandan yang berdedikasi tinggi.

Ibunya Teto dikabarkan menjadi penghuni tetap sebuah rumah sakit jiwa. Hal ini disebabkan karena tak sanggup lagi menahan beban batin menjadi gundik kompetensi di masa pendudukan Jepang demu menyelamatkan nyawa suaminya.

Demi membalas segala kebaikan yang telah diberikan dari keluarga Atik dan suaminya dan sekaligus demi cintanya sama Atik serta demi cintanya kepada negaranya. Tetp dengan penuh ikhlas mengangkat ketiga orang anak hasil perkawinan Atik dengan Janakatamsi sebagai anaknya sendiri dan berjanji akan menjaga dan memeliharanya dengan baik supaya menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa.

PENUTUP

(11)

menghadapi trauma masa lalunya.Dengan melakukan analisis sosiologi sastra dan psikologi sastra pada novel ini, maka dapat ditemukan korelasi dan keterkaitan antara kehidupan sosial Teto sejak kecil hingga mempengaruhi setiap pilihan-pilihan dia di masa mendatang. Tanpa mendiskreditkan sosok sentral pada tokoh Larasati, tokoh Atik-lah yang perlahan mampu menyadarkan pola fikir Teto dengan rasa cinta. Novel ini juga merupakan salah satu gebrakan dalam dunia literasi Indonesia yang dilakukan oleh Romo Mangun, yaitu menghadirkan sebuah kisah klasik namun dengan akhir cerita yang sangat tidak diduga oleh para pembaca.

DAFTAR RUJUKAN

Mangunwijaya,Y.B. 2014. Burung-Burung Manyar. Jakarta: Penerbit Kompas.

Teeuw,Andries. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Referensi

Dokumen terkait

The research is focused on the development a tool for converting IOTNE into IOTED and apply the tool to obtain EDM in the Indonesian industrial sector based on the 2008

the process of returning SAS transport files to their original form (SAS library, SAS catalog, or SAS data set) in the format that is appropriate to the target operating

Untuk itu dibutuhkan sebuah aplikasi yang dapat mempermudah proses pembelian ikan lele dan permintaan pelanggan dapat dilayani dengan mudah dan cepat tanpa

1.Merumuskan dan mengusulkan segala peraturan organisasi tentang system 1.Merumuskan dan mengusulkan segala peraturan organisasi tentang system dan mekanisme pelaksanaan program

Tegasnya, Syaykh Abd Aziz bin Abd Salam telah memberi suatu sumbangan yang besar terhadap metodologi pentafsiran kepada pengajian tafsir di Malaysia.. Sumbangan

PPKA Bodogol atau yang dikenal dengan Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol adalah sebuah lembaga konservasi alam di daerah Lido Sukabumi dan masih merupakan bagian dari

Tata busana tari Wayang karya Raden Ono Lesmana Kartadikusumah memilki ciri khas sendiri, ciri khas tersebut dapat kita analisis dari hasil penelitian dari segi

Perhitungan baiya bunga modal adalah dengan jalan mengalikan antara total biaya eksplisit yang dikeluarkan petani dengan besarnya bunga modal (tingkat suku bunga)