1 1.1 Latar Belakang Masalah
Negara-negara didunia pada era globalisasi dan pasar bebas saat ini,
dituntut untuk menerapkan sistem pengelolaan bisnis yang berbasis prinsip tata
kelola perusahaan yang baik dikenal dengan istilah Good Corporate Governance
(GCG). Good Corporate Governance (GCG) merupakan suatu keharusan dalam
rangka membangun kondisi perusahaan yang tangguh dan sustainable. Good
Corporate Governance (GCG) diperlukan untuk menciptakan sistem dan struktur
perusahaan yang kuat sehingga mampu menjadi perusahaan kelas dunia. Joseph
V.Carcello (2006) Makna tata kelola (governance) adalah suatu rangkaian proses,
kebijakan, kebiasaan, aturan dan institusi yang mempengaruhi pengarahan,
pengelolaan dan pengontrolan suatu organisasi. Tata kelola melibatkan hubungan
antara para pemangku kepentingan (stakeholders) dengan tujuan pengelolaan
suatu organisasi. Para pemangku kepentingan yang memiliki peran utama dalam
tata kelola perusahaan adalah pemegang saham, manajemen dan dewan direksi.
Pemangku kepentingan yang lain adalah karyawan, pemasok, pelanggan, bank
dan kreditur, regulator, lingkungan dan masyarakat luas.
Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia pada 30 Nopember 2004
membentuk Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). Menurut Komite
Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Good Corporate Governance (GCG)
(GCG) berkaitan erat dengan kepercayaan baik terhadap perusahaan yang
melaksanakannya maupun terhadap iklim usaha di suatu negara. KNKG
menyadari pentingnya Good Corporate Governance (GCG) di sektor publik,
KNKG diharapkan dapat berperan sebagai fasilitator dan katalisator efektifitas
penerapan Good Corporate Governance (GCG) baik di sektor swasta (korporasi)
maupun sektor publik. Isu-isu yang terkait dengan Good Corporate Governance
(GCG) seperti transparansi, akuntabilitas, independensi, etika bisnis, tanggung
jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) dan perlindungan
investor telah menjadi ungkapan-ungkapan yang lazim diperbincangkan di
kalangan para pelaku bisnis (Tjager, 2007). Menurut kajian yang dilakukan Berle
dan Means (dalam Lastanti, 2005) isu Good Corporate Governance (GCG)
dilatarbelakangi adanya teori agensi (Agency Theory) yang menyatakan bahwa
permasalahan agensi (Agency problem) muncul ketika kepengurusan suatu
perusahaan terpisah dari pemiliknya. Sedangkan menurut Tjager et al. (dalam
Lastanti, 2005), agency problem yang muncul sebagai akibat adanya hubungan
antara agen dengan pemilik ketika timbul konflik antara harapan dan tujuan
pemilik atau pemegang saham dan para direksi (top management).
Good Corporate Governance (GCG) berperan sebagai alat untuk
menciptakan iklim persaingan usaha yang sehat ini tergantung pada efektifitas
penerapan prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang baik didalam sebuah
perusahaan (Kusadrianto, 2007). Good Corporate Governance (GCG) juga
berfungsi untuk menumbuhkan kepercayaan investor terhadap perusahaan
dan konsistensi menjalankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dalam
aktivitas perusahaan dengan sendirinya maka hal ini akan menumbuhkan
kepercayaan investor terhadap perusahaan tersebut. Sehingga dilakukan
penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) agar perusahaan
dapat bertahan dan tangguh dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat
serta dapat mewujudkan iklim usaha yang sehat, efisien, dan transparan (Rizky
Arifani, 2013). Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) juga
berfungsi untuk mengendalikan perilaku pengelola perusahaan agar tidak hanya
menguntungkan diri sendiri tetapi juga menguntungkan pemilik perusahaan.
Lemahnya penerapan Good Corporate Goverance (GCG) sering disebut
sebagai salah satu penyebab krisis keuangan di negara-negara di Asia, hal ini
dikarenakan semakin terpisahnya hubungan para pemegang saham dengan
manajemen, kurangnya transparan perusahaan dalam pelaporan kinerja keuangan,
semakin tidak terkendalinya pengelolaan dan pengambilan keputusan yang terkait
dengan kelangsungan hidup perusahaan dan tidak efektifnya komite pengawas.
Hal ini akan menyebabkan perusahaan tidak dapat mencapai tujuan baik jangka
pendek maupun jangka panjang, yaitu profit dan market value yang maksimal
(Husnan, 2007).
Penelitian ini dilakukan agar para pemangku kepentingan (stakeholder
maupun shareholder) dapat memperoleh informasi penerapan Good Corporate
Governance (GCG) yang merupakan salah satu elemen kunci dalam
meningkatkan efesiensi yang ekonomis, serta menyediakan suatu tatakelola
menentukan teknik monitoring kinerja yang diharapkan dapat mengurangi
manajemen laba dan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Kinerja
keuangan merupakan hasil akhir dari implementasi Good Corporate Governance
(GCG) yang merupakan alat pertanggungjawaban manajemen dalam
menunjukkan kemampuan perusahaan yang mengolah dan mengalokasikan
sumberdaya yang dimilikinya, serta digunakan investor dan stakeholder lainnya
sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.
Kinerja keuangan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
terkonsentrasi atau tidaknya terkonsentrasi kepemilikan, manipulasi laba, serta
pengungkapan laporan keuangan. Laporan keuangan sebagai alat
pertanggungjawaban manajemen dalam hal ini laporan laba rugi dijadikan dasar
untuk penilaian kinerja perusahaan, namun laba yang tinggi belum tentu
mencerminkan kas yang besar, sehingga arus kas mempunyai nilai lebih untuk
menjamin kinerja perusahaan di masa mendatang. Oleh karena itu, perusahaan
saat ini melakukan upaya-upaya dalam mengatasi permasalahan penyelewengan
tersebut dengan menerapkan sistem pengelolaan bisnis yang dapat membantu
perusahaan dalam memaksimalkan kinerja keuangan.
Penelitian ini akan menjelaskan mengenai perilaku mekanisme Good
Corporate Governance (GCG) yang terdiri dari indikator penting didalam
sistemnya seperti Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Dewan
Komisaris, dan Komite Audit. Penerapan Good Corporate Governance (GCG)
pada perusahaan berperan penting terhadap kinerja perusahaan dalam
mengetahui bagaimana perkembangan modal yang ditanamkan kepada perusahaan
tersebut dan perusahaan juga dapat menunjukkan bagaimana pengaruh dari
struktur kepemilikan yang merupakan salah satu faktor variabel terikat dalam
mengukur kinerja keuangan perusahaan.
Struktur kepemilikan dalam suatu perusahaan akan memiliki motivasi
yang berbeda dalam hal mengawasi atau memonitor perusahaan serta manajemen
dan dewan direksinya. Dalam penelitian ini, struktur kepemilikan dapat
dikategorikan menjadi dua variabel terikat yaitu kepemilikan institusional dan
kepemilikan manajerial. Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham oleh
pemerintah, institusi keuangan, institusi berbadan hukum, institusi luar negeri,
dana perwalian dan institusi lainnya pada akhir tahun (Shien, et. al 2006) (dalam
Winanda ,2009). Sedangkan, Kepemilikan manajerial adalah kepemilikan saham
oleh manajemen perusahaan yang diukur dengan presentase jumlah saham yang
dimiliki oleh manajemen (Sujono dan Soebiantoro, 2007) ( dalam Sabrina, 2010).
Kepemilikan perusahaan oleh institusi akan mendorong pengawasan
yang lebih efektif, karena institusi merupakan profesional yang memiliki
kemampuan dalam mengevaluasi kinerja perusahaan. Pozen (2004)
mengungkapkan beberapa metode yang digunakan oleh pemilik institusional
dapat mempengaruhi pengambilan keputusan manajerial, mulai dari diskusi
informal dengan manajemen, sampai dengan pengendalian seluruh kegiatan
operasional dan pengambilan keputusan perusahaan. Ndaruningputri (2005)
mengemukakan bahwa struktur kepemilikan perusahaan publik di Indonesia
perusahaan publik berbentuk lembaga, bukan pemilik atas nama perseorangan
atau pribadi.
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (disingkat
Bapepam-LK) adalah sebuah lembaga di bawah Kementerian Keuangan Indonesia
yang bertugas membina, mengatur, dan mengawasi sehari-hari kegiatan pasar
modal serta merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di
bidang lembaga keuangan. Pengelolaan Good Corporate Governance (GCG) juga
tidak lepas dari berperannya elemen tambahan seperti yang telah diatur oleh
Bapepam-LK yaitu : Dewan komisaris, Direktur independen, Komite audit, dan
Sekretaris perusahaan. Indikator-indikator tersebut diharapkan dapat
meningkatkan penerapan Good Corporate Governance (GCG) didalam
perusahaan-perusahaan di Indonesia serta meningkatkan perlindungan bagi
kreditor. Namun dalam beberapa indikator yang mendukung pengelolaan Good
Corporate Governance (GCG) peneliti hanya melibatkan dua indikator yaitu
dewan komisaris dan komite audit. Dewan komisaris bertugas mengawasi
kebijakan dan kegiatan yang dilakukan direksi dalam menjalankan perusahaan
serta diharapkan dapat menciptakan keseimbangan berbagai kepentingan para
pihak, seperti pemegang saham utama, direksi, komisaris, manajemen, karyawan,
maupun pemegang saham publik. Sedangkan, komite audit bertanggung jawab
dalam melakukan pemeriksaan terhadap pelaksanaan fungsi direksi dalam
melaksanakan pengelolaan perusahaan serta mengawasi laporan keuangan
Beberapa penelitian tentang pengaruh Good Corporate Governance
(GCG) terhadap kinerja perusahaan menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Hal
ini dikarenakan indikator tiap variabel terikat dalam mengukur Good Corporate
Governance (GCG) dan kinerja keuangan berbeda-beda. Darmawati dkk (2004)
meneliti tentang hubungan corporate governance dan kinerja perusahaan. Good
Corporate Governance (GCG) sebagai variabel independen diukur melalui angka
CGPI (Corporate Governance Perception Index) dan kinerja keuangan sebagai
variabel dependen diukur melalui ROE dan Tobin’s Q. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara corporate
governance dengan Tobin’s Q. akan tetapi terdapat hubungan signifikan antara corporate governance terhadap ROE. Namun ditemukan hasil penelitian lainnya,
Putri (2006) menunjukkan bahwa penerapan Good Corporate Governance (GCG)
dan jumlah komisaris dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Penelitian yang
dilakukan Pranata (2007) juga menunjukkan hasil bahwa penerapan Good
Corporate Governance (GCG) secara signifikan dapat meningkatkan Return on
Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM) dan Tobin’s Q sebagai indikator pengukuran dari kinerja perusahaan.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian-penelitian sebelumnya, peneliti
saat ini akan menggunakan Return on Assets (ROA) dan Tobin’s Q dalam mengukur variabel dependennya yaitu kinerja keuangan perusahaan. Peneliti
menggunakan sampel penelitian perusahaan manufaktur, dimana perusahaan
manufaktur merupakan suatu cabang industri yang mengaplikasikan mesin,
bahan mentah menjadi barang jadi yang siap untuk dijual. Adapun data yang
dipilih untuk melakukan penelitian ini yaitu data yang berasal dari laporan
keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada
tahun 2011 sampai dengan 2013 dengan pengambilan sampel menggunakan
teknik purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu (Sugiyono, 2008). Tema penelitian ini adalah “ Pengaruh Mekanisme
Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan
Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2011 –2013 “.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah
penelitian ini adalah :
Apakah ada pengaruh Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial,
Dewan Komisaris, dan Komite Audit terhadap kinerja keuangan perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011 - 2013 ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini
adalah :
Untuk mengetahui pengaruh Kepemilikan Institusional, Kepemilikan
Manajerial, Dewan Komisaris, dan Komite Audit terhadap kinerja keuangan
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011 - 2013.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
a) Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan maafaat kepada
peneliti bahwa penerapan sistem good corporate governance memiliki fungsi
yang baik untuk sebuah organisasi/perusahaan dalam memperoleh sebuah
informasi dalam bentuk laporan keuangan yang dihasilkan oleh kinerja
perusahaan.
b) Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
perusahaan dalam menerapkan sistem good corporate governance pada
kinerja perusahaan agar pengelolaan bisnis yang dilakukan dapat berjalan
dengan baik.
c) Bagi Investor ( Pemegang saham )
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
investor atau pemegang saham bahwa sistem yang diterapkan oleh
perusahaan yaitu good corporate governance yang dapat membantu kinerja
keuangan perusahaan dalam menyajikan laporan keuangan dimana laporan
keuangan merupakan alat pertanggungjawaban manajemen, dan investor atau
pemegang saham dapat memperoleh informasi struktur kepemilikan atas
saham yang ditanamkan kepada perusahaan tersebut.
d) Bagi Pemerintah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
aplikasi yang baik terhadap perusahaan dan investor sebagai alternatif lain
yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan pada perusahaan.
1.5 Sistematika Penulisan
Agar pembaca dapat mengetahui urutan-urutan pembahasan dalam
penulisan penelitian ini, maka penulis mencantumkan sistematika dari
penulisan ini:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini menguraikan secara keseluruhan latar belakang masalah,
perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan
sistematika penulisan metode penelitian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini terdiri dari penelitian terdahulu, landasan teori, kerangka
pemikiran dan hipotesis penelitian yang berhubungan dengan
permasalahan yang diteliti.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang rancangan penelitian, batasan penelitian,
identifikasi variabel, definisi operasional, dan pengukuran variabel,
populasi, sampel, data dan metode pengumpulan data, serta tehnik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini.
BAB IV GAMBARAN SUBYEK PENELITIAN DAN ANALISIS DATA
Dalam bab ini menjelaskan tentang gambaran subyek penelitian,
regresi linear berganda, serta pembahasan yang mengarah pada
perumusan masalah dan hipotesis penelitian.
BAB V PENUTUP
Dalam bab ini menjelaskan tentang kesimpulan dari penelitian ini yang
menjawab mengenai Hipotesis Penelitian, Keterbatasan Penelitian serta