• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kelayakan Finansial dan Prospek Pemasaran Budidaya Gaharu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Analisis Kelayakan Finansial dan Prospek Pemasaran Budidaya Gaharu"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Sejarah Gaharu

Di Indonesia gaharu dikenal mulai abad ke-12 diperdagangkan barter

antara masyarakat Kalimanatan Barat dan Sumatera Selatan dengan pedagang

Kwang Tung, China. Gaharu dalam bentuk gubal semula dipungut dari pohon

penghasilnya di dalam hutan dengan cara menebang pohon hidup dan

mencacahnya untuk mendapatkan bagian yang bergaharu. Komoditas gaharu telah

cukup lama dikenal masyarakat umum. Beberapa jenis tanaman gaharu yang

dikenal antara lain Aquilaria malaccensis, A. filaria, A. hirta, A, agalloccha, A. macrophylum dan beberapa puluh jenis lainnya (Duryatmo, 2009).

Dari puluhan jenis tanaman yang berpotensi tersebut, Aquilaria malaccensis

adalah tanaman penghasil gaharu berkualitas terbaik dengan nilai jual yang tinggi,

jenis ini termasuk dalam family Thymelleaceae, tumbuh di dataran rendah hingga pegunungan, 0-750 mdpl, suhu rata - rata 32°C dengan kelembaban rata - rata

70%, curah hujan sekitar 2000 mm. Pembudidayaan tanaman penghasil gaharu

akhir - akhir ini makin marak, karena sebagian masyarakat sudah dapat menikmati

hasilnya. Namun di sisi lain juga dijumpai beberapa kasus ketidakberhasilan

pengusahaan gaharu yang disebabkan antara lain oleh kegagalan dalam

pemeliharaan, kegagalan dalam melakukan inokulasi, dan adanya pencurian

pohon di kebun gaharu (Duryatmo, 2009).

Deskripsi Gaharu

(2)

gaharu. Dalam perdagangan internasional, produk ini dikenal sebagai agarwood, aloeswood, atau oudh. A.malaccensis adalah salah satu jenis tanaman hutan yang

memiliki mutu sangat baik dengan nilai ekonomi tinggi karena kayunya

mengandung resin yang harum. Bagian tanaman penghasil gaharu yang digunakan

adalah bagian kayu yang membentuk gubal resin, sebagai produk metabolit

sekunder (Santoso, 2007).

Untuk jenis gaharu dengan nilai jual yang relatif rendah, biasanya disebut

sebagai

gaharu juga ditentukan oleh banyaknya kandungan

Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya maka harga gaharu tersebut akan

semakin mahal dan begitu pula sebaliknya. Secara umum perdagangan gaharu

digolongkan menjadi tiga kelas besar, yaitu

merupakan kayu berwarna hitam atau hitam kecoklatan dan diperoleh dari bagian

pohon penghasil gaharu yang memiliki kandungan damar wangi beraroma

kuat. Kemedangan adalah kayu gaharu dengan kandungan

aroma yang lemah serta memiliki penampakan fisik berwarna kecoklatan sampai

abu-abu, memiliki

yang merupakan

gaharu. Sebelum dijadikan bahan baku

dahulu untuk mendapatkan

dalamnya (Dephut, 2002).

Sebagian kayu gaharu dapat dijual ke ahli

biasanya menggunakan teknik

(3)

gaharu direndam dalam air kemudian dipindahkan ke dalam suatu tempat untuk

menguapkan air hingga minyak yang terkandung keluar ke permukaan wadah dan

senyawa aromatik yang menguap dapat dikumpulkan secara terpisah. Teknik

distilasi uap menggunakan potongan gaharu yang dimasukkan ke dalam

peralatan

dan minyak dan senyawa aromatik untuk

membawa senyawa aromatik tersebut kemudian melalui tempat pendinginan yang

membuatnya te

air dan minyak akan dipisahkan hingga terbentuk lapisan minyak di bagian atas

dan air di bawah. Salah satu metode digunakan saat ini adalah ekstraksi dengan

superkritikal CO2, yaitu CO2 cair yang terbentuk karena tekanan tinggi. CO2 cair

berfungsi sebagai pelarut aromatik yang digunakan unt

gaharu. Metode ini menguntungkan karena tidak terdapat

CO2 dapat dengan mudah diuapkan saat berbentuk

normal (Dephut, 2002).

Budidaya Gaharu

Menurut Sumarna (2009) tata cara pembudidayaan gaharu adalah sebagai

berikut :

A.Pembersihan lahan

Dalam pengusahaan secara monokultur, lahan lahan tanam dibersihkan

dari tonggak/tunggul dari bekas tegakan dari pohon berkayu (Hutan Alam

Produksi, HTI) atau berbagai jenis tanaman perkebunan. Tumbuhan lain disekitar

titik tanam untuk sementara dibiarkan tumbuh, sebagai upaya pemberian naungan

(4)

lahan terbuka, perlu dibina terlebih dahulu adanya pohon lain yang cepat tumbuh,

agar dapat berperan sebagai naungan sementara hingga tanaman gaharu berumur

2 – 3 tahun. Sedangkan pada lahan dan atau kawasan yang tersedia secara alami

adanya pohon lain, pembersihan lahan dilakukan hanya pada sekitar titik tanam

sesuai model.

B.Pengolahan Lahan

Pengolahan lahan lebih dimaksudkan kepada upaya memperbaiki struktur

dan tekstur tanah khususnya pada areal ajir titik tanam dalam radius antara

0,5 m – 1,0 m. Tanah dicangkul dan dibersihkan dari tumbuhan lain serta

digemburkan agar dapat menunjang laju pertumbuhan bibit tanaman gaharu.

B.1. Pengajiran dan Pembuatan Lubang Tanam.

Pengajiran dilakukan untuk menetapkan titik letak tanam sesuai rencana

dan program pengusahaan tanaman gaharu. Sesuai kondisi lingkungan lahan letak

ajir tanam dalam satuan luas dapat dipola berdasarkan kapasitas dan tujuan

produksi. Untuk budidaya monokultur dapat dipola sesuai program Hutan

Tanaman Industri (HTI) dengan jarak tanam 2 x 3 m atau 3 x 3 m ( 1000 – 1600

pohon/Ha) dan bila terpola secara diversifikasi (agroforestry, hutan campuran)

ideal berjarak tanam 4 x 5 m (500 batang/Ha) atau 5 x 5 m (400 batang/Ha).

Pada titik ajir buat lubang tanam yang disesuaikan dengan kondisi tingkat

kesuburan lahan, pada lahan cukup baik, lubang tanam cukup berukuran 30 x 30 x

30 cm dan pada lahan kurang subur lubang tanam diperlebar. Pembuatan lubang

(5)

B.2. Pemupukan dan Proteksi Lubang Tanam.

Pemupukan dasar dipandang penting sebagai upaya mempercepat laju

pertumbuhan bibit. Setiap lubang tanam dapat diberikan pupuk kompos organik

matang sebanyak 3 – 5 kg, atau ditambahkan pupuk majemuk buatan jenis NPK

20 – 30 gram dan 20 gram TSP. Bila tanah memiliki keasaman dengan pH < 5,

sebaiknya diberikan kapur dolomit 100 gram/lubang tanam untuk memudahkan

akar dalam menyerap hara lahan.

B.3. Proteksi tanaman dari gangguan penyakit.

Untuk melindungi kemungkinan adanya gangguan hama akar pada awal

tanam dapat diberikan pestisida (kimia/organik), sedangkan untuk melindungi

akar dari gangguan penyakit yang dapat mematikan bibit setelah tanam, perlu

dipersiapkan kondisi fisik lahan sekitar letak tanam yang terhindar dari terjadinya

genangan air.

C. Teknis Penanaman

C.1. Seleksi Bibit

Bibit gaharu yang telah tersedia di areal pesemaian, lakukan pemilihan

bibit yang memiliki ukuran dan umur yang seragam serta sehat, usahakan bibit

yang seragam baik kondisi tumbuh maupun umur (> 9 bulan), sehat, memiliki

tinggi optimal antara 40 – 50 cm dan berdiameter sekitar 1 cm serta secara fisik

perakaran bibit belum menembus polybag.

C.2. Pengangkutan Bibit

Bibit yang terseleksi sekitar 1 – 2 bulan sebelum tanam angkut ke wilayah

(6)

areal tanam (aklimatisasi) dan atau langsung tempatkan pada titilk letak dekat

lubang tanam yang telah dipersiapkan. Usahakan bibit dalam keadaan baik, tetap

segar dan tidak layu akibat proses pengangkutan

C.3. Penanaman

Waktu Tanam

Kelola dan tetapkan waktu tanam yang sesuai dengan resiko kematian

bibit setelah tanam rendah. Sebaiknya waktu tanam ditetapkan pada awal atau

pertengahan musim hujan dengan harapan agar tingkat penyulaman bibit rendah.

Teknik Penanaman

Teknis penanaman gaharu secara umum tidak berbeda jauh dengan

tanaman lain, lepaskan polybag dari media secara baik dan usahakan media tidak

pecah, letakan pada lubang tanam dengan kondisi pangkal batang sejajar

permukaan lubang tanam, timbun bibit dengan tanah galian bagian permukaan

yang telah dipisahkan dalam proses pembuatan lubang tanam, tekan-tekan hingga

batang berdiri tegak dan kuat. Agar tidak terganggu secara fisik, bekas ajir ikatkan

dengan batang bibit dan sebagai tanda lubang tanam telah tertanam bibit, bekas

polybag letakan diujung ajir.

D.Pemeliharaan

Pemeliharaan pertanaman gaharu ideal dilaksanakan intensif hingga

mencapai umur sekitar 6 tahun dengan tujuan untuk memperoleh volume kayu

yang erat kaitannya dengan volume produksi gaharu yang dapat dihasilkan. Jenis

(7)

D.1. Penyiangan

Agar bibit dalam proses aklimatisasi dan adaptasi dengan kondisi iklim

dan lingkungan setempat serta untuk mengurangi tingkat kompetisi hara lahan,

maka dalam interval 4 – 6 bulan sekali lakukan pembersihan gulma dengan

menyiangi sekitar tanaman gaharu dalam radius sekitar 50 cm, hingga berumur

sekitar 4 - 5 tahun tanam.

D.2.Penggemburan

Penggemburan tanah disekitar tanaman dalam radius minimal 0,5 m

penting dilakukan hingga tanaman gaharu berumur 4 - 5 tahun dengan maksud

agar pertukaran oksigen dalam tanah mampu mendukung dan

D.3.Pemupukan

Dalam pengembangan budidaya tanaman, ideal kondisi lahan tanam baik

menyangkut struktur dan tekstur tanah dianalisa, sebagai bahan dalam menetukan

perlakuan jenis dan dosis pupuk yang perlu diberikan kepada tanaman. Secara

fisik aspek kebutuhan pupuk bertujuan untuk meningkatkan perkembangan riap

tumbuh (tinggi dan diameter) serta kesehatan tanaman. Pemberian pupuk alami

berupa kompos organik dari jenis kotoran ternak besar dan atau kecil, dapat

diberikan kepada tanaman bersama dengan pupuk kimia (UREA, NPK, KCl) yang

disesuaikan dengan umur dan perkembangan pertumbuhan tanaman.

D.4.Pengendalian Hama dan Penyakit

Aspek pengendalian hama dan penyakit lebih ditujukan kepada upaya

(8)

diterapkan. Secara umum apabila kondisi kawasan hutan memiliki kondisi tingkat

penyerapan air (drainase) yang baik, secara biologis akan terhindar dari gangguan

penyakit akar dan pada lahan sering dihuni oleh hama akar (uret tanah), ideal pada

saat tanam diberikan pestisida kimia atau biologis.

Maka dalam upaya budidaya pohon penghasil gaharu, diperlukan strategi

dengan 3 kriteria dan indikator terpenting antara lain adalah : (a) : Bahan tanaman

memiliki sifat rentan terhadap penyakit pembentuk gaharu, (b) Areal budidaya

tersedia adanya pohon lain sebagai naungan dengan intensitas cahaya masuk

sekitar 60 %, (c) Lahan budidaya memiliki kondisi fisik dan kimia yang

menghasilkan faktor munculnya stress dan (d) Untuk membangun volume kayu

yang optimal, perlu pemeliharaan intensif hingga tanaman mencapai fase

pertumbuhan generatif (± 6 tahun), agar dapat menghasilkan limit diameter

minimal batang pohon yang siap untuk diproduksi ≥ 15 cm (Sumarna, 2012).

Prospek Pengembangan

Indonesia adalah produsen gaharu terbesar di dunia dan menjadi tempat

tumbuh endemik beberapa spesies gaharu komersial dari marga Aquilaria, seperti

A. malaccensis, A. microcarpa, A. hirta, A. beccariana, A. filarial, dan lain-lain. Pada tahun 1985, jumlah ekspor gaharu Indonesia mencapai sekitar 1.487 ton,

namun eksploitasi hutan alam tropis dan perburuan gaharu yang tidak terkendali

telah mengakibatkan spesies-spesies gaharu menjadi langka. Tingginya harga jual

gaharu mendorong masyarakat untuk memburu gaharu tidak hanya dengan cara

memungut dari pohon penghasil gaharu yang mati alami melainkan juga dengan

menebang pohon hidup, oleh karena itu pada tahun 1995 CITES memasukkan

(9)

saat itu ekspor gaharu dibatasi oleh kuota yaitu hanya 250 ton/tahun

(Suharti, 2009).

Perkembangan yang terjadi selanjutnya ternyata kurang begitu bagus.

Bahkan sejak tahun 2000, total ekspor gaharu dari Indonesia terus menurun

hingga jauh di bawah ambang kuota CITES. Semakin sulitnya mendapatkan

gaharu di hutan alam telah mengakibatkan semua pohon penghasil gaharu

(Aquilaria spp. dan Gyrinops spp.) dimasukkan dalam Appendix II pada konvensi

CITES tanggal 2-14 Oktober 2004 di Bangkok. Selanjutnya, karena adanya

kekhawatiran akan punahnya spesies gaharu di Indonesia, maka sejak tahun 2005

Departemen Kehutanan kembali menurunkan kuota ekspor menjadi hanya 125

ton/tahun (Gun et all., 2004).

Permintaan terhadap gaharu terus meningkat, karena banyaknya manfaat

gaharu. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi industri, gaharu

tidak hanya digunakan sebagai bahan wangi - wangian (industri parfum), tetapi

juga digunakan sebagai bahan baku obat - obatan, kosmetika, dupa, dan pengawet

berbagai jenis aksesoris. Selain itu, beberapa agama di dunia mensyaratkan wangi

gaharu yang dibakar sebagai sarana peribadatan (untuk keperluan kegiatan religi).

Namun dari sisi negara pengekspor, tingginya permintaan gaharu belum dapat

dipenuhi, karena kekurangan bahan baku bermutu tinggi untuk ekspor. Hal ini

banyak dikeluhkan oleh beberapa eksportir gaharu Indonesia (Adijaya, 2009).

Ekspor untuk pasar Timur Tengah sebagai contoh menurun dari 67.245 kg

pada tahun 2005 menjadi 39.400 kg tahun 2006, karena sulitnya memperoleh

bahan baku gubal super yang diminta. Keluhan kekurangan bahan baku gaharu

(10)

CV Ama Ina Rua, eksportir di Jakarta yang pada tahun 2005 bisa mengekspor 5-6

ton/bulan, pada tahun 2006 hanya mampu mengekspor 2-3 ton/bulan. Penurunan

kemampuan ekspor Indonesia tersebut sudah diprediksi oleh berbagai pihak,

karena eksploitasi hutan dan perburuan gaharu yang tidak terkendali

(Adijaya, 2009).

Penurunan kemampuan ekspor Indonesia tersebut sangat berpengaruh

terhadap perkembangan harga gaharu, baik di pasar dunia maupun di tingkat

pengumpul. Pada tahun 1980, harga gaharu di tingkat pengumpul berkisar antara

Rp 30.000-50.000/kg untuk kualitas rendah dan Rp 80.000/kg untuk kualitas

super. Pada awalnya kenaikan harga gaharu relatif lambat, yaitu hanya naik

menjadi Rp100.000/kg pada tahun 1993. Kenaikan pesat terjadi pada saat krisis

ekonomi melanda Indonesia tahun 1997, dimana harga gaharu mencapai Rp 3-5

juta/kg (Suharti, 2009).

Kenaikan harga gaharu terus berlanjut dan makin tajam hingga mencapai

Rp 10 juta/kg pada tahun 2000 dan meningkat lagi hingga mencapai Rp 15 juta/kg

pada tahun 2009. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa gaharu sangat

prospektif untuk dikembangkan, khususnya bagi Indonesia yang memiliki potensi

biologis yaitu tersedianya beragam spesies tumbuhan penghasil gaharu dan masih

luasnya lahan-lahan kawasan hutan yang potensial serta tersedianya teknologi

inokulasi yang menunjang untuk pembudidayaan gaharu (Suharti, 2009).

Analisis Finansial

Analisis finansial bertujuan untuk menghitung kebutuhan dana baik

(11)

finansial bertujuan untuk mengetahui perkiraan pendanaan dan aliran kas usaha

sehingga dapat diketahui layak atau tidaknya usaha yang dimaksud.

Menurut Suharjito et all. (2003) bahwa analisis finansial pada dasarnya dilakukan untuk mengetahui seberapa besar manfaat yang diperoleh, biaya yang

dikeluarkan, berapa keuntungannya, kapan pengembalian investasi dan pada

tingkat suku bunga berapa investasi itu memberikan manfaat.

Pada umumnya ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan untuk

dipakai dalam penelitian aliran kas dari suatu investasi, yaitu metode Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), dan Internal Rate of Return (IRR).

a. Net Present Value (NPV)

Analisis yang digunakan untuk mengukur profitabilitas suatu investasi

jangka panjang dalam kegiatan pertanian adalah Net Present Value, yaitu selisih

antara nilai manfaat dan nilai biaya selama kurun waktu tertentu pada tingkat

bunga yang ditentukan. Nilai positif NPV dari satu sistem kegiatan investasi

menunjukkan bahwa budidaya tanaman tersebut cukup menguntungkan. NPV

yang dihitung dengan harga finansial yaitu perhitungan dengan nilai pasar yang

mencerminkan penerimaan dan pengeluaran nyata petani, menghasilkan

parameter profabilitas untuk kepentingan para pengambil keputusan atau

masyarakat yang lebih luas.

Mengingat bahwa produktivitas lahan merupakan kepentingan para

pengambil keputusan, maka NPV yang dihitung dengan nilai ekonomi,

merupakan indikator profabilitas yang lebih baik. Karena memasukkan semua

(12)

b. Benefit Cost Ratio (BCR)

Benefit Cost ratio (BCR) merupakan perbandingan antara nilai manfaat

dan nilai biaya dari satu investasi pada tingkat susku bunga yang telah ditentukan.

Nilai BCR lebih besar dari satu menunjukkan bahwa investasi cukup

menguntungkan.

c. Internal Rate of Returns (IRR)

Internal Rate of Returns (IRR) membandingkan manfaat dan biaya yang

ditunjukkan dalam persentasi. Dalam hal ini nilai IRR merupakan tingkat bunga di

mana nilai manfaat sama dengan nilai biaya. IRR merupakan parameter yang

menunjukkan sejauh mana satu investasi mampu memeberikan keuntungan besar

dari tingkat bunga umum memberikan petunjuk bahwa investasi tersebut cukup

Referensi

Dokumen terkait

Waduk Cikoncang terletak di dataran rendah sehingga kemungkinan terjadinya up welling (umbalan) sangat kecil. Pemanfaatan lahan waduk masih di bawah batas maksimum yang

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,