• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Mela

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Mela"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

|

Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang

Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan

Mengecap Dengan Media Bahan Alam

Maria Ulfa (09262784)

Mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini IKIP Veteran Semarang

ABSTRAK

Latar belakang Masalah, Perkembangan kreatifitas dalam Kurikulum Taman kanak-kanak 2004 secara khusus menjadi bidang pengembangan tersendiri. Agar perkembangan kreatifitas anak usia prasekolah berhasil baik, mestinya orang tua dan guru PAUD memberikan respon yang positif dan memberikan dukungan terhadap apa yang diinginkan anak, apalagi pada saat anak merasa tertarik. Namun kenyataan di lapangan khususnya di PAUD Mutiara Hati Kenanti ada dua orang tua ataupun guru yang kurang menyetujui bahkan menolak keinginan / kemauan anaknya / muridnya. Jika hal ini tidak segera mendapatkan perhatian dan penyelesaian maka diperkirakan akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri. Permasalahan penelitian, Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan, diperoleh temuan bahwa bermain menggunakan media mengecap dengan bahan alam mempunyai manfaat yang besar bagi prekembangan anak. Masalah yang dirumuskan adalah kreativitas anak menggunakan media bahan alam. Dengan demikian tujuan penelitian adalah untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan kreativitas anak menggunakan media media bahan alam. Metode dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan tindakan kelas yang menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu, lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Subyek dalam penelitian ini adalah anak didik PAUD Mutiara Hati yang berjumlah 20 anak didik yang terdiri dari 12 anak laki-laki dan 8 anak perempuan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Setelah dilaksanakannya penelitian di PAUD Mutiara Hati maka mengalami perubahan yang signifikan antara sebelum penelitian dan sesudah penilitian mengalami peningkatan yang sangat baik, melalui kreativitas anak menggunakan media bahan alam di PAUD Mutiara Hati dapat ditingkatkan, dari awal pra siklus hanya 40 % siswa yang mampu, kemudian pada siklus I mengalami peningkatan yakni 60 %, dan terbukti pada siklus II mengalami peningkatan lebih baik sebanyak 85 % anak mampu menggunakan media bahan alam. Saran yang diajukan adalah (1) para guru hendaknya dapat meningkatkan kreativitas anak dalam pembelajaran. (2) Bagi kepala sekolah, hendaknya selalu mendukung dan mendorong para guru untuk selalu berkreativitas.

Kata Kunci : kreativitas, mengecap, media bahan alam

PENDAHULUAN

Pengembangan kreativitas sejak usia dini dapat terwujud dimana saja dan oleh siapa saja.

Sesungguhnya bakat kreativitas dimiliki oleh semua orang dan ditinjau dari segi pendidikan bahwa dengan upaya dan kerja sama yang baik antara masyarakat dan orangtua, maka bakat kreativitas yang

dimiliki anak dapat di gali dan dikembangkan sejak usia dini sehingga menghasilkan suatu potensi yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan berfikir anak di usia dini dan masa depannya.

Tetapi jika bakat kreativitas anak tidak dipupuk, bakat tersebut tidak akan berkembang, bahkan bisa menjadi bakat yang terpendam yang tidak dapat diwujudkan.

Peranan masyarakat yang cenderung acuh tak acuh dapat melunturkan semangat anak dalam proses kreativitas. Sehingga anak cenderung menggunakan waktu hanya untuk bermain tanpa adanya

(2)

2

|

Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang

dngan baik, kalau keadan seperti dibiarkan maka akan mempengaruhi daya pikir anak dalam meningkatkan krativitas anak.

Salah satu aspek perkembangan yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah mengembangkan

kreativitas anak karena hal ini akan mendasari perkembangan intelektual anak pada masa yang akan datang. Mengembangkan daya pikir anak merupakan aspek psikologis yang sudah mulai nampak

sejak usia prasekolah pada saat anak mulai aktif menguasai berbagai macam mainan yang disediakan. Melalui bermain dengan menggunakan media bahan alam dapat kita lihat bagaimana anak berkreasi

mengekspresikan jiwa dan kemampuannya. Semua unsur psikis dan fisik aktif dan mengambil peran. Pada saat inilah saat yang paling tepat untuk mengembangkan kreativitas anak.

Karena itu perkembangan kreatifitas dalam Kurikulum Taman kanak-kanak 2004 secara khusus menjadi bidang pengembangan tersendiri. Agar perkembangan kreatifitas anak usia prasekolah

berhasil baik, mestinya guru PAUD Mutiara Hati Kenanti Dukuhseti Pati memberikan respon yang positif dan memberikan dukungan terhadap apa yang diinginkan anak, apalagi pada saat anak merasa

tertarik. Namun kenyataan di lapangan khususnya di PAUD Mutiara Hati Kenanti Dukuhseti Pati ada guru yang kurang menyetujui bahkan menolak keinginan / kemauan anaknya / muridnya. Jika hal ini

tidak segera mendapatkan perhatian dan penyelesaian maka diperkirakan akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri.

Kondisi tersebut di ataslah yang menjadi latar belakang dilaksanakannya penelitian ini. Namun yang akan diteliti khusus dalam skripsi ini adalah “Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak menggunakan media bahan alam di PAUD Mutiara Hati Kenanti Dukuhseti Pati”.

TINJAUAN PUSTAKA

Mengembangkan Kreatifitas Anak

Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan, diperoleh temuan bahwa

bermain mempunyai manfaat yang besar bagi perkembangan anak. Bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berguna untuk anak, misalnya saja memperoleh pengalaman dalam membina

hubungan dengan sesama teman, perbendaharaan kata, menyalurkan perasaan-perasaan yang tertekan. Masih banyak lagi manfaat yang dapat dipetik dari kegiatan mengecap dengan media bahan alam

untuk mengembangkan kreatifitas anak.

Dengan mengetahui manfaat bermain, diharapkan bisa memunculkan gagasan seseorang tentang cara memanfaatkan kegiatan bermain untuk mengembangkan bermacam-macam aspek

perkembangan anak, yaitu aspek fisik, motorik, sosial, emosi, kepribadian, kognisi ketajaman penginderaan, ketrampilan olah raga dan menari.

Kreativitas meliputi ciri-ciri aptitude seperti kelancaran, keluasan dan keaslian dalam pemikiran maupun ciri-ciri non aptitude seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan dan selalu ingin

(3)

3

|

Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang Kegiatan mengecap dengan media bahan alam

Bermain dengan menggunakan media bahan alam merupakan suatu fenomena yang sangat menarik perhatian para pakar seperti pendidik, psikolog, ahli filsafat dan sebagainya. Selain itu

bermain dengan media bahan alam tidak berbahaya bagi anak karena bahannya dari alam, tidak mengandung bahan kimia apapun. Selain itu untuk mengenalkan anak pada alam mereka tertantang

untuk lebih memahami arti bermain dikaitkan dengan tingkah laku manusia.

Anak usia pra sekolah sering disebut masa bermain, karena sebagian besar kehidupannya

sepanjang hari diisi dengan kegiatan bermain dan tampaknya permainan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak. Karena itu menurut teori ilmu jiwa anak, anak usia pra sekolah disebut masa

bermain.

Berdasarkan teori diatas, maka prinsip pendidikan yang dilaksanakan di PAUD menganut

prinsip belajar sambil bermain. Suasana bermain masih ditonjolkan, anak PAUD dipersiapkan dan bermain secara berangsur-angsur beralih ke belajar.

Kegiatan bermain di PAUD memiliki nilai pendidikan tersendiri. Dengan bermain anak memperoleh kesempatan untuk mengembangkan aspek-aspek pribadinya sendiri menurut pola

pengembangannya secara wajar.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), atau dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Classroom Action Research. Penelitian tindakan kelas terdapat 4 rangkaian antara

lain; perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi yang selalu dilakukan tiap siklus. Penelitian tindakan kelas minimal dilakukan sebanyak 2 (dua) kali siklus mulai dari perencanaan

sampai dengan refleksi. Tahapan tersebut diulang sampai terjadi peningkatan, dengan catatan bahwa perencanaan pada siklus sebelumnya, dan menunjukkan apa saja kelemahan siklus tersebut, kemudian

penjelasan tentang bagaimana hasil tersebut akan diperbaiki. Apabila satu siklus belum menunjukkan tanda-tanda perubahan kearah perbaikan (peningkatan mutu), kegiatan riset diteruskan pada siklus ke dua, dan seterusnya, sampai penelitian merasa puas dan tercapai tujuannya.

Rencana Tindakan

Kegiatan dirancang dengan penelitian tindakan kelas (PTK). Kegiatan ini diterapkan dalam

upaya meningkatkan kreativitas anak menggunakan media bahan alam di PAUD Mutiara Hati Kenanti Dukuhseti Pati tahun pelajaran 2013/2014. tahapan dalam penelitian ini disusun melalui

siklus penelitian. setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian dirancang dalam empat tahap yaitu pra siklus, siklus I, siklus 2, siklus 3. pelaksanaan tiap

(4)

4

|

Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang Subjek Penelitian

Jumlah keseluruhan peserta didik yang ada di PAUD Mutiara Hati Kenanti Dukuhseti Pati adalah 45 anak didik , yang terdiri dari 25 peserta didik kelas A, 20 peserta didik B. Sedangkan

subyek yang akan diteliti adalah anak didik kelompok B dengan jumlah 20 anak didik.

Lokasi Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di PAUD Mutiara Hati Kenanti Dukuhseti Pati tahun pelajaran 2013/2014.

Metode Pengumpulan Data

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data yang ada di lapangan atau lokasi

penelitian (Suharsimi, 1989). Sedangkan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a). Metode observasi

Metode observasi adalah "studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan"(Sutrisno Hadi, 2000 : 157).

Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tertentu dengan mudah dapat diamati peneliti secara langsung, yaitu lokasi PAUD Mutiara Hati Kenanti Dukuhseti Pati.

b). Metode Interview (wawancara)

Sebagaimana dikatakan oleh Sutrisno Hadi, bahwa interviu adalah : "metode pengumpulan data dengan jalan mengadakan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan

berlandaskan tujuan penelitian". Sedangkan menurut Winarno Surahmad, interview "Merupakan tanya jawab langsung secara lesan dua orang atau lebih".

Sedangkan dalam pelaksanaannya digunakan interview bebas terpimpin, yaitu dengan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada yang diinterviu agar dapat menjawab pertanyaan yang

telah dipersiapkan dengan rasa saling percaya. Metode ini yang digunakan untuk wawancara kepada pengurus yayasan, kepala Sekolah, karyawan dan siswa untuk mendapatkan data-data

seperti tinjauan historis, letak geografis, keadaan guru, karyawan dan siswa, struktur organisasi, sarana dan prasarana, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan upaya meningkatkan kreativitas

anak melalui kegiatan bermain bahan alam di PAUD Mutiara Hati Kenanti Dukuhseti Pati. c). Metode Dokumentasi

Dokumentasi adalah “Metode pengumpulan data dengan cara mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, buku agenda dan sebagainya" (Suharsimi Arikunto, 1992 : 23). Metode dokumentasi merupakan

teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian, tetapi melalui dokumen lain.

(5)

5

|

Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dari hal-hal sebagai berikut: 1. Silabus

2. Pencana pelaksanaan pembelajaran 3. Lembar observasi siswa

4. Lembar observasi guru.

Teknik Analisis Data

1. Analisa hasil belajar anak

Data hasil belajar siswa dianalisis dengan cara deskriptif kuantitatif menghitung skor

evaluasi, dengan cara:

Nilai evaluasi akhir = Jumlah skor yang diperoleh X 100%

Skor maksimal 2. Analisa data aktivitas siswa dengan kinerja guru

Data aktivitas siswa dan kinerja guru diperoleh dari lembar observasi kemudian dianalisis secara deskriptif presentase.

3. Analisa data tanggapan siswa dan guru

Data tanggapan siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang berlangsung dan dianalisis secara deskriptif kualitatif.

HASIL PENELITIAN

Siklus 1

a. Rencana

Dalam proses pembelajaran kreativitas anak PAUD MUTIARA HATI Kenanti Dukuhseti

Pati peneliti merencanakan pembuatan rencana pembelajaran yang disusun secara sistematis. Pada rencana perbaikan pembelajaran siklus I, peneliti memfokuskan pembelajaran pada kemampuan anak untuk berfikir aktif dan kreatif dalam pemahaman materi perbandingan dan skala penulis

memfokuskan pada kemampuan anak untuk berfikir kreatif dalam kegiatan menganyam. Dengan

mengunakan model pembelajaran menggunakan berbagai kegiatan diharapkan anak dapat belajar dengan cepat dan efektif serta dengan teknik-teknik pembelajaran yang tepat, sehingga anak belajar dengan alami (natural). Dengan demikian hasil yang dicapai memenuhi TPP (Tingkat

Pencapain Pengembangan). Untuk anak yang belum mencapai ketuntasan guru mengadakan perbaikan pembelajaran.

Pada kegiatan perbaikan, guru membimbing anak dalam mengatasi kesulitan yang di hadapi, misalnya dengan cara belajar atau bisa juga guru mengoreksi/merefleksi cara belajarnya untuk

memperbaiki cara menyampaikan materi dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan perbaikan guru juga membuat tujuan pembelajaran sesuatu dengan kesulitan yang dihadapi anak, juga dalam

(6)

6

|

Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang b. Pengamatan.

Dari hasil pengamatan rekan sejawat dan menpertimbangkan saran dari supervisor, peneliti perlu melaksanakan perbaikan pembelajaran.

Dalam melaksanakan perbaikan, mulai siklus I ternyata menunjukkan peningkatan, sebab anak yang mencapai ketuntasan sudah meningkat prosentasenya, sebelum PTK 40% setelah

perbaikan menjadi 60%. c. Refleksi

Berdasarkan hasil temuan dari rekan sejawat selaku pengamat yang di catat pada lembar obserivasi dan pengarahan dari dosen pembimbing, maka penulis melaksanakan perbaikan

pembelajaran dengan materi mengecap dengan media bahan alam. Penulis selalu merefleksi setiap akhir pembelajaran, hal ini dimaksud untuk mengetahui kelemahan atau kekurangan selama proses

pembelajaran berlangsung. Sehingga dapat digunakan sebagai acuan untuk memperbaiki model pembelajaranya.

Selama proses pembelajaran ditemukan beberapa hal yang perlu di ketahui : Model pembelajaran yang digunakan kurang diperhatikan guru.

1) Penyampaian materi kurang jelas.

2) Penggunaan alat peraga/media pembelajaran kurang.

3) Guru kurang membimbing anak dalam pembelajaran.

Dari hasil temuan itu mengakibatkan anak kurang menguasai materi yang di berikan guru, sehingga hasil evaluasi yang di berikan oleh guru tidak memenuhi TPP (Tingkat Pencapaian

Pengembangan) Maka perlu di adakan perbaikan pada siklus I.

1) Pembelajaran sudah menggunakan model pembelajaran yang sesuai rencana pembelajaran.

2) Adanya umpan balik dan penjelasan guru yang jelas sehingga menambah minat anak dalam mengikuti pelajaran, yang akhirnya anak mampu meningkatkan kreativitas dengan baik dan

benar.

3) Penyampaian proses pembelajaran dilakukan dengan mengunakan alat peraga yang sesuai.

4) Guru memotivasi anak dan membimbingnya.

Namun demikian hasil dari evaluasi yang di berikan kepada anak, masih belum mencapai

hasil yang maksimal atau mencapai ketuntasan. Maka perlu diadakan perbaikan siklus yang ke II. d. Keberhasilan

Dalam psoses pembelajaran, yang dilaksanakan pada hari rabu tanggal 23 Juli 2013,

hasilnya ternyata yang mendapat nilai mencapai ketuntasan hanya ada 12 anak dari 20 anak yang ada. Mereka berhasil disebabkan oleh :

1) Anak aktif dan kreatif dalam mengikuti pembelajaran. 2) Anak telah memahami materi pembelajaran.

(7)

7

|

Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang Penyebab kegagalan dalam proses pembelajaran adalah

1) Sebagian anak kurang konsentrasi dalam mengikuti proses pembelajaran.

2) Banyak anak yang beranggapan bahwa kegiatan bermain mengecap dengan media bahan alam

itu kotor dan tidak penting.

3) Dalam proses pembelajaran, penyampaian guru kurang menarik.

Adapun kegiatan bermain mengecap dengan media bahan alam menunjukkan bahwa anak yang mencapai keberhasilan sangat baik berjumlah 6 anak, yang mencapai keberhasilan

baik berjumlah 6 anak, yang mencapai keberhasilan cukup berjumlah 8 anak. Adapun hasilnya adalah:

Jumlah anak = 20 anak

Sangat baik = 6 X 100 % = 30%

20

Baik = 6 X 100 % = 30%

20

Cukup = 8 X 100 % = 40%

20

Anak tuntas = 12 X 100 % = 60%

20

Anak tak tuntas = 8 X 100 % = 40%

20

Gambar Grafik 1. Diagram ketuntasan Kreativitas Anak dalam Kegiatan Mengecap dengan Media Bahan Alam pada Siklus I

60 – 50 –

40 – 30% 30% 40% 30 –

20 – 10 –

1 2 3

Keterangan :

= 1 = 2

(8)

8

|

Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang Siklus 2

a. Rencana.

Pada pembelajaran siklus I, hasilnya belum maksimal, sehingga guru/peneliti mengadakan

perbaikan pembelajaran pada siklus II. Untuk itu kegiatan yang dilakukan adalah :

1) Proses pembelajaran dengan kegiatan bermain mengecap dengan media bahan alam supaya

pembelajaran dapat tercapai.

2) Dalam penyampaian cara bermain mengecap dengan media bahan alam dapat meningkatkan

kreatifitas anak.

3) Guru membimbing dan memotifasi sisawa dalam mengikuti kegiatan serta meningkatkan

kreatifitas dan daya imajinasi anak.

4) Untuk mengetahui hasil akhir, anak disuruh latihan membuat sesuai keinginan.

Dalam pembelajaran siklus II ini, diharapkan anak dapat mencapai tingkat ketuntasan. Bila harapan tersebut tercapai guru tidak perlu mengadakan perbaikan lagi. Kalau ada anak yang belum

tuntas diberi arahan dan bimbingan secara khusus. b. Pengamatan.

Hasil temuan rekan sejawat selaku pengamat yang dicatat dilembar obserivasi yang terjadi selama proses pembelajaran adalah :

1) Guru sudah baik dalam menyampaikan materi, dan sudah mengunakan model pembelajaran

yang sesuai.

2) Guru sudah cukup baik dalam membimbing dan memotifasi anak, sehingga anak lebih

bersemangat dan aktif dalam pembelajaran. 3) Penggunaan alat peraga sudah sesuai dan menarik.

4) Evaluasi yang diberikan hasilnya sudah cukup baik, banyak yang mencapai ketuntasan.

Dari hasil pengamatan diatas, hasil yang dicapai anak sudah maksimal, karena anak yang

mencapai TPP ada 85%. c. Refleksi.

Dengan memperhatikan hasil pembelajaran, penulis melakukan refleksi diri. Dengan harapan hasil yang sudah dicapai pada siklus II sebagai acuan dalam materi-materi pembelajaran

yang lain. Ada beberapa hal yang masih harus diperhatikan, yaitu

1) Memberi motifasi atau dorongan pada anak agar percaya diri dalam memahami materi pembelajaran lebih ditingkatkan.

2) Dalam menggunakan cara menganyam lebih ditentukan pada teknik-teknik pembelajaran.

3) Dalam membimbing anak untuk memahami pembelajaran secara maksimal.

d. Keberhasilan

Dalam proses pembelajaran pada siklus II, banyak anak yang mencapai ketuntasan. Hal ini

(9)

9

|

Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang

2) Anak sudah dapat berfikir aktif dan kreatif dalam memahami pembelajaran. 3) Banyak anak yang berminat dan senang dalam proses pembelajaran. e. Kegagalan.

Pada pembelajaran siklus II ini diharapkan semua anak mencapai tingkat ketuntasan, tapi ternyata ada 3 anak dari 20 anak yang belum tuntas.

Hal ini disebabkan oleh :

1) Ada 1 anak yang belum tuntas karena malas masuk sekolah sehingga dia ketinggalan dalam

pembelajaran.

2) Sedangkan yang 2 anak memang kurang konsentrasi, dan sering gaduh dalam kelas, sehingga

mereka tidak dapat memahami materi pokok.

Pada kegiatan bermain menggunakan mengecap dengan media bahan alam menunjukkan

bahwa anak yang mencapai keberhasilan sangat baik berjumlah 7 anak, yang mencapai keberhasilan baik berjumlah 10 anak, yang mencapai keberhasilan cukup berjumlah 3 anak.

Keterangan :

Jumlah anak = 20 anak

Sangat baik = 7 X 100 % = 35%

20

Baik = 10 X 100 % = 50%

20

Cukup = 3 X 100 % = 15%

20

Anak tuntas = 17 X 100 % = 85%

20

Anak tak tuntas = 3 X 100 % = 15%

(10)

10

|

Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang

Gambar Grafik 2. Diagram ketuntasan Kreativitas Anak dalam Kegiatan Mengecap dengan Media Bahan Alam pada Siklus II

60 – 50% 50 –

40 – 35% 30 –

20 – 15% 10 –

1 2 3

Keterangan :

= 1 = 2

= 3

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah peneliti laksanakan dan dari data-data yang telah terkumpul serta analisa mengenai Upaya Meningkatkan Kreativitas anak melalaui kegiatan mengecap dengan

media bahan alam di PAUD Mutiara Hati Kenanti Dukuhseti Pati peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut:

1. Proses pembelajaran di PAUD Mutiara Hati Kenanti Dukuhseti Pati tentang kreativitas anak melalui kegiatan mengecap dengan media bahan alam sebelum diadakan penelitian keberhasilan

hanya 8 anak yang dapat bermain mengecap dengan media bahan alam. Berarti yang memenuhi keberhasilan baru 8 anak. Tetapi setelah diadakan penelitian tindakan kelas kemampuan kreativitas

anak meningkat pada siklus 1 kemampuan anak pada kegiatan mengecap dengan media bahan alam meningkat mencapai 12 anak. Pada siklus II kemampuan kreativitas anak pada kegiatan

mengecap dengan media bahan alam mengalami peningkatan yang sangat baik yaitu mencapai 17 anak. Dengan demikian kegiatan proses pembelajaran di PAUD Mutiara Hati Kenanti Dukuhseti setelah diadakan penelitian tindakan kelas mengalami peningkatan yang sangat baik. ini terbukti

yang semula pada pra siklus sebesar 40 % telah meningkat pada siklus I pada kisaran 60 %, dan meningkat lagi pada siklus II mencapai kisaran 85 %. Adapun prosentase peningkatan

(11)

11

|

Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Sabri. 2005. Strategi belajar mengajar dan Micro Teaching. Jakarta : Penerbit Quntum

Teaching.

Anwar, Desy, 2003, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya : Amelia.

Arikunto, Suharsini et al, 2008, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara.

Departemen P dan K, RI. Dasar Pengembangan Pandidikan Taman Kanak-Kanak. Malang : Proyek

Penelitian dan Pengembangan. Sarana Pendidikan “Balita”.

Depdikbud. 1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Departemen P dan K, RI, Kurikulum TK GBPP Buku II B, Bidang pengembangan Ungkapan

Kreatif, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Departemen P dan K. Dirjen Pendidikan Tinggi, 1995, Bermain, Mainan dan Permainan. Jakarta : Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.

Elizabeth B.Hurlock, 1978, Perkembangan Anak, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia

Hajar Pamadhi, Evan Sukardi S, 2008, Seni Ketrampilan Anak, Jakarta: Penerbit Universitas

Terbuka.

Ismail, SM 2008, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM,Semarang: Rasail.

Kardani, Kuswaya Wihardit. Noehi Nasution. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta :

Universitas Terbuka.

Poerwadarminta, WJS. 1982, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : PN Balai Pustaka.

Risman Elly, 1989. Psikologi Perkembangan. Jakarta : PT Rineka Cipta

Santi Danar, 2009. Pendidikan Anak Usia Dini Antara Teori dan Praktik. Indeks

Syaiful, Bahri Djamarah, 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Suhadjono, 2009, Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah, Surabaya: Balai

Pustaka.

Tim PKP PG. PAUD. 2008. Panduan Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta: Uneversitas

Terbuka.

Wardani, IGAK. 2006. Penelitian Tindakan Kelas PDGK 4500. Jakarta : Universitas Terbuka.

Gambar

Gambar Grafik 1.  Diagram ketuntasan Kreativitas Anak dalam Kegiatan Mengecap dengan  Media
Gambar Grafik 2. Diagram ketuntasan Kreativitas Anak dalam Kegiatan Mengecap dengan  Media

Referensi

Dokumen terkait

Kawasan bersejarah biasanya dijadikan sebagai objek wisata sehingga konsep yang akan diterapkan pada kawasan ini juga merupakan kawasan wisata sejarah dengan

peningkatan.Peningkatan ini berupa semakin luasnya lahan pertanian yang menjadi garapan para petani.Para petani mulai bersemangat untuk mengelola lahannya kembali

Penelitian dilaksanakan pada zona pemanfaatan untuk kegiatan pariwisata alam dan rekreasi di hutan pendidikan Tatangge dan safari savana Kawasan Taman Nasional

Ulangi lagi gerakan menegangkan dan melemaskan otot lengan bawah anda, rasakan perbedaan pada saat tegang dan lemas serta rasakan lengan bawah anda menjadi semakin lemas..

Sengeti, 23 Oktober 2017 Pejabat Pengadaan Barang/Jasa Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Kabupaten

• Berita acara: surat yang berisi laporan tentang suatu kejadian atau peristiwa mengenai waktu kejadian, tempat kejadian, keterangan, dan petunjuk lain sehubungan dengan kejadian

Tekanan penduduk terhadap lahan pertanian yang tinggi disebabkan oleh jumlah penduduk bermatapencaharian petani melebihi ketersedian luas lahan sawah, bukan disebabkan