• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRANFORMASI KEPEMIMPINAN ORGANISASI kem UNTU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TRANFORMASI KEPEMIMPINAN ORGANISASI kem UNTU"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia selain sebagai makhluk individu, manusia juga disebut sebagai

makhluk sosial. Artinya manusia memiliki kebutuhan dan kemampuan serta

kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain,

selanjutnya interaksi ini berbentuk kelompok. Kemampuan dan kebiasaan

manusia berkelompok ini disebut juga dengan zoon politicon.

Manusia sebagai zoon politicon pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles

yang artinya manusia sebagai binatang politik. Manusia sebagai insan politik atau

dalam istilah yang lebih populer manusia sebagi zoon politicon, mengandung

makna bahwa manusia memiliki kemampuan untuk hidup berkelompok dengan

manusia yang lain dalam suatu organisasi yang teratur, sistematis dan memiliki

tujuan yang jelas. Sebagai insan politik, manusia memiliki nilai-nilai yang bisa

dikembangkan untuk mempertahankan komunitasnya. Argumen yang mendasari

pernyataan ini adalah bahwa manusia sebagaimana binatang, hidupnya suka

mengelompok. Hanya saja antara manusia dan binatang berbeda memiliki cara

mengelompok yang berbeda, hewan mengandalkan naluri, sedangkan manusia

berkelompok dilakukan melalui proses belajar dengan menggunakan akal

pikirannya. Sifat berkelompok pada manusia didasari pada kepemilikan

(2)

hidup bersama dalam kelompok, antara lain: nilai kesatuan, nilai solidaritas, nilai

kebersamaan dan nilai berorganisasi.

Sifatnya yang merupakan makhluk sosial meniscayakan manusia hidup

secara berkelompok. Dalam kelompoknya manusia terus berinteraksi dan

melakukan pertukaran kebutuhan serta kepentingan. Manusia selaku objek

maupun subjek interaksi, senantiasa melakukan sinegritas untuk mencapai tujuan

bersama. Untuk mengharmoniskan interksi yang ada dibutuhkan sosok yang

mejadi pengontrol dan patron acuan yang biasa disebut sebagai pemimpin.

Pemimpin merupakan hal yang sangat penting dalam setiap interaksi kelompok.

Gerak merupakan suatu yang niscaya untuk setiap makhluk. Entah itu gerak

individual maupun gerak kelompok. Gerak inilah yang menyebabkankan adanya

perkembangan – perkembangan pada budaya dan interaksi sosial yang ada.

Daripadanya, perkembangan dan perubahan zaman merupakan hal yang

berpengaruh dan perlu untuk dipertimbangkan dalam melakukan perubahan –

perubahan dalam sistem interaksi serta kepemimpinannya.

Organisasi kemahasiswaan merupakan salah satu hal yang paling potensial

untuk mengawal dan menjaga perkembangan zaman terutama dalam lingkup

ke-Indonesiaan. Dalam memaksimalkan usaha pengawalan, sistem dan hirarki

organisasi harus selaras dengan sistem dan hirarki kenegaraan, tanpa melupakan

nilai kemanusiaan dan kepemimpinan yang dipegang teguh oleh lembaga

kemahasiswaan. Penguatan kelembagaan harus senantiasa dijaga dari sistem

(3)

ada, dimana harus dilakukan transformasi kepemimpinan organisasi untuk

penguatan peran kelembagaan di semua tingkatan, terutama ditingkat regional.

Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) sebagai salah satu organisasi

kemahasiswaan yang berskala nasional diharapkan mampu melakukan

transformasi kepemimpinan dalam kehidupan keorganisasiannya sampai pada

tataran regional guna menjawab tantangan zaman yang ada. Mengingat HmI

sendiri punya catatan sejarah sebagai organisasi kemahasiswaan yang berperan

besar dalam menyelesaikan permasalahan bangsa sejak dilahirkannya hingga pada

saat ini.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut, rumusan masalah yang perlu dibahas dalam

tulisan kali ini antara lain :

1. Apa itu kepemimpinan?

2. Bagaimana kepemimpinan dalam perspektif Islam?

3. Bagaimana model transformasi kepemimpinan dalam sebuah organisasi secara

umum serta HmI pada khususnya?

1.3 Manfaat

Manfaat dari tulisan ini adalah tulisan ini akan memaparkan tentang

pandangan penulis tentang konsep model kepemimpinan yang ideal yang sesuai

dengan perkembangan zaman dengan menerapkan nilai demokrasi serta nilai

(4)

teori-teori kepemimpinan yang dikemukakan oleh beberapa ahli dan mencoba

mengkontekskannya di dalam kehidupan berorganisasi secara umum maupun

(5)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kelompok dan Kepemimpinan

Kelompok adalah kumpulan yang terdiri dari dua atau lebih individu, dan

kehadiran masing-masing individu mempunyai arti serta nilai, dan ada dalam

situasi saling mempengaruhi. (Kartini Kartono, 1994)

Maka ciri-ciri individu di dalam kelompok antara lain (Kartini Kartono,

1994):

1. Dinamis, selaalu bergerak dan berubah, beraneka ragam gerakannya dan

bebas.

2. Mempunyai potensi, kesanggupan dan kemungkinan untuk melakukan

bermacam-macam aksi atau perbuatan dan peristiwa.

3. Menanggapi orang lain sebagai makhluk sejenis , sebagai sesama hidup, dan

sebagai subyek yang sederajat.

4. Interaksi dan partisipasi masing-masing anggota kelompok sangat berkaitan

dengan meningkatnya emosi dan sentimen-sentimen dalam mencapai

pemuasan harapan, berkaitan dengan semakin jelasnya norma-norma

kelompok.

Organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih

yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu

(6)

orang yang disebut atasan dan seorang/sekelompok orang yang disebut dengan

bawahan. (Sondang P. Siagian, 2003)

Organisasi ialah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur dan

terkoordinasi dari sekelompok yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu.

Organisasi hanya merupakan alat dan wadah saja. (Malayu Hasibuan, 2003)

Beberapa definisi tentang kepemimpinan. Antara lain :

1. Ordway Tead (Kartini Kartono, 1994)

Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka

mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

2. George R. Terry (Kartini Kartono, 1994)

Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka

suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.

3. K. Hemphill (M. Thoha, 1996)

Kepemimpinan adalah suatu inisiatif untuk bertidak yang menghasilkan

suatu pola yang konsisten dalam rangka mencari jalan pemecahan dari suatu

persoalan bersama.

4. Prof. Kimball Young (Kartini Kartono, 1994)

Kepemimpinan adalah bentuk dominasi didasari kemauan pribadi yang

sanggup mendorong atau mengajak orang lain unuk berbuat sesuatu, berdasarkan

akseptasi atau penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang

tepat bagi situasi khusus.Gaya kepemimpinan adalah pola tindakan pemimpin

(7)

House dalam Path-Goal Theory memasukkan empat gaya utama

kepemimpinan sebagai berikut (M. Thoha, 1996):

a. Kepemimpinan direktif.

Gaya ini menganggap bawahan tahu senyatanya apa yang diharapkan dari

pimpinan dan pengarahan yang khusus diberikan oleh pimpinan. Dalam model ini

tidak ada partisipasi dari bawahan atau anggota.

b. Kepemimpinan yang mendukung.

Gaya ini pemimpin mempunyai kesediaan untuk menjelaskan sendiri,

bersahabat, mudah didekati, dan mempunyai perhatian kemanusiaan yang murni

terhadap bawahan atau anggotanya.

c. Kepemimpinan partisipatif.

Gaya kepemimpinan ini, pemimpin berusaha meminta dan

mempergunakan saran-saran dari para bawahannya. Namun pengambilan

keputusan masih tetap berada padanya.

d. Kepemimpinan yang berorientasi pada prestasi.

Gaya kepemimpinan ini menetapkan serangkaian tujuan yang menantang

para bawahannya untuk berprestasi. Demikian juga pemimpin memberikan

keyakinan kepada mereka mampu melaksnakan tugas pekerjaan mencapai tujuan

secara baik.

Secara operasional dapat dibedakan lima fungsi pokok kepemimpinan,

yaitu (Hadari Nawawi, 2003),:

(8)

Pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi

perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai,

melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan

perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang

yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah.

2. Fungsi konsultatif.

Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua

arah. Hal tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan

keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan

orang-orang yang dipimpinnya.

3. Fungsi Partisipasi.

Dalam menjalankan fungsi partisipasi pemimpin berusaha mengaktifkan

orang-orang yang dipimpinya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam

melaksanakannya. Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama

untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari

tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi masing-masing.

4. Fungsi Delegasi

Dalam menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan

wewenang membuat atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya

adalah kepercayaan seorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan

untuk pelimpahan wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggungjawab.

Fungsi pendelegasian ini, harus diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan

(9)

5. Fungsi Pengendalian.

Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus

mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang

efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuana bersama secara maksimal.

Dalam melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui

kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.

2.2 Islam melihat kepemimpinan

Kaum muslimin dalam berkehidupan sosial perlu ada pemimpin dan

diorientasikan pada stabilitas. Dasar pandangan ini dikatakan berasal dari

Rasulullah SAW yang bersabda bahwa 70 tahun kehidupan sosial di bawah

kekuasaan represif masih lebih baik dari hidup sosial tanpa ada kepemimpinan.

(Ibnu Tamiyah, 1960)

Abdullah bin Umar berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

“setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas

kepemimpinannya. Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah

pemimpin. Ia akan diminta pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang lelaki

adalah pemimpin terhadap keluarganya di rumahnya. Seorang wanita adalah

pemimpin atas rumah suaminya. Ia akan diminta pertanggungjawaban tentang hal

mereka itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya.

Ketahuilah kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta

(10)

Ada beberapa kunci kesuksesan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

Yaitu sebagai berikut (shiddiqi nouruzzaman, 1996) :

1. Akhlak Nabi yang terpuji tanpa tercela.

2. Karakter nabi yang tahan uji, tangguh, ulet, sederhana, dan bersemangat

baja.

3. Sistem dakwah yang menggunakan metode imbauan yang diwarnai

dengan himah kebijaksanaan.

4. Tujuan perjuangan nabi yang jelas menuju ke arah menegakkan keadilan

dan kebenaran, menghancurkan yang bathil, tanpa pamrih kepada harta,

kekuasaan, dan kemuliaan duniawi.

5. Prinsip persamaan.

6. Prinsip kebersamaan.

7. Mendahulukan kepentingan dan keselamatan pengikut.

8. Memberikan kebebasan berkreasi dan berpendapat serta pendelegasian

wewenang

9. Tipe kepemimpinan kharismatik dan demokratis.

Tingkah laku Nabi Muhammad SAW yang mempengaruhi keberhasilan

beliau antara lain (Imam munawir) :

1. Kehormatan kelahirannya.

2. Bentuk dan potongan tubuh yang sempurna.

3. Perkataan yang fasih dan lancar.

4. Kecerdasan akal yang sempurna.

(11)

6. Tidak terpengaruh oleh duniawi.

7. Hormat terhadap dirinya sendiri.

2.3 HmI Sebagai Suatu Organisasi

Berbicara tentang HmI, maka kita akan melihat kepada eksistensi suatu

kelompok sosial yang merupakan kesatuan dari mahasiswa yang terorganisir

dengan mencantumkan islam sebagai predikatnya. Eksistensi HmI sebagai

kelompok sosial adalah merupakan manifestasi dari konfigurasi sosial budaya

masyarakat Indonesia. (Ridwan Saidi, 1984)

Jenderal soedirman yang berpidato pada upacara dies natalis HmI ke-1

tahun 1948 di Yogyakarta berkata “HmI bukan saja merupakan harapan

masyarakat Islam, tetapi masyarakat Indonesia.” Agaknya harapan masyarakat itu

tak akan sia-sia, oleh karena kesadaran sejarah cukup arif dihayati oleh kalangan

HmI. Mereka menginsyafi betapa HmI telah berperan sejak dilahirkan. (Ridwan

Saidi, 1984)

Saat ini HMI sedang dirindung pilu berbagai macam masalah, memang

masalah itupun ada penyebabnya, seperti: pertama, keanggotaan HMI, baik

ditinjau dari tingkat pemikiran, pemahaman keagamaan, politik, ekonomi, sosial,

budaya, persepsi kenegaraan, kemasyarakatan. Kedua, HMI sebagai alat belum

mampu sebagai wadah managerial untuk mengantispasi semua permasalahan. Hal

ini disebabkan terbatasnya masa jabatan pengurus, sarana dan prasarana belum

(12)

kuliah. Ketiga,pola pikir yang belum mendapatkan persamaan. Keempat,

faktor-faktor lain yang sangat komplek. (Agussalim Sitompul, 2008)

Kader HMI tidak bisa terlepaska n dengan ummat sekalipun ia organisasi

mahasiswa, karena tujuan awal lahirnya HMI itu sendiri, untuk mempertahankan

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mensyiarkan ajaran Islam. Jadi

HMI akan selalu bergandengan dengan masyarakat atau ummat untuk mencapai

tujuan organisasi itu, salah satu faktor kemunduran HMI disebabkan kader HMI

jarang membuat aktivitas yang melibatkan masyarakat. (Agussalim Sitompul,

(13)

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Definisi Kepemimpinan

Dalam bahasa Indonesia pemimpin sering disebut penghulu, pemuka,

pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala,

penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Sedangkan istilah memimpin digunakan

dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan

kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain dengan berbagai macam cara.

Istilah pemimpin, kepemimpinan, dan memimpin pada mulanya memiliki

kata dasar yang sama yakni pimpin. Namun demikian ketiganya digunakan dalam

konteks yang berbeda. Pemimpin adalah suatu peran dalam suatu sistem tertentu.

Karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memilik ketrampilan

kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Istilah kepemimpinan pada

dasarnya berhubungan dengan ketrampilan , kecakapan, dan tingkat pengaruh

yang dimiliki oleh seseorang. Oleh sebab itu kepemimpinan bisa saja dimiliki oleh

seseorang yang bukan pemimpin.

Ada berbagai macam definisi tentang kepemimpinan dan pemimpin menurut para

ahli. Contohnya saja menurut Ordway Tead yang mengatakan kepemimpinan

adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka mau bekerja sama untuk

mencapai tujuan yang diinginkan. Atau menurut George R. Terry yang

berpendapat bahwa kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang

(14)

Hemphill yang mengatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu inisiatif untuk

bertidak yang menghasilkan suatu pola yang konsisten dalam rangka mencari

jalan pemecahan dari suatu persoalan bersama. Atau masih banyak lagi

definisi-definisi tentang kepemimpinan menurut para ahli lainnya.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan

merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok,

kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki

kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh

kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.

Berdasarkan definisi-definisi di atas kepemimpinan memiliki beberapa implikasi,

antara lain :

 Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para

bawahan (followers). Para bawahan harus memiliki kemauan untuk

menerima arahan dari pemimpin. Walaupun demikian, tanpa

adanya bawahan, tidak akan ada pimpinan.

 Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan

kekuasaannya mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja

yang memuaskan. Para pemimpin dapat menggunakan

bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi

(15)

 Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity),

sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan

(cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan

(commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence)

dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam

membangun organisasi.

3.2 Kepemimpinan dalam perspektif Islam

Imamah atau kepemimpinan Islam adalah konsep yang tercantum baik di

dalam al-Quran maupun as-Sunnah yang meliputi kehidupan manusia secara

pribadi, berdua, keluarga, bahkan sampai umat manusia atau kelompok.

Sebagaimana diketahui pada dasarnya manusia telah dianugerahi menjadi

khalifah atau wakil Allah di atas muka bumi ini. Hal ini secara gambling

dijelaskan dalam al-Quran surah al-Baqarah ayat ke 30. Yang walaupun

malaikat seperti merargukan keputusan menjadikan manusia sebagai khalifah

dikarenakan kelak manusia akan merusak dan menumpahkan darah di muka

bumi ini namun Allah menjawabnya dengan mengatakan bahwa “Aku

mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Di dalam konsep Islam, pemimpin merupakan hal yang sangat final dan

fundamental. Ia menempati posisi tertinggi dalam bangunan masyarakat Islam.

Dalam kehidupan bermasyarakat, pemimpin ibarat kepala dari seluruh anggota

(16)

gerakan. Kemampuannya dalam memimpin akan mengarahkan ummatnya

kepada tujuan yang ingin dicapai, yaitu kejayaan dan kesejahteraan ummat

dengan iringan ridho Allah (Qs. 2 : 207). Dalam bangunan masyarakat Islami,

pemimpin berada pada posisi yang menentukan terhadap perjalanan umatnya.

Apabila sebuah kelompok memiliki seorang pemimpin yang baik serta cakap

dalam pengembangan dan pembangkitan daya juang dan kreativitas

anggota-anggotanya, maka dapat dipastikan perjalanan umatnya akan mencapai titik

keberhasilan. Dan sebaliknya, manakala suatu kelompok dipimpin oleh orang

yang memiliki banyak kelemahan, baik dalam hal keilmuan, manajerial,

maupun dalam hal pemahaman dan nilai tanggung jawab, serta lebih

mengutamakan hawa nafsunya dalam pengambilan keputusan dan tindakan,

maka dapat dipastikan bangunan kelompok akan mengalami kemunduran, dan

bahkan bisa saja mengalami kehancuran. (Qs. 17 : 16).

Di dalam konsep kepemimpinan Islam, sifat amanah menempati posisi

yang sangat penting. Ini tak lain karena anggapan bahwa peran pimpinan itu

sendiri adalah sebuah amanah yang dipercayakan oleh Allah SWT. Oleh sebab itu

dalam menjalankan amanah tersebut dituntut terjalinnya hubungan komunikasi

yang sebaik-baiknya antara manusia sebagai yang diberikan amanah dengan yang

memberikan amanah yakni Allah SWT. Interaksi-interaksi tersebut berjalan

dengan cara senantiasa mengerjakan perintah Allah SWT, menjauhi semua

laranganNya, serta ikhlas menerima semua ketentuan-ketentuanNya. Selain

(17)

Pemimpin dituntut mampu mengatur hubungan vertical manusia dengan

penciptanya dan juga hubungan horizontal kepada sesamanya.

Jika memperhatikan teori-teori tentang kepemimpinan yang lahir dari para

pemikir dari dunia barat. Maka objek pembahasannya lebih banyak tentang pola

interaksi yang terbangun antar sesama manusia. Mereka mengesampingkan

adanya faktor eksternal yang lebih kuat berperan dalam kehidupan manusia. Ini

mungkin disebabkan karena dunia barat memandang peran pemimpin tersebut

adalah sebuah capaian bukannya sebagai sesuatu yang sifatnya terberi seperti

Islam memandang dengan konsep amanahnya yang kelak akan dimintai

pertanggungjawabannya.

Berbicara masalah kepemimpinan dalam Islam, maka konsep

kepemimpinan yang akan menjadi patokannya adalah konsep kepemimpinan Nabi

Muhammad SAW. Yang dimana pada awalnya Beliau dicaci maki, dihina,

direndahkan, bahkan sampai diancam dibunuh serta diusir sedemikian rupa,

namun pada akhirnya Beliau berhasil membalikkan keadaan dan malah menjadi

dipuja serta begitu dicintai. Jika menilik kepemimpinan Nabi Muhammad SAW,

secara garis besar ada beberapa faktor penting yang menjadikan Beliau sebagai

pemimpin yang luar biasa berhasilnya. Adapun faktor tersebut sebagai berikut :

- Faktor keulamaan

Faktor keulamaan disini yang dimaksud adalah segala sikap, gerak, dan

keputusannya selalu bersandarkan pada hukum-hukum Allah sebagai Sang

Pemberi Amanah dan tempat mempertanggungjawabkan amanah tersebut.

(18)

Sebagai seorang pemimpin diwajibkan memiliki pengetahuan yang luas dan

mendalam. Sehingga setiap pengambilan keputusan yang diambilnya tidak

berdasarkan pada nafsu semata. Intelektualitas tersebut juga menjadi sesuatu

yang sengat penting dalam menjawab permasalahan yang dihadapi umat pada

saat itu. Sehingga hal tersebut mengundang simpati terhadap Nabi

Muhammad SAW dan membuatnya memiliki tambah banyak pengikut.

- Faktor kepeloporan

Sebagai seorang pemimpin selain dituntut untuk pandai dalam membuat

konsep, namun dia juga harus mampu untuk menjalankan konsep tersebut.

Nabi Muhammad berhasil menjadi orang pertama yang menerapkan konsep

egaliter dimana Beliau tak membeda-bedakan seseorang baik dari segi

sukunya, pekerjaannya, maupun kastanya.

- Faktor keteladanan

Dalam kehidupan sehari-harinya Nabi Muhammad memberikan contoh

kepada para pengikutnya. Baik dalam hal-hal yang bersifat ritus maupun

dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan tauladan tersebut masih menjadi patokan

hingga pada saat ini mengingat Beliau adalah utusan yang dikirim untuk

semesta alam.

3.3 Model transformasi kepemimpinan ideal

Sebagaimana yang dibahas pada latar belakang bahwa gerak merupakan

sesuatu yang pasti untuk setiap makhluk. Entah itu gerak individual maupun gerak

(19)

Lain zaman lain pula permasalahannya. Oleh sebab itu model-model

penyelesaiannya juga tentu saja berbeda. Metode-metode gerak yang akan

dilakukan juga pastilah akan berbeda. Oleh sebab itu mutlak hukumnya dilakukan

sebuah transformasi kepemimpinan sebagai bentuk adaptasi terhadap

permasalahan yang juga berbeda. Transformasi kepemimpinan yang dimaksud

adalah pergantian pucuk pimpinannya ataupun pergantian sistem kepemimpinan.

Berbicara masalah sistem kepemimpinan, telah dibahas berbagai macam

gaya kepemimpinan menurut ahli, fungsi-fungsi dari kepemimpinan, bahkan

bagaimana Islam melihat kepemimpinan. Berikut beberapa gaya kepemimpinan

yang efektif dan harus dimiliki oleh setiap pemimpin :

1. Directing

Model ini mengandalkan kemampuan dan kecerdasan pemimpin dalam

memutuskan suatu masalah. Pemimpin memberikan instruksi langsung

kepada anggotanya tentang apa yang harus dikerjakan. Model digunakan

biasanya pada saat ada kondisi dimana bawahan memiliki kapasitas dan

kapabilitas yang kurang memadai. Atau biasa juga digunakan pada saat-saat

genting dimana dibutuhkan pengambilan keputusan secara cepat.

2. Coaching

Model ini sesuai dengan namanya adalah lebih bertujuan untuk melatih

bawahan dalam menyelesaikan tugasnya. Pada model ini pemimpin

menjelaskan kepada bawahannya tentang tugas-tugas masing. Selain itu

(20)

merasa jelas. Model ini dijalankan ketika mendapati kondisi dimana bawahan

memiliki kemampuan yang kurang namun memiliki kemauan yang besar

dalam bekerja.

3. Participating

Model participating dipakai ketika terjadi kondisi dimana bawahan

sebenarnya memiliki kemampuan dalam menjalankan tugasnya namun

memiliki kemauan kecil untuk melakukannya. Pimpinan duduk bersama

dengan bawahan dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Pengambilan

keputusan juga diambil berdasarkan kesepakatan seluruhnya. Hal ini

dimaksudkan agar bawahan lebih termotivasi dalam melakukan tugasnya

sesuai dengan caranya sendiri.

4. Delegating

Jika mendapati kondisi dimana bawahan memiliki kemampuan serta kemauan

yang besar dalam menjalankan suatu tugas, maka model kepemimpinan yang

cocok dipilih adalah model delegating. Pada model ini pimpinan kepercayaan

penuh kepada bawahannya untuk mengatasi suatu tugas tertentu. Salah satu

contohnya peran bendahara yang bertugas untuk mengurus masalah keuangan

suatu organisasi. Bendahara tersebut nantinya akan melaporkan

kerja-kerjanya ke pimpinan.

Dalam kehidupan berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Islam,

model-model tersebut dapat diaplikasikan. Apalagi di tataran regional,

(21)

serta budaya berbeda antar satu dengan yang lain. Belum lagi kondisi yang

akan dihadapi juga pastinya akan berbagai macam. Sehingga perlu kejelian

dari pemimpinnya untuk memilih model kepemimpinan yang mana akan

digunakan dan pada kondisi apa.

HmI sebagai organisasi kemahasiswaan yang juga menyandang predikat

Islam tentu saja harus menerapkan nilai-nilai Islam di dalamnya. Pemimpinnya

wajib menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan dalam

menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Selain menjaga pola interaksi yang baik

antar pemimpin dan anggotanya, dia juga harus menjaga hubungan baik dengan

Sang Penciptanya. Senantiasa menjalankan perintahNya dan menjauhi

laranganNya. Si pemimpin juga harus menyadari perannya sebagai pemimpin

adalah sebuah hadiah dari Allah SWT yang berbaik hati memberikan amanah

tersebut. Dimana amanah tersebut nantinya akan diminta pertanggungjawaban

tentang apa yang telah dilakukan selama menjalankan perannya tersebut.

Selain nilai keislaman yang diterapkan di dalamnya, juga tidak lupa

menerapkan prinsip-prinsip demokrasi sebisa mungkin. Selalu terbuka menerima

aspirasi baik itu berupa saran ataupun kritik dari anggotanya. Pemimpin juga

harus selalu memperhatikan anggotanya. Memenuhi kebutuhan dari

anggota-anggotanya agar kerja-kerja keorganisasian tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Memperhatikan kesejahteraan anggota-anggotanya. Contohnya saja untuk di

tataran HmI Badko Sulselbar adalah penyediaan tempat tinggal bersama ataupun

(22)

BAB IV KESIMPULAN

Ada beberapa para ahli yang menjelaskan tentang definisi kepemimpinan.

Tapi secara garis besar dapat disimpulkan bahwa dari beberapa definisi diatas

dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi

orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku

bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam

bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau

kelompok.

Berbicara tentang bagaimana Islam dalam memandang kepemimpinan

maka hal itu takkan lepas dari sosok Bagimda Rasulullah. Dimana Beliau adalah

panutan bagi setiap muslim dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin.

Adapun beberapa faktor penialiannya adalah : faktor keulamaan, faktor,

intelektual, faktor kepeloporan, faktor keteladanan. Pemimpin tersebut juga harus

memahami perannya sebagai pemimpin adalah sebuah amanah yang nantinya

akan dimintai pertanggungjawaban.

Model transformasi kepemimpinan nantinya yang akan dipakai akan

(23)

lain directing, coaching, participating, delegating.dimana di dalamnya akan tetap

terpaku pada asas demokrasi dan nilai keislaman.

DAFTAR PUSTAKA

Davis, Keith dan John W. Newstrom, 1985, Human Behaviour at Work : Organizational Behaviour, Mc.Grav-Hill Inc, New York.

Hadari, Nawawi, 2003, Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Bisnis yang Kompetitif, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Hasibuan, M, 2003, Organisasi dan Motivasi: Dasar Peningkatan Produktivitas.,Bumi Aksara, Jakarta.

Kartono, Kartini, 1994, Pemimpin dan Kepemimpinan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

M. Fuad Abdul Baqi, 1993, Al-Lu’Lu WAl Marjan, Al-Ridha, Semarang.

Ridwan, Saidi, 1984, Pemuda Islam dalam Dinamika Politik Bangsa 1925-1984, Rajawali, Jakarta.

Siagian, Sondang, 2003,Teori dan Praktek Kepemimpinan, PT.Rineka Cipta, Jakarta.

Sitompul, Agussalim, 2008, 44 Indikator Kemunduran HMI, Misaka Galiza, Jakarta.

Taimiyah, Ibnu, 2009, Syiasah Sariah : Etika Politk Islam, Risalah Gusti, Surabaya

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, maka Perjanjian Kerja Sama antara BPJS Ketenagakerjaan dengan fasilitas pelayanan kesehatan yang sedang berjalan tetap berlaku

Masa kerja Pengurus Cabang di tentukan 4 (empat ) tahun, dalam hal MUSCAB tidak dapat diadakan dalam waktu yang telah ditetapkan maka penggantian pengurus Cabang dapat

1) dividen tunai (cash dividend) merupakan dividen yang diterima oleh investor dalam bentuk kas. Bagi perusahaan, dividen ini mengurangi akun Laba Ditahan dan Kas, sedangkan

Penelitian ini menjawab permasalahan penelitian yang telah dirumuskan, yaitu “Bagaimana Pendapat Guru Terhadap Penerapan Kurikulum Fullday School di Sekolah Dasar

Hasil ini sesuai dengan penelitian oleh Septiyanti (2017), bahwa terdapat hubungan pengetahuan dan sikap dengan perawat tentang perawatan luka diabetes menggunakan

Hama kutu daun ( Aphis gossypii Glover) merupakan hama yang menyerang tanaman cabai pada bagian bawah daun. Salah satu cara alternatif yang dapat digunakan untuk

Ketersediaan alat kesehatan sangat penting untuk dapat melakukan pelayanan kesehatan secara maksimal termasuk di puskesmas, sehingga perlu dilaksanakan manajemen logistik

Kemampuan membaca cepat merupakan keterampilan memilih isi bacaan yang harus dibaca sesuai dengan tujuan, yang ada relevansinya dengan pembaca tanpa membuang-buang