BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara Republik Indonesia merupakan Negara hukum (rechtstaat) sebagai
mana yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 1 ayat 3, yang berisi :
“Negara Indonesia adalah negara hukum”.
Artinya bahwa bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Negara
yang berdasar atas hukum (rechtstaat), tidak berdasar atas kekuasaan (machtstaat)
dan pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi (hukum dasar), bukan
absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas). Sebagai konsekuensi dari pasal 1
ayat 3 amandemen ketiga Undang_Undang dasar 1945, 3 (tiga) prinsip dasar
wajib dijunjung oleh setiap warga Negara yaitu supremasi hukum, kesetaraan
didepan hukum dan penegakan hukum dengan cara cara yang tidak bertentangan
dengan hukum.
Negara hukum merupakan terjemahan dari konsep rechtstaat atau rule of
law yang bersumber dari pengalaman demokrasi konstitusional di Eropa abad
ke-19 dan abad ke-20. oleh karena itu, Negara demokrasi pada dasarnya adalah
Negara hukum. Ciri Negara hukum antara lain :adanya supremasi hukum, jaminan
hak azasi manusia dan legalitas hukum. Di Negara hukum, peraturan perundang
satu kesatuan sistem hukum sebagai landasan bagi setiap penyelenggaraan
kekuasaan.2
Sejak bergulirnya reformasi pada tahun 1998 wacana dan gerakan
demokrasi terjadi secara massif dan luas di Indonesia. Hampir semua Negara
didunia meyakini demokrasi sebagai “tolok ukur tak terbantah dari keabsahan
politik”. Keyakinan bahwa kehendak rakyat adalah dasar utama kewenangan
pemerintah menjadi basis tegak kokohnya sistem politik demokrasi.3 Dari sudut
bahasa (etimoligis), demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu Demos yang
berarti rakyat dan Cratos atau Cratein yang berarti pemerintahan atau kekuasaan.
Jadi secara bahasa, demos-cratein atau demos-cratos bersti pemerintahan rakyat
atau kekuasaan rakyat.4
Aksi massa atau demonstrasi merupakan salah satu hak rakyat yang
dilindungi oleh negara dalam konstitusi dasar dan undang-undang. Kemerdekaan
menyampaikan pendapat ini merupakan sarana bagi rakyat untuk menggapai
tujuannya. Sebagian rakyat mengakui bahwa demonstrasi merupakan salah satu
cara yang efektif untuk mencapai kepentingannya. Perubahan yang ingin dicapai
oleh sebagian masyarakat masih meyakini bahwa kekuatan massa yang tidak
bersenjata mampu untuk mempengaruhi kebijakan. Jika kita kaji secara
konstitusional, demonstrasi merupakan hak yang harus dilindungi oleh
2
Dwi winarno, S.Pd, M.Si, Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan,2006, PT. Bumi Aksara, Jakarta, Hlm.102
3
Ibid, hlm 60 4
pemerintah. Namun di sisi lain, orang yang melakukan demonstrasi juga harus
mentaati peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.5
Zamroni (2001) menyebutkan adanya kultur atau nilai demokrasi antara
lain:
1. Toleransi
2. Kebebasan mengungkapkan pendapat
3. Menghormati perbedaan pendapat
4. Memahami keanekaragaman dalam masyarakat
5. Terbuka dan komunikasi
6. Menjunjung nilai dan martabat kemanusiaan
7. Percaya diri
8. Tidak menggantungkan pada orang lain
9. Saling menghargai
10. Mampu mengekang diri
11. kebersamaan
12. keseimbangan.6
Setelah tumbangnya rezim orde baru, telah membuka kebebasan
sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia untuk menyampaikan aspirasinya. Baik itu secara
pribadi ataupun secara berkelompok. Demonstrasi dianggap oleh sebagian orang
yang berkaitan dengan hal demonstrasi sebagai proses transisi bangsa Indonesia
dari sebuah pengekangan masa lalu. 7 Hal itu dilakukan sesuai dengan prinsip
5
http://lbhposmbo.org/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=231 6
Dwi Winarno S.Pd, M.Si, Op.Cit, Hlm 69
7
demokrasi itu sendiri yaitu pemerintahan oleh rakyat yang dibangun diatas
dukungan dan partisipasi langsung dari mayoritas rakyat. Salah satu cara untuk
mengungkapkan aspirasi itu adalah dengan cara melakukan unjuk rasa.
Demonstrasi atau unjuk rasa merupakan suatu bentuk realisasi dari
demokrasi. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, demokrasi adalah:
1. Bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta
memerintah dengan perantaraan wakilnya.
2. Pemerintahan rakyat.8
Demonstrasi mencakup tiga hak yang direalisasikan sekaligus, yaitu hak
atas kebebasan berpendapat, berkumpul dan berserikat. Sebelum diamandemen,
Pasal 28 UUD 45 menghormati ketiga hak ini. Sesudah amandemen, ditegaskan
kembali kebebasan ini dihormati yang terkandung dalam Pasal 28E butir, yang
berisi : “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan
mengeluarkan pendapat.”
Adanya UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, maka tiga
kebebasan itu dilindungi. Artinya, demonstrasi damai adalah sah atau legal, tidak
boleh diganggu atau dirusak. Pasal 19, 21 dan 22 Kovenan Internasional Hak-hak
Sipil dan Politik menegaskan perlindungan atas tiga hak ini. Bahkan negara
Republik Indonesia meratifikasi kovenan ini melalui UU Nomor 12 Tahun 2005.
Sedangkan Undang undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan
Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, mengatur prosedur berdemonstrasi
dengan memberitahukan kepada aparat kepolisian. Kendati demonstrasi diatur
8
dengan undang undang ini, namun jelas bahwa tidak ada larangan bagi setiap
orang untuk mengekspresikan tiga kebebasan ini secara damai. Berserikat,
berkumpul dan mengeluarkan pendapat secara lisan maupun tulisan yang
diekspresikan dalam demonstrasi damai adalah tindakan merealisasikan hak-hak
sesuai hukum. Kegiatan ini tidak boleh diganggu atau diintervensi pihak ketiga di
luar demonstran dan aparat Kepolisian atau pemerintah.
Penegasan atas UUD dan tiga UU lainnya sangat jelas. Pertama,
demonstrasi secara damai haruslah dihormati baik oleh pemerintah atau polisi
maupun oleh kelompok lain. Kedua, demonstrasi ini harus pula dilindungi dari
ancaman atau gangguan dari kelompok lain, sehingga berlangsung dengan damai.
Setiap orang berhak berdemonstrasi secara damai tanpa diganggu baik untuk
memprotes kebijakan pemerintah.9
Walaupun kemerdekaan dan kebebasan merupakan Hak Asasi Manusia dan
sekaligus juga hak asasi masyarakat, namun menurut pembukaan UUD 45
bukanlah kebebasan liar dan tanpa tujuan. Hak kemerdekaan dan keinginan luhur
untuk kehidupan kebangsaan (termasuk kehidupan perorangan), menurut
pembukaan UUD 45, ingin dicapai dengan membentuk pemerintahan negara
Indonesia yang disusun atau dibangun dalam suatu UUD negara. Pernyataan atau
deklarasi demikian terlihat dengan tegas dalam alinea ke-4 pembukaan UUD 45.
Ini berarti, kemerdekaan dan kebebasan yang ingin dicapai adalah kebebasan
dalam keteraturan, atau kebebasan dalam tertib hukum. Dengan tertib hukum
inilah ingin diwujudkan tujuan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
9
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.10
Dalam prakteknya dilapangan, banyak aksi unjuk rasa ataupun demonstrasi
yang berakhir dengan kerusuhan yang mengarah pada anarki. Hal tersebut
disebabkan oleh faktor faktor dari dalam dan luar demonstran itu sendiri.
Kerusuhan yang terjadi yang berujung pada terjadinya beberapa tindak pidana.
Tindakan ini akan mengganggu ketertiban umum dan akan dapat mengancam
keamanan Negara. Peristiwa pidana yang juga disebut tindak pidana (delict) ialah
suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan yang dapat dikenakan hukum pidana.
Suatu peristiwa hukum yang dapat dinyatakan sebagai peristiwa pidana kalau
memenuhi unsur unsur pidananya. 11
Menurut Moeljatno unsur tindak pidana adalah :
a. Perbuatan
b. Yang dilarang (oleh aturan hukum)
c. Ancaman pidana ( bagi yang melanggar larangan)12
Dinamika politik dan demokrasi di negeri ini, dengan nada sedih harus
dikatakan, hampir tidak dapat dipisahkan dari anarkisme. Sebagai sebuah aliran,
anarkisme merupakan teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat
tanpa hierarki (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis
berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah
10
Prof. Dr. Barda Nawawi Arief, SH, 2007, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan, Kencana, Jakarta, Hal.10-11
11 Ibid 12
Adami Chazawi, 2002, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, Raja Grafindo Persada, Jakarta, Hal. 79
format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan
kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Anarkisme melihat bahwa tujuan
akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling
membangun antara satu dengan yang lainnya.13
Anarkisme yang menggunakan jalan kekerasanpun tidak jarang menyusup
ke dalam pori-pori politik dan demokrasi di negeri ini. Lihat saja berbagai aksi
kerumunan yang mengatasnamakan demokrasi yang tergelar di atas panggung
sosial kita. Ibarat sebuah adegan teater, mereka bisa demikian mulus menjalankan
peran sebagai algojo-algojo demokrasi yang tak henti-hentinya berteriak,
menghujat, dan meneriakkan yel-yel pemaksaan kehendak yang tampil melalui
ekspresi wajah yang beringas dan liar. Sifat-sifat individualistik mereka telah
melebur ke dalam karakter kerumunan yang bengal dan tak terkendali. Demikian
juga dalam berbagai aksi politik yang dengan sengaja membangkitkan
sentimen-sentimen kelompok untuk mendapatkan simpati publik. Massa dan kerumunan
telah berubah menjadi penguasa dadakan yang bisa demikian mudah melakukan
tekanan.
Persoalannya sekarang, mengapa negeri kita yang sudah lama dikenal
sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi bisa demikian mudah tereduksi
olehunsur-unsur anarkisme dalam ranah politik dan demokrasi? Mengapa banyak
orang yang bisa demikian mudah mengatasnamakan demokrasi dengan
menggunakan cara-cara anarkis dalam menggapai tujuan dan ambisi?14
13
http://sawali.info/2009/02/12/politik-demokrasi-dan-anarki/
14
Maka dalam hal ini kewajiban lembaga kepolisian untuk menjaga keamanan
Negara sebagaimana tercantum pada pasal 2 undang undang Nomor 2 Tahun 2002
tentang Kepolisian Negara, yang berisi :
“Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat”.
Kepolisian adalah suatu institusi yang memiliki ciri universal yang dapat
ditelusuri dari sejarah lahirnya polisi baik secara fungsi atau organ. Pada dasarnya
polisi lahir bersama rakyat untuk menjaga sistem kepatuhan (konformitas)
anggota masyarakat terhadap kesepakatan antar warga masyarakat itu sendiri
terhadap kemungkinan adanya tabrakan kepentingan, penyimpangan perilaku dan
perilaku kriminal dari warga masyarakat. Ketika masyarakat sepakat untuk hidup
didalam suatu Negara, pada saat itulah polisi dibentuk sebagai lembaga formal
yang disepakati untuk bertindak sebagai pelindung dan penjaga ketertiban dan
keamanan masyarakat atau yang disebut sebagai fungsi “sicherheitspolitizei”.
Kehadiran polisi sebagai organisasi sipil yang dipersenjatai agar dapat
memberikan efek pematuhan (enforcing effect).15
Semua Negara di dunia ini selalu memiliki aparat kenegaraan yang di sebut
polisi. Bentuk dan namanya dapat bermacam-macam. Keluasan tugasnya pun
dapat bermacam-macam. Namun pada teori dasarnya polisi itu mempunyai tugas
menyelenggarakan keamanan dan ketertiban umum. Tugas itu lalu diperinci
dalam tugas yang bersifat prevensi atau pencegahan dan yang bersifat represif
15
atau penindakan pelanggaran hukum. Keduanya diarahkan kepada kehidupan
masyarakat yang tertib agar dapat mewujudkan dalam ketenteraman dalam
bekerja. Di Indonesia pola tindak itu dijadikan falsafah Kepolisian Negara
Republik Indonesia atau disingkat Polri dengan rumusan, Polri pada hakikatnya
bertugas mewujudkan masyarakat yang Tata, Tenteram, Karta, Raharja.16
Polisi merupakan salah satu pilar yang penting. Polisi adalah hukum yang
hidup. Melalui polisi ini janji janji dan tujuan tujuan untuk mengamankan dan
melindungi masyarakat menjadi kenyataan.17 Kita dapat melihat pada era
reformasi telah melahirkan paradigma baru dalam segenap tatanan kehidupan
bermasyrakat, berbangsa dan bernegara yang ada dasarnya memuat koreksi
terhadap tatanan lama dan penyempurnaan kearah tatanan Indonesia baru yang
lebih baik. Paradigma baru tersebut antara lain supermasi hukum, Hak Azasi
Manusia, demokrasi, transparansi dan akuntabilitas yang diterapkan dalam
praktek penyelenggaran pemerintahan negara termasuk didalamnya
penyelenggaraan fungsi Kepolisian.
Pengidentifikasian polisi sebagai birokrasi kontrol sosial memang memberi
deskripsi mengenai polisi itu. Polisi seharusnya kita lihat tidak hanya menjalankan
kontrol sosial saja, melainkan juga memberi pelayanan dan interpretasi hukum
secara konkrit, yaitu melalui tindakan-tindakannya. Dengan kontrol sosial,
pelayanan dan agen interpretasi tersebut menjadi lebih lengkaplah bahwa polisi
mewujudkan janji-janji hukum.
16
Jend. Pol (purn) Drs. Kunarto, 1997 HAM dan POLRI, Cipta manunggal, Jakarta hlm. 1 17
Penegakan hukum, penjagaan keamanan dan ketertiban masyarakat serta
pelayanan dan pengayoman masyarakat adalah tugas pokok polisi sebagai profesi
mulia, yang aplikasinya harus berakibat pada asas legalitas, undang-undang yang
berlaku dan Hak Azasi Manusia. Atau dengan kata lain harus bertindak secara
profesional dan memegang kode etik secara ketat dan keras, sehingga tidak
terjerumus kedalam prilaku yang dibenci masyarakat .
Perilaku polisi adalah wajah hukum sehari-hari. Apabila kita menyadari
bahwa polisi merupakan ujung tombak penegakan hukum, yang berarti bahwa
polisi yang secara langsung berhadapan dengan masyarakat, dan khususnya,
pelanggar hukum dalam usaha menegakan hukum . Dengan demikian, bagaimana
perilaku polisi dengan cara-cara kotor dan korup, maka secara otomatis
masyarakat pun memandang hukum sebagai sesuatu yang kotor dan korup, juga
andaikan pemolisian dikerjakan dengan baik, maka wajah hukumpun akan
dipandang baik. Karena itu, pandangan masyarakat tentang polisi akan membawa
implikasi pada pandangan mereka terhadap hukum. Pekerjaan pemolisian yang
tertanam kedalam masyarakat dapat kita lihat bagaimana struktur sosial, kultural
dan ideologis telah menentukan pemberian tempat kepada polisi dalam
masyarakatnya, bagaimana ia diterima oleh masyarakat, dan bagaimana ia harus
bekerja.
Pergeseran serta perubahan dalam fungsi yang harus dijalankan oleh suatu
badan dalam masyarakat merupakan hal yang biasa. Hal yang agak istimewa
adalah bahwa kita sekarang hidup dalam dunia dan masyarakat yang sedang
yang lalu. Pekerjaan polisi yang berhadapan langsung dengan masyarakat itu
berkualitas penuh, sehingga tidak hanya bisa dikatakan, bahwa mereka
berhadapan dengan rakyat, melainkan lebih dari itu berada ditengah tengah rakyat.
Polisi juga disebut-sebut sebagai melakukan jenis pekerjaan yang tidak sederhana,
yaitu melakukan pembinaan dan sekaligus pendisiplinan masyarakat.
kedua-duanya memiliki ciri-ciri yang beda sekali.
Profesionalisme polisi dapat tumbuh melalui peningkatan standar profesi
yang tinggi dan tugas profesi sebagai panutan sadar hukum serta prilaku sesuai
dengan hukum yang dicetuskan mulai dari sistem “recruitmen and training”
kepolisian sesuai dengan tuntutan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dewasa ini, usaha Polri mengembangkan profesonalismenya terus diperjuangkan.
Usaha-usaha itu terus dilakukan antara lain dengan jalan mengikutsertakan
anggotanya kedalam berbagai kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat menunjang
peningkatan kualitas kerja dan profesionalisme Polri.
Permasalahan yang dihadapi Polri dalam tugas saat ini adalah bagaimana
menciptakan rasa aman masyarakat menghadapi perkembangan demokrasi dengan
bermunculan aksi aksi massa seperti demonstrasi yang sewaktu waktu dapat
menyulut terjadinya kerusuhan massal. Profesionalisme Polri dituntut untuk
mewujudkan kepastian hukum baik kepastian dalam hukum maupun kepastian
karena hukum, melalui pemupukan pengendalian massa secara tegas, berdasarkan
hukum dan manusiawi, dengan membekali para anggota polisi dan keterampilan
menggunakan peralatan pengendalian massa.18
18
Dalam beberapa waktu kedepan dapat dipastikan akan banyak terjadi
gelombang-gelombang unjuk rasa.Untuk itu di perlukan kasiapan dari aparat
kepolisian untuk dapat mencegah dan menanggulangi jika terjadinya kerusuhan
pada saat unjuk rasa, supaya terjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Penanggulangan kerusuhan yang dilakukan merupakan upaya dalam menciptakan
pemikiran bahwa berunjuk rasa bukanlah suatu kegiatan dalam menyampaikan
aspirasi yang dilakukan dengan kasar atau dengan jalan harus rusuh supaya
mendapat perhatian dari pihak pihak tertentu. Dengan tidak adanya kerusuhan
yang tercipta pada saat unjuk rasa maka kebiasaan rusuh pada saat unjuk rasa
tidak terjadi. Maka untuk itu diperlukan peran Kepolisian yang Profesional supaya
tercipta keadaan yang kondusif dalam menyampaikan unjuk rasa, sebagai wujud
kedewasaan dalam berdemokrasi.
Berdasarkan dari uraian di atas maka penulis tertarik unjuk mengangkat
judul skripsi tentang “PERAN KEPOLISIAN DALAM MENANGGULANGI KERUSUHAN YANG TERJADI PADA SAAT DEMONSTRASI” sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum.
B. Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas maka akan dapat diangkat berbagai permasalahan
1. Faktor faktor apakah yang merupakan penyebab terjadinya kerusuhan pada
saat demonstrasi.
2. Bagaimana peran kepolisian dalam menanggulangi kerusuhan yang terjadi
pada saat demonstrasi.
3. Bagaimana kendala dan upaya yang dilakukan Kepolisian Daerah Sumatera
Utara dalam menanggulangi kerusuhan yang terjadi pada saat demonstrasi di
wilayah hukum Polda Sumatera utara.
C. Tujuan Penulisan
Melalui penulisan skripsi ini, penulis bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui apa faktor faktor penyebab terjadinya kerusuhan pada
saat unjuk rasa.
2. Untuk mengetahui Bagaimana peran kepolisian dalam menanggulangi
kerusuhan yang terjadi pada saat unjuk rasa.
3. Untuk mengetahui Bagaimana kendala dan upaya yang dilakukan
Kepolisian Daerah Sumatera Utara dalam menanggulangi kerusuhan yang
terjadi pada saat unjuk rasa di wilayah hukum Polda Sumatera Utara.
D. Manfaat Penulisan
Dengan penulisan skripsi ini, maka di harapkan akan memberikan manfaat bagi :
1. Masyarakat dan aparatur penegak hukum untuk mengetahui faktor faktor
penyebab terjadinya kerusuhan pada saat unjuk rasa.
2. Masyarakat dan aparatur penegak hukum untuk mengetahui bagaimana
peran kepolisian dalam menanggulangi kerusuhan yang terjadi pada saat
3. Masyarakat dan aparatur penegak hukum untuk mengetahui apa kendala dan
upaya yang dilakukan lembaga Kepolisian Daerah Sumatera Utara dalam
menanggulangi kerusuhan yang terjadi pada saat unjuk rasa di wilayah
hukum Polda Sumatera Utara.
E. Keaslian Penulisan
Berdasarkan data yang ada di sekretariat jurusan pidana, bahwa penelitian
ataupun tulisan dalam bentuk skripsi, belum pernah ada yang menyangkut tentang
Peran Kepolisian Dalam Menanggulangi Kerusuhan Yang Terjadi Pada Saat
Unjuk Rasa.
Oleh karena itu Penulis menganggap bahwa skripsi ini merupakan asli dari
buah pemikiran penulis sendiri dengan asas asas keilmuan yaitu jujur, rasional dan
objektif serta terbuka. Semua ini merupakan implikasi etis dari proses menemukan
kebenaran ilmiah.
Skripsi yang penulis tulis ini merupakan hasil pikiran penulis di tambah
dengan literatur literatur lain, baik dari buku buku milik penulis sendiri, dari
perpustakaan serta sumber sumber lain yaitu internet dan riset di Markas
Kepolisian Daerah Sumatera Utara.
Perkembangan suatu organisasi tidak terlepas dari pengaruh lingkungan baik
politik, ketatanegaraan, ekonomi maupun sosial budaya. Terdapat saling
keterkaitan dan saling pengaruh antara administrasi Negara dengan perkembangan
politik, ekonomi, dan sosial budaya. Sebaliknya, organisasi dapat pula
mempengaruhi lingkungan tertentu. Hal itu dialami pula oleh Polri sebagai
institusi Negara yang cukup besar.19
Institusi kepolisian republik ini telah mengalami sejarah panjang dan
berliku. Pada masa kolonial Belanda dan masa penjajahan Jepang, polisi
digunakan semata mata sebagai alat kekuasaan pemerintah kolonial dan penjajah.
Sementara itu dalam berbagai kebijakan nasional yang dilahirkan,di awal perang
kemerdekaan, polisi merupakan bagian dari pasukan rakyat bersenjata dalam
menghadapi penjajah. Polri juga sempat mangalami masa masa kebersamaan
dengan pemerintah sebagai alat kekuasaan politik Negara. Pada masa kelahiran
Undang undang kepolisian tahun 1961, polisi ditempatkan menjadi bagian
Integral Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Posisi ini semakin
diperkuat dengan kelahiran undang undang pertahanan dan kemanan Negara pada
tahun 1982.20
Kelairan undang undang kepolisian pada tahun 1997, walaupun secara
normatif menempatkan polisi bukan menjadi bagian militer. Namun watak militer
Polri masih terasa sangat dominan mengingat rumusan aturannya masih mengacu
pada ketentuan UU pertahanan dan keamanan Negara tahun 1982. cikal bakal
19
Jenderal Pol. (purn) Prof. Dr. Awaloedin Djamin, MPA,2007,Kedudukan kepolisian Negara RI di dalam sistem ketatanegaraan: dulu, kini dan esok, PTIK Press, Jakarta,hlm. 9
20
kemandirian Polri sebagai wujud reformasi baru dapat diwujudkan dengan
lahirnya Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1999 yang diteruskan dengan
terjadinya amandemen kedua UUD 1945 pada tahun 2000. Kemandirian Polri
semakin mendapat tempat dengan Kelahiran TAP MPR Nomor VII/MPR/2000,
yang kemudian ditindak lanjuti dengan lahirnya undang undang Kepolisian pada
tahun 2002 sebagai pengganti undang undang Kepolisian tahun 1997.21
Tonggak sejarah kepolisian menemukan momentum dan jati dirinya dengan
pemisahan polri dari Dephankam dan TNI yang berlaku efektif sejak 1 Januari
2001. tanggung jawabnya secara langsung kepada Presiden sebagai langkah
strategis mewujudkan paradigma baru polisi sipil yang mampu menciptakan rasa
aman, keselamatan, kepastian dan kedamaian lahir batin yang berorientasi pada
profesionalisme, dekat dengan masyarakat, bertanggung jawab dan mempunyai
komitmen terhadap masyarakat sebagaimana tergambar dalam visi, misi Polri saat
ini.22
1.2 Pengertian Kepolisian
Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang kepolisian Negara Republik
Indonesia tepatnya pada pasal 1 ayat 1, menyatakan bahwa Kepolisian adalah
segala hal-ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.23
Dalam hal ini berarti Kepolisian merupakan sebuah lembaga. Maka kita juga
harus mencari pengertian dari Polisi itu sendiri yang merupakan subjek dari
Kepolisian. Pada pasal 1 ayat 2 Undang-undang Republik Indonesia nomor 2
21
Ibid, hal 10 22
Ibid, hal 13 23
tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia bahwa anggota
Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah pegawai negeri pada Kepolisian
Negara.
Kata “polisi” dalam bahasa Indonesia merupakan kata pinjaman dan berasal
dari bahasa Belanda “politie”. Adapun bahasa Belanda “politie” didasarkan atas
serangkaian bahasa Yunani Kuno dan Latin yang berasal dari bahasa Yunani
Kuno “politeia”. Kata tersebut berarti kota atau negara kota ataupun
pemerintahan Negara kota (polisi). Dalam hukum romawi yang sejak undang
undang 12 meja ( Leges XII tabularum) pada tahun 450 SM memuat unsur unsur
hukum Yunani terdapat kata kata “politia” yang artinya sama dengan “politeia”
di Yunani.
Sejak hukum Romawi meresap keseluruh Eropa barat pada abad ke-15 dan
ke-16 ( 9 abad sesudah mulai runtuhnya imperium Romawi ) melalui penelitian
kaum glossator (abad 12 dan abad 13) dan kaum post glossator ( abad
ke-14) dan sekolah sekolah hukum di Italia ( pertama di bologua) dan di Perancis
selatan, maka kata kata politia masuk ke berbagai bahasa Eropa dalam nada
bahasa beda tetapi dengan arti yang sama.24
Atas dasar perkembangan itu maka kata “polis”, mendapat pengertian
“negara” dan dalam bentuk-bentuk perkembangannya masuk unsur “pemerintah”
dan lain sebagainya. Bahasa Yunani Kuno tersebut masuk kedalam bahasa Lain
sebagai “poliyia” dan kata itulah yang diduga menjadi kata dasar kata “police”
24
dalam bahasa Inggris, “ politie” dalam bahasa Belanda dan “polisi” dalam bahasa
Indonesia.
Bilamana secara tepat kata “polisi” mendapat arti yang kini digunakan, sulit
dipastikan. Namun demikian, perkembangan sebagimana dicatat di inggris, yang
dicatat penggunaan kata “police” sebagai kata kerja yang berarti “memerintah”
dan “mengawasi” (sekitar tahun 1589). Selanjutnya sebagai kata benda diartikan
“pengawasan”, yang kemudian meluas dan menunjukkan “organisasi yang
menangani pengawasan dan pengamanan” (tahun 1716). Di Indonesia, istilah
polisi ‘ digunakan dalam pengertian “organisasi pengamanan” pada abad ke-19
dalam interregum Inggris dari 1811 – 1817. wilayah Indonesia saat itu merupakan
bagian dari wilayah yang dipimpin “bupati” masing-masing diserahi tugas
pengamanan terib hukum dan polisi bertanggungjawab pada bupati setempat itu.
Dari kata “polisi” tersebut kemudian para cendikiawan Kepolisian
menyimpulkan bahwa terdapat 3 (tiga) pengertian, yaitu :
1. Polisi sebagai fungsi
2. Polisi sebagai organ kenegaraan
3. Polisi sebagai jabatan atau petugas.25
Yang banyak disebut sehari-hari adalah pengertian polisi sebagai pejabat
atau petugas. Tiga pengertian kata polisi tersebut, kadang dicampur adukkan oleh
masyarakat, yang seharusnya diartikan sesuai dengan konteks yang menyertai.
Oleh karna itu timbul penilaian yang sebenarnya untuk individu (pejabat) tetapi
diartikan sebagai tindakan suatu lembaga (alat negara).
25
1.3 Fungsi,Tugas Pokok dan Wewenang Kepolisian
Di dalam undang undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
Republik Indonesia, fungsi dari kepolisian diatur pada pasal 2 yang berisi:
“Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan
keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan
pelayanan kepada masyarakat”
Pelaksanaan fungsi Kepolisian ini diemban oleh Kepolisian Negara
Republik Indonesia yang dibantu oleh :
a. Kepolisian khusus
b. Penyidik pegawai negeri sipil
c. Bentuk bentuk pengamanan swakarsa.
Secara universal, tugas POLRI pada hakekatnya adalah 2, yaitu tugas
preventif dan tugas represif. Tugas preventif adalah tugas terbatas,
kewenangannya dibatasi oleh KUHAP, sehingga asasnya bersifat legalitas yang
berarti semua tindakannyan harus berdasarkan hukum.26
Pelaksanaan tugas preventif itu dapat dibagi dalam dua kelompok besar.
Pencegahan yang bersifat fisik dilakukan dengan empat kegiatan pokok,
mengatur, menjaga, mengawal dan patroli (TURJAWALI). Serta pencegahan
yang bersifat pembinaan yang dilakukan dengan kegiatan penyuluhan, pembinaan,
arahan, sambung, anjang sana untuk mewujudkan masyarakat yang sadar dan taat
hukum serta mempunyai daya cegah-tangkal atas kejahatan. Dalam hal hal
26
tertentu melakukan tugas preventif itu harus dilakukan dengan keras. Tindakan ini
yang disebut diskresi. 27
Sedangkan tugas preventif adalah tugas yang luas hampir tanpa batas
dirumuskan dengan kata kata berbuat apa saja boleh asal keamanan terpelihara
dan tidak melanggar hukum itu sendiri. Dengan begitu pada tugas ini yang
digunakan adalah asas oportunitas, utilitas dan asas kewajiban28
Dimasa sekarang, di masa universalisasi HAM, tindakan polisi dalam
menegakkan hukum itu, telah dipagari dengan ketat oleh asas asas HAM, yang
tertuang dalam KUHAP, dari mulai tindakan penyelidikan, penggerebekan,
penangkapan, penyidikan ivestigasi sampai peradilannya.29
Didalam Undang undang Nomor 2 Tahun 2002 mencantumkan tantang
tugas pokok kepolisian yang tertera pada pasal 13 yang berisi :
“Tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah: a. memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat;
b. menegakkan hukum; dan
c. memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.”
Pasal 14
(1) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, Kepolisian Negara
Republik Indonesia bertugas :
a. Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan;
b. Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di jalan;
c. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan;
d. Turut serta dalam pembinaan hukum nasional;
27
Jend. Pol. (purn) Drs. Kunarto MBA, Perilaku Organisasi Polri, 2001, cipta manunggal, Jakarta, hlm 109.
28
Ibid, hlm 109. 29
e. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum;
f. Melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil, dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa;
g. Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya;
h. Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian;
i. Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia;
j. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwenang;
k. Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingannya dalam lingkup tugas kepolisian; serta melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf f diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Dan dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, kepolisian mempunyai
wewenang. Hal ini diatur pada pasal 15 dan 16 Undang undang Nomor 2 Tahun
2002 yang berisi:
Pasal 15
(1) Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan 14 Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum berwenang:
a. Menerima laporan dan/atau pengaduan;
b. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum;
c. Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat;
d. Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa;
e. Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administratif kepolisian;
f. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan;
g. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;
h. Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang; i. Mencari keterangan dan barang bukti;
k. Mengeluarkan surat izin dan/atau surat keterangan yang diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat;
l. Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat;
m. Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu.
(2) Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya
berwenang :
a. Memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian umum dan kegiatan masyarakat lainnya;
b. Menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor; c. Memberikan surat izin mengemudi kendaraan bermotor;
d. Menerima pemberitahuan tentang kegiatan politik;
e. Memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api, bahan peledak, dan senjata tajam;
f. Memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap badan usaha di bidang jasa pengamanan;
g. Memberikan petunjuk, mendidik, dan melatih aparat kepolisian khusus dan petugas pengamanan swakarsa dalam bidang teknis kepolisian;
h. Melakukan kerja sama dengan kepolisian negara lain dalam menyidik dan memberantas kejahatan internasional;
i. Melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dengan koordinasi instansi terkait;
j. Mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi kepolisian internasional;
k. Melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup tugas kepolisian.
(3) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a dan d diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 16
(1) Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan 14 bidang proses pidana, Kepolisian Negara Republik Indonesia berwenang untuk :
a. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan;
b. Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan;
c. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan;
d. Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri;
e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;
h. Mengadakan penghentian penyidikan;
i. Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum;
j. Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk mencegah atau menangkal orang yang disangka melakukan tindak pidana;
k. Memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil penyidikan penyidik pegawai negeri sipil untuk diserahkan kepada penuntut umum; dan
l. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
(2) Tindakan lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf l adalah tindakan penyelidikan dan penyidikan yang dilaksanakan jika memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum;
b. Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan tindakan tersebut dilakukan;
c. Harus patut, masuk akal, dan termasuk dalam lingkungan jabatannya; d. Pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang memaksa; dan e. Menghormati hak asasi manusia.
2. Pengertian Demonstrasi
Di dalam Undang-undang nomor 9 tahun 1998 tentang Kebebasan
Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, tepatnya pada pasal 1 ayat 2 dikatakan
bahwa, “Unjuk rasa atau Demonstrasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh
seorang atau lebih untuk mengeluarkan pikiran”.30 Dari pengertian demonstrasi
menurut Undang-undang tersebut, demonstrasi juga berarti unjuk rasa.
Demonstrasi adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan
orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan
pendapat kelompok tersebut atau menentang kebijakan yang dilaksanakan suatu
pihak. Unjuk rasa umumnya dilakukan oleh kelompok mahasiswa yang
30
menentang kebijakan pemerintah atau para buruh yang tidak puas dengan
perlakuan majikannya. Namun unjuk rasa juga dilakukan oleh
kelompok-kelompok lainnya dengan tujuan lainnya. Unjuk rasa kadang dapat menyebabkan
pengrusakan terhadap benda-benda. Hal ini dapat terjadi akibat keinginan
menunjukkan pendapat para pengunjuk rasa yang berlebihan. 31
Demonstrasi di dalam kamus besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai :
1. Pernyataan protes yang dikemukakan secara massal
2. Peragaan atau pertunjukan tentang tata cara melakukan atau mengerjakan
sesuatu, misalnya demonstrasi memasak.32
Sesuai dengan pengertian dari demonstrasi seperti yang terdapat dalam Pasal
1 ayat 2 undang undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan
menyampaikan pendapat di muka umum, bahwa demonstrasi juga merupakan
unjuk rasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, unjuk rasa adalah
pernyataan protes yang dilakukan secara massal atau demonstrasi.33 Jadi
demonstrasi sama saja halnya dengan unjuk rasa.
Demonstrasi merupakan bentuk ekspresi berpendapat. Unjuk rasa melalui
demonstrasi adalah hak warga negara. Tetapi, inilah hak yang bisa mengerikan,
karena umumnya demonstrasi yang melibatkan ribuan orang berlangsung dengan
tanpa arah yang dapat berujung anarki sehingga menimbulkan tindak pidana.
Demonstrasi adalah hak demokrasi yang dapat dilaksanakan dengan tertib, damai,
31
Undang undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum, pasal 1 ayat 2
32
Pusat bahasa departemen pendidikan nasional,Op.Cit ,hlm.250 33
dan intelek. Sebuah contoh yang sangat bagus, yang mestinya juga ditiru oleh
mereka yang gemar unjuk rasa, yang senang turun ke jalan.
Demonstrasi merupakan sebuah media dan sarana penyampaian gagasan
atau ide-ide yang dianggap benar dan berupaya mempublikasikannya dalam
bentuk pengerahan masa. Demonstrasi juga merupakan sebuah sarana atau alat
sangat terkait dengan tujuan digunakannya sarana atau alat tersebut dan cara
penggunaannya. Sebagaimana misalnya internet, dapat digunakan sebagai alat
komunikasi, tetapi dapat juga digunakan untuk untuk mencuri biar cepat kaya.
Sehingga niat atau motivasi sangat menentukan hukum demonstrasi
Demonstrasi dapat bernilai positif, dapat juga bernilai negatif. Ini artinya bahwa ketika demonstrasi itu menjunjung tinggi demokrasi, maka dipandang
sebagai hal positif dan mempunyai nilai di mata masyarakat. Namun ketika
demonstrasi mengabaikan demokrasi maka dipandangan masyarakat sebagai hal
yang tercela ataupun negatif. Demonstrasi adalah salah satu sarana demokrasi.
Artinya, demonstrsai harus berhenti ketika pendapat mereka sudah disampaikan.
Demonstrasi adalah satu di antara sekian banyak cara menyampaikan
pikiran atau pendapat. Sebagai cara, kegiatan itu perlu selalu dijaga dan dipelihara
agar hal ini tidak berubah menjadi tujuan. Menjadi tugas dan kewajiban kita untuk
mengingatkan bahwa demonstrasi akan diakhiri ketika pandangan dan pendapat
Walau kadangkala terasa tipis batasnya, tetapi patut dipahami, demonstrasi
yang disertai unsur kekerasan dan pemaksaan, akan mudah tergelincir dalam
domain politik praktis yang kurang baik.34
3. Pengertian Kerusuhan
Kersuhan terjadi ketika sekelompok orang berkumpul bersama untuk
melakukan tindak kekerasan, biasanya sebagai tindak balas terhadap perlakuan
yang dianggap tidak adil ataupun sebagai upaya penentangan terhadap sesuatu.
Alasan yang sering menjadi penyebab kerusuhan termasuk kondisi hidup yang
buruk, penindasan pemerintah terhadap rakyat, konflik agama atau etnis, serta
hasil sebuah pertandingan olahraga.35
Kerusuhan berasal dari kata rusuh. Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
Rusuh adalah:
a. Tidak aman karena banyak gangguan keamanan
b. Kacau, rebut, gaduh, huru hara
c. Tidak sopan
d. Sangat kasar
e. Tidak beraturan, tidak menurut aturan36
Dialam Kamus Besar Bahasa Indonesia juga diartikan kerusuhan itu
sebagai, Perihal rusuh, tidak aman, keributan, kekacauan dan huru hara.37
34
http://www.niasisland.com/home/discuss_resp_inq.php?category_code_option=DC&s_ category_code=DC&s_code=000147&code_option=000147&menu_name_option=%22Demonstra si%20adalah%22&process=Add&i=last&norp=20
35
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerusuhan 36
Pusat bahasa departemen pendidikan nasional,Op.Cit , hlm.972 37
Kerusuhan berarti anarki. Tindakan menimbulakan rasa tidak aman atau
tidak tertib merupakan tindakan anarki. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
anarki diartikan dalam dua arti yaitu :
a. Hal tidak adanya pemerintahan undang undang, peratuan atau ketertiban.
b. Kekacauan dalam suatu Negara.38
Kerusuhan adalah kekacauan (chaos) fisik yang menimpa masyarakat sipil
dengan gejala kasat mata berupa bentrokan antar manusia, dari perkelahian massal
sampai pembunuhan, penjarahan, dan perusakan berbagai sarana dan prasarana,
baik fasilitas pribadi (perumahan, mobil pribadi) maupun fasilitas umum (tempat
perbelanjaan, gedung pemerintah, kendaraan umum) ataupun tindak pidana lain.
Singkatnya, kerusuhan adalah anarki. Jadi, kerusuhan tidak menghasilkan suatu
perubahan positif dalam level tatanan ke arah yang lebih baik. Karena kerusuhan
tidak menyebabkan perubahan sistemik apapun kecuali kerusakan fisik dan
trauma sosial (ketakutan yang mencekam masyarakat). Kalaupun setelah
kerusuhan ada dorongan pada birokrasi untuk melakukan perbaikan kebijakan, hal
ini bukanlah perubahan sistemik produk kerusuhan. Hikmah yang bisa diambil
setelah terjadi kerusuhan adalah kerusuhan sebaiknya tidak terjadi.39
Dalam literatur mengenai aksi protes dan kerusuhan, ada dua teori besar
yang saling berbeda untuk menjelaskan. Kondisi kerusuhan di Indonesia, sedikit
banyak dapat dijelaskan melalui kombinasi dua teori itu. Pertama adalah teori
krisis (The Breakdown Theory). Menurut teori ini, kerusuhan itu berakar pada
38
Ibid, hlm. 44
39
meluasnya ketidakpuasan dalam satu lapisan atau berbagai lapisan masyarakat.
Ketidakpuasan itu diciptakan secara cepat olehperubahan mendadak (breakdown)
dalam kondisi masyarakat itu. Misalnya, datangnya krisis ekonomi yang meluas.
Krisis ekonomi menciptakan jutaan pengangguran dan harga kebutuhan pokok
membubung tinggi. Teori itu beranggapan kerusuhan sebagai pelampiasan
kolektif. Karena hanya pelampiasan, kerusuhan itu tidak memiliki isu yang
terfokus yang hendak diperjuangkan. Kerusuhan itu hanya diarahkan ke simbol
kekuasaan yang diduga massa sebagai penyebab. Ia bisa diarahkan ke kantor
polisi dan institusi negara.
Namun teori ini dibantah oleh teori kedua, yaitu teori mobilisasi (The
resources mobilization theory). Menurut teori ini, krisis tidak dengan sendirinya
menciptakan kerusuhan. Apalagi jika kerusuhan itu terjadi berulang-ulang dengan
sasaran yang punya implikasi politik. Menurut teori ini, kerusuhan adalah sebuah
alat politik. Ia dengan mudah dapat digunakan oleh kelompok tertentu dalam
rangka sebuah kepentingan politik. Teori ini beranggapan bahwa kerusuhan itu
diciptakan dan secara sengaja dimobilisasi. Kekerasan yang lahir dalam kerusuhan
adalah bagian dari skenario untuk menghasilkan efek politik tertentu. Namun
kadang-kadang kekerasaan itu terjadi tanpa direncanakan dan hanya efek
sampingan saja.
Keadaan rusuh atau anarkis yang berkelanjutan karena seringnya terjadi,
dapat berubah menjadi suatu kebiasaan dan menjadi paham. Dalam sejarahnya,
para anarkis dalam berbagai gerakannya sering menggunakan kekerasan sebagai
anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz,
grup N17 di Yunani.40
G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
pendekatan yuridis normaif dan metode pendekatan yuridis sosiologis. Metode
pendekatan yurudis normatif dilakukan dengan cara meneliti bahan kepustakaan
yang relevan dengan permasalahan yang sedang di teliti.
Pendekatan yuridis sosiologis dilakukan dengan cara melihat hukum yang
tampak pada masyarakat yaitu penelitian langsung pada objek penelitian.
Memantau melihat dan mengamati sendiri apa yang terjadi di lapangan.
2. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Medan dengan melakukan riset di
Kepolisian Daerah Sumatera Utara (POLDASU) di Jalan Sisingamangaraja Km.
10 Medan.
3. Metode pengumpulan Data
Data yang di perlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data
sekunder.
a. Data Primer
40
Data primer didapat dengan melakukan riset secara langsung yang
diperlukan untuk memberikan pemahaman yang jelas dan lengkap terhadap data
sekunder yang diperoleh langsung dari responden dengan wawancara langsung
kepada orang yang berkompeten dibidangnya.
b. Data Sekunder
Data sekunder didapat dengan menelusuri bahan bahan hukum baik berupa
kitab peraturan perundang-undangan, buku buku yang relevan dengan
permasalahan yang sedang diteliti.
4. Analisis Pengolahan Data
Data data yang diperoleh penulis akan diolah secara kualitatif yaitu
pengolahan data berdasarkan fakta fakta yang diperoleh dilapangan untuk
mendapaatkan jawaban atas permasalahan yang sedang diteliti.
H. Sistematika Penulisan
Dalam menulis skripsi ini, penulis membagi dalam 5 (lima) bab yang terdiri
dari:
Bab. I berisi Pendahuluan. Dalam Bab ini penulis menguraikan latar
belakang, permasalahan , tujuan penulisan, manfaat penulisan, keaslian penulisan,
tinjauan pustaka, metode penelitian serta sistematika penulisan.
Bab II. Berisi tentang Faktor faktor penyebab terjadinya kerusuhan pada saat
tentang demonstrasi yang berisi tujuan dan tata cara melakukan demonstrasi,
kerusuhan pada saat demonstrasi serta faktor faktor penyebabnya.
Bab III. Berisi tentang peran dari Kepolisian pada saat demonstrasi. Pada
bab ini juga akan di bahas mengenai pengaturan hukum yang mengatur lembaga
kepolisian serta bagaimana peran dari kepolisian pada saat terjadi demonstrasi.
Bab IV berisi tentang apa saja yang menjadi kendala bagi kepolisian dalam
menanggulangi kerusuhan pada saat demonstrasi ser ta bagaimana upaya yang
dilakukan oleh kepolisian
Bab V berisi tentang Kesimpulan dari pembahasan permasalahan serta saran
dari penulis.