• Tidak ada hasil yang ditemukan

FIQIH ZAKAT > ZAKAT PETERNAKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FIQIH ZAKAT > ZAKAT PETERNAKAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Banyak sekali instrumen zakat yang harus dikeluarkan oleh muzakki (orang yang sudah memenuhi kriteria wajib zakat). Dalam literatur islam, binatang ternak termasuk salah satu barang yang wajib dikeluarkan zakatnya. Bahkan dalam hadits-pun disebutkan jenis binatang dan ukuran zakatnya.

Namun walaupun hanya beberapa jenis binatang saja yang disebutkan dalam hadits, bukan berarti binatang yang selain dari itu tidak berlaku baginya zakat.

Dalam makalah ini menjelaskan berbagai ketentuan syara mengenai zakat peternakan, baik yang secara tekstual disebutkan dalam hadits, maupun menurut pandangan para ulama. Dalam penentuan zakat ternak ini banyak hal-hal yang musykil yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, salah satu contoh masalah perkongsian dalam binatang ternak. Maka dalam makalah ini sedikit mengupas masalah perkongsian yang terjadi pada binatang ternak, “apakah wajib dizakati ataukah tidak”, tentunya dengan melihat berbagai pandangan para ulama mengenai hal tersebut.

(2)

ZAKAT PETERNAKAN A. Pengertian Zakat Binatang Ternak

Yang dimaksud dengan hewan ternak disini secara khusus dalam nash hadits adalah unta, sapi (kerbau), dan domba (kambing).

Dalam fikih islam, binatang ternak dikalsifikasikan ke dalam beberapa kelompok : 1. Pemeliharaan hewan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan

pokok atau alat produksi, contoh memelihara kerbau untuk membajak sawah, memelihara kuda sebagai alat transportasi dan lain-lain.

2. Hewan yang dipelihara untuk tujuan memproduksi suatu hasil komoditas tertentu, seperti binatang yang disewakan atau hewan pedaging atau hewan susu perahan. Binatang semacam ini termasuk jenis binatang ma’lufat (binatang ternak yang dikandangkan)

3. Hewan yang digembalakan untuk tujuan peternakan (pengembangbiakan). Jenis hewan seperti inilah yang termasuk dalam kategori aset wajib zakat binatang ternak (zakat an’am).

Adapun syarat-syarat yang harus terpenuhi dalam zakat peternakan ini adalah : 1. Jumlahnya Mencapai Nishab

2. Telah melewati masa satu tahun (haul)

3. Digembalakan di tempat penggembalaan umum. Yakni tidak diberi makan dikandangnya, kecuali jarang sekali

4. Tidak digunakan untuk keperluan pribadi pemiliknya, seperti untuk mengangkut barang, membajak sawah dan sebaginya.1

B. Hewan Ternak yang Wajib di Zakati

Hanya ada beberapa jenis binatang ternak dalam teks hadits yang secara khusus wajib di zakati, yaitu unta, sapi/kerbau dan kambing/domba

1. Unta

Dasar Hukum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori

1 Fiqih Praktis Menurut Al-Qur’an As-Sunnah dan Pendapat Para Ulama, Muhammad Bagir Al-Habsyi. Hal

(3)

...

Dari uraian hadits di atas dapat disimpulkan bahwa zakat unta itu sebagai berikut :

Nishab Zakatnya Umur

Bilangan dan Jenis Zakatnya

5 – 9 1 Ekor Kambing atau 2 Tahun lebih

1 Ekor Domba 1 Tahun lebih

10 – 14 2 Ekor Kambing atau 2 Tahun lebih

2 Ekor Domba 1 Tahun lebih

15 – 19 3 Ekor Kambing atau 2 Tahun lebih

3 Ekor Domba 1 Tahun lebih

20 – 24 4 Ekor Kambing atau 2 Tahun lebih

(4)

4 Ekor Domba 1 Tahun lebih 25 – 35 1 Ekor unta betina (bintu mukhadh) 1 Tahun lebih 36 – 45 1 Ekor unta betina (bintu labun) 2 Tahun lebih 46 – 60 1 Ekor unta betina (hiqqah) 3 Tahun lebih 61 – 75 1 Ekor unta betina (jadza’ah) 4 Tahun lebih 76 – 90 2 Ekor unta betina (bintu labun) 2 Tahun lebih 91 – 120 2 Ekor unta betina (hiqqah) 3 Tahun lebih 121 (setiap

pertambaha

n 40 ekor) 3 Ekor unta betina (bintu labun) 2 Tahun lebih

2. Sapi / Kerbau

Sapi / Kerbau adalah salah satu binatang yang wajib dikeluarkan zakatnya apabila sudah memenuhi syarat wajib zakat.

Sapi baru wajib dizakati setelah berjumlah 30 ekor dan digembala. Ketika mencapai 30 ekor, juga setelah berlalu satu tahun, maka zakatnya adalah seekor tabi’ betina (anak sapi yang berumur satu tahun). Tidak ada kewajiban lain setelah itu, kecuali bila jumlah sapi mencapai 40 ekor. Jika jumlah sapi mencapai 40 ekor, zakatnya adalah seekor musinnah (sapi betina yang berumur 2 tahun).

Tidak ada kewajiban lain setelah itu kecuali bila sapinya itu sudah mencapi 60 ekor. Saat itu, dia harus mengeluarkan zakatnya berupa 2 ekor tabi’. Jika mencapai 70 ekor, zakatnya berupa seekor musinnah dan tabi’. Jika mencapai 80 ekor, zakatnya berupa 2 ekor musinnah. Jika mencapai 90 ekor, zakatnya berupa 3 ekor tabi’. Jika mencapai 100 ekor, zakatnya berupa seekor musinnah dan 2 ekor tabi’. Jika mencapai 120 ekor, zakatnya berupa 3 ekor musinnah dan 4 ekor tabi’. Demikianlah caranya, setiap penambahan 30 ekor, zakatnya berupa seekor tabi’ dan setiap penambahan 40 ekor, zakatnya berupa seekor musinnah.3

3. Kambing / Domba

(5)

Dasar Hukum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori

ْتَناسسَ ك اَذِا اَهِتَمِئا َ

سسس ىِف سِمَنَغْلا ِةَقَد َسسص ىِفَو ...

: سِنْيَتَئاِم ىَلِا ,ٌةا َش : ٍةَئاِمَو َنْيِر ْشِع ىَلِا َنْيِعَبْر

َأ

ٍةَئاِمِث َلَث ىَلِا ِنْيَتَئاسسِم ىَلَع ْتَداَز اَذِاسسَف ,ِناَتا َ

سسش

ّلسسُ ك ىِفَف ٍةَئاِمِث َلَث ىَلَع ْتَداَز اَذِاسسَف , ٌث َلَث اَهْيِفَف

ْنِم ًةَصِقاَن ِلُجّرلا ُةَمِئاَس ْتَناَك اَذِاَف ,ٌةا َش ٍةَئاِم

ْنَا ّلِا ٌةَقَد َسسص اسسَهْيِف َسْيَلَف ًةَدسسِحاَو ًةا َسسش َنْيِعَبْر

َأ

... اَهّبَر َءا َشَي

4

... Mengenai zakat kambing yang dilepas mencari makan sendiri, jika mencapai 40 hingga 120 ekor kambing, zakatnya seekor kambing. Jika lebih dari 120 hingga 200 ekor kambing, zakatnya dua ekor kambing. Jika lebih dari 200 hingga 300 kambing, zakatnya tiga ekor kambing. Jika lebih dari 300 ekor kambing, maka setiap 100 ekor zakatnya seekor kambing. Apabila jumlah kambing yang dilepas mencari makan sendiri kurang dari 40 ekor, maka tidak wajib atasnya zakat kecuali jika pemiliknya menginginkan... (HR. Bukhori)

Nishab Kambing / Domba

Nishab adalah ukuran/takaran bagi barang/harta yang wajib dizakati yang sudah ditetapkan oleh syara’.

Adapun Nishab bagi zakat kambing / domba, dalam hadits riwayat Anas bin Malik di atas dapat disimpulkan bahwa nishab kambing/domba adalah jika sudah mencapai 40 ekor, maka zakatnya adalah 1 ekor domba usia 1 tahun atau kambing usia 2 tahun. Dan jika mencapai lebih dari 120 ekor, maka zakatnya adalah 2 ekor Domba usia 1 tahun atau kambing usia 2 tahun. Dan jika jumlahnya lebih dari 200 ekor, maka zakatnya adalah 3 ekor domba usia 1 tahun atau kambing usia 2 tahun. Setelah itu, pada setiap seratus ekor, zakatnya seekor domba (usia 1 tahun) atau kambing (usia 2 tahun).

(6)

Dalam konsep fiqih, untuk menentukan jumlah nishab itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan5.

- Binatang ternak yang masih muda tidak diperhitungkan dalam menentukan jumlah nishab, semisal bila seorang muslim memiliki 40 ekor kambing namun masih kecil-kecil, maka muslim tersebut tidak wajib zakat.

- Bila jumlah binatang ternak yang sudah dewasa itu sudah mencapai nishab, maka binatang yang masih muda masuk hitungan nishab dan wajib zakat, semisal seorang muslim memiliki 6 ekor unta besar dan 4 ekor unta masih kecil, maka kewajiban zakatnya disesuaikan dengan ketentuan 10 ekor unta.

Dengan demikian, bahwasannya dalam menghitung zakat dari aset binatang ternak yang masih muda, ‘apakah wajib zakat atau tidak’, tergantung pada jumlah binatang ternak yang sudah dewasa. Bila yang sudah dewasa mencapai nishab, maka yang kecilpun dihitung. Sedangkan apabila yang dewasa belum mencapai nishab, maka yang kecilpun tidak dihitung.

Haul (mencapai masa 1 tahun)

Salah satu syarat wajib zakat itu adalah haul, yakni barang/harta yang wajib dizakati itu sudah mencapai 1 tahun, maka jika barang/harta yang wajib dizakati itu belum mencapai 1 tahun maka ia belum wajib zakat.

Jika kambing, sapi atau unta yang jumlahnya sudah mencapai nishab, kemudian di tengah-tengah haul (tahun buku usaha peternakan)-nya itu terlahir anak-anak dari hewan ternak itu, maka haul anak-anak itu mengikuti haul induknya. Dengan demikian wajiblah ia pada akhir haul induk-induk hewan ternaknya mengeluarkan zakat atas semuanya (induk beserta anak-anaknya)6.

4. Zakat Kuda, Keledai, Rusa, Ayam dan Sejenisnya

Dalam klasifikasi binatang ternak di atas, bahwasannya bintang yang termasuk dalam kelompok yang wajib dizakati adalah binatang yang digembalakan di tempat umum, dan tidak diambil manfaatnya. Dalam nash hadits hanya ditemui beberapa

5Akuntansi dan Manajemen Zakat Mengomunikasikan Kesadaran dan Membangun Jaringan, M. Arif

Mufraini. Hal 97-98

6Fiqih Praktis Menurut Al-Qur’an As-Sunnah dan Pendapat Para Ulama, Muhammad Bagir Al-Habsyi. Hal

(7)

jenis binatang saja yang wajib dizakati yang nishab dan jumlah zakatnya sudah ditentukan.

Hewan-hewan lainnya seperti kuda, keledai, rusa, ayam dan lain-lain, apabila sengaja dipelihara dalam usaha peternakan (baik diberi makan dikandangnya, atau digembalakan di padang terbuka untuk umum), maka berlaku padanya zakat perdagangan, seperti berbagai komoditi perdagangan lainnya.

Bagi binatang yang tidak disebutkan dalam hadits, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa zakatnya dinisbatkan kepada zakat emas, yakni 2,5%.

Nishab pada ternak unggas dan perikanan tidak diterapkan berdasarkan jumlah (ekor), sebagaimana halnya sapi, dan kambing. Tapi dihitung berdasarkan skala usaha.

Nishab ternak unggas dan perikanan adalah setara dengan 20 Dinar (1 Dinar = 4,25 gram emas murni) atau sama dengan 85 gram emas. Artinya bila seorang beternak unggas atau perikanan, dan pada akhir tahun (tutup buku) ia memiliki kekayaan yang berupa modal kerja dan keuntungan lebih besar atau setara dengan 85 gram emas murni, maka ia terkena kewajiban zakat sebesar 2,5%.7

Contoh :

Seorang peternak ayam broiler memelihara 1000 ekor ayam perminggu, pada akhir tahun (tutup buku) terdapat laporan keuangan sbb:

(8)

5. Utang yang jatuh tempo Rp 5.000.000

Saldo Rp 26.000.000

Besarnya Zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5 % x Rp.26.000.000 = Rp 650.000

Catatan :

Kandang dan alat peternakan tidak diperhitungkan sebagai harta yang wajib dizakati.

Nishab besarnya 85 gram emas murni, jika @ Rp 250.000 maka 85 x Rp 250.000 = Rp 21.250.000

C. Penentuan Sumber Zakat Binatang Ternak 1. Perkongsian dalam peternakan

ينثدح :لاق يراصننا هللا دبع نب دمحم انثدح

ُهسسللا َي ِسسضَر ا ًسسسَن

َأ ّنَأ :ِةسسَماَمُث سينثدسسح :لاق يبأ

ُهسسَل َبَتَك :ُهسسْنَع ُهللا َيِضَر ٍرْكَب اَب

َأ ّنَأ :ُهَثَدَح ُهْنَع

:َمّل َسسسَو ِهْيَلَع ُهللا ىّلَص ِهللا ُلْوُسَر َضَرَف ْيِتّلا

،ٍعسسِمَتْجُم سَنْيَب ُقِرسسَفُي َلَو ،ٍقّرسسَفَتُم َنْيَب ُعَمْجَي َلَو(

)ِةَقَدّصلا َةَي ْشَخ

8

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitabnya (Shahih Bukhori), Anas ra. Berkata bahwasannya Abu Bakar Shiddiq menulis surat kepadanya, menerangkan kewajiban zakat yang sudah ditetapkan oleh Rasululloh saw. di dalamnya disebutkan bahwa tidak boleh menggabungkan kepemilikan ternak yan terpisah dan tidak pula memisahkan kepemilikan ternak yang tergabung, karena takut membayar zakat. Ternak yang dimiliki oleh dua orang yang berkongsi itu dibagi dua secara merata. (HR. Bukhori)

(9)

Dalam hadits di atas mengenai perkongsian peternakan ini, terdapat beberapa pendapat. Menurut Syafi’iah, bahwa hadits di atas, di satu sisi ditujukan kepada pemilik harta dan di sisi lain juga ditujukan kepada petugas pemungut zakat. Keduanya diperintahkan agar tidak melakukan penggabungan atau pemisahan kepemilikan terkait dengan kekhawatiran terhadap pembayaran zakat, pemilik harta menghawatirkan jumlah zakatnya besar, sehingga melakukan penggabungan atau pemisahan agar berkurang. Sementara petugas zakat khawatir zakat menjadi sedikit, sehingga menggabungkan atau memisahkannya agar kewajiban zakat masing-masing hanya seekor kambing. Menurut Hanafiyah, pernyataan tersebut adalah larangan yang ditujukan kepada petugas zakat saja. Mereka tidak boleh memisahkan kepemilikan seseorang untuk memperbanyak jumlah zakat yang harus dibayarnya9.

Masalah perkongsian ini, berpengaruh pula pada permasalahan “apakah harta perkongsian ini berpengaruh terhadap zakat”. Beragam pendapat yang mengomentari masalah tersebut.

Ulama Hanafiah mengatakan bahwa hal itu tidak berpengaruh terhadap zakat, sebab salah satu syarat zakat adalah hak milik sendiri, jadi harta yang dalam perkongsian itu tidak berpengaruh terhadap zakat. Berbeda dengan Hanafiah, ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa harta perkongsian (binatang ternak) itu berpengaruh terhadap zakat, artinya bahwa harta perkongsian itu wajib dikeluarkan zakatnya dan termasuk ke dalam satu kepemilikan.

Namun ulama syafi’iyah mensyaratkan beberapa syarat yang harus dipenuhi : 1) orang-orang yang berkongsi layak berzakat; 2) harta yang dikongsikan mencapai nishab; 3) nishab mencapai satu tahun; 4) harta tidak dibedakan dalam tempat bermalam, tempat penggembalaan, air minum, penggembala, dan tempat pemerahan susu; dan 5) kesamaan pejantan, bila jenis ternaknya sama.10 2. Penyatuan binatang-binatang ternak yang masih muda ke dalam

kelompok binatang-binatang yang sudah dewasa.

(10)

Meskipun terdapat perbedaan pendapat, namun mayoritas ulama sepakat bahwa binatang-binatang yang masih muda dimasukan dalam kategori sumber zakat apabila jumlah binatang yang besar telah mencapai nishab dan secara umum tidak dapat digugurkan dari hitungan.

Orang yang memiliki nishab unta, sapi atau kambing, lalu hewan ternaknya itu melahirkan di tengah masa setahun nishab, maka semuanya harus dizakati, ketika kepemilikan ternak-ternak besarnya mencapai satu tahun. Zakat dikeluarkan dari ternak besar yang lebih dahulu mencapai nishab dan anak-anaknya yang baru lahir sebagai suatu harta yang sama.11

3. Penyatuan binatang ternak yang tidak sejenis.

Dalam masalah penyatuan binatang ternak, mayoritas ulama membolehkan untuk menggabungkan antara berbagai jenis binatang yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Orang yang hendak mengeluarkan zakatnya (muzakki), menurut jumhur ulama, dapat mengeluarkan dari jenis barang manapun yang dia sukai, baik barang itu memang harus dikeluarkan; misalnya hanya barang itu yang ada dan mencukupi syarat untuk dikeluarkan sebagai zakat, maupun tidak harus dikeluarkan. Misalnya di antara dua barang yang digabungkan itu sama-sama memiliki barang yang harus dikeluarkan sebagai zakat. Dengan demikian barang itu dapat dikeluarkan dari salah satu pihak yang menggabungkan kepemilikannya.12

11Ibid. Hal 542

(11)

KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa binatang ternak merupakan salah satu instrumen penting yang harus dikeluarkan zakatnya. Adapun jenis binatang dan syarat-syarat binatang yang harus dikeluarkan zakatnya sudah ditentukan oleh syara. Hanya ada tiga jenis binatang yang secara hukum wajib dikeluarkan zakatnya, yaitu Unta, Sapi/Kerbau, Kambing/Domba, dan syarat-syarat berlaku pada ketiga jenis binatang tersebut. Adapun bagi binatang yang selain dari tiga jenis tersebut, maka berlaku baginya zakat perdagangan.

Kemudian masalah perkongsian dalam peternakan, maka berlaku baginya zakat, namun tidak boleh memisahkan atau menggabungkan binatang ternak dengan maksud mengurangi jumlah binatang yang wajib dikeluarkan (zakatnya) oleh si pemilik harta. Begitupula bagi petugas pemungut pajak tidak boleh memisahkan atau menggabungkan binatang ternak dengan maksud agar zakat binatang yang dikeluarkan itu menjadi banyak.

Adapun binatang yang belum mencapai nishab, maka baginya belum wajib zakat. Dan apabila menggabungkan harta dengan harta orang lain (perkongsian), atau menggabungkan harta yang tidak sejenis dengan maksud agar tercapai nishab dan mengeluarkan zakatnya, maka itu lebih baik baginya

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. (QS. Al-Zalzalah : 7)

Kemudian untuk masalah Penyatuan binatang-binatang ternak yang masih muda ke dalam kelompok binatang-binatang yang sudah dewasa, mayoritas ulama sepakat bahwa binatang-binatang yang masih muda dimasukan dalam kategori sumber zakat apabila jumlah binatang yang besar telah mencapai nishab dan secara umum tidak dapat digugurkan dari hitungan.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Arif Mufraini, M. 2006, Akuntansi dan Manajemen Zakat Mengomunikasikan Kesadaran dan Membangun Jaringan, Kencana, Jakarta.

Imam Bukhori, Shahih Bukhori, Jilid 2

Muhammad Bagir Al-Habsyi, 2002, Fiqih Praktis Menurut Al-Qur’an, As-Sunnah dan Pendapat Para Ulama, Mizan Media Utama (MMU), Bandung.

Sayyid Sabiq, 2010, Fiqih Sunnah, terj. Al-I’tishom, Jakarta Timur.

Wahbah Al-Zuhayly, 2000, Zakat Kajian Berbagai Mazhab,terj. Cet. Ke-5, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

(13)

ZAKAT PETERNAKAN

Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah Fiqih Zakat Dosen Pengampu : Ahmad Fauzan Lc. M.Si.

Disusun oleh kelompok 5 :

Akhmad Farikh Fauzi : 082323002 Solahudin Fathulloh : 082323039 Abdul Walid Honest :

PROGRAM PENDIDIKAN EKONOMI ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN )

PURWOKERTO

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengujian terhadap hipotesis 1 yang telah dilakukan pada Bab IV menunjukkan bahwa kualitas layanan sebagai variabel bebas memiliki pengaruh positif yang

Dalam jangka pendek dan menengah, fokus upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kesempatan kerja masyarakat perdesaan adalah melalui pengembangan produk komoditas

"History is all that happaned in the past and what man has written about the past out of all that has happaned since the beginning of human history, What has been recorded

Menghadapi tantangan arus dinamika masyarakat global, tugas Pemerintah Daerah harus membangun kemakmuran dan kesejahteraan yang berkeadilan serta sistem ekonomi yang

b Bila pada saat di posisi terdekat denganBumi benda angkasa tersebut menum- buk benda angkasa lain sehingga jarak orbitnya terhadap Bumi menjadi tetap, tentukalah laju dan

Bap yang mengalir ke bejana pengembun adalah uap nira dari badan  penguapan atau e+aporator 7 dengan suhu akhir 0 o . Suhu air pendinginnya berasal

Pengikut Imam Hanbali berpendapat bahwa menyerahkan zakat kepada Imam tidak wajib baik untuk zakat harta zahir dan harta bathin, maka boleh bagi muzakki

Berdasarkan hasil pengamatan pada Gambar 4.4 pada grafik analisis faktor konfirmatori pada variabel kepemimpinan pelayan dapat ditunjukkan bahwa model layak diuji