• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEHAMILAN & PERKEMBANGAN EMBRIONAL DAN FETAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEHAMILAN & PERKEMBANGAN EMBRIONAL DAN FETAL"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

KEHAMILAN &

(2)

SUB POKOK BAHASAN

• FERTILISASI

• NIDASI/IMPLANTASI • EMBRIOGENESIS

(3)
(4)

• Pada saat kopulasi antara pria dan wanita (sanggama / coitus), dengan ejakulasi

sperma dari saluran reproduksi pria di dalam vagina wanita, akan dilepaskan

cairan mani berisi sel-sel sperma ke dalam saluran reproduksi wanita.

• Jika sanggama terjadi dalam sekitar masa ovulasi (disebut "masa subur" wanita),

maka ada kemungkinan sel sperma dalam saluran reproduksi wanita akan bertemu dengan sel telur wanita yang baru

(5)

DEFINISI

• Pertemuan / penyatuan sel sperma dengan sel telur inilah yang disebut sebagai pembuahan atau fertilisasi.

(6)

• Dalam keadaan normal in vivo, pembuahan terjadi di daerah tuba Falopii umumnya di daerah ampula / infundibulum

• Perkembangan teknologi kini memungkinkan penatalaksanaan kasus infertilitas (tidak bisa

mempunyai anak) dengan cara mengambil oosit wanita dan dibuahi dengan sperma pria di luar tubuh, kemudian setelah terbentuk embrio,

embrio tersebut dimasukkan kembali ke dalam rahim untuk pertumbuhan selanjutnya. Teknik ini disebut sebagai pembuahan in vitro (in vitro

(7)

• Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke

dalam rahim, masuk ke dalam tuba. Gerakan ini mungkin dipengaruhi juga oleh peranan

kontraksi miometrium dan dinding tuba yang juga terjadi saat sanggama.

• Perlu diingat bahwa pada saat sampai di saluran kelamin wanita, spermatozoa belum mampu

menbuahi oosit. Mereka harus mengalami

(8)

Reaksi kapasitasi : Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran

reproduksi wanita,yang pada manusia

berlangsung kira-kira 7 jam. Selama waktu itu,suatu selubung glikoprotein dari protein-protein plasma semen dibuang dari selaput plasma, yang membungkus daerah

akrosom spermatozoa. Hanya sperma yang mengalami kapasitasi yang dapat

(9)

 reaksi akrosom : setelah dekat dengan oosit, reaksi akrosom : setelah dekat dengan oosit,

sel sperma yang telah menjalani kapasitasi

sel sperma yang telah menjalani kapasitasi

akan terpengaruh oleh zat-zat dari corona

akan terpengaruh oleh zat-zat dari corona

radiata ovum, sehingga isi akrosom dari

radiata ovum, sehingga isi akrosom dari

daerah kepala sperma akan terlepas dan

daerah kepala sperma akan terlepas dan

berkontak dengan lapisan corona radiata.

berkontak dengan lapisan corona radiata.

Pada saat ini dilepaskan hialuronidase yang

Pada saat ini dilepaskan hialuronidase yang

dapat melarutkan corona radiata,

dapat melarutkan corona radiata,

trypsine-like agent dan lysine-zone yang dapat

like agent dan lysine-zone yang dapat

melarutkan dan membantu sperma melewati

melarutkan dan membantu sperma melewati

zona pellucida untuk mencapai ovum.

(10)

• Sekali sebuah spermatozoa menyentuh zona pellucida, terjadi perlekatan yang kuat dan

penembusan yang sangat cepat.

• Sekali telah terjadi penembusan zona oleh satu sperma, terjadi reaksi khusus di zona pellucida (zone-reaction) yang bertujuan mencegah

terjadinya penembusan lagi oleh sperma lainnya.

(11)

Pada fertilisasi mencakup 3 fase: • penembusan korona radiata • penembusan zona pelusida

(12)

Fase 1 : penembusan korona radiata Dari 200-300 juta spermatozoa yang

dicurahkan ke dalam saluran kelamin wanita, hanya 300-500 yang mencapai tempat

pembuahan. Hanya satu diantaranya yang diperlukan untuk pembuahan, dan diduga bahwa sperma-sperma lainnya membantu sperma yang akan membuahi untuk

(13)

Fase 2 : penembusan zona pelusida

Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein di sekeliling telur yang

mempermudah dan mempertahankan

pengikatan sperma dan menginduksi reaksi akrosom. Pelepasan enzim-enzim akrosom memungkinkan sperma menembus zona

(14)

Permeabilitas zona pelusida berubah ketika kepala sperma menyentuh permukaan

oosit. Hal ini mengakibatkan pembebasan enzim-enzim lisosom dari granul-granul

(15)

 Pada gilirannya, enzim-enzim ini Pada gilirannya, enzim-enzim ini

menyebabkan perubahan sifat zona pelusida

menyebabkan perubahan sifat zona pelusida

(reaksi zona) untuk menghambat penetrasi

(reaksi zona) untuk menghambat penetrasi

sperma dan membuat tak aktif tempat

sperma dan membuat tak aktif tempat

tempat reseptor bagi spermatozoa pada

tempat reseptor bagi spermatozoa pada

permukaan zona yang spesifik spesies.

permukaan zona yang spesifik spesies.

Spermatozoa lain ternyata bisa menempel di

Spermatozoa lain ternyata bisa menempel di

zona pelusida tetapi hanya satu yang

zona pelusida tetapi hanya satu yang

menembus oosit

(16)

Fase 3 : penyatuan oosit dan membrane sel sperma Fase 3 : penyatuan oosit dan membrane sel sperma

Segera setelah spermatozoa menyentuh

Segera setelah spermatozoa menyentuh

membrane sel oosit, kedua selaput plasma sel

membrane sel oosit, kedua selaput plasma sel

tersebut menyatu. Karena selaput plasma yang

tersebut menyatu. Karena selaput plasma yang

menbungkus kepala akrosom telah hilang pada

menbungkus kepala akrosom telah hilang pada

saat reaksi akrosom, penyatuan yang sebenarnya

saat reaksi akrosom, penyatuan yang sebenarnya

terjadi adalah antara selaput oosit dan selaput

terjadi adalah antara selaput oosit dan selaput

yang meliputi bagian belakang kepala sperma.

yang meliputi bagian belakang kepala sperma.

Pada manusia, baik kepala dan ekor spermatozoa

Pada manusia, baik kepala dan ekor spermatozoa

memasuki sitoplasma oosit, tetapi selaput plasma

memasuki sitoplasma oosit, tetapi selaput plasma

tertingal di permukaan oosit.

(17)

 Segera setelah spermatozoa memasuki Segera setelah spermatozoa memasuki

oosit, sel telur menanggapinya dengan 3

oosit, sel telur menanggapinya dengan 3

cara yang berbeda :

cara yang berbeda :

reaksi kortikal dan zona : sebagai akibat

reaksi kortikal dan zona : sebagai akibat

terlepasnya butir-butir kortikal oosit.

terlepasnya butir-butir kortikal oosit.

 selaput oosit tidak dapat ditembus lagi oleh selaput oosit tidak dapat ditembus lagi oleh

spermatozoa lain

spermatozoa lain

 zona pelusida mengubah struktur dan zona pelusida mengubah struktur dan

komposisinya untuk mencegah penambatan

komposisinya untuk mencegah penambatan

dan penetrasi sperma

dan penetrasi sperma

dengan cara ini terjadinya polispermi

(18)

 melanjutkan pembelahan meiosis kedua. Oosit melanjutkan pembelahan meiosis kedua. Oosit

menyelesaikan pembelahan meiosis keduanya menyelesaikan pembelahan meiosis keduanya segera setelah spermatozoa masuk. Salah satu segera setelah spermatozoa masuk. Salah satu

dari sel anaknya hampir tidak mendapatkan dari sel anaknya hampir tidak mendapatkan sitoplasma dan dikenal sebagai badan kutub sitoplasma dan dikenal sebagai badan kutub

kedua, sel anak lainnya adalah oosit definitive. kedua, sel anak lainnya adalah oosit definitive.

Kromosomnya (22+X) tersusun di dalam Kromosomnya (22+X) tersusun di dalam

sebuah inti vesikuler yang dikenal sebagai sebuah inti vesikuler yang dikenal sebagai

(19)

 penggiatan metabolic sel telur. Factor

penggiat diperkirakan dibawa oleh spermatozoa. Penggiatan setelah

penyatuan diperkirakan untuk mengulangi kembali peristiwa permulaan seluler dan

(20)

 Sementara itu, spermatozoa bergerak maju terus hingga dekat sekali dengan pronukleus wanita. Intinya membengkak dan membentuk pronukleus pria sedangkan ekornya terlepas dan berdegenerasi.

 Secara morfologis, pronukleus wanita dan

pria tidak dapat dibedakan dan sesudah itu mereka saling rapat erat dan kehilangan

selaput inti mereka. Salama masa

pertumbuhan, baik pronukleus wanita maupun pria (keduanya haploid) harus

(21)

 Segera sesudah sintesis DNA, kromosom Segera sesudah sintesis DNA, kromosom

tersusun dalam gelendong untuk

tersusun dalam gelendong untuk

mempersiapkan pembelahan mitosis yang

mempersiapkan pembelahan mitosis yang

normal. 23 kromosom ibu dan 23

normal. 23 kromosom ibu dan 23

kromosom ayah membelah memanjang

kromosom ayah membelah memanjang

pada sentromer, dan kromatid-kromatid

pada sentromer, dan kromatid-kromatid

yang berpasangan tersebut saling bergerak

yang berpasangan tersebut saling bergerak

kearah kutub yang berlawanan, sehingga

kearah kutub yang berlawanan, sehingga

menyiapkan sel zigot yang masing-masing

menyiapkan sel zigot yang masing-masing

mempunyai jumlah kromosom dan DNA

mempunyai jumlah kromosom dan DNA

yang normal.

yang normal.

 Sementara kromatid-kromatid berpasangan Sementara kromatid-kromatid berpasangan

bergerak kearah kutub yang berlawanan,

(22)

Hasil utama pembuahan Hasil utama pembuahan

1.

1. penggenapan kembali jumlah kromosom penggenapan kembali jumlah kromosom

dari penggabungan dua paruh haploid

dari penggabungan dua paruh haploid

dari ayah dan dari ibu menjadi suatu

dari ayah dan dari ibu menjadi suatu

bakal individu baru dengan jumlah

bakal individu baru dengan jumlah

kromosom diploid.

kromosom diploid.

2.

2. penentuan jenis kelamin bakal individu penentuan jenis kelamin bakal individu

baru, tergantung dari kromosom X atau Y

baru, tergantung dari kromosom X atau Y

yang dikandung sperma yang membuahi

yang dikandung sperma yang membuahi

ovum tersebut.

ovum tersebut.

3.

3. permulaan pembelahan dan stadium-permulaan pembelahan dan

stadium-stadium pembentukan dan

stadium pembentukan dan

perkembangan embrio (embriogenesis)

(23)
(24)
(25)

• Zigot mulai menjalani pembelahan awal mitosis sampai beberapa kali. Sel-sel yang dihasilkan dari setiap pembelahan berukuran lebih kecil dari ukuran induknya, disebut blastomer.

• Sesudah 3-4 kali pembelahan : zigot memasuki tingkat 16 sel, disebut stadium morula (kira-kira pada hari ke-3 sampai ke-4 pascafertilisasi).

Morula terdiri dari inner cell mass (kumpulan sel-sel di sebelah dalam, yang akan tumbuh

(26)
(27)

• Kira-kira pada hari ke-5 sampai ke-6, di rongga sela-sela inner cell mass merembes cairan

menembus zona pellucida, membentuk ruang antar sel. Ruang antar sel ini kemudian bersatu dan

memenuhi sebagian besar massa zigot membentuk rongga blastokista. Inner cell mass tetap berkumpul di salah satu sisi, tetap berbatasan dengan lapisan sel luar.

Pada stadium ini zigot disebut berada dalam

(28)
(29)
(30)

 Pada akhir minggu pertama (hari ke-5 Pada akhir minggu pertama (hari ke-5

sampai ke-7) zigot mencapai cavum uteri.

sampai ke-7) zigot mencapai cavum uteri.

Pada saat itu uterus sedang berada dalam

Pada saat itu uterus sedang berada dalam

fase sekresi lendir di bawah pengaruh

fase sekresi lendir di bawah pengaruh

progesteron dari korpus luteum yang

progesteron dari korpus luteum yang

masih aktif. Sehingga lapisan

masih aktif. Sehingga lapisan

endometrium dinding rahim menjadi kaya

endometrium dinding rahim menjadi kaya

pembuluh darah dan banyak muara

pembuluh darah dan banyak muara

kelenjar selaput lendir rahim yang terbuka

kelenjar selaput lendir rahim yang terbuka

dan aktif.

(31)

• Kontak antara zigot stadium blastokista dengan dinding rahim pada keadaan tersebut akan

mencetuskan berbagai reaksi seluler, sehingga sel-sel trofobas zigot tersebut dapat menempel dan mengadakan infiltrasi pada lapisan epitel endometrium uterus (terjadi implantasi).

Setelah implantasi, sel-sel trofoblas yang tertanam di dalam endometrium terus

berkembang , membentuk jaringan bersama

(32)

Referensi

Dokumen terkait

Contohnya, reaksi yang dikatalisis oleh monoester ortofosfat fosfohidrolase, merupakan enzim nonspesifik yang penamaannya dari nama substrat + ase. Kelas

Kemampuan anticipation reaction time adalah reaksi yang dimiliki oleh seorang atlet kempo, peneliti ingin membuktikan bahwa kemampuan anticipation reaction time berbeda dalam

Oleh karena reaksi reduksi terjadi pada katode dan reaksi oksidasi terjadi pada anode maka nilai GGL sel dapat dinyatakan sebagai perbedaan potensial berikut.. E sel  = E Reduksi  –

17 Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Meikawati yang berdasarkan hasil uji statistik t- test menunjukan tidak adanya

Besarnya zona yang rusak “ Crushed Zone ” yang dibentuk oleh Gun Perforasi yang mengakibatkan adanya hambatan aliran atau skin, sehingga dapat diketahui

Pada fase ini zigot yang terbentuk dari hasil pertemuan sperma dan ovum akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan dengan proses pembelahan sel.. Pembelahan zigot

gambaran lain juga yang terjadi pada ikan, di mana telur ikan yang dikeluarkan dari air tidak akan dibuahi oleh sperma dari spesies lain karena selaput sel telurnya mengandung protein

Hormonal Mual dan muntah selama kehamilan biasanya disebabkan oleh perubahan dalam sistem endokrin yang terjadi selama kehamilan, terutama disebabkan oleh tingginya fluktasi kadar HCG